<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31










  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Tuesday, July 20, 2010
    THE HOUSE OF THE SPIRITS


    Judul Buku: The House of the Spirits (Rumah Arwah)

    Diterjemahkan dari: La casa de los espíritus

    Pengarang: Isabel Allende (1982)

    Penerjemah: Ronny Agustinus

    Tebal: 600 halaman

    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

     

    "Rumah besar di pojokan" adalah rumah yang dibangun Esteban Trueba, menjelang pernikahannya dengan Clara del Valle. Dirancang oleh arsitek Prancis, rumah itu sengaja dibuat berbeda dengan arsitektur lokal—sebuah rumah anggun dengan pilar-pilar putih, tangga lebar, serambi bermarmer putih, jendela lebar, dan taman ala Versailles. Pada waktunya, rumah itu akan dipenuhi kamar-kamar kosong karena setiap ada tamu baru, Clara pun menggagas pembangunan kamar baru. Saat arwah-arwah mengisiki keberadaan harta terpendam atau mayat yang belum dikubur semestinya di fondasinya, Clara akan meminta dinding diruntuhkan, sehingga rumah itu membiakkan banyak labirin. Sesungguhnya, rumah itu dibangun sebagai kompensasi atas kemelaratan yang dialami Esteban Trueba di masa kecilnya sekepergian ayahnya. Clara akan menjadi ruh dari rumah besar itu, maka begitu ia mangkat, tak pelak lagi zaman kemunduran melanda bangunan megah itu.

     

    Clara del Valle, si cenayang, masih gadis cilik manakala Esteban Trueba merencanakan pernikahan dengan kakaknya, Rosa.  Sebelum pernikahan mereka digelar, Rosa si rambut dedalu dengan penampilan bak putri duyung tewas, menjadi tumbal bagi ayahnya, pengacara yang mulai berkarier di dunia politik. Ditengarai, racun tikus yang membunuh Rosa, sebenarnya ditujukan kepada ayahnya.

     

    Meninggalkan pertambangan emas, di mana ia bekerja guna mendapatkan dana pernikahan, setelah kematian Rosa, Esteban Trueba tidak ingin lagi hidup miskin. Ia pergi ke Tres Marías, perkebunan ayahnya yang terbengkalai. Dengan keuletan tanpa kenal capai, Esteban Trueba berhasil mengembangkan Tres Marías, mengubah kehidupan orang-orang yang tinggal di sana, dan dengan segera menjelma menjadi tuan tanah kaya. Tuan tanah yang dengan serakah mengumbar syahwat pada gadis-gadis pedesaan dan tidak bertanggung jawab saat mereka berbadan dua. Bagi Esteban Trueba, gadis-gadis desa itu memang hanya sekadar pemuas berahi, lantaran istri yang didambakannya mesti datang dari kota.

     

    Setelah membisu selama sembilan tahun sejak kematian Rosa, pada umur 19 tahun, Clara mengumumkan pernikahannya dengan Esteban Trueba. Bukan hal yang aneh, karena Clara memang memiliki kemampuan supranatural. Clara tidak hanya mampu menakbirkan mimpi, ia juga bisa memindai masa depan, dan mengenali maksud hati orang lain. Clara dapat menggerakkan benda tanpa menyentuhnya dan bermain piano tanpa membuka tudungnya. Sebagaimana kematian Rosa, Clara menikahi Esteban Trueba, seperti yang diumumkannya. Kecuali pergi ke Tres Marías di musim liburan, mereka menetap di rumah besar di pojokan itu. Ketiga anak mereka, si sulung Blanca dan kedua adik kembarnya, Jaime dan Nicolás, dilahirkan di rumah besar itu.

     

    Dibandingkan dengan rumah besar di pojokan, Blanca lebih menyukai Tres Marías. Di sana ia menghabiskan masa-masa liburan dan menjalin persahabatan, yang seiring perjalanan waktu, berubah menjadi romansa penuh gairah, dengan Pedro Tercero García, anak mandor perkebunan. Hubungan cinta yang tidak berkenan di hati Esteban Trueba itu menciptakan serangkaian kekisruhan yang berakhir pada pemukulan yang mengompongkan Clara. Sejak peristiwa pemukulan itu, kendati hidup di bawah satu atap, Clara tidak pernah bicara pada suaminya lagi, seumur hidupnya.

     

    Dengan harapan akan mendapat hadiah, Esteban García—cucu perempuan yang diperkosa Esteban—membocorkan tempat persembunyian Tercero. Akibatnya, pria yang senang bermain gitar itu, kehilangan tiga jari tangan kanannya. Permusuhan antara Tercero dengan ayah gadis yang dicintainya akan berlangsung hingga puluhan tahun kemudian sampai Esteban Trueba merasa tidak mampu membasmi cinta mereka.

     

    Hamil dan ditinggalkan kekasihnya membuat Blanca menerima kehendak ayahnya untuk menikahkannya dengan seorang bangsawan Prancis, Jean de Satigny. Rumah tangga mereka tidak bertahan lama, Blanca akan meninggalkannya, pulang ke rumah besar di pojokan, dan tidak bertemu Jean hingga saat ajalnya. Sudah menjadi panggilan hidup Blanca, hanya mengenal satu cinta saja.

     

    Alba yang berambut hijau seperti Rosa, lahir sungsang. Menurut Clara, Alba akan beruntung—bukan cuma karena sungsang disebut-sebut sebagai tanda keberuntungan—dan bahagia. Seorang bocah laki-laki yang menonton kelahiran Alba, kelak membuat Alba menampik niat baik kakeknya untuk kabur ke luar negeri, kala tanah airnya dikerakahi junta militer. Alba akan menyaksikan bahwa setelah neneknya mangkat, ramalannya tidak makbul lagi.

     

    Rumah besar di pojokan itu berdiri melewati arus pergantian kekuasaan. Esteban Trueba tahu, diam-diam, rumah dengan banyak kamar itu telah menyembunyikan atau menjadi saluran bagi para pelarian untuk meninggalkan negeri yang diguncang prahara politik. Itulah takdir rumah yang dibangun Esteban Trueba dengan ambisius, setelah ditinggal mati Clara yang diikuti menghilangnya orang-orang para anggota semesta gaib di belakang rumah. Rumah itu terabaikan, diterpa usia, dan isinya satu demi satu dijual Alba. Belakangan, para arwah menyaksikan rumah ini direnovasi kembali menjelang kematian Esteban Trueba.

     

    Di masa sepuhnya, Esteban tidak mampu menggapai semua perempuan yang pernah muncul dalam hidupnya. Kerap ia teringat kutukan Férula, sebelum kakak perempuannya itu hengkang dari rumah besar di pojokan, untuk selamanya. "Terkutuk kau, Esteban! Kau akan selalu sendirian! Mengkerutlah jiwa ragamu dan kau akan mati seperti anjing!"  (hlm. 191). Akankah kutukan ini mewujud dalam kehidupan Esteban? Yang jelas, setelah puluhan tahun hidup sebagai tuan atas dirinya sendiri, mendekati tenggat kehidupannya, Esteban Trueba akan menghadapi getirnya kebenaran. Meskipun telah berperan dalam penegakan junta militer di negerinya, ia tidak punya secuil pun otoritas untuk melindungi orang yang dicintainya.

     

    The House of the Spirits yang ditulis dalam tradisi realisme magis adalah novel perdana Isabel Allende, pengarang berdarah Chili, yang pertama kali terbit dalam bahasa Spanyol di Barcelona tahun 1982. Di kampung halamannya, novel ini menjadi Best Novel of the Year 1982 dan membuatnya dianugerahi penghargaan Panorama Literario. Novel ini mulai ditulis saat Allende yang menetap di Venezuela—melarikan diri pasca kudeta militer di Chili—menerima kabar kematian kakeknya, 8 Januari 1981. Awalnya ia menulis surat yang ditujukan pada almarhum, tetapi kemudian berkembang menjadi novel ikhwal tiga generasi perempuan keluarga Trueba, yang mengalir dari perspektif seorang kakek dan cucu perempuannya. Tanggal 8 Januari menjadi momen penting bagi proses kreatif Allende. Menurut pengakuan pengarang kelahiran 2 Agustus 1942 ini, sejak The House of the Spirits,  ia selalu mulai menulis pada tanggal 8 Januari.

     

    Kendati tidak sampai tahap ekstrem, tiga perempuan keluarga Trueba―Clara, Blanca, dan Alba―tak bisa lepas dari kegilaan. Clara mengakui, di dalam keluarganya, kegilaan terbagi rata buat semua, dan tak ada sisanya untuk dikuasai satu orang. Blanca dan Alba mungkin tidak mau mengakui, namun perjalanan hidup mereka akan memberi tahu pembaca bahwa sesungguhnya mereka memiliki kegilaan sendiri. Trueba yang berumur panjang, sama sekali tidak bisa menangkal kegilaan ketiga perempuan itu. Ia mengasihi mereka—sebenarnya—dan terpaksa pasrah pada pilihan hidup mereka.

     

    Isabel Allende adalah pengarang dengan semangat mendongeng yang tinggi. Ia mengalirkan cerita dengan indah, pada setiap tikungan menerbitkan rasa penasaran. Kalimat-kalimat panjang yang digelontorkannya tidak menghambat aliran pesona yang disemburkannya sejak novel dibuka. Keulungannya kian terasa ketika membeberkan kenyentrikan para karakter perempuan ciptaannya.

     

    Rumah besar yang digentayangi para arwah itu bisa jadi merupakan miniatur Chili—yang dijadikan seting novel—saat itu. Di dalamnya kita bisa menemukan menggeliatnya segi-segi magis dan percikan marxisme yang ditolerir salah satu dari tiga perempuan Trueba, tetapi tidak dikenan Esteban Trueba. Tentu saja, jika salah satu negara America Latin ini, benar-benar seperti yang dikatakan seseorang saat semangat marxisme mulai merebak: "Marxisme tak punya peluang sedikit pun di Amerika Latin. Kau tak tahu kalau Marxisme itu tidak mempertimbangkan segi-segi magis dari segala sesuatu? Ini doktrin yang ateistik, praktis, fungsional. Tidak mungkin bisa berhasil di sini!"  (hlm.428).

     

    Allende menyebut-nyebut 'Sang Penyair' yang acap bertandang di rumah besar di pojokan itu. Tidak dipastikan identitasnya, namun tidak diragukan lagi, yang dimaksud Allende adalah Pablo Neruda yang puisinya dikutip sebelum novel dimulai.

     

    Edisi Indonesia novel diterjemahkan dengan penguasaan kosakata bahasa Indonesia yang menakjubkan. Sambil menikmati dunia yang dibangun Allende, saya mesti membolak-balik KBBI, untuk memeriksa berbagai kata yang digunakan penerjemah. Walaupun begitu, saya tidak pernah merasa terganggu apalagi merasa bosan.

     

    Apa yang saya rasakan selama membaca The House of the Spirits, sama dengan yang dinyatakan Allison Hoover Bartlett dalam bukunya "The Man Who Loved Books Too Much".  "Aku begitu menghargai keadaan larut dalam sebuah buku sehingga aku membatasi jumlah halaman yang boleh kubaca setiap hari agar bisa menangguhkan akhir yang tak terhindarkan, dan terusir dari dunia itu" (hlm. 13, Pustaka Alvabet, April 2010).


    Posted at 11:45 am by Jody
    Comments (3)  

    Monday, July 19, 2010
    EMMY AND THE INCREDIBLE SHRINKING RAT



    Judul: Emmy and the Incredible Shrinking Rat

    Pengarang: Lynne Jonnel (2007)

    Penerjemah: Maria M. Lubis

    Tebal: 341 halaman

    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010

    Penerbit: Atria

     

     

    Emmaline Augusta Addison meyakini bahwa: "Tindakan paling  jahat di dunia adalah mengabaikan seseorang," karena, "Itu membuat seseorang merasa bahwa dia tidak benar-benar ada" (hlm. 17). Di usia hampir 11 tahun, Emmy –begitu ia dipanggil, kecuali oleh pengasuhnya—telah menjadi korban kejahatan itu, di rumah dan sekolah.

     

    Sebelum tinggal di rumah tua besar di tepi Danau Grayson, Jim dan Kathy Addison adalah orangtua yang baik dan sangat memedulikan putri mereka. Namun, setelah secara mengejutkan menerima warisan dari William Addison, mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan bepergian dan menghadiri berbagai pesta. Mereka sering tidak berada di rumah, dan jika pulang, Emmy tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan mereka.

     

    Jane Barmy, pengasuh Emmy—kepada siapa kehidupan Emmy dipercayakan orangtuanya—sangat ketat soal waktu. Tidak hanya waktu bersama orangtuanya, juga waktu keseharian Emmy. Sehabis jam sekolah, Emmy mesti mengikuti seabrek les—balet, bahasa Prancis, senam lantai, keramik, dansa tap, teater kecil, tenis, dan menenun keranjang. Meskipun kewalahan, Emmy menuruti jadwal yang disusun Barmy. Demi untuk menjadi yang terbaik, karena di mata Barmy, Emmy tahu, dia belum yang terbaik. Sayangnya, sudah bertekun menjadi yang terbaik, Emmy tetap diabaikan. Di sekolah, tidak ada yang menyadari kehadirannya, guru ataupun teman sekelas. Tidak mengherankan jika akhirnya ia merasa kesepian. Sampai akhirnya, seekor  tikus yang dikurung dalam kandang di kelas, menggigitnya.

     

    Gigitan  pertama membuat Emmy bisa mendengar si Tikus bicara. Sadarlah Emmy kalau  tikus bernama Ratson itu adalah tikus bawel yang arogan dan temperamental. "Tidak ada yang menyukaimu, tidak ada yang membencimu, tidak ada juga yang memedulikanmu. Kau adalah nol besar, jika kau bertanya kepadaku, " kata Ratson (hlm. 5). Dan penyebab kemalangan Emmy, menurut Ratson, karena Emmy 'terlalu baik' —tidak sama dengan citra diri yang Emmy bangun. "Sedikit kejahatan bagus bagi jiwa seseorang. Aku sangat merekomendasikannya."  (hlm. 6).

     

    Bagaimanapun hanya Ratson yang menyadari keberadaan Emmy dan mau bicara dengannya, jadi Emmy tidak sakit hati. Bahkan, ia  terdorong membebaskan Ratson yang merasa tidak adil dikurung. Begitu bebas, tikus tidak tahu berterima kasih itu segera minggat, tidak mau berlama-lama dengan Emmy.  Anehnya, Emmy menemukan Ratson berada di toko Tikus Antik, yang menjual dan menyewakan binatang pengerat berbakat langka. Emmy baru menyadari kekeliruannya saat Cheswick Vole, pemilik toko itu, memperlihatkan ketertarikan yang besar. Apalagi kemudian, dalam kondisi memelas, Ratson muncul di rumahnya mencari suaka. Tidak lama setelah kemunculan Ratson kembali, Emmy mendapatkan gigitan kedua.

     

    Kali ini, tubuh Emmy menciut sebesar Ratson. Sebelumnya, Joe Benson, teman sekelas yang pertama menyadari kehadiran Emmy, telah mendapatkan dua kali gigitan. Bersekutu, Emmy, Joe, dan Ratson memutuskan mencari jawaban penyebab kemalangan Emmy.

     

    Di dalam pencarian, mereka bertemu Sissy yang adalah antidot Ratson; Tikus Sayang, si cantik berhati mulia;  Brian, penjaga Tikus Antik yang baik hati;  Mrs. Bunjee, tupai tanah penuh kasih beranak dua, Buckram dan Chipster; Maxwell Capybara, profesor binatang pengerat pengidap ratolepsy yang tubuhnya juga menciut.

     

    Mereka semua berpadu dalam novel yang diwarnai kisah Kota Binatang Pengerat, cetakan kaki chinchilla, pemainan bola cakar (pawball), karaskop, aroma celurut yang menyebabkan lupa; ekstrak gerbil yang melipattigakan usia, dan  minyak berang-berang yang bisa mengendus kebohongan.

     

    Memasuki situasi genting, Emmy mendapatkan gigitan ketiga. Mujurnya, setelah gigitan kedua yang membuat tubuhnya menciut, Emmy sempat dinormalkan. Celaka baginya kalau mendapatkan gigitan ketiga dan belum dinormalkan. Emmy akan mengetahui efek gigitan ketiga ini, kala secara paripurna, ia menyadari penyebab pengabaian dirinya, dan berjuang untuk mematahkannya.

     

    Emmy and the Incredible Shrinking Rat (2007) adalah novel pertama Lynne Jonell, pengarang cewek Amerika asal Minnesota—sebelumnya telah menerbitkan buku bergambar. Novel yang memenangkan Minnesota Book Award ini merupakan buku pertama serial Emmy Addison. Menyusul Emmy and the Incredible Shrinking Rat, Jonell telah menerbitkan Emmy and the Home for Troubled Girls (2008) dan sedang mempersiapkan penerbitan buku ketiga, Emmy and the Rats in the Belfry (2011).

     

    Seperti mayoritas fiksi anak-anak, novel ini memakai resep yang seolah sudah kemestian, yaitu kebaikan yang akan selalu memperoleh sokongan demi menaklukkan kejahatan. Meskipun demikian, Emmy and the Incredible Shrinking Rat tidak terperangkap menjadi kisah stereotipikal yang gampang ditebak. Jonell menampilkan dirinya sebagai pengarang dengan kecerdikan yang mampu menyihir pembaca untuk tidak berhenti hingga novel ditamatkan. Ia menggerakkan ceritanya dalam alur yang dikemas apik, dilengkapi kejadian sarat humor dan kejutan yang dipersiapkan  penuh perhitungan. Selera humor pengarang tidak hanya tampak dalam cerita, tetapi juga dalam dialog-dialognya.  Percayalah, sebelum pembaca sempat bosan, novel kocak ini telah disudahi dengan pamungkas yang akan membuat pembaca bersorak.

     

    Tidak terbantahkan lagi kalau di antara berbagai karakter hewan yang ada, Raston yang paling menarik. Tikus ini banyak memuntahkan kalimat yang membuat Emmy tergelitik untuk berdebat. Salah satu bagian yang menarik—tak disangsikan lagi merupakan kritik Jonell—adalah saat mereka berdebat tentang 'yang biasa-biasa saja' setelah Ratson tidak mampu memahami 'kebodohan' tupai dan bajing (hlm. 69-70).

     

    Raston: Mungkin aku tidak dididik dengan benar. Mungkin Teacher's Tattle benar—sekolah-sekolah di Amerika seharusnya memberikan lebih banyak lagi pelajaran bahasa. Bagaimana aku bisa menjadi bintang, seekor tikus dengan pencapaian tinggi, jika aku tak pernah mempelajari bahasa Tikus?"

    Emmy: Tidak ada yang berharap kau lebih dari sekadar tikus biasa, sejauh yang kuketahui.

    Raston: Dan apakah kau bertekad untuk hanya menjadi seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja?

    Emmy:  Aku tak keberatan menjadi biasa-biasa saja.

    Raston: Dan itu, adalah suatu kekurangan lain dalam sistem sekolah di Amerika. Ekspektasi yang rendah. Menghasilkan—dirimu sebagai contoh yang baik—anak-anak yang membosankan, yang biasa-biasa saja. Oh, memalukan ….

     

    Memang Emmy and the Incredible Shrinking Rat lebih ditargetkan untuk pembaca anak-anak, namun amat penting dibaca orangtua. Terkadang, orangtua menaruh ekspektasi menjulang pada anak-anak untuk menjadi manusia unggulan dengan melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas. Para orangtua lupa jika anak-anak juga memiliki keinginan menikmati masa anak-anak, yang hanya sekali terjadi. Kendati motivasinya culas, Jane Barmy memaksa Emmy mengikuti segala macam les sepulang sekolah. Sahabat Emmy, Joe Benson, dipaksa ayahnya untuk terus berlatih sepakbola. Jeritan hati Joe dituangkannya dalam puisi berjudul 'Untuk Ayah"  (hlm. 91).


    Aku selalu berlatih keras

    Bahkan saat hujan deras

    Juga setiap hari pada musim dingin

    Bisakah Ayah membolehkan aku—hanya

    bermain?

     

    Tidak perlu diragukan lagi Emmy and the Incredible Shrinking Rat (Emmy dan Tikus Penciut yang Menakjubkan) sungguh novel yang layak disantap. Setiap gigitan, akan membuat Anda termehek-mehek. Sedaaap.



    Posted at 11:50 am by Jody
    Comment (1)  

    Friday, July 16, 2010
    SIX SUSPECTS



    Judul Buku: Six Suspects

    Pengarang: Vikas Swarup

    Penerjemah: Rini Indradini

    Tebal: x + 662 hlm; 20,5 cm

    Terbit: Cetakan 1, Mei 2010

    Penerbit: Bentang


     

    Six Suspects adalah novel Vikas Swarup, pengarang India yang sebelumnya telah menerbitkan dan menikmati kesuksesan karya perdananya, Q&A –yang difilmkan dengan judul Slumdog Millionaire. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan akan difilmkan menyusul pendahulunya. Six Suspects adalah novel misteri pembunuhan yang ditulis dengan cara yang tidak biasa.

     

    1. Pembunuhan

    Arun Advani, seorang jurnalis investigasi, menulis dalam kolomnya: "Tak semua kematian setara. Dalam kematian pun ada sistem kasta. Penarik becak miskin yang ditikam sampai mati tidak lebih dari statistik, terkubur di halaman-halaman koran. Namun, pembunuhan seorang selebriti seketika menjadi berita utama. Karena orang-orang yang kaya dan terkenal jarang dibunuh. Mereka menjalani kehidupan bintang lima dan, kecuali mereka overdosis kokain atau mengalami kecelakaan ganjil, umumnya meninggal dalam kematian bintang lima ketika mereka sudah ubanan, setelah memilik banyak keturunan dan harta benda." (hlm. 4).

     

    Vivek "Vicky" Rai, seorang industrialis muda dengan kehidupan ala selebritas, mati sebelum ubanan. Ia adalah putra Menteri Dalam Negeri Uttar Pradesh yang tersohor karena berkali-kali lolos dari jerat hukum, kendati melanggar hukum. Pernah menggilas mati enam orang pengemis dalam keadaan mabuk dan membunuh dua rusa hitam liar di sebuah suaka margasatwa, namun mendapatkan putusan tidak bersalah. Pada ulang tahunnya yang ke-25, ia membunuh Ruby Gill, mahasiswi doktoral Universitas Delhi yang bekerja paruh waktu di restoran tempat dilaksanakannya pesta ulang tahun. Ruby Gill ditembak mati lantaran menolak memberikan segelas tequila yang diminta Vicky. Kasus pembunuhan ini menyedot perhatian publik, hingga akhirnya, Vicky mendapatkan kembali impunitasnya. Putusan tidak bersalah kali ini dipestakan di rumah peternakannya di Mehrauli, pinggiran New Delhi. Di sana, ia mati dengan cara sama yang digunakannya membunuh Ruby Gill.

     

    2. Tersangka

    Arun Advani menulis lagi: "Para tersangka sangat beragam, kumpulan aneh yang terdiri dari si jahat, si cantik, dan si buruk rupa." (hlm. 9).

     

    Polisi di TKP segera bertindak, menggeledah semua tamu. Enam orang ditetapkan sebagai tersangka, karena mereka membawa senjata api. Mohan Kumar, mantan Sekretaris Kepala Negara Bagian Uttar Pradesh yang dikenal sebagai koruptor dan pemburu wanita. Mr. Rick Myers, orang Amerika bebal yang mengaku sebagai produser Hollywood. Jiba Korwa, pemuda kulit hitam dengan tubuh setinggi lima kaki, berasal dari Jharkand dan dicurigai bagian dari kelompok Naxalite―gerakan revolusioner India yang ingin menggulingkan pemerintahan demokratis dan menggantikan dengan kepemimpinan garis keras― yang pernah mengancam akan membunuh Vicky terkait proyek Zona Ekonomi Khusus.  Munna Mobile, sarjana pengangguran, anak wanita tukang sapu kuil di Mehrauli, yang mendapatkan uang dengan jalan mencuri telepon seluler. Jagannath Rai, si Menteri Dalam Negeri, ayah kandung Vicky, seorang politisi ambisius. Shabnam Saxena,  satu-satunya wanita, aktris Bollywood dengan kemolekan yang menggelarinya "Mimpi Basah Nomor Satu". Ia digosipkan sedang digilai Vicky Rai.

     

    Arun Advani melanjutkan: "Pembunuhan mungkin kusut, tapi kebenaran lebih kusut. Mengikat ujung-ujung yang terurai pasti sulit. Sejarah hidup keenam tersangka perlu disisir. Motif harus ditetapkan. Bukti perlu disusun. Dan baru setelah itu kita dapat menemukan pelaku sesungguhnya." (hlm. 10).

     

    3. Motif

     

    Mohan Kumar: Pensiunan Birokrat

    Mohan Kumar mengatasi post power syndrome dengan bergiat sebagai anggota dewan enam perusahaan Vicky Rai dan memelihara wanita simpanan. Pasca menghadiri acara pemanggilan arwah Mahatma Gandhi, ia ditengarai mengidap kepribadian ganda, ada kalanya mengakui dirinya si Bapak Bangsa. Layaknya Gandhi, Mohan bersikap penuh kemuliaan: berpantang seks, berhenti mengonsumsi daging dan alkohol, serta berbusana laksana Mahatma Gandhi. Alhasil, ia menyandang julukan "Gandhi Baba" dan direkomendasikan menerima Nobel Perdamaian. Menanggapi kasus kematian Ruby Gill, Mohan berkata, "Dia adalah muridku yang terhebat. Dia sedang mengerjakan studi doktoral mengenai ajaranku sebelum hidupnya dengan tragis diakhiri terlalu dini." (hlm. 134). Selanjutnya, ia pun menandaskan, "... Aku selalu berpendapat bahwa ketika hanya ada pilihan antara kepengecutan dan kekerasan, aku lebih memilih kekerasan. Jauh lebih baik membunuh seorang pembunuh daripada membiarkannya membunuh lagi. Orang yang sukarela menerima ketidakadilan sama bersalahnya seperti orang yang melakukan ketidakadilan itu."  (hlm.192).

     

    Shabnam Saxena: Aktris Bollywood

    "Para pria di India menggolongkan perempuan ke dalam dua kategori―bisa dipakai dan tidak bisa dipakai. Perempuan yang disakralkan adalah ibu dan saudara perempuan mereka. Sisanya adalah hidangan bagi impian mesum dan fantasi mereka saat masturbasi," kata Shabnam Saxena (hlm. 40), si dewi seluloid pengagum Nietzsche. Sebagai wanita asal wilayah terpencil, walaupun tersohor, ia memiliki kebaikan hati. Ia mengundang Ram Dulari, seorang gadis asing berparas cantik ke dalam rumah, dan mengubah si gadis melalui Proyek Cinderella yang digagasnya. Kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan yang berpotensi menghancurkan reputasinya. Di tengah problem yang menguras pikiran, adik perempuannya tersandung masalah. Solusinya hanya Vicky Rai. 

     

    Mr. Rick Myers: Produser Hollywood

    Bernama asli sama dengan salah satu pencipta Google―Larry Page, operator forklift asal Texas ini bodoh bukan kepalang. Ia datang ke India untuk menikahi sahabat penanya. Sebelum tiba di New Delhi, ia tahu telah ditipu. Ternyata, wanita idamannya telah mengirimkan foto-foto aktris Bolywood paling menggiurkan, Shabnam Saxena, sebagai dirinya. Tongpes, dipecat dari pekerjaan, kehilangan paspor, menggiring Larry dalam pusaran aksi penculikan kelompok teroris Al Qaeda. Kemujuran memihaknya, ia berkesempatan menjumpai Shabnam Saxena, di pesta pembebasan Vicky Rai.

     

    Munna Mobile: Pencuri Ponsel

    Meskipun bergelar sarjana, Munna Mobile tidak punya pekerjaan tetap. Mencuri telepon seluler dengan target utama mobil yang berhenti di lampu merah, menjadi pilihannya. Lantaran aksi pencuriannya, ia menemukan sebuah koper berisi uang 75 lakh (±150 miliar rupiah). Uang itu bak katalisator untuk mewujudkan mimpi-mimpi Munna, termasuk cinta kepada gadis cantik bernama Ritu. Nasib sangat suka mempermainkan Munna. Koper itu direbut darinya dan kekasihnya disiksa. "Cinta bisa membuatmu buta, tetapi keputusasaan bisa membuatmu nekat. Kuputuskan untuk membeli pistol," kata Munna (hlm. 268).

     

    Jiba Korwa: Adivasi dari Jarkhand (?)

    Eketi memperoleh nama Jiba Korwa dari Ashok Rajput, tanpa tahu konsekuensinya. Pemuda suku Onge―sebuah suku di Andaman Kecil, Teluk Bengali―pergi ke India bersama Ashok untuk mencari relik milik suku yang dicuri. Tanpa relik yang disebut ingetayi itu, suku Onge tidak akan bebas dari musibah, dan siapa pun yang menyimpan ingetayi, dan bukan suku Onge, akan tertimpa malapetaka. Seraya menebar kutukan, ingetayi berpindah tangan hingga meribetkan Eketi. Sempat terpisah dari Ashok, Eketi bergabung kembali dengan si pegawai Depsos pergi ke Mehrauli. Menurut Ashok, yang sebenarnya punya agenda pribadi, ingetayi ada di tangan Vicky Rai.  

     

    Jagannath Rai: Politisi Ambisius

    Jagannath Rai tidak pernah puas dengan jabatannya. Ambisi monumentalnya adalah menduduki posisi Menteri Koordinator yang sangat bergengsi. Untuk melancarkan ambisinya, Jagannath tidak pantang menghalalkan segala cara, termasuk memanfaatkan jasa pembunuh bayaran. Yang membuatnya naik pitam, kendala datang dari dalam keluarganya sendiri.  Kendala itu bernama Vicky Rai yang kebebasannya disambut murka publik yang siap menjegal karier politik sang ayah. "Apa kau pernah dengar tentang Ibrahim?" tanya Jagannath kepada pembunuh bayaran-nya. "Setiap Muslim pernah mendengarnya. Dia adalah pria hebat yang siap mengorbankan putranya demi menyenangkan Allah," sahut Mukhtar Ansari (hlm. 313). 

     

    4.  Bukti

    Apa sebetulnya yang terjadi pada di sekitar tewasnya Vicky Rai?  Swarup akan mengurainya pada bagian "Bukti" di mana kita menemukan berbagai peristiwa tak terduga. Mohan Kumar akan dipulihkan dari kesurupan. Larry Page akan merasa marah seperti 'pria berkaki satu dalam pertandingan tendang pantat'. Jagannath Rai akan mengambil keputusan penting selaras konsep pengorbanan Ibrahim. Munna Mobile akan menuntaskan kesumatnya. Eketi akan melakukan penebusan dosa, dan Shabnam Saxena akan menegaskan masa depannya. Tapi, siapa yang telah menarik pelatuk dan melepaskan peluru mematikan? Bagian "Bukti" akan memberikan sejumlah kejutan, tapi belum menghadirkan jawaban.

     

    5. Solusi

    Di tengah-tengah kegemparan publik, Arun Advani menghamburkan hipotesis dalam kolomnya dan kian memanaskan situasi. Sayangnya, misteri pembunuhan terus bergulir, berbagai fakta saling sengkarut. Ada yang mesti dijadikan korban karena penyidikan terhambat menghasilkan jawaban. Ada yang menangguk keuntungan dari kegerahan situasi. Sesungguhnya, belum ada SOLUSI.

     

    6. Pengakuan

    Bagaimanapun, dalam sebuah novel, setiap misteri akan tetap terjawab. Setelah memberikan peluang yang sama bagi setiap karakter untuk mengisahkan perjalanan kehidupan mereka menuju rumah peternakan Vicky Rai, Swarup memutuskan untuk memberikan jawaban. Secara umum, gaya yang ia gunakan mengingatkan pada gaya Agatha Christie ketika menggarap beberapa novelnya. Tapi, tentu saja, Swarup menguasai teknik mutakhir untuk membuat karyanya, dari segi penulisan, menjadi lebih menggairahkan. Keenam tersangka yang dihidupkan secara karikatural diperagakan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan pembicaraan telepon dan penulisan catatan harian.

     

    Sang pembunuh berkata, "Epos besar kita mengisahkan kepada kita bahwa, saat kejahatan merajalela, Dewa turun ke bumi untuk memulihkan kebaikan. Dengan segala hormat, itu omong kosong. Tak seorang pun turun dari kahyangan untuk membereskan kekacauan di bumi. Kau harus membersihkan kotoran itu sendiri. Kau harus melepas sepatumu, menggulung celanamu, dan mengarungi got basah berlumpur." (hlm. 651).  Untuk meligitimasi  tindakannya, ia berdalih, "Kuanggap tindakanku sebagai keadilan preventif. Tindakan seorang warga negara yang menerapkan hukum dengan tangannya sendiri ketika tindakan pihak berwenang tidaklah cukup."

     

    Apakah Anda tahu untuk membunuh seseorang Anda butuh tiga hal?  "Motif yang kuat, nyali yang teguh, dan senjata yang bagus," kata si pembunuh (hlm. 655). Swarup menunjukkan bahwa, di India masa kini,  tidaklah sukar mendapatkan ketiganya.

     

    Novel berakhir, kejahatan tidak.  Si pembunuh tahu, pembunuhan bisa menjadi candu (hlm. 659).

     

    Swarup mengindikasikan diri sebagai novelis genial yang piawai meracik tragedi dan komedi kehidupan kontemporer, ke dalam kisah mentereng berlapis yang saat dibaca seakan-akan tengah mengelupas siung bawang. Seks, romansa beda kasta, budaya kekeluargaan, ritual religius, pengontaminasian keadilan, KKN, kriminalitas, ambisi politik, kutukan benda keramat, keglamoran selebritas, dan imbesilitas orang Amerika berkelindan cemerlang dan meriah. Melalui kisah yang bergerak cepat dengan dialog-dialog menggelitik, terjadi pembiakan plot yang pada gilirannya akan membentuk harmonisasi. Menghindar tipikal kisah misteri ―tanpa besutan adegan-adegan detektif guna membekuk si pembunuh― di penghujung novel,  motif dan aksi si pembunuh akan menggugat nurani kita. Menakjubkan ketika mengetahui, si korban memiliki agenda spesial pada saat dibunuh.

     

    Selama membaca novel ini, selera humor kita akan diporot oleh keimbesilan Larry Page. Saking idiot, Larry tidak tahu kediaman presiden negaranya, tidak bisa menyanyikan "The Star-Spangled Banner" bahkan mengira lagu itu ditulis Stevie Wonder. Banyak kalimatnya yang 'kurang waras'.  Sebagai contoh: Aku rela berjalan melewati neraka dengan pakaian dalam anti-api demi dirimu/ Hidup ini bagaikan roti isi tahi―semakin banyak roti yang kaumiliki, semakin sedikit kotoran yang harus kau makan/ Pengetahuanku tentang internet tidak lebih dari pengetahuan babi tentang cara main piano/ Kau bisa memasukkan sepatu botmu ke oven, tapi itu tidak menjadikannya biskuit/ Kau membuatku lebih bahagia daripada babi yang disinari matahari. Masih ada lagi, tapi sudah cukuplah untuk memberi gambaran kalau pengarang suka mengolok-olok orang Amerika.

     

    Kasus pembunuhan yang menggulingkan Vicky Rai dalam pertempuran opini publik didasarkan pada pembunuhan Jessica Lall, model India, di sebuah bar di New Delhi, 29 April 1999. Manu Sharma, 24 tahun, putra Venod Sharma, seorang politisi kaya,  melepaskan dua peluru; salah satunya fatal.  Selain untuk kasus pembunuhan Ruby Gill, kisah dua peluru ini juga akan mewarnai pembunuhan Vicky Rai.

     

    Kendati mengaku sulit menulis buku ini, Vikas Swarup tetap bisa menuntaskan pada waktu senggang di tengah-tengah pekerjaannya sebagai diplomat di Afrika Selatan (2006-2009). Keuletannya berbuah manis, karena buku ini menjadi salah satu karya pengarang India modern yang laik dibaca. Bukan sekadar karena cerita dan gaya penulisan yang mengesankan, tapi juga karena seting yang memberikan pengetahuan realita kehidupan India masa kini bagi pembaca.

     

     

    Catatan: Tulisan ini ditulis seperti pembagian cerita dalam buku




    Posted at 09:29 am by Jody
    Comment (1)  

    Thursday, July 15, 2010
    LIBRI DI LUCA



    Judul Buku: Libri di Luca

    Pengarang: Mikkel Birkegaard (2007)

    Penerjemah: Fahmy Yamani

    Diterjemahkan dari: The Library of Shadows

    Tebal: 588 hlm, 15 x 23 cm

    Terbit: Cetakan III, April 2010

    Penerbit: Serambi Ilmu Semesta


     

    Beberapa buku bagaikan diisi kembali setiap kali dibaca, jadi pembacaan berikutnya dari buku itu terdengar lebih kuat―lebih efektif dalam mengomunikasikan pesan dan emosi yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.  (hlm. 63).

     

     

    Agar sebuah buku bisa berbicara, diperlukan pembaca. Tapi, membaca buku bukanlah hal sepele, apalagi jika dilakukan dengan bersuara keras. Membaca buku bisa menjadi kegiatan berbahaya, baik bagi yang membaca maupun yang mendengar. Itulah yang merasuk pikiran Jon Campelli, karakter utama novel Libri di Luca karya Mikkel Birkegaard, pada hari pemakaman ayahnya, Luca Campelli.

     

    "Membaca adalah kombinasi dari mengenali simbol dan pola, menghubungkannya dengan suara dan mengumpulkannya menjadi suku kata sampai akhirnya mampu menginterpretasikan arti sebuah kata," kata seorang Lector.  "Banyak daerah di otak yang terlibat dalam menerjemahkan simbol menjadi suara atau memahami bila kamu membaca sendiri. Dan saat itulah, saat proses tersebut berlangsung, sesuatu yang luar biasa terjadi.  Untuk beberapa orang, aktivitas otak meliputi daerah otak yang membuat kita mampu memengaruhi mereka yang mendengar ... tanpa disadari oleh mereka, memengaruhi pandangan mereka akan tulisan, tema, atau hal lainnya. Kalau kita mau, kita bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah dengan menambahkan penekanan."

     

    Menambahkan penekanan dengan membaca keras-keras akan memengaruhi persepsi dan sikap para pendengar. Para pembaca buku yang terlatih ini disebut Lector. Kemampuan mereka bersifat genetis dan memerlukan pengaktifan. Ada dua macam Lector, Pemancar dan Penerima. Pemancar memengaruhi persepsi dan sikap pendengar  terhadap tulisan yang sedang dibaca. Penerima memengaruhi persepsi dan sikap orang yang membaca―termasuk membaca dalam hati―serta bisa membaca apa yang meningkahi pikiran orang itu selama membaca.  Luca Campelli, pemilik toko buku antik tertua di Kopenhagen, Libri di Luca, adalah seorang Pemancar. Jon mengetahuinya setelah ayahnya meninggal secara mendadak sepulang bepergian, dikelilingi buku-buku kesayangannya.

     

    Sejak 20 tahun silam, pertikaian telah merebak dalam tubuh Perkumpulan Pencinta Buku yang merangkul Pemancar dan Penerima. Berbagai peristiwa terjadi dan menghasut mereka untuk saling tuduh. Luca telah berusaha mendamaikan kedua pihak, tapi berbarengan dengan kematian istrinya,  ia tidak bisa mencegah perpecahan perkumpulan menjadi dua kelompok. Kematiannya yang diikuti serangan untuk membakar toko bukunya, memperparah hubungan mereka.

     

    Di usia 32 tahun, Jon dikenal sebagai pengacara dengan kemampuan mempresentasikan argumentasi penutup di ruang sidang. Saat kisah dimulai, ia sedang membela Muhammad Azlan, pria keturunan Turki yang dituduh menadah barang curian. Sukses memenangkan perkara Muhammad, Jon dipercaya membela Otto Remer, pebisnis yang disebut-sebut membangkrutkan ratusan perusahaan dengan aksi pembajakan. Meski harus membagi waktu dengan investigasi kematian ayahnya, Jon berupaya menangani kasus Remer. Hanya saja, bukan memberi informasi penting terkait kasusnya, Remer lebih tertarik membicarakan Libri di Luca. Jon meninggalkan kasus Remer seiring pemecatan dari pekerjaannya.

     

    Svend Iversen yakin Jon memiliki kemampuan Lector. Kendati tidak mudah diyakinkan, pasca pemecatan, Jon bersedia diaktifkan. Hasilnya sungguh menakjubkan, ia memiliki kekuatan dahsyat sebagai Pemancar. Begitu diaktifkan, Jon memutuskan meneruskan investigasi kematian ayahnya yang telah menyempit pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan dari Perkumpulan Pencinta Buku. Informasi yang ia dapat sebelumnya mengatakan bahwa Luca sedang berusaha mengungkap keberadaan organisasi yang mengisruhkan perkumpulan. Cinta yang menggelegak di antara Jon dan Katherina, anggota perkumpulan pengidap disleksia, menunjang penyelidikan. Tapi sungguh tidak mudah menemukan si biang onar, apalagi ketika seorang dari perkumpulan terbukti berkhianat.  Dalam keadaan tidak berdaya, Jon menemukan dirinya dibawa ke Alexandria, Mesir, tempat di mana sejarah Lector pertama kali disigi.

     

    Katherina tidak bergeming. Bersama Henning Petersen, anggota perkumpulan yang lain, dan Muhammad yang ikut terseret, ia menyusul Jon. Di kota yang didirikan Alexander Agung untuk menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan paling terkenal di dunia, telah dibangun kembali Bibliotheca Alexandrina atas kerja sama pemerintah Mesir dan UNESCO. Sebelum Bibliotheca Alexandrina yang asli dihancurkan oleh peperangan, perampokan, dan pembakaran, diperkirakan perpustakaan itu menyimpan 750.000 buku. Lebih dari 700 tahun perpustakaan itu menjadi pusat literatur dan pendidikan di dunia, sehingga banyak sekali buku yang telah berulang diisi kembali. Walaupun telah musnah, tidak berarti buku-buku itu kehilangan pengaruh. Jon akan menyadari kekuatan buku-buku itu seraya mendapatkan pemahaman apa yang telah merongrong persatuan Perkumpulan Pencinta Buku.

     

    Libri di Luca merupakan sebuah novel thriller yang tidak menjadi menarik karena unsur thriller-nya. Daya pikat utamanya justru terletak pada unsur fantasi yang meliputinya.  Bagi para pembaca buku, kisah pembacaan buku dengan efek serupa sihir, akan menjadi sesuatu yang memabukkan. Kita sudah tahu buku punya potensi berbahaya seumpama senjata. Informasi yang dikandungnya mampu melakukan hal-hal seperti guncangan iman, penggulingan kekuasaan, kericuhan publik, ataupun legitimasi tindakan kriminal. Dalam novel ini, di tangan para Lector, buku bisa menjelma senjata menyeramkan. Mampu mengakibatkan pembunuhan dan menyalurkan kekuatan tidak terbatas. Semakin tua sebuah buku, semakin sering dibaca, semakin banyak energi yang terakumulasi. Semakin klasik sebuah buku, semakin berbahaya.

     

    Novel dirancang dengan cemerlang, pembukaan dan penutup sama-sama menggedor. Setelah mengangsurkan misteri pada bagian pertama, usaha pengarang menggelontor gagasan mengenai dunia buku dan para Lector pada paruh pertama akan membuat novel  bergerak lambat. Meskipun begitu, sama sekali tidak membuat novel kedodoran. Bagaimanapun pengungkapan eksplisit seting yang digunakan sangat penting guna meyakinkan pembaca, sekalipun novel ini tergolong novel fantasi. Memasuki paruh kedua, novel bergerak lebih cepat, setiap halaman semakin mengundang untuk dibalik. Hingga mencapai klimaks yang mencengangkan, pengarang tetap mampu mengendalikan laju ceritanya. Bagi saya, dari segi penulisan, Mikkel Birkegaard berhasil memeragakan keunggulan yang dimilikinya.

     

    "Tidak diragukan lagi, kamu bisa menghasilkan kekuatan yang hebat dengan tulisan berbahasa Inggris dan mungkin bahkan Italia, tetapi efeknya selalu lebih kuat dalam tulisan dengan bahasa asli kita. Untuk mengisi tulisan itu, kita harus mengenal bahasanya dan semakin baik kita mengenalnya maka semakin besar kemungkinannya dijadikan alat untuk mencapai tujuan kita," kata si karakter antagonis (hlm. 452). Inilah yang menjadi alasan signifikan penetapan latar belakang Italia untuk karakter Luca dan Jon. Luca yang berasal dari Italia sedang membaca buku berbahasa Italia ketika meninggal secara mengenaskan. Demikian pula buku yang dibaca Jon saat novel mencapai klimaks. 

     

    Di penghujung novel, kita akan melihat keajaiban lain dari sebuah buku. Sebuah buku akan memanggil pulang kenangan masa lalu seperti orang amnesia mendapatkan kembali ingatan. Sebuah buku akan menjadi jembatan kasih sayang, seperti yang terlukis dalam hubungan Luca dan Jon. Memang, sebuah buku bisa juga mengakibatkan pembunuhan, tapi bahkan hal ini hanya meneguhkan keajaiban sebuah buku.



     

    Dalam edisi Denmark, novel ini aslinya berjudul Libri di Luca (2007). Diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh oleh Tiina Nunnally, novel ini diberi judul The Library of Shadows (2008). Edisi Indonesia diterjemahkan Fahmy Yamani dari The Library of Shadows, dan judul aslinya dikembalikan.  

     

    Libri di Luca adalah buah sulung imajinasi  Mikkel Birkegaard, pria Denmark kelahiran 1968 dan berprofesi sebagai pengembang teknologi informasi. Novel ini mencetak kesuksesan di Denmark―cetakan pertamanya terjual 10.000 eksemplar dalam waktu 3 hari―dan setelah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa masuk kelompok "International Bestseller". Menyusul Libri di Luca, Birkegaard telah menerbitkan Over mit lig (Over My Dead Body, 2009).



    Posted at 09:22 am by Jody
    Make a comment  

    Wednesday, July 14, 2010
    THE EINSTEIN GIRL



    Judul Buku: The Einstein Girl

    Pengarang: Philip Sington (2009)

    Penerjemah: Salsabila Sakinah

    Penyunting: Zahra Ilmia & Anton Kurnia

    Tebal: 528 hlm; 15 x 23 cm

    Terbit: Cetakan 1, Mei 2010

    Penerbit: Serambi Ilmu Semesta


     

     

    Kesetiaan pada dusta adalah sesuatu yang tak bisa diterima, betapapun itu mungkin lebih nyaman bagi orang-orang berpandangan sempit dan tak punya prinsip (hlm. 455).

     

     

    Sejauh yang diketahui publik, seumur hidupnya Albert Einstein  hanya memiliki satu istri yaitu Elsa Löwenthal yang dinikahinya Juni 1919. Pada 1986 terungkap bahwa ternyata Einstein pernah menikahi Mileva Máric, ilmuwan Serbia yang tercatat sebagai wanita pertama yang belajar matematika dan fisika di Eropa. Mereka menikah di Swiss pada Januari 1903 dan bercerai enam belas tahun kemudian, setelah hidup terpisah selama lima tahun, Máric di Zurich sedangkan Einstein di Berlin. Dari pernikahan mereka, diketahui telah lahir dua putra, Hans Albert Einstein dan Eduard Einstein. Si bungsu Eduard dikenal sebagai pemuda cerdas dengan bakat musikal. Saat dalam proses mewujudkan impiannya menjadi psikiater, pada usia 20 tahun Eduard didiagnosis mengidap skizofrenia dan dirawat di rumah sakit jiwa Burghölzli di Zϋrich. Gangguan kesehatan mental yang dialaminya merenggangkan hubungannya dengan ayahnya. Albert Einstein (1879-1955) beremigrasi ke Amerika Serikat menjelang berkuasanya si kanselir Jerman Adolf Hitler menggantikan Presiden Paul von Hindenburg. Eduard tidak pernah berjumpa lagi dengan ayahnya hingga meninggal karena stroke pada usia 55 tahun, Oktober 1965. Berbarengan dengan terungkapnya pernikahan Einstein-Máric, terungkap pula sebuah fakta mencengangkan. Sebelum menikah pada Januari 1903, dari hubungan mereka telah lahir seorang anak perempuan yang dipanggil Lieserl pada Januari 1902. Lieserl menghilang setelah orangtuanya menikah secara sah, dan sampai saat ini tidak diketahui nasibnya.

     

    Fakta yang berusaha dipendam dari masa lalu sang ilmuwan yang digadang-gadang sebagai Bapak Fisika Modern ini menjadi tempat berpijak novel bertajuk The Einstein Girl karya Philip Sington.

     

    Dikisahkan Alma Siegel sedang mencari Martin Kirsch, tunangannya yang telah hilang selama dua minggu pada bulan Mei 1933 di Berlin. Seingatnya, Martin yang bekerja sebagai psikiater di Klinik Psikiatri Charité sedang merawat seorang pasien amnesia yang dikenal publik sebagai 'The Einstein Girl' (Gadis Einstein). Pasien tanpa nama itu ditemukan hampir tewas di sebuah hutan di Postdam dalam keadaan setengah telanjang dan basah kuyup. Tidak ada identitas yang ditemukan di tempatnya ditemukan kecuali sepotong kertas berisi pengumuman kuliah umum tentang Teori Kuantum di Philharmonic Hall dengan Albert Einstein sebagai pembicara utama. Hal inilah yang membuat media massa menamakannya 'The Einstein Girl'.

     

    Sebuah kilas balik yang merupakan bagian utama novel dibeberkan panjang-lebar guna menelusuri jejak Martin Kirsch yang hilang.  Sebagai psikiater yang berdedikasi tinggi, Kirsch yang tengah bergumul dengan penyakit neurosifilis, kecewa atas terapi yang dilakukan rekan sejawatnya. Sebelumnya, ia telah menulis sebuah makalah yang dipublikasikan di sebuah jurnal psikiatri sebagai kritik atas terapi tanpa dasar yang pasti itu. Tulisan ini ditambah insiden seorang pasien yang mendapatkan terapi insulin, membuatnya terancam dipecat dari pekerjaannya. Belakangan, Kirsch bertemu seorang pengagum tulisannya yang akan menyelamatkan pekerjaannya.

     

    Kendati terancam dipecat, Kirsch berhasil menjadikan si Gadis Einstein sebagai pasiennya. Alasannya adalah ingin menyelidiki adanya kemungkinan amnesia yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan, padahal sesungguhnya gadis itu bukanlah sosok yang asing baginya. Mereka pernah bertemu dan sekalipun sudah bertunangan, Kirsch tidak mampu menampik daya tarik gadis yang dikenalnya sebagai Elisabeth. Demi menolong Elisabeth memperoleh kembali ingatannya, Kirsch menggelar investigasi.

     

    Di tempat Elisabeth tinggal setibanya dari Zϋrich, Kirsch mengetahui jika nama sebenarnya adalah Mariya Draganović. Perhitungan matematis yang ditemukan dalam sebuah buku catatan milik Mariya diteguhkan oleh rekan Albert Einstein sebagai upaya perumusan teori fisika baru, Teori Medan Terpadu. Yang menarik di sini, Albert Eisntein juga sedang meneliti topik yang sama. Tidak diragukan lagi, Mariya adalah wanita dengan kecerdasan luar biasa. Padahal, sampai saat itu, hanya ada dua wanita yang bisa menyerap penemuan Albert Einstein dengan mudah. Mereka adalah Marie Curie dan Mileva Marić, mantan istri Einstein yang bekerja sebagai pengajar di Zϋrich.

     

    Penemuan Kirsch menuntunnya ke Zϋrich untuk bertemu Mileva Máric dan Eduard Einstein, si bungsu yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Burghölzli.  Mereka tidak sepenuhnya terbuka, namun Kirsch menemukan kaitan mereka dengan hidup Mariya. Sebuah fakta lain juga ditemukannya, bahwa sebelum pergi ke Berlin, Mariya pernah menjadikan dirinya pasien di rumah sakit jiwa Burghölzli.

     

    Pertanyaan yang mungkin menyeruak adalah apakah Mariya Draganović adalah Lieserl yang sengaja disingkirkan dari kehidupan Einstein-Máric? Dalam sebuah subplot yang disampaikan menggunakan perspektif orang pertama, pembaca akan dibawa mengarung masa lalu Mariya untuk menemukan identitas sejatinya. Menyelami ke lubuk kehidupan Mariya yang enigmatis, Sington akan menyingkapkan sebuah kesetiaan pada dusta yang dilakukan dengan dalih melindungi kehormatan keluarga.

     

    Daya pikat utama The Einstein Girl tidak terbantahkan lagi terletak pada penyingkapan selubung misteri yang meliputi kehidupan Lieserl Máric. Seusai memancing rasa penasaran pada beberapa halaman awal, Sington akan mendorong pembaca mengikuti cerita dengan alur yang tidak terburu-buru. Mungkin akan pembuat sementara pembaca tersendat-sendat, namun tidak bisa diungkiri, Sington mampu mendesak pembaca untuk bertanya-tanya.  Apa yang dilakukan Mariya di Berlin hingga ia ditemukan dalam keadaan sekarat?  Apa yang akan terjadi dengan penyelidikan Kirsch? Sebuah pamungkas disuguhkan untuk menyempurnakan ide 'sang penulis' sebenarnya dari cerita yang kita baca, bahwa:  "Akhir suatu cerita haruslah dapat dipercaya atau pembaca akan merasa ditipu. Akhir yang tidak masuk akal akan merusak cerita yang bagus." (hlm.360).  Lantas, memanfaatkan kesalahpahaman yang terjadi sebelum novel benar-benar ditutup, Sington akan menerangkan maksud kalimat pembuka pada bagian "Tak Bernama" (hlm. 13).  

     

    Riset intensif seputar kehidupan Albert Einstein yang membawa Sington kepada tumpukan arsip Jewish National & University Library di Yerusalem mendukung perwatakan Albert Einstein sebagai karakter yang tidak menimbulkan simpati.  Pria yang dinobatkan majalah Time sebagai "Person of the Century" ini boleh tersohor karena kesuksesannya menggulingkan teori lama mengenai cahaya ―dari cahaya sebagai gelombang menjadi cahaya sebagai berkas partikel energi yang disebut kuanta.Tetapi ia juga tergolong manusia yang tidak mampu membangun hubungan dengan manusia lain, termasuk keluarganya sendiri. Tidak hanya terlihat dari pernikahannya dengan Mileva Máric (faktanya, masih terikat pernikahan dengan Máric, ia telah terlibat hubungan ekstramarital dengan Elsa Löwenthal), melainkan juga dalam caranya menyikapi cacat mental putra bungsunya. Disebutkan, Einstein tidak percaya jika penyakit Eduard berhubungan dengan dirinya. Seolah-olah mendukung, Sington menghadirkan pula kecondongan cacat mental dari pihak keluarga Máric. Ketidaksimpatikan si penerima Nobel Fisika tahun 1921 ini terlukis eksplisit dalam respons eksplosifnya terhadap kemunculan Mariya Draganović.

     

    Kegemilangan Sington tampak pula ketika mengemas kompleksitas dunia psikiatri sebagai bagian signifikan novel dengan sokongan deskripsi yang memadai. Kita akan digiring mengenal lekuk-liku dunia yang bermuatan beragam ketidakpastian yang ditandai dengan ketidaksepahaman dalam pemberian terapi. Kita juga akan disadarkan betapa kerap penderita cacat mental menjadi bahan eksperimen dalam rangka penegakan kebenaran masing-masing psikiater. Sang protagonis ―Martin Kirsch― meyakini, salah satu metode untuk menangguk kembali kesadaran para penderita bukanlah menyiksa dengan terapi serampangan, melainkan dengan merangkul untuk menemukan dan memulihkan pemicu gangguan mental mereka.

     

    Menghasilkan karya dengan sentuhan historis pasti tidaklah enteng. Pengumpulan informasi faktual demi menetaskan kisah dengan tingkat kepercayaan tinggi adalah sesuatu yang krusial. Namun, tanpa kepiawaian bertutur, kecermatan memadukan elemen historis dan produk imajinasi, ketangguhan membangun karakterisasi, usaha tersebut akan mubazir. Tampaknya, Philip Sington sangat menyadari hal ini, maka terbitlah The Einstein Girl sebagai karya fiksi yang sungguh laik untuk dibaca.



    Posted at 10:29 am by Jody
    Make a comment  

    Thursday, July 08, 2010
    MADAME BOVARY



    Judul Buku: Madame Bovary

    Pengarang: Gustave Flaubert

    Penerjemah: Santi Hendrawati

    Tebal: 507 hlm

    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010

    Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

     

     

    Emma Rouault mengira menikahi seorang lelaki mapan akan mewujudkan fantasinya sebagai perempuan muda. Seusai kemeriahan pesta perkawinan, Emma meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam kehidupan Charles sebagai seorang officier de santé di Tostes. Seiring perjalanan waktu, Emma sadar telah menempuh jalan yang keliru. Perkawinan tidak mengarahkannya pada realisasi fantasi serupa yang ia baca dalam buku-buku percintaan. Charles tidak memiliki ambisi laiknya kaum lelaki dan romantisme bukanlah gaya hidupnya. Bagi Charles yang berpikiran sederhana, kebahagiaan hanya terletak pada kecakapannya menuntaskan pekerjaan sesuai jadwal. Kekecewaan Emma mengental saat menghadiri sebuah pesta kalangan borjuis dan menemukan kehidupan bergelimang kesenangan para duchess. Seketika, seolah-olah memandang melalui kaca pembesar, ketidakmenarikan Charles kian mencolok.

     

    Demi Emma, Charles rela meninggalkan tempat yang telah memapankan hidupnya selama empat tahun. Mereka pindah ke Yonville, tempat yang mencelikkan Emma akan kebutuhan petualangan asmara bagi seorang istri yang tidak bahagia. Meskipun telah melahirkan seorang anak, Emma tidak mampu mencegah letupan gairah yang dibangkitkan oleh Léon Dupuis, anak muda yang bekerja di kantor notaris Monsieur Guillaumin. Sial baginya, sebelum sempat terbakar kepanasan gairah Léon, anak muda pergi ke Paris melanjutkan kuliah hukum.

     

    Léon boleh saja berlalu, namun Yonville masih menyimpan lelaki lain. Meskipun Rodolphe Boulanger dikenal sebagai pemangsa perempuan, undangan perselingkuhannya tidak mungkin ditepis Emma. Emma tidak menyadari, bagi petualang syahwat semacam Rodolphe, begitu seorang perempuan jatuh cinta pada, ia menjadi kurang menarik. Yang tersisa sekadar hubungan demi menikmati momen-momen penuh berahi tanpa mengempiskan pundi-pundi uang. Dalam berhubungan dengan lelaki, Emma memiliki kecenderungan bersikap posesif. Merasa telah menguasai Rodolphe, ide melarikan diri bersama-sama tidak urung tercetus. Sayangnya, Rodolphe tidak mau bersifat murah hati dalam hal ini, baginya Emma tidak cukup layak dijadikan berhala. Terpuruk karena ditinggalkan Rodolphe, Emma hampir luluhlantak. Untunglah,  Léon muncul lagi dalam kehidupannya dan mampu membangkitkan semangat hidup Emma. Maka sekali lagi Emma terlena dan mengabaikan kenyataan, sangat sulit petualangan cinta berakhir bahagia.

     

    Madame Bovary adalah salah satu dari dua novel yang disebut-sebut sebagai karya terbesar yang pernah ditulis―yang lain  Anna Karenina karya Leo Tolstoy. Merupakan novel Gustave Flaubert (1821-1880), pengarang Prancis, yang pertama kali diterbitkan sekaligus melambungkan namanya sebagai salah satu pengarang penting pada abad ke-19. Novel ini memiliki sejarah yang mengundang perhatian khalayak. Mulai ditulis tahun 1850, membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa diselesaikan. Sebelum diterbitkan pada tahun 1857, novel ini dimuat secara bersambung dalam majalah sastra (1856) yang membuat Flaubert dipengadilankan karena dianggap menodai norma agama dan masyarakat. Flaubert dibebaskan dari tuduhan atas pertolongan Marie-Antoine Jules Sénard, pengacara dari Rouen, kepada siapa buku ini didedikasikan (hlm. 5).

     

    Novel ini merupakan novel realis tragis. Ia mendedahkan kebangkitan dan kehancuran mimpi-mimpi romantis seorang perempuan muda dalam lembaga pernikahan. Ketika mimpi-mimpi itu sukar diwujudkan dalam hubungannya dengan suaminya (karena si suami tidak memahaminya), ia menengok ke luar jendela dan menemukan potensi di luar rumah. Menafikan semua norma yang berlaku, ia menjerumuskan diri dalam petualangan ekstramarital yang tidak memberikannya garansi kebahagiaan. Begitu sadar kemubaziran kelakuannya, ia tidak lagi punya optimisme untuk bermain-main dengan kehidupan. Tindakannya yang didominasi egoisme menciptakan efek domino yang mengenaskan bagi keluarganya. Kendati hanya sebaris, guratan Flaubert di penghujung novel terasa menggerogot: “Berthe hidup dalam kemiskinan dan ia terpaksa harus bekerja pada sebuah pemintalan kapas untuk membiayai hidupnya.”(hlm. 503-504). Dari kisah tragis keluarga Bovary, tampaknya Flaubert hendak mengingatkan bahwa dalam sebuah ikatan pernikahan setiap pelaku perlu menciptakan kesepakatan untuk saling terbuka dan saling memahami, terlebih dalam segi seksualitas. Kesepakatan ini akan menjadi semacam kontrasepsi bagi pembuahan problem yang mungkin bisa dicegah.

     

    Dalam hubungan lelaki-perempuan, Flaubert mencitrakan Emma alias Madame Bovary sebagai perempuan dengan kesadaran seksualitas yang tinggi. Meski Rodolphe menganggapnya tidak lebih dari pemuas nafsu belaka, ia berhasil mencuri kesempatan memanfaatkan lelaki itu untuk kepuasan ragawinya. Léon Dupuis, tidak hanya menyilih apa yang tidak ingin diberikan lagi oleh Rodolphe, tapi membalikkan posisi yang ditegakkan lelaki itu. Jika bagi Rodolphe, Emma adalah kekasih gelap, bagi Emma, Leon adalah kekasih gelapnya. Mungkin, inilah yang disebut-sebut mengilhami secara tidak langsung munculnya feminisme.

     

    Bukan hanya Emma karakter yang dibangun dengan cermat oleh Flaubert. Charles, kendati  didapuk sebagai lelaki tidak beruntung, karakternya sebagai lelaki tanpa ambisi membesut kuat. Demikian juga Rodolphe yang bergelimang hawa nafsu tapi memendam kepengecutan ataupun Leon yang lantaran pengejaran kepuasan seksual, tidak mampu merebut setir dari tangan Emma. Monsieur Lheureux pemilik toko sekaligus rentenir merupakan karakter yang berperan paling penting dalam kejatuhan Emma. Kemahiran manipulatifnya mengaburkan perspektif Emma. Belakangan terungkap, aktivitasnya sebagai rentenir berhubungan dengan lelaki lain, yang menawarkan bantuan kepada Emma dengan seks sebagai imbalan. Karakter Monsieur Hormais, lelaki yang tidak pernah tulus menolong orang lain, cukup mencuri perhatian. Lelaki yang berprofesi sebagai apoteker ini ateis tapi merasa lebih religius dari para pastur dan tidak segan untuk mengecam mereka. Sejak diperkenalkan hingga novel disudahi, Hormais adalah seorang pelanggar undang-undang sejati.

     

    Sebagaimana lazimnya fiksi klasik yang dikisahkan dengan cara berbunga-bunga, novel ini menuntut semangat tinggi para pembaca. Penerjemah edisi Indonesia telah menghasilkan karya terjemahan yang mudah diikuti, tetap klasik tapi tidak kuno. Namun, napas panjang Flaubert yang menghasilkan deskripsi melimpah terasa sangat tumpat hingga memasuki bagian ketiga (dari tiga bagian) novel. Bisa dipastikan memasuki bagian ketiga, pembaca akan didorong untuk menuntaskan novel ini.

     

    Setelah  berumur lebih dari seratus lima puluh tahun, efek menggegerkan seperti kali pertama dipublikasikan sudah mengendap. Bukan karena publik telah mengenal novel ini secara intim, tapi karena perselingkuhan dan religiositas Katolik bukan lagi tema yang cukup mencuri perhatian. Meski begitu, Madame Bovary tetap layak dibaca, paling tidak untuk mengetahui bagaimana fiksi klasik ini mampu memengaruhi banyak karya lain yang menyusulnya.



    Posted at 09:28 am by Jody
    Comments (2)  

    Wednesday, July 07, 2010
    THE HELP



    Judul Buku: The Help

    Pengarang: Kathryn Stockett

    Penerjemah: Barokah Ruziati

    Tebal: 545 hlm

    Terbit: Cetakan 1, Mei 2010

    Penerbit: Matahati


     

    Mississippi boleh dikenal sebagai tempat dilaksanakannya transplantasi paru-paru dan jantung pertama kali di dunia. Atau juga tempat sistem hukum Amerika Serikat dikembangkan, tepatnya di University of Mississippi. Atau juga kampung halaman pesohor semisal Tennessee Williams, Elvis Presley, B. B. King, Oprah Winfrey, atau Faith Hill. Akan tetapi, Mississippi tidak bisa menyembunyikan praktik rasialis yang pernah berkecamuk di sana. Warga kulit hitam dirugikan oleh sejumlah ketidaksetaraan dan ketidakadilan perlakuan karena dianggap tidak sebanding dengan warga kulit putih.

     

    Di awal tahun 1960-an ketimpangan terhadap warga kulit hitam dan kulit putih sangat mencorong. Garis batas di antara mereka dipertebal sementara orang demi mengekang ekspresi warga kulit hitam. Tidak mengherankan jika keluar peraturan-peraturan yang melarang penggunaan fasilitas atau barang yang sama seperti kamar mandi umum, taman bermain, bilik telepon, bioskop, perpustakaan, buku pelajaran, bahkan obat-obatan. Dampak negatif yang mungkin dirasakan warga kulit putih, khususnya kaum lelaki, hanya berkisar pada masalah libido. Mereka akan dicap melanggar hukum jika berani menikahi warga kulit hitam. Jika mereka telanjur menghamili wanita kulit hitam, sudah bisa ditebak siapa pihak paling dirugikan.

     

    Apa yang dilakukan Hilly Holbrook dalam novel The Help karya Kathryn Stockett, adalah tindakan warga kulit putih yang dianggap lumrah pada masa itu. Hilly begitu membenci orang kulit hitam dan mewujudkannya dalam sebuah rancangan undang-undang yang disebutnya Inisiatif Sanitasi Rumah Tangga. Rancangan undang-undang ini mensyaratkan pemisahan kamar mandi keluarga kulit putih dengan pembantu wanita kulit hitam. Tindakannya sungguh ironis. Sebab, Hilly adalah anggota Liga Jackson Junior yang aktif menggalang dana untuk menolong anak-anak Afrika kelaparan yang notabene berkulit hitam. Bagaimana mungkin Hilly bersimpati pada Negro nun jauh di Afrika namun bersikap antipati pada Negro di seberang kota? Itulah yang mengusik pikiran temannya, Eugenia "Skeeter" Phelan, yang kemudian menunjukkan sikap tidak berpihak. Skeeter tidak terprovokasi kendati anggota Liga yang lain seperti Elisabeth Leefolt segera bersekapat, membangun kamar mandi di luar rumah untuk Aibeleen Clark, pembantunya. Bagaimanapun Skeeter tidak mungkin mengabaikan kenyataan kalau ia dibesarkan oleh Constantine Bates, seorang wanita kulit hitam. Ia selalu merindukan Constantine, apalagi saat pulang kampung seusai kuliah, Constatine telah menghilang.

     

    Keramahannya  pada wanita kulit hitam mencuri simpati Aibeleen. Maka, ketika Skeeter mengajak terlibat sebuah proyek rahasia berbahaya, Aibeleen tidak sanggup menampik. Bahkan, ia berupaya membantu mencarikan dukungan wanita kulit hitam lain. Karena proyek ini akan mempertaruhkan hidup dan pekerjaan, banyak yang menolak terlibat, kecuali Minny Jackson, sahabat Aibeleen. Namun, penolakan para wanita kulit hitam lantaran ketakutan hanya berlaku hingga salah satu dari mereka dijebloskan Hilly ke dalam penjara. Gelombang solidaritas segera menyebar, dan secara sukarela mereka menyingkapkan kehidupan dan pengalaman selama bekerja sebagai pembantu keluarga kulit putih, untuk dibukukan. Bagi Skeeter sendiri, proyek ini berpeluang dipersonanongratakan dirinya oleh banyak warga kulit putih Jackson. Ini juga berarti akan menggagalkan rencana masa depannya dengan seorang pria yang mau menerima kekurangan fisiknya.



     

    Bagi Kathryn Stokett, The Help serupa tumpukan kenangan semasa menetap di kampung halamannya, Jackson, Mississippi. Tumbuh dalam sebuah keluarga disfungsional, Kathryn tidak bisa melepaskan diri dari Demetrie McLorn, pembantu kulit hitam di keluarganya. Kepergian Demetrie untuk selamanya ketika Kathryn berusia enam belas tahun, menyisakan pertanyaan yang terus mengusik. Seperti apa rasanya menjadi orang kulit hitam di Mississippi dan bekerja bagi keluarga kulit putih? Kathryn menghabiskan waktu bertahun-tahun membayangkan seperti apa jawaban Demetrie, dan inilah yang mendorong lahirnya novel yang berpotensi mengharubirukan hati pembaca ini. Setelah novel diterbitkan, ada ketakutan yang menggerogot. Mungkinkah ia telah bicara terlalu banyak perihal garis batas antara wanita kulit hitam dan kulit putih? Mungkinkah ia terlalu sedikit mengungkap kesengsaraan para pembantu wanita kulit hitam dan adanya cukup banyak cinta di antara keluarga kulit putih dan pembantu kulit hitamnya? Ketakutan Kathryn sesungguhnya tidak beralasan. Kendati menyampaikan ketidakadilan yang dialami pembantu kulit hitam, terutama akibat perlakuan wanita kulit putih, ia melukiskan pula sebentuk keramahan warga kulit putih. Lou Anne Templeton misalnya, meski termasuk anggota Liga, tidak bersedia melaksanakan ide Holly karena berhubungan baik dengan pembantu wanita kulit hitamnya.

     

    Kecuali satu bagian yang dituturkan dari perspektif orang ketiga, novel berseting 1962-1964 ini digelontor oleh tiga wanita berbeda warna kulit dan usia. Pertama, Aibeleen, wanita kulit hitam separuh baya bijaksana, ditinggalkan suami demi wanita lain. Setelah membesarkan putranya seorang diri, ia diperhadapkan dengan kematian putranya itu dalam usia belia. Saat cerita dimulai dan bergulir, ia bekerja sebagai pembantu sekaligus pengasuh anak-anak keluarga Leefolt yang terabaikan. Narator kedua adalah Minny Jackson, wanita kulit hitam bertubuh pendek, tambun, dan berlidah tajam. Setelah sepuluh tahun mengurus seorang ayah pemabuk, ia terikat pernikahan dengan pemabuk lain yang tidak segan memukulinya. Minny sangat membenci Hilly Holbrook yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan sulit mendapatkan pekerjaan baru. Maka, sebelum mundur dari kehidupan Hilly, Minny mempersembahkan pai cokelat 'istimewa'. Belakangan, Minny bekerja di rumah Celia Rae Foote, wanita cantik yang karena menikahi mantan kekasih Hilly, tidak mungkin masuk Liga Jackson. Narator ketiga adalah yang termuda,  Skeeter Phelan, wanita kulit putih lulusan universitas, berpenampilan kurang menarik dan terlalu jangkung sehingga sukar mendapatkan jodoh. Sambil meraba-raba masa depannya, ia menjawab tantangan editor senior sebuah penerbitan untuk membukukan sebuah ide orisinil.

     

    Kathryn terbilang piawai dalam hal bertutur sekalipun mesti berkisah menggunakan perspektif orang pertama wanita kulit hitam. Ia menjangkau jauh ke dalam hati dan benak mereka dan berhasil mengekstraksi kerinduan, harapan, kesedihan, permasalahan, kekuatiran bahkan kemarahan mereka. Semua terungkap secara wajar dan tanpa tersendat, menutup kenyataan Kathryn sebagai wanita kulit putih.

     

    Semangat humoristis Kathry meliputi beberapa karakter ciptaannya. Aibileen, dengan sikap serius dan bijaksana, tidak bisa membedakan 'amonia' dan 'pneumonia'. Minny yang temperamental di luar rumah, sebenarnya tidak lebih dari wanita dungu bila berada di rumah, di hadapan suaminya. Celia Rae Foote yang tergila-gila dengan warna pink dikemas bak Barbie imbesil yang tidak bisa mengerjakan apa-apa, namun di balik sikapnya itu, tersimpan  kemarahan seorang wanita dari wilayah termiskin di Mississippi.

     

    Cerita pun tidak disterilkan dari selera humor sang pengarang. Tingkah laku pria eksibisionis di pekarangan rumah Celia, apa yang dilakukan Minny dengan pai cokelat yang dikudap Hilly, dan tragedi kakus di rumah Hilly, niscaya akan mengundang tawa pembaca,  kendati mungkin akan diawali dengan kernyitan di wajah.

     

    Secara keseluruhan, novel perdana Kathryn Stockett ini sangat layak dibaca. Kisah jadul terasa segar didedahkan dengan gaya kontemporer. Sedikit ketegangan yang dipercikkan ke dalam alur, akan mendorong pembaca menamatkan novel ini. Khusus untuk edisi Indonesia ini, tentu saja, kita tidak mungkin mengabaikan usaha penerjemah untuk menghasilkan terjemahan dengan tingkat keterbacaan yang tinggi.

     

    Sebelum pertama kali bisa dinikmati publik, Kathryn menghabiskan 5 tahun untuk menggarap novel ini dan menghadapi lebih dari 40 kali penolakan untuk diterbitkan. Namun ternyata, keuletan Kathryn berbuah manis. Berhasil diterbitkan, novel ini ini sempat setahun bertengger di puncak daftar bestseller Los Angeles Times, beredar di lebih dari 30 negara, dan dipastikan diadaptasi menjadi film layar lebar. Nama-nama seperti Emma Stone, Viola Davis, Bryce Dallas Howard, dan Octavia Spencer akan memvisualisasikan berbagai karakter ciptaan Kathryn. Uniknya, Octavia Spencer yang adalah sahabat Kathryn akan memerankan Minny Jackson, yang sejatinya terinspirasi darinya. Spencer tidak hanya memerankan  Minny dalam film tapi juga mengisi suara dari karakter yang sama dalam versi audiobook novel The Help ini.

     

    Tak diragukan, Kathryn mencintai kampung halamannya. Bahkan baginya, Mississippi tidak ubahnya ibu kandung. Tapi dengan tidak mengurangi rasa hormat, menjadi kemestian baginya mengakui bahwa kampung halamannya pernah menjadi saksi ketidakadilan karena perbedaan warna kulit. Nasib malang yang dialami Constantine sangat mungkin pernah terjadi dalam kehidupan sejumlah wanita kulit hitam di Mississippi. Demikian pula musibah yang menimpa Robert Brown, dianiaya warga kulit putih hingga kehilangan penglihatan gara-gara tidak sengaja menggunakan kamar mandi kulit putih. Atau yang terjadi pada Medgar Evers, ditembak di rumahnya sendiri karena aktivitas memajukan warga kulit hitam.

     

    Akhirnya, jika Anda membaca buku ini, Anda mungkin akan bersepakat dengan Kathryn Stockett: "Pembantu yang baik seperti cinta sejati. Kau hanya menemukannya satu kali seumur hidup."(hlm. 449).



    Posted at 09:23 am by Jody
    Make a comment  

    Friday, July 02, 2010
    AGGELOS



     

    Judul Buku: Aggelos

    Pengarang: Harry K. Peterson

    Penyunting: Nuraini Mastura

    Desain sampul: Kebun Angan

    Tebal: 515 hlm

    Terbit: Cetakan 1, Mei 2010

    Penerbit: Mizan Fantasi

     

     

     

     

    Malaikat (Yunani: Aggelos) yang menjelma menjadi manusia bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia fiksi. Harry K. Peterson, pengarang usia muda, mengusung tema ini dalam novelnya yang bertajuk Aggelos. Kata sahibulhikayat, sebuah kotak musik dicuri dari altarnya di Surga. Salah satu malaikat bertekad tidak membiarkan pencurinya meloloskan diri. Ia hampir berhasil ketika sebuah anak panah menembus jantungnya. Si malaikat terjerumus ke bumi bersama kotak musik yang jatuh dari tangan si pencuri.

     

    Syahdan, malaikat yang jatuh ke bumi itu menjelma sebagai remaja pria bernama Slaven Dulton. Ia bersekolah di Te Anau International College, Selandia Baru,  dan menjadi buah bibir di kalangan anak gadis. Slaven tertarik pada Viola Mondru, balerina yang kerap mengajaknya bersilat lidah. Viola sedang mencari pengiring pribadi agar bisa mengikuti kontes balet yang akan diadakan di Celeste Pons, tempat berkumpul para balerina di Selandia Baru. Saat hampir putus asa, Viola mendengarkan permainan biola Slaven yang amat memukau. Slaven bisa memainkan musik yang pernah didengar Viola dari sebuah kotak musik, yang ia yakini, dalam mimpi.

     

    Menjadi balerina yang bisa menari di tempat yang menjadi saksi percintaan Mary dan James, pasangan penari yang dikaguminya, sudah merupakan obsesi Viola. Tahun sebelumnya ia gagal mengikuti kontes karena kakinya terkilir. Padahal demi Celeste Pons, Viola rela membuang kesempatan pindah ke Paris bersama orangtuanya. Keputusan Slaven untuk mau mengiringnya disambut Viola dengan antusias. Satu hal yang membingungkannya, Slaven mengindikasikan ketidaksukaannya pada Daniel Scoot, kekasih Viola. Tidak jadi masalah bagi Viola, yang penting ia bisa mengikuti kontes balet. Namun, berdekatan dengan Slaven dan menikmati kepeduliannya yang sinis tak urung membuai Viola. Tanpa bisa dicegah, ia jatuh cinta dan ternyata mendapatkan balasan setimpal. Perasaan mereka mungkin tidak menjadi persoalan kalau Slaven Dulton manusia biasa.

     

    Di bumi yang oleh penghuni Surga disebut Dyfed, Slaven yang kehilangan ingatan tengah mengemban misi penting. Ia mesti menemukan Jovett –nama kotak musik, yang hilang dan bersaing dengan Zuiver, malaikat sesat yang juga menginginkan Jovett. Jika ia kalah dan Zuiver mendapatkan Jovett,  tidak terelakkan lagi, malapetaka gigantis akan terjadi. Sebenarnya Cupid alias Elsker telah berusaha menggusah Zuiver dengan melontarkan sepasang anak panah bertuah. Sayangnya llyr-nya meleset; satu menembus jantung Slaven yang lain menghunjam jantung Viola. Kegagalan Cupid tidak saja menghilangkan Jovett, tetapi juga mendatangkan masalah monumental. Slaven dan Viola terbuhul cinta terlarang, padahal Aggelos tidak mungkin menjalin cinta dengan Dyfed.

     

    Pertanyaan yang akan mengeriap di benak pembaca adalah yang manakah Zuiver di antara karakter-karakter yang bertebaran? Mungkinkah si tampan Signore Vecchia, guru seni baru, yang melarang hubungan Viola dan Slaven? Ataukah salah satu anak muda yang bersekolah bersama-sama Viola dan Slaven di Te Anau International College? Tampaknya pengarang mengandalkan resep klasik yang tidak pernah usang: si jahat biasanya paling pintar memalsukan penampilan.

     

    Aggelos adalah novel perdana Harry K. Peterson. Berseting Te Anau, kota kecil cantik di Selandia Baru, di mana Suku Maori memegang keyakinan sebagai keturunan dari hasil percintaan terlarang Dewa Langit dan Dewi Bumi, pengarang menggelontor kisah fantasi yang menginternasional. Dengan menenun bersama-sama unsur mitologi, keagamaan dan seni, ia berhasil menghasilkan cerita bermodal kekuatan imajinasi yang memesona kendati tidak tergolong baru. Masih ditemukan kalimat-kalimat yang menuntut penyiangan agar tampil lebih bersih dan mengilap. Namun harus diakui bahwa sesungguhnya Harry cukup terampil dalam segi permainan kata. Keunggulan Harry yang lain tampak dalam menghadirkan dialog. Lebih banyak mengandalkan bahasa Indonesia yang baik, tetapi kelenturannya terjaga, dialog-dialog tetap tampil segar dan berbobot. Dari seluruh aspek penulisan, penetasan gagasan, dan pemetaan konflik yang memadai, kita bisa berharap pengarang yang satu ini akan menelurkan novel berikut yang tidak kalah seru. Dalam buku ini, disebutkan, ia sedang menulis sekuel Aggelos.

     

    Kemahiran Harry membangun latar belakang karakter patut disanjung. Ia mendedahkan Surga sebagai wilayah yang diatur hierarki, ada Eligos dengan para malaikat yang memiliki fungsi khusus. Dalam dunia Kristiani, misalnya, Tuhan dipercaya memiliki banyak malaikat. Ada serafim bersayap enam, kerubim yang mengawal tabut perjanjian, ada juga penghulu malaikat seperti Gabriel dan Mikhael. Lucifer yang memberontak adalah malaikat pemimpin pujian yang berdiri di dekat arasy. Di sini, Harry menciptakan dua kategori malaikat, Sprixie dan Quierro (mungkin dalam sekuel akan dimunculkan kategori anyar). Slaven Dulton termasuk golongan Quierro, malaikat tingkat dasar, tidak punya status dan kekuatan serta tidak bisa terbang. Golongan Sprixie yang arasnya di atas Quierro bisa terbang, memiliki kekuatan dan pelbagai kemampuan seperti main musik dan memprediksi masa depan. Tidak mengherankan yang menjadi pemimpin pujian atau Orpheus adalah malaikat golongan Sprixie. Antagonis dalam novel, Zuiver, adalah salah satu Sprixie. Pengarang memiliki alasan kuat sewaktu menggambarkan Slaven dari kategori Quierro bisa terbang dan bermain biola: berada di bumi, Slaven mengalami transformasi, dari Quierro menjadi Sprixie. Sebagai pelengkap, Harry meminjam Cupid dari mitologi Yunani. Sosok bayi bersayap yang membawa panah ini menjadi salah satu karakter penting.

     

    Keterbiasaan pengarang dengan dunia anak muda yang didedahkannya dalam novel membuat cerita memiliki bonafiditas yang tinggi. Ia, misalnya, tanpa keraguan mengurai pengetahuan tentang balet dengan mengimbuhkan istilah balet dalam narasi. Namun yang paling mengesankan adalah keberhasilannya berkisah menggunakan sudut pandang orang pertama melalui Viola, seorang remaja putri. Kendati lelaki, ia bisa menampakkan kedalaman penjiwaan karakter Viola. (Maafkan saya karena sempat mengira Harry K. Peterson hanyalah pseudonim seorang pengarang perempuan).

     

    Penggunaan perspektif orang pertama, bagaimanapun, memiliki keterbatasan. Mungkin, sesekali pengarang perlu mengalihkan cerita ke perspektif orang ketiga, seperti ketika ia menceritakan pertarungan kedua Sprixie dalam memperebutkan Jovett (bab 23). Saya percaya, pertarungan dengan porsi sedikit lebih banyak –tidak sampai berlebihan- akan membuat novel ini lebih bersinar.




    Posted at 11:53 am by Jody
    Comments (4)  

    Next Page