Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.
|
|
Saturday, March 03, 2007
Judul buku : Bulan Hampa
Judul asli : Void Moon
Penulis : Michael Connelly
Penerjemah : Fahmy Yamani
Penyunting : Sofia Mansoor
Tebal : 600 hlm
Terbit : cetakan 1, Januari 2007
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
MISTERI
BULAN HAMPA
Menurut kalender astrologi, saat bulan bergerak dari satu rumah
ke rumah lainnya dalam konstelasinya, sering bulan bergerak di tempat yang
tidak ada rumahnya. Jika saat itu tiba, dikatakan bulan sedang menjalani
'perjalanan hampa' sampai akhirnya masuk ke dalam sebuah rumah. Bulan hampa
dianggap bukan saat yang menguntungkan. Bulan hampa adalah waktu sial. Apa saja
bisa terjadi dan berubah kacau balau. Oleh karena itu, jika hendak melakukan
sesuatu, sebaiknya tidak dilakukan pada jam-jam ketika bulan hampa. Konon nasib
apes yang dialami Lincoln, McKinley, Kennedy, dan Clinton adalah karena
mereka dilantik pada saat bulan hampa.
Keyakinan akan bulan hampa dan efek yang ditimbulkannya
dipegang teguh Leo Renfro, seorang perantara pekerjaan untuk para perampok.
Percaya atau tidak, kehidupan Cassidy Black (Cassie), kekasih Maxwell James
Freeling (Max) -adik tiri Leo, berhubungan erat dengan misteri bulan hampa.
Enam tahun sebelumnya, Cassie dan Max yang terkenal sebagai perampok kelas
kakap, mendapat pekerjaan di Cleopatra, sebuah kasino di Las Vegas. Menjelang
aksi perampokan, terjadi perubahan skenario. Kemudian dalam aksinya, Max
terjebak dan tewas, jatuh dari sebuah kamar penthouse di lantai 20 Cleopatra
Resort and Casino. Cassie ditangkap. Berdasarkan hukum kriminal Nevada -setiap
orang yang terlibat dalam sebuah kejahatan bertanggung jawab atas kematian yang
terjadi pada saat kejahatan tersebut dilakukan- dihukum penjara selama 5 – 15
tahun, dengan catatan jika berkelakuan baik selama di penjara, dia bisa keluar
dalam waktu 5, 6, atau 7 tahun dan bisa memulai kehidupan barunya. Menurut Leo,
peristiwa tewasnya Max terjadi pada saat bulan hampa.
Enam tahun kemudian -saat ini dalam novel- Cassie yang berada
dalam status bebas bersyarat meminta pekerjaan pada Leo Renfro. Setelah
pekerjaan ini, Cassie berencana untuk menghilang dan memulai kehidupan
baru. Apa yang Cassie lakukan terpicu oleh dijualnya sebuah rumah di Lookout
Mountain Road karena pemiliknya hendak pindah ke Paris. Cassie juga meminta Leo
membuatkan baginya paspor untuk dua orang.
Yang membuat Cassie terkejut, perampokan yang akan ia lakukan
berlokasi sama dengan perampokan gagal 6 tahun lalu yang mengakhiri hidup
kekasihnya. Ia harus beraksi di Cleopatra yang saat ini telah berada di bawah
kekuasaan Vincent Grimaldi, mantan pemimpin keamanan kasino yang terlibat
peristiwa tewasnya Max.
Cassie tak bisa menolak. Tanpa sadar, keputusan Cassie
mengambil pekerjaan ini tidak sekadar mengembalikannya ke tempat di mana impian
masa depannya dengan Max hancur berantakan. Tetapi juga membuka misteri seputar
kematian Max yang pada akhirnya membuat kehidupan Cassie bersinggungan langsung
dengan nemesisnya, Jack Karch. Jack Karch adalah sosok yang menjadi peran utama
pada peristiwa tragis 6 tahun lalu. Jack yang dijuluki Jack Sekop, adalah
detektif psikopat yang bertugas menangani orang hilang. Sejak terlibat dalam
peristiwa tewasnya Max, dia juga menjadi kaki tangan Grimaldi untuk
menghilangkan orang-orang yang dibunuh demi kepentingan Grimaldi.
Target Cassie kali ini adalah Diego Hernandez, penjudi kawakan
asal Houston -belakangan diketahui bernama Manuel Hidalgo, pengacara dari
Miami. Sialnya, Cassie tidak dapat menghindarkan bulan hampa saat beraksi.
Hernandez terbunuh. Karch mencari Cassie untuk merebut uang dalam koper yang
dibawa Cassie. Mengejutkan, jumlah uangnya tidak seperti dalam pembicaraan
awal. Koper ternyata berisi 2, 5 juta dolar. Namun, tidak mudah bagi Karch
untuk menaklukkan Cassie. Ia harus ke rumah di Lookout Mountain Road, mengambil
senjata pamungkas, untuk memaksa Cassie menyerahkan uangnya –kemudian, tentu
saja, membunuhnya.
Tepat sebelum waktu bulan hampa, Cassie mengetahui bahwa berita
gembira yang disampaikannya kepada Max sebelum aksi perampokan 6 tahun
lalu telah menjadi salah satu pemicu tewasnya laki-laki yang dicintainya.
Berita apakah itu? Apa hubungannya dengan masa kini?
Hampir bersamaan, Jack Karch juga berhasil menemukan potongan
terakhir kehidupannya sebagai puzzle yang mendapatkan posisi yang tepat.
Karch sadar akhirnya ternyata dia, Cassie, Leo Renfro, bahkan Max, telah masuk
dalam jaring tipu daya rekayasa Vincent Grimaldi yang sialnya mewariskan
DNA-nya dalam tubuh Karch. Siapa yang akan menjadi korban pada bulan hampa kali
ini?
Inilah sebuah thriller mengasyikkan yang lahir dari
imajinasi penulis handal Michael Connelly. Void Moon atau Bulan Hampa
yang dirilis tahun 2000, menghadirkan karakter utama yang berbeda dari karakter
ciptaan Connelly sebelumnya, yaitu Harry Bosch (detektif) dan Terry McCaleb
(reporter). Selanjutnya dengan mulus, Connelly merangkai kisah menegangkan
berbumbu kejutan dalam novel yang dijalin penuh daya tarik dan enak dibaca.
Pembaca akan dibawa bersua rahasia tak terduga yang menyelimuti kehidupan para
tokoh yang bahkan tidak diketahui mereka sebelumnya. Juga perjuangan seorang
perempuan untuk mengatasi jerat tangan takdir yang mencengkeram tanpa ampun.
Selain itu, Connelly menghadirkan kasih sayang, bahan empuk yang membuat
Cassie berhasrat membangkitkan kembali impian masa lalu yang kemudian hanya
menyadarkan dirinya bahwa impian itu benar-benar telah amblas sejak enam tahun
lampau. Walaupun impian itu benar-benar amblas, dengan kebesaran jiwa, Cassie
meyakinkan dirinya bahwa semua yang pernah ia dan Max miliki akan selalu ia
miliki. Terutama tempat di mana samudra menggantikan padang pasir.
Akhirnya, Void Moon tidak saja menyajikan amarah dan
darah, tetapi juga cinta sejati yang semuanya melebur dalam
peristiwa-peristiwa yang memaksa para tokohnya untuk mau tidak mau berhadapan
dengan misteri bulan hampa.
Keunggulan yang dapat ditemukan dalam Void Moon adalah penggarapan semua
karakter yang dilakukan sebaik cerita dan plot yang ditampilkan. Pembaca tidak
akan dibikin bingung karena semua terkesan sangat meyakinkan. Connelly sungguh
seorang penulis dengan kualitas narasi yang membuat segalanya mengalir logis
dan dinamis. Kehandalan Connelly memang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Connelly mengukuhkan dirinya sebagai novelis tangguh melalui
debut berjudul The Black Echo (1992) yang memenangkan Edgar Award untuk
Best First Novel. Dalam novel perdananya ini Connelly memperkenalkan karakter
Hieronymus Bosch yang menghidupkan sebagian besar novelnya. Sampai Oktober
2006, Connelly telah menulis 17 novel dan 1 kumpulan cerita kriminal selama
menjadi jurnalis (Crime Beat, 2006). Buku-bukunya telah diterjemahkan ke
dalam lebih dari 30 bahasa dan telah memenangkan penghargaan Edgar, Anthony,
Macavity, Shamus, Dilys, Nero, Barry, Audie, Ridley, Maltese Falcon (Jepang),
.38 Caliber (Prancis), Grand Prix (Prancis), dan Premio Bancarella (Italia).

Posted at 07:24 pm by Jody
Permalink
Wednesday, February 28, 2007

Judul buku : Pasang Laut
Judul asli : The Highest Tide
Penulis : Jim Lynch
Alih bahasa : Arif Subiyanto
Terbit : cetakan 1, Desember 2006
Tebal : 328 hlm; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
MENDENGAR SUARA HATI LAUTAN
Suatu malam
musim panas, Miles O'Malley -13 tahun, 146 cm, 39 kg, bersuara melengking
berpenampilan mirip bocah 9 tahun- yang sedang liburan, keluar dari rumahnya di
ujung Teluk Puget Sound, dan mendayung kayak ke utara Teluk Skookumchuck,
menuju Teluk Chatham Cove. Malam itu, Miles melaksanakan pekerjaan musim
panasnya yang baru, yaitu mengumpulkan hewan laut yang terbawa air pasang seperti
bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk eksotis lainnya yang
akan dijual untuk koleksi akuarium di Tacoma, Seattle dan Port Townsend. Selain
itu, dia juga mencari remis seperti butterclam, untuk dijual ke
restoran seafood setempat.
Miles yang mulai khawatir ukuran tubuhnya akan membuatnya tersisih dari dunia
percintaan, seperti katak yang tak bisa berteriak lantang untuk memikat betina
(hlm. 77), tidak menyangka malam yang tanpa angin, tanpa bebunyian, hanya
sesekali terdengar desing sayap serangga, suara remis yang mengatup, dan desir
air surut merembes di sela bebatuan (hlm. 10 – 11), akan memicu perubahan
hidupnya.
Malam itu, Miles menemukan seekor cumi-cumi raksasa yang membuat
perhatian publik terarah padanya. Cumi-cumi raksasa tersebut merupakan makhluk
penghuni laut dalam. Umumnya ditemukan sudah menjadi bangkai dalam perut ikan
paus spermaseti atau terdampar di pantai-pantai Selandia Baru, Norwegia, atau
Newfoundland. Miles mengatakan pada seorang reporter bahwa penemuan cumi-cumi
raksasa ini mungkin sebagai cara bumi mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, anak
sotong ini menjadi sasaran pers.
Setelah penemuan cumi-cumi raksasa tersebut, Miles menemukan lagi seekor ikan ragfish
yang juga termasuk penghuni laut dalam. Ketika merespons pertanyaan seorang
reporter televisi mengenai penemuan makhluk penghuni laut dalam adalah
kemungkinan cara bumi mengatakan sesuatu, Miles mengatakan bahwa bumi mungkin
sedang minta tolong untuk diperhatikan. Miles juga menceritakan pengamatannya
yang luput dari pengamatan para ahli bahwa saat itu sedang terjadi invasi
kepiting Cina di Whiskey Point dan rumput laut Caleurpa di Teluk
Flapjack. Kedua invasi tersebut sangat berbahaya. Selain mengancam
kepiting-kepiting asli, kepiting Cina memiliki kebiasaan menggali terowongan
yang menyebabkan tanah menjadi labil, erosi, dan longsor sehingga membahayakan
penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Sedangkan rumput laut Caleurpa
berpotensi merusak ekosistem yang ada. Tentu saja apa yang disampaikan
Miles sangat mengejutkan banyak orang.
 Jim Lynch
"Ini musim panasmu, Miles. Musim panas
ini akan menentukan jati dirimu", demikian kata Florence Dalessandro -perempuan tua, paranormal
penggemar buku yang menjadi sahabat Miles. Persis seperti kata Florence, musim
panas itu menempatkan Miles pada posisi seperti selebritas gara-gara penemuan
dan komentarnya. Dalam sebuah acara yang dilaksanakan Sekolah Eleusinia, Miles
mencetuskan ramalan Florence yang menyatakan bahwa gelombang pasang tertinggi
akan terjadi pada tanggal 8 September tahun itu; pasang tertinggi dalam waktu
50 tahun terakhir. Walaupun Florence gagal ketika membuka praktik paranormal,
terbukti beberapa ramalannya tidak meleset. Gempa merontokkan Capitale
Apartments dan Hakim Stegner kalah dalam pemilihan hakim negara bagian. Apakah
ramalan pasang tertinggi benar-benar menjadi nyata?
Seketika perairan Puget Sound menjadi ramai karena orang berduyun-duyun ke
sana. Apalagi saat tersebar rumor bahwa mukjizat penyembuhan terjadi di
perairan tersebut. Seiring dengan itu, Miles juga harus melewatkan waktu
bersama tokoh-tokoh selain Florence seperti Profesor Kramer; Kenny Phelps;
Angie Stegner; reporter bermata hiu martil; ayahnya yang terobsesi pada tinggi
badan; ibu yang tidak bahagia.
Pada akhirnya semua yang Miles alami benar-benar membuat ia menemukan jati
dirinya seperti ramalan Florence. Ramalan Florence memang harus memenuhi
takdirnya.
Laut yang menjadi pesona utama cerita memang penuh misteri. Lewat pengalaman
musim panas Miles yang menjadi narator novel, kita seperti diajak memaknai
kembali peranan laut dalam kehidupan manusia. Betapa sering manusia melakukan
kesalahan tanpa memikirkan akibat buruk yang akan terjadi. Seperti pemicu
kerusakan ekosistem yang digambarkan dalam novel ini. Semua terjadi karena ulah
manusia. Mungkin kita perlu memahami laut sebagaimana yang disitir Miles dari
buku The Sea Around Us karya penulis favoritnya, Rachel Carson: "Sejak
fajar purbakala yang tersaput kabut misteri, lautan adalah asal mula segenap
kehidupan, dan akhirnya segala wujud kehidupan yang mungkin telah berkembang,
bermutasi lalu mati itu akan berpulang kepadanya. Segalanya akan kembali ke
lautan –Oceanus, sang sungai mahaluas, bagaikan hikayat pengembaraan sang
waktu, dari awal hingga akhirnya."
Dalam novel ini laut juga dapat disamakan dengan kehidupan manusia. Sering
tanpa sadar manusia melakukan tindakan yang berefek destruktif pada orang lain.
Selepas musim panas tak terlupakan itu, Miles melihat persamaan tersebut.
Bukankah apa yang dilakukan orang tuanya bisa disamakan dengan pencemaran laut
yang akhirnya merusakkan ekosistem yang ada? Walaupun begitu, Miles tetap
berhasrat memahami misteri kehidupan. Hidupnya memang berubah. Florence
meninggal, orang tuanya berpisah, namun semua menjadikannya lebih tegar,
apalagi dengan kehadiran Angie yang mengatakan kepadanya bahwa, "Lautan
akan menunggumu, Miles. Begitu pula aku."
Rachel
Carson (*) dan bukunya yang dibaca Miles
dalam novel The Highest Tide
Inilah debut manyala, menyentuh, cerdas, dan puitis dari Jim Lynch, seorang
jurnalis-penulis cerpen yang telah memenangkan National Journalism Awards. The
Highest Tide juga telah memenangkan Pacific Northwest Booksellers Award
tahun 2006. Jim Lynch yang berdomisili di Olympia, Washington, menulis novel
ini sebagai realita dari harapannya untuk menciptakan novel dengan Puget Sound
sebagai latar. Sewaktu kecil Jim memang sering menjelajahi perairan Puget Sound
menggunakan perahu layar orangtuanya. Untuk mewujudkan harapannya, Jim membaca
buku-buku biologi kelautan, penuntun seks; mewawancara cenayang; mempelajari
fenomena air pasang. Hasilnya, sebuah novel cemerlang yang digerakkan dengan
lancar dan penuh humor. Sulit untuk tidak tertawa membaca luapan imajinasi
Miles dan perbincangannya mengenai seks dengan Kenny Phelps, karakter side-kick
ciptaan Jim Lynch.
The Highest Tide tidak sekadar indah, tetapi juga kaya dengan informasi
beragam spesies makhluk hidup laut yang disampaikan secara menarik. Pembaca
akan menemukan ikan gepeng merak yang mudah berkamuflase memanfaatkan matanya
yang ajaib, gurita yang berubah warna saat sedang kawin, timun laut yang
memuntahkan organ dalamnya saat ketakutan, nudibranch yang cantik,
kerang kalung pembantai remis, keritip kawin, ikan midshipmen yang
memiliki kehidupan unik, ubur-ubur sebesar kunyahan permen yang bisa melar
selebar payung atau semburat cahaya di musim plankton. Tetapi juga bangau yang
marah, burung elang pesolek, itik liar yang tertawa riuh, camar seperti badut
sirkus, atau kolibri yang mengejek gravitasi.
Jim berhasil menciptakan karakter utama yang cerdas dengan tingkat kuriositas
dan kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya, lancar bertutur, namun
terperangkap keterbatasan fisiknya. Miles yang mengingatkan pada karakter Simon
Birch dalam film Simon Birch (diperankan oleh Ian Michael Smith, 1998)
seolah-olah memberikan pencerahan bagi kita bahwa siapapun kita, dengan segala
kekurangan yang ada, diciptakan Tuhan dengan maksud tertentu di dunia ini.
Sesungguhnya, tidak ada kehidupan manusia yang tidak berarti, kecuali manusia
itu tidak menemukan sendiri artinya.
Edisi Indonesia yang diberi judul Pasang Laut sangat enak
dinikmati. Pembaca tidak akan menemukan untaian kata rumit yang membingungkan.
Sebagai penerjemah, Arif Subiyanto terkesan selektif dalam penggunaan diksi
sehingga pembaca tetap bisa merasakan taburan humor dan kalimat indah dari Jim
Lynch.
Novel yang dipersembahkan Jim Lynch untuk Denise, istrinya, dirilis September
2005 di Amerika Serikat dan telah dipublikasikan di lebih dari 20 negara; lebih
dari 8 bahasa. Di Inggris novel ini terpilih sebagai bacaan musim panas 2006
oleh London's Richard and Judy TV Book Club. Hak untuk memfilmkan novel ini
telah dibeli oleh Fisher Stevens, seorang aktor, sutradara, dan produser. Jadi,
sebelum nonton filmnya kelak, nikmati saja terlebih dahulu novel indah yang
sangat menyenangkan ini.
*) Rachel Louise Carson, seorang penulis, ilmuwan, dan
ekolog kelahiran Springdale, Pennsylvania 27 Mei 1907 yang telah menulis buku
(1941), Under the Sea-wind (1941), The Sea Around Us (1952), The Edge
of the Sea (1955) dan Silent Spring (1962). Ia meninggal karena
kanker payudara pada tanggal 14 April 1964 di Silver Spring, Maryland.
Posted at 07:55 pm by Jody
Permalink
Sunday, February 25, 2007

Judul Buku :
Sang Sejarawan Judul Asli :
The Historian Penulis :
Elizabeth Kostova Penerjemah:
Andang H. Soetopo Terbit : cetakan
1, Januari 2007 Tebal : 768
halaman, 23 cm
DRACULA:
LEGENDA, BIBLIOPHILE, DAN SEJARAWAN
"Tidak
semua orang yang menggali sejarah dapat menerima hasilnya. Dan bukan hanya
menggali sejarah yang dapat membahayakan kita; kadang sejarah itu sendiri pun dapat
mengulurkan cakar-cakarnya yang muram dan mencengkeram kita"
The Historian (Sang Sejarawan) adalah debut penulis Amerika, Elizabeth Kostova
sebagai penulis novel. Perempuan kelahiran New London, Connecticut, 26 Desember
1964 ini tercatat sebagai lulusan Universitas Yale dan program MFA Universitas
Michigan, tempat dia memenangkan Hopwood Award untuk Novel-in-Progress. Yang menjadi
topik novel ini adalah Vlad Tepes, si penyula (Vlad the Impaler) dari Wallachia atau terkenal dengan sebutan Dracula yang berarti anak
laki-laki dracul (naga). Vlad si Penyula adalah bangsawan feodal di pegunungan
Carpathian yang gemar menyiksa para tawanan perang dan rakyatnya sendiri dengan
cara-cara kejam. Ia dibenci oleh rakyatnya dan musuh utamanya, kesultanan
Ottoman. Ia tersohor sebagai tiran paling kejam dalam sejarah Eropa abad
pertengahan yang diperkirakan membunuh lebih dari 20 ribu rakyatnya, orang
Wallachia dan Transylvania, selama berkuasa. Vlad Dracula (bukan seperti Dracula vampir versi Bram
Stoker) dikabarkan tewas dalam peperangan melawan orang-orang Turki di bawah
kesultanan Ottoman dan dikuburkan di sebuah pulau di danau Snagow (Rumania). Oleh
Kostova pencarian lokasi kuburan Vlad dijadikan sebagai penggerak keseluruhan
cerita dalam novel ini.
Kisah The Historian diawali dengan penemuan sebuah buku
tua bergambar naga dan surat-surat Profesor Bartholomew Rossi yang sudah
menguning oleh seorang gadis remaja di perpustakaan ayahnya pada tahun 1972.
Uniknya, sampai novel habis, Kostova tidak menyebutkan nama gadis yang berperan
sebagai narator ini. Pada satu wawancara, Kostova menyatakan hal ini disengaja
sebagai sebuah eksperimen literer karena ingin melihat apakah tanpa nama, dia
bisa memberikan sebuah personalitas yang utuh buat sang narator. Dalam novel
dikatakan bahwa nama si narator sama dengan nama ibu dari ibunya, yang juga
tidak disebutkan namanya.
Penemuan gadis ini membawa kembali kenangan Paul, ayahnya, ke
tahun 1954 ketika Paul menjadi mahasiswa sebuah universitas di Amerika dan
tengah menyelesaikan disertasi dengan bimbingan Profesor Rossi. Paul menemukan
buku bergambar naga tersebut, dan suatu malam setelah pembicaraan dengan Rossi,
profesor itu menghilang secara misterius.
Buku Dracula karya Bram Stoker mempertemukan Paul dengan
seorang gadis bernama Helen yang mengaku sebagai anak Rossi, hasil hubungan
Rossi dengan seorang perempuan Transylvania,
ketika si profesor melacak legenda Drakula di Rumania. Pertemuan dengan Helen
berujung pada keputusan Paul untuk mencari kuburan Dracula, tempat Rossi dibawa
pergi. Berdua mereka pergi ke Istanbul
(Turki) mencari dokumen mengenai Vlad si Penyula. Dari Istanbul petualangan
mereka berlanjut ke Hongaria dan Bulgaria. Di Bulgaria mereka
berhasil menemukan Rossi, tetapi tidak Dracula.
Novel dibagi dalam 3 bagian besar yang setiap bagian diawali
dengan kutipan buku Dracula
karya Bram Stoker. Setiap bagian, secara paralel menceritakan 2 perjalanan
kehidupan yang masing-masing berlatar tahun 1954 dan tahun 1972. Bagian pertama
untuk tahun 1954 berakhir ketika Peter dan Helen memutuskan pergi ke Istanbul, sedangkan untuk
tahun 1972 berakhir ketika Paul memutuskan mencari Helen, istri dan ibu anaknya
yang meninggalkan mereka ketika anaknya baru berusia 9 bulan. Bagian kedua
berisi pencarian Helen dan Paul ke Istanbul dan Rumania, di sisi lain berisi perjalanan si gadis
tanpa nama dengan seorang mahasiswa Oxford
bernama Barley dari Amsterdam
menuju Les Bains, Prancis. Bagian ketiga berkisah tentang perjalanan penemuan
kubur Dracula sekaligus tempat Rossi ditawan (1954) dan perjalanan si gadis
dengan Bailey untuk menguji kebenaran petunjuk yang didapatnya dari sebuah buku
di Oxford
(1972). Petunjuk tersebut sekaligus menjadi kunci pembuka misteri berhubungan
dengan apa yang dipaparkan dengan brilian pada bagian epilog. 
Seperti judulnya, The Historian adalah kisah para
sejarawan yang ingin menguak rahasia kubur Vlad Dracula. Kisah ini juga akan
memberi tahu kita bahwa selain sebagai seorang bibliophile, Vlad sang
tiran juga seorang sejarawan. Kostova dengan genial meracik sejarah dan
imajinasi dalam sebuah novel dengan plot yang rancak. Plot digelar dalam
keindahan eksotis lanskap negara-negara seperti Turki, Rumania, dan Bulgaria.
Menurut pengakuan Kostova, ketika menulis novel ini, dia belum pernah ke
Rumania. Kostova mengunjungi Turki ketika sedang menyelesaikan draft terakhir
novel seraya melakukan penyesuaian isi, sedangkan pengetahuan Bulgaria selain
didapat dari kunjungan ke sana, juga dari suaminya pria Bulgaria bernama Georgi
Kostov. Cerita berkelindan dari tahun 2008, ke tahun 1972, tahun 1954, dan ke
tahun 1930-an sebagian besar menggunakan teknik naratif epistolari. Kostova
menggunakan teknik ini dengan alasan dia menyukai surat, riil atau fiktif, dan
menurutnya dalam sebuah novel teknik seperti ini menerjemahkan kedekatan antara
karakter-karakter yang ada dalam novel dengan pembaca. Meski demikian, cerita
menggunakan epistolari, apalagi dengan cerita yang panjang membentuk plot dan
berisi detail-detail, tidak akan luput dari kejanggalan. Adakah orang yang
menulis surat seperti itu?
Novel disusun sangat unik, seperti buku sejarah yang dinarasikan
sekronologis mungkin, oleh si gadis tanpa nama yang pada tahun 2008 telah
berusia lima puluhan, telah menjadi seorang sejarawan dan dosen di Oxford.
Perhatikan bahwa cerita telah digelindingkan sejak halaman Catatan untuk
Pembaca (hlm. 7) yang merupakan pengantar si narator sebelum dia bercerita
lebih lanjut. Ketika bagian pertama novel dibuka dengan kalimat, "Tahun
1972 aku baru berusia enam belas tahun-" Kostova tidak asal
mencantumkan angka 16 tahun. Angka 16 tahun memiliki hubungan yang penting
dengan cerita yang akan disampaikan selanjutnya.
Membaca The Historian agaknya memerlukan waktu khusus.
Selain novelnya tebal seperti farmakope -sehingga tidak mudah dibawa
untuk dibaca mengisi waktu luang di antara aktivitas (768 hlm), Kostova adalah
pencerita dengan napas panjang. Walau umumnya isi per bab tidak terlalu panjang
-kecuali pada bab tertentu seperti bab 73, Kostova bertutur dengan
kalimat-kalimat panjang. Kendati begitu, semua bisa diikuti karena terjemahan
edisi Indonesia yang dikerjakan oleh Andang H. Soetopo tergolong lancar dan
enak dibaca. Tidak heran, karena sebelum The
Historian, penerjemah yang satu ini juga telah menerjemahkan
novel-novel seperti Interview with the Vampire, Discloser, The
Juror, dan O Zahir.
The Historian yang pembuatannya menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun ini
dipublikasikan pertama kali Juni 2005 dan menjadi best-seller. Kostova
memperoleh $ 2 juta untuk hak publikasi yang diberikan kepada Little, Brown and
Co kemudian $ 1,5 juta untuk hak pembuatan film yang dibeli oleh Sony. Douglas
Wick, yang pernah menjadi produser film seperti Memoirs of Geisha; Gladiator;
Stuart Little; Girl, Interrupted; Hollow Man akan menjadi
produser film ini.
Posted at 04:41 pm by Jody
Permalink
Thursday, February 22, 2007
 Judul Buku : Dia Yang Dinantikan Judul Asli : The Expected One Penulis : Kathleen McGowan Penerjemah : Leinovar Bahfeyn & Lusia Nurdin Penyunting : Leinovar Bahfeyn Terbit : Cetakan 1, Februari 2007 Penerbit : Ufuk Press
KEBENARAN ALA KATHLEEN McGOWAN
Maria Magdalena adalah salah satu perempuan terkenal dalam sejarah manusia yang sering dibicarakan, dipertanyakan, dan dijadikan bahan perdebatan. Namanya disebutkan sebanyak 12 kali dalam Injil kanonik, tetapi tidak ada deskripsi detail mengenai kehidupannya. Maria Magdalena disebutkan berasal dari Magdala, sebuah kota di tepi barat Laut (danau) Galilea yang daripadanya Yesus mengusir 7 roh jahat. Maria Magdalena dikenal sebagai salah satu perempuan yang melayani rombongan Yesus dengan kekayaan yang ia miliki, ikut dalam perjalanan menuju Yerusalem, menyaksikan prosesi penyaliban, dan menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Nama Maria Magdalena juga muncul dalam Injil apokrif yang muncul bertahun-tahun kemudian setelah Injil kanonik. Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupan perempuan ini. Sepanjang sejarah orang-orang yang kemelit telah menyusun berbagai hipotesis tentang siapa sesungguhnya sosok Maria Magdalena. Kehidupannya yang misterius menjadi buah bibir dan berkembang dalam berbagai tradisi lisan. Banyak penulis mengulik kehidupannya, dan karena keterbatasan sumber, hipotesis berdasarkan tradisi lisan dijadikan pijakan untuk menulis buku. Simpang-siur kehidupan Maria Magdalena menjelma dalam puluhan buku, dan hingga kini ada 28 buku fiksi tercatat dalam situs magdalene.org yang menjadikannya karakter dalam produk fantasi. Antara lain A Letter of Mary (Laurie B. King), Dark Moon (J. H. Brennan), Daughters of Jerusalem (Thom Lemmons), La Magdalena ( William M. Valtos), Magdalene (Carolyn Slaughter), dan The Scarlet Lily (Edward F. Murphy). The Expected One yang pembuatannya konon menghabiskan waktu hampir dua dasawarsa ini akan menambah daftar fiksi mengenai Maria Magdalena. Berdasarkan pertanyaan Pontius Pilatus, salah satu tokoh penting di seputar peristiwa eksekusi Yesus yang saat itu memangku jabatan sebagai gubernur Romawi atas Yudea, Samaria, dan Idumea (26 - 36 ses Mas), dalam Injil Yohanes 18:38, Kathleen McGowan menggelontorkan novel yang terkesan provokatif sekaligus kontroversial. "Apakah kebenaran itu?" Sesudah ayat kutipan McGowan, kita memang tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaan Pilatus ini. Pertanyaan seolah-olah dibiarkan mengambang oleh penulis Injil Yohanes (yang oleh beberapa kalangan dipandang sebagai tulisan Maria Magdalena, bukan Yohanes, murid Yesus, dan tesis ini rupanya juga digunakan McGowan dalam novel ini). Oleh karena itu, menurut McGowan, sebagai jurnalis, pertanyaan Pilatus telah menjadi mantra semua investigasi yang ia lakukan. Maria Magdalena menjadi salah satu topik riset kebenaran versi McGowan yang dieksplorasi melalui legenda; mitologi; kosmologi; hasil karya Abad Pertengahan, periode Renaisans, dan Barok; buku seperti Holy Blood, Holy Grail. Maka, lahirlah novel The Expected One, yang oleh Ufuk Press, untuk edisi Indonesia diberi judul Dia Yang Dinantikan, dengan embel-embel yang provokatif : Permusuhan Politis, Cinta Segitiga yang Rumit, dan Misteri Injil Tulisan Maria Magdalena Sendiri. Bagi McGowan, semua sumber yang dipulungnya secara eklektik, menjadi modal yang adekuat untuk menghadirkan Maria Magdalena sesuai gambaran kebenaran yang ia inginkan. Sebuah kebenaran yang aneh, bukan? Tidak heran, McGowan dengan bangga mengenakan label "antiakademik" dengan tulisan mencolok seperti yang diproklamasikannya pada bagian penutup novel. Sebuah pertanyaan yang mungkin tercetus adalah: jika McGowan hendak menyampaikan kebenaran yang berpotensi menempelak keyakinan mapan yang sudah ada, mengapa dia memilih fiksi sebagai media distribusi kebenaran? McGowan telah menjawab sendiri : dia tidak mampu menciptakan bukti telak (hlm. 593). Karena, memang, secara ilmiah, sebagian besar yang dijadikan referensi McGowan untuk memperkuat gagasan dalam novelnya tidak akurat dan memiliki tingkat signifikansi yang rendah. Sosok Maria Magdalena di tangan McGowan menjelma menjadi perempuan 'separuh' gambaran seniman. Perempuan mungil, berambut merah, menyimpan tengkorak, dan stoples narwastu. Identitas Maria Magdalena yang ditampilkan para seniman sebagai sosok seksi molek dengan tubuh seduktif yang mencitrakan perempuan nakal dipangkas oleh McGowan. Karena secara akademis, sumber utama yang digunakan McGowan kemungkinan tidak dapat diterima - walau dia juga memulung ide dari Injil kanonik, bagi kalangan tertentu, tidak perlu merasa terbeban oleh perjalanan imajiner McGowan yang (alamak!) mengaku sebagai keturunan Maria Magdalena (sekaligus berarti keturunan Yesus). Tidak perlu merasa terintimidasi oleh puting-beliung yang diembuskan oleh McGowan yang memang secara tandas menunggangbalikkan semua spekulasi, termasuk spekulasi yang disorongkan oleh Dan Brown dalam The Da Vinci Code. Padahal, suka atau tidak dan apa pun dalih McGowan, novel ini akan tetap dipandang sebagai epigon, menambah kisruh ingar-bingar rumor kehidupan Maria Magdalena yang sudah seperti selebritas. Dalam "dunia kebenaran" versi McGowan, Maria Magdalena bukan sekadar pribadi jelita yang menikah dengan Yesus seperti dalam The Da Vinci Code. Maria Magdalena juga didapuk sebagai janda tokoh terkenal, Yohanes Pembabtis (John the Baptist). Setelah kematian Yohanes Pembabtis, Yesus atau Easa ( panggilan yang konon digunakan Maria Magdalena) menikahi Maria Magdalena. Yohanes Pembabtis versi McGowan bukanlah nabi radikal yang dikenal secara umum, tetapi bajingan penganiaya istri yang memiliki kecemburuan menggunung pada Yesus, sepupunya. Bukan hanya itu. Lazarus yang dikenal sebagai saudara Marta dan Maria, berubah menjadi suami Marta. Putri Herodias -konon bernama Salome- yang meminta Herodes Antipas, ayah tirinya, memenggal kepala Yohanes Pembabtis menjadi pahlawan wanita. Herodias dibela dan dinyatakan sebagai pengikut Yesus. Untuk hal terakhir ini apa yang McGowan lakukan terasa menggelikan. Untuk memperburuk reputasi Yohanes Pembabtis, ia membenarkan tindakan Herodes Antipas dan Herodias. Entah McGowan sadar atau tidak akan kekonyolan gagasannya. Dalam Injil kanonik, Yohanes memang mengecam tindakan Herodes yang mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya, menjadi istrinya. Secara hukum Yahudi, apa yang dilakukan Herodes dan Herodias termasuk tindakan perzinahan mengingat pasangan masing-masing masih hidup. McGowan juga menyatakan bahwa Herodias adalah cucu Herodes Agung (hlm. 413), yang dikenal sebagai ayah dari Herodes Antipas sendiri. Bukankah hal ini hanya menegaskan betapa kehidupan istana Herodes bergelimang inses? "Dunia kebenaran" McGowan juga membuat Paulus, salah satu rasul Kristen menjadi tokoh sesat sedangkan Yudas dan murid-murid Yesus yang lain menjadi sangat suci, tanpa cacat cela. Kesalahan yang dilakukan Yudas atau Petrus dinafikan McGowan dengan pembelaan versinya sendiri. Selain itu, Nostradamus, peramal terkenal berubah menjadi seorang plagiator. Sebagai pemulung eklektik, McGowan juga terkesan seenaknya memungut materi Perjanjian Lama dan menampinya untuk mendapatkan apa yang ia ingin. Contohnya argumennya mengenai pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena yang sangat kedodoran. Ia mengacu pernikahan Yesus dan Maria Magdalena pada pernikahan Daud dan Mikhal, putri Saul sebagai penyatuan suku Benyamin dan Yehuda. Tentu saja kalau McGowan mau melakukan investigasi "kebenaran" lebih lanjut dan berbiaya murah karena cukup membaca Perjanjian Lama seakurat mungkin, dia akan menemukan bahwa sesungguhnya pernikahan Daud dan Mikhal bukan contoh pernikahan yang ideal. Pernikahan Mikhal dan Daud adalah permainan politik Saul. Pernikahan itu berjalan amburadul, dan akhirnya Saul memberikan Mikhal kepada laki-laki lain. Dari pernikahan itu, tidak ada anak yang dilahirkan. Nah, pernikahan model inikah yang diharapkan McGowan untuk dijadikan patokan atau panutan pernikahan Yesus dan Maria Magdalena, jika dan hanya jika, peristiwa itu memang pernah terjadi? Terlepas dari kebenaran menggelikan ala McGowan, sesungguhnya ia merupakan pencerita yang baik. Novel The Expected One yang cukup tebal ditulisnya dengan gaya atraktif yang enak dibaca tanpa kesan membosankan. Hasil terjemahan edisi Indonesia juga cukup enak dicerna. Cerita dibuka dengan ditemukannya mayat Roger-Bernard Gelis, warga Pyrenees oleh nelayan Marseille, September 1997. Mayatnya dalam keadaan rusak, tanpa kepala dan jari telunjuk tangan kanan. Hanya sebentar, cerita sudah beralih ke peristiwa lain di Yerusalem. Maureen Paschal, seorang jurnalis Amerika yang sedang melakukan riset, berada di Via Dolorosa, menemukan sebuah cincin tembaga bergambar planet dan melihat visi-visi seputar prosesi penyaliban Yesus. Hasil riset Maureen dibukukan dengan judul Her Story: A Defense of History's Most Hated Heroins, yang salah satu tokohnya adalah Maria Magdalena. Sebelumnya, McGowan menampilkan cerita ber-setting Gaul Selatan tahun 72, tentang Maria Magdalena tua yang tengah menyelesaikan tulisannya. Tulisan-tulisannya mewujud dalam 3 kitab yang kemudian disembunyikan di kaki bukit Pyrenees, Prancis barat daya. Tiga kitab ini memuat berbagai peristiwa yang ia alami dan karakter-karakter Perjanjian Baru -bukan Perjanjian Lama seperti yang dicantumkan pada halaman sampul belakang edisi Indonesia- dari perspektif Maria Magdalena sendiri. Tiga kitab ini disimpan dalam 2 stoples yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang memenuhi kriteria l'attendue (Dia Yang Dinantikan) karena dilindungi oleh kekuatan alkemi. Buku Maureen Paschal dengan gambar dirinya yang sedang memakai cincin yang didapatnya dari Via Dolorosa menyita perhatian bangsawan Languedoc, Berenger Sinclair, pemilik puri Apel Biru. Maureen diundang ke Prancis, tak lain karena ia dilihat sebagai sosok "Dia Yang Dinantikan" yang akan memecahkan misteri keberadaan tulisan tangan Maria Magdalena. Maureen pergi ke Prancis bersama sepupunya, Peter Healy seorang pastur dan dosen. Kemudian pembaca diperkenalkan dengan tokoh-tokoh seperti Tamara Wisdom, Roland Gelis, Jean-Claude, Derek Wainwright yang semuanya bersengkarut dalam misteri dan pertikaian yang dipicu oleh peristiwa yang dijabarkan Maria Magdalena dalam kitabnya. Maria Magdalena diceritakan memiliki seorang anak laki-laki bernama Yohanes-Yusuf hasil hubungannya dengan Yohanes Pembabtis. Dari hubungannya dengan Yesus, lahir 2 anak, Sarah-Tamar (perempuan) dan Yeshua-Daud (laki-laki). Sarah-Tamar inilah yang kemudian menubuatkan Dia Yang Dinantikan. Dari hubungan Maria Magdalena-Yohanes Pembabtis-Yesus, tercipta sebuah konflik dengan 2 kubu, yaitu kubu pengikut Yohanes Pembabtis dan kubu pengikut Yesus (dan Maria Magdalena). Konflik antara kedua kubu ini telah menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa. Nubuat Sarah-Tamar menjadi sangat berbahaya bagi kubu Yohanes Pembabtis sehingga mereka harus mencegah kehadiran Dia Yang Dinantikan, yaitu Maureen sendiri. Tulisan tangan Maria Magdalena berhasil ditemukan oleh Maureen walau dia nyaris kehilangan nyawa. Peter Healy menerjemahkan tulisan yang menggunakan bahasa Yunani tersebut, kemudian diam-diam membawa pergi semuanya ke Paris. Sebagai sebuah thriller, novel ini terasa kurang lengkap. McGowan sepertinya memang tidak bertujuan untuk menghadirkan novelnya sebagai thriller. Unsur thriller seperti yang ditemukan dalam novel-novel seperti The Da Vinci Code, Messiah, atau The Last Templar tidak kuat bergema di halaman-halaman novel. Konflik yang berpotensi menciptakan ketegangan, yaitu permusuhan kubu Yohanes Pembabtis dan kubu Yesus tidak digarap secara intens. Porsi terbesar novel dipakai McGowan untuk mengedepankan Injil Maria Magdalena yang seakan-akan disengaja untuk menciptakan kontroversi. Teknik yang dipakai McGowan juga mengingatkan pada kreasi Holywood yang sering mencengangkan saking bombastisnya. Pada beberapa tempat, bahkan bernuansa opera sabun. Sehingga, tak pelak, The Expected One tampil paradoksal. Pada satu sisi, mematahkan ide-ide Holywood seperti yang diangkat dalam film The Last Temptation of Christ (yang sesungguhnya berdasarkan novel Nikos Kazantzakis, tetapi menggambarkan Maria Magdalena sebagai pelacur). Tetapi pada sisi lain, bermuatan konflik khas Holywood (lihat saja kisah cinta 'segitiga' yang ada dalam novel ini). Entah kenapa tulisan tangan Maria Magdalena harus disembunyikan begitu selesai ditulis. Apakah Sarah-Tamar yang kemudian mencetuskan nubuat 'Dia Yang Dinantikan' tidak cukup dipercaya ibunya untuk menerima warisan kemudian mewariskan lagi secara turun-temurun? Lalu, mengapa 'kutipan' bagian tulisan tangan Maria Magdalena yang lain yang disebut Kitab Para Murid dilampirkan begitu saja di hampir semua bab? Sepertinya McGowan sendiri menjadi bingung saking banyaknya muatan gagasan yang hendak ia sampaikan. Tulisan tangan Maria Magdalena pun terasa ganjil. Maria Magdalena seolah-olah hidup di masa kini sehingga tahu benar segala kontroversi dan perdebatan yang meliputi tokoh-tokoh Perjanjian Baru seperti Yudas, Petrus, Putri Herodias, dan Pilatus yang agaknya baru muncul berabad-abad kemudian. Maria Magdalena memang mengatakan ada orang dari Roma dan Efesus yang datang berkonsultasi dengannya, tetapi itu soal Paulus. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk pembenaran tulisannya itu. (McGowan sempat mengatakan bahwa dia memiliki sumber materi, tetapi apa yang dimaksudkannya tidak dijelaskan). Pembelaan yang Maria Magdalena lakukan jelas bukan pembelaan Maria Magdalena, tetapi pembelaan McGowan sendiri. Selain itu aksi pembelaan perempuan yang McGowan lakukan juga menimbulkan pertanyaan. McGowan jelas-jelas membela perzinahan ala Herodias di masa lalu, dan baca apa yang ditulis McGowan dalam kehidupan seorang perempuan masa kini yang 'sadar' dirinya merupakan keturunan orang-orang suci. Kalau Tamara Wisdom (Tammy) tahu betul genetikanya, mengapa dia mau tidur dengan Derek Wainwright tanpa terikat pernikahan? Tetapi itulah kebenaran ala McGowan. Akhirnya, menyitir ucapan Maureen dalam novel yang juga dikutip McGowan dalam bagian penutup, "Sejarah bukanlah sesuatu yang telah terjadi. Sejarah adalah sesuatu yang dituliskan", bolehlah kita mengatakan, seperti yang juga disampaikan McGowan, bahwa buku ini adalah hasil kreasinya dengan agenda politiknya sendiri. Inilah versi dokumentasi Kathleen McGowan yang mungkin berpotensi, lagi-lagi seperti ungkapannya, "membuat kebenaran menjadi hilang selamanya".
Posted at 06:29 pm by Jody
Permalink
Tuesday, February 20, 2007
BURUNG KOLIBRI MERAH DADU

Judul Buku :
Burung Kolibri Merah Dadu Penulis : Kurnia
Effendi Penyunting : Imam
Risdiyanto Terbit : Cetakan
1, Februari 2007 Penerbit : C|
Publishing
Kurnia Effendi, yang oleh
teman-temannya sering disapa Kef, adalah penulis cerpen yang tumbuh di
halaman-halaman majalah remaja seperti Gadis
dan Anita Cemerlang.
Sekarang ia dikenal sebagai seorang penulis cerpen prolifik. Dari lahan
imajinasinya yang subur telah lahir 4 kumpulan cerpen yaitu Senapan Cinta
(2004), Bercinta di Bawah Bulan (2004), Kincir Api (2005) dan Aura
Negeri Cinta (2005). Kef adalah seorang cerpenis yang piawai, tangkas
dalam seleksi diksi dan indah dalam perangkaian kata. Tuturannya seringkali
lembut, bening dan halus. Oleh karena itu, ketika menggunakan nama Nia Effendi,
banyak orang yang menyangka dia seorang perempuan. Cerpen-cerpen Kef yang
umumnya merambah wilayah romantis selalu menarik. Tidak sekadar manis, tetapi
gurih dan segar. Membaca rangkaian kata-katanya, meminjam ungkapan Meg Cabot
(penulis serial The Princess Diaries) ketika mengomentari To Kill a
Mockingbird karya Harper Lee, oleh Kef every
word has been as carefully strung together as if it were a precious jewel.
Saya kira, siapa pun yang telah membaca cerpen-cerpen Kef dalam setiap antologi
cerpennya akan setuju.
Bertepatan dengan momen hari kasih
sayang, 14 Februari 2007, Kef meluncurkan kumpulan cerpennya yang kelima
bertajuk indah Burung Kolibri Merah Dadu. Burung Kolibri Merah Dadu
adalah kumpulan cerpen Kef yang ditulis dalam rentang waktu 2 dekade lebih,
sejak tahun 1983 (Langit Makin Ungu) sampai tahun 2006 (Cinta Separuh
Malam). Oleh karena itu, antologi ini bagaikan rekaman perjalanan Kef dalam
belantika sastra Indonesia
menuju kematangannya berkarya. Buku ini membuktikan bahwa Kef bukan wajah baru
dalam dunia sastra Indonesia
karena dia telah meretas perjalanan yang tergolong panjang dan senantiasa
bersetia pada jalur yang ia pilih. Meskipun karya-karya cerpennya baru mulai
dibukukan pada tahun 2004.
Angsa Putih terpilih sebagai sajian pembuka yang
cantik. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana. Kisah cinta yang tidak pasti
antara Paramita dan Faisal, seorang pria yang hampir tidak percaya cinta dan
kesetiaan. Faisal menghilang dari kehidupan Paramita dan sebuah patung porselen
miniatur seekor angsa putih pemberiannya menjadi pengganti kehadirannya. Angsa
putih disepakati oleh keduanya sebagai lambang kesetiaan, ide yang lahir
setelah menonton film Out of Africa,
karya Sydney Pollack dengan Meryl Streep dan Robert Redford sebagai pemeran
utama. Tiba-tiba lambang kesetiaan dari porselen itu hancur berkeping-keping,
padahal sudah dijaga sedemikian rupa oleh Paramita.
Sekalipun sangat sederhana,
dengan mulus Kef berhasil mengolah cerita ini menggunakan perspektif
penceritaan orang kedua yang begitu menawan, sehingga cerpen seakan-akan
menjadi curhat seorang Paramita terutama kepada pembaca pria. Cerita yang
diawali dengan sendu pada saat pecahnya patung porselen angsa putih, berakhir
manis, bertolak belakang dengan kisah cinta dalam Out of Africa. Tak
heran cerpen ini diposisikan sebagai sajian pembuka antologi cerpen
laki-laki yang menggunakan nama sahabat-sahabatnya pada karakter rekaannya.
Secara pribadi, saya berpendapat cerpen ini sebagai salah satu ekspresi
kelembutan yang paling romantis dari Kef dalam antologi ini.
Tema cinta yang memiliki
kecenderungan manis juga dapat ditemukan dalam Gerimis Februari dan Hari-hari
Merah Jambu. Gerimis Februari diceritakan dengan kalem dan
terkendali sebagaimana cinta yang berkembang dari persahabatan yang manis. Kef
memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memberi akhir pada cerpen ini walau
seperti pengakuannya ide ceritanya adalah kisah cinta dengan perempuan yang
sekarang menjadi istrinya. Hari-hari Merah Jambu yang semanis judulnya terkesan
bak film-film romantis Hollywood, apalagi
dengan adegan kocak yang dilakukan Bram di bandara.
Walaupun masih seirama dengan
cerpen-cerpen sebelumnya, Sekuntum Lily yang berkisah tentang cinta
segitiga antara Fatin, Yuda, dan Uka menunjukkan bahwa meski sering rumit cinta
tetap bisa memberikan harapan. Kerumitan cinta yang manis juga dapat
ditemukan dalam Burung Kolibri Merah Dadu yang menceritakan tentang
Fransiska yang kembali ke Indonesia
setelah pergi keluar negeri pasca perceraian dengan Jimmy, suaminya. Fransiska
akhirnya menemukan harapan cintanya pada Jodik Givara, seorang penyair yang
mencintainya. Susan dalam Kemilau Senja menemukan cinta Lukas, lelaki
yang pernah 'singgah' dalam hidupnya dan menghilang dari peredaran, di
Mandalawangi. Sedangkan dalam cerpen yang panjang (Kef menyebutnya novela), Selamat
Datang Matahari, Hanum menemukan matahari yang hilang karena ulah Joko
Hindarto dalam kelembutan hati Dery, saudara kembar Nadia.
Cinta di tangan Kef tidak berarti
selalu merah jambu. Dalam Langit Makin Ungu, Nana yang tidak sanggup
melepaskan cengkeraman masa lalu menolak kehadiran Basunondo tetapi menyesali
keputusannya saat pria itu memutuskan meninggalkan tanah air. Arga, seorang
anak muda yang populer di antara gadis-gadis, harus menerima penolakan Seruni
demi cinta perempuan lain, sebagai bentuk kebeningan hati gadis itu (Di
Ujung Senja). Harry Sarjono, setelah menikmati kebersamaan yang indah
dengan Keiko yang membuatnya berpikir tentang cinta, ditinggalkan Keiko dalam
ketidakpastian (Berjalan di sekitar Ginza).
Sepanjang Braga mengisahkan seorang penulis fiksi tanpa nama yang patah
hati ditinggal mati gadis yang dicintainya.Tiga Ribu Kaki di Atas Bandung
adalah kisah kasih tak sampai antara Katy dan Mahendra karena seorang gadis bernama
Svetlana.
Dua cerpen, Merpati Stefani dan Cinta
Separuh Malam seperti butir yang lepas dari rangkaian cerita Kef. Kedua
cerpen ini tidak bercerita cinta seperti cerpen-cerpen lainnya. Cinta dalam Merpati Stefani adalah cinta
seorang gadis bernama Stefani kepada sepasang merpati dan cinta burung-burung
itu sendiri. Sedangkan Cinta
Separuh Malam bertutur tentang pertemanan seorang penulis yang
tidak lain adalah Kef di masa depan dengan seorang perempuan separuh baya
pemilik toko buku.
Hal lain yang ditangkap pada
eksplorasi Kef adalah pembubuhan kejutan pada akhir cerpen-cerpennya. Hari-hari Merah Jambu, Langit Makin Ungu, Di
Ujung Senja menjadi contoh cerpen Kef dengan akhir yang
mengejutkan.
Tetapi, Angsa Putih dan Sepanjang
Braga akan menjadi favorit karena keindahan puitis yang mengiris
yang ditorehkan Kef dengan elegan.
Seluruh cerpen Kef dalam buku ini
walaupun terentang dalam kurun waktu yang cukup panjang memiliki persamaan
yaitu disajikan dengan gaya
romantis, bahasa apik, indah, dan menyentuh. Sehingga tema seperti Merpati
Stefani dan Cinta Separuh Malam yang biasa-biasa saja masih tetap
menarik dibaca. Bukan karena konflik yang disodorkan tetapi semata-mata karena gaya bercerita yang
memikat. Pada beberapa cerpen lama Kef, rupanya secara sengaja ia mengadakan
perubahan. Hal itu tampak pada penggunaan ponsel dan surat elektronik yang pada saat cerpen
ditulis penggunaannya belum umum seperti sekarang. Padahal, mengingat kumcer
ini seumpama rekaman perjalanan kepenulisan Kef, ia tidak perlu
mengubahnya. Pencantuman kapan cerpen itu diterbitkan telah cukup menggambarkan
setting waktu yang digunakan pengarang. Dan pembaca yang arif bisa memahaminya.
Toh saat ini kita masih tetap membaca karya-karya yang tetap dipertahankan
seperti awalnya meskipun zaman telah berubah. Apalagi bagi sebagian pembaca
yang telah mengenal Kef membaca antologi ini akan menjadi semacam nostalgia.
Secara pribadi saya tidak sepakat
jika cerpen-cerpen remaja Kef dibandingkan misalnya dengan teenlit dan
dirasakan 'kuno' karena cara penyajiannya. Bahasa selalu berkembang, dan kita
tahu pasti pada tahun-tahun keaktifan Kef menulis cerpen remaja, saat
itu remaja juga sudah memiliki bahasa gaul sendiri. Tetapi ketika
itu, Kef membuktikan dirinya bisa memikat para pembaca seperti yang diungkapkan
Reda Gaudiamo (hlm. XV) tanpa memaksakan diri menggunakan bahasa gaul
yang sering mengaburkan batas antara bahasa lisan dan tulisan. Pilihan Kef
dengan bahasa yang apik dan indah justru menjadi semacam positioning
bagi karya-karya yang dihasilkannya.
Pada tahun 2005, penerbit Grasindo
bekerja sama dengan Radio Nederland Seksi Indonesia melaksanakan sayembara
mengarang novel remaja (teenlit).
Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati berhasil menjadi pemenang pertama. Grasindo
melabeli buku Farah dan pemenang lainnya dengan embel-embel "rasa
baru" karena narasi yang disampaikan dengan bahasa yang baik. Jika membaca
buku Rumah Tumbuh kita akan menemukan bagaimana Farah memakai bahasa
yang baik saat bernarasi dan mengisi dialog-dialognya dengan menggunakan bahasa
remaja pada tempat yang tepat. Hal semacam ini juga bisa ditemukan dalam Kana
di Negeri Kana, karya Rosemary Kesauly yang menjadi juara pertama lomba
novel teenlit Gramedia
tahun 2005. Jadi, kenapa tidak, memberikan pembaca-pembaca remaja kita fiksi
yang ditulis dengan indah, cerdas, dan menggunakan bahasa yang baik tetapi
tetap tidak kehilangan irama dan gaya
remaja? Apakah remaja-remaja Indonesia
memang hanya menyukai fiksi yang sarat dengan bahasa gaul seperti yang
digunakan kebanyakan penulis teenlit
saat ini? Mungkin perlu dipertanyakan kembali.
Oleh karena itu, mendukungi harapan
yang dikemukakan Reda Gaudiamo, semoga kumpulan cerpen cinta karya Kurnia
Effendi ini akan menjadi media pembelajaran yang baik bagi pembaca muda
Indonesia bahwa dengan menggunakan bahasa yang baik, apik, dan indah,
cerpen remaja juga bisa tampil menohok.
Posted at 07:39 pm by Jody
Permalink
Saturday, February 17, 2007
BUNGA-BUNGA DI KEBUN MOHSEN MAKHMALBAF

The Crystal Garden karya Mohsen Makhmalbaf menjadi karya yang menarik bukan hanya karena kandungan ceritanya, tetapi juga karena berbagai ungkapan indah yang ditanam Mohsen Makhmalbaf di halaman-halaman bukunya. Mungkin setiap pembaca akan mempunyai pilihan berbeda tapi inilah ungkapan-ungkapan indah Mohsen Makhmalbaf yang menjadi favorit saya:
-
Dunia bukanlah tempat kue hangat dibagikan secara gratis. -
Aku seburuk kau memandang orang lain dan secantik kau memandang dirimu sendiri. -
Dengan membicarakannya, kau membuat kesedihan dan deritamu menghebat. -
Cintai aku seperti kau mencintai bunga karena wanginya. Jangan memandangku sebagai duri. -
Kau adalah separuh apel sementara aku separuh sisanya. -
Dendam dan kebencian adalah kantong kepedihan yang tertutup dan tetap tandus seperti mata air yang kering. -
Kata-kata saling terkait dan segera setelah kau meluncurkan kata pertama, kata-kata berikutnya akan menyusul. -
Mata berpaling untuk membiarkan lidah bicara. Tak ada organ tubuh yang sevulgar lidah dan tak ada yang sepemalu mata. -
Lidah lebih banyak berdusta dibandingkan organ tubuh lainnya. -
Siapa saja yang akrab dengan seluk-beluk kehidupan, siapa saja yang mampu melakukan permainan dengan baik dan paham dengan aturan mainnya akan tahu betul bahwa meskipun jatuh bangun, hidup adalah permainan yang indah. -
Bila Tuhan--dengan segala kearifan-Nya--menutup sebuah pintu, Dia akan membuka pintu lain dengan murah hati. -
Lelaki adalah pakaian perempuan dan perempuan adalah pakaian lelaki. -
Masa kecil adalah musim semi kehidupan. -
Tawa dan air mata tampak sama di sebuah wajah renta: dua-duanya menimbulkan kerut. -
Tuhan mengisi hari seorang wanita dengan kesibukan-kesibukan sederhana. -
Bila hidup menjadi berat, tangan mulai meraba-raba di kegelapan, mencari sesuatu untuk dipegang, dan saling berebut secara diam-diam.
Posted at 01:52 pm by Jody
Permalink
Friday, February 16, 2007

Judul Buku : RESEP CINTA Penulis : Primadonna Angela Tebal : 176 hlm; 20 cm Terbit : Cetakan 1, Februari 2007 Penerbit : Gramedia Pustaka Utama RESEP CINTA PRIMADONNA ANGELA Kendati sudah tidak remaja lagi, seperti halnya Meg Cabot penulis serial The Princess Diaries, Primadonna Angela atau Donna piawai menulis cerita-cerita remaja (teenlit). Hal ini dibuktikan Donna dengan menghasilkan novel-novel remaja seperti Belanglicious, Love at First Fall, dan Big Brother Complex. Menyambut Valentine Day, pada tanggal 13 Februari 2007, Gramedia Pustaka Utama merilis karya terbaru Donna berjudul Resep Cinta. Meskipun Donna mengaku lebih gampang mendapatkan judul berbahasa Inggris, kali ini Donna cukup percaya diri menjuduli novel teenlit-nya dengan bahasa Indonesia. Hampir semua teenlit isinya senada seirama. Biasanya bermuatan cinta yang meliputi naksir, pacaran, putus cinta, sambung cinta, dan gosip-gosip ala remaja. Sehingga dengan sendirinya khusus untuk novel jenis ini telah terbentuk kelompok penggemar yang menyukai tema-tema yang itu-itu saja. Padahal seperti kata Donna (hlm. 168), menulis dan memasak sama saja. Hasil akhir kedua proses itu adalah sebuah hidangan yang siap disantap. Nah, seperti masakan, buku pasti akan menimbulkan kebosanan kalau temanya itu-itu saja. Sudah menggunakan bahan dasar yang identik, pengolahannya idem ditto. Tidak heran teenlit seperti karya Rosemary Kesauly yang berjudul Kana di Negeri Kana menjadi salah satu sajian teenlit yang sangat lezat dinikmati. Cerita terasa lebih gurih, diolah dengan menggunakan bahasa yang baik tanpa kehilangan aroma remaja, dan tidak melantur-lantur seperti kebanyakan teenlit hanya untuk menghasilkan sajian yang itu-itu saja. Donna, dalam Resep Cinta, mungkin karena sudah bukan remaja seperti kebanyakan penulis teenlit, cukup berhasil mengendalikan gerak dan irama cerita novelnya. Sehingga meski mengusung tema cinta, Resep Cinta tidak terpuruk menjadi teenlit yang cerewet dan mubazir. Walaupun, kalau disimak teliti, seperti umumnya teenlit, kita masih bisa menemukan ungkapan-ungkapan khas remaja yang memiliki kecenderungan hiperbolis. Suka atau tidak, teknik penyajian Donna akan mengingatkan pada teknik yang dipakai oleh Meg Cabot dalam novel-novel remajanya. Kita akan dihadapkan dengan gaya bercerita yang ceria, konyol dengan susunan yang tidak terlalu baku. Gaya yang sekaligus menyiratkan keluwesan dan kecerdasan sang penulis dalam menyampaikan gagasan. Cinnamon Cherry, anak sepasang jagoan kuliner senang makan tetapi tidak bisa masak. Pertemuannya dengan Basil yang ternyata tetangga baru sekaligus anak baru di sekolahnya membuat Cherry ngotot belajar masak. Penyebabnya tidak lain karena Cherry jatuh cinta pada Basil sedangkan Basil mendambakan pacar yang jago masak.Ternyata untuk mendapatkan hati Basil (yang namanya memang sejenis bakteri, bukan sekedar mirip) merupakan pekerjaan yang sulit. Setelah belajar masak, Cherry harus berhadapan dengan saingannya, Maya Renggo, jagoan masakan Cina, anak pemilik Bakpau dan Siomay Meihan dan resto Chinese Food. Untuk memperebutkan Basil, Maya menantang Cheery lomba masak dengan Basil sebagai juri. Siapa yang menang dia lah yang akan menjadi pacar Basil. Sebuah gagasan yang sangat konyol, merendahkan martabat, dan sangat memalukan. Dan untuk menambahkan bumbu kekonyolan, orang tua Maya dan Cherry mendukung adu masak tersebut. Bahkan untuk itu ayah Cherry mengajari putrinya resep pai andalan keluarga yang sangat tersohor. Tentu saja Cherry gagal mendapatkan Basil karena pada akhirnya Cherry mengurungkan niat untuk membuat pai yang resepnya merupakan rahasia keluarga. Tetapi justru kekalahan Cherry berubah menjadi berkah ketika Perfect Pau didirikan di Orchard Road, Singapura. Salah satu kekuatan Donna dalam bercerita adalah kemampuan memberikan kejutan menjelang akhir novel, dan ini tampak pada Resep Cinta. Kejutan yang disodorkan Donna memberi nilai lebih dibandingkan teenlit lain. Walaupun kejutan Donna terasa 'dewasa' jika mencerna rahasia di balik ketampanan Basil yang sesungguhnya. Resep Cinta seperti judulnya mengandung resep-resep masakan yang menurut Donna merupakan hasil kreasi bersama ibunya. Donna mengombinasikan cerita dan resep-resep favoritnya (kecuali resep rahasia pai keluarga Cherry) dengan niat berbagi penuh perasaan cinta kepada pembaca. Oleh karena itu mata kita akan bersentuhan dengan nama-nama yang mengugah selera seperti spageti lemon, yummy chocolate cherry fudge, udang panggang istimewa, ayam madu cinta atau puding lemon salju. Sayangnya oleh Donna resep-resep tersebut dilampirkan begitu saja di setiap akhir bab yang menyinggung jenis masakan tersebut. Padahal pelampiran resep seperti itu tidak berkontribusi pada jalinan cerita. Artinya jika resep itu tidak dilampirkan tidak akan mengurangi kandungan cerita. Ketika membaca ada kemungkinan pembaca akan mengabaikan resep-resep itu. Kalaupun pembaca tertarik, kemungkinan minat pembaca akan terpecah untuk menuntaskan novelnya atau segera mencoba resep yang ditawarkan Donna. Berbeda dengan Like Water for Chocolate (1992) yang juga menggunakan resep-resep masakan sebagai salah satu formula novel. Sebagai penulis, Laura Esquivel tidak sekadar melampirkan resep-resep masakannya. Resep-resep masakan sekaligus proses masaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan cerita. Esquivel memulai setiap bab novel dengan resep yang berbeda. Setiap resep menimbulkan kenangan tersendiri akan peristiwa-peristiwa berbeda dalam hidup Tita, sang tokoh utama novel. Bagi yang sudah pernah membaca novel ini, pasti tidak bisa melupakan bagaimana salah satu resep Tita, Quail in Rose Petal Sauce, menyebabkan kehebohan karena siapa saja yang mencicipinya kehilangan kendali saking bergairah. Dengan demikian, Resep Cinta belum menjadi karya utuh dengan ide menarik yang ingin disampaikan penulisnya. Asimilasi yang harmonis antara resep masakan, proses masak, dan konflik akan lebih berpotensi menghasilkan cerita yang jauh lebih matang dan memikat sekalipun ditujukan terutama untuk pembaca remaja.
Posted at 03:34 pm by Jody
Permalink
Thursday, February 15, 2007

Judul Buku : The Crystal Garden Penulis : Mohsen Makhmalbaf Penerjemah : Elka Ferani Penyunting : Melvi Yendra Penerbit : Dastan Books, 2006
SAAT PENDERITAAN, SAAT BELAS KASIHAN
Mohsen Makhmalbaf terkenal sebagai sutradara, penulis, editor, dan produser yang film-filmnya telah diikutsertakan pada festival film internasional lebih dari 1000 kali. Dia telah memperoleh lebih dari 20 penghargaan. Selain itu, Mohsen telah mempublikasikan lebih kurang 27 buku yang telah diterjemahkan dalam lebih dari 10 bahasa. Dalam dunia perfilman Iran, keluarga Mohsen Makhmalbaf dikenal sebagai dinasti Makhmalbaf.Karena selain dia, istrinya, Marziyeh Meshkini, kedua putrinya yaitu Samira dan Hana telah mengukuhkan diri sebagai sutradara film. Sekarang Mohsen dan keluarganya tinggal di Kabul, Afghan, membantu mendirikan sekolah dan rumah sakit. Sebelumnya Mohsen Makhmalbaf telah sukses mengirim ribuan anak Afghan bersekolah di Iran. The Crystal Garden adalah salah satu novel racikan lelaki kelahiran Teheran 29 Mei 1957 yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Dastan Books. Cerita berlatar Teheran, Iran pascarevolusi, saat perang Iran-Irak (1980 – 1988) berkecamuk. Hampir seluruh cerita terjadi di sebuah rumah besar dengan taman dan kolam yang disita negara dan pemiliknya lari keluar negeri. Ada berbagai perempuan dan berbagai kehidupan berkelindan di kamar-kamar pembantu rumah besar itu. Kita tidak akan menemukan cerita yang hanya digulirkan dari satu karakter. Tidak ada plot tunggal. Semua perempuan dalam novel menjadi karakter penting dengan plot kehidupan masing-masing yang dianyam Mohsen menjadi sebuah novel. Persamaan yang merekatkan mereka adalah mereka semua korban-korban perang. Meskipun tidak dalam arti terlibat langsung dalam peperangan. Layeh, ditinggalkan suaminya, Mansur,yang gugur dalam perang dengan 2 anaknya, Salman dan Sareh dan seorang bayi yang masih dalam kandungan.Suatu ketika Layeh menerima pinangan seorang laki-laki bernama Karim karena dijodohkan orang-orang serumah. Tetapi ternyata Karim seorang tukang pukul dan tidak berniat menjadi ayah bagi anak-anak Layeh.Setelah Layeh keguguran, Karim menghilang dari kehidupannya. Maliheh, seorang perempuan muda yang menikah dengan Hamid, veteran perang lumpuh dan telah kehilangan kemampuan reproduksi. Hamid sering meragukan cinta Maliheh. Maliheh memang mau menikahi Hamid karena percaya pengorbanan yang ia lakukan akan dibalas di akhirat. Padahal, sebagai perempuan, yang setiap hari melihat anak-anak teman serumah, Maliheh juga mendambakan anaknya sendiri. Souri, seperti halnya Layeh ditinggalkan suaminya, Akbar, yang tewas dalam perang.Mereka telah memiliki 2 orang anak, Samireh dan Meysam. Souri tidak dekat dengan ibu mertuanya yang mempersalahkan Souri atas kematian anaknya. Souri dinikahkan oleh ayah mertuanya dengan adik suaminya, Ahmad. Ketika cinta mulai menyapa, terjadi sebuah peistiwa yang membuat Ahmad memutuskan ikut berperang. Souri ditinggalkan dalam keadaan hamil. Alyeh, perempuan tua yang kehilangan 2 anaknya, Akbar dan Ahmad yang tewas dalam perang. Dan seolah tidak cukup, suaminya, Marshadi, juga nekat pergi berperang untuk kemudian tidak pernah kembali lagi. Khorshid, mantan pembantu rumah besar yang dinikahkan dengan Ali, seorang pelayan,karena kecemburuan istri majikannya.. Ali ternyata tidak lebih dari seorang lelaki lemah yang kerjanya hanya duduk, mengeluh, dan mengisap candu. Kehidupan para perempuan ini mencapai titik nadir ketika mereka digusur dari rumah besar. Di titik nadir tersebut, Souri melahirkan anak Ahmad. Souri yang lemah tidak bisa menyusui anaknya. Alyeh, ibu mertua Souri yang menjaga bayi Souri merasa putus asa karena tidak berdaya. Alyeh mendongak ke langit, mengigit bibirnya sampai berdarah, dan berteriak keras," Tuhan, di mana Engkau? Apa Kau tidak ada?" Satu pertanyaan yang mengiris hati. Pertanyaan yang bisa terucap oleh siapa pun ketika penderitaan yang menimpa terasa tidak tertanggungkan lagi dan seakan-akan Tuhan menutup mata atas semua yang terjadi. Pertanyaan yang sekaligus merupakan gugatan dari novel ini: siapakah penyebab penderitaan manusia? Tuhankah? Atau manusia sendiri? Saat Alyeh berteriak lantang, teriakannya secara luar biasa disahut Tuhan. Tuhan tidak berada dalam peperangan. Tuhan sedang menanti terlewatnya ambang batas kemampuan manusia yang mengandalkan diri sendiri untuk memberikan kuasa-Nya yang penuh belas kasihan. Mohsen menjalin kisah kehidupan manusia-manusia sengsara karena perang ini dengan indah dan apa adanya. Tidak ada yang dipaksakan. Tidak ada yang dibuat-buat. Kita akan dibawanya larut dalam kesedihan, penderitaan, ketakutan, harapan, dan ketidakberdayaan mereka. The Crystal Garden menjadi sebuah novel yang akan meninggalkan jejak yang tidak mudah terhapus dari benak pembaca, sajian yang memikat karena kepedihan yang disodorkan. Selain itu kita tidak akan mudah melupakan kalimat-kalimat indah Mohsen lewat bisikan hati dan kata-kata para tokoh yang diposisikan dengan sangat wajar pada tempatnya. Kita harus membaca sendiri untuk menemukan dan meresapi keindahan verbalisasi Mohsen.
Posted at 08:58 pm by Jody
Permalink
|
|
|