<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< January 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, January 18, 2009
THE BOOK OF LOST THINGS



 

Judul: The Book of Lost Things (Kitab Tentang Yang Telah Hilang)

Penulis: John Connolly (2006)

Penerjemah: Tanti Lesmana

Terbit: Cetakan 1, 2008

Tebal: 472 hlm, 13,5 x 20 cm

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

 

                                  PENDEWASAAN DIRI ALA JOHN CONNOLLY

 

 

Yang namanya dongeng selalu diidentikkan dengan kanak-kanak. Saat kanak-kanak, tidak terhitung lagi dongeng yang telah saya baca. Tetapi, John Connolly, penulis Irlandia, kelahiran Dublin 31 Mei 1968, menulis The Book of Lost Things, untuk pembaca dewasa dan hampir dewasa. Alasannya, "Sebab dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa" (hlm. 5). Dengan kata lain, Connolly hendak mengatakan bahwa sebenarnya dongeng bisa pula dinikmati oleh orang-orang yang mulai dan telah meninggalkan masa kanak-kanak. Meski tidak memiliki elemen erotis seperti dalam Stardust karya Neil Gaiman (tidak banyak sih, tetapi tetap erotis), Gramedia Pustaka Utama menyematkan label Novel Dewasa untuk nominee Irish Novel of the Year 2007 ini.

 

Jagoan utama novel ini adalah David, seorang kutu buku, yang ketika diperkenalkan, baru berusia 12 tahun. Kala ibunya sakit, David sering membacakan cerita-cerita untuk ibunya yang gandrung mitos, legenda, dan dongeng-dongeng. Setelah ibunya mangkat, koleksi buku ibunya memperkaya koleksi David. Ayah David,  waktu itu seorang dosen matematika, memang tidak menggemari buku cerita.

 

Sekitar 6 bulan sepeninggal ibunya, ayah David memutuskan menikahi pimpinan rumah sakit tempat ibu David pernah dirawat. Seorang perempuan bernama Rose, yang telah hamil lebih dahulu (tidak terdengar untuk konsumsi kanak-kanak kan?). Saat itu November 1939, perang siap merebak, tentara Hitler telah melintasi Eropa, banyak orang meninggalkan London menghindari perang. Tak lama lagi pesawat pengebom akan mampir di langit London, menghujani kota di bawahnya. Selang 6 bulan kemudian (tahun 1940), Rose melahirkan Georgie. Keluarga ini pun pindah ke barat laut London, mendiami sebuah rumah tua warisan kakek dan nenek Rose. David mendapatkan sebuah kamar penuh buku dan rak buku, bekas kamar Jonathan Tulvey, paman Rose yang hilang pada usia 14 tahun bersama seorang anak perempuan benama Anna. Dari Rose -kendati mereka sulit akur, David mengetahui jika Jonathan suka melahap buku seperti dirinya. Akan tetapi, akibat membaca, Jonathan menjadi takut serigala dan acap bermimpi dikejar-kejar serigala dari buku yang dibacanya.

 

Sementara itu, sejak pingsan di Trafalgar Square pada pertemuan perdana dengan Rose, David bisa mendengar suara-suara di kepalanya. Menyusul suara-suara itu, berbagai citra tentang dunia yang tidak ia kenal menyerbu ingatannya. Kemudian, setelah menghuni kamar Jonathan Tulvey, ia bisa mendengar buku-buku bersuara. Dan dalam mimpinya, seorang lelaki bungkuk berwajah panjang menyatroninya. Pada salah satu mimpi, si Lelaki Bungkuk berkata: "Kami menunggu. Selamat datang, Yang Mulia. Beri hormat pada raja yang baru!"

 

Semuanya keanehan itu terus mengusik David hingga suatu malam, ia terjaga dari tidur, keluar dari kamar, bertepatan dengan bom berjumpalitan dari pesawat pengebom di dekat rumahnya. Di kebun cekung, ia berlindung di lubang tembok. Seketika  ia  masuk ke sebuah hutan, menyeberang ke dunia lain yang telah mengusiknya sejak pingsan di Trafalgar Square. Manusia pertama yang dijumpainya adalah Tukang Kayu yang kebetulan baru memenggal leher sesosok Loup –manusia serigala.

 

Dunia lain yang diseberangi David adalah sebuah kerajaan yang sedang mengalami perubahan. Raja tua yang sudah lama memerintah tidak bisa mengendalikan kerajaannya lagi. Kaum Loup dan simpatisannya (serigala-serigala) bermaksud melakukan kudeta; menegakkan pemerintahan baru.  Si Tukang Kayu ingin memulangkan David ke dunianya, Inggris. Sayangnya kejahilan si Lelaki Bungkuk –si penjelajah mimpi David, membuat David tidak bisa pulang. Diduga, Raja tahu alasan tindakan Lelaki Bungkuk dan bisa membantu David. Raja memiliki Kitab Tentang yang Telah Hilang yang telah menolongnya melewati masa-masa sulit dan penuh keraguan. Mungkin kitab itu memuat petunjuk bagi David untuk pulang.  

 

Kendati jalan menuju kastil tidak gampang ditempuh, Tukang Kayu siap menolong David menunju singgasana Raja. Serigala-serigala semakin banyak, semakin berani, semakin cerdas, semakin sulit dibunuh. Di bawah kepemimpinan Loup bernama  Leroi, para serigala menguntit dan menghalang-halangi perjalanan David. Mereka berhasil memepet David dan si Tukang Kayu di jembatan yang dijaga troll. David lolos, tetapi si Tukang Kayu terkepung serigala. Perjalanannya berlanjut, dan tanpa disadarinya Lelaki Bungkuk mengiringi perjalanannya.

 

Maka, bertemulah David dengan tujuh kurcaci yang hidup dalam penindasan Snow-White; seorang pemburu perempuan yang ingin menjadi centaur; penunggang kuda putih bernama Roland yang sedang mencari sahabatnya yang hilang; tidak semuanya membantu memuluskan perjalanan David. Setelah Roland menemukan sahabatnya, David melanjutkan perjalanan. Ia tiba di  kastil kerajaan, tidak mengetahui Kaum Loup menyusul di belakangnya, siap menggulingkan kekuasaan Raja.

 

Apakah David akan mendapatkan jalan pulang dari Kitab Tentang Yang Telah Hilang setelah meretas perjalanan panjang penuh marabahaya? Jawabannya terdapat pada bagian-bagian pamungkas novel. Namun sejatinya, kitab itu bukanlah hal paling krusial yang ditemukannya di kastil Raja. Sebab di sana, David akan menemukan jawaban semua misteri yang pernah ia dengar, ia alami, dan ia pertanyakan. Jawaban-jawaban yang akan mencelikkan mata David ihwal bagaimana seharusnya menyikapi orang-orang terdekat, yang ada di sekitarnya.

 

Menurut saya, novel ini adalah novel pendewasaan diri. "Kau masih anak kecil waktu pertama kali kutemukan, tapi sekarang kau telah menjadi orang dewasa," kata salah satu karakter yang ditemui David menjelang novel usai. Memang, tidak gampang menjadi orang dewasa. Berbagai tantangan yang lebih berat akan harus dihadapi. Perjalanan penuh marabahaya yang disusur David adalah proses pendewasaan dirinya, mengalihkannya dari amarah, iri, dan keangkuhan. Kita akan menemukan jika pada akhir perjalanan David benar-benar berhasil mendewasakan diri meski tidak otomatis dibarengi kematangan raga. David, seperti halnya si Raja, memiliki 'Kitab Tentang Yang Telah Hilang' sendiri. Namun, dengan akhir yang jauh berbeda

 

Jujur, saya suka baca buku ini. Bukan sekedar karena kesadaran Connolly akan manfaat dongeng lalu melekatkan edukasi di tubuh novelnya dengan pas. Tetapi, Connolly, yang dalam karier kepengarangannya telah mendapatkan penghargaan Shamus Award (2000) dan Barry Award (2003), memang narator lihai. Ia telah menghasilkan karya dalam berbagai genre: horor, detektif, sci-fi, dan drama. Novel ini menambah wilayah penulisannya, cerita fantasi yang imajinatif, nakal, dan kocak.



 

Negeri tempat David terlontar dari Inggris adalah sebuah negeri tempat tokoh-tokoh dongeng tradisional diolok-olok. Alhasil, kita akan digelitik untuk tertawa. Little Red Riding Hood yang lugu bertindak sebagai perempuan penggoda. Ia berhasil 'bercampur' dengan serigala dan melahirkan generasi pertama kaum Loup. Snow-White malihrupa perempuan rakus menyebalkan yang menindas para kurcaci. Para kurcaci (sebenarnya ada 8, tetapi salah satunya telah dijauhi yang lain karena telah menjadi kapitalis) mencoba meracuninya dengan apel, tetapi dosis racunnya kurang sehingga kecupan pangeran sialan segera membangunkannya. Sleeping Beauty yang tinggal di kastil yang berpindah-pindah seiring gerak perputaran bulan; dikutuk bukan untuk tidur, tetapi menjadi pembunuh. Belum lagi Rumpelstiltskin, si katai yang bisa meng-emas-kan jerami, menjadi si Lelaki Bungkuk pemakan jantung anak-anak. Atau kehidupan Hansel dan Gretel dengan akhir yang tidak menggembirakan.

 

Novel yang membuat saya mengingat masa-masa meninggalkan periode kanak-kanak ini kabarnya akan diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Irlandia, John Moore. Entah kapan filmnya bisa beredar. Jadi, sebagai pemanasan, tidak rugi membaca novelnya dulu. Anda mungkin akan dibenturkan pada sebuah pertanyaan: kapan "The Book of Lost Things" Anda ditulis? Jangan-jangan, belum pernah ditulis sama sekali. Hehehe. 

 

Posted at 06:52 am by Jody
Make a comment  

Saturday, January 17, 2009
THE WHITE CASTLE


Judul Buku: The White Castle

Penulis: Orhan Pamuk

Penerjemah: Fahmi Yamani

Tebal: 298 hlm; 13 x 20 cm

Terbit: Cetakan 1, April 2007

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

 

 

ANAK TIRI SI PEMBUAT SELIMUT

 

Faruk Darvinoglu, seorang ahli ensiklopedi Turki, pada tahun 1982, menemukan sebuah buku dari abad 17. Buku bersampul indah berwarna biru terang dengan kaligrafi yang cemerlang, diberi judul "Anak Tiri Si Pembuat Selimut" yang ditorehkan di halaman pertama, mengusik rasa penasaran Darvinoglu. Ketika usahanya menuliskan buku ini dalam ensiklopedi gagal, ia memutuskan menulis kembali apa yang ia baca menggunakan bahasa Turki modern dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Buku yang oleh penerbitnya diberi judul The White Castle ini, dipersembahkannya untuk saudara perempuannya, Nilgun Darvinoglu.

 

Apa yang saya sampaikan di atas merupakan "pengantar" novel ketiga karya penulis Turki paling kondang, Ferit Orhan Pamuk. Novel berjudul asli Beyaz Kale ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Turki pada tahun 1985 dan telah memenangkan Independent Award for Foregin Fiction tahun 1990. Sebelumnya Pamuk telah menerbitkan Sessiz Ev (The Silent House, 1982) dan Karanlijk ve Iþýk (Darkness and Light, 1974). Berkat The White Castle, yang merupakan karya pertama Pamuk bereksperimen menggunakan teknik postmodern (sebelumnya ia menulis dengan teknik natural), The New York Times Book Review, menyebutnya "bintang baru yang telah terbit di Timur".

 

Setelah pengantar yang misterius, pembaca digiring pada kehidupan seorang budak terpelajar asal Venesia (Italia). Si budak hidup di Kesultanan Ottoman pada masa pemerintahan Mehmet IV, sultan yang gemar berburu kelinci, sejak sang sultan masih kanak-kanak hingga dewasa.

 

Kisah si Budak (sebut saja seperti itu, karena hingga novel usai, kita tidak akan menemukan namanya) dimulai ketika kapal yang ditumpanginya, yang sedang berlayar dari Venesia menuju Napoli, takluk diserang armada Turki. Mujur ia tidak dibunuh. Sebab, si kutu buku Venesia, dengan buku anatomi di tangannya, mengaku sebagai dokter. Meski ia dibawa ke Istanbul sebagai tawanan, dan dijebloskan ke dalam penjara milik Sadik Pasha, kemampuannya di bidang medis, membuat hidupnya lebih baik dari tawanan lain. Ia bahkan bisa mendapatkan uang dari kecakapan medisnya dan berupaya belajar bahasa Turki.

 

Setelah berhasil memulihkan Sadik Pasha yang terserang batuk dan sesak napas, si Budak mengira dirinya akan dibebaskan. Tetapi ternyata, pasha tidak berniat membebaskannya. Hingga suatu pagi, ia dipanggil ke istana pasha. Pasha tengah mempersiapkan pesta pernikahan anaknya. Untuk memeriahkan acara, pasha menginginkan pertunjukan kembang api yang istimewa. Maka, si Budak disuruh berkolaborasi dengan seorang guru sekolah dasar, yang lebih suka dipanggil Hoja (artinya: guru)

 

Sesungguhnya, bekerja sama dengan Hoja bukanlah hal yang menakutkan bagi si Budak. Pasha menjanjikan hadiah untuk pekerjaan mereka dan kebebasan dirinya mungkin bisa menjadi hadiah. Namun, saat bertemu Hoja, ia ketakutan. Sebab, meski Hoja berjanggut, mereka memiliki kemiripan wajah, bagaikan kembar. Si Budak sangat meyakini kemiripan mereka, meski Hoja bersikap seolah-olah tidak menyadarinya.

 

Sayangnya meski pertunjukan kembang api itu sukses, si Budak tetap tidak memperoleh kebebasan. Sewaktu pasha memanggilnya lagi, harapan mendapatkan kebebasan bersemi.  Harapan itu membeku karena pasha memintanya membuang agamanya dan menjadi Muslim, jika ia ingin dibebaskan. Penampikannya membawanya berhadapan dengan hukuman mati.

 

Untunglah, atas bantuan Hoja, hukuman mati diurungkan. Ia tetap sebagai budak dan dihadiahkan kepada Hoja. Hanya Hoja yang bisa membebaskannya, jika Hoja mau. Begitu menjadi budak Hoja, si Budak harus mentransferkan semua yang diketahuinya, dari astronomi hingga kedokteran, ke dalam otak Hoja. Dalam waktu 6 bulan, Hoja berhasil menguras otak si Budak. Ia bermetamorfosis menjadi orang yang penuh gagasan, dan memaksa si Budak membantu mewujudkan gagasannya. Termasuk gagasan menghasilkan teori baru untuk menentang pemikiran Ptolemeus, arus Bhosporus, pembuatan jam salat dengan ketepatan waktu yang sangat tinggi. Malangnya, Sadik Pasha, yang diharapkan akan menjadi batu loncatan kegeniusannya, tidak memberikan respons positif. Ketika Hoja mencoba memperoleh dukungan sultan, ia juga tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Sultan hanya lebih suka membicarakan koleksi singanya dan ramalan kesehatan peliharaannya itu.

 

Ramalan Hoja mengenai kesehatan singa, disusul jumlah anak singa yang akan dilahirkan, juga keselamatan sultan dari upaya pembunuhan, membuat sultan mengandalkan kemampuan meramalnya. Sebuah kehormatan bagi Hoja, tetapi tetap tidak membuatnya bahagia.

 

Si Budak menyaksikan hari demi hari tuannya frustrasi dan kehilangan rasa percaya diri lalu bingung dengan dirinya sendiri. Si Budak menuduh Hoja tidak cukup berani menemukan siapa dirinya. Ia pun dihukum Hoja. Ia harus  menuliskan kisah kehidupan di masa lalunya. Namun si Budak tidak bodoh. Ia berhasil memaksa Hoja untuk menuliskan masa lalunya juga. Tak pelak lagi, kedua belah pihak saling mengetahui pengalaman hidup sebelum mereka bertemu di Istanbul.

 

Kehidupan Hoja dan budaknya berlanjut melewati momen epidemi yang berkecamuk, perselisihan di antara mereka, diangkatnya Hoja sebagai Peramal Istana, dan kerja sama menafsirkan mimpi setiap pagi. Hubungan di antara mereka mencapai puncak saat mereka membuat senjata yang akan digunakan menyerang Polandia. Sultan ingin Istana Doppio, istana putih cantik milik musuh, jatuh ke tangan Turki. Sayangnya, kali ini, Hoja dan budaknya gagal. Kegagalan mereka membuat kehidupan mereka terancam, terutama si Budak. Keduanya pun mengambil keputusan. Bertukar identitas. Lalu, dengan identitas si Venesia, Hoja meninggalkan Turki.

 

The White Castle adalah  novel pertama Pamuk yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi novel kedua yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi. Sebelumnya penerbit yang sama telah menerbitkan novel keenam Pamuk, Benim Adým Kýrmýzý (My Name is Red, 2006). Hingga saat ini, peraih Nobel Sastra tahun 2006 ini telah menulis 8 novel.  Masumiyet Müzesi (The Museum of Innocence) adalah novel kedelapan Pamuk yang telah diterbitkan dalam bahasa Turki Agustus 2008.

 

Meski disebut-sebut sebagai novel historis, sebenarnya latar historis hanya dipinjam Pamuk sebagai 'lahan bermain' karakter-karakter fiktifnya. Baik Hoja maupun si Venesia bukanlah tokoh historis yang pernah eksis. Belum lagi, seperti pengakuan Faruk Darvinoglu (dalam bab Pengantar), berbagai peristiwa yang dikisahkan dalam naskah temuannya ini sama sekali tidak sama dengan fakta yang ada. Menurutnya, pada masa pemerintahan Wazir Agung, tidak ada bukti ihwal epidemi seperti dalam buku ini. Ia juga menemukan berbagai kesalahan penulisan nama wazir serta ketidaksamaan nama peramal istana dengan catatan istana.

 

Membaca novel ini  kita dituntut menjadi pembaca yang cermat. Misalnya untuk nama penulis naskah yang ditulis ulang Faruk Darvinoglu ini. Darvinoglu telah mencoba menyelidiki jati diri sang penulis. Ia sendiri bingung dan hanya tahu jika nama sang penulis diungkapkan di dalam buku.  Bab 11 yang menjadi pamungkas novel memberikan jawaban identitas penulis buku ini. Jika kita cermat, kita akan tahu, sesungguhnya, judul yang ditambahkan -Anak Tiri Si Pembuat Selimut, mengarah kepada si penulis cerita yang adalah anak tiri seorang lelaki pembuat selimut. Orang tersebut tidak lain adalah Abdullah Efendi, alias Hoja sendiri. Dalam naskah kita akan  menemukan jika si guru SD itu lebih suka dipanggil Hoja karena "tidak suka diberi nama yang sama dengan nama kakeknya" (hlm. 38). Dan ketika membaca lebih lanjut lagi, disebutkan jika kakek Hoja bernama Abdullah Efendi (hlm. 144). Jadi, siapa lagi, nama asli Hoja, sang penulis buku?

 

Dalam bab 11, sebagai penutup -yang ditambahkan 16 tahun setelah bab 10 ditulis, pembaca juga akan disadarkan jika akhir kisah Hoja dan si Budak pada bab 10, hanya sekadar imajinasi Abdullah Efendi, mantan peramal istana. Sang penulis termotivasi oleh pertukaran identitas antara dua orang berwajah mirip. Seperti tulisnya, "Jika kita hanya mencari ke dalam diri sendiri, menghabiskan waktu lama dan bekerja keras memikirkan diri sendiri kita tidak akan pernah bahagia. Inilah yang terjadi pada berbagai tokoh dalam ceritaku: karena inilah para pahlawan tidak pernah puas menjadi dirinya sendiri, karena inilah mereka selalu ingin menjadi orang lain. Marilah kita berandai-andai bahwa ceritaku itu memang nyata. Apakah aku yakin bahwa kedua orang lelaki yang saling menjalani kehidupan kembarannya itu bisa hidup bahagia dalam kehidupan barunya?" (hlm. 285).

 

Dalam menggelontorkan ceritanya, Pamuk menghadirkan The White Castle sebagai novel yang sangat miskin dialog. Padahal salah satu elemen yang sering membuat sebuah karya fiksi menjadi enak dibaca adalah dialog. Apalagi jika dialognya diolah dengan cerdas dan memikat. Selain itu, Pamuk merangkai kalimat-kalimat panjang, yang dalam edisi Indonesia, boleh dibilang sangat panjang. Terkadang, satu paragraf memakan tempat lebih dari satu halaman, bermuatan pemikiran yang bersengkarut dengan isi cerita. Alhasil, novel ini menjadi karya yang tidak gampang dicerna. Terjemahan dan penyuntingan edisi Indonesia memang boleh dikatakan mulus. Tetapi, tetap membutuhkan kesabaran (dan konsentrasi) untuk menghabiskan kisah yang mayoritas hanya berpusar di antara dua orang. Padahal novel ini tidak setebal karya Pamuk yang lain,  My Name is Red.

 

Posted at 06:35 am by Jody
Make a comment  

Thursday, January 01, 2009
THROUGH A GLASS, DARKLY





Judul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel – Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi
Diterjemahkan dari : Through a Glass, Darkly

Penulis: Jostein Gaarder (1999)

Penerjemah: Andityas Prabantoro

Terbit: Cetakan 1, Desember 2008

Tebal: 211 hlm

Penerbit: Mizan


PERJUMPAAN LANGKA SURGA DAN BUMI


"Tuhan tidak sampai hati mematikan anak-anak dalam proses penciptaan. Lebih baik mereka tumbuh dewasa dulu. Lebih gampang mengucapkan selamat tinggal kepada dunia saat kau punya setengah lusin cucu dan kau merasa cukup capek dan mengantuk serta jenuh dengan hari-hari"

"Anak-anak kadang-kadang mati. Itu tolol, kan?"


Kutipan di atas merupakan bagian percakapan yang saya petik dari novel berjudul Cecilia dan Malaikat Ariel terbitan Mizan. Novel ini diterjemahkan dari versi Inggris (Through a Glass, Darkly) yang berjudul asli I et speil, i en gåte (1993). Merupakan salah satu karya penulis terkenal dari Norwegia, Jostein Gaarder. Penulis kelahiran Oslo 8 Agustus 1952 ini antara lain telah menghasilkan (saya sebut yang sudah saya baca sampai tulisan ini dibuat) Sophie's World, The Solitaire Mystery, The Christmas Mystery, Vita Brevis, Maya, The Ringmaster's Daughter, dan The Orange Girl. Nah, kalimat yang saya petik di atas merupakan ucapan penting di antara percakapan panjang malaikat Ariel dengan seorang gadis cilik bernama Cecilia Skotbu. Percakapan di antara mereka berawal pada malam Natal, ketika Cecilia tidur sendiri di lantai atas rumahnya.

Bagi Cecilia, malam Natal tahun ini bukanlah momen yang menyenangkan. Ia sakit kanker dan mesti menjalani kemoterapi yang merontokkan rambutnya. Ia tidak bisa makan dengan enak, lebih banyak berbaring di tempat tidur, membaca majalah Science Illustrated, menghitung cincin-cincin di rel gorden dan kembang-kembang forget-me-not di gorden. Ia berbaring sambil 'melihat' dengan telinganya Natal datang dan keluarganya dibuat sibuk. Ia tidak bisa mengayunkan kaki ke lantai bawah, untuk berdiri di pintu depan mendengarkan lonceng Natal. Ia "benar-benar sakit sampai-sampai Natal terasa bak segenggam pasir yang berguguran dari sela-sela jarinya saat ia tertidur atau setengah tertidur" (h. 12). Sakit membuat emosinya mudah tersulut. Kemarahannya dijelmakan dalam tuntutan hadiah Natal berupa papan ski, sepatu skate, dan toboggan (kereta luncur salju). Padahal ia tidak mungkin bermain ski musim dingin. "Pasti Tuhan tidak mengerti alangkah konyol rasanya sakit pada malam Natal," keluhnya (hlm. 94).

Tengah malam ia terjaga, dan sesosok tampak di pelupuk matanya, duduk di tepi jendela, mengenakan jubah putih panjang, telanjang kaki, tanpa sehelai rambut pun di kepala, mata biru cemerlang bak safir. Sosok itu adalah Ariel, malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk menjadi malaikat pendamping Cecilia. Lebih dari 100 tahun lalu, Ariel telah menjadi pendamping seorang anak kecil yang sakit keras. Namun karena masih kecil, Albert tidak bisa berkomunikasi dengan Ariel. Dengan Cecilia berbeda, Ariel mesti menampakkan diri, sebab tujuan kedatangannya adalah untuk menghibur Cecilia. Cecilia adalah seorang anak perempuan yang cerdas, bacaan yang dibacanya membuat ia berbeda dengan kebanyakan anak.

"Ini adalah pertemuan langka antara surga dan Bumi. Aku semestinya memberitahumu banyak sekali rahasia menakjubkan tentang surga. Itu jika kau memberitahu-ku bagaima rasanya terbuat dari darah dan daging." (hlm. 86 – 87) Ariel mengajukan penawaran. Maka, mengalirlah percakapan di antara dua makhluk Tuhan itu. Tentang bagaimana rasanya menjadi malaikat yang abadi dengan segala 'ke-tidak-an' yang dimiliki (seperti, tidak tumbuh, tidak makan, tidak kedinginan, dan tidak bermimpi indah). Tentang malaikat yang menari balet di bulan, bermain lompat-lompatan dari asteroid ke asteroid, dan duduk di atas komet. Tentang bagaimana rasanya menjadi manusia dengan darah dan daging, dewasa dan anak-anak. Tentang indra yang dimiliki manusia. Tentang harapan akan adanya 3 jenis kelamin di dunia (dan tidak hanya 2).

Percakapan mereka berlanjut setelah Natal lewat dan salju belum tandas. Sembari bercakap-cakap, mereka bahkan meninggalkan kamar Cecilia. Tidak sekedar merasakan dinginnya bola salju, tetapi juga melihat bulan di atas salju, bermain ski dan meluncur dengan toboggan. Kemudian setelah itu, tugas Ariel pun berakhir.



Seperti dalam beberapa novelnya, dalam novel yang telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa ini Gaarder memberikan peran utama kepada anak-anak. Cecilia, yang diciptakannya kali ini, adalah pribadi kanak-kanak yang unik, cerdas, dan kritis. Ariel, sang malaikat, sering terheran-heran mendapati kecerdasan Cecilia yang seharusnya dituntunnya untuk menghadapi realitas hidupnya. Cecilia bukan hanya kritis merespons ucapan si malaikat, tetapi kerap juga menantang dan mengejeknya. Alhasil, novel ini tidak sekadar menjelma novel mengharukan, tetapi juga jenaka. Hanya, seperti dalam Sophie's World, pada titik tertentu, tanya-jawab mereka menjurus membosankan karena terlalu menjalar dan diulang-ulang. Memang ada hal-hal yang bisa membuat pembaca termenung untuk berpikir. Tetapi tujuan kehadiran Ariel untuk mempersiapkan Cecilia 'terbang' ke surga, membuat Cecilia bisa melihat ke balik 'cermin', menjadi kurang terasa. Apalagi Cecilia bukan anak yang gampang dipengaruhi. Ia berani berpendapat dan tidak mudah dipatahkan dengan argumentasi.

Bagi pembaca yang merindukan kekayaan plot, mungkin saja akan kurang menikmati novel ini. Novel alit ini memang miskin plot karena dalam kelangsingannya porsi terbesarnya diambil oleh percakapan Cecilia dan Ariel. Dari percakapan mereka pembaca tidak akan menemukan guliran plot, tetapi taburan filsafat, yang merupakan curahan gagasan Gaarder tentang manusia, Tuhan, malaikat, dan surga. Novel ini memang tidak termasuk jenis fiksi pada umumnya. Tetapi, sama sekali, bukan tidak menarik. Sebab Gaarder juga mahir merajut kalimat indah dan puitis. Mari saya kutipkan kalimat dari Diari Cina, catatan harian Cecilia, yang ditulisnya sehubungan dengan kalung mutiara yang diwariskan neneknya.

"Saat ajal menjemputku nanti, untai mutiara halus keperakan ini akan terberai dan butir-butir mutiara akan terserak, bergulir melintasi negeri ini, dan berlari pulang ke ibu-ibu mereka, tiram-tiram di dasar laut. Siapa yang akan menyelam untuk memungut mutiara-mutiara? Siapa yang akan tahu bahwa mereka adalah milikku? Siapa yang akan mampu menebak bahwa pernah suatu ketika, seluruh dunia bergantung menghias leherku?" (hlm. 121).

Novel suami Siri Damnevig ini telah difilmkan dan dirilis di Norwegia 17 Oktober 2008. Filmnya disutradarai oleh Jesper W. Nielsen dengan Marie Haagenrud sebagai Cecilia, Aksel Hennie sebagai Ariel, dan Liv Ullman sebagai nenek. Liv Ullman, aktris legendaris Norwegia itu, memberi komentar, "Kisah ini membuat saya menangis bahagia. Saya bangga menjadi bagian darinya."


Posted at 09:11 pm by Jody
Comments (3)  

Sunday, December 28, 2008
LIFE ON THE REFRIGERATOR DOOR




Judul Buku: Life On the Refrigerator Door (Kehidupan di Pintu Kulkas)
Penulis: Alice Kuipers
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Tebal : 240 hlm; 13, 5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, November 2008

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


KEHIDUPAN DI PINTU KULKAS


Saat aku memandangmu
Aku tahu aku ingin jadi sepertimu
Kuat dan berani
Cantik dan bebas

Claire
P. S. I Love you
(hlm. 162)

Sebuah karya fiksi bisa saja bertemakan hal-hal yang sederhana dan sudah sering digarap oleh banyak pengarang. Untuk itu, penulis mesti mencari cara agar karyanya tidak terpuruk menjadi karya basi yang membosankan dibaca. Salah satu cara adalah dengan menuliskan karyanya menggunakan media penceritaan yang unik. Sebut saja Meg Cabot (The Guy Next Door, Boys Meet Girls) yang menulis menggunakan e-mail. Atau Sonya Sones (One of Those Hideous books Where the Mother Dies) yang menggunakan puisi. 

Alice Kuipers menggunakan pesan-pesan yang ditulis pada kertas yang disematkan di pintu kulkas untuk menggelar isi novel berjudul Life on the Refrigerator Door. Novel yang diindonesiakan sebagai Kehidupan di Pintu Kulkas ini adalah karya perdana istri penulis novel Life of Pi, Yann Martel.

Untuk mengalirkan ceritanya menggunakan media yang dipilihnya, perempuan kelahiran London tahun 1979 ini membagi ceritanya ke dalam 5 bagian: Januari (Saat aku memandangmu), Maret (Aku tahu aku ingin jadi sepertimu), Juni (Kuat dan Berani), September (Cantik dan Bebas), dan P.S ( I Love you). Masing-masing judul bab merupakan bagian pesan yang ditulis Claire (hlm. 162). Sebagian besar pesan dalam novel adalah tulisan yang singkat sehingga terkesan enteng dan tidak melelahkan dibaca. Bahkan, sekali duduk Anda bisa menuntaskan novel ini.

Kuipers menghidupkan seorang gadis remaja bernama Claire yang sedang senang-senangnya bergaul dan membina hubungan dengan remaja lelaki. Ketika cerita dimulai, Claire berusia 15 tahun dan saat cerita berakhir ia hampir berusia 17 tahun. Claire sering tidak berada di rumah karena harus bersekolah, bergaul dengan teman, babysit untuk mendapatkan sedikit uang, dan pacaran.

Ibu Claire sendiri, Mom, seorang dokter. Ia sangat mencintai pekerjaannya membantu perempuan-perempuan bersalin. Dan saking sibuknya, ia pun jarang berada di rumah.

Claire dan Mom tinggal serumah (Mom telah bercerai dengan Dad) tetapi sangat jarang bisa bersua dan berkomunikasi. Jika kebetulan sama-sama berada di rumah, waktunya singkat sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan santai, layaknya orangtua dan anak-anak. Bahkan, untuk mendapatkan uang saku dari ibunya, Claire tidak pernah menerima langsung dari tangan sang ibu. Kadang mereka bersitegang, dan hanya bisa menyelesaikan masalah melalui pesan-pesan di atas kertas di pintu kulkas. Boleh dikata, hampir semua komunikasi di antara mereka terjadi hanya melalui pesan-pesan tersebut.

Keadaan miris seperti ini seolah-olah akan berlangsung selamanya. Meski Claire mengetahui ibunya tidak akan selamanya berada di sisinya, ia tidak sanggup menggiring komunikasi dengan ibunya ke aras yang berkualitas. Sampai suatu hari, Claire tidak mendapatkan lagi pesan ibunya di pintu kulkas. Ada apa dengan ibu Claire?



Alice Kuipers

Apa yang terjadi di antara Claire dan Mom bukanlah hal yang aneh saat ini. Kehidupan modern yang sarat aktivitas dan menyita waktu sering merenggangkan ikatan batin orangtua dan anak-anak. Sebab, tidak ada cukup waktu untuk bicara, tidak ada cukup waktu untuk bertemu, dalam suasana mesra. Telepon genggam (HP) sering menjadi sarana tetapi tidak seefektif komunikasi yang langsung, muka dengan muka, mata dengan mata, dan hati dengan hati.

Dengan novelnya yang sederhana tetapi sungguh menyentuh hati ini, penulis yang sekarang tinggal bersama suaminya di Saskatoon (Kanada), mau mengingatkan kita akan pentingnya komunikasi yang baik, yang kerap, yang berlangsung muka dengan muka, yang mesra, untuk mengukuhkan hubungan orangtua dan anak. Karena bisa saja sesuatu terjadi, kematian misalnya, dan kita tidak punya kuasa mengembalikan masa-masa yang telah lewat, masa-masa bersama yang berkualitas dengan orang yang sesungguhnya kita sayangi, masa-masa yang mungkin akhirnya akan kita sesali karena tidak bisa diulang kembali.

Maka, simaklah puisi karya Claire, berisi kerinduannya yang dalam akan kebersamaan dengan bundanya, yang saya kutipkan buat Anda di bawah ini.


Saat jalan menikung
Kita akan menyusurinya bersama
Membelok
Berpegangan
Satu sama lain, seperti ibu
Kepada anak perempuan
Kepada ibu
(hlm. 198)


Posted at 09:57 am by Jody
Comments (3)  

Saturday, December 27, 2008
MARYAMAH KARPOV




Judul Buku : Maryamah Karpov (Mimpi-mimpi Lintang)
Penulis: Andrea Hirata

Penyunting: Imam Risdiyanto

Tebal: xii + 504 hlm; 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, November 2008

Penerbit: Penerbit Bentang



PERJUANGAN CINTA LELAKI BERWAJAH DANGDUT


Dalam tulisan Andrea Hirata : Out of the Blue (Diphie Kuron, Edensor, hlm. 287), disebutkan jika Maryamah Karpov, buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata "berkisah tentang perempuan dari satu sudut yang amat jarang diekspos penulis Indonesia dewasa ini". Pernyataan ini menciptakan sejumlah dugaan dalam benak saya ihwal isi novel pamungkas karya penulis kelahiran Belitong ini. Dengan judul Maryamah Karpov berilustrasi seorang perempuan sedang bermain biola pada sampul yang sudah diperkenalkan jauh sebelum novel terbit, saya menduga buku keempat ini akan berkisah tentang seorang perempuan Belitong yang sukses mendunia karena kepiawaiannya memainkan dawai biola. Ternyata saya keliru. Tidak ada permainan biola kelas internasional seperti Vanessa Mae atau Lucia Micarelli (yang sering tampil dalam konser Josh Groban). Bahkan, tidak ada kisah tentang Maryamah Karpov selain sekedar disinggung sedikit saja. Apa yang ditulis Diphie Kuron juga tidak ada gaungnya dalam novel ini.

Tetapi baiklah, saya akan menulis garis besar novel ini. Ada 73 mozaik yang menjadi isi buku. Katanya, Andrea menggunakan istilah mozaik (dan bukan 'bab' sebagaimana novel pertama) dengan alasan "ternyata perjalanan nasib seseorang tak ubahnya seperti ekstrapolasi potongan-potongan mozaik" (Sang Pemimpi : 276). Tujuh puluh tiga mozaik itu menjadi dua bagian yang diantarai judul "Seminggu Berselang" (yang sesungguhnya tidak perlu mengingat novel ini menggunakan alur kilas balik). Penulis mengawali novelnya dengan kisah kenaikan pangkat sang ayah sebagai kuli Maskapai Timah yang dibatalkan. Oleh Orang Melayu Dalam peristiwa ini disebut sebagai 'cobaan nan tak tertanggungkan'. Apa yang dialami sang ayah, kemudian, disejajarkan Ikal dengan apa yang ia alami bertahun-tahun kemudian. Boleh dibilang, bagian ini merupakan prolog dari novel ini.

Setelah kenangan akan peristiwa naik pangkat dan sebuah ruang pucat, Ikal menerawang ke masa-masa sebelumnya. Ia lulus kuliah dari sebuah universitas bergengsi di Eropa, Sorbonne (tadinya saya kira Ikal lulus di Inggris karena dalam buku ketiga Edensor, disebutkan Ikal ikut exchange program di Sheffield Hallam University karena Profesor Turnbull, supervisor tesis Ikal pensiun dan pulang kampung, tetapi ternyata si prof muncul juga di ruang ujian tesis Ikal di Sorbonne). Tanpa pekerjaan yang pasti, Ikal , si wajah dangdut, kembali ke Belitong dengan perasaan rindu dan masih setia memikirkan A Ling, cinta pertamanya. Bersamaan dengan kedatangan Ikal, kampung Ikal mendapatkan seorang dokter gigi, Budi Ardiaz. Budi Ardiaz datang untuk menyilih tata cara perdukunan gigi yang sampai saat itu dipegang teguh masyarakat Belitong di kampung Ikal.

Untuk membuat kehadiran Budi Ardiaz dalam novel bermakna, Ikal pun menderita sakit gigi. Ikal, yang lulusan luar negeri, ternyata tidak mau menjadi pasien dokter gigi yang berkalung stetoskop (hlm. 462) ini gara-gara trauma masa kecil yang tidak ada hubungannya dengan dokter gigi. Di tengah-tengah upaya Ketua Karmun, kepala kampung, untuk mendorong Ikal berobat ke klinik gigi, mendadak ditemukan mayat-mayat di perairan Belitong. Salah satu mayat, seorang lelaki dengan tato kupu-kupu, tato yang sama dengan yang dimiliki A Ling. Setelah ditelusuri, diduga mereka adalah korban perompak penguasa Kepulauan Batuan. Korban-korban tersebut adalah para pelintas batas yang hendak menyeberang ke Singapura.

Maka, Ikal bertekad mencari A Ling. Ia yakin, seperti mayat berajah itu, perempuan kecintaanya yang pernah dilacaknya hingga Siberia berada di Kepulauan Batuan (Apakah A Ling, yang dalam buku pertama, disebutkan pergi ke Jakarta untuk tinggal dengan bibinya yang hidup sendiri dan sekolah di sana kembali ke Belitong? Mungkin). Tetapi, untuk menjejak Batuan, mau tidak mau Ikal mesti berhadapan dengan pemimpin perompak penguasa Kepulauan Batuan, Tambok. Salah-salah, ia jadi mayat terapung seperti yang lain. Untuk itu, ia harus terlebih dahulu minta bantuan Tuk Bayan Tula, penguasa Selat Karimata dan Dayang Kaw, ketua tertinggi kaum lanun (bajak laut). Mereka bisa menjadi perantara Ikal bertemu Tambok.

Tidak ada pelaut dan pemilik perahu yang mau menolong Ikal mencapai Kepulauan Batuan. Padahal Ikal butuh perahu dan ia tidak cukup berduit untuk bisa membeli perahu. Jalan satu-satunya adalah membuat perahu sendiri. Teman-temannya tidak tinggal diam, terutama Lintang dan Mahar. Mereka membantu Ikal memberi gagasan untuk pembuatan perahu. Hingga akhirnya, seperti Nabi Nuh, setelah melewati berbagai kesulitan dari hinaan-hinaan dari pihak tertentu, jadilah perahu Ikal yang diberi nama Mimpi-mimpi Lintang, untuk menghormati sang sahabat.

Lalu, dimulailah perjalanan Mimpi-mimpi Lintang menuju Kepulauan Batuan. Perjalanan yang tidak gampang karena alam tidak segera bersepakat mempermulus upaya Ikal. Selain itu perjalanan ini dibayang-bayangi ketakutan akan para bajak laut yang bisa dengan mudah merenggut nyawa Ikal dan tiga rekan perjalanannya: Mahar, Kalimut, dan Chung Fa.

Apakah Ikal bisa menjejak Kepulauan Batuan? Lantas, benarkah A Ling ada di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini, tentu saja, akan terjawab dengan membaca tuntas seluruh novel ini.

Seperti novel yang lain, Andrea menunjukkan kemampuannya mengolah kalimat. Banyak rangkaian kalimat yang dipadu dengan indah sehingga sedap dibaca. Cara Andrea menuangkan panorama alam ke dalam tulisan juga terasa sangat imajinatif. Hanya, tentu saja, pernyataan "kita akan merasakan betapa setiap kalimat yang diciptakan memiliki kekuatannya sendiri" (sampul belakang) terlalu berlebihan.

Andrea masih menjual kisah-kisah mengharukan dalam novel ini. Mungkin, kisah sejenis adalah kekuatannya dan sering kali memang menyentuh hati pembaca. Namun, kian lama membaca, kian terasa berlebihan. Banyak kebiasaan masyarakat Belitong yang diangkatnya ke permukaan dengan kesan mengejek diri sendiri yang kentara, bermaksud menciptakan kelucuan, yang sayangnya terasa konyol. Pemberian julukan yang antara lain disebabkan pengalaman yang punya nama menjadi upaya melucu yang tidak enak dibaca karena terkesan tidak edukatif (mengingat tetralogi ini sering dikait-kaitkan dengan dunia pendidikan). Ikal, memang julukan yang tidak cukup memalukan bagi Andrea. Tetapi kalau Andrea Pembual? Ah, sungguh tidak enak didengar. Kalau Anda bertanya mengapa saya sebut Pembual, Anda bisa menemukan tradisi membual Orang Melayu Dalam (Andrea tentu saja termasuk di dalamnya) yang imajinatif (Mozaik 22 : Juru Muda Pompa). Pada banyak hal yang dibeberkan (seperti kebiasaan tertentu masyarakat Belitong, taruhan bola pingpong A Ngong dan A Tong, seluk beluk pembuatan perahu dan kecerdasan ilmu perahu Lintang serta permainan biola Ikal) , memang aroma membual terasa cukup menyengat. Andrea bak malihrupa Zainul "Helikopter" Arifin.

Setelah sebelumnya menghasilkan 3 novel, Andrea masih termasuk penulis yang kurang cermat. Imam Risdiyanto, yang telah menyunting novel Andrea sejak buku kedua, Sang Pemimpi (buku pertama disunting oleh Suhindrati A. Shinta) juga masih kurang berdaya menghadirkan novel Andrea dengan suntingan yang amboi. Tugas seorang penyunting seharusnya tidak hanya menyiangi kalimat-kalimat yang dirangkai sang penulis, tetapi juga mempertimbangkan kelogisan dan konsistensi cerita. Yang bikin saya heran, pada halaman 258 (baik penulis maupun editor) bisa lalai hanya pada 1 (satu) halaman dan 2 (dua) alinea berturutan. Mana mungkin tinggi badan Harun, Ikal, dan Syahdan di kelas 3 SMP lebih pendek dari saat mereka kelas 2? Konyol kan?

Mengenai teman-temannya anggota Laskar Pelangi di halaman 268 (Mozaik 43: Rencana-rencana C), Andrea Ikal menulis: "Ajaib, mereka tak pernah ke mana-mana, tak pernah meninggalkan sudut bumi di pulau terpencil ini, tapi menemukan semua yang mereka cari". Sebuah inkonsistensi lagi. Sebab, dalam Laskar Pelangi (hlm. 492), disebutkan, Ikal, Syahdan, dan Kucai pergi ke Jawa (dalam Sang Pemimpi terjadi inkonsistensi juga, dikisahkan (hanya) Ikal dan Arai yang pergi ke Jawa). Dalam Laskar Pelangi (Bab 32: Agnostik) juga dikisahkan Syahdan pergi ke Jakarta selepas SMA. Ia pernah menjadi aktor figuran, kemudian berpindah profesi ke bidang komputer dan bekerja di Tangerang (jadi, ia bukan tak pernah ke mana-mana kan? Malah aneh sekali kalau mendadak ia meninggalkan pekerjaan dan hadir memberi dukungan moril). Masih tentang Syahdan. Dalam Maryamah Karpov ini, Syahdan mendadak muncul di hadapan Ikal. Disebutkan 1 kali dalam mozaik 40 (Perahu Asteroid), ditulis 3 kali dalam deskripsi pada mozaik 41 (Tiang Keramat) dan tidak pernah disebutkan lagi, bahkan pada mozaik 43 (Rencana-rencana C) ketika dengan singkat Ikal membahas teman-temannya. Sungguh janggal!

Novel ini juga masih memunculkan nama A Kiong. Padahal dalam Laskar Pelangi A Kiong telah memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman dan disebutkan jika "A Kiong tinggal sejarah, bagian dari sebuah masa lalu yan gelap" (Laskar Pelangi : 465). Masih soal A Kiong. Dalam Laskar Pelangi (hlm. 466) disebutkan jika ia menikah dengan Sahara, punya anak lima dan toko kelontong tempat sahabatnya, Samson, bekerja sebagai kuli. Tetapi, dalam novel keempat ini, A Kiong sama sekali bukan suami Sahara. A Kiong (hlm. 266) disebutkan membuka warung kopi di pasar ikan dan Sahara (hlm. 267) telah mapan, bahagia dengan suami dan anak-anak. Yang bukan A Kiong (meski tidak disebutkan namanya).

Tentang Mahar juga. Dia sekarang adalah dukun kepada siapa A Kiong mengabdi. Sungguh menggelikan jika mengenang (baca: membaca) perjalanan hidup Mahar dalam buku pertama. Mahar dalam Laskar Pelangi adalah seorang pengajar, penulis artikel kebudayaan, organisator berbagai kegiatan budaya, pelatih beruk pemetik kelapa, kemudian novelis yang membuat Syahdan cuti kerja, meninggalkan Bandung (bukan Tangerang) dan pulang ke Belitong untuk menjadi panelis pada peluncuran novel Mahar. Eh, kok dalam buku keempat ini Mahar malah jadi dukun, pengagum setia Tuk Bayan Tula pula. Apa kata dunia? Bagaimana ini, Kak Andrea? Katamu dalam Sang Pemimpi kamu menulis memoar? (Sang Pemimpi: 275) Bagaimana mungkin memoarmu tidak konsisten? Mungkin, seperti katamu (Sang Pemimpi: 273), kau "bukan Truman Capote yang mampu melihat intelegensia pada setiap gelembung peristiwa lalu menulis dengan presisi yang mengagumkan". 

Judul novel yang tidak mencerminkan isi novel patut dipertanyakan, Kawan. Kenapa harus diberi tajuk Maryamah Karpov? Judul ini memang telah dimunculkan sejak buku kedua, Sang Pemimpi. Dalam "Ucapan Terima Kasih", Andrea menyinggung Maryamah Karpov sebagai novel terakhir yang membahas 'tentang penghormatan kepada kaum perempuan' (Sang Pemimpi: 277). Tetapi setelah saya kelar mengais-ngais isi buku ini, saya tidak menemukan 'penghormatan' yang dimaksud. Andrea sekadar menyentil sedikit Mak Cik Maryamah yang sering mengajari orang langkah-langkah catur Karpov di warung kopi (hlm. 240). Mungkin, kadung sudah diumumkan judul buku keempat, padahal ceritanya belum usai ditulis, maka judul ini tetap dipertahankan dan diberi sub judul Mimpi-mimpi Lintang. Apa hubungannya Maryamah Karpov dengan Mimpi-mimpi Lintang? Tidak ada! Dan terus terang, sub judulnya lebih tepat dibanding judulnya!

Akhirnya, menurut saya, dengan novel pamungkas ini, tetralogi Laskar Pelangi tidak hanya menjual keberanian bermimpi untuk meraih cita-cita akademis, tetapi juga keberanian untuk memperjuangkan orang yang dicintai. Hanya, akankah cinta Ikal kepada A Ling dikukuhkan dalam ikatan pernikahan seperti cinta Arai kepada Zakiah Nurmala? Ekspresi ayah Ikal yang akan memutuskan.


Posted at 09:51 pm by Jody
Comments (8)  

Friday, December 26, 2008
THE THIRTEENTH TALE




Judul : The Thirteenth Tale (Dongeng Ketigabelas)
Penulis: Diane Setterfield (2006)
Penerjemah: Chandra Novwidya Murtiana
Penyunting: Siska Yuanita
Tebal: 608 hlm; 13,5 x 20 cm
Terbit: Cetakan 1, November 2008


"CERITAKAN PADAKU YANG SESUNGGUHNYA"


The Thirteenth Tale (Dongeng Ketigabelas) adalah karya Diane Setterfield, penulis perempuan asal Inggris. Novel berseting Inggris ini diterbitkan pertama kali pada bulan September 2006 dan seminggu kemudian mencapai peringkat satu bestseller New York Times.

Puluhan tahun sebelum masa kini novel, seorang pemuda bersetelan cokelat, mengaku sebagai wartawan Banbury Herald datang mewawancarai Vida Winter, penulis Inggris yang paling dicintai. Ia telah menulis banyak novel yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pada perjumpaannya dengan si pemuda, yang sangat membekas dalam benak Miss Winter adalah ucapan, "Miss Winter, ceritakan yang sesungguhnya". Permintaan ini datang mengusik lagi ketika Miss Winter sadar jaraknya dengan ajal kian tipis. Ia memutuskan mengungkapkan 'cerita yang sesungguhnya", kisah hidupnya, kebenaran yang telah menjadi sumber kepenasaranan banyak orang.

Untuk menuliskan kebenarannya, Miss Winter tidak sanggup melakukan sendiri. Maka, ia mengundang Margaret Lea, putri pemilik sebuah toko buku antik di Cambridge untuk menjadi biografer kisah hidupnya yang misterius. Margaret telah menulis beberapa studi biografi beberapa penulis tidak penting berdasarkan riset arsip di toko buku ayahnya. Salah satu esai tentang tiga bersaudara yang ditulisnya membuat Miss Winter memilihnya.

Tentu saja Margaret tahu siapa Vida Winter. Ayahnya adalah salah satu penggemar karya perempuan bermata hijau dan berambut tembaga ini. Tetapi Margaret bukan penikmat fiksi kontemporer, dan seumur-umur belum pernah membaca karya Miss Winter. Saat mencoba berkenalan dengan karya perempuan itu, Margaret menemukan buku Miss Winter yang dikoleksi ayahnya, "Tiga Belas Dongeng Perubahan dan Keputusasaan". Buku ini adalah salah satu yang selamat ketika edisi ini ditarik dari pasaran. Karena, setelahnya, buku yang sama diterbitkan dengan judul "Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan".

Margaret sempat ragu untuk menerima undangan Miss Winter. Ia menulis biografi orang yang telah mati, bukan yang masih hidup seperti Vida Winter. Namun, setelah membaca buku-buku Vida Winter, Margaret terpikat dan memutuskan menerima pekerjaan itu. Ia pergi dan tinggal di Yorkshire, di rumah sang pengarang. Meski sepakat dengan syarat yang diajukan pihak Miss Winter, saat wawancara dimulai guna menggali kenangan Miss Winter, Margaret tidak sepenuhnya percaya kebenaran cerita yang ia dengar. Miss Winter adalah seorang penulis dan bisa saja ia membangun kisah menurut risetnya sendiri sebagaimana proses kreatifnya sebagai pengarang. Margaret mencari berbagai sumber mengenai Miss Winter dan menemukan jika Miss Winter memang tidak berdusta. Sebagai biografer, tugasnyalah untuk bisa menangkap dengan jeli semua yang dituturkan Miss Winter. Sebab sambil bercerita, Miss Winter dengan cerdik menguji kecerdasan dan kepekaan Margaret.

Maka, mengalirlah kisah panjang ihwal kehidupan sebuah keluarga aristokrat yang aneh dan rapuh di Angelfield House, Oxfordshire. Kisah mereka berawal dari suami istri George dan Mathilde Angelfield. Sembilan tahun setelah Charlie, anak sulung mereka lahir, Mathilde melahirkan anak perempuan, Isabelle, yang membuatnya kehilangan nyawa. Duka George membuatnya menarik diri dari kehidupan normal. Meski kehadiran Isabelle sempat mengusiknya, ia tidak sepenuhnya bangkit dari kesedihan karena ditinggalkan istri. George meninggal setelah Isabelle meninggalkan rumah dan menikah dengan Roland March. Hanya, sepeninggal Roland, Isabelle kembali ke rumah membawa sepasang anak perempuan kembar, Adeline dan Emmeline. Sayang, seperti ayahnya, anak kembarnya tidak melahirkan perasaan orang tua dalam diri Isabelle. Si kembar pun tumbuh liar tanpa kendali dan kasih sayang orang tua. Kenakalan mereka susul-menyusul dengan salah satu dari si kembar sebagai pemeran utama.

Sebuah kejadian di rumah Angelfield mengukuhkan diagnosis dokter Maudsley untuk membawa Isabelle ke rumah sakit jiwa. Lantas Charlie mengulang tradisi mengurung diri ayahnya. Di tengah situasi tak terkendali, Hester Barrow datang ke Angelfield. Ia datang untuk mengajar si kembar yang tidak mengenyam pendidikan formal di sekolah. Tidak cukup sekedar menjadi guru si kembar, bersama dokter Maudsley, Hester menjelma peneliti yang memosisikan si kembar sebagai subyek eksperimen. Hester tidak berhasil, dan ia menghilang dari Angelfield..

Kematian demi kematian mendatangi rumah Angelfield. Satu demi satu orang dewasa di dalamnya meninggal. Lalu Ambrose Proctor, tukang kebun, menyeruak masuk dalam hidup si kembar. Tanpa disadarinya, Ambrose menciptakan masalah. Masalah yang berbuntut panjang pada terbakarnya Angelfield House dengan puing-puing yang terlontar hingga ke masa depan.

Puing-puing masalah itu masih tersisa di Angelfield. Margaret pergi ke sana dan menemukan sisa-sisa rumah keluarga Angelfield. Di sana juga ia bertemu dengan Aurelius Love, seorang tukang kue bertubuh 'raksasa' dan seorang perempuan bernama Karen dengan dua anaknya, Tom dan Emma. Lambat laun semua keping cerita bertaut, menjawab semua misteri yang diikat satu simpul: Angelfield.

Simultan dengan itu, bayang-bayang yang menghantui Margaret, masa lalu yang disembunyikan orangtuanya dari dirinya, tersingkap. Margaret, sebagai narator novel, yang menceritakan kisah hidupnya dan menuturkan kembali kisah hidup Miss Winter akan membeberkan dengan tuntas, demi pembebasan dirinya sendiri.

Membaca judul The Thirteenth Tale (Dongeng Ketiga Belas) dengan sampul depan edisi Indonesia yang seperti sampul buku dongeng, saya sempat mengira buku ini sebagai antologi tiga belas dongeng dengan akhir yang mengejutkan. Tetapi dugaan saya keliru. Novel ini adalah fiksi kontemporer untuk pembaca dewasa. Dan, meskipun ada ungkapan 'hantu' di dalamnya, sama sekali tidak ada unsur fantasi. 'Hantu' di sini hanya sekedar menggambarkan masalah psikologis karakter-karakter tertentu. Judul ini mengacu pada kisah ketiga belas yang tidak bisa diselesaikan Miss Winter. Judul yang sangat pas untuk karya debutan perempuan kelahiran Reading (Inggris) 22 Agustus 1964 yang saat ini tinggal di North Yorkshire.



Diane Setterfield

Novel bergaya gotik ini beralur terbilang lambat. Hanya kelambatannya bukan berarti sarat lanturan. Penulis perlu menggemulaikan alur untuk mengedor rasa ingin tahu pembaca, membuat pembaca penasaran bertanya-tanya sambil menikmati keindahan dan kemisteriusan muatan yang digelontornya. Karena pada pamungkasnya, dengan mahir penulis menghantam pembaca dengan memanfaatkan berbagai kejutan yang dipersiapkan secara baik dan tuntas. Pembaca mesti sabar dan cermat mengikuti ayunan plotnya agar benar-benar dapat menikmatinya.

Satu yang bikin saya gatal adalah kepiawaian Vida Winter sebagai penulis. Bagaimana caranya ia bisa menjadi pengarang ternama? Apakah ia sempat mengenyam pendidikan yang menyanggupkannya menulis buku-buku yang disukai pembaca? Atau, apakah ia memang memiliki bakat alami? Pertanyaan ini mungkin tidak penting bagi Diane Setterfield (atau pembaca lain), tetapi tetap menggoda untuk saya lontarkan mengingat novel ini mengungkap riwayat hidup Vida Winter.

Akhirnya, inilah sebuah novel bergizi ihwal manusia bermental serapuh sayap kupu-kupu, hasrat mencintai dan dicintai, kematian, bunuh diri, inses, dan permasalahan pelik anak kembar. Semuanya saling kelindan memproduksikan novel saspens misterius yang menggoda. Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca yang gemar fiksi kontemporer yang mengedepankan misteri kehidupan sebagai daya tarik (seperti saya). Kalimat di bawah ini, yang katanya dinukil dari "Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan" karya Vida Winter mungkin akan membuat Anda penasaran.

"Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karakteristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kaudapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng". (hlm. 9/ 49).


Posted at 12:21 pm by Jody
Comments (3)  

Thursday, December 25, 2008
ECLIPSE





Judul Buku : Eclipse (Gerhana)

Penulis: Stephenie Meyer

Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani

Penyunting: Rosi L. Simamora

Tebal: 688 hlm; 13,5 X 20 cm

Terbit: Cetakan 1, September 2008

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

DUA CINTA


Konon, pada suatu malam di bulan Juni 2003, Stephenie Meyer bermimpi. Dalam mimpinya, seorang gadis bercakap-cakap dengan seorang pemuda berkilauan di padang rumput penuh sinar matahari. Mereka saling jatuh cinta dan sang pemuda yang adalah seorang vampir mendambakan darah si gadis. Benar tidaknya mimpi ini, hanya Stephenie Meyer yang tahu! Konon lagi, begitu kuatnya mimpi itu hingga mendorong Stephenie Meyer, yang belum pernah menulis, memutuskan untuk menjadi pengarang. Maka lahirlah Twilight yang kemudian menjadi judul perdana Twilight Saga. Novel pertama itu sukses dan dibuntuti sekuelnya, New Moon dan Eclipse (terakhir Breaking Dawn). Kabarnya, 3 judul pertama seri ini telah terjual lebih dari 5,3 juta kopi di Amerika saja.

Eclipse (Gerhana) diterbitkan Agustus 2007 dan dalam waktu 24 jam setelah diluncurkan, telah terjual 150 ribu kopi. Kisah dalam novel yang masuk dalam daftar bestseller New York Times ini berawal pada saat-saat terakhir Bella dan Edward sebagai siswa SMA Forks. Mereka akan segera lulus dan menjadi mahasiswa. Tetapi, meski diterima di universitas ternama, mereka memilih University of Alaska Southeast. Alaska menjadi tujuan mereka, karena sesuai perjanjian Bella dengan Edward, tidak lama lagi Bella akan menjadi vampir.  Negara bagian itu bisa menjadi lokasi yang tepat untuk ditinggali, jauh dari orangtua Bella dan udaranya cocok dengan tubuh vampir.

Pada saat yang sama serangkaian pembunuhan misterius terjadi di Seattle. Menurut Edward, pembunuhan-pembunuhan tersebut terjadi akibat perbuatan kaumnya. Ada indikasi eksistensi vampir yang baru lahir berkeliaran di Seattle. Seandainya terjadi di tempat lain yang jauh, peristiwa ini tidak akan menjadi persoalan bagi Edward dan keluarga Cullen. Tetapi Seattle tidak jauh dari Forks dan sudah bisa diperkirakan bencana sedang menuju Forks. Siapa lagi yang menjadi sasaran, kalau bukan Bella, si ‘danger magnet’.

Sebagai tindakan berjaga-jaga, Edward mendorong Bella mengunjungi ibunya di Florida. Ternyata, ketika mereka pergi, Victoria muncul di Forks. Ia datang untuk membalas dendam atas kematian James (pada buku pertama). Vampir berambut jingga ini nyaris tertangkap jika tidak terjadi konflik antarab vampir dan werewolf (manusia serigala) yang sama-sama menyerang Victoria.

Kekhawatiran Edward menggeliat ketika mencium kehadiran vampir yang tidak dikenal di dalam kamar Bella. Bella perlu dilindungi. Tetapi perlu tenaga lebih untuk mengatasi para vampir baru itu. Keluarga Cullen membutuhkan bantuan dan tidak ada vampire yang sudi membantu. Tidak ada jalan lain, mereka mesti bekerja sama dengan manusia serigala. Pada saat itu, Bella telah kembali menjalin pertemanan dengan Jacob Black (Jake), yang dengan terus terang, menyatakan cintanya.

Maka, tak pelak lagi, pertarungan Keluarga Cullen dan manusia serigala melawan para vampir baru terjadi juga. Bella telah meminta agar Edward tidak terlibat dalam pertarungan tersebut. Meski demikian, Bella tidak bisa mencegah usaha keras Victoria dan vampir ciptaannya menerobos lokasi persembunyian.

Pembaca dengan mudah akan mengetahui akhir novel ini tanpa berpikir lama-lama, nasib Bella dan kisah cintanya yang nyaris bercabang. Memang ada bagian yang tak terduga, tetapi tidak memiliki efek yang membuat novel ini semakin bersinar. Seperti dua novel sebelumnya, Eclipse ditulis dengan alur yang gemulai. Aroma cinta remajanya kental sekali, manis dan cenderung membosankan. Tidak ada hal baru dalam gaya penulisan.

Mungkin yang menarik diikuti adalah beberapa cerita yang ditambahkan Meyer untuk menebalkan novel. Kisah hidup Rosalie dan Jasper serta kisah pejuang roh leluhur Suku Quileute seakan-akan menjadi pengusir kebosanan pada cerita kecemburuan Edward dan Jacob. 

Ada satu istilah yang diperkenalkan Meyer dalam novel ini, Imprint. Imprint adalah respons tanpa sadar atau di luar kemauan yang dialami werewolf ketika bertemu dengan belahan jiwanya. Sam dan Quil, teman-teman Jake telah mengalami hal itu, dan salah satunya meng-imprint seorang balita. Meskipun merasa mencintai Bella, dalam novel ini Jake belum mengalami peristiwa itu. Anda harus membaca Breaking Dawn untuk mengetahui siapa yang di-imprint Jake.

Untuk pembaca novel yang masih remaja, salah satu kelakuan Bella yang liar tentu saja tidak bisa dijadikan contoh berperilaku. Bella (masih 18 tahun) dan Edward sudah bersepakat jika Bella akan divampirkan setelah lulus SMA. Edward akan menggigitnya begitu mereka terikat pernikahan. Keputusan ini membuat Bella ‘gatal’, dan boleh dikata tersulut birahinya. Ia mendesak Edward untuk bercinta (baca: berhubungan seks) dengannya, sebagai kenangan terakhirnya sebagai manusia yang tidak abadi. Untunglah, Edward tidak termakan rayuannya dan bersikeras hal itu hanya boleh terjadi setelah mereka menikah. Menurut saya, ini menjadi bagian yang tidak penting dan tidak perlu ada dalam novel.

Konon, gambar sampul edisi bahasa Inggris yang menampakkan pita merah sobek menggambarkan pilihan, ketika Bella terbelah antara cintanya kepada Edward, sang vampir, dan Jake, si werewolf. Terkesan hebat maknanya, namun potensial membingungkan. Jadi, saya lebih suka gambar sampul edisi Indonesia.

Apa pun ‘rasa’ buku ketiga Twilight Saga ini, saya yakin, para pemujanya tidak akan melewatkan novel pamungkas tetralogi ini, Breaking Dawn.

Posted at 09:31 pm by Jody
Make a comment  

Wednesday, December 24, 2008
CHICKEN WITH PLUMS




Judul Buku : Chicken With Plums (Ayam dengan Plum)
Pengarang : Marjane Satrapi (2004)
Penerjemah : Tanti Lesmana
Terbit : Cetakan 1, Agustus 2008 (terbit Oktober, 2008)
Tebal : 88 hlm; 16 X 23,5 cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


NASSER ALI KHAN MEMUTUSKAN MATI


Ayam dengan buah plum (chicken with plums) adalah masakan dengan ayam, buah plum, bawang saus karamel, tomat, kunyit, dan saffron yang biasanya disajikan dengan nasi. Masakan ini merupakan menu favorit Nasser Ali Khan, salah satu musisi tar (alat musik Iran). Nasser Ali Khan adalah karakter utama novel grafis karya Marjane Satrapi, penulis kelahiran Rasht (Iran) 22 November 1969.

Sesungguhnya, novel grafis ini merupakan kenangan akan paman buyut Marjane Satrapi (Marji), Nasser Ali Khan Satrapi, terutama, pada 8 hari terakhir hidupnya di bulan November 1958. Marji memulai ceritanya sekitar bulan September 1958 ketika Nasser Ali hendak membeli tar baru ganti tar kesayangannya yang telah patah. Sebelum tiba di toko Mirza, ia bertemu seorang perempuan dengan anak kecil laki-laki (yang menyapa si perempuan dengan panggilan 'nenek') di jalan. Nasser mengira perempuan itu adalah Irane, tetapi si perempuan mengatakan jika ia tidak ingat pernah mengenal Nasser Ali.

Tar yang dibeli dari Mirza ternyata tidak memberikan kepuasan baginya. Maka atas anjuran Manucherhr, Nasser Ali pergi ke Mashad untuk membeli tar Yahya (tar yang dinilai setara dengan biola Stradivarius). Setelah mengeluarkan uang sebanyak 2000 Touman untuk sebuah tar Yahya, Nasser Ali tetap tidak puas. Tidak ada tar lain yang bisa memberinya kebahagiaan seperti yang diberikan tar kesayangannya. Maka, Nasser pun memutuskan untuk mati dan berbaring di tempat tidurnya. Nasser Ali Khan, sang musisi tar terbaik Iran meninggal pada tanggal 22 November 1958, persis sebelas tahun sebelum pengarang Chicken With Plums ini, Marji, dilahirkan. Nasser Ali dimakamkan di samping ibunya.


Tar

Setelah adegan pemakaman Nasser Ali, Marji melakukan kilas balik, menceritakan apa yang terjadi sejak tanggal 15 November saat Nasser Ali mengurung diri di kamarnya menunggu mati. Selama masa mengurung diri, beberapa orang masuk ke dalam kamarnya dan mengambangkan masa lalu Nasser Ali ke permukaan (oleh Marji, digambarkan menggunakan latar belakang hitam). Ia menyayangi Farzaneh dan membelikannya sandal kulit pink yang menjadi sumber kemarahan Nahid. Ia selalu kalah pamor dibanding Abdi, adiknya. Ia tidak mencintai Nahid, yang sesungguhnya telah mencintainya sejak berusia 8 tahun. Ia pernah mencintai putri pemilik toko jam, tetapi lamarannya ditampik. Ia belajar tar dan menikahi perempuan yang tidak ia cintai. Akhirnya, ia menjadi dekat dengan ibunya yang meninggal setelah menghabiskan 3 lusin rokok.

Pada hari kedelapan, semua cerita berpadu membentuk alur hidup Nasser Ali yang ternyata berpotensi depresi. Sebuah kisah yang tidak membahagiakan tentang seorang laki-laki yang kurang bahagia dalam hidupnya dalam kata-kata dan gambar hitam-putih. Tetapi keseluruhannya bagus, menarik, diolah dengan menyentuh hati dan tak ketinggalan sisi humornya. Coba simak pada hari kelima tatkala Nasser Ali terkenang ibunya yang telah meninggal dan menyadari ada yang berdoa agar ia tetap hidup. Ternyata Nasser Ali salah mengira. Anda tidak hanya akan didorong untuk merasa sendu, tetapi juga akan dibuat tersenyum. Ada Nasser Ali, penggemar Sophia Loren, yang membayangkan menyantap Ayam dengan Buah Plum sembari membayangkan lagi berasyik masyuk dengan sang aktris. Mozaffar yang kentut di hadapan ayahnya. Kisah hidup Mozaffar dengan keluarganya di Amerika Serikat dan masalah kegemukan anak perempuannya, Katya. Ibu Nasser Ali yang memiliki prinsip "Rokok adalah makanan untuk jiwa" dan meninggal dalam keadaan terselubung awan asap tebal. Kisah malaikat maut tentang peristiwa pengambilan nyawa Mr. Ashoor. Mustahil kedua sudut mulut Anda tidak melebar!

Dalam mengisahkan kehidupan Nasser Ali, Marji tidak hanya menggunakan kilas balik. Dua kali ia bercerita tentang peristiwa yang terjadi lama setelah Nasser Ali meninggal. Pada hari pertama Nasser Ali mengurung diri, Marji mengisahkan kunjungannya ke Teheran dengan ibunya untuk bertemu Farzaneh. Pada hari keempat, Marji menceritakan kehidupan Mozaffar dan keluarganya di masa depan.

Ada pertanyaan yang tergelitik untuk saya ajukan: siapakah anak laki-laki yang bersama perempuan yang bertemu dengan Nasser Ali Khan di awal cerita? Apakah ia cucu si perempuan mengingat ia memanggil 'nenek' kepada si perempuan? Setelah usai membaca buku ini, ternyata bisa diketahui jika usia si perempuan kurang lebih sama dengan Nasser Ali. Maka, heranlah saya jika anak laki-laki itu adalah cucu si perempuan. Sebab, Nasser Ali diceritakan, sama sekali, belum menjadi 'kakek'.



Marjane Satrapi

Novel grafis hitam putih yang berjudul asli Poulet aux prunes ini pertama kali terbit dalam edisi Prancis tahun 2004. Edisi Inggrisnya terbit tahun 2006. Karya penulis yang menetap di Prancis dan telah menulis beberapa buku anak-anak ini memenangkan Best Album Award (Prix du Meilleur Album) pada Angoulême International Comics Festival pada tahun 2005

Selain Chicken With Plums, Marji yang adalah kontributor rutin berbagai majalah dan surat kabar di berbagai negara telah membukukan memoarnya sebagai novel grafis, Persepolis: The Story of a Childhood dan Persepolis 2: The Story of a Return. Novel grafisnya yang berjudul Embroideries (Broderies, 2003) telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Bordir (2006).


 

Posted at 09:51 pm by Jody
Comments (2)  

Tuesday, December 23, 2008
EMBROIDERIES




Judul Buku: Embroideries (Bordir)
Judul Asli : Broderies (2003)
Penulis dan ilustrator: Marjane Satrapi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Tebal: 136 hlm; 14 x 19 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2006
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

MENIKMATI GOSIP PEREMPUAN IRAN


Marjane Satrapi adalah penulis dan ilustrator berdarah Iran yang sukses dengan memoarnya yang disajikan dalam bentuk novel grafis, Persepolis: The Story of a Chilhood dan Persepolis 2: The Story of a Return. Persepolis telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan mengantongi penghargaan Harvey Award untuk kategori edisi buku asing terbaik di Amerika dan Alex Award dari American Library Association. Setelah kesuksesan kedua novel grafis ini, Marjane Satrapi (Marji) menghadirkan Broderies (Embroideries), novel grafis yang diindonesiakan dengan judul Bordir. Dalam novel grafis ini, Marjane mengisahkan cerita dengan dirinya menjadi salah satu pelaku. Kali ini, Marji memotret kebiasaan perempuan-perempuan Iran yang berkumpul dan dengan dalih berdiskusi, bergosip untuk "melepaskan unek-unek". Banyak hal yang dijadikan buah bibir. Diri sendiri, teman, kenalan, dan suami-suami, yang semuanya bertalian dengan cinta, seks, dan tingkah para lelaki mempermainkan dan memanfaatkan perempuan.

Di rumah keluarga Satrapi, teh disiapkan dengan cara berbeda untuk pagi, siang, dan malam. Menurut Marji, si penanggung jawab samovar (dalam bahasa Persia diucapkan sebagai samāvar, yaitu wadah dari logam untuk memanaskan dan mendidihkan air untuk membuat teh, antara lain digunakan di Rusia, Iran, Kashmir, dan Turki),  penyiapan dilakukan secara berbeda karena memiliki fungsi yang tidak sama. Acara minum teh pagi adalah untuk neneknya. Teh harus dicampur dengan sedikit larutan bubuk opium yang tersisa di dasar pipa opium setelah diisap. Dengan minum teh ini, nenek yang bangun pagi dalam keadaan lesu dan suasana hati sangat buruk, akan berubah menjadi nenek yang humoris dan baik hati. Sedangkan teh untuk siang dan malam mesti dimasak di dalam samovar sekitar ¾ jam sampai rasanya benar-benar "keluar". Dengan teh yang nikmat, usai makan siang atau malam, para perempuan dewasa, memulai acara "melepaskan unek-unek".

Bordir, yang dinominasikan untuk Angoulême Album of the Year tahun 2003, mengambil seting suatu hari selesai makan malam di rumah keluarga Satrapi. Sembilan orang perempuan dewasa (keluarga Satrapi, teman, dan tetangga) berkumpul dan dengan pimpinan nenek Marji yang telah menikah 3 kali dalam hidupnya, acara dimulai.

Maka, mengalirlah berbagai kisah untuk didengar dan dikomentari bersama. Sebagai cerita pertama, Nenek Satrapi menjadi nara sumber kisah temannya yang bernama Nahid. Nahid, hidup dalam ketidakbahagiaan karena menikahi lelaki pilihan orangtua yang tidak ia cintai. Tiga minggu sebelum menikah, Nahid meninggalkan status "perawan" di tangan kekasihnya. Takut suaminya tahu selaput daranya sudah koyak, Nahid minta nasihat Nenek Satrapi. Malam pertama Nahid dengan suaminya, terjadi tragedi. Tragedi silet yang tidak perlu terjadi jika saat itu Nahid sudah bisa "dibordir".

Setelah tragedi silet Nahid, susul-menyusul kisah-kisah lain, yang antara lain, merupakan kisah beberapa orang dari sembilan orang yang bergosip malam itu. Pembaca akan digiring pada kisah berbagai perempuan melalui penuturan perempuan-perempuan doyan gosip itu. Ada kisah perempuan beranak 4 yang belum pernah memegang testis; perempuan yang menjadi istri lelaki berusia 56 tahun lebih tua darinya pada usia 13 tahun, meninggalkan suaminya, dan berakhir sebagai wanita simpanan; perempuan yang menikahi seorang lelaki pembohong yang suka gonta-ganti perempuan dan berselingkuh dengan suami orang lain; janda yang mencintai lelaki yang ibunya tak menghendaki janda cerai untuk anaknya; perempuan yang mereparasi payudara dan pantat agar tetap disayang suaminya; perempuan yang dinikahkan ibunya pada usia 18 tahun dengan foto suaminya; dan perempuan yang ingin sekali tinggal di negeri Barat gara-gara MTV dan menikahi seorang lelaki 'perampok' yang meninggalkannya setelah membawa semua perhiasan berharga kepunyaannya. Semua kisah perempuan ini begitu mengharukan, menyedihkan, tetapi juga mengandung humor kehidupan. Seperti kata Nenek Satrapi, "Begitulah yang namanya hidup! Kadang kau yang menunggangi kuda, kadang kuda yang menunggangimu. "

Bordir, yang menjadi judul novel bukanlah hiasan pakaian. Bordir di sini adalah sebuah istilah di kalangan perempuan Iran yang berhubungan dengan operasi seputar organ kewanitaannya. Katanya, ada dua jenis bordir. Pertama, operasi selaput dara yang koyak (dalam buku ini disebutkan karena seks pranikah) dan yang kedua, operasi untuk mengecilkan vagina. Untuk yang kedua ini, dilakukan jika vagina yang seperti karet gelang tak berkualitas, sudah menjadi longgar meski baru dua kali ditarik. Istilah bordir inilah yang menjadi gurauan hangat di kalangan perempuan-perempuan tukang gosip itu, yang mengingatkan Nenek Satrapi akan nasib malang Nahid yang menyilet testis suaminya.

Novel grafis kocak, nakal, cerdas, dan mengharukan ini menghadirkan gambar-gambar dalam warna hitam putih. Gambar-gambarnya sederhana ala Marji tetapi terkesan kuat karena berhasil menampilkan sifat dan emosi masing-masing tokoh manakala wajah mereka ditampilkan. Hanya, untuk membedakan masa kini dan masa lalu (dalam adegan kilas balik) Marji belum menggunakan cara yang digunakannya dalam Chicken with Plums (GPU, 2008) yang terbit belakangan, yaitu menggunakan latar belakang hitam. Tetapi, pembaca tetap bisa mengikuti cerita yang disampaikan dengan lancar. Mungkin, tidak akan melepaskan buku ini sebelum tuntas disadap.



Marjane Satrapi

Edisi Indonesia karya perempuan yang sekarang tinggal di Prancis dan sudah dua kali menikah ini hadir dalam buku yang dikemas seperti buku novel pada umumnya, menggunakan kertas yang bagus dan yang terutama, diterjemahkan dengan hasil yang enak dibaca. Karena isinya banyak menyodorkan masalah dan humor dewasa (seputar seks dan laki-laki), maka tak lupa diperingatkan jika buku ini adalah konsumsi pembaca yang benar-benar sudah dewasa.

Membaca Bordir, dengan gambar-gambar yang ada, Anda mungkin akan merasa digiring ke dalam ruang tamu keluarga Satrapi, menikmati teh yang dimasak dalam samovar sekitar ¾ jam, mengikuti dengan tekun apa yang dibagi para perempuan itu lewat cerita, keluhan, tawa, dan nasihat-nasihat dalam urusan cinta dan laki-laki. Sekali lagi, potensial, kita akan dibuat tersenyum, bahkan tertawa, sekalipun hidup yang dibagikan para perempuan tidak menghadiahi mereka kebahagiaan.


Posted at 12:39 pm by Jody
Make a comment  

Sunday, August 10, 2008
BINTANG BUNTING



Judul Buku: BINTANG BUNTING
Penulis: Valiant Budi
Penyunting: Mumu Aloha
Terbit: Cetakan 1, 2008
Tebal: xvi +324 hlm; 13 X 19 cm
Penerbit: GagasMedia

 

Valiant Budi Yogi menjadi salah satu nominator Penulis Muda Berbakat pada ajang Khatulistiwa Literary Award 2007 berkat novel perdananya yang bertajuk Joker : Ada Lelucon di Setiap Duka (GagasMedia, 2007). Kisah tentang seorang pemuda dengan kepribadian ganda seorang perempuan ini memang terbilang sangat menarik. Valiant Budi berhasil menggiring pembacanya ke dalam pusaran kisah yang nyaris tak terduga dalam teknik penceritaan yang mengalir cepat bak adegan-adegan film.

Sekarang, masih dengan penerbit yang sama, Valiant Budi menerbitkan novel yang diberi judul Bintang Bunting. "Kalo kamu pikir Bintang Bunting menceritakan seorang gadis cilik bernama Bintang dan hamil di luar nikah, maaf..., kamu salah," begitu pernyataan Valiant (hlm. Ix). Dan memang, Bintang Bunting bukanlah kisah tentang gadis kecil bernama Bintang yang bunting atau seorang bintang (film, sinetron) yang bunting.

Bintang Bunting adalah hikayat seorang perempuan muda bernama Audine. Dan Audine tidak bunting (maksudnya hamil) meskipun dia sudah bersuami. Suaminya, Adam, bekerja di sebuah agensi periklanan dan kerja sampingan sebagai seorang pemeran 'sinetron' reka ulang, tayangan reka ulang peristiwa kriminal. Mereka jatuh cinta bukan pada pandangan pertama tetapi pada aroma pertama. Saat itu, Audine hanya mengenakan handuk, sedangkan Adam hanya memakai celana dalam. Ceritanya, mereka sama-sama baru saja selesai berenang. Aroma menguar –namanya feromon, dan keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan serius.

Setelah menikah dengan Adam, Audine yang pada masa kecilnya memiliki kebiasaan berjalan dalam tidur bingung membedakan mimpi dan kenyataan. Tentu saja, Adam terganggu dengan kebiasaan Audine. Suatu malam, Audine tiba-tiba meninggalkan apartemen, bertelanjang kaki sambil menenteng sepatu. Baru sesampainya di rumah Mada, seorang peramal,  Audine menyadari bahwa pagi masih lama tiba.

Adam memang pusing dengan apa yang terjadi pada Audine. Tetapi Audine sendiri merasa tersiksa. Seingatnya, Adam yang sedang bertugas ke Manado baru saja menelepon dan menyebutkan jika pesawatnya delay karena cuaca buruk. Eh, tak berapa lama, suaminya telah ada di rumah, lengkap dengan piyama cokelat muda. Menurut Adam, dia sudah kembali malam sebelumnya, dan Audine yang membukakan pintu untuknya. Nah, kacau kan?

Mada menyarankan Audine untuk memperbaiki hubungannya dengan Adam. Dia berpendapat, hubungan Audine dan Adam sedang bermasalah karena belakangan mimpi-mimpi Audine selalu melibatkan Adam. Mada mengingatkan Audine untuk berhati-hati agar perkawinannya tidak berakhir seperti kariernya 7 bulan berselang. Bahkan, setelah membaca telapak tangan Audine, Mada menyuruh Audine untuk menghindari daerah Selatan, tempat keramaian dengan burung elang besar dan bercahaya (belakangan Audine tahu yang dimaksud Mada adalah Golden Eagle Hotel).

Audine tentu saja percaya dengan apa yang dikatakan Mada. Mada muncul secara tiba-tiba dalam kehidupan Audine. Sekitar 13 bulan silam, Audine sedang duduk-duduk di sebuah kafe ketika tanpa diundang, Mada sudah duduk manis di depannya. Dengan tangkas, Mada membeberkan isi mimpi dan perilaku Audine. Jadi, siapa yang tidak percaya jika Mada mengaku dirinya sebagai seorang peramal?

Selain Mada, Audine sering curhat banyak hal pada Raeli, seorang pemilik salon yang takut mati. Raeli tahu persis betapa bingungnya Audine memisahkan mimpi dan kenyataan. Dan saat ngobrol dengan dirinyalah Audine mendapat ide membedakan mimpi dan kenyataan. Sangat mudah, cukup menyediakan kertas dan pulpen. Audine akan memakai penanda untuk kejadian nyata, mencoret garis hingga membentuk simbol. Yang kemudian membentuk simbol bintang.

Suatu hari, ketika sedang tidak berada di apartemen, Mada menelepon Audine. Kata Mada, seseorang yang tidak Audine harapkan akan menemui Audine. Hal ini membuat Mada benar-benar merasa tak enak dan menyarankan Audine untuk datang ke rumahnya. Ketika pulang ke rumah untuk mengambil pakaian sebelum ke rumah Mada, Adam ternyata telah pulang kerja. Adam sedang berada di atas ranjang, ML dengan seorang perempuan lain! Lalu, dalam keadaan histeris, setelah sempat menggores sebuah garis di atas kertas, sebuah benda menimpa kepala Audine dan membuatnya pingsan. Ketika sadar, Adam mengatakan jika dia menemukan Audine dalam keadaan pingsan, pas pulang kerja. Audine tidak percaya, meski kemudian sadar, 'bintang'-nya kehilangan garis yang telah dicoretkannya.

Audine mesti melakukan sesuatu. Karena mimpi-mimpinya sering membuat bencana, dia memutuskan untuk tetap terjaga. Tetapi, lagi-lagi masalah datang, terjadi pembunuhan, dan Audine curiga dirinya telah membunuh. Dalam kungkungan depresi, Audine memutuskan berlibur. Maka, ia pergi ke Pulau Seribu. Tetapi, Mada memberi tahunya jika Pulau Seribu bukan tempat yang aman bagi Audine. Akhirnya, Audine memutuskan pergi ke Turki, tempat Adam melamarnya dulu.

Sayangnya, sekembalinya dari Turki, masalah tidak juga hilang. Beberapa kejadian menimpanya, benaknya meraba berbagai kejanggalan, dan ia menemukan garis-garis yang membentuk bintang yang dibuatnya mengalami perubahan. Gambar bintangnya mendadak bunting!

Sebenarnya, apakah yang terjadi pada Audine? Benarkah Audine sungguh-sungguh tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab setelah pembaca usai meniti plot yang terentang dari awal hingga akhir novel kedua Valiant Budi ini.

Sekali lagi, seperti yang dilakukannya dalam Joker, Valiant menunjukkan dirinya sebagai penulis yang piawai memadukan percintaan, saspens, dan komedi (dalam kadar secukupnya) untuk menghasilkan sebuah novel kontemporer. Cerita berpilin yang disodorkan terbilang menarik, mengayun cepat dalam plot yang menyediakan cukup tikungan untuk menciptakan rasa penasaran pembaca.

Untuk mengelaborasi kisah dalam novel ini, Valiant menggunakan gaya penulisan yang asyik dengan bahasa lincah dan bumbu pengetahuan populer yang mungkin akrab bagi pembaca kosmopolitan. Keseluruhannya memikat, menghadirkan sebuah novel mutakhir yang tidak basi.

Di sela-sela plot, kita bisa membaca potongan-potongan cerita/info yang nyaris semuanya lepas dari alur dan konflik novel. Jika disimak dengan teliti, ternyata itu adalah potongan-potongan acara televisi: berita, iklan, acara kriminal, dll. Meski beberapa di antaranya melibatkan hasil pekerjaan Adam (yang ternyata tidak cuma pekerja periklanan dan pemain 'sinetron' reka ulang), potongan-potongan acara ini  tidak mempengaruhi isi novel. Dengan kata lain, jika dihilangkan, novel tidak kehilangan greget. Gaya seperti ini mungkin hanya cara Valiant untuk menghadirkan novelnya sedikit berbeda dengan kebanyakan novel.

Khusus untuk Raeli, pemilik salon yang kenal baik dengan Audine dan Adam, Valiant memberikan porsi penceritaan yang cukup banyak. Kisah Raeli mengatasi ketakutan akan kematian berkembang menjadi sebuah plot sendiri, yang sayangnya, juga, tidak memberi kontribusi berarti bagi novel. Untunglah, Valiant membentangkan kisah Raeli ini dengan menarik, sehingga keberadaannya melengkapi keasyikan novel.

Dalam menyingkapkan penyebab kekacauan hidup Audine, Valiant tampaknya agak tergesa. Padahal, dengan sedikit dikekang, efeknya akan lebih menggedor. Ya, paling tidak, Valiant seharusnya sedikit sabar memberi tahu siapa sebenarnya Mada.

Sedikit spoiler, Valiant juga melewatkan penjelasan yang akurat mengenai motivasi tindakan si pengacau kehidupan Audine. Apakah hanya sekedar cinta atau juga karena harta (Audine adalah seorang kaya)? Atau hanya sekedar untuk main-main? Kalau sekedar main-main, untuk apa cape-cape baca novel ini?

Tetapi, Valiant tetap memiliki kecakapan untuk tidak membuat novelnya terpuruk menjadi tidak menarik. Setelah pengungkapan yang tergesa, Valiant masih menyisakan kejutan yang tak terduga di penghujung novel. Tidak semua yang terkesan sebagai lanturan, tidak punya kontribusi terhadap bangunan konflik novel.

Bagi saya, Bintang Bunting adalah sebuah novel yang wajib dibaca. Sebagai penyuka film, terutama dengan konflik berbelit, saya melihat novel ini seolah-olah melompat keluar dari kerumunan film-film Holywood. Barangkali, penonton setia film-film Holywood akan segera merasa dejavu dengan model cerita dalam novel ini. Namun, tentu saja Bintang Bunting tetap merupakan karya asli Valiant Budi.

Tidak selalu saya bisa membaca novel yang asyik. Bintang Bunting memberikan saya kenikmatan membaca –meski tidak sampai 'orgasme'. Begitu mulai, saya ingin segera menuntaskan seluruh novel, secepat-cepatnya. Saya berharap, dari penulis yang sama, akan terus muncul novel-novel baru dengan tema berbeda yang enak dibaca. Dengan saran, tentu saja, terus belajar untuk merancungkan teknik penulisan dan bertutur.


Posted at 10:20 pm by Jody
Make a comment  

Next Page