<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, January 15, 2007
ADDICTED TO WEBLOG



ADDICTED TO WEBLOG: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia (Kumpulan Cerpen)
Penulis : Labibah Zain
Penerbit : Pustaka Populer Obor, Agustus 2005

PEREMPUAN-PEREMPUAN LABIBAH ZAIN


Pertama melihat kumpulan cerpen (kumcer) ini, dugaan saya adalah buku ini sejenis teenlit, chicklit, atau metropop. Wajar, mengingat judulnya. Sekarang banyak buku-buku dengan genre yang saya sebutkan diberi judul dengan teknik yang sama.

Baru setelah membacanya, saya sadar bahwa kumcer ini sebetulnya beda dengan jenis-jenis buku tadi. Labibah mencoba memberi warna pada dunia yang rupanya sangat digemari dan dikuasainya, terutama saat dia mengapung-apung dalam dunia maya. Labibah adalah pengarang dengan napas cukup panjang dalam bertutur. Hal itu bukan karena dia sudah menetaskan banyak telur, eh, karya, tetapi karena Labibah menulis dengan narasi panjang-panjang. Labibah membentuk aliran sungai dari pegunungan inspirasinya, berkelok-kelok tenang menggarisi dataran menuju jeram-jeram yang, di sinilah pesona Labibah, mengejutkan. Sedikit saya teringat O. Henry yang doyan membenturkan granat di benak pembaca di ujung cerpen-cerpennya.

Sesungguhnya judul kumcer ini hanya mewakili 1 cerpen saja, yaitu cerpen dengan judul sama. Cerpen-cerpen lain sama sekali tidak membicarakan ketagihan ber-weblog. Kalaupun menyinggung internet, Labibah hanya menggunakan sebagai latar penceritaan saja.  Sisanya malah tidak nyambung. Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia, Perempuan dan Lelaki Maya, Perempuan itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase merupakan pengungkapan Labibah bagaimana dunia maya memberi efek yang bisa merugikan (dan menguntungkan) penghuninya. Dalam dunia maya nyaris semua tidak jelas. Apa saja bisa terjadi di sana. Ketagihan, perselingkuhan, kebohongan, tipu muslihat, teror, dan penyimpangan seksual. Di sinilah kelebihan Labibah bermain-main dengan cerkas.

Seorang istri ketagihan weblog sampai mengabaikan rumah tangga (Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia). Saking ketagihannya menjadi blogger, suaminya ketakutan. Coba simak kata-kata suaminya sebagai narator cerpen ini: "Aku takut suatu saat nanti, dia akan making love denganku sambil ngeblog juga. Bibirnya akan menciumi leherku, tangan kirinya akan mengelus-elus punggungku tetapi matanya akan memandangi monitor dan tangan kirinya akan memegang mouse untuk merefresh weblognya! Dan ketika aku akan mencapai puncak kepuasan, tiba-tiba dia akan berteriak menyuruhku menghentikan permainan karena hasil refreshannya menandakan ada komentar baru yang harus ditanggapi segera!" (hal. 21).  Tetapi kemudian, ternyata weblog yang dibuat istrinya bisa juga bermanfaat.

Di dunia cyber, Sinta terus merahasiakan diri dan menikmati pertemanan maya dengan seorang pria bernama Arjuna. Seorang pengunjung dunia maya diceritakan senang merusak relasi dalam dunia maya. Ternyata keduanya berhubungan dengan kehidupan Sinta. Sebuah rekayasa kebetulan, tetapi mengasyikkan (Perempuan dan Lelaki Maya).

Perempuan Itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase menceritakan 2 hubungan antar manusia dalam dunia maya. Salah satunya tidak mau bersikap terbuka. Dan bukan hal yang mengherankan, karena mereka menyimpan rahasia di balik kiprah yang serba maya.

Samar saya bisa menangkap Labibah sedang bermain simbol ketika menuturkan Perempuan Di Sudut Taman. Dalam cerpen yang menurut saya biasa-biasa saja dan cenderung membosankan ini, apalagi dengan sungai ciptaan Labibah yang panjang, rupanya Labibah sedang menuturkan sebuah komunitas dalam dunia maya dengan seorang tokoh perempuan berperilaku tidak menyenangkan di dalamnya. Tetapi entahlah, kurang jelas sih.......

Dalam Perempuan Pengusung Tradisi Habibah, seorang syarifah sesuai ketentuan harus menikah dengan seorang habaib. Dikhianati seorang habaib, Habibah pacaran dengan seorang ahwal, tetapi kemudian zuwad dengan Ucin tanpa cinta untuk menghormati tradisi. Setelah anak-anaknya dewasa, Liya, salah seorang anaknya mengulangi pengalaman ibunya, tetapi dengan cara berbeda. Saat itu, Habibah bermetamorfosis dari Perempuan Pengusung Tradisi ke Perempuan Perombak Tradisi. Suatu gugatan kepada tradisi yang ada, tetapi bukan gugatan yang meledak-ledak, biasa saja.

Amellia, 17 tahun, gadis penggemar boneka berasal dari keluarga broken-home, asimilasi wanita keturunan Cina dan pria keturunan Arab. Gadis ini bergaul dengan seorang laki-laki bernama Andre dan hamil. Labibah berhasil menguraikan kisahnya dengan gaya remaja, sesuai usia Amellia, tetapi kemudian tetap menggunakan gayanya, menohok di ujung cerita (Perempuan, 17 Tahun).

Perempuan Dalam Kegelapan namanya Petty. Petty  tidak merasa bahagia dengan kehidupan rumah tangga bersama Singgih. Singgih terlalu sibuk kuliah sehingga mengabaikan istrinya. Bahkan dalam bercinta Singgih tidak pernah peduli istrinya puas atau tidak. Petty ketemu Manas, meninggalkan suaminya, dan beruntun Labibah menimpakan azab dalam hidup Petty. Kasihan si Petty gara-gara ulah sang dalang.

Membaca kumcer Labibah sesungguhnya cukup mengasyikkan, tetapi Labibah tetap harus memerhatikan gramar. Di beberapa tempat masih terlihat kebingungan membedakan di apakah sebagai awalan atau preposisi (baca saja cerpen Perempuan di Sudut Taman). Kemudian masih adanya susunan kalimat yang kacau. Perhatikan saja halaman 70 (Perempuan Dalam Kegelapan) paragraf pertama yang cukup panjang, baris 2 terakhir, temukan kelebihan pemakaian kata "cepat" di sana. Pada halaman 77 malah Labibah menulis bahwa "Mah adalah kepanjangan dari mamah" (bukannya malah kependekan?). Sesungguhnya cerpen-cerpen Labibah perlu disunting supaya lebih bersinar lagi. Napas panjang dalam bertutur memang punya efek pada terciptanya kalimat-kalimat rancu. Dan Labibah sang penggemar nama Sinta yang agak doyan berkhotbah dalam ceritanya suka pada yang panjang-panjang.

Kumcer ini hanya berisi 8 cerpen, tergolong sedikit walau diimbangi dengan cerpen yang 'panjang-panjang'. Berikutnya, mungkin Labibah bisa bermurah hati menampilkan cerpen yang sedikit lebih banyak, dan dengan kemahiran mengecoh serta penyuntingan yang lebih baik tentu saja. Sebagai penulis, seharusnya sebelum karyanya dipublikasi dialah yang harus melakukan penyuntingan perdana. Editor hanya akan memberi sentuhan biar lebih berkilau.

Posted at 12:04 pm by Jody

maknyak
January 26, 2007   11:14 AM PST
 
aih Jody,
Jangan merasa tak enak begitu dong. Kan sebagai penulis saya memerlukan feedback juga. nah feedbackmu terhadap kumcerku sangat berguna. sekalai lagi thank you!
Jody
January 21, 2007   06:24 PM PST
 
Hi,
tentu saja boleh. Aduh, saya terlalu terus terang ya?
Tapi Kamu memang seorang penulis yang sangat berbakat. Saking kagum saya coba mengulas kumcermu yang, sungguh, keren!
Saya berharap masih bisa membaca dan mengapresiasi karyamu yang lain nanti. Kalau tidak "menyentuh" saya tdk mungkin kan mengulasnya?
maknyak
January 20, 2007   01:43 PM PST
 
Hi Jody,
Terimakasih banget atas reviewmu untuk kumpulan cerpenmu.
Bolehkah kupasang di http://duniafiksi.blogspot.com?

-Labibah-
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry





widgets