<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< February 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 08, 2008
A THOUSAND SPLENDID SUNS




Judul Buku   : A Thousand Splendid Suns
Penulis         : Khaled Hosseini
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Penyunting   : Andhy Romdani
Cetakan        : 1, November 2007
Tebal            : 516 hlm; 20,5 cm
Penerbit       : Mizan Pustaka


KISAH SEDIH DARI BALIK BURQA

 
One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls

(Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar
di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembuyi di balik dinding)

 

Kalimat di atas adalah nukilan puisi berjudul "Kabul", hasil terjemahan Dr. Josephine Barry Davis dari karya pujangga Persia, Saib-e-Tabrizi (1601-1677) yang menjadi sumber judul novel kedua Khaled Hosseini ini. Puisi ini menceritakan tentang keindahan Kabul, ibu kota Afghanistan, sebelum ratusan tahun kemudian dirusak badai konflik berkepanjangan. Kabul yang dirundung peperangan itulah yang menjadi seting utama kisah dalam novel Hosseini yang diindonesiakan oleh Berliani Nugrahani (yang sebelumnya telah menerjemahkan The Kite Runner, karya perdana Hosseini) dan diterbitkan PT Mizan Pustaka.

Penggunaan seting yang sama oleh lelaki kelahiran Kabul 4 Maret 1965 yang pada tahun 2006 dianugerahi penghargaan Humanitarian Award dari United Nations Refugee Agency, bisa dimengerti. Hosseini berdarah Afghanistan dan dapat dipastikan sangat mengetahui seluk beluk Afghanistan. Meski, dari riwayat hidupnya bisa diketahui Hosseini tidak mengalami penderitaan panjang yang dialami masyarakat kebanyakan Afghanistan. Keluarga Hosseini sedang berada di Paris ketika Afghanistan jatuh dalam pendudukan Soviet. Mereka mendapatkan suaka politik dari pemerintah AS dan menetap di San Jose, California.

Jika dalam The Kite Runner (2003) Hosseini menciptakan kisah yang berporos pada kehidupan ayah dan anak laki-lakinya serta persahabatan antara dua laki-laki, kali ini dia menggunakan kehidupan ibu dan anak perempuan serta persahabatan di antara dua perempuan. Ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab A Thousand Splendid Suns memiliki cita rasa yang berbeda dengan The Kite Runner, kendati kisahnya sama-sama dilarung di lautan konflik Afghanistan.

Untuk kepentingan novel yang awalnya bertajuk Dreaming in Titanic City ini, sarjana biologi dan dokter lulusan San Diego School of Medicine yang sepanjang tahun 2006 terpilih sebagai duta besar keliling untuk UNHCR (organisasi PBB yang menangani masalah pengungsi), ketika berkeliling Afghanistan dalam tugasnya, meraup pengalaman kehidupan perempuan Afghanistan yang sarat penderitaan. Maka, dari balik burqa, pakaian wajib perempuan Afghanistan sesuai kehendak rezim yang berkuasa, lahirlah kisah dua perempuan yang berdarah-darah dan bersimbah air mata. Terasa 'sarat rempah' dibanding kisah dalam The Kite Runner.


Khaled Hosseini

Mariam, perempuan pertama yang penderitaannya disodorkan Hosseini, adalah anak haram (harami) seorang pembantu (Nana) dengan Jalil Khan, majikannya yang kaya raya di Herat, sekitar 650 km sebelah barat Kabul. Sebagai seorang harami, Mariam ditolak di rumah Jalil karena keberadaannya mengancam nama baik keluarga. Tetapi di kolba (pondok) Nana, kehadiran Mariam juga tidak bisa diterima dengan cinta. Sejak awal, Mariam yang tidak berpendidikan sudah didapuk sebagai perempuan menderita. Hanya rahim seorang perempuan epilepsi yang bersedia melindunginya.

Meski Nana bersikeras menciptakan jarak antara Mariam dari Jalil, Mariam tetap teguh menarik perhatian ayah biologisnya. Keteguhan hati si kecil Mariam mesti ditebus dengan mahal. Ibunya bunuh diri dan Mariam disingkirkan dari Herat oleh keluarga Jalil. Mariam dikawinkan dengan laki-laki berusia sekitar 3 kali lipat usianya, seorang tukang sepatu terkenal di Kabul yang ditinggal mati istri dan anaknya.

Di Deh-Mazang, bagian barat daya Kabul, Mariam dipaksa untuk menyaksikan realisasi perkataan ibunya bahwa,  "Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan." (hlm. 20). Setelah berulang gagal memberikan anak untuk Rasheed, sang suami memperlakukannya secara semena-mena. Sebagai contoh, Rasheed memerintah Mariam mengunyah segenggam kerikil gara-gara nasi yang ditanaknya tidak sesuai keinginan Rasheed (hlm. 133-134).

Mariam merasa penderitaannya akan bertambah ketika seorang gadis terpelajar bernama Laila, tanpa sengaja, memasuki kehidupan keluarganya. Remaja yang menjadi korban serangan roket itu ditolong Rasheed dari reruntuhan bangunan rumahnya. Ia menjadi yatim piatu dalam satu hari, saat hendak meninggalkan Kabul, sementara 2 abangnya telah lebih dahulu tewas ketika berjihad melawan Soviet. Pertolongan Rasheed yang berpamrih berbuntut  pada terpenggalnya cinta Laila pada remaja buntung bernama Tariq yang telah menghamilinya. Laila menjadi istri muda Rasheed.

Kedua perempuan dari dua latar belakang berbeda itu menemukan dan merajut tali kasih dalam penderitaan yang dilecut suami mereka. Tali kasih yang erat membuat mereka berupaya menemukan seribu mentari surga yang terbenam dalam hidup mereka. Di ujung persahabatan indah dua perempuan Afghanistan ini, mereka menyadari betapa mahalnya semburat cahaya seribu mentari surga yang mereka dambakan.

Novel A Thousand Splendid Suns dibagi dalam 4 bagian dan 51 bab. Peritiswa-peristiwa dalam novel ini bergulir sejak tahun 1964 (saat Mariam berusia 5 tahun) hingga tahun 2003 (saat seribu mentari surga akhirnya bersinar dalam hati Laila). Bagian pertama terfokus pada kehidupan Mariam; bagian kedua menyorot kehidupan Laila; bagian ketiga asimilasi kehidupan kedua perempuan ini; bagian keempat hadir sebagai antiklimaks, bagian paling melegakan dalam novel ini.

Kisah dalam novel berlangsung seiring perguliran sejarah Afghanistan. Diawali dari sebuah kerajaan di bawah pemerintahan Zahir Shah, republik di tangan Daoud Khan, Republik Demokratis Afghanistan di bawah pimpinan Najibullah si boneka Soviet dan komunis, Negara Islam Afghanistan dalam rezim Mujahidin; rezim Taliban hingga terusirnya para Talib. Sejarah gelap Afghanistan ini dihiasi hujan roket, bom, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, penyiksaan, dan eksekusi yang seolah-olah tidak berkesudahan.

Hosseini melukiskan bagaimana perguliran sejarah Afghanistan membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan warga Afghanistan. Terutama dalam kehidupan kaum perempuannya. Jika tahun 1978 sampai 1992 perempuan Afghanistan mendapatkan kemerdekaan dan kesempatan untuk berkarya, sejak Mujahidin mengambil alih kekuasaan pada April 1992 dan mengubah Afghanistan menjadi Negara Islam Afghanistan, Mahkamah Agung di bawah kepemimpinan Rabbani yang beranggotakan mullah dari kalangan garis keras menolak kebijakan era komunis mengenai pemberdayaan perempuan. Mereka mengeluarkan undang-undang berdasarkan Syariah, hukum Islam yang keras. Perempuan diperintahkan untuk mengenakan burqa yang menutupi setiap jengkal tubuh mereka; tidak boleh melakukan perjalanan tanpa ditemani oleh kerabat pria dan terancam rajam jika melakukan zina; kabur dari rumah bahkan disahkan sebagai tindakan kriminal bagi mereka.

Setelah rezim Taliban, kehidupan perempuan Afghanistan bahkan lebih parah lagi. Jika laki-laki hanya dikenai keharusan memelihara janggut dan melaksanakan kewajiban umum seperti shalat; tidak boleh menyanyi, menari, bermain kartu, bermain catur, bermain layang-layang, menulis buku, menonton film, melukis; tidak memelihara burung parkit dan tidak mencuri; kaum perempuan selain kewajiban-kewajiban di atas (kecuali memelihara janggut), wajib tinggal di dalam rumah sepanjang waktu, jika terpaksa keluar rumah harus ditemani seorang muhrim laki-laki; dilarang menunjukkan wajah dalam situasi apa pun; wajib mengenakan burqa jika berada di luar rumah; dilarang mengenakan alat rias, perhiasan, pakaian yang indah; dilarang berbicara (kecuali diajak bicara), tertawa di tempat umum, melakukan kontak mata dengan pria, mengecat kuku; tidak boleh bersekolah; dilarang bekerja; hukuman rajam sampai tewas jika kedapatan berzina.

Hosseini menunjukkan betapa perempuan Afghanistan dipaksa menderita oleh desakan adat, agama, dan egoisme laki-laki. Mereka harus bertahan menghadapi situasi ini karena memang, "hanya ada satu keahlian yang harus dikuasai perempuan (Afghanistan), yaitu bertahan" (hlm. 33). Penderitaan dan bagaimana perempuan Afghanistan bertahan inilah yang menjadi modal utama Hosseini untuk menggerakkan ceritanya.

Karena perempuan menjadi fokus utama Hosseini, ceritanya menjadi terkesan 'sangat perempuan'. Hal ini mengindikasikan keberhasilan penulis, sebagai laki-laki, dalam mengolah dan mendedah perasaan perempuan. Hosseini mampu menggambarkan perasaan tokoh-tokohnya dengan sangat menyentuh, indah, sekaligus tragis. Hasilnya, sebuah kisah sedih yang bergulir dalam plot melodramatis khas sinetron. Coba simak perjalanan kehidupan Mariam, misalnya. Dari seorang harami, dipaksa kawin dengan laki-laki jauh lebih tua dari usianya oleh persekongkolan tiga istri ayahnya, ditindas suaminya, dimadu, dan terus menderita tak berkeputusan sampai penghujung hidupnya yang nyaris sia-sia, jika Laila dan kedua anaknya tidak hadir dalam hidupnya. Bagusnya, plot ala sinetron ini diuntai dalam sejarah pekat Afghanistan, sehingga kisahnya menjadi sangat relevan karena realistis.

Jalinan narasi yang indah dan dialog-dialog yang mengalir lancar menjadi kelebihan Hosseini yang lain. Terkadang dialog-dialog sangat menggetarkan hati, sangat emosional mengoyak perasaan. Antara lain saya sangat terkesan dengan dialog-dialog antara Mariam dan para Talib ketika para lelaki serban ini bersikap sok dalam menentukan hidup Mariam (hlm. 447-450). Bagusnya, untuk edisi Indonesia, kelebihan gaya penulisan internis dari Cedars-Sinai Medical Center Los Angeles ini disulihkan dalam bahasa Indonesia dengan baik oleh Berliani sebagai penerjemah. Penerjemah kelahiran Semarang 16 Mei 1981 yang juga telah menghasilkan karya terjemahan seperti Middlesex (Jeffery Eugenides), The Hidden Face of Iran (Terence Ward), dan Map of Bones (James Rollins) memang terbilang brilian dalam menangani pekerjaannya.

Sebagaimana The Kite Runner, Hosseini juga bermodalkan kisah 'cinta' segitiga yang mengundang petaka dalam A Thousand Splendid Suns. Jika dalam The Kite Runner ada 'cinta' segitiga Baba-Amir-Hasan; dalam A Thousand Splendid Suns, terdapat 'cinta' segitiga Rasheed-Mariam-Laila serta Laila-Rasheed-Tariq. Sama-sama menjadi sumbu pendek dalam kisah Afghanistan versi Hosseini.

Selain itu, dua novel ini sama-sama menyentil pengaruh seorang ayah yang menyebabkan konflik terbesar dalam hidup para karakter. Jika dalam The Kite Runner, cinta Baba yang membuat iri hati Amir sebagai penyebab konflik, dalam A Thousand Splendid Suns, cinta Jalil yang tidak leluasa membuat Mariam terpuruk dalam penderitaan yang tak berkesudahan.

Secara keseluruhan, novel yang pertama kali dirilis 22 Mei 2007 dan hak pembuatan filmnya dibeli Columbia Pictures ini sangat tidak mengecewakan. Selain membuka wawasan mengenai sejarah Afghanistan yang sebelumnya tidak terlalu komplit dikisahkan dalam The Kite Runner, juga bisa lebih memahami perjuangan perempuan Afghanistan bertahan hidup di dunia tempat mereka terpuruk atas nama adat, agama, dan egoisme laki-laki. Yang paling utama, agaknya Hosseini ingin dunia mengetahui kehidupan dan suara hati para perempuan Afghanistan dari balik burqa yang memagari kehidupan mereka, yang seperti laki-laki, juga manusia ciptaan Tuhan.

Saya tidak sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa A Thousand Splendid Suns lebih baik dari The Kite Runner. Bukan karena saya merasakan emosi yang lebih kuat ketika membaca The Kite Runner. Tetapi karena masing-masing memiliki kelebihan, mempunyai keindahan sendiri-sendiri.

Bagi para pembaca yang suka fiksi tragis bersimbah air mata yang ditulis dengan baik dan indah,  A Thousand Splendid Suns bisa menjadi pilihan yang sangat tepat.


Posted at 01:36 pm by Jody

Kiki
March 26, 2009   08:58 PM PDT
 
Saya malah terkesan pada rangkuman anda
jody
February 20, 2008   07:36 PM PST
 
terima kasih, salam kenal juga.
unai
February 19, 2008   10:15 AM PST
 
Ripyunya bagus sekali...salam kenal
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry