<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< January 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, January 23, 2009
BODY OF LIES

 

 

Judul: Body of Lies

Penulis: David Ignatius

Penerjemah: -

Tebal: 547 halaman

Terbit: Cetakan 1, November 2008

Penerbit: Rajut Publishing


 

OPERASI MINCEMEAT ALA CIA

 

Operasi Mincemeat adalah operasi tipuan yang dilakukan Inggris untuk menghadapi Jerman pada Perang Dunia II. Dilaksanakan pada tahun 1943, operasi ini berhasil mengecundangi Nazi Jerman, tanpa mereka sadari. Sesosok mayat dipersiapkan pada awal operasi, diberi nama Mayor William Martin dari Angkatan Laut Kerajaan. Mayat itu dibuang dan ditemukan di sebuah pantai di Spanyol. Dokumen yang disertakan pada mayat sampai ke tangan Nazi Jerman.  Isinya menyebutkan tentang rencana invasi Inggris ke Eropa melalui Yunani; bukannya Sicilia. Pihak Jerman memakan kebohongan ini dan berhasil ditipu mentah-mentah. Tentang Operasi Mincemeat dapat ditemukan dalam memoar bertajuk The Man Who Never Was yang diterbitkan pertama kali tahun 1954 dan sudah difilmkan. Penulisnya adalah Ewan Montagu, salah satu pelaku dalam operasi sukses itu.

 

Pencarian dan penyiapan mayat untuk operasi yang diadaptasi dari Operasi Mincemeat menjadi prolog (Pintu Masuk) novel Body of Lies karya David Robert Ignatius, seorang kolumnis The Washington Post. Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2007 dan sebelum hak adaptasi filmnya dibeli Warner Bros, ia berjudul Penetration. Film berdasarkan novel ini telah beredar Oktober 2008, disutradarai Ridley Scott dengan bintang-bintang seperti Leonardo DiCaprio dan Russell Crowe.

 

Sesungguhnya, novel ini berawal pada meledaknya dua bom dengan selang waktu sebulan di Rotterdam dan Milan. Karim al-Shams, lelaki asal Hama, Suriah, dipastikan menjadi perencana operasi pengeboman di Eropa. Spesialis bom mobil ini adalah seorang anggota Al Qaeda yang menamakan dirinya Suleiman Yang Agung.

 

Hani Salaam, kepala Badan Inteligen Yordania (GID), mengajak Roger Ferris, agen CIA dari Divisi Timur Dekat (NED) di Amman, pergi ke Berlin. Hani Salaam ingin menunjukkan kepada lelaki pincang ini metode yang mereka pakai dalam operasi inteligen. Kendati petinggi NED keberatan, Ferris merasa penting untuk ikut operasi Berlin. Sasaran operasi GID di Berlin adalah seorang anggota Al Qaeda bernama Mustafa Karami yang diharapkan akan membantu membongkar pelaku pengeboman Eropa.

 

Sebelum bekerja di Yordania, Roger Ferris bertugas di Irak. Di sanalah untuk pertama kali ia mendengar tentang Suleiman dari Nizar, seorang anggota Al Qaeda, yang ingin berkelit dari keharusan memartirkan diri dalam pengeboman Eropa. Nizar terbunuh, sedangkan Ferris meninggalkan Irak karena terluka akibat terkena senjata RPG.

 

Seketika Ferris sadar, ia dan Hani Salaam mengejar orang yang sama, Suleiman Yang Agung. Maka, lewat Ed Hoffman, kepala NED, CIA menawarkan operasi gabungan. Tapi Salaam menolak. Penolakan lelaki Yordania yang flamboyan ini berujung pada tewasnya Mustafa Karami. Salaam pun menyalahkan CIA.

 

Begitu tahu Karami tewas, Ferris berangkat ke Washington. Dalam perjalanan yang diseling berita peledakan bom di Frankfurt, Ferris membaca buku bertajuk The Man Who Never Was. Lahirlah ide di benak Ferris guna menuntaskan tugasnya membekuk Suleiman. Ed Hoffman, sang bos, setuju dengan ide Operasi Mincemeat. Maka, ia membentuk CIA versinya sendiri, Mincemeat Park, lengkap dengan dukungan orang-orang genius untuk mewujudkan sebuah operasi kontraterorisme yang sangat rahasia.

 

Sebuah plot dirancang dengan segala detailnya. Mereka akan berbohong seakan-akan CIA berhasil menembus selaput jaringan Al Qaeda. Membuat Suleiman percaya di tubuh organisasinya telah bercokol seorang agen CIA. Bahkan selanjutnya, mereka akan berpura-pursa telah sukses merekrut Suleiman.  Benih-benih keraguan akan disemai dalam organisasi Al Qaeda. Dan pada gilirannya, Suleiman akan dihancurkan dengan cara membuat integritasnya disangsikan oleh rekan-rekannya. Diyakini, kehancuran Suleiman akan disusul kehancuran jaringan Al Qaeda.

 

Jelas sudah apa yang dibutuhkan operasi ini. Sesosok mayat dengan spesifikasi cemerlang sebagai petugas lapangan CIA, dokumen palsu, dan sejumlah muslihat. Memanfaatkan mayat seorang lelaki asal Chicago, Harry Meeker, agen yang tidak pernah eksis diciptakan. Omar Sadiki, seorang arsitektur Yordania, diisbatkan sebagai anggota sempalan Al Qaeda yang melakukan operasi gaya baru. Untuk menegaskan peranan Sadiki, pangkalan udara Incirlik (selatan Turki) akan diledakkan. Lalu, Harry Meeker pergi membawa pesan untuk Suleiman melalui Azzam, tokoh suku Pashtun yang pernah bekerja dengan Suleiman di Afghanistan. Perencana pengeboman Eropa ini hendak diminta untuk membantu mengatasi sempalan Al Qaeda yang sejatinya tak pernah eksis. Tujuan operasi adalah memunculkan kesimpulan di kalangan Al Qaeda jika Suleiman adalah konspirator CIA. Seperti nasib Mustafa Karami, Suleiman akan didakwa sebagai pengkhianat Al Qaeda.

 

Tapi, begitu operasi dilaksanakan, Ed Hoffman merasakan ada sesuatu yang keliru. Demikian juga tatkala Ferris kembali ke Yordania. Ia menemukan Alice Melville, selingkuhannya, hilang. Otomatis Al Qaeda diduga telah menculik Alice dan memboyongnya ke Hama, Suriah, tempat asal Suleiman. Sang agen CIA seolah-olah malih menjadi seorang keroco yang tidak tahu apa-apa. Sebab, sesampainya di sana, ia sadar, ia telah menjadi agen virtual dalam operasi lihai yang diarahkan oleh seorang pentolan inteligen lain. Latar belakang Ferris yang memiliki seorang kakek Islam asal Lebanon menjadi alat untuk mengecundangi CIA dalam operasi inteligen di Timur Tengah. 

 

Menggunakan Operasi Mincemeat sebagai tempat berangkat sebuah karya bukanlah ide yang orisinal. Dalam arti, sudah ada penulis lain yang menggunakan ide ini. Tetapi menurut saya, penggunaan model Operasi Mincemeat sebagai elemen utama novel ini terbilang cukup brilian. Siapapun yang belum dan sudah tahu tentang operasi ini tidak akan segera digiring pada pemahaman pemanfaatannya dalam novel. Prolog yang digelontor Ignatius akan membuat pembaca bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi. Memang tidak lama kemudian, kita akan diberitahu jika prolog itu merupakan pintu masuk bagi replika Operasi Mincemeat, tetapi pembaca dipaksa terus membaca untuk merangkaikan semuanya dalam satu simpulan. Begitu juga untuk sasaran operasi dalam novel ini. Mereka tidak tahu jenis operasi kontraterorisme apa yang dilakukan pihak CIA. Pihak yang di penghujung novel mengecundangi CIA dengan cara memanipulasi Roger Ferris, juga bisa dipastikan tidak tahu jika Operasi Mincemeat ala CIA sedang dijalankan. Mungkin inilah yang menjadi nilai plus dalam novel lelaki kelahiran 26 Mei 1950 ini.

 

Selain itu, lewat novel ini, Ignatius yang katanya dikagumi agen-agen CIA 'karena memahami konspirasi mereka melebihi penulis manapun', bermaksud menumbangkan supremasi CIA dalam pentas dunia inteligen. Dalam novel ini, CIA benar-benar dimanipulasi. Senjata makan tuan bagi mereka yang suka memanipulasi pihak lain. Tanpa mengeluarkan biaya untuk menggenjot operasi spionase, pihak lain memetik keuntungan dari operasi CIA.

 

Selebihnya, cerita yang disemai Ignatius bukan hal anyar lagi. Kita bisa menemukan ide yang sama dalam berbagai novel dan film produksi Holywood. Oleh sebab itu, kisah heroisme seorang lelaki untuk menyelamatkan seorang perempuan di 'sarang penyamun' menjelang novel berakhir, bisa dikatakan sangat klise. Sekalipun pada akhirnya kita mengetahui 'penculikan' Alice hanya sekedar muslihat belaka.

 

Walaupun novel ini dikategorikan sebagai novel thriller (spionase) kita tidak akan disuguhi rangkaian adegan menegangkan yang susul-menyusul seolah tak mau bersudah di sekujur novel. Karakter hero, Roger Ferris, tidak akan terus digiring ke medan-medan eksplosif yang berpotensi membuat pembaca tercekat. David Ignatius memang bukan pengarang sejenis –katakanlah- James Rollins atau, yang lebih baru, Andy McDermott, yang gemar memanfaatkan adegan saspens gila-gilaan nyaris di sekujur novel thriller mereka. Mungkin ada yang akan mengatakan tidak adil membandingkan Ignatius dengan kedua pengarang itu karena kisah dan latar belakang protagonis yang digunakan berbeda. Tetapi, tetap, mereka punya satu kesamaan: mereka hadir dalam novel thriller!



 

Meskipun begitu, saya tidak bisa tidak menyukai Body of Lies. Sebagai sebuah thriller, selain ia memberi tambahan pengetahuan, novel ini juga menjadi latihan asah otak. Lebih khusus lagi, yang berkenaan dengan permainan inteligen.  Sebuah kontribusi baru dari apa yang sudah diberikan oleh novel-novel thriller lain yang ditulis tidak dengan maksud mengada-ada.

 

Untuk edisi Indonesia, dari segi penerjemahan, hasilnya cukup bisa diikuti, mesti –entah kenapa- kita tidak diberi tahu siapa penerjemahnya. Dari segi kemasan buku, kalau tidak tahu sebelumnya, Anda mungkin akan mengira Body of Lies adalah sebuah nonfiksi, dan bukan sebuah novel. Apalagi tidak ada pemberitahuan di sampul buku tentang jenis buku. Tulisan pada sampul belakang (yang bukan sinopsis) nyaris semuanya tidak mencerminkan isi novel. Dalam novel, tidak ada Amsterdam yang meledak (dalam versi film memang ada). Tidak ada investasi AS di Dubai yang luluh lantak, London yang menyalahkan Gedung Putih, dan sebagainya, dan sebagainya. Kalimat tambahan di bawah judul pun terkesan bombastis: Runtuhnya Kedigdayaan CIA di Timur Tengah. Benarkah hanya dengan dimanipulasinya CIA oleh pihak lain dalam 'Operasi Mincemeat' –operasi gelap tanpa sepengetahuan presiden-  ini sudah bisa dikatakan sebagai keruntuhan kedigdayaan mereka?


Posted at 11:09 am by Jody
Make a comment  

Thursday, January 22, 2009
THE LAST CONCUBINE


 

Judul Buku: The Last Concubine

Penulis: Lesley Downer

Penerjemah: Yusliani Zendrato

Penyunting: Nadya Andwiani

Tebal: 658 hlm; 14 x 21 cm

Terbit: Cetakan 1, November 2008

Penerbit: Matahati

 

 

BUNGA LILI PUTIH DI ATAS TANDU PERMATA

 

 

1861. Putri Kazu (1846-1877), putri bungsu Kaisar Ninkô dari selirnya Hashimoto Tsuneko, meninggalkan Kyoto menuju Edo. Dara berusia 15 tahun ini dipersunting Shogun Iemochi, shogun ke-14 dari klan Tokugawa. Menjadi istri Iemochi, berarti Kazu harus mengakhiri pertunangannya dengan Pangeran Arisugawa Taruhito. Di Edo, Putri Kazu terperangkap dalam kehidupan Kastil Edo, sebuah kastil yang dibangun pada masa kekuasaan Lord Ieyasu, shogun Tokugawa yang pertama. Namun, pernikahan Kazu dengan Iemochi tidak berlangsung lama. Pada usia 19 tahun, shogun yang berkuasa sejak usia 12 tahun ini meninggal. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan menuju Osaka. Sejarah mencatat, setelah Iemitsu, shogun Tokugawa ke-3, berkunjung ke Kyoto, di era Kan'ei, tak seorang pun shogun pernah meninggalkan kastil. Iemochi, menjadi shogun kedua yang melakukannya. Sebelum Iemochi pergi, Putri Kazu memberikan salah seorang pelayannya untuk menjadi teman tidur shogun. Pelayan itu menjadi selir terakhir shogun Tokugawa.

 

Latar historis inilah yang dijadikan sandaran novel The Last Concubine karya Lesley Downer. Perempuan yang pernah tinggal dan bekerja selama 5 tahun di Jepang ini mengadoptasi selir yang tak terkenal itu untuk menjadi karakter utama novel. Sang selir diberi nama Sachi seperti nama istri Lord Ieyoshi, shogun Tokugawa ke-12.

 

Sachi, yang berarti 'Kebahagiaan' diperkenalkan sebagai gadis petani yang tinggal di sebuah desa di Lembah Kiso. Tatkala Putri Kazu singgah di rumahnya dalam perjalanan menuju Edo, ia memutuskan membawa Sachi untuk melayaninya. Dalam usia 11 tahun, Sachi memang sudah menampakkan kecantikan aristokrat. Ia berkulit pucat, bermata hijau dan, tentu saja, tidak pantas menjadi istri petani.

 

Pada usia 15 tahun, atas keinginan shogun, Sachi, yang diberi nama Oyuri (Bunga Lili Putih), naik pangkat menjadi dayang berpangkat menengah. Status barunya ini mengukuhkan dirinya sebagai selir sang shogun. Ia pun diberikan Putri Kazu kepada suaminya yang hendak melakukan perjalanan ke Osaka. Diharapkan, Sachi bisa melahirkan keturunan guna mewarisi kekuasaan Iemochi. Kenaikan status Sachi menjadi Lady Shoko-in mengejutkan hampir 3000 perempuan yang tinggal di Kastil Edo. Sebab, di antara mereka, hanya sedikit yang punya peluang dipilih sebagai selir meski banyak yang mendambakan kehormatan itu. Sisanya, akan menghabiskan hidup dalam kastil tetap sebagai perawan.

 

Namun, menurut Haru – penghuni kastil yang menjadi guru Sachi-  menjadi selir shogun tidak lantas mengantar seorang perempuan ke puncak kebahagiaan. Seorang selir shogun Ieyoshi, yang berwajah cantik seperti Sachi, pernah mencari kebahagiaan dengan mengkhianati shogun. Hingga kini, ia lenyap tanpa jejak.

 

Setelah meniduri Sachi semalam, shogun meretas perjalanan menuju Osaka. Dan, ia tidak pernah kembali menginjak tampuk kekuasaan. Diberitakan, ia meninggal karena serangan jantung yang disusul dengan penyakit beri-beri. Tidak semua penghuni kastil percaya. Ada yang menduga, shogun mati karena diracun.

 

Kematian Lord Iemochi memanaskan situasi politik Jepang yang mulai menghangat sejak datangnya Kurofune (Kapal Hitam), 4 kapal besar Amerika yang berlabuh di Pelabuhan Uraga (Yokosuka) 14 Juli 1853. Apalagi setelah Lord Yoshinobu yang menggantikan Iemochi mencampakkan kekuasaan dan menyerahkannya kepada kaisar. Tak dapat dicegah lagi, perang saudara pun meledak, membagi Jepang dalam dua kutub, Utara dan Selatan (Downer menyatukan Satsuma, Choshu, Tosa, sekutu-sekutu mereka dan menyebut sebagai 'orang selatan' berdasarkan letak geografis). Para ronin, samurai tak bertuan dari selatan menyerbu Edo, membunuh pendukung shogun Tokugawa, dan bermaksud menculik Putri Kazu setelah membakar kastil.

 

Sachi harus mengorbankan diri. Ia diminta menyamar sebagai Putri Kazu dan ditandu meninggalkan kastil. Sachi sudah berusia tujuh belas tahun dan harus bisa menepis rasa gentar. Bagaimanapun, selama berada di kastil ia telah dilatih menjadi seorang samurai. Taki, pelayan asal Kyoto, bersikeras mengikuti Sachi. Dalam perjalanan, rombongan yang membawa Sachi diserang orang-orang selatan. Sachi dan Taki bisa selamat atas pertolongan tiga ronin pro Tokugawa asal Kano. Ronin-ronin itu bahkan memutuskan melindungi Sachi yang dikira sebagai Putri Kazu dengan membawanya menuju Kano. Namun, meski selamat sampai Kano, bahkan sempat singgah di Kiso untuk bertemu keluarganya, Sachi mesti tetap kembali ke Edo. Selain ia merasa tidak seperti dulu lagi, di rumah orangtua angkatnya ia mengetahui jika Daisuké, ayah kandungnya, tengah mencarinya. Lelaki yang belum pernah ditemuinya ini sedang dalam perjalanan menuju Edo. Karena Shinzaemon, salah satu dari ketiga ronin yang menolong Sachi, memutuskan akan kembali bergabung dengan pasukan pembela Klan Tokugawa di Bukit Ueno, Edo, maka Sachi dan Taki berangkat ke Edo bersama-sama. Meretas kembali jalan yang pernah mereka tempuh sebelumnya.

 

Di ujung perjalanan mereka, pertempuran menanti. Dan ketika Sacchi akhirnya bersua dengan ayahnya, ia menemukan kenyataan jika Shinzaemon mungkin telah tewas dalam pertempuran di Bukit Ueno.

 

Apakah Shinzaemon benar-benar telah tewas tanpa ditemukan jenazahnya? Akankah Sachi bertemu dengan perempuan yang telah melahirkannya? Siapa sebenarnya perempuan ini sehingga tega  melepas anaknya untuk diasuh orang lain?

 

The Last Concubine yang pertama kali diterbitkan tahun 2008 merupakan karya fiksi pertama Lesley Downer. Sebelumnya, perempuan kelahiran London ini dikenal sebagai penulis buku-buku nonfiksi yang berkaitan dengan Jepang seperti On the Narrow Road to the Deep North, The Brothers, serial A Taste of Japan, The Secret History of a Vanishing World, dan Madame Sadayakko. Untuk itu, demi menghidupkan penghujung zaman Edo hingga Restorasi Meiji, Downer melakukan serangkaian riset. Tentu saja masa tinggalnya di Jepang membantu proses kreatifnya. Tetapi hal itu tidak lantas membuatnya enteng mengeksplorasi Jepang masa lampau. Ia pun melakukan sejumlah konsultasi dengan pakar sejarah Jepang; membaca biografi samurai-samurai zaman Edo (1603-1867), novel-novel, puisi, karya akademis tentang zaman Edo; bahkan juga kehidupan para perempuan penghuni Kastil Edo.

 

Oleh sebab itu, The Last Concubine hadir dengan sejumlah fakta historis. Sachi dan kisah hidupnya memang hanya lahir dari imajinasi Downer. Namun, kerangka sejarah yang ada dirangkai seakurat mungkin. Pertempuran, kejadian politik, bahkan cuaca yang digambarkan Downer benar-benar seperti yang pernah terjadi. Demikian juga intrik dan pembunuhan yang ada. Nama-nama selir sesuai catatan sejarah; bahkan Lady Okoto, selir Ieyoshi, yang menjalin hubungan dengan tukang kayu berparas seperti pemain kabuki, Sojiro Sawamura. Referensi mengenai emas Tokugawa yang diselundupkan Lord Oguri keluar Edo ketika Lord Yoshinobu berkuasa dan dikuburkan di kaki Gunung Akagi didapatkannya dari catatan kaki sejarah perusahaan Mitsui. Sedangkan kehidupan perempuan dalam kastil Edo diperolehnya dari buku karya penulis Jepang, Takayanagi Kaneyoshi, Edojo ook no seikatsu (Life in the Women's Palace at Edo Castle). Ia mengkreasi istana yang tampak tenang tetapi penuh persaingan dan kebencian, tempat para perempuan Jepang berkubang, mendambakan kekuasaan dan kehormatan. Juga tempat perempuan berselingkuh, dan tak tertutup kemungkinan, menjalin hubungan sesama jenis.

 

Menurut Downer, sejarah selalu ditulis oleh pemenang (perang) dan bukan pihak lain. Seperti dalam kasus perang saudara Jepang yang memuncak tahun 1868 –Restorasi Meiji. Perang saudara ini digambarkan sebagai revolusi 'tak berdarah'. Tetapi, menurutnya, perang ini pasti bukannya tidak berdarah. Maka, ia pun menggelar perang berlepotan darah antara orang utara dan selatan yang menggiring pihak selatan pada kekalahan.



 

Dalam novel setebal 658 halaman ini, kita tidak hanya akan bersamplokan dengan fakta sejarah dan pertempuran berdarah. Menggunakan karakter fiktif Sacchi, yang ditempatkan di tengah-tengah fakta, Downer mengkreasi kisah cinta yang lembut dengan Shinzaemon, ronin pro Klan Tokugawa. Downer mengaku menjadi tantangan baginya menulis kisah cinta berlatar belakang suatu masyarakat yang tidak memiliki konsep tentang cinta yang romantis dan tak mengenal kata 'cinta'. Tapi toh ia bisa juga menghasilkan kisah cinta dengan takaran yang cukup yang bisa menyelamatkan novel ini dari stempel novel romantis belaka.  

 

Tetapi, tentu saja, The Last Concubine, tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai novel sejarah. Downer memang memanfaatkan salah satu bagian sejarah Jepang yang menjadi tonggak keterbukaan mereka dengan dunia luar, menggunakan beberapa tokoh yang pernah hidup masa itu, tetapi Sachi, sang karakter utama tidak pernah hidup. Demikian juga Shinzaemon. Apakah sebuah karya fiksi yang menggunakan latar belakang sejarah otomatis bisa disebut novel sejarah padahal tokoh utamanya sekedar fiktif belaka?

 

Posted at 05:02 pm by Jody
Comment (1)  

Monday, January 19, 2009
THE WEDNESDAY LETTERS

 


Judul Buku: The Wednesday Letters (Surat Cinta di Hari Rabu)

Penulis: Jason F. Wright (2007)

Penerjemah: Maggie Tiojakin

Editor: Ratih Kumala

Tebal: xii + 336 hlm; 14 x 20 cm

Terbit: Cetakan 1, 2008

SAAT PENGAMPUNAN MENGALAHKAN KEBENCIAN

Rabu Malam, 16 Juni 1948. Jack Cooper menulis sepucuk surat buat Laurel, perempuan yang dinikahinya hari itu.

"Aku sudah berjanji hari ini di gereja dan aku akan berjanji lagi padamu malam ini. Mulai sekarang aku akan menulis surat padamu setiap minggu. Di mana pun kita berada –entah di dua sisi benua yang luas ini atau di dalam ruang tamu yang sempit –aku pasti akan menulis surat padamu.

Aku akan membuat sebuah janji lagi. Laurel, aku akan selalu mendampingimu. Tak peduli apapun yang terjadi. Kita akan selalu bersama. Tanpa rahasia. Tanpa kejutan. Dan aku akan selalu setia kepadamu dalam segala hal". (hlm. 121)

Maka, setiap hari Rabu –dengan pengecualian beberapa situasi, Jack Cooper, melunaskan janjinya. Menulis surat untuk istrinya setiap minggu. Kebiasaan ini berlangsung terus hingga tahun demi tahun berlalu. Pada bulan November 1956, janji Jack yang dituliskannya ketika istrinya sedang lelap di malam pengantin mereka, mengalami ujian. Ujian yang nyaris membatalkan janji Jack yang kedua yaitu selalu mendampingi Laurel apapun yang terjadi. Untunglah, janji yang Jack cetuskan itu, tidak pernah dibatalkan, hingga maut menjemput mereka.

Rabu Malam, 13 April 1988. Setelah menikah hampir 40 tahun, Laurel meninggalkan Jack. Ia meninggal karena serangan jantung. Di penginapan Domus Jeffeson, penginapan di jantung Lembah Shenandoah (Virginia) yang mereka kelola bersama sejak tahun 1963. Padahal, Jack mengira dirinya yang akan lebih dahulu meninggal. Selama 18 bulan, Jack sibuk memerangi tumor otak ganas yang tidak bisa dioperasi. Maka, begitu menyadari Laurel tak bernyawa lagi, Jack memutuskan menulis "Surat Hari Rabu" yang terakhir –sebelumnya surat mingguan terakhir ini diharapkan Jack akan ditulis Laurel. Surat itu diamplopkan dan diletakkan di bagian Perjanjian Baru Alkitab King King James Version. Ia memeluk Laurel dan tidak lama kemudian menyusul Laurel menjejak alam baka. Rain Jesperson, teman dekat keluarga dan manajer penginapan Domus Jefferson yang menemukan surat itu dan mendapat tugas untuk meneruskannya kepada pengacara Jack. Tetapi, ternyata bukan hanya surat terakhir itu yang ditemukan.

Kematian Jack dan Laurel memaksa ketiga anak mereka kembali ke Domus Jefferson. Matthew, si sulung, menetap di Boston dan sedang bergumul dengan pernikahannya yang belum dikaruniai anak. Malcolm, si tengah, sedang berada di Brazil, bermaksud menyelesaikan novel yang tidak pernah tuntas dan sudah setahun tidak berkomunikasi dengan keluarga. Samantha, si bontot, janda satu anak yang berbakat akting, tetapi memilih menjadi polisi.

Di antara mereka bertiga, Malcolm yang paling bermasalah. Ia pergi ke Brazil tidak sekedar untuk menyelesaikan novelnya. Ia sedang melarikan diri, berkelit dari jerat hukum setelah terlibat perkelahian di sebuah bar dan membawa uang jaminan ayahnya yang akan digunakan untuk membayar status tahanan luarnya. Sebelumnya, hubungannya dengan sang ayah memang tidak berjalan dengan bagus. Padahal dirinyalah yang dipikirkan Jack ketika maut siap menggamit jiwa. Malcolm juga memiliki masalah dalam percintaan. Ia menjalin cinta dengan Rain Jesperson, tetapi karena tidak pernah memberikan kepastian hubungan, ditinggalkan Rain, untuk bertunangan dengan Nathan Crescimanno, Jaksa Penuntut Umum Lembah Shenandoah. Sebelum pergi ke Brazil, Malcolm telah menyerang seseorang dan mematahkan hidung Nathan. Sekembalinya di Woodstock, Rain masih lajang dan telah menunda 3 kali rencana pernikahannya dengan Nathan.

Tidak terlalu lama setelah berkumpul kembali, sejak terakhir berkumpul bersama tahun 1983 pada ulang tahun pernikahan orangtua mereka, ketiga bersaudara Cooper menemukan surat-surat yang ditulis Jack untuk Laurel. Ketika mereka membaca apa yang ditulis sang ayah, dengan anggapan Laurel ingin mereka membaca surat-surat itu, mereka menemukan sebuah rahasia yang dipendam oleh orangtua mereka. Kenyataan yang menghancurkan hati salah satu dari mereka. Karena salah satu anak itu, bukanlah anak kandung Jack, kendati benar-benar dilahirkan Laurel.

"Laurel, penikahan kita memang tidak sempurna. Kita telah melalui banyak cobaan. Kita telah diuji dengan hal-hal yang lebih berat dari yang pernah kita bayangkan saat kita setuju untuk mengarungi bahtera ini. Tapi perjalanan ini sungguh mulia. Aku telah diangkat olehmu. Dan kau telah melakukan lebih dari itu. Kau telah menepati semua janjimu. Terima kasih karena telah memercayai rencana besar Tuhan sebelum aku siap menerimanya," demikian tulis Jack setelah bersama Laurel, ia berhasil melewati ujian yang dihadapinya (hlm. 319 – 320). Ujian yang nyaris mengikis habis janjinya pada malam pernikahan mereka dan membuat anak-anaknya terkejut.

Inilah sebuah novel tentang pengampunan yang membebaskan. Jason F. Wright, sebagai penulis, hendak menyampaikan gagasan tentang pengampunan yang agaknya dipelajarinya sebagai orang Kristen. Ketika seseorang bersalah kepada kita, kita memiliki pilihan untuk mengampuni atau tidak mengampuni orang tersebut. Baik Jack maupun Laurel telah memilih pengampunan bagi pencetus realita pahit yang nyaris menghancurkan pernikahan mereka. Bahkan, tidak hanya sekedar pengampunan. Meski pengampunan tidak otomatis berarti rekonsiliasi, keduanya memilih rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada mereka. Dan mereka berharap, anak mereka juga akan memiliki jiwa penuh pengampunan, seperti mereka. Apakah harapan mereka menjadi nyata, Anda akan menemukan jawabannya sebelum novel usai.

The Wednesday Letters, yang edisi Indonesianya diterbitkan GagasMedia, adalah novel ketiga karya Jason Fletcher Wright, penulis Amerika kelahiran Florissant (Missouri), 1 Februari 1971. Sebelumnya, penulis yang adalah pendiri situs politik PoliticalDerby.com ini, telah menulis novel debutan berjudul The James Miracle (2004) dan Christmas Jar (2006), yang masuk daftar bestseller New York Times.  Setelah The Wednesday Letters (2007), penulis artikel di lebih dari 50 koran dan majalah yang pernah tampil dalam film Troll 2 ini, telah menerbitkan novel bertajuk Recovering Charles (2008). Saat ini, bersama keluarganya, Jason F. Wright tinggal di Woodstock, Virginia, tempat ia melakukan penelitian untuk penulisan The Wednesday Letters.


Novel indah dan sangat menggugah hati ini merupakan kisah yang dituturkan salah seorang anak keluarga Cooper kepada putranya yang beranjak dewasa. Pembaca yang peka akan dengan mudah dibuat tersentuh ketika meniti plot yang direntangkan Wright. Memang, novel ini mengetengahkan kisah cinta, tetapi bukan kisah cinta ala chicklit. Bukan kisah cinta mengada-ada layaknya kisah cinta kaum muda metropolitan nan basi. Novel ini merupakan perkelindanan unsur drama romantis dan unsur tragis, potensial membuat mata berkaca-kaca, tanpa mencengengkan pembaca. Semakin enak dibaca karena ditulis tanpa tendensi diberat-beratkan (meski tidak  bisa disebut enteng atau diringan-ringankan juga). Dan karena saya membaca edisi Indonesia, harus saya katakan, novel ini disulihkan dan disunting dengan bagus. Anda tidak akan bersamplokan dengan susunan kalimat rancu yang mungkin memberikan pilihan menghindar untuk membaca.  

Novel ini dikemas dalam bentuk amplop berwarna merah. Ketika kita membuka buku dan membaca isinya, seolah-olah kita sedang membaca surat setebal 332 halaman (tebal halaman di atas –xxi + 336, mencakup keseluruhan buku). Kemudian, setelah kita selesai membaca "surat tebal" ini, pada bagian belakang sebelah dalam buku, kita akan menemukan amplop kecil berisi dua pucuk surat bertanggal 25 Agustus 2007. Surat siapakah itu? Yang jelas, Anda akan membaca surat yang ditulis mengikuti tradisi Jack Cooper. Dan, mungkin, setelah selesai melahap novel ini, Anda –yang adalah suami-suami, akan terpengaruh mengikuti tradisi Jack Cooper.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya mau mengutipkan buat Anda puisi yang ditulis Jack untuk Laurel menjelang Natal, 24 Desember 1958.


Musim semi membawa kehidupan baru.
Keceriaan dan penghijauan.
Di musim panas datang matahari, kehangatan dan kedamaian
yang menyinari seluruh permukaan bumi.
Musim gugur membawa warna-warna yang indah.
Perlahan menghiasi dunia dengan kelembutan.
Musim dingin memberikan kekuatan.
Keindahan seputih salju

Lalu ada satu musim lagi…
Kau adalah semua yang ditawarkan Alam kepadaku.
Suatu berkah. Hadiah dari Sang Pencipta
Kau adalah musim kelima.
(hlm. 188)

Posted at 06:43 am by Jody
Make a comment  

Sunday, January 18, 2009
THE BOOK OF LOST THINGS



 

Judul: The Book of Lost Things (Kitab Tentang Yang Telah Hilang)

Penulis: John Connolly (2006)

Penerjemah: Tanti Lesmana

Terbit: Cetakan 1, 2008

Tebal: 472 hlm, 13,5 x 20 cm

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

 

                                  PENDEWASAAN DIRI ALA JOHN CONNOLLY

 

 

Yang namanya dongeng selalu diidentikkan dengan kanak-kanak. Saat kanak-kanak, tidak terhitung lagi dongeng yang telah saya baca. Tetapi, John Connolly, penulis Irlandia, kelahiran Dublin 31 Mei 1968, menulis The Book of Lost Things, untuk pembaca dewasa dan hampir dewasa. Alasannya, "Sebab dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa" (hlm. 5). Dengan kata lain, Connolly hendak mengatakan bahwa sebenarnya dongeng bisa pula dinikmati oleh orang-orang yang mulai dan telah meninggalkan masa kanak-kanak. Meski tidak memiliki elemen erotis seperti dalam Stardust karya Neil Gaiman (tidak banyak sih, tetapi tetap erotis), Gramedia Pustaka Utama menyematkan label Novel Dewasa untuk nominee Irish Novel of the Year 2007 ini.

 

Jagoan utama novel ini adalah David, seorang kutu buku, yang ketika diperkenalkan, baru berusia 12 tahun. Kala ibunya sakit, David sering membacakan cerita-cerita untuk ibunya yang gandrung mitos, legenda, dan dongeng-dongeng. Setelah ibunya mangkat, koleksi buku ibunya memperkaya koleksi David. Ayah David,  waktu itu seorang dosen matematika, memang tidak menggemari buku cerita.

 

Sekitar 6 bulan sepeninggal ibunya, ayah David memutuskan menikahi pimpinan rumah sakit tempat ibu David pernah dirawat. Seorang perempuan bernama Rose, yang telah hamil lebih dahulu (tidak terdengar untuk konsumsi kanak-kanak kan?). Saat itu November 1939, perang siap merebak, tentara Hitler telah melintasi Eropa, banyak orang meninggalkan London menghindari perang. Tak lama lagi pesawat pengebom akan mampir di langit London, menghujani kota di bawahnya. Selang 6 bulan kemudian (tahun 1940), Rose melahirkan Georgie. Keluarga ini pun pindah ke barat laut London, mendiami sebuah rumah tua warisan kakek dan nenek Rose. David mendapatkan sebuah kamar penuh buku dan rak buku, bekas kamar Jonathan Tulvey, paman Rose yang hilang pada usia 14 tahun bersama seorang anak perempuan benama Anna. Dari Rose -kendati mereka sulit akur, David mengetahui jika Jonathan suka melahap buku seperti dirinya. Akan tetapi, akibat membaca, Jonathan menjadi takut serigala dan acap bermimpi dikejar-kejar serigala dari buku yang dibacanya.

 

Sementara itu, sejak pingsan di Trafalgar Square pada pertemuan perdana dengan Rose, David bisa mendengar suara-suara di kepalanya. Menyusul suara-suara itu, berbagai citra tentang dunia yang tidak ia kenal menyerbu ingatannya. Kemudian, setelah menghuni kamar Jonathan Tulvey, ia bisa mendengar buku-buku bersuara. Dan dalam mimpinya, seorang lelaki bungkuk berwajah panjang menyatroninya. Pada salah satu mimpi, si Lelaki Bungkuk berkata: "Kami menunggu. Selamat datang, Yang Mulia. Beri hormat pada raja yang baru!"

 

Semuanya keanehan itu terus mengusik David hingga suatu malam, ia terjaga dari tidur, keluar dari kamar, bertepatan dengan bom berjumpalitan dari pesawat pengebom di dekat rumahnya. Di kebun cekung, ia berlindung di lubang tembok. Seketika  ia  masuk ke sebuah hutan, menyeberang ke dunia lain yang telah mengusiknya sejak pingsan di Trafalgar Square. Manusia pertama yang dijumpainya adalah Tukang Kayu yang kebetulan baru memenggal leher sesosok Loup –manusia serigala.

 

Dunia lain yang diseberangi David adalah sebuah kerajaan yang sedang mengalami perubahan. Raja tua yang sudah lama memerintah tidak bisa mengendalikan kerajaannya lagi. Kaum Loup dan simpatisannya (serigala-serigala) bermaksud melakukan kudeta; menegakkan pemerintahan baru.  Si Tukang Kayu ingin memulangkan David ke dunianya, Inggris. Sayangnya kejahilan si Lelaki Bungkuk –si penjelajah mimpi David, membuat David tidak bisa pulang. Diduga, Raja tahu alasan tindakan Lelaki Bungkuk dan bisa membantu David. Raja memiliki Kitab Tentang yang Telah Hilang yang telah menolongnya melewati masa-masa sulit dan penuh keraguan. Mungkin kitab itu memuat petunjuk bagi David untuk pulang.  

 

Kendati jalan menuju kastil tidak gampang ditempuh, Tukang Kayu siap menolong David menunju singgasana Raja. Serigala-serigala semakin banyak, semakin berani, semakin cerdas, semakin sulit dibunuh. Di bawah kepemimpinan Loup bernama  Leroi, para serigala menguntit dan menghalang-halangi perjalanan David. Mereka berhasil memepet David dan si Tukang Kayu di jembatan yang dijaga troll. David lolos, tetapi si Tukang Kayu terkepung serigala. Perjalanannya berlanjut, dan tanpa disadarinya Lelaki Bungkuk mengiringi perjalanannya.

 

Maka, bertemulah David dengan tujuh kurcaci yang hidup dalam penindasan Snow-White; seorang pemburu perempuan yang ingin menjadi centaur; penunggang kuda putih bernama Roland yang sedang mencari sahabatnya yang hilang; tidak semuanya membantu memuluskan perjalanan David. Setelah Roland menemukan sahabatnya, David melanjutkan perjalanan. Ia tiba di  kastil kerajaan, tidak mengetahui Kaum Loup menyusul di belakangnya, siap menggulingkan kekuasaan Raja.

 

Apakah David akan mendapatkan jalan pulang dari Kitab Tentang Yang Telah Hilang setelah meretas perjalanan panjang penuh marabahaya? Jawabannya terdapat pada bagian-bagian pamungkas novel. Namun sejatinya, kitab itu bukanlah hal paling krusial yang ditemukannya di kastil Raja. Sebab di sana, David akan menemukan jawaban semua misteri yang pernah ia dengar, ia alami, dan ia pertanyakan. Jawaban-jawaban yang akan mencelikkan mata David ihwal bagaimana seharusnya menyikapi orang-orang terdekat, yang ada di sekitarnya.

 

Menurut saya, novel ini adalah novel pendewasaan diri. "Kau masih anak kecil waktu pertama kali kutemukan, tapi sekarang kau telah menjadi orang dewasa," kata salah satu karakter yang ditemui David menjelang novel usai. Memang, tidak gampang menjadi orang dewasa. Berbagai tantangan yang lebih berat akan harus dihadapi. Perjalanan penuh marabahaya yang disusur David adalah proses pendewasaan dirinya, mengalihkannya dari amarah, iri, dan keangkuhan. Kita akan menemukan jika pada akhir perjalanan David benar-benar berhasil mendewasakan diri meski tidak otomatis dibarengi kematangan raga. David, seperti halnya si Raja, memiliki 'Kitab Tentang Yang Telah Hilang' sendiri. Namun, dengan akhir yang jauh berbeda

 

Jujur, saya suka baca buku ini. Bukan sekedar karena kesadaran Connolly akan manfaat dongeng lalu melekatkan edukasi di tubuh novelnya dengan pas. Tetapi, Connolly, yang dalam karier kepengarangannya telah mendapatkan penghargaan Shamus Award (2000) dan Barry Award (2003), memang narator lihai. Ia telah menghasilkan karya dalam berbagai genre: horor, detektif, sci-fi, dan drama. Novel ini menambah wilayah penulisannya, cerita fantasi yang imajinatif, nakal, dan kocak.



 

Negeri tempat David terlontar dari Inggris adalah sebuah negeri tempat tokoh-tokoh dongeng tradisional diolok-olok. Alhasil, kita akan digelitik untuk tertawa. Little Red Riding Hood yang lugu bertindak sebagai perempuan penggoda. Ia berhasil 'bercampur' dengan serigala dan melahirkan generasi pertama kaum Loup. Snow-White malihrupa perempuan rakus menyebalkan yang menindas para kurcaci. Para kurcaci (sebenarnya ada 8, tetapi salah satunya telah dijauhi yang lain karena telah menjadi kapitalis) mencoba meracuninya dengan apel, tetapi dosis racunnya kurang sehingga kecupan pangeran sialan segera membangunkannya. Sleeping Beauty yang tinggal di kastil yang berpindah-pindah seiring gerak perputaran bulan; dikutuk bukan untuk tidur, tetapi menjadi pembunuh. Belum lagi Rumpelstiltskin, si katai yang bisa meng-emas-kan jerami, menjadi si Lelaki Bungkuk pemakan jantung anak-anak. Atau kehidupan Hansel dan Gretel dengan akhir yang tidak menggembirakan.

 

Novel yang membuat saya mengingat masa-masa meninggalkan periode kanak-kanak ini kabarnya akan diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Irlandia, John Moore. Entah kapan filmnya bisa beredar. Jadi, sebagai pemanasan, tidak rugi membaca novelnya dulu. Anda mungkin akan dibenturkan pada sebuah pertanyaan: kapan "The Book of Lost Things" Anda ditulis? Jangan-jangan, belum pernah ditulis sama sekali. Hehehe. 

 

Posted at 06:52 am by Jody
Make a comment  

Saturday, January 17, 2009
THE WHITE CASTLE


Judul Buku: The White Castle

Penulis: Orhan Pamuk

Penerjemah: Fahmi Yamani

Tebal: 298 hlm; 13 x 20 cm

Terbit: Cetakan 1, April 2007

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

 

 

ANAK TIRI SI PEMBUAT SELIMUT

 

Faruk Darvinoglu, seorang ahli ensiklopedi Turki, pada tahun 1982, menemukan sebuah buku dari abad 17. Buku bersampul indah berwarna biru terang dengan kaligrafi yang cemerlang, diberi judul "Anak Tiri Si Pembuat Selimut" yang ditorehkan di halaman pertama, mengusik rasa penasaran Darvinoglu. Ketika usahanya menuliskan buku ini dalam ensiklopedi gagal, ia memutuskan menulis kembali apa yang ia baca menggunakan bahasa Turki modern dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Buku yang oleh penerbitnya diberi judul The White Castle ini, dipersembahkannya untuk saudara perempuannya, Nilgun Darvinoglu.

 

Apa yang saya sampaikan di atas merupakan "pengantar" novel ketiga karya penulis Turki paling kondang, Ferit Orhan Pamuk. Novel berjudul asli Beyaz Kale ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Turki pada tahun 1985 dan telah memenangkan Independent Award for Foregin Fiction tahun 1990. Sebelumnya Pamuk telah menerbitkan Sessiz Ev (The Silent House, 1982) dan Karanlijk ve Iþýk (Darkness and Light, 1974). Berkat The White Castle, yang merupakan karya pertama Pamuk bereksperimen menggunakan teknik postmodern (sebelumnya ia menulis dengan teknik natural), The New York Times Book Review, menyebutnya "bintang baru yang telah terbit di Timur".

 

Setelah pengantar yang misterius, pembaca digiring pada kehidupan seorang budak terpelajar asal Venesia (Italia). Si budak hidup di Kesultanan Ottoman pada masa pemerintahan Mehmet IV, sultan yang gemar berburu kelinci, sejak sang sultan masih kanak-kanak hingga dewasa.

 

Kisah si Budak (sebut saja seperti itu, karena hingga novel usai, kita tidak akan menemukan namanya) dimulai ketika kapal yang ditumpanginya, yang sedang berlayar dari Venesia menuju Napoli, takluk diserang armada Turki. Mujur ia tidak dibunuh. Sebab, si kutu buku Venesia, dengan buku anatomi di tangannya, mengaku sebagai dokter. Meski ia dibawa ke Istanbul sebagai tawanan, dan dijebloskan ke dalam penjara milik Sadik Pasha, kemampuannya di bidang medis, membuat hidupnya lebih baik dari tawanan lain. Ia bahkan bisa mendapatkan uang dari kecakapan medisnya dan berupaya belajar bahasa Turki.

 

Setelah berhasil memulihkan Sadik Pasha yang terserang batuk dan sesak napas, si Budak mengira dirinya akan dibebaskan. Tetapi ternyata, pasha tidak berniat membebaskannya. Hingga suatu pagi, ia dipanggil ke istana pasha. Pasha tengah mempersiapkan pesta pernikahan anaknya. Untuk memeriahkan acara, pasha menginginkan pertunjukan kembang api yang istimewa. Maka, si Budak disuruh berkolaborasi dengan seorang guru sekolah dasar, yang lebih suka dipanggil Hoja (artinya: guru)

 

Sesungguhnya, bekerja sama dengan Hoja bukanlah hal yang menakutkan bagi si Budak. Pasha menjanjikan hadiah untuk pekerjaan mereka dan kebebasan dirinya mungkin bisa menjadi hadiah. Namun, saat bertemu Hoja, ia ketakutan. Sebab, meski Hoja berjanggut, mereka memiliki kemiripan wajah, bagaikan kembar. Si Budak sangat meyakini kemiripan mereka, meski Hoja bersikap seolah-olah tidak menyadarinya.

 

Sayangnya meski pertunjukan kembang api itu sukses, si Budak tetap tidak memperoleh kebebasan. Sewaktu pasha memanggilnya lagi, harapan mendapatkan kebebasan bersemi.  Harapan itu membeku karena pasha memintanya membuang agamanya dan menjadi Muslim, jika ia ingin dibebaskan. Penampikannya membawanya berhadapan dengan hukuman mati.

 

Untunglah, atas bantuan Hoja, hukuman mati diurungkan. Ia tetap sebagai budak dan dihadiahkan kepada Hoja. Hanya Hoja yang bisa membebaskannya, jika Hoja mau. Begitu menjadi budak Hoja, si Budak harus mentransferkan semua yang diketahuinya, dari astronomi hingga kedokteran, ke dalam otak Hoja. Dalam waktu 6 bulan, Hoja berhasil menguras otak si Budak. Ia bermetamorfosis menjadi orang yang penuh gagasan, dan memaksa si Budak membantu mewujudkan gagasannya. Termasuk gagasan menghasilkan teori baru untuk menentang pemikiran Ptolemeus, arus Bhosporus, pembuatan jam salat dengan ketepatan waktu yang sangat tinggi. Malangnya, Sadik Pasha, yang diharapkan akan menjadi batu loncatan kegeniusannya, tidak memberikan respons positif. Ketika Hoja mencoba memperoleh dukungan sultan, ia juga tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Sultan hanya lebih suka membicarakan koleksi singanya dan ramalan kesehatan peliharaannya itu.

 

Ramalan Hoja mengenai kesehatan singa, disusul jumlah anak singa yang akan dilahirkan, juga keselamatan sultan dari upaya pembunuhan, membuat sultan mengandalkan kemampuan meramalnya. Sebuah kehormatan bagi Hoja, tetapi tetap tidak membuatnya bahagia.

 

Si Budak menyaksikan hari demi hari tuannya frustrasi dan kehilangan rasa percaya diri lalu bingung dengan dirinya sendiri. Si Budak menuduh Hoja tidak cukup berani menemukan siapa dirinya. Ia pun dihukum Hoja. Ia harus  menuliskan kisah kehidupan di masa lalunya. Namun si Budak tidak bodoh. Ia berhasil memaksa Hoja untuk menuliskan masa lalunya juga. Tak pelak lagi, kedua belah pihak saling mengetahui pengalaman hidup sebelum mereka bertemu di Istanbul.

 

Kehidupan Hoja dan budaknya berlanjut melewati momen epidemi yang berkecamuk, perselisihan di antara mereka, diangkatnya Hoja sebagai Peramal Istana, dan kerja sama menafsirkan mimpi setiap pagi. Hubungan di antara mereka mencapai puncak saat mereka membuat senjata yang akan digunakan menyerang Polandia. Sultan ingin Istana Doppio, istana putih cantik milik musuh, jatuh ke tangan Turki. Sayangnya, kali ini, Hoja dan budaknya gagal. Kegagalan mereka membuat kehidupan mereka terancam, terutama si Budak. Keduanya pun mengambil keputusan. Bertukar identitas. Lalu, dengan identitas si Venesia, Hoja meninggalkan Turki.

 

The White Castle adalah  novel pertama Pamuk yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi novel kedua yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi. Sebelumnya penerbit yang sama telah menerbitkan novel keenam Pamuk, Benim Adým Kýrmýzý (My Name is Red, 2006). Hingga saat ini, peraih Nobel Sastra tahun 2006 ini telah menulis 8 novel.  Masumiyet Müzesi (The Museum of Innocence) adalah novel kedelapan Pamuk yang telah diterbitkan dalam bahasa Turki Agustus 2008.

 

Meski disebut-sebut sebagai novel historis, sebenarnya latar historis hanya dipinjam Pamuk sebagai 'lahan bermain' karakter-karakter fiktifnya. Baik Hoja maupun si Venesia bukanlah tokoh historis yang pernah eksis. Belum lagi, seperti pengakuan Faruk Darvinoglu (dalam bab Pengantar), berbagai peristiwa yang dikisahkan dalam naskah temuannya ini sama sekali tidak sama dengan fakta yang ada. Menurutnya, pada masa pemerintahan Wazir Agung, tidak ada bukti ihwal epidemi seperti dalam buku ini. Ia juga menemukan berbagai kesalahan penulisan nama wazir serta ketidaksamaan nama peramal istana dengan catatan istana.

 

Membaca novel ini  kita dituntut menjadi pembaca yang cermat. Misalnya untuk nama penulis naskah yang ditulis ulang Faruk Darvinoglu ini. Darvinoglu telah mencoba menyelidiki jati diri sang penulis. Ia sendiri bingung dan hanya tahu jika nama sang penulis diungkapkan di dalam buku.  Bab 11 yang menjadi pamungkas novel memberikan jawaban identitas penulis buku ini. Jika kita cermat, kita akan tahu, sesungguhnya, judul yang ditambahkan -Anak Tiri Si Pembuat Selimut, mengarah kepada si penulis cerita yang adalah anak tiri seorang lelaki pembuat selimut. Orang tersebut tidak lain adalah Abdullah Efendi, alias Hoja sendiri. Dalam naskah kita akan  menemukan jika si guru SD itu lebih suka dipanggil Hoja karena "tidak suka diberi nama yang sama dengan nama kakeknya" (hlm. 38). Dan ketika membaca lebih lanjut lagi, disebutkan jika kakek Hoja bernama Abdullah Efendi (hlm. 144). Jadi, siapa lagi, nama asli Hoja, sang penulis buku?

 

Dalam bab 11, sebagai penutup -yang ditambahkan 16 tahun setelah bab 10 ditulis, pembaca juga akan disadarkan jika akhir kisah Hoja dan si Budak pada bab 10, hanya sekadar imajinasi Abdullah Efendi, mantan peramal istana. Sang penulis termotivasi oleh pertukaran identitas antara dua orang berwajah mirip. Seperti tulisnya, "Jika kita hanya mencari ke dalam diri sendiri, menghabiskan waktu lama dan bekerja keras memikirkan diri sendiri kita tidak akan pernah bahagia. Inilah yang terjadi pada berbagai tokoh dalam ceritaku: karena inilah para pahlawan tidak pernah puas menjadi dirinya sendiri, karena inilah mereka selalu ingin menjadi orang lain. Marilah kita berandai-andai bahwa ceritaku itu memang nyata. Apakah aku yakin bahwa kedua orang lelaki yang saling menjalani kehidupan kembarannya itu bisa hidup bahagia dalam kehidupan barunya?" (hlm. 285).

 

Dalam menggelontorkan ceritanya, Pamuk menghadirkan The White Castle sebagai novel yang sangat miskin dialog. Padahal salah satu elemen yang sering membuat sebuah karya fiksi menjadi enak dibaca adalah dialog. Apalagi jika dialognya diolah dengan cerdas dan memikat. Selain itu, Pamuk merangkai kalimat-kalimat panjang, yang dalam edisi Indonesia, boleh dibilang sangat panjang. Terkadang, satu paragraf memakan tempat lebih dari satu halaman, bermuatan pemikiran yang bersengkarut dengan isi cerita. Alhasil, novel ini menjadi karya yang tidak gampang dicerna. Terjemahan dan penyuntingan edisi Indonesia memang boleh dikatakan mulus. Tetapi, tetap membutuhkan kesabaran (dan konsentrasi) untuk menghabiskan kisah yang mayoritas hanya berpusar di antara dua orang. Padahal novel ini tidak setebal karya Pamuk yang lain,  My Name is Red.

 

Posted at 06:35 am by Jody
Make a comment  

Thursday, January 01, 2009
THROUGH A GLASS, DARKLY





Judul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel – Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi
Diterjemahkan dari : Through a Glass, Darkly

Penulis: Jostein Gaarder (1999)

Penerjemah: Andityas Prabantoro

Terbit: Cetakan 1, Desember 2008

Tebal: 211 hlm

Penerbit: Mizan


PERJUMPAAN LANGKA SURGA DAN BUMI


"Tuhan tidak sampai hati mematikan anak-anak dalam proses penciptaan. Lebih baik mereka tumbuh dewasa dulu. Lebih gampang mengucapkan selamat tinggal kepada dunia saat kau punya setengah lusin cucu dan kau merasa cukup capek dan mengantuk serta jenuh dengan hari-hari"

"Anak-anak kadang-kadang mati. Itu tolol, kan?"


Kutipan di atas merupakan bagian percakapan yang saya petik dari novel berjudul Cecilia dan Malaikat Ariel terbitan Mizan. Novel ini diterjemahkan dari versi Inggris (Through a Glass, Darkly) yang berjudul asli I et speil, i en gåte (1993). Merupakan salah satu karya penulis terkenal dari Norwegia, Jostein Gaarder. Penulis kelahiran Oslo 8 Agustus 1952 ini antara lain telah menghasilkan (saya sebut yang sudah saya baca sampai tulisan ini dibuat) Sophie's World, The Solitaire Mystery, The Christmas Mystery, Vita Brevis, Maya, The Ringmaster's Daughter, dan The Orange Girl. Nah, kalimat yang saya petik di atas merupakan ucapan penting di antara percakapan panjang malaikat Ariel dengan seorang gadis cilik bernama Cecilia Skotbu. Percakapan di antara mereka berawal pada malam Natal, ketika Cecilia tidur sendiri di lantai atas rumahnya.

Bagi Cecilia, malam Natal tahun ini bukanlah momen yang menyenangkan. Ia sakit kanker dan mesti menjalani kemoterapi yang merontokkan rambutnya. Ia tidak bisa makan dengan enak, lebih banyak berbaring di tempat tidur, membaca majalah Science Illustrated, menghitung cincin-cincin di rel gorden dan kembang-kembang forget-me-not di gorden. Ia berbaring sambil 'melihat' dengan telinganya Natal datang dan keluarganya dibuat sibuk. Ia tidak bisa mengayunkan kaki ke lantai bawah, untuk berdiri di pintu depan mendengarkan lonceng Natal. Ia "benar-benar sakit sampai-sampai Natal terasa bak segenggam pasir yang berguguran dari sela-sela jarinya saat ia tertidur atau setengah tertidur" (h. 12). Sakit membuat emosinya mudah tersulut. Kemarahannya dijelmakan dalam tuntutan hadiah Natal berupa papan ski, sepatu skate, dan toboggan (kereta luncur salju). Padahal ia tidak mungkin bermain ski musim dingin. "Pasti Tuhan tidak mengerti alangkah konyol rasanya sakit pada malam Natal," keluhnya (hlm. 94).

Tengah malam ia terjaga, dan sesosok tampak di pelupuk matanya, duduk di tepi jendela, mengenakan jubah putih panjang, telanjang kaki, tanpa sehelai rambut pun di kepala, mata biru cemerlang bak safir. Sosok itu adalah Ariel, malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk menjadi malaikat pendamping Cecilia. Lebih dari 100 tahun lalu, Ariel telah menjadi pendamping seorang anak kecil yang sakit keras. Namun karena masih kecil, Albert tidak bisa berkomunikasi dengan Ariel. Dengan Cecilia berbeda, Ariel mesti menampakkan diri, sebab tujuan kedatangannya adalah untuk menghibur Cecilia. Cecilia adalah seorang anak perempuan yang cerdas, bacaan yang dibacanya membuat ia berbeda dengan kebanyakan anak.

"Ini adalah pertemuan langka antara surga dan Bumi. Aku semestinya memberitahumu banyak sekali rahasia menakjubkan tentang surga. Itu jika kau memberitahu-ku bagaima rasanya terbuat dari darah dan daging." (hlm. 86 – 87) Ariel mengajukan penawaran. Maka, mengalirlah percakapan di antara dua makhluk Tuhan itu. Tentang bagaimana rasanya menjadi malaikat yang abadi dengan segala 'ke-tidak-an' yang dimiliki (seperti, tidak tumbuh, tidak makan, tidak kedinginan, dan tidak bermimpi indah). Tentang malaikat yang menari balet di bulan, bermain lompat-lompatan dari asteroid ke asteroid, dan duduk di atas komet. Tentang bagaimana rasanya menjadi manusia dengan darah dan daging, dewasa dan anak-anak. Tentang indra yang dimiliki manusia. Tentang harapan akan adanya 3 jenis kelamin di dunia (dan tidak hanya 2).

Percakapan mereka berlanjut setelah Natal lewat dan salju belum tandas. Sembari bercakap-cakap, mereka bahkan meninggalkan kamar Cecilia. Tidak sekedar merasakan dinginnya bola salju, tetapi juga melihat bulan di atas salju, bermain ski dan meluncur dengan toboggan. Kemudian setelah itu, tugas Ariel pun berakhir.



Seperti dalam beberapa novelnya, dalam novel yang telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa ini Gaarder memberikan peran utama kepada anak-anak. Cecilia, yang diciptakannya kali ini, adalah pribadi kanak-kanak yang unik, cerdas, dan kritis. Ariel, sang malaikat, sering terheran-heran mendapati kecerdasan Cecilia yang seharusnya dituntunnya untuk menghadapi realitas hidupnya. Cecilia bukan hanya kritis merespons ucapan si malaikat, tetapi kerap juga menantang dan mengejeknya. Alhasil, novel ini tidak sekadar menjelma novel mengharukan, tetapi juga jenaka. Hanya, seperti dalam Sophie's World, pada titik tertentu, tanya-jawab mereka menjurus membosankan karena terlalu menjalar dan diulang-ulang. Memang ada hal-hal yang bisa membuat pembaca termenung untuk berpikir. Tetapi tujuan kehadiran Ariel untuk mempersiapkan Cecilia 'terbang' ke surga, membuat Cecilia bisa melihat ke balik 'cermin', menjadi kurang terasa. Apalagi Cecilia bukan anak yang gampang dipengaruhi. Ia berani berpendapat dan tidak mudah dipatahkan dengan argumentasi.

Bagi pembaca yang merindukan kekayaan plot, mungkin saja akan kurang menikmati novel ini. Novel alit ini memang miskin plot karena dalam kelangsingannya porsi terbesarnya diambil oleh percakapan Cecilia dan Ariel. Dari percakapan mereka pembaca tidak akan menemukan guliran plot, tetapi taburan filsafat, yang merupakan curahan gagasan Gaarder tentang manusia, Tuhan, malaikat, dan surga. Novel ini memang tidak termasuk jenis fiksi pada umumnya. Tetapi, sama sekali, bukan tidak menarik. Sebab Gaarder juga mahir merajut kalimat indah dan puitis. Mari saya kutipkan kalimat dari Diari Cina, catatan harian Cecilia, yang ditulisnya sehubungan dengan kalung mutiara yang diwariskan neneknya.

"Saat ajal menjemputku nanti, untai mutiara halus keperakan ini akan terberai dan butir-butir mutiara akan terserak, bergulir melintasi negeri ini, dan berlari pulang ke ibu-ibu mereka, tiram-tiram di dasar laut. Siapa yang akan menyelam untuk memungut mutiara-mutiara? Siapa yang akan tahu bahwa mereka adalah milikku? Siapa yang akan mampu menebak bahwa pernah suatu ketika, seluruh dunia bergantung menghias leherku?" (hlm. 121).

Novel suami Siri Damnevig ini telah difilmkan dan dirilis di Norwegia 17 Oktober 2008. Filmnya disutradarai oleh Jesper W. Nielsen dengan Marie Haagenrud sebagai Cecilia, Aksel Hennie sebagai Ariel, dan Liv Ullman sebagai nenek. Liv Ullman, aktris legendaris Norwegia itu, memberi komentar, "Kisah ini membuat saya menangis bahagia. Saya bangga menjadi bagian darinya."


Posted at 09:11 pm by Jody
Comments (3)  

Sunday, December 28, 2008
LIFE ON THE REFRIGERATOR DOOR




Judul Buku: Life On the Refrigerator Door (Kehidupan di Pintu Kulkas)
Penulis: Alice Kuipers
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Tebal : 240 hlm; 13, 5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, November 2008

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


KEHIDUPAN DI PINTU KULKAS


Saat aku memandangmu
Aku tahu aku ingin jadi sepertimu
Kuat dan berani
Cantik dan bebas

Claire
P. S. I Love you
(hlm. 162)

Sebuah karya fiksi bisa saja bertemakan hal-hal yang sederhana dan sudah sering digarap oleh banyak pengarang. Untuk itu, penulis mesti mencari cara agar karyanya tidak terpuruk menjadi karya basi yang membosankan dibaca. Salah satu cara adalah dengan menuliskan karyanya menggunakan media penceritaan yang unik. Sebut saja Meg Cabot (The Guy Next Door, Boys Meet Girls) yang menulis menggunakan e-mail. Atau Sonya Sones (One of Those Hideous books Where the Mother Dies) yang menggunakan puisi. 

Alice Kuipers menggunakan pesan-pesan yang ditulis pada kertas yang disematkan di pintu kulkas untuk menggelar isi novel berjudul Life on the Refrigerator Door. Novel yang diindonesiakan sebagai Kehidupan di Pintu Kulkas ini adalah karya perdana istri penulis novel Life of Pi, Yann Martel.

Untuk mengalirkan ceritanya menggunakan media yang dipilihnya, perempuan kelahiran London tahun 1979 ini membagi ceritanya ke dalam 5 bagian: Januari (Saat aku memandangmu), Maret (Aku tahu aku ingin jadi sepertimu), Juni (Kuat dan Berani), September (Cantik dan Bebas), dan P.S ( I Love you). Masing-masing judul bab merupakan bagian pesan yang ditulis Claire (hlm. 162). Sebagian besar pesan dalam novel adalah tulisan yang singkat sehingga terkesan enteng dan tidak melelahkan dibaca. Bahkan, sekali duduk Anda bisa menuntaskan novel ini.

Kuipers menghidupkan seorang gadis remaja bernama Claire yang sedang senang-senangnya bergaul dan membina hubungan dengan remaja lelaki. Ketika cerita dimulai, Claire berusia 15 tahun dan saat cerita berakhir ia hampir berusia 17 tahun. Claire sering tidak berada di rumah karena harus bersekolah, bergaul dengan teman, babysit untuk mendapatkan sedikit uang, dan pacaran.

Ibu Claire sendiri, Mom, seorang dokter. Ia sangat mencintai pekerjaannya membantu perempuan-perempuan bersalin. Dan saking sibuknya, ia pun jarang berada di rumah.

Claire dan Mom tinggal serumah (Mom telah bercerai dengan Dad) tetapi sangat jarang bisa bersua dan berkomunikasi. Jika kebetulan sama-sama berada di rumah, waktunya singkat sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan santai, layaknya orangtua dan anak-anak. Bahkan, untuk mendapatkan uang saku dari ibunya, Claire tidak pernah menerima langsung dari tangan sang ibu. Kadang mereka bersitegang, dan hanya bisa menyelesaikan masalah melalui pesan-pesan di atas kertas di pintu kulkas. Boleh dikata, hampir semua komunikasi di antara mereka terjadi hanya melalui pesan-pesan tersebut.

Keadaan miris seperti ini seolah-olah akan berlangsung selamanya. Meski Claire mengetahui ibunya tidak akan selamanya berada di sisinya, ia tidak sanggup menggiring komunikasi dengan ibunya ke aras yang berkualitas. Sampai suatu hari, Claire tidak mendapatkan lagi pesan ibunya di pintu kulkas. Ada apa dengan ibu Claire?



Alice Kuipers

Apa yang terjadi di antara Claire dan Mom bukanlah hal yang aneh saat ini. Kehidupan modern yang sarat aktivitas dan menyita waktu sering merenggangkan ikatan batin orangtua dan anak-anak. Sebab, tidak ada cukup waktu untuk bicara, tidak ada cukup waktu untuk bertemu, dalam suasana mesra. Telepon genggam (HP) sering menjadi sarana tetapi tidak seefektif komunikasi yang langsung, muka dengan muka, mata dengan mata, dan hati dengan hati.

Dengan novelnya yang sederhana tetapi sungguh menyentuh hati ini, penulis yang sekarang tinggal bersama suaminya di Saskatoon (Kanada), mau mengingatkan kita akan pentingnya komunikasi yang baik, yang kerap, yang berlangsung muka dengan muka, yang mesra, untuk mengukuhkan hubungan orangtua dan anak. Karena bisa saja sesuatu terjadi, kematian misalnya, dan kita tidak punya kuasa mengembalikan masa-masa yang telah lewat, masa-masa bersama yang berkualitas dengan orang yang sesungguhnya kita sayangi, masa-masa yang mungkin akhirnya akan kita sesali karena tidak bisa diulang kembali.

Maka, simaklah puisi karya Claire, berisi kerinduannya yang dalam akan kebersamaan dengan bundanya, yang saya kutipkan buat Anda di bawah ini.


Saat jalan menikung
Kita akan menyusurinya bersama
Membelok
Berpegangan
Satu sama lain, seperti ibu
Kepada anak perempuan
Kepada ibu
(hlm. 198)


Posted at 09:57 am by Jody
Comments (3)  

Saturday, December 27, 2008
MARYAMAH KARPOV




Judul Buku : Maryamah Karpov (Mimpi-mimpi Lintang)
Penulis: Andrea Hirata

Penyunting: Imam Risdiyanto

Tebal: xii + 504 hlm; 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, November 2008

Penerbit: Penerbit Bentang



PERJUANGAN CINTA LELAKI BERWAJAH DANGDUT


Dalam tulisan Andrea Hirata : Out of the Blue (Diphie Kuron, Edensor, hlm. 287), disebutkan jika Maryamah Karpov, buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata "berkisah tentang perempuan dari satu sudut yang amat jarang diekspos penulis Indonesia dewasa ini". Pernyataan ini menciptakan sejumlah dugaan dalam benak saya ihwal isi novel pamungkas karya penulis kelahiran Belitong ini. Dengan judul Maryamah Karpov berilustrasi seorang perempuan sedang bermain biola pada sampul yang sudah diperkenalkan jauh sebelum novel terbit, saya menduga buku keempat ini akan berkisah tentang seorang perempuan Belitong yang sukses mendunia karena kepiawaiannya memainkan dawai biola. Ternyata saya keliru. Tidak ada permainan biola kelas internasional seperti Vanessa Mae atau Lucia Micarelli (yang sering tampil dalam konser Josh Groban). Bahkan, tidak ada kisah tentang Maryamah Karpov selain sekedar disinggung sedikit saja. Apa yang ditulis Diphie Kuron juga tidak ada gaungnya dalam novel ini.

Tetapi baiklah, saya akan menulis garis besar novel ini. Ada 73 mozaik yang menjadi isi buku. Katanya, Andrea menggunakan istilah mozaik (dan bukan 'bab' sebagaimana novel pertama) dengan alasan "ternyata perjalanan nasib seseorang tak ubahnya seperti ekstrapolasi potongan-potongan mozaik" (Sang Pemimpi : 276). Tujuh puluh tiga mozaik itu menjadi dua bagian yang diantarai judul "Seminggu Berselang" (yang sesungguhnya tidak perlu mengingat novel ini menggunakan alur kilas balik). Penulis mengawali novelnya dengan kisah kenaikan pangkat sang ayah sebagai kuli Maskapai Timah yang dibatalkan. Oleh Orang Melayu Dalam peristiwa ini disebut sebagai 'cobaan nan tak tertanggungkan'. Apa yang dialami sang ayah, kemudian, disejajarkan Ikal dengan apa yang ia alami bertahun-tahun kemudian. Boleh dibilang, bagian ini merupakan prolog dari novel ini.

Setelah kenangan akan peristiwa naik pangkat dan sebuah ruang pucat, Ikal menerawang ke masa-masa sebelumnya. Ia lulus kuliah dari sebuah universitas bergengsi di Eropa, Sorbonne (tadinya saya kira Ikal lulus di Inggris karena dalam buku ketiga Edensor, disebutkan Ikal ikut exchange program di Sheffield Hallam University karena Profesor Turnbull, supervisor tesis Ikal pensiun dan pulang kampung, tetapi ternyata si prof muncul juga di ruang ujian tesis Ikal di Sorbonne). Tanpa pekerjaan yang pasti, Ikal , si wajah dangdut, kembali ke Belitong dengan perasaan rindu dan masih setia memikirkan A Ling, cinta pertamanya. Bersamaan dengan kedatangan Ikal, kampung Ikal mendapatkan seorang dokter gigi, Budi Ardiaz. Budi Ardiaz datang untuk menyilih tata cara perdukunan gigi yang sampai saat itu dipegang teguh masyarakat Belitong di kampung Ikal.

Untuk membuat kehadiran Budi Ardiaz dalam novel bermakna, Ikal pun menderita sakit gigi. Ikal, yang lulusan luar negeri, ternyata tidak mau menjadi pasien dokter gigi yang berkalung stetoskop (hlm. 462) ini gara-gara trauma masa kecil yang tidak ada hubungannya dengan dokter gigi. Di tengah-tengah upaya Ketua Karmun, kepala kampung, untuk mendorong Ikal berobat ke klinik gigi, mendadak ditemukan mayat-mayat di perairan Belitong. Salah satu mayat, seorang lelaki dengan tato kupu-kupu, tato yang sama dengan yang dimiliki A Ling. Setelah ditelusuri, diduga mereka adalah korban perompak penguasa Kepulauan Batuan. Korban-korban tersebut adalah para pelintas batas yang hendak menyeberang ke Singapura.

Maka, Ikal bertekad mencari A Ling. Ia yakin, seperti mayat berajah itu, perempuan kecintaanya yang pernah dilacaknya hingga Siberia berada di Kepulauan Batuan (Apakah A Ling, yang dalam buku pertama, disebutkan pergi ke Jakarta untuk tinggal dengan bibinya yang hidup sendiri dan sekolah di sana kembali ke Belitong? Mungkin). Tetapi, untuk menjejak Batuan, mau tidak mau Ikal mesti berhadapan dengan pemimpin perompak penguasa Kepulauan Batuan, Tambok. Salah-salah, ia jadi mayat terapung seperti yang lain. Untuk itu, ia harus terlebih dahulu minta bantuan Tuk Bayan Tula, penguasa Selat Karimata dan Dayang Kaw, ketua tertinggi kaum lanun (bajak laut). Mereka bisa menjadi perantara Ikal bertemu Tambok.

Tidak ada pelaut dan pemilik perahu yang mau menolong Ikal mencapai Kepulauan Batuan. Padahal Ikal butuh perahu dan ia tidak cukup berduit untuk bisa membeli perahu. Jalan satu-satunya adalah membuat perahu sendiri. Teman-temannya tidak tinggal diam, terutama Lintang dan Mahar. Mereka membantu Ikal memberi gagasan untuk pembuatan perahu. Hingga akhirnya, seperti Nabi Nuh, setelah melewati berbagai kesulitan dari hinaan-hinaan dari pihak tertentu, jadilah perahu Ikal yang diberi nama Mimpi-mimpi Lintang, untuk menghormati sang sahabat.

Lalu, dimulailah perjalanan Mimpi-mimpi Lintang menuju Kepulauan Batuan. Perjalanan yang tidak gampang karena alam tidak segera bersepakat mempermulus upaya Ikal. Selain itu perjalanan ini dibayang-bayangi ketakutan akan para bajak laut yang bisa dengan mudah merenggut nyawa Ikal dan tiga rekan perjalanannya: Mahar, Kalimut, dan Chung Fa.

Apakah Ikal bisa menjejak Kepulauan Batuan? Lantas, benarkah A Ling ada di sana? Pertanyaan-pertanyaan ini, tentu saja, akan terjawab dengan membaca tuntas seluruh novel ini.

Seperti novel yang lain, Andrea menunjukkan kemampuannya mengolah kalimat. Banyak rangkaian kalimat yang dipadu dengan indah sehingga sedap dibaca. Cara Andrea menuangkan panorama alam ke dalam tulisan juga terasa sangat imajinatif. Hanya, tentu saja, pernyataan "kita akan merasakan betapa setiap kalimat yang diciptakan memiliki kekuatannya sendiri" (sampul belakang) terlalu berlebihan.

Andrea masih menjual kisah-kisah mengharukan dalam novel ini. Mungkin, kisah sejenis adalah kekuatannya dan sering kali memang menyentuh hati pembaca. Namun, kian lama membaca, kian terasa berlebihan. Banyak kebiasaan masyarakat Belitong yang diangkatnya ke permukaan dengan kesan mengejek diri sendiri yang kentara, bermaksud menciptakan kelucuan, yang sayangnya terasa konyol. Pemberian julukan yang antara lain disebabkan pengalaman yang punya nama menjadi upaya melucu yang tidak enak dibaca karena terkesan tidak edukatif (mengingat tetralogi ini sering dikait-kaitkan dengan dunia pendidikan). Ikal, memang julukan yang tidak cukup memalukan bagi Andrea. Tetapi kalau Andrea Pembual? Ah, sungguh tidak enak didengar. Kalau Anda bertanya mengapa saya sebut Pembual, Anda bisa menemukan tradisi membual Orang Melayu Dalam (Andrea tentu saja termasuk di dalamnya) yang imajinatif (Mozaik 22 : Juru Muda Pompa). Pada banyak hal yang dibeberkan (seperti kebiasaan tertentu masyarakat Belitong, taruhan bola pingpong A Ngong dan A Tong, seluk beluk pembuatan perahu dan kecerdasan ilmu perahu Lintang serta permainan biola Ikal) , memang aroma membual terasa cukup menyengat. Andrea bak malihrupa Zainul "Helikopter" Arifin.

Setelah sebelumnya menghasilkan 3 novel, Andrea masih termasuk penulis yang kurang cermat. Imam Risdiyanto, yang telah menyunting novel Andrea sejak buku kedua, Sang Pemimpi (buku pertama disunting oleh Suhindrati A. Shinta) juga masih kurang berdaya menghadirkan novel Andrea dengan suntingan yang amboi. Tugas seorang penyunting seharusnya tidak hanya menyiangi kalimat-kalimat yang dirangkai sang penulis, tetapi juga mempertimbangkan kelogisan dan konsistensi cerita. Yang bikin saya heran, pada halaman 258 (baik penulis maupun editor) bisa lalai hanya pada 1 (satu) halaman dan 2 (dua) alinea berturutan. Mana mungkin tinggi badan Harun, Ikal, dan Syahdan di kelas 3 SMP lebih pendek dari saat mereka kelas 2? Konyol kan?

Mengenai teman-temannya anggota Laskar Pelangi di halaman 268 (Mozaik 43: Rencana-rencana C), Andrea Ikal menulis: "Ajaib, mereka tak pernah ke mana-mana, tak pernah meninggalkan sudut bumi di pulau terpencil ini, tapi menemukan semua yang mereka cari". Sebuah inkonsistensi lagi. Sebab, dalam Laskar Pelangi (hlm. 492), disebutkan, Ikal, Syahdan, dan Kucai pergi ke Jawa (dalam Sang Pemimpi terjadi inkonsistensi juga, dikisahkan (hanya) Ikal dan Arai yang pergi ke Jawa). Dalam Laskar Pelangi (Bab 32: Agnostik) juga dikisahkan Syahdan pergi ke Jakarta selepas SMA. Ia pernah menjadi aktor figuran, kemudian berpindah profesi ke bidang komputer dan bekerja di Tangerang (jadi, ia bukan tak pernah ke mana-mana kan? Malah aneh sekali kalau mendadak ia meninggalkan pekerjaan dan hadir memberi dukungan moril). Masih tentang Syahdan. Dalam Maryamah Karpov ini, Syahdan mendadak muncul di hadapan Ikal. Disebutkan 1 kali dalam mozaik 40 (Perahu Asteroid), ditulis 3 kali dalam deskripsi pada mozaik 41 (Tiang Keramat) dan tidak pernah disebutkan lagi, bahkan pada mozaik 43 (Rencana-rencana C) ketika dengan singkat Ikal membahas teman-temannya. Sungguh janggal!

Novel ini juga masih memunculkan nama A Kiong. Padahal dalam Laskar Pelangi A Kiong telah memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman dan disebutkan jika "A Kiong tinggal sejarah, bagian dari sebuah masa lalu yan gelap" (Laskar Pelangi : 465). Masih soal A Kiong. Dalam Laskar Pelangi (hlm. 466) disebutkan jika ia menikah dengan Sahara, punya anak lima dan toko kelontong tempat sahabatnya, Samson, bekerja sebagai kuli. Tetapi, dalam novel keempat ini, A Kiong sama sekali bukan suami Sahara. A Kiong (hlm. 266) disebutkan membuka warung kopi di pasar ikan dan Sahara (hlm. 267) telah mapan, bahagia dengan suami dan anak-anak. Yang bukan A Kiong (meski tidak disebutkan namanya).

Tentang Mahar juga. Dia sekarang adalah dukun kepada siapa A Kiong mengabdi. Sungguh menggelikan jika mengenang (baca: membaca) perjalanan hidup Mahar dalam buku pertama. Mahar dalam Laskar Pelangi adalah seorang pengajar, penulis artikel kebudayaan, organisator berbagai kegiatan budaya, pelatih beruk pemetik kelapa, kemudian novelis yang membuat Syahdan cuti kerja, meninggalkan Bandung (bukan Tangerang) dan pulang ke Belitong untuk menjadi panelis pada peluncuran novel Mahar. Eh, kok dalam buku keempat ini Mahar malah jadi dukun, pengagum setia Tuk Bayan Tula pula. Apa kata dunia? Bagaimana ini, Kak Andrea? Katamu dalam Sang Pemimpi kamu menulis memoar? (Sang Pemimpi: 275) Bagaimana mungkin memoarmu tidak konsisten? Mungkin, seperti katamu (Sang Pemimpi: 273), kau "bukan Truman Capote yang mampu melihat intelegensia pada setiap gelembung peristiwa lalu menulis dengan presisi yang mengagumkan". 

Judul novel yang tidak mencerminkan isi novel patut dipertanyakan, Kawan. Kenapa harus diberi tajuk Maryamah Karpov? Judul ini memang telah dimunculkan sejak buku kedua, Sang Pemimpi. Dalam "Ucapan Terima Kasih", Andrea menyinggung Maryamah Karpov sebagai novel terakhir yang membahas 'tentang penghormatan kepada kaum perempuan' (Sang Pemimpi: 277). Tetapi setelah saya kelar mengais-ngais isi buku ini, saya tidak menemukan 'penghormatan' yang dimaksud. Andrea sekadar menyentil sedikit Mak Cik Maryamah yang sering mengajari orang langkah-langkah catur Karpov di warung kopi (hlm. 240). Mungkin, kadung sudah diumumkan judul buku keempat, padahal ceritanya belum usai ditulis, maka judul ini tetap dipertahankan dan diberi sub judul Mimpi-mimpi Lintang. Apa hubungannya Maryamah Karpov dengan Mimpi-mimpi Lintang? Tidak ada! Dan terus terang, sub judulnya lebih tepat dibanding judulnya!

Akhirnya, menurut saya, dengan novel pamungkas ini, tetralogi Laskar Pelangi tidak hanya menjual keberanian bermimpi untuk meraih cita-cita akademis, tetapi juga keberanian untuk memperjuangkan orang yang dicintai. Hanya, akankah cinta Ikal kepada A Ling dikukuhkan dalam ikatan pernikahan seperti cinta Arai kepada Zakiah Nurmala? Ekspresi ayah Ikal yang akan memutuskan.


Posted at 09:51 pm by Jody
Comments (8)  

Friday, December 26, 2008
THE THIRTEENTH TALE




Judul : The Thirteenth Tale (Dongeng Ketigabelas)
Penulis: Diane Setterfield (2006)
Penerjemah: Chandra Novwidya Murtiana
Penyunting: Siska Yuanita
Tebal: 608 hlm; 13,5 x 20 cm
Terbit: Cetakan 1, November 2008


"CERITAKAN PADAKU YANG SESUNGGUHNYA"


The Thirteenth Tale (Dongeng Ketigabelas) adalah karya Diane Setterfield, penulis perempuan asal Inggris. Novel berseting Inggris ini diterbitkan pertama kali pada bulan September 2006 dan seminggu kemudian mencapai peringkat satu bestseller New York Times.

Puluhan tahun sebelum masa kini novel, seorang pemuda bersetelan cokelat, mengaku sebagai wartawan Banbury Herald datang mewawancarai Vida Winter, penulis Inggris yang paling dicintai. Ia telah menulis banyak novel yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pada perjumpaannya dengan si pemuda, yang sangat membekas dalam benak Miss Winter adalah ucapan, "Miss Winter, ceritakan yang sesungguhnya". Permintaan ini datang mengusik lagi ketika Miss Winter sadar jaraknya dengan ajal kian tipis. Ia memutuskan mengungkapkan 'cerita yang sesungguhnya", kisah hidupnya, kebenaran yang telah menjadi sumber kepenasaranan banyak orang.

Untuk menuliskan kebenarannya, Miss Winter tidak sanggup melakukan sendiri. Maka, ia mengundang Margaret Lea, putri pemilik sebuah toko buku antik di Cambridge untuk menjadi biografer kisah hidupnya yang misterius. Margaret telah menulis beberapa studi biografi beberapa penulis tidak penting berdasarkan riset arsip di toko buku ayahnya. Salah satu esai tentang tiga bersaudara yang ditulisnya membuat Miss Winter memilihnya.

Tentu saja Margaret tahu siapa Vida Winter. Ayahnya adalah salah satu penggemar karya perempuan bermata hijau dan berambut tembaga ini. Tetapi Margaret bukan penikmat fiksi kontemporer, dan seumur-umur belum pernah membaca karya Miss Winter. Saat mencoba berkenalan dengan karya perempuan itu, Margaret menemukan buku Miss Winter yang dikoleksi ayahnya, "Tiga Belas Dongeng Perubahan dan Keputusasaan". Buku ini adalah salah satu yang selamat ketika edisi ini ditarik dari pasaran. Karena, setelahnya, buku yang sama diterbitkan dengan judul "Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan".

Margaret sempat ragu untuk menerima undangan Miss Winter. Ia menulis biografi orang yang telah mati, bukan yang masih hidup seperti Vida Winter. Namun, setelah membaca buku-buku Vida Winter, Margaret terpikat dan memutuskan menerima pekerjaan itu. Ia pergi dan tinggal di Yorkshire, di rumah sang pengarang. Meski sepakat dengan syarat yang diajukan pihak Miss Winter, saat wawancara dimulai guna menggali kenangan Miss Winter, Margaret tidak sepenuhnya percaya kebenaran cerita yang ia dengar. Miss Winter adalah seorang penulis dan bisa saja ia membangun kisah menurut risetnya sendiri sebagaimana proses kreatifnya sebagai pengarang. Margaret mencari berbagai sumber mengenai Miss Winter dan menemukan jika Miss Winter memang tidak berdusta. Sebagai biografer, tugasnyalah untuk bisa menangkap dengan jeli semua yang dituturkan Miss Winter. Sebab sambil bercerita, Miss Winter dengan cerdik menguji kecerdasan dan kepekaan Margaret.

Maka, mengalirlah kisah panjang ihwal kehidupan sebuah keluarga aristokrat yang aneh dan rapuh di Angelfield House, Oxfordshire. Kisah mereka berawal dari suami istri George dan Mathilde Angelfield. Sembilan tahun setelah Charlie, anak sulung mereka lahir, Mathilde melahirkan anak perempuan, Isabelle, yang membuatnya kehilangan nyawa. Duka George membuatnya menarik diri dari kehidupan normal. Meski kehadiran Isabelle sempat mengusiknya, ia tidak sepenuhnya bangkit dari kesedihan karena ditinggalkan istri. George meninggal setelah Isabelle meninggalkan rumah dan menikah dengan Roland March. Hanya, sepeninggal Roland, Isabelle kembali ke rumah membawa sepasang anak perempuan kembar, Adeline dan Emmeline. Sayang, seperti ayahnya, anak kembarnya tidak melahirkan perasaan orang tua dalam diri Isabelle. Si kembar pun tumbuh liar tanpa kendali dan kasih sayang orang tua. Kenakalan mereka susul-menyusul dengan salah satu dari si kembar sebagai pemeran utama.

Sebuah kejadian di rumah Angelfield mengukuhkan diagnosis dokter Maudsley untuk membawa Isabelle ke rumah sakit jiwa. Lantas Charlie mengulang tradisi mengurung diri ayahnya. Di tengah situasi tak terkendali, Hester Barrow datang ke Angelfield. Ia datang untuk mengajar si kembar yang tidak mengenyam pendidikan formal di sekolah. Tidak cukup sekedar menjadi guru si kembar, bersama dokter Maudsley, Hester menjelma peneliti yang memosisikan si kembar sebagai subyek eksperimen. Hester tidak berhasil, dan ia menghilang dari Angelfield..

Kematian demi kematian mendatangi rumah Angelfield. Satu demi satu orang dewasa di dalamnya meninggal. Lalu Ambrose Proctor, tukang kebun, menyeruak masuk dalam hidup si kembar. Tanpa disadarinya, Ambrose menciptakan masalah. Masalah yang berbuntut panjang pada terbakarnya Angelfield House dengan puing-puing yang terlontar hingga ke masa depan.

Puing-puing masalah itu masih tersisa di Angelfield. Margaret pergi ke sana dan menemukan sisa-sisa rumah keluarga Angelfield. Di sana juga ia bertemu dengan Aurelius Love, seorang tukang kue bertubuh 'raksasa' dan seorang perempuan bernama Karen dengan dua anaknya, Tom dan Emma. Lambat laun semua keping cerita bertaut, menjawab semua misteri yang diikat satu simpul: Angelfield.

Simultan dengan itu, bayang-bayang yang menghantui Margaret, masa lalu yang disembunyikan orangtuanya dari dirinya, tersingkap. Margaret, sebagai narator novel, yang menceritakan kisah hidupnya dan menuturkan kembali kisah hidup Miss Winter akan membeberkan dengan tuntas, demi pembebasan dirinya sendiri.

Membaca judul The Thirteenth Tale (Dongeng Ketiga Belas) dengan sampul depan edisi Indonesia yang seperti sampul buku dongeng, saya sempat mengira buku ini sebagai antologi tiga belas dongeng dengan akhir yang mengejutkan. Tetapi dugaan saya keliru. Novel ini adalah fiksi kontemporer untuk pembaca dewasa. Dan, meskipun ada ungkapan 'hantu' di dalamnya, sama sekali tidak ada unsur fantasi. 'Hantu' di sini hanya sekedar menggambarkan masalah psikologis karakter-karakter tertentu. Judul ini mengacu pada kisah ketiga belas yang tidak bisa diselesaikan Miss Winter. Judul yang sangat pas untuk karya debutan perempuan kelahiran Reading (Inggris) 22 Agustus 1964 yang saat ini tinggal di North Yorkshire.



Diane Setterfield

Novel bergaya gotik ini beralur terbilang lambat. Hanya kelambatannya bukan berarti sarat lanturan. Penulis perlu menggemulaikan alur untuk mengedor rasa ingin tahu pembaca, membuat pembaca penasaran bertanya-tanya sambil menikmati keindahan dan kemisteriusan muatan yang digelontornya. Karena pada pamungkasnya, dengan mahir penulis menghantam pembaca dengan memanfaatkan berbagai kejutan yang dipersiapkan secara baik dan tuntas. Pembaca mesti sabar dan cermat mengikuti ayunan plotnya agar benar-benar dapat menikmatinya.

Satu yang bikin saya gatal adalah kepiawaian Vida Winter sebagai penulis. Bagaimana caranya ia bisa menjadi pengarang ternama? Apakah ia sempat mengenyam pendidikan yang menyanggupkannya menulis buku-buku yang disukai pembaca? Atau, apakah ia memang memiliki bakat alami? Pertanyaan ini mungkin tidak penting bagi Diane Setterfield (atau pembaca lain), tetapi tetap menggoda untuk saya lontarkan mengingat novel ini mengungkap riwayat hidup Vida Winter.

Akhirnya, inilah sebuah novel bergizi ihwal manusia bermental serapuh sayap kupu-kupu, hasrat mencintai dan dicintai, kematian, bunuh diri, inses, dan permasalahan pelik anak kembar. Semuanya saling kelindan memproduksikan novel saspens misterius yang menggoda. Saya rekomendasikan novel ini untuk pembaca yang gemar fiksi kontemporer yang mengedepankan misteri kehidupan sebagai daya tarik (seperti saya). Kalimat di bawah ini, yang katanya dinukil dari "Dongeng-Dongeng Perubahan dan Keputusasaan" karya Vida Winter mungkin akan membuat Anda penasaran.

"Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karakteristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kaudapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng". (hlm. 9/ 49).


Posted at 12:21 pm by Jody
Comments (3)  

Thursday, December 25, 2008
ECLIPSE





Judul Buku : Eclipse (Gerhana)

Penulis: Stephenie Meyer

Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani

Penyunting: Rosi L. Simamora

Tebal: 688 hlm; 13,5 X 20 cm

Terbit: Cetakan 1, September 2008

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

DUA CINTA


Konon, pada suatu malam di bulan Juni 2003, Stephenie Meyer bermimpi. Dalam mimpinya, seorang gadis bercakap-cakap dengan seorang pemuda berkilauan di padang rumput penuh sinar matahari. Mereka saling jatuh cinta dan sang pemuda yang adalah seorang vampir mendambakan darah si gadis. Benar tidaknya mimpi ini, hanya Stephenie Meyer yang tahu! Konon lagi, begitu kuatnya mimpi itu hingga mendorong Stephenie Meyer, yang belum pernah menulis, memutuskan untuk menjadi pengarang. Maka lahirlah Twilight yang kemudian menjadi judul perdana Twilight Saga. Novel pertama itu sukses dan dibuntuti sekuelnya, New Moon dan Eclipse (terakhir Breaking Dawn). Kabarnya, 3 judul pertama seri ini telah terjual lebih dari 5,3 juta kopi di Amerika saja.

Eclipse (Gerhana) diterbitkan Agustus 2007 dan dalam waktu 24 jam setelah diluncurkan, telah terjual 150 ribu kopi. Kisah dalam novel yang masuk dalam daftar bestseller New York Times ini berawal pada saat-saat terakhir Bella dan Edward sebagai siswa SMA Forks. Mereka akan segera lulus dan menjadi mahasiswa. Tetapi, meski diterima di universitas ternama, mereka memilih University of Alaska Southeast. Alaska menjadi tujuan mereka, karena sesuai perjanjian Bella dengan Edward, tidak lama lagi Bella akan menjadi vampir.  Negara bagian itu bisa menjadi lokasi yang tepat untuk ditinggali, jauh dari orangtua Bella dan udaranya cocok dengan tubuh vampir.

Pada saat yang sama serangkaian pembunuhan misterius terjadi di Seattle. Menurut Edward, pembunuhan-pembunuhan tersebut terjadi akibat perbuatan kaumnya. Ada indikasi eksistensi vampir yang baru lahir berkeliaran di Seattle. Seandainya terjadi di tempat lain yang jauh, peristiwa ini tidak akan menjadi persoalan bagi Edward dan keluarga Cullen. Tetapi Seattle tidak jauh dari Forks dan sudah bisa diperkirakan bencana sedang menuju Forks. Siapa lagi yang menjadi sasaran, kalau bukan Bella, si ‘danger magnet’.

Sebagai tindakan berjaga-jaga, Edward mendorong Bella mengunjungi ibunya di Florida. Ternyata, ketika mereka pergi, Victoria muncul di Forks. Ia datang untuk membalas dendam atas kematian James (pada buku pertama). Vampir berambut jingga ini nyaris tertangkap jika tidak terjadi konflik antarab vampir dan werewolf (manusia serigala) yang sama-sama menyerang Victoria.

Kekhawatiran Edward menggeliat ketika mencium kehadiran vampir yang tidak dikenal di dalam kamar Bella. Bella perlu dilindungi. Tetapi perlu tenaga lebih untuk mengatasi para vampir baru itu. Keluarga Cullen membutuhkan bantuan dan tidak ada vampire yang sudi membantu. Tidak ada jalan lain, mereka mesti bekerja sama dengan manusia serigala. Pada saat itu, Bella telah kembali menjalin pertemanan dengan Jacob Black (Jake), yang dengan terus terang, menyatakan cintanya.

Maka, tak pelak lagi, pertarungan Keluarga Cullen dan manusia serigala melawan para vampir baru terjadi juga. Bella telah meminta agar Edward tidak terlibat dalam pertarungan tersebut. Meski demikian, Bella tidak bisa mencegah usaha keras Victoria dan vampir ciptaannya menerobos lokasi persembunyian.

Pembaca dengan mudah akan mengetahui akhir novel ini tanpa berpikir lama-lama, nasib Bella dan kisah cintanya yang nyaris bercabang. Memang ada bagian yang tak terduga, tetapi tidak memiliki efek yang membuat novel ini semakin bersinar. Seperti dua novel sebelumnya, Eclipse ditulis dengan alur yang gemulai. Aroma cinta remajanya kental sekali, manis dan cenderung membosankan. Tidak ada hal baru dalam gaya penulisan.

Mungkin yang menarik diikuti adalah beberapa cerita yang ditambahkan Meyer untuk menebalkan novel. Kisah hidup Rosalie dan Jasper serta kisah pejuang roh leluhur Suku Quileute seakan-akan menjadi pengusir kebosanan pada cerita kecemburuan Edward dan Jacob. 

Ada satu istilah yang diperkenalkan Meyer dalam novel ini, Imprint. Imprint adalah respons tanpa sadar atau di luar kemauan yang dialami werewolf ketika bertemu dengan belahan jiwanya. Sam dan Quil, teman-teman Jake telah mengalami hal itu, dan salah satunya meng-imprint seorang balita. Meskipun merasa mencintai Bella, dalam novel ini Jake belum mengalami peristiwa itu. Anda harus membaca Breaking Dawn untuk mengetahui siapa yang di-imprint Jake.

Untuk pembaca novel yang masih remaja, salah satu kelakuan Bella yang liar tentu saja tidak bisa dijadikan contoh berperilaku. Bella (masih 18 tahun) dan Edward sudah bersepakat jika Bella akan divampirkan setelah lulus SMA. Edward akan menggigitnya begitu mereka terikat pernikahan. Keputusan ini membuat Bella ‘gatal’, dan boleh dikata tersulut birahinya. Ia mendesak Edward untuk bercinta (baca: berhubungan seks) dengannya, sebagai kenangan terakhirnya sebagai manusia yang tidak abadi. Untunglah, Edward tidak termakan rayuannya dan bersikeras hal itu hanya boleh terjadi setelah mereka menikah. Menurut saya, ini menjadi bagian yang tidak penting dan tidak perlu ada dalam novel.

Konon, gambar sampul edisi bahasa Inggris yang menampakkan pita merah sobek menggambarkan pilihan, ketika Bella terbelah antara cintanya kepada Edward, sang vampir, dan Jake, si werewolf. Terkesan hebat maknanya, namun potensial membingungkan. Jadi, saya lebih suka gambar sampul edisi Indonesia.

Apa pun ‘rasa’ buku ketiga Twilight Saga ini, saya yakin, para pemujanya tidak akan melewatkan novel pamungkas tetralogi ini, Breaking Dawn.

Posted at 09:31 pm by Jody
Make a comment  

Next Page