"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)
Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.
Tetapi Guru datang. Menghapus
spekulasi yang berkembang bagaikan jalaran api di Yerusalem. Enam hari sebelum
Paskah, Guru singgah di Betania. Lazarus telah menyiapkan perjamuan seperti
yang ia rencanakan untuk sang Guru dan rombongannya. Seperti kebiasaannya,
Marta, sang juru masak, spesialis dalam urusan rumah tangga, langsung sibuk
melayani.
Dalam kamarnya Maria menimang
buli-buli pualam, harta kekayaannya. Buli-buli pualam itu berisi setengah kati
minyak narwastu murni yang dibuat dari akar serai wangi. Minyak yang sangat
mahal, dibeli sebagai persiapan untuk hari besarnya yang tidak kunjung datang.
Jika dijual lagi, harga minyak wangi dalam buli-buli pualam mencapai 300 dinar.
300 dinar berarti upah pekerja harian selama kira-kira 1 tahun.
Ada perasaan malu menyergap. Laki-laki itu
adalah gurunya. Bukan suaminya. Bukan mempelainya.
Tetapi untuk semua yang telah
dilakukan laki-laki itu dalam hidupnya, dalam hidup keluarganya, lebih mahal
daripada minyak narwastu ini.
Orang-orang tidak akan mengerti.
Orang-orang akan berspekulasi. Menghakimi. Mereka cuma tidak memahami betapa
indahnya kehidupan setelah Guru datang. Betapa berharga sukacita yang
ditaburkannya. Betapa dahsyat pengharapan yang diberikannya.
Selain itu, jauh di dasar hatinya,
ada kepekaan sebening kaca. Dia belum tahu apa itu. Kelak memang dia akan tahu.
Tetapi saat ini belum jelas semuanya. Kabur. Bahkan samar pun tidak.
Dia melangkah. Pelan-pelan sambil
berusaha menghalau bimbang yang menggoda.
Dan dia merasakan betapa semua mata
tertuju kepadanya. Begitu gaduh pertanyaan berkelebat di semua mata itu.
Apa yang akan dilakukan
perempuan ini?
Untuk apa buli-buli pualam itu?
Dia sudah seutuhnya hadir dalam
ruangan perjamuan itu. Aroma masakan yang lezat telah memagari ruangan menjadi
arena untuk mengandaskan lapar. Dia merendahkan tubuhnya begitu tiba di depan
sang Guru.
Sang Guru menatapnya, seperti tahu
langkah selanjutnya yang akan dilakukannya.
Dan segera jelas bagi semua yang
hadir dalam ruangan perjamuan itu. Terdengar denting leher buli-buli pualam
yang dipecahkan. Seketika ruangan bagaikan berubah, semerbak oleh semburan
aroma narwastu yang luar biasa wangi. Aura menggetarkan segera mengerubungi
semua orang.
Tidak ada suara yang keluar ketika
Maria melakukan tindakan itu. Sembari berlutut dia meminyaki kaki Gurunya.
Dibalurkannya narwastu sampai kedua kaki yang kasar itu melembut, bersih dan
harum. Kemudian Maria menyingkapkan kerudung yang dipakainya sehingga rambutnya
yang hitam panjang bergulir bagaikan air terjun. Digenggamnya rambutnya itu dan
digunakan untuk menyeka kaki gurunya yang basah.
Semerbak narwastu makin merebak.
Seorang bernama Yudas Iskariot, sang bendahara yang doyan ngutil tersentak oleh
aroma dahsyat itu dan tidak bisa menahan dirinya. Apalagi saat matanya
membentur demonstrasi kasih dari perempuan yang dianggapnya bodoh itu. Setelah
meminyaki kaki Guru dan menyeka dengan rambutnya, Maria mencurahkan sisa
narwastu di atas kepala Guru.
"Untuk apa pemborosan
ini?"
Maria terperangah. Yudas menyebut
apa yang dia lakukan pada Gurunya sebagai pemborosan! Bukan main. Betapa
pelitnya orang ini. Ini adalah gurunya sendiri. Yang seharusnya dihormati dan
dihargainya dengan kasih.
(Kelak perempuan itu tahu bagaimana
pria galak ini telah terlibat dalam kesepakatan untuk membunuh gurunya)
"Minyak ini dapat dijual 300
dinar lebih. Dan uangnya bisa diberikan kepada orang-orang miskin!" Suara
Yudas tajam melanjutkan.
Pandangan Guru akhirnya beralih
dari Maria kepada Yudas. Sejenak hening membentang. Lalu Guru berkata, "
Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan hatinya?"
Yudas menggeram tidak jelas.
"Orang-orang miskin akan
selalu ada padamu. Dan kamu dapat menolong mereka jika kamu mau. Tetapi aku....
Aku tidak akan selalu bersama-sama dengan kamu."
Hening. Yudas bungkam menahan
kesal. Yang lain memperhatikan secara saksama.
"Dia telah melakukan apa yang
dapat ia lakukan. Ia telah meminyaki aku sebagai persiapan untuk
penguburanku."
Maria tersentak. Mimpinya menyergap
benaknya. Penguburan! Kematian! Kesedihan segera melandanya dan membuat air
matanya merebak.
"Aku berkata kepada kalian
semua, sesungguhnya kelak di mana saja nanti berita sukacita diberitakan di
seluruh dunia, apa yang dia lakukan akan disebut-sebut juga untuk mengingat
dia...."
(Kelak yang lain yang hadir di situ
sadar, mereka sendiri bahkan tidak pernah memberikan lebih kepada Guru mereka.
Saat akhirnya sang Guru mati, tidak ada waktu untuk mereka meminyakinya.)
Tetapi saudara Lazarus ini telah
melakukan jauh sebelum saat itu tiba. Dia telah menerima isyarat dengan
kepekaan nuraninya. Pengurapan yang sungguh sempurna. Pada waktu sang Guru
mati, tersula di salib, dengan hati yang terluka, perempuan ini akan tetap
bersyukur telah mendapatkan kesempatan langka ini.
Ketika Gurunya mati, Maria tidak
hadir di bukit tandus itu, isyarat yang telah lebih dahulu ditangkapnya. Dia
bersama kedua saudaranya harus bersembunyi dari ancaman pembunuhan.
*
* *
"Kudus,
kudus, kuduslah Tuhan Allah,
Yang
Mahakuasa, yang sudah ada
dan
yang ada dan yang akan datang."
Siang dan malam empat makhluk
bersayap enam itu tidak henti-hentinya berseru memuji-muji sembahan mereka yang
agung dan mulia. Sang Raja duduk di tahtaNya yang indah seperti permata yaspis
dan sardis, di
bawah lengkungan pelangi yang gemilang bak zamrud. Lautan kaca di hadapanNya
berpendar menggemakan puji-pujian itu.
Sang Raja mengangkat tanganNya dan
seketika puji-pujian itu terhenti.
Ada malaikat yang bertanya, " Ada apa Yang Mulia?"
Sang Raja segala raja menggeleng.
Wajahnya yang dahsyat membayangkan harapan. Malaikat itu disergap kemelit.
"Saya sedang menunggu. Saya
sangat rindu mendengar denting itu. Denting retak buli-buli pualam yang siap
pecah. Aroma harum itu. Saya pernah menghirup aroma itu dahulu. Dari buli-buli
pualam yang dipecahkan seorang perempuan bernama Maria dari Betania........."
Judul buku: Gelang Giok Naga Penulis: Leny Helena Penyunting : M. Irfan Hidayatullah Penerbit : Qanita, November 2006
KISAH CINTA YANG TERTUNDA BERSEMI
"....akan kucari kau
walau seribu tahun lagi...."
Gelang Giok Naga merupakan ekspansi dari
sebuah novelet berjudul Gelang Giok, pemenang harapan Sayembara Mengarang
Cerber Femina tahun 2004. Novelet dijadikan novel oleh penulisnya untuk
memperluas ruang terbatas yang disediakan majalah. Sekalipun hanya menjadi
pemenang harapan, jangan menduga bahwa novel Leny Helena ini sebagai karya yang
kurang menarik.
Gelang Giok Naga dibuka dengan hikayat
Naga yang diceritakan seorang ayah kepada anaknya, yang tentu saja kemudian
bisa dihubungkan dengan ayah dan anak pada epilog, tentang betapa pentingnya
peranan naga bagi masyarakat Cina.
Leny Helena kemudian menggeserkan ceritanya jauh ke tahun
1723 ke dalam kehidupan pribadi Yang Kuei-Fei, seorang selir kaisar Cina Jia
Shi yang disebut sebagai Sang Putra Langit. Intrik yang berkecamuk dalam istana
membuat Yang Kuei-Fei melarikan diri bersama Kasim Fu, dengan tidak lupa
membawa lari perhiasannya, termasuk gelang giok dengan hiasan naga emas hadiah
kaisar. Diceritakan bahwa Yang Kuei-Fei melahirkan anak kaisar,
kemudian mati karena keganasan penyakit yang kemungkinan sekarang dikenal
sebagai kanker. Yang Kuei-Fei mati di sisi laki-laki yang dicintainya, Kasim
Fu. Sebelum mati Yang Kuei-Fei berkata, "....akan kucari kau walau seribu
tahun lagi.... Jika saat itu tiba, akan kukatakan betapa aku sangat
mencintaimu." Perkataan inilah sesungguhnya yang
merupakan esensi dari novel cantik ini. Untuk selanjutnya, hanyalah rangkaian
peristiwa menuju pada pemenuhan takdir kata-kata Yang Kuei-Fei.
Dalam novel ini, Leny bagaikan kutu loncat, meloncat-loncat
dengan gesit. Karena pada lembar berikutnya, Leny meloncat lagi ke tahun 1935,
memperkenalkan kepada pembaca dua perempuan bernama A Sui dan A Lin. Pada saat
yang sama, Leny juga mengganti perspektif penceritaan dari orang ketiga ke
orang pertama. Dengan cara yang berbeda, A Sui dan A Lin, akhirnya tiba dan
siap menghabiskan hidup mereka di Indonesia,
tepatnya di Batavia.
Sebelum menuju Batavia,
ibu A Sui memberikan warisan ibunya, gelang giok berhias naga emas.
Apa yang diungkapkan ibu A Sui mengenai latar belakang gelang
giok itu terdapat ketidakcocokan dengan kisah Yang Kuei-Fei yang dibeber
sebelumnya. Pada waktu Leny mengisahkan tentang Yang Kuei-Fei di awal-awal
novel, kita akan memperoleh gambaran bahwa Yang Kuei-Fei sudah hamil ketika
lari dari istana, mencintai Kasim Fu yang lari bersamanya, kemudian melahirkan
anak kaisar. Perhatikan peralihan tahun 1723 (hal.21) dan 1724 (hal.45). Tetapi
pada halaman 81, diungkapkan ibu A Sui (yang tentu saja dari Leny sendiri
sebagai pengarang), bahwa Yang Kuei-Fei menyuap Kasim Fu untuk
menyelundupkannya keluar istana dan lari ke selatan, menikah dengan pria
setempat dan beranak pinak.
Perjalanan kehidupan tidak disangka mempertemukan A Sui dan A
Lin, diikuti dengan berpindah tangannya gelang giok naga. Anak mereka menikah,
dan lahirlah Swanlin, menyandang nama gabungan kedua neneknya pada tahun naga,
1976.
Lena lalu
melompat lagi ke tahun 1986 dan menambahkan ke dalam novelnya satu tokoh aku
lagi, yaitu Swanlin. Selanjutnya, tiga 'aku' berganti-ganti menuturkan cerita
menuntun pembaca ke akhir cerita melewati tahun demi tahun.
Walaupun menggunakan 3 tokoh 'aku', tapi gaya seperti ini sama sekali tidak membuat
pembaca bingung, malah enak dinikmati. Leny dengan pintar mengantar ketiga
narator membahasakan diri mereka dalam memandang hidup. Satu kelebihan Leny,
dengan lancar dan lucu, dia memaparkan pandangan hidup, karakter dan gaya bicara
tokoh-tokohnya dengan pas. Kehidupan Swanlin dielaborasi Leny sesuai
dengan usianya beserta kisah cinta segi tiganya. Leny menggunakan dialog
yang tepat untuk remaja metropolis tanpa mengurangi nilai cerita yang mau
disampaikan.
Melalui karakter Swanlin inilah Leny, yang rupanya berdarah
Cina, mengungkapkan suaranya mengenai kehidupan Cina di Indonesia yang kadang
tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Swanlin adalah citra idaman orang Cina
untuk hidup bergaul di bumi Indonesia
tanpa dicurigai. Sembari melakukan itu, Leny juga menyentil budaya, termasuk
budaya Cina, yang didominasi laki-laki walaupun dengan kadar rendah.
Setelah menikah dengan laki-laki yang dicintainya (silahkan
baca dan tahu siapa), keduanya pergi ke Kota Terlarang. Di sana, Swanlin menemukan dirinya, merasakan
suatu deja
vu, jalan menuju ke masa lalu. Siapakah dirinya sebenarnya? Apa
yang sedang menunggu di depan kehidupannya? Di sinilah kita dapat melihat
benang yang dipintal dari masa lalu menuju masa kini, menggulung dengan sangat jelas.
Leny Helena tampil sebagai pencerita yang mahir. Dia
memaparkan realita yang saling berkaitan dengan pintar, mendeskripsikan segala
sesuatu dengan baik. Satu yang mengganjal adalah cerita Leny mengenai pertemuan
A Lin dengan perempuan bernama Lai Choi San. Pertemuan itu diceritakan terlalu
panjang. Leny mungkin bermaksud untuk mengungkapkan bahwa sejak dulu sebetulnya
perempuan sudah tidak kalah dengan laki-laki, termasuk dalam budaya Cina.
Tetapi kalau Leny bisa berpanjang-panjang dalam hal itu, tentu saja Leny harus
bisa juga memberi plot pada kehidupan A Lin selanjutnya sampai perempuan itu
terdampar di sebuah kandang babi di Batavia. Karya Leny ini adalah sebuah
novel, dan novel memiliki ruang penceritaan yang sangat luas dibanding novelet
misalnya. Leny yang paling tahu kan
dengan karakter-karakter ciptaannya? Baca saja kelincahan Leny menceritakan
metamorfosa kehidupan A Lin yang luar biasa!
Pada akhirnya, Gelang Giok Naga adalah kisah
tentang pencarian dan penemuan cinta yang terlambat bersemi, kisah takdir selir
kaisar yang rupanya memang tragis.
Walaupun demikian, Leny telah sukses menghasilkan karya yang
tidak mudah dilupakan, sebuah karya yang cantik, yang sejatinya akan lebih
cantik lagi jika Leny bisa lebih memperhatikan presisi dalam segala aspek
novelnya.
Judul buku : The Christmas Shoes (Sepatu Natal) Penulis : Donna VanLiere Penerjemah : Joas Adiprasetya Penyunting : Mariani Sutanto Penerbit : Gradien Books, November 2005 (Cetakan I)
SEPATU YANG MENGUBAHKAN HIDUP
"Sir I want to buy these shoes/For my Momma, please/It's Christmas Eve and these shoes are just her size.
Could you hurry, sir/Daddy says there's not much time/You see she's been sick for quite a while/And I know these shoes will make her smile/And I want her to look beautiful/If Momma meets Jesus tonight"
Demikianlah refrein lagu "The Christmas Shoes" karya Eddie Carswell dan Leonard Ahlstrom (New Song) yang mendasari penulisan novel dengan judul sama oleh Donna VanLiere, seorang penulis wanita kelahiran Northeastern Ohio. Donna juga menulis beberapa buku bertema Natal seperti The Christmas Blessing dan The Christmas Hope. Donna telah menerima penghargaan seperti Retailer's Choice Award for Fiction, Dove Award, Silver Angel Award, dan meraih nominasi Gold Medallion Book of the Year.
Novel mungil ini dibuka dengan adegan saat Robert Layton pergi ke makam ibunya pada suatu musim dingin di hari Natal tahun 2000. Di sana dia mengenang hidupnya yang bahagia, yang secara langsung dipengaruhi oleh pertemuannya dengan seorang anak laki-laki bernama Nathan Andrews pada tahun 1985. Robert Layton tengah berada pada puncak kariernya sebagai ahli hukum. Sukses, kaya, memiliki istri yang cantik dan 2 anak perempuan. Robert telah memiliki segalanya. Tetapi pada saat yang sama, dia semakin terpisah dengan keluarganya, bahkan tanpa ia sadari mulai mengabaikan dirinya sendiri.
Ketika berbelanja hadiah Natal buat keluarganya tanpa ia tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan dari dia, Robert bertemu Nathan. Nathan mau membeli sepatu buat ibunya, sebagai hadiah Natal. Hadiah Natal untuk ibunya sangat berarti bagi Nathan karena ayahnya, Jack Andrews, telah mengatakan bahwa ibunya yang sakit kanker mungkin akan meninggalkan mereka malam itu dan Nathan ingin membeli sepatu buat ibunya dengan alasan, "Aku ingin ibu tampak cantik ketika berjumpa dengan Yesus."
Tetapi uang Nathan tidak cukup. Entah bagaimana, Nathan tiba-tiba telah berhadapan dengan Robert dan membangun komunikasi dengan sang ahli hukum yang skeptis ini. Dan seakan-akan ada yang menggerakkan, Robert memberikan uang guna mencukupkan harga sepatu yang diinginkan Nathan.
Robert terpesona. Sepatu Natal? Apa makna benda sepele itu baginya? Tetapi jelas Nathan sangat mengenal dan mencintai ibunya. Robert tersadar akan realita bahwa sesungguhnya dia tidak mengenal keluarganya. Bahkan istrinya sudah mau berpisah dengannya. Sepatu Natal itu memang bukan benda yang mahal bagi Robert, tetapi Robert harus mengakui sepatu Natal yang sederhana dan tampak tak berarti di tangan anak kecil yang mencintai ibunya, telah mengubah hidupnya.
Tahun-tahun berlalu, Robert tidak pernah bertemu lagi dengan Nathan, sampai Natal tahun 2000, di komplek pemakaman di mana ibunya dikuburkan, Robert bertemu seorang pemuda yang katanya kuliah di tempat yang sama dengan tempat kuliah Robert dulu. Pemuda itu tengah mempelajari onkologi (pembaca pasti akan memahami mengapa pemuda ini mempelajari bidang ini).
Dan kenangan sepatu Natal itu menghampiri Robert lagi.
Sebuah kisah indah dan mengharukan, yang jika disimak dengan penuh perasaan, kita tidak akan menyadari mata kita telah berkaca-kaca. Sama sekali bukan kisah yang cengeng. Tetapi kisah yang melembutkan hati siapa saja. Dituturkan dengan sederhana tanpa menyebabkan kerut di kening pembaca. Tidak heran kalau akhirnya novel ini difilmkan dengan Rob Lowe sebagai Robert Layton dan Neil Patrick Harris sebagai Nathan Andrews.
Satu pesan yang hendak disampaikan oleh Donna adalah bahwa sesungguhnya hidup ini berisi mukjizat-mukjizat yang berlangsung setiap hari tetapi sering tidak kita sadari; mukjizat-mukjizat yang diciptakan Tuhan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Tidak semua mukjizat harus kelihatan dan kedengaran megah. Mukjizat itu bisa berupa hadiah sepatu Natal dari hati putih seorang anak kecil bernama Nathan.
Satu poin penting yang patut diacungi jempol buat edisi Indonesia ini adalah The Christmas Shoes diterjemahkan dan disunting dengan baik. Kita tidak akan menemukan susunan kalimat aneh atau kesalahan cetak. Dan bagi saya, walaupun hari Natal merupakan momen yang tepat, tetapi buku ini tidak hanya harus dibaca pada hari Natal mengingat pesan indah yang disampaikan yang tidak hanya berguna di hari raya.
(Cerpen ini
khusus saya susun (dengan nekat) untuk Stevi, Gleadys, dan keluarga kecil
mereka. Ini adalah cerpen kedua dari sebuah trilogi).
ALABASTER BOX
Betania, kira-kira 2 mil dari
Yerusalem.
Perempuan itu terbangun dari
tidurnya sambil menangis. Marta, adiknya, memeluknya. Untuk kesekian kalinya,
kakaknya terbangun sambil menangis. Dan tangisan kakaknya, pasti akan mengusik
tidurnya, sekalipun tubuhnya terasa capai.
"Ada apa, Maria? Kau bermimpi lagi?"
Maria menangis, mengembuni pundak
Marta dengan air mata.
"Aku memimpikan hal itu
lagi!"
"Kau terlalu banyak
mengkhayal, Maria. Itulah sebabnya terbawa mimpi. Mungkin kau harus lebih
banyak di dapur untuk mengisi waktumu."
"Aku melihat palang besar itu.
Pasak-pasak. Palu. Darah. Tubuh penuh darah. Aku melihat Guru kita. Penuh
darah!"
"Hush! Itu hanya mimpi. Tidak
lama lagi Guru akan datang ke Yerusalem. Dia pasti akan singgah di rumah kita.
Cobalah berdoa kepada Hashem sebelum tidur lagi, supaya mimpi tak
mengusikmu."
Jauh setelah adiknya kembali
terlelap, Maria tetap terjaga. Wajah Guru mengambang di permukaan ingatannya.
Guru telah pergi ke Efraim setelah membangkitkan adik laki-lakinya, Lazarus,
yang telah mati empat hari. Imam-imam kepala dan orang Farisi telah bersepakat
untuk membunuh Guru. Maria menjadi bimbang apakah Guru akan datang ke Yerusalem
untuk merayakan Paskah. Sebuah tradisi yang setiap tahun mereka rayakan untuk
mengenang pembebasan dari tanah Mesir. Musa telah membawa bangsanya keluar dari
tanah Mesir setelah berbagai keajaiban terjadi di sana, sampai pada kematian
anak sulung raja yang membuat Firaun takluk.
Maria mencoba tidur lagi. Tidak mungkin
Guru membatalkan acara Paskah kali ini. Lazarus telah merencanakan
perjamuan bersama jika Guru singgah di Betania. Mereka berteman, sudah seperti
saudara. Orang tua Guru menikah di Betania, di rumah milik Imam Zakaria dan
istrinya Elisabet. Betania sudah sangat akrab dengan kehidupan Guru sejak
Hashem memutuskan untuk turun ke dunia. Sebagai kaum Yahudi, Guru tidak mungkin
melewatkan Paskah ini.
Hanya keadaan memang sangat rentan,
menegangkan. Semua murid tahu bagaimana semua yang dilakukan Guru telah memicu
kegemparan di antara kaum Farisi dan para imam. Guru memang seorang dengan
pribadi lembut. Tetapi pada saat tertentu dia bisa menjadi setegas baja. Tidak
ada yang sanggup melerainya jika dia meyakini suatu hal ada pada tempat yang
salah.
Judul Buku: The Templar Legacy (Warisan Templar) Penulis: Steve Berry Penerjemah: Esti Ayu Budihabsari Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006
RANCANGAN BESAR DI RERUNTUHAN PURI
Setelah Dan Brown mengembuskan badai ke bangunan iman Kristen dengan Da Vinci Code yang mengusung tesis basi Yesus menikahi Maria Magdalena, Steve Berry penulis yang antara lain telah menghasilkan novel The Amber Room dan Romanov Prophecy, ikut-ikutan memicu badai yang baru.
The Templar Legacy, novel Berry keempat, sangat jelas bertujuan untuk meletupkan kontroversi baru.
Sang pengacara membuka novelnya dengan penyaliban ketua Ordo Templar ke-22, Jacques de Molay oleh Guillaume Imbert, di kulminasi kehancuran ordo. Setelah kekalahan di Acre (1291) menyusul jatuhnya kerajaan Kristen Yerusalem ke tangan penguasa Muslim, Saladin (1187), ordo ternyata berkembang di Eropa menjadi pusat pasar uang. Raja Philip IV yang ingin menguasai kekayaan Templar melemparkan tuduhan bidah kepada ordo dan mengakibatkan penangkapan anggota ordo. Jacques de Molay kemudian dibakar di tiang pancang dan ordo dibubarkan oleh Paus Clement V.
Di masa kini, Stephanie Nelle, yang telah kehilangan Lars, suaminya dan Mark, anaknya, datang ke Kopenhagen, Denmark karena seseorang mengirim jurnal suaminya kepadanya. Cotton Malone, mantan agen lapangan Stephanie di Departemen Kehakiman, yang telah malih profesi sebagai pedagang buku antik di Kopenhagen bertemu dengan Stephanie setelah perempuan itu jadi korban rampok.
Ternyata ordo masih eksis. Tanpa diketahui khalayak, anggota ordo yang tersisa mengundurkan diri ke biara di Pyrenees, menyamar sebagai komunitas biara biasa. Kematian ketua ordo menimbulkan sengketa di biara, antara Seneschal (orang penting ke 2 setelah ketua) dengan marshal bernama Raymond de Roquefort. Bersama Geoffrey, biarawan ordo yang lain, Sang Seneschal melarikan diri dari biara. Tujuan pelarian mereka, sekaligus menjadi tujuan Stephanie dan Cotton.
Raymond ternyata memiliki ambisi untuk mengembalikan kejayaan ordo. Dan untuk mencapai tujuannya, dia membiarkan Stephanie-Cotton masuk dalam rencananya. Dibayangi Raymond, Stephanie dan Cotton bersama sang Seneschal berusaha menguak apa sebenarnya yang dimaksud dengan Rancangan Besar (The Great Device).
Pencarian mereka yang berpatokan pada jurnal Lars melibatkan serangkaian pribadi dengan rahasia mereka masing-masing seperti Henrik Thorvaldsen, Cassiopeia Vitt, dan Royce Claridon. Perlahan-lahan mereka berhasil menyingkapkan apa yang terjadi di masa lalu di pedesaan Prancis yang melibatkan sosok bernama Berenger Sauniere, sebagai rambu-rambu menuju kepada penemuan Rancangan Besar.
Cerita mencapai klimaks di sebuah situs Templar dekat St. Aguluos. Rancangan Besar ternyata telah menanti di sana bertahun-tahun lamanya. Rancangan Besar adalah bukti sebuah rahasia yang berpotensi menghancurkan iman sebuah agama terbesar di dunia. Rahasia inilah yang dikejar Raymond untuk membangkirkan kembali kejayaan ordo.
Persis seperti Da Vinci Code, hanya dengan karakter antagonis dan rahasia yang berbeda. Rahasia mengenai Rancangan Besar itulah sebenarnya yang menjadi daya tarik novel ini, menciptakan tanya di benak pembaca dan mencetuskan ketegangan.
Selain Raymond, tokoh-tokoh lain berkesan biasa-biasa saja. Stephanie dan Cotton jelas bukan duet yang menarik. Sang Seneschal walaupun bukan karakter yang menarik, tetapi memberi warna dengan pengungkapan mengejutkan siapa dia sebenarnya di tengah novel. Tokoh ketua yang baru meninggal ternyata telah menjadi screenplayer untuk sebuah drama yang penting bagi ordo.
Cerita mengambil setting Eropa tentu saja cukup menarik. Tetapi perihal Cotton Malone yang menjadi pedagang buku antik di Kopenhagen terasa dipaksakan kendati penulis menjabarkan latar belakangnya. Kenyataan itu memang sengaja dirancang Berry supaya Stephanie bisa bertemu Cotton di Kopenhagen, melindungi nenek nekat ini.
Secara keseluruhan, The Templar Legacy cukup menarik. Namun, berulang dihadapkan pada tema kontroversi yang berporos pada eksistensi Yesus, akan membuka kemungkinan terciptanya kebosanan. Sebagai intinya, novel ini sebenarnya tidak lebih dari upaya Berry untuk menggemakan kembali pernyataan aneh Paus Leo X yang berbunyi "Selama ini mitos Kristus sudah sangat berguna bagi kita."
Judul Buku: A Dog's Life (Kisah Seekor Anjing, Autobiografi Anjing Telantar) Penulis : Ann M. Martin Penerjemah : Tanti Lesmana Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2006
KISAH SEEKOR ANJING
Setelah lama tidak membaca literatur fiksi mengenai anjing, beberapa tahun lalu saya membaca buku tentang anjing yang bersahabat dengan anak-anak, yaitu Shiloh ( Phyllis Reynolds Naylor) dan Because of Winn-Dixie (Kate DiCamillo). Kedua cerita itu sangat sederhana, karena memang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Belakangan, dalam antologi cerpen karya Avi Basuki, Tango (Gramedia, 2006), saya menemukan sebuah cerpen tentang seekor anjing berkaki tiga berjudul Anjing Kecil yang Tinggal Sendiri. Ternyata kisah tentang anjing masih juga digarap oleh penulis fiksi. Ketiga judul yang saya sebutkan berkisah tentang anjing yang dituturkan menggunakan perspektif orang ketiga. Berbeda dengan ketiga judul tersebut, A Dog's Life karya Ann M. Martin merupakan kisah seekor anjing yang sangat menarik, baik cerita maupun pemakaian orang pertama sebagai narator. Dan 'orang pertama' tersebut ternyata seekor anjing.
Segera saya teringat pada cerpen berjudul "Perempuan dan Tiga Ekor Anjing", dari antologi cerpen seorang penulis muda berbakat, Anton Septian, berjudul "Pangeran Kegelapan dan Putri Mimpi" (Bentang, 2006). Cerpen ini mengisahkan tiga ekor anjing yang memangsa kekasih perempuan pemilik mereka karena cemburu. Dengan penuh kemarahan perempuan itu mengambil senapan berburu kakeknya kemudian membunuh ketiga anjingnya. Perempuan itu menjadi pembenci anjing, mengusir setiap anjing yang mencoba memasuki pekarangan rumahnya dan menyambit seekor anjing yang sedang mengais-ngais tempat sampah di pekarangan rumahnya dengan batu. Anjing yang kena sambitan inilah yang menjadi narator untuk menjelaskan latar belakang si perempuan menjadi pembenci anjing. Sebuah kisah yang dituturkan anjing, tetapi tidak membahas mendetail mengenai kehidupan anjing.
A Dog's Life, adalah cerita tentang anjing, masalah anjing, perjuangan anjing, harapan dan kerinduan anjing yang dituturkan oleh anjing.
Cerita dibuka dengan cantik oleh penulis ketika Addie, seekor anjing betina tua, yang sedang berbaring dalam kehangatan di dekat perapian, teringat akan kisah hidupnya yang panjang untuk seekor anjing (kira-kira 10 tahun).
Addie, dilahirkan sebagai Squirrel (tupai) oleh seekor anjing gelandangan bernama Stream di sebuah kereta sorong di sebuah gudang di rumah tempat berlibur keluarga Merrion di Lindenfield. Dari 5 ekor yang dilahirkan sang Ibu (begitu si narator menyebut induknya), hanya 2 yang bertahan. Squirrel dan kakaknya, Bone (tulang). Menurut narator, mereka diberi nama seperti itu karena, "Seperti para induk anjing pada umumnya, dia memilih nama-nama benda yang penting baginya."
Suatu hari ketika Squirrel dan Bone mulai tumbuh, Stream meninggalkan gudang untuk mencari makanan, tetapi tidak pernah kembali. Squirrel yakin ibunya sudah mati. Kedua anjing itu meninggalkan tempat kelahiran mereka. Mereka bertemu pasangan George dan Marey, dibawa pulang ke rumah, tetapi karena pasangan itu tidak memahami masalah anjing, akhirnya George melemparkan keduanya di depan sebuah mal. Dalam kondisi terluka, keduanya terpisah. Squirrel harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Dia bertemu seekor anjing gelandangan lain bernama Moon dan mengembara bersama sampai akhirnya Moon mati tertabrak truk. Dalam kembara selanjutnya, termasuk coba-coba mencari Bone, saudaranya, Squirrel, bertahun-tahun kemudian, bertemu dengan seorang perempuan tua 82 tahun yang sebenarnya tidak butuh anjing. Perempuan tua bernama Susan itulah yang memberi Squirrel nama baru Addie. Kedua makhluk tua tersebut (sesuai dunia masing-masing), menjadi teman sejati. Squirrel yang sudah memutuskan untuk hidup sendiri karena tidak berhasil menemukan Bone, akhirnya menemukan kasih sayang yang dicarinya pada Susan.
Ann M. Martin si penulis adalah seorang pencinta anjing yang tergabung dalam sebuah komunitas penyelamat hewan lokal, dan nama Susan rupanya diambil dari nama Susan Roth, salah satu temannya dalam komunitas tersebut.
Ann M. Martin
Saya membaca buku ini hanya beberapa jam--diselingi istirahat, karena ceritanya ditulis dengan indah dan mengalir tanpa sendat. Tak disangka seekor anjing, eh, seorang penulis, begitu berhasil menyampaikan perasaan seekor anjing tanpa membuat bosan. Novel diterjemahkan dan disunting dengan pas. Saya tidak menemukan kejanggalan kalimat, bahkan kesalahan cetak teks.
Bacalah, dan kau akan tahu, A Dog's Life adalah sebuah kisah tentang binatang yang indah. Sekalipun menggunakan anjing sebagai narator, sama sekali tidak ada kejanggalan dalam penuturannya.
Judul Buku : Laras (Tubuhku Bukan Milikku) Penulis : Damhuri Muhammad Penyunting: Pray Penerbit : Dastan Books, 2005
TUBUH LARAS MILIK DAMHURI
Membaca antologi cerpen Damhuri Muhammad ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Kepiawaiannya meracik cerita benar-benar bisa diperhitungkan. Dia meramu pengalaman dan pengamatan menjadi mikstura yang kendati sederhana, mempunyai daya gelitik yang tidak bisa diabaikan. Sehingga karyanya memberi efek memikat untuk dicernak.
Damhuri menyentil emaskulasi eksistensi lelaki dalam budaya asalnya. Menyindir fenomena sosial-politik dengan elemen satiris yang tepat dosis tanpa kesan hiperbolis. Dia juga mengeksplorasi isu transaksi seksual secara telanjang, blak-blakan.
Membaca Telinga-telinga yang Berpuasa, Elegi Tukang Kursi, Hikayat Negeri Sayembara atau Tamasya ke Museum Kata-kata, pembaca segera diantar dengan rambu-rambu yang jelas untuk memahami maksud penulis. Permainan simbol yang pas dan tepat sasaran. Asyik.
Membaca kisah-kisah Damhuri, kita akan diperkenalkan dengan berbagai karakter. Laki-laki yang tercampak dari rumpunnya karena menikahi perempuan lain suku (Laki-laki dari Negeri Kutukan). Si Buyung yang mengalami transisi dari tukang cebok di Rumah Makan Padang ke tukang cebok perempuan sebaya ibunya (Lelaki Ibu). Fhir yang mencatatkan namanya dalam sejarah persundalan karena berhasil membuat Geisya sang primadona menggantung kutang (Gadis Kecil Bermata Cokelat)--tetapi kemudian si Geisya tetap kembali ke selera asal. Jauhara, mantan gigolo yang tidak mendapatkan liang lahat di tanah kelahirannya, karena liang lahatnya memang beda (Liang Lahat Jauhara). Laras yang terus bertanya-tanya sepanjang hidup soal pemilik dirinya, tubuhnya (Laras). Atau Jagad yang menjahit kain bendera merah-putih menjadi celana pendek dalam cerpen kocak Riwayat Selembar Kain Bendera.
Membaca teknik pemaparan materi seksual Damhuri, tak pelak mengingatkan saya pada Djenar Maesa Ayu atau Tamara Geraldine. Begitu lepas dan bebas mendeskripsikan seks. Bedanya Damhuri membalut seks yang disajikannya dengan sentuhan humor yang menggelitik, khas Damhuri.
Membaca antologi Damhuri hanya akan menjadi sebuah "page-turning adventure" bagi pembaca dewasa, dan memang tanpa dinyatakan sudah jelas segmen mana target baca cerpen-cerpen Damhuri, sekalipun atas nama sastra misalnya.
Satu-satunya cerpen yang agak membuat saya tercenung adalah "Laki-laki dari Negeri Kutukan". Ceritanya tentu saja sudah oke, tetapi hebat betul si Ningsih, sang narator.Tukang nguping yang tajam dan serba tahu. Tidak kalah canggih dengan Pariyem (Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi). Karena deskripsi latar belakang Ningsih tidak jelas, saya menebak, dari gaya tuturnya yang imajinatif--sampai ke aktivitas seksual majikannya--minimal Ningsih lulusan Akademi Keperawatan-lah. Kalau misalnya Ningsih tidak pernah lulus sekolah, aneh rasanya kalau bisa menarasikan kisah malang sang laki-laki dari negeri kutukan dengan cerdas seolah-olah dia seorang Damhuri Muhammad.
Menurut saya mungkin akan lebih rancak kisah Ningsih itu jika dituturkan menggunakan perspektif orang ketiga, dan dibidik lewat sisi Ningsih, tentu saja.
Tetapi, membaca antologi Damhuri Muhammad jelas tidak mengecewakan. Dengan terus mengasah ketajaman berkaryanya, tidak tertutup kemungkinan dia bisa menyejajarkan diri, bahkan melampaui, dengan Hudan Hidayat, sang penulis Lelaki Ikan (Kompas, 2006), misalnya. Tidak heran jika di masa-masa mendatang nama Damhuri akan berkibar seperti bendera pada cerpen "Riwayat Selembar Kain Bendera" di dunia kesusastraan Indonesia.
SIMEON
PROPHECY (...DAN
SUATU PEDANG MENEMBUS JIWAMU)
"Sesungguhnya
Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—-dan suatu pedang
akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak
orang."(Lukas 2 :
34 – 35)
Telah kutinggalkan Nazaret dan
berakhir di bukit ini. Bukit Golgota, tempat Tengkorak. Arena bagi para
terhukum dipertontonkan kepada khalayak untuk jadi bahan intimidasi. Siapa saja
bisa menyaksikan para penjahat kehilangan harga dirinya di atas sini.
Dipamerkan tanpa busana sebagai lambang kutuk yang distempel di atasnya. Aku
berdiri di atas bukit ini, bukan karena keinginan untuk menonton pameran
terhukum, tetapi karena di salah satu salib yang tertancap di tengah ketandusan
bukit ini, anakku tersula.
Air mataku telah kering. Aku tidak
bisa meneteskan air mata lagi. Apa yang terjadi pada anakku telah menguras
habis air mataku. Ketabahanku, dan nyaris seluruh kewarasanku.
Dia tidak tampak lagi seperti
manusia, jeritku dalam hati. Dirinya kelihatan seperti seonggok darah yang
membeku. Babak belur. Nyaris kehilangan bentuk. Aku hampir percaya dia bukan
anak yang kulahirkan ke dunia ini.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin anakku akan semenderita
ini. Tetapi dia benar anakku. Darah yang membungkus tubuhnya sehingga dia
seolah-olah binatang yang habis disembelih, benar-benar darah anakku. Kepala.
Tangan. Kaki. Sekujur tubuh. Semua bersalut darah. Luka dan berdarah. Semua
adalah darah, darah dan darah. Duri-duri telah dianyam dan dihantam dengan
buluh di kepalanya. Seluruh tubuhnya membukakan jalur darah karena berulang
kali terjerembab di jalanan kasar ketika kelelahan memanggul palang besar itu.
Kuikuti dia sejak dia diarak ke luar kota,
di tengah tangisan para perempuan yang iba dan sorakan menghujat dia.
Aku tak bisa melupakan, bahkan
sampai aku menutup mata, dentang palu dan pasak yang digunakan untuk menyula
anakku yang sudah tak berdaya. Palu dan pasak yang memicu jeritannya yang menyayat.
Palu dan pasak yang merah oleh darah. Darah dan darah. Aku tak kuasa
membayangkan dia tergantung dalam kehinaan seperti ini dan ketakutan jika
kaki-kakinya diremukkan kemudian tubuhnya menjadi santapan burung bangkai.
Kenapa anakku harus disalibkan?
Tidak pernah ada malaikat yang
datang memberitahukanku peristiwa ini.
Kenapa anakku harus menjadi korban
pengadilan tercurang di dunia ini? Tak ada bukti kesalahan anakku. Anakku
adalah lelaki muda berhati putih. Kelembutannya telah menyita kasih sayang orang-orang
yang mengenalnya dengan dalam. Bahkan, Pilatus
sendiri tidak menemukan alasan untuk menghukum anakku.
Air mataku telah tandas. Aku hanya
bisa mendengar tangisan saudaraku Maria, istri Klopas, yang bercampur dengan
sedu sedan Maria Magdalena. Kami bertiga adalah perempuan-perempuan tua yang
telah mengikuti anakku ke kota
Yerusalem. Aku, ibunya. Maria Klopas, bibinya. Maria Magdalena, perempuan tua
yang telah dibebaskan oleh anakku dari 7 roh jahat.
Kami tidak bisa saling menghibur.
Duka kami malah bergabung menjadi satu sehingga kami merasakan kepekatannya
yang membekap jiwa. Kami sudah tidak peduli lagi pada prajurit Romawi yang
berjaga dengan tombak dan pedang. Kami bahkan tidak peduli orang-orang yang
membuat anakku terhukum merajam kami. Dalam situasi seperti ini, semua telah
membaja. Silahkan rajam kami. Kami bahkan bisa mati tanpa merasa sakit.
Rajam! Ancaman rajam bukanlah hal
yang baru bagiku. Ketika mengandung anakku hidupku telah dibayangi dengan
ancaman itu. Sebelum menikah, saat masih jadi tunangan kekasihku, Yusuf, aku
telah hamil. Bukan suatu yang aneh bagiku. Bukan suatu hal yang najis bagiku.
Tetapi karena tidak bisa dijelaskan sehingga orang memercayainya, keadaanku
adalah suatu kenajisan, aib, dan hukumannya adalah dilempari dengan batu. Aku
bersedia melakukan apa saja untuk tugas yang telah aku terima, apalagi ketika
merasakan getar kehadiran anakku dalam rahimku.
Telah kutinggalkan Nazaret, kotaku
di Galilea. Tetapi tak mungkin aku bisa melupakan kota itu. Ke sanalah aku pergi setelah lari
ke Mesir.
Aku masih perawan yang sangat muda
waktu malaikat Gabriel mengunjungiku pada suatu hari yang bening penuh cahaya.
Dia masuk ke rumahku, membangunkan aku dari lelap. Sampai kapan pun aku tidak
akan melupakan sapaannya yang membuat aku terkejut dan bertanya-tanya dalam
hati.
"Salam, hai engkau yang
dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!"
Aku adalah gadis biasa, putri dari
Yoakim dan Hana. Ibuku Hana memang berasal dari keturunan raja Daud seperti
halnya ayah Yusuf. Tetapi kerajaan Daud sudah tidak ada lagi. Terpecah belah,
runtuh dan hilang bersama sejarah. Sebelum usia 12 tahun, aku terpilih untuk
dikirim ke Yerusalem. Aku menjadi salah satu dari 84 gadis di bawah usia 12
tahun yang terpilih untuk menenun tirai Bait Allah. Hanya perawan yang bisa
menenun tirai Bait Allah karena segala yang berhubungan dengan Bait Allah harus
benar-benar suci.
(Tirai yang kami tenun dibuat dari
kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal
benangnya dengan hiasan kerub yang cantik, malaikat penjaga jalan ke pohon
kehidupan di Taman Eden.Tirai itu dikerjakan selama 2 tahun sehingga aku harus
berada di Yerusalem selama itu. Tirai itu akan dipasang untuk memisahkan Ruang
Suci dan Ruang Maha Suci dalam Bait Allah. Tidak semua orang bisa melewati
tirai itu. Bahkan, tidak setiap imam. Di balik tirai tersebut, dalam ruangan
maha suci, terdapat tabut Tuhan. Tabut itu ditutup dengan tutup pendamaian yang
terbuat dari emas murni. Di atas tutup pendamaian itu, di antara 2 kerub yang
terbuat dari emas tempaan, setelah dilakukan percikan darah hewan korban, Tuhan
akan berbicara kepada imam besar. Sudah begitu banyak darah yang tercurah dari
banyak binatang untuk kegiatan di Bait Suci tersebut.)
Tetapi itu hanya sekedar tradisi
dan aku benar-benar gadis biasa. Seorang gadis kampung.
Gabriel kemudian menjelaskan dengan
rinci. Bahwa aku akan mengandung. Aku akan melahirkan seorang anak laki-laki.
Dan sebagai seorang hamba Tuhan, aku tak mungkin menolak apa yang diinginkanNya
dalam hidupku. Aku menjawab, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan;
jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Telah kutinggalkan Nazaret setelah
suamiku meninggal dunia. Aku memutuskan untuk mengikuti anakku ke mana pun dia
pergi. Sama sekali aku tidak menduga, aku kembali ke Yerusalem untuk kesekian
kalinya dan terpacak menatap anakku tersalib di bukit ini.
Di telingaku kembali bersipongang
seruan-seruan itu, mengalun indah di tengah jalan menurun dari Bukit Zaitun,
ketika anakku mengendarai seekor keledai muda. Hamparan pakaian. Bunga. Ranting
hijau. Daun-daun palem.
"Diberkatilah Dia yang datang
sebagai Raja dalam nama Tuhan. Damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat
yang maha tinggi!"
Hosana! Hosana!
Tetapi sekejap, seruan-seruan
Hosana itu berganti oleh seruan-seruan yang terus bertalu-talu di gendang
telingaku, dalam nada yang berbeda.
"Enyahkan dia!"
"Enyahkan dia!"
"Salibkan dia!"
Itu anakku. Dan ibu mana yang tahan
mendengar itu?
"Biarlah darahnya
ditangggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" Sebuah teriakan
mengerikan terdengar membahana. Apakah mereka berpikir ketika mengeluarkan
kata-kata menakutkan itu dari mulut mereka?
Tetapi air mataku sudah kerontang.
Dunia tiba-tiba menjadi gelap.
Gulita. Pekat bagai malam tanpa pelita. Padahal matahari tepat terpacak di
tengah langit.
Gelap.
Gelap.
Gelap.
Lama. Suara terhenti. Angin mati.
Tiga jam yang mendirikan bulu kuduk.
Sesaat ketika kegelapan yang ganjil
itu terenggut bak tirai hitam yang disingkapkan dari dunia orang mati, dari
arah salib anakku terdengar suara nyaringnya yang memilukan. Suara yang
mengingatkan aku pada masa kecilnya ketika kegelapan membuat dia gelisah dan
ketakutan. Aku ada di sini, tetapi tidak bisa menariknya ke dalam pelukanku,
menghiburnya seperti di masa kecilnya.
Sehingga bahkan Tuhan, Bapanya yang
telah membuatku melahirkannya, berpaling darinya.
Sebuah pernyataan dari masa lalu
datang menghampiri tepian kenanganku. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu
sendiri. Suatu pedang akan menembus jiwamu, Maria. Ketika kamu menyatakan
bersedia menerima karunia Tuhan di rumahmu di kota kecil Nazaret kamu sudah
menyatakan kesediaanmu untuk menerima hunjaman pedang itu ke dalam jiwamu.
Simeon. Laki-laki tua yang menanti
maut. Dia yang mengatakan kalimat itu ketika aku membawa anakku ke Yerusalem
untuk diserahkan kepada Tuhan. Aku ingat lagi, aku dan suamiku membawa bersama
anakku sepasang anak burung merpati sebagai persembahan. Sudah lama waktu
berlalu. Aku nyaris melupakan itu. Tetapi saat ini kenangan itu menerpa,
menegaskan nubuat yang nyaris terabaikan.
"Aku haus!" Suara sekarat
anakku terdengar. Begitu lirih. Basah. Menusuk. Pedang itu segera menggeliat
lagi di jiwaku. Menyakitkan.
Seorang prajurit mengambil bunga
karang dan mencelupkannya ke dalam anggur asam. Bunga karang itu ditancapkan
pada sebatang hisop dan diunjukkannya ke mulut anakku yang kehausan.
Dia menenggak anggur asam itu.
"Tetelestai!"
Seruan itu menghantam jantungku.
Kemudian, satu jerit nyaring
menyusul, yang sepertinya begitu susah untuk keluar karena himpitan di rongga
paru-parunya yang sesak dan jantungnya yang nyaris kehilangan denyut,
terdengar.
"Ya, Bapa ke dalam tangan-Mu
kuserahkan nyawaku!"
Samar kudengar seseorang berseru,
" Sungguh, orang ini adalah orang benar!"
Lalu, dunia gonjang-ganjing.
Bergetar. Menandak-nandak. Gempa bumi yang luar biasa terjadi.
(Belakangan aku tahu, ada
bukit-bukit batu terbelah, kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang
telah meninggal bangkit, keluar dari kubur, lalu masuk kota kudus dan
menampakkan diri kepada banyak orang.
Tidak hanya itu. Tirai Bait Allah
robek, terkoyak menjadi dua, terbelah dari atas sampai ke bawah. Tirai yang
dikerjakan 2 tahun oleh para perawan di bawah usia 12 tahun itu teronggok di
lantai dalam bentuk gumpalan kain ungu tua, ungu muda, kain kirmizi dan lenan
halus yang tak berguna.
Tuhan tidak akan bertemu dengan
imam besar lagi di balik tirai itu. Tidak ada tirai, tidak ada batas. Tidak ada
tirai, tidak ada tradisi. Siapa saja bisa mendatangi Tuhan. Kapan dan di mana
saja.
Belakangan aku tahu, apa yang
anakku kerjakan di salib adalah untuk mengganti tirai itu.
Betapa mahal harga yang harus
dibayarnya!)
Sabat semakin dekat.Tidak boleh ada
orang tergantung di salib pada hari Sabat. Kedua orang yang disalibkan dengan
anakku belum mati saat itu sehingga kaki mereka harus dipatahkan. Tetapi
seorang prajurit menikam lambung anakku dengan tombak sehingga darah dan air
mengalur dari sana, memercik ke bawah salib. Semua memandang dia. Memandang
anakku. "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka
tikam."
Tidak ada persiapan penguburan
anakku. Seorang dari Arimatea bernama Yusuf datang bersama Nikodemus. Keduanya
menurunkan anakku dari salib, mengapaninya dengan kain lenan, membubuhi dengan
campuran minyak mur dan minyak gaharu yang dibawa Nikodemus. Anakku dibawa ke
dalam taman dan dibaringkan dalam kubur yang baru digali di dalam bukit batu.
Setelah itu sebuah batu digulingkan untuk menutup pintu kubur itu.
Tetelestai, batinku. Kami--aku dan teman-temanku--
bergegas pulang dan tiba di rumah ketika terompet Sabat berbunyi.
*
* *
Aku tidak pergi dengan teman-teman
perempuanku ke kuburan pagi itu. Mereka telah membeli rempah-rempah untuk pergi
ke kubur dan meminyaki anakku. Mereka akan minta pertolongan prajurit yang
menjaga kubur untuk menggulingkan batu penutup. Maria Magdalena, Maria Klopas,
dan Salome meninggalkan aku. Mereka mungkin memahami betapa aku sangat letih
secara lahir dan batin.
Tetapi rupanya batu itu telah
terguling. Anakku tidak ada lagi di sana. Magdalena segera pulang mendahului
yang lain, memberi tahu kepada kami-- di loteng rumah Maria ibu Markus di
Yerusalem-- bahwa anakku telah hilang diambil orang. Petrus dan Yohanes
mengikuti Magdalena kembali ke kuburan untuk membuktikan. Hampir bersamaan,
Maria Klopas dan Salome kembali.
"Anakmu telah bangkit dari
dunia orang mati. Dia telah mendahului kita ke Galilea!"
Aku masih terpasung oleh kabut
kebingungan yang memedihkan jiwa. Pedang tajam itu masih menancap dalam jiwaku.
Magdalena kembali, tak lama setelah
Petrus dan Yohanes memberitahukan bahwa kubur anakku benar-benar telah kosong.
"Aku telah bertemu dan melihat
Guru!" jerit Magdalena dengan air mata dan senyuman berbaur di wajahnya.
"Ceritakan apa yang
terjadi!"
Perempuan tua dari Magdala yang
pernah dibebaskan anakku dari kegilaan kemudian bercerita penuh semangat. Di
akhir cerita dia berkata,"...katakan kepada saudara-saudaraku bahwa
sekarang aku akan pergi. Kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu."
Tabut itu! Tutup pendamaian! Surga
telah mengambilnya dari balik tirai yang terkoyak di Bait Allah. Tidak akan ada
lagi darah hewan korban yang dipercikkan. Anakku pergi membawa darahnya sendiri
yang tak bernoda untuk dipercikkan di hadapan Tuhan. Dan dia pasti akan kembali
beberapa waktu, sebelum benar-benar kembali ke asalnya.
Mendadak mata air itu bergolak. Air
mata muncrat memenuhi kelopak mataku, meleleh ke pipi dan daguku. Pedang itu
telah terangkat dari jiwaku.
Jogjakarta,
3 - 4 Januari 2007
Referensi: Kitab Matius, Markus, Lukas, dan
Yohanes. Kitab Keluaran Christ the Lord: Out of Egypt. Anne Rice. Gramedia Pustaka Utama,
Desember 2006. Tetelestai : sudah selesai
Judul Buku: Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku Penulis: Akmal Nasery Basral Penerbit: Ufuk Press, Jakarta Cetakan I : Desember 2006
Dari sampul dan judul yang ditata secara tidak lazim, antologi cerpen dari penulis novel Imperia ini sepertinya hendak tampil beda. Pendapat ini juga ditegaskan oleh penataan tampilan cerpen di dalamnya, walaupun hanya pada beberapa cerpen. Kumpulan cerpen ini cukup kaya informasi. Paling tidak kita akan lebih mengenal sosok penulisnya, Akmal Nasery Basral dan latar belakang terkumpulnya 13 cerpennya dalam kumpulan ini. Satu hal yang ingin diungkapkan Akmal adalah bahwa kumpulan cerpennya ini merupakan realita dari sebuah tesis yang disampaikan Paulo Coelho dalam The Alchemist.
Kecuali cerpen berjudul "Seekor Hiu di Cangkir Kopi", cerpen-cerpen dalam kumpulan ini telah dikorankan oleh beberapa surat kabar. Bahkan ada yang terbit saat naskah sudah dalam persiapan cetak. Sastra Koran memang tengah popular di Indonesia. Setidaknya dengan mengorankan tulisannya sebelum kemudian dibukukan, penulis mendapat pendapatan ganda. Kelebihan lain, sastra Koran bisa diakses siapa saja dengan gampang dan murah. Sebuah cara yang mujarab untuk mengaktualisasikan kepengarangan seorang penulis.
Pada dasarnya, kemasan dan isi kumpulan ini cukup menarik. Cerpen tampil cukup variatif. Mungkin karena latar belakang Akmal adalah seorang wartawan, secara tematik, cerpen-cerpennya lahir dari pekerjaannya yang penuh warna. Kita akan membaca tema-tema cerita yang berjalan sendiri-sendiri dan hal itu wajar, tidak ada aturan yang mengharuskan sebuah kumpulan cerpen harus dibuhul oleh tema yang sama. Bahkan sebuah cerpen dengan tema yang sama bisa menimbulkan kebosanan karena akan cenderung monoton.
Membaca antologi ini, kita akan dibawa dalam berbagai karakter-karakter imajinasi Akmal. Nila yang gila setelah menjagal suami dan anak-anaknya, dipenjarakan dan bukannya dirumahsakitjiwakan. Midun dan Halimah yang melompat "keluar" dari tulisan Sutan Sampono Kayo, bercakap-cakap di Budha Bar, kemudian salah satunya menyebabkan tewasnya sang pengarang tersantun di dunia. Aida, wartawati berdarah Irak, bekerja di Yordania dan datang ke Indonesia mencari cintanya. Perempuan Bandar Angin berbibir rekah (karena tergigit ayahnya sewaktu bayi) menunggu-nunggu kedatangan ayahnya yang tak kunjung muncul yang rupanya seorang tapol yang menghamili ibunya ketika dibuang ke Pulau Buru. Hamdan yang sudah gede tetapi tetap harus tidur memakai kelambu karena ingin terus merasakan nikmatnya hidup dalam kehangatan rahim ibunya. Boyon, Jems Boyon yang membawa beban dalam hidupnya karena menyandang nama pemberian bapaknya yang diadaptasi dari nama James Bond. Mantan bupati tukang selingkuh yang kehilangan istri dan anak-anaknya kemudian hidup menantang Tuhan. Semua karakter menarik diangkat Akmal dalam cerpen-cerpennya.
Akmal bermain-main membingungkan pembaca dalam "Tewasnya Pengarang Tersantun di Dunia" dan "Prolog Kematian". Bermain romantis dan sendu dalam "Dilarang Bercanda dengan Kenangan" dan "Seekor Hiu di Cangkir Kopi". Bermain kocak dalam "Kelambu" dan terutama "Boyon". Menyengat realita dalam "Lebaran Penghabisan" dan "Lelaki yang Berumah di Tepi Pantai". Dan terasa biasa-biasa saja dalam "Lelaki Gagah" dan "Perkabungan Hujan".
Dalam hampir semua cerpennya, Akmal menebarkan aroma populer yang rupanya digeluti dan sangat dikuasainya. Musik. Film. Bintang film. Tetapi rupanya itu telah menjadi ciri khas Akmal seperti halnya dalam novel Imperia. Satu yang perlu dia cegah dalam karya-karya berikut adalah jangan sampai informasi-informasi yang tidak penting mengambil tempat terlalu banyak dalam cerita karena kegemarannya berbagi informasi. Akmal juga coba menampilkan secara berbeda beberapa cerpennya seperti "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku", "Perkabungan Hujan", dan "Seekor Hiu di Cangkir Kopi", tetapi sebetulnya tidak berdampak pada isi cerita, selain sekedar upaya untuk tampil beda saja.
Tetapi secara keseluruhan, Akmal menyusun cerita-ceritanya secara menarik dengan kalimat-kalimat yang efektif dan cerdas. Teknik penyajian Akmal memberi dampak pada kenikmatan untuk mencernak cerpen-cerpennya.
Akmal bukan jenis pengarang yang gemar bermain simbol, sederhana, tetapi memikat. Sekali jalan, kita bisa menuntaskan seluruh isi antologinya sekaligus menikmatinya.
Walaupun bermain di ranah yang berbeda dengan gaya berbeda, saya mencernak cerpen-cerpen Akmal seenak mencernak cerpen-cerpen Damhuri Muhammad dalam "Laras: Tubuhku Bukan Milikku (Dastan Books, 2005)" atau Agus Noor dalam "Potongan Cerita di Kartu Pos (Kompas, 2006)".
Mungkin sebaiknya Akmal menghindari ungkapan-ungkapan aneh seperti "sepersejuta kerjap mata" (Prolog Kematian). Walaupun paham maksudnya, ungkapan itu terasa janggal. Penyuntingan yang baik tentu saja dibutuhkan juga. Baca hal. 100 (Lebaran Penghabisan). Pada paragraf pertama baris kedua Akmal menulis " Makam ibu Maryati juga dikuburkan tak jauh dari situ". Jelas maksudnya, ibu Maryati yang dikuburkan di situ, bukan makam ibu Maryati.
Tak ada yang baru di bawah matahari (hal. 263), begitu Akmal mengutip kitab Pengkhotbah. Benar. Tetapi segala sesuatu ada saat pertamanya, dan tidak ada yang salah untuk menjadi pencetus saat pertama, termasuk dalam menulis cerpen. Terinspirasi sah-sah saja, tetapi ada batasannya.
Judul : Michelangelo's Secret Judul Asli : Michelangelo's Notebook Penulis : Paul Christopher Penerjemah : Ahmad Muhajir & Nadiah Alwi Penerbit : Dastan Books, November 2006
Membaca Michelangelo's Secret (MS), bagi saya, seperti tengah menghadapi jigsaw puzzle. Cerita dibuka dengan prolog yang sudah pasti merupakan benang merah antara masa lalu dan masa kini dalam novel ini.
22 Juli 1942. Eugenio, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 3 tahun, mendapatkan nama baru Frederico Botte, dan dibawa pergi dari Biara San Giovanni All' Orfenio, Italia Utara. Eugenio adalah anak Eugenio Pacelli, cikal bakal Paus Pius XII, lahir sebagai produk inses dengan keponakannya sendiri, Katherine Maria Teresa Annunzio yang kemudian bunuh diri.
Berdasarkan spekulasi rumor seputar anak yang tak jelas nasibnya ini, Paul Christopher (pseudonim penulis dan aktor Christopher Hyde) menggeber cerita, membaurkannya dalam adonan pembalasan dendam, kegilaan, dan bau darah.
Meloncat ke masa kini, kita diperkenalkan dengan mahasiswa New YorkUniversity merangkap model telanjang dan kurator sebuah museum bernama Fiona Katherine Ryan alias Finn,24 tahun, cantik,berambut merah, prototipe Julia Roberts muda. Gambaran itu mungkin yang menyebabkan Narayan Radhakrishnan (sampul belakang novel), teringat pada Darby Shaw, karakter perempuan dalam "The Pelican Brief" (John Grisham), yang menurut pengakuan Grisham terinspirasi oleh Julia Roberts. Cantik dan berambut merah.
Tanpa sengaja, Finn menemukan lukisan vivisection dari zaman Renaisans, yang diyakininya sebagai bagian dari buku Michelangelo Bounarroti. Penemuan ini menyeret Finn pada 2 pembunuhan sadis menggunakan koummya yang dicuri dari sekolah Greyfriars. Demi mempertahankan hidup, Finn bertemu Michael Valentine yang masa lalunya terkait dengan orang tua Finn. Cerita kemudian merambat pada pembunuhan lain, Vincent Delaney, pastur gadungan, yayasan Grange, Carduss Club di bawah kendali masa lalu dan sosok di balik Archivo Secreto Vaticano.
Paralel dengan pencarian Finn, penulis menghadirkan karakter laki-laki tua berambut abu-abu, yang punya kebiasaan telanjang ketika menyusun kitab suci versinya. Seorang laki-laki gila, sehingga tak heran, dia memberi motif sampul kitabnya berupa salib dengan Bunda Maria tergantung di atas salib dan bukan Yesus. Dari sudut pandang laki-laki inilah, tabir masa lalu disingkapkan, memperlihatkan adegan-adegan di balik perampokan karya seni hasil rampokan yang melibatkan orang Jerman sendiri dan militer Amerika yang sedang berada di sana. Mungkin, sebagian di antara mereka tidak sadar, seorang anak laki-laki pendiam di antara mereka sedang mengamati dan tidak akan membiarkan masa lalu itu terkubur begitu saja.
Dengan cerdas, mengejutkan, penulis menguak misteri, yang mengantar pada pemahaman bahwa Yayasan Grange sesungguhnya adalah titik terakhir dari jalur yang membentang antara 2 benua, antara 2 masa. Paul Christopher rupanya bukan penulis yang murah hati. Walaupun novelnya akan mengingatkan pada novel-novel genre sejenis yang meramaikan literatur Amerika, Paul punya gaya sendiri. Paul seolah-olah memaksa pembaca untuk mengaduk otak sehingga membaca MS benar-benar menjadi sebuah "page-turning adventure" dan kita tidak akan segera dipuaskan oleh deskripsi dan narasi.
Saya menduga Paul "terpeleset" ketika mengungkapkan tentang seorang satpam museum berambut abu-abu yang pada akhir novel dikenal oleh Finn. Di awal novel namanya Willie, di akhir novel namanya Fred. Mestinya keduanya sama, apalagi Paul terus-menerus menyebutkan laki-laki berambut abu-abu dan tentunya ingin pembaca menyimpulkan sendiri.
Dalam novel menggedor benak yang konon judul aslinya "The Last Judgement" kita tidak akan mengenal tokoh Frederico Botte jika tidak membaca dengan teliti. Dialah yang digambarkan telanjang ketika menyusun kitab sucinya, dialah Eugenio atau di Amerika menjadi Fred Thorpe. Saya yakin, dalam novel ini, sebetulnya Amerika bukan tujuan semula ke mana Eugenio hendak dibawa. Peristiwa di perbatasan Swisslah yang sangat menentukan keberadaannya di Amerika. Dan saya pikir karena ada campur tangan CINTA.
Fred dibawa ke Amerika oleh Ilse (Annalise) Kurovsky, yang saya yakin merupakan nama baru dari Suster Filomena yang didapatnya pada prolog cerita. Di perbatasan Swiss itulah hidup Suster Filomena berubah. Kenapa? Dia bertemu Brian Thorpe, yang akhirnya jadi suaminya, sang SERSAN yang diceritakan di masa lalu.
Kalau kita lebih teliti lagi, ketika melakukan kejahatan, Fred Thorpe menggunakan seragam militer bekas ayah angkatnya.
Jika lebih teliti lagi, kita bisa memastikan kalau Brian Thorpe dibunuh oleh Fred sendiri!
MS adalah novel populer, sehingga sah-sah saja novelnya dihiasi dengan hal-hal seperti nama-nama selebritas, film atau tayangan TV, apalagi latar belakang Paul adalah dunia perfilman.
Ketidakjelasan saya temukan antara lain di hal. 276 " Pada tahun 1956, setelah kematian anak laki-laki itu pada umur enam belas tahun, dst...." Apa maksud kalimat itu? Siapa anak laki-laki itu?
Saya baru kenal Paul pada novel ini, tetapi rupanya dia sangat populer di Amerika. Pernah mengamati begitu banyaknya merek (brand) dalam buku ini? Levi's. Gap. Brooks Brothers. Turnbull & Asser. Bally. Bvlgari. Lagerfeld. Timex. Kevlar. Spandex. Tic Tac. Rolex. Hugo Boss. Dan masih banyak lagi. Rupanya Michelangelo's Secret juga menjadi media placement berbagai merek............ Luar biasa!
Satu hal yang mengganjal, baik judul asli maupun judul edisi Indonesia, tidak mencerminkan isi novel.