<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, January 07, 2007
A DOG'S LIFE



Judul Buku: A Dog's Life (Kisah Seekor Anjing, Autobiografi Anjing Telantar)  
Penulis : Ann M. Martin
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2006

 

KISAH SEEKOR ANJING

 
Setelah lama tidak membaca literatur fiksi mengenai anjing, beberapa tahun lalu saya membaca buku tentang anjing yang bersahabat dengan anak-anak, yaitu Shiloh ( Phyllis Reynolds Naylor) dan Because of Winn-Dixie (Kate DiCamillo). Kedua cerita itu sangat sederhana, karena memang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Belakangan, dalam antologi cerpen karya Avi Basuki, Tango (Gramedia, 2006), saya menemukan sebuah cerpen tentang seekor anjing berkaki tiga berjudul Anjing Kecil yang Tinggal Sendiri. Ternyata kisah tentang anjing masih juga digarap oleh penulis fiksi. Ketiga judul yang saya sebutkan berkisah tentang anjing yang dituturkan menggunakan perspektif orang ketiga. Berbeda dengan ketiga judul tersebut, A Dog's Life karya Ann M. Martin merupakan kisah seekor anjing yang sangat menarik, baik cerita maupun pemakaian orang pertama sebagai narator. Dan 'orang pertama' tersebut ternyata seekor anjing.

Segera saya teringat pada cerpen berjudul "Perempuan dan Tiga Ekor Anjing", dari antologi cerpen seorang penulis muda berbakat, Anton Septian, berjudul "Pangeran Kegelapan dan Putri Mimpi" (Bentang, 2006). Cerpen ini mengisahkan tiga ekor anjing yang memangsa kekasih  perempuan pemilik mereka karena cemburu. Dengan penuh kemarahan perempuan itu mengambil senapan berburu kakeknya kemudian membunuh ketiga anjingnya. Perempuan itu menjadi pembenci anjing, mengusir setiap anjing yang mencoba memasuki pekarangan rumahnya dan menyambit seekor anjing yang sedang mengais-ngais tempat sampah di pekarangan rumahnya dengan batu. Anjing yang kena sambitan inilah yang menjadi narator untuk menjelaskan latar belakang si perempuan menjadi pembenci anjing. Sebuah kisah yang dituturkan anjing, tetapi tidak membahas mendetail mengenai kehidupan anjing.

A Dog's Life, adalah cerita tentang anjing, masalah anjing, perjuangan anjing, harapan dan kerinduan anjing yang dituturkan oleh anjing.

Cerita dibuka dengan cantik oleh penulis ketika Addie, seekor anjing betina tua, yang sedang berbaring dalam kehangatan di dekat perapian, teringat akan kisah hidupnya yang panjang untuk seekor anjing (kira-kira 10 tahun).

Addie, dilahirkan sebagai Squirrel (tupai) oleh seekor anjing gelandangan bernama Stream di sebuah kereta sorong di sebuah gudang di rumah tempat berlibur keluarga Merrion di Lindenfield. Dari 5 ekor yang dilahirkan sang Ibu (begitu si narator menyebut induknya), hanya 2 yang bertahan. Squirrel dan kakaknya, Bone (tulang). Menurut narator, mereka diberi nama seperti itu karena, "Seperti para induk anjing pada umumnya, dia memilih nama-nama benda yang penting baginya."

Suatu hari ketika Squirrel dan Bone mulai tumbuh, Stream meninggalkan gudang untuk mencari makanan, tetapi tidak pernah kembali. Squirrel yakin ibunya sudah mati. Kedua anjing itu meninggalkan tempat kelahiran mereka. Mereka bertemu pasangan George dan Marey, dibawa pulang ke rumah, tetapi karena pasangan itu tidak memahami masalah anjing, akhirnya George melemparkan keduanya di depan sebuah mal. Dalam kondisi terluka, keduanya terpisah. Squirrel harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Dia bertemu seekor anjing gelandangan lain bernama Moon dan mengembara bersama sampai akhirnya Moon mati tertabrak truk. Dalam kembara selanjutnya, termasuk coba-coba mencari Bone, saudaranya, Squirrel, bertahun-tahun kemudian, bertemu dengan seorang perempuan tua 82 tahun yang sebenarnya tidak butuh anjing. Perempuan tua bernama Susan itulah yang memberi Squirrel nama baru Addie. Kedua makhluk tua tersebut (sesuai dunia masing-masing), menjadi teman sejati. Squirrel yang sudah memutuskan untuk hidup sendiri karena tidak berhasil menemukan Bone, akhirnya menemukan kasih sayang yang dicarinya pada Susan.

Ann M. Martin si penulis adalah seorang pencinta anjing yang tergabung dalam sebuah komunitas penyelamat hewan lokal, dan nama Susan rupanya diambil dari nama Susan Roth, salah satu temannya dalam komunitas tersebut.


Ann M. Martin

Saya membaca buku ini hanya beberapa jam--diselingi istirahat, karena ceritanya ditulis dengan indah dan mengalir tanpa sendat. Tak disangka seekor anjing, eh, seorang penulis, begitu berhasil menyampaikan perasaan seekor anjing tanpa membuat bosan. Novel diterjemahkan dan disunting dengan pas. Saya tidak menemukan kejanggalan kalimat, bahkan kesalahan cetak teks.

Bacalah, dan kau akan tahu, A Dog's Life adalah sebuah kisah tentang binatang yang indah. Sekalipun menggunakan anjing sebagai narator, sama sekali tidak ada kejanggalan dalam penuturannya.

Posted at 10:45 pm by Jody
Comments (3)  

Friday, January 05, 2007
LARAS



Judul Buku : Laras (Tubuhku Bukan Milikku)
Penulis : Damhuri Muhammad
Penyunting: Pray
Penerbit : Dastan Books, 2005


TUBUH LARAS MILIK DAMHURI

 

Membaca antologi cerpen Damhuri Muhammad ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Kepiawaiannya meracik cerita benar-benar bisa diperhitungkan. Dia meramu pengalaman dan pengamatan menjadi mikstura yang kendati sederhana, mempunyai daya gelitik yang tidak bisa diabaikan. Sehingga karyanya memberi efek memikat untuk dicernak.

Damhuri menyentil emaskulasi eksistensi lelaki dalam budaya asalnya. Menyindir fenomena sosial-politik dengan elemen satiris yang tepat dosis tanpa kesan hiperbolis. Dia juga mengeksplorasi isu transaksi seksual secara telanjang, blak-blakan.

Membaca Telinga-telinga yang Berpuasa, Elegi Tukang Kursi, Hikayat Negeri Sayembara atau Tamasya ke Museum Kata-kata, pembaca segera diantar dengan rambu-rambu yang jelas untuk memahami maksud penulis. Permainan simbol yang pas dan tepat sasaran. Asyik.

Membaca kisah-kisah Damhuri, kita akan diperkenalkan dengan berbagai karakter. Laki-laki yang tercampak dari rumpunnya karena menikahi perempuan lain suku (Laki-laki dari Negeri Kutukan). Si Buyung yang mengalami transisi dari tukang cebok di Rumah Makan Padang ke tukang cebok perempuan sebaya ibunya (Lelaki Ibu). Fhir yang mencatatkan namanya dalam sejarah persundalan karena berhasil membuat Geisya sang primadona menggantung kutang (Gadis Kecil Bermata Cokelat)--tetapi kemudian si Geisya tetap kembali ke selera asal. Jauhara, mantan gigolo yang tidak mendapatkan liang lahat di tanah kelahirannya, karena liang lahatnya memang beda (Liang Lahat Jauhara). Laras yang terus bertanya-tanya sepanjang hidup soal pemilik dirinya, tubuhnya (Laras). Atau Jagad yang menjahit kain bendera merah-putih menjadi celana pendek dalam cerpen kocak Riwayat Selembar Kain Bendera.

Membaca teknik pemaparan materi seksual Damhuri, tak pelak mengingatkan saya pada Djenar Maesa Ayu atau Tamara Geraldine. Begitu lepas dan bebas mendeskripsikan seks. Bedanya Damhuri membalut seks yang disajikannya dengan sentuhan humor yang menggelitik, khas Damhuri.

Membaca antologi Damhuri hanya akan menjadi sebuah "page-turning adventure" bagi pembaca dewasa, dan memang tanpa dinyatakan sudah jelas segmen mana target baca cerpen-cerpen Damhuri, sekalipun atas nama sastra misalnya.

Satu-satunya cerpen yang agak membuat saya tercenung adalah "Laki-laki dari Negeri Kutukan". Ceritanya tentu saja sudah oke, tetapi hebat betul si Ningsih, sang narator.Tukang nguping yang tajam dan serba tahu. Tidak kalah canggih dengan Pariyem (Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi). Karena deskripsi latar belakang Ningsih tidak jelas, saya menebak, dari gaya tuturnya yang imajinatif--sampai ke aktivitas seksual majikannya--minimal Ningsih lulusan Akademi Keperawatan-lah. Kalau misalnya Ningsih tidak pernah lulus sekolah, aneh rasanya kalau bisa menarasikan kisah malang sang laki-laki dari negeri kutukan dengan cerdas seolah-olah dia seorang Damhuri Muhammad.

Menurut saya mungkin akan lebih rancak kisah Ningsih itu jika dituturkan menggunakan perspektif orang ketiga, dan dibidik lewat sisi Ningsih, tentu saja.

Tetapi, membaca antologi Damhuri Muhammad jelas tidak mengecewakan. Dengan terus mengasah ketajaman berkaryanya, tidak tertutup kemungkinan dia bisa menyejajarkan diri, bahkan melampaui, dengan Hudan Hidayat, sang penulis Lelaki Ikan (Kompas, 2006), misalnya. Tidak heran jika di masa-masa mendatang nama Damhuri akan berkibar seperti bendera pada cerpen "Riwayat Selembar Kain Bendera" di dunia kesusastraan Indonesia.

Kita lihat saja nanti.


Posted at 09:13 pm by Jody
Comments (3)  

Thursday, January 04, 2007
SIMEON PROPHECY


CERPEN


SIMEON PROPHECY
(...DAN SUATU PEDANG MENEMBUS JIWAMU)


"Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—-dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Lukas 2 : 34 – 35)

 

Telah kutinggalkan Nazaret dan berakhir di bukit ini. Bukit Golgota, tempat Tengkorak. Arena bagi para terhukum dipertontonkan kepada khalayak untuk jadi bahan intimidasi. Siapa saja bisa menyaksikan para penjahat kehilangan harga dirinya di atas sini. Dipamerkan tanpa busana sebagai lambang kutuk yang distempel di atasnya. Aku berdiri di atas bukit ini, bukan karena keinginan untuk menonton pameran terhukum, tetapi karena di salah satu salib yang tertancap di tengah ketandusan bukit ini, anakku tersula.

Air mataku telah kering. Aku tidak bisa meneteskan air mata lagi. Apa yang terjadi pada anakku telah menguras habis air mataku. Ketabahanku, dan nyaris seluruh kewarasanku.

Dia tidak tampak lagi seperti manusia, jeritku dalam hati. Dirinya kelihatan seperti seonggok darah yang membeku. Babak belur. Nyaris kehilangan bentuk. Aku hampir percaya dia bukan anak yang kulahirkan ke dunia ini.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin anakku akan semenderita ini. Tetapi dia benar anakku. Darah yang membungkus tubuhnya sehingga dia seolah-olah binatang yang habis disembelih, benar-benar darah anakku. Kepala. Tangan. Kaki. Sekujur tubuh. Semua bersalut darah. Luka dan berdarah. Semua adalah darah, darah dan darah. Duri-duri telah dianyam dan dihantam dengan buluh di kepalanya. Seluruh tubuhnya membukakan jalur darah karena berulang kali terjerembab di jalanan kasar ketika kelelahan memanggul palang besar itu. Kuikuti dia sejak dia diarak ke luar kota, di tengah tangisan para perempuan yang iba dan sorakan menghujat dia.

Aku tak bisa melupakan, bahkan sampai aku menutup mata, dentang palu dan pasak yang digunakan untuk menyula anakku yang sudah tak berdaya. Palu dan pasak yang memicu jeritannya yang menyayat. Palu dan pasak yang merah oleh darah. Darah dan darah. Aku tak kuasa membayangkan dia tergantung dalam kehinaan seperti ini dan ketakutan jika kaki-kakinya diremukkan kemudian tubuhnya menjadi santapan burung bangkai.

Kenapa anakku harus disalibkan?

Tidak pernah ada malaikat yang datang memberitahukanku peristiwa ini.

Kenapa anakku harus menjadi korban pengadilan tercurang di dunia ini? Tak ada bukti kesalahan anakku. Anakku adalah lelaki muda berhati putih. Kelembutannya telah menyita kasih sayang orang-orang yang mengenalnya dengan dalam. Bahkan, Pilatus sendiri tidak menemukan alasan untuk menghukum anakku.

Air mataku telah tandas. Aku hanya bisa mendengar tangisan saudaraku Maria, istri Klopas, yang bercampur dengan sedu sedan Maria Magdalena. Kami bertiga adalah perempuan-perempuan tua yang telah mengikuti anakku ke kota Yerusalem. Aku, ibunya. Maria Klopas, bibinya. Maria Magdalena, perempuan tua yang telah dibebaskan oleh anakku dari 7 roh jahat.

Kami tidak bisa saling menghibur. Duka kami malah bergabung menjadi satu sehingga kami merasakan kepekatannya yang membekap jiwa. Kami sudah tidak peduli lagi pada prajurit Romawi yang berjaga dengan tombak dan pedang. Kami bahkan tidak peduli orang-orang yang membuat anakku terhukum merajam kami. Dalam situasi seperti ini, semua telah membaja. Silahkan rajam kami. Kami bahkan bisa mati tanpa merasa sakit.

Rajam! Ancaman rajam bukanlah hal yang baru bagiku. Ketika mengandung anakku hidupku telah dibayangi dengan ancaman itu. Sebelum menikah, saat masih jadi tunangan kekasihku, Yusuf, aku telah hamil. Bukan suatu yang aneh bagiku. Bukan suatu hal yang najis bagiku. Tetapi karena tidak bisa dijelaskan sehingga orang memercayainya, keadaanku adalah suatu kenajisan, aib, dan hukumannya adalah dilempari dengan batu. Aku bersedia melakukan apa saja untuk tugas yang telah aku terima, apalagi ketika merasakan getar kehadiran anakku dalam rahimku.

Telah kutinggalkan Nazaret, kotaku di Galilea. Tetapi tak mungkin aku bisa melupakan kota itu. Ke sanalah aku pergi setelah lari ke Mesir.

Aku masih perawan yang sangat muda waktu malaikat Gabriel mengunjungiku pada suatu hari yang bening penuh cahaya. Dia masuk ke rumahku, membangunkan aku dari lelap. Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan sapaannya yang membuat aku terkejut dan bertanya-tanya dalam hati.

"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!"

Aku adalah gadis biasa, putri dari Yoakim dan Hana. Ibuku Hana memang berasal dari keturunan raja Daud seperti halnya ayah Yusuf. Tetapi kerajaan Daud sudah tidak ada lagi. Terpecah belah, runtuh dan hilang bersama sejarah. Sebelum usia 12 tahun, aku terpilih untuk dikirim ke Yerusalem. Aku menjadi salah satu dari 84 gadis di bawah usia 12 tahun yang terpilih untuk menenun tirai Bait Allah. Hanya perawan yang bisa menenun tirai Bait Allah karena segala yang berhubungan dengan Bait Allah harus benar-benar suci.

(Tirai yang kami tenun dibuat dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya dengan hiasan kerub yang cantik, malaikat penjaga jalan ke pohon kehidupan di Taman Eden.Tirai itu dikerjakan selama 2 tahun sehingga aku harus berada di Yerusalem selama itu. Tirai itu akan dipasang untuk memisahkan Ruang Suci dan Ruang Maha Suci dalam Bait Allah. Tidak semua orang bisa melewati tirai itu. Bahkan, tidak setiap imam. Di balik tirai tersebut, dalam ruangan maha suci, terdapat tabut Tuhan. Tabut itu ditutup dengan tutup pendamaian yang terbuat dari emas murni. Di atas tutup pendamaian itu, di antara 2 kerub yang terbuat dari emas tempaan, setelah dilakukan percikan darah hewan korban, Tuhan akan berbicara kepada imam besar. Sudah begitu banyak darah yang tercurah dari banyak binatang untuk kegiatan di Bait Suci tersebut.)

Tetapi itu hanya sekedar tradisi dan aku benar-benar gadis biasa. Seorang gadis kampung.

Gabriel kemudian menjelaskan dengan rinci. Bahwa aku akan mengandung. Aku akan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan sebagai seorang hamba Tuhan, aku tak mungkin menolak apa yang diinginkanNya dalam hidupku. Aku menjawab, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Telah kutinggalkan Nazaret setelah suamiku meninggal dunia. Aku memutuskan untuk mengikuti anakku ke mana pun dia pergi. Sama sekali aku tidak menduga, aku kembali ke Yerusalem untuk kesekian kalinya dan terpacak menatap anakku tersalib di bukit ini.

Di telingaku kembali bersipongang seruan-seruan itu, mengalun indah di tengah jalan menurun dari Bukit Zaitun, ketika anakku mengendarai seekor keledai muda. Hamparan pakaian. Bunga. Ranting hijau. Daun-daun palem.

"Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan. Damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang maha tinggi!"

Hosana! Hosana!

Tetapi sekejap, seruan-seruan Hosana itu berganti oleh seruan-seruan yang terus bertalu-talu di gendang telingaku, dalam nada yang berbeda.

"Enyahkan dia!"

"Enyahkan dia!"

"Salibkan dia!"

Itu anakku. Dan ibu mana yang tahan mendengar itu?

"Biarlah darahnya ditangggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" Sebuah teriakan mengerikan terdengar membahana. Apakah mereka berpikir ketika mengeluarkan kata-kata menakutkan itu dari mulut mereka?

Tetapi air mataku sudah kerontang.

Dunia tiba-tiba menjadi gelap. Gulita. Pekat bagai malam tanpa pelita. Padahal matahari tepat terpacak di tengah langit.

Gelap.

Gelap.

Gelap.

Lama. Suara terhenti. Angin mati. Tiga jam yang mendirikan bulu kuduk.

Sesaat ketika kegelapan yang ganjil itu terenggut bak tirai hitam yang disingkapkan dari dunia orang mati, dari arah salib anakku terdengar suara nyaringnya yang memilukan. Suara yang mengingatkan aku pada masa kecilnya ketika kegelapan membuat dia gelisah dan ketakutan. Aku ada di sini, tetapi tidak bisa menariknya ke dalam pelukanku, menghiburnya seperti di masa kecilnya.

"Eloi, Eloi, lama sabakhtani?"

Kurasakan kesedihannya. Kesepiannya. Ketakutannya. Penderitaannya.

Anakku tergantung berlumur dosa di atas salib.

Saat ini dia bagaikan najis.

Penuh kerak dosa.

Sehingga bahkan Tuhan, Bapanya yang telah membuatku melahirkannya, berpaling darinya.

Sebuah pernyataan dari masa lalu datang menghampiri tepian kenanganku. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri. Suatu pedang akan menembus jiwamu, Maria. Ketika kamu menyatakan bersedia menerima karunia Tuhan di rumahmu di kota kecil Nazaret kamu sudah menyatakan kesediaanmu untuk menerima hunjaman pedang itu ke dalam jiwamu.

Simeon. Laki-laki tua yang menanti maut. Dia yang mengatakan kalimat itu ketika aku membawa anakku ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Tuhan. Aku ingat lagi, aku dan suamiku membawa bersama anakku sepasang anak burung merpati sebagai persembahan. Sudah lama waktu berlalu. Aku nyaris melupakan itu. Tetapi saat ini kenangan itu menerpa, menegaskan nubuat yang nyaris terabaikan.

"Aku haus!" Suara sekarat anakku terdengar. Begitu lirih. Basah. Menusuk. Pedang itu segera menggeliat lagi di jiwaku. Menyakitkan.

Seorang prajurit mengambil bunga karang dan mencelupkannya ke dalam anggur asam. Bunga karang itu ditancapkan pada sebatang hisop dan diunjukkannya ke mulut anakku yang kehausan.

Dia menenggak anggur asam itu.

"Tetelestai!"

Seruan itu menghantam jantungku.

Kemudian, satu jerit nyaring menyusul, yang sepertinya begitu susah untuk keluar karena himpitan di rongga paru-parunya yang sesak dan jantungnya yang nyaris kehilangan denyut, terdengar.

"Ya, Bapa ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku!"

Samar kudengar seseorang berseru, " Sungguh, orang ini adalah orang benar!"

Lalu, dunia gonjang-ganjing. Bergetar. Menandak-nandak. Gempa bumi yang luar biasa terjadi.

(Belakangan aku tahu, ada bukit-bukit batu terbelah, kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit, keluar dari kubur, lalu masuk kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Tidak hanya itu. Tirai Bait Allah robek, terkoyak menjadi dua, terbelah dari atas sampai ke bawah. Tirai yang dikerjakan 2 tahun oleh para perawan di bawah usia 12 tahun itu teronggok di lantai dalam bentuk gumpalan kain ungu tua, ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang tak berguna.

Tuhan tidak akan bertemu dengan imam besar lagi di balik tirai itu. Tidak ada tirai, tidak ada batas. Tidak ada tirai, tidak ada tradisi. Siapa saja bisa mendatangi Tuhan. Kapan dan di mana saja.

Belakangan aku tahu, apa yang anakku kerjakan di salib adalah untuk mengganti tirai itu.

Betapa mahal harga yang harus dibayarnya!)

Sabat semakin dekat.Tidak boleh ada orang tergantung di salib pada hari Sabat. Kedua orang yang disalibkan dengan anakku belum mati saat itu sehingga kaki mereka harus dipatahkan. Tetapi seorang prajurit menikam lambung anakku dengan tombak sehingga darah dan air mengalur dari sana, memercik ke bawah salib. Semua memandang dia. Memandang anakku. "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."

Tidak ada persiapan penguburan anakku. Seorang dari Arimatea bernama Yusuf datang bersama Nikodemus. Keduanya menurunkan anakku dari salib, mengapaninya dengan kain lenan, membubuhi dengan campuran minyak mur dan minyak gaharu yang dibawa Nikodemus. Anakku dibawa ke dalam taman dan dibaringkan dalam kubur yang baru digali di dalam bukit batu. Setelah itu sebuah batu digulingkan untuk menutup pintu kubur itu.

Tetelestai, batinku. Kami--aku dan teman-temanku-- bergegas pulang dan tiba di rumah ketika terompet Sabat berbunyi.

* * *

Aku tidak pergi dengan teman-teman perempuanku ke kuburan pagi itu. Mereka telah membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki anakku. Mereka akan minta pertolongan prajurit yang menjaga kubur untuk menggulingkan batu penutup. Maria Magdalena, Maria Klopas, dan Salome meninggalkan aku. Mereka mungkin memahami betapa aku sangat letih secara lahir dan batin.

Tetapi rupanya batu itu telah terguling. Anakku tidak ada lagi di sana. Magdalena segera pulang mendahului yang lain, memberi tahu kepada kami-- di loteng rumah Maria ibu Markus di Yerusalem-- bahwa anakku telah hilang diambil orang. Petrus dan Yohanes mengikuti Magdalena kembali ke kuburan untuk membuktikan. Hampir bersamaan, Maria Klopas dan Salome kembali.

"Anakmu telah bangkit dari dunia orang mati. Dia telah mendahului kita ke Galilea!"

Aku masih terpasung oleh kabut kebingungan yang memedihkan jiwa. Pedang tajam itu masih menancap dalam jiwaku.

Magdalena kembali, tak lama setelah Petrus dan Yohanes memberitahukan bahwa kubur anakku benar-benar telah kosong.

"Aku telah bertemu dan melihat Guru!" jerit Magdalena dengan air mata dan senyuman berbaur di wajahnya.

"Ceritakan apa yang terjadi!"

Perempuan tua dari Magdala yang pernah dibebaskan anakku dari kegilaan kemudian bercerita penuh semangat. Di akhir cerita dia berkata,"...katakan kepada saudara-saudaraku bahwa sekarang aku akan pergi. Kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu."

Tabut itu! Tutup pendamaian! Surga telah mengambilnya dari balik tirai yang terkoyak di Bait Allah. Tidak akan ada lagi darah hewan korban yang dipercikkan. Anakku pergi membawa darahnya sendiri yang tak bernoda untuk dipercikkan di hadapan Tuhan. Dan dia pasti akan kembali beberapa waktu, sebelum benar-benar kembali ke asalnya.

Mendadak mata air itu bergolak. Air mata muncrat memenuhi kelopak mataku, meleleh ke pipi dan daguku. Pedang itu telah terangkat dari jiwaku.

Jogjakarta, 3 - 4 Januari 2007

Referensi:
Kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Kitab Keluaran

Christ the Lord: Out of Egypt. Anne Rice. Gramedia Pustaka Utama, Desember 2006.
Tetelestai : sudah selesai

 


Posted at 11:48 am by Jody
Comment (1)  

ADA SESEORANG DI KEPALA KU YANG BUKAN AKU


Judul Buku: Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Ufuk Press, Jakarta
Cetakan I : Desember 2006


Dari sampul dan judul yang ditata secara tidak lazim, antologi cerpen dari penulis novel Imperia ini sepertinya hendak tampil beda. Pendapat ini juga ditegaskan oleh penataan tampilan cerpen di dalamnya, walaupun hanya pada beberapa cerpen. Kumpulan cerpen ini cukup kaya informasi. Paling tidak kita akan lebih mengenal sosok penulisnya, Akmal Nasery Basral dan latar belakang terkumpulnya 13 cerpennya dalam kumpulan ini. Satu hal yang ingin diungkapkan Akmal adalah bahwa kumpulan cerpennya ini merupakan realita dari sebuah tesis yang disampaikan Paulo Coelho dalam The Alchemist.

Kecuali cerpen berjudul "Seekor Hiu di Cangkir Kopi", cerpen-cerpen dalam kumpulan ini telah dikorankan oleh beberapa surat kabar. Bahkan ada yang terbit saat naskah sudah dalam persiapan cetak. Sastra Koran memang tengah popular di Indonesia. Setidaknya dengan mengorankan tulisannya sebelum kemudian dibukukan, penulis mendapat pendapatan ganda. Kelebihan lain, sastra Koran bisa diakses siapa saja dengan gampang dan murah. Sebuah cara yang mujarab untuk mengaktualisasikan kepengarangan seorang penulis.

Pada dasarnya, kemasan dan isi kumpulan ini cukup menarik. Cerpen tampil cukup variatif. Mungkin karena latar belakang Akmal adalah seorang wartawan, secara tematik, cerpen-cerpennya lahir dari pekerjaannya yang penuh warna. Kita akan membaca tema-tema cerita yang berjalan sendiri-sendiri dan hal itu wajar, tidak ada aturan yang mengharuskan sebuah kumpulan cerpen harus dibuhul oleh tema yang sama. Bahkan sebuah cerpen dengan tema yang sama bisa menimbulkan kebosanan karena akan cenderung monoton.

Membaca antologi ini, kita akan dibawa dalam berbagai karakter-karakter imajinasi Akmal. Nila yang gila setelah menjagal suami dan anak-anaknya, dipenjarakan dan bukannya dirumahsakitjiwakan. Midun dan Halimah yang melompat "keluar" dari tulisan Sutan Sampono Kayo, bercakap-cakap di Budha Bar, kemudian salah satunya menyebabkan tewasnya sang pengarang tersantun di dunia. Aida, wartawati berdarah Irak, bekerja di Yordania dan datang ke Indonesia mencari cintanya. Perempuan Bandar Angin berbibir rekah (karena tergigit ayahnya sewaktu bayi) menunggu-nunggu kedatangan ayahnya yang tak kunjung muncul yang rupanya seorang tapol yang menghamili ibunya ketika dibuang ke Pulau Buru. Hamdan yang sudah gede tetapi tetap harus tidur memakai kelambu karena ingin terus merasakan nikmatnya hidup dalam kehangatan rahim ibunya. Boyon, Jems Boyon yang membawa beban dalam hidupnya karena menyandang nama pemberian bapaknya yang diadaptasi dari nama James Bond. Mantan bupati tukang selingkuh yang kehilangan istri dan anak-anaknya kemudian hidup menantang Tuhan. Semua karakter menarik diangkat Akmal dalam cerpen-cerpennya.

Akmal bermain-main membingungkan pembaca dalam "Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia" dan "Prolog Kematian". Bermain romantis dan sendu dalam "Dilarang Bercanda dengan Kenangan" dan "Seekor Hiu di Cangkir Kopi". Bermain kocak dalam "Kelambu" dan terutama "Boyon". Menyengat realita dalam "Lebaran Penghabisan" dan "Lelaki yang Berumah di Tepi Pantai". Dan terasa biasa-biasa saja dalam "Lelaki Gagah" dan "Perkabungan Hujan".

Dalam hampir semua cerpennya, Akmal menebarkan aroma populer yang rupanya digeluti dan sangat dikuasainya. Musik. Film. Bintang film. Tetapi rupanya itu telah menjadi ciri khas Akmal seperti halnya dalam novel Imperia. Satu yang perlu dia cegah dalam karya-karya berikut adalah jangan sampai informasi-informasi yang tidak penting mengambil tempat terlalu banyak dalam cerita karena kegemarannya berbagi informasi. Akmal juga coba menampilkan secara berbeda beberapa cerpennya seperti "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku", "Perkabungan Hujan", dan "Seekor Hiu di Cangkir Kopi", tetapi sebetulnya tidak berdampak pada isi cerita, selain sekedar upaya untuk tampil beda saja.

Tetapi secara keseluruhan, Akmal menyusun cerita-ceritanya secara menarik dengan kalimat-kalimat yang efektif dan cerdas. Teknik penyajian Akmal memberi dampak pada kenikmatan untuk mencernak cerpen-cerpennya.

Akmal bukan jenis pengarang yang gemar bermain simbol, sederhana, tetapi memikat. Sekali jalan, kita bisa menuntaskan seluruh isi antologinya sekaligus menikmatinya.

Walaupun bermain di ranah yang berbeda dengan gaya berbeda, saya mencernak cerpen-cerpen Akmal seenak mencernak cerpen-cerpen Damhuri Muhammad dalam "Laras: Tubuhku Bukan Milikku (Dastan Books, 2005)" atau Agus Noor dalam "Potongan Cerita di Kartu Pos (Kompas, 2006)".

Mungkin sebaiknya Akmal menghindari ungkapan-ungkapan aneh seperti "sepersejuta kerjap mata" (Prolog Kematian). Walaupun paham maksudnya, ungkapan itu terasa janggal. Penyuntingan yang baik tentu saja dibutuhkan juga. Baca hal. 100 (Lebaran Penghabisan). Pada paragraf pertama baris kedua Akmal menulis " Makam ibu Maryati juga dikuburkan tak jauh dari situ". Jelas maksudnya, ibu Maryati yang dikuburkan di situ, bukan makam ibu Maryati.

Tak ada yang baru di bawah matahari (hal. 263), begitu Akmal mengutip kitab Pengkhotbah. Benar. Tetapi segala sesuatu ada saat pertamanya, dan tidak ada yang salah untuk menjadi pencetus saat pertama, termasuk dalam menulis cerpen. Terinspirasi sah-sah saja, tetapi ada batasannya.

Posted at 11:18 am by Jody
Comments (2)  

Tuesday, January 02, 2007
MICHELANGELO'S NOTEBOOK


  

Judul : Michelangelo's Secret
Judul Asli : Michelangelo's Notebook
Penulis : Paul Christopher
Penerjemah : Ahmad Muhajir & Nadiah Alwi
Penerbit : Dastan Books, November 2006

 

Membaca Michelangelo's Secret (MS), bagi saya, seperti tengah menghadapi jigsaw puzzle. Cerita dibuka dengan prolog yang sudah pasti merupakan benang merah antara masa lalu dan masa kini dalam novel ini.

22 Juli 1942. Eugenio, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun, mendapatkan nama baru Frederico Botte, dan dibawa pergi dari Biara San Giovanni All' Orfenio, Italia Utara. Eugenio adalah anak Eugenio Pacelli, cikal bakal Paus Pius XII, lahir sebagai produk inses dengan keponakannya sendiri, Katherine Maria Teresa Annunzio yang kemudian bunuh diri.

Berdasarkan spekulasi rumor seputar anak yang tak jelas nasibnya ini, Paul Christopher (pseudonim penulis dan aktor Christopher Hyde) menggeber cerita, membaurkannya dalam adonan pembalasan dendam, kegilaan, dan bau darah.

Meloncat ke masa kini, kita diperkenalkan dengan mahasiswa New York University merangkap model telanjang dan kurator sebuah museum bernama Fiona Katherine Ryan alias Finn,24 tahun, cantik,berambut merah, prototipe Julia Roberts muda. Gambaran itu mungkin yang menyebabkan Narayan Radhakrishnan (sampul belakang novel), teringat pada Darby Shaw, karakter perempuan dalam "The Pelican Brief" (John Grisham), yang menurut pengakuan Grisham terinspirasi oleh Julia Roberts. Cantik dan berambut merah.

Tanpa sengaja, Finn menemukan lukisan vivisection dari zaman Renaisans, yang diyakininya sebagai bagian dari buku Michelangelo Bounarroti. Penemuan ini menyeret Finn pada 2 pembunuhan sadis menggunakan koummya yang dicuri dari sekolah Greyfriars. Demi mempertahankan hidup, Finn bertemu Michael Valentine yang masa lalunya terkait dengan orang tua Finn. Cerita kemudian merambat pada pembunuhan lain, Vincent Delaney, pastur gadungan, yayasan Grange, Carduss Club di bawah kendali masa lalu dan sosok di balik Archivo Secreto Vaticano.

Paralel dengan pencarian Finn, penulis menghadirkan karakter laki-laki tua berambut abu-abu, yang punya kebiasaan telanjang ketika menyusun kitab suci versinya. Seorang laki-laki gila, sehingga tak heran, dia memberi motif sampul kitabnya berupa salib dengan Bunda Maria tergantung di atas salib dan bukan Yesus. Dari sudut pandang laki-laki inilah, tabir masa lalu disingkapkan, memperlihatkan adegan-adegan di balik perampokan karya seni hasil rampokan yang melibatkan orang Jerman sendiri dan militer Amerika yang sedang berada di sana. Mungkin, sebagian di antara mereka tidak sadar, seorang anak laki-laki pendiam di antara mereka sedang mengamati dan tidak akan membiarkan masa lalu itu terkubur begitu saja.

Dengan cerdas, mengejutkan, penulis menguak misteri, yang mengantar pada pemahaman bahwa Yayasan Grange sesungguhnya adalah titik terakhir dari jalur yang membentang antara 2 benua, antara 2 masa. Paul Christopher rupanya bukan penulis yang murah hati. Walaupun novelnya akan mengingatkan pada novel-novel genre sejenis yang meramaikan literatur Amerika, Paul punya gaya sendiri. Paul seolah-olah memaksa pembaca untuk mengaduk otak sehingga membaca MS benar-benar menjadi sebuah "page-turning adventure" dan kita tidak akan segera dipuaskan oleh deskripsi dan narasi.

Saya menduga Paul "terpeleset" ketika mengungkapkan tentang seorang satpam museum berambut abu-abu yang pada akhir novel dikenal oleh Finn. Di awal novel namanya Willie, di akhir novel namanya Fred. Mestinya keduanya sama, apalagi Paul terus-menerus menyebutkan laki-laki berambut abu-abu dan tentunya ingin pembaca menyimpulkan sendiri.

Dalam novel menggedor benak yang konon judul aslinya "The Last Judgement" kita tidak akan mengenal tokoh Frederico Botte jika tidak membaca dengan teliti. Dialah yang digambarkan telanjang ketika menyusun kitab sucinya, dialah Eugenio atau di Amerika menjadi Fred Thorpe. Saya yakin, dalam novel ini, sebetulnya Amerika bukan tujuan semula ke mana Eugenio hendak dibawa. Peristiwa di perbatasan Swisslah yang sangat menentukan keberadaannya di Amerika. Dan saya pikir karena ada campur tangan CINTA.

Fred dibawa ke Amerika oleh Ilse (Annalise) Kurovsky, yang saya yakin merupakan nama baru dari Suster Filomena yang didapatnya pada prolog cerita. Di perbatasan Swiss itulah hidup Suster Filomena berubah. Kenapa? Dia bertemu Brian Thorpe, yang akhirnya jadi suaminya, sang SERSAN yang diceritakan di masa lalu.

Kalau kita lebih teliti lagi, ketika melakukan kejahatan, Fred Thorpe menggunakan seragam militer bekas ayah angkatnya.

Jika lebih teliti lagi, kita bisa memastikan kalau Brian Thorpe dibunuh oleh Fred sendiri!

MS adalah novel populer, sehingga sah-sah saja novelnya dihiasi dengan hal-hal seperti nama-nama selebritas, film atau tayangan TV, apalagi latar belakang Paul adalah dunia perfilman.

Ketidakjelasan saya temukan antara lain di hal. 276 " Pada tahun 1956, setelah kematian anak laki-laki itu pada umur enam belas tahun, dst...." Apa maksud kalimat itu? Siapa anak laki-laki itu?

Saya baru kenal Paul pada novel ini, tetapi rupanya dia sangat populer di Amerika. Pernah mengamati begitu banyaknya merek (brand) dalam buku ini? Levi's. Gap. Brooks Brothers. Turnbull & Asser. Bally. Bvlgari. Lagerfeld. Timex. Kevlar. Spandex. Tic Tac. Rolex. Hugo Boss. Dan masih banyak lagi. Rupanya Michelangelo's Secret juga menjadi media placement berbagai merek............ Luar biasa!

Satu hal yang mengganjal, baik judul asli maupun judul edisi Indonesia, tidak mencerminkan isi novel.

Posted at 09:54 pm by Jody
Make a comment  

RED LEAVES



Judul Buku: RED LEAVES
Penulis: Thomas H. Cook
Penerjemah: Elka Ferani
Penyunting: Marvel Neydi
Penerbit: Dastan Books

 

LARUTAN ASAM DAN DAUN-DAUN MERAH

 

"Kecurigaan itu bersifat asam. Semua yang disentuhnya akan rusak. Ia merusak permukaan halus dan berkilauan sebuah benda dan bekas yang ditinggalkannya tidak dapat dihilangkan".

Itulah sebetulnya esensi dari novel luar biasa ini. Kecurigaan.

Paranoid. Sumber problem.

Vincent Giordano. Dan terutama Eric Moore, adalah paranoid. Paranoid merupakan larutan asam berdaya korosi tinggi. Dan dari genangan larutan korosif inilah, kisah Red Leaves mengalir pedih dan mengiris.

Eric Moore mengidap paranoid kronis yang tidak disadarinya telah terbentuk di balik selimut masa lalu keluarganya yang disingkap dengan kejam untuk bersanding dengan teror masa kini dalam kehidupannya.

Dengan telaten, Thomas H. Cook, sang pengarang, mencabik-cabik masalah paranoid seputar kehidupan Eric, yang telah merusak kehidupannya dan keluarganya. Keluarga dan kehidupannya disimbolkan oleh pengarang sebagai pohon mapel Jepang di ujung gang rumah Eric. Dampak daripada paranoidnya, digambarkan dengan tumbangnya pohon mapel itu akhirnya.... setelah daun-daunnya gugur, bak genangan darah.

Warren. Keith. Meredith. Perkawinan Eric. Semuanya adalah daun-daun merah yang berguguran dari dahan pohon mapel Jepang.

Kehidupan Eric, adalah pohon mapel Jepang itu sendiri.

Kita bisa menikmati kisah larutan asam dan daun-daun merah ini karena Amy Giordano yang secara tak sengaja menguak masa lalu Eric yang pedih. Ironisnya, Amy-lah aspek krusial dalam kisah yang menghancurkan kehidupan Eric. Amy ingin membereskan segalanya sebelum menikah, mereduksi karat-karat akibat korosi yang (mungkin) ditakutinya bakal mengorosi kehidupannya dan keluarganya kelak, aroma pembalasan dendam belasan tahun silam.

Sebuah kesan mendalam yang timbul dari novel ini adalah Thomas menuliskannya dengan apik dan memikat. Dia benar-benar seniman, filsuf daun-daun mapel, dan sekaligus pesulap. Misteri sama sekali bukan terungkap setelah belasan tahun peristiwa penculikan itu terjadi. Misteri telah terungkap setelah Keith tewas, jauh sebelum Amy memutuskan ingin bertemu Eric, tetapi untuk pembaca seolah-olah belasan tahun kemudian. Untuk mengungkapkan misteri ini pada pembaca-lah penulis memberi alasan bagi pertemuan Amy dan Eric. Sesuatu yang mengganggu benak Eric, bahwa sampai belasan tahun peristiwa itu terjadi dia masih betah berada di Wesley sementara dia sebatang kara di sana.

Cerita belasan tahun silam yang dibaca pembaca (dan dicetak beda dengan cerita masa kini) sesungguhnya uraian kisah di benak Eric, dalam pikiran Eric. Kita sedang membaca pikiran Eric saat penulis menuturkan masa lalu dengan menggunakan perspektif orang pertama. Kita sedang membaca isi benak Eric yang sedang menunggu kehadiran Amy Giordano. Pada saat kita membaca elaborasi penulis, kita mengikuti alur cerita dalam benak Eric yang akan dikisahkan Eric pada Amy, sebagai hadiah pernikahan gadis itu. Supaya Amy bisa memetik manfaat dari kesalahan-kesalahan Eric di masa lalu.

Perhatikan halaman 409: "Aku akan mulai dari akhir," katamu kepadanya. " Di hari aku meninggalkan rumahku." Dengan kata lain, kisah yang terjadi pada keluarga Eric di masa lalu telah terlebih dahulu diketahui "pembaca" daripada "Amy Giordano". Ketika Eric nanti bercerita pada Amy, tentu saja dia akan memulai dengan pergi ke halaman 19 waktu dia meninggalkan rumahnya pada suatu hari yang dingin di bulan Oktober, untuk selamanya.

Cerita masa kini juga sama, terjadi di benak Eric dalam bentuk tuturan nuraninya kepada diri Eric sendiri, sehingga Thomas H. Cook memakai gaya bercerita seolah-olah ada yang sedang berbicara kepada Eric.

Gaya bercerita yang WOW, campuran keindahan bertutur dan kebrilianan berimajinasi, belum pernah saya temukan pada novel-novel yang pernah saya baca.

Tetapi tak ada gading yang tak retak.

Pertama, sebuah retak kecil, yaitu saat penuturan menggunakan "KAU" bercampur sedikit dengan menggunakan "AKU" (hal. 403-404). Dalam bertutur seorang penulis tentu saja harus konsisten menggunakan perspektif penceritaan, tidak mencampur 2 persepsi dalam satu kotak.

Kedua, akhir kisah tetap menyisakan pertanyaan yang tak terjawab yaitu: apakah sesungguhnya motivasi penculik di balik peristiwa penculikan yang super penting dalam keseluruhan jalinan novel?

Meskipun demikian, Red Leaves merupakan novel yang gemilang, berbalut unsur humanis yang dituturkan unik dan dimulai dari akhir ketika kehancuran telah melengkapi segalanya. Tetapi di atas kehancuran tersebut, kita tetap bisa melihat sesuatu yang berkilau bak "blessing in disguise", yang menciptakan senyuman di wajah Eric pada ending kisah.

 

Posted at 09:04 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, December 09, 2006
SEBUAH KOTAK COKELAT


My momma always said : "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get ."

Demikianlah salah satu quote dari film populer peraih Academy Award Forrest Gump. Kalimat di atas diucapkan Forrest yang diperankan oleh Tom Hanks pada awal film menakjubkan itu. Kalimat yang pernah diucapkan ibunya. Hidup bagaikan sebuah kotak coklat, terdiri atas berbagai butir coklat dan bentuk dan model yang berbeda-beda. Sebelum kita membuka tutup kotak coklat itu, kita tidak tahu dengan jelas coklat seperti apa yang akan kita dapatkan.

Demikian pula hidup. Ketika menapaki kehidupan, kita tidak tahu akan bertemu dengan peristiwa seperti apa atau bertemu orang seperti apa. Kita tidak akan bisa meramalkan dengan pasti sebelum kita memasuki kehidupan itu sendiri.

Ibarat sebuah kotak coklat yang pernah kita buka, kita baru tahu isinya seperti apa karena telah pernah membukanya, kan?

Ketika kau menapaki kehidupan, kau seperti membuka kotak coklatmu sendiri. Dan menemukan butir-butir coklat berbagai jenis yang menyebabkan kau menjadi seorang chocoholic. Orang-orang tercinta yang hatinya selezat coklat di ujung lidah. Orang-orang yang berbuat kebaikan dalam hidupmu. Orang yang mengerti benar dirimu dan menerimamu apa adanya. Orang-orang tercinta. Butir-butir coklat dalam hidupmu.

Posted at 11:09 pm by Jody
Make a comment  

Thursday, November 30, 2006
MARIA MAGDALENA

 

Belakangan di Indonesia nama Maria Magdalena makin populer saja. Hal itu dikarenakan oleh terbitnya buku-buku (terutama novel) yang 'menjual' hidup Maria Magdalena. Salah satunya tentu saja Da Vinci Code.  Si penjual Maria Magdalena yang bernama Dan Brown ini, berhasil meraup banyak dolar  dari kontroversi yang dicetusnya. Tetapi ketika difilmkan, dengan Tom Hanks dan Audrey Tatou sebagai pemeran utama, filmnya kandas seperti bahtera Nuh di puncak Ararat.

Maria Magdalena, memang sosok yang misterius. Setelah disinggung dengan frekwensi hanya sedikit saja dalam Alkitab, namanya tidak pernah terdengar lagi. Berbagai spekulasi diciptakan untuk mereka-reka kehidupannya. Apakah dia seorang perempuan muda? Cantikkah dia? Apakah dia seorang pelacur? Benarkah dia menikah dengan Yesus? Berbagai kesalahan telah dilakukan oleh orang-orang yang kemelit. Perempuan satu ini disamakan dengan Maria lain yang berasal dari Betania, diidentikkan dengan seorang perempuan pendosa, dikacaubalaukan dengan seorang pezinah. Sampai-sampai seorang perempuan peneliti kehidupan Maria Magdalena berkata bahwa untuk semua tuduhan itu Maria Magdalena berhak mendapatkan pengadilan yang layak. Kalau pernah menonton film terkenal "The Passion of the Christ", bisa dilihat bahwa Mel Gibson juga telah terbawa stigma terhadap perempuan ini yang pernah diembuskan oleh Paus Gregorius I (tahun 591). Kalau juga memerhatikan lukisan-lukisan Maria Magdalena, kita akan melihat dia ditampilkan sebagai perempuan cantik, seksi, berambut tergerai, memegang buli-buli pualam (alabastron), berbusana seronok seolah-olah dia benar-benar Monicca Bellucci. Meminjam kalimat Maria Magdalena dalam "Pengakuan Maria Magdalena" karya Lie Chung Yen (Kanisius, 2005), mungkin saja perempuan ini akan berkata, "Emangnya aku ini schizofrenik, bisa punya banyak kepribadian?!"

Pendalaman kehidupan Maria Magdalena dalam Alkitab dengan mengejutkan akan menunjukkan bahwa dia tidak seperti yang khalayak bayangkan. Harusnya Dan Brown mengungkapkan bahwa dalam Alkitab, tidak pernah dikatakan Maria Magdalena itu seorang pelacur! Tetapi itu dikatakannya hanya dalam satu wawancara karena mungkin sudah ada yang mengecam.

Maria Magdalena atau disingkat oleh Arswendo Atmowiloto dalam sebuah puisinya sebagai "Mama" (Salam Mama Penuh Hormat, Sebutir Mangga di Halaman Gereja, paduan puisi, Subentra Citra Pustaka, 1994) memang bukan pelacur. Alkitab jelas-jelas menyatakan kalau dia itu adalah mantan perempuan gila, kecuali Anda punya sebutan lain untuk perempuan yang daripadanya diusir keluar 7 roh jahat!

Mama adalah mantan perempuan gila yang kaya. Diberi nama Magdalena karena dia berasal dari Magdala, sebuah kota di tepi barat Danau Galilea. Dengan kekayaan yang dia miliki, Mama membantu perjalanan Yesus Kristus, bahkan sampai menuju ke Yerusalem di mana Yesus akan disalibkan. Mama tergolong sebagai pemimpin kaum perempuan, bisa diduga. Dan bisa diduga lagi, kalau Mama tidak semuda perempuan cantik yang bernyanyi "I Don't Know How I Love Him" dalam film Jesus Christ Superstar. Mama kemungkinan besar sepantaran ibu dari Yesus, Maria istri Yusuf! Taruh kata, Maria Ibu Yesus, melahirkan Yesus pada usia 13 tahun (WOW!), pada waktu Yesus berusia 33 tahun, Maria Ibu Yesus berusia hampir 50 tahun. Sepantaran itulah Mama. Dan mungkin akan ada argumen , "siapa tahu" Yesus itu mengidap "Oedipus Complex"!

Ide yang menyatakan bahwa Mama adalah istri Yesus dipopulerkan oleh buku seperti "Holy Blood, Holy Grail (1982)" yang dijiplak Dan Brown ke dalam The Da Vinci Code. Novel-novel lain yang mengulik isu yang sama adalah Three Marys (Paul Park, 2003) dan Priest's Madonna (Amy Hassinger, Bentang Pustaka, 2006). The Last Temptation of Christ karya Nikos Kazantzakis sama sekali bukan penggambaran Yesus yang menikah. Dalam novel yang difilmkan oleh Martin Scorsese Maria Magdalena memang digambarkan sebagai pelacur. Pada saat tersula di kayu salib, Yesus mengalami pencobaan terakhir, untuk turun dari salib dan membina keluarga dengan Maria Magdalena, tetapi tentu saja tidak dilakukannya.

Tradisi kuno Gereja Barat menyebut Mama sebagai "apostola apostolorum" yang berarti rasul dari para rasul, karena dialah yang pertama kali bertemu dengan Yesus pasca kebangkitan dan diminta Yesus untuk memberitahukan kepada saudara-saudara seiman bahwa Yesus telah bangkit. Pertemuan Mama dengan Yesus itu memang disebut-sebut sebagai satu skenario terbesar dalam sejarah, sehingga terlalu diangkat-angkat sampai timbul desas-desus pengaruh Mama yang besar dalam hidup Yesus!

Begitu memaksanya untuk menegakkan tesis bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena, Martin Lunn dalam "Da Vinci Code Decoded (Ufuk Press, 2005" mengatakan bahwa Maria adalah sebutan untuk istri keturunan Raja Daud (Yesus adalah keturunan Daud, dilihat dari silsilahnya). Maria sebenarnya adalah bahasa Latin, bahasa Ibraninya adalah Miryam, bahasa Aram Maryam, dan bahasa Yunani Mariam. Kalau itu merupakan sebutan untuk istri keturunan Daud, bagaimana dia bisa menjelaskan Miryam (Maria/ Mariam/ Maryam) yang dikenal sebagai kakak perempuan Nabi Musa? Apakah dia istri keturunan Daud ;).

Setelah begitu banyaknya buku yang mengusik kehidupan Maria Magdalena (coba tengok ke situs magdalene.org) dengan kecenderungan negatif, kenapa tidak mencoba membaca misalnya sebuah buku berjudul "MAD MARY" (Liz Curtis Higgs, Harvest Publication House, 2003)? Dalam segala hal, saya kira keseimbangan senantiasa dibutuhkan.

Posted at 08:01 pm by Jody
Comments (2)  

Monday, November 27, 2006
PARADOKS STOCKDALE

 

  Paradoks Stockdale berbunyi sebagai berikut:

   "Pertahankan keyakinan bahwa Anda akhirnya akan menang, apa pun kesulitan yang dihadapi. DAN PADA WAKTU YANG SAMA, hadapi fakta paling brutal dari kenyataan Anda saat ini, apa pun bentuknya."  (Jim Collins dalam buku "Good to Great").

Konsep tentang paradoks ini diangkat Jim Collins berdasarkan pengalaman Jim Stockdale, pejabat militer Amerika Serikat dalam kamp tawanan perang "Hanoi Hilton". Saat perang Vietnam, Jim (yang Stockdale, bukan Collins), bisa bertahan hidup dan keluar dari kamp tersebut. Sembari menghadapi fakta sebagai tawanan perang, tanpa tahu akan dan kapan dibebaskan, Jim pada waktu yang sama yakin dia bisa keluar dari situasi tersebut.

   Dalam kehidupan, kita tidak akan lepas dari situasi yang membelenggu kita sehingga kita dibuat tidak berdaya karena berbagai kesulitan yang dihadapkan kepada kita. Seringkali putus asa memangkas semua keyakinan yang kita miliki, sehingga melemahkan daya survival kita.

Tapi paradoks Stockdale mengingatkan kita semua: dalam situasi sesulit apa pun kita harus belajar bertahan, memberi makan diri kita dengan keyakinan yang besar bahwa kita bisa lolos dari situasi tersebut, bahkan bisa lolos sebagai pemenang.

   Susah.

               Tapi itulah kehidupan.

               Hanya orang yang berani.

                     Yang sanggup bertahan.

                       Yang punya keyakinan.

               Yang bisa mengatasi dan

                                       menaklukkan semua kesulitan yang ada!

 

Posted at 07:24 pm by Jody
Comment (1)  

Saturday, November 25, 2006
LINKS
Next Page





widgets