<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, March 10, 2007
NEFERTITI



Judul Buku : NEFERTITI
(The Book of the Dead - Ratu Mesir, Dewa Matahari & Penguasa Dua Dunia)
Penulis : Nick Drake
Penerjemah : Bima Sudiarto
Penyunting: Pray
Tebal : 600 hlm; 12,5 X 19 cm
Terbit: Cetakan 1, Februari 2007
Penerbit : Dastan Books


SANG SEMPURNA TELAH DATANG


Bayang-bayang menyingkap seperti tirai, lalu kulihat dia.
Sang sempurna duduk di salah satu kursi. Mengenakan mahkota warna biru, memperlihatkan leher dan pundaknya nan jenjang dan indah. Membuat wajahnya semakin cantik.

 

Nama Nefertiti diterjemahkan sebagai wanita yang cantik (atau sempurna) telah datang. Sebagian namanya juga berarti manik-manik emas yang terjulur panjang (nefer) yang sering tergambar sedang dikenakannya. Siapa orang tua Nefertiti, tidak diketahui secara pasti. Dengan Amenhotep IV, Nefertiti melahirkan 6 anak perempuan.

Pada tahun ke-4 pemerintahannya, Amenhotep IV memulai penyembahan kepada Aten, dewa matahari. Dia dan Nefertiti memproklamasikan diri sebagai inkarnasi agung dan penyambung lidah Aten. Bersamaan dengan dimulainya penyembahan dewa Aten, pembangunan sebuah ibu kota baru, Akhetaten (sekarang dikenal sebagai Amarna) dimulai. Pada tahun ke-5 pemerintahannya, Amenhotep IV secara resmi mengubah namanya menjadi Akhenaten sebagai tanda penyembahan barunya terhadap Aten. Ibu kota dipindahkan dari Thebes ke Akhetaten secara resmi pada tahun ke-7 pemerintahan Akhenaten (1343 BC) walaupun pembangunan kota tetap dilanjutkan sampai tahun 1341 BC.

Selama pemerintahan Akhenaten, Nefertiti terkenal sebagai wanita yang karismatik dan memiliki kekuasaan setara dengan suaminya. Pada tahun ke-12  pemerintahan Akhenaten, Nefertiti menghilang dari rekaman sejarah, tidak ada lagi informasi mengenai dirinya setelah itu. Berbagai spekulasi disorongkan untuk mencoba menjawab apa yang terjadi pada dirinya. Ia dikabarkan meninggal, tertimpa aib, tetapi juga dipercaya sempat memerintah imperium Mesir dengan nama Neferneferuaten-Nefertiti dalam waktu yang singkat  setelah suaminya meninggal  sebelum kemudian ia digantikan oleh Tutankhamun.




Konon, zaman terjadinya sinkretisasi agama oleh Akhenaten  dengan  memperkenalkan Atenisme dan sesembahan baru, kemudian juga dilaksanakan konstruksi ibu kota baru, bagi sebagian orang dianggap sebagai zaman keemasan imperium Mesir. Tetapi ada juga yang berpendapat apa yang dilakukan oleh Akhenaten menggiring imperium Mesir ke tepi jurang kehancuran. Pembangunan ibu kota baru dengan kuil untuk dewa matahari telah menjadi konsentrasi pemerintahan Akhenaten. Ekonomi menjadi kacau balau. Beras susah dicari. Para pegawai tidak digaji.  Kejahatan bereskalasi. Keguncangan masal.

Dengan diberlakukannya atenisme, semua dewa yang sebelumnya disembah bangsa Mesir (dewa Amun, dkk) disingkirkan termasuk pendeta-pendetanya seperti yang terjadi di Kuil Karnak. Oleh karena itu tidak dapat dihindarkan lagi jika rezim Akhenaten menjadi penghancur kehidupan mapan banyak orang sehingga akhirnya menciptakan musuh bagi dirinya. Tetapi Akhenaten tidak peduli dan tetap  menjalankan rencananya. Tesis inilah yang digeber Nick Drake dalam novel perdananya, Nefertiti.

Novel Nick Drake ini menggambarkan ihwal akan diresmikannya kota baru, Akhetaten,  sebagai ibu kota dan pusat penyembahan Aten yang terjadi pada tahun ke-12 pemerintahan Akhenaten Pada saat itu, Nick menceritakan kalau Nefertiti menghilang dari istananya. Hal ini menimbulkan pertanyaan karena ada pendapat yang menyatakan bahwa  Atenisme sudah diberlakukan sejak tahun ke-4 pemerintahan Akhenaten. Selain itu karena Akhetaten dibangun sampai tahun ke-9 pemerintahan Akhenaten, agak aneh juga jika baru diresmikan tahun keduabelas, seperti yang disampaikan Nick Drake. Tetapi karena ini masalah sejarah, dan bukti yang paling sahih tidak tersedia, maka Nick Drake tentu saja memiliki kemerdekaan untuk menyampaikan gagasannya. Apakah gagasan yang disampaikannya benar, kita tidak bisa memastikan. Mungkin saja akan ada penemuan baru yang mengukuhkan hipotesisnya.

Peristiwa menghilangnya Nefertiti menjadi  tema penting di tengah eksplorasi Nick Drake terhadap kehidupan pemerintahan dan masyarakat Mesir kuno. Oleh karena itu selain kehidupan keluarga kerajaan -Nefertiti, suami, anak-anaknya dan para kerabat, Nick juga melakukan sejumlah riset mengenai materi yang hendak ia sampaikan, termasuk pola kehidupan masyarakat saat itu, seperti apa yang mereka santap, apa yang menjadi bahan pemikiran dan pembicaraan mereka, bahkan permainan yang mereka mainkan -dalam novel ini disebutkan permainan bernama Senet. Drake juga mengunjungi Mesir untuk melihat puing-puing Akhetaten (Amarna).

Menjelang peresmian ibu kota baru dan agama baru, Nefertiti hilang dari istananya, tanpa jejak. Sebagai tokoh karismatik yang sangat dihormati dan dicintai rakyatnya, lenyapnya Nefertiti menjadi masalah besar. Tanpa dirinya festival peresmian itu terancam gagal. Ada indikasi bahwa masyarakat mau mengikuti Atenisme karena pesona Nefertiti. Ketidakhadiran Nefertiti akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa  ada masalah sedang terjadi dalam kerajaan. Kredibilitas dan pencapaian Akhetanen akan dipertanyakan, termasuk agama barunya. Di samping itu, ada kecurigaan sedang terjadi konspirasi untuk menentang pemerintahan. Oleh sebab itu, Nefertiti harus ditemukan.

Pada saat itu, di Mesir terdapat satuan keamanan kerajaan -yang menyimpan arsip papirus  tentang semua masyarakatnya supaya bisa mengawasi mereka, yang disebut Medjay. Ankhenaten memerintahkan Rahotep, kepala detektif termuda satuan Medjay divisi Thebes untuk menemukan sang ratu. Rahotep terkenal dengan metode kerjanya yang orisinal. Setiap menangani suatu kasus, ia membuat jurnal untuk mencatat semua yang ia pikirkan dan ia indera dari investigasi yang dilakukan. Kerap dengan cara ini dia bisa mengungkapkan kasus yang ditanganinya.

Dari Thebes, meretas Sungai Besar, Rahotep menuju ibu kota baru, Akhetaten. Langsung disambut dengan sambaran anak panah untuk memperingatkan bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Mahu, kepala Medjay yang ditemuinya di Akhetaten, tanpa tedeng aling-aling menunjukkan ketidasukaan terhadap dirinya.

Oleh Mahu, disediakan 2 petugas untuk memandu Rahotep selama berada di Akhetaten, Kety dan Tjenry. Rahotep diberi waktu 10 hari oleh raja untuk mengembalikan Nefertiti, Sang Sempurna, karena festival peresmian ibu kota dan agama baru akan diadakan 10 hari lagi. Kalau tidak, Rahotep dan keluarganya akan dihabisi.

Baru saja memulai investigasinya, Rahotep telah menemukan mayat perempuan dengan wajah rusak. Sebelum misteri mayat yang diduga sebagai Nefertiti dipecahkan, Tjenry yang sedang mengawasi mayat ini dibunuh dengan cara mengerikan. Nyawa Rahotep sendiri terancam. Setelah itu, Meryra kepala bendahara kerajaan yang baru diangkat menjadi pendeta tinggi Aten juga tewas mengenaskan. Kematian Meryra membuat Mahu memaksa Rahotep meninggalkan Akhetaten dengan mengancam kehidupan keluarganya. Tetapi sebelum ada keputusan selanjutnya, Rahotep menemukan tulisan dalam jurnalnya yang ditulis orang tak dikenal yang kemudian menuntunnya pada pengungkapan misteri hilangnya Nefertiti.

Nefertiti memang belum meninggal. Ia juga tidak diculik oleh orang-orang yang terlibat konspirasi menentang rezim Akhenaten. Tetapi ia melarikan diri dari istana, setelah bertengkar dengan suaminya dan didera masalah yang membuatnya cemas dan ketakutan. Ia berharap dengan melarikan diri bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi.

Setelah Rahotep meninggalkan Nefertiti dengan tujuan untuk mencari komplotan yang menentang kerajaan, Mahu menangkapnya, memenjarakan, dan menyiksanya. Di tengah penyiksaan yang dilakukan Mahu, Ay, penasihat sekaligus kepala pasukan berkuda kerajaan datang membebaskan Rahotep. Ay meminta Rahotep untuk menjadi negosiator antara dia dan Nefertiti dalam rangka membereskan masalah kerajaan.

Festival peresmian ibu kota dan agama baru menjadi klimaks yang tak terduga. Sesuatu terjadi. Imperium Mesir terhempas di jurang kaos. Pemerintahan kacau. Keputusan Nefertiti lah yang akan menentukan kelangsungan nasib kerajaan Mesir.

Apapun yang kemudian  terjadi, pada akhirnya, tentu saja Rahotep bisa kembali ke Thebes. Setelah itu menurutnya, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Nefertiti dan suaminya. Tetapi pekerjaan Rahotep tidak berakhir di situ. Karena novel ini hanya menjadi bagian pertama yang ditulis Nick Drake untuk memperkenalkan aksi Rahotep kepada pembaca. Drake masih akan menerbitkan lagi sekuel kisah petualangan detektif Medjay ini.

Novel yang pernah masuk dalam nominasi novel terbaik Ellis Peters Award ini ditulis menggunakan Rahotep sebagai narator. Ketika membaca, pembaca mungkin tidak akan menyadari tengah membaca kisah  yang (diceritakan) tidak terjadi di masa kini. Dengan meyakinkan, menggunakan perspektif Rahotep, Drake menggelontorkan kisahnya secara enteng sehingga novel berlatar Mesir kuno ini hadir layaknya novel kontemporer, apalagi dengan konflik  dan kecemerlangan gagasan yang dibentangkan. Tidak ada kekakuan dalam pemaparan kehidupan yang telah lama berlalu ditelan waktu. Semua dihadirkan dengan wajar dan sama sekali tidak berkesan kuno. Segala detail diupayakan seakurat mungkin, baik elemen kultural maupun objek yang dikemukakan. Alhasil, Nefertiti (novel ini) tampil memikat melontarkan pesona bagaikan pesona yang dipancarkan sang ratu yang menjadi salah satu ikon kecantikan feminin abad 20.

Selain itu, novel diracik dengan kalimat-kalimat evokatif yang cenderung puitis. Hal ini bisa dipahami, karena Nick Drake juga dikenal sebagai penyair. Bukunya yang berjudul The Man in the White Suit memenangkan penghargaan Waterstone's Forward Poetry Prize untuk kategori Best First Collection.

Karakter-karakter yang diangkat Nick Drake pada umumnya merupakan karakter sejarah, tetapi bisa ditebak kalau Rahotep adalah karakter fiktif ciptaan Nick Drake sendiri. Demikian juga Khety, Tjenry, atau Senet.

Edisi Indonesia diterjemahkan dan disunting oleh pasangan Bima Sudiarto-Pray dengan rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan terkesan cerdas sehingga seluruh ceritanya dapat diikuti dengan lancar. Selain itu, naskah dicetak dalam ukuran huruf yang ramah mata. Keistimewaan lainnya adalah rancangan sampul yang spektakuler dalam nuansa keemasan mewakili panorama padang pasir dan era keemasan imperium Mesir Kuno.

Tak diragukan lagi, novel ini menjadi novel elegan untuk pembaca yang tertarik pada kisah berlatar sejarah masa silam tetapi dengan pesona misteri kontemporer.


Posted at 07:13 pm by Jody

jody
May 3, 2007   01:13 AM PDT
 
Nulis buku karya sendiri? Kenapa nggak? Didoakan mas, biar tercapai.
Bakalan masuk daftar tunggu nih.

Sudah pengen baca PARANOID, tapi sampe sekarang belum beredar.

Kalo bisa dapat gratisan dari Dastan, lebih baik lagi, hi hi hi....jadi tambah semangat bacanya.
Bima Sudiarto
May 2, 2007   12:01 PM PDT
 
Wiihiii..... jadi ge-er. Sembilan tahun berkecimpung baru kali ini dapat pujian tertulis. Ini suntikan semangat luar biasa, lho :-D

Moga-moga tetep suka dengan hasil kerja saya yang lain. Masih banyak buku yang ditugasi Zahra dan penerbit lain tapi belum diterbitkan. Pagi ini aja baru menyelesaikan satu buku.

Terus terang, ingin juga nulis buku sendiri, dan PZ juga sudah menawarkan. Tapi menulis itu sungguh pekerjaan tidak ringan. Selain pertanyaan soal waktu, juga pertimbangan sistem disini yang tidak membayar penulis selama masa kreatif. Lantas selama menulis, anak-istri makan apa dong?

Heheh. Tapi itu sekedar uneg-uneg lah. Moga-moga tidak membebani. Insya Allah, kalo memang jodoh saya menulis, pasti kesampaian. Semua ada waktunya, ya.

Pareeng....
jody
May 1, 2007   07:44 PM PDT
 
sama-sama, Mas Bima.

Anda memiliki gaya terjemahan yg asik, dan harus diakui, saya suka hasil terjemahanmu.

Makasih.
Bima Sudiarto
April 18, 2007   05:40 PM PDT
 
Makasih banyak resensi dan apresiasinya. Saya yakin Pak Prayudi juga akan senang. Jarang ada resensi terjemahan yang menyadari peran penting penerjemahnya. Bahwa menerjemahkan buku itu BUKAN PEKERJAAN MUDAH. Butuh pengalaman, dedikasi, kemampuan artikulasi, pemilihan kata dan artistik yang tidak ringan kalau mau sebuah karya bisa dinikmati dengan utuh dan enak berdasarkan pola pikir bahasa dan citarasa lokal.

Sekali lagi, matur nuhun. Sedikit-banyak ini memberi semangat untuk bisa lebih baik di tugas-tugas mendatang, diiringi harapan agar publik pembaca Indonesia makin mampu mengapresiasi peran penerjemah sebagai profesi yang patut dihargai dan merupakan bagian penting dalam usaha mencerdaskan bangsa. Jadi tidak hanya senilai nominalnya saja.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry