"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)





<< June 2013 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.


Home
About Me
Links











  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



    rss feed



    Thursday, April 14, 2011
    The Last Ember



    Judul Buku: The Last Ember
    Pengarang: Daniel Levin
    Penerjemah: Fahmy Yamani
    Penerbit: Serambi
    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010
    Flavius Yosefus adalah ahli sejarah abad pertama berdarah Yahudi yang dikenal dengan karya-karya seperti The Jewish War (tahun 75) dan Antiquities of the Jews (94). Bernama Ibrani Yusuf bin Matias, Yosefus dikenal sebagai imam yang  memimpin perlawanan terhadap bangsa Romawi tahun 66 di Galilea. Ia mengalami kekalahan, dan menyusul tindakan bunuh diri anggota menyerah dan ditangkap.

    Pada tahun 69 Yosefus dibebaskan dan direkrut menjadi penerjemah pribadi Jenderal Vespasian dan putranya, Titus -yang memimpin penyerangan dan penghancuran Yerusalem. Sesudah perang, oleh kaisar Vespasian, ia dianugerahi kewarganegaraan Romawi. Disebut-sebut bahwa begitu ditangkap, Yosefus memberikan kepada pihak Romawi informasi untuk menerobos dinding Yerusalem. Oleh karena itu, sejarah menobatkan Yosefus sebagai pengkhianat terhadap bangsanya. Meskipun demikian, ada kalangan yang meyakini jika Yosefus sesungguhnya bukanlah pengkhianat. Ia menyerah kepada pihak Romawi dengan maksud menjadi mata-mata di dalam istana Romawi. Alhasil, catatan sejarahnya mengenai pengepungan dan penghancuran Yerusalem yang banyak dicari di dunia Romawi diduga mengandung sejumlah ketidakbenaran. 

    Tokoh sejarah inilah yang menjadi roh yang menyelubungi novel bertajuk The Last Ember karya perdana Daniel Levin, seorang pengacara yang membuka praktik hukum internasional di New York. Kemisteriusan kehidupan Yosefus ia coba ungkap melalui upaya penyelamatan yang diduga dilakukan Yosefus terhadap sebuah artefak dari Baitallah (Al Haram asy Syarif) di Yerusalem. Artefak itu telah menjadi target pencarian berbagai bangsa seperti Assyria, Babilonia, Persia, Romawi, dan Yunani.

    Dikisahkan, Jonathan Marcus, seorang pengacara muda New York, ditugaskan ke Roma untuk terlibat persidangan kasus berkenaan dengan dua potong Forma Urbis Romae―peta kota Roma yang diukir pada batu besar berdiameter lebih dari 30 meter. Kementerian Kebudayaan Italia menuduh bahwa kedua potongan itu dicuri dari arsip kenegaraan Italia di Roma puluhan tahun silam. Saksi ahli kementerian, seorang pejabat PBB bernama Dr. Emili Travia, mengaku pernah melihat potongan itu saat menyelidiki penggalian ilegal di kompleks Baitallah di Yerusalem. Kedatangan Jonathan ke Roma, dengan modal pengetahuan dalam bidang studi klasik, diharapkan bisa mementahkan kesaksian sang doktor yang sebenarnya pernah memiliki romansa dengannya.

    Tujuh tahun sebelumnya, Jonathan adalah mahasiswa program doktor bidang studi klasik Akademi Amerika di Roma. Berkat tesisnya mengenai Yosefus, ia memenangkan Penghargaan Roma pra-doktoral. Gairah penelitian membuatnya terlibat penggalian ilegal sebuah katakombe yang berakhir malapetaka. Gianpaolo Narcusi, salah satu dari tiga rekannya―yang lain Emili Travia dan Sharif Lebag―tewas. Jonathan dikeluarkan dari Akademi Amerika, mengambil kuliah hukum, lalu menjadi pengacara. Namun, ia tidak sepenuhnya meninggalkan bidang klasik. Latar belakangnya justru membuatnya menjadi komoditas yang diburu para pedagang barang antik yang terlilit masalah. Seperti halnya maksud kedatangannya kembali ke Roma.

    Jonathan menemukan, ternyata, potongan Forma Urbis Romae itu menyimpan sebuah pesan steganografi yang berbunyi: Error Titi (Kesalahan Titus). Menurut sejarawan kuno, di penghujung hidupnya, Titus, yang juga ikut dalam penyerangan Yerusalem, pernah mengatakan: "Aku membuat sebuah kesalahan". Perkataan Titus ini telah menjadi misteri besar dari dunia kuno yang belum terjawab. Jonathan menemukan juga jika Potongan Forma Urbis Romae itu berkaitan dengan Yosefus.

    Dalam persidangan terkuak, sebelumnya, Emili yang dikenal di dunia konservasi barang kuno sebagai Malaikat Artefak, tidak bisa mengabaikan laporan mengenai dugaan penghancuran arkeologi di bawah Baitallah yang dilakukan Dewan Wakaf. Ia hendak mendatangi kompleks Baitallah, tetapi yayasan perwalian rahasia Islam yang menangani Baitallah sejak 1187 tidak memberinya izin. Maka, secara diam-diam, ia melakukan penyelidikan bersama rekannya, Sharif Lebag. Di sanalah Emili melihat potongan Forma Urbis Romae ―dan gambar digital sejumlah halaman dari manuskrip Yosefus― sebelum Sharif Lebag tewas. Emili menduga kematian Lebag tidak bisa dilepaskan dari potongan itu.

    Bukannya melawan dengan gigih, selanjutnya Jonathan justru bekerja sama dengan Emili untuk menguak misteri potongan Forma Urbis Romae.  Mereka menemukan sebuah tsurat ha-hidah (teka-teki simbolis), sebuah kalimat yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yahudi, Kodosh Arbor Ohr' (Pohon Cahaya Suci). Penemuan ini menghanyutkan mereka ke dalam arus petualangan yang melibatkan sejumlah karakter. Tidak hanya di bawah Colosseum yang menjadi asal Forma Urbis Romae, tetapi juga mengalir hingga kompleks Baitallah di Yerusalem. Mereka akan menjadi saksi mata penghapusan sejarah yang terjadi di bawah dua kota berjarak seribu enam ratus kilometer: Roma dan Yerusalem. Dalam petualangan mereka, terungkap kebenaran keberadaan artefak berumur dua ribu tahun, simbol sejarah yang dipandang lebih hebat dari mitos agama mana pun, yang bertaut erat dengan "Kesalahan Titus".

    "Kesalahan Titus" telah menjadi obsesi seorang lelaki bernama samaran Salahuddin. Obsesi itu merupakan obsesi beranting dari kakeknya, Mufti Agung Haji Amin al-Husaini, yang pernah memimpin Dewan Wakaf tahun 1930-an. Sang kakek telah memanfaatkan persahabatannya dengan Adolf Hitler untuk merampok arsip arkeologi di seluruh wilayah pendudukan Nazi untuk menggali maksud perkataan Titus. Penyelidikan sang mufti memunculkan keyakinan bahwa eksistensi bangsa Yahudi terkait dengan artefak yang diselamatkan Yosefus dari Baitallah. Sama seperti Titus, sampai mati, al-Husaini gagal menuntaskan obsesi antisemitis-nya. Saat ini, Salahuddin tidak ingin mengalami kegagalan yang sama.

    Seiring dengan itu, di Roma, bersama timnya, Jacopo Profeta, komandan Pelindung Warisan Kebudayaan Italia―unit penyelidik kejahatan barang antik dalam kepolisian Italia, menemukan mayat wanita cantik tanpa busana yang diawetkan dalam sebuah pilar marmer kuno. Di tempat yang sama juga ditemukan sejumlah halaman yang dirobek dari manuskrip Yosefus. Investigasi yang dilakukan Profeta menggiringnya pada kesimpulan jika mayat wanita cantik itu diambil dari lokasi yang sama dengan tempat penggalian ilegal yang dilakukan Jonathan tujuh tahun sebelumnya.

    Perguliran plot akan mengelupas lapis demi lapis siung yang membungkus pencarian misterius yang menghubungkan pasangan Jonathan-Emili, Salahuddin, dan Profeta. Di titik kulminasi, tidak hanya terungkap jejak terakhir  artefak dengan bara api penghabisannya, namun juga pengkhianatan yang dirancang dengan licik tanpa disadari para korbannya.

    The Last Ember diramu menggunakan formula identik yang pernah digunakan pengarang seperti ―sebut saja― Dan Brown, Steve Berry, atau James Rollins. Petualangan berporos pada misteri zaman kuno yang menjadi obsesi sementara kalangan, sejoli protagonis yang terlibat romansa, dan karakter antagonis tak terduga. Tidak lupa, plot yang mengalir kencang, semakin meruncing seiring terungkapnya berbagai petunjuk penting, yang tentu saja selalu membuka jalan bagi para protagonis menuju kemenangan.


    Sebagai sarjana dalam bidang kebudayaan Romawi dan Yunani (Universitas Michigan), Levin mengangsurkan misteri kuno berlandaskan bidang yang dikuasainya. Meskipun apa yang menjadi misteri kuno di sini sesuatu yang fiktif, Levin memberikan latar belakang sejarah yang mampu membangun keyakinan pembaca terhadap apa yang ia suguhkan. Dampaknya, novel ini tersaji secara menarik, sejak awal hingga akhir.

    Levin masih mengaduk kuali permasalahan keagamaan, tetapi tidak dalam kapasitas menyerang kubu agama tertentu demi melahirkan sensasi. Si karakter antagonis memiliki obsesi yang merupakan wujud rasa antipati pada eksistensi sebuah agama, tetapi dalam berbagai percakapannya, kita tidak akan menemukan ungkapan-ungkapan pedas yang menjelek-jelekkan keyakinan bersangkutan. Boleh dikatakan, berbicara soal agama, Levin tergolong santun.

    Sejoli protagonis seperti telah menjadi kemestian dalam novel thriller. Rasanya 'kurang lezat' jika pasangan protagonis merupakan pasangan perempuan ataupun laki-laki. Levin mengenal resep ini, dan melakukannya juga. Diberi latar belakang, ketertautan satu dengan yang lain, kecerdasan yang kurang lebih sama, dan bumbu romansa, The Last Ember pun hadir membawa bara bagi semua gender.

    Karakter antagonis kerap mendatangkan kebencian di hati pembaca. Tetapi apa jadinya The Last Ember tanpa karakter antagonis? Karakter inilah sesungguhnya yang membuat sebuah novel thriller hidup hingga sanggup merampok perhatian pembaca. Levin menggarap karakter antagonisnya dengan daya guncang yang akan membuat pembaca mencelus ketika kedoknya tersingkap. Latar belakang yang diberikannya pada karakter antagonis ini terasa begitu kuat sehingga memberikan kelogisan pada semua tindakannya.

    Meskipun merupakan karya perdana, The Last Ember adalah sebuah novel yang ditulis dengan mahir. Karenanya, para pembaca novel ini pastinya berharap Levin akan melanjutkan kiprahnya dalam dunia penulisan novel thriller. Melihat trend yang berkembang seolah tanpa henti di dunia perbukuan, bisa diduga, Jonathan Marcus -dan mungkin Emili Travia- masih akan muncul dalam novel-novel Levin berikutnya. Bagi penggemar fiksi thriller yang mengusung kemisteriusan dunia kuno, suguhan Levin akan selalu dinanti.

    Posted at 04:55 pm by Jody
    Comments (3)  

    Monday, April 11, 2011
    ANAK ARLOJI



    Judul Buku : Anak Arloji
    Penulis: Kurnia Effendi
    Editor: Endah Sulwesi
    Tebal: 237 hlm
    Terbit: Cetakan 1, Maret 2011
    Penerbit: Serambi

    Dokter Syarif Budiman, seorang dokter kandungan, memiliki tradisi unik setiap sukses membantu proses kelahiran bayi. Dokter yang dikenal bertangan dingin ini akan menghadiahkan arloji kepada orangtua si bayi. Ia selalu menyebut bayi yang lahir dengan bantuannya sebagai anak arloji. Alkisah, ketika bayi salah satu pasangan yang ditolongnya meninggal, arloji pemberiannya pun berhenti berdetak. Sang narator tentu saja dililit rasa kuatir manakala istrinya melahirkan dan dokter Syarif memberinya sebuah arloji. Apakah arloji itu akan berhenti berdetak juga?

    Cerita misteri bertajuk Anak Arloji ini mewakili 13 cerpen lainnya untuk dijadikan judul kumpulan cerpen terbaru Kurnia Effendi yang diterbitkan Penerbit Serambi ini. Kecuali cerpen Penggali Makam, cerpen-cerpen dalam buku ini sudah pernah dipublikasikan pengarangnya di sejumlah media massa.

    Yang dijadikan cerpen pembuka adalah Noriyu. Lewat cerpen ini tampaknya Kurnia Effendi hendak mengemukakan betapa pentingnya alter ego bagi seorang manusia. Noriyu seorang dokter, tetapi hatinya tidak terbuat dari aluminium, sehingga tidak bebas dari kerapuhan. Ia memerlukan sahabat untuk menghibur perasaan terlukanya, untuk menghalau temperamen rapuhnya. "…aku adalah bagian dirinya yang memisahkan diri saat perasaan kecewa, sedih, marah, atau kehilangan sedang meremas hatinya," kata sang alter ego (hlm. 18).

    Aromawar adalah cerpen misteri lain yang diuntai dari kalimat-kalimat memukau untuk membungkus muatan sensualitas di dalamnya. Marchy yang sedang berulang tahun menikmati kesendirian di sebuah puri ketika seorang lelaki tampan beraroma mawar yang menamakan diri Pangeran Rembulan mendatanginya. Ia menghadiahkan Marchy sebuah kado: percintaan semalam yang membuat sang gadis luluh lantak. Pada malam yang sama, di sebuah café, seorang pencipta parfum yang menyebut dirinya Pangeran Rembulan mengadakan launching parfum terbarunya, Aromawar.

    Elemen misteri juga mewujud dalam Tetes Hujan Menjadi Abu. Andria memutuskan pulang kampung setelah menyaksikan hujan turun dan setiap tetes airnya berubah menjadi abu begitu menyentuh tanah. Ia teringat pesan neneknya bahwa jika hal ini terjadi, itu artinya ia harus segera pulang, karena sang nenek telah meninggal. Ayahnya, seorang duda yang tidak menunjukkan keinginan menikah lagi semangkat istrinya, bertanya-tanya bagaimana Andria bisa datang tepat waktu. Bukti yang disodorkan Andria, sama dipertanyakan, dengan alasan ayahnya tidak ingin menikah lagi.


    Dalam Kuku Kelingking, pengarang mengisahkan tindakan cinta seorang ibu demi mengumpan tekak anak laki-lakinya. Bobby sulit makan sehingga menjadi kurus kerempeng. Banyak dokter dan ahli gizi dikerahkan, hanya untuk menyerah setelah upaya maksimal yang mereka lakukan. Baru, setelah ujung jari kelingking sang ibu tanpa sengaja dikorbankan, akhirnya selera makan Bobby merebak lagi.


    Cinta seorang ibu kepada anaknya tampil kembali dalam Panggilan Sasha. Rosana, seorang ibu muda, memutuskan bekerja ketika kebutuhan hidup keluarga kian meningkat. Jika ia bekerja, terpaksa ia harus meninggalkan anaknya, Sasha,  untuk memulai sejak awal hidup mandiri. Padahal Sasha baru berumur 3 tahun. Sedikit lagi impian Rosana menjadi pekerja sukses akan terwujud, tetapi ia tidak bisa mengabaikan panggilan Sasha yang masih membutuhkannya.


    Cinta ibu yang lain dihadirkan pengarang dalam Wangi Kaki Ibu. Setelah tiga tahun membawa adik perempuannya ke Jakarta dengan harapan bisa mengajar si adik menjadi manusia yang baik, seorang lelaki muda kembali ke kota kelahirannya. Peni, si adik perempuan, telah mati. Memang bukan ia yang membunuh Peni, namun kematian Peni menjadi bukti kegagalannya menunaikan janji kepada ibunya. Ia berharap akan mendapat hukuman dari ibunya. Namun seperti ditulis pengarangnya, "Hanya seorang ibu yang dapat memadukan antara sakit hati dan kasih sayang dengan nyaris sempurna" (hlm. 149).


    Hubungan seorang anak laki-laki dengan ayahnya bisa dibaca dalam dua cerpen yaitu Laut Lepas Kita Pergi dan Kamar Anjing. Setelah kehilangan ibu dan dua adiknya dalam peristiwa tsunami di Aceh, Mustafa terpaksa menerima kepengecutan ayahnya. Ayahnya tidak mampu bertahan mengatasi kesedihan kehilangan keluarganya, dan menuntut Mustafa untuk tetap kuat sepeninggalnya. Mustafa boleh terkenang akan perkataan ayahnya bahwa ia adalah anak pemberani, bukan anak cengeng. Tetapi, bagaimana dengan kesepian karena hidup sebatang kara, tanpa keluarga? Ayahnya tidak pernah berpikir soal yang satu ini.


    Dalam cerpen Kamar Anjing yang rumit, Sentot Karyoto adalah ayah seorang remaja putra bernama Aditya yang terlahir untuk bersaing dengan boneka ciptaan ayahnya, Chocky. Aditya benci pada Chocky karena kehadiran boneka itu menyisihkannya dari cinta seorang ayah. Saat akhirnya menyadari dampak kehadiran Chocky dalam hidup Aditya, Sentot membakar boneka yang pernah jadi sumber keuangan keluarga. Tetapi justru, setelah itu, Aditya tidak bisa menerima. Baginya, Chocky adalah dirinya. Membunuh Chocky berarti mengakhiri juga hidupnya, sehingga ia ingin membunuh ayahnya.


    Cinta antara dua manusia berbeda gender masih menjadi kekuatan manis sang pengarang. Sepanjang Braga dalam kumpulan cerpen ini merupakan versi kelima sejak cerpen berjudul sama ditulis pertama kali tahun 1988 (bisa dibaca dalam kumcer Burung Kolibri Merah Dadu, 2007). Sihir jalan Braga, Bandung, yang menurut pengarangnya menyimpan masa silam Bandung, terus melahirkan cerpen yang beraroma sendu.


    La Tifa
    masih berbincang tentang cinta, antara dua manusia berbeda gender, namun berbeda usia, dan terlarang. Hubungan Latifa dengan Rayadi, seorang ayah dan suami, awalnya dibayang-bayangi figur almarhum ayahnya. Itulah yang diyakini Latifa, sebelum ia memiliki mimpi-mimpi liar terkait dengan Rayadi. Manakala mimpi-mimpi liar itu menampakkan wujudnya dalam persentuhan fisik yang melampaui batas, Latifa melihat dirinya sebagai seorang pendosa nan hina. Apa yang telah terjadi antara dirinya dan Rayadi mungkin bisa dihapus. Maka, Latifa mencoba mengubah cara menulis namanya. Ia bukan lagi Latifa, tetapi La Tifa. Pertanyaannya: "Akankah mengembalikan kesucian?" (hlm. 138).

    Pertaruhan
    menggambarkan gagasan-gagasan konyol yang bisa timbul dalam benak manusia, dipicu oleh hal yang tidak signifikan. Berkisah tentang pertaruhan demi pertaruhan yang dilakoni dua pemuda, Arya dan Iban, yang awalnya disebabkan oleh seorang gadis. Mereka ingin meraih julukan lelaki terhebat dengan melakukan serangkaian permainan berbahaya yang ditonton khayalak. Selain menyabung nyawa dalam kadang harimau di kebun binatang, keduanya pernah mereguk segelas kopi bercampur arsenik. Seolah tidak cukup, demi meraih supremasi kejantanan, mereka kian tertantang untuk mempertaruhkan nyawa dalam permainan yang tidak masuk akal. Pada pertaruhan yang penghabisan, apakah mereka akan keluar dengan selamat?

    Penggali Makam
    adalah kisah pergulatan pikiran seorang lelaki terkait dengan keyakinan agamanya. Ia adalah penggali makam satu-satunya setelah para penggali makam sebelumnya mencampakkan pekerjaan ini. Satu pertanyaan menggerogoti benaknya: tidak ada seorang pun di lingkungan tempat tinggalnya yang berniat menjadi penggali makam, jadi siapa yang akan menggali makam bagi dirinya jika ia meninggal? Sebelum pertanyaan ini terjawab, rentetan tanya telah menambah beban pikirannya. Apakah yang dimaksud dengan takdir? Mengapa setan akan dibakar api di neraka jika setan diciptakan dari api? Apakah Tuhan benar-benar ada?  Pengarang dengan cerdik akan memberikan jawaban yang akan menyembuhkan jiwa si penggali makam.

    "Ternyata aku hanya seorang pendongeng". Kalimat ini disebutkan sebanyak empat kali dalam cerpen pamungkas dalam kumcer ini, Jalan Teduh Menuju Rumah. Cerpen ini merupakan khayalan Kurnia Effendi, sang pengrajin kata, mengenai masa depannya dan keluarganya. Tinggal di dusun lereng bukit, dikunjungi anak-anak, menantu dan cucunya saat lebaran. Tampaknya segala sesuatu begitu membahagiakan, tetapi apakah karena dirinya yang seorang pendongeng? Ternyata tidak, karena kegembiraan cucu-cucunya disebabkan oleh jalan teduh menuju rumah yang telah diupayakannya. Jalan teduh menuju rumah tidak hanya mengacu pada jalan yang dirindangi pepohonan cengkeh menuju rumahnya di lereng bukit, tetapi apa yang telah dilakukannya untuk menjadikan keluarganya sentosa dan bahagia, dengan cinta kasih.


    Kumpulan cerpen Anak Arloji memberikan kita bacaan yang kaya nuansa. Di sini kita bisa menikmati kisah misteri yang menggedor, drama romantis yang mengigit hati, pergulatan psikologis manusia yang tidak habis-habisnya dalam memaknai kehidupan, dan cinta yang mewarnai jalinan antara anggota keluarga. Setiap ilham ditangkap dengan jitu dan digelar dalam untaian kalimat berbobot yang enak dibaca, sebagai salah satu kekuatan paling mencolok dari sang pengarang. Kata demi kata seolah diperhitungkan untuk meninggalkan jejak yang tidak gampang hilang dalam hati pembaca. Dalam keindahannya bertutur, bahasanya selalu wajar. Bahkan, ketika menggelontorkan kisah romantis seperti Aromawar. Pilihan diksinya memesona tetapi tidak membuatnya sok puitis. Saat menyampaikan cerita bermuatan pergumulan psikologis, ia pun memiliki kelebihan, ia tidak pernah larut dalam kalimat-kalimat pelik seperti banyak ditemukan dalam karya-karya serupa.

    Buku yang dipersembahkan untuk ulang tahun setengah abadnya ini –Kurnia Effendi dilahirkan pada 20 Oktober 1960- merupakan kumpulan cerpen keenamnya. Sebelumnya telah terbit kumcer Senapan Cinta (2004), Bercinta di Bawah Bulan (2004), Aura Negeri Cinta (2005), Kincir Api (2005), dan Burung Kolibri Merah Dadu (2007).


    Posted at 04:36 pm by Jody
    Comments (9)  

    Tuesday, July 20, 2010
    THE HOUSE OF THE SPIRITS


    Judul Buku: The House of the Spirits (Rumah Arwah)
    Diterjemahkan dari: La casa de los espíritus
    Pengarang: Isabel Allende (1982)
    Penerjemah: Ronny Agustinus
    Tebal: 600 halaman
    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
     


    "Rumah besar di pojokan" adalah rumah yang dibangun Esteban Trueba, menjelang pernikahannya dengan Clara del Valle. Dirancang oleh arsitek Prancis, rumah itu sengaja dibuat berbeda dengan arsitektur lokal—sebuah rumah anggun dengan pilar-pilar putih, tangga lebar, serambi bermarmer putih, jendela lebar, dan taman ala Versailles. Pada waktunya, rumah itu akan dipenuhi kamar-kamar kosong karena setiap ada tamu baru, Clara pun menggagas pembangunan kamar baru. Saat arwah-arwah mengisiki keberadaan harta terpendam atau mayat yang belum dikubur semestinya di fondasinya, Clara akan meminta dinding diruntuhkan, sehingga rumah itu membiakkan banyak labirin. Sesungguhnya, rumah itu dibangun sebagai kompensasi atas kemelaratan yang dialami Esteban Trueba di masa kecilnya sekepergian ayahnya. Clara akan menjadi ruh dari rumah besar itu, maka begitu ia mangkat, tak pelak lagi zaman kemunduran melanda bangunan megah itu.
     
    Clara del Valle, si cenayang, masih gadis cilik manakala Esteban Trueba merencanakan pernikahan dengan kakaknya, Rosa.  Sebelum pernikahan mereka digelar, Rosa si rambut dedalu dengan penampilan bak putri duyung tewas, menjadi tumbal bagi ayahnya, pengacara yang mulai berkarier di dunia politik. Ditengarai, racun tikus yang membunuh Rosa, sebenarnya ditujukan kepada ayahnya.
     
    Meninggalkan pertambangan emas, di mana ia bekerja guna mendapatkan dana pernikahan, setelah kematian Rosa, Esteban Trueba tidak ingin lagi hidup miskin. Ia pergi ke Tres Marías, perkebunan ayahnya yang terbengkalai. Dengan keuletan tanpa kenal capai, Esteban Trueba berhasil mengembangkan Tres Marías, mengubah kehidupan orang-orang yang tinggal di sana, dan dengan segera menjelma menjadi tuan tanah kaya. Tuan tanah yang dengan serakah mengumbar syahwat pada gadis-gadis pedesaan dan tidak bertanggung jawab saat mereka berbadan dua. Bagi Esteban Trueba, gadis-gadis desa itu memang hanya sekadar pemuas berahi, lantaran istri yang didambakannya mesti datang dari kota.
     
    Setelah membisu selama sembilan tahun sejak kematian Rosa, pada umur 19 tahun, Clara mengumumkan pernikahannya dengan Esteban Trueba. Bukan hal yang aneh, karena Clara memang memiliki kemampuan supranatural. Clara tidak hanya mampu menakbirkan mimpi, ia juga bisa memindai masa depan, dan mengenali maksud hati orang lain. Clara dapat menggerakkan benda tanpa menyentuhnya dan bermain piano tanpa membuka tudungnya. Sebagaimana kematian Rosa, Clara menikahi Esteban Trueba, seperti yang diumumkannya. Kecuali pergi ke Tres Marías di musim liburan, mereka menetap di rumah besar di pojokan itu. Ketiga anak mereka, si sulung Blanca dan kedua adik kembarnya, Jaime dan Nicolás, dilahirkan di rumah besar itu.
     
    Dibandingkan dengan rumah besar di pojokan, Blanca lebih menyukai Tres Marías. Di sana ia menghabiskan masa-masa liburan dan menjalin persahabatan, yang seiring perjalanan waktu, berubah menjadi romansa penuh gairah, dengan Pedro Tercero García, anak mandor perkebunan. Hubungan cinta yang tidak berkenan di hati Esteban Trueba itu menciptakan serangkaian kekisruhan yang berakhir pada pemukulan yang mengompongkan Clara. Sejak peristiwa pemukulan itu, kendati hidup di bawah satu atap, Clara tidak pernah bicara pada suaminya lagi, seumur hidupnya.
     
    Dengan harapan akan mendapat hadiah, Esteban García—cucu perempuan yang diperkosa Esteban—membocorkan tempat persembunyian Tercero. Akibatnya, pria yang senang bermain gitar itu, kehilangan tiga jari tangan kanannya. Permusuhan antara Tercero dengan ayah gadis yang dicintainya akan berlangsung hingga puluhan tahun kemudian sampai Esteban Trueba merasa tidak mampu membasmi cinta mereka.
     
    Hamil dan ditinggalkan kekasihnya membuat Blanca menerima kehendak ayahnya untuk menikahkannya dengan seorang bangsawan Prancis, Jean de Satigny. Rumah tangga mereka tidak bertahan lama, Blanca akan meninggalkannya, pulang ke rumah besar di pojokan, dan tidak bertemu Jean hingga saat ajalnya. Sudah menjadi panggilan hidup Blanca, hanya mengenal satu cinta saja.
     
    Alba yang berambut hijau seperti Rosa, lahir sungsang. Menurut Clara, Alba akan beruntung—bukan cuma karena sungsang disebut-sebut sebagai tanda keberuntungan—dan bahagia. Seorang bocah laki-laki yang menonton kelahiran Alba, kelak membuat Alba menampik niat baik kakeknya untuk kabur ke luar negeri, kala tanah airnya dikerakahi junta militer. Alba akan menyaksikan bahwa setelah neneknya mangkat, ramalannya tidak makbul lagi.
     
    Rumah besar di pojokan itu berdiri melewati arus pergantian kekuasaan. Esteban Trueba tahu, diam-diam, rumah dengan banyak kamar itu telah menyembunyikan atau menjadi saluran bagi para pelarian untuk meninggalkan negeri yang diguncang prahara politik. Itulah takdir rumah yang dibangun Esteban Trueba dengan ambisius, setelah ditinggal mati Clara yang diikuti menghilangnya orang-orang para anggota semesta gaib di belakang rumah. Rumah itu terabaikan, diterpa usia, dan isinya satu demi satu dijual Alba. Belakangan, para arwah menyaksikan rumah ini direnovasi kembali menjelang kematian Esteban Trueba.
     
    Di masa sepuhnya, Esteban tidak mampu menggapai semua perempuan yang pernah muncul dalam hidupnya. Kerap ia teringat kutukan Férula, sebelum kakak perempuannya itu hengkang dari rumah besar di pojokan, untuk selamanya. "Terkutuk kau, Esteban! Kau akan selalu sendirian! Mengkerutlah jiwa ragamu dan kau akan mati seperti anjing!"  (hlm. 191). Akankah kutukan ini mewujud dalam kehidupan Esteban? Yang jelas, setelah puluhan tahun hidup sebagai tuan atas dirinya sendiri, mendekati tenggat kehidupannya, Esteban Trueba akan menghadapi getirnya kebenaran. Meskipun telah berperan dalam penegakan junta militer di negerinya, ia tidak punya secuil pun otoritas untuk melindungi orang yang dicintainya.
     
    The House of the Spirits yang ditulis dalam tradisi realisme magis adalah novel perdana Isabel Allende, pengarang berdarah Chili, yang pertama kali terbit dalam bahasa Spanyol di Barcelona tahun 1982. Di kampung halamannya, novel ini menjadi Best Novel of the Year 1982 dan membuatnya dianugerahi penghargaan Panorama Literario. Novel ini mulai ditulis saat Allende yang menetap di Venezuela—melarikan diri pasca kudeta militer di Chili—menerima kabar kematian kakeknya, 8 Januari 1981. Awalnya ia menulis surat yang ditujukan pada almarhum, tetapi kemudian berkembang menjadi novel ikhwal tiga generasi perempuan keluarga Trueba, yang mengalir dari perspektif seorang kakek dan cucu perempuannya. Tanggal 8 Januari menjadi momen penting bagi proses kreatif Allende. Menurut pengakuan pengarang kelahiran 2 Agustus 1942 ini, sejak The House of the Spirits,  ia selalu mulai menulis pada tanggal 8 Januari.
     
    Kendati tidak sampai tahap ekstrem, tiga perempuan keluarga Trueba―Clara, Blanca, dan Alba―tak bisa lepas dari kegilaan. Clara mengakui, di dalam keluarganya, kegilaan terbagi rata buat semua, dan tak ada sisanya untuk dikuasai satu orang. Blanca dan Alba mungkin tidak mau mengakui, namun perjalanan hidup mereka akan memberi tahu pembaca bahwa sesungguhnya mereka memiliki kegilaan sendiri. Trueba yang berumur panjang, sama sekali tidak bisa menangkal kegilaan ketiga perempuan itu. Ia mengasihi mereka—sebenarnya—dan terpaksa pasrah pada pilihan hidup mereka.
     
    Isabel Allende adalah pengarang dengan semangat mendongeng yang tinggi. Ia mengalirkan cerita dengan indah, pada setiap tikungan menerbitkan rasa penasaran. Kalimat-kalimat panjang yang digelontorkannya tidak menghambat aliran pesona yang disemburkannya sejak novel dibuka. Keulungannya kian terasa ketika membeberkan kenyentrikan para karakter perempuan ciptaannya.
     
    Rumah besar yang digentayangi para arwah itu bisa jadi merupakan miniatur Chili—yang dijadikan seting novel—saat itu. Di dalamnya kita bisa menemukan menggeliatnya segi-segi magis dan percikan marxisme yang ditolerir salah satu dari tiga perempuan Trueba, tetapi tidak dikenan Esteban Trueba. Tentu saja, jika salah satu negara America Latin ini, benar-benar seperti yang dikatakan seseorang saat semangat marxisme mulai merebak: "Marxisme tak punya peluang sedikit pun di Amerika Latin. Kau tak tahu kalau Marxisme itu tidak mempertimbangkan segi-segi magis dari segala sesuatu? Ini doktrin yang ateistik, praktis, fungsional. Tidak mungkin bisa berhasil di sini!"  (hlm.428).
     
    Allende menyebut-nyebut 'Sang Penyair' yang acap bertandang di rumah besar di pojokan itu. Tidak dipastikan identitasnya, namun tidak diragukan lagi, yang dimaksud Allende adalah Pablo Neruda yang puisinya dikutip sebelum novel dimulai.
     
    Edisi Indonesia novel diterjemahkan dengan penguasaan kosakata bahasa Indonesia yang menakjubkan. Sambil menikmati dunia yang dibangun Allende, saya mesti membolak-balik KBBI, untuk memeriksa berbagai kata yang digunakan penerjemah. Walaupun begitu, saya tidak pernah merasa terganggu apalagi merasa bosan.
     
    Apa yang saya rasakan selama membaca The House of the Spirits, sama dengan yang dinyatakan Allison Hoover Bartlett dalam bukunya "The Man Who Loved Books Too Much".  "Aku begitu menghargai keadaan larut dalam sebuah buku sehingga aku membatasi jumlah halaman yang boleh kubaca setiap hari agar bisa menangguhkan akhir yang tak terhindarkan, dan terusir dari dunia itu" (hlm. 13, Pustaka Alvabet, April 2010).


    Posted at 11:45 am by Jody
    Comments (3)  

    Monday, July 19, 2010
    EMMY AND THE INCREDIBLE SHRINKING RAT



    Judul: Emmy and the Incredible Shrinking Rat

    Pengarang: Lynne Jonnel (2007)

    Penerjemah: Maria M. Lubis

    Tebal: 341 halaman

    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010

    Penerbit: Atria

     

     

    Emmaline Augusta Addison meyakini bahwa: "Tindakan paling  jahat di dunia adalah mengabaikan seseorang," karena, "Itu membuat seseorang merasa bahwa dia tidak benar-benar ada" (hlm. 17). Di usia hampir 11 tahun, Emmy –begitu ia dipanggil, kecuali oleh pengasuhnya—telah menjadi korban kejahatan itu, di rumah dan sekolah.

     

    Sebelum tinggal di rumah tua besar di tepi Danau Grayson, Jim dan Kathy Addison adalah orangtua yang baik dan sangat memedulikan putri mereka. Namun, setelah secara mengejutkan menerima warisan dari William Addison, mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan bepergian dan menghadiri berbagai pesta. Mereka sering tidak berada di rumah, dan jika pulang, Emmy tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan mereka.

     

    Jane Barmy, pengasuh Emmy—kepada siapa kehidupan Emmy dipercayakan orangtuanya—sangat ketat soal waktu. Tidak hanya waktu bersama orangtuanya, juga waktu keseharian Emmy. Sehabis jam sekolah, Emmy mesti mengikuti seabrek les—balet, bahasa Prancis, senam lantai, keramik, dansa tap, teater kecil, tenis, dan menenun keranjang. Meskipun kewalahan, Emmy menuruti jadwal yang disusun Barmy. Demi untuk menjadi yang terbaik, karena di mata Barmy, Emmy tahu, dia belum yang terbaik. Sayangnya, sudah bertekun menjadi yang terbaik, Emmy tetap diabaikan. Di sekolah, tidak ada yang menyadari kehadirannya, guru ataupun teman sekelas. Tidak mengherankan jika akhirnya ia merasa kesepian. Sampai akhirnya, seekor  tikus yang dikurung dalam kandang di kelas, menggigitnya.

     

    Gigitan  pertama membuat Emmy bisa mendengar si Tikus bicara. Sadarlah Emmy kalau  tikus bernama Ratson itu adalah tikus bawel yang arogan dan temperamental. "Tidak ada yang menyukaimu, tidak ada yang membencimu, tidak ada juga yang memedulikanmu. Kau adalah nol besar, jika kau bertanya kepadaku, " kata Ratson (hlm. 5). Dan penyebab kemalangan Emmy, menurut Ratson, karena Emmy 'terlalu baik' —tidak sama dengan citra diri yang Emmy bangun. "Sedikit kejahatan bagus bagi jiwa seseorang. Aku sangat merekomendasikannya."  (hlm. 6).

     

    Bagaimanapun hanya Ratson yang menyadari keberadaan Emmy dan mau bicara dengannya, jadi Emmy tidak sakit hati. Bahkan, ia  terdorong membebaskan Ratson yang merasa tidak adil dikurung. Begitu bebas, tikus tidak tahu berterima kasih itu segera minggat, tidak mau berlama-lama dengan Emmy.  Anehnya, Emmy menemukan Ratson berada di toko Tikus Antik, yang menjual dan menyewakan binatang pengerat berbakat langka. Emmy baru menyadari kekeliruannya saat Cheswick Vole, pemilik toko itu, memperlihatkan ketertarikan yang besar. Apalagi kemudian, dalam kondisi memelas, Ratson muncul di rumahnya mencari suaka. Tidak lama setelah kemunculan Ratson kembali, Emmy mendapatkan gigitan kedua.

     

    Kali ini, tubuh Emmy menciut sebesar Ratson. Sebelumnya, Joe Benson, teman sekelas yang pertama menyadari kehadiran Emmy, telah mendapatkan dua kali gigitan. Bersekutu, Emmy, Joe, dan Ratson memutuskan mencari jawaban penyebab kemalangan Emmy.

     

    Di dalam pencarian, mereka bertemu Sissy yang adalah antidot Ratson; Tikus Sayang, si cantik berhati mulia;  Brian, penjaga Tikus Antik yang baik hati;  Mrs. Bunjee, tupai tanah penuh kasih beranak dua, Buckram dan Chipster; Maxwell Capybara, profesor binatang pengerat pengidap ratolepsy yang tubuhnya juga menciut.

     

    Mereka semua berpadu dalam novel yang diwarnai kisah Kota Binatang Pengerat, cetakan kaki chinchilla, pemainan bola cakar (pawball), karaskop, aroma celurut yang menyebabkan lupa; ekstrak gerbil yang melipattigakan usia, dan  minyak berang-berang yang bisa mengendus kebohongan.

     

    Memasuki situasi genting, Emmy mendapatkan gigitan ketiga. Mujurnya, setelah gigitan kedua yang membuat tubuhnya menciut, Emmy sempat dinormalkan. Celaka baginya kalau mendapatkan gigitan ketiga dan belum dinormalkan. Emmy akan mengetahui efek gigitan ketiga ini, kala secara paripurna, ia menyadari penyebab pengabaian dirinya, dan berjuang untuk mematahkannya.

     

    Emmy and the Incredible Shrinking Rat (2007) adalah novel pertama Lynne Jonell, pengarang cewek Amerika asal Minnesota—sebelumnya telah menerbitkan buku bergambar. Novel yang memenangkan Minnesota Book Award ini merupakan buku pertama serial Emmy Addison. Menyusul Emmy and the Incredible Shrinking Rat, Jonell telah menerbitkan Emmy and the Home for Troubled Girls (2008) dan sedang mempersiapkan penerbitan buku ketiga, Emmy and the Rats in the Belfry (2011).

     

    Seperti mayoritas fiksi anak-anak, novel ini memakai resep yang seolah sudah kemestian, yaitu kebaikan yang akan selalu memperoleh sokongan demi menaklukkan kejahatan. Meskipun demikian, Emmy and the Incredible Shrinking Rat tidak terperangkap menjadi kisah stereotipikal yang gampang ditebak. Jonell menampilkan dirinya sebagai pengarang dengan kecerdikan yang mampu menyihir pembaca untuk tidak berhenti hingga novel ditamatkan. Ia menggerakkan ceritanya dalam alur yang dikemas apik, dilengkapi kejadian sarat humor dan kejutan yang dipersiapkan  penuh perhitungan. Selera humor pengarang tidak hanya tampak dalam cerita, tetapi juga dalam dialog-dialognya.  Percayalah, sebelum pembaca sempat bosan, novel kocak ini telah disudahi dengan pamungkas yang akan membuat pembaca bersorak.

     

    Tidak terbantahkan lagi kalau di antara berbagai karakter hewan yang ada, Raston yang paling menarik. Tikus ini banyak memuntahkan kalimat yang membuat Emmy tergelitik untuk berdebat. Salah satu bagian yang menarik—tak disangsikan lagi merupakan kritik Jonell—adalah saat mereka berdebat tentang 'yang biasa-biasa saja' setelah Ratson tidak mampu memahami 'kebodohan' tupai dan bajing (hlm. 69-70).

     

    Raston: Mungkin aku tidak dididik dengan benar. Mungkin Teacher's Tattle benar—sekolah-sekolah di Amerika seharusnya memberikan lebih banyak lagi pelajaran bahasa. Bagaimana aku bisa menjadi bintang, seekor tikus dengan pencapaian tinggi, jika aku tak pernah mempelajari bahasa Tikus?"

    Emmy: Tidak ada yang berharap kau lebih dari sekadar tikus biasa, sejauh yang kuketahui.

    Raston: Dan apakah kau bertekad untuk hanya menjadi seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja?

    Emmy:  Aku tak keberatan menjadi biasa-biasa saja.

    Raston: Dan itu, adalah suatu kekurangan lain dalam sistem sekolah di Amerika. Ekspektasi yang rendah. Menghasilkan—dirimu sebagai contoh yang baik—anak-anak yang membosankan, yang biasa-biasa saja. Oh, memalukan ….

     

    Memang Emmy and the Incredible Shrinking Rat lebih ditargetkan untuk pembaca anak-anak, namun amat penting dibaca orangtua. Terkadang, orangtua menaruh ekspektasi menjulang pada anak-anak untuk menjadi manusia unggulan dengan melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas. Para orangtua lupa jika anak-anak juga memiliki keinginan menikmati masa anak-anak, yang hanya sekali terjadi. Kendati motivasinya culas, Jane Barmy memaksa Emmy mengikuti segala macam les sepulang sekolah. Sahabat Emmy, Joe Benson, dipaksa ayahnya untuk terus berlatih sepakbola. Jeritan hati Joe dituangkannya dalam puisi berjudul 'Untuk Ayah"  (hlm. 91).


    Aku selalu berlatih keras

    Bahkan saat hujan deras

    Juga setiap hari pada musim dingin

    Bisakah Ayah membolehkan aku—hanya

    bermain?

     

    Tidak perlu diragukan lagi Emmy and the Incredible Shrinking Rat (Emmy dan Tikus Penciut yang Menakjubkan) sungguh novel yang layak disantap. Setiap gigitan, akan membuat Anda termehek-mehek. Sedaaap.



    Posted at 11:50 am by Jody
    Comments (5)  

    Friday, July 16, 2010
    SIX SUSPECTS



    Judul Buku: Six Suspects

    Pengarang: Vikas Swarup

    Penerjemah: Rini Indradini

    Tebal: x + 662 hlm; 20,5 cm

    Terbit: Cetakan 1, Mei 2010

    Penerbit: Bentang


     

    Six Suspects adalah novel Vikas Swarup, pengarang India yang sebelumnya telah menerbitkan dan menikmati kesuksesan karya perdananya, Q&A –yang difilmkan dengan judul Slumdog Millionaire. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan akan difilmkan menyusul pendahulunya. Six Suspects adalah novel misteri pembunuhan yang ditulis dengan cara yang tidak biasa.

     

    1. Pembunuhan

    Arun Advani, seorang jurnalis investigasi, menulis dalam kolomnya: "Tak semua kematian setara. Dalam kematian pun ada sistem kasta. Penarik becak miskin yang ditikam sampai mati tidak lebih dari statistik, terkubur di halaman-halaman koran. Namun, pembunuhan seorang selebriti seketika menjadi berita utama. Karena orang-orang yang kaya dan terkenal jarang dibunuh. Mereka menjalani kehidupan bintang lima dan, kecuali mereka overdosis kokain atau mengalami kecelakaan ganjil, umumnya meninggal dalam kematian bintang lima ketika mereka sudah ubanan, setelah memilik banyak keturunan dan harta benda." (hlm. 4).

     

    Vivek "Vicky" Rai, seorang industrialis muda dengan kehidupan ala selebritas, mati sebelum ubanan. Ia adalah putra Menteri Dalam Negeri Uttar Pradesh yang tersohor karena berkali-kali lolos dari jerat hukum, kendati melanggar hukum. Pernah menggilas mati enam orang pengemis dalam keadaan mabuk dan membunuh dua rusa hitam liar di sebuah suaka margasatwa, namun mendapatkan putusan tidak bersalah. Pada ulang tahunnya yang ke-25, ia membunuh Ruby Gill, mahasiswi doktoral Universitas Delhi yang bekerja paruh waktu di restoran tempat dilaksanakannya pesta ulang tahun. Ruby Gill ditembak mati lantaran menolak memberikan segelas tequila yang diminta Vicky. Kasus pembunuhan ini menyedot perhatian publik, hingga akhirnya, Vicky mendapatkan kembali impunitasnya. Putusan tidak bersalah kali ini dipestakan di rumah peternakannya di Mehrauli, pinggiran New Delhi. Di sana, ia mati dengan cara sama yang digunakannya membunuh Ruby Gill.

     

    2. Tersangka

    Arun Advani menulis lagi: "Para tersangka sangat beragam, kumpulan aneh yang terdiri dari si jahat, si cantik, dan si buruk rupa." (hlm. 9).

     

    Polisi di TKP segera bertindak, menggeledah semua tamu. Enam orang ditetapkan sebagai tersangka, karena mereka membawa senjata api. Mohan Kumar, mantan Sekretaris Kepala Negara Bagian Uttar Pradesh yang dikenal sebagai koruptor dan pemburu wanita. Mr. Rick Myers, orang Amerika bebal yang mengaku sebagai produser Hollywood. Jiba Korwa, pemuda kulit hitam dengan tubuh setinggi lima kaki, berasal dari Jharkand dan dicurigai bagian dari kelompok Naxalite―gerakan revolusioner India yang ingin menggulingkan pemerintahan demokratis dan menggantikan dengan kepemimpinan garis keras― yang pernah mengancam akan membunuh Vicky terkait proyek Zona Ekonomi Khusus.  Munna Mobile, sarjana pengangguran, anak wanita tukang sapu kuil di Mehrauli, yang mendapatkan uang dengan jalan mencuri telepon seluler. Jagannath Rai, si Menteri Dalam Negeri, ayah kandung Vicky, seorang politisi ambisius. Shabnam Saxena,  satu-satunya wanita, aktris Bollywood dengan kemolekan yang menggelarinya "Mimpi Basah Nomor Satu". Ia digosipkan sedang digilai Vicky Rai.

     

    Arun Advani melanjutkan: "Pembunuhan mungkin kusut, tapi kebenaran lebih kusut. Mengikat ujung-ujung yang terurai pasti sulit. Sejarah hidup keenam tersangka perlu disisir. Motif harus ditetapkan. Bukti perlu disusun. Dan baru setelah itu kita dapat menemukan pelaku sesungguhnya." (hlm. 10).

     

    3. Motif

     

    Mohan Kumar: Pensiunan Birokrat

    Mohan Kumar mengatasi post power syndrome dengan bergiat sebagai anggota dewan enam perusahaan Vicky Rai dan memelihara wanita simpanan. Pasca menghadiri acara pemanggilan arwah Mahatma Gandhi, ia ditengarai mengidap kepribadian ganda, ada kalanya mengakui dirinya si Bapak Bangsa. Layaknya Gandhi, Mohan bersikap penuh kemuliaan: berpantang seks, berhenti mengonsumsi daging dan alkohol, serta berbusana laksana Mahatma Gandhi. Alhasil, ia menyandang julukan "Gandhi Baba" dan direkomendasikan menerima Nobel Perdamaian. Menanggapi kasus kematian Ruby Gill, Mohan berkata, "Dia adalah muridku yang terhebat. Dia sedang mengerjakan studi doktoral mengenai ajaranku sebelum hidupnya dengan tragis diakhiri terlalu dini." (hlm. 134). Selanjutnya, ia pun menandaskan, "... Aku selalu berpendapat bahwa ketika hanya ada pilihan antara kepengecutan dan kekerasan, aku lebih memilih kekerasan. Jauh lebih baik membunuh seorang pembunuh daripada membiarkannya membunuh lagi. Orang yang sukarela menerima ketidakadilan sama bersalahnya seperti orang yang melakukan ketidakadilan itu."  (hlm.192).

     

    Shabnam Saxena: Aktris Bollywood

    "Para pria di India menggolongkan perempuan ke dalam dua kategori―bisa dipakai dan tidak bisa dipakai. Perempuan yang disakralkan adalah ibu dan saudara perempuan mereka. Sisanya adalah hidangan bagi impian mesum dan fantasi mereka saat masturbasi," kata Shabnam Saxena (hlm. 40), si dewi seluloid pengagum Nietzsche. Sebagai wanita asal wilayah terpencil, walaupun tersohor, ia memiliki kebaikan hati. Ia mengundang Ram Dulari, seorang gadis asing berparas cantik ke dalam rumah, dan mengubah si gadis melalui Proyek Cinderella yang digagasnya. Kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan yang berpotensi menghancurkan reputasinya. Di tengah problem yang menguras pikiran, adik perempuannya tersandung masalah. Solusinya hanya Vicky Rai. 

     

    Mr. Rick Myers: Produser Hollywood

    Bernama asli sama dengan salah satu pencipta Google―Larry Page, operator forklift asal Texas ini bodoh bukan kepalang. Ia datang ke India untuk menikahi sahabat penanya. Sebelum tiba di New Delhi, ia tahu telah ditipu. Ternyata, wanita idamannya telah mengirimkan foto-foto aktris Bolywood paling menggiurkan, Shabnam Saxena, sebagai dirinya. Tongpes, dipecat dari pekerjaan, kehilangan paspor, menggiring Larry dalam pusaran aksi penculikan kelompok teroris Al Qaeda. Kemujuran memihaknya, ia berkesempatan menjumpai Shabnam Saxena, di pesta pembebasan Vicky Rai.

     

    Munna Mobile: Pencuri Ponsel

    Meskipun bergelar sarjana, Munna Mobile tidak punya pekerjaan tetap. Mencuri telepon seluler dengan target utama mobil yang berhenti di lampu merah, menjadi pilihannya. Lantaran aksi pencuriannya, ia menemukan sebuah koper berisi uang 75 lakh (±150 miliar rupiah). Uang itu bak katalisator untuk mewujudkan mimpi-mimpi Munna, termasuk cinta kepada gadis cantik bernama Ritu. Nasib sangat suka mempermainkan Munna. Koper itu direbut darinya dan kekasihnya disiksa. "Cinta bisa membuatmu buta, tetapi keputusasaan bisa membuatmu nekat. Kuputuskan untuk membeli pistol," kata Munna (hlm. 268).

     

    Jiba Korwa: Adivasi dari Jarkhand (?)

    Eketi memperoleh nama Jiba Korwa dari Ashok Rajput, tanpa tahu konsekuensinya. Pemuda suku Onge―sebuah suku di Andaman Kecil, Teluk Bengali―pergi ke India bersama Ashok untuk mencari relik milik suku yang dicuri. Tanpa relik yang disebut ingetayi itu, suku Onge tidak akan bebas dari musibah, dan siapa pun yang menyimpan ingetayi, dan bukan suku Onge, akan tertimpa malapetaka. Seraya menebar kutukan, ingetayi berpindah tangan hingga meribetkan Eketi. Sempat terpisah dari Ashok, Eketi bergabung kembali dengan si pegawai Depsos pergi ke Mehrauli. Menurut Ashok, yang sebenarnya punya agenda pribadi, ingetayi ada di tangan Vicky Rai.  

     

    Jagannath Rai: Politisi Ambisius

    Jagannath Rai tidak pernah puas dengan jabatannya. Ambisi monumentalnya adalah menduduki posisi Menteri Koordinator yang sangat bergengsi. Untuk melancarkan ambisinya, Jagannath tidak pantang menghalalkan segala cara, termasuk memanfaatkan jasa pembunuh bayaran. Yang membuatnya naik pitam, kendala datang dari dalam keluarganya sendiri.  Kendala itu bernama Vicky Rai yang kebebasannya disambut murka publik yang siap menjegal karier politik sang ayah. "Apa kau pernah dengar tentang Ibrahim?" tanya Jagannath kepada pembunuh bayaran-nya. "Setiap Muslim pernah mendengarnya. Dia adalah pria hebat yang siap mengorbankan putranya demi menyenangkan Allah," sahut Mukhtar Ansari (hlm. 313). 

     

    4.  Bukti

    Apa sebetulnya yang terjadi pada di sekitar tewasnya Vicky Rai?  Swarup akan mengurainya pada bagian "Bukti" di mana kita menemukan berbagai peristiwa tak terduga. Mohan Kumar akan dipulihkan dari kesurupan. Larry Page akan merasa marah seperti 'pria berkaki satu dalam pertandingan tendang pantat'. Jagannath Rai akan mengambil keputusan penting selaras konsep pengorbanan Ibrahim. Munna Mobile akan menuntaskan kesumatnya. Eketi akan melakukan penebusan dosa, dan Shabnam Saxena akan menegaskan masa depannya. Tapi, siapa yang telah menarik pelatuk dan melepaskan peluru mematikan? Bagian "Bukti" akan memberikan sejumlah kejutan, tapi belum menghadirkan jawaban.

     

    5. Solusi

    Di tengah-tengah kegemparan publik, Arun Advani menghamburkan hipotesis dalam kolomnya dan kian memanaskan situasi. Sayangnya, misteri pembunuhan terus bergulir, berbagai fakta saling sengkarut. Ada yang mesti dijadikan korban karena penyidikan terhambat menghasilkan jawaban. Ada yang menangguk keuntungan dari kegerahan situasi. Sesungguhnya, belum ada SOLUSI.

     

    6. Pengakuan

    Bagaimanapun, dalam sebuah novel, setiap misteri akan tetap terjawab. Setelah memberikan peluang yang sama bagi setiap karakter untuk mengisahkan perjalanan kehidupan mereka menuju rumah peternakan Vicky Rai, Swarup memutuskan untuk memberikan jawaban. Secara umum, gaya yang ia gunakan mengingatkan pada gaya Agatha Christie ketika menggarap beberapa novelnya. Tapi, tentu saja, Swarup menguasai teknik mutakhir untuk membuat karyanya, dari segi penulisan, menjadi lebih menggairahkan. Keenam tersangka yang dihidupkan secara karikatural diperagakan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan pembicaraan telepon dan penulisan catatan harian.

     

    Sang pembunuh berkata, "Epos besar kita mengisahkan kepada kita bahwa, saat kejahatan merajalela, Dewa turun ke bumi untuk memulihkan kebaikan. Dengan segala hormat, itu omong kosong. Tak seorang pun turun dari kahyangan untuk membereskan kekacauan di bumi. Kau harus membersihkan kotoran itu sendiri. Kau harus melepas sepatumu, menggulung celanamu, dan mengarungi got basah berlumpur." (hlm. 651).  Untuk meligitimasi  tindakannya, ia berdalih, "Kuanggap tindakanku sebagai keadilan preventif. Tindakan seorang warga negara yang menerapkan hukum dengan tangannya sendiri ketika tindakan pihak berwenang tidaklah cukup."

     

    Apakah Anda tahu untuk membunuh seseorang Anda butuh tiga hal?  "Motif yang kuat, nyali yang teguh, dan senjata yang bagus," kata si pembunuh (hlm. 655). Swarup menunjukkan bahwa, di India masa kini,  tidaklah sukar mendapatkan ketiganya.

     

    Novel berakhir, kejahatan tidak.  Si pembunuh tahu, pembunuhan bisa menjadi candu (hlm. 659).

     

    Swarup mengindikasikan diri sebagai novelis genial yang piawai meracik tragedi dan komedi kehidupan kontemporer, ke dalam kisah mentereng berlapis yang saat dibaca seakan-akan tengah mengelupas siung bawang. Seks, romansa beda kasta, budaya kekeluargaan, ritual religius, pengontaminasian keadilan, KKN, kriminalitas, ambisi politik, kutukan benda keramat, keglamoran selebritas, dan imbesilitas orang Amerika berkelindan cemerlang dan meriah. Melalui kisah yang bergerak cepat dengan dialog-dialog menggelitik, terjadi pembiakan plot yang pada gilirannya akan membentuk harmonisasi. Menghindar tipikal kisah misteri ―tanpa besutan adegan-adegan detektif guna membekuk si pembunuh― di penghujung novel,  motif dan aksi si pembunuh akan menggugat nurani kita. Menakjubkan ketika mengetahui, si korban memiliki agenda spesial pada saat dibunuh.

     

    Selama membaca novel ini, selera humor kita akan diporot oleh keimbesilan Larry Page. Saking idiot, Larry tidak tahu kediaman presiden negaranya, tidak bisa menyanyikan "The Star-Spangled Banner" bahkan mengira lagu itu ditulis Stevie Wonder. Banyak kalimatnya yang 'kurang waras'.  Sebagai contoh: Aku rela berjalan melewati neraka dengan pakaian dalam anti-api demi dirimu/ Hidup ini bagaikan roti isi tahi―semakin banyak roti yang kaumiliki, semakin sedikit kotoran yang harus kau makan/ Pengetahuanku tentang internet tidak lebih dari pengetahuan babi tentang cara main piano/ Kau bisa memasukkan sepatu botmu ke oven, tapi itu tidak menjadikannya biskuit/ Kau membuatku lebih bahagia daripada babi yang disinari matahari. Masih ada lagi, tapi sudah cukuplah untuk memberi gambaran kalau pengarang suka mengolok-olok orang Amerika.

     

    Kasus pembunuhan yang menggulingkan Vicky Rai dalam pertempuran opini publik didasarkan pada pembunuhan Jessica Lall, model India, di sebuah bar di New Delhi, 29 April 1999. Manu Sharma, 24 tahun, putra Venod Sharma, seorang politisi kaya,  melepaskan dua peluru; salah satunya fatal.  Selain untuk kasus pembunuhan Ruby Gill, kisah dua peluru ini juga akan mewarnai pembunuhan Vicky Rai.

     

    Kendati mengaku sulit menulis buku ini, Vikas Swarup tetap bisa menuntaskan pada waktu senggang di tengah-tengah pekerjaannya sebagai diplomat di Afrika Selatan (2006-2009). Keuletannya berbuah manis, karena buku ini menjadi salah satu karya pengarang India modern yang laik dibaca. Bukan sekadar karena cerita dan gaya penulisan yang mengesankan, tapi juga karena seting yang memberikan pengetahuan realita kehidupan India masa kini bagi pembaca.

     

     

    Catatan: Tulisan ini ditulis seperti pembagian cerita dalam buku




    Posted at 09:29 am by Jody
    Comment (1)  

    Thursday, July 15, 2010
    LIBRI DI LUCA



    Judul Buku: Libri di Luca

    Pengarang: Mikkel Birkegaard (2007)

    Penerjemah: Fahmy Yamani

    Diterjemahkan dari: The Library of Shadows

    Tebal: 588 hlm, 15 x 23 cm

    Terbit: Cetakan III, April 2010

    Penerbit: Serambi Ilmu Semesta


     

    Beberapa buku bagaikan diisi kembali setiap kali dibaca, jadi pembacaan berikutnya dari buku itu terdengar lebih kuat―lebih efektif dalam mengomunikasikan pesan dan emosi yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.  (hlm. 63).

     

     

    Agar sebuah buku bisa berbicara, diperlukan pembaca. Tapi, membaca buku bukanlah hal sepele, apalagi jika dilakukan dengan bersuara keras. Membaca buku bisa menjadi kegiatan berbahaya, baik bagi yang membaca maupun yang mendengar. Itulah yang merasuk pikiran Jon Campelli, karakter utama novel Libri di Luca karya Mikkel Birkegaard, pada hari pemakaman ayahnya, Luca Campelli.

     

    "Membaca adalah kombinasi dari mengenali simbol dan pola, menghubungkannya dengan suara dan mengumpulkannya menjadi suku kata sampai akhirnya mampu menginterpretasikan arti sebuah kata," kata seorang Lector.  "Banyak daerah di otak yang terlibat dalam menerjemahkan simbol menjadi suara atau memahami bila kamu membaca sendiri. Dan saat itulah, saat proses tersebut berlangsung, sesuatu yang luar biasa terjadi.  Untuk beberapa orang, aktivitas otak meliputi daerah otak yang membuat kita mampu memengaruhi mereka yang mendengar ... tanpa disadari oleh mereka, memengaruhi pandangan mereka akan tulisan, tema, atau hal lainnya. Kalau kita mau, kita bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah dengan menambahkan penekanan."

     

    Menambahkan penekanan dengan membaca keras-keras akan memengaruhi persepsi dan sikap para pendengar. Para pembaca buku yang terlatih ini disebut Lector. Kemampuan mereka bersifat genetis dan memerlukan pengaktifan. Ada dua macam Lector, Pemancar dan Penerima. Pemancar memengaruhi persepsi dan sikap pendengar  terhadap tulisan yang sedang dibaca. Penerima memengaruhi persepsi dan sikap orang yang membaca―termasuk membaca dalam hati―serta bisa membaca apa yang meningkahi pikiran orang itu selama membaca.  Luca Campelli, pemilik toko buku antik tertua di Kopenhagen, Libri di Luca, adalah seorang Pemancar. Jon mengetahuinya setelah ayahnya meninggal secara mendadak sepulang bepergian, dikelilingi buku-buku kesayangannya.

     

    Sejak 20 tahun silam, pertikaian telah merebak dalam tubuh Perkumpulan Pencinta Buku yang merangkul Pemancar dan Penerima. Berbagai peristiwa terjadi dan menghasut mereka untuk saling tuduh. Luca telah berusaha mendamaikan kedua pihak, tapi berbarengan dengan kematian istrinya,  ia tidak bisa mencegah perpecahan perkumpulan menjadi dua kelompok. Kematiannya yang diikuti serangan untuk membakar toko bukunya, memperparah hubungan mereka.

     

    Di usia 32 tahun, Jon dikenal sebagai pengacara dengan kemampuan mempresentasikan argumentasi penutup di ruang sidang. Saat kisah dimulai, ia sedang membela Muhammad Azlan, pria keturunan Turki yang dituduh menadah barang curian. Sukses memenangkan perkara Muhammad, Jon dipercaya membela Otto Remer, pebisnis yang disebut-sebut membangkrutkan ratusan perusahaan dengan aksi pembajakan. Meski harus membagi waktu dengan investigasi kematian ayahnya, Jon berupaya menangani kasus Remer. Hanya saja, bukan memberi informasi penting terkait kasusnya, Remer lebih tertarik membicarakan Libri di Luca. Jon meninggalkan kasus Remer seiring pemecatan dari pekerjaannya.

     

    Svend Iversen yakin Jon memiliki kemampuan Lector. Kendati tidak mudah diyakinkan, pasca pemecatan, Jon bersedia diaktifkan. Hasilnya sungguh menakjubkan, ia memiliki kekuatan dahsyat sebagai Pemancar. Begitu diaktifkan, Jon memutuskan meneruskan investigasi kematian ayahnya yang telah menyempit pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan dari Perkumpulan Pencinta Buku. Informasi yang ia dapat sebelumnya mengatakan bahwa Luca sedang berusaha mengungkap keberadaan organisasi yang mengisruhkan perkumpulan. Cinta yang menggelegak di antara Jon dan Katherina, anggota perkumpulan pengidap disleksia, menunjang penyelidikan. Tapi sungguh tidak mudah menemukan si biang onar, apalagi ketika seorang dari perkumpulan terbukti berkhianat.  Dalam keadaan tidak berdaya, Jon menemukan dirinya dibawa ke Alexandria, Mesir, tempat di mana sejarah Lector pertama kali disigi.

     

    Katherina tidak bergeming. Bersama Henning Petersen, anggota perkumpulan yang lain, dan Muhammad yang ikut terseret, ia menyusul Jon. Di kota yang didirikan Alexander Agung untuk menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan paling terkenal di dunia, telah dibangun kembali Bibliotheca Alexandrina atas kerja sama pemerintah Mesir dan UNESCO. Sebelum Bibliotheca Alexandrina yang asli dihancurkan oleh peperangan, perampokan, dan pembakaran, diperkirakan perpustakaan itu menyimpan 750.000 buku. Lebih dari 700 tahun perpustakaan itu menjadi pusat literatur dan pendidikan di dunia, sehingga banyak sekali buku yang telah berulang diisi kembali. Walaupun telah musnah, tidak berarti buku-buku itu kehilangan pengaruh. Jon akan menyadari kekuatan buku-buku itu seraya mendapatkan pemahaman apa yang telah merongrong persatuan Perkumpulan Pencinta Buku.

     

    Libri di Luca merupakan sebuah novel thriller yang tidak menjadi menarik karena unsur thriller-nya. Daya pikat utamanya justru terletak pada unsur fantasi yang meliputinya.  Bagi para pembaca buku, kisah pembacaan buku dengan efek serupa sihir, akan menjadi sesuatu yang memabukkan. Kita sudah tahu buku punya potensi berbahaya seumpama senjata. Informasi yang dikandungnya mampu melakukan hal-hal seperti guncangan iman, penggulingan kekuasaan, kericuhan publik, ataupun legitimasi tindakan kriminal. Dalam novel ini, di tangan para Lector, buku bisa menjelma senjata menyeramkan. Mampu mengakibatkan pembunuhan dan menyalurkan kekuatan tidak terbatas. Semakin tua sebuah buku, semakin sering dibaca, semakin banyak energi yang terakumulasi. Semakin klasik sebuah buku, semakin berbahaya.

     

    Novel dirancang dengan cemerlang, pembukaan dan penutup sama-sama menggedor. Setelah mengangsurkan misteri pada bagian pertama, usaha pengarang menggelontor gagasan mengenai dunia buku dan para Lector pada paruh pertama akan membuat novel  bergerak lambat. Meskipun begitu, sama sekali tidak membuat novel kedodoran. Bagaimanapun pengungkapan eksplisit seting yang digunakan sangat penting guna meyakinkan pembaca, sekalipun novel ini tergolong novel fantasi. Memasuki paruh kedua, novel bergerak lebih cepat, setiap halaman semakin mengundang untuk dibalik. Hingga mencapai klimaks yang mencengangkan, pengarang tetap mampu mengendalikan laju ceritanya. Bagi saya, dari segi penulisan, Mikkel Birkegaard berhasil memeragakan keunggulan yang dimilikinya.

     

    "Tidak diragukan lagi, kamu bisa menghasilkan kekuatan yang hebat dengan tulisan berbahasa Inggris dan mungkin bahkan Italia, tetapi efeknya selalu lebih kuat dalam tulisan dengan bahasa asli kita. Untuk mengisi tulisan itu, kita harus mengenal bahasanya dan semakin baik kita mengenalnya maka semakin besar kemungkinannya dijadikan alat untuk mencapai tujuan kita," kata si karakter antagonis (hlm. 452). Inilah yang menjadi alasan signifikan penetapan latar belakang Italia untuk karakter Luca dan Jon. Luca yang berasal dari Italia sedang membaca buku berbahasa Italia ketika meninggal secara mengenaskan. Demikian pula buku yang dibaca Jon saat novel mencapai klimaks. 

     

    Di penghujung novel, kita akan melihat keajaiban lain dari sebuah buku. Sebuah buku akan memanggil pulang kenangan masa lalu seperti orang amnesia mendapatkan kembali ingatan. Sebuah buku akan menjadi jembatan kasih sayang, seperti yang terlukis dalam hubungan Luca dan Jon. Memang, sebuah buku bisa juga mengakibatkan pembunuhan, tapi bahkan hal ini hanya meneguhkan keajaiban sebuah buku.



     

    Dalam edisi Denmark, novel ini aslinya berjudul Libri di Luca (2007). Diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh oleh Tiina Nunnally, novel ini diberi judul The Library of Shadows (2008). Edisi Indonesia diterjemahkan Fahmy Yamani dari The Library of Shadows, dan judul aslinya dikembalikan.  

     

    Libri di Luca adalah buah sulung imajinasi  Mikkel Birkegaard, pria Denmark kelahiran 1968 dan berprofesi sebagai pengembang teknologi informasi. Novel ini mencetak kesuksesan di Denmark―cetakan pertamanya terjual 10.000 eksemplar dalam waktu 3 hari―dan setelah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa masuk kelompok "International Bestseller". Menyusul Libri di Luca, Birkegaard telah menerbitkan Over mit lig (Over My Dead Body, 2009).



    Posted at 09:22 am by Jody
    Make a comment  

    Wednesday, July 14, 2010
    THE EINSTEIN GIRL



    Judul Buku: The Einstein Girl

    Pengarang: Philip Sington (2009)

    Penerjemah: Salsabila Sakinah

    Penyunting: Zahra Ilmia & Anton Kurnia

    Tebal: 528 hlm; 15 x 23 cm

    Terbit: Cetakan 1, Mei 2010

    Penerbit: Serambi Ilmu Semesta


     

     

    Kesetiaan pada dusta adalah sesuatu yang tak bisa diterima, betapapun itu mungkin lebih nyaman bagi orang-orang berpandangan sempit dan tak punya prinsip (hlm. 455).

     

     

    Sejauh yang diketahui publik, seumur hidupnya Albert Einstein  hanya memiliki satu istri yaitu Elsa Löwenthal yang dinikahinya Juni 1919. Pada 1986 terungkap bahwa ternyata Einstein pernah menikahi Mileva Máric, ilmuwan Serbia yang tercatat sebagai wanita pertama yang belajar matematika dan fisika di Eropa. Mereka menikah di Swiss pada Januari 1903 dan bercerai enam belas tahun kemudian, setelah hidup terpisah selama lima tahun, Máric di Zurich sedangkan Einstein di Berlin. Dari pernikahan mereka, diketahui telah lahir dua putra, Hans Albert Einstein dan Eduard Einstein. Si bungsu Eduard dikenal sebagai pemuda cerdas dengan bakat musikal. Saat dalam proses mewujudkan impiannya menjadi psikiater, pada usia 20 tahun Eduard didiagnosis mengidap skizofrenia dan dirawat di rumah sakit jiwa Burghölzli di Zϋrich. Gangguan kesehatan mental yang dialaminya merenggangkan hubungannya dengan ayahnya. Albert Einstein (1879-1955) beremigrasi ke Amerika Serikat menjelang berkuasanya si kanselir Jerman Adolf Hitler menggantikan Presiden Paul von Hindenburg. Eduard tidak pernah berjumpa lagi dengan ayahnya hingga meninggal karena stroke pada usia 55 tahun, Oktober 1965. Berbarengan dengan terungkapnya pernikahan Einstein-Máric, terungkap pula sebuah fakta mencengangkan. Sebelum menikah pada Januari 1903, dari hubungan mereka telah lahir seorang anak perempuan yang dipanggil Lieserl pada Januari 1902. Lieserl menghilang setelah orangtuanya menikah secara sah, dan sampai saat ini tidak diketahui nasibnya.

     

    Fakta yang berusaha dipendam dari masa lalu sang ilmuwan yang digadang-gadang sebagai Bapak Fisika Modern ini menjadi tempat berpijak novel bertajuk The Einstein Girl karya Philip Sington.

     

    Dikisahkan Alma Siegel sedang mencari Martin Kirsch, tunangannya yang telah hilang selama dua minggu pada bulan Mei 1933 di Berlin. Seingatnya, Martin yang bekerja sebagai psikiater di Klinik Psikiatri Charité sedang merawat seorang pasien amnesia yang dikenal publik sebagai 'The Einstein Girl' (Gadis Einstein). Pasien tanpa nama itu ditemukan hampir tewas di sebuah hutan di Postdam dalam keadaan setengah telanjang dan basah kuyup. Tidak ada identitas yang ditemukan di tempatnya ditemukan kecuali sepotong kertas berisi pengumuman kuliah umum tentang Teori Kuantum di Philharmonic Hall dengan Albert Einstein sebagai pembicara utama. Hal inilah yang membuat media massa menamakannya 'The Einstein Girl'.

     

    Sebuah kilas balik yang merupakan bagian utama novel dibeberkan panjang-lebar guna menelusuri jejak Martin Kirsch yang hilang.  Sebagai psikiater yang berdedikasi tinggi, Kirsch yang tengah bergumul dengan penyakit neurosifilis, kecewa atas terapi yang dilakukan rekan sejawatnya. Sebelumnya, ia telah menulis sebuah makalah yang dipublikasikan di sebuah jurnal psikiatri sebagai kritik atas terapi tanpa dasar yang pasti itu. Tulisan ini ditambah insiden seorang pasien yang mendapatkan terapi insulin, membuatnya terancam dipecat dari pekerjaannya. Belakangan, Kirsch bertemu seorang pengagum tulisannya yang akan menyelamatkan pekerjaannya.

     

    Kendati terancam dipecat, Kirsch berhasil menjadikan si Gadis Einstein sebagai pasiennya. Alasannya adalah ingin menyelidiki adanya kemungkinan amnesia yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan, padahal sesungguhnya gadis itu bukanlah sosok yang asing baginya. Mereka pernah bertemu dan sekalipun sudah bertunangan, Kirsch tidak mampu menampik daya tarik gadis yang dikenalnya sebagai Elisabeth. Demi menolong Elisabeth memperoleh kembali ingatannya, Kirsch menggelar investigasi.

     

    Di tempat Elisabeth tinggal setibanya dari Zϋrich, Kirsch mengetahui jika nama sebenarnya adalah Mariya Draganović. Perhitungan matematis yang ditemukan dalam sebuah buku catatan milik Mariya diteguhkan oleh rekan Albert Einstein sebagai upaya perumusan teori fisika baru, Teori Medan Terpadu. Yang menarik di sini, Albert Eisntein juga sedang meneliti topik yang sama. Tidak diragukan lagi, Mariya adalah wanita dengan kecerdasan luar biasa. Padahal, sampai saat itu, hanya ada dua wanita yang bisa menyerap penemuan Albert Einstein dengan mudah. Mereka adalah Marie Curie dan Mileva Marić, mantan istri Einstein yang bekerja sebagai pengajar di Zϋrich.

     

    Penemuan Kirsch menuntunnya ke Zϋrich untuk bertemu Mileva Máric dan Eduard Einstein, si bungsu yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Burghölzli.  Mereka tidak sepenuhnya terbuka, namun Kirsch menemukan kaitan mereka dengan hidup Mariya. Sebuah fakta lain juga ditemukannya, bahwa sebelum pergi ke Berlin, Mariya pernah menjadikan dirinya pasien di rumah sakit jiwa Burghölzli.

     

    Pertanyaan yang mungkin menyeruak adalah apakah Mariya Draganović adalah Lieserl yang sengaja disingkirkan dari kehidupan Einstein-Máric? Dalam sebuah subplot yang disampaikan menggunakan perspektif orang pertama, pembaca akan dibawa mengarung masa lalu Mariya untuk menemukan identitas sejatinya. Menyelami ke lubuk kehidupan Mariya yang enigmatis, Sington akan menyingkapkan sebuah kesetiaan pada dusta yang dilakukan dengan dalih melindungi kehormatan keluarga.

     

    Daya pikat utama The Einstein Girl tidak terbantahkan lagi terletak pada penyingkapan selubung misteri yang meliputi kehidupan Lieserl Máric. Seusai memancing rasa penasaran pada beberapa halaman awal, Sington akan mendorong pembaca mengikuti cerita dengan alur yang tidak terburu-buru. Mungkin akan pembuat sementara pembaca tersendat-sendat, namun tidak bisa diungkiri, Sington mampu mendesak pembaca untuk bertanya-tanya.  Apa yang dilakukan Mariya di Berlin hingga ia ditemukan dalam keadaan sekarat?  Apa yang akan terjadi dengan penyelidikan Kirsch? Sebuah pamungkas disuguhkan untuk menyempurnakan ide 'sang penulis' sebenarnya dari cerita yang kita baca, bahwa:  "Akhir suatu cerita haruslah dapat dipercaya atau pembaca akan merasa ditipu. Akhir yang tidak masuk akal akan merusak cerita yang bagus." (hlm.360).  Lantas, memanfaatkan kesalahpahaman yang terjadi sebelum novel benar-benar ditutup, Sington akan menerangkan maksud kalimat pembuka pada bagian "Tak Bernama" (hlm. 13).  

     

    Riset intensif seputar kehidupan Albert Einstein yang membawa Sington kepada tumpukan arsip Jewish National & University Library di Yerusalem mendukung perwatakan Albert Einstein sebagai karakter yang tidak menimbulkan simpati.  Pria yang dinobatkan majalah Time sebagai "Person of the Century" ini boleh tersohor karena kesuksesannya menggulingkan teori lama mengenai cahaya ―dari cahaya sebagai gelombang menjadi cahaya sebagai berkas partikel energi yang disebut kuanta.Tetapi ia juga tergolong manusia yang tidak mampu membangun hubungan dengan manusia lain, termasuk keluarganya sendiri. Tidak hanya terlihat dari pernikahannya dengan Mileva Máric (faktanya, masih terikat pernikahan dengan Máric, ia telah terlibat hubungan ekstramarital dengan Elsa Löwenthal), melainkan juga dalam caranya menyikapi cacat mental putra bungsunya. Disebutkan, Einstein tidak percaya jika penyakit Eduard berhubungan dengan dirinya. Seolah-olah mendukung, Sington menghadirkan pula kecondongan cacat mental dari pihak keluarga Máric. Ketidaksimpatikan si penerima Nobel Fisika tahun 1921 ini terlukis eksplisit dalam respons eksplosifnya terhadap kemunculan Mariya Draganović.

     

    Kegemilangan Sington tampak pula ketika mengemas kompleksitas dunia psikiatri sebagai bagian signifikan novel dengan sokongan deskripsi yang memadai. Kita akan digiring mengenal lekuk-liku dunia yang bermuatan beragam ketidakpastian yang ditandai dengan ketidaksepahaman dalam pemberian terapi. Kita juga akan disadarkan betapa kerap penderita cacat mental menjadi bahan eksperimen dalam rangka penegakan kebenaran masing-masing psikiater. Sang protagonis ―Martin Kirsch― meyakini, salah satu metode untuk menangguk kembali kesadaran para penderita bukanlah menyiksa dengan terapi serampangan, melainkan dengan merangkul untuk menemukan dan memulihkan pemicu gangguan mental mereka.

     

    Menghasilkan karya dengan sentuhan historis pasti tidaklah enteng. Pengumpulan informasi faktual demi menetaskan kisah dengan tingkat kepercayaan tinggi adalah sesuatu yang krusial. Namun, tanpa kepiawaian bertutur, kecermatan memadukan elemen historis dan produk imajinasi, ketangguhan membangun karakterisasi, usaha tersebut akan mubazir. Tampaknya, Philip Sington sangat menyadari hal ini, maka terbitlah The Einstein Girl sebagai karya fiksi yang sungguh laik untuk dibaca.



    Posted at 10:29 am by Jody
    Make a comment  

    Thursday, July 08, 2010
    MADAME BOVARY



    Judul Buku: Madame Bovary

    Pengarang: Gustave Flaubert

    Penerjemah: Santi Hendrawati

    Tebal: 507 hlm

    Terbit: Cetakan 1, Juni 2010

    Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

     

     

    Emma Rouault mengira menikahi seorang lelaki mapan akan mewujudkan fantasinya sebagai perempuan muda. Seusai kemeriahan pesta perkawinan, Emma meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam kehidupan Charles sebagai seorang officier de santé di Tostes. Seiring perjalanan waktu, Emma sadar telah menempuh jalan yang keliru. Perkawinan tidak mengarahkannya pada realisasi fantasi serupa yang ia baca dalam buku-buku percintaan. Charles tidak memiliki ambisi laiknya kaum lelaki dan romantisme bukanlah gaya hidupnya. Bagi Charles yang berpikiran sederhana, kebahagiaan hanya terletak pada kecakapannya menuntaskan pekerjaan sesuai jadwal. Kekecewaan Emma mengental saat menghadiri sebuah pesta kalangan borjuis dan menemukan kehidupan bergelimang kesenangan para duchess. Seketika, seolah-olah memandang melalui kaca pembesar, ketidakmenarikan Charles kian mencolok.

     

    Demi Emma, Charles rela meninggalkan tempat yang telah memapankan hidupnya selama empat tahun. Mereka pindah ke Yonville, tempat yang mencelikkan Emma akan kebutuhan petualangan asmara bagi seorang istri yang tidak bahagia. Meskipun telah melahirkan seorang anak, Emma tidak mampu mencegah letupan gairah yang dibangkitkan oleh Léon Dupuis, anak muda yang bekerja di kantor notaris Monsieur Guillaumin. Sial baginya, sebelum sempat terbakar kepanasan gairah Léon, anak muda pergi ke Paris melanjutkan kuliah hukum.

     

    Léon boleh saja berlalu, namun Yonville masih menyimpan lelaki lain. Meskipun Rodolphe Boulanger dikenal sebagai pemangsa perempuan, undangan perselingkuhannya tidak mungkin ditepis Emma. Emma tidak menyadari, bagi petualang syahwat semacam Rodolphe, begitu seorang perempuan jatuh cinta pada, ia menjadi kurang menarik. Yang tersisa sekadar hubungan demi menikmati momen-momen penuh berahi tanpa mengempiskan pundi-pundi uang. Dalam berhubungan dengan lelaki, Emma memiliki kecenderungan bersikap posesif. Merasa telah menguasai Rodolphe, ide melarikan diri bersama-sama tidak urung tercetus. Sayangnya, Rodolphe tidak mau bersifat murah hati dalam hal ini, baginya Emma tidak cukup layak dijadikan berhala. Terpuruk karena ditinggalkan Rodolphe, Emma hampir luluhlantak. Untunglah,  Léon muncul lagi dalam kehidupannya dan mampu membangkitkan semangat hidup Emma. Maka sekali lagi Emma terlena dan mengabaikan kenyataan, sangat sulit petualangan cinta berakhir bahagia.

     

    Madame Bovary adalah salah satu dari dua novel yang disebut-sebut sebagai karya terbesar yang pernah ditulis―yang lain  Anna Karenina karya Leo Tolstoy. Merupakan novel Gustave Flaubert (1821-1880), pengarang Prancis, yang pertama kali diterbitkan sekaligus melambungkan namanya sebagai salah satu pengarang penting pada abad ke-19. Novel ini memiliki sejarah yang mengundang perhatian khalayak. Mulai ditulis tahun 1850, membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa diselesaikan. Sebelum diterbitkan pada tahun 1857, novel ini dimuat secara bersambung dalam majalah sastra (1856) yang membuat Flaubert dipengadilankan karena dianggap menodai norma agama dan masyarakat. Flaubert dibebaskan dari tuduhan atas pertolongan Marie-Antoine Jules Sénard, pengacara dari Rouen, kepada siapa buku ini didedikasikan (hlm. 5).

     

    Novel ini merupakan novel realis tragis. Ia mendedahkan kebangkitan dan kehancuran mimpi-mimpi romantis seorang perempuan muda dalam lembaga pernikahan. Ketika mimpi-mimpi itu sukar diwujudkan dalam hubungannya dengan suaminya (karena si suami tidak memahaminya), ia menengok ke luar jendela dan menemukan potensi di luar rumah. Menafikan semua norma yang berlaku, ia menjerumuskan diri dalam petualangan ekstramarital yang tidak memberikannya garansi kebahagiaan. Begitu sadar kemubaziran kelakuannya, ia tidak lagi punya optimisme untuk bermain-main dengan kehidupan. Tindakannya yang didominasi egoisme menciptakan efek domino yang mengenaskan bagi keluarganya. Kendati hanya sebaris, guratan Flaubert di penghujung novel terasa menggerogot: “Berthe hidup dalam kemiskinan dan ia terpaksa harus bekerja pada sebuah pemintalan kapas untuk membiayai hidupnya.”(hlm. 503-504). Dari kisah tragis keluarga Bovary, tampaknya Flaubert hendak mengingatkan bahwa dalam sebuah ikatan pernikahan setiap pelaku perlu menciptakan kesepakatan untuk saling terbuka dan saling memahami, terlebih dalam segi seksualitas. Kesepakatan ini akan menjadi semacam kontrasepsi bagi pembuahan problem yang mungkin bisa dicegah.

     

    Dalam hubungan lelaki-perempuan, Flaubert mencitrakan Emma alias Madame Bovary sebagai perempuan dengan kesadaran seksualitas yang tinggi. Meski Rodolphe menganggapnya tidak lebih dari pemuas nafsu belaka, ia berhasil mencuri kesempatan memanfaatkan lelaki itu untuk kepuasan ragawinya. Léon Dupuis, tidak hanya menyilih apa yang tidak ingin diberikan lagi oleh Rodolphe, tapi membalikkan posisi yang ditegakkan lelaki itu. Jika bagi Rodolphe, Emma adalah kekasih gelap, bagi Emma, Leon adalah kekasih gelapnya. Mungkin, inilah yang disebut-sebut mengilhami secara tidak langsung munculnya feminisme.

     

    Bukan hanya Emma karakter yang dibangun dengan cermat oleh Flaubert. Charles, kendati  didapuk sebagai lelaki tidak beruntung, karakternya sebagai lelaki tanpa ambisi membesut kuat. Demikian juga Rodolphe yang bergelimang hawa nafsu tapi memendam kepengecutan ataupun Leon yang lantaran pengejaran kepuasan seksual, tidak mampu merebut setir dari tangan Emma. Monsieur Lheureux pemilik toko sekaligus rentenir merupakan karakter yang berperan paling penting dalam kejatuhan Emma. Kemahiran manipulatifnya mengaburkan perspektif Emma. Belakangan terungkap, aktivitasnya sebagai rentenir berhubungan dengan lelaki lain, yang menawarkan bantuan kepada Emma dengan seks sebagai imbalan. Karakter Monsieur Hormais, lelaki yang tidak pernah tulus menolong orang lain, cukup mencuri perhatian. Lelaki yang berprofesi sebagai apoteker ini ateis tapi merasa lebih religius dari para pastur dan tidak segan untuk mengecam mereka. Sejak diperkenalkan hingga novel disudahi, Hormais adalah seorang pelanggar undang-undang sejati.

     

    Sebagaimana lazimnya fiksi klasik yang dikisahkan dengan cara berbunga-bunga, novel ini menuntut semangat tinggi para pembaca. Penerjemah edisi Indonesia telah menghasilkan karya terjemahan yang mudah diikuti, tetap klasik tapi tidak kuno. Namun, napas panjang Flaubert yang menghasilkan deskripsi melimpah terasa sangat tumpat hingga memasuki bagian ketiga (dari tiga bagian) novel. Bisa dipastikan memasuki bagian ketiga, pembaca akan didorong untuk menuntaskan novel ini.

     

    Setelah  berumur lebih dari seratus lima puluh tahun, efek menggegerkan seperti kali pertama dipublikasikan sudah mengendap. Bukan karena publik telah mengenal novel ini secara intim, tapi karena perselingkuhan dan religiositas Katolik bukan lagi tema yang cukup mencuri perhatian. Meski begitu, Madame Bovary tetap layak dibaca, paling tidak untuk mengetahui bagaimana fiksi klasik ini mampu memengaruhi banyak karya lain yang menyusulnya.



    Posted at 09:28 am by Jody
    Comments (4)  

    Next Page