<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, January 02, 2007
MICHELANGELO'S NOTEBOOK


  

Judul : Michelangelo's Secret
Judul Asli : Michelangelo's Notebook
Penulis : Paul Christopher
Penerjemah : Ahmad Muhajir & Nadiah Alwi
Penerbit : Dastan Books, November 2006

 

Membaca Michelangelo's Secret (MS), bagi saya, seperti tengah menghadapi jigsaw puzzle. Cerita dibuka dengan prolog yang sudah pasti merupakan benang merah antara masa lalu dan masa kini dalam novel ini.

22 Juli 1942. Eugenio, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun, mendapatkan nama baru Frederico Botte, dan dibawa pergi dari Biara San Giovanni All' Orfenio, Italia Utara. Eugenio adalah anak Eugenio Pacelli, cikal bakal Paus Pius XII, lahir sebagai produk inses dengan keponakannya sendiri, Katherine Maria Teresa Annunzio yang kemudian bunuh diri.

Berdasarkan spekulasi rumor seputar anak yang tak jelas nasibnya ini, Paul Christopher (pseudonim penulis dan aktor Christopher Hyde) menggeber cerita, membaurkannya dalam adonan pembalasan dendam, kegilaan, dan bau darah.

Meloncat ke masa kini, kita diperkenalkan dengan mahasiswa New York University merangkap model telanjang dan kurator sebuah museum bernama Fiona Katherine Ryan alias Finn,24 tahun, cantik,berambut merah, prototipe Julia Roberts muda. Gambaran itu mungkin yang menyebabkan Narayan Radhakrishnan (sampul belakang novel), teringat pada Darby Shaw, karakter perempuan dalam "The Pelican Brief" (John Grisham), yang menurut pengakuan Grisham terinspirasi oleh Julia Roberts. Cantik dan berambut merah.

Tanpa sengaja, Finn menemukan lukisan vivisection dari zaman Renaisans, yang diyakininya sebagai bagian dari buku Michelangelo Bounarroti. Penemuan ini menyeret Finn pada 2 pembunuhan sadis menggunakan koummya yang dicuri dari sekolah Greyfriars. Demi mempertahankan hidup, Finn bertemu Michael Valentine yang masa lalunya terkait dengan orang tua Finn. Cerita kemudian merambat pada pembunuhan lain, Vincent Delaney, pastur gadungan, yayasan Grange, Carduss Club di bawah kendali masa lalu dan sosok di balik Archivo Secreto Vaticano.

Paralel dengan pencarian Finn, penulis menghadirkan karakter laki-laki tua berambut abu-abu, yang punya kebiasaan telanjang ketika menyusun kitab suci versinya. Seorang laki-laki gila, sehingga tak heran, dia memberi motif sampul kitabnya berupa salib dengan Bunda Maria tergantung di atas salib dan bukan Yesus. Dari sudut pandang laki-laki inilah, tabir masa lalu disingkapkan, memperlihatkan adegan-adegan di balik perampokan karya seni hasil rampokan yang melibatkan orang Jerman sendiri dan militer Amerika yang sedang berada di sana. Mungkin, sebagian di antara mereka tidak sadar, seorang anak laki-laki pendiam di antara mereka sedang mengamati dan tidak akan membiarkan masa lalu itu terkubur begitu saja.

Dengan cerdas, mengejutkan, penulis menguak misteri, yang mengantar pada pemahaman bahwa Yayasan Grange sesungguhnya adalah titik terakhir dari jalur yang membentang antara 2 benua, antara 2 masa. Paul Christopher rupanya bukan penulis yang murah hati. Walaupun novelnya akan mengingatkan pada novel-novel genre sejenis yang meramaikan literatur Amerika, Paul punya gaya sendiri. Paul seolah-olah memaksa pembaca untuk mengaduk otak sehingga membaca MS benar-benar menjadi sebuah "page-turning adventure" dan kita tidak akan segera dipuaskan oleh deskripsi dan narasi.

Saya menduga Paul "terpeleset" ketika mengungkapkan tentang seorang satpam museum berambut abu-abu yang pada akhir novel dikenal oleh Finn. Di awal novel namanya Willie, di akhir novel namanya Fred. Mestinya keduanya sama, apalagi Paul terus-menerus menyebutkan laki-laki berambut abu-abu dan tentunya ingin pembaca menyimpulkan sendiri.

Dalam novel menggedor benak yang konon judul aslinya "The Last Judgement" kita tidak akan mengenal tokoh Frederico Botte jika tidak membaca dengan teliti. Dialah yang digambarkan telanjang ketika menyusun kitab sucinya, dialah Eugenio atau di Amerika menjadi Fred Thorpe. Saya yakin, dalam novel ini, sebetulnya Amerika bukan tujuan semula ke mana Eugenio hendak dibawa. Peristiwa di perbatasan Swisslah yang sangat menentukan keberadaannya di Amerika. Dan saya pikir karena ada campur tangan CINTA.

Fred dibawa ke Amerika oleh Ilse (Annalise) Kurovsky, yang saya yakin merupakan nama baru dari Suster Filomena yang didapatnya pada prolog cerita. Di perbatasan Swiss itulah hidup Suster Filomena berubah. Kenapa? Dia bertemu Brian Thorpe, yang akhirnya jadi suaminya, sang SERSAN yang diceritakan di masa lalu.

Kalau kita lebih teliti lagi, ketika melakukan kejahatan, Fred Thorpe menggunakan seragam militer bekas ayah angkatnya.

Jika lebih teliti lagi, kita bisa memastikan kalau Brian Thorpe dibunuh oleh Fred sendiri!

MS adalah novel populer, sehingga sah-sah saja novelnya dihiasi dengan hal-hal seperti nama-nama selebritas, film atau tayangan TV, apalagi latar belakang Paul adalah dunia perfilman.

Ketidakjelasan saya temukan antara lain di hal. 276 " Pada tahun 1956, setelah kematian anak laki-laki itu pada umur enam belas tahun, dst...." Apa maksud kalimat itu? Siapa anak laki-laki itu?

Saya baru kenal Paul pada novel ini, tetapi rupanya dia sangat populer di Amerika. Pernah mengamati begitu banyaknya merek (brand) dalam buku ini? Levi's. Gap. Brooks Brothers. Turnbull & Asser. Bally. Bvlgari. Lagerfeld. Timex. Kevlar. Spandex. Tic Tac. Rolex. Hugo Boss. Dan masih banyak lagi. Rupanya Michelangelo's Secret juga menjadi media placement berbagai merek............ Luar biasa!

Satu hal yang mengganjal, baik judul asli maupun judul edisi Indonesia, tidak mencerminkan isi novel.

Posted at 09:54 pm by Jody
Make a comment  

RED LEAVES



Judul Buku: RED LEAVES
Penulis: Thomas H. Cook
Penerjemah: Elka Ferani
Penyunting: Marvel Neydi
Penerbit: Dastan Books

 

LARUTAN ASAM DAN DAUN-DAUN MERAH

 

"Kecurigaan itu bersifat asam. Semua yang disentuhnya akan rusak. Ia merusak permukaan halus dan berkilauan sebuah benda dan bekas yang ditinggalkannya tidak dapat dihilangkan".

Itulah sebetulnya esensi dari novel luar biasa ini. Kecurigaan.

Paranoid. Sumber problem.

Vincent Giordano. Dan terutama Eric Moore, adalah paranoid. Paranoid merupakan larutan asam berdaya korosi tinggi. Dan dari genangan larutan korosif inilah, kisah Red Leaves mengalir pedih dan mengiris.

Eric Moore mengidap paranoid kronis yang tidak disadarinya telah terbentuk di balik selimut masa lalu keluarganya yang disingkap dengan kejam untuk bersanding dengan teror masa kini dalam kehidupannya.

Dengan telaten, Thomas H. Cook, sang pengarang, mencabik-cabik masalah paranoid seputar kehidupan Eric, yang telah merusak kehidupannya dan keluarganya. Keluarga dan kehidupannya disimbolkan oleh pengarang sebagai pohon mapel Jepang di ujung gang rumah Eric. Dampak daripada paranoidnya, digambarkan dengan tumbangnya pohon mapel itu akhirnya.... setelah daun-daunnya gugur, bak genangan darah.

Warren. Keith. Meredith. Perkawinan Eric. Semuanya adalah daun-daun merah yang berguguran dari dahan pohon mapel Jepang.

Kehidupan Eric, adalah pohon mapel Jepang itu sendiri.

Kita bisa menikmati kisah larutan asam dan daun-daun merah ini karena Amy Giordano yang secara tak sengaja menguak masa lalu Eric yang pedih. Ironisnya, Amy-lah aspek krusial dalam kisah yang menghancurkan kehidupan Eric. Amy ingin membereskan segalanya sebelum menikah, mereduksi karat-karat akibat korosi yang (mungkin) ditakutinya bakal mengorosi kehidupannya dan keluarganya kelak, aroma pembalasan dendam belasan tahun silam.

Sebuah kesan mendalam yang timbul dari novel ini adalah Thomas menuliskannya dengan apik dan memikat. Dia benar-benar seniman, filsuf daun-daun mapel, dan sekaligus pesulap. Misteri sama sekali bukan terungkap setelah belasan tahun peristiwa penculikan itu terjadi. Misteri telah terungkap setelah Keith tewas, jauh sebelum Amy memutuskan ingin bertemu Eric, tetapi untuk pembaca seolah-olah belasan tahun kemudian. Untuk mengungkapkan misteri ini pada pembaca-lah penulis memberi alasan bagi pertemuan Amy dan Eric. Sesuatu yang mengganggu benak Eric, bahwa sampai belasan tahun peristiwa itu terjadi dia masih betah berada di Wesley sementara dia sebatang kara di sana.

Cerita belasan tahun silam yang dibaca pembaca (dan dicetak beda dengan cerita masa kini) sesungguhnya uraian kisah di benak Eric, dalam pikiran Eric. Kita sedang membaca pikiran Eric saat penulis menuturkan masa lalu dengan menggunakan perspektif orang pertama. Kita sedang membaca isi benak Eric yang sedang menunggu kehadiran Amy Giordano. Pada saat kita membaca elaborasi penulis, kita mengikuti alur cerita dalam benak Eric yang akan dikisahkan Eric pada Amy, sebagai hadiah pernikahan gadis itu. Supaya Amy bisa memetik manfaat dari kesalahan-kesalahan Eric di masa lalu.

Perhatikan halaman 409: "Aku akan mulai dari akhir," katamu kepadanya. " Di hari aku meninggalkan rumahku." Dengan kata lain, kisah yang terjadi pada keluarga Eric di masa lalu telah terlebih dahulu diketahui "pembaca" daripada "Amy Giordano". Ketika Eric nanti bercerita pada Amy, tentu saja dia akan memulai dengan pergi ke halaman 19 waktu dia meninggalkan rumahnya pada suatu hari yang dingin di bulan Oktober, untuk selamanya.

Cerita masa kini juga sama, terjadi di benak Eric dalam bentuk tuturan nuraninya kepada diri Eric sendiri, sehingga Thomas H. Cook memakai gaya bercerita seolah-olah ada yang sedang berbicara kepada Eric.

Gaya bercerita yang WOW, campuran keindahan bertutur dan kebrilianan berimajinasi, belum pernah saya temukan pada novel-novel yang pernah saya baca.

Tetapi tak ada gading yang tak retak.

Pertama, sebuah retak kecil, yaitu saat penuturan menggunakan "KAU" bercampur sedikit dengan menggunakan "AKU" (hal. 403-404). Dalam bertutur seorang penulis tentu saja harus konsisten menggunakan perspektif penceritaan, tidak mencampur 2 persepsi dalam satu kotak.

Kedua, akhir kisah tetap menyisakan pertanyaan yang tak terjawab yaitu: apakah sesungguhnya motivasi penculik di balik peristiwa penculikan yang super penting dalam keseluruhan jalinan novel?

Meskipun demikian, Red Leaves merupakan novel yang gemilang, berbalut unsur humanis yang dituturkan unik dan dimulai dari akhir ketika kehancuran telah melengkapi segalanya. Tetapi di atas kehancuran tersebut, kita tetap bisa melihat sesuatu yang berkilau bak "blessing in disguise", yang menciptakan senyuman di wajah Eric pada ending kisah.

 

Posted at 09:04 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, December 09, 2006
SEBUAH KOTAK COKELAT


My momma always said : "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get ."

Demikianlah salah satu quote dari film populer peraih Academy Award Forrest Gump. Kalimat di atas diucapkan Forrest yang diperankan oleh Tom Hanks pada awal film menakjubkan itu. Kalimat yang pernah diucapkan ibunya. Hidup bagaikan sebuah kotak coklat, terdiri atas berbagai butir coklat dan bentuk dan model yang berbeda-beda. Sebelum kita membuka tutup kotak coklat itu, kita tidak tahu dengan jelas coklat seperti apa yang akan kita dapatkan.

Demikian pula hidup. Ketika menapaki kehidupan, kita tidak tahu akan bertemu dengan peristiwa seperti apa atau bertemu orang seperti apa. Kita tidak akan bisa meramalkan dengan pasti sebelum kita memasuki kehidupan itu sendiri.

Ibarat sebuah kotak coklat yang pernah kita buka, kita baru tahu isinya seperti apa karena telah pernah membukanya, kan?

Ketika kau menapaki kehidupan, kau seperti membuka kotak coklatmu sendiri. Dan menemukan butir-butir coklat berbagai jenis yang menyebabkan kau menjadi seorang chocoholic. Orang-orang tercinta yang hatinya selezat coklat di ujung lidah. Orang-orang yang berbuat kebaikan dalam hidupmu. Orang yang mengerti benar dirimu dan menerimamu apa adanya. Orang-orang tercinta. Butir-butir coklat dalam hidupmu.

Posted at 11:09 pm by Jody
Make a comment  

Thursday, November 30, 2006
MARIA MAGDALENA

 

Belakangan di Indonesia nama Maria Magdalena makin populer saja. Hal itu dikarenakan oleh terbitnya buku-buku (terutama novel) yang 'menjual' hidup Maria Magdalena. Salah satunya tentu saja Da Vinci Code.  Si penjual Maria Magdalena yang bernama Dan Brown ini, berhasil meraup banyak dolar  dari kontroversi yang dicetusnya. Tetapi ketika difilmkan, dengan Tom Hanks dan Audrey Tatou sebagai pemeran utama, filmnya kandas seperti bahtera Nuh di puncak Ararat.

Maria Magdalena, memang sosok yang misterius. Setelah disinggung dengan frekwensi hanya sedikit saja dalam Alkitab, namanya tidak pernah terdengar lagi. Berbagai spekulasi diciptakan untuk mereka-reka kehidupannya. Apakah dia seorang perempuan muda? Cantikkah dia? Apakah dia seorang pelacur? Benarkah dia menikah dengan Yesus? Berbagai kesalahan telah dilakukan oleh orang-orang yang kemelit. Perempuan satu ini disamakan dengan Maria lain yang berasal dari Betania, diidentikkan dengan seorang perempuan pendosa, dikacaubalaukan dengan seorang pezinah. Sampai-sampai seorang perempuan peneliti kehidupan Maria Magdalena berkata bahwa untuk semua tuduhan itu Maria Magdalena berhak mendapatkan pengadilan yang layak. Kalau pernah menonton film terkenal "The Passion of the Christ", bisa dilihat bahwa Mel Gibson juga telah terbawa stigma terhadap perempuan ini yang pernah diembuskan oleh Paus Gregorius I (tahun 591). Kalau juga memerhatikan lukisan-lukisan Maria Magdalena, kita akan melihat dia ditampilkan sebagai perempuan cantik, seksi, berambut tergerai, memegang buli-buli pualam (alabastron), berbusana seronok seolah-olah dia benar-benar Monicca Bellucci. Meminjam kalimat Maria Magdalena dalam "Pengakuan Maria Magdalena" karya Lie Chung Yen (Kanisius, 2005), mungkin saja perempuan ini akan berkata, "Emangnya aku ini schizofrenik, bisa punya banyak kepribadian?!"

Pendalaman kehidupan Maria Magdalena dalam Alkitab dengan mengejutkan akan menunjukkan bahwa dia tidak seperti yang khalayak bayangkan. Harusnya Dan Brown mengungkapkan bahwa dalam Alkitab, tidak pernah dikatakan Maria Magdalena itu seorang pelacur! Tetapi itu dikatakannya hanya dalam satu wawancara karena mungkin sudah ada yang mengecam.

Maria Magdalena atau disingkat oleh Arswendo Atmowiloto dalam sebuah puisinya sebagai "Mama" (Salam Mama Penuh Hormat, Sebutir Mangga di Halaman Gereja, paduan puisi, Subentra Citra Pustaka, 1994) memang bukan pelacur. Alkitab jelas-jelas menyatakan kalau dia itu adalah mantan perempuan gila, kecuali Anda punya sebutan lain untuk perempuan yang daripadanya diusir keluar 7 roh jahat!

Mama adalah mantan perempuan gila yang kaya. Diberi nama Magdalena karena dia berasal dari Magdala, sebuah kota di tepi barat Danau Galilea. Dengan kekayaan yang dia miliki, Mama membantu perjalanan Yesus Kristus, bahkan sampai menuju ke Yerusalem di mana Yesus akan disalibkan. Mama tergolong sebagai pemimpin kaum perempuan, bisa diduga. Dan bisa diduga lagi, kalau Mama tidak semuda perempuan cantik yang bernyanyi "I Don't Know How I Love Him" dalam film Jesus Christ Superstar. Mama kemungkinan besar sepantaran ibu dari Yesus, Maria istri Yusuf! Taruh kata, Maria Ibu Yesus, melahirkan Yesus pada usia 13 tahun (WOW!), pada waktu Yesus berusia 33 tahun, Maria Ibu Yesus berusia hampir 50 tahun. Sepantaran itulah Mama. Dan mungkin akan ada argumen , "siapa tahu" Yesus itu mengidap "Oedipus Complex"!

Ide yang menyatakan bahwa Mama adalah istri Yesus dipopulerkan oleh buku seperti "Holy Blood, Holy Grail (1982)" yang dijiplak Dan Brown ke dalam The Da Vinci Code. Novel-novel lain yang mengulik isu yang sama adalah Three Marys (Paul Park, 2003) dan Priest's Madonna (Amy Hassinger, Bentang Pustaka, 2006). The Last Temptation of Christ karya Nikos Kazantzakis sama sekali bukan penggambaran Yesus yang menikah. Dalam novel yang difilmkan oleh Martin Scorsese Maria Magdalena memang digambarkan sebagai pelacur. Pada saat tersula di kayu salib, Yesus mengalami pencobaan terakhir, untuk turun dari salib dan membina keluarga dengan Maria Magdalena, tetapi tentu saja tidak dilakukannya.

Tradisi kuno Gereja Barat menyebut Mama sebagai "apostola apostolorum" yang berarti rasul dari para rasul, karena dialah yang pertama kali bertemu dengan Yesus pasca kebangkitan dan diminta Yesus untuk memberitahukan kepada saudara-saudara seiman bahwa Yesus telah bangkit. Pertemuan Mama dengan Yesus itu memang disebut-sebut sebagai satu skenario terbesar dalam sejarah, sehingga terlalu diangkat-angkat sampai timbul desas-desus pengaruh Mama yang besar dalam hidup Yesus!

Begitu memaksanya untuk menegakkan tesis bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, Martin Lunn dalam "Da Vinci Code Decoded (Ufuk Press, 2005" mengatakan bahwa Maria adalah sebutan untuk istri keturunan Raja Daud (Yesus adalah keturunan Daud, dilihat dari silsilahnya). Maria sebenarnya adalah bahasa Latin, bahasa Ibraninya adalah Miryam, bahasa Aram Maryam, dan bahasa Yunani Mariam. Kalau itu merupakan sebutan untuk istri keturunan Daud, bagaimana dia bisa menjelaskan Miryam (Maria/ Mariam/ Maryam) yang dikenal sebagai kakak perempuan Nabi Musa? Apakah dia istri keturunan Daud ;).

Setelah begitu banyaknya buku yang mengusik kehidupan Maria Magdalena (coba tengok ke situs magdalene.org) dengan kecenderungan negatif, kenapa tidak mencoba membaca misalnya sebuah buku berjudul "MAD MARY" (Liz Curtis Higgs, Harvest Publication House, 2003)? Dalam segala hal, saya kira keseimbangan senantiasa dibutuhkan.

Posted at 08:01 pm by Jody
Comments (2)  

Monday, November 27, 2006
PARADOKS STOCKDALE

 

  Paradoks Stockdale berbunyi sebagai berikut:

   "Pertahankan keyakinan bahwa Anda akhirnya akan menang, apa pun kesulitan yang dihadapi. DAN PADA WAKTU YANG SAMA, hadapi fakta paling brutal dari kenyataan Anda saat ini, apa pun bentuknya."  (Jim Collins dalam buku "Good to Great").

Konsep tentang paradoks ini diangkat Jim Collins berdasarkan pengalaman Jim Stockdale, pejabat militer Amerika Serikat dalam kamp tawanan perang "Hanoi Hilton". Saat perang Vietnam, Jim (yang Stockdale, bukan Collins), bisa bertahan hidup dan keluar dari kamp tersebut. Sembari menghadapi fakta sebagai tawanan perang, tanpa tahu akan dan kapan dibebaskan, Jim pada waktu yang sama yakin dia bisa keluar dari situasi tersebut.

   Dalam kehidupan, kita tidak akan lepas dari situasi yang membelenggu kita sehingga kita dibuat tidak berdaya karena berbagai kesulitan yang dihadapkan kepada kita. Seringkali putus asa memangkas semua keyakinan yang kita miliki, sehingga melemahkan daya survival kita.

Tapi paradoks Stockdale mengingatkan kita semua: dalam situasi sesulit apa pun kita harus belajar bertahan, memberi makan diri kita dengan keyakinan yang besar bahwa kita bisa lolos dari situasi tersebut, bahkan bisa lolos sebagai pemenang.

   Susah.

               Tapi itulah kehidupan.

               Hanya orang yang berani.

                     Yang sanggup bertahan.

                       Yang punya keyakinan.

               Yang bisa mengatasi dan

                                       menaklukkan semua kesulitan yang ada!

 

Posted at 07:24 pm by Jody
Comment (1)  

Saturday, November 25, 2006
LINKS
Friday, November 24, 2006
ABOUT ME




"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.
Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya.
Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas"

 
- Jostein Gaarder & Klaus Hagerup

                      (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)

 

 


Saya. Jody. Lelaki. Penikmat hidup. Penyuka buku, film, dan musik.

Menyukai berbagai buku, tidak terbatas siapa pengarangnya. Sempat tergila-gila pada rajutan kata Alessandro Baricco, Chuck Palahniuk, Karim Raslan, dan Leila S. Chudori.

Menyukai berbagai musik, kecuali musik metal. Harry Connick Junior, Jamie Cullum, Michael Buble, Josh Groban, Bobby Caldwell, dan Indra Lesmana (OST Rumah Ketujuh) menjadi pilihan utama.

Menyukai berbagai film, terutama film-film Pedro Almodovar, David Fincher, Chan-woo Park, Lars von Trier, Alfonso Cuaron, Lasse Hallstrom, Alejandro Gonzales Inarritu, Jane Campion, dan Quentin Tarantino.


Posted at 10:45 am by Jody
Comments (10)  

Thursday, November 23, 2006
TO KILL A MOCKINGBIRD


Bulan Maret 2006, Qanita sebuah penerbit di Indonesia menerbitkan novel " To Kill a Mockingbird" dalam bahasa Indonesia untuk pertama kalinya. Novel ini merupakan karya satu-satunya dari penulis wanita bernama Harper Lee pada tahun 1960. Usia novel ini tidak membuatnya ketinggalan zaman, karena tema yang diusungnya merupakan tema abadi yaitu keadilan dan kasih sayang. Novel yang memenangkan Pulitzer Prize pada tahun 1961 ini, oleh Time Magazine digolongkan ke dalam salah satu novel terbaik sepanjang zaman.

Menurut penulis The Princess Diaries Series, Meg Cabot, To Kill a Mockingbird mengingatkannya pada sebuah kalung mutiara, yang setiap kata-katanya diuntai secara hati-hati bagaikan permata berharga  (http://www.barnesandnoble.com/writers). Stephen King dalam bukunya On Writing : a Memoir of the Craft, menyatakan novel ini sebagai novel yang hebat.

Tema sentral novel adalah orang-orang yang baik sering menjadi korban ulah orang-orang jahat. Orang-orang yang jahat melakukan perbuatan jahat pada orang-orang yang baik yang sering menjadi tidak berdaya karenanya. Oleh Harper Lee, tindakan seperti itu diibaratkan sebagai membunuh burung Mockingbird.

Mockingbird menyanyi untuk dinikmati pendengarnya. Hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak makan tanaman di kebun, tidak membangun sarang di gudang jagung, tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang. Hanya menyanyi dengan tulus untuk menghibur, sehingga membunuh mereka dikatakan sebagai dosa. Boleh menembak burung bluejay sebanyak yang dimau, tetapi membunuh mockingbird adalah dosa, demikian kata Atticus.

Harper Lee menuturkan novelnya dengan indah dari sudut pandang Scout, si tomboi, adik Jem Finch, putri pengacara Atticus Finch. Dari tuturannya, kita mengetahui tewasnya Tom Robinson, pria kulit hitam yang kasusnya dibela Atticus, sebagai "to kill a mockingbird" karena Tom sama sekali tidak bersalah.

Tak merasa cukup dengan vonis yang mengakibatkan tewasnya Tom yang malang, si jahat Robert Ewell yang bersama putrinya, Mayella Ewell telah menjahati Tom, berniat mencelakakan keluarga Finch.

Pembaca akan tahu, sebetulnya apa yang terjadi di ujung kisah menyentuh ini, siapa sebetulnya pembunuh Robert Ewell, tetapi bersama Sheriff Maycomb County, Heck Tate, Atticus--yang ditegaskan dalam perkataan Scout, jika mempermasalahkan sosok yang menewaskan si kejam Ewell, yang bertanggung jawab terhadap kematian Tom Robinson, adalah sama saja dengan menembak mati mockingbird. Itulah yang menyebabkan si sheriff, menutup kasus itu, dengan menyatakan bahwa "biarkan yang mati saling menguburkan", kata-kata yang agaknya disitir dari Alkitab (Matius 8 : 22 ; Lukas 9 : 60).

Cobalah membaca novel indah dan memesona ini jika belum pernah membacanya. Dan salut buat Qanita, menerbitkan novel-novel bermutu.


Posted at 10:07 am by Jody
Comment (1)  

Tuesday, November 21, 2006
ALICE IN WONDERLAND


ALICE IN WONDERLAND? Siapa yang tidak tahu? Sebuah cerita petualangan gadis cilik karya Lewis Carrol yang sangat populer. Yang sudah baca dan tahu, pasti ingat petualangan Alice itu sebetulnya terjadi di mana......................

BANYU BIRU? Pasti akrab dengan judul ini. Ya, sebuah film produksi Indonesia yang diperankan oleh Tora Sudiro. Saya menonton satu kali dan belum pernah berniat mengulang lagi.Sambil menunggu ending film tersebut, saya sudah mulai BT dengan ceritanya, apalagi melihat tarian yang salah satu penarinya Sang Datuk Maringgih, HIM Damsyik! Berbagai kejadian aneh terus ditampilkan,sampai akhirnya............ kita mengetahui juga, TORA SUDIRO tak lebih dari ALICE di Negeri Ajaib! Ternyata semua yang kita lihat di hampir sepanjang film HANYA MIMPI SEMATA!

Saya punya istilah untuk film sejenis ini yaitu film genre ALICE IN WONDERLAND!

Ternyata dari Hollywood keluar film dengan genre sama, selain film ALICE IN WONDERLAND. Atau justru memang dari sana sumbernya.

BOXING HELENA, sebuah film yang 'tampak' unik karya Jennifer Lynch--putri sutradara David Lynch, yang dibuat ketika dia masih berusia remaja, ternyata juga film genre ALICE. Sayang, karena film itu merupakan film yang keren sebelum ending yang mengecewakan. Detik demi detik dalam durasi film itu kita akan dihadapkan dengan obsesi seorang pria (Julian Sands) kepada perempuan cantik yang diperankan oleh Sherilyn Fenn. Obsesinya membuat dia menawan Helena setelah menabraknya, menyandera kemudian mengamputasi bagian-bagian tubuh Helena yang molek. Di penghujung film, bukannya mendapatkan kejutan, penonton dihadiahkan perasaan kecewa. Ternyata semua adegan sejak Helena ditabrak adalah MIMPI si pria. Walaupun mimpi itu membuat si pria memutuskan untuk berhenti mengobsesikan si cantik, tetap cerita yang hampir keren itu menjadi tereduksi begitu saja!

Ternyata Femme Fatale yang diperankan Rebecca Romijn dan Antonio Banderas juga termasuk genre yang sama. Apa pun usaha pembuat cerita untuk memesonakan penonton, tidak berhasil. Ini dunia nyata! Sudah banyak waktu yang dilakukan orang untuk bermimpi.Tidak perlu disodorkan mimpi lagi. Apalagi mimpi yang menyita waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Meminjam judul lagu Jewel, Goodbye Alice In Wonderland!


Posted at 09:08 pm by Jody
Make a comment  

Monday, November 20, 2006
THE KITE RUNNER

 



The Kite Runner, demikianlah judul novel perdana Khaled Hosseini, seorang dokter Amerika berdarah Afghanistan. Mengambil setting Afghan sebelum revolusi dan masa kekejaman rezim Taliban, novel ini hadir menyentuh hati. Karena begitu memesonanya novel ini, sehingga tidak rugi untuk dijadikan bacaan favorit.

Sebuah kisah tentang dosa!

"Hanya ada 1 macam dosa," kata si Baba, ayah Amir, sang tokoh utama.

 " Mencuri! Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu!"

Selanjutnya Si Baba juga mengatakan, " Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya, Kalau kau menipu, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri!"

Tetapi, itulah yang dilakukan Si Baba.

Juga Amir!

Si Baba mencuri dari Ali, pembantu keluarganya.

Si Amir mencuri dari Hassan, putra Ali.

Kisah indah ini terasa pedih, menyesakkan hati, tetapi begitu kuat dan memesona ketika lembar-lembar halaman berganti.

Di hampir ujung kisah, terungkap dosa si Baba: Ali, si pembantu ternyata mandul dan Hassan, si sumbing, merupakan 'hasil curian' si Baba dari istri Ali!

Si Amir membiarkan Hassan dianiaya oleh Assef dkk, untuk memenangkan dirinya sebagai "The Kite Runner" dalam rangka menjangkau hati si Baba!

Untuk menebus dosanya kepada Hassan, Amir yang telah bermukim di Amerika Serikat, kembali ke Afghan di tengah kekejaman rezim Taliban, mempertaruhkan nyawanya demi manusia terbaik yang menyayanginya dengan tulus, manusia yang menyusu pada payudara yang sama dengan dia. Amir pergi mencari Sohrab, putra Hassan yang juga sama seperti ayahnya, Hassan, terikat dalam kekejaman Assef.

Sebuah penebusan dosa dilakukan Hassan dengan mempertaruhkan dirinya, demi memberikan harapan dalam hidup Sohrab.

Dalam kehidupan kita, seringkali kita mengabaikan orang-orang yang menyayangi kita, yang menghargai kehidupan kita lebih dari diri mereka sendiri. Sebelum telanjur, menyesal ketika waktu telah membawa mereka pergi dari kita, rasa peduli kita perlu disemaikan demi kehidupan yang lebih indah. Sehingga kita tidak perlu menjadi seperti Amir, melakukan sesuatu demi Hassan, tetapi Hassan sendiri tidak pernah dilihatnya lagi sejak menjadi korban fitnahnya di masa kecil yang haus akan kasih sayang si Baba...........

Sehingga tidak salah kalau kita mengatakan bahwa si Baba-lah si pendosa terbesar dalam keseluruhan cerita, merampas masa kecil anaknya sendiri, pangkal semua penebusan dosa yang dilakukan Amir.

 

Posted at 10:23 pm by Jody
Comment (1)  






widgets