
Judul buku : Pasang Laut
Judul asli : The Highest Tide
Penulis : Jim Lynch
Alih bahasa : Arif Subiyanto
Terbit : cetakan 1, Desember 2006
Tebal : 328 hlm; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
MENDENGAR SUARA HATI LAUTAN
Suatu malam
musim panas, Miles O'Malley -13 tahun, 146 cm, 39 kg, bersuara melengking
berpenampilan mirip bocah 9 tahun- yang sedang liburan, keluar dari rumahnya di
ujung Teluk Puget Sound, dan mendayung kayak ke utara Teluk Skookumchuck,
menuju Teluk Chatham Cove. Malam itu, Miles melaksanakan pekerjaan musim
panasnya yang baru, yaitu mengumpulkan hewan laut yang terbawa air pasang seperti
bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk eksotis lainnya yang
akan dijual untuk koleksi akuarium di Tacoma, Seattle dan Port Townsend. Selain
itu, dia juga mencari remis seperti butterclam, untuk dijual ke
restoran seafood setempat.
Miles yang mulai khawatir ukuran tubuhnya akan membuatnya tersisih dari dunia
percintaan, seperti katak yang tak bisa berteriak lantang untuk memikat betina
(hlm. 77), tidak menyangka malam yang tanpa angin, tanpa bebunyian, hanya
sesekali terdengar desing sayap serangga, suara remis yang mengatup, dan desir
air surut merembes di sela bebatuan (hlm. 10 – 11), akan memicu perubahan
hidupnya.
Malam itu, Miles menemukan seekor cumi-cumi raksasa yang membuat
perhatian publik terarah padanya. Cumi-cumi raksasa tersebut merupakan makhluk
penghuni laut dalam. Umumnya ditemukan sudah menjadi bangkai dalam perut ikan
paus spermaseti atau terdampar di pantai-pantai Selandia Baru, Norwegia, atau
Newfoundland. Miles mengatakan pada seorang reporter bahwa penemuan cumi-cumi
raksasa ini mungkin sebagai cara bumi mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, anak
sotong ini menjadi sasaran pers.
Setelah penemuan cumi-cumi raksasa tersebut, Miles menemukan lagi seekor ikan ragfish
yang juga termasuk penghuni laut dalam. Ketika merespons pertanyaan seorang
reporter televisi mengenai penemuan makhluk penghuni laut dalam adalah
kemungkinan cara bumi mengatakan sesuatu, Miles mengatakan bahwa bumi mungkin
sedang minta tolong untuk diperhatikan. Miles juga menceritakan pengamatannya
yang luput dari pengamatan para ahli bahwa saat itu sedang terjadi invasi
kepiting Cina di Whiskey Point dan rumput laut Caleurpa di Teluk
Flapjack. Kedua invasi tersebut sangat berbahaya. Selain mengancam
kepiting-kepiting asli, kepiting Cina memiliki kebiasaan menggali terowongan
yang menyebabkan tanah menjadi labil, erosi, dan longsor sehingga membahayakan
penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Sedangkan rumput laut Caleurpa
berpotensi merusak ekosistem yang ada. Tentu saja apa yang disampaikan
Miles sangat mengejutkan banyak orang.

Jim Lynch
"Ini musim panasmu, Miles. Musim panas
ini akan menentukan jati dirimu", demikian kata Florence Dalessandro -perempuan tua, paranormal
penggemar buku yang menjadi sahabat Miles. Persis seperti kata Florence, musim
panas itu menempatkan Miles pada posisi seperti selebritas gara-gara penemuan
dan komentarnya. Dalam sebuah acara yang dilaksanakan Sekolah Eleusinia, Miles
mencetuskan ramalan Florence yang menyatakan bahwa gelombang pasang tertinggi
akan terjadi pada tanggal 8 September tahun itu; pasang tertinggi dalam waktu
50 tahun terakhir. Walaupun Florence gagal ketika membuka praktik paranormal,
terbukti beberapa ramalannya tidak meleset. Gempa merontokkan Capitale
Apartments dan Hakim Stegner kalah dalam pemilihan hakim negara bagian. Apakah
ramalan pasang tertinggi benar-benar menjadi nyata?
Seketika perairan Puget Sound menjadi ramai karena orang berduyun-duyun ke
sana. Apalagi saat tersebar rumor bahwa mukjizat penyembuhan terjadi di
perairan tersebut. Seiring dengan itu, Miles juga harus melewatkan waktu
bersama tokoh-tokoh selain Florence seperti Profesor Kramer; Kenny Phelps;
Angie Stegner; reporter bermata hiu martil; ayahnya yang terobsesi pada tinggi
badan; ibu yang tidak bahagia.
Pada akhirnya semua yang Miles alami benar-benar membuat ia menemukan jati
dirinya seperti ramalan Florence. Ramalan Florence memang harus memenuhi
takdirnya.
Laut yang menjadi pesona utama cerita memang penuh misteri. Lewat pengalaman
musim panas Miles yang menjadi narator novel, kita seperti diajak memaknai
kembali peranan laut dalam kehidupan manusia. Betapa sering manusia melakukan
kesalahan tanpa memikirkan akibat buruk yang akan terjadi. Seperti pemicu
kerusakan ekosistem yang digambarkan dalam novel ini. Semua terjadi karena ulah
manusia. Mungkin kita perlu memahami laut sebagaimana yang disitir Miles dari
buku The Sea Around Us karya penulis favoritnya, Rachel Carson: "Sejak
fajar purbakala yang tersaput kabut misteri, lautan adalah asal mula segenap
kehidupan, dan akhirnya segala wujud kehidupan yang mungkin telah berkembang,
bermutasi lalu mati itu akan berpulang kepadanya. Segalanya akan kembali ke
lautan –Oceanus, sang sungai mahaluas, bagaikan hikayat pengembaraan sang
waktu, dari awal hingga akhirnya."
Dalam novel ini laut juga dapat disamakan dengan kehidupan manusia. Sering
tanpa sadar manusia melakukan tindakan yang berefek destruktif pada orang lain.
Selepas musim panas tak terlupakan itu, Miles melihat persamaan tersebut.
Bukankah apa yang dilakukan orang tuanya bisa disamakan dengan pencemaran laut
yang akhirnya merusakkan ekosistem yang ada? Walaupun begitu, Miles tetap
berhasrat memahami misteri kehidupan. Hidupnya memang berubah. Florence
meninggal, orang tuanya berpisah, namun semua menjadikannya lebih tegar,
apalagi dengan kehadiran Angie yang mengatakan kepadanya bahwa, "Lautan
akan menunggumu, Miles. Begitu pula aku."
Rachel
Carson (*) dan bukunya yang dibaca Miles
dalam novel The Highest Tide
Inilah debut manyala, menyentuh, cerdas, dan puitis dari Jim Lynch, seorang
jurnalis-penulis cerpen yang telah memenangkan National Journalism Awards. The
Highest Tide juga telah memenangkan Pacific Northwest Booksellers Award
tahun 2006. Jim Lynch yang berdomisili di Olympia, Washington, menulis novel
ini sebagai realita dari harapannya untuk menciptakan novel dengan Puget Sound
sebagai latar. Sewaktu kecil Jim memang sering menjelajahi perairan Puget Sound
menggunakan perahu layar orangtuanya. Untuk mewujudkan harapannya, Jim membaca
buku-buku biologi kelautan, penuntun seks; mewawancara cenayang; mempelajari
fenomena air pasang. Hasilnya, sebuah novel cemerlang yang digerakkan dengan
lancar dan penuh humor. Sulit untuk tidak tertawa membaca luapan imajinasi
Miles dan perbincangannya mengenai seks dengan Kenny Phelps, karakter side-kick
ciptaan Jim Lynch.
The Highest Tide tidak sekadar indah, tetapi juga kaya dengan informasi
beragam spesies makhluk hidup laut yang disampaikan secara menarik. Pembaca
akan menemukan ikan gepeng merak yang mudah berkamuflase memanfaatkan matanya
yang ajaib, gurita yang berubah warna saat sedang kawin, timun laut yang
memuntahkan organ dalamnya saat ketakutan, nudibranch yang cantik,
kerang kalung pembantai remis, keritip kawin, ikan midshipmen yang
memiliki kehidupan unik, ubur-ubur sebesar kunyahan permen yang bisa melar
selebar payung atau semburat cahaya di musim plankton. Tetapi juga bangau yang
marah, burung elang pesolek, itik liar yang tertawa riuh, camar seperti badut
sirkus, atau kolibri yang mengejek gravitasi.
Jim berhasil menciptakan karakter utama yang cerdas dengan tingkat kuriositas
dan kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya, lancar bertutur, namun
terperangkap keterbatasan fisiknya. Miles yang mengingatkan pada karakter Simon
Birch dalam film Simon Birch (diperankan oleh Ian Michael Smith, 1998)
seolah-olah memberikan pencerahan bagi kita bahwa siapapun kita, dengan segala
kekurangan yang ada, diciptakan Tuhan dengan maksud tertentu di dunia ini.
Sesungguhnya, tidak ada kehidupan manusia yang tidak berarti, kecuali manusia
itu tidak menemukan sendiri artinya.
Edisi Indonesia yang diberi judul Pasang Laut sangat enak
dinikmati. Pembaca tidak akan menemukan untaian kata rumit yang membingungkan.
Sebagai penerjemah, Arif Subiyanto terkesan selektif dalam penggunaan diksi
sehingga pembaca tetap bisa merasakan taburan humor dan kalimat indah dari Jim
Lynch.
Novel yang dipersembahkan Jim Lynch untuk Denise, istrinya, dirilis September
2005 di Amerika Serikat dan telah dipublikasikan di lebih dari 20 negara; lebih
dari 8 bahasa. Di Inggris novel ini terpilih sebagai bacaan musim panas 2006
oleh London's Richard and Judy TV Book Club. Hak untuk memfilmkan novel ini
telah dibeli oleh Fisher Stevens, seorang aktor, sutradara, dan produser. Jadi,
sebelum nonton filmnya kelak, nikmati saja terlebih dahulu novel indah yang
sangat menyenangkan ini.
*) Rachel Louise Carson, seorang penulis, ilmuwan, dan
ekolog kelahiran Springdale, Pennsylvania 27 Mei 1907 yang telah menulis buku
(1941), Under the Sea-wind (1941), The Sea Around Us (1952), The Edge
of the Sea (1955) dan Silent Spring (1962). Ia meninggal karena
kanker payudara pada tanggal 14 April 1964 di Silver Spring, Maryland.