<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< February 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 08, 2008
A THOUSAND SPLENDID SUNS




Judul Buku   : A Thousand Splendid Suns
Penulis         : Khaled Hosseini
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Penyunting   : Andhy Romdani
Cetakan        : 1, November 2007
Tebal            : 516 hlm; 20,5 cm
Penerbit       : Mizan Pustaka


KISAH SEDIH DARI BALIK BURQA

 
One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls

(Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar
di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembuyi di balik dinding)

 

Kalimat di atas adalah nukilan puisi berjudul "Kabul", hasil terjemahan Dr. Josephine Barry Davis dari karya pujangga Persia, Saib-e-Tabrizi (1601-1677) yang menjadi sumber judul novel kedua Khaled Hosseini ini. Puisi ini menceritakan tentang keindahan Kabul, ibu kota Afghanistan, sebelum ratusan tahun kemudian dirusak badai konflik berkepanjangan. Kabul yang dirundung peperangan itulah yang menjadi seting utama kisah dalam novel Hosseini yang diindonesiakan oleh Berliani Nugrahani (yang sebelumnya telah menerjemahkan The Kite Runner, karya perdana Hosseini) dan diterbitkan PT Mizan Pustaka.

Penggunaan seting yang sama oleh lelaki kelahiran Kabul 4 Maret 1965 yang pada tahun 2006 dianugerahi penghargaan Humanitarian Award dari United Nations Refugee Agency, bisa dimengerti. Hosseini berdarah Afghanistan dan dapat dipastikan sangat mengetahui seluk beluk Afghanistan. Meski, dari riwayat hidupnya bisa diketahui Hosseini tidak mengalami penderitaan panjang yang dialami masyarakat kebanyakan Afghanistan. Keluarga Hosseini sedang berada di Paris ketika Afghanistan jatuh dalam pendudukan Soviet. Mereka mendapatkan suaka politik dari pemerintah AS dan menetap di San Jose, California.

Jika dalam The Kite Runner (2003) Hosseini menciptakan kisah yang berporos pada kehidupan ayah dan anak laki-lakinya serta persahabatan antara dua laki-laki, kali ini dia menggunakan kehidupan ibu dan anak perempuan serta persahabatan di antara dua perempuan. Ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab A Thousand Splendid Suns memiliki cita rasa yang berbeda dengan The Kite Runner, kendati kisahnya sama-sama dilarung di lautan konflik Afghanistan.

Untuk kepentingan novel yang awalnya bertajuk Dreaming in Titanic City ini, sarjana biologi dan dokter lulusan San Diego School of Medicine yang sepanjang tahun 2006 terpilih sebagai duta besar keliling untuk UNHCR (organisasi PBB yang menangani masalah pengungsi), ketika berkeliling Afghanistan dalam tugasnya, meraup pengalaman kehidupan perempuan Afghanistan yang sarat penderitaan. Maka, dari balik burqa, pakaian wajib perempuan Afghanistan sesuai kehendak rezim yang berkuasa, lahirlah kisah dua perempuan yang berdarah-darah dan bersimbah air mata. Terasa 'sarat rempah' dibanding kisah dalam The Kite Runner.


Khaled Hosseini

Mariam, perempuan pertama yang penderitaannya disodorkan Hosseini, adalah anak haram (harami) seorang pembantu (Nana) dengan Jalil Khan, majikannya yang kaya raya di Herat, sekitar 650 km sebelah barat Kabul. Sebagai seorang harami, Mariam ditolak di rumah Jalil karena keberadaannya mengancam nama baik keluarga. Tetapi di kolba (pondok) Nana, kehadiran Mariam juga tidak bisa diterima dengan cinta. Sejak awal, Mariam yang tidak berpendidikan sudah didapuk sebagai perempuan menderita. Hanya rahim seorang perempuan epilepsi yang bersedia melindunginya.

Meski Nana bersikeras menciptakan jarak antara Mariam dari Jalil, Mariam tetap teguh menarik perhatian ayah biologisnya. Keteguhan hati si kecil Mariam mesti ditebus dengan mahal. Ibunya bunuh diri dan Mariam disingkirkan dari Herat oleh keluarga Jalil. Mariam dikawinkan dengan laki-laki berusia sekitar 3 kali lipat usianya, seorang tukang sepatu terkenal di Kabul yang ditinggal mati istri dan anaknya.

Di Deh-Mazang, bagian barat daya Kabul, Mariam dipaksa untuk menyaksikan realisasi perkataan ibunya bahwa,  "Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan." (hlm. 20). Setelah berulang gagal memberikan anak untuk Rasheed, sang suami memperlakukannya secara semena-mena. Sebagai contoh, Rasheed memerintah Mariam mengunyah segenggam kerikil gara-gara nasi yang ditanaknya tidak sesuai keinginan Rasheed (hlm. 133-134).

Mariam merasa penderitaannya akan bertambah ketika seorang gadis terpelajar bernama Laila, tanpa sengaja, memasuki kehidupan keluarganya. Remaja yang menjadi korban serangan roket itu ditolong Rasheed dari reruntuhan bangunan rumahnya. Ia menjadi yatim piatu dalam satu hari, saat hendak meninggalkan Kabul, sementara 2 abangnya telah lebih dahulu tewas ketika berjihad melawan Soviet. Pertolongan Rasheed yang berpamrih berbuntut  pada terpenggalnya cinta Laila pada remaja buntung bernama Tariq yang telah menghamilinya. Laila menjadi istri muda Rasheed.

Kedua perempuan dari dua latar belakang berbeda itu menemukan dan merajut tali kasih dalam penderitaan yang dilecut suami mereka. Tali kasih yang erat membuat mereka berupaya menemukan seribu mentari surga yang terbenam dalam hidup mereka. Di ujung persahabatan indah dua perempuan Afghanistan ini, mereka menyadari betapa mahalnya semburat cahaya seribu mentari surga yang mereka dambakan.

Novel A Thousand Splendid Suns dibagi dalam 4 bagian dan 51 bab. Peritiswa-peristiwa dalam novel ini bergulir sejak tahun 1964 (saat Mariam berusia 5 tahun) hingga tahun 2003 (saat seribu mentari surga akhirnya bersinar dalam hati Laila). Bagian pertama terfokus pada kehidupan Mariam; bagian kedua menyorot kehidupan Laila; bagian ketiga asimilasi kehidupan kedua perempuan ini; bagian keempat hadir sebagai antiklimaks, bagian paling melegakan dalam novel ini.

Kisah dalam novel berlangsung seiring perguliran sejarah Afghanistan. Diawali dari sebuah kerajaan di bawah pemerintahan Zahir Shah, republik di tangan Daoud Khan, Republik Demokratis Afghanistan di bawah pimpinan Najibullah si boneka Soviet dan komunis, Negara Islam Afghanistan dalam rezim Mujahidin; rezim Taliban hingga terusirnya para Talib. Sejarah gelap Afghanistan ini dihiasi hujan roket, bom, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, penyiksaan, dan eksekusi yang seolah-olah tidak berkesudahan.

Hosseini melukiskan bagaimana perguliran sejarah Afghanistan membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan warga Afghanistan. Terutama dalam kehidupan kaum perempuannya. Jika tahun 1978 sampai 1992 perempuan Afghanistan mendapatkan kemerdekaan dan kesempatan untuk berkarya, sejak Mujahidin mengambil alih kekuasaan pada April 1992 dan mengubah Afghanistan menjadi Negara Islam Afghanistan, Mahkamah Agung di bawah kepemimpinan Rabbani yang beranggotakan mullah dari kalangan garis keras menolak kebijakan era komunis mengenai pemberdayaan perempuan. Mereka mengeluarkan undang-undang berdasarkan Syariah, hukum Islam yang keras. Perempuan diperintahkan untuk mengenakan burqa yang menutupi setiap jengkal tubuh mereka; tidak boleh melakukan perjalanan tanpa ditemani oleh kerabat pria dan terancam rajam jika melakukan zina; kabur dari rumah bahkan disahkan sebagai tindakan kriminal bagi mereka.

Setelah rezim Taliban, kehidupan perempuan Afghanistan bahkan lebih parah lagi. Jika laki-laki hanya dikenai keharusan memelihara janggut dan melaksanakan kewajiban umum seperti shalat; tidak boleh menyanyi, menari, bermain kartu, bermain catur, bermain layang-layang, menulis buku, menonton film, melukis; tidak memelihara burung parkit dan tidak mencuri; kaum perempuan selain kewajiban-kewajiban di atas (kecuali memelihara janggut), wajib tinggal di dalam rumah sepanjang waktu, jika terpaksa keluar rumah harus ditemani seorang muhrim laki-laki; dilarang menunjukkan wajah dalam situasi apa pun; wajib mengenakan burqa jika berada di luar rumah; dilarang mengenakan alat rias, perhiasan, pakaian yang indah; dilarang berbicara (kecuali diajak bicara), tertawa di tempat umum, melakukan kontak mata dengan pria, mengecat kuku; tidak boleh bersekolah; dilarang bekerja; hukuman rajam sampai tewas jika kedapatan berzina.

Hosseini menunjukkan betapa perempuan Afghanistan dipaksa menderita oleh desakan adat, agama, dan egoisme laki-laki. Mereka harus bertahan menghadapi situasi ini karena memang, "hanya ada satu keahlian yang harus dikuasai perempuan (Afghanistan), yaitu bertahan" (hlm. 33). Penderitaan dan bagaimana perempuan Afghanistan bertahan inilah yang menjadi modal utama Hosseini untuk menggerakkan ceritanya.

Karena perempuan menjadi fokus utama Hosseini, ceritanya menjadi terkesan 'sangat perempuan'. Hal ini mengindikasikan keberhasilan penulis, sebagai laki-laki, dalam mengolah dan mendedah perasaan perempuan. Hosseini mampu menggambarkan perasaan tokoh-tokohnya dengan sangat menyentuh, indah, sekaligus tragis. Hasilnya, sebuah kisah sedih yang bergulir dalam plot melodramatis khas sinetron. Coba simak perjalanan kehidupan Mariam, misalnya. Dari seorang harami, dipaksa kawin dengan laki-laki jauh lebih tua dari usianya oleh persekongkolan tiga istri ayahnya, ditindas suaminya, dimadu, dan terus menderita tak berkeputusan sampai penghujung hidupnya yang nyaris sia-sia, jika Laila dan kedua anaknya tidak hadir dalam hidupnya. Bagusnya, plot ala sinetron ini diuntai dalam sejarah pekat Afghanistan, sehingga kisahnya menjadi sangat relevan karena realistis.

Jalinan narasi yang indah dan dialog-dialog yang mengalir lancar menjadi kelebihan Hosseini yang lain. Terkadang dialog-dialog sangat menggetarkan hati, sangat emosional mengoyak perasaan. Antara lain saya sangat terkesan dengan dialog-dialog antara Mariam dan para Talib ketika para lelaki serban ini bersikap sok dalam menentukan hidup Mariam (hlm. 447-450). Bagusnya, untuk edisi Indonesia, kelebihan gaya penulisan internis dari Cedars-Sinai Medical Center Los Angeles ini disulihkan dalam bahasa Indonesia dengan baik oleh Berliani sebagai penerjemah. Penerjemah kelahiran Semarang 16 Mei 1981 yang juga telah menghasilkan karya terjemahan seperti Middlesex (Jeffery Eugenides), The Hidden Face of Iran (Terence Ward), dan Map of Bones (James Rollins) memang terbilang brilian dalam menangani pekerjaannya.

Sebagaimana The Kite Runner, Hosseini juga bermodalkan kisah 'cinta' segitiga yang mengundang petaka dalam A Thousand Splendid Suns. Jika dalam The Kite Runner ada 'cinta' segitiga Baba-Amir-Hasan; dalam A Thousand Splendid Suns, terdapat 'cinta' segitiga Rasheed-Mariam-Laila serta Laila-Rasheed-Tariq. Sama-sama menjadi sumbu pendek dalam kisah Afghanistan versi Hosseini.

Selain itu, dua novel ini sama-sama menyentil pengaruh seorang ayah yang menyebabkan konflik terbesar dalam hidup para karakter. Jika dalam The Kite Runner, cinta Baba yang membuat iri hati Amir sebagai penyebab konflik, dalam A Thousand Splendid Suns, cinta Jalil yang tidak leluasa membuat Mariam terpuruk dalam penderitaan yang tak berkesudahan.

Secara keseluruhan, novel yang pertama kali dirilis 22 Mei 2007 dan hak pembuatan filmnya dibeli Columbia Pictures ini sangat tidak mengecewakan. Selain membuka wawasan mengenai sejarah Afghanistan yang sebelumnya tidak terlalu komplit dikisahkan dalam The Kite Runner, juga bisa lebih memahami perjuangan perempuan Afghanistan bertahan hidup di dunia tempat mereka terpuruk atas nama adat, agama, dan egoisme laki-laki. Yang paling utama, agaknya Hosseini ingin dunia mengetahui kehidupan dan suara hati para perempuan Afghanistan dari balik burqa yang memagari kehidupan mereka, yang seperti laki-laki, juga manusia ciptaan Tuhan.

Saya tidak sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa A Thousand Splendid Suns lebih baik dari The Kite Runner. Bukan karena saya merasakan emosi yang lebih kuat ketika membaca The Kite Runner. Tetapi karena masing-masing memiliki kelebihan, mempunyai keindahan sendiri-sendiri.

Bagi para pembaca yang suka fiksi tragis bersimbah air mata yang ditulis dengan baik dan indah,  A Thousand Splendid Suns bisa menjadi pilihan yang sangat tepat.


Posted at 01:36 pm by Jody
Comments (3)  

Saturday, October 20, 2007
THE BARTIMAEUS TRILOGY

 

Judul : The Bartimaeus Trilogy
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2007


KETIKA MANTRA PEMBEBASAN DIRAPALKAN


Melalui Trilogi Bartimaeus, Jonathan Stroud, penulis kelahiran Bedford Inggris, 27 Oktober 1970, menciptakan dunia sihir yang berbeda dengan dunia sihir yang ada dalam karya-karya tentang penyihir lainnya, misalnya Harry Potter. Dalam dunia sihir kreasi Stroud, para penyihir adalah para penguasa, Inggris adalah kerajaan yang dikuasai, dan London adalah pusat pemerintahan. Untuk mempertahankan kekuasaan, para penyihir memanggil para demon dan memaksa mereka mematuhi segala perintah. Tanpa demon para penyihir sebenarnya tidak ada giginya. Kemampuan berkomunikasi dengan demon lah yang mengangkat para penyihir ke strata tinggi, sedangkan manusia yang disebut commoner, adalah kelas rendahan dan mesti tunduk di bawah kendali penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Hal ini tentu saja menimbulkan amarah commoner.

Dalam dunia fantasi ciptaan Stroud, para demon dipanggil dari sebuah tempat yang disebut Dunia Lain. Berdasarkan kekuatan yang dimiliki, dari yang lemah hingga kuat, berturut-turut demon memiliki hierarki sebagai berikut: sprite, imp, foliot, jin, afrit, dan marid. Di atas marid masih terdapat demon yang memiliki kekuatan lebih seperti Ramuthra atau Nouda. Para demon dipanggil dari dunia lain, sesuai kebutuhan. Terdapat berkompi-kompi jenis sprite yang lebih lemah dari imp, tapi penyihir tak berminat memanggil mereka. Sedangkan entitas di atas marid, dengan kekuatan yang luar biasa jarang berada di Bumi karena hanya sedikit penyihir yang berani memanggilnya. Para demon ini dipanggil secara khusus, yaitu melalui pentacle yang digambar oleh penyihir yang akan memanggilnya.

Meskipun pemerintahan sihir mendapatkan tentangan keras dari commoner yang diam-diam mendirikan kelompok oposisi bernama Resistance, konflik utama dari trilogi Stroud ini bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Di antara mereka tercipta kompetisi, baik yang terbuka maupun tersembunyi. Masing-masing ingin lebih berkuasa dari yang lain. Mereka sanggup melaksanakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Seperti kata salah satu penyihir (Simon Lovelace): "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang" (The Amulet of Samarkand, hlm. 329 ).


DENDAM SEORANG PENYIHIR MUDA (The Amulet of Samarkand)

Trilogi Bartimaeus, pada dasarnya, mengisahkan hubungan antara seorang penyihir bernama Nathaniel dengan jin bernama Bartimaeus. Dalam The Amulet of Samarkand (Amulet Samarkand), untuk pertama kalinya, Bartimaeus dipanggil Nathaniel ketika penyihir ini belum genap berusia 12 tahun. Tindakan pemanggilan yang dilakukan Nathaniel sebetulnya prematur, karena ia belum boleh melakukan pemanggilan. Jika saatnya tiba, untuk pemanggilan pertama, Nathaniel pun hanya bisa memanggil demon jenis imp.

Nathaniel memang memiliki agenda pribadi dengan berani melakukan pemanggilan langsung demon level ke-4 (jin). Saat itu dia adalah murid dari master bernama Arthur Underwood, penyihir kelas menengah yang bekerja sebagai Menteri Muda di Kementerian Dalam Negeri Inggris. Nathaniel dijual orang tuanya ke Kantor Tenaga Kerja untuk dididik menjadi penyihir pada usia 5 tahun. Pada usia 10 tahun, Simon Lovelace, penyihir yang bekerja sebagai Menteri Muda Perdagangan telah mempermalukan Nathaniel. Hal ini melahirkan dendam dalam hati Nathaniel, dan dengan berjalannya waktu kian menuntut untuk dilampiaskan. Langkah awal yang ia tempuh adalah melakukan pemanggilan demon lebih awal dari seharusnya untuk mengintai aktivitas Simon Lovelace. Nathaniel adalah seorang anak yang lapar dengan pengetahuan, sehingga bukan hanya pelajaran wajib yang ia tekuni. Ia juga membaca terlalu dini hal-hal seperti ritual pemanggilan jin dan mantra-mantra. Selanjutnya ia mempelajari demonologi yang lalu memberinya gagasan memanggil Bartimaeus guna mencuri amulet Samarkand.

Sebagai jin yang cerdas, Bartimaeus segera tahu kualitas penyihir yang memanggilnya sehingga jin sinis dan egomaniak ini mencoba menggertak Nathaniel. Tentu saja meski masih terbata-bata, Nathaniel tidak kalah digertak, dan tidak bodoh untuk merespons strategam Bartimaeus. Hasil pengintaian Bartimaeus membuat Nathaniel memutuskan mencuri amulet Samarkand yang sebenarnya baru dirampok Simon dari pemerintah.

Amulet adalah jimat pelindung; benda yang menghalau kekuatan jahat, obyek pasif yang dapat mengisap atau memantulkan segala jenis sihir berbahaya meski tak dapat secara aktif dikontrol pemiliknya (hlm. 103).  Dalam amulet bersarang entitas yang telah ditangkap dan dijebak. Tapi amulet Samarkand bukanlah jenis amulet biasa, ini yang tidak diketahui Nathaniel. Dan memang, Nathaniel sama sekali tidak tertarik pada amulet. Simon lah targetnya. Ia mengetahui bahwa Simon memperoleh amulet ini lewat pertumpahan darah. Ia bertekad menjatuhkan reputasi Simon dengan mengungkapkan kebobrokan sang menteri sihir. 

Setelah berhasil mencuri amulet tersebut, Nathaniel memerintah Bartimaeus untuk menyembunyikan jimat itu di ruang kerja Arthur Underwood,. Tindakan yang tanpa diduganya akan mencelakakan masternya dan membuatnya kehilangan  orang yang menyayanginya.

Apa sesungguhnya amulet Samarkand, dan alasan pentingnya jimat ini, akan terungkap sejalan dengan perkembangan cerita yang mencapai puncak pada Konferensi Tahunan Parlemen dan Pesta Musim Dingin yang diselenggarakan di Heddleham Hall milik Amanda Catchcart.

 

DI BALIK MATA GOLEM (The Golem's Eye)

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir 3 tahun setelah pertemuan pertama Bartimaeus dan Nathaniel (Amulet Samarkand). Saat cerita digulirkan Stroud, Nathaniel, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nathaniel antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Rupert Devereaux, Perdana Menteri Sihir.

Menjelang berlangsungnya Founder's Day (Hari Lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nathaniel tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nathaniel tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Bahkan, bukan pula perbuatan demon. Menjadi tugasnya sebagai pegawai bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nathaniel menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nathaniel menimbulkan kemarahan Bartimaeus yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bartimaeus akan melayani Nathaniel selama 6 minggu.

Dugaan Nathaniel memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bartimaeus yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan  bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan cara menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tentangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nathaniel dan Bartimaeus ke Praha.

Simultan dengan kepergian Nathaniel ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey  dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir.

Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nathaniel karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nathaniel bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bartimaeus tidak bisa menolong karena menolong Nathaniel berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nathaniel? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nathaniel tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bartimaeus. Sangat menarik ketika Nathaniel, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Dalam situasi ini  sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance.


KETIKA MANTRA PEMBEBASAN DIRAPALKAN (Ptolemy's Gate)

Ptolemy's Gatem (Gerbang Ptolemy) adalah judul pamungkas trilogi Bartimaeus. Sekitar 3 tahun telah berlalu sejak kasus mata golem. Nathaniel telah menjadi anggota Dewan, menjabat sebagai Menteri Penerangan dan larut dalam perang kekuasaan di Kerajaan sihir Inggris Raya. Ia terlibat dalam pengambilan keputusan Perang Amerika yang ditentang keras oleh kelompok commoner yang menamakan diri sebagai Aliansi Commoner.

Sudah 2 tahun Bartimaeus berada di Bumi, dipanggil sang master untuk membantu pekerjaannya. Ia memang semakin sering bekerja untuk masternya sehingga energinya lebih cepat memudar. Tidak ada waktu yang cukup baginya untuk memulihkan diri di Dunia Lain.

Di tengah-tengah kesibukan Nathaniel sebagai Menteri Penerangan dan kelelahan roh Bartimaeus, ditengarai adanya komplotan yang mengancam kerajaan Inggris. Pada saat melakukan pengintaian, Bartimaeus nyaris tewas. Dengan kondisinya, ia berhasil menggemparkan acara yang dihadiri Nathaniel dan membuat masternya dalam posisi terancam. Keadaannya membuat Nathaniel mengirimkan Bartimaeus ke Dunia Lain dengan harapan, setelah jin ini pulih, akan dipanggil kembali untuk memberikan laporan pengintaiannya.

Ketika Nathaniel hendak memanggil Bartimaeus kembali, ternyata jin ini sudah lebih dulu dipanggil pihak lain. Hal ini tentu saja membuat Nathaniel gusar. Jika jin ini membocorkan namanya pada penyihir lain, habislah riwayatnya. Pada usia 12 tahun, ia mendapatkan nama baru, nama resmi yang akan dikenal sepanjang hidupnya, yaitu John Mandrake. Jika nama aslinya, Nathaniel, diketahui pihak lain, baik demon atau penyihir akan berakibat buruk baginya.

Ternyata pada saat itu, Bartimaeus dipanggil oleh Kitty Jones, nama yang terus mengikuti hidup Nathaniel. Setahu Nathaniel, Kitty Jones telah meninggal di tangan golem seperti yang dikatakan Bartimaues. Makanya, Nathaniel kaget ketika commoner yang ditawan oleh penyihir penulis drama bernama Quentin Makepeace, yaitu Nicholas Drew, mengungkapkan keberadaan Kitty Jones yang hidup dengan dua identitas palsu, dalam dua lingkup kehidupan yang dijalaninya.

Nathaniel bertemu dengan Kitty Jones dan mengajaknya menyaksikan pementasan drama karya Quentin Makepeace, yang selama ini memperlihatkan persahabatan kepada Nathaniel.

Tak disangka, malam pementasan drama ini menjadi awal dari kekacauan yang bersumber dari konspirasi mengerikan yang melibatkan para penyihir yang haus kekuasaan dan jin berkekuatan dahsyat yang dikuasai dendam 5000 tahun. Kerajaan Inggris digiring ke tepi jurang kehancuran.

Pada saat berbarengan, Kitty Jones menjalankan agendanya sendiri. Ia meminta bantuan Bartimaeus mengatasi pengaruh para penyihir yang menindas commoner. Kitty rela melakukan apa saja untuk mendapatkan persetujuan Bartimaeus yang sedang merevitalisasi rohnya yang remuk redam. Dengan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan riset, Kitty mengulangi apa yang pernah dilakukan oleh Ptolemy (Ptolemaus), master yang disayangi Bartimaus.

Kenangan akan Ptolemy membuat Bartimaeus menyanggupi permintaan Kitty. Tapi kondisinya masih sangat lemah. Ia tidak bisa menolong Kitty dengan situasi fisiknya saat ini. Kitty lah yang kemudian mencetuskan gagasan, gagasan sama yang dicetuskan oleh Quentin Makepeace, gagasan serupa yang tengah mengacaubalaukan otoritas dunia sihir Inggris.

Setelah berhasil membuat Bartimaeus dan Nathaniel menyatukan kekuatan, sehingga lahir kekuatan baru untuk melawan sumber kekacauan saat itu, Kitty melihat justru, saat yang sama, hasil kerja samanya dengan Nathaniel dan Bartimaeus, tidak saja akan menyelamatkan dunia sihir, tapi juga para commoner. Dunia yang lebih baik, di mana para commoner akan berdiri setara dalam berbagai otoritas dengan para penyihir telah terbuka. Kendati Kitty tidak ingin terlibat di dalamnya.

Tapi dunia itu hanya akan tercapai jika Nathaniel dan Bartimaeus berhasil menjalankan misi. Musuh mereka kali ini bukan musuh yang setara dengan musuh-musuh sebelumnya. Bahkan tongkat Gladstone yang mereka andalkan tidak serta-merta menuntaskan pekerjaan mereka. Pada saat yang sangat kritis, pengalaman hidup Bartimaeus yang mirip dengan apa terjadi di penghujung hidup master yang disayanginya, Ptolemy, kembali terjadi.

"Sebegitu saja janji kalian," kata Kitty Jones akhirnya (hlm. 565). Baik Bartimaeus maupun Nathaniel tidak pernah memenuhi janji yang dituntut Kitty sebelumnya (hlm. 558).

TRILOGI YANG TAK TERLUPAKAN

Dalam The Amulet of Samarkand secara berganti-ganti, meski tidak terlalu runtut, cerita disampaikan menggunakan 2 perspektif penceritaan. Pertama, menggunakan orang pertama, dengan Bartimaeus selaku narator (diberi judul Bartimaeus) dan kedua, menggunakan orang ketiga (diberi judul Nathaniel). Yang paling asyik dibaca, tentu saja saat kisah digulirkan menggunakan Bart sebagai narator. Ia menarasikan cerita secara energik, lengkap dengan sikap sinis, sok tahu, sok pintar, dan egomaniak. Ia bahkan tidak segan melecehkan masternya karena masalah usia dan pengalaman Nat. Untuk mengekspresikan karakter seperti itu, tidak cukup dengan narasi, Bart juga membutuhkan catatan kaki untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Anehnya, teknik yang dipakai penulis ini membuat ceritanya kian memikat. Bartimaeus menjadi karakter favorit. Rasanya tidak ada pembaca yang tidak akan merasa geli membaca celotehan jin satu ini.

Dalam Golem's Eye, selain dua perspektif yang sama dengan buku pertama untuk mengisahkan sepak terjang Nathaniel, Stroud juga menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Sesuai pengakuannya, keberadaan Kitty di alam imajinasinya telah mendorong Stroud untuk merangkai kisah Nathaniel dan Bart dalam bentuk trilogi. Dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. 

Hal yang sama berkembang lebih baik dalam Ptolemy's Gate. Selain Nathaniel dan Bartimaeus, Kitty Jones juga mendapatkan porsi penceritaan yang lebih banyak dan memiliki peran yang penting dalam keseluruhan rangkaian cerita. Mereka bertiga mesti menjalin kerja sama untuk menyelamatkan Kerajaan Inggris dari kehancuran total.

Dari segi cerita, Gerbang Ptolemy merupakan puncak dari seluruh kisah yang merentang dalam plot rancak trilogi ini. Sungguh sayang jika telah membaca dua buku sebelumnya, tapi melewatkan buku terakhir ini. Jika Anda pernah menonton film trilogi Scream, Anda dapat melihat pola yang sama dengan trilogi ini. Kejahatan-kejahatan yang terjadi pada dua bagian awal memiliki sulur yang, ternyata, tertanam di bagian akhir. Sungguh tak terduga.

Pada pamungkas Trilogi Bartimaeus ini, John Stroud, sebagaimana sejak awal, tetap memperlihatkan kepiawaiannya dalam bertutur dan mengolah plot. Cerita yang disuguhkan terus memiliki daya pikat, kian meruncing mencapai akhir. Dan hebatnya, sampai akhir, selain menyentuh hati pembaca (malah mungkin ada yang sampai tidak rela), Stroud tidak ketinggalan untuk menggelitik saraf humor pembaca.

Bagian terakhir Ptolemy's Gate, yang dituturkan dengan menggunakan Bartimaeus sebagai narator, menjadi bagian yang paling menyentuh dalam keseluruhan trilogi ini. Bagian inilah yang memberikan alasan petualangan Bartimaeus dan Nathaniel harus berakhir. Dan itu bukan cuma sekedar karena Mantra Pembebasan telah selesai dirapalkan untuk Bartimaeus. Baca saja sendiri.

Secara keseluruhan, Jonathan Stroud, dengan kepiawaiannya, sukses menghadirkan kisah yang memuaskan dan sangat menghibur. Trilogi yang idenya lahir pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan 2 tahun untuk diwujudkan dalam bentuk novel ini (kemudian terbit berturut-turut setiap tahun sejak 2003 hingga 2005) memang layak untuk memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis) pada tahun 2006.

Secara keseluruhan, edisi Indonesia Trilogi Bartimaeus terbilang bagus. Penerjemahannya juga oke sehingga kita bisa menikmati dengan enak. Meski diterjemahkan dengan bahasa Indonesia yang baik (sekarang ada juga yang menerjemahkan fiksi asing dengan memanfaatkan kosa kata gaul), ketiga buku karya Jonathan Stroud sama sekali tidak kehilangan jiwa. Sebagai contoh,  kita masih bisa menikmati eksplorasi emosi dan pikiran Bartimaeus yang menggelitik, faktor terbesar yang membuat trilogi ini menjadi karya yang tidak mudah dilupakan.

Sekalipun arus deras buku terjemahan kerap menjadi bahan kritikan sebagian kalangan, saya pribadi berharap penerbit yang sama masih bisa menerbitkan buku-buku keren mendunia seperti Trilogi Bartimaeus.

 

Posted at 10:17 pm by Jody
Make a comment  

Wednesday, October 10, 2007
HUBBU





Judul Buku: HUBBU
Penulis : Mashuri
Terbit : Cetakan Pertama, Agustus 2007
Tebal : 246 hlm; 13,5 X 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 "CINTA" ALA MASHURI


Dari 249 naskah yang diikutkan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006, oleh 3 juri (Apsanti Djoko Sujatno, Ahmad Tohari, dan Bambang Sugiharto), diputuskan Hubbu karya Mashuri yang juga dikenal sebagai penulis puisi -antara lain telah menerbitkan antologi puisi bertajuk Ngaceng (2007)), sebagai pemenang pertama. Hubbu mengalahkan 248 naskah lainnya dan berhak atas hadiah utama, 20 juta rupiah.

Hubbu berangkat dari kehidupan seorang santri bernama asli Abdullah Sattar dan dikenal dengan nama Jarot. Dari namanya, telah bisa tercium bagaimana penulis ingin menampilkan kehidupan tokoh ini yang selalu dalam keadaan terbelah. Oleh Mbah Adnan, ia diberi nama Abdullah Sattar dengan harapan bisa seperti sufi pendiri Tarekat Sattariyah itu, tapi juga dipanggil Jarot, pecundang dan suka bermain api. Setelah masuk sekolah, selain belajar di Sekolah Arab, ia juga belajar di Sekolah Jawa (sekolah negeri). Minat Jarot pun berkembang, tidak hanya pada ilmu-ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu Jawa, sehingga selain belajar dari Mas Amin, ia juga belajar dari Wak Tomo.

Keterbelahan Jarot tentu saja tidak lalu diterima keluarganya yang religius. Tapi, kendati ditentang karena ilmu-ilmu Jawa dipandang berseberangan dengan Islam, Jarot tetap terbelah sebagai manusia religius tapi juga penggemar klenik. Bukan hanya itu, Jarot juga terbelah sebagai manusia yang mencoba hidup secara islami tapi juga mencicipi hidup yang tidak islami, seperti pacaran dan bergaul intim dengan lawan jenisnya.

Pola hidup terbelah ini terbawa terus sampai Jarot memutuskan meninggalkan kampungnya dan kuliah di Surabaya. Kehidupan semacam ini akhirnya menjerat Jarot dalam dosa perzinahan yang benar-benar memutuskan hubungannya dengan Desa Alas Abang dan melantakkan harapan yang diletakkan padanya. Dosa perzinahan yang terjadi berbarengan dengan keputusan Jarot untuk mengajarkan tentang Tuhan pada seorang perempuan yang berbeda keyakinan dengannya.

Jarot adalah harapan Alas Abang untuk menjadi pemimpin pesantren warisan Mbah Kiai Adnan. Setelah Mbah Adnan mangkat, untuk sementara sambil menunggu Jarot dewasa, Mas Amin terpilih sebagai pemimpin. Tapi dengan berangkat ke Surabaya, Jarot melarikan diri dari tanggung jawab yang diharapkan bisa diembannya sebagai orang terpilih. Bahkan setelah mengetahui ada masalah di pesantren, Jarot tidak juga memutuskan mengambil alih kepemimpinan pesantren. Sempat terlintas dalam benaknya untuk pulang ketika terbeban dengan sebuah kejadian yang menimpa sepasang sahabatnya. Tapi setelah solusi muncul, ia tetap di Surabaya melanjutkan kuliah. Dan setelah kuliahnya usai, ia justru benar-benar tidak bisa kembali lagi ke Desa Alas Abang.

Novel ini dibuka dengan sebuah prolog yang oleh Mashuri dilabeli sebagai Prawayang, merupakan isi lontar dari Wisrawana kepada ayahnya, Begawan Wisrawa, yang bermuatan Sastra Gendra. Setelah prawayang, kisah digulirkan dalam tiga bagian yang diberi judul Sihir Masa Lalu, Persimpangan, dan Lompatan Waktu.Dua bagian pertama berisi kisah Jarot pada masa ia masih hidup, sedangkan bagian ketiga pasca meninggalnya Jarot. Tapi, seluruh kisah tetap merupakan kisah Jarot. Kalau bagian pertama sebagian besar berisi kisah masa lalu dan bagian kedua berisi kisah masa sekarang dalam kehidupan Jarot, bagian ketiga, seperti judulnya, mengisahkan cerita berlatar tahun 2040, bertahun-tahun kemudian setelah kisah pada bagian kedua.

Latar masa depan dalam bagian ketiga tidak dimaksudkan untuk menceritakan kisah futuristik seperti yang kita bisa baca di novel-novel sci-fi. Karenanya, Mashuri melewatkan deskripsi latar yang lebih mungkin pada saat itu. Pemilihan tahun 2040 ini jelas dimaksudkan untuk mempertahankan kelogisan cerita dari segi usia karakter dalam bagian ketiga ini (Aida). Hal ini akan mempertanyakan pemakaian latar waktu masa kini dalam kehidupan Jarot (akhir tahun 1995 dan seterusnya). Rupanya hal ini berhubungan dengan gurit Sastra Gendra karya Budi Palopo yang (benar-benar) dimuat di Jaya Baya pada 18 Oktober 1994 dan bisa ditemukan dalam Gurit Rong Puluh: kumpulan dua puluh geguritan (Dewan Kesenian Surabaya, 1995). Dalam bagian ini, selain akan mengikuti kisah hidup putri Jarot, kita juga akan menemukan apa yang terjadi pada sisa hidup Jarot setelah bab kedua berakhir.

Membaca Hubbu, kita akan menikmati berbagai sudut pandang dan gaya bertutur. Tapi, walau terkesan acak, teknik variatif ini sama sekali tidak membuat alur ceritanya menjadi kacau. Alur tetap dapat diikuti dan dirangkai pembaca dengan padu. Ini membuat Hubbu tampak berbeda, meskipun teknik penceritaan yang digunakan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa teknik dalam Hubbu antara lain bisa ditelusuri dalam Dadaisme (Dewi Sartika, pemenang 1 Sayembara Novel DKJ 2003). Khusus untuk sudut pandang penceritaan yang variatif, sah-sah saja selama penulis tetap konsisten pada 1 perspektif penceritaan selama menyampaikan satu bagian cerita. Terasa janggal ketika narator orang pertama bertutur secara maha tahu seperti pada halaman 75 - 78.

Konflik berlatar dunia pesantren terbilang menarik karena langka digarap dalam novel Indonesia kontemporer.  Dan menjadi lebih menarik ketika penulis memunculkan Aida, putri Jarot yang diharapkan bisa menjadi 'Gunawan Wibisana' bagi Abdullah "Wisrawa" Sattar. Saya kira tidak asal saja Mashuri menampilkan anak Jarot sebagai seorang perempuan, dan bukan laki-laki. Pesantren membutuhkan seorang pemimpin. Kendati digadang menjadi pemimpin pesantren, Jarot tidak pernah melunaskan harapan. Dan seperti pada pohon silsilah yang dilihat Aida pada akhir novel, nama Aida tertera sebagai orang terpilih. Bukankah itu berarti Aida merupakan calon pemimpin pesantren? Hal ini tampak dari ungkapan Aida ikhwal rahasia yang ia temukan pada puncak muhibahnya di Jawa:

"Aku tahu, kenapa beban ayah terasa demikian berat, bahkan untuk kesalahan yang tidak dilakukannya. Beban itu kini beralih ke pundakku, sebuah beban yang tak bisa dipindah ke pundak orang lain. Sebuah lingkaran 'takdir' yang begitu sulit untuk dihindari, tetapi harus diterima dengan sepenuh hati. Lingkaran takdir yang sudah menyatu dengan darah" (hlm. 234).

Hal menarik lainnya dalam novel ini adalah pemberian judul menggunakan bahasa Arab yang berarti cinta. Meski kita bisa menemukan taburan cinta di bagian-bagian novel, pemberian judul yang manis ini menimbulkan pertanyaan. Hal ini tentu saja wajar mengingat tidak ada keterangan apa-apa soal Hubbu dalam novel ini (saya sendiri menemukan arti hubbu di situs Gramedia saat buku ini baru terbit). Cinta yang manakah yang dimaksud Mashuri? Dan seberapa signifikan cinta yang dimaksud mempengaruhi keseluruhan isi novel sehingga layak dijadikan judul? 

Akhirnya, saya melihat Hubbu berbicara tentang pilihan dalam hidup. Hidup Jarot menjadi kontradiktif karena ia tidak bisa menentukan pilihan. Sebagai manusia, yang dianugerahi kekuatan memilih, ia tidak bisa menentukan dengan tegas, menjadi Abdullah Sattar atau Jarot. Ia tidak bisa memilih, ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu nalar. Dan yang terutama, ia tidak bisa memilih untuk benar-benar hidup secara islami atau tidak. Inilah yang menyebabkan ia meninggalkan Desa Alas Abang dan tidak pernah tergerak untuk menjadi pemimpin pesantren warisan.

Dan dengan ketidakmampuannya memilih, Jarot akhirnya terjebak. Coba simak pola hidup Jarot yang digambarkan Mashuri. Ia dikenal memahami agama dengan dalam, bahkan diyakini dikaruniai laduni, tanpa belajar sudah bisa menguasai ilmu-ilmu agama. Jarot –dengan kesombongannya- meyakini kemampuannya, seperti yang terlihat dalam usahanya mengajarkan tentang sisi universalitas ketuhanan demi mengembalikan rasa ketuhanan Agnes yang terguncang (hlm. 168). Tapi cara hidupnya tidak selaras dengan agama yang ia anut. Memeluk Istiqomah, tidur sekamar dengan Puteri, berdua-duaan dalam kamar dengan Agnes yang bukan hanya berbeda jenis kelamin tapi juga keyakinan. Dan lihat akhirnya, Jarot terlibat persetubuhan dengan Agnes. Setelah meniduri Agnes, baru ia sadar akan pola kehidupannya. "Aku baru merasa bisa, belum bisa merasa," akunya. Ia tidak berbeda dengan Begawan Wisrawa yang diceritakan dalam lontar Lokapala. Pada titik ini, akhirnya Jarot mesti memilih. Sebuah pilihan yang mempengaruhi nasib pesantren warisan Mbah Kiai Adnan, memberi jawaban atas pertanyaan Aida: Benarkah sebuah pilihan kadang mengandung risiko untuk orang lain, bahkan untuk satu warisan yang demikian berharga dan telah mengantar si empunya dalam penghargaan tak terkira? (hlm. 205).

Tapi di ujung keterpurukan hidupnya, Jarot menemukan titik persinggungan antara Jawa dan Islam yang ada dalam wayang kulit, keseimbangan hijaiyah dan hanacaraka, dalam kehidupan Begawan Wisrawa, melalui pengalaman hidup yang dikatakannya sebagai "kekonyolan yang patut aku sesali seumur hidup, bahkan sampai mati nanti" (hlm. 168). Itulah Sastra Gendra.

Pada pembacaan pertama, saya tersendat menikmati Hubbu. Sejatinya Hubbu dibuka secara menarik. Prawayang yang disajikan Mashuri sungguh menerbitkan rasa ingin tahu karena cukup unik. Tidak menjabarkan kisah wayang secara biasa, tapi melalui penuturan salah satu tokoh wayang kepada tokoh wayang yang lain, dalam bentuk surat. Tapi memasuki bagian satu, dengan arah cerita yang masih kurang jelas dan terutama gaya bertutur yang kurang menarik –agak cerewet kendati tidak dibutuhkan, termasuk penggunaan kata yang tidak efektif yang berdampak tidak enak dibaca- saya tersendat menikmatinya. Kisah Hubbu kembali terasa menarik ketika tiba di bagian ketiga, Lompatan Waktu. Mungkin karena bagian ini menjadi juru kunci novel. Penulis tidak hanya melakukan lompatan waktu yang cukup mengagetkan, tapi juga melakukan lompatan dalam plot. Ia tidak hanya berhasil menyimpul plot, tapi juga memberikan perenungan tentang eksistensi kepemimpinan perempuan dalam dunia pesantren.

Sebuah novel yang cukup menarik, tidak luar biasa, tapi akhirnya masih bisa dinikmati. Setidaknya, menurut saya.


Posted at 02:10 pm by Jody
Make a comment  

Thursday, September 06, 2007
BIRDMAN

 

 

Buku : BIRDMAN

Penulis: Mo Hayder

Penerjemah: Basfin Siregar

Editor: Marvel Neydi

Terbit: Cetakan 1, September 2007

Tebal: 552 hlm; 14 X 21 cm

Penerbit: Dastan Books

 

 

BIRDMAN: KEPAK SAYAP BURUNG POSTMORTEM

 

 

Sekali lagi pembunuhan serial menjadi bahan baku sebuah novel thriller yang mencetak bestseller di berbagai negara di Amerika, Eropa, dan Asia. Novel yang bertajuk Birdman ini adalah karya debut Mo Hayder yang diterbitkan untuk pertama kalinya pada Januari 2000. Ketika membaca novel ini, saya sama sekali tidak menduga jika Mo Hayder sebenarnya seorang perempuan. Selain tidak ada informasi dalam edisi Indonesia yang menunjukkan jika Mo Hayder seorang perempuan, isi novel yang 'keras' meyakinkan saya jika Mo Hayder adalah seorang penulis lelaki. Tapi ternyata saya salah. Mo Hayder memang seorang perempuan, dan tidak hanya penulis lelaki yang bisa menulis dengan gaya seperti Birdman. Setelah Birdman, Mo Hayder juga telah menulis novel lain seperti The Treatment (memenangkan WH Smith Thumping Good Read Award 2002) dan Tokyo (di Amerika berjudul The Devil of Nanking) yang masuk nominasi CWA Dagger Award.


 


 

Birdman yang berseting Inggris ini dibuka dengan penemuan mayat seorang perempuan pekerja seks yang dibunuh secara sadis di Greenwich Utara. Perempuan ini menjadi korban kelima dari rangkaian pembunuhan dengan ciri-ciri yang hampir sama. Mereka adalah perempuan muda; beberapa di antaranya mengalami mutilasi payudara; wajah dipulas kosmetik tebal; semua diperkosa setelah mati, dan burung kecil yang masih hidup disusupkan ke dalam dada sebagai ganti jantung. Berdasarkan kondisi korban, diduga pelakunya  memahami anatomi tubuh manusia dan prosedur bedah.

 

Setelah kasus pembunuhan ini diungkapkan kepada publik, pelaku tindakan kriminal ini dijuluki The Millenium Ripper. Sedangkan di kalangan kepolisian sendiri, ia dikenal sebagai Manusia Burung (Birdman) lantaran burung yang ditemukan di dalam dada korban-korbannya.

 

Jack Caffery, inspektur detektif AMID (Area Major Investigation Pool),  yang terlibat dalam investigasi kasus Manusia Burung ini sangat yakin jika pelakunya seorang dari ras Eropa kulit putih, kendati  ada dugaan jika ia seorang Afro-Karibia.

 

Keyakinan Jack terbukti dengan terungkapnya identitas si pelaku. Si pelaku adalah karyawan sebuah rumah sakit, seorang pengidap nekrofilia kronis. Tapi, apa yang dilakukan orang ini kemudian, menyingkapkan situasi lain yang mengejutkan, eksistensi sebuah kolaborasi hasrat sakit yang berawal dari sebuah insiden di kamar mayat enam belas tahun sebelumnya.

 

Birdman hadir sebagai sebuah thriller dengan alur cepat menegangkan sekaligus mengerikan dengan bumbu berbagai kejutan.  Meski cerita bergulir cepat, penulis tetap tidak kehilangan kemampuan memberikan detail yang membuat kisahnya terkesan sangat meyakinkan. Mo Hayder bisa dibilang sanggup membuat pembaca menggambarkan dalam benak apa yang ia sajikan. Dan kemungkinan, pada beberapa tempat, akan merasa mual dengan kesan yang ditimbulkannya.

 

Selain plot utama, Mo Hayder juga memberi tempat untuk konflik kehidupan tokoh utama, Jack Caffery, sehubungan dengan kisah cintanya dengan Veronica dan sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan saudaranya yang terus menghantui hidupnya. Hanya, bagian ini hanya terkesan sebagai tempelan karena tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap jalan cerita utama. Tanpa konflik pribadi Jack tersebut, Birdman tidak akan kehilangan greget. Justru penambahan yang dilakukan Mo Hayder, khususnya kisah yang bersumber dari masa lalu Jack yang diungkit-ungkit sejak awal menjadi bagian yang agak mengganggu. Mo Hayder tidak menuntaskan masalah internal Jack tersebut sebagai konsekwensi hadirnya bagian itu dalam novel. Ia membiarkan bagian itu mengambang hingga novel berakhir. Sebelumnya, saya sempat menduga-duga (sambil berharap) jika pelaku kejahatan berantai itu justru saudara Jack.

 

Seluruh kisah yang dipaparkan Mo Hayder, sesungguhnya tetap bisa dinikmati. Membaca novel ini, saya merasa seolah-olah sedang menonton sebuah film Holywood. Apalagi, jika menilik gaya penulisan yang bergerak cepat dan mudah diikuti, seakan-akan novel ditulis dengan maksud untuk difilmkan (belakangan saya tahu, Mo Hayder adalah seorang MA bidang film dari The American University di Washington). Tapi, terasa kurang nyaman ketika penulis sepertinya tidak tahan untuk segera mengungkapkan wajah dan nama si pembunuh. Mungkin, jika Mo Hayder hanya menyebutnya sebagai Manusia Burung dalam narasinya, ketegangan akan lebih terjaga. Untunglah, walau wajah pembunuh telah disingkapkan, Mo Hayder tetap mempunyai liuk kisah yang tetap menegangkan ketika plot menapaki ending. Sehingga akhir novel tidak lalu terjebak menjadi antiklimaks.

 

Edisi Indonesia terbitan Dastan terbilang enak dibaca. Hasil cetaknya bagus menggunakan ukuran huruf yang nyaman dibaca. Sampulnya, seperti yang kerap tampak dari sampul Dastan, digarap seperti poster film. Penambahan catatan yang ada di halaman bagian belakang buku memberikan informasi yang berguna bagi pembaca.

 

Tanpa perlu membanding-bandingkan dengan The Silence of the Lambs seperti pada testimoni yang dikutip dari Daily Teleraph (flap depan), Birdman sebenarnya telah hadir sebagai sebuah novel yang layak baca, memiliki kelebihan sendiri, dan bisa menjadi menu baru dalam daftar baca penggemar novel thriller, di Indonesia.

 

 

Posted at 02:53 pm by Jody
Make a comment  

Sunday, August 26, 2007
HOSTAGE





Judul Buku: HOSTAGE
Penulis: Robert Crais (2001)
Penerjemah: Maria Lubis
Penyunting: Bima Sudiarto
Terbit: Cetakan 1, Agustus 2007
Tebal: 536 hlm
Penerbit: Rajut Publishing


HOSTAGE: Kisah Penyanderaan Bercabang



Kisah Penyanderaan

Setiap negosiator dalam kasus penyanderaan tahu bahwa kesuksesan pekerjaannya hanya terjadi jika sandera maupun penyandera keluar dari krisis dalam keadaan hidup. Jeff Talley, seorang negosiator yang tergabung dalam tim SWAT Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD), terguncang oleh salah satu kasus penyanderaan yang gagal ditanganinya. Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun tertembak mati, dan Talley terus dihantui bayangan anak itu. Talley meninggalkan pekerjaan, keluarga, Los Angeles, dan memulai karier baru di departemen kepolisian Bristo Camino, komunitas suburban utara Los Angeles.

Seakan kegagalannya tidak mau meninggalkan kenangan Talley, di Bristo Camino kasus penyanderaan terjadi lagi.

Dalam upaya melarikan diri, tiga pelaku perampokan berdarah yang gagal di sebuah minimarket milik warga negara Amerika keturunan Korea, mendatangi rumah seorang akuntan bernama Walter Smith dan menyandera laki-laki ini beserta dua anaknya. Sebenarnya, ketiga perampok ini menyatroni rumah keluarga Smith hanya untuk mendapatkan mobil yang akan dipakai melarikan diri. Tapi, situasi berkembang tak terkendali dan menyandera pemilik rumah menjadi pilihan yang mereka ambil.

Meski ini kasus penyanderaan, kali ini bukan tugas Talley untuk bertindak sebagai negosiator. Sesudah pendekatan yang dilakukan Talley, selanjutnya kasus akan ditangani oleh tim negosiator dari Tim Respons Krisis Departemen Sheriff Wilayah LA yang dikomandani Laura Martin.

Tapi, masalah menjadi kian pelik karena ternyata, Walter Smith bekerja sebagai akuntan untuk mafia dan menyimpan catatan keuangan mereka di rumahnya. Tak terhindarkan lagi, dengan berbagai cara, mafia melakukan interupsi untuk menyelamatkan diri.

Saat Talley merasa tugasnya telah beralih menjadi tanggung jawab negosiator, mendadak istri dan anak perempuannya diculik. Untuk menebus keluarganya, Talley harus mendapatkan dua buah disket zip yang berada di rumah keluarga Smith.

Talley memutuskan kembali ke tengah krisis dan mencoba mencari solusi. Solusi itu menampakkan diri lewat kecerdasan Thomas, anak laki-laki Walter Smith. Tapi, tetap tidak mudah membawa keluar disket-disket tersebut dari rumah keluarga Smith. Di tengah upaya yang ia lakukan, Talley menemukan jika mafia telah membeli seorang dari Tim Respons Krisis dan salah satu dari tiga penyandera bukan hanya penyandera biasa, tapi makhluk bengis yang menyimpan sejarah pembunuhan.


Plot, Karakter, dan Gaya Penulisan

Novel yang dielaborasi dalam 5 bagian (Kebun Alpukat, Lalat, Kepala, Taktik, Kebun Alpukat) yang terdiri atas prolog dan 29 bab ini berisi kisah utama yang terjadi dalam jangka waktu kurang dari 2 hari. Kisah ini digulirkan dalam plot yang bergerak cepat dengan percikan ketegangan di sana-sini. Seakan ketegangan yang ada belum cukup, secara teratur, Crais juga mencipratkan bumbu kejutan yang membuat novelnya semakin mencekam. Namun, meski bergerak cepat, Crais tetap tidak mengabaikan detail yang diperlukan. Hasilnya, ceritanya tetap terasa padat dan miskin rongga. Bagaikan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, Crais tetap berhasil mengendalikan dengan cekatan.

Gaya penulisan yang digunakan Crais mengingatkan pada gaya penulisan skenario. Hanya, tidak menjadi seringkas skenario atau seperti skenario yang ditambahkan kalimat secukupnya di sana-sini supaya bisa dihadirkan sebagai novel. Gaya penulisan seperti ini biasanya sukses mengundang pembaca untuk terus mengikuti cerita yang ada hingga tuntas.

Bagi penikmat film-film aksi Holywood sepertinya akan merasa akrab dengan elemen-elemen yang diandalkan Crais. Sebut saja negosiator, polisi, perampok, sandera, penyanderaan keluarga, pengkhianatan, kegilaan, mafia, darah, dan peluru. Bukankah semua itu dengan mudah bisa kita temukan dalam film-film Holywood? Dan, terus terang saja, membaca Hostage, saya merasa seperti sedang menonton sebuah film suspense-thriller Holywood.

Dalam menggambarkan karakter ciptaannya, Crais sangat fasih. Karakter-karakter ciptaannya, terutama karakter utama, terkesan hidup dan sangat mudah untuk dibayangkan jika misalnya mereka itu benar-benar nyata.

Ada yang kurang teliti dari penggambaran latar kehidupan karakter Dennis Rooney. Meski tampak sepele, saya kira akurasi selalu diperlukan dalam penulisan karya apapun. Pada halaman 13, disebutkan Dennis Rooney baru 11 hari keluar dari fasilitas rehabilitasi Lembah Antilop (Ant Farm), tapi pada halaman 111 dikatakan Dennis baru lepas 30 hari dari Ant Farm. Mana yang benar?

Menurut saya, pencantuman waktu (jam) kejadian dalam novel ini sebetulnya tidak terlalu penting. Bisa saja dihilangkan dan cukup dinyatakan dalam narasi. Tapi karena sejak awal penulis telah mencantumkan waktu kejadian, ketepatan pencantuman waktu menjadi perhatian saya. Pada bab 19 dituliskan waktu kejadian 'Jumat, Pukul 11.52'. Jelas maksudnya pukul 11.52 malam. Tapi penulisan ini tidak konsisten dengan cara penulisan yang digunakan Crais sebelum dan setelah bab ini. Karena saya tidak membaca versi asli novel ini, saya tidak tahu inkonsistensi ini dilakukan oleh Crais atau penerjemahnya.


Robert Crais

Sebelumnya, Robert Crais dikenal sebagai penulis novel serial Elvis Cole dan Joe Pike. Novel perdananya, The Monkey's Raincoat (1987) memenangkan Anthony Award dan Macavity Award serta menjadi nominee Edgard Award tahun 1988. Setelah Demolition Angel (2000), Hostage adalah novel nonserial kedua karya Crais. Hostage terpilih sebagai Notable Book of the Year versi New York Times dan dikukuhkan sebagai thriller nomor satu oleh para editor Amazon.com (2001). Tahun 2005, Hostage difilmkan dengan aktor Bruce Willis sebagai Jeff Talley. Hostage merupakan novel pertama yang dibolehkan Crais untuk diadaptasi menjadi film layar lebar. Sampai saat ini Crais tetap tidak ingin menjual hak pembuatan film untuk novel-novel serialnya dengan alasan hendak menjaga karakter-karakter ciptaannya yang sudah melekat di benak pembaca.



Lelaki kelahiran Baton Rouge (Lousiana) 1953 yang dikenal juga sebagai cerpenis ini memulai karier kepenulisannya sebagai penulis skenario untuk serial televisi seperti Hill Street Blues, Cagney & Lacey, Quincy, Miami Vice dan L.A Law. Ia pernah menjadi nominee Emmy Award untuk Hill Street Blues. Untuk karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa , pada tahun 2006, Crais meraih Ross Macdonald Literary Award.


Edisi Indonesia

Setelah Map of Bones (James Rollins), Hostage adalah novel kedua genre  suspense-thriller karya penulis bestseller internasional yang diterbitkan Rajut Publishing. Kehadiran karya Robert Crais versi Indonesia ini tak pelak lagi akan ikut meramaikan dunia perbukuan Indonesia yang saat ini kian riuh oleh novel terjemahan genre yang sama. Menyenangkan bagi para pengemar novel genre ini karena dengan bertambahnya penulis dan judul baru, akan bertambah karya yang bisa dijadikan pilihan.

Selain hasil terjemahan dan penyuntingan yang unggul, novel akan sangat dinikmati jika dikemas dengan baik. Secara umum, Hostage telah dikemas secara menarik. Sampulnya bagus, meski tetap terkesan ramai dengan tambahan sub judul yang lumayan panjang: Tegakah Anda Mengorbankan Orang Lain Demi Menyelamatkan Keluarga Sendiri?. Naskah novel juga dicetak dengan jenis huruf berukuran besar sehingga enak dibaca.

Sayangnya, kesalahan cetak tidak terhindarkan. Masih terdapat pembukaan alinea yang salah letak dan penulisan nama yang keliru. Hal ini memang tidak terlalu mengganggu keenakan membaca. Hanya, selain itu, masih ada halaman yang tidak berurutan seperti pada halaman 129 - 144. Yang paling mengganggu, ada satu bab yang tidak tercetak, yaitu bab 14. Sepertinya kekurangan ini tidak hanya terjadi di buku yang saya baca. Karena, bab 14 tetap ada (hlm. 260 – 276), tapi memiliki isi yang persis sama dengan bab 16.

Walaupun dengan kekurangan yang ada jalan cerita masih bisa dipahami, tentu saja lebih enak membaca versi yang benar-benar lengkap, dengan minimalisasi atau bahkan eliminasi kesalahan cetak.



Posted at 11:30 am by Jody
Make a comment  

Saturday, August 25, 2007
MERAH ITU CINTA



Judul Buku: Merah itu Cinta
Penulis: FX Rudy Gunawan
Berdasarkan skenario karya:Nova Riyanti Yusuf
Tebal: iv + 138 hlm; 11,5 x 19 cm
Terbit: Cetakan I, 2007
Penerbit: GagasMedia


MERAH SEMERAH MERAHNYA MERAH*)


Menjelang pernikahannya, Raisa kehilangan calon suaminya, Rama. Rama yang baru kembali dari Australia meninggal karena kecelakaan mobil di jalan tol. Peristiwa ini menggoncangkan kehidupan Raisa. Dari apa yang ditinggalkan Rama, Raisa menemukan foto-foto Rama dengan ekspresi bahagia yang diambil seminggu sebelum Rama pulang ke Jakarta.

Di tengah-tengah kesedihan yang dalam, tiba-tiba muncul Aria, sahabat Rama, yang sudah lama berdomisili di Australia. Awalnya mereka tidak bisa berbagi, tapi lama kelamaan, meski cukup rumit, di antara mereka terjalin pengertian satu sama lain. Raisa kehilangan kekasih, sedangkan Aria kehilangan sahabat. Hubungan di antara mereka meningkat sampai suatu malam, mereka akhirnya bercinta.

Namun, setelah bercinta, Aria justru meninggalkan Raisa, dengan sejumlah barang, termasuk hadiah yang pernah diberikan Rama untuk Aria.

Demikianlah isi novel Merah itu Cinta, hasil adaptasi FX Rudy Gunawan (FRG, sesuai nama di sampul novel) dari skenario film racikan Nova Riyanti Yusuf dengan judul yang sama. Novel ini merupakan adaptasi skenario film produksi Indonesia kesekian yang diterbitkan oleh GagasMedia. Sampai saat ini, sepertinya, hanya GagasMedia yang memiliki perhatian yang intens terhadap penerbitan novel jenis ini. Hampir semua skenario film Indonesia yang dijadikan novel diterbitkan GagasMedia. Penerbit lain yang juga sempat menerbitkan hasil novelisasi skenario film adalah penerbit Akoer dengan Biola Tak Berdawai (Seno Gumira Adjidarma) dan Nagabonar Jadi 2 (Akmal Nasery Basral).

Salah satu hal yang menarik dari penerbitan jenis novel ini adalah penerimaan pembaca yang cukup baik yang dibuktikan dengan adanya beberapa novel yang mengalami cetak ulang berkali-kali.

Sayangnya, dari banyak novel jenis ini, sering ditemukan kelemahan yang umumnya muncul dari segi penggarapan. Banyak yang digarap secara kurang menarik dan terkesan asal jadi. Ada beberapa yang bahkan terkesan menjadi novel hanya dengan penambahan kalimat-kalimat secukupnya.

Penyebab gagalnya novelisasi skenario film mungkin karena pada dasarnya isi skenario memang tidak menarik; baik cerita, plot, dan dialog-dialognya. Tapi juga bisa disebabkan karena adaptatornya tidak memiliki kecakapan melakukan novelisasi.

Sesungguhnya Merah itu Cinta memiliki konflik yang cukup menarik, kendati tidak berbelit-belit. Tapi jika dicermati, skenarionya sendiri sudah lemah. Alur ceritanya irit, kering, dan kurang menarik. Juga masih ditambah dengan dialog-dialog yang kurang cerdas dan kurang enak disimak.

Sebagai penulis tentu saja kemampuan FRG tidak diragukan lagi. Ia telah menghasilkan sejumlah karya termasuk novel seperti Mata Yang Malas dan 170.8 FM: Radio Negeri Biru. Ia bahkan telah menghasilkan sejumlah novel adaptasi skenario film seperti Tusuk Jelangkung, Bangsal 13, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Mirror, dan Realita Cinta dan Rock n Roll. Tapi, dari novel ini bisa dilihat bahwa FRG tidak bisa membebaskan diri dari kungkungan skenario film. Ia sepertinya bersikukuh untuk benar-benar setia dengan skenario. Alhasil, novel ini menjadi salah satu novelisasi skenario film yang tidak meyakinkan. Sebuah skenario dengan pengembangan seperlunya. Bahkan sejak adegan pembuka, novel ini sudah minus daya tarik.

Jika melihat isi novel, kemungkinan, dalam versi lebih pendek (misalnya cerpen), cerita dalam film ini lebih bisa dialirkan secara padat dan menggigit. Hal ini terkesan dari durasi novel yang memuai dengan adegan-adegan yang pada beberapa tempat dipanjang-panjangkan agar bisa hadir sebagai novel.

Kisah digulirkan FRG menggunakan dua perspektif. Orang pertama (melalui perspektif Aria) dan orang ketiga. Pemilihan perspektif orang pertama jelas hanya untuk membuat cerita tampak beda karena ternyata novel tidak menjadi berbeda dengan penggunaan teknik ini. Penggunaan perspektif orang pertama baru muncul secara mendadak pada halaman 65 (dari 135 halaman yang ada). Ini memunculkan kesan jika penggunaan teknik dilakukan secara agak 'terpaksa'. Akan berbeda kesannya jika FRG telah memunculkan Aria sejak awal cerita. Bukan hal yang tidak mungkin. Tugas seorang penulislah untuk menyiasati kehadiran karakter yang ada dan tetap memosisikan mereka dalam kondisi terkendali. Artinya, jangan sampai apa yang nanti akan diungkapkan belakangan keburu hadir sebelum tiba saatnya. FRG bahkan sempat terpeleset ketika beralih dari perspektif orang ketiga ke orang pertama. Simak pembukaan cerita dari perspektif orang pertama yang ditulis FRG (hlm. 65):

PERKENALKAN, namaku Aria.
Ya, akulah Aria, sahabat karib Rama sejak kecil yang diceritakan Ibu Rama pada Raisa

Sebelumnya, menggunakan perspektif orang ketiga, kepada Raisa, Ibu Rama menceritakan hubungan persahabatan Aria dan Rama yang terjalin sejak kecil (hlm. 52 - 53). Meski pembaca tahu karena telah membaca sebelumnya, apa yang diceritakan Ibu Rama pada Raisa jelas-jelas tidak diketahui oleh Aria. Jadi, tidak mungkin Aria membuka kisahnya dengan kalimat seperti di atas.

FRG bisa dikatakan terlalu cepat membuka misteri yang menjadi "jualan" utama Merah itu Cinta. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ia sendiri bingung mengembangkan cerita yang sudah ada. Mau dikemanakan alurnya sebelum mencapai ending dan cerita ini bisa tetap dihidangkan kepada pembaca sebagai novel? Alhasil, surat Aria untuk Raisa di akhir novel tidak memberi efek yang menggedor. Toh pembaca sudah tahu sebelumnya siapa sebenarnya Aria.

Mungkin, cerita dalam novel ini, oleh adaptator, bisa dikembangkan lagi. Misalnya, tidak langsung dibuka dengan kematian Rama. Membaca novel ini, saya tidak mendapatkan kesan hubungan yang intens antara Rama dan Raisa yang digambarkan secara hidup. Hubungan cinta mereka diketahui hanya dari kenangan-kenangan yang muncul setelahnya. Jika percintaan mereka digarap lebih dalam termasuk kebimbangan Rama, ceritanya akan tampil lebih menarik.

Selain itu, ada beberapa hal yang menarik untuk dibicarakan.

Pertama, sewaktu di jalan tol menjelang kematiannya, sebenarnya Rama datang dari mana? Dari rumahnya yang entah di mana atau dari bandara langsung? Diceritakan Rama menyetir mobil sendiri. Dari mana dia dapat mobil seandainya ia langsung dari bandara dan hanya seorang diri?

Kedua, kemunculan pertama Aria. Aria yang sepertinya menyusul Rama dari Australia (3 hari setelah Rama pulang?) kok langsung ke rumah Raisa?

"Aku langsung menuju ke rumah Raisa karena kupikir Rama berada di sana saat itu. Rama-lah yang memberikan alamat rumahnya padaku (hlm. 65)," tulis FRG. Mengingat hubungan di antara Rama dan Aria, apakah Aria akan segera ke rumah Raisa begitu tiba di Indonesia? Bukankah lebih tepat jika Aria datang ke rumah orang tua Rama yang mengenal Aria dengan baik?

Ketiga, sebelumnya juga, tidak ada penjelasan untuk apa Rama pergi ke Australia. Mengunjungi Aria untuk mengatakan bahwa dia akan menikah? Lalu, untuk apa Aria menyusulnya ke Indonesia? Juga tidak ada penjelasan. Kemunculan Aria karena kematian sahabatnya, mungkin bisa jadi alasan yang masuk akal. Hanya, dalam novel dikatakan Aria datang tanpa tahu sebelumnya kematian Rama. Dia mendapatkan info kematian Rama dari Fanny, teman serumah Raisa, yang adalah seorang pelacur.

Keempat, pekerjaan Fanny yang dikisahkan sebagai pelacur terkesan terlalu dipaksakan. Kenapa juga dia harus diberi pekerjaan sebagai pelacur? Supaya kisah dalam film (novel) ini lebih provokatif? Apakah dengan menjadi karyawan sebuah perusahaan, misalnya, cerita lantas menjadi tidak menarik? Atau hanya supaya adegan Aria jalan-jalan di red districk lebih dari kebetulan yang mengesankan? Padahal, adegan di red districk tidak lebih dari tempelan belaka.

Kelima, adegan percintaan Aria dan Raisa pada akhir novel perlu mendapatkan penjelasan yang memadai. Anehnya, ketika hal itu terjadi -kebetulan dikisahkan oleh Aria sebagai narator orang pertama, disebutkan Aria sendiri tidak tahu apa yang memicu rangsangan erotis yang berakhir dengan persetubuhan di antara mereka.
          Aku bercinta dengan Raisa tadi malam.
          Ya, bercinta.
         Benar-benar bercinta antara lelaki dan perempuan. Aku tak tahu apa yang merasuki diriku, tetapi jelas ada hasrat yang kurasakan membakarku saat mencumbu Raisa. Aku tak bisa memungkirinya. Ini benar-benar nyata dan memutarbalikkan semua keyakinanku tentang diriku
.
         Absurd.
       Dalam arus putaran yang mengisap diriku ke suatu pusaran aneh, aku merasa diriku lenyap dan musnah
(hlm. 133).

Kemudian selanjutnya, "Namun, kondisi itulah yang kemudian memicu keberanianku untuk meninggalkan sebuah surat untuk Raisa," kata Aria (hlm. 133).

Dan dalam surat tersebut, tulis Aria,

"Raisa... Gue gak tau apa yang ada di pikiran lo sekarang. Mungkin lo jatuh cinta sama gue. Atau, mungkin, elo mengira gue jatuh cinta sama elo. Kenyataannya, gue cuma ingin mencari keajaiban. Dan, itu gue dapetin ketika gue bisa ngerasain Rama di sekujur tubuh elo. Gue pengen ngerasain sisa-sisa kehadiran Rama di mana pun juga. Termasuk di tubuh elo." (hlm. 134)

Ini berarti Aria tahu 'apa yang merasuki diri'-nya (atau terlambat tahu?). Selanjutnya ia menulis, "Niat gue baik, gue pengen elo kembali menjadi diri elo setelah kehilangan Rama. Karena gue pun berusaha membangkitkan semangat di dalam diri gue dengan ngehabisin waktu gue dengan elo, " kata Aria (hlm. 134). " Gue berharap kenyataan gila ini tidak membuat lo shock, tapi justru, membuat lo kembali menjadi diri sendiri dan bisa menerima kenyataan yang harus lo hadapi...."

Jadi, tindakan Aria (baca: penetrasi) atas tubuh Raisa, adalah (termasuk) sebuah niat baik untuk membuat Raisa kembali menjadi dirinya sendiri? Alangkah edannya!

Terakhir, soal penggunaan kata merah. Dalam novel ini kita akan menemukan ungkapan-ungkapan 'merah' seperti cinta yang merah, duka yang teramat merah, lebih merah dari merah, merah yang paling merah, merah adalah kebahagiaan dan merah semerah merahnya merah. Bukannya terkesan, saya malah merasa geli membaca ungkapan-ungkapan ini. Yang paling terakhir, yang bikin saya geli adalah penggunaan kata 'anu' pada halaman 125. Mungkin karena sampai 4 kali disebutkan. Penggunaan 'alat kelamin', 'kemaluan' atau 'penis' sama sekali bukan berarti tidak sopan. Lagipula, ketiga kata ini tidak akan menggelikan dipakai jika dibandingkan dengan kata 'anu' yang diberi tanda petik.

Setelah usai membaca novel ini, kita akan mengerti, tidak gampang mengalihwahanakan sebuah skenario film menjadi sebuah novel. Tapi, sebagai penulis berpengalaman dengan sejumlah novel adaptasi skenario film, bukankah FX Rudy Gunawan telah sangat mengetahui lubang-lubang dalam sebuah cerita? Sebagai adaptator, tugasnya sebagai pengarang untuk menutup lubang-lubang yang ada, meski harus tampil sedikit berbeda dengan versi filmnya.

Mungkin Anda akan punya pendapat yang berbeda, dan ini sah-sah saja. Tapi, tentu saja Anda harus membaca novel ini sebelum mengangsurkan pendapat Anda.


*) Bagian dari puisi karya Aria. Bisa ditemukan di halaman 67 dan 72.


Posted at 10:42 am by Jody
Comment (1)  

Tuesday, August 21, 2007
KILL!





Judul : Kill!
Diterjemahkan dari : The Straw Men (2002)
Penulis: Michael Marshall
Penerjemah: Ella Elviana
Tebal: 524 hlm; 14 X 21 cm
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Penerbit: Dastan Books


TEORI KONSPIRASI MANUSIA TEGAK


Michael Marshall -lengkapnya Michael Marshall Smith, adalah penulis asal Inggris yang telah menghasilkan berbagai karya berupa novel, cerita pendek, novella, maupun skenario film. Novel perdana lelaki kelahiran Inggris tahun 1965 ini, Only Forward (1994), yang ditulis menggunakan nama Michael Marshall Smith, telah memenangkan August Derleth Award dan Philip K. Dick Award. Marshall tercatat sebagai penulis yang beberapa kali memenangkan BASF Award (kategori fiksi pendek) dan British Fantasy Award. The Straw Men adalah novel keempat Marshall setelah Only Forward, Spares (1996), dan One of Us (1998).

Edisi Indonesia The Straw Men yang merupakan hasil terjemahan Ella Elviana diterbitkan Penerbit Dastan dengan judul baru, KILL!. Pada sampul depan yang provokatif, ada embel-embel kalimat: EVOLUSI HARUS BERLANJUT. Mereka yang membunuh Akan Terselamatkan. Mereka Yang Tidak, Menjadi Korban...

Kill! dibuka dengan sebuah kejadian berdarah yang terjadi pada 30 Oktober 1991 di sebuah restoran McDonald di Palmerston, Pennsylvania. Di tengah-tengah acara makan siang, dua orang pria menghamburkan peluru dari senapan semiotomatis dan menewaskan 68 orang. Salah satu pembunuh, yang masih remaja, tewas dibunuh oleh pasangannya yang lebih tua, yang segera menghilang pasca kejadian.

Sepuluh tahun kemudian –masa kini dalam novel- seorang mantan agen CIA bernama Ward Hopkins, kembali ke Dyesburg, Montana. Ia datang karena kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan mobil. Sehari setelah pemakaman, secara kebetulan, Ward menemukan sebuah novel terselip dalam sofa milik ayahnya, dengan secarik kertas bertuliskan: "Kami tidak mati."

Sementara itu, John Zandt yang telah meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif LAPD dan menghabiskan waktunya di Pimonta, Vermont selatan, dikunjungi oleh Nina Baynam, seorang agen FBI. Dua tahun sebelumnya mereka terlibat pengusutan kasus menghilangnya beberapa gadis remaja. Mereka sempat terlibat perselingkuhan sampai akhirnya Karen Zandt, putri John, menjadi korban kelima. John menemukan tersangka penculiknya. Nina datang untuk mengajak Zandt melanjutkan investigasi mereka. Di Santa Monica, seorang gadis remaja bernama Sarah Becker diculik dan hilang bagaikan ditelan bumi. Diduga, penculik yang sama yang dulunya digelari Anak Tukang Kirim (The Delivery Boy) beraksi kembali. Padahal John telah membunuh tersangka penculik gadis remaja yang memproklamasikan dirinya sebagai si Manusia Tegak (The Upright Man).

Setelah melakukan penculikan, si Manusia Tegak memiliki kebiasaan mengirimkan sweter dengan sulaman nama korban menggunakan rambut korban sendiri kepada keluarganya. Tapi, Nina menemukan rambut yang digunakan pada sweter Sarah adalah rambut Karen.

Pesan singkat Donald Hopkins membuat Ward terusik dan ingin tahu secara persis peristiwa tabrakan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sebuah video yang ditemukan dalam VCR milik ayahnya kian mendorong Ward untuk menelisik misteri kematian orang tuanya. Pengusutan Ward yang dibantu temannya, Bobby Nygard, mengantarkannya ke sebuah perumahan eksklusif yang pernah menarik perhatian Donald Hopkins.

Secara tak terduga, dalam kabut kebingungan, Zandt menemukan kunci misteri penculikan dan pembunuhan gadis-gadis itu. Ternyata, si Manusia Tegak tidak bekerja sendirian. Seiring dengan itu, investigasi Ward dan Bobby, menuntun mereka ke dalam dunia sebuah kelompok yang menamakan diri The Straw Men. Selanjutnya, investigasi mereka akan membuhul peristiwa kematian orang tua Ward, penculikan Sarah Becker, dan penyelidikan Nina dan Zandt. Dengan si Manusia Tegak sebagai pengikat.

Masalahnya sekarang, siapa si Manusia Tegak ini? Pengungkapan wajah si Manusia Tegak tidak hanya akan menguliti keberadaan The Straw Men yang ternyata telah lama eksis, tapi juga akan mengelupas rahasia kehidupan Ward yang tidak pernah ia ketahui.

Pada klimaks yang mencekam, ketika semua plot tersimpul menjadi satu dan padu, akan terburai sepenuhnya rencana sekelompok manusia yang didasari oleh sebuah teori  konspirasi gila.

Hadir dalam 3 bagian besar dengan 37 bab (termasuk prolog dan epilog), sejak awal Michael Marshall telah membuat pembaca bertanya-tanya ke mana plot akan digulirkan. Setelah prolog misterius yang dipaparkan secara terkendali, Marshall membawa pembaca masuk dalam beberapa plot: kehidupan Ward Hopkins dan perjalanan menguak misteri kematian orang tuanya, kehidupan John Zandt dan perjuangannya memecahkan misteri hilangnya gadis-gadis dengan Nina Baynam, juga cerita penculikan Sarah Becker dan interaksinya dengan si Manusia Tegak. Pelan-pelan, di sela-sela kejutan yang dibeberkan, akan tersingkap sesungguhnya semua plot itu saling kelindan. Hanya untuk mencapai simpulnya, pembaca harus sedikit sabar. Karena Marshall bukan pencerita yang terburu-buru.

Cerita digulirkan menggunakan 2 perspektif. Perspektif orang ketiga dan orang pertama. Untuk orang pertama, Marshall menggunakan Ward sebagai narator. Entah pertimbangan apa yang digunakan. Selama membaca novel ini, saya tidak melihat perbedaan signifikan yang muncul lantaran penggunaan teknik ini. Mungkin, Marshall ingin tampil agak beda, dan ini sah-sah saja. Apalagi, cerita tetap bisa dinikmati.

Oleh Marshall, plot kelam rancangannya digelorakan oleh karakter-karakter kuat yang memiliki kehidupan yang problematis. Hasilnya, cerita menjadi lebih menarik karena tidak hanya sepenuhnya membedah kasus yang ada. Tapi juga kehidupan para karakter lebih dalam. Dan yang jelas, dengan tidak menciptakan lanturan.

Kendati wajah si Manusia Tegak telah ditelanjangkan, dilihat dari pakem sebuah novel pada umumnya, kisah dalam novel ini sejatinya memang belum tuntas. Kecuali, Marshall sengaja memberikan penyelesaian cerita seperti itu. Tapi rupanya kisah si Manusia Tegak ini telah dikembangkan Marshall dalam 2 novel berikutnya, The Lonely Dead (judul Amerika, The Upright Man, 2004) dan Blood of Angels (2005) sehingga keseluruhannya menjadi novel trilogi. Dengan demikian, kita berharap, cerita benar-benar akan dituntaskan secara memuaskan.



Michael Marshall

Embel-embel di bawah judul edisi Indonesia pada sampul depan memang benar-benar menyiratkan isi novel yang saat ini telah dikembangkan menjadi komik berseri. Jadi, tidak mengada-ada atau bombastis. Hanya, untuk memahami maksudnya, mesti membaca novelnya dulu. Embel-embel itu merupakan bagian sebuah teori gila yang tertuang dalam sebuah tulisan bertajuk Manifesto Manusia (Straw Man Manifesto), yang menjadi landasan ideal karakter antagonis utama novel.

Penasaran? Bagaimana kalau Anda baca sendiri?


Posted at 11:05 am by Jody
Comments (2)  

Sunday, August 19, 2007
MAHASATI




Judul Buku: Mahasati
Penulis: Qaris Tajudin
Penyunting: Aries R. Prima
Tebal: 396 halaman
Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2007
Penerbit: PT Andal Krida Nusantara (AKOER)

KENANGAN, LAUTAN CINTA, DAN KITAB AIR MATA

Ribuan tahun silam seorang raja penyair nan bijaksana -Sulaiman- pernah mengumandangkan kata-kata yang menggambarkan kedahsyatan cinta. Kira-kira begini katanya, "Cinta kuat seperti maut, air yang banyak tak dapat memadamkannya, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya". Mahasati, novel perdana Qaris Tajudin, jurnalis koran dan majalah Tempo, kembali mengumandangkan cinta seperti yang digambarkan raja itu. Cinta yang begitu gigih, tak pernah padam, dan tak sanggup dihanyutkan oleh arus waktu. Cinta seorang lelaki, yang menggumpal dalam kenangan, menghancurkan hati, tapi juga memberikan stamina untuk bertahan.

Setelah 10 tahun berpisah Andi bertemu dengan Larasati (Sati) pada saat pemakaman teman mereka, Yoyok alias Item, si perajin emas. Kembang cinta yang pernah mekar di antara mereka, merekah kembali dalam wujud yang lebih dewasa. Andi telah menjadi wartawan, sedangkan Sati setelah sebelumnya menjadi model, bekerja sebagai perancang busana. Sama-sama belum terikat pernikahan, meski Sati telah memiliki seorang anak perempuan berusia 8 tahun –Rania- produk hubungan ekstramarital dengan lelaki beristri.

Keadaan Sati tidak mempengaruhi cinta Andi. Cinta Andi sanggup menerima segala kekurangan Sati. Sungguhpun demikian, tidak terkilas di benak Andi untuk segera meminang Sati, kendati mereka telah terjebak dalam hubungan suami-istri. Di tengah hubungan cinta mereka, Sati mesti merelakan kepergian Rania karena diambil ayah kandung anak itu. Andi tak dapat menolong kekasihnya, bahkan hingga Sati menenggak Valium yang berakhir dengan kematiannya.

Kematian Sati melayangkan pukulan telak ke dalam hidup Andi, membekaskan penyesalan dan rasa bersalah. Pekerjaannya menjadi kacau balau karena kehilangan fokus. Ia memutuskan mengambil cuti dan meretas jalan ke Kairouan, Tunisia. Tapi, di sana, tanpa ia duga, ia tersangkut aksi teror sekelompok aktivis Islam garis keras yang menentang pemerintahan Tunisia. Andi segera masuk daftar cekal dan terancam diciduk. Miriam Ezra, seorang gadis Yahudi, yang bersimpati kepada Andi, menolong pelarian Andi dan Ahmed, seorang calon dokter, meninggalkan Tunisia, menuju Sisilia, Italia.

Ternyata Miriam menolong mereka menggunakan jalur mafia Italia. Mereka dipertemukan dengan sosok mafia yang tiba-tiba bermaksud menjadikan mereka sandera gara-gara transaksi yang terhambat dengan Hadar Ezra, ayah Miriam. Atas bantuan Tumino, yang menganggap dirinya sebagai Obi Wan-Kenobi dan Andi sebagai Anakin Skywalker, Andi dan Ahmed meninggalkan Italia. Mereka memutuskan menuju Afghanistan, merintis perjalanan laksana Che Guevara, dan terdampar di sebuah rumah sakit di Jalalabad pada saat Afghanistan berada di bawah pemerintahan Taliban.

Pertemuan dengan Fairuz membuat Andi memutuskan untuk menjadi anggota pengawal bersenjata yang melindungi keluarga suku nomaden Afghanistan dari serangan begal. Dalam perjalanan menyusuri persilihan musim di pegunungan Hindu Kush, Andi terjerat pesona kecantikan perempuan Hindu Kush bernama Nafas.

"Janganlah bersedih, karena cintamu sudah digariskan. Martirlah mereka yang mati mencari cinta. Kau ditakdirkan untuk selalu berlalu di lautan cinta tanpa pernah berlabuh. Seluruh umurmu adalah kitab air mata. Kau ditakdirkan terpenjara di antara air dan api." (hlm.250). Demikian kata-kata peramal wanita di Ragusa ketika membaca kehidupan Andi. Meski Andi tak percaya, kata-kata ini terus membuntuti sampai akhir hidupnya.

Dari Afghanistan, ia terjaring tentara Amerika, yang meraupnya dari tanah Afghanistan, dan mengempaskannya ke penjara di Guantanamo bersama ratusan tawanan perang lain. Setelah interogasi 2 bulan yang gagal –disertai tindakan kekerasan- oleh tentara Amerika, akhirnya penanganan Andi diserahkan pada perempuan perwira  Amerika bernama Lucia Wong.

Kepada Lucia Wong lah akhirnya Andi mau membuka mulut dan membagi kenangan hidupnya. Tapi tidak tuntas pada saat interogasi, karena kesehatan Andi semakin memburuk dengan berlalunya waktu. Kepada Lucia Wong, selain menitipkan gelang kaki dan sapu tangan milik Larasati, Andi meninggalkan dua buku hasil tulisan tangannya. Hasil percakapan, kenangan, dan isi buku yang ditinggalkan Andi inilah yang kemudian kita baca dalam novel Mahasati ini.

Dalam sebuah percakapan antara Andi dan Sati mengenai keberadaan cinta di surga (hlm. 79), terungkaplah makna dari Mahasati. Sati, yang dalam bahasa Sansekerta berarti istri sejati, adalah kebiasaan perempuan India melakukan bunuh diri saat suaminya meninggal. Caranya dengan masuk ke dalam api perabuan sang suami. Tindakan ini dilakukan dengan harapan sang istri bisa tetap bersama suaminya di alam baka. Kendati awalnya hanya mitos, kebiasaan ini tetap dilakukan sebelum dilarang pada masa penjajahan Inggris. Untuk mengenang perempuan-perempuan yang melakukan sati, didirikan patung yang akan dipuja secara berkala yang disebut Mahasati.

Sati mengatakan pada Andi jika ia tidak ingin dikenang dengan cara sati. Tapi lalu bertanya pada kekasihnya, "Apa kau memilih untuk hancur saat aku mati nanti, atau kau memilih untuk melanjutkan  hidup dan mengganggap tak ada cinta di surga?" (hlm. 80).

Saat itu Andi tak menjawab. Tapi sepeninggal Sati, meski harus melanjutkan hidup, jelas-jelas Andi memilih pilihan pertama, hancur dan mengisbatkan dirinya sebagai Mahasati lelaki. Masih dalam wujud Mahasati inilah akhirnya Andi menemukan dirinya berakhir di Guantanamo di hadapan perwira Amerika berdarah Cina yang tertarik dengan kehidupannya.

Secara keseluruhan Mahasati merupakan novel yang cukup menarik. Walaupun bertolak dari pelabuhan cinta, isi novel tidak hanya bergerak-gerak di lautan cinta. Ia juga meniti keras dan getasnya daratan, menyinggahi berbagai tempat dengan gelegak konflik, menjadikan novel ini sebagai kisah perjalanan seorang lelaki memaknai hidup dan cintanya serta menghadapi kepengecutan dirinya. Cerita disampaikan dengan cerdas dan terkadang puitis. Di sana-sini, kita bisa membaca taburan puisi yang terserak dari imajinasi penyair-penyair seperti W. S. Rendra, Goenawan Mohammad, Abdul Hadi, Nizar Qabbani, dan George Mackay Brown. Qaris rupanya penggemar puisi, sehingga tidak cukup melontarkan kalimat-kalimat puitis ciptaan sendiri, ia juga meminjam kalimat-kalimat puitis para penyair tersebut. Yang paling menarik adalah puisi Nizar Qabbani  yang secara lengkap bisa disimak di halaman 373 – 375.

Sebetulnya plot yang digerakkan Qaris tidaklah sangat istimewa. Seorang lelaki patah hati, membawa luka hatinya, mencoba membenamkan ke balik tabir kenangan, dan menghadapi pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya. Hanya oleh Qaris, lelaki ini tidak dibawa pergi ke tempat-tempat indah penuh ketenangan yang mungkin bisa menjadi spons bagi kepedihannya. Ia malah dibawa pergi ke tempat konflik siap tersulut dan berbagai peristiwa tak terduga dengan mudah terpercik menjadi bara api. Agak aneh juga. Tapi itulah yang dipilih Qaris untuk karakter utamanya. Kemungkinan pemilihan Tunisia dan Afghanistan sebagai latar dipengaruhi oleh pengalaman Qaris sebagai jurnalis yang pernah bersinggungan dengan wilayah-wilayah tersebut. Tapi hal ini pasti telah direncanakan oleh Qaris dengan saksama melihat dari mana novel ini bergulir, Guantanamo. Penggunaaan Tunisia dan Afghanistan sebagai latar bahkan memberikan sentuhan daya tarik ke dalam alur cerita. Penguasaan latar yang ditunjukkan oleh Qaris membuat kisah yang diusungnya menjadi hidup dan menarik untuk disusur.

Andi Djatmika, karakter utama novel, adalah karakter Romeo ciptaan Qaris yang menarik. Cintanya terasa menyentuh, tapi sekaligus menggugat. Di tengah penghakiman sejumlah perempuan mengenai cinta lelaki yang tak bisa dipercaya dan jauh dari kesejatian, Qaris menunjukkan bahwa penghakiman kaum perempuan itu tidak selamanya benar. Lelaki, bisa juga terluka oleh cinta. Lelaki, bisa juga membawa mati cintanya. Meminjam ungkapan Nizar Qabbani, lelaki juga memiliki cinta dengan keganasan Tartar, kehangatan savana, dan derasnya hujan. Tak heran, Lucia Wong terkesima dan minder karena menemukan cinta seperti yang dimiliki sang tahanan. Dengan menggoda, Qaris memaparkan bahwa Lucia, saking terpesonanya, ingin menggali lebih dalam kisah cinta yang kadung termeterai dalam hati Andi. Untuk ia pinjam sebelum ia memilikinya sendiri.

Kematian Larasati adalah motor penggerak perjalanan Andi. Sebelum menuliskan hal-hal penting yang menyebabkan kematian Larasati, sebaiknya Qaris melakukan sedikit riset. Pada halaman 102, Qaris mengungkapkan jika Larasati menenggak 4 butir Valium 500 gram (menurut pengakuan Larasati hanya 3 butir yang tertelan). Saya berasumsi, Valium yang dimaksud adalah tablet Valium, karena secara oral, Valium hanya tersedia dalam bentuk tablet, bukan bentuk lain seperti kapsul. Masalahnya di sini, Qaris menyebutkan 500 gram. Bukan jumlah yang sedikit. 500 miligram saja sudah tidak mungkin untuk dosis Valium -mengandung zat bernama diazepam, sejenis hipnotik dan sedatif- karena ia tidak sama dengan aspirin atau ampisilin. Tidak ada Valium dengan kandungan 500 miligram, apalagi 500 gram per tablet. Coba bayangkan bentuk tablet dengan diazepam seberat 500 gram (belum lagi berat zat tambahan yang digunakan untuk membuat tablet).

Akibatnya penyebab kematian Larasati menjadi mentah. Apalagi, kemudian disebutkan jika 3 butir Valium yang tertelan berpengaruh pada Larasati, yang mendadak, tanpa disinggung sebelumnya, mengidap kelemahan jantung. Jika Qaris menggunakan Valium untuk mengatalisasi kematian Larasati, setidaknya ia memiliki pengetahuan takaran Valium yang ada dan kuantitas yang memiliki kontraindikasi terhadap kelemahan jantung, jika ada. Kesalahan Qaris tentu saja mengganggu kelogisan cerita yang ia sampaikan.

Dalam percakapan antara Lucia Wong dan Andi Djatmika, juga ditemukan kalimat-kalimat yang terkesan janggal.  Misalnya, jawaban Andi ketika Lucia menanyakan respons keluarga atas keputusannya pergi ke Tunisia (hlm. 143). Lucia: "Bagaimana dengan keluargamu?" Andi: "Ibu menyetujui rencanaku. Apalagi saat kuberitahu bahwa kepergianku ini untuk menemukan kembali diriku yang sempat hilang. Katanya, 'Ibu hanya bisa berdoa. Hanya satu pesan ibu, jangan pernah melupakan orang yang pernah membantumu. Di rantau, mereka adalah keluargamu'.  "Aku mencium tangannya. Ia mengelus rambutku dan mencium ubun-ubunku. Ciuman terakhir yang aku terima darinya hinggi kini. Ia tak menangisi kepergianku, karena ia tahu, anaknya akan segera kembali dengan kabar baik dari Tuhan."  Mengharukan, tapi rasanya janggal Andi mengucapkan  kalimat seperti ini pada saat interogasi. Tapi, tentu saja, ini cuma persepsi saya.

Secara umum, terbitan Akoer sudah lebih baik dari terbitan sebelumnya, jika melihat ukuran huruf yang dipakai. Tidak kecil-kecil, sehingga melelahkan mata. Sayangnya, usaha ini tidak diimbangi dengan kualitas cetak yang bagus. Selain pada beberapa halaman tulisannya mengabur, masih terdapat sejumlah kesalahan cetak yang mengganggu. Dan omong-omong, catatan kaki (footnote) letaknya di 'kaki' setiap halaman, bukan di akhir buku (endnote).

Agaknya, satu kali penyuntingan perlu dilakukan lagi untuk menyiangi naskah, supaya novel perdana Qaris Tajudin ini tampil lebih bersinar.


Posted at 12:25 pm by Jody
Comments (3)  

Thursday, August 16, 2007
MATA GOLEM






Judul Buku: The Golem's Eye (Mata Golem)
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Editor: Dini Pandia
Tebal: 624 hlm; 20 cm
Terbit: Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


MISTERI DI BALIK MATA GOLEM


Setelah The Amulet of Samarkand (Mei, 2007), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan bagian kedua dari Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud, The Golem's Eye (Juli 2007). Bagian ketiga, Ptolemy's Gate, akan terbit September 2007. Mengingat trilogi ini mengisahkan tentang hubungan penyihir dan jin, Nathaniel (Nat) dan Bartimaeus (Bart), maka sekali lagi, Bart, jin sombong dan berlidah tajam akan dipanggil dari Dunia Lain (dunia asal demon). Membaca ocehan-ocehan pedas Bartimaeus di buku pertama, jelaslah pemanggilan dirinya merupakan hal yang sangat tidak ia harapkan. Jika ia dipanggil, mau tak mau ia kembali lagi menjadi budak yang mesti menjalankan semua perintah sang master –penyihir yang memanggilnya.

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama Bart dan Nat. Saat cerita digulirkan sang penulis, Nat, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nat antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan kelompok commoner yang dikenal sebagai Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Trilogi Bartimaeus ini memang berlatar Inggris ketika manusia biasa (commoner) telah kehilangan kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan para penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Rahasia kekuasaan para penyihir terletak pada kemampuan mereka berkomunikasi dengan para demon, memanggil dari Dunia Lain, dan memaksa melaksanakan apa yang mereka inginkan. Kekuasaan para penyihir yang kerap bertindak congkak membuat sebagian commoner menjadi oposan. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Perdana Menteri Sihir, Rupert Devereaux.

Menjelang berlangsungnya Founder's Day (hari lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nat tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nat tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Menjadi tugasnya sebagai pekerja bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nat menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nat menimbulkan kemarahan Bart yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bart akan melayani Nat selama 6 minggu.

Dugaan Nat memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bart yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tantangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nat dan Bart ke Praha.

Simultan dengan kepergian Nat ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone, sang Pendiri Negara di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir.

Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nat karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nat bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bart tidak bisa menolong karena menolong Nat berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nat? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nat tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bart. Sangat menarik ketika Nat, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Bart tahu benar siapa dia, dan tahu benar juga, commoner ini tidak akan tega membiarkan Nat meregang nyawa percuma. Dalam situasi ini sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance. Apa yang pernah dikatakan Simon Lovelace dalam The Amulet of Samarkand (hlm. 329), bahwa di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang", tetap akan berlaku. Seperti bagian pertama, The Amulet of Samarkand, konflik utama tetap bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Siapa pencetus konflik dalam The Golem's Eye, akan Anda temukan setelah membaca buku setebal 624 halaman ini. Yang jelas, ia (ternyata) memiliki hubungan dengan karakter antagonis dalam The Amulet of Samarkand, Simon Lovelace.

The Golem's Eye terdiri atas 4 bagian besar yang dijabarkan dalam 48 bab. Kisah dibuka dengan sebuah prolog yang menceritakan serangan Gladstone atas Praha pada tahun 1868, saat Bartimaeus bermasterkan seorang penyihir Ceko. Tentu saja prolog ini memiliki pertalian dengan konflik yang akan dijabarkan pada bagian novel selanjutnya. Seandainya The Golem's Eye ini sebuah film (dan memang akan difilmkan), prolognya menjadi semacam teaser yang mengasyikkan.

Jika dalam buku pertama penulis mengalirkan plot melalui dua perspektif, yakni orang pertama dengan Bart sebagai narator dan orang ketiga untuk mengisahkan sepak terjang Nat, kali ini Jonathan Stroud menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik.

Seperti buku pertama, ketika membaca cerita yang dielaborasi Bart, kita tetap akan menemukan eskpresi yang sinis, sok tahu, dan egomaniak yang tidak cukup hanya menggunakan narasi biasa, tapi juga catatan kaki yang menggelikan. Tak dapat dibantah, hal inilah sesungguhnya yang menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Trilogi Bartimaeus. Tapi dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Keberadaannya di alam imajinasi Jonathan Stroud telah menjadi salah satu pendorong dirangkainya kisah Nat dan Bart dalam bentuk trilogi.

Masih menggunakan latar dunia sihir yang berbeda dengan kisah-kisah dunia sihir lainnya (dunia sihir tempat penyihir berkuasa, ritual pemanggilan demon dengan menggambar pentacle dan tujuh tingkat keberadaan (plane)), karakter-karakter yang menarik, plot terjaga yang kian meruncing mencapai bagian akhir, sekali lagi Jonathan Stroud membuktikan dirinya sebagai penulis kisah fantasi yang tangguh. Ia memiliki kemampuan meramu kisah dengan sangat mengasyikkan, yang akan terus menghasut pembaca untuk menuntaskan seluruh buku begitu membaca dan menemukan daya tariknya. Menurut Jonathan Stroud ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun penggarapan dalam bentuk novel yang siap diterbitkan. Ketiga buku dari Trilogi Bartimaeus ini diterbitkan pertama kali berturut-turut tahun 2003, 2004, daan 2005. Pada tahun 2006, Trilogi Bartimaeus memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis).

Edisi Indonesia diterjemahkan dengan asyik sehingga kita dapat menikmati The Golem's Eye dengan nyaman. Membaca buku kedua Trilogi Bartimaeus ini, tak pelak lagi, akan membuat pembaca yang telah menikmati petualangan Bartimaeus dan Nathaniel sejak buku pertama, akan tidak sabar untuk menanti jilid pamungkas kisah berlatar dunia sihir Inggris ini.

Mengutip School Library Journal (sampul belakang novel), secara keseluruhan, saya mesti bersetuju bahwa inilah, "karya fantasi yang harus dimiliki", terutama oleh penggemar novel fantasi dengan latar dunia sihir.




Jonathan Stroud



Posted at 10:22 am by Jody
Comment (1)  

Wednesday, August 08, 2007
GLONGGONG






Judul: Glonggong

Penulis: Junaedi Setiyono
Penyunting: Imam Muhtarom
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Tebal: 294 hlm
Penerbit: Serambi


HIDUP BERHARGA KARENA GLONGGONG



Namanya sebenarnya Danukusuma. Tapi ia lebih suka dipanggil Glonggong. Ia tidak mengenal ayahnya, Ki Sena, yang menghilang setelah terlibat sebuah pemberontakan yang gagal pada tahun 1810. Ibunya, Wahyuningsih, menikah lagi dengan Suwanda dan kedua kakaknya beralih menjadi tanggung jawab kerabat ibunya. Ia tidak pernah bertemu kedua kakaknya.

Sejak kecil Danukusuma memiliki kegemaran bermain glonggong -tangkai daun (pelepah) pepaya, yang dibentuk menyerupai pedang. Suatu hari, ketika sedang bermain glonggong, Danukusuma mendapatkan nama baru, yang akan melekat padanya seumur hidup, dari penunggang kuda yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Dipanegara. Akhirnya, bukan hanya menyandang nama glonggong, pedang tangkai pepaya itu juga membuat hidup Danukusuma berbeda (hlm. 11: Tanpa ada glonggong, aku boleh jadi akan seperti ibuku)

Di tengah-tengah keriangan masa kecil, menjalani hidup bermain dan bertanding glonggong, Glonggong diperkenalkan dengan kerasnya kehidupan. Kewarasan ibunya yang terganggu membuat ia dan Ibunya tersingkir, dan mau tidak mau ibunya yang sakit menjadi tanggung jawab Glonggong remaja. Tidak ada penjelasan mengenai terganggunya kewarasan ibu Glonggong. Ia diceritakan sebagai sosok yang tidak banyak bicara yang kerjanya menembang setiap hari.

Pada tahun 1825 (hlm. 93), saat berusia 17 tahun (tidak cocok dengan yang disebutkan pada bagian lain (hlm. 123), ketika pemberontakan yang melibatkan Ki Sena gagal dan Suwanda membawa pergi ibu Glonggong (1810), Glonggong berusia kurang dari 1 tahun), tempat tinggal Glonggong dan ibunya terbakar, ibunya meninggal, dan Glonggong hidup sebatang kara. Menyusul kejadian sedih yang menimpa Glonggong, patok-patok dipasang, sebuah jalan hendak dibuat menerobos pekarangan Nyai Tegalreja, nenek Pangeran Dipanegara. Patok-patok itu kemudian dicabut, korban berjatuhan, puri Nyai Tegalreja terbakar, dan bersama pengikutnya, Pangeran Dipanegara meninggalkan Tegalreja, menuju Selarong. Perang Jawa (Java Oorlog) pun berkobar memecahkan masyarakat Jawa ke dalam 2 kutub.  Pertama, memihak Pangeran Dipanegara dan melawan kompeni Belanda; kedua, memihak Patih Danureja (pihak keraton) yang mengadakan perselingkuhan dengan kompeni Belanda.

Dalam situasi genting, huru-hara berdarah, di sela-sela usaha Glonggong menemukan saudara-saudaranya, Glonggong dijebloskan dalam penjara. Di sini ia bertemu Ki Jayasurata yang mengajaknya membantu perjuangan Pangeran Dipanegara, menggantikan tugas yang pernah diemban Ki Sena dan dua kenalan Glonggong.

Dalam perjalanan menjalankan tugas, Glonggong dihadang gerombolan begal yang dipimpin oleh orang yang sangat dikenalnya. Seperti pendahulunya, Glonggong mencatat kegagalan dalam tugas yang sama.

Perjalanan Glonggong selanjutnya akan membuat ia berhadapan dengan sejumlah kenyataan yang sulit untuk ia terima. Bukan hanya pengungkapan misteri kedua kakaknya yang mengejutkan, tapi juga bagaimana para pendukung Pangeran Dipanegara meninggalkan perjuangan karena lebih memilih kehidupan yang enak dan nyaman sekalipun tetap terjajah.  Saat itu, orang-orang yang dikenalnya sejak dari masa kecil hingga Perang Jawa berkecamuk, menggoreskan noda dalam jiwanya. Salah satunya, menggunakan nama Glonggong untuk membalaskan dendam masa lalu yang tak terduga.

Hanya satu yang menjadi tujuan hidup Glonggong setelah semua perkara yang disaksikannya nyaris membuatnya lantak dalam kekecewaan, bertemu Pangeran Dipanegara untuk meluruskan kesalahan yang pernah ia lakukan. 28 Maret 1830, di Magelang, di sebuah tempat yang mengingatkannya pada suatu masa dalam hidupnya yang telah lama berlalu, ia meneteskan lagi air mata yang mengering sejak kepergian ibunya. Apa yang ia saksikan di sana memberi suntikan semangat untuk  menulis kisah berjudul Glonggong, yang (kemudian) kita baca dalam novel berjudul GLONGGONG ini. Glonggong kembali ke Tegalreja, dan baru bisa menuntaskan kisah hidupnya 25 tahun lebih setelah peristiwa Magelang itu dan hampir setahun sesudah mangkatnya Pangeran Dipanegara. Lewat kisahnya, Glonggong berharap siapa saja yang membaca tulisannya bisa memetik pelajaran berharga.

Glonggong adalah novel pertama Junaedi Setiyono, penulis kelahiran Kebumen, 16 Desember 1965. Ia juga telah menulis puisi dan cerpen, yang antara lain dapat ditemukan dalam antologi Kemuning (2005). Glonggong yang diikutkannya dalam sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, terpilih sebagai Pemenang Harapan 1 dari 249 naskah novel yang dinilai.

Membaca novel ini, kita akan menemukan kisah berlatar masa-masa sebelum, sementara, hingga Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk dan berakhir mengenai seorang pengagum Pangeran Dipanegara. Kisah hidup Glonggong dielaborasi dengan lancar dalam plot yang menawan yang bergerak cepat di tengah kesulitan hidup, maraknya intrik politik, dan gairah serta napsu terhadap harta, tahta, dan wanita. Seluruhnya dijabarkan dalam 6 bagian yang diberi judul menggunakan bahasa Jawa, masing-masing: Beda-beda Pandumaning Dumadi, Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati, Cakra Manggilingan, Yitna Yuwana Lena Kena, dan Jer Basuki Mawa Bea. Dengan latar Jawa yang digunakan, tak pelak lagi, dalam perguliran plot, kita akan disapa dengan sejumlah kosakata Jawa yang artinya dapat ditengok pada bagian glosari di bagian belakang buku.

Dengan plot yang bergulir cepat, dibentangkan menggunakan bahasa yang tanpa kerumitan (di luar kosakata Jawa atau Belanda), pembaca akan menikmati sajian kisah yang tidak menjadi membosankan sampai halaman terakhir berlalu. Penggunaan bahasa yang terbilang sederhana, tanpa bunga-bunga atau metafora segar yang melimpah ruah bisa dipahami mempertimbangkan kisah digelontor dari perspektif Glonggong. Meski bisa baca-tulis, Glonggong tidak pernah diceritakan mengenyam pendidikan formil pada zamannya.

Melalui Glonggong, agaknya penulis hendak menunjukkan jika ia bukan penulis yang murah hati memberikan detail. Ketika apa yang hendak ia sampaikan telah tercetus, ia akan segera melanjutkan kisah guna mencapai tujuan yang dikehendakinya. Hanya, akibat dari teknik ini, ada hal-hal terkesan mengambang, tidak jelas. Seperti keputusan ibu Glonggong menikahi Suwanda dan membiarkan kedua anaknya pergi, tidak ada detail yang sebenarnya perlu mempertimbangkan hal ini berperan penting dalam perjalanan hidup Glonggong selanjutnya. Penggunaan narator yang tidak serbatahu tentu saja bukan alasan untuk mengabaikan detail penting. Meskipun begitu, teknik ini memiliki keunggulan dari sisi lain, yaitu saat Glonggong menarasikan suara hatinya, karena tidak berpanjang lebar, pesannya tidak luncas dan tidak terjebak pada gaya menggurui yang kerap sangat menjengkelkan.  

Walaupun akan terkesan memanfaatkan faktor kebetulan untuk menghidupkan karakter yang diimbuhkannya ke dalam plot, jelas penulis telah melakukan perencanaan yang matang untuk kehidupan setiap karakter. Kehadiran Suta, Surya, Prayitna, Suwanda, Danar, Kiai Ngali, bahkan Rubinem dan dua bersaudara Jacob Roeps, tidak hanya menjadi ornamen cerita belaka, tapi memberikan kontribusi pada sepak terjang, pikiran, dan perasaan Glonggong.

(SPOILER)

Di antara karakter-karakter itu, saya agak terusik dengan karakter Danar yang menjual saudara perempuannya (hlm. 202) dan menghabisi ayahnya, Ki Sena (hlm. 186). Tidak ada penjelasan memadai dari penulis soal motivasi tindakan Danar. Hanya sekadar diceritakan untuk menciptakan efek kejutan. Padahal apa yang dilakukan Danar sangat penting artinya dalam perjalanan hidup Glonggong. Bukan hanya karena Danar ikut ambil bagian dalam kegagalan tugas penting yang diemban Glonggong, tapi Danar sesungguhnya adalah kakak kandung Glonggong. Penulis tidak menjelaskan kemungkinan Danar tidak mengenal ayahnya sehingga tindakan merenggut nyawa ayahnya bisa dipahami. Namun, rasanya tidak mungkin Danar tidak mengenal ayahnya mengingat Danti Arumdalu -saudara perempuan yang dijual dan pernah tinggal dekat dengannya mengetahui jati diri sang ayah. Ditambah lagi adanya percakapan Glonggong dan Danar mengenai Ki Sena yang sepertinya ingin dihindari Danar (hlm. 120 -121).


Dalam novel yang tidak mencapai 300 halaman ini, tidak sedikit pesan yang ditaburkan oleh si penulis. Bukan cuma kegigihan bertahan hidup seperti yang dilakoni Glonggong. Bukan hanya kejujuran dan integritas dalam semua sendi kehidupan seperti yang diwartakan Glonggong. Juga, bukan sekadar pada pentingnya suara hati yang jernih untuk menamengi setiap orang dalam menghadapi kemelut hidup. Tapi juga, yang sangat mencolok, adalah cara hidup para karakter yang dikenal Glonggong secara dekat.

Khususnya dari kehidupan para karakter yang dikenal Glonggong, kita akan menemukan seorang kiai yang menjadi panutan tapi lebih suka mengkhianati perjuangan yang sebelumnya sangat ia yakini demi kenyamanan hidup; seorang santri yang hadir santun mengesankan, namun serakah, tidak cuma harta, tapi juga wanita (memiliki 3 istri sekaligus, para pelacur yang agaknya sering ia kunjungi sebelumnya); seorang laki-laki yang menghalalkan berbagai cara untuk menumpuk harta, bahkan menjual saudara perempuan dan membunuh ayahnya sendiri; seorang kakak lelaki yang mencarikan perempuan pemuas napsu untuk suami adik perempuannya; dan seorang bangsawan pengkhianat yang tega menghabisi nyawa istrinya. Betapa kepribadian seseorang (laki-laki) begitu mudah tergerogot oleh sihir harta, tahta, dan wanita dan melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. Meskipun terjadi di masa silam, gaungnya masih berkumandang dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

Pada akhirnya, Glonggong memang tidak bisa mengakhiri dengan indah misi terpenting yang menjadi tujuan akhirnya karena situasi yang tidak bersahabat. Meski demikian, Glonggong  tetap menjadi karakter ideal, yang akan memberikan pelajaran berharga bagi pembaca, bahwa, di atas segala-galanya kemurnian moral dan kejernihan hati nurani adalah hal-hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Sehingga, melalui kisah ini, tidak cuma seperti harapan Glonggong, Junaedi Setiyono tentu saja berharap, novelnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi setiap pembacanya.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, harus diakui, Glonggong memang layak terpilih sebagai salah satu pemenang sayembara penulisan novel. Memang tidak luar biasa, tapi memberikan pengalaman baca yang cukup mengesankan.


Posted at 03:30 pm by Jody
Comments (3)  

Next Page





widgets