<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< January 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, January 28, 2007
YANG LIU


Judul Buku : Yang Liu
Penulis : Lan Fang
Penyunting: Imam Risdiyanto
Terbit : Cetakan 1, Desember 2006
Penerbit: Bentang Pustaka


WAJAH SKIZOFRENIK LAN FANG


Sepertinya tahun 2006 menjadi tahun hoki bagi perempuan penulis bernama Lan Fang. Perempuan "kebetulan" ini melahirkan kumpulan cerpen Laki-laki Yang Salah pada Januari 2006 (Gramedia Pustaka Utama) berisi 15 cerpen. Belum juga setahun (dilihat dari jadwalnya melahirkan), pada bulan Oktober 2006 Lan Fang telah melahirkan lagi. Bayi berikutnya adalah novel berjudul Perempuan Kembang Jepun (Gramedia Pustaka Utama). Setelah melahirkan Perempuan Kembang Jepun yang merupakan tour de force seorang Lan Fang sepanjang karier kepenulisannya hingga sekarang, Desember 2006 mengikuti istilahnya, Lan Fang "beranak" lagi. Kali ini proses bersalin Lan Fang dibidani oleh Bentang Pustaka.

Sering membaca karya Lan Fang, entah kenapa terasa aneh melihat bukunya di-display  toko buku dan tidak berniat untuk membacanya (tentu saja setelah membeli).

Kali ini proses ngeden Lan Fang mewujud dalam "sel" 15 cerpen yang menjadi "jaringan" buku dengan judul Yang Liu. Semuanya serba perempuan. Maksudnya tokoh utamanya adalah perempuan seperti gender sang penulis.

Mau tidak mau, kita "dipaksanya" untuk mengacungkan dua jempol buat usahanya terus berkiprah di belantika sastra Indonesia. Ketika penulis-penulis cerita remaja sezamannya menghilang dari peredaran, ternyata Lan Fang tetap setia pada rotasinya.

Salah satu keunikan Yang Liu adalah penggunaan nama penulisnya, Lan Fang, dalam 9 cerpen yang ada. 5 cerpen tidak memberikan nama buat karakter utamanya, 1 cerpen perempuannya diberi nama Putri/Apel. Menurut cerpen berjudul Yang Liu, Lan Fang berarti "bunga anggrek yang harum semerbak". Padahal nasib perempuan-perempuan dalam ceritanya lebih cocok dengan kelopak bunga (yang berguguran setelah bunga mekar) daripada kuntum bunga itu sendiri.

Di kanvas estetika yang dibentangkan Fang, perempuan 'lan fang' yang beraneka rupa itu menjelma sosok yang terpuntir oleh hidup, nasib, cinta dan laki-laki. Potongan-potongan kehidupan para 'lan fang' disambung oleh Fang menjadi semacam "quilt" yang utuhnya menyajikan kesenduan. Terkadang malah sapuan "kuas" kata-kata perempuan kelahiran Banjarmasin 5 Maret 1970 ini berubah menjadi sapuan ujung skalpel yang menyebabkan perih di hati pembaca.

Cerita Ini Dimulai dari Tengah membuka sajian Fang. Rupanya disengaja karena cerpen ini menjadi salah satu ekspresi estetika Fang yang menonjol dalam antologi ini. Cerita dituturkan menarik menggunakan 2 pelaku sebagai pencerita yang berganti-ganti setiap pertemuan. Cerpen ini tergolong salah satu cerpen "perih" versi Fang yang menghadirkan tokoh perempuan tanpa payudara yang membunuh suaminya. Di ujung cerpen, Fang mengejutkan pembaca untuk alasan pembunuhan yang dilakukan Lan Fang, tokoh cerpen tersebut.

Setelah pembukaan yang manis, Fang menebarkan aroma sendu berulang kali.

Dreams Come True. Perempuan impulsif yang mendambakan kesempurnaan mimpi-mimpinya.

Yang Liu. Perempuan biasa yang menolak cinta laki-laki setelah pengalaman tragisnya dengan beberapa laki-laki.

Pangeran Kodok dan Putri Duyung. Perempuan pengarang ecek-ecek yang mengidamkan lahirnya sisi romantis kekasihnya yang menempatkan uang di atas segalanya, terutama cinta.

Aku, Denny, dan Matius. Perempuan lajang yang mempertanyakan pentingnya sebuah perkawinan kepada sahabat baiknya yang seorang laki-laki.

Istana Ilalang. Perempuan kesepian yang bercerai dari suaminya dan melarikan diri dalam tugas liputan di Borobudur untuk menghindari perkawinan mantan suaminya.

Ucal dan Si Monyet. Perempuan lajang yang mendadak merasa ngeri akan menghabiskan waktu sendirian jika teman laki-laki yang dekat dengannya menikah, sehingga menawarkan pernikahan kepada temannya itu.

Ulang Tahun Koko. Perempuan janda beranak satu  yang terancam pemecatan sebagai pegawai asuransi padahal begitu banyak kebutuhan hidup yang harus dipenuhi termasuk untuk ulang tahun anak yang dicintainya.

Kemudian, pada mozaik cerpen yang kesembilan, Lan Fang bak keluar dari kerumunan cerita senada seiramanya. Rumah Tanpa Cermin adalah cerpen terindah dan terkuat Fang yang ditulis dalam antologi ini. Selain pemilihan judul dan tema yang elok, Lan Fang dengan pintar memberikan kita cermin untuk melihat refleksi diri kita sendiri melalui karakter perempuan dalam cerpen ini. Cerpen juga ditutup dengan efektif.

Setelah itu, kita diperkenalkan dengan Orasis. Ada seorang perempuan muda, cantik, dan kaya, tetapi hidup dalam kepalsuan. Namanya Putri, tetapi ia memaksa untuk dipanggil Apel.

Fang kemudian melanjutkan dengan Toast, menghadirkan perempuan yang hanya hidup dalam bayang-bayang kekasihnya. Ia bertemu seorang  bartender  di sebuah kafe dan mendadak keduanya menjadi pujangga.

Setelah Toast, Fang menyuguhkan Calon Menantu sebuah cerpen tentang seorang laki-laki bangsawan Jawa yang kehilangan kewarasannya. Kali ini Fang menunjukkan bahwa gadis Cina, walaupun dipandang rendah, ternyata bisa sangat meremukkan hati seorang laki-laki (yang dianggap) pribumi di Indonesia.

Dua Perempuan adalah kisah Fang mengenai 2 perempuan yang bertemu di sebuah wisma. Kembali Fang bertutur ala Cerita Ini Dimulai dari Tengah. Cerpen ini juga bisa dikatakan sebagai hasil proses mengejan Fang yang manis. Kedua perempuan yang diceritakan Fang dan tak diberi nama itu ternyata memiliki satu kesamaan yaitu menjalin hubungan dengan laki-laki beristri. Bedanya adalah paradigma mereka terhadap kehidupan yang dijalani.

Dalam Gong Xi Fa Chai, perempuan ciptaan Fang berbeda dengan perempuan-perempuan ciptaan lainnya. Perempuan ciptaannya kali ini adalah perempuan tua yang hidup sesuai filosofi fu lo shou. Pada usia 82 tahun dia mengenang dengan perasaan rawan bagaimana waktu mengerat tradisi yang seharusnya dipertahankan. Fang menutup cerpen ini dengan lirih. Dalam cerpen yang manis-sendu ini, Fang seharusnya berhati-hati menggunakan tokoh populer dalam cerpen. Kali ini Fang menggunakan Lin Ching Shia. Pada waktu berumur 7 tahun, si nenek telah dibandingkan dengan Lin Ching Shia. Hal itu tentu saja sudah tidak logis mengingat tidak mungkin ada anak kecil umur 7 tahun disamakan dengan perempuan dewasa (hal. 156). Pada usia 82 tahun, si nenek menceritakan bahwa anak perempuannya yang bernama Yi Che (hal. 163) mirip dengan Lin Ching Shia. Bagaimana mungkin? Berapa umur Lin Ching Shia ketika si nenek berumur 82 tahun? Jika dihitung-hitung mungkin sudah seratus tahun lebih. Padahal Lin Ching Shia yang artis cantik itu kan belum setua itu!

Menutup untaian serba perempuan Lan Fang, kita dihadapkan dengan perempuan yang sudah bosan 'beranak" dalam Bayi Ketujuh. Perempuan ini merasa sudah seperti cetakan puding agar-agar jelly. Setelah melahirkan 6 anak perempuan, dia harus melahirkan lagi anak ketujuh dengan harapan akan mendapatkan anak laki-laki. Sebuah cerpen sederhana, tetapi bernas dan cerdas, sehingga menjadi penutup yang pas buat antologi cerpen ini.

Akhirnya, karena antologi ini serba perempuan, seperti kata-kata Lan Fang (hal. 178), apa yang terjadi pada karakter-karakter perempuan ciptaannya bisa terjadi pada semua perempuan. Jadi, wahai perempuan, bacalah buku karya Lan Fang ini untuk menjadi "cermin" pribadi. Setelah "bercermin", kira-kira dalam cerpen mana Anda berada? 

 

Posted at 04:55 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, January 27, 2007
ASYLUM/MADHOUSE


Judul Buku : MADHOUSE
Judul Asli : ASYLUM
Penulis : Patrick McGrath
Penerjemah : Widati Utami
Penyunting : Marvel Neydi
Penerbit : Dastan Books,Cetakan 1 Januari 2007


SEBUAH CINTA KATASTROFIK


"Hubungan cinta katastrofik yang bercirikan pada obsesi seksual menjadi ketertarikanku secara profesional....."

(Dr.Peter Cleave dalam "Madhouse")

 

Pada musim panas tahun 1959, Stella mengikuti suaminya Max Raphael, seorang psikiater, yang bekerja sebagai wakil inspektur di sebuah rumah sakit jiwa di luar kota London.

Max ingin merekonstruksi konservatori tua di halaman rumah. Seorang pematung bernama Edgar Stark, pasien rumah sakit tersebut mendapat tugas untuk merestorasi konservatori.Edgar menjadi pasien rumah sakit jiwa setelah membunuh dan memotong kepala serta tubuh Ruth, istri sekaligus modelnya. Penyebabnya tidak lain karena Edward seorang paranoia berat yang terkungkung delusinya.

Adapun Stella, walau sudah beranak satu (Charlie)tidak merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga dan perkawinannya. Hubungan Stella dengan Max telah menjadi hambar. Begitu juga kehidupan seksual mereka. Pertemuan Stella dengan Edgar yang notabene adalah seorang pria tampan menguak sisi sensualitas Stella. Stella berselingkuh dengan Edgar. Perselingkuhan tidak hanya terjadi di konservatori, tetapi berlanjut di kamar tidur Stella dan Max. Edgar mencuri pakaian Max dan melarikan diri dari rumah sakit.

Anehnya, meski sudah tahu kondisi kejiwaan Edgar dan kecenderungannya melakukan kekerasan, Stella tidak peduli. Bahkan, demi Edgar, perempuan cantik ini meninggalkan keluarganya untuk hidup bersama dengan Edgar dalam kondisi yang menyedihkan. Ketika Edgar benar-benar melakukan kekerasan fisik, Stella meninggalkan Edgar. Tetapi cinta Stella tetap membawanya kembali pada Edgar. Saat bersamaan tempat persembunyian Edgar sudah diketahui pihak berwenang. Edgar melarikan diri lagi sementara Stella kembali pada suaminya.

Perbuatan Stella telah menghancurkan karier Max, suaminya. Namun Stella seakan-akan tidak peduli. Mereka harus meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut dan pindah ke Cledwyn, Wales Utara. Di tempat itu pun Stella tidak bisa melupakan Edgar. Stella benar-benar sudah menjelma menjadi robot yang digerakkan oleh obsesinya terhadap Edgar. Sedihnya, Stella membiarkan anaknya mati.

Stella tidak dipenjarakan tetapi dirumahsakitjiwakan dalam perawatan Peter Cleave, rekan kerja suaminya yang sudah menjadi inspektur rumah sakit.

* * *

Madhouse jelas merupakan sebuah novel psikologis kental yang menyorot kondisi kejiwaan para tokoh utamanya yang mungkin sulit dipahami nalar. Tindakan Stella berselingkuh masih bisa dipahami, tetapi bagaimana Stella berkembang menjadi pribadi dengan kecenderungan masokis yang keras kepala sungguh sesuatu yang menggemaskan.Edgar adalah pribadi sakit. Tapi ternyata Stella lebih sakit lagi. Kondisi kejiwaan Stella sangat parah sehingga akhirnya dia mengambil tindakan yang mengejutkan di akhir novel.

Semua yang kita baca dituturkan oleh Peter Cleave selaku narator dalam novel ini. McGrath melukiskan kemahiran Cleave menarasikan tragedi kehidupan Stella. Apa yang Cleave ceritakan tentang Stella adalah penuturan Stella dalam sesi-sesi terapi dengannya.Sehingga Madhouse terbangun antara pengalaman dan pengamatan Cleave serta cerita versi Stella. Oleh karena itu pada bagian akhir (halaman 480)sedikit janggal ketika Cleave menjelaskan tentang apa yang dilakukan Stella selesai pesta dansa. Cleave toh tidak akan bertemu Stella lagi untuk sesi berikutnya dan saat itu Cleave tidak sedang bersama Stella.

Perhatikan halaman 486:

"Aku belum mengatakan padanya bahwa Stella ....... karena aku ingin mendengar cerita dari versinya dulu. Masih ada banyak pertanyaan yang harus dijawab." 

Kalimat ini mengingatkan pada film "The Usual Suspect" (1995) karya sineas Bryan Singer. Dalam film ini hampir semua cerita dituturkan secara kilas balik oleh Verbal Kint (Kevin Spacey) di depan penyelidik. Semua yang dituturkan Verbal Kint ternyata kebohongan belaka. Sehingga semua yang Stella katakan pada Cleave tentu saja sengaja diposisikan pengarang untuk dapat dipertanyakan.Tetapi tentu saja belum tentu tidak benar. Dan karena baru dicetuskan menjelang novel berakhir, kesadaran itu memberi nilai lebih buat novel ini.

Pada akhirnya, jelas bagi kita bahwa Madhouse adalah sebuah kisah cinta.Tetapi bukan kisah cinta biasa, melainkan sebuah kisah cinta katastrofik berintikan obsesi seksual yang berkesan absurd. Sebuah kisah cinta melodramatis yang hanya bermuara pada lautan destruksi.

* * *

Sesungguhnya Madhouse yang berjudul asli ASYLUM telah difilmkan  oleh sutradara David MacKenzie (II)dengan Natasha Richardson sebagai Stella, Marton Csokas sebagai Edgar Stark, dan Ian McKellen sebagai Dr. Peter Cleave (2005).

Alur film persis sama dengan novel, walau ending film dilukiskan lebih dramatis dan agak berbeda.

Sekalipun demikian, novel ini tetap tidak dapat diabaikan. Novel dipaparkan sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga terasa sangat enak untuk dinikmati bahkan oleh yang telah nonton filmnya.Tentu saja dalam film kita tidak akan menemukan keindahan verbalisasi seperti dalam novel ini yang sesungguhnya merupakan kekuatan Patrick McGrath sebagai seorang prosais brilian. McGrath menguntai novelnya dalam kalimat-kalimat indah dengan aroma intelektual, dan karena dirangkai dengan sangat terkendali novel membentuk aliran sungai kata-kata yang mengalir lancar menuju lautan kegilaan tempat berakumulasinya obsesi, delusi, ilusi, dan gairah ragawi.

* * *

Karya yang indah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan cemerlang sehingga kesan cerdasnya begitu terasa dalam setiap halaman. Mungkin yang agak mengganjal hanya sampul novel yang tidak merefleksikan isi novel.Tetapi dengan mengabaikan sampulnya kita tetap akan mendapatkan sajian yang sangat memikat dan tak terlupakan. 

 

Posted at 12:58 pm by Jody
Make a comment  

Friday, January 26, 2007
MESSIAH

Judul Buku : MESSIAH
Penulis : Boris Starling
Penerjemah : Eka Santi Sasono dan Rahmawati Rusli
Penyunting : Eka Santi Sasono
Tebal : 644 hlm
Terbit: Cetakan 1, Januari 2007

Penerbit : Ufuk Press


MESSIAH: DAYA PIKAT YANG MENAKUTKAN

 

Messiah. Judul yang singkat. Tetapi ketika membacanya, kita tidak dapat melupakan sengatan yang ditorehkan di benak kita (dan mungkin juga jantung kita). Boris Starling, penulis novel kelahiran tahun 1969  menerbitkan Messiah pada waktu dia berusia 30 tahun, sebagai debut yang sangat gemilang (1999). Lulusan Eton College dan Trinity College ini rupanya senang memakai judul hanya satu kata untuk novelnya. Setelah Messiah, dia telah menerbitkan novel berjudul Storm, Vodka, dan Visibility (www.borisstarling.com).

Di tangan Starling, Messiah menjadi sebuah thriller yang bergerak cepat dengan adegan-adegan yang mengerikan. Sejak awal novel kita telah diperkenalkan dengan darah, dan darah terus mengalir sampai novel mencapai akhir.

Novel dibuka dengan 2 pembunuhan yang terjadi secara berurutan dengan korban Philip Rhodes, pengusaha katering, dibunuh dengan cara digantung, dan James Cunningham, seorang uskup, dipukuli dengan brutal sampai mati.Tidak ada bukti yang ditinggalkan si pembunuh selain tanda pada mayat berupa lidah yang dipotong (dan dibawa pergi si pembunuh) dan sendok perak yang dijejalkan dalam mulut korban. Para korban dibunuh hanya memakai celana dalam.

Sebuah tim segera dibentuk di Scotland Yard, dipimpin oleh Red Metcalfe, seorang detektif terkenal, untuk mengusut pembunuhan yang terjadi. Selain dirinya, dalam tim tersebut terdapat Jez Clifton, Kate Beauchamp, dan Duncan Warren. Belum mendapat petunjuk apa-apa, pembunuhan telah terjadi lagi. James Buxton, seorang tentara dipenggal lehernya. Dugaan semula bahwa pembunuhan-pembunuhan tersebut kemungkinan berhubungan dengan perilaku homoseksual segera gugur begitu pembunuhan terjadi lagi. Bart (Bartholomew) Miller dibunuh dan dikuliti disusul Matthew Fox, dikapak sampai mati.

Sebagai detektif yang terkenal karena kemampuannya memasuki jalan pikiran para pembunuh dan berhasil menangkap mereka, Red merasa kewalahan. Sekonyong-konyong dia merasa kemampuannya dirampas darinya. Si Lidah perak, julukan tim Red untuk sang pembunuh, berulang kali berhasil mengencundangi Red.

Ada 2 pemikiran Red mengenai pembunuh berantai. Pertama, semakin banyak membunuh, semakin besar peluang si pembunuh tertangkap karena meninggalkan jejak atau bukti atau sesuatu. Kedua, tidak peduli berapa orang yang telah dibunuh, si pembunuh akan kembali membunuh kecuali ia berhasil ditangkap. Tetapi kecuali pemikiran yang kedua, tidak ada jejak atau bukti yang mereka dapatkan.

Secara tak sengaja, Red menemukan misteri di balik pembunuhan berantai tersebut. Mungkin jika memerhatikan nama-nama korban, ada pembaca yang mulai mengira-ngira. Ya, para korban terbunuh hanya karena nama mereka! Mereka memiliki nama yang sama dengan nama rasul-rasul yang menjadi murid Yesus Kristus seperti yang ada dalam Injil.

Tim Red segera menemukan alasan membunuh dari si pembunuh, yaitu si pembunuh mengidentifikasi dirinya sebagai Mesias seperti halnya Yesus. Segala usaha dikerahkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan orang-orang yang memiliki nama seperti nama rasul yang belum menjadi korban. Tetapi, berulang-ulang tim Red dikecundangi lagi oleh si pembunuh.

Atas inisiatif Jez Clifton, tersangka si Lidah Perak yang juga dikenal sebagai pembunuh rasul akhirnya ditemukan. Red berharap setelah pembunuh ini tertangkap, dia bisa memperbaiki hidupnya lagi termasuk hubungannya dengan Susan, istrinya, yang di ambang kehancuran.

Justru, saat itu, dia mengetahui siapa sebenarnya pembunuh rasul itu, seperti tesis Red mengenai pembunuh berantai, ternyata muncul juga "sesuatu" yang ditinggalkan si pembunuh. Namun, saat itu telah terlambat untuk Red mencegah usaha pembunuhan yang memosisikannya sebagai calon korban.

* * *

Starling membagi novelnya dalam 3 bagian besar yang terdiri atas sejumlah sub bagian. Bagian pertama terdiri atas sub bagian 1 - 59. Bagian kedua terdiri atas sub bagian 60 - 115, sedangkan bagian ketiga terdiri atas sub bagian 116 - 126. Uniknya, ada sub bagian yang hanya berupa 1 kalimat yaitu sub bagian 74 (halaman 365). Terdapat 14 bab yang menceritakan kisah masa lalu Red. Ada 6 sub bagian yang merupakan ucapan si pembunuh, 1 sub bagian tentang pembunuhan yang dilakukan si Lidah Perak (bab 82), dan 1 sub bagian yang merupakan interpretasi Starling seputar peristiwa menjelang penyaliban Yesus.

Oleh penerbit, cerita masa lalu Red ditampilkan menggunakan "pattern", sehingga seharusnya bab 24 juga diberi "pattern" dan bukan bab 58 (halaman 283). 

Starling juga mencantumkan tanggal-tanggal dalam novelnya. Hal ini penting, karena tanggal-tanggal itu tidak sembarangan dicantumkan. Oleh karena itu, sub bagian 53 (halaman 263) jelas keliru tanggalnya, seharusnya tanggal 21 September 1998, bukan tanggal 1 September 1998.

Starling jelas adalah pengarang yang cerdas. Mantan jurnalis di The Sun dan The Daily Telegraph ini menghadirkan cerita thriller misteri dengan begitu cemerlang, memperkenalkan sebuah gagasan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh penulis-penulis kaliber dunia lain. Keseluruhannya terasa sangat mengerikan, tetapi sekaligus sangat memukau. Teknik penyajian Starling yang dahsyat akan membuat pembaca terus terdorong untuk menuntaskan isi novel setebal 640 halaman ini (di luar halaman "iklan" dari penerbit).

Pembunuhan oleh pembunuh yang menyangka dirinya Mesias jelas-jelas kontradiktif. Perhatikan bahwa si pembunuh membunuh orang-orang dengan nama seperti nama murid Yesus seolah-olah dia sedang membunuh murid-murid Yesus yang sesungguhnya. Realitasnya Yesus tidak pernah membunuh murid-muridnya.Tetapi hal itu bisa dipahami karena selain pembunuhnya sudah pasti seorang psikopat tulen yang sakit jiwa parah, sebetulnya apa yang ia lakukan tidak lain adalah semacam pembalasan dendam yang diarahkan untuk menghancurkan Red, tubuh dan jiwa. Di akhir karyanya, pembunuh ini berharap Red yang akan bertanggung jawab terhadap semua pembunuhan yang telah ia lakukan.

Tetapi kita akan membaca, di ujung novel, justru Red "menegakkan" cerita tentang Mesias pada tempat yang sebenarnya, sebuah akhir yang gemilang dan jenaka. Seiring dengan itu Red mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya atas ketakutannya terhadap tesis kedua yang dia yakini.

Ada beberapa hal yang menarik dibicarakan. Pertama soal Paskah. Penulis kiranya agak kurang cermat. Paskah yang Yesus dan murid-muridnya rayakan di Yerusalem menjelang penyaliban berbeda dengan Paskah yang dirayakan umat Kristen saat ini. Paskah yang pertama dirayakan untuk memperingati bebasnya bangsa Yahudi dari penindasan di Mesir, sedangkan Paskah saat ini yang dirayakan umat Kristen adalah untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Paskah yang kedua ini hanya bisa dirayakan pada hari Minggu.

Jadi, peristiwa Jumat, 9 April 1982 (sub bagian 41), tidak terjadi pada malam Paskah, tetapi Jumat Agung. Coba bandingkan dengan ucapan si pembunuh pada halaman 615 (sub bagian 121, baris 6 - 7).

Kedua, perkataan si pembunuh pada Red soal uang 30 ribu paun (halaman 621). Dari mana ia tahu Red memberikan uang itu pada ayahnya? Sepertinya yang tahu soal uang yang diberikan pada ayah Red hanya Red dan ayahnya.

Dan berbicara mengenai 30 ribu paun, pada halaman 179 (sub bagian 34) terpeleset menjadi 30 ribu dolar (entah Starling atau penerjemahnya yang keliru).

Ketiga yang tidak kurang penting adalah celana dalam yang dipakai korban pada waktu dibunuh yang dikatakan dalam novel mengikuti Yesus yang disalibkan hanya menggunakan cawat. Hal ini kurang tepat, karena pada waktu disalibkan Yesus sebenarnya tidak memakai apa-apa. Kalau dalam gambar atau lukisan Yesus diberi cawat tentu saja karena masalah kesopanan dan penghormatan.

Yang terakhir, Bartholomew yang seorang laki-laki jelas seorang "Santo" dan bukan "Santa" seperti disebutkan pada halaman 294 dan 295.

Mungkin bagi orang lain hal-hal ini tidak penting, tetapi ini adalah sebuah novel misteri, sehingga kalau kita teliti membaca kita bisa melihat penulis begitu cermat menabur tanda bagi pembaca untuk menebak siapa sesungguhnya si pembunuh. Jadi dalam novel seperti ini hal sekecil apapun merupakan hal yang penting dan tidak bisa diabaikan.

Walaupun demikian, secara keseluruhan, novel ini tetap merupakan novel brilian, cerkas, enak dibaca, dan sangat memuaskan.


Posted at 12:02 pm by Jody
Comments (2)  

Monday, January 22, 2007
THE HISTORY OF LOVE


 Judul : The History of Love (Sejarah Cinta)
Penulis : Nicole Krauss
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, November 2006


SEJARAH CINTA: SEBUAH BUKU TENTANG BUKU


"Wanita yang pertama diciptakan mungkin Hawa, tapi gadisku yang pertama tetap Alma" (Zvi Litvinoff, The History of Love)

 


Seorang pemuda bernama David menemukan buku berjudul The History of Love karya Zvi Litvinoff, seorang laki-laki yang melarikan diri dari Polandia ke Chili pada tahun 1941, di sebuah toko buku di Buenos Aires.

Bertahun-tahun kemudian, Jacob Marcus, meminta Charlotte Singer untuk menerjemahkan buku yang ditulis menggunakan bahasa Spanyol itu ke dalam bahasa Inggris. Bagi Charlotte buku itu mempunyai nilai sejarah yang sangat berarti.Suaminya telah memberikan kepadanya sebagai tanda cinta.

Setelah ayahnya meninggal, gadis bernama Alma, yang namanya diambil dari nama setiap gadis dalam buku The History of Love, melihat ibunya tidak bahagia. Setelah berbagai usaha untuk menjodohkan ibunya yang gagal, Alma berniat memecahkan misteri penulis buku serta gadis bernama Alma yang dipakai oleh si penulis. Ia menduga usaha yang ia lakukan dapat mengembalikan kebahagiaan ibunya.

Seorang pria tua bernama Leopold Gursky di tempat lain di kota New York sedang menanti waktu kematiannya. Leo tidak memiliki keluarga lagi, hanya seorang teman bernama Bruno. Leo tidak pernah menikah, hidup terus dengan cinta masa remajanya yang terpangkas karena perang. Sebelum perang, kekasihnya pergi ke Amerika meninggalkan tanah air mereka dalam keadaan hamil. Setelah perang, Leo menyusul ke Amerika hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya telah menikahi lelaki lain. Leo merasa kehilangan segalanya. Keluarga. Kekasih. Dan anak yang tidak pernah tahu jati diri ayah kandungnya.

Dalam pencarian Alma, gadis itu menemukan bahwa sesungguhnya Jacob Marcus adalah nama tokoh dalam novel berjudul "The Remedy" karya Isaac Moritz. Buku itu berhasil mendapatkan penghargaan National Book Award pada tahun 1972.

Pencarian Alma akhirnya mempertemukannya dengan Leo Gursky, atas inisiatif adiknya, Emanuel Chaim atau Bird, yang merasa dirinya adalah salah satu calon mesias.

Siapakah sebenarnya Leo Gursky?

Siapa juga sosok di balik Jacob Marcus?

Jawabannya tentu saja bisa ditemukan dalam novel mengharukan ini.

Di akhir novel, selain Alma akhirnya bisa memahami perasaan seorang laki-laki tua yang menunggu mati, pembaca juga dikejutkan dengan jati diri Bruno yang sebenarnya (hal. 329).

Nicole Krauss bertutur menggunakan beberapa narator. Leo dan Alma merupakan narator utama. Pada beberapa bagian Bird menjadi narator. Sisanya diceritakan menggunakan perspektif orang ketiga, yaitu pada waktu Krauss mengisahkan kehidupan penulis Zvi Litvinoff. Perhatikan keberhasilan Krauss ketika dia menggunakan Leo, Alma atau Bird sebagai narator. Ketiga-tiganya menggunakan gaya mereka sendiri yang khas, kendati ditulis oleh pengarang yang sama.

Krauss kelahiran New York tahun 1974 yang novel perdananya, Man Walks Into a Room, dinominasikan untuk Los Angeles Times Book Award berhasil memaparkan perjalanan hidup seorang pria Yahudi Polandia yang sebatang kara; bagaimana pikiran dan perasaan pria itu terhadap kehidupannya pribadi. Juga perjalanan seorang gadis menuju masa remaja untuk memahami cinta. Semua dijalin apik, unik, jenaka, dan sangat menyentuh.

Tidak bisa diabaikan adalah upaya penerjemah yang menurut saya berhasil menghasilkan karya terjemahan tanpa merusak gaya penulisnya.

The History of Love sama sekali bukanlah novel cinta-cintaan seperti chicklit atau teenlit. The History of Love adalah sebuah kisah mengharukan, tetapi bukan kisah yang cengeng. Sebuah buku tentang buku yang menyatukan para tokoh dalam jaring pesona keindahan cinta, dan kasih sayang.

 

Posted at 01:17 pm by Jody
Make a comment  

Sunday, January 21, 2007
HELL ANGEL (EXORCIST)



Judul Buku : Hell Angel (Evil in the Byzantine Church)
Penulis : Steven Piziks
Judul Asli : Exorcist: The Beginning
Penerjemah : Dina Mardiana
Penyunting : Ali Yahya
Penerbit : Dastan Books, Cetakan 1 November 2006


HARI INI TUHAN TIDAK ADA DI SINI!

 

Sebenarnya "Hell Angel" yang diterjemahkan dari "Exorcist: The Beginning" mengusung tema horor yang populer dalam perfilman era 70-an bersamaan dengan suksesnya film "The Exorcist" pada tahun 1973. Tema yang dimaksud adalah tema horor menggunakan makhluk halus, bukan seperti yang berkembang saat ini yang menggunakan psikopat sebagai pencetus horor. Walaupun akan mengingatkan pada "The Exorcist" sama sekali novel ini (yang diadaptasi dari skenario film "Exorcist: The Beginning") tidak berkaitan dengan film yang dibintangi oleh Linda Blair tersebut. Oleh karena itu, judul "Hell Angel" yang digunakan Dastan Books lebih terasa pas, kendati dalam novel ini tetap terdapat adegan pengusiran setan. Dan jika disimak dengan baik-baik, sesungguhnya bukan adegan pengusiran setan yang menjadi inti novel ini.

Semua berawal dari penemuan sebuah gereja kuno di Derati, Turkana (Kenya),sebagai efek samping dari penambangan emas. Gereja kuno itu diduga berasal dari sekitar tahun 500 Masehi. Anehnya, misionaris Katolik diketahui tidak sampai di sana pada masa itu, apalagi sampai membangun gereja. Lebih lanjut ditemukan gereja itu sengaja dikubur setelah selesai dibangun.

Adalah Lankester Merrin, arkeolog lulusan Oxford sekaligus mantan pendeta Katolik (di Indonesia penggunaan pastor lebih lazim dari pendeta untuk kalangan Katolik) dibayar oleh seorang bernama Semelier untuk terlibat dalam proyek penggalian situs tersebut. Merrin menerima tawaran Semelier dan meninggalkan Kairo menuju Turkana. Di Turkana dia bertemu dengan berbagai karakter yang berhubungan dengan situs gereja kuno tersebut, antara lain Mayor Granville,pastor muda William Francis dan seorang dokter perempuan cantik bernama Sarah Novack. Salah satu di antara mereka mengetahui rahasia di balik penemuan situs tersebut. Satu yang lain memiliki rahasia masa lalu yang terkait dengan akibat yang disebabkan oleh situs tersebut. Merrin menemukan ternyata di bawah gereja terdapat ruang bawah tanah yang usianya lebih tua dari usia gereja tersebut.

Seiring dengan upaya pemecahan misteri yang melingkupi situs gereja kuno itu,kematian demi kematian aneh dan peristiwa kerasukan setan terjadi. Terungkap bahwa tempat itu memiliki legenda yang tidak diketahui semua orang. Legenda itu menceritakan bahwa setelah perang di surga, Lucifer, iblis jelmaan malaikat sesat, jatuh di bumi tepatnya di lokasi situs. Tatkala Vatikan mengutus 2 pastor yaitu Theron dan Iason untuk memimpin pencarian tempat Lucifer jatuh bersama pasukan tentara Bizantium, peristiwa yang tidak diharapkan justru terjadi. Oleh karena itu, gereja kuno tersebut dibangun hanya untuk dikuburkan.

Berbarengan dengan tersingkapnya misteri gereja itu, terkuak juga masa lalu Merrin yang menyebabkan dia meninggalkan tugasnya sebagai pastor, sekaligus berpaling dari gereja Katolik. Keping-keping masa lalu Merrin yang rancu menyatu membentuk alasan sebenarnya yaitu sesungguhnya bukan gereja yang telah menyakitkan hati Merrin. Tetapi Tuhan!

TUHAN TIDAK ADA DI SINI SEKARANG! Itulah sebenarnya masalah keimanan Merrin. Ketika dia membutuhkan Tuhan pada saat tergenting dalam karier pastoralnya, Tuhan seolah-olah bergeming. Kenyataan itu membuat iman Merrin terguncang.

Di penghujung novel, jelaslah bagi kita kalau perjalanan Merrin ke Derati adalah sebuah rencana jitu yang telah disusun, sebuah perjalanan untuk mencari imannya yang hilang. Tidak ada lagi kasus sebesar misteri yang terpendam di bawah gereja kuno itu yang sanggup membuat Merrin menemukan imannya kembali.

Di penghujung novel juga, ketika Merrin melakukan pengusiran iblis, dengan licik iblis memanfaatkan dosa-dosa dan rasa bersalahnya di masa lalu untuk memangkas kuncup-kuncup iman Merrin yang baru mulai tumbuh. Meski tesis kelicikan iblis ini sesuai dengan ajaran Kristen saat ini, tetapi teknik pengusiran yang dipakai Merrin terasa sangat menggelikan. Itulah sebabnya adegan pengusiran iblis menjadi berlarut-larut. Perhatikan betapa kacau balaunya Merrin menghadapi iblis yang saat itu menggunakan mediator yang tidak diduga oleh Merrin (dan pembaca sebelumnya).Jangan berani mencoba mengusir iblis jika Anda tidak siap seutuhnya!!

Steven Piziks bisa dikatakan sukses mengadaptasi skenario film yang disusun Alexi Hawley berdasarkan cerita William Wisher dan Caleb Carr ini ke dalam novel. Kita tidak akan menemukan pikiran atau perasaan mendalam para tokoh cerita dalam sebuah skenario (dan film), karena para aktorlah yang bertugas sebisa mungkin menerjemahkan pikiran dan perasaan tokoh yang diperankannya di layar film.Tetapi Piziks menggali semua itu dan berhasil membubuhinya ke dalam adonan cerita.

Alhasil, di tangan Piziks, terbangunlah sebuah novel horor dengan deskripsi teror yang cukup. Novel mengalir lancar mengantarkan horor tanpa bertele-tele,mencekam sekaligus mengejutkan.

Sekedar tambahan, malaikat-malaikat seperti Mikail, Gibrael (Jibril), Uriel, Rafael, memang dapat ditelusuri dalam Alkitab. Tetapi Lucifer? Sama sekali tidak ada referensi nama ini dalam Alkitab. Entah siapa yang menamakan malaikat sesat itu sebagai Lucifer.

Gagak dan lalat dalam novel ini merupakan simbol. Kalau gagak adalah simbol kematian, lalat adalah simbol pengaruh iblis sendiri. Iblis memang dikenal juga sebagai Beelzebul yang dapat diartikan sebagai 'raja lalat'.

Sebagai koreksi, pada halaman 441 dicatat bahwa vasodilator adalah "alat" untuk fungsi dilatasi pembuluh darah. Fungsinya benar, tetapi vasodilator sama sekali bukan alat. Vasodilator adalah "obat" yang digunakan untuk melebarkan (dilatasi) pembuluh darah.


Posted at 07:02 pm by Jody
Make a comment  

Friday, January 19, 2007
BOY MEETS GIRL



Judul Buku : BOY MEETS GIRL (Perang Melawan Bos Tiran)
Penulis : Meg Cabot
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan 1, Desember 2006
496 halaman


 

WHEN MITCH MEETS KATE

 

Chicklit (Chick Literature) yang diartikan sebagai 'bacaan cewek' memang oleh penerbitnya ditujukan kepada wanita muda yang konon cerdas, mandiri, berani, dan jujur pada diri sendiri. Chicklit merupakan sajian dengan gaya bahasa populer, santai, konyol, dan cerdas (konon). Bagi saya ini cuma masalah marketing belaka, masalah STP. Dan chicklit menyasar wanita dengan karakteristik seperti dikatakan tadi. Walaupun sudah disegmentasi sedemikian rupa, tentu saja konsumen produk bisa berkembang. Sebagai contoh novel Harry Potter sebelumnya menargetkan pembaca dewasa, tetapi nyatanya berkembang ke berbagai usia, pria atau wanita.

Tidak dapat disangkal bahwa nyaris semua chicklit adalah karya stereotip, sehingga problem yang ada dalamnya hampir sama semua. Umumnya perempuan lajang kosmopolitan, punya karier dan memiliki masalah dengan percintaan.

Demikian juga Boys Meet Girls.

Tetapi di tangan Meg Cabot sajian stereotip bisa berbeda. Meg tidak menggunakan teknik penyajian dengan menggunakan gaya yang sudah sangat biasa. Meg menggunakan segala media yang bahkan terkesan remeh untuk menjadi areal eksplorasinya. Pertama kali saya membaca karya Meg yang menceritakan problematik wanita dan pria dewasa adalah buku yang berjudul The Guy Next Door (Pria Idaman di Sebelah Rumah). The Guy Next Door di tangan Meg menjadi sangat menarik karena cerita dan plot dirajutnya dengan menggunakan e-mail (yang kemudian diimitasi orang lain).

Meg Cabot bernama lengkap Meggin Patricia Cabot. Dalam berkarya sering juga menggunakan nama Patricia Cabot atau Jenny Caroll. Meg telah menulis banyak novel remaja dan dewasa dengan tokoh utama cewek. Cerita-ceritanya bukan cerita yang rumit dan bikin kening berkerinyut. Tetapi dia memiliki kelebihan dalam bertutur. Hal itu membuat tulisannya berkesan istimewa misalnya dibanding dengan karya Sophie Kinsella (saya pernah memulai baca salah satu novel Kinsella dan tidak pernah menuntaskan sampai saat ini). Di tengah ingar-bingar dunia chicklit, sudah seharusnya untuk menghindari kebosanan pembaca, penulis-penulisnya mengembangkan cerita dengan cara berbeda, dan Meg berhasil mengeksekusi itu.

Saya tidak yakin Meg secara pribadi menyasarkan karyanya "hanya untuk cewek". Jika memerhatikan The Guy Next Door dan Boy Meets Girl, sesungguhnya Meg mempersembahkan karyanya untuk Benjamin, suaminya, yang sudah pasti seorang laki-laki.

Pada dasarnya Boy Meets Girl adalah kumpulan remah-remah yang kerap tidak kita pikirkan. Semuanya diangkat Meg dan disodorkan kepada kita dengan cara yang mengejutkan. Boys Meets Girl adalah kumpulan instant message, e-mail, transkrip pembicaraan, laporan kejadian, voice mail, pesan telepon, daftar menu, struk belanja, jurnal, deposisi, memo, surat dan resep masakan yang dirangkai membentuk alur yang akan tercipta dengan sendirinya di benak pembaca. Tidak ada transisi adegan yang jelas layaknya novel biasa. Tetapi uniknya, cerita mengalir dengan jelas, khas, gurih, dan renyah.

Boys Meets Girl juga diterjemahkan oleh Indah Pratidina dengan bahasa populer yang sangat pas. Kekocakan disemir bagaikan selai lezat di sepanjang cerita, awal hingga akhir. Tatkala membaca, kita bisa menemukan pergulatan dan masalah kehidupan para tokoh, sifat-sifat dan keinginan-keinginan mereka dengan jelas. Dan karena disampaikan dengan cerdas-konyol, kita akan tertawa di antara aktivitas baca kita. Ya, minimal senyumlah.

Semua berawal dari Ida Lopez, petugas troli sajian pencuci mulut Craft Food Services di koran-foto The New York Journal. Ida tidak mau menambahkan pai buatannya untuk Stuart Hertzog, konsultan legal The New York Journal, dari Hertzog Webber dan Boyle. Celakanya, Stuart adalah tunangan Amy Jenkins, direktur SDM, sang PTK (Penguasa Tirani Kantor) bagi orang-orang di sekelilingnya. Ida harus dipecat dan tugas memecatkan Ida dimandatkan Amy kepada Kate Mackenzie, 25 tahun, penggemar ayam saus bawang dan Alyssa Milano, dan baru putus dari teman kumpul kebonya, Dale Carter; perwakilan personalia divisi SDM.

Ida menggugat keputusan pemecatan itu meskipun tidak menyalahkan Kate yang sangat disayanginya. Lucunya yang menjadi pengacara Ida untuk menggugat The New York Journal seharusnya Stuart Hertzog. Stuart mengalihkan kewajibannya kepada Mitchell Hertzog adiknya, yang tidak akur dengan dia, 29 tahun, cakep dan baik hati. Di sinilah Kate dipertemukan dengan Mitch. Sama-sama saling tertarik walaupun pada awalnya sama-sama tidak menyukai pekerjaan lawan jenisnya.

Meg Cabot mengelaborasi dengan wajar tak berlebihan apalagi cengeng cinta yang berkembang di antara perang melawan sang bos tiran, Amy Jenkins (dan kekasihnya Stuart yang menyebalkan) dan masalah keluarga Hertzog. Perhatikan kenakalan Meg menggambarkan sifat sombong dari Amy dan Stuart ketika mereka mengirim e-mail yang terasa menggelikan. Perhatikan juga tokoh-tokoh yang diinsertkan oleh Amy untuk membumbui novelnya. Dale Carter, Ida Lopez, Stacy Trent, Dolly Vargas, Janice Hertzog atau Sean, dan Vivica (yang juga tampil di The Guy Next Door) adalah pribadi-pribadi konyol yang melezatkan cerita.

Sesungguhnya Meg sangat berhasil mengalirkan ceritanya dengan menggunakan apa saja yang dia inginkan. Yang jadi masalah justru adalah saat Meg memakai jurnal Kate saat bercerita. Bagaimana mungkin Meg menggambarkan Kate yang lagi kencan dengan Mitch seolah-olah saat bersamaan Kate tengah menulis jurnal? Lalu, walau isi jurnal Kate berantakan pada saat Kate mabuk, apa iya orang mabuk terpikir untuk mengisi jurnal? Selain itu, dalam novel Meg ini seolah-olah tokoh-tokohnya tidak pernah sempat mengangkat telepon.

Tetapi secara keseluruhan membaca Boy Meets Girl memiliki keasyikan sendiri. Ringan dan pasti tidak akan membuat kita kebingungan memecahkan misteri.

Posted at 01:54 pm by Jody
Make a comment  

Thursday, January 18, 2007
MAP OF BONES

Judul Buku : Map of Bones (Peta Tulang-Belulang)
Penerjemah : Bunga Mei
Penyunting : Awangningsih
Penerbit: Rajut Publishing, Januari 2007
Tebal : 744 halaman

 

Saya selalu tercengang ketika membaca novel-novel karya beberapa penulis barat. Mereka menulis setelah melakukan serangkaian riset yang sesuai untuk mendukung isi novelnya. Alhasil, novelnya menjadi sangat memikat dan eksklusif. James Rollins, yang dokter hewan ini  tergolong penulis novel yang memakai riset untuk membuat novelnya berbobot. Hal itu bisa dilihat dari novel Map of Bones yang diterbitkan Rajut Publishing dengan judul Indonesia Peta Tulang-Belulang.

Pada misa tengah malam untuk mengenang 3 orang majus (magi) di Katedral Koln, Jerman, terjadi pembantaian yang menyebabkan 85 orang terbunuh. Bersamaan dengan itu, tulang-belulang Magi yang disimpan di katedral tersebut hilang dicuri. Ada satu orang yang lolos dan menyaksikan bahwa yang menjadi korban utama adalah orang-orang yang memakan roti komuni. Yang tidak makan, tewas karena ditembak.

Kejadian itu membuat pihak Vatikan kuatir dan meminta pertolongan SIGMA FORCE, sebuah kesatuan elit dalam Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk mencari tahu biang kerok kejahatan tersebut. Grayson Pierce ditunjuk sebagai komandan tim SIGMA FORCE. Tim tersebut terlibat kerja sama dengan Rachel Verona dari kesatuan carabinieri Roma dan Vigor, paman Rachel yang adalah perwakilan Vatikan.

Pencarian yang mereka lakukan bersama berhasil menemukan kaitan antara peristiwa pembantaian tersebut dengan Dragon Court, sekte alkemi kuno yang dibentuk oleh pihak pembangkang pada masa-masa awal gereja. Tetapi pelacakan tim tersebut rupanya dibayangi oleh pengkhianatan yang berasal dari tubuh Vatikan sendiri yang menyebabkan tim investigasi ini dikejar-kejar ancaman pembunuhan. Perjalanan tim Grayson merambat ke Alexandria, Mesir pada penemuan makam Alexander Agung. Tanpa disinggung-singgung sebelumnya, ternyata pencarian selanjutnya mengarah pada harta Templar yang konon dapat mengantarkan 'kunci dunia" ke tangan siapa yang menemukan. Dan itulah yang menjadi rahasia Magi.

Rollins sangat sukses menciptakan ketegangan dengan alur cepat. Walaupun cukup tebal, novel ini tidak membosankan untuk dibaca. Apalagi novel ini sangat lengkap dengan riset yang mengagumkan, yang bahkan mempertanyakan hal-hal yang saya pernah baca dalam kitab agama Kristen berkaitan dengan zaman Mesir Kuno dan Musa, salah satu Nabi besar. Novel juga disertai dengan peta dan gambar untuk lebih memperjelas beberapa hal yang mungkin agak sulit dibayangkan oleh pembaca.

Tetapi novel ini tidak sepenuhnya tuntas. Rollins tetap menyisakan misteri di ujung novel yang akan terus membuat pembaca bertanya-tanya. Akhir novel yang sejatinya sangat menarik ini penuh spekulasi yang hanya dituturkan oleh tokoh-tokoh novel. Sebetulnya, apa yang akan terjadi jika kunci emas yang diambil dari mayat Alexander Agung itu digunakan?

 

Posted at 12:53 pm by Jody
Make a comment  

Wednesday, January 17, 2007
SCREW IT, LET'S DO IT LESSON IN LIFE



Judul Buku : 9 Prinsip Sukses dari CEO Perusahaan Raksasa Inggris
Judul Asli : Screw it, let's do it Lesson in Life
Penulis : Richard Branson
Penerjemah : ?
Penerbit : Ufuk Press, November 2006

 

JURUS-JURUS RICHARD BRANSON

 

Richard Branson adalah CEO dari Virgin Group, perusahaan raksasa yang merambah berbagai bisnis seperti musik, penerbangan, seluler, eceran, internet, minuman, kereta api, hotel dan resort meliputi sekitar 200 perusahaan di lebih dari 30 negara.

Dalam buku yang ditulisnya ini, Richard Branson berbagi pengalaman hidup kepada pembaca seputar bagaimana caranya dia meraih sukses seperti yang ditunjukkannya saat ini. Pria kelahiran tahun 1950 dan ternyata tidak tamat SMU ini dengan terbuka mengungkap bagaimana dia meraih sukses, kegagalan yang pernah dialaminya serta siapa saja yang berperan penting dalam hidupnya.

Kendati percaya dengan cita-cita, sejak muda pria yang dulunya mengidap disleksia ini tetap bersikap praktis menyiasati hidup. Mungkin karena itulah Branson berhenti sekolah pada usia 16 tahun untuk menangani majalah Student yang diterbitkan dengan memanfaatkan ruang bawah tanah rumah orang tuanya di London.

Pada tahun 1970, Branson mendirikan Virgin sebagai pengecer rekaman secara mail order. Menurut Branson, usahanya dinamakan Virgin, karena para pendirinya memang ' virgin ' dalam bisnis. Setelah membuka toko rekaman di Oxford Street London, pada tahun 1972 Branson membangun studio rekaman di Oxfordshire dan meluncurkan album "Tubular Bells" dari artis pertamanya, Mike Oldfied. Album ini menjadi soundtrack film The Excorcist.

Bagi Branson, tidak ada kata "tidak". Oleh karena itu sejak kecil, usia 8 tahun, dia sudah belajar bisnis. Pada suatu Paskah, Branson mengajak temannya, Nik Powell, untuk menanam 400 benih cemara dengan harapan pada musim Natal, 18 bulan kemudian, cemara-cemara itu akan menjadi pohon-pohon Natal dan mereka akan mendapatkan 795 pound sterling. Sayang kelinci-kelinci memakan habis semua benih. Branson membalas kelinci-kelinci nakal itu dengan memburu mereka kemudian menjual dan mendapatkan uang di atas biaya yang sudah dikeluarkan.

Branson merupakan pribadi pemberani, tetapi menurutnya tidak konyol, sehingga dia berani mendirikan sebuah maskapai penerbangan, Virgin Atlantic dan menantang British Airways. Keberaniannya selanjutnya dikukuhkan dengan mendirikan Virgin Trains di tengah-tengah pesimisme publik.

Menengok ke masa kecilnya, Branson menyadari peranan ibunya dalam pembentukan pribadinya. Sejak kecil Branson sudah digembleng untuk berdikari oleh ibunya. Kata ibunya, "Apabila Anda ingin susu, jangan duduk di kursi di tengah padang dengan harapan ada induk sapi datang memberikan ASI-nya kepada Anda." Ketika melakukan usaha ilegal, Branson tertangkap dan harus membayar jaminan. Ibunya menawarkan rumahnya karena Branson tidak punya 30.000 pound sterling untuk membayar jaminan. Dalam perjalanan pulang dari pengadilan dan Branson sudah nyaris menangis, ibunya berkata, " Aku tahu kau telah belajar dari pengalaman ini, Ricky. Tak usah menangisi susu yang sudah tumpah. Hadapi saja yang ada di depan kita dengan lebih baik." Pelajaran yang Branson peroleh adalah dalam berbisnis ia harus bersikap jujur kalau tidak mau mendapatkan akibat yang tidak dikehendaki.

Selanjutnya, Branson menjelma menjadi sosok filantrop dengan lembaga amal seperti Virgin Healthcare Foundation.

Dan seperti yang dianjurkannya, Branson menikmati hidupnya. Tetapi untuk dia menikmati hidup berarti petualangan. Maka bertualang lah dia menggunakan balon udara panas melintasi Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Penuh risiko, tetapi sepertinya dia tidak mau hidup tanpa tantangan, tanpa merasakan gemuruh adrenalin karena ancaman kematian.

Simpulan dari apa yang Branson ungkapkan adalah sesungguhnya kesuksesan ditentukan oleh kita sendiri. Dan kalau mau sukses kita harus berani melakukan apa yang kita yakini. Ada 9 prinsip yang dia kemukakan, dan dia tidak mengabaikan pentingnya sikap menghargai teman dan keluarga; hormat kepada orang lain; selalu berusaha berbuat baik. Dan jujur, tentu saja.

Buku ini tergolong menarik sehingga layak dibaca oleh bukan pebisnis sekalipun untuk menjadi motivator dalam rangka meraih apa yang diinginkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Sekedar komentar untuk edisi Indonesia ini adalah foto-foto yang ditampilkan dalam buku tidak begitu baik kualitasnya, walaupun sesungguhnya tanpa foto-foto itu buku ini masih bisa dinikmati. Hal yang lain adalah tidak dicantumkannya nama penerjemah buku seakan-akan Branson yang menerjemahkan sendiri bukunya ke dalam bahasa Indonesia. Judul buku juga terlalu panjang. Kenapa tidak "9 Prinsip Sukses Richard Branson" saja? Toh petunjuk lain di kaver sudah cukup jelas menyatakan siapa Richard Branson. Dan kemungkinan besar yang akan membeli buku ini adalah orang yang tahu siapa Richard Branson (dan Virgin). Untuk apa membeli buku sejenis ini tanpa mengetahui  apa penyebabnya diterbitkan?


Posted at 11:21 pm by Jody
Make a comment  

Tuesday, January 16, 2007
HARGA SEORANG WANITA


Judul Buku: Harga Seorang Wanita
Penulis: Februana
Penyunting: Dede Azwar Nurmansyah
Penerbit: Dastan Books, November 2006


PEREMPUAN DALAM DUNIA LAKI-LAKI


Harga Seorang Wanita adalah dunia ciptaan Februana tempat perempuan berada di bawah 'hegemoni' dunia laki-laki. Dunia tempat perempuan tidak mendapatkan kehormatan yang layak untuk bisa menentukan hidupnya sendiri. Dunia milik seorang bernama Tini, sang tokoh utama, yang berkelindan dengan dunia berbagai laki-laki.

Ketika penulis-penulis lain menampilkan novel-novel dengan tema dan seting glamur, Februana menciptakan novel menggunakan kemiskinan sebagai benang yang menghubungkan karakter-karakter ciptaannya. Kemiskinan itulah yang memupus kesadaran Jono, suami Tini, sehingga bukannya mencari solusi kehidupan sebagai seorang 'laki-laki' dan kepala rumah tangga, dia malah menggadaikan istrinya.

Februana menggambarkan dengan cermat situasi topografis tempat domisili tokoh-tokoh utamanya yang berdampak signifikan pada kehidupan mereka. Gunungkidul, sekali lagi setelah novel "Kemarau" karya Tuti Nonka, menjadi tempat berangkat cerita Februana ini. Gunungkidul, sebuah keindahan yang tak memberi berkah, tempat kepasrahan menciptakan kecintaan bertahan, dan penderitaan penghuninya meretas kehidupan. Lewat Ibu Tini, penulis melukiskan sejarah kehidupan yang nantinya akan terus bergaung dalam hidup Tini.

Setelah menggadaikan istrinya, kendati Jono tahu tempat dan kepada orang seperti apa dia menitipkan Tini, Jono tidak mau menerima konsekuensi perbuatannya. Penyebabnya bisa saja tabiat Jono yang egois sebagai seorang laki-laki atau kebodohan pria ndeso yang hanya lulus SMP. Itulah dunia Jono.

Sementara itu, Tini terjerumus dalam dunia Parman, dunia laki-laki tempat dendam dan napsu berahi menduduki tempat teratas. Dalam dunia kedua laki-laki bejat inilah, Tini bagaikan pohon karet yang terus-menerus disadap getahnya. Dan dalam dunia yang dipersembahkan dua laki-laki ini, dia menemukan dunia laki-laki yang lain. Dunia Andi, dunia tempat kekayaan bisa melaksanakan apa saja dan menjadikan perempuan sebagai apa saja. Dalam penampilannya yang menawan di mata Tini (dan mata penulis), sebetulnya bagi Andi, dalam dunianya, perempuan tak lebih sebagai pelengkap dan pemuas berahi belaka. Andi berbeda dengan tokoh Rusli dalam "Kemarau", tokoh yang menyelamatkan Mirah, sang perempuan Gunungkidul dari dunia pelacuran kemudian memperistrinya. Sekalipun Rusli digambarkan memiliki kelainan seksual, secara moral dia masih berada pada level di atas Andi.

Saat membaca sampul novel yang cukup menarik ini, kita akan membaca tulisan di bawah judul novel yang mirip tag line dalam film-film. "Tak ada lelaki yang benar-benar mencintai perempuan, yang ada hanyalah: mereka masih membutuhkanmu!" Kalimat yang sudah pasti ditujukan pada pembaca bergender perempuan. Saya tidak menemukan kalimat itu dalam novel (atau mungkin melewatkannya?). Dan itulah yang memang terjadi dalam dunia Tini, hasil kreasi Februana (yang ternyata seorang laki-laki). Dunia yang berkesan bahwa perempuan itu harganya tergantung pada persepsi laki-laki, sehingga pada gilirannya, semakin bejat laki-laki yang masuk dalam hidup Tini, akan semakin 'miring' harganya.

Tetapi dunia Tini yang dijarah-rayah laki-laki, tidak sekadar dunia tempat perempuan kehilangan daya. Dunia Tini adalah juga dunia tempat ketidakberdayaan perempuan menciptakan daya untuk menikmati laki-laki yang diinginkannya. Sekaligus menjadi lokasi tempat 'ketidakberdayaan berubah menjadi keperkasaan karena keadaan (hal. 249'.Dunia yang berkembang seperti inilah yang menjadi katastrofe bagi seluruh tragedi kehidupan Tini, dan memerosokkan Tini dalam dunia laki-laki yang lain, dunia bejat alat negara yang rentan terhadap pelecehan seksual (hal. 26 - 27).

Dari dunia terakhir Tini itulah nyaris seluruh tubuh novel dibangun, disusun dalam rangkaian kilas balik yang berpadu dengan proses katarsis benak dan jiwa Tini yang lara.

Sesungguhnya di ujung novel ini Februana tetap tidak 'memenangkan' perempuan. Tini bahkan dibuat tidak berdaya, tidak punya pilihan, dan masuk lagi dalam kerangkeng dunia laki-laki yang tidak memberi pengharapan buat Tini untuk hidup happily ever after.

Walaupun demikian, novel ini seharusnya mengetuk nurani pembacanya dari kalangan laki-laki, karena menurut saya laki-lakilah sebenarnya target utama sang penulis. Dan sebagai laki-laki mungkin pertanyaan ini akan bergema di hati: dunia seperti apakah yang kuberikan pada perempuan? Dunia Jono? Parman? Atau dunia Andi? Sepertinya tidak ada perempuan sejati menghendaki dunia yang ditawarkan 3 laki-laki ini!

Membaca novel dengan rancangan sampul yang cantik dan jenis huruf yang ramah mata, kita bisa menikmati bagaimana kelancaran Februana bertutur sehingga membuat ceritanya mengalir. Pada transisi adegan kerap ditemui pengaruh penulisan skenario (penulis juga menulis skenario) yang membuat novel ini hadir bak film realitas sosial, jenis film yang dulu sering digarap pekerja seni Indonesia sebelum perfilman Indonesia terpuruk. Bagi yang pernah nonton film-film Indonesia di masa jayanya, mungkin akan teringat pada film sejenis "Penyesalan Seumur Hidup".

Mungkin novel ini tidak akan menjadi pilihan pembaca perempuan yang lebih menyukai dunia glamur seperti chicklit atau metropop, tetapi "Harga Seorang Wanita" akan menjadi sajian gurih bagi pembaca yang tertarik pada realitas sosial yang sering hadir dalam masyarakat kita.

 

Posted at 01:19 pm by Jody
Comments (3)  

Monday, January 15, 2007
ADDICTED TO WEBLOG



ADDICTED TO WEBLOG: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia (Kumpulan Cerpen)
Penulis : Labibah Zain
Penerbit : Pustaka Populer Obor, Agustus 2005

PEREMPUAN-PEREMPUAN LABIBAH ZAIN


Pertama melihat kumpulan cerpen (kumcer) ini, dugaan saya adalah buku ini sejenis teenlit, chicklit, atau metropop. Wajar, mengingat judulnya. Sekarang banyak buku-buku dengan genre yang saya sebutkan diberi judul dengan teknik yang sama.

Baru setelah membacanya, saya sadar bahwa kumcer ini sebetulnya beda dengan jenis-jenis buku tadi. Labibah mencoba memberi warna pada dunia yang rupanya sangat digemari dan dikuasainya, terutama saat dia mengapung-apung dalam dunia maya. Labibah adalah pengarang dengan napas cukup panjang dalam bertutur. Hal itu bukan karena dia sudah menetaskan banyak telur, eh, karya, tetapi karena Labibah menulis dengan narasi panjang-panjang. Labibah membentuk aliran sungai dari pegunungan inspirasinya, berkelok-kelok tenang menggarisi dataran menuju jeram-jeram yang, di sinilah pesona Labibah, mengejutkan. Sedikit saya teringat O. Henry yang doyan membenturkan granat di benak pembaca di ujung cerpen-cerpennya.

Sesungguhnya judul kumcer ini hanya mewakili 1 cerpen saja, yaitu cerpen dengan judul sama. Cerpen-cerpen lain sama sekali tidak membicarakan ketagihan ber-weblog. Kalaupun menyinggung internet, Labibah hanya menggunakan sebagai latar penceritaan saja.  Sisanya malah tidak nyambung. Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia, Perempuan dan Lelaki Maya, Perempuan itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase merupakan pengungkapan Labibah bagaimana dunia maya memberi efek yang bisa merugikan (dan menguntungkan) penghuninya. Dalam dunia maya nyaris semua tidak jelas. Apa saja bisa terjadi di sana. Ketagihan, perselingkuhan, kebohongan, tipu muslihat, teror, dan penyimpangan seksual. Di sinilah kelebihan Labibah bermain-main dengan cerkas.

Seorang istri ketagihan weblog sampai mengabaikan rumah tangga (Addicted to Weblog: Kisah Perempuan Dalam Dua Dunia). Saking ketagihannya menjadi blogger, suaminya ketakutan. Coba simak kata-kata suaminya sebagai narator cerpen ini: "Aku takut suatu saat nanti, dia akan making love denganku sambil ngeblog juga. Bibirnya akan menciumi leherku, tangan kirinya akan mengelus-elus punggungku tetapi matanya akan memandangi monitor dan tangan kirinya akan memegang mouse untuk merefresh weblognya! Dan ketika aku akan mencapai puncak kepuasan, tiba-tiba dia akan berteriak menyuruhku menghentikan permainan karena hasil refreshannya menandakan ada komentar baru yang harus ditanggapi segera!" (hal. 21).  Tetapi kemudian, ternyata weblog yang dibuat istrinya bisa juga bermanfaat.

Di dunia cyber, Sinta terus merahasiakan diri dan menikmati pertemanan maya dengan seorang pria bernama Arjuna. Seorang pengunjung dunia maya diceritakan senang merusak relasi dalam dunia maya. Ternyata keduanya berhubungan dengan kehidupan Sinta. Sebuah rekayasa kebetulan, tetapi mengasyikkan (Perempuan dan Lelaki Maya).

Perempuan Itu Bernama Sinta dan Perempuan Dalam Dua Etalase menceritakan 2 hubungan antar manusia dalam dunia maya. Salah satunya tidak mau bersikap terbuka. Dan bukan hal yang mengherankan, karena mereka menyimpan rahasia di balik kiprah yang serba maya.

Samar saya bisa menangkap Labibah sedang bermain simbol ketika menuturkan Perempuan Di Sudut Taman. Dalam cerpen yang menurut saya biasa-biasa saja dan cenderung membosankan ini, apalagi dengan sungai ciptaan Labibah yang panjang, rupanya Labibah sedang menuturkan sebuah komunitas dalam dunia maya dengan seorang tokoh perempuan berperilaku tidak menyenangkan di dalamnya. Tetapi entahlah, kurang jelas sih.......

Dalam Perempuan Pengusung Tradisi Habibah, seorang syarifah sesuai ketentuan harus menikah dengan seorang habaib. Dikhianati seorang habaib, Habibah pacaran dengan seorang ahwal, tetapi kemudian zuwad dengan Ucin tanpa cinta untuk menghormati tradisi. Setelah anak-anaknya dewasa, Liya, salah seorang anaknya mengulangi pengalaman ibunya, tetapi dengan cara berbeda. Saat itu, Habibah bermetamorfosis dari Perempuan Pengusung Tradisi ke Perempuan Perombak Tradisi. Suatu gugatan kepada tradisi yang ada, tetapi bukan gugatan yang meledak-ledak, biasa saja.

Amellia, 17 tahun, gadis penggemar boneka berasal dari keluarga broken-home, asimilasi wanita keturunan Cina dan pria keturunan Arab. Gadis ini bergaul dengan seorang laki-laki bernama Andre dan hamil. Labibah berhasil menguraikan kisahnya dengan gaya remaja, sesuai usia Amellia, tetapi kemudian tetap menggunakan gayanya, menohok di ujung cerita (Perempuan, 17 Tahun).

Perempuan Dalam Kegelapan namanya Petty. Petty  tidak merasa bahagia dengan kehidupan rumah tangga bersama Singgih. Singgih terlalu sibuk kuliah sehingga mengabaikan istrinya. Bahkan dalam bercinta Singgih tidak pernah peduli istrinya puas atau tidak. Petty ketemu Manas, meninggalkan suaminya, dan beruntun Labibah menimpakan azab dalam hidup Petty. Kasihan si Petty gara-gara ulah sang dalang.

Membaca kumcer Labibah sesungguhnya cukup mengasyikkan, tetapi Labibah tetap harus memerhatikan gramar. Di beberapa tempat masih terlihat kebingungan membedakan di apakah sebagai awalan atau preposisi (baca saja cerpen Perempuan di Sudut Taman). Kemudian masih adanya susunan kalimat yang kacau. Perhatikan saja halaman 70 (Perempuan Dalam Kegelapan) paragraf pertama yang cukup panjang, baris 2 terakhir, temukan kelebihan pemakaian kata "cepat" di sana. Pada halaman 77 malah Labibah menulis bahwa "Mah adalah kepanjangan dari mamah" (bukannya malah kependekan?). Sesungguhnya cerpen-cerpen Labibah perlu disunting supaya lebih bersinar lagi. Napas panjang dalam bertutur memang punya efek pada terciptanya kalimat-kalimat rancu. Dan Labibah sang penggemar nama Sinta yang agak doyan berkhotbah dalam ceritanya suka pada yang panjang-panjang.

Kumcer ini hanya berisi 8 cerpen, tergolong sedikit walau diimbangi dengan cerpen yang 'panjang-panjang'. Berikutnya, mungkin Labibah bisa bermurah hati menampilkan cerpen yang sedikit lebih banyak, dan dengan kemahiran mengecoh serta penyuntingan yang lebih baik tentu saja. Sebagai penulis, seharusnya sebelum karyanya dipublikasi dialah yang harus melakukan penyuntingan perdana. Editor hanya akan memberi sentuhan biar lebih berkilau.

Posted at 12:04 pm by Jody
Comments (3)  

Next Page





widgets