<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, January 17, 2007
SCREW IT, LET'S DO IT LESSON IN LIFE



Judul Buku : 9 Prinsip Sukses dari CEO Perusahaan Raksasa Inggris
Judul Asli : Screw it, let's do it Lesson in Life
Penulis : Richard Branson
Penerjemah : ?
Penerbit : Ufuk Press, November 2006

 

JURUS-JURUS RICHARD BRANSON

 

Richard Branson adalah CEO dari Virgin Group, perusahaan raksasa yang merambah berbagai bisnis seperti musik, penerbangan, seluler, eceran, internet, minuman, kereta api, hotel dan resort meliputi sekitar 200 perusahaan di lebih dari 30 negara.

Dalam buku yang ditulisnya ini, Richard Branson berbagi pengalaman hidup kepada pembaca seputar bagaimana caranya dia meraih sukses seperti yang ditunjukkannya saat ini. Pria kelahiran tahun 1950 dan ternyata tidak tamat SMU ini dengan terbuka mengungkap bagaimana dia meraih sukses, kegagalan yang pernah dialaminya serta siapa saja yang berperan penting dalam hidupnya.

Kendati percaya dengan cita-cita, sejak muda pria yang dulunya mengidap disleksia ini tetap bersikap praktis menyiasati hidup. Mungkin karena itulah Branson berhenti sekolah pada usia 16 tahun untuk menangani majalah Student yang diterbitkan dengan memanfaatkan ruang bawah tanah rumah orang tuanya di London.

Pada tahun 1970, Branson mendirikan Virgin sebagai pengecer rekaman secara mail order. Menurut Branson, usahanya dinamakan Virgin, karena para pendirinya memang ' virgin ' dalam bisnis. Setelah membuka toko rekaman di Oxford Street London, pada tahun 1972 Branson membangun studio rekaman di Oxfordshire dan meluncurkan album "Tubular Bells" dari artis pertamanya, Mike Oldfied. Album ini menjadi soundtrack film The Excorcist.

Bagi Branson, tidak ada kata "tidak". Oleh karena itu sejak kecil, usia 8 tahun, dia sudah belajar bisnis. Pada suatu Paskah, Branson mengajak temannya, Nik Powell, untuk menanam 400 benih cemara dengan harapan pada musim Natal, 18 bulan kemudian, cemara-cemara itu akan menjadi pohon-pohon Natal dan mereka akan mendapatkan 795 pound sterling. Sayang kelinci-kelinci memakan habis semua benih. Branson membalas kelinci-kelinci nakal itu dengan memburu mereka kemudian menjual dan mendapatkan uang di atas biaya yang sudah dikeluarkan.

Branson merupakan pribadi pemberani, tetapi menurutnya tidak konyol, sehingga dia berani mendirikan sebuah maskapai penerbangan, Virgin Atlantic dan menantang British Airways. Keberaniannya selanjutnya dikukuhkan dengan mendirikan Virgin Trains di tengah-tengah pesimisme publik.

Menengok ke masa kecilnya, Branson menyadari peranan ibunya dalam pembentukan pribadinya. Sejak kecil Branson sudah digembleng untuk berdikari oleh ibunya. Kata ibunya, "Apabila Anda ingin susu, jangan duduk di kursi di tengah padang dengan harapan ada induk sapi datang memberikan ASI-nya kepada Anda." Ketika melakukan usaha ilegal, Branson tertangkap dan harus membayar jaminan. Ibunya menawarkan rumahnya karena Branson tidak punya 30.000 pound sterling untuk membayar jaminan. Dalam perjalanan pulang dari pengadilan dan Branson sudah nyaris menangis, ibunya berkata, " Aku tahu kau telah belajar dari pengalaman ini, Ricky. Tak usah menangisi susu yang sudah tumpah. Hadapi saja yang ada di depan kita dengan lebih baik." Pelajaran yang Branson peroleh adalah dalam berbisnis ia harus bersikap jujur kalau tidak mau mendapatkan akibat yang tidak dikehendaki.

Selanjutnya, Branson menjelma menjadi sosok filantrop dengan lembaga amal seperti Virgin Healthcare Foundation.

Dan seperti yang dianjurkannya, Branson menikmati hidupnya. Tetapi untuk dia menikmati hidup berarti petualangan. Maka bertualang lah dia menggunakan balon udara panas melintasi Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Penuh risiko, tetapi sepertinya dia tidak mau hidup tanpa tantangan, tanpa merasakan gemuruh adrenalin karena ancaman kematian.

Simpulan dari apa yang Branson ungkapkan adalah sesungguhnya kesuksesan ditentukan oleh kita sendiri. Dan kalau mau sukses kita harus berani melakukan apa yang kita yakini. Ada 9 prinsip yang dia kemukakan, dan dia tidak mengabaikan pentingnya sikap menghargai teman dan keluarga; hormat kepada orang lain; selalu berusaha berbuat baik. Dan jujur, tentu saja.

Buku ini tergolong menarik sehingga layak dibaca oleh bukan pebisnis sekalipun untuk menjadi motivator dalam rangka meraih apa yang diinginkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Sekedar komentar untuk edisi Indonesia ini adalah foto-foto yang ditampilkan dalam buku tidak begitu baik kualitasnya, walaupun sesungguhnya tanpa foto-foto itu buku ini masih bisa dinikmati. Hal yang lain adalah tidak dicantumkannya nama penerjemah buku seakan-akan Branson yang menerjemahkan sendiri bukunya ke dalam bahasa Indonesia. Judul buku juga terlalu panjang. Kenapa tidak "9 Prinsip Sukses Richard Branson" saja? Toh petunjuk lain di kaver sudah cukup jelas menyatakan siapa Richard Branson. Dan kemungkinan besar yang akan membeli buku ini adalah orang yang tahu siapa Richard Branson (dan Virgin). Untuk apa membeli buku sejenis ini tanpa mengetahui  apa penyebabnya diterbitkan?


Posted at 11:21 pm by Jody
Make a comment  

Tuesday, January 16, 2007
HARGA SEORANG WANITA


Judul Buku: Harga Seorang Wanita
Penulis: Februana
Penyunting: Dede Azwar Nurmansyah
Penerbit: Dastan Books, November 2006


PEREMPUAN DALAM DUNIA LAKI-LAKI


Harga Seorang Wanita adalah dunia ciptaan Februana tempat perempuan berada di bawah 'hegemoni' dunia laki-laki. Dunia tempat perempuan tidak mendapatkan kehormatan yang layak untuk bisa menentukan hidupnya sendiri. Dunia milik seorang bernama Tini, sang tokoh utama, yang berkelindan dengan dunia berbagai laki-laki.

Ketika penulis-penulis lain menampilkan novel-novel dengan tema dan seting glamur, Februana menciptakan novel menggunakan kemiskinan sebagai benang yang menghubungkan karakter-karakter ciptaannya. Kemiskinan itulah yang memupus kesadaran Jono, suami Tini, sehingga bukannya mencari solusi kehidupan sebagai seorang 'laki-laki' dan kepala rumah tangga, dia malah menggadaikan istrinya.

Februana menggambarkan dengan cermat situasi topografis tempat domisili tokoh-tokoh utamanya yang berdampak signifikan pada kehidupan mereka. Gunungkidul, sekali lagi setelah novel "Kemarau" karya Tuti Nonka, menjadi tempat berangkat cerita Februana ini. Gunungkidul, sebuah keindahan yang tak memberi berkah, tempat kepasrahan menciptakan kecintaan bertahan, dan penderitaan penghuninya meretas kehidupan. Lewat Ibu Tini, penulis melukiskan sejarah kehidupan yang nantinya akan terus bergaung dalam hidup Tini.

Setelah menggadaikan istrinya, kendati Jono tahu tempat dan kepada orang seperti apa dia menitipkan Tini, Jono tidak mau menerima konsekuensi perbuatannya. Penyebabnya bisa saja tabiat Jono yang egois sebagai seorang laki-laki atau kebodohan pria ndeso yang hanya lulus SMP. Itulah dunia Jono.

Sementara itu, Tini terjerumus dalam dunia Parman, dunia laki-laki tempat dendam dan napsu berahi menduduki tempat teratas. Dalam dunia kedua laki-laki bejat inilah, Tini bagaikan pohon karet yang terus-menerus disadap getahnya. Dan dalam dunia yang dipersembahkan dua laki-laki ini, dia menemukan dunia laki-laki yang lain. Dunia Andi, dunia tempat kekayaan bisa melaksanakan apa saja dan menjadikan perempuan sebagai apa saja. Dalam penampilannya yang menawan di mata Tini (dan mata penulis), sebetulnya bagi Andi, dalam dunianya, perempuan tak lebih sebagai pelengkap dan pemuas berahi belaka. Andi berbeda dengan tokoh Rusli dalam "Kemarau", tokoh yang menyelamatkan Mirah, sang perempuan Gunungkidul dari dunia pelacuran kemudian memperistrinya. Sekalipun Rusli digambarkan memiliki kelainan seksual, secara moral dia masih berada pada level di atas Andi.

Saat membaca sampul novel yang cukup menarik ini, kita akan membaca tulisan di bawah judul novel yang mirip tag line dalam film-film. "Tak ada lelaki yang benar-benar mencintai perempuan, yang ada hanyalah: mereka masih membutuhkanmu!" Kalimat yang sudah pasti ditujukan pada pembaca bergender perempuan. Saya tidak menemukan kalimat itu dalam novel (atau mungkin melewatkannya?). Dan itulah yang memang terjadi dalam dunia Tini, hasil kreasi Februana (yang ternyata seorang laki-laki). Dunia yang berkesan bahwa perempuan itu harganya tergantung pada persepsi laki-laki, sehingga pada gilirannya, semakin bejat laki-laki yang masuk dalam hidup Tini, akan semakin 'miring' harganya.

Tetapi dunia Tini yang dijarah-rayah laki-laki, tidak sekadar dunia tempat perempuan kehilangan daya. Dunia Tini adalah juga dunia tempat ketidakberdayaan perempuan menciptakan daya untuk menikmati laki-laki yang diinginkannya. Sekaligus menjadi lokasi tempat 'ketidakberdayaan berubah menjadi keperkasaan karena keadaan (hal. 249'.Dunia yang berkembang seperti inilah yang menjadi katastrofe bagi seluruh tragedi kehidupan Tini, dan memerosokkan Tini dalam dunia laki-laki yang lain, dunia bejat alat negara yang rentan terhadap pelecehan seksual (hal. 26 - 27).

Dari dunia terakhir Tini itulah nyaris seluruh tubuh novel dibangun, disusun dalam rangkaian kilas balik yang berpadu dengan proses katarsis benak dan jiwa Tini yang lara.

Sesungguhnya di ujung novel ini Februana tetap tidak 'memenangkan' perempuan. Tini bahkan dibuat tidak berdaya, tidak punya pilihan, dan masuk lagi dalam kerangkeng dunia laki-laki yang tidak memberi pengharapan buat Tini untuk hidup happily ever after.

Walaupun demikian, novel ini seharusnya mengetuk nurani pembacanya dari kalangan laki-laki, karena menurut saya laki-lakilah sebenarnya target utama sang penulis. Dan sebagai laki-laki mungkin pertanyaan ini akan bergema di hati: dunia seperti apakah yang kuberikan pada perempuan? Dunia Jono? Parman? Atau dunia Andi? Sepertinya tidak ada perempuan sejati menghendaki dunia yang ditawarkan 3 laki-laki ini!

Membaca novel dengan rancangan sampul yang cantik dan jenis huruf yang ramah mata, kita bisa menikmati bagaimana kelancaran Februana bertutur sehingga membuat ceritanya mengalir. Pada transisi adegan kerap ditemui pengaruh penulisan skenario (penulis juga menulis skenario) yang membuat novel ini hadir bak film realitas sosial, jenis film yang dulu sering digarap pekerja seni Indonesia sebelum perfilman Indonesia terpuruk. Bagi yang pernah nonton film-film Indonesia di masa jayanya, mungkin akan teringat pada film sejenis "Penyesalan Seumur Hidup".

Mungkin novel ini tidak akan menjadi pilihan pembaca perempuan yang lebih menyukai dunia glamur seperti chicklit atau metropop, tetapi "Harga Seorang Wanita" akan menjadi sajian gurih bagi pembaca yang tertarik pada realitas sosial yang sering hadir dalam masyarakat kita.

 

Posted at 01:19 pm by Jody
Comments (3)  

Monday, January 15, 2007
ADDICTED TO WEBLOG



ADDICTED TO WEBLOG: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia (Kumpulan Cerpen)
Penulis : Labibah Zain
Penerbit : Pustaka Populer Obor, Agustus 2005

PEREMPUAN-PEREMPUAN LABIBAH ZAIN


Pertama melihat kumpulan cerpen (kumcer) ini, dugaan saya adalah buku ini sejenis teenlit, chicklit, atau metropop. Wajar, mengingat judulnya. Sekarang banyak buku-buku dengan genre yang saya sebutkan diberi judul dengan teknik yang sama.

Baru setelah membacanya, saya sadar bahwa kumcer ini sebetulnya beda dengan jenis-jenis buku tadi. Labibah mencoba memberi warna pada dunia yang rupanya sangat digemari dan dikuasainya, terutama saat dia mengapung-apung dalam dunia maya. Labibah adalah pengarang dengan napas cukup panjang dalam bertutur. Hal itu bukan karena dia sudah menetaskan banyak telur, eh, karya, tetapi karena Labibah menulis dengan narasi panjang-panjang. Labibah membentuk aliran sungai dari pegunungan inspirasinya, berkelok-kelok tenang menggarisi dataran menuju jeram-jeram yang, di sinilah pesona Labibah, mengejutkan. Sedikit saya teringat O. Henry yang doyan membenturkan granat di benak pembaca di ujung cerpen-cerpennya.

Sesungguhnya judul kumcer ini hanya mewakili 1 cerpen saja, yaitu cerpen dengan judul sama. Cerpen-cerpen lain sama sekali tidak membicarakan ketagihan ber-weblog. Kalaupun menyinggung internet, Labibah hanya menggunakan sebagai latar penceritaan saja.  Sisanya malah tidak nyambung. Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia, Perempuan dan Lelaki Maya, Perempuan itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase merupakan pengungkapan Labibah bagaimana dunia maya memberi efek yang bisa merugikan (dan menguntungkan) penghuninya. Dalam dunia maya nyaris semua tidak jelas. Apa saja bisa terjadi di sana. Ketagihan, perselingkuhan, kebohongan, tipu muslihat, teror, dan penyimpangan seksual. Di sinilah kelebihan Labibah bermain-main dengan cerkas.

Seorang istri ketagihan weblog sampai mengabaikan rumah tangga (Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia). Saking ketagihannya menjadi blogger, suaminya ketakutan. Coba simak kata-kata suaminya sebagai narator cerpen ini: "Aku takut suatu saat nanti, dia akan making love denganku sambil ngeblog juga. Bibirnya akan menciumi leherku, tangan kirinya akan mengelus-elus punggungku tetapi matanya akan memandangi monitor dan tangan kirinya akan memegang mouse untuk merefresh weblognya! Dan ketika aku akan mencapai puncak kepuasan, tiba-tiba dia akan berteriak menyuruhku menghentikan permainan karena hasil refreshannya menandakan ada komentar baru yang harus ditanggapi segera!" (hal. 21).  Tetapi kemudian, ternyata weblog yang dibuat istrinya bisa juga bermanfaat.

Di dunia cyber, Sinta terus merahasiakan diri dan menikmati pertemanan maya dengan seorang pria bernama Arjuna. Seorang pengunjung dunia maya diceritakan senang merusak relasi dalam dunia maya. Ternyata keduanya berhubungan dengan kehidupan Sinta. Sebuah rekayasa kebetulan, tetapi mengasyikkan (Perempuan dan Lelaki Maya).

Perempuan Itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase menceritakan 2 hubungan antar manusia dalam dunia maya. Salah satunya tidak mau bersikap terbuka. Dan bukan hal yang mengherankan, karena mereka menyimpan rahasia di balik kiprah yang serba maya.

Samar saya bisa menangkap Labibah sedang bermain simbol ketika menuturkan Perempuan Di Sudut Taman. Dalam cerpen yang menurut saya biasa-biasa saja dan cenderung membosankan ini, apalagi dengan sungai ciptaan Labibah yang panjang, rupanya Labibah sedang menuturkan sebuah komunitas dalam dunia maya dengan seorang tokoh perempuan berperilaku tidak menyenangkan di dalamnya. Tetapi entahlah, kurang jelas sih.......

Dalam Perempuan Pengusung Tradisi Habibah, seorang syarifah sesuai ketentuan harus menikah dengan seorang habaib. Dikhianati seorang habaib, Habibah pacaran dengan seorang ahwal, tetapi kemudian zuwad dengan Ucin tanpa cinta untuk menghormati tradisi. Setelah anak-anaknya dewasa, Liya, salah seorang anaknya mengulangi pengalaman ibunya, tetapi dengan cara berbeda. Saat itu, Habibah bermetamorfosis dari Perempuan Pengusung Tradisi ke Perempuan Perombak Tradisi. Suatu gugatan kepada tradisi yang ada, tetapi bukan gugatan yang meledak-ledak, biasa saja.

Amellia, 17 tahun, gadis penggemar boneka berasal dari keluarga broken-home, asimilasi wanita keturunan Cina dan pria keturunan Arab. Gadis ini bergaul dengan seorang laki-laki bernama Andre dan hamil. Labibah berhasil menguraikan kisahnya dengan gaya remaja, sesuai usia Amellia, tetapi kemudian tetap menggunakan gayanya, menohok di ujung cerita (Perempuan, 17 Tahun).

Perempuan Dalam Kegelapan namanya Petty. Petty  tidak merasa bahagia dengan kehidupan rumah tangga bersama Singgih. Singgih terlalu sibuk kuliah sehingga mengabaikan istrinya. Bahkan dalam bercinta Singgih tidak pernah peduli istrinya puas atau tidak. Petty ketemu Manas, meninggalkan suaminya, dan beruntun Labibah menimpakan azab dalam hidup Petty. Kasihan si Petty gara-gara ulah sang dalang.

Membaca kumcer Labibah sesungguhnya cukup mengasyikkan, tetapi Labibah tetap harus memerhatikan gramar. Di beberapa tempat masih terlihat kebingungan membedakan di apakah sebagai awalan atau preposisi (baca saja cerpen Perempuan di Sudut Taman). Kemudian masih adanya susunan kalimat yang kacau. Perhatikan saja halaman 70 (Perempuan Dalam Kegelapan) paragraf pertama yang cukup panjang, baris 2 terakhir, temukan kelebihan pemakaian kata "cepat" di sana. Pada halaman 77 malah Labibah menulis bahwa "Mah adalah kepanjangan dari mamah" (bukannya malah kependekan?). Sesungguhnya cerpen-cerpen Labibah perlu disunting supaya lebih bersinar lagi. Napas panjang dalam bertutur memang punya efek pada terciptanya kalimat-kalimat rancu. Dan Labibah sang penggemar nama Sinta yang agak doyan berkhotbah dalam ceritanya suka pada yang panjang-panjang.

Kumcer ini hanya berisi 8 cerpen, tergolong sedikit walau diimbangi dengan cerpen yang 'panjang-panjang'. Berikutnya, mungkin Labibah bisa bermurah hati menampilkan cerpen yang sedikit lebih banyak, dan dengan kemahiran mengecoh serta penyuntingan yang lebih baik tentu saja. Sebagai penulis, seharusnya sebelum karyanya dipublikasi dialah yang harus melakukan penyuntingan perdana. Editor hanya akan memberi sentuhan biar lebih berkilau.

Posted at 12:04 pm by Jody
Comments (3)  

Saturday, January 13, 2007
ALABASTER BOX (2)


ALABASTER BOX



Tetapi Guru datang. Menghapus spekulasi yang berkembang bagaikan jalaran api di Yerusalem. Enam hari sebelum Paskah, Guru singgah di Betania. Lazarus telah menyiapkan perjamuan seperti yang ia rencanakan untuk sang Guru dan rombongannya. Seperti kebiasaannya, Marta, sang juru masak, spesialis dalam urusan rumah tangga, langsung sibuk melayani.

Dalam kamarnya Maria menimang buli-buli pualam, harta kekayaannya. Buli-buli pualam itu berisi setengah kati minyak narwastu murni yang dibuat dari akar serai wangi. Minyak yang sangat mahal, dibeli sebagai persiapan untuk hari besarnya yang tidak kunjung datang. Jika dijual lagi, harga minyak wangi dalam buli-buli pualam mencapai 300 dinar. 300 dinar berarti upah pekerja harian selama kira-kira 1 tahun.

Ada perasaan malu menyergap. Laki-laki itu adalah gurunya. Bukan suaminya. Bukan mempelainya.

Tetapi untuk semua yang telah dilakukan laki-laki itu dalam hidupnya, dalam hidup keluarganya, lebih mahal daripada minyak narwastu ini.

Orang-orang tidak akan mengerti. Orang-orang akan berspekulasi. Menghakimi. Mereka cuma tidak memahami betapa indahnya kehidupan setelah Guru datang. Betapa berharga sukacita yang ditaburkannya. Betapa dahsyat pengharapan yang diberikannya.

Selain itu, jauh di dasar hatinya, ada kepekaan sebening kaca. Dia belum tahu apa itu. Kelak memang dia akan tahu. Tetapi saat ini belum jelas semuanya. Kabur. Bahkan samar pun tidak.

Dia melangkah. Pelan-pelan sambil berusaha menghalau bimbang yang menggoda.

Dan dia merasakan betapa semua mata tertuju kepadanya. Begitu gaduh pertanyaan berkelebat di semua mata itu.

Apa yang akan dilakukan perempuan ini?

Untuk apa buli-buli pualam itu?

Dia sudah seutuhnya hadir dalam ruangan perjamuan itu. Aroma masakan yang lezat telah memagari ruangan menjadi arena untuk mengandaskan lapar. Dia merendahkan tubuhnya begitu tiba di depan sang Guru.

Sang Guru menatapnya, seperti tahu langkah selanjutnya yang akan dilakukannya.

Dan segera jelas bagi semua yang hadir dalam ruangan perjamuan itu. Terdengar denting leher buli-buli pualam yang dipecahkan. Seketika ruangan bagaikan berubah, semerbak oleh semburan aroma narwastu yang luar biasa wangi. Aura menggetarkan segera mengerubungi semua orang.

Tidak ada suara yang keluar ketika Maria melakukan tindakan itu. Sembari berlutut dia meminyaki kaki Gurunya. Dibalurkannya narwastu sampai kedua kaki yang kasar itu melembut, bersih dan harum. Kemudian Maria menyingkapkan kerudung yang dipakainya sehingga rambutnya yang hitam panjang bergulir bagaikan air terjun. Digenggamnya rambutnya itu dan digunakan untuk menyeka kaki gurunya yang basah.

Semerbak narwastu makin merebak. Seorang bernama Yudas Iskariot, sang bendahara yang doyan ngutil tersentak oleh aroma dahsyat itu dan tidak bisa menahan dirinya. Apalagi saat matanya membentur demonstrasi kasih dari perempuan yang dianggapnya bodoh itu. Setelah meminyaki kaki Guru dan menyeka dengan rambutnya, Maria mencurahkan sisa narwastu di atas kepala Guru.

"Untuk apa pemborosan ini?"

Maria terperangah. Yudas menyebut apa yang dia lakukan pada Gurunya sebagai pemborosan! Bukan main. Betapa pelitnya orang ini. Ini adalah gurunya sendiri. Yang seharusnya dihormati dan dihargainya dengan kasih.

(Kelak perempuan itu tahu bagaimana pria galak ini telah terlibat dalam kesepakatan untuk membunuh gurunya)

"Minyak ini dapat dijual 300 dinar lebih. Dan uangnya bisa diberikan kepada orang-orang miskin!" Suara Yudas tajam melanjutkan.

Pandangan Guru akhirnya beralih dari Maria kepada Yudas. Sejenak hening membentang. Lalu Guru berkata, " Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan hatinya?"

Yudas menggeram tidak jelas.

"Orang-orang miskin akan selalu ada padamu. Dan kamu dapat menolong mereka jika kamu mau. Tetapi aku.... Aku tidak akan selalu bersama-sama dengan kamu."

Hening. Yudas bungkam menahan kesal. Yang lain memperhatikan secara saksama.

"Dia telah melakukan apa yang dapat ia lakukan. Ia telah meminyaki aku sebagai persiapan untuk penguburanku."

Maria tersentak. Mimpinya menyergap benaknya. Penguburan! Kematian! Kesedihan segera melandanya dan membuat air matanya merebak.

"Aku berkata kepada kalian semua, sesungguhnya kelak di mana saja nanti berita sukacita diberitakan di seluruh dunia, apa yang dia lakukan akan disebut-sebut juga untuk mengingat dia...."

(Kelak yang lain yang hadir di situ sadar, mereka sendiri bahkan tidak pernah memberikan lebih kepada Guru mereka. Saat akhirnya sang Guru mati, tidak ada waktu untuk mereka meminyakinya.)

Tetapi saudara Lazarus ini telah melakukan jauh sebelum saat itu tiba. Dia telah menerima isyarat dengan kepekaan nuraninya. Pengurapan yang sungguh sempurna. Pada waktu sang Guru mati, tersula di salib, dengan hati yang terluka, perempuan ini akan tetap bersyukur telah mendapatkan kesempatan langka ini.

Ketika Gurunya mati, Maria tidak hadir di bukit tandus itu, isyarat yang telah lebih dahulu ditangkapnya. Dia bersama kedua saudaranya harus bersembunyi dari ancaman pembunuhan.

* * *

"Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah,

Yang Mahakuasa, yang sudah ada

dan yang ada dan yang akan datang."

Siang dan malam empat makhluk bersayap enam itu tidak henti-hentinya berseru memuji-muji sembahan mereka yang agung dan mulia. Sang Raja duduk di tahtaNya yang indah seperti permata yaspis dan sardis, di bawah lengkungan pelangi yang gemilang bak zamrud. Lautan kaca di hadapanNya berpendar menggemakan puji-pujian itu.

Sang Raja mengangkat tanganNya dan seketika puji-pujian itu terhenti.

Ada malaikat yang bertanya, " Ada apa Yang Mulia?"

Sang Raja segala raja menggeleng. Wajahnya yang dahsyat membayangkan harapan. Malaikat itu disergap kemelit.

"Saya sedang menunggu. Saya sangat rindu mendengar denting itu. Denting retak buli-buli pualam yang siap pecah. Aroma harum itu. Saya pernah menghirup aroma itu dahulu. Dari buli-buli pualam yang dipecahkan seorang perempuan bernama Maria dari Betania........."

 

Posted at 12:31 pm by Jody
Make a comment  

Friday, January 12, 2007
GELANG GIOK NAGA


Judul buku: Gelang Giok Naga
Penulis: Leny Helena
Penyunting : M. Irfan Hidayatullah
Penerbit : Qanita, November 2006


 KISAH CINTA YANG TERTUNDA BERSEMI


"....akan kucari kau walau seribu tahun lagi...."

Gelang Giok Naga merupakan ekspansi dari sebuah novelet berjudul Gelang Giok, pemenang harapan Sayembara Mengarang Cerber Femina tahun 2004. Novelet dijadikan novel oleh penulisnya untuk memperluas ruang terbatas yang disediakan majalah. Sekalipun hanya menjadi pemenang harapan, jangan menduga bahwa novel Leny Helena ini sebagai karya yang kurang menarik. 

Gelang Giok Naga dibuka dengan hikayat Naga yang diceritakan seorang ayah kepada anaknya, yang tentu saja kemudian bisa dihubungkan dengan ayah dan anak pada epilog, tentang betapa pentingnya peranan naga bagi masyarakat Cina.

Leny Helena kemudian menggeserkan ceritanya jauh ke tahun 1723 ke dalam kehidupan pribadi Yang Kuei-Fei, seorang selir kaisar Cina Jia Shi yang disebut sebagai Sang Putra Langit. Intrik yang berkecamuk dalam istana membuat Yang Kuei-Fei melarikan diri bersama Kasim Fu, dengan tidak lupa membawa lari perhiasannya, termasuk gelang giok dengan hiasan naga emas hadiah kaisar.  Diceritakan bahwa Yang Kuei-Fei melahirkan anak kaisar, kemudian mati karena keganasan penyakit yang kemungkinan sekarang dikenal sebagai kanker. Yang Kuei-Fei mati di sisi laki-laki yang dicintainya, Kasim Fu. Sebelum mati Yang Kuei-Fei berkata, "....akan kucari kau walau seribu tahun lagi.... Jika saat itu tiba, akan kukatakan betapa aku sangat mencintaimu."  Perkataan inilah sesungguhnya yang merupakan esensi dari novel cantik ini. Untuk selanjutnya, hanyalah rangkaian peristiwa menuju pada pemenuhan takdir kata-kata Yang Kuei-Fei.

Dalam novel ini, Leny bagaikan kutu loncat, meloncat-loncat dengan gesit. Karena pada lembar berikutnya, Leny meloncat lagi ke tahun 1935, memperkenalkan kepada pembaca dua perempuan bernama A Sui dan A Lin. Pada saat yang sama, Leny juga mengganti perspektif penceritaan dari orang ketiga ke orang pertama. Dengan cara yang berbeda, A Sui dan A Lin, akhirnya tiba dan siap menghabiskan hidup mereka di Indonesia, tepatnya di Batavia. Sebelum menuju Batavia, ibu A Sui memberikan warisan ibunya, gelang giok berhias naga emas.

Apa yang diungkapkan ibu A Sui mengenai latar belakang gelang giok itu terdapat  ketidakcocokan dengan kisah Yang Kuei-Fei yang dibeber sebelumnya. Pada waktu Leny mengisahkan tentang Yang Kuei-Fei di awal-awal novel, kita akan memperoleh gambaran bahwa Yang Kuei-Fei sudah hamil ketika lari dari istana, mencintai Kasim Fu yang lari bersamanya, kemudian melahirkan anak kaisar. Perhatikan peralihan tahun 1723 (hal.21) dan 1724 (hal.45). Tetapi pada halaman 81, diungkapkan ibu A Sui (yang tentu saja dari Leny sendiri sebagai pengarang), bahwa Yang Kuei-Fei menyuap Kasim Fu untuk menyelundupkannya keluar istana dan lari ke selatan, menikah dengan pria setempat dan beranak pinak.

Perjalanan kehidupan tidak disangka mempertemukan A Sui dan A Lin, diikuti dengan berpindah tangannya gelang giok naga. Anak mereka menikah, dan lahirlah Swanlin, menyandang nama gabungan kedua neneknya pada tahun naga, 1976.

Lena lalu melompat lagi ke tahun 1986 dan menambahkan ke dalam novelnya satu tokoh aku lagi, yaitu Swanlin. Selanjutnya, tiga 'aku' berganti-ganti menuturkan cerita menuntun pembaca ke akhir cerita melewati tahun demi tahun.

Walaupun menggunakan 3 tokoh 'aku', tapi gaya seperti ini sama sekali tidak membuat pembaca bingung, malah enak dinikmati. Leny dengan pintar mengantar ketiga narator membahasakan diri mereka dalam memandang hidup. Satu kelebihan Leny, dengan lancar dan lucu, dia memaparkan pandangan hidup, karakter dan gaya bicara tokoh-tokohnya dengan pas. Kehidupan Swanlin dielaborasi Leny sesuai dengan usianya beserta kisah cinta segi tiganya. Leny menggunakan dialog yang tepat untuk remaja metropolis tanpa mengurangi nilai cerita yang mau disampaikan.

Melalui karakter Swanlin inilah Leny, yang rupanya berdarah Cina, mengungkapkan suaranya mengenai kehidupan Cina di Indonesia yang kadang tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Swanlin adalah citra idaman orang Cina untuk hidup bergaul di bumi Indonesia tanpa dicurigai. Sembari melakukan itu, Leny juga menyentil budaya, termasuk budaya Cina, yang didominasi laki-laki walaupun dengan kadar rendah.

Setelah menikah dengan laki-laki yang dicintainya (silahkan baca dan tahu siapa), keduanya pergi ke Kota Terlarang. Di sana, Swanlin menemukan dirinya, merasakan suatu deja vu, jalan menuju ke masa lalu. Siapakah dirinya sebenarnya? Apa yang sedang menunggu di depan kehidupannya? Di sinilah kita dapat melihat benang yang dipintal dari masa lalu menuju masa kini, menggulung dengan sangat jelas. 

Leny Helena tampil sebagai pencerita yang mahir. Dia memaparkan realita yang saling berkaitan dengan pintar, mendeskripsikan segala sesuatu dengan baik. Satu yang mengganjal adalah cerita Leny mengenai pertemuan A Lin dengan perempuan bernama Lai Choi San. Pertemuan itu diceritakan terlalu panjang. Leny mungkin bermaksud untuk mengungkapkan bahwa sejak dulu sebetulnya perempuan sudah tidak kalah dengan laki-laki, termasuk dalam budaya Cina. Tetapi kalau Leny bisa berpanjang-panjang dalam hal itu, tentu saja Leny harus bisa juga memberi plot pada kehidupan A Lin selanjutnya sampai perempuan itu terdampar di sebuah kandang babi di Batavia. Karya Leny ini adalah sebuah novel, dan novel memiliki ruang penceritaan yang sangat luas dibanding novelet misalnya. Leny yang paling tahu kan dengan karakter-karakter ciptaannya? Baca saja kelincahan Leny menceritakan metamorfosa kehidupan A Lin yang luar biasa!

Pada akhirnya, Gelang Giok Naga adalah kisah tentang pencarian dan penemuan cinta yang terlambat bersemi, kisah takdir selir kaisar yang rupanya memang tragis.

Walaupun demikian, Leny telah sukses menghasilkan karya yang tidak mudah dilupakan, sebuah karya yang cantik, yang sejatinya akan lebih cantik lagi jika Leny bisa lebih memperhatikan presisi dalam segala aspek novelnya.


Posted at 11:19 am by Jody
Comments (2)  

Tuesday, January 09, 2007
THE CHRISTMAS SHOES


 Judul buku : The Christmas Shoes (Sepatu Natal)
Penulis : Donna VanLiere
Penerjemah : Joas Adiprasetya
Penyunting : Mariani Sutanto
Penerbit : Gradien Books, November 2005 (Cetakan I)

 

SEPATU YANG MENGUBAHKAN HIDUP

 

"Sir I want to buy these shoes/For my Momma, please/It's Christmas Eve and these shoes are just her size.

Could you hurry, sir/Daddy says there's not much time/You see she's been sick for quite a while/And I know these shoes will make her smile/And I want her to look beautiful/If Momma meets Jesus tonight"

Demikianlah refrein lagu "The Christmas Shoes" karya Eddie Carswell dan Leonard Ahlstrom (New Song) yang mendasari penulisan novel dengan judul sama oleh Donna VanLiere, seorang penulis wanita kelahiran Northeastern Ohio. Donna juga menulis beberapa buku bertema Natal seperti The Christmas Blessing dan The Christmas Hope. Donna telah menerima penghargaan seperti Retailer's Choice Award for Fiction, Dove Award, Silver Angel Award, dan meraih nominasi Gold Medallion Book of the Year.

Novel mungil ini dibuka dengan adegan saat Robert Layton pergi ke makam ibunya pada suatu musim dingin di hari Natal tahun 2000. Di sana dia mengenang hidupnya yang bahagia, yang secara langsung dipengaruhi oleh pertemuannya dengan seorang anak laki-laki bernama Nathan Andrews pada tahun 1985. Robert Layton tengah berada pada puncak kariernya sebagai ahli hukum. Sukses, kaya, memiliki istri yang cantik dan 2 anak perempuan. Robert telah memiliki segalanya. Tetapi pada saat yang sama, dia semakin terpisah dengan keluarganya, bahkan tanpa ia sadari mulai mengabaikan dirinya sendiri.

Ketika berbelanja hadiah Natal buat keluarganya tanpa ia tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan dari dia, Robert bertemu Nathan. Nathan mau membeli sepatu buat ibunya, sebagai hadiah Natal. Hadiah Natal untuk ibunya sangat berarti bagi Nathan karena ayahnya, Jack Andrews, telah mengatakan bahwa ibunya yang sakit kanker mungkin akan meninggalkan mereka malam itu dan Nathan ingin membeli sepatu buat ibunya dengan alasan, "Aku ingin ibu tampak cantik ketika berjumpa dengan Yesus."

Tetapi uang Nathan tidak cukup. Entah bagaimana, Nathan tiba-tiba telah berhadapan dengan Robert dan membangun komunikasi dengan sang ahli hukum yang skeptis ini. Dan seakan-akan ada yang menggerakkan, Robert memberikan uang guna mencukupkan harga sepatu yang diinginkan Nathan.

Robert terpesona. Sepatu Natal? Apa makna benda sepele itu baginya? Tetapi jelas Nathan sangat mengenal dan mencintai ibunya. Robert tersadar akan realita bahwa sesungguhnya dia tidak mengenal keluarganya. Bahkan istrinya sudah mau berpisah dengannya. Sepatu Natal itu memang bukan benda yang mahal bagi Robert, tetapi Robert harus mengakui sepatu Natal yang sederhana dan tampak tak berarti di tangan anak kecil yang mencintai ibunya, telah mengubah hidupnya.

Tahun-tahun berlalu, Robert tidak pernah bertemu lagi dengan Nathan, sampai Natal tahun 2000, di komplek pemakaman di mana ibunya dikuburkan, Robert bertemu seorang pemuda yang katanya kuliah di tempat yang sama dengan tempat kuliah Robert dulu. Pemuda itu tengah mempelajari onkologi (pembaca pasti akan memahami mengapa pemuda ini mempelajari bidang ini).

Dan kenangan sepatu Natal itu menghampiri Robert lagi.

Sebuah kisah indah dan mengharukan, yang jika disimak dengan penuh perasaan, kita tidak akan menyadari mata kita telah berkaca-kaca. Sama sekali bukan kisah yang cengeng. Tetapi kisah yang melembutkan hati siapa saja. Dituturkan dengan sederhana tanpa menyebabkan kerut di kening pembaca. Tidak heran kalau akhirnya novel ini difilmkan dengan Rob Lowe sebagai Robert Layton dan Neil Patrick Harris sebagai Nathan Andrews.

Satu pesan yang hendak disampaikan oleh Donna adalah bahwa sesungguhnya hidup ini berisi mukjizat-mukjizat yang berlangsung setiap hari tetapi sering tidak kita sadari; mukjizat-mukjizat yang diciptakan Tuhan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Tidak semua mukjizat harus kelihatan dan kedengaran megah. Mukjizat itu bisa berupa hadiah sepatu Natal dari hati putih seorang anak kecil bernama Nathan. 

Satu poin penting yang patut diacungi jempol buat edisi Indonesia ini adalah The Christmas Shoes diterjemahkan dan disunting dengan baik. Kita tidak akan menemukan susunan kalimat aneh atau kesalahan cetak. Dan bagi saya, walaupun hari Natal merupakan momen yang tepat, tetapi buku ini tidak hanya harus dibaca pada hari Natal mengingat pesan indah yang disampaikan yang tidak hanya berguna di hari raya.

 

Posted at 07:10 pm by Jody
Comments (2)  

ALABASTER BOX (1)


(Cerpen ini khusus saya susun (dengan nekat) untuk Stevi, Gleadys, dan keluarga kecil mereka. Ini adalah cerpen kedua dari sebuah trilogi).


ALABASTER BOX

 

Betania, kira-kira 2 mil dari Yerusalem.

Perempuan itu terbangun dari tidurnya sambil menangis. Marta, adiknya, memeluknya. Untuk kesekian kalinya, kakaknya terbangun sambil menangis. Dan tangisan kakaknya, pasti akan mengusik tidurnya, sekalipun tubuhnya terasa capai.

"Ada apa, Maria? Kau bermimpi lagi?"

Maria menangis, mengembuni pundak Marta dengan air mata.

"Aku memimpikan hal itu lagi!"

"Kau terlalu banyak mengkhayal, Maria. Itulah sebabnya terbawa mimpi. Mungkin kau harus lebih banyak di dapur untuk mengisi waktumu."

"Aku melihat palang besar itu. Pasak-pasak. Palu. Darah. Tubuh penuh darah. Aku melihat Guru kita. Penuh darah!"

"Hush! Itu hanya mimpi. Tidak lama lagi Guru akan datang ke Yerusalem. Dia pasti akan singgah di rumah kita. Cobalah berdoa kepada Hashem sebelum tidur lagi, supaya mimpi tak mengusikmu."

Jauh setelah adiknya kembali terlelap, Maria tetap terjaga. Wajah Guru mengambang di permukaan ingatannya. Guru telah pergi ke Efraim setelah membangkitkan adik laki-lakinya, Lazarus, yang telah mati empat hari. Imam-imam kepala dan orang Farisi telah bersepakat untuk membunuh Guru. Maria menjadi bimbang apakah Guru akan datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Sebuah tradisi yang setiap tahun mereka rayakan untuk mengenang pembebasan dari tanah Mesir. Musa telah membawa bangsanya keluar dari tanah Mesir setelah berbagai keajaiban terjadi di sana, sampai pada kematian anak sulung raja yang membuat Firaun takluk.

Maria mencoba tidur lagi. Tidak mungkin Guru membatalkan acara Paskah kali ini. Lazarus telah merencanakan perjamuan bersama jika Guru singgah di Betania. Mereka berteman, sudah seperti saudara. Orang tua Guru menikah di Betania, di rumah milik Imam Zakaria dan istrinya Elisabet. Betania sudah sangat akrab dengan kehidupan Guru sejak Hashem memutuskan untuk turun ke dunia. Sebagai kaum Yahudi, Guru tidak mungkin melewatkan Paskah ini.

Hanya keadaan memang sangat rentan, menegangkan. Semua murid tahu bagaimana semua yang dilakukan Guru telah memicu kegemparan di antara kaum Farisi dan para imam. Guru memang seorang dengan pribadi lembut. Tetapi pada saat tertentu dia bisa menjadi setegas baja. Tidak ada yang sanggup melerainya jika dia meyakini suatu hal ada pada tempat yang salah.


 (Bersambung)

Posted at 04:45 pm by Jody
Make a comment  

THE TEMPLAR LEGACY


Judul Buku: The Templar Legacy (Warisan Templar)
Penulis: Steve Berry
Penerjemah: Esti Ayu Budihabsari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006


RANCANGAN BESAR DI RERUNTUHAN PURI


Setelah Dan Brown mengembuskan badai ke bangunan iman Kristen dengan Da Vinci Code yang mengusung tesis basi Yesus menikahi Maria Magdalena, Steve Berry penulis yang antara lain telah menghasilkan novel The Amber Room dan Romanov Prophecy, ikut-ikutan memicu badai yang baru.

The Templar Legacy, novel Berry keempat, sangat jelas bertujuan untuk meletupkan kontroversi baru.

Sang pengacara membuka novelnya dengan penyaliban ketua Ordo Templar ke-22, Jacques de Molay oleh Guillaume Imbert, di kulminasi kehancuran ordo. Setelah kekalahan di Acre (1291) menyusul jatuhnya kerajaan Kristen Yerusalem ke tangan penguasa Muslim, Saladin (1187), ordo ternyata berkembang di Eropa menjadi pusat pasar uang. Raja Philip IV yang ingin menguasai kekayaan Templar melemparkan tuduhan bidah kepada ordo  dan mengakibatkan penangkapan anggota ordo.  Jacques de Molay kemudian dibakar di tiang pancang dan ordo dibubarkan oleh Paus Clement V.

Di masa kini, Stephanie Nelle, yang telah kehilangan Lars, suaminya dan Mark, anaknya, datang ke Kopenhagen, Denmark karena seseorang mengirim  jurnal suaminya kepadanya. Cotton Malone, mantan agen lapangan Stephanie di Departemen Kehakiman, yang telah malih profesi sebagai pedagang buku antik di Kopenhagen bertemu dengan Stephanie setelah perempuan itu jadi korban rampok.

Ternyata ordo masih eksis. Tanpa diketahui khalayak, anggota ordo yang tersisa mengundurkan diri ke biara di Pyrenees, menyamar sebagai komunitas biara biasa. Kematian ketua ordo menimbulkan sengketa di biara, antara Seneschal (orang penting ke 2 setelah ketua) dengan marshal bernama Raymond de Roquefort. Bersama Geoffrey, biarawan ordo yang lain, Sang Seneschal melarikan diri dari biara. Tujuan pelarian mereka, sekaligus menjadi tujuan Stephanie dan Cotton.

Raymond ternyata memiliki ambisi untuk mengembalikan kejayaan ordo. Dan untuk mencapai tujuannya, dia membiarkan Stephanie-Cotton masuk dalam rencananya. Dibayangi Raymond, Stephanie dan Cotton bersama sang Seneschal berusaha menguak apa sebenarnya yang dimaksud dengan Rancangan Besar (The Great Device).

Pencarian mereka yang berpatokan pada jurnal Lars melibatkan serangkaian pribadi dengan rahasia mereka masing-masing seperti Henrik Thorvaldsen, Cassiopeia Vitt, dan Royce Claridon. Perlahan-lahan mereka berhasil menyingkapkan apa yang terjadi di masa lalu di pedesaan Prancis yang melibatkan sosok bernama Berenger Sauniere, sebagai rambu-rambu menuju kepada penemuan Rancangan Besar.

Cerita mencapai klimaks di sebuah situs Templar dekat St. Aguluos. Rancangan Besar ternyata telah menanti di sana bertahun-tahun lamanya. Rancangan Besar adalah bukti sebuah rahasia yang berpotensi menghancurkan iman sebuah agama terbesar di dunia. Rahasia inilah yang dikejar Raymond untuk membangkirkan kembali kejayaan ordo.

Persis seperti Da Vinci Code, hanya dengan karakter antagonis dan rahasia yang berbeda. Rahasia mengenai Rancangan Besar itulah sebenarnya yang menjadi daya tarik novel ini, menciptakan tanya di benak pembaca dan mencetuskan ketegangan.

Selain Raymond, tokoh-tokoh lain berkesan biasa-biasa saja. Stephanie dan Cotton jelas bukan duet yang menarik. Sang Seneschal walaupun bukan karakter yang menarik, tetapi memberi warna dengan pengungkapan mengejutkan siapa dia sebenarnya di tengah novel. Tokoh ketua yang baru meninggal ternyata telah menjadi screenplayer untuk sebuah drama yang penting bagi ordo.

Cerita mengambil setting Eropa tentu saja cukup menarik. Tetapi perihal Cotton Malone yang menjadi pedagang buku antik di Kopenhagen terasa dipaksakan kendati penulis menjabarkan latar belakangnya. Kenyataan itu memang sengaja dirancang Berry supaya Stephanie bisa bertemu Cotton di Kopenhagen, melindungi nenek nekat ini.

Secara keseluruhan, The Templar Legacy cukup menarik. Namun, berulang dihadapkan pada tema kontroversi yang berporos pada eksistensi Yesus, akan membuka kemungkinan terciptanya kebosanan. Sebagai intinya, novel ini sebenarnya tidak lebih dari upaya Berry untuk menggemakan kembali pernyataan aneh Paus Leo X  yang berbunyi "Selama ini mitos Kristus sudah sangat berguna bagi kita."

 

Posted at 12:15 pm by Jody
Make a comment  

Sunday, January 07, 2007
A DOG'S LIFE



Judul Buku: A Dog's Life (Kisah Seekor Anjing, Autobiografi Anjing Telantar)  
Penulis : Ann M. Martin
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2006

 

KISAH SEEKOR ANJING

 
Setelah lama tidak membaca literatur fiksi mengenai anjing, beberapa tahun lalu saya membaca buku tentang anjing yang bersahabat dengan anak-anak, yaitu Shiloh ( Phyllis Reynolds Naylor) dan Because of Winn-Dixie (Kate DiCamillo). Kedua cerita itu sangat sederhana, karena memang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Belakangan, dalam antologi cerpen karya Avi Basuki, Tango (Gramedia, 2006), saya menemukan sebuah cerpen tentang seekor anjing berkaki tiga berjudul Anjing Kecil yang Tinggal Sendiri. Ternyata kisah tentang anjing masih juga digarap oleh penulis fiksi. Ketiga judul yang saya sebutkan berkisah tentang anjing yang dituturkan menggunakan perspektif orang ketiga. Berbeda dengan ketiga judul tersebut, A Dog's Life karya Ann M. Martin merupakan kisah seekor anjing yang sangat menarik, baik cerita maupun pemakaian orang pertama sebagai narator. Dan 'orang pertama' tersebut ternyata seekor anjing.

Segera saya teringat pada cerpen berjudul "Perempuan dan Tiga Ekor Anjing", dari antologi cerpen seorang penulis muda berbakat, Anton Septian, berjudul "Pangeran Kegelapan dan Putri Mimpi" (Bentang, 2006). Cerpen ini mengisahkan tiga ekor anjing yang memangsa kekasih  perempuan pemilik mereka karena cemburu. Dengan penuh kemarahan perempuan itu mengambil senapan berburu kakeknya kemudian membunuh ketiga anjingnya. Perempuan itu menjadi pembenci anjing, mengusir setiap anjing yang mencoba memasuki pekarangan rumahnya dan menyambit seekor anjing yang sedang mengais-ngais tempat sampah di pekarangan rumahnya dengan batu. Anjing yang kena sambitan inilah yang menjadi narator untuk menjelaskan latar belakang si perempuan menjadi pembenci anjing. Sebuah kisah yang dituturkan anjing, tetapi tidak membahas mendetail mengenai kehidupan anjing.

A Dog's Life, adalah cerita tentang anjing, masalah anjing, perjuangan anjing, harapan dan kerinduan anjing yang dituturkan oleh anjing.

Cerita dibuka dengan cantik oleh penulis ketika Addie, seekor anjing betina tua, yang sedang berbaring dalam kehangatan di dekat perapian, teringat akan kisah hidupnya yang panjang untuk seekor anjing (kira-kira 10 tahun).

Addie, dilahirkan sebagai Squirrel (tupai) oleh seekor anjing gelandangan bernama Stream di sebuah kereta sorong di sebuah gudang di rumah tempat berlibur keluarga Merrion di Lindenfield. Dari 5 ekor yang dilahirkan sang Ibu (begitu si narator menyebut induknya), hanya 2 yang bertahan. Squirrel dan kakaknya, Bone (tulang). Menurut narator, mereka diberi nama seperti itu karena, "Seperti para induk anjing pada umumnya, dia memilih nama-nama benda yang penting baginya."

Suatu hari ketika Squirrel dan Bone mulai tumbuh, Stream meninggalkan gudang untuk mencari makanan, tetapi tidak pernah kembali. Squirrel yakin ibunya sudah mati. Kedua anjing itu meninggalkan tempat kelahiran mereka. Mereka bertemu pasangan George dan Marey, dibawa pulang ke rumah, tetapi karena pasangan itu tidak memahami masalah anjing, akhirnya George melemparkan keduanya di depan sebuah mal. Dalam kondisi terluka, keduanya terpisah. Squirrel harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Dia bertemu seekor anjing gelandangan lain bernama Moon dan mengembara bersama sampai akhirnya Moon mati tertabrak truk. Dalam kembara selanjutnya, termasuk coba-coba mencari Bone, saudaranya, Squirrel, bertahun-tahun kemudian, bertemu dengan seorang perempuan tua 82 tahun yang sebenarnya tidak butuh anjing. Perempuan tua bernama Susan itulah yang memberi Squirrel nama baru Addie. Kedua makhluk tua tersebut (sesuai dunia masing-masing), menjadi teman sejati. Squirrel yang sudah memutuskan untuk hidup sendiri karena tidak berhasil menemukan Bone, akhirnya menemukan kasih sayang yang dicarinya pada Susan.

Ann M. Martin si penulis adalah seorang pencinta anjing yang tergabung dalam sebuah komunitas penyelamat hewan lokal, dan nama Susan rupanya diambil dari nama Susan Roth, salah satu temannya dalam komunitas tersebut.


Ann M. Martin

Saya membaca buku ini hanya beberapa jam--diselingi istirahat, karena ceritanya ditulis dengan indah dan mengalir tanpa sendat. Tak disangka seekor anjing, eh, seorang penulis, begitu berhasil menyampaikan perasaan seekor anjing tanpa membuat bosan. Novel diterjemahkan dan disunting dengan pas. Saya tidak menemukan kejanggalan kalimat, bahkan kesalahan cetak teks.

Bacalah, dan kau akan tahu, A Dog's Life adalah sebuah kisah tentang binatang yang indah. Sekalipun menggunakan anjing sebagai narator, sama sekali tidak ada kejanggalan dalam penuturannya.

Posted at 10:45 pm by Jody
Comments (3)  

Friday, January 05, 2007
LARAS



Judul Buku : Laras (Tubuhku Bukan Milikku)
Penulis : Damhuri Muhammad
Penyunting: Pray
Penerbit : Dastan Books, 2005


TUBUH LARAS MILIK DAMHURI

 

Membaca antologi cerpen Damhuri Muhammad ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Kepiawaiannya meracik cerita benar-benar bisa diperhitungkan. Dia meramu pengalaman dan pengamatan menjadi mikstura yang kendati sederhana, mempunyai daya gelitik yang tidak bisa diabaikan. Sehingga karyanya memberi efek memikat untuk dicernak.

Damhuri menyentil emaskulasi eksistensi lelaki dalam budaya asalnya. Menyindir fenomena sosial-politik dengan elemen satiris yang tepat dosis tanpa kesan hiperbolis. Dia juga mengeksplorasi isu transaksi seksual secara telanjang, blak-blakan.

Membaca Telinga-telinga yang Berpuasa, Elegi Tukang Kursi, Hikayat Negeri Sayembara atau Tamasya ke Museum Kata-kata, pembaca segera diantar dengan rambu-rambu yang jelas untuk memahami maksud penulis. Permainan simbol yang pas dan tepat sasaran. Asyik.

Membaca kisah-kisah Damhuri, kita akan diperkenalkan dengan berbagai karakter. Laki-laki yang tercampak dari rumpunnya karena menikahi perempuan lain suku (Laki-laki dari Negeri Kutukan). Si Buyung yang mengalami transisi dari tukang cebok di Rumah Makan Padang ke tukang cebok perempuan sebaya ibunya (Lelaki Ibu). Fhir yang mencatatkan namanya dalam sejarah persundalan karena berhasil membuat Geisya sang primadona menggantung kutang (Gadis Kecil Bermata Cokelat)--tetapi kemudian si Geisya tetap kembali ke selera asal. Jauhara, mantan gigolo yang tidak mendapatkan liang lahat di tanah kelahirannya, karena liang lahatnya memang beda (Liang Lahat Jauhara). Laras yang terus bertanya-tanya sepanjang hidup soal pemilik dirinya, tubuhnya (Laras). Atau Jagad yang menjahit kain bendera merah-putih menjadi celana pendek dalam cerpen kocak Riwayat Selembar Kain Bendera.

Membaca teknik pemaparan materi seksual Damhuri, tak pelak mengingatkan saya pada Djenar Maesa Ayu atau Tamara Geraldine. Begitu lepas dan bebas mendeskripsikan seks. Bedanya Damhuri membalut seks yang disajikannya dengan sentuhan humor yang menggelitik, khas Damhuri.

Membaca antologi Damhuri hanya akan menjadi sebuah "page-turning adventure" bagi pembaca dewasa, dan memang tanpa dinyatakan sudah jelas segmen mana target baca cerpen-cerpen Damhuri, sekalipun atas nama sastra misalnya.

Satu-satunya cerpen yang agak membuat saya tercenung adalah "Laki-laki dari Negeri Kutukan". Ceritanya tentu saja sudah oke, tetapi hebat betul si Ningsih, sang narator.Tukang nguping yang tajam dan serba tahu. Tidak kalah canggih dengan Pariyem (Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi). Karena deskripsi latar belakang Ningsih tidak jelas, saya menebak, dari gaya tuturnya yang imajinatif--sampai ke aktivitas seksual majikannya--minimal Ningsih lulusan Akademi Keperawatan-lah. Kalau misalnya Ningsih tidak pernah lulus sekolah, aneh rasanya kalau bisa menarasikan kisah malang sang laki-laki dari negeri kutukan dengan cerdas seolah-olah dia seorang Damhuri Muhammad.

Menurut saya mungkin akan lebih rancak kisah Ningsih itu jika dituturkan menggunakan perspektif orang ketiga, dan dibidik lewat sisi Ningsih, tentu saja.

Tetapi, membaca antologi Damhuri Muhammad jelas tidak mengecewakan. Dengan terus mengasah ketajaman berkaryanya, tidak tertutup kemungkinan dia bisa menyejajarkan diri, bahkan melampaui, dengan Hudan Hidayat, sang penulis Lelaki Ikan (Kompas, 2006), misalnya. Tidak heran jika di masa-masa mendatang nama Damhuri akan berkibar seperti bendera pada cerpen "Riwayat Selembar Kain Bendera" di dunia kesusastraan Indonesia.

Kita lihat saja nanti.


Posted at 09:13 pm by Jody
Comments (3)  

Next Page





widgets