"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)
Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.
Judul Buku : Hell Angel (Evil in the ByzantineChurch) Penulis : Steven Piziks Judul Asli : Exorcist: The Beginning Penerjemah : Dina Mardiana Penyunting : Ali Yahya Penerbit : Dastan Books, Cetakan 1 November 2006
HARI INI TUHAN TIDAK ADA DI SINI!
Sebenarnya "Hell Angel" yang diterjemahkan dari "Exorcist: The Beginning" mengusung tema horor yang populer dalam perfilman era 70-an bersamaan dengan suksesnya film "The Exorcist" pada tahun 1973. Tema yang dimaksud adalah tema horor menggunakan makhluk halus, bukan seperti yang berkembang saat ini yang menggunakan psikopat sebagai pencetus horor. Walaupun akan mengingatkan pada "The Exorcist" sama sekali novel ini (yang diadaptasi dari skenario film "Exorcist: The Beginning") tidak berkaitan dengan film yang dibintangi oleh Linda Blair tersebut. Oleh karena itu, judul "Hell Angel" yang digunakan Dastan Books lebih terasa pas, kendati dalam novel ini tetap terdapat adegan pengusiran setan. Dan jika disimak dengan baik-baik, sesungguhnya bukan adegan pengusiran setan yang menjadi inti novel ini.
Semua berawal dari penemuan sebuah gereja kuno di Derati, Turkana (Kenya),sebagai efek samping dari penambangan emas. Gereja kuno itu diduga berasal dari sekitar tahun 500 Masehi. Anehnya, misionaris Katolik diketahui tidak sampai di sana pada masa itu, apalagi sampai membangun gereja. Lebih lanjut ditemukan gereja itu sengaja dikubur setelah selesai dibangun.
Adalah Lankester Merrin, arkeolog lulusan Oxford sekaligus mantan pendeta Katolik (di Indonesia penggunaan pastor lebih lazim dari pendeta untuk kalangan Katolik) dibayar oleh seorang bernama Semelier untuk terlibat dalam proyek penggalian situs tersebut. Merrin menerima tawaran Semelier dan meninggalkan Kairo menuju Turkana. Di Turkana dia bertemu dengan berbagai karakter yang berhubungan dengan situs gereja kuno tersebut, antara lain Mayor Granville,pastor muda William Francis dan seorang dokter perempuan cantik bernama Sarah Novack. Salah satu di antara mereka mengetahui rahasia di balik penemuan situs tersebut. Satu yang lain memiliki rahasia masa lalu yang terkait dengan akibat yang disebabkan oleh situs tersebut. Merrin menemukan ternyata di bawah gereja terdapat ruang bawah tanah yang usianya lebih tua dari usia gereja tersebut.
Seiring dengan upaya pemecahan misteri yang melingkupi situs gereja kuno itu,kematian demi kematian aneh dan peristiwa kerasukan setan terjadi. Terungkap bahwa tempat itu memiliki legenda yang tidak diketahui semua orang. Legenda itu menceritakan bahwa setelah perang di surga, Lucifer, iblis jelmaan malaikat sesat, jatuh di bumi tepatnya di lokasi situs. Tatkala Vatikan mengutus 2 pastor yaitu Theron dan Iason untuk memimpin pencarian tempat Lucifer jatuh bersama pasukan tentara Bizantium, peristiwa yang tidak diharapkan justru terjadi. Oleh karena itu, gereja kuno tersebut dibangun hanya untuk dikuburkan.
Berbarengan dengan tersingkapnya misteri gereja itu, terkuak juga masa lalu Merrin yang menyebabkan dia meninggalkan tugasnya sebagai pastor, sekaligus berpaling dari gereja Katolik. Keping-keping masa lalu Merrin yang rancu menyatu membentuk alasan sebenarnya yaitu sesungguhnya bukan gereja yang telah menyakitkan hati Merrin. Tetapi Tuhan!
TUHAN TIDAK ADA DI SINI SEKARANG! Itulah sebenarnya masalah keimanan Merrin. Ketika dia membutuhkan Tuhan pada saat tergenting dalam karier pastoralnya, Tuhan seolah-olah bergeming. Kenyataan itu membuat iman Merrin terguncang.
Di penghujung novel, jelaslah bagi kita kalau perjalanan Merrin ke Derati adalah sebuah rencana jitu yang telah disusun, sebuah perjalanan untuk mencari imannya yang hilang. Tidak ada lagi kasus sebesar misteri yang terpendam di bawah gereja kuno itu yang sanggup membuat Merrin menemukan imannya kembali.
Di penghujung novel juga, ketika Merrin melakukan pengusiran iblis, dengan licik iblis memanfaatkan dosa-dosa dan rasa bersalahnya di masa lalu untuk memangkas kuncup-kuncup iman Merrin yang baru mulai tumbuh. Meski tesis kelicikan iblis ini sesuai dengan ajaran Kristen saat ini, tetapi teknik pengusiran yang dipakai Merrin terasa sangat menggelikan. Itulah sebabnya adegan pengusiran iblis menjadi berlarut-larut. Perhatikan betapa kacau balaunya Merrin menghadapi iblis yang saat itu menggunakan mediator yang tidak diduga oleh Merrin (dan pembaca sebelumnya).Jangan berani mencoba mengusir iblis jika Anda tidak siap seutuhnya!!
Steven Piziks bisa dikatakan sukses mengadaptasi skenario film yang disusun Alexi Hawley berdasarkan cerita William Wisher dan Caleb Carr ini ke dalam novel. Kita tidak akan menemukan pikiran atau perasaan mendalam para tokoh cerita dalam sebuah skenario (dan film), karena para aktorlah yang bertugas sebisa mungkin menerjemahkan pikiran dan perasaan tokoh yang diperankannya di layar film.Tetapi Piziks menggali semua itu dan berhasil membubuhinya ke dalam adonan cerita.
Alhasil, di tangan Piziks, terbangunlah sebuah novel horor dengan deskripsi teror yang cukup. Novel mengalir lancar mengantarkan horor tanpa bertele-tele,mencekam sekaligus mengejutkan.
Sekedar tambahan, malaikat-malaikat seperti Mikail, Gibrael (Jibril), Uriel, Rafael, memang dapat ditelusuri dalam Alkitab. Tetapi Lucifer? Sama sekali tidak ada referensi nama ini dalam Alkitab. Entah siapa yang menamakan malaikat sesat itu sebagai Lucifer.
Gagak dan lalat dalam novel ini merupakan simbol. Kalau gagak adalah simbol kematian, lalat adalah simbol pengaruh iblis sendiri. Iblis memang dikenal juga sebagai Beelzebul yang dapat diartikan sebagai 'raja lalat'.
Sebagai koreksi, pada halaman 441 dicatat bahwa vasodilator adalah "alat" untuk fungsi dilatasi pembuluh darah. Fungsinya benar, tetapi vasodilator sama sekali bukan alat. Vasodilator adalah "obat" yang digunakan untuk melebarkan (dilatasi) pembuluh darah.
Judul Buku : BOY MEETS GIRL (Perang Melawan Bos Tiran) Penulis : Meg Cabot Penerjemah : Indah S. Pratidina Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan 1, Desember 2006 496 halaman
WHEN MITCH MEETS KATE
Chicklit (Chick Literature) yang diartikan sebagai 'bacaan cewek' memang oleh penerbitnya ditujukan kepada wanita muda yang konon cerdas, mandiri, berani, dan jujur pada diri sendiri. Chicklit merupakan sajian dengan gaya bahasa populer, santai, konyol, dan cerdas (konon). Bagi saya ini cuma masalah marketing belaka, masalah STP. Dan chicklit menyasar wanita dengan karakteristik seperti dikatakan tadi. Walaupun sudah disegmentasi sedemikian rupa, tentu saja konsumen produk bisa berkembang. Sebagai contoh novel Harry Potter sebelumnya menargetkan pembaca dewasa, tetapi nyatanya berkembang ke berbagai usia, pria atau wanita.
Tidak dapat disangkal bahwa nyaris semua chicklit adalah karya stereotip, sehingga problem yang ada dalamnya hampir sama semua. Umumnya perempuan lajang kosmopolitan, punya karier dan memiliki masalah dengan percintaan.
Demikian juga Boys Meet Girls.
Tetapi di tangan Meg Cabot sajian stereotip bisa berbeda. Meg tidak menggunakan teknik penyajian dengan menggunakan gaya yang sudah sangat biasa. Meg menggunakan segala media yang bahkan terkesan remeh untuk menjadi areal eksplorasinya. Pertama kali saya membaca karya Meg yang menceritakan problematik wanita dan pria dewasa adalah buku yang berjudul The Guy Next Door (Pria Idaman di Sebelah Rumah). The Guy Next Door di tangan Meg menjadi sangat menarik karena cerita dan plot dirajutnya dengan menggunakan e-mail (yang kemudian diimitasi orang lain).
Meg Cabot bernama lengkap Meggin Patricia Cabot. Dalam berkarya sering juga menggunakan nama Patricia Cabot atau Jenny Caroll. Meg telah menulis banyak novel remaja dan dewasa dengan tokoh utama cewek. Cerita-ceritanya bukan cerita yang rumit dan bikin kening berkerinyut. Tetapi dia memiliki kelebihan dalam bertutur. Hal itu membuat tulisannya berkesan istimewa misalnya dibanding dengan karya Sophie Kinsella (saya pernah memulai baca salah satu novel Kinsella dan tidak pernah menuntaskan sampai saat ini). Di tengah ingar-bingar dunia chicklit, sudah seharusnya untuk menghindari kebosanan pembaca, penulis-penulisnya mengembangkan cerita dengan cara berbeda, dan Meg berhasil mengeksekusi itu.
Saya tidak yakin Meg secara pribadi menyasarkan karyanya "hanya untuk cewek". Jika memerhatikan The Guy Next Door dan Boy Meets Girl, sesungguhnya Meg mempersembahkan karyanya untuk Benjamin, suaminya, yang sudah pasti seorang laki-laki.
Pada dasarnya Boy Meets Girl adalah kumpulan remah-remah yang kerap tidak kita pikirkan. Semuanya diangkat Meg dan disodorkan kepada kita dengan cara yang mengejutkan. Boys Meets Girl adalah kumpulan instant message, e-mail, transkrip pembicaraan, laporan kejadian, voice mail, pesan telepon, daftar menu, struk belanja, jurnal, deposisi, memo, surat dan resep masakan yang dirangkai membentuk alur yang akan tercipta dengan sendirinya di benak pembaca. Tidak ada transisi adegan yang jelas layaknya novel biasa. Tetapi uniknya, cerita mengalir dengan jelas, khas, gurih, dan renyah.
Boys Meets Girl juga diterjemahkan oleh Indah Pratidina dengan bahasa populer yang sangat pas. Kekocakan disemir bagaikan selai lezat di sepanjang cerita, awal hingga akhir. Tatkala membaca, kita bisa menemukan pergulatan dan masalah kehidupan para tokoh, sifat-sifat dan keinginan-keinginan mereka dengan jelas. Dan karena disampaikan dengan cerdas-konyol, kita akan tertawa di antara aktivitas baca kita. Ya, minimal senyumlah.
Semua berawal dari Ida Lopez, petugas troli sajian pencuci mulut Craft Food Services di koran-foto The New York Journal. Ida tidak mau menambahkan pai buatannya untuk Stuart Hertzog, konsultan legal The New York Journal, dari Hertzog Webber dan Boyle. Celakanya, Stuart adalah tunangan Amy Jenkins, direktur SDM, sang PTK (Penguasa Tirani Kantor) bagi orang-orang di sekelilingnya. Ida harus dipecat dan tugas memecatkan Ida dimandatkan Amy kepada Kate Mackenzie, 25 tahun, penggemar ayam saus bawang dan Alyssa Milano, dan baru putus dari teman kumpul kebonya, Dale Carter; perwakilan personalia divisi SDM.
Ida menggugat keputusan pemecatan itu meskipun tidak menyalahkan Kate yang sangat disayanginya. Lucunya yang menjadi pengacara Ida untuk menggugat The New York Journal seharusnya Stuart Hertzog. Stuart mengalihkan kewajibannya kepada Mitchell Hertzog adiknya, yang tidak akur dengan dia, 29 tahun, cakep dan baik hati. Di sinilah Kate dipertemukan dengan Mitch. Sama-sama saling tertarik walaupun pada awalnya sama-sama tidak menyukai pekerjaan lawan jenisnya.
Meg Cabot mengelaborasi dengan wajar tak berlebihan apalagi cengeng cinta yang berkembang di antara perang melawan sang bos tiran, Amy Jenkins (dan kekasihnya Stuart yang menyebalkan) dan masalah keluarga Hertzog. Perhatikan kenakalan Meg menggambarkan sifat sombong dari Amy dan Stuart ketika mereka mengirim e-mail yang terasa menggelikan. Perhatikan juga tokoh-tokoh yang diinsertkan oleh Amy untuk membumbui novelnya. Dale Carter, Ida Lopez, Stacy Trent, Dolly Vargas, Janice Hertzog atau Sean, dan Vivica (yang juga tampil di The Guy Next Door) adalah pribadi-pribadi konyol yang melezatkan cerita.
Sesungguhnya Meg sangat berhasil mengalirkan ceritanya dengan menggunakan apa saja yang dia inginkan. Yang jadi masalah justru adalah saat Meg memakai jurnal Kate saat bercerita. Bagaimana mungkin Meg menggambarkan Kate yang lagi kencan dengan Mitch seolah-olah saat bersamaan Kate tengah menulis jurnal? Lalu, walau isi jurnal Kate berantakan pada saat Kate mabuk, apa iya orang mabuk terpikir untuk mengisi jurnal? Selain itu, dalam novel Meg ini seolah-olah tokoh-tokohnya tidak pernah sempat mengangkat telepon.
Tetapi secara keseluruhan membaca Boy Meets Girl memiliki keasyikan sendiri. Ringan dan pasti tidak akan membuat kita kebingungan memecahkan misteri.
Judul Buku : Map of Bones (Peta Tulang-Belulang) Penerjemah :
Bunga Mei Penyunting :
Awangningsih Penerbit: Rajut
Publishing, Januari 2007 Tebal : 744
halaman
Saya selalu
tercengang ketika membaca novel-novel karya beberapa penulis barat. Mereka
menulis setelah melakukan serangkaian riset yang sesuai untuk mendukung isi
novelnya. Alhasil, novelnya menjadi sangat memikat dan eksklusif. James
Rollins, yang dokter hewan ini tergolong penulis novel yang memakai
riset untuk membuat novelnya berbobot. Hal itu bisa dilihat dari novel Map of Bones yang diterbitkan Rajut Publishing dengan judul IndonesiaPeta Tulang-Belulang.
Pada misa tengah
malam untuk mengenang 3 orang majus (magi) di Katedral Koln,
Jerman, terjadi pembantaian yang menyebabkan 85 orang terbunuh. Bersamaan
dengan itu, tulang-belulang Magi yang disimpan di katedral tersebut hilang
dicuri. Ada
satu orang yang lolos dan menyaksikan bahwa yang menjadi korban utama
adalah orang-orang yang memakan roti komuni. Yang tidak makan, tewas karena
ditembak.
Kejadian itu
membuat pihak Vatikan kuatir dan meminta pertolongan SIGMA FORCE, sebuah
kesatuan elit dalam Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk mencari tahu
biang kerok kejahatan tersebut. Grayson Pierce ditunjuk sebagai komandan tim
SIGMA FORCE. Tim tersebut terlibat kerja sama dengan Rachel Verona dari
kesatuan carabinieri
Roma dan Vigor, paman Rachel yang adalah perwakilan Vatikan.
Pencarian yang
mereka lakukan bersama berhasil menemukan kaitan antara peristiwa pembantaian
tersebut dengan Dragon Court,
sekte alkemi kuno yang dibentuk oleh pihak pembangkang pada masa-masa awal
gereja. Tetapi pelacakan tim tersebut rupanya dibayangi oleh pengkhianatan yang
berasal dari tubuh Vatikan sendiri yang menyebabkan tim investigasi ini dikejar-kejar
ancaman pembunuhan. Perjalanan tim Grayson merambat ke Alexandria, Mesir pada penemuan makam
Alexander Agung. Tanpa disinggung-singgung sebelumnya, ternyata pencarian
selanjutnya mengarah pada harta Templar yang konon dapat mengantarkan 'kunci dunia"
ke tangan siapa yang menemukan. Dan itulah yang menjadi rahasia Magi.
Rollins sangat
sukses menciptakan ketegangan dengan alur cepat. Walaupun cukup tebal, novel
ini tidak membosankan untuk dibaca. Apalagi novel ini sangat lengkap dengan
riset yang mengagumkan, yang bahkan mempertanyakan hal-hal yang saya pernah
baca dalam kitab agama Kristen berkaitan dengan zaman Mesir Kuno dan Musa,
salah satu Nabi besar. Novel juga disertai dengan peta dan gambar untuk lebih
memperjelas beberapa hal yang mungkin agak sulit dibayangkan oleh pembaca.
Tetapi novel ini
tidak sepenuhnya tuntas. Rollins tetap menyisakan misteri di ujung novel yang
akan terus membuat pembaca bertanya-tanya. Akhir novel yang sejatinya sangat
menarik ini penuh spekulasi yang hanya dituturkan oleh tokoh-tokoh novel.
Sebetulnya, apa yang akan terjadi jika kunci emas yang diambil dari mayat
Alexander Agung itu digunakan?
Judul Buku : 9 Prinsip Sukses dari CEO Perusahaan Raksasa Inggris Judul Asli : Screw it, let's do it Lesson in Life Penulis : Richard Branson Penerjemah : ? Penerbit : Ufuk Press, November 2006
JURUS-JURUS RICHARD BRANSON
Richard Branson adalah CEO dari Virgin Group, perusahaan raksasa yang merambah berbagai bisnis seperti musik, penerbangan, seluler, eceran, internet, minuman, kereta api, hotel dan resort meliputi sekitar 200 perusahaan di lebih dari 30 negara.
Dalam buku yang ditulisnya ini, Richard Branson berbagi pengalaman hidup kepada pembaca seputar bagaimana caranya dia meraih sukses seperti yang ditunjukkannya saat ini. Pria kelahiran tahun 1950 dan ternyata tidak tamat SMU ini dengan terbuka mengungkap bagaimana dia meraih sukses, kegagalan yang pernah dialaminya serta siapa saja yang berperan penting dalam hidupnya.
Kendati percaya dengan cita-cita, sejak muda pria yang dulunya mengidap disleksia ini tetap bersikap praktis menyiasati hidup. Mungkin karena itulah Branson berhenti sekolah pada usia 16 tahun untuk menangani majalah Student yang diterbitkan dengan memanfaatkan ruang bawah tanah rumah orang tuanya di London.
Pada tahun 1970, Branson mendirikan Virgin sebagai pengecer rekaman secara mail order. Menurut Branson, usahanya dinamakan Virgin, karena para pendirinya memang ' virgin ' dalam bisnis. Setelah membuka toko rekaman di Oxford Street London, pada tahun 1972 Branson membangun studio rekaman di Oxfordshire dan meluncurkan album "Tubular Bells" dari artis pertamanya, Mike Oldfied. Album ini menjadi soundtrack film The Excorcist.
Bagi Branson, tidak ada kata "tidak". Oleh karena itu sejak kecil, usia 8 tahun, dia sudah belajar bisnis. Pada suatu Paskah, Branson mengajak temannya, Nik Powell, untuk menanam 400 benih cemara dengan harapan pada musim Natal, 18 bulan kemudian, cemara-cemara itu akan menjadi pohon-pohon Natal dan mereka akan mendapatkan 795 pound sterling. Sayang kelinci-kelinci memakan habis semua benih. Branson membalas kelinci-kelinci nakal itu dengan memburu mereka kemudian menjual dan mendapatkan uang di atas biaya yang sudah dikeluarkan.
Branson merupakan pribadi pemberani, tetapi menurutnya tidak konyol, sehingga dia berani mendirikan sebuah maskapai penerbangan, Virgin Atlantic dan menantang British Airways. Keberaniannya selanjutnya dikukuhkan dengan mendirikan Virgin Trains di tengah-tengah pesimisme publik.
Menengok ke masa kecilnya, Branson menyadari peranan ibunya dalam pembentukan pribadinya. Sejak kecil Branson sudah digembleng untuk berdikari oleh ibunya. Kata ibunya, "Apabila Anda ingin susu, jangan duduk di kursi di tengah padang dengan harapan ada induk sapi datang memberikan ASI-nya kepada Anda." Ketika melakukan usaha ilegal, Branson tertangkap dan harus membayar jaminan. Ibunya menawarkan rumahnya karena Branson tidak punya 30.000 pound sterling untuk membayar jaminan. Dalam perjalanan pulang dari pengadilan dan Branson sudah nyaris menangis, ibunya berkata, " Aku tahu kau telah belajar dari pengalaman ini, Ricky. Tak usah menangisi susu yang sudah tumpah. Hadapi saja yang ada di depan kita dengan lebih baik." Pelajaran yang Branson peroleh adalah dalam berbisnis ia harus bersikap jujur kalau tidak mau mendapatkan akibat yang tidak dikehendaki.
Selanjutnya, Branson menjelma menjadi sosok filantrop dengan lembaga amal seperti Virgin Healthcare Foundation.
Dan seperti yang dianjurkannya, Branson menikmati hidupnya. Tetapi untuk dia menikmati hidup berarti petualangan. Maka bertualang lah dia menggunakan balon udara panas melintasi Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Penuh risiko, tetapi sepertinya dia tidak mau hidup tanpa tantangan, tanpa merasakan gemuruh adrenalin karena ancaman kematian.
Simpulan dari apa yang Branson ungkapkan adalah sesungguhnya kesuksesan ditentukan oleh kita sendiri. Dan kalau mau sukses kita harus berani melakukan apa yang kita yakini. Ada 9 prinsip yang dia kemukakan, dan dia tidak mengabaikan pentingnya sikap menghargai teman dan keluarga; hormat kepada orang lain; selalu berusaha berbuat baik. Dan jujur, tentu saja.
Buku ini tergolong menarik sehingga layak dibaca oleh bukan pebisnis sekalipun untuk menjadi motivator dalam rangka meraih apa yang diinginkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Sekedar komentar untuk edisi Indonesia ini adalah foto-foto yang ditampilkan dalam buku tidak begitu baik kualitasnya, walaupun sesungguhnya tanpa foto-foto itu buku ini masih bisa dinikmati. Hal yang lain adalah tidak dicantumkannya nama penerjemah buku seakan-akan Branson yang menerjemahkan sendiri bukunya ke dalam bahasa Indonesia. Judul buku juga terlalu panjang. Kenapa tidak "9 Prinsip Sukses Richard Branson" saja? Toh petunjuk lain di kaver sudah cukup jelas menyatakan siapa Richard Branson. Dan kemungkinan besar yang akan membeli buku ini adalah orang yang tahu siapa Richard Branson (dan Virgin). Untuk apa membeli buku sejenis ini tanpa mengetahui apa penyebabnya diterbitkan?
Judul Buku:
Harga Seorang Wanita Penulis:
Februana Penyunting:
Dede Azwar Nurmansyah Penerbit:
Dastan Books, November 2006
PEREMPUAN
DALAM DUNIA LAKI-LAKI
Harga Seorang Wanita adalah dunia ciptaan Februana tempat
perempuan berada di bawah 'hegemoni' dunia laki-laki. Dunia tempat perempuan
tidak mendapatkan kehormatan yang layak untuk bisa menentukan hidupnya sendiri.
Dunia milik seorang bernama Tini, sang tokoh utama, yang berkelindan dengan
dunia berbagai laki-laki.
Ketika penulis-penulis lain
menampilkan novel-novel dengan tema dan seting glamur, Februana menciptakan
novel menggunakan kemiskinan sebagai benang yang menghubungkan
karakter-karakter ciptaannya. Kemiskinan itulah yang memupus kesadaran Jono,
suami Tini, sehingga bukannya mencari solusi kehidupan sebagai seorang
'laki-laki' dan kepala rumah tangga, dia malah menggadaikan istrinya.
Februana menggambarkan dengan
cermat situasi topografis tempat domisili tokoh-tokoh utamanya yang berdampak
signifikan pada kehidupan mereka. Gunungkidul, sekali lagi setelah novel
"Kemarau" karya Tuti Nonka, menjadi tempat berangkat cerita Februana
ini. Gunungkidul, sebuah keindahan yang tak memberi berkah, tempat kepasrahan
menciptakan kecintaan bertahan, dan penderitaan penghuninya meretas kehidupan.
Lewat Ibu Tini, penulis melukiskan sejarah kehidupan yang nantinya akan terus
bergaung dalam hidup Tini.
Setelah menggadaikan istrinya,
kendati Jono tahu tempat dan kepada orang seperti apa dia menitipkan Tini, Jono
tidak mau menerima konsekuensi perbuatannya. Penyebabnya bisa saja tabiat Jono
yang egois sebagai seorang laki-laki atau kebodohan pria ndeso yang hanya lulus SMP.
Itulah dunia Jono.
Sementara itu, Tini terjerumus
dalam dunia Parman, dunia laki-laki tempat dendam dan napsu berahi menduduki
tempat teratas. Dalam dunia kedua laki-laki bejat inilah, Tini bagaikan pohon
karet yang terus-menerus disadap getahnya. Dan dalam dunia yang dipersembahkan
dua laki-laki ini, dia menemukan dunia laki-laki yang lain. Dunia Andi, dunia
tempat kekayaan bisa melaksanakan apa saja dan menjadikan perempuan sebagai apa
saja. Dalam penampilannya yang menawan di mata Tini (dan mata penulis),
sebetulnya bagi Andi, dalam dunianya, perempuan tak lebih sebagai pelengkap dan
pemuas berahi belaka. Andi berbeda dengan tokoh Rusli dalam
"Kemarau", tokoh yang menyelamatkan Mirah, sang perempuan Gunungkidul
dari dunia pelacuran kemudian memperistrinya. Sekalipun Rusli digambarkan memiliki
kelainan seksual, secara moral dia masih berada pada level di atas Andi.
Saat membaca sampul novel yang
cukup menarik ini, kita akan membaca tulisan di bawah judul novel yang mirip
tag line dalam film-film. "Tak ada lelaki yang benar-benar mencintai
perempuan, yang ada hanyalah: mereka masih membutuhkanmu!" Kalimat yang
sudah pasti ditujukan pada pembaca bergender perempuan. Saya tidak
menemukan kalimat itu dalam novel (atau mungkin melewatkannya?). Dan itulah
yang memang terjadi dalam dunia Tini, hasil kreasi Februana (yang ternyata
seorang laki-laki). Dunia yang berkesan bahwa perempuan itu harganya tergantung
pada persepsi laki-laki, sehingga pada gilirannya, semakin bejat laki-laki yang
masuk dalam hidup Tini, akan semakin 'miring' harganya.
Tetapi dunia Tini yang
dijarah-rayah laki-laki, tidak sekadar dunia tempat perempuan kehilangan daya.
Dunia Tini adalah juga dunia tempat ketidakberdayaan perempuan menciptakan daya
untuk menikmati laki-laki yang diinginkannya. Sekaligus menjadi lokasi tempat
'ketidakberdayaan berubah menjadi keperkasaan karena keadaan (hal. 249'.Dunia
yang berkembang seperti inilah yang menjadi katastrofe bagi seluruh tragedi
kehidupan Tini, dan memerosokkan Tini dalam dunia laki-laki yang lain, dunia
bejat alat negara yang rentan terhadap pelecehan seksual (hal. 26 - 27).
Dari dunia terakhir Tini itulah
nyaris seluruh tubuh novel dibangun, disusun dalam rangkaian kilas balik yang
berpadu dengan proses katarsis benak dan jiwa Tini yang lara.
Sesungguhnya di ujung novel ini
Februana tetap tidak 'memenangkan' perempuan. Tini bahkan dibuat tidak berdaya,
tidak punya pilihan, dan masuk lagi dalam kerangkeng dunia laki-laki yang tidak
memberi pengharapan buat Tini untuk hidup happily
ever after.
Walaupun demikian, novel ini
seharusnya mengetuk nurani pembacanya dari kalangan laki-laki, karena menurut
saya laki-lakilah sebenarnya target utama sang penulis. Dan sebagai laki-laki
mungkin pertanyaan ini akan bergema di hati: dunia seperti apakah yang
kuberikan pada perempuan? Dunia Jono? Parman? Atau dunia Andi? Sepertinya tidak
ada perempuan sejati menghendaki dunia yang ditawarkan 3 laki-laki ini!
Membaca novel dengan rancangan
sampul yang cantik dan jenis huruf yang ramah mata, kita bisa menikmati
bagaimana kelancaran Februana bertutur sehingga membuat ceritanya mengalir.
Pada transisi adegan kerap ditemui pengaruh penulisan skenario (penulis juga
menulis skenario) yang membuat novel ini hadir bak film realitas sosial, jenis
film yang dulu sering digarap pekerja seni Indonesia sebelum perfilman Indonesia
terpuruk. Bagi yang pernah nonton film-film Indonesia di masa jayanya, mungkin
akan teringat pada film sejenis "Penyesalan Seumur Hidup".
Mungkin novel ini tidak akan
menjadi pilihan pembaca perempuan yang lebih menyukai dunia glamur seperti chicklit atau metropop, tetapi "Harga
Seorang Wanita" akan menjadi sajian gurih bagi pembaca yang tertarik pada
realitas sosial yang sering hadir dalam masyarakat kita.
ADDICTED TO
WEBLOG: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia (Kumpulan Cerpen) Penulis :
Labibah Zain Penerbit :
Pustaka Populer Obor, Agustus 2005
PEREMPUAN-PEREMPUAN
LABIBAH ZAIN
Pertama melihat kumpulan cerpen (kumcer) ini, dugaan saya adalah buku
ini sejenis teenlit, chicklit, atau metropop. Wajar, mengingat
judulnya. Sekarang banyak buku-buku dengan genre yang saya sebutkan diberi
judul dengan teknik yang sama.
Baru setelah
membacanya, saya sadar bahwa kumcer ini sebetulnya beda dengan jenis-jenis buku
tadi. Labibah mencoba memberi warna pada dunia yang rupanya sangat digemari dan
dikuasainya, terutama saat dia mengapung-apung dalam dunia maya. Labibah adalah
pengarang dengan napas cukup panjang dalam bertutur. Hal itu bukan karena dia
sudah menetaskan banyak telur, eh, karya, tetapi karena Labibah menulis dengan
narasi panjang-panjang. Labibah membentuk aliran sungai dari pegunungan
inspirasinya, berkelok-kelok tenang menggarisi dataran menuju jeram-jeram yang,
di sinilah pesona Labibah, mengejutkan. Sedikit saya teringat O. Henry yang doyan
membenturkan granat di benak pembaca di ujung cerpen-cerpennya.
Sesungguhnya judul
kumcer ini hanya mewakili 1 cerpen saja, yaitu cerpen dengan judul sama.
Cerpen-cerpen lain sama sekali tidak membicarakan ketagihan ber-weblog. Kalaupun menyinggung
internet, Labibah hanya menggunakan sebagai latar penceritaan saja.
Sisanya malah tidak nyambung. Addicted
to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia, Perempuan dan Lelaki Maya, Perempuan itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase
merupakan pengungkapan Labibah bagaimana dunia maya memberi efek yang bisa
merugikan (dan menguntungkan) penghuninya. Dalam dunia maya nyaris semua tidak
jelas. Apa saja bisa terjadi di sana. Ketagihan, perselingkuhan, kebohongan,
tipu muslihat, teror, dan penyimpangan seksual. Di sinilah kelebihan Labibah
bermain-main dengan cerkas.
Seorang istri
ketagihan weblog
sampai mengabaikan rumah tangga (Addicted
to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia). Saking
ketagihannya menjadi blogger,
suaminya ketakutan. Coba simak kata-kata suaminya sebagai narator cerpen
ini: "Aku takut suatu saat
nanti, dia akan making love denganku
sambil ngeblog juga.
Bibirnya akan menciumi leherku, tangan kirinya akan mengelus-elus punggungku
tetapi matanya akan memandangi monitor dan tangan kirinya akan memegang
mouse untuk merefresh
weblognya! Dan ketika aku akan
mencapai puncak kepuasan, tiba-tiba dia akan berteriak menyuruhku menghentikan
permainan karena hasil refreshannya menandakan ada komentar baru yang harus
ditanggapi segera!" (hal. 21). Tetapi kemudian,
ternyata weblog yang
dibuat istrinya bisa juga bermanfaat.
Di dunia cyber, Sinta terus merahasiakan
diri dan menikmati pertemanan maya dengan seorang pria bernama Arjuna. Seorang
pengunjung dunia maya diceritakan senang merusak relasi dalam dunia maya.
Ternyata keduanya berhubungan dengan kehidupan Sinta. Sebuah rekayasa
kebetulan, tetapi mengasyikkan (Perempuan
dan Lelaki Maya).
Perempuan Itu
Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua
Etalase menceritakan 2 hubungan antar manusia dalam dunia maya.
Salah satunya tidak mau bersikap terbuka. Dan bukan hal yang mengherankan,
karena mereka menyimpan rahasia di balik kiprah yang serba maya.
Samar saya bisa
menangkap Labibah sedang bermain simbol ketika menuturkan Perempuan Di Sudut Taman. Dalam
cerpen yang menurut saya biasa-biasa saja dan cenderung membosankan ini,
apalagi dengan sungai ciptaan Labibah yang panjang, rupanya Labibah sedang
menuturkan sebuah komunitas dalam dunia maya dengan seorang tokoh perempuan
berperilaku tidak menyenangkan di dalamnya. Tetapi entahlah, kurang jelas
sih.......
Dalam Perempuan Pengusung Tradisi
Habibah, seorang syarifah
sesuai ketentuan harus menikah dengan seorang habaib. Dikhianati seorang habaib, Habibah pacaran dengan
seorang ahwal, tetapi
kemudian zuwad dengan
Ucin tanpa cinta untuk menghormati tradisi. Setelah anak-anaknya dewasa, Liya,
salah seorang anaknya mengulangi pengalaman ibunya, tetapi dengan cara berbeda.
Saat itu, Habibah bermetamorfosis dari Perempuan Pengusung Tradisi ke Perempuan
Perombak Tradisi. Suatu gugatan kepada tradisi yang ada, tetapi bukan gugatan
yang meledak-ledak, biasa saja.
Amellia, 17 tahun,
gadis penggemar boneka berasal dari keluarga broken-home,
asimilasi wanita keturunan Cina dan pria keturunan Arab. Gadis ini bergaul
dengan seorang laki-laki bernama Andre dan hamil. Labibah berhasil menguraikan
kisahnya dengan gaya remaja, sesuai usia Amellia, tetapi kemudian tetap
menggunakan gayanya, menohok di ujung cerita (Perempuan, 17 Tahun).
Perempuan
Dalam Kegelapan namanya Petty. Petty tidak merasa bahagia dengan kehidupan rumah
tangga bersama Singgih. Singgih terlalu sibuk kuliah sehingga mengabaikan
istrinya. Bahkan dalam bercinta Singgih tidak pernah peduli istrinya puas atau
tidak. Petty ketemu Manas, meninggalkan suaminya, dan beruntun Labibah
menimpakan azab dalam hidup Petty. Kasihan si Petty gara-gara ulah sang dalang.
Membaca kumcer
Labibah sesungguhnya cukup mengasyikkan, tetapi Labibah tetap harus
memerhatikan gramar. Di beberapa tempat masih terlihat kebingungan membedakan di apakah sebagai awalan atau
preposisi (baca saja cerpen Perempuan
di Sudut Taman). Kemudian masih adanya susunan kalimat yang kacau.
Perhatikan saja halaman 70 (Perempuan
Dalam Kegelapan) paragraf pertama yang cukup panjang, baris 2
terakhir, temukan kelebihan pemakaian kata "cepat" di sana. Pada
halaman 77 malah Labibah menulis bahwa "Mah adalah kepanjangan dari
mamah" (bukannya malah kependekan?). Sesungguhnya cerpen-cerpen Labibah
perlu disunting supaya lebih bersinar lagi. Napas panjang dalam bertutur memang
punya efek pada terciptanya kalimat-kalimat rancu. Dan Labibah sang penggemar
nama Sinta yang agak doyan berkhotbah dalam ceritanya suka pada yang
panjang-panjang.
Kumcer ini hanya
berisi 8 cerpen, tergolong sedikit walau diimbangi dengan cerpen yang
'panjang-panjang'. Berikutnya, mungkin Labibah bisa bermurah hati menampilkan
cerpen yang sedikit lebih banyak, dan dengan kemahiran mengecoh serta
penyuntingan yang lebih baik tentu saja. Sebagai penulis, seharusnya sebelum
karyanya dipublikasi dialah yang harus melakukan penyuntingan perdana. Editor
hanya akan memberi sentuhan biar lebih berkilau.
Tetapi Guru datang. Menghapus
spekulasi yang berkembang bagaikan jalaran api di Yerusalem. Enam hari sebelum
Paskah, Guru singgah di Betania. Lazarus telah menyiapkan perjamuan seperti
yang ia rencanakan untuk sang Guru dan rombongannya. Seperti kebiasaannya,
Marta, sang juru masak, spesialis dalam urusan rumah tangga, langsung sibuk
melayani.
Dalam kamarnya Maria menimang
buli-buli pualam, harta kekayaannya. Buli-buli pualam itu berisi setengah kati
minyak narwastu murni yang dibuat dari akar serai wangi. Minyak yang sangat
mahal, dibeli sebagai persiapan untuk hari besarnya yang tidak kunjung datang.
Jika dijual lagi, harga minyak wangi dalam buli-buli pualam mencapai 300 dinar.
300 dinar berarti upah pekerja harian selama kira-kira 1 tahun.
Ada perasaan malu menyergap. Laki-laki itu
adalah gurunya. Bukan suaminya. Bukan mempelainya.
Tetapi untuk semua yang telah
dilakukan laki-laki itu dalam hidupnya, dalam hidup keluarganya, lebih mahal
daripada minyak narwastu ini.
Orang-orang tidak akan mengerti.
Orang-orang akan berspekulasi. Menghakimi. Mereka cuma tidak memahami betapa
indahnya kehidupan setelah Guru datang. Betapa berharga sukacita yang
ditaburkannya. Betapa dahsyat pengharapan yang diberikannya.
Selain itu, jauh di dasar hatinya,
ada kepekaan sebening kaca. Dia belum tahu apa itu. Kelak memang dia akan tahu.
Tetapi saat ini belum jelas semuanya. Kabur. Bahkan samar pun tidak.
Dia melangkah. Pelan-pelan sambil
berusaha menghalau bimbang yang menggoda.
Dan dia merasakan betapa semua mata
tertuju kepadanya. Begitu gaduh pertanyaan berkelebat di semua mata itu.
Apa yang akan dilakukan
perempuan ini?
Untuk apa buli-buli pualam itu?
Dia sudah seutuhnya hadir dalam
ruangan perjamuan itu. Aroma masakan yang lezat telah memagari ruangan menjadi
arena untuk mengandaskan lapar. Dia merendahkan tubuhnya begitu tiba di depan
sang Guru.
Sang Guru menatapnya, seperti tahu
langkah selanjutnya yang akan dilakukannya.
Dan segera jelas bagi semua yang
hadir dalam ruangan perjamuan itu. Terdengar denting leher buli-buli pualam
yang dipecahkan. Seketika ruangan bagaikan berubah, semerbak oleh semburan
aroma narwastu yang luar biasa wangi. Aura menggetarkan segera mengerubungi
semua orang.
Tidak ada suara yang keluar ketika
Maria melakukan tindakan itu. Sembari berlutut dia meminyaki kaki Gurunya.
Dibalurkannya narwastu sampai kedua kaki yang kasar itu melembut, bersih dan
harum. Kemudian Maria menyingkapkan kerudung yang dipakainya sehingga rambutnya
yang hitam panjang bergulir bagaikan air terjun. Digenggamnya rambutnya itu dan
digunakan untuk menyeka kaki gurunya yang basah.
Semerbak narwastu makin merebak.
Seorang bernama Yudas Iskariot, sang bendahara yang doyan ngutil tersentak oleh
aroma dahsyat itu dan tidak bisa menahan dirinya. Apalagi saat matanya
membentur demonstrasi kasih dari perempuan yang dianggapnya bodoh itu. Setelah
meminyaki kaki Guru dan menyeka dengan rambutnya, Maria mencurahkan sisa
narwastu di atas kepala Guru.
"Untuk apa pemborosan
ini?"
Maria terperangah. Yudas menyebut
apa yang dia lakukan pada Gurunya sebagai pemborosan! Bukan main. Betapa
pelitnya orang ini. Ini adalah gurunya sendiri. Yang seharusnya dihormati dan
dihargainya dengan kasih.
(Kelak perempuan itu tahu bagaimana
pria galak ini telah terlibat dalam kesepakatan untuk membunuh gurunya)
"Minyak ini dapat dijual 300
dinar lebih. Dan uangnya bisa diberikan kepada orang-orang miskin!" Suara
Yudas tajam melanjutkan.
Pandangan Guru akhirnya beralih
dari Maria kepada Yudas. Sejenak hening membentang. Lalu Guru berkata, "
Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan hatinya?"
Yudas menggeram tidak jelas.
"Orang-orang miskin akan
selalu ada padamu. Dan kamu dapat menolong mereka jika kamu mau. Tetapi aku....
Aku tidak akan selalu bersama-sama dengan kamu."
Hening. Yudas bungkam menahan
kesal. Yang lain memperhatikan secara saksama.
"Dia telah melakukan apa yang
dapat ia lakukan. Ia telah meminyaki aku sebagai persiapan untuk
penguburanku."
Maria tersentak. Mimpinya menyergap
benaknya. Penguburan! Kematian! Kesedihan segera melandanya dan membuat air
matanya merebak.
"Aku berkata kepada kalian
semua, sesungguhnya kelak di mana saja nanti berita sukacita diberitakan di
seluruh dunia, apa yang dia lakukan akan disebut-sebut juga untuk mengingat
dia...."
(Kelak yang lain yang hadir di situ
sadar, mereka sendiri bahkan tidak pernah memberikan lebih kepada Guru mereka.
Saat akhirnya sang Guru mati, tidak ada waktu untuk mereka meminyakinya.)
Tetapi saudara Lazarus ini telah
melakukan jauh sebelum saat itu tiba. Dia telah menerima isyarat dengan
kepekaan nuraninya. Pengurapan yang sungguh sempurna. Pada waktu sang Guru
mati, tersula di salib, dengan hati yang terluka, perempuan ini akan tetap
bersyukur telah mendapatkan kesempatan langka ini.
Ketika Gurunya mati, Maria tidak
hadir di bukit tandus itu, isyarat yang telah lebih dahulu ditangkapnya. Dia
bersama kedua saudaranya harus bersembunyi dari ancaman pembunuhan.
*
* *
"Kudus,
kudus, kuduslah Tuhan Allah,
Yang
Mahakuasa, yang sudah ada
dan
yang ada dan yang akan datang."
Siang dan malam empat makhluk
bersayap enam itu tidak henti-hentinya berseru memuji-muji sembahan mereka yang
agung dan mulia. Sang Raja duduk di tahtaNya yang indah seperti permata yaspis
dan sardis, di
bawah lengkungan pelangi yang gemilang bak zamrud. Lautan kaca di hadapanNya
berpendar menggemakan puji-pujian itu.
Sang Raja mengangkat tanganNya dan
seketika puji-pujian itu terhenti.
Ada malaikat yang bertanya, " Ada apa Yang Mulia?"
Sang Raja segala raja menggeleng.
Wajahnya yang dahsyat membayangkan harapan. Malaikat itu disergap kemelit.
"Saya sedang menunggu. Saya
sangat rindu mendengar denting itu. Denting retak buli-buli pualam yang siap
pecah. Aroma harum itu. Saya pernah menghirup aroma itu dahulu. Dari buli-buli
pualam yang dipecahkan seorang perempuan bernama Maria dari Betania........."
Judul buku: Gelang Giok Naga Penulis: Leny Helena Penyunting : M. Irfan Hidayatullah Penerbit : Qanita, November 2006
KISAH CINTA YANG TERTUNDA BERSEMI
"....akan kucari kau
walau seribu tahun lagi...."
Gelang Giok Naga merupakan ekspansi dari
sebuah novelet berjudul Gelang Giok, pemenang harapan Sayembara Mengarang
Cerber Femina tahun 2004. Novelet dijadikan novel oleh penulisnya untuk
memperluas ruang terbatas yang disediakan majalah. Sekalipun hanya menjadi
pemenang harapan, jangan menduga bahwa novel Leny Helena ini sebagai karya yang
kurang menarik.
Gelang Giok Naga dibuka dengan hikayat
Naga yang diceritakan seorang ayah kepada anaknya, yang tentu saja kemudian
bisa dihubungkan dengan ayah dan anak pada epilog, tentang betapa pentingnya
peranan naga bagi masyarakat Cina.
Leny Helena kemudian menggeserkan ceritanya jauh ke tahun
1723 ke dalam kehidupan pribadi Yang Kuei-Fei, seorang selir kaisar Cina Jia
Shi yang disebut sebagai Sang Putra Langit. Intrik yang berkecamuk dalam istana
membuat Yang Kuei-Fei melarikan diri bersama Kasim Fu, dengan tidak lupa
membawa lari perhiasannya, termasuk gelang giok dengan hiasan naga emas hadiah
kaisar. Diceritakan bahwa Yang Kuei-Fei melahirkan anak kaisar,
kemudian mati karena keganasan penyakit yang kemungkinan sekarang dikenal
sebagai kanker. Yang Kuei-Fei mati di sisi laki-laki yang dicintainya, Kasim
Fu. Sebelum mati Yang Kuei-Fei berkata, "....akan kucari kau walau seribu
tahun lagi.... Jika saat itu tiba, akan kukatakan betapa aku sangat
mencintaimu." Perkataan inilah sesungguhnya yang
merupakan esensi dari novel cantik ini. Untuk selanjutnya, hanyalah rangkaian
peristiwa menuju pada pemenuhan takdir kata-kata Yang Kuei-Fei.
Dalam novel ini, Leny bagaikan kutu loncat, meloncat-loncat
dengan gesit. Karena pada lembar berikutnya, Leny meloncat lagi ke tahun 1935,
memperkenalkan kepada pembaca dua perempuan bernama A Sui dan A Lin. Pada saat
yang sama, Leny juga mengganti perspektif penceritaan dari orang ketiga ke
orang pertama. Dengan cara yang berbeda, A Sui dan A Lin, akhirnya tiba dan
siap menghabiskan hidup mereka di Indonesia,
tepatnya di Batavia.
Sebelum menuju Batavia,
ibu A Sui memberikan warisan ibunya, gelang giok berhias naga emas.
Apa yang diungkapkan ibu A Sui mengenai latar belakang gelang
giok itu terdapat ketidakcocokan dengan kisah Yang Kuei-Fei yang dibeber
sebelumnya. Pada waktu Leny mengisahkan tentang Yang Kuei-Fei di awal-awal
novel, kita akan memperoleh gambaran bahwa Yang Kuei-Fei sudah hamil ketika
lari dari istana, mencintai Kasim Fu yang lari bersamanya, kemudian melahirkan
anak kaisar. Perhatikan peralihan tahun 1723 (hal.21) dan 1724 (hal.45). Tetapi
pada halaman 81, diungkapkan ibu A Sui (yang tentu saja dari Leny sendiri
sebagai pengarang), bahwa Yang Kuei-Fei menyuap Kasim Fu untuk
menyelundupkannya keluar istana dan lari ke selatan, menikah dengan pria
setempat dan beranak pinak.
Perjalanan kehidupan tidak disangka mempertemukan A Sui dan A
Lin, diikuti dengan berpindah tangannya gelang giok naga. Anak mereka menikah,
dan lahirlah Swanlin, menyandang nama gabungan kedua neneknya pada tahun naga,
1976.
Lena lalu
melompat lagi ke tahun 1986 dan menambahkan ke dalam novelnya satu tokoh aku
lagi, yaitu Swanlin. Selanjutnya, tiga 'aku' berganti-ganti menuturkan cerita
menuntun pembaca ke akhir cerita melewati tahun demi tahun.
Walaupun menggunakan 3 tokoh 'aku', tapi gaya seperti ini sama sekali tidak membuat
pembaca bingung, malah enak dinikmati. Leny dengan pintar mengantar ketiga
narator membahasakan diri mereka dalam memandang hidup. Satu kelebihan Leny,
dengan lancar dan lucu, dia memaparkan pandangan hidup, karakter dan gaya bicara
tokoh-tokohnya dengan pas. Kehidupan Swanlin dielaborasi Leny sesuai
dengan usianya beserta kisah cinta segi tiganya. Leny menggunakan dialog
yang tepat untuk remaja metropolis tanpa mengurangi nilai cerita yang mau
disampaikan.
Melalui karakter Swanlin inilah Leny, yang rupanya berdarah
Cina, mengungkapkan suaranya mengenai kehidupan Cina di Indonesia yang kadang
tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Swanlin adalah citra idaman orang Cina
untuk hidup bergaul di bumi Indonesia
tanpa dicurigai. Sembari melakukan itu, Leny juga menyentil budaya, termasuk
budaya Cina, yang didominasi laki-laki walaupun dengan kadar rendah.
Setelah menikah dengan laki-laki yang dicintainya (silahkan
baca dan tahu siapa), keduanya pergi ke Kota Terlarang. Di sana, Swanlin menemukan dirinya, merasakan
suatu deja
vu, jalan menuju ke masa lalu. Siapakah dirinya sebenarnya? Apa
yang sedang menunggu di depan kehidupannya? Di sinilah kita dapat melihat
benang yang dipintal dari masa lalu menuju masa kini, menggulung dengan sangat jelas.
Leny Helena tampil sebagai pencerita yang mahir. Dia
memaparkan realita yang saling berkaitan dengan pintar, mendeskripsikan segala
sesuatu dengan baik. Satu yang mengganjal adalah cerita Leny mengenai pertemuan
A Lin dengan perempuan bernama Lai Choi San. Pertemuan itu diceritakan terlalu
panjang. Leny mungkin bermaksud untuk mengungkapkan bahwa sejak dulu sebetulnya
perempuan sudah tidak kalah dengan laki-laki, termasuk dalam budaya Cina.
Tetapi kalau Leny bisa berpanjang-panjang dalam hal itu, tentu saja Leny harus
bisa juga memberi plot pada kehidupan A Lin selanjutnya sampai perempuan itu
terdampar di sebuah kandang babi di Batavia. Karya Leny ini adalah sebuah
novel, dan novel memiliki ruang penceritaan yang sangat luas dibanding novelet
misalnya. Leny yang paling tahu kan
dengan karakter-karakter ciptaannya? Baca saja kelincahan Leny menceritakan
metamorfosa kehidupan A Lin yang luar biasa!
Pada akhirnya, Gelang Giok Naga adalah kisah
tentang pencarian dan penemuan cinta yang terlambat bersemi, kisah takdir selir
kaisar yang rupanya memang tragis.
Walaupun demikian, Leny telah sukses menghasilkan karya yang
tidak mudah dilupakan, sebuah karya yang cantik, yang sejatinya akan lebih
cantik lagi jika Leny bisa lebih memperhatikan presisi dalam segala aspek
novelnya.
Judul buku : The Christmas Shoes (Sepatu Natal) Penulis : Donna VanLiere Penerjemah : Joas Adiprasetya Penyunting : Mariani Sutanto Penerbit : Gradien Books, November 2005 (Cetakan I)
SEPATU YANG MENGUBAHKAN HIDUP
"Sir I want to buy these shoes/For my Momma, please/It's Christmas Eve and these shoes are just her size.
Could you hurry, sir/Daddy says there's not much time/You see she's been sick for quite a while/And I know these shoes will make her smile/And I want her to look beautiful/If Momma meets Jesus tonight"
Demikianlah refrein lagu "The Christmas Shoes" karya Eddie Carswell dan Leonard Ahlstrom (New Song) yang mendasari penulisan novel dengan judul sama oleh Donna VanLiere, seorang penulis wanita kelahiran Northeastern Ohio. Donna juga menulis beberapa buku bertema Natal seperti The Christmas Blessing dan The Christmas Hope. Donna telah menerima penghargaan seperti Retailer's Choice Award for Fiction, Dove Award, Silver Angel Award, dan meraih nominasi Gold Medallion Book of the Year.
Novel mungil ini dibuka dengan adegan saat Robert Layton pergi ke makam ibunya pada suatu musim dingin di hari Natal tahun 2000. Di sana dia mengenang hidupnya yang bahagia, yang secara langsung dipengaruhi oleh pertemuannya dengan seorang anak laki-laki bernama Nathan Andrews pada tahun 1985. Robert Layton tengah berada pada puncak kariernya sebagai ahli hukum. Sukses, kaya, memiliki istri yang cantik dan 2 anak perempuan. Robert telah memiliki segalanya. Tetapi pada saat yang sama, dia semakin terpisah dengan keluarganya, bahkan tanpa ia sadari mulai mengabaikan dirinya sendiri.
Ketika berbelanja hadiah Natal buat keluarganya tanpa ia tahu apa sebenarnya yang mereka inginkan dari dia, Robert bertemu Nathan. Nathan mau membeli sepatu buat ibunya, sebagai hadiah Natal. Hadiah Natal untuk ibunya sangat berarti bagi Nathan karena ayahnya, Jack Andrews, telah mengatakan bahwa ibunya yang sakit kanker mungkin akan meninggalkan mereka malam itu dan Nathan ingin membeli sepatu buat ibunya dengan alasan, "Aku ingin ibu tampak cantik ketika berjumpa dengan Yesus."
Tetapi uang Nathan tidak cukup. Entah bagaimana, Nathan tiba-tiba telah berhadapan dengan Robert dan membangun komunikasi dengan sang ahli hukum yang skeptis ini. Dan seakan-akan ada yang menggerakkan, Robert memberikan uang guna mencukupkan harga sepatu yang diinginkan Nathan.
Robert terpesona. Sepatu Natal? Apa makna benda sepele itu baginya? Tetapi jelas Nathan sangat mengenal dan mencintai ibunya. Robert tersadar akan realita bahwa sesungguhnya dia tidak mengenal keluarganya. Bahkan istrinya sudah mau berpisah dengannya. Sepatu Natal itu memang bukan benda yang mahal bagi Robert, tetapi Robert harus mengakui sepatu Natal yang sederhana dan tampak tak berarti di tangan anak kecil yang mencintai ibunya, telah mengubah hidupnya.
Tahun-tahun berlalu, Robert tidak pernah bertemu lagi dengan Nathan, sampai Natal tahun 2000, di komplek pemakaman di mana ibunya dikuburkan, Robert bertemu seorang pemuda yang katanya kuliah di tempat yang sama dengan tempat kuliah Robert dulu. Pemuda itu tengah mempelajari onkologi (pembaca pasti akan memahami mengapa pemuda ini mempelajari bidang ini).
Dan kenangan sepatu Natal itu menghampiri Robert lagi.
Sebuah kisah indah dan mengharukan, yang jika disimak dengan penuh perasaan, kita tidak akan menyadari mata kita telah berkaca-kaca. Sama sekali bukan kisah yang cengeng. Tetapi kisah yang melembutkan hati siapa saja. Dituturkan dengan sederhana tanpa menyebabkan kerut di kening pembaca. Tidak heran kalau akhirnya novel ini difilmkan dengan Rob Lowe sebagai Robert Layton dan Neil Patrick Harris sebagai Nathan Andrews.
Satu pesan yang hendak disampaikan oleh Donna adalah bahwa sesungguhnya hidup ini berisi mukjizat-mukjizat yang berlangsung setiap hari tetapi sering tidak kita sadari; mukjizat-mukjizat yang diciptakan Tuhan untuk membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Tidak semua mukjizat harus kelihatan dan kedengaran megah. Mukjizat itu bisa berupa hadiah sepatu Natal dari hati putih seorang anak kecil bernama Nathan.
Satu poin penting yang patut diacungi jempol buat edisi Indonesia ini adalah The Christmas Shoes diterjemahkan dan disunting dengan baik. Kita tidak akan menemukan susunan kalimat aneh atau kesalahan cetak. Dan bagi saya, walaupun hari Natal merupakan momen yang tepat, tetapi buku ini tidak hanya harus dibaca pada hari Natal mengingat pesan indah yang disampaikan yang tidak hanya berguna di hari raya.
(Cerpen ini
khusus saya susun (dengan nekat) untuk Stevi, Gleadys, dan keluarga kecil
mereka. Ini adalah cerpen kedua dari sebuah trilogi).
ALABASTER BOX
Betania, kira-kira 2 mil dari
Yerusalem.
Perempuan itu terbangun dari
tidurnya sambil menangis. Marta, adiknya, memeluknya. Untuk kesekian kalinya,
kakaknya terbangun sambil menangis. Dan tangisan kakaknya, pasti akan mengusik
tidurnya, sekalipun tubuhnya terasa capai.
"Ada apa, Maria? Kau bermimpi lagi?"
Maria menangis, mengembuni pundak
Marta dengan air mata.
"Aku memimpikan hal itu
lagi!"
"Kau terlalu banyak
mengkhayal, Maria. Itulah sebabnya terbawa mimpi. Mungkin kau harus lebih
banyak di dapur untuk mengisi waktumu."
"Aku melihat palang besar itu.
Pasak-pasak. Palu. Darah. Tubuh penuh darah. Aku melihat Guru kita. Penuh
darah!"
"Hush! Itu hanya mimpi. Tidak
lama lagi Guru akan datang ke Yerusalem. Dia pasti akan singgah di rumah kita.
Cobalah berdoa kepada Hashem sebelum tidur lagi, supaya mimpi tak
mengusikmu."
Jauh setelah adiknya kembali
terlelap, Maria tetap terjaga. Wajah Guru mengambang di permukaan ingatannya.
Guru telah pergi ke Efraim setelah membangkitkan adik laki-lakinya, Lazarus,
yang telah mati empat hari. Imam-imam kepala dan orang Farisi telah bersepakat
untuk membunuh Guru. Maria menjadi bimbang apakah Guru akan datang ke Yerusalem
untuk merayakan Paskah. Sebuah tradisi yang setiap tahun mereka rayakan untuk
mengenang pembebasan dari tanah Mesir. Musa telah membawa bangsanya keluar dari
tanah Mesir setelah berbagai keajaiban terjadi di sana, sampai pada kematian
anak sulung raja yang membuat Firaun takluk.
Maria mencoba tidur lagi. Tidak mungkin
Guru membatalkan acara Paskah kali ini. Lazarus telah merencanakan
perjamuan bersama jika Guru singgah di Betania. Mereka berteman, sudah seperti
saudara. Orang tua Guru menikah di Betania, di rumah milik Imam Zakaria dan
istrinya Elisabet. Betania sudah sangat akrab dengan kehidupan Guru sejak
Hashem memutuskan untuk turun ke dunia. Sebagai kaum Yahudi, Guru tidak mungkin
melewatkan Paskah ini.
Hanya keadaan memang sangat rentan,
menegangkan. Semua murid tahu bagaimana semua yang dilakukan Guru telah memicu
kegemparan di antara kaum Farisi dan para imam. Guru memang seorang dengan
pribadi lembut. Tetapi pada saat tertentu dia bisa menjadi setegas baja. Tidak
ada yang sanggup melerainya jika dia meyakini suatu hal ada pada tempat yang
salah.