
Judul buku: Gelang Giok Naga
Penulis: Leny Helena
Penyunting : M. Irfan Hidayatullah
Penerbit : Qanita, November 2006
KISAH CINTA YANG TERTUNDA BERSEMI
"....akan kucari kau
walau seribu tahun lagi...."
Gelang Giok Naga merupakan ekspansi dari
sebuah novelet berjudul Gelang Giok, pemenang harapan Sayembara Mengarang
Cerber Femina tahun 2004. Novelet dijadikan novel oleh penulisnya untuk
memperluas ruang terbatas yang disediakan majalah. Sekalipun hanya menjadi
pemenang harapan, jangan menduga bahwa novel Leny Helena ini sebagai karya yang
kurang menarik.
Gelang Giok Naga dibuka dengan hikayat
Naga yang diceritakan seorang ayah kepada anaknya, yang tentu saja kemudian
bisa dihubungkan dengan ayah dan anak pada epilog, tentang betapa pentingnya
peranan naga bagi masyarakat Cina.
Leny Helena kemudian menggeserkan ceritanya jauh ke tahun
1723 ke dalam kehidupan pribadi Yang Kuei-Fei, seorang selir kaisar Cina Jia
Shi yang disebut sebagai Sang Putra Langit. Intrik yang berkecamuk dalam istana
membuat Yang Kuei-Fei melarikan diri bersama Kasim Fu, dengan tidak lupa
membawa lari perhiasannya, termasuk gelang giok dengan hiasan naga emas hadiah
kaisar. Diceritakan bahwa Yang Kuei-Fei melahirkan anak kaisar,
kemudian mati karena keganasan penyakit yang kemungkinan sekarang dikenal
sebagai kanker. Yang Kuei-Fei mati di sisi laki-laki yang dicintainya, Kasim
Fu. Sebelum mati Yang Kuei-Fei berkata, "....akan kucari kau walau seribu
tahun lagi.... Jika saat itu tiba, akan kukatakan betapa aku sangat
mencintaimu." Perkataan inilah sesungguhnya yang
merupakan esensi dari novel cantik ini. Untuk selanjutnya, hanyalah rangkaian
peristiwa menuju pada pemenuhan takdir kata-kata Yang Kuei-Fei.
Dalam novel ini, Leny bagaikan kutu loncat, meloncat-loncat
dengan gesit. Karena pada lembar berikutnya, Leny meloncat lagi ke tahun 1935,
memperkenalkan kepada pembaca dua perempuan bernama A Sui dan A Lin. Pada saat
yang sama, Leny juga mengganti perspektif penceritaan dari orang ketiga ke
orang pertama. Dengan cara yang berbeda, A Sui dan A Lin, akhirnya tiba dan
siap menghabiskan hidup mereka di Indonesia,
tepatnya di Batavia.
Sebelum menuju Batavia,
ibu A Sui memberikan warisan ibunya, gelang giok berhias naga emas.
Apa yang diungkapkan ibu A Sui mengenai latar belakang gelang
giok itu terdapat ketidakcocokan dengan kisah Yang Kuei-Fei yang dibeber
sebelumnya. Pada waktu Leny mengisahkan tentang Yang Kuei-Fei di awal-awal
novel, kita akan memperoleh gambaran bahwa Yang Kuei-Fei sudah hamil ketika
lari dari istana, mencintai Kasim Fu yang lari bersamanya, kemudian melahirkan
anak kaisar. Perhatikan peralihan tahun 1723 (hal.21) dan 1724 (hal.45). Tetapi
pada halaman 81, diungkapkan ibu A Sui (yang tentu saja dari Leny sendiri
sebagai pengarang), bahwa Yang Kuei-Fei menyuap Kasim Fu untuk
menyelundupkannya keluar istana dan lari ke selatan, menikah dengan pria
setempat dan beranak pinak.
Perjalanan kehidupan tidak disangka mempertemukan A Sui dan A
Lin, diikuti dengan berpindah tangannya gelang giok naga. Anak mereka menikah,
dan lahirlah Swanlin, menyandang nama gabungan kedua neneknya pada tahun naga,
1976.
Lena lalu
melompat lagi ke tahun 1986 dan menambahkan ke dalam novelnya satu tokoh aku
lagi, yaitu Swanlin. Selanjutnya, tiga 'aku' berganti-ganti menuturkan cerita
menuntun pembaca ke akhir cerita melewati tahun demi tahun.
Walaupun menggunakan 3 tokoh 'aku', tapi gaya seperti ini sama sekali tidak membuat
pembaca bingung, malah enak dinikmati. Leny dengan pintar mengantar ketiga
narator membahasakan diri mereka dalam memandang hidup. Satu kelebihan Leny,
dengan lancar dan lucu, dia memaparkan pandangan hidup, karakter dan gaya bicara
tokoh-tokohnya dengan pas. Kehidupan Swanlin dielaborasi Leny sesuai
dengan usianya beserta kisah cinta segi tiganya. Leny menggunakan dialog
yang tepat untuk remaja metropolis tanpa mengurangi nilai cerita yang mau
disampaikan.
Melalui karakter Swanlin inilah Leny, yang rupanya berdarah
Cina, mengungkapkan suaranya mengenai kehidupan Cina di Indonesia yang kadang
tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Swanlin adalah citra idaman orang Cina
untuk hidup bergaul di bumi Indonesia
tanpa dicurigai. Sembari melakukan itu, Leny juga menyentil budaya, termasuk
budaya Cina, yang didominasi laki-laki walaupun dengan kadar rendah.
Setelah menikah dengan laki-laki yang dicintainya (silahkan
baca dan tahu siapa), keduanya pergi ke Kota Terlarang. Di sana, Swanlin menemukan dirinya, merasakan
suatu deja
vu, jalan menuju ke masa lalu. Siapakah dirinya sebenarnya? Apa
yang sedang menunggu di depan kehidupannya? Di sinilah kita dapat melihat
benang yang dipintal dari masa lalu menuju masa kini, menggulung dengan sangat jelas.
Leny Helena tampil sebagai pencerita yang mahir. Dia
memaparkan realita yang saling berkaitan dengan pintar, mendeskripsikan segala
sesuatu dengan baik. Satu yang mengganjal adalah cerita Leny mengenai pertemuan
A Lin dengan perempuan bernama Lai Choi San. Pertemuan itu diceritakan terlalu
panjang. Leny mungkin bermaksud untuk mengungkapkan bahwa sejak dulu sebetulnya
perempuan sudah tidak kalah dengan laki-laki, termasuk dalam budaya Cina.
Tetapi kalau Leny bisa berpanjang-panjang dalam hal itu, tentu saja Leny harus
bisa juga memberi plot pada kehidupan A Lin selanjutnya sampai perempuan itu
terdampar di sebuah kandang babi di Batavia. Karya Leny ini adalah sebuah
novel, dan novel memiliki ruang penceritaan yang sangat luas dibanding novelet
misalnya. Leny yang paling tahu kan
dengan karakter-karakter ciptaannya? Baca saja kelincahan Leny menceritakan
metamorfosa kehidupan A Lin yang luar biasa!
Pada akhirnya, Gelang Giok Naga adalah kisah
tentang pencarian dan penemuan cinta yang terlambat bersemi, kisah takdir selir
kaisar yang rupanya memang tragis.
Walaupun demikian, Leny telah sukses menghasilkan karya yang
tidak mudah dilupakan, sebuah karya yang cantik, yang sejatinya akan lebih
cantik lagi jika Leny bisa lebih memperhatikan presisi dalam segala aspek
novelnya.