"Dunia Buku adalah
sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu
dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku,
dan diapresiasi selaras emosi dan logika"
If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
Monday, January 26, 2009
THE HUNT FOR ATLANTIS
Judul Buku: The Hunt For Atlantis (Perburuan Jejak Atlantis)
Penulis: Andy McDermott (2007)
Penerjemah: Yohanna Yuni
Editor: Gita Romadhona
Tebal: vi + 642 hlm; 14 X 20 cm
Terbit: Cetakan I,2008
Penerbit; GagasMedia
LEGENDA YANG HILANG DARI SEJARAH
Kehidupan Nina Wilde tidak dapat dilepaskan dari legenda Atlantis, pulau yang terbenam ke dalam laut dan hilang dari sejarah, yang disinggung Plato dalam karyanya, Timaeus dan Critias. Sejak kecil, ia telah mengenal Atlantis dari kedua orangtuanya. Karenanya, hingga ia dewasa, dan kedua orangtuanya telah tiada –tewas dalam ekspedisi mencari Atlantis di Tibet, pulau itu terus mengusik keingintahuannya.
Setelah menjadi doktor di bidang arkeologi, Nina mengajukan proposal kepada universitasnya untuk membiayai ekspedisi pencarian pulau yang konon telah menghilang lebih dari 11 ribu tahun ini. Ia bermaksud menyelesaikan obsesi Henry dan Laura Wilde. Sayangnya, bahkan Profesor Jonathan Philby, yang adalah teman orangtua Nina, tidak mendukung proposalnya. Padahal, Nina yakin, Atlantis benar-benar tidak sekadar legenda dan ia bisa memastikan lokasinya di peta.
Kekecewaan Nina karena proposalnya ditampik, tidak berlangsung lama. Adalah Kristian Frost, seorang milyarder asal Norwegia, menawari Nina untuk membiayai ekspedisi yang akan Nina lakukan. Ia juga yang dulu mendanai orangtua Nina dalam ekspedisi pencarian Atlantis ke Himalaya yang mengakhiri hidup mereka. Tetapi belum bertemu Frost, Nina sudah nyaris dibunuh. Untunglah, Frost telah mengutus Eddie Chase, mantan anggota SAS yang bekerja untuknya, menyelamatkan dan membawa Nina ke kediamannya di Ravnsfjord, Norwegia.
Sebagai langkah awal, mereka harus mengambil pecahan orichalcum, (logam yang ditambang di Atlantis) dan hologram yang dijual Yuri Volgan melalui Failak Hajjar, seorang mantan penjarah makam asal Iran. Nina akan memastikan bahwa artefak yang dijual itu benar-benar seperti pengakuan Volgan. Meski gentar pergi ke negara bagian dari Poros Setan, Nina diteguhkan karena Chase dan Kari, putri Frost, akan bersamanya. Tetapi, urusan dengan Hajjar tidak berjalan dengan baik. Sebab, Hajjar tidak akan membiarkan artefak yang diinginkan Frost melayang dari tangannya, tanpa mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Nina dan kawan-kawan tidak tinggal diam. Hajjar tidak boleh merintangi perjalanan mereka.
Setelah menaklukkan Hajjar, Nina dan kawan-kawan pergi ke Prancis. Di sana, Nina mencoba menerjemahkan simbol yang ada pada artefak. Namun, tidak semua bisa diterjemahkan. Jonathan Philby diundang Frost untuk menolong menganalisis artefak itu. Berhasil, misteri pun terpecahkan. Perburuan segera diarahkan ke pedalaman Amazon. Benar, di pedalaman Amazon, tim ekspedisi Nina menemukan replika kuil Poseidon lengkap dengan peta yang menunjukkan keberadaan Atlantis. Kekaguman mereka tak berlangsung lama, karena secara tiba-tiba, Qobras datang bersama gerombolannya dan menghancurkan kuil ini.
Untunglah Nina telah mengetahui di mana Kuil Poseidon yang asli berada, yang menunjukkan tempat Atlantis dulu menghias sejarah. Qobras memang bisa menjangkaunya terus hingga di lokasi tersebut dan menjadikan Nina tawanan. Tetapi, Nina masih memegang rahasia keberadaan Kuil Poseidon yang terakhir. Qobras harus menemukan kuil itu untuk memusnahkannya. Supaya tidak ada peninggalan Atlantis yang tersisa.
Mengapa Persaudaraan Selasphorus merintangi terus usaha pencarian peradaban yang hilang ini? Mengapa juga dengan mudah mereka bisa menemukan jejak Nina dan kawan-kawan? Lalu, apakah kucuran dana dari Frost untuk menemukan Atlantis hanya sekadar sumbangannya untuk kejayaan dunia arkeologi?
Dalam perburuan tersebut, Nina tidak hanya bakal mengetahui rahasia kematian orangtuanya. Ia juga bisa mengetahui rahasia yang disembunyikan Kristian Frost sehubungan dengan kerelaannya mendanai perburuan mencari Atlantis. Maka, perjuangan Nina untuk menuntaskan obsesi kedua orangtuanya, berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.
Sebuah novel yang menegangkan, bergerak sangat cepat, dan nyaris tidak menyisakan peluang bagi pembaca untuk menarik napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan. Bahkan sejak prolog, sang novelis telah memantik ketegangan yang terus berkelanjutan seolah-olah tak akan bersudah. Beberapa adegan sanggup membuat pembaca tercekat karena sangat mudah dibayangkan. Belum lagi intrik yang mengundang rasa penasaran yang tinggi. Alhasil, novel ini menjadi suguhan sinematis yang seru dan memikat yang tidak akan ditinggalkan pembaca sebelum habis disikat. Tidak heran jika suatu waktu ada yang tertarik untuk memindahkan adegan-adegan dalam novel ini ke versi layar lebar beranggaran besar.
The Hunt For Atlantis (Perburuan Jejak Atlantis) merupakan novel debutan nan eksplosif dari Andy McDermott, penulis kelahiran Halifax (West Yorkshire) yang sekarang tinggal di Bournemouth. Telah dialihkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, salah satunya bahasa Indonesia. Edisi Indonesia ini diterbitkan oleh GagasMedia, yang tampaknya, mulai mengarahkan perhatian pada penerbitan novel terjemahan yang tidak kalah dengan penerbit lain.
Oleh McDermott, pada akhir novel, kita bisa mengetahui jika ada cinta muncul di antara mereka. Tentu saja hal ini bukan sekedar memberi warna romantis dalam The Hunt For Atlantis. Sebab, McDermott tidak akan mengakhiri petualangan mereka di sini.
Pada penghujung novel, kita juga diberi tahu jika Eddie Chase pindah ke New York. Ia ditawari pekerjaan baru yang sangat menantang. Setelah tahu Atlantis, yang dikenal sebagai legenda, benar-benar nyata, Perserikatan Bangsa-bangsa akan membentuk semacam badan pelestarian arkeologi internasional untuk mencari mitos-mitos kuno lain yang kemungkinan juga memang ada dengan maksud melindunginya. Dan Nina dipilih sebagai penanggung jawab. Jadi, Eddie akan terus menemani Nina.
Maka, setelah The Hunt For Atlantis (November 2007), McDermott telah menerbitkan seri petualangan Eddie dan Nina yang lain, yakni The Tomb of Hercules (Juni 2008), The Secret of Excalibur (November 2008) dan The Covenant of Genesis (beredar Mei 2009). Melihat jarak penerbitan antara satu buku dengan buku yang lain, kalau tidak McDermott ngebut menulis, tampaknya sebelum diterbitkan, ia telah menulis setidaknya 2 sekuel.
Judul Buku: Keluarga Flood –Asal-usul Keluarga Flood
Judul Asli:The Floods: Home & Away
Penulis: Colin Thompson (2006)
Penerjemah: Ferry Halim
Tebal: 250 hlm; 13 x 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Agustus 2007
Penerbit: Penerbit Atria (an imprint of PT Serambi Ilmu Semesta)
KISAH CINTA PUTRI RAJA DAN MANUSIA KOTOR
Seperti disebutkan dalam Sekolah Sihir (Floods 2: Playschool), Nerlin –Mr. Flood, dan Mordonna –Mrs. Flood, berasal dari sebuah negara nan gelap dan misterius bernama Transyvlania Waters. Nerlin adalah salah satu manusia kotor penghuni saluran pembuangan di bawah kota. Di buku pertama, Neighbours (Tetangga Menyebalkan), disebutkan, Nerlin adalah cucu buyut Merlin, penyihir paling terkenal yang pernah hidup. Sebenarnya ia bisa dipanggil Merlin, tapi pendeta yang melantiknya terserang flu sehingga mengucapkan keduanya saling cinta. Dalam Sekolah Sihir disebutkan mereka kawin lari dan keliling dunia untuk menghindari kejaran agen-agen Raja Quatorze.
Kisah cinta Nerlin dan Mordonna sekedar disinggung sedikit dalam buku kedua. Colin Edward Thompson, sang pencipta Keluarga Flood, ingin masa lalu mereka diketahui publik. Ia pun memutuskan menceritakan asal-usul mereka dalam buku ketiga, Home & Away. Edisi Indonesianya telah diterbitkan oleh Penerbit Atria, imprint dari Penerbit Serambi. Penerjemahnya bukan lagi Shinta Harini seperti dua buku terdahulu tetapi Ferry Halim..
Sayangnya, Thompson, saking gila-gilaan, agak terpeleset ketika menceritakan kelahiran anak-anak Keluarga Flood. Mengapa? Dalam buku pertama, Neighbour, Thompson bilang, kecuali Betty, enam anak lain diciptakan berdasarkan 'sebuah buku resep kuno di dalam sebuah laboratorium, menggunakan tongkat sihir berkekuatan turbo dan seperangkat panci mengilap produksi juru masak terkenal dari Inggris, Jamie Oliver'. Namun, setelah membaca buku ketiga ini, sekuat apapun usaha saya mengais-ngais, saya tak menemukan buku resep kuno, juga tongkat sihir berkekuatan turbo dan seperangkat panci mengilap itu. Sepertinya, Thompson lupa deh, apa yang pernah ia bilang di buku pertama.
Okay, awalnya Keluarga Flood hanya tinggal di Acacia Avenue nomor 13. Mereka punya tetangga menyebalkan, Keluarga Dent. Keluarga beranggotakan 4 orang ini dikerjai habis-habisan, antara lain disihir menjadi kulkas, televisi, dan robot penyedot debu nirkabel. Rumah keluarga menyebalkan itu akhirnya menjadi milik Keluarga Flood. (Ah, kau harusnya tahu, kalau nggak, kau pasti pecundang).
Tetapi lebih awalnya lagi, mereka tinggal jauh di Transylvania Waters (TW). Saat itu, ketujuh anak Keluarga Flood belum ada di dunia. Valla, si sulung, dan adiknya, Satanella, lahir dalam perjalanan mereka menujui Acacia Avenue. Sedangkan Winchflat, Merlinmary, si kembar Morbid-Silent, dan Betty diciptakan di Acacia Avenue, dengan proses yang berbeda-beda.
Kata sahibulhikayat, suatu ketika, Mordonna, gadis termolek di seluruh TW, putri sulung Raja Quatorze, yang akan dikawinkan dengan Pangeran Nochyn dari Battenberg, terperosok ke saluran pembuangan. Di dalam lubang itu, Nerlin, seorang pembersih kakus, dari golongan Manusia-manusia Kotor, tengah bekerja. Mereka bersitatap, dan sinar mata masing-masing memercikkan api cinta (ehemm...). Dalam tempo singkat, setelah saling mencium ketiak, Nerlin menyematkan cincin dari jalinan benang emas ke jemari Mordonna.
Jika Raja Quatorze murka sampai ia meledak berkeping-keping, seperti kebiasaannya, istrinya, Ratu Scratchrot, mendukung percintaan Nerlin & Mordonna. Ia menyuruh mereka meninggalkan TW, dan ia akan ikut mereka. M. T. Vessel, ajudan ratu yang sudah lama mencintai dan dicintai ratu, juga akan menyertai mereka.
Pelarian pun terjadi setelah Nerlin dan Mordonna menikah. Namun, sebelum pergi lebih jauh, mereka minta petunjuk Sheman –dukun wanita, tentang masa depan. Menurut Sheman, akan ada 7 anak dan kehidupan yang bahagia. Mengikuti usul Sheman yang serba tahu, mereka melewati Jalur Suaka dan melarikan diri ke arah Pegunungan Himalaya, dari sana mereka akan lanjut ke Cina.
Raja geram ketika Baines LeClaude, penasihatnya yang sudah 40 tahun bekerja untuknya, tidak berhasil menemukan Mordonna. Masalahnya, Mordonna sudah digadaikan kepada Pangeran Nochyn dari Battenberg. Setelah mengemas Baines dalam kotak karton Burger Ekspor dan mengirimnya ke Eropa Barat, raja mengganti penasihatnya. Penasihat ini gagal juga dan menyarankan raja untuk memakai jasa mata-mata. Trio mata-mata, Cliché, Stain, dan Ooze, pun digerakkan untuk memulangkan sang putri jelita –yang lain, termasuk istri Raja boleh dibunuh. Tapi mereka gagal, malah tersesat dalam hutan yang sudah digeserkan Sheman.
Raja memutuskan untuk memanggil Pembisik Maut, agen rahasia yang telah mengabdi pada keluarga raja sejak generasi pertama –yang berhasil menggulingkan kekuasaan Merlin dan keturunannya sebagai penyihir kondang. Pembisik Maut ini terkenal karena kejahatan dan kemampuan mencibirnya. Dengan kemampuannya yang lain, yaitu mengubah diri (menjadi keong tak bercangkang atau seekor merpati,) Pembisik Maut diharapkan bisa menemukan Mordonna.
Di tengah perjalanan, Mordonna hamil dua kali dalam tempo yang begitu cepat (dia tidak hamil 9 bulan 10 hari seperti biasanya). Ia melahirkan Valla –si peminum darah, di Pegunungan Himalaya dan Satanella, yang malih menjadi seekor anjing, di PulauTristan da Cunha.
Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang dan tidak mengenakkan, mereka pun tiba di sebuah pantai yang sepi. Kemudian, dari sana, mereka terus bertualang dari kota ke kota hingga tiba di sebuah jalan di sebuah kota. Yang mengejutkan nama jalan itu memuat nama tumbuhan yang tidak disukai penyihir, akasia (acacia). Di sanalah, lima anak Keluarga Flood 'tercipta' menuntaskan ramalan Sheman. Setelah Satanella, lahir Merlinmary, yang tak bisa diketahui gendernya. Winchflat menyusul kakak-kakaknya, dibuat menggunakan bahan dasar bonghir (kecebong penyihir). Lalu, dengan bantuan sebuah mesin karya Wonchflat dan kedua orangtuanya, terciptalah si kembar Morbid dan Silent di dalam bak cuci.
"Satu lagi," kata Mordonna. "Satu bayi lagi. Seorang anak perempuan kecil yang manis. Aku tidak ingin ia dibuat di dalam botol selai atau di ruang bawah tanah."
Kau tahu pasti siapa anak perempuan kecil yang manis itu kan? Seperti kakak-kakaknya, ia telah diperkenalkan dalam buku pertama, Neighbours. Seorang anak perempuan berambut pirang mirip boneka porselen. Ia tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan kakak-kakaknya, Quicklime College. Seperti penampilannya yang normal, ia bersekolah di sekolah yang normal, SD Sunnyview. Ya, kau benar, namanya Betty. Meski terlihat normal, Betty juga punya kekuatan sihir.
Kau mungkin bertanya-tanya: Apa yang terjadi pada ketiga mata-mata dan Pembisik Maut mengingat akhirnya Keluarga Flood berhasil menetap di Acacia Avenue (ini bukan spoiler, sudah dikisahkan dalam buku-buku sebelumnya)? Sempatkah mereka berhadap-hadapan? Lantas, bagaimana nasib Vessel, kekasih tercinta Ratu Scratchrot? Apakah kau (yang sudah baca) pernah membaca tentang dia di Neighbours atau Playschool? Tidak kan? Jadi, apa yang membuatnya tidak tinggal bersama sang ratu di Acacia Avenue? Satu lagi, mengapa ratu yang sebenarnya belum mati ingin dirinya di kubur di kebun belakang? Oh, kau pasti penasaran. Tapi, aku nggak akan kasih tahu. Kau harus membacanya. Selain akan mengetahui jawabannya, kau akan berhenti menjadi pecundang –efek bagi yang nggak baca kisah Keluarga Flood.
Namun, kau jangan khawatir. Aku mau kasih bocoran sedikit: kalau kau mau baca buku ini, kau akan tahu tentang Danau Tarnish yang menyeramkan, adik Mordonna yang buruk rupa, gagak yang bicara dalam bahasa Inggris dengan logat merpati, kumbang vampir untuk membersihkan gigi, dan seekor keledai bernama neurotik bernama George-Si-Keledai-Yang-Sebelumnya-Dikenal-Sebagai-Pangeran-Kevin-Dari-Asisi, yang punya kalimat favorit: "Aku tidak menyukai hal ini".
Setelah baca buku satu ini, kau pasti akan setuju denganku: Colin Edward Thompson, memang 'gendeng'. Coba saja baca halaman persembahan pada buku ini: "Buku ini kupersembahkan untuk cucuku Walter yang lahir pada 7 Januari 2006, tapi ia sebenarnya berusia 287 tahun". Tapi kau pasti tak akan membenci Thompson. Sepertiku, kau malah mungkin akan menyukainya. Sebab, kau tidak akan murung (Morbid) jika membaca buku ini. Atau juga diam (Silent). Aku berani bertaruh, kau akan geleng-geleng atau bahkan terbahak-bahak. Jadi, kau boleh menjadikan buku ini pilihan, jika buku-buku lain terasa membuat kepalamu nyut-nyutan saking seriusnya.
Omong-omong, Thompson, mana acara pelantikan yang membuat Nerlin tidak bisa dipanggil Merlin karena pendeta yang melantik terserang flu? Mana juga dunia tenung dan sihir yang melegendariskan Mordonna? Kapan Mordonna tampil di halaman tengah Magic Monthly?
Kau mungkin bertanya kenapa aku menanyakan semua itu. Jawabannya: karena Thompson bilang seperti itu dalam Neighbours.
Lazarus adalah tokoh dalam Alkitab yang mati dan dibangkitkan oleh Yesus. Boleh dikatakan, dalam hidup Lazarus, berdasarkan catatan yang ada, ia mengalami kematian dua kali. Kematian kedua tidak membuat ia dibangkitkan lagi. Tapi Jude Allman, karakter utama novel Waking Lazarus, telah mati tiga kali sebelum ia diperkenalkan penciptanya –Tony Lollapalooza Hines (T. L. Hines)- kepada pembaca.
Jude Allman pertama kali mati pada usia 8 tahun. Setelah seharian memancing ikan di danau es bersama ayahnya, William Allman, Jude terperosok ke dalam danau. Pada usia 16 tahun, Jude meninggal untuk yang kedua kali. Ia sedang berada di hutan Soldier Ridge, di Bingham, Nebraska, dengan temannya Kevin Burkhart, tatkala ia tersambar petir. Delapan tahun kemudian, Jude Allman tewas dalam mobil yang terperangkap badai salju, ketika ia mengadakan perjalanan dari South Dakota menuju Bingham, untuk merayakan Natal dengan orangtuanya. Ia kembali dari kematian setiap kali, dan mampu mengecap rasa kematian, rasa pahit tembaga yang memenuhi mulutnya ketika maut mengintai seseorang yang berada dekat dengannya. Ia juga bisa melihat hal-hal tentang orang lain kemudian menolong mereka menjauhi kematian dan putus asa.
Apakah Anda memperhatikan pada usia berapa saja Jude Allman meninggal, tetapi kemudian hidup kembali? Ya, Jude meninggal 8 tahun sekali. Menurut T. L. Hines, penulis Waking Lazarus, dalam Alkitab, angka 8 selalu melambangkan awal yang baru, suatu permulaan, suatu kebangkitan. Dan jika Anda jeli, Anda akan menemukan angka 8 terserak dalam novel ini, yang antara lain menjadi jawaban bagi bagian novel yang enigmatis.
Setahun setelah kematian dan kebangkitan yang ke-3, Jude melarikan diri dari sorotan publik dan menyembunyikan dirinya di Red Lodge, Montana. Sekarang, ia telah berusia 32 tahun dan bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah. Dia memilihkan nama untuk dirinya sendiri, Ron Gress.
Enam tahun yang lalu, di sebuah bar, ia bertemu Rachel Sanders. Menemukan kesamaan, mereka mabuk,dan tidur bersama. Hanya semalam, dan Rachel hamil. Setelah Nathan lahir, Rachel bertobat, menjadi seorang jemaat gereja yang rajin. Tapi, mereka tidak pernah menikah.
Pada suatu senja, Jude dikunjungi seorang perempuan yang mengaku bernama Kristina. Jude tak mengenal Kristina, namun Kristina tahu nama aslinya yang ingin disingkirkannya. Kristina bahkan membawa buku yang pernah ditulis Jude, Into the Lights. Menurut Kristina, ia datang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Jude.
Sementara itu, penculikan anak-anak terjadi di berbagai tempat di Montana. Michael Odum, kepala kepolisian Red Lodge, menjadi waspada ketika ada dugaan penculikan akan terjadi di kotanya. Ketika Jude mencoba membebaskan 2 anak yang disiksa ayah mereka, Odum seolah-olah menemukan orang yang bisa dijadikan tersangka.
Rachel, yang mengira Jude mendapatkan penglihatan dan bisikan wahyu karena mengidap epilepsi, mencoba menyelidiki siapa ayah anaknya itu. Ia tidak menemukan seorang Jude Allman penderita temporal lobe epilepsy. Yang ia temukan adalah kenyataan jika Jude telah mencuri nama dari seorang bayi yang meninggal tiga hari setelah dilahirkan, 32 tahun lalu. Ia pun, tanpa sadar, menegaskan kecurigaan Odum terhadap Jude.
Jude tetap menjadi tersangka sampai saat Nathan dan Bradley –anak Nicole Whittaker, sahabat Rachel- diculik setelah si pelaku mencoba membunuh Nicole. Jude harus mencari tahu apa yang terjadi. Dan jalan satu-satunya adalah menyentuh Nicole yang tengah sekarat untuk mendapatkan penglihatan atau bisikan wahyu demi pengungkapan identitas sang penjahat. Jude menemukan kali ini ia tidak dengan gampang mendapatkan apa yang ia inginkan. Rachel mesti berdoa untuk mengatalis terjadinya penglihatan Jude.
Siapakah sebenarnya penculik anak-anak yang telah merambah hingga Red Lodge itu? Apakah Jude, tanpa disadarinya? Atau Kenneth Sohler, ayah Tiffany dan Joey yang ditolong Jude yang mendadak menghilang? Atau Frank Moran, pengawas pekerjaan Jude di sekolah yang memiliki proyek pribadi di bawah tanah rumahnya untuk merekam keajaiban masa kecil? Atau Kristina, si perempuan misterius yang tidak dapat Jude pahami?
Sementara berusaha menelanjangi wajah si penjahat yang ternyata berkepribadian ganda, Jude masih harus berusaha meraih kepingan-kepingan yang hilang dari kenangannya. Dan hanya ayahnya yang bisa memberikan kepingan-kepingan itu, menegaskan Jude bahwa ia dilahirkan bukan sekedar untuk menjadi manusia biasa.
"Kamu adalah seorang nabi, Jude. Seperti Musa. Atau Yunus. Seorang utusan. Tuhan mengutus Musa untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang, dan Musa hanya berkata, 'Saya tidak bisa'. Kurang lebih begitu. Yunus juga. Kamu tidak berbeda. Sampai akhir-akhir ini, kamu selalu berkata kamu tidak bisa. Tapi, kupikir kamu akhirnya tahu bahwa kamu bisa", demikianlah ucapan Kristina mengenai siapa diri Jude Allman sesungguhnya (hlm. 342). Benarkah? Siapa Kristina sehingga berani mengatakan Jude seorang nabi seperti Musa dan Yunus? Kalau begitu, mengapa Jude harus mati dan bangkit berulang kali? Apakah, dalam usia ke-32 tahun, Jude akan mati sekali lagi?
Sampai kapan pun, mungkin, kematian tetap menjadi sebuah misteri yang tak terpecahkan secara gamblang oleh manusia. Namun satu hal yang dipahami manusia yang bukan ateis, kematian adalah salah satu cara Tuhan menyatakan siapa diri-Nya di mata manusia. Dalam hidup Jude Allman, kematian dipakai sebagai metode untuk mengantar Jude memahami panggilan Tuhan dalam hidupnya. Sebelum ia sadar jika dirinya seorang 'pembawa pesan' untuk menolong orang lain, ia harus dibuat mati berulang kali.
Membaca Waking Lazarus, kita bisa mengetahui jika penulisnya adalah seorang religius (Kristen). Bukan hanya karena ia tahu siapa Lazarus. Namun lewat novel ini ia hendak memberi tahu dengan tegas: Tuhan memiliki rencana untuk hidup setiap manusia; Tuhan juga punya rencana khusus bagi orang-orang pilihan-Nya. Apapun bisa dipakai-Nya, termasuk kejahatan, untuk membuat manusia paham hakekat dirinya yang sejati.
Selain itu, melalui si penculik, meski tidak digembar-gembor, Hines juga hendak mengingatkan pembaca bagaimana memperlakukan anak-anak. Si penculik telah berubah dari anak-anak tak berdosa menjadi penjahat berkepribadian majemuk, karena tindakan ayahnya. Pada masa kecilnya, ayahnya, seorang pemabuk, telah menyakitinya. Tidak hanya dengan lecutan ikat pinggang. Tapi juga dengan sundutan rokok dan hantaman sekop.
Inilah sebuah novel yang berhasil mengasimilasikan drama kehidupan menggetarkan dengan elemen saspens yang mengejutkan. Hines, yang juga telah menulis novel The Dead Whisper On dan Unseen, dengan cekatan akan menggiring kita mengikuti kehidupan karakter-karakter seperti Jude, Kristina, Rachel, dan Michael Odum. Kemudian dengan berulang memperkenalkan kita kepada si penculik sambil menghantam kita dengan pertanyaan: siapakah orang ini? Mungkin, pembaca yang sering membaca novel-novel thriller penculikan dan pembunuhan, akan segera menduga siapa orangnya, sebelum secara langsung diungkapkan penulis. Sebab, Hines masih menggunakan formula yang banyak digunakan penulis novel: sang penjahat begitu dekat, ada di depan mata, namun tidak kentara.
Sekedar koreksi, bab tujuh yang diberi judul "Membaca" (hlm. 60) sepertinya telah keliru ditambahkan keterangan '24 Tahun Lalu'. Jelas, apa yang dikisahkan dalam bab itu, Michael Odum yang tengah membaca berita penculikan seorang anak gadis di Big Timber, terjadi di masa kini.
Operasi Mincemeat adalah operasi tipuan yang dilakukan Inggris untuk menghadapi Jerman pada Perang Dunia II. Dilaksanakan pada tahun 1943, operasi ini berhasil mengecundangi Nazi Jerman, tanpa mereka sadari. Sesosok mayat dipersiapkan pada awal operasi, diberi nama Mayor William Martin dari Angkatan Laut Kerajaan. Mayat itu dibuang dan ditemukan di sebuah pantai di Spanyol. Dokumen yang disertakan pada mayat sampai ke tangan Nazi Jerman.Isinya menyebutkan tentang rencana invasi Inggris ke Eropa melalui Yunani; bukannya Sicilia. Pihak Jerman memakan kebohongan ini dan berhasil ditipu mentah-mentah. Tentang Operasi Mincemeat dapat ditemukan dalam memoar bertajuk The Man Who Never Was yang diterbitkan pertama kali tahun 1954 dan sudah difilmkan. Penulisnya adalah Ewan Montagu, salah satu pelaku dalam operasi sukses itu.
Pencarian dan penyiapan mayat untuk operasi yang diadaptasi dari Operasi Mincemeat menjadi prolog (Pintu Masuk) novel Body of Lies karya David Robert Ignatius, seorang kolumnis The Washington Post. Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2007 dan sebelum hak adaptasi filmnya dibeli Warner Bros, ia berjudul Penetration. Film berdasarkan novel ini telah beredar Oktober 2008, disutradarai Ridley Scott dengan bintang-bintang seperti Leonardo DiCaprio dan Russell Crowe.
Sesungguhnya, novel ini berawal pada meledaknya dua bom dengan selang waktu sebulan di Rotterdam dan Milan. Karim al-Shams, lelaki asal Hama, Suriah, dipastikan menjadi perencana operasi pengeboman di Eropa. Spesialis bom mobil ini adalah seorang anggota Al Qaeda yang menamakan dirinya Suleiman Yang Agung.
Hani Salaam, kepala Badan Inteligen Yordania (GID), mengajak Roger Ferris, agen CIA dari Divisi Timur Dekat (NED) di Amman, pergi ke Berlin. Hani Salaam ingin menunjukkan kepada lelaki pincang ini metode yang mereka pakai dalam operasi inteligen. Kendati petinggi NED keberatan, Ferris merasa penting untuk ikut operasi Berlin. Sasaran operasi GID di Berlin adalah seorang anggota Al Qaeda bernama Mustafa Karami yang diharapkan akan membantu membongkar pelaku pengeboman Eropa.
Sebelum bekerja di Yordania, Roger Ferris bertugas di Irak. Di sanalah untuk pertama kali ia mendengar tentang Suleiman dari Nizar, seorang anggota Al Qaeda, yang ingin berkelit dari keharusan memartirkan diri dalam pengeboman Eropa. Nizar terbunuh, sedangkan Ferris meninggalkan Irak karena terluka akibat terkena senjata RPG.
Seketika Ferris sadar, ia dan Hani Salaam mengejar orang yang sama, Suleiman Yang Agung. Maka, lewat Ed Hoffman, kepala NED, CIA menawarkan operasi gabungan. Tapi Salaam menolak. Penolakan lelaki Yordania yang flamboyan ini berujung pada tewasnya Mustafa Karami. Salaam pun menyalahkan CIA.
Begitu tahu Karami tewas, Ferris berangkat ke Washington. Dalam perjalanan yang diseling berita peledakan bom di Frankfurt, Ferris membaca buku bertajuk The Man Who Never Was. Lahirlah ide di benak Ferris guna menuntaskan tugasnya membekuk Suleiman. Ed Hoffman, sang bos, setuju dengan ide Operasi Mincemeat. Maka, ia membentuk CIA versinya sendiri, Mincemeat Park, lengkap dengan dukungan orang-orang genius untuk mewujudkan sebuah operasi kontraterorisme yang sangat rahasia.
Sebuah plot dirancang dengan segala detailnya. Mereka akan berbohong seakan-akan CIA berhasil menembus selaput jaringan Al Qaeda. Membuat Suleiman percaya di tubuh organisasinya telah bercokol seorang agen CIA. Bahkan selanjutnya, mereka akan berpura-pursa telah sukses merekrut Suleiman.Benih-benih keraguan akan disemai dalam organisasi Al Qaeda. Dan pada gilirannya, Suleiman akan dihancurkan dengan cara membuat integritasnya disangsikan oleh rekan-rekannya. Diyakini, kehancuran Suleiman akan disusul kehancuran jaringan Al Qaeda.
Jelas sudah apa yang dibutuhkan operasi ini. Sesosok mayat dengan spesifikasi cemerlang sebagai petugas lapangan CIA, dokumen palsu, dan sejumlah muslihat. Memanfaatkan mayat seorang lelaki asal Chicago, Harry Meeker, agen yang tidak pernah eksis diciptakan. Omar Sadiki, seorang arsitektur Yordania, diisbatkan sebagai anggota sempalan Al Qaeda yang melakukan operasi gaya baru. Untuk menegaskan peranan Sadiki, pangkalan udara Incirlik (selatan Turki) akan diledakkan. Lalu, Harry Meeker pergi membawa pesan untuk Suleiman melalui Azzam, tokoh suku Pashtun yang pernah bekerja dengan Suleiman di Afghanistan. Perencana pengeboman Eropa ini hendak diminta untuk membantu mengatasi sempalan Al Qaeda yang sejatinya tak pernah eksis. Tujuan operasi adalah memunculkan kesimpulan di kalangan Al Qaeda jika Suleiman adalah konspirator CIA. Seperti nasib Mustafa Karami, Suleiman akan didakwa sebagai pengkhianat Al Qaeda.
Tapi, begitu operasi dilaksanakan, Ed Hoffman merasakan ada sesuatu yang keliru. Demikian juga tatkala Ferris kembali ke Yordania. Ia menemukan Alice Melville, selingkuhannya, hilang. Otomatis Al Qaeda diduga telah menculik Alice dan memboyongnya ke Hama, Suriah, tempat asal Suleiman. Sang agen CIA seolah-olah malih menjadi seorang keroco yang tidak tahu apa-apa. Sebab, sesampainya di sana, ia sadar, ia telah menjadi agen virtual dalam operasi lihai yang diarahkan oleh seorang pentolan inteligen lain. Latar belakang Ferris yang memiliki seorang kakek Islam asal Lebanon menjadi alat untuk mengecundangi CIA dalam operasi inteligen di Timur Tengah.
Menggunakan Operasi Mincemeat sebagai tempat berangkat sebuah karya bukanlah ide yang orisinal. Dalam arti, sudah ada penulis lain yang menggunakan ide ini. Tetapi menurut saya, penggunaan model Operasi Mincemeat sebagai elemen utama novel ini terbilang cukup brilian. Siapapun yang belum dan sudah tahu tentang operasi ini tidak akan segera digiring pada pemahaman pemanfaatannya dalam novel. Prolog yang digelontor Ignatius akan membuat pembaca bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi. Memang tidak lama kemudian, kita akan diberitahu jika prolog itu merupakan pintu masuk bagi replika Operasi Mincemeat, tetapi pembaca dipaksa terus membaca untuk merangkaikan semuanya dalam satu simpulan. Begitu juga untuk sasaran operasi dalam novel ini. Mereka tidak tahu jenis operasi kontraterorisme apa yang dilakukan pihak CIA. Pihak yang di penghujung novel mengecundangi CIA dengan cara memanipulasi Roger Ferris, juga bisa dipastikan tidak tahu jika Operasi Mincemeat ala CIA sedang dijalankan. Mungkin inilah yang menjadi nilai plus dalam novel lelaki kelahiran 26 Mei 1950 ini.
Selain itu, lewat novel ini, Ignatius yang katanya dikagumi agen-agen CIA 'karena memahami konspirasi mereka melebihi penulis manapun', bermaksud menumbangkan supremasi CIA dalam pentas dunia inteligen. Dalam novel ini, CIA benar-benar dimanipulasi. Senjata makan tuan bagi mereka yang suka memanipulasi pihak lain. Tanpa mengeluarkan biaya untuk menggenjot operasi spionase, pihak lain memetik keuntungan dari operasi CIA.
Selebihnya, cerita yang disemai Ignatius bukan hal anyar lagi. Kita bisa menemukan ide yang sama dalam berbagai novel dan film produksi Holywood. Oleh sebab itu, kisah heroisme seorang lelaki untuk menyelamatkan seorang perempuan di 'sarang penyamun' menjelang novel berakhir, bisa dikatakan sangat klise. Sekalipun pada akhirnya kita mengetahui 'penculikan' Alice hanya sekedar muslihat belaka.
Walaupun novel ini dikategorikan sebagai novel thriller (spionase) kita tidak akan disuguhi rangkaian adegan menegangkan yang susul-menyusul seolah tak mau bersudah di sekujur novel. Karakter hero, Roger Ferris, tidak akan terus digiring ke medan-medan eksplosif yang berpotensi membuat pembaca tercekat. David Ignatius memang bukan pengarang sejenis –katakanlah- James Rollins atau, yang lebih baru, Andy McDermott, yang gemar memanfaatkan adegan saspens gila-gilaan nyaris di sekujur novel thriller mereka. Mungkin ada yang akan mengatakan tidak adil membandingkan Ignatius dengan kedua pengarang itu karena kisah dan latar belakang protagonis yang digunakan berbeda. Tetapi, tetap, mereka punya satu kesamaan: mereka hadir dalam novel thriller!
Meskipun begitu, saya tidak bisa tidak menyukai Body of Lies. Sebagai sebuah thriller, selain ia memberi tambahan pengetahuan, novel ini juga menjadi latihan asah otak. Lebih khusus lagi, yang berkenaan dengan permainan inteligen.Sebuah kontribusi baru dari apa yang sudah diberikan oleh novel-novel thriller lain yang ditulis tidak dengan maksud mengada-ada.
Untuk edisi Indonesia, dari segi penerjemahan, hasilnya cukup bisa diikuti, mesti –entah kenapa- kita tidak diberi tahu siapa penerjemahnya. Dari segi kemasan buku, kalau tidak tahu sebelumnya, Anda mungkin akan mengira Body of Lies adalah sebuah nonfiksi, dan bukan sebuah novel. Apalagi tidak ada pemberitahuan di sampul buku tentang jenis buku. Tulisan pada sampul belakang (yang bukan sinopsis) nyaris semuanya tidak mencerminkan isi novel. Dalam novel, tidak ada Amsterdam yang meledak (dalam versi film memang ada). Tidak ada investasi AS di Dubai yang luluh lantak, London yang menyalahkan Gedung Putih, dan sebagainya, dan sebagainya. Kalimat tambahan di bawah judul pun terkesan bombastis: Runtuhnya Kedigdayaan CIA di Timur Tengah. Benarkah hanya dengan dimanipulasinya CIA oleh pihak lain dalam 'Operasi Mincemeat' –operasi gelap tanpa sepengetahuan presiden-ini sudah bisa dikatakan sebagai keruntuhan kedigdayaan mereka?
1861. Putri Kazu (1846-1877), putri bungsu Kaisar Ninkô dari selirnya Hashimoto Tsuneko, meninggalkan Kyoto menuju Edo. Dara berusia 15 tahun ini dipersunting Shogun Iemochi, shogun ke-14 dari klan Tokugawa. Menjadi istri Iemochi, berarti Kazu harus mengakhiri pertunangannya dengan Pangeran Arisugawa Taruhito. Di Edo, Putri Kazu terperangkap dalam kehidupan Kastil Edo, sebuah kastil yang dibangun pada masa kekuasaan Lord Ieyasu, shogun Tokugawa yang pertama. Namun, pernikahan Kazu dengan Iemochi tidak berlangsung lama. Pada usia 19 tahun, shogun yang berkuasa sejak usia 12 tahun ini meninggal. Saat itu, ia sedang dalam perjalanan menuju Osaka. Sejarah mencatat, setelah Iemitsu, shogun Tokugawa ke-3, berkunjung ke Kyoto, di era Kan'ei, tak seorang pun shogun pernah meninggalkan kastil. Iemochi, menjadi shogun kedua yang melakukannya. Sebelum Iemochi pergi, Putri Kazu memberikan salah seorang pelayannya untuk menjadi teman tidur shogun. Pelayan itu menjadi selir terakhir shogun Tokugawa.
Latar historis inilah yang dijadikan sandaran novel The Last Concubine karya Lesley Downer. Perempuan yang pernah tinggal dan bekerja selama 5 tahun di Jepang ini mengadoptasi selir yang tak terkenal itu untuk menjadi karakter utama novel. Sang selir diberi nama Sachi seperti nama istri Lord Ieyoshi, shogun Tokugawa ke-12.
Sachi, yang berarti 'Kebahagiaan' diperkenalkan sebagai gadis petani yang tinggal di sebuah desa di Lembah Kiso. Tatkala Putri Kazu singgah di rumahnya dalam perjalanan menuju Edo, ia memutuskan membawa Sachi untuk melayaninya. Dalam usia 11 tahun, Sachi memang sudah menampakkan kecantikan aristokrat. Ia berkulit pucat, bermata hijau dan, tentu saja, tidak pantas menjadi istri petani.
Pada usia 15 tahun, atas keinginan shogun, Sachi, yang diberi nama Oyuri (Bunga Lili Putih), naik pangkat menjadi dayang berpangkat menengah. Status barunya ini mengukuhkan dirinya sebagai selir sang shogun. Ia pun diberikan Putri Kazu kepada suaminya yang hendak melakukan perjalanan ke Osaka. Diharapkan, Sachi bisa melahirkan keturunan guna mewarisi kekuasaan Iemochi. Kenaikan status Sachi menjadi Lady Shoko-in mengejutkan hampir 3000 perempuan yang tinggal di Kastil Edo. Sebab, di antara mereka, hanya sedikit yang punya peluang dipilih sebagai selir meski banyak yang mendambakan kehormatan itu. Sisanya, akan menghabiskan hidup dalam kastil tetap sebagai perawan.
Namun, menurut Haru – penghuni kastil yang menjadi guru Sachi- menjadi selir shogun tidak lantas mengantar seorang perempuan ke puncak kebahagiaan. Seorang selir shogun Ieyoshi, yang berwajah cantik seperti Sachi, pernah mencari kebahagiaan dengan mengkhianati shogun. Hingga kini, ia lenyap tanpa jejak.
Setelah meniduri Sachi semalam, shogun meretas perjalanan menuju Osaka. Dan, ia tidak pernah kembali menginjak tampuk kekuasaan. Diberitakan, ia meninggal karena serangan jantung yang disusul dengan penyakit beri-beri. Tidak semua penghuni kastil percaya. Ada yang menduga, shogun mati karena diracun.
Kematian Lord Iemochi memanaskan situasi politik Jepang yang mulai menghangat sejak datangnya Kurofune (Kapal Hitam), 4 kapal besar Amerika yang berlabuh di Pelabuhan Uraga (Yokosuka) 14 Juli 1853. Apalagi setelah Lord Yoshinobu yang menggantikan Iemochi mencampakkan kekuasaan dan menyerahkannya kepada kaisar. Tak dapat dicegah lagi, perang saudara pun meledak, membagi Jepang dalam dua kutub, Utara dan Selatan (Downer menyatukan Satsuma, Choshu, Tosa, sekutu-sekutu mereka dan menyebut sebagai 'orang selatan' berdasarkan letak geografis). Para ronin, samurai tak bertuan dari selatan menyerbu Edo, membunuh pendukung shogun Tokugawa, dan bermaksud menculik Putri Kazu setelah membakar kastil.
Sachi harus mengorbankan diri. Ia diminta menyamar sebagai Putri Kazu dan ditandu meninggalkan kastil. Sachi sudah berusia tujuh belas tahun dan harus bisa menepis rasa gentar. Bagaimanapun, selama berada di kastil ia telah dilatih menjadi seorang samurai. Taki, pelayan asal Kyoto, bersikeras mengikuti Sachi. Dalam perjalanan, rombongan yang membawa Sachi diserang orang-orang selatan. Sachi dan Taki bisa selamat atas pertolongan tiga ronin pro Tokugawa asal Kano. Ronin-ronin itu bahkan memutuskan melindungi Sachi yang dikira sebagai Putri Kazu dengan membawanya menuju Kano. Namun, meski selamat sampai Kano, bahkan sempat singgah di Kiso untuk bertemu keluarganya, Sachi mesti tetap kembali ke Edo. Selain ia merasa tidak seperti dulu lagi, di rumah orangtua angkatnya ia mengetahui jika Daisuké, ayah kandungnya, tengah mencarinya. Lelaki yang belum pernah ditemuinya ini sedang dalam perjalanan menuju Edo. Karena Shinzaemon, salah satu dari ketiga ronin yang menolong Sachi, memutuskan akan kembali bergabung dengan pasukan pembela Klan Tokugawa di Bukit Ueno, Edo, maka Sachi dan Taki berangkat ke Edo bersama-sama. Meretas kembali jalan yang pernah mereka tempuh sebelumnya.
Di ujung perjalanan mereka, pertempuran menanti. Dan ketika Sacchi akhirnya bersua dengan ayahnya, ia menemukan kenyataan jika Shinzaemon mungkin telah tewas dalam pertempuran di Bukit Ueno.
Apakah Shinzaemon benar-benar telah tewas tanpa ditemukan jenazahnya? Akankah Sachi bertemu dengan perempuan yang telah melahirkannya? Siapa sebenarnya perempuan ini sehingga tega melepas anaknya untuk diasuh orang lain?
The Last Concubine yang pertama kali diterbitkan tahun 2008 merupakan karya fiksi pertama Lesley Downer. Sebelumnya, perempuan kelahiran London ini dikenal sebagai penulis buku-buku nonfiksi yang berkaitan dengan Jepang seperti On the Narrow Road to the Deep North, The Brothers, serial A Taste of Japan, The Secret History of a Vanishing World, dan Madame Sadayakko. Untuk itu, demi menghidupkan penghujung zaman Edo hingga Restorasi Meiji, Downer melakukan serangkaian riset. Tentu saja masa tinggalnya di Jepang membantu proses kreatifnya. Tetapi hal itu tidak lantas membuatnya enteng mengeksplorasi Jepang masa lampau. Ia pun melakukan sejumlah konsultasi dengan pakar sejarah Jepang; membaca biografi samurai-samurai zaman Edo (1603-1867), novel-novel, puisi, karya akademis tentang zaman Edo; bahkan juga kehidupan para perempuan penghuni Kastil Edo.
Oleh sebab itu, The Last Concubine hadir dengan sejumlah fakta historis. Sachi dan kisah hidupnya memang hanya lahir dari imajinasi Downer. Namun, kerangka sejarah yang ada dirangkai seakurat mungkin. Pertempuran, kejadian politik, bahkan cuaca yang digambarkan Downer benar-benar seperti yang pernah terjadi. Demikian juga intrik dan pembunuhan yang ada. Nama-nama selir sesuai catatan sejarah; bahkan Lady Okoto, selir Ieyoshi, yang menjalin hubungan dengan tukang kayu berparas seperti pemain kabuki, Sojiro Sawamura. Referensi mengenai emas Tokugawa yang diselundupkan Lord Oguri keluar Edo ketika Lord Yoshinobu berkuasa dan dikuburkan di kaki Gunung Akagi didapatkannya dari catatan kaki sejarah perusahaan Mitsui. Sedangkan kehidupan perempuan dalam kastil Edo diperolehnya dari buku karya penulis Jepang, Takayanagi Kaneyoshi, Edojo ook no seikatsu (Life in the Women's Palace at Edo Castle). Ia mengkreasi istana yang tampak tenang tetapi penuh persaingan dan kebencian, tempat para perempuan Jepang berkubang, mendambakan kekuasaan dan kehormatan. Juga tempat perempuan berselingkuh, dan tak tertutup kemungkinan, menjalin hubungan sesama jenis.
Menurut Downer, sejarah selalu ditulis oleh pemenang (perang) dan bukan pihak lain. Seperti dalam kasus perang saudara Jepang yang memuncak tahun 1868 –Restorasi Meiji. Perang saudara ini digambarkan sebagai revolusi 'tak berdarah'. Tetapi, menurutnya, perang ini pasti bukannya tidak berdarah. Maka, ia pun menggelar perang berlepotan darah antara orang utara dan selatan yang menggiring pihak selatan pada kekalahan.
Dalam novel setebal 658 halaman ini, kita tidak hanya akan bersamplokan dengan fakta sejarah dan pertempuran berdarah. Menggunakan karakter fiktif Sacchi, yang ditempatkan di tengah-tengah fakta, Downer mengkreasi kisah cinta yang lembut dengan Shinzaemon, ronin pro Klan Tokugawa. Downer mengaku menjadi tantangan baginya menulis kisah cinta berlatar belakang suatu masyarakat yang tidak memiliki konsep tentang cinta yang romantis dan tak mengenal kata 'cinta'. Tapi toh ia bisa juga menghasilkan kisah cinta dengan takaran yang cukup yang bisa menyelamatkan novel ini dari stempel novel romantis belaka.
Tetapi, tentu saja, The Last Concubine, tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai novel sejarah. Downer memang memanfaatkan salah satu bagian sejarah Jepang yang menjadi tonggak keterbukaan mereka dengan dunia luar, menggunakan beberapa tokoh yang pernah hidup masa itu, tetapi Sachi, sang karakter utama tidak pernah hidup. Demikian juga Shinzaemon. Apakah sebuah karya fiksi yang menggunakan latar belakang sejarah otomatis bisa disebut novel sejarah padahal tokoh utamanya sekedar fiktif belaka?
Judul Buku: The Wednesday Letters (Surat Cinta di Hari Rabu)
Penulis: Jason F. Wright (2007)
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Editor: Ratih Kumala
Tebal: xii + 336 hlm; 14 x 20 cm
Terbit: Cetakan 1, 2008
SAAT PENGAMPUNAN MENGALAHKAN KEBENCIAN
Rabu Malam, 16 Juni 1948. Jack Cooper menulis sepucuk surat buat Laurel, perempuan yang dinikahinya hari itu.
"Aku sudah berjanji hari ini di gereja dan aku akan berjanji lagi padamu malam ini. Mulai sekarang aku akan menulis surat padamu setiap minggu. Di mana pun kita berada –entah di dua sisi benua yang luas ini atau di dalam ruang tamu yang sempit –aku pasti akan menulis surat padamu.
Aku akan membuat sebuah janji lagi. Laurel, aku akan selalu mendampingimu. Tak peduli apapun yang terjadi. Kita akan selalu bersama. Tanpa rahasia. Tanpa kejutan. Dan aku akan selalu setia kepadamu dalam segala hal". (hlm. 121)
Maka, setiap hari Rabu –dengan pengecualian beberapa situasi, Jack Cooper, melunaskan janjinya. Menulis surat untuk istrinya setiap minggu. Kebiasaan ini berlangsung terus hingga tahun demi tahun berlalu. Pada bulan November 1956, janji Jack yang dituliskannya ketika istrinya sedang lelap di malam pengantin mereka, mengalami ujian. Ujian yang nyaris membatalkan janji Jack yang kedua yaitu selalu mendampingi Laurel apapun yang terjadi. Untunglah, janji yang Jack cetuskan itu, tidak pernah dibatalkan, hingga maut menjemput mereka.
Rabu Malam, 13 April 1988. Setelah menikah hampir 40 tahun, Laurel meninggalkan Jack. Ia meninggal karena serangan jantung. Di penginapan Domus Jeffeson, penginapan di jantung Lembah Shenandoah (Virginia) yang mereka kelola bersama sejak tahun 1963. Padahal, Jack mengira dirinya yang akan lebih dahulu meninggal. Selama 18 bulan, Jack sibuk memerangi tumor otak ganas yang tidak bisa dioperasi. Maka, begitu menyadari Laurel tak bernyawa lagi, Jack memutuskan menulis "Surat Hari Rabu" yang terakhir –sebelumnya surat mingguan terakhir ini diharapkan Jack akan ditulis Laurel. Surat itu diamplopkan dan diletakkan di bagian Perjanjian Baru Alkitab King King James Version. Ia memeluk Laurel dan tidak lama kemudian menyusul Laurel menjejak alam baka. Rain Jesperson, teman dekat keluarga dan manajer penginapan Domus Jefferson yang menemukan surat itu dan mendapat tugas untuk meneruskannya kepada pengacara Jack. Tetapi, ternyata bukan hanya surat terakhir itu yang ditemukan.
Kematian Jack dan Laurel memaksa ketiga anak mereka kembali ke Domus Jefferson. Matthew, si sulung, menetap di Boston dan sedang bergumul dengan pernikahannya yang belum dikaruniai anak. Malcolm, si tengah, sedang berada di Brazil, bermaksud menyelesaikan novel yang tidak pernah tuntas dan sudah setahun tidak berkomunikasi dengan keluarga. Samantha, si bontot, janda satu anak yang berbakat akting, tetapi memilih menjadi polisi.
Di antara mereka bertiga, Malcolm yang paling bermasalah. Ia pergi ke Brazil tidak sekedar untuk menyelesaikan novelnya. Ia sedang melarikan diri, berkelit dari jerat hukum setelah terlibat perkelahian di sebuah bar dan membawa uang jaminan ayahnya yang akan digunakan untuk membayar status tahanan luarnya. Sebelumnya, hubungannya dengan sang ayah memang tidak berjalan dengan bagus. Padahal dirinyalah yang dipikirkan Jack ketika maut siap menggamit jiwa. Malcolm juga memiliki masalah dalam percintaan. Ia menjalin cinta dengan Rain Jesperson, tetapi karena tidak pernah memberikan kepastian hubungan, ditinggalkan Rain, untuk bertunangan dengan Nathan Crescimanno, Jaksa Penuntut Umum Lembah Shenandoah. Sebelum pergi ke Brazil, Malcolm telah menyerang seseorang dan mematahkan hidung Nathan. Sekembalinya di Woodstock, Rain masih lajang dan telah menunda 3 kali rencana pernikahannya dengan Nathan.
Tidak terlalu lama setelah berkumpul kembali, sejak terakhir berkumpul bersama tahun 1983 pada ulang tahun pernikahan orangtua mereka, ketiga bersaudara Cooper menemukan surat-surat yang ditulis Jack untuk Laurel. Ketika mereka membaca apa yang ditulis sang ayah, dengan anggapan Laurel ingin mereka membaca surat-surat itu, mereka menemukan sebuah rahasia yang dipendam oleh orangtua mereka. Kenyataan yang menghancurkan hati salah satu dari mereka. Karena salah satu anak itu, bukanlah anak kandung Jack, kendati benar-benar dilahirkan Laurel.
"Laurel, penikahan kita memang tidak sempurna. Kita telah melalui banyak cobaan. Kita telah diuji dengan hal-hal yang lebih berat dari yang pernah kita bayangkan saat kita setuju untuk mengarungi bahtera ini. Tapi perjalanan ini sungguh mulia. Aku telah diangkat olehmu. Dan kau telah melakukan lebih dari itu. Kau telah menepati semua janjimu. Terima kasih karena telah memercayai rencana besar Tuhan sebelum aku siap menerimanya," demikian tulis Jack setelah bersama Laurel, ia berhasil melewati ujian yang dihadapinya (hlm. 319 – 320). Ujian yang nyaris mengikis habis janjinya pada malam pernikahan mereka dan membuat anak-anaknya terkejut.
Inilah sebuah novel tentang pengampunan yang membebaskan. Jason F. Wright, sebagai penulis, hendak menyampaikan gagasan tentang pengampunan yang agaknya dipelajarinya sebagai orang Kristen. Ketika seseorang bersalah kepada kita, kita memiliki pilihan untuk mengampuni atau tidak mengampuni orang tersebut. Baik Jack maupun Laurel telah memilih pengampunan bagi pencetus realita pahit yang nyaris menghancurkan pernikahan mereka. Bahkan, tidak hanya sekedar pengampunan. Meski pengampunan tidak otomatis berarti rekonsiliasi, keduanya memilih rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada mereka. Dan mereka berharap, anak mereka juga akan memiliki jiwa penuh pengampunan, seperti mereka. Apakah harapan mereka menjadi nyata, Anda akan menemukan jawabannya sebelum novel usai.
The Wednesday Letters, yang edisi Indonesianya diterbitkan GagasMedia, adalah novel ketiga karya Jason Fletcher Wright, penulis Amerika kelahiran Florissant (Missouri), 1 Februari 1971. Sebelumnya, penulis yang adalah pendiri situs politik PoliticalDerby.com ini, telah menulis novel debutan berjudul The James Miracle (2004) dan Christmas Jar (2006), yang masuk daftar bestseller New York Times.Setelah The Wednesday Letters (2007), penulis artikel di lebih dari 50 koran dan majalah yang pernah tampil dalam film Troll 2 ini, telah menerbitkan novel bertajuk Recovering Charles (2008). Saat ini, bersama keluarganya, Jason F. Wright tinggal di Woodstock, Virginia, tempat ia melakukan penelitian untuk penulisan The Wednesday Letters.
Novel indah dan sangat menggugah hati ini merupakan kisah yang dituturkan salah seorang anak keluarga Cooper kepada putranya yang beranjak dewasa. Pembaca yang peka akan dengan mudah dibuat tersentuh ketika meniti plot yang direntangkan Wright. Memang, novel ini mengetengahkan kisah cinta, tetapi bukan kisah cinta ala chicklit. Bukan kisah cinta mengada-ada layaknya kisah cinta kaum muda metropolitan nan basi. Novel ini merupakan perkelindanan unsur drama romantis dan unsur tragis, potensial membuat mata berkaca-kaca, tanpa mencengengkan pembaca. Semakin enak dibaca karena ditulis tanpa tendensi diberat-beratkan (meski tidak bisa disebut enteng atau diringan-ringankan juga). Dan karena saya membaca edisi Indonesia, harus saya katakan, novel ini disulihkan dan disunting dengan bagus. Anda tidak akan bersamplokan dengan susunan kalimat rancu yang mungkin memberikan pilihan menghindar untuk membaca.
Novel ini dikemas dalam bentuk amplop berwarna merah. Ketika kita membuka buku dan membaca isinya, seolah-olah kita sedang membaca surat setebal 332 halaman (tebal halaman di atas –xxi + 336, mencakup keseluruhan buku). Kemudian, setelah kita selesai membaca "surat tebal" ini, pada bagian belakang sebelah dalam buku, kita akan menemukan amplop kecil berisi dua pucuk surat bertanggal 25 Agustus 2007. Surat siapakah itu? Yang jelas, Anda akan membaca surat yang ditulis mengikuti tradisi Jack Cooper. Dan, mungkin, setelah selesai melahap novel ini, Anda –yang adalah suami-suami, akan terpengaruh mengikuti tradisi Jack Cooper.
Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya mau mengutipkan buat Anda puisi yang ditulis Jack untuk Laurel menjelang Natal, 24 Desember 1958.
Musim semi membawa kehidupan baru. Keceriaan dan penghijauan. Di musim panas datang matahari, kehangatan dan kedamaian yang menyinari seluruh permukaan bumi. Musim gugur membawa warna-warna yang indah. Perlahan menghiasi dunia dengan kelembutan. Musim dingin memberikan kekuatan. Keindahan seputih salju Lalu ada satu musim lagi… Kau adalah semua yang ditawarkan Alam kepadaku. Suatu berkah. Hadiah dari Sang Pencipta Kau adalah musim kelima. (hlm. 188)
Judul: The Book of Lost Things (Kitab Tentang Yang Telah Hilang)
Penulis: John Connolly (2006)
Penerjemah: Tanti Lesmana
Terbit: Cetakan 1, 2008
Tebal: 472 hlm, 13,5 x 20 cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
PENDEWASAAN DIRI ALA JOHN CONNOLLY
Yang namanya dongeng selalu diidentikkan dengan kanak-kanak. Saat kanak-kanak, tidak terhitung lagi dongeng yang telah saya baca. Tetapi, John Connolly, penulis Irlandia, kelahiran Dublin 31 Mei 1968, menulis The Book of Lost Things, untuk pembaca dewasa dan hampir dewasa. Alasannya, "Sebab dalam diri setiap orang dewasa masih tersimpan jiwa kanak-kanaknya, dan dalam diri setiap anak bersemayam jiwa yang kelak akan menjadi dewasa" (hlm. 5). Dengan kata lain, Connolly hendak mengatakan bahwa sebenarnya dongeng bisa pula dinikmati oleh orang-orang yang mulai dan telah meninggalkan masa kanak-kanak. Meski tidak memiliki elemen erotis seperti dalam Stardust karya Neil Gaiman (tidak banyak sih, tetapi tetap erotis), Gramedia Pustaka Utama menyematkan label Novel Dewasa untuk nominee Irish Novel of the Year 2007 ini.
Jagoan utama novel ini adalah David, seorang kutu buku, yang ketika diperkenalkan, baru berusia 12 tahun. Kala ibunya sakit, David sering membacakan cerita-cerita untuk ibunya yang gandrung mitos, legenda, dan dongeng-dongeng. Setelah ibunya mangkat, koleksi buku ibunya memperkaya koleksi David. Ayah David,waktu itu seorang dosen matematika, memang tidak menggemari buku cerita.
Sekitar 6 bulan sepeninggal ibunya, ayah David memutuskan menikahi pimpinan rumah sakit tempat ibu David pernah dirawat. Seorang perempuan bernama Rose, yang telah hamil lebih dahulu (tidak terdengar untuk konsumsi kanak-kanak kan?). Saat itu November 1939, perang siap merebak, tentara Hitler telah melintasi Eropa, banyak orang meninggalkan London menghindari perang. Tak lama lagi pesawat pengebom akan mampir di langit London, menghujani kota di bawahnya. Selang 6 bulan kemudian (tahun 1940), Rose melahirkan Georgie. Keluarga ini pun pindah ke barat laut London, mendiami sebuah rumah tua warisan kakek dan nenek Rose. David mendapatkan sebuah kamar penuh buku dan rak buku, bekas kamar Jonathan Tulvey, paman Rose yang hilang pada usia 14 tahun bersama seorang anak perempuan benama Anna. Dari Rose -kendati mereka sulit akur, David mengetahui jika Jonathan suka melahap buku seperti dirinya. Akan tetapi, akibat membaca, Jonathan menjadi takut serigala dan acap bermimpi dikejar-kejar serigala dari buku yang dibacanya.
Sementara itu, sejak pingsan di Trafalgar Square pada pertemuan perdana dengan Rose, David bisa mendengar suara-suara di kepalanya. Menyusul suara-suara itu, berbagai citra tentang dunia yang tidak ia kenal menyerbu ingatannya. Kemudian, setelah menghuni kamar Jonathan Tulvey, ia bisa mendengar buku-buku bersuara. Dan dalam mimpinya, seorang lelaki bungkuk berwajah panjang menyatroninya. Pada salah satu mimpi, si Lelaki Bungkuk berkata: "Kami menunggu. Selamat datang, Yang Mulia. Beri hormat pada raja yang baru!"
Semuanya keanehan itu terus mengusik David hingga suatu malam, ia terjaga dari tidur, keluar dari kamar, bertepatan dengan bom berjumpalitan dari pesawat pengebom di dekat rumahnya. Di kebun cekung, ia berlindung di lubang tembok. Seketikaia masuk ke sebuah hutan, menyeberang ke dunia lain yang telah mengusiknya sejak pingsan di Trafalgar Square. Manusia pertama yang dijumpainya adalah Tukang Kayu yang kebetulan baru memenggal leher sesosok Loup –manusia serigala.
Dunia lain yang diseberangi David adalah sebuah kerajaan yang sedang mengalami perubahan. Raja tua yang sudah lama memerintah tidak bisa mengendalikan kerajaannya lagi. Kaum Loup dan simpatisannya (serigala-serigala) bermaksud melakukan kudeta; menegakkan pemerintahan baru. Si Tukang Kayu ingin memulangkan David ke dunianya, Inggris. Sayangnya kejahilan si Lelaki Bungkuk –si penjelajah mimpi David, membuat David tidak bisa pulang. Diduga, Raja tahu alasan tindakan Lelaki Bungkuk dan bisa membantu David. Raja memiliki Kitab Tentang yang Telah Hilang yang telah menolongnya melewati masa-masa sulit dan penuh keraguan. Mungkin kitab itu memuat petunjuk bagi David untuk pulang.
Kendati jalan menuju kastil tidak gampang ditempuh, Tukang Kayu siap menolong David menunju singgasana Raja. Serigala-serigala semakin banyak, semakin berani, semakin cerdas, semakin sulit dibunuh. Di bawah kepemimpinan Loup bernamaLeroi, para serigala menguntit dan menghalang-halangi perjalanan David. Mereka berhasil memepet David dan si Tukang Kayu di jembatan yang dijaga troll. David lolos, tetapi si Tukang Kayu terkepung serigala. Perjalanannya berlanjut, dan tanpa disadarinya Lelaki Bungkuk mengiringi perjalanannya.
Maka, bertemulah David dengan tujuh kurcaci yang hidup dalam penindasan Snow-White; seorang pemburu perempuan yang ingin menjadi centaur; penunggang kuda putih bernama Roland yang sedang mencari sahabatnya yang hilang; tidak semuanya membantu memuluskan perjalanan David. Setelah Roland menemukan sahabatnya, David melanjutkan perjalanan. Ia tiba dikastil kerajaan, tidak mengetahui Kaum Loup menyusul di belakangnya, siap menggulingkan kekuasaan Raja.
Apakah David akan mendapatkan jalan pulang dari Kitab Tentang Yang Telah Hilang setelah meretas perjalanan panjang penuh marabahaya? Jawabannya terdapat pada bagian-bagian pamungkas novel. Namun sejatinya, kitab itu bukanlah hal paling krusial yang ditemukannya di kastil Raja. Sebab di sana, David akan menemukan jawaban semua misteri yang pernah ia dengar, ia alami, dan ia pertanyakan. Jawaban-jawaban yang akan mencelikkan mata David ihwal bagaimana seharusnya menyikapi orang-orang terdekat, yang ada di sekitarnya.
Menurut saya, novel ini adalah novel pendewasaan diri. "Kau masih anak kecil waktu pertama kali kutemukan, tapi sekarang kau telah menjadi orang dewasa," kata salah satu karakter yang ditemui David menjelang novel usai. Memang, tidak gampang menjadi orang dewasa. Berbagai tantangan yang lebih berat akan harus dihadapi. Perjalanan penuh marabahaya yang disusur David adalah proses pendewasaan dirinya, mengalihkannya dari amarah, iri, dan keangkuhan. Kita akan menemukan jika pada akhir perjalanan David benar-benar berhasil mendewasakan diri meski tidak otomatis dibarengi kematangan raga. David, seperti halnya si Raja, memiliki 'Kitab Tentang Yang Telah Hilang' sendiri. Namun, dengan akhir yang jauh berbeda
Jujur, saya suka baca buku ini. Bukan sekedar karena kesadaran Connolly akan manfaat dongeng lalu melekatkan edukasi di tubuh novelnya dengan pas. Tetapi, Connolly, yang dalam karier kepengarangannya telah mendapatkan penghargaan Shamus Award (2000) dan Barry Award (2003), memang narator lihai. Ia telah menghasilkan karya dalam berbagai genre: horor, detektif, sci-fi, dan drama. Novel ini menambah wilayah penulisannya, cerita fantasi yang imajinatif, nakal, dan kocak.
Negeri tempat David terlontar dari Inggris adalah sebuah negeri tempat tokoh-tokoh dongeng tradisional diolok-olok. Alhasil, kita akan digelitik untuk tertawa. Little Red Riding Hood yang lugu bertindak sebagai perempuan penggoda. Ia berhasil 'bercampur' dengan serigala dan melahirkan generasi pertama kaum Loup. Snow-White malihrupa perempuan rakus menyebalkan yang menindas para kurcaci. Para kurcaci (sebenarnya ada 8, tetapi salah satunya telah dijauhi yang lain karena telah menjadi kapitalis) mencoba meracuninya dengan apel, tetapi dosis racunnya kurang sehingga kecupan pangeran sialan segera membangunkannya. Sleeping Beauty yang tinggal di kastil yang berpindah-pindah seiring gerak perputaran bulan; dikutuk bukan untuk tidur, tetapi menjadi pembunuh. Belum lagi Rumpelstiltskin, si katai yang bisa meng-emas-kan jerami, menjadi si Lelaki Bungkuk pemakan jantung anak-anak. Atau kehidupan Hansel dan Gretel dengan akhir yang tidak menggembirakan.
Novel yang membuat saya mengingat masa-masa meninggalkan periode kanak-kanak ini kabarnya akan diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Irlandia, John Moore. Entah kapan filmnya bisa beredar. Jadi, sebagai pemanasan, tidak rugi membaca novelnya dulu. Anda mungkin akan dibenturkan pada sebuah pertanyaan: kapan "The Book of Lost Things" Anda ditulis? Jangan-jangan, belum pernah ditulis sama sekali. Hehehe.
Faruk Darvinoglu,
seorang ahli ensiklopedi Turki, pada tahun 1982, menemukan sebuah buku
dari abad 17. Buku bersampul indah berwarna biru terang dengan
kaligrafi yang cemerlang, diberi judul "Anak Tiri Si Pembuat Selimut"
yang ditorehkan di halaman pertama, mengusik rasa penasaran Darvinoglu.
Ketika usahanya menuliskan buku ini dalam ensiklopedi gagal, ia
memutuskan menulis kembali apa yang ia baca menggunakan bahasa Turki
modern dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Buku yang oleh penerbitnya
diberi judul The White Castle ini, dipersembahkannya untuk saudara perempuannya, Nilgun Darvinoglu.
Apa yang saya sampaikan di atas merupakan "pengantar" novel ketiga karya penulis Turki paling kondang, Ferit Orhan Pamuk. Novel berjudul asli Beyaz Kale ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Turki pada tahun 1985 dan telah memenangkan Independent Award for Foregin Fiction tahun 1990. Sebelumnya Pamuk telah menerbitkan Sessiz Ev (The Silent House, 1982) dan Karanlijk ve Iþýk (Darkness and Light, 1974). Berkat The White Castle, yang merupakan karya pertama Pamuk bereksperimen menggunakan teknik postmodern (sebelumnya ia menulis dengan teknik natural), The New York Times Book Review, menyebutnya "bintang baru yang telah terbit di Timur".
Setelah
pengantar yang misterius, pembaca digiring pada kehidupan seorang budak
terpelajar asal Venesia (Italia). Si budak hidup di Kesultanan Ottoman
pada masa pemerintahan Mehmet IV, sultan yang gemar berburu kelinci,
sejak sang sultan masih kanak-kanak hingga dewasa.
Kisah
si Budak (sebut saja seperti itu, karena hingga novel usai, kita tidak
akan menemukan namanya) dimulai ketika kapal yang ditumpanginya, yang
sedang berlayar dari Venesia menuju Napoli, takluk diserang armada
Turki. Mujur ia tidak dibunuh. Sebab, si kutu buku Venesia, dengan buku
anatomi di tangannya, mengaku sebagai dokter. Meski ia dibawa ke
Istanbul sebagai tawanan, dan dijebloskan ke dalam penjara milik Sadik
Pasha, kemampuannya di bidang medis, membuat hidupnya lebih baik dari
tawanan lain. Ia bahkan bisa mendapatkan uang dari kecakapan medisnya
dan berupaya belajar bahasa Turki.
Setelah
berhasil memulihkan Sadik Pasha yang terserang batuk dan sesak napas,
si Budak mengira dirinya akan dibebaskan. Tetapi ternyata, pasha tidak
berniat membebaskannya. Hingga suatu pagi, ia dipanggil ke istana
pasha. Pasha tengah mempersiapkan pesta pernikahan anaknya. Untuk
memeriahkan acara, pasha menginginkan pertunjukan kembang api yang
istimewa. Maka, si Budak disuruh berkolaborasi dengan seorang guru
sekolah dasar, yang lebih suka dipanggil Hoja (artinya: guru)
Sesungguhnya,
bekerja sama dengan Hoja bukanlah hal yang menakutkan bagi si Budak.
Pasha menjanjikan hadiah untuk pekerjaan mereka dan kebebasan dirinya
mungkin bisa menjadi hadiah. Namun, saat bertemu Hoja, ia ketakutan.
Sebab, meski Hoja berjanggut, mereka memiliki kemiripan wajah, bagaikan
kembar. Si Budak sangat meyakini kemiripan mereka, meski Hoja bersikap
seolah-olah tidak menyadarinya.
Sayangnya
meski pertunjukan kembang api itu sukses, si Budak tetap tidak
memperoleh kebebasan. Sewaktu pasha memanggilnya lagi, harapan
mendapatkan kebebasan bersemi.Harapan itu
membeku karena pasha memintanya membuang agamanya dan menjadi Muslim,
jika ia ingin dibebaskan. Penampikannya membawanya berhadapan dengan
hukuman mati.
Untunglah,
atas bantuan Hoja, hukuman mati diurungkan. Ia tetap sebagai budak dan
dihadiahkan kepada Hoja. Hanya Hoja yang bisa membebaskannya, jika Hoja
mau. Begitu menjadi budak Hoja, si Budak harus mentransferkan semua
yang diketahuinya, dari astronomi hingga kedokteran, ke dalam otak
Hoja. Dalam waktu 6 bulan, Hoja berhasil menguras otak si Budak. Ia
bermetamorfosis menjadi orang yang penuh gagasan, dan memaksa si Budak
membantu mewujudkan gagasannya. Termasuk gagasan menghasilkan teori
baru untuk menentang pemikiran Ptolemeus, arus Bhosporus, pembuatan jam
salat dengan ketepatan waktu yang sangat tinggi. Malangnya, Sadik
Pasha, yang diharapkan akan menjadi batu loncatan kegeniusannya, tidak
memberikan respons positif. Ketika Hoja mencoba memperoleh dukungan
sultan, ia juga tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Sultan hanya
lebih suka membicarakan koleksi singanya dan ramalan kesehatan
peliharaannya itu.
Ramalan
Hoja mengenai kesehatan singa, disusul jumlah anak singa yang akan
dilahirkan, juga keselamatan sultan dari upaya pembunuhan, membuat
sultan mengandalkan kemampuan meramalnya. Sebuah kehormatan bagi Hoja,
tetapi tetap tidak membuatnya bahagia.
Si
Budak menyaksikan hari demi hari tuannya frustrasi dan kehilangan rasa
percaya diri lalu bingung dengan dirinya sendiri. Si Budak menuduh Hoja
tidak cukup berani menemukan siapa dirinya. Ia pun dihukum Hoja. Ia
harusmenuliskan kisah kehidupan di masa
lalunya. Namun si Budak tidak bodoh. Ia berhasil memaksa Hoja untuk
menuliskan masa lalunya juga. Tak pelak lagi, kedua belah pihak saling
mengetahui pengalaman hidup sebelum mereka bertemu di Istanbul.
Kehidupan
Hoja dan budaknya berlanjut melewati momen epidemi yang berkecamuk,
perselisihan di antara mereka, diangkatnya Hoja sebagai Peramal Istana,
dan kerja sama menafsirkan mimpi setiap pagi. Hubungan di antara mereka
mencapai puncak saat mereka membuat senjata yang akan digunakan
menyerang Polandia. Sultan ingin Istana Doppio, istana putih cantik
milik musuh, jatuh ke tangan Turki. Sayangnya, kali ini, Hoja dan
budaknya gagal. Kegagalan mereka membuat kehidupan mereka terancam,
terutama si Budak. Keduanya pun mengambil keputusan. Bertukar
identitas. Lalu, dengan identitas si Venesia, Hoja meninggalkan Turki.
The White Castle adalah novel
pertama Pamuk yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi
novel kedua yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit
Serambi. Sebelumnya penerbit yang sama telah menerbitkan novel keenam
Pamuk, Benim Adým Kýrmýzý (My Name is Red, 2006). Hingga saat ini, peraih Nobel Sastra tahun 2006 ini telah menulis 8 novel.Masumiyet Müzesi (The Museum of Innocence) adalah novel kedelapan Pamuk yang telah diterbitkan dalam bahasa Turki Agustus 2008.
Meski
disebut-sebut sebagai novel historis, sebenarnya latar historis hanya
dipinjam Pamuk sebagai 'lahan bermain' karakter-karakter fiktifnya.
Baik Hoja maupun si Venesia bukanlah tokoh historis yang pernah eksis.
Belum lagi, seperti pengakuan Faruk Darvinoglu (dalam bab Pengantar),
berbagai peristiwa yang dikisahkan dalam naskah temuannya ini sama
sekali tidak sama dengan fakta yang ada. Menurutnya, pada masa
pemerintahan Wazir Agung, tidak ada bukti ihwal epidemi seperti dalam
buku ini. Ia juga menemukan berbagai kesalahan penulisan nama wazir
serta ketidaksamaan nama peramal istana dengan catatan istana.
Membaca novel ini kita
dituntut menjadi pembaca yang cermat. Misalnya untuk nama penulis
naskah yang ditulis ulang Faruk Darvinoglu ini. Darvinoglu telah
mencoba menyelidiki jati diri sang penulis. Ia sendiri bingung dan
hanya tahu jika nama sang penulis diungkapkan di dalam buku. Bab
11 yang menjadi pamungkas novel memberikan jawaban identitas penulis
buku ini. Jika kita cermat, kita akan tahu, sesungguhnya, judul yang
ditambahkan -Anak Tiri Si Pembuat Selimut, mengarah kepada si penulis
cerita yang adalah anak tiri seorang lelaki pembuat selimut. Orang
tersebut tidak lain adalah Abdullah Efendi, alias Hoja sendiri. Dalam
naskah kita akan menemukan jika si guru SD itu lebih suka dipanggil Hoja karena "tidak suka diberi nama yang sama dengan nama kakeknya" (hlm.
38). Dan ketika membaca lebih lanjut lagi, disebutkan jika kakek Hoja
bernama Abdullah Efendi (hlm. 144). Jadi, siapa lagi, nama asli Hoja,
sang penulis buku?
Dalam
bab 11, sebagai penutup -yang ditambahkan 16 tahun setelah bab 10
ditulis, pembaca juga akan disadarkan jika akhir kisah Hoja dan si
Budak pada bab 10, hanya sekadar imajinasi Abdullah Efendi, mantan
peramal istana. Sang penulis termotivasi oleh pertukaran identitas
antara dua orang berwajah mirip. Seperti tulisnya, "Jika
kita hanya mencari ke dalam diri sendiri, menghabiskan waktu lama dan
bekerja keras memikirkan diri sendiri kita tidak akan pernah bahagia.
Inilah yang terjadi pada berbagai tokoh dalam ceritaku: karena inilah
para pahlawan tidak pernah puas menjadi dirinya sendiri, karena inilah
mereka selalu ingin menjadi orang lain. Marilah kita berandai-andai
bahwa ceritaku itu memang nyata. Apakah aku yakin bahwa kedua orang
lelaki yang saling menjalani kehidupan kembarannya itu bisa hidup
bahagia dalam kehidupan barunya?" (hlm. 285).
Dalam menggelontorkan ceritanya, Pamuk menghadirkan The White Castle
sebagai novel yang sangat miskin dialog. Padahal salah satu elemen yang
sering membuat sebuah karya fiksi menjadi enak dibaca adalah dialog.
Apalagi jika dialognya diolah dengan cerdas dan memikat. Selain itu,
Pamuk merangkai kalimat-kalimat panjang, yang dalam edisi Indonesia,
boleh dibilang sangat panjang. Terkadang, satu paragraf memakan tempat
lebih dari satu halaman, bermuatan pemikiran yang bersengkarut dengan
isi cerita. Alhasil, novel ini menjadi karya yang tidak gampang
dicerna. Terjemahan dan penyuntingan edisi Indonesia memang boleh
dikatakan mulus. Tetapi, tetap membutuhkan kesabaran (dan konsentrasi)
untuk menghabiskan kisah yang mayoritas hanya berpusar di antara dua
orang. Padahal novel ini tidak setebal karya Pamuk yang lain, My Name is Red.
Judul Buku : Cecilia dan Malaikat Ariel – Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi Diterjemahkan dari : Through a Glass, Darkly Penulis: Jostein Gaarder (1999) Penerjemah: Andityas Prabantoro Terbit: Cetakan 1, Desember 2008 Tebal: 211 hlm Penerbit: Mizan
PERJUMPAAN LANGKA SURGA DAN BUMI
"Tuhan tidak sampai hati mematikan anak-anak dalam proses penciptaan. Lebih baik mereka tumbuh dewasa dulu. Lebih gampang mengucapkan selamat tinggal kepada dunia saat kau punya setengah lusin cucu dan kau merasa cukup capek dan mengantuk serta jenuh dengan hari-hari"
"Anak-anak kadang-kadang mati. Itu tolol, kan?"
Kutipan di atas merupakan bagian percakapan yang saya petik dari novel berjudul Cecilia dan Malaikat Ariel terbitan Mizan. Novel ini diterjemahkan dari versi Inggris (Through a Glass, Darkly) yang berjudul asli I et speil, i en gåte(1993). Merupakan salah satu karya penulis terkenal dari Norwegia, Jostein Gaarder. Penulis kelahiran Oslo 8 Agustus 1952 ini antara lain telah menghasilkan (saya sebut yang sudah saya baca sampai tulisan ini dibuat) Sophie's World, The Solitaire Mystery, The Christmas Mystery, Vita Brevis, Maya, The Ringmaster's Daughter, dan The Orange Girl. Nah, kalimat yang saya petik di atas merupakan ucapan penting di antara percakapan panjang malaikat Ariel dengan seorang gadis cilik bernama Cecilia Skotbu. Percakapan di antara mereka berawal pada malam Natal, ketika Cecilia tidur sendiri di lantai atas rumahnya.
Bagi Cecilia, malam Natal tahun ini bukanlah momen yang menyenangkan. Ia sakit kanker dan mesti menjalani kemoterapi yang merontokkan rambutnya. Ia tidak bisa makan dengan enak, lebih banyak berbaring di tempat tidur, membaca majalah Science Illustrated, menghitung cincin-cincin di rel gorden dan kembang-kembang forget-me-not di gorden. Ia berbaring sambil 'melihat' dengan telinganya Natal datang dan keluarganya dibuat sibuk. Ia tidak bisa mengayunkan kaki ke lantai bawah, untuk berdiri di pintu depan mendengarkan lonceng Natal. Ia "benar-benar sakit sampai-sampai Natal terasa bak segenggam pasir yang berguguran dari sela-sela jarinya saat ia tertidur atau setengah tertidur" (h. 12). Sakit membuat emosinya mudah tersulut. Kemarahannya dijelmakan dalam tuntutan hadiah Natal berupa papan ski, sepatu skate, dan toboggan (kereta luncur salju). Padahal ia tidak mungkin bermain ski musim dingin. "Pasti Tuhan tidak mengerti alangkah konyol rasanya sakit pada malam Natal," keluhnya (hlm. 94).
Tengah malam ia terjaga, dan sesosok tampak di pelupuk matanya, duduk di tepi jendela, mengenakan jubah putih panjang, telanjang kaki, tanpa sehelai rambut pun di kepala, mata biru cemerlang bak safir. Sosok itu adalah Ariel, malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk menjadi malaikat pendamping Cecilia. Lebih dari 100 tahun lalu, Ariel telah menjadi pendamping seorang anak kecil yang sakit keras. Namun karena masih kecil, Albert tidak bisa berkomunikasi dengan Ariel. Dengan Cecilia berbeda, Ariel mesti menampakkan diri, sebab tujuan kedatangannya adalah untuk menghibur Cecilia. Cecilia adalah seorang anak perempuan yang cerdas, bacaan yang dibacanya membuat ia berbeda dengan kebanyakan anak.
"Ini adalah pertemuan langka antara surga dan Bumi. Aku semestinya memberitahumu banyak sekali rahasia menakjubkan tentang surga. Itu jika kau memberitahu-ku bagaima rasanya terbuat dari darah dan daging." (hlm. 86 – 87) Ariel mengajukan penawaran. Maka, mengalirlah percakapan di antara dua makhluk Tuhan itu. Tentang bagaimana rasanya menjadi malaikat yang abadi dengan segala 'ke-tidak-an' yang dimiliki (seperti, tidak tumbuh, tidak makan, tidak kedinginan, dan tidak bermimpi indah). Tentang malaikat yang menari balet di bulan, bermain lompat-lompatan dari asteroid ke asteroid, dan duduk di atas komet. Tentang bagaimana rasanya menjadi manusia dengan darah dan daging, dewasa dan anak-anak. Tentang indra yang dimiliki manusia. Tentang harapan akan adanya 3 jenis kelamin di dunia (dan tidak hanya 2).
Percakapan mereka berlanjut setelah Natal lewat dan salju belum tandas. Sembari bercakap-cakap, mereka bahkan meninggalkan kamar Cecilia. Tidak sekedar merasakan dinginnya bola salju, tetapi juga melihat bulan di atas salju, bermain ski dan meluncur dengan toboggan. Kemudian setelah itu, tugas Ariel pun berakhir.
Seperti dalam beberapa novelnya, dalam novel yang telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa ini Gaarder memberikan peran utama kepada anak-anak. Cecilia, yang diciptakannya kali ini, adalah pribadi kanak-kanak yang unik, cerdas, dan kritis. Ariel, sang malaikat, sering terheran-heran mendapati kecerdasan Cecilia yang seharusnya dituntunnya untuk menghadapi realitas hidupnya. Cecilia bukan hanya kritis merespons ucapan si malaikat, tetapi kerap juga menantang dan mengejeknya. Alhasil, novel ini tidak sekadar menjelma novel mengharukan, tetapi juga jenaka. Hanya, seperti dalam Sophie's World, pada titik tertentu, tanya-jawab mereka menjurus membosankan karena terlalu menjalar dan diulang-ulang. Memang ada hal-hal yang bisa membuat pembaca termenung untuk berpikir. Tetapi tujuan kehadiran Ariel untuk mempersiapkan Cecilia 'terbang' ke surga, membuat Cecilia bisa melihat ke balik 'cermin', menjadi kurang terasa. Apalagi Cecilia bukan anak yang gampang dipengaruhi. Ia berani berpendapat dan tidak mudah dipatahkan dengan argumentasi.
Bagi pembaca yang merindukan kekayaan plot, mungkin saja akan kurang menikmati novel ini. Novel alit ini memang miskin plot karena dalam kelangsingannya porsi terbesarnya diambil oleh percakapan Cecilia dan Ariel. Dari percakapan mereka pembaca tidak akan menemukan guliran plot, tetapi taburan filsafat, yang merupakan curahan gagasan Gaarder tentang manusia, Tuhan, malaikat, dan surga. Novel ini memang tidak termasuk jenis fiksi pada umumnya. Tetapi, sama sekali, bukan tidak menarik. Sebab Gaarder juga mahir merajut kalimat indah dan puitis. Mari saya kutipkan kalimat dari Diari Cina, catatan harian Cecilia, yang ditulisnya sehubungan dengan kalung mutiara yang diwariskan neneknya.
"Saat ajal menjemputku nanti, untai mutiara halus keperakan ini akan terberai dan butir-butir mutiara akan terserak, bergulir melintasi negeri ini, dan berlari pulang ke ibu-ibu mereka, tiram-tiram di dasar laut. Siapa yang akan menyelam untuk memungut mutiara-mutiara? Siapa yang akan tahu bahwa mereka adalah milikku? Siapa yang akan mampu menebak bahwa pernah suatu ketika, seluruh dunia bergantung menghias leherku?" (hlm. 121).
Novel suami Siri Damnevig ini telah difilmkan dan dirilis di Norwegia 17 Oktober 2008. Filmnya disutradarai oleh Jesper W. Nielsen dengan Marie Haagenrud sebagai Cecilia, Aksel Hennie sebagai Ariel, dan Liv Ullman sebagai nenek. Liv Ullman, aktris legendaris Norwegia itu, memberi komentar, "Kisah ini membuat saya menangis bahagia. Saya bangga menjadi bagian darinya."
Judul Buku: Life On the Refrigerator Door (Kehidupan di Pintu Kulkas) Penulis: Alice Kuipers Penerjemah : Rosi L. Simamora Tebal : 240 hlm; 13, 5 X 20 cm Terbit: Cetakan 1, November 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
KEHIDUPAN DI PINTU KULKAS
Saat aku memandangmu Aku tahu aku ingin jadi sepertimu Kuat dan berani Cantik dan bebas
Claire P. S. I Love you (hlm. 162)
Sebuah karya fiksi bisa saja bertemakan hal-hal yang sederhana dan sudah sering digarap oleh banyak pengarang. Untuk itu, penulis mesti mencari cara agar karyanya tidak terpuruk menjadi karya basi yang membosankan dibaca. Salah satu cara adalah dengan menuliskan karyanya menggunakan media penceritaan yang unik. Sebut saja Meg Cabot (The Guy Next Door, Boys Meet Girls) yang menulis menggunakan e-mail. Atau Sonya Sones (One of Those Hideous books Where the Mother Dies) yang menggunakan puisi.
Alice Kuipers menggunakan pesan-pesan yang ditulis pada kertas yang disematkan di pintu kulkas untuk menggelar isi novel berjudul Life on the Refrigerator Door. Novel yang diindonesiakan sebagai Kehidupan di Pintu Kulkas ini adalah karya perdana istri penulis novel Life of Pi, Yann Martel.
Untuk mengalirkan ceritanya menggunakan media yang dipilihnya, perempuan kelahiran London tahun 1979 ini membagi ceritanya ke dalam 5 bagian: Januari (Saat aku memandangmu), Maret (Aku tahu aku ingin jadi sepertimu), Juni (Kuat dan Berani), September (Cantik dan Bebas), dan P.S ( I Love you). Masing-masing judul bab merupakan bagian pesan yang ditulis Claire (hlm. 162). Sebagian besar pesan dalam novel adalah tulisan yang singkat sehingga terkesan enteng dan tidak melelahkan dibaca. Bahkan, sekali duduk Anda bisa menuntaskan novel ini.
Kuipers menghidupkan seorang gadis remaja bernama Claire yang sedang senang-senangnya bergaul dan membina hubungan dengan remaja lelaki. Ketika cerita dimulai, Claire berusia 15 tahun dan saat cerita berakhir ia hampir berusia 17 tahun. Claire sering tidak berada di rumah karena harus bersekolah, bergaul dengan teman, babysit untuk mendapatkan sedikit uang, dan pacaran.
Ibu Claire sendiri, Mom, seorang dokter. Ia sangat mencintai pekerjaannya membantu perempuan-perempuan bersalin. Dan saking sibuknya, ia pun jarang berada di rumah.
Claire dan Mom tinggal serumah (Mom telah bercerai dengan Dad) tetapi sangat jarang bisa bersua dan berkomunikasi. Jika kebetulan sama-sama berada di rumah, waktunya singkat sehingga mereka tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan santai, layaknya orangtua dan anak-anak. Bahkan, untuk mendapatkan uang saku dari ibunya, Claire tidak pernah menerima langsung dari tangan sang ibu. Kadang mereka bersitegang, dan hanya bisa menyelesaikan masalah melalui pesan-pesan di atas kertas di pintu kulkas. Boleh dikata, hampir semua komunikasi di antara mereka terjadi hanya melalui pesan-pesan tersebut.
Keadaan miris seperti ini seolah-olah akan berlangsung selamanya. Meski Claire mengetahui ibunya tidak akan selamanya berada di sisinya, ia tidak sanggup menggiring komunikasi dengan ibunya ke aras yang berkualitas. Sampai suatu hari, Claire tidak mendapatkan lagi pesan ibunya di pintu kulkas. Ada apa dengan ibu Claire?
Alice Kuipers
Apa yang terjadi di antara Claire dan Mom bukanlah hal yang aneh saat ini. Kehidupan modern yang sarat aktivitas dan menyita waktu sering merenggangkan ikatan batin orangtua dan anak-anak. Sebab, tidak ada cukup waktu untuk bicara, tidak ada cukup waktu untuk bertemu, dalam suasana mesra. Telepon genggam (HP) sering menjadi sarana tetapi tidak seefektif komunikasi yang langsung, muka dengan muka, mata dengan mata, dan hati dengan hati.
Dengan novelnya yang sederhana tetapi sungguh menyentuh hati ini, penulis yang sekarang tinggal bersama suaminya di Saskatoon (Kanada), mau mengingatkan kita akan pentingnya komunikasi yang baik, yang kerap, yang berlangsung muka dengan muka, yang mesra, untuk mengukuhkan hubungan orangtua dan anak. Karena bisa saja sesuatu terjadi, kematian misalnya, dan kita tidak punya kuasa mengembalikan masa-masa yang telah lewat, masa-masa bersama yang berkualitas dengan orang yang sesungguhnya kita sayangi, masa-masa yang mungkin akhirnya akan kita sesali karena tidak bisa diulang kembali.
Maka, simaklah puisi karya Claire, berisi kerinduannya yang dalam akan kebersamaan dengan bundanya, yang saya kutipkan buat Anda di bawah ini.
Saat jalan menikung Kita akan menyusurinya bersama Membelok Berpegangan Satu sama lain, seperti ibu Kepada anak perempuan Kepada ibu (hlm. 198)