(Cerpen ini
khusus saya susun (dengan nekat) untuk Stevi, Gleadys, dan keluarga kecil
mereka. Ini adalah cerpen kedua dari sebuah trilogi).

ALABASTER BOX
Betania, kira-kira 2 mil dari
Yerusalem.
Perempuan itu terbangun dari
tidurnya sambil menangis. Marta, adiknya, memeluknya. Untuk kesekian kalinya,
kakaknya terbangun sambil menangis. Dan tangisan kakaknya, pasti akan mengusik
tidurnya, sekalipun tubuhnya terasa capai.
"Ada apa, Maria? Kau bermimpi lagi?"
Maria menangis, mengembuni pundak
Marta dengan air mata.
"Aku memimpikan hal itu
lagi!"
"Kau terlalu banyak
mengkhayal, Maria. Itulah sebabnya terbawa mimpi. Mungkin kau harus lebih
banyak di dapur untuk mengisi waktumu."
"Aku melihat palang besar itu.
Pasak-pasak. Palu. Darah. Tubuh penuh darah. Aku melihat Guru kita. Penuh
darah!"
"Hush! Itu hanya mimpi. Tidak
lama lagi Guru akan datang ke Yerusalem. Dia pasti akan singgah di rumah kita.
Cobalah berdoa kepada Hashem sebelum tidur lagi, supaya mimpi tak
mengusikmu."
Jauh setelah adiknya kembali
terlelap, Maria tetap terjaga. Wajah Guru mengambang di permukaan ingatannya.
Guru telah pergi ke Efraim setelah membangkitkan adik laki-lakinya, Lazarus,
yang telah mati empat hari. Imam-imam kepala dan orang Farisi telah bersepakat
untuk membunuh Guru. Maria menjadi bimbang apakah Guru akan datang ke Yerusalem
untuk merayakan Paskah. Sebuah tradisi yang setiap tahun mereka rayakan untuk
mengenang pembebasan dari tanah Mesir. Musa telah membawa bangsanya keluar dari
tanah Mesir setelah berbagai keajaiban terjadi di sana, sampai pada kematian
anak sulung raja yang membuat Firaun takluk.
Maria mencoba tidur lagi. Tidak mungkin
Guru membatalkan acara Paskah kali ini. Lazarus telah merencanakan
perjamuan bersama jika Guru singgah di Betania. Mereka berteman, sudah seperti
saudara. Orang tua Guru menikah di Betania, di rumah milik Imam Zakaria dan
istrinya Elisabet. Betania sudah sangat akrab dengan kehidupan Guru sejak
Hashem memutuskan untuk turun ke dunia. Sebagai kaum Yahudi, Guru tidak mungkin
melewatkan Paskah ini.
Hanya keadaan memang sangat rentan,
menegangkan. Semua murid tahu bagaimana semua yang dilakukan Guru telah memicu
kegemparan di antara kaum Farisi dan para imam. Guru memang seorang dengan
pribadi lembut. Tetapi pada saat tertentu dia bisa menjadi setegas baja. Tidak
ada yang sanggup melerainya jika dia meyakini suatu hal ada pada tempat yang
salah.
(Bersambung)
Posted at 04:45 pm by Jody