"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)
Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.
Judul Buku : PULANG
Penulis : Happy Salma
Penerbit : Koekoesan
Penyunting : Tim Koekoesan
Terbit : Cetakan pertama, November 2006
PERJALANAN
PULANG HAPPY SALMA
Satu lagi perempuan
selebritas Indonesia yang katanya bergelimang cahaya menulis buku. Setelah
Melly Goeslaw dan Tamara Geraldine, Happy Salma unjuk kebolehan menulis
kumpulan cerpen. Jujur, saya hanya sekedar tahu bahwa Happy Salma itu pemain
sinetron. Beberapa kali saya melihat wajahnya tampil di layar kaca, tetapi saya
tidak pernah mengikuti kiprahnya sebagai pemain sinetron. Terus terang, saya
memang bukan penikmat setia sinetron Indonesia. Sekarang Happy Salma
menulis kumpulan cerpen, dan sebagai pecinta buku, saya ingin tahu bagaimana
Happy Salma memainkan jarum rajut imajinasi untuk merajut kata-kata, satu demi
satu menjadi kalimat-kalimat dalam cerpen. Dan tanpa tercegah, saya langsung
bertanya-tanya. Apakah Happy Salma akan hadir mengusung ketangkasan bertutur
seperti yang dimiliki Tamara Geraldine? Atau seperti kecanggungan Melly
Goeslaw? Beruntunglah Happy Salma. Dia mendapatkan tim editor dari sebuah
penerbit yang mau bersusah payah membantunya dalam menghadirkan karyanya
sehingga memenuhi syarat literer.
Judul bukunya singkat, hanya
satu kata. PULANG. Tetapi PULANG benar-benar mewakili kumpulan ini karena kata
itu menjadi tali yang membuhul 8 cerpen dalam kesan yang sama. Kita tidak hanya
akan menemukan kata pulang berkelebat di setiap cerpennya, tetapi memaknainya
dalam tiap cerpen, dalam berbagai konteks.
Setelah membaca kumpulan cerpen ini -yang ternyata bisa habis sekali jalan,
dapat diketahui kalau cerpen-cerpen Happy Salma adalah cerpen-cerpen yang
sederhana. Baik tema maupun pengolahan cerita. Tetapi jangan salah.
Kesederhanaan di sini bukan berarti kelemahan atau ketidaklengkapan, atau
bahkan ketidaksempurnaan. Ibarat perempuan cantik yang berdandan dengan nuansa nude.
Sederhana. Tetapi akan memancarkan kecantikannya. Oleh karena itu,
kesederhanaan Happy Salma justru menjadi daya tarik cerpen-cerpennya. Happy
memang tidak menjangkau tema-tema musykil, tidak meraih topik-topik absurd yang
kerap membingungkan pembaca. Dia hanya memulung tema-tema keseharian yang
berhubungan dengan jalinan kekeluargaan. Tetapi Happy Salma berhasil mencapai
sasaran.
Antologi irit ini -hanya 8 cerpen, dibuka dengan cerpen berjudul Pertemuan.
Cantik yang menurut pengakuan pemilik nama itu tidak cantik, terpaksa harus
meninggalkan Bandung pergi ke Depok. Dia harus bertemu kakaknya atas permintaan
ibunya di Lampung. Sudah 4 tahun Cantik tidak berjumpa dengan kakaknya, dan dia
memang tidak menginginkannya. Kakaknya memang cantik, berambut panjang
bergelombang indah terurai, jemarinya lentik dicat warna merah muda. Wangi
lagi. Tetapi jangan tertipu. Karena pada akhir cerpen, tepat di kalimat penutup
Happy akan membenturkan kejutan yang tak terduga. Keren!
Cerpen kedua bertajuk Ibu dan Anak Perempuannya ditutup Happy dengan
benturan kejutan yang dijamin tidak terlupakan. Di mata ibunya yang sakit dan
tinggal menghitung hari kehidupan, Arum putrinya yang cantik adalah seorang
guru taman kanak-kanak dan juga pelatih tari. Dulu hati sang Ibu pernah
disakiti Arum. Sekarang, bagaikan mau menebus dosa, Arum bertanggung jawab pada
ibunya. Dia mau melakukan apa saja untuk ibunya. Apa yang dilakukan Arum akan
jadi kejutan dalam cerpen yang berlangsung dalam durasi yang pendek tetapi
sangat berhasil ini.
Demikian juga yang Happy Salma lakukan pada nasib Nina Novianti dalam
cerpen Adik. Nina mengikuti Kiki, adiknya yang murung ke suatu
tempat. Tempat itu membuat Nina nyaris tak dapat menerima kenyataan. Cerpen
satu ini mengingatkan saya pada novel Raumanen karya Marianne Katoppo.
Perjalanan ke Negeri Sakura seperti yang dibentangkan dalam Perjalanan Jauh
tidak membuat si Neg bersemangat. Neng memang selalu tidak bersemangat
melakukan perjalanan. Setiap perjalanan selalu akan mengingatkan dia pada
ibunya. Ibu yang membesarkan Neng seorang diri, satu-satunya sandaran hidup Neng.
Neng tidak memiliki bapak dan tidak mengetahui wujud bapaknya seperti apa. Dia
juga tidak memiliki adik atau kakak. Dan setiap kali Neng melakukan perjalanan,
dia akan teringat perjuangan ibunya membiayai kehidupan mereka, teringat
perjalanan ibunya ke Tanah Abang membawa pulang satu karung hasil belanjaan.
Saya langsung teringat ibu saya begitu habis membaca cerpen ini. Cerpen yang
lembut. Meraih akhir yang lirih untuk membuat pembaca terenyuh.
Dalam Kenangan Singkat, seorang penyanyi perempuan dari Jakarta manggung
di Papua sebagai bagian dari tim sukses sebuah kampanye pilkada. Ia bertemu
seorang gadis kecil bernama Daniela. Nasib si kecil Daniela mengejutkan si
penyanyi dan langsung menggenggam hatinya dalam waktu singkat. Salah satu
cerpen yang tidak begitu menggedor dalam kumpulan ini, tetapi cukup
mengindikasikan kepedulian seorang Happy Salma terhadap warna kehidupan
yang ia alami.
Pada Sebuah Pementasan, Iska yang hatinya penuh kedengkian diajak Nadia,
temannya, ikut teater sekolah karena tim teater kekurangan personil. Kebencian
Iska menggebung karena Nadia menawarkan kepadanya peran sebagai tikus untuk
pementasan. Pembalasan dendam Iska meledak, dan dia tak menduga bakal mengancam
nasibnya sebagai siswa di sekolahnya. Cerpen berlatar kehidupan remaja yang
sedikit banyak akan mengingatkan masa remaja di sekolah bagi pembaca usia
dewasa. Apalagi yang pernah memiliki sejarah persaingan yang tidak sehat.
Cerpen Pulang yang dijadikan judul antologi benar-benar tentang pulang.
Tokoh cerpen adalah seorang perempuan yang pulang ke desanya saat Lebaran.
Tetapi di desanya ia menemukan hamparan sawah, pohon karet tinggi langsing,
kicau burung, dendang bening sungai telah hilang. Tokoh ini merasa asing.
Merasa terampas. Waktu telah mengubah semuanya. Termasuk dirinya yang sudah
tidak perawan lagi.
Umi, sebagai cerpen penutup, agak berbeda dari cerpen-cerpen lainnya.
Ratih meninggalkan Jakarta pergi ke sebuah daerah di dekat Pekanbaru. Di sana
ada sebuah rumah tua. Dia pernah mengunjungi rumah itu waktu usianya belum
genap 8 tahun bersama mendiang ibunya. Ratih hendak bertemu Umi yang pernah
mengasuhnya selama 3 tahun ketika ayahnya mengadu nasib sebagai sopir di Arab
Saudi. Umi sudah lama sakit, tetapi tidak bisa mati, walau sudah ingin mati.
Dan kehadiran Ratih lah yang akan menyelamatkan Umi dari penderitaannya di
dunia.
Makna pulang yang memoles cerpen-cerpen Happy Salma harus dilihat dalam konteks
cerita. Pulang dalam cerpen Pertemuan adalah permintaan seorang ibu pada
anaknya yang tak pernah pulang dan seolah-olah telah ditelan bumi. Dalam cerpen
Ibu dan Anak Perempuannya pulang adalah janji seorang anak kepada ibunya
yang sakit. Anak ini juga telah pulang ke rumah ibunya setelah melarikan diri
dengan lelaki beristri dan beranak tiga. Permohonan seorang kakak pada adiknya
yang bersedih adalah pulang dalam cerpen Adik. Kerinduan si Neng kepada
ibunya adalah makna pulang dalam cerpen Perjalanan Jauh. Cerpen Kenangan
Singkat memaparkan kepulangan seorang penyanyi dari Papua menuju Jakarta.
Cerpen Pada Sebuah Pementasan menghadirkan Iska yang ingin pulang ke
rumah setelah menyebabkan Nadia cedera. Ratih dalam cerpen Umi ingin
cepat pulang ke Jakarta dari rumah tua tempat Umi menunggu mati karena tidak
ingin hidup seribu tahun lagi. Pulang yang benar-benar pulang hanya bisa
ditemukan dalam cerpen Pulang.
Delapan cerpen Happy Salma yang disajikan dengan gaya yang seirama, bahasa yang
cukup baik (meski sudah disunting, masih ada kata yang ejaannya salah), tidak
tergila-gila menggunakan bahasa asing seperti yang latah digunakan beberapa
penulis sezamannya, hadir tanpa keruwetan. Semuanya realis dan bening. Semuanya
enak disimak.
Akhirnya, usai membaca kumpulan cerpen Happy Salma ini, kita bisa melihat jika
benih telah disebarkan. Dengan kondisi lahan tumbuh yang layak, benih itu akan
berkembang. Dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pemupukan tanpa kenal lelah,
maka PULANG tidak akan menjadi yang terakhir dari Happy Salma. Benih ini akan
tumbuh semarak sehingga akhirnya kita akan terus merasakan desah Happy yang
menyatu dengan waktu.
Dengan sendirinya, pertanyaan yang sempat tercetus di atas terjawab sudah. Bagi
saya.
Judul Buku : NEFERTITI (The Book of the Dead - Ratu Mesir, Dewa Matahari & Penguasa Dua Dunia) Penulis : Nick Drake Penerjemah : Bima Sudiarto Penyunting: Pray Tebal : 600 hlm; 12,5 X 19 cm Terbit: Cetakan 1, Februari 2007 Penerbit : Dastan Books
SANG SEMPURNA TELAH DATANG
Bayang-bayang menyingkap seperti tirai, lalu kulihat dia. Sang sempurna duduk di salah satu kursi. Mengenakan mahkota warna biru, memperlihatkan leher dan pundaknya nan jenjang dan indah. Membuat wajahnya semakin cantik.
Nama Nefertiti diterjemahkan sebagai wanita yang cantik (atau sempurna) telah datang. Sebagian namanya juga berarti manik-manik emas yang terjulur panjang (nefer) yang sering tergambar sedang dikenakannya. Siapa orang tua Nefertiti, tidak diketahui secara pasti. Dengan Amenhotep IV, Nefertiti melahirkan 6 anak perempuan.
Pada tahun ke-4 pemerintahannya, Amenhotep IV memulai penyembahan kepada Aten, dewa matahari. Dia dan Nefertiti memproklamasikan diri sebagai inkarnasi agung dan penyambung lidah Aten. Bersamaan dengan dimulainya penyembahan dewa Aten, pembangunan sebuah ibu kota baru, Akhetaten (sekarang dikenal sebagai Amarna) dimulai. Pada tahun ke-5 pemerintahannya, Amenhotep IV secara resmi mengubah namanya menjadi Akhenaten sebagai tanda penyembahan barunya terhadap Aten. Ibu kota dipindahkan dari Thebes ke Akhetaten secara resmi pada tahun ke-7 pemerintahan Akhenaten (1343 BC) walaupun pembangunan kota tetap dilanjutkan sampai tahun 1341 BC.
Selama pemerintahan Akhenaten, Nefertiti terkenal sebagai wanita yang karismatik dan memiliki kekuasaan setara dengan suaminya. Pada tahun ke-12 pemerintahan Akhenaten, Nefertiti menghilang dari rekaman sejarah, tidak ada lagi informasi mengenai dirinya setelah itu. Berbagai spekulasi disorongkan untuk mencoba menjawab apa yang terjadi pada dirinya. Ia dikabarkan meninggal, tertimpa aib, tetapi juga dipercaya sempat memerintah imperium Mesir dengan nama Neferneferuaten-Nefertiti dalam waktu yang singkat setelah suaminya meninggal sebelum kemudian ia digantikan oleh Tutankhamun.
Konon, zaman terjadinya sinkretisasi agama oleh Akhenaten dengan memperkenalkan Atenisme dan sesembahan baru, kemudian juga dilaksanakan konstruksi ibu kota baru, bagi sebagian orang dianggap sebagai zaman keemasan imperium Mesir. Tetapi ada juga yang berpendapat apa yang dilakukan oleh Akhenaten menggiring imperium Mesir ke tepi jurang kehancuran. Pembangunan ibu kota baru dengan kuil untuk dewa matahari telah menjadi konsentrasi pemerintahan Akhenaten. Ekonomi menjadi kacau balau. Beras susah dicari. Para pegawai tidak digaji. Kejahatan bereskalasi. Keguncangan masal.
Dengan diberlakukannya atenisme, semua dewa yang sebelumnya disembah bangsa Mesir (dewa Amun, dkk) disingkirkan termasuk pendeta-pendetanya seperti yang terjadi di Kuil Karnak. Oleh karena itu tidak dapat dihindarkan lagi jika rezim Akhenaten menjadi penghancur kehidupan mapan banyak orang sehingga akhirnya menciptakan musuh bagi dirinya. Tetapi Akhenaten tidak peduli dan tetap menjalankan rencananya. Tesis inilah yang digeber Nick Drake dalam novel perdananya, Nefertiti.
Novel Nick Drake ini menggambarkan ihwal akan diresmikannya kota baru, Akhetaten, sebagai ibu kota dan pusat penyembahan Aten yang terjadi pada tahun ke-12 pemerintahan Akhenaten Pada saat itu, Nick menceritakan kalau Nefertiti menghilang dari istananya. Hal ini menimbulkan pertanyaan karena ada pendapat yang menyatakan bahwa Atenisme sudah diberlakukan sejak tahun ke-4 pemerintahan Akhenaten. Selain itu karena Akhetaten dibangun sampai tahun ke-9 pemerintahan Akhenaten, agak aneh juga jika baru diresmikan tahun keduabelas, seperti yang disampaikan Nick Drake. Tetapi karena ini masalah sejarah, dan bukti yang paling sahih tidak tersedia, maka Nick Drake tentu saja memiliki kemerdekaan untuk menyampaikan gagasannya. Apakah gagasan yang disampaikannya benar, kita tidak bisa memastikan. Mungkin saja akan ada penemuan baru yang mengukuhkan hipotesisnya.
Peristiwa menghilangnya Nefertiti menjadi tema penting di tengah eksplorasi Nick Drake terhadap kehidupan pemerintahan dan masyarakat Mesir kuno. Oleh karena itu selain kehidupan keluarga kerajaan -Nefertiti, suami, anak-anaknya dan para kerabat, Nick juga melakukan sejumlah riset mengenai materi yang hendak ia sampaikan, termasuk pola kehidupan masyarakat saat itu, seperti apa yang mereka santap, apa yang menjadi bahan pemikiran dan pembicaraan mereka, bahkan permainan yang mereka mainkan -dalam novel ini disebutkan permainan bernama Senet. Drake juga mengunjungi Mesir untuk melihat puing-puing Akhetaten (Amarna).
Menjelang peresmian ibu kota baru dan agama baru, Nefertiti hilang dari istananya, tanpa jejak. Sebagai tokoh karismatik yang sangat dihormati dan dicintai rakyatnya, lenyapnya Nefertiti menjadi masalah besar. Tanpa dirinya festival peresmian itu terancam gagal. Ada indikasi bahwa masyarakat mau mengikuti Atenisme karena pesona Nefertiti. Ketidakhadiran Nefertiti akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada masalah sedang terjadi dalam kerajaan. Kredibilitas dan pencapaian Akhetanen akan dipertanyakan, termasuk agama barunya. Di samping itu, ada kecurigaan sedang terjadi konspirasi untuk menentang pemerintahan. Oleh sebab itu, Nefertiti harus ditemukan.
Pada saat itu, di Mesir terdapat satuan keamanan kerajaan -yang menyimpan arsip papirus tentang semua masyarakatnya supaya bisa mengawasi mereka, yang disebut Medjay. Ankhenaten memerintahkan Rahotep, kepala detektif termuda satuan Medjay divisi Thebes untuk menemukan sang ratu. Rahotep terkenal dengan metode kerjanya yang orisinal. Setiap menangani suatu kasus, ia membuat jurnal untuk mencatat semua yang ia pikirkan dan ia indera dari investigasi yang dilakukan. Kerap dengan cara ini dia bisa mengungkapkan kasus yang ditanganinya.
Dari Thebes, meretas Sungai Besar, Rahotep menuju ibu kota baru, Akhetaten. Langsung disambut dengan sambaran anak panah untuk memperingatkan bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Mahu, kepala Medjay yang ditemuinya di Akhetaten, tanpa tedeng aling-aling menunjukkan ketidasukaan terhadap dirinya.
Oleh Mahu, disediakan 2 petugas untuk memandu Rahotep selama berada di Akhetaten, Kety dan Tjenry. Rahotep diberi waktu 10 hari oleh raja untuk mengembalikan Nefertiti, Sang Sempurna, karena festival peresmian ibu kota dan agama baru akan diadakan 10 hari lagi. Kalau tidak, Rahotep dan keluarganya akan dihabisi.
Baru saja memulai investigasinya, Rahotep telah menemukan mayat perempuan dengan wajah rusak. Sebelum misteri mayat yang diduga sebagai Nefertiti dipecahkan, Tjenry yang sedang mengawasi mayat ini dibunuh dengan cara mengerikan. Nyawa Rahotep sendiri terancam. Setelah itu, Meryra kepala bendahara kerajaan yang baru diangkat menjadi pendeta tinggi Aten juga tewas mengenaskan. Kematian Meryra membuat Mahu memaksa Rahotep meninggalkan Akhetaten dengan mengancam kehidupan keluarganya. Tetapi sebelum ada keputusan selanjutnya, Rahotep menemukan tulisan dalam jurnalnya yang ditulis orang tak dikenal yang kemudian menuntunnya pada pengungkapan misteri hilangnya Nefertiti.
Nefertiti memang belum meninggal. Ia juga tidak diculik oleh orang-orang yang terlibat konspirasi menentang rezim Akhenaten. Tetapi ia melarikan diri dari istana, setelah bertengkar dengan suaminya dan didera masalah yang membuatnya cemas dan ketakutan. Ia berharap dengan melarikan diri bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi.
Setelah Rahotep meninggalkan Nefertiti dengan tujuan untuk mencari komplotan yang menentang kerajaan, Mahu menangkapnya, memenjarakan, dan menyiksanya. Di tengah penyiksaan yang dilakukan Mahu, Ay, penasihat sekaligus kepala pasukan berkuda kerajaan datang membebaskan Rahotep. Ay meminta Rahotep untuk menjadi negosiator antara dia dan Nefertiti dalam rangka membereskan masalah kerajaan.
Festival peresmian ibu kota dan agama baru menjadi klimaks yang tak terduga. Sesuatu terjadi. Imperium Mesir terhempas di jurang kaos. Pemerintahan kacau. Keputusan Nefertiti lah yang akan menentukan kelangsungan nasib kerajaan Mesir.
Apapun yang kemudian terjadi, pada akhirnya, tentu saja Rahotep bisa kembali ke Thebes. Setelah itu menurutnya, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Nefertiti dan suaminya. Tetapi pekerjaan Rahotep tidak berakhir di situ. Karena novel ini hanya menjadi bagian pertama yang ditulis Nick Drake untuk memperkenalkan aksi Rahotep kepada pembaca. Drake masih akan menerbitkan lagi sekuel kisah petualangan detektif Medjay ini.
Novel yang pernah masuk dalam nominasi novel terbaik Ellis Peters Award ini ditulis menggunakan Rahotep sebagai narator. Ketika membaca, pembaca mungkin tidak akan menyadari tengah membaca kisah yang (diceritakan) tidak terjadi di masa kini. Dengan meyakinkan, menggunakan perspektif Rahotep, Drake menggelontorkan kisahnya secara enteng sehingga novel berlatar Mesir kuno ini hadir layaknya novel kontemporer, apalagi dengan konflik dan kecemerlangan gagasan yang dibentangkan. Tidak ada kekakuan dalam pemaparan kehidupan yang telah lama berlalu ditelan waktu. Semua dihadirkan dengan wajar dan sama sekali tidak berkesan kuno. Segala detail diupayakan seakurat mungkin, baik elemen kultural maupun objek yang dikemukakan. Alhasil, Nefertiti (novel ini) tampil memikat melontarkan pesona bagaikan pesona yang dipancarkan sang ratu yang menjadi salah satu ikon kecantikan feminin abad 20.
Selain itu, novel diracik dengan kalimat-kalimat evokatif yang cenderung puitis. Hal ini bisa dipahami, karena Nick Drake juga dikenal sebagai penyair. Bukunya yang berjudul The Man in the White Suit memenangkan penghargaan Waterstone's Forward Poetry Prize untuk kategori Best First Collection.
Karakter-karakter yang diangkat Nick Drake pada umumnya merupakan karakter sejarah, tetapi bisa ditebak kalau Rahotep adalah karakter fiktif ciptaan Nick Drake sendiri. Demikian juga Khety, Tjenry, atau Senet.
Edisi Indonesia diterjemahkan dan disunting oleh pasangan Bima Sudiarto-Pray dengan rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan terkesan cerdas sehingga seluruh ceritanya dapat diikuti dengan lancar. Selain itu, naskah dicetak dalam ukuran huruf yang ramah mata. Keistimewaan lainnya adalah rancangan sampul yang spektakuler dalam nuansa keemasan mewakili panorama padang pasir dan era keemasan imperium Mesir Kuno.
Tak diragukan lagi, novel ini menjadi novel elegan untuk pembaca yang tertarik pada kisah berlatar sejarah masa silam tetapi dengan pesona misteri kontemporer.
Judul buku : The
Rule of Four
Penulis : Ian Caldwell dan Dustin Thomason
Penerjemah : Jessica Wibowo
Penyunting : Ella Elviana & Hana Zafira
Terbit : Cetakan 1, November 2006
Tebal : 576 hlm
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
HYPNEROTOMACHIA
POLIPHILI, TIPU DAYA WANITA BURUK RUPA
"Dari luar, Hypnerotomachia
mungkin tidak memiliki daya tarik, tetapi dari dalam, ia memiliki tipu
muslihat seorang wanita buruk rupa, pesona sebuah misteri yang membuat
kecanduan" (Thomas Corelli Sullivan, hlm. 24)
Dua anak
muda yang berteman akrab sejak usia 8 tahun berkolaborasi menciptakan novel.
Yang satu bernama Ian Caldwell, seorang sejarawan lulusan Universitas
Princeton. Lainnya Dustin Thomason, seorang dokter lulusan Harvard. Mereka
berhasil mengharmonisasikan ide yang sebagian besar dilakukan menggunakan
fasilitas telepon dan email. Setelah dikerjakan sejak tahun 1998, seperti yang
mereka akui, The Rule of Four diterbitkan tahun 2004 untuk pertama
kalinya. Usai dibaca, ketahuan bahwa novel berlatar Princeton, New Jersey 1999
ini adalah sebuah buku tentang buku. Dan buku yang menjadi pokok permasalahan
dalam novel ini benar-benar ada, tidak seperti buku The History of Love
dalam novel berjudul sama karya Nicole Krauss (Gramedia, 2006).
Tersebutlah sebuah buku berjudul Hypnerotomachia Poliphili yang isinya
sulit dipahami. Selama 500 tahun identitas pengarangnya tidak jelas. Selama itu
pula tujuan sang pengarang menulis buku tidak diketahui. Oleh sebab itu buku
ini menjadi misteri yang menjadi sasaran investigasi.
Hypnerotomachia Poliphili yang dalam bahasa Latin berarti
"Perjuangan Poliphilo demi Cinta dalam Sebuah Mimpi" dan diterbitkan
di Venesia Desember 1499 oleh Aldus Manutius adalah sebuah kisah cinta
(Poliphilo dan Polia), yang menyembunyikan ensiklopedi di dalamnya, mulai dari
arsitektur sampai hewan. Narator mengatakan bahwa dari luar buku ini mungkin
tidak memiliki daya tarik. Tetapi dari dalam memiliki tipu muslihat seorang
wanita buruk rupa, pesona misteri yang membuat kecanduan. Antara lain yang
terjerat 'tipu muslihat wanita buruk rupa' ini adalah trio Richard Curry,
Vincent Taft, dan Patrick Sullivan. Mereka bekerja sama untuk memecahkan
misteri buku yang ditulis menggunakan bahasa seperti Latin, Italia, Yunani,
Yahudi, Arab, Chaldea, bahkan tulisan hieroglif (yang ternyata tidak autentik)
dan kata-kata ciptaan sang pengarang sendiri. Trio ini tidak dapat
mempertahankan kerja sama. Salah satu di antara mereka berkhianat. Buku harian
seorang kepala pelabuhan Genoa milik Curry hilang. Curry menuduh Taft sebagai
pencurinya.
Karena Hypnerotomachia Poliphili inilah Thomas Corelli Sullivan (Tom)
menjadi salah satu sahabat Paul Harris, selain Preston Gilmore Rankin (Gil) dan
Charlie Freeman. Paul Harris yang adalah penggemar Patrick Sullivan -ayah Tom,
memang menjadikan Hypnerotomachia Poliphili sebagai materi tesisnya.
Awalnya Tom membantu Paul, tetapi karena apa yang ia kerjakan mulai merusak
hubungan cinta yang dijalinnya dengan Katie Marchand, Tom melepaskan diri dari
pesona 'sang wanita buruk rupa'. Posisi Tom diganti oleh Bill Stein untuk
melengkapi Vincent Taft sebagai penasihat dan Curry sebagai pembimbing tesis.
Rupanya dalam dunia cendekiawan, mengkhianati sesama cendekiawan dianggap jamak
oleh beberapa individu. Itulah yang terjadi pada tesis Paul. Tanpa bisa
dicegah, pengkhianatan kali ini menyebabkan terbunuhnya 2 tokoh novel. Secara
simultan, misteri yang membungkus Hypnerotomachia Poliphili selama 500
tahun tersingkap. Ternyata buku yang dikarang (dalam novel ini) Francesco
Colonna, seorang bangsawan Roma, menyimpan rahasia lokasi sebuah ruang bawah
tanah tempat karya-karya yang dikumpulkan pada zaman Renaisans disembunyikan
dari tindakan penghancuran yang disebabkan oleh fanatisme keagamaan. Pemecahan
misteri dengan bantuan aturan empat ini mencapai klimaks ketika sesuatu terjadi
yang membuat Paul menghilang dari kehidupan ketiga sahabatnya dan lingkungan
Princeton.
Tetapi cerita tidak hanya sampai di situ. Di akhir novel, duo pengarang ini
menciptakan kejutan. Meski tidak begitu menggedor cukup memberi tahu pembaca,
bahwa hal itu akan mempengaruhi kehidupan Tom Sullivan selanjutnya.
Novel dituturkan oleh Tom Sullivan, narator brilian lulusan Sastra Inggris
Princeton yang sempat terbata-bata dalam penyelesaian tesisnya sendiri
gara-gara Hypnerotomachia Poliphili. Cerita dipaparkan dengan kualitas
narasi yang tangguh sehingga menghasilkan sajian kaya metafora yang enak
dibaca. Kita akan mengikuti daya tarik kesegaran kosmetik kata-kata yang
memoles kisah sejarah, ilmu pengetahuan, dan seni yang dibuhul oleh temali
persahabatan dan kasih sayang. Keseluruhannya menjadi bersinar karena misteri yang
tidak basi, pengolahan narasi yang jitu, dan tetesan kasih sayang yang
menyentuh. Kasih sayang inilah yang menyebabkan Richard Curry berkorban untuk
Paul, keluar dari sarang cendekiawan, demi kebenaran dan kejujuran ilmiah yang
terancam direnggutkan untuk kepentingan pribadi oleh pihak tertentu.
Ian
Caldwell (kiri) dan Dustin Thomason (kanan)
Ketika novel ini dirilis di pasar Amerika (2004), banyak yang membandingkan
dengan best-seller tahun sebelumnya yaitu The Da Vinci Code. Bisa
dipahami mengingat buku ini adalah karya pengarang muda tidak terkenal yang
belum pernah mengarang novel dan langsung menjadi best-seller. Tetapi
terasa berlebihan ketika muncul ungkapan-ungkapan seperti "Lebih bagus
dibanding The Da Vinci Code", "Satu tingkat di atas (Da
Vinci Code)", atau "[Sebuah] Da Vinci Code untuk orang-orang
berotak". Sulit untuk membandingkan novel ini dengan The Da Vinci Code.
Ada kisah pemecahan sandi, tetapi tidak cukup signifikan untuk dibandingkan.
Masing-masing punya kelebihan.
Hypnerotomachia Poliphili yang memercikkan gagasan utama ke dalam
penciptaan novel ini diterbitkan secara anonim. Tetapi jika huruf-huruf pertama
dari setiap bab dalam buku ini (edisi asli) dirangkaikan, akan terbentuk
sebuah akrostik dalam bahasa Latin: Poliam Frater Franciscvs Colvmna
Peramavit yang berarti Bruder Francesco Colonna amat sangat mencintai
Polia. Dalam The Rule of Four, diceritakan bahwa penulisnya adalah
seorang bangsawan Roma bernama Francesco Colonna dan bukan biarawan Venesia
yang juga bernama sama. Terjemahan Inggris lengkap buku ini dikerjakan
oleh seorang musikolog bernama Joscelyn Godwin dan diterbitkan Desember 1999,
500 tahun setelah teks asli diterbitkan (sedangkan novel mengambil setting
beberapa bulan sebelumnya, sekitar perayaan Paskah).
Edisi Indonesia tetap menggunakan judul asli dan diterjemahkan dengan
cemerlang oleh Jessica Wibowo. Kemasan buku juga cukup menarik. Tak
pelak, The Rule of Four terbitan Serambi ini menjadi sajian menawan yang
dapat dijadikan koleksi oleh pembaca yang suka seni, sejarah, dan cerita dengan
kesegaran narasi yang memoles misteri dan kejutan yang terkendali.
Contoh
isi buku Hypnerotomachia Poliphili (Wikipedia)
Judul
Buku : Travelers' Tale -Belok Kanan : Barcelona! Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman
Hidayat, Ninit Yunita Penyunting : Windy Ariestanty Terbit : Cetakan 1, 2007 Tebal : x + 230 hlm; 13 X 19 cm Penerbit : GagasMedia
KETIKA CINTA DI PERJALANAN
Empat lajang, dua pasang gender, kepala tiga, bersahabat sejak
kecil. Semasa SMA, cinta menyapa di antara mereka. Cinta yang tumbuh dari
kebersamaan, tetapi berpotensi menggerogoti kebersamaan pula. Dua di antaranya
membiarkan cinta mereka tanpa kepastian. Dua yang lain mencoba membunuh cinta
yang terhalang perbedaan kepercayaan. Dengan status seperti itu, mereka tumbuh
dewasa, terserak di 4 benua dengan pekerjaan masing-masing.
Francis Lim mengira ia akan sukses lari dari jerat cinta monyet
ketika ia memutuskan menikah dengan Inez Alegria de la Pena, gadis Catalonia.
Ia mengundang 3 sahabatnya untuk hadir pada acara pernikahan yang akan
dilaksanakan 1 bulan lagi di Barcelona, kota asal Inez.
Ketiga sahabat Francis memutuskan pergi ke Barcelona dengan dana
yang terbatas. Farah Babedan, dari Hoi An, Vietnam, meretas jalan ke Barcelona
setelah menyelesaikan kewajibannya di Amman dan Budapest. Jusuf Hasanuddin yang
sedang berada di Nairobi bukannya balik ke Cape Town, Afrika Selatan, malah ke
Barcelona lewat Abidjan. Retno Wulandari, meninggalkan Kopenhagen, Denmark,
menuju Barcelona via Amsterdam. Francis Lim sendiri sang calon mempelai
pria, sehabis acara resital piano di Amerika, menuju Barcelona dari New York
City.
Maka, terbangunlah kisah dalam novel bertajuk Travelers' Tale
-Belok Kanan: Barcelona!. Pengalaman perjalanan, laporan pandangan mata,
dan serpihan-serpihan masa lalu memberkas dalam cerita cinta
stereotipikal yang menjadi pencetus plot novel.
Cinta memang sumber daya yang tidak ada matinya. Sangat banyak
buku yang memanfaatkannya sebagai bahan baku. Dan, novel berjudul panjang ini
terperangkap untuk melakukan hal yang identik. Namun cinta yang dibesut dalam
novel ini, kendati bertolak dari cinta monyet, ternyata telah menggorila dan
memiliki tujuan. Cinta seperti ini juga bukan hal yang baru dalam dunia fiksi.
Oleh karena itu, pengalaman traveling diasimilasikan untuk mengkreasikan
perbedaan. Alhasil, terciptalah kisah cinta multisegi yang terentang penuh
ketidakpastian dalam perjalanan menuju horison nan indah, Barcelona. Di manapun
para tokoh berada, jalur apapun yang ditempuh, mereka pasti akan tiba sesuai
sirkulasi yang telah ditentukan, di jantung Barcelona. Terbukti, meski melewati
lokasi peperangan, karakter laki-laki narsis sok ganteng dalam novel ini sampai
juga di Barcelona.
Ternyata, cerita cinta stereotipikal yang meliput hidup 4
makhluk ini menjadi karya ringan-renyah yang cukup enak dinikmati. Plot digelar
manis mengundang tanya. Tidak ada kerumitan yang berarti. Apa yang akan terjadi
di Barcelona telah terbayang di benak pembaca sebelum para tokoh menjejak kota
yang pernah dihidupkan dalam lagu oleh pasangan Freddy Mercury-Mike Moran dan
Fariz RM ini. Ketika persahabatan dipertaruhkan, akhirnya semua cinta menemukan
takdirnya sendiri.
Karena perjalanan anak-anak muda ini berangkat dari lingkaran
persahabatan yang telah mereka untai 20 tahun lamanya, kilas balik menjadi
teknik yang penting untuk membawa masuk apa yang terjadi di masa lalu ke masa
kini untuk memberi pemahaman kepada pembaca. Kilas balik tersebut berpadu
kompak dengan kisah traveling yang dideskripsikan dengan enteng dan
lancar. Walau di beberapa tempat nyaris terjadi digresi, tetapi aliran sungai
cerita sudah ditentukan, sehingga laut lepasnya sudah sangat jelas.
Novel ini dituturkan dengan kelincahan narasi komedi cinta.
Menariknya, kelincahan narasi ini digerakkan oleh 4 penulis. Masing-masing
penulis mewakili satu karakter. Karena tokoh novelnya terdiri dari 2 pasang
gender, maka penulisnya juga sama. Masing-masing sengaja tampil beda, kendati
menggunakan perspektif orang pertama –saya, aku, gue, dan gua. Hal ini menjadi
kekuatan sekaligus kelemahan dalam berkisah.
Kekuatannya, karena dituturkan oleh 4 narator –dan 4 penulis
berbeda- tentu saja dengan kontrol untuk keutuhan penokohan dan plot, ceritanya
menjadi lebih natural jika dibandingkan dengan cerita yang dituturkan 4 narator
tetapi dikucurkan oleh satu penulis. Kelemahannya, 4 orang dari zaman yang
sama, pergaulan yang identik, gaya bicara yang idem ditto (bahasa gaul dengan
berbagai bahasa yang ada), hadir satu sama lain bagaikan orang asing.
Farah sibuk ber-gue-gue, Jusuf asyik ber-gua-gua, Retno senang ber-saya-saya,
dan Francis getol ber-aku-aku. Dan ketika mereka terlibat dialog bersama,
dengan setia gaya itu dipertahankan. Makanya, tanpa sadar (atau tak
terkoreksi), Farah yang doyan ber-gue-gue, khilaf ber-gua-gua (hlm. 139) dan
Francis yang biasanya ber-aku-aku, menambah gua dalam cita rasa lidahnya
(hlm. 215).
Meski bertutur menggunakan perspektif orang pertama, ketika
Retno dan Jusuf menjadi narator dan menceritakan chatting yang mereka
lakukan, baik penulis Retno maupun penulis Jusuf menuliskan nama karakter
mereka sendiri dan bukan 'saya' atau 'gua' untuk mengimbangi lawan bicaranya
(hlm. 29, 30, 43, 44). Pada halaman 83 dan 146 -teks dalam kotak, penulis Jusuf
malah menambah-nambahkan 'tim penulis' dalam tulisannya, seakan-akan tidak
tahan ingin masuk dalam cerita ciptaannya. Apakah itu perlu?
Selain cukup enak dinikmati, dalam novel ini pembaca akan
menemukan tips-tips traveling seperti perencanaan traveling,
transit, mengatasi jetlag, teknik backpacking, obat-obat
yang perlu disediakan, dan memilih transportasi serta akomodasi yang mungkin
bisa dimanfaatkan oleh pembaca yang hendak bepergian seperti yang pasti telah
dilakukan para penulis.
Buku karya 4 penulis –Adhitya, Alaya, Iman, dan Ninit- ini
tampil dengan kemasan yang baik dan ide sampul yang tidak pasaran. Sekilas
lihat tidak akan menduga jika buku ini sebuah karya fiksi. Satu hal yang saya
tidak pahami adalah ketika membaca komentar salah satu komentator novel yang
mengatakan bahwa plot novel susah dikenal; mood and background lebih
penting dari kejadian yang diceritakan. Dengan mengesampingkan kejadian yang diceritakan,
akan jadi apa buku ini selain sekadar travel guides dan laporan
perjalanan?
Barcelona! Such a
beautiful horizon
Barcelona! Like a jewel in the sun
Por ti sere gaviota de tu bella mar
Barcelona! Suenan las campanas
Barcelona! Abre tus puerras al mundo
If God is willing, if God is willing, if God is willing
Friends until the end
Judul buku : Bulan Hampa
Judul asli : Void Moon
Penulis : Michael Connelly
Penerjemah : Fahmy Yamani
Penyunting : Sofia Mansoor
Tebal : 600 hlm
Terbit : cetakan 1, Januari 2007
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
MISTERI
BULAN HAMPA
Menurut kalender astrologi, saat bulan bergerak dari satu rumah
ke rumah lainnya dalam konstelasinya, sering bulan bergerak di tempat yang
tidak ada rumahnya. Jika saat itu tiba, dikatakan bulan sedang menjalani
'perjalanan hampa' sampai akhirnya masuk ke dalam sebuah rumah. Bulan hampa
dianggap bukan saat yang menguntungkan. Bulan hampa adalah waktu sial. Apa saja
bisa terjadi dan berubah kacau balau. Oleh karena itu, jika hendak melakukan
sesuatu, sebaiknya tidak dilakukan pada jam-jam ketika bulan hampa. Konon nasib
apes yang dialami Lincoln, McKinley, Kennedy, dan Clinton adalah karena
mereka dilantik pada saat bulan hampa.
Keyakinan akan bulan hampa dan efek yang ditimbulkannya
dipegang teguh Leo Renfro, seorang perantara pekerjaan untuk para perampok.
Percaya atau tidak, kehidupan Cassidy Black (Cassie), kekasih Maxwell James
Freeling (Max) -adik tiri Leo, berhubungan erat dengan misteri bulan hampa.
Enam tahun sebelumnya, Cassie dan Max yang terkenal sebagai perampok kelas
kakap, mendapat pekerjaan di Cleopatra, sebuah kasino di Las Vegas. Menjelang
aksi perampokan, terjadi perubahan skenario. Kemudian dalam aksinya, Max
terjebak dan tewas, jatuh dari sebuah kamar penthouse di lantai 20 Cleopatra
Resort and Casino. Cassie ditangkap. Berdasarkan hukum kriminal Nevada -setiap
orang yang terlibat dalam sebuah kejahatan bertanggung jawab atas kematian yang
terjadi pada saat kejahatan tersebut dilakukan- dihukum penjara selama 5 – 15
tahun, dengan catatan jika berkelakuan baik selama di penjara, dia bisa keluar
dalam waktu 5, 6, atau 7 tahun dan bisa memulai kehidupan barunya. Menurut Leo,
peristiwa tewasnya Max terjadi pada saat bulan hampa.
Enam tahun kemudian -saat ini dalam novel- Cassie yang berada
dalam status bebas bersyarat meminta pekerjaan pada Leo Renfro. Setelah
pekerjaan ini, Cassie berencana untuk menghilang dan memulai kehidupan
baru. Apa yang Cassie lakukan terpicu oleh dijualnya sebuah rumah di Lookout
Mountain Road karena pemiliknya hendak pindah ke Paris. Cassie juga meminta Leo
membuatkan baginya paspor untuk dua orang.
Yang membuat Cassie terkejut, perampokan yang akan ia lakukan
berlokasi sama dengan perampokan gagal 6 tahun lalu yang mengakhiri hidup
kekasihnya. Ia harus beraksi di Cleopatra yang saat ini telah berada di bawah
kekuasaan Vincent Grimaldi, mantan pemimpin keamanan kasino yang terlibat
peristiwa tewasnya Max.
Cassie tak bisa menolak. Tanpa sadar, keputusan Cassie
mengambil pekerjaan ini tidak sekadar mengembalikannya ke tempat di mana impian
masa depannya dengan Max hancur berantakan. Tetapi juga membuka misteri seputar
kematian Max yang pada akhirnya membuat kehidupan Cassie bersinggungan langsung
dengan nemesisnya, Jack Karch. Jack Karch adalah sosok yang menjadi peran utama
pada peristiwa tragis 6 tahun lalu. Jack yang dijuluki Jack Sekop, adalah
detektif psikopat yang bertugas menangani orang hilang. Sejak terlibat dalam
peristiwa tewasnya Max, dia juga menjadi kaki tangan Grimaldi untuk
menghilangkan orang-orang yang dibunuh demi kepentingan Grimaldi.
Target Cassie kali ini adalah Diego Hernandez, penjudi kawakan
asal Houston -belakangan diketahui bernama Manuel Hidalgo, pengacara dari
Miami. Sialnya, Cassie tidak dapat menghindarkan bulan hampa saat beraksi.
Hernandez terbunuh. Karch mencari Cassie untuk merebut uang dalam koper yang
dibawa Cassie. Mengejutkan, jumlah uangnya tidak seperti dalam pembicaraan
awal. Koper ternyata berisi 2, 5 juta dolar. Namun, tidak mudah bagi Karch
untuk menaklukkan Cassie. Ia harus ke rumah di Lookout Mountain Road, mengambil
senjata pamungkas, untuk memaksa Cassie menyerahkan uangnya –kemudian, tentu
saja, membunuhnya.
Tepat sebelum waktu bulan hampa, Cassie mengetahui bahwa berita
gembira yang disampaikannya kepada Max sebelum aksi perampokan 6 tahun
lalu telah menjadi salah satu pemicu tewasnya laki-laki yang dicintainya.
Berita apakah itu? Apa hubungannya dengan masa kini?
Hampir bersamaan, Jack Karch juga berhasil menemukan potongan
terakhir kehidupannya sebagai puzzle yang mendapatkan posisi yang tepat.
Karch sadar akhirnya ternyata dia, Cassie, Leo Renfro, bahkan Max, telah masuk
dalam jaring tipu daya rekayasa Vincent Grimaldi yang sialnya mewariskan
DNA-nya dalam tubuh Karch. Siapa yang akan menjadi korban pada bulan hampa kali
ini?
Inilah sebuah thriller mengasyikkan yang lahir dari
imajinasi penulis handal Michael Connelly. Void Moon atau Bulan Hampa
yang dirilis tahun 2000, menghadirkan karakter utama yang berbeda dari karakter
ciptaan Connelly sebelumnya, yaitu Harry Bosch (detektif) dan Terry McCaleb
(reporter). Selanjutnya dengan mulus, Connelly merangkai kisah menegangkan
berbumbu kejutan dalam novel yang dijalin penuh daya tarik dan enak dibaca.
Pembaca akan dibawa bersua rahasia tak terduga yang menyelimuti kehidupan para
tokoh yang bahkan tidak diketahui mereka sebelumnya. Juga perjuangan seorang
perempuan untuk mengatasi jerat tangan takdir yang mencengkeram tanpa ampun.
Selain itu, Connelly menghadirkan kasih sayang, bahan empuk yang membuat
Cassie berhasrat membangkitkan kembali impian masa lalu yang kemudian hanya
menyadarkan dirinya bahwa impian itu benar-benar telah amblas sejak enam tahun
lampau. Walaupun impian itu benar-benar amblas, dengan kebesaran jiwa, Cassie
meyakinkan dirinya bahwa semua yang pernah ia dan Max miliki akan selalu ia
miliki. Terutama tempat di mana samudra menggantikan padang pasir.
Akhirnya, Void Moon tidak saja menyajikan amarah dan
darah, tetapi juga cinta sejati yang semuanya melebur dalam
peristiwa-peristiwa yang memaksa para tokohnya untuk mau tidak mau berhadapan
dengan misteri bulan hampa.
Keunggulan yang dapat ditemukan dalam Void Moon adalah penggarapan semua
karakter yang dilakukan sebaik cerita dan plot yang ditampilkan. Pembaca tidak
akan dibikin bingung karena semua terkesan sangat meyakinkan. Connelly sungguh
seorang penulis dengan kualitas narasi yang membuat segalanya mengalir logis
dan dinamis. Kehandalan Connelly memang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Connelly mengukuhkan dirinya sebagai novelis tangguh melalui
debut berjudul The Black Echo (1992) yang memenangkan Edgar Award untuk
Best First Novel. Dalam novel perdananya ini Connelly memperkenalkan karakter
Hieronymus Bosch yang menghidupkan sebagian besar novelnya. Sampai Oktober
2006, Connelly telah menulis 17 novel dan 1 kumpulan cerita kriminal selama
menjadi jurnalis (Crime Beat, 2006). Buku-bukunya telah diterjemahkan ke
dalam lebih dari 30 bahasa dan telah memenangkan penghargaan Edgar, Anthony,
Macavity, Shamus, Dilys, Nero, Barry, Audie, Ridley, Maltese Falcon (Jepang),
.38 Caliber (Prancis), Grand Prix (Prancis), dan Premio Bancarella (Italia).
Judul buku : Pasang Laut
Judul asli : The Highest Tide
Penulis : Jim Lynch
Alih bahasa : Arif Subiyanto
Terbit : cetakan 1, Desember 2006
Tebal : 328 hlm; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
MENDENGAR SUARA HATI LAUTAN
Suatu malam
musim panas, Miles O'Malley -13 tahun, 146 cm, 39 kg, bersuara melengking
berpenampilan mirip bocah 9 tahun- yang sedang liburan, keluar dari rumahnya di
ujung Teluk Puget Sound, dan mendayung kayak ke utara Teluk Skookumchuck,
menuju Teluk Chatham Cove. Malam itu, Miles melaksanakan pekerjaan musim
panasnya yang baru, yaitu mengumpulkan hewan laut yang terbawa air pasang seperti
bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk eksotis lainnya yang
akan dijual untuk koleksi akuarium di Tacoma, Seattle dan Port Townsend. Selain
itu, dia juga mencari remis seperti butterclam, untuk dijual ke
restoran seafood setempat.
Miles yang mulai khawatir ukuran tubuhnya akan membuatnya tersisih dari dunia
percintaan, seperti katak yang tak bisa berteriak lantang untuk memikat betina
(hlm. 77), tidak menyangka malam yang tanpa angin, tanpa bebunyian, hanya
sesekali terdengar desing sayap serangga, suara remis yang mengatup, dan desir
air surut merembes di sela bebatuan (hlm. 10 – 11), akan memicu perubahan
hidupnya.
Malam itu, Miles menemukan seekor cumi-cumi raksasa yang membuat
perhatian publik terarah padanya. Cumi-cumi raksasa tersebut merupakan makhluk
penghuni laut dalam. Umumnya ditemukan sudah menjadi bangkai dalam perut ikan
paus spermaseti atau terdampar di pantai-pantai Selandia Baru, Norwegia, atau
Newfoundland. Miles mengatakan pada seorang reporter bahwa penemuan cumi-cumi
raksasa ini mungkin sebagai cara bumi mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, anak
sotong ini menjadi sasaran pers.
Setelah penemuan cumi-cumi raksasa tersebut, Miles menemukan lagi seekor ikan ragfish
yang juga termasuk penghuni laut dalam. Ketika merespons pertanyaan seorang
reporter televisi mengenai penemuan makhluk penghuni laut dalam adalah
kemungkinan cara bumi mengatakan sesuatu, Miles mengatakan bahwa bumi mungkin
sedang minta tolong untuk diperhatikan. Miles juga menceritakan pengamatannya
yang luput dari pengamatan para ahli bahwa saat itu sedang terjadi invasi
kepiting Cina di Whiskey Point dan rumput laut Caleurpa di Teluk
Flapjack. Kedua invasi tersebut sangat berbahaya. Selain mengancam
kepiting-kepiting asli, kepiting Cina memiliki kebiasaan menggali terowongan
yang menyebabkan tanah menjadi labil, erosi, dan longsor sehingga membahayakan
penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Sedangkan rumput laut Caleurpa
berpotensi merusak ekosistem yang ada. Tentu saja apa yang disampaikan
Miles sangat mengejutkan banyak orang.
Jim Lynch
"Ini musim panasmu, Miles. Musim panas
ini akan menentukan jati dirimu", demikian kata Florence Dalessandro -perempuan tua, paranormal
penggemar buku yang menjadi sahabat Miles. Persis seperti kata Florence, musim
panas itu menempatkan Miles pada posisi seperti selebritas gara-gara penemuan
dan komentarnya. Dalam sebuah acara yang dilaksanakan Sekolah Eleusinia, Miles
mencetuskan ramalan Florence yang menyatakan bahwa gelombang pasang tertinggi
akan terjadi pada tanggal 8 September tahun itu; pasang tertinggi dalam waktu
50 tahun terakhir. Walaupun Florence gagal ketika membuka praktik paranormal,
terbukti beberapa ramalannya tidak meleset. Gempa merontokkan Capitale
Apartments dan Hakim Stegner kalah dalam pemilihan hakim negara bagian. Apakah
ramalan pasang tertinggi benar-benar menjadi nyata?
Seketika perairan Puget Sound menjadi ramai karena orang berduyun-duyun ke
sana. Apalagi saat tersebar rumor bahwa mukjizat penyembuhan terjadi di
perairan tersebut. Seiring dengan itu, Miles juga harus melewatkan waktu
bersama tokoh-tokoh selain Florence seperti Profesor Kramer; Kenny Phelps;
Angie Stegner; reporter bermata hiu martil; ayahnya yang terobsesi pada tinggi
badan; ibu yang tidak bahagia.
Pada akhirnya semua yang Miles alami benar-benar membuat ia menemukan jati
dirinya seperti ramalan Florence. Ramalan Florence memang harus memenuhi
takdirnya.
Laut yang menjadi pesona utama cerita memang penuh misteri. Lewat pengalaman
musim panas Miles yang menjadi narator novel, kita seperti diajak memaknai
kembali peranan laut dalam kehidupan manusia. Betapa sering manusia melakukan
kesalahan tanpa memikirkan akibat buruk yang akan terjadi. Seperti pemicu
kerusakan ekosistem yang digambarkan dalam novel ini. Semua terjadi karena ulah
manusia. Mungkin kita perlu memahami laut sebagaimana yang disitir Miles dari
buku The Sea Around Us karya penulis favoritnya, Rachel Carson: "Sejak
fajar purbakala yang tersaput kabut misteri, lautan adalah asal mula segenap
kehidupan, dan akhirnya segala wujud kehidupan yang mungkin telah berkembang,
bermutasi lalu mati itu akan berpulang kepadanya. Segalanya akan kembali ke
lautan –Oceanus, sang sungai mahaluas, bagaikan hikayat pengembaraan sang
waktu, dari awal hingga akhirnya."
Dalam novel ini laut juga dapat disamakan dengan kehidupan manusia. Sering
tanpa sadar manusia melakukan tindakan yang berefek destruktif pada orang lain.
Selepas musim panas tak terlupakan itu, Miles melihat persamaan tersebut.
Bukankah apa yang dilakukan orang tuanya bisa disamakan dengan pencemaran laut
yang akhirnya merusakkan ekosistem yang ada? Walaupun begitu, Miles tetap
berhasrat memahami misteri kehidupan. Hidupnya memang berubah. Florence
meninggal, orang tuanya berpisah, namun semua menjadikannya lebih tegar,
apalagi dengan kehadiran Angie yang mengatakan kepadanya bahwa, "Lautan
akan menunggumu, Miles. Begitu pula aku."
Rachel
Carson (*) dan bukunya yang dibaca Miles
dalam novel The Highest Tide
Inilah debut manyala, menyentuh, cerdas, dan puitis dari Jim Lynch, seorang
jurnalis-penulis cerpen yang telah memenangkan National Journalism Awards. The
Highest Tide juga telah memenangkan Pacific Northwest Booksellers Award
tahun 2006. Jim Lynch yang berdomisili di Olympia, Washington, menulis novel
ini sebagai realita dari harapannya untuk menciptakan novel dengan Puget Sound
sebagai latar. Sewaktu kecil Jim memang sering menjelajahi perairan Puget Sound
menggunakan perahu layar orangtuanya. Untuk mewujudkan harapannya, Jim membaca
buku-buku biologi kelautan, penuntun seks; mewawancara cenayang; mempelajari
fenomena air pasang. Hasilnya, sebuah novel cemerlang yang digerakkan dengan
lancar dan penuh humor. Sulit untuk tidak tertawa membaca luapan imajinasi
Miles dan perbincangannya mengenai seks dengan Kenny Phelps, karakter side-kick
ciptaan Jim Lynch.
The Highest Tide tidak sekadar indah, tetapi juga kaya dengan informasi
beragam spesies makhluk hidup laut yang disampaikan secara menarik. Pembaca
akan menemukan ikan gepeng merak yang mudah berkamuflase memanfaatkan matanya
yang ajaib, gurita yang berubah warna saat sedang kawin, timun laut yang
memuntahkan organ dalamnya saat ketakutan, nudibranch yang cantik,
kerang kalung pembantai remis, keritip kawin, ikan midshipmen yang
memiliki kehidupan unik, ubur-ubur sebesar kunyahan permen yang bisa melar
selebar payung atau semburat cahaya di musim plankton. Tetapi juga bangau yang
marah, burung elang pesolek, itik liar yang tertawa riuh, camar seperti badut
sirkus, atau kolibri yang mengejek gravitasi.
Jim berhasil menciptakan karakter utama yang cerdas dengan tingkat kuriositas
dan kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya, lancar bertutur, namun
terperangkap keterbatasan fisiknya. Miles yang mengingatkan pada karakter Simon
Birch dalam film Simon Birch (diperankan oleh Ian Michael Smith, 1998)
seolah-olah memberikan pencerahan bagi kita bahwa siapapun kita, dengan segala
kekurangan yang ada, diciptakan Tuhan dengan maksud tertentu di dunia ini.
Sesungguhnya, tidak ada kehidupan manusia yang tidak berarti, kecuali manusia
itu tidak menemukan sendiri artinya.
Edisi Indonesia yang diberi judul Pasang Laut sangat enak
dinikmati. Pembaca tidak akan menemukan untaian kata rumit yang membingungkan.
Sebagai penerjemah, Arif Subiyanto terkesan selektif dalam penggunaan diksi
sehingga pembaca tetap bisa merasakan taburan humor dan kalimat indah dari Jim
Lynch.
Novel yang dipersembahkan Jim Lynch untuk Denise, istrinya, dirilis September
2005 di Amerika Serikat dan telah dipublikasikan di lebih dari 20 negara; lebih
dari 8 bahasa. Di Inggris novel ini terpilih sebagai bacaan musim panas 2006
oleh London's Richard and Judy TV Book Club. Hak untuk memfilmkan novel ini
telah dibeli oleh Fisher Stevens, seorang aktor, sutradara, dan produser. Jadi,
sebelum nonton filmnya kelak, nikmati saja terlebih dahulu novel indah yang
sangat menyenangkan ini.
*) Rachel Louise Carson, seorang penulis, ilmuwan, dan
ekolog kelahiran Springdale, Pennsylvania 27 Mei 1907 yang telah menulis buku
(1941), Under the Sea-wind (1941), The Sea Around Us (1952), The Edge
of the Sea (1955) dan Silent Spring (1962). Ia meninggal karena
kanker payudara pada tanggal 14 April 1964 di Silver Spring, Maryland.
Judul Buku :
Sang Sejarawan Judul Asli :
The Historian Penulis :
Elizabeth Kostova Penerjemah:
Andang H. Soetopo Terbit : cetakan
1, Januari 2007 Tebal : 768
halaman, 23 cm
DRACULA:
LEGENDA, BIBLIOPHILE, DAN SEJARAWAN
"Tidak
semua orang yang menggali sejarah dapat menerima hasilnya. Dan bukan hanya
menggali sejarah yang dapat membahayakan kita; kadang sejarah itu sendiri pun dapat
mengulurkan cakar-cakarnya yang muram dan mencengkeram kita"
The Historian (Sang Sejarawan) adalah debut penulis Amerika, Elizabeth Kostova
sebagai penulis novel. Perempuan kelahiran New London, Connecticut, 26 Desember
1964 ini tercatat sebagai lulusan Universitas Yale dan program MFA Universitas
Michigan, tempat dia memenangkan Hopwood Award untuk Novel-in-Progress. Yang menjadi
topik novel ini adalah Vlad Tepes, si penyula (Vlad the Impaler) dari Wallachia atau terkenal dengan sebutan Dracula yang berarti anak
laki-laki dracul (naga). Vlad si Penyula adalah bangsawan feodal di pegunungan
Carpathian yang gemar menyiksa para tawanan perang dan rakyatnya sendiri dengan
cara-cara kejam. Ia dibenci oleh rakyatnya dan musuh utamanya, kesultanan
Ottoman. Ia tersohor sebagai tiran paling kejam dalam sejarah Eropa abad
pertengahan yang diperkirakan membunuh lebih dari 20 ribu rakyatnya, orang
Wallachia dan Transylvania, selama berkuasa. Vlad Dracula (bukan seperti Dracula vampir versi Bram
Stoker) dikabarkan tewas dalam peperangan melawan orang-orang Turki di bawah
kesultanan Ottoman dan dikuburkan di sebuah pulau di danau Snagow (Rumania). Oleh
Kostova pencarian lokasi kuburan Vlad dijadikan sebagai penggerak keseluruhan
cerita dalam novel ini.
Kisah The Historian diawali dengan penemuan sebuah buku
tua bergambar naga dan surat-surat Profesor Bartholomew Rossi yang sudah
menguning oleh seorang gadis remaja di perpustakaan ayahnya pada tahun 1972.
Uniknya, sampai novel habis, Kostova tidak menyebutkan nama gadis yang berperan
sebagai narator ini. Pada satu wawancara, Kostova menyatakan hal ini disengaja
sebagai sebuah eksperimen literer karena ingin melihat apakah tanpa nama, dia
bisa memberikan sebuah personalitas yang utuh buat sang narator. Dalam novel
dikatakan bahwa nama si narator sama dengan nama ibu dari ibunya, yang juga
tidak disebutkan namanya.
Penemuan gadis ini membawa kembali kenangan Paul, ayahnya, ke
tahun 1954 ketika Paul menjadi mahasiswa sebuah universitas di Amerika dan
tengah menyelesaikan disertasi dengan bimbingan Profesor Rossi. Paul menemukan
buku bergambar naga tersebut, dan suatu malam setelah pembicaraan dengan Rossi,
profesor itu menghilang secara misterius.
Buku Dracula karya Bram Stoker mempertemukan Paul dengan
seorang gadis bernama Helen yang mengaku sebagai anak Rossi, hasil hubungan
Rossi dengan seorang perempuan Transylvania,
ketika si profesor melacak legenda Drakula di Rumania. Pertemuan dengan Helen
berujung pada keputusan Paul untuk mencari kuburan Dracula, tempat Rossi dibawa
pergi. Berdua mereka pergi ke Istanbul
(Turki) mencari dokumen mengenai Vlad si Penyula. Dari Istanbul petualangan
mereka berlanjut ke Hongaria dan Bulgaria. Di Bulgaria mereka
berhasil menemukan Rossi, tetapi tidak Dracula.
Novel dibagi dalam 3 bagian besar yang setiap bagian diawali
dengan kutipan buku Dracula
karya Bram Stoker. Setiap bagian, secara paralel menceritakan 2 perjalanan
kehidupan yang masing-masing berlatar tahun 1954 dan tahun 1972. Bagian pertama
untuk tahun 1954 berakhir ketika Peter dan Helen memutuskan pergi ke Istanbul, sedangkan untuk
tahun 1972 berakhir ketika Paul memutuskan mencari Helen, istri dan ibu anaknya
yang meninggalkan mereka ketika anaknya baru berusia 9 bulan. Bagian kedua
berisi pencarian Helen dan Paul ke Istanbul dan Rumania, di sisi lain berisi perjalanan si gadis
tanpa nama dengan seorang mahasiswa Oxford
bernama Barley dari Amsterdam
menuju Les Bains, Prancis. Bagian ketiga berkisah tentang perjalanan penemuan
kubur Dracula sekaligus tempat Rossi ditawan (1954) dan perjalanan si gadis
dengan Bailey untuk menguji kebenaran petunjuk yang didapatnya dari sebuah buku
di Oxford
(1972). Petunjuk tersebut sekaligus menjadi kunci pembuka misteri berhubungan
dengan apa yang dipaparkan dengan brilian pada bagian epilog.
Seperti judulnya, The Historian adalah kisah para
sejarawan yang ingin menguak rahasia kubur Vlad Dracula. Kisah ini juga akan
memberi tahu kita bahwa selain sebagai seorang bibliophile, Vlad sang
tiran juga seorang sejarawan. Kostova dengan genial meracik sejarah dan
imajinasi dalam sebuah novel dengan plot yang rancak. Plot digelar dalam
keindahan eksotis lanskap negara-negara seperti Turki, Rumania, dan Bulgaria.
Menurut pengakuan Kostova, ketika menulis novel ini, dia belum pernah ke
Rumania. Kostova mengunjungi Turki ketika sedang menyelesaikan draft terakhir
novel seraya melakukan penyesuaian isi, sedangkan pengetahuan Bulgaria selain
didapat dari kunjungan ke sana, juga dari suaminya pria Bulgaria bernama Georgi
Kostov. Cerita berkelindan dari tahun 2008, ke tahun 1972, tahun 1954, dan ke
tahun 1930-an sebagian besar menggunakan teknik naratif epistolari. Kostova
menggunakan teknik ini dengan alasan dia menyukai surat, riil atau fiktif, dan
menurutnya dalam sebuah novel teknik seperti ini menerjemahkan kedekatan antara
karakter-karakter yang ada dalam novel dengan pembaca. Meski demikian, cerita
menggunakan epistolari, apalagi dengan cerita yang panjang membentuk plot dan
berisi detail-detail, tidak akan luput dari kejanggalan. Adakah orang yang
menulis surat seperti itu?
Novel disusun sangat unik, seperti buku sejarah yang dinarasikan
sekronologis mungkin, oleh si gadis tanpa nama yang pada tahun 2008 telah
berusia lima puluhan, telah menjadi seorang sejarawan dan dosen di Oxford.
Perhatikan bahwa cerita telah digelindingkan sejak halaman Catatan untuk
Pembaca (hlm. 7) yang merupakan pengantar si narator sebelum dia bercerita
lebih lanjut. Ketika bagian pertama novel dibuka dengan kalimat, "Tahun
1972 aku baru berusia enam belas tahun-" Kostova tidak asal
mencantumkan angka 16 tahun. Angka 16 tahun memiliki hubungan yang penting
dengan cerita yang akan disampaikan selanjutnya.
Membaca The Historian agaknya memerlukan waktu khusus.
Selain novelnya tebal seperti farmakope -sehingga tidak mudah dibawa
untuk dibaca mengisi waktu luang di antara aktivitas (768 hlm), Kostova adalah
pencerita dengan napas panjang. Walau umumnya isi per bab tidak terlalu panjang
-kecuali pada bab tertentu seperti bab 73, Kostova bertutur dengan
kalimat-kalimat panjang. Kendati begitu, semua bisa diikuti karena terjemahan
edisi Indonesia yang dikerjakan oleh Andang H. Soetopo tergolong lancar dan
enak dibaca. Tidak heran, karena sebelum The
Historian, penerjemah yang satu ini juga telah menerjemahkan
novel-novel seperti Interview with the Vampire, Discloser, The
Juror, dan O Zahir.
The Historian yang pembuatannya menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun ini
dipublikasikan pertama kali Juni 2005 dan menjadi best-seller. Kostova
memperoleh $ 2 juta untuk hak publikasi yang diberikan kepada Little, Brown and
Co kemudian $ 1,5 juta untuk hak pembuatan film yang dibeli oleh Sony. Douglas
Wick, yang pernah menjadi produser film seperti Memoirs of Geisha; Gladiator;
Stuart Little; Girl, Interrupted; Hollow Man akan menjadi
produser film ini.
Judul Buku : Dia Yang Dinantikan Judul Asli : The Expected One Penulis : Kathleen McGowan Penerjemah : Leinovar Bahfeyn & Lusia Nurdin Penyunting : Leinovar Bahfeyn Terbit : Cetakan 1, Februari 2007 Penerbit : Ufuk Press
KEBENARAN ALA KATHLEEN McGOWAN
Maria Magdalena adalah salah satu perempuan terkenal dalam sejarah manusia yang sering dibicarakan, dipertanyakan, dan dijadikan bahan perdebatan. Namanya disebutkan sebanyak 12 kali dalam Injil kanonik, tetapi tidak ada deskripsi detail mengenai kehidupannya. Maria Magdalena disebutkan berasal dari Magdala, sebuah kota di tepi barat Laut (danau) Galilea yang daripadanya Yesus mengusir 7 roh jahat. Maria Magdalena dikenal sebagai salah satu perempuan yang melayani rombongan Yesus dengan kekayaan yang ia miliki, ikut dalam perjalanan menuju Yerusalem, menyaksikan prosesi penyaliban, dan menjadi saksi pertama kebangkitan Yesus. Nama Maria Magdalena juga muncul dalam Injil apokrif yang muncul bertahun-tahun kemudian setelah Injil kanonik. Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupan perempuan ini. Sepanjang sejarah orang-orang yang kemelit telah menyusun berbagai hipotesis tentang siapa sesungguhnya sosok Maria Magdalena. Kehidupannya yang misterius menjadi buah bibir dan berkembang dalam berbagai tradisi lisan. Banyak penulis mengulik kehidupannya, dan karena keterbatasan sumber, hipotesis berdasarkan tradisi lisan dijadikan pijakan untuk menulis buku. Simpang-siur kehidupan Maria Magdalena menjelma dalam puluhan buku, dan hingga kini ada 28 buku fiksi tercatat dalam situs magdalene.org yang menjadikannya karakter dalam produk fantasi. Antara lain A Letter of Mary (Laurie B. King), Dark Moon (J. H. Brennan), Daughters of Jerusalem (Thom Lemmons), La Magdalena ( William M. Valtos), Magdalene (Carolyn Slaughter), dan The Scarlet Lily (Edward F. Murphy). The Expected One yang pembuatannya konon menghabiskan waktu hampir dua dasawarsa ini akan menambah daftar fiksi mengenai Maria Magdalena.
Berdasarkan pertanyaan Pontius Pilatus, salah satu tokoh penting di seputar peristiwa eksekusi Yesus yang saat itu memangku jabatan sebagai gubernur Romawi atas Yudea, Samaria, dan Idumea (26 - 36 ses Mas), dalam Injil Yohanes 18:38, Kathleen McGowan menggelontorkan novel yang terkesan provokatif sekaligus kontroversial.
"Apakah kebenaran itu?"
Sesudah ayat kutipan McGowan, kita memang tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaan Pilatus ini. Pertanyaan seolah-olah dibiarkan mengambang oleh penulis Injil Yohanes (yang oleh beberapa kalangan dipandang sebagai tulisan Maria Magdalena, bukan Yohanes, murid Yesus, dan tesis ini rupanya juga digunakan McGowan dalam novel ini). Oleh karena itu, menurut McGowan, sebagai jurnalis, pertanyaan Pilatus telah menjadi mantra semua investigasi yang ia lakukan. Maria Magdalena menjadi salah satu topik riset kebenaran versi McGowan yang dieksplorasi melalui legenda; mitologi; kosmologi; hasil karya Abad Pertengahan, periode Renaisans, dan Barok; buku seperti Holy Blood, Holy Grail. Maka, lahirlah novel The Expected One, yang oleh Ufuk Press, untuk edisi Indonesia diberi judul Dia Yang Dinantikan, dengan embel-embel yang provokatif : Permusuhan Politis, Cinta Segitiga yang Rumit, dan Misteri Injil Tulisan Maria Magdalena Sendiri. Bagi McGowan, semua sumber yang dipulungnya secara eklektik, menjadi modal yang adekuat untuk menghadirkan Maria Magdalena sesuai gambaran kebenaran yang ia inginkan. Sebuah kebenaran yang aneh, bukan? Tidak heran, McGowan dengan bangga mengenakan label "antiakademik" dengan tulisan mencolok seperti yang diproklamasikannya pada bagian penutup novel.
Sebuah pertanyaan yang mungkin tercetus adalah: jika McGowan hendak menyampaikan kebenaran yang berpotensi menempelak keyakinan mapan yang sudah ada, mengapa dia memilih fiksi sebagai media distribusi kebenaran? McGowan telah menjawab sendiri : dia tidak mampu menciptakan bukti telak (hlm. 593). Karena, memang, secara ilmiah, sebagian besar yang dijadikan referensi McGowan untuk memperkuat gagasan dalam novelnya tidak akurat dan memiliki tingkat signifikansi yang rendah.
Sosok Maria Magdalena di tangan McGowan menjelma menjadi perempuan 'separuh' gambaran seniman. Perempuan mungil, berambut merah, menyimpan tengkorak, dan stoples narwastu. Identitas Maria Magdalena yang ditampilkan para seniman sebagai sosok seksi molek dengan tubuh seduktif yang mencitrakan perempuan nakal dipangkas oleh McGowan.
Karena secara akademis, sumber utama yang digunakan McGowan kemungkinan tidak dapat diterima - walau dia juga memulung ide dari Injil kanonik, bagi kalangan tertentu, tidak perlu merasa terbeban oleh perjalanan imajiner McGowan yang (alamak!) mengaku sebagai keturunan Maria Magdalena (sekaligus berarti keturunan Yesus). Tidak perlu merasa terintimidasi oleh puting-beliung yang diembuskan oleh McGowan yang memang secara tandas menunggangbalikkan semua spekulasi, termasuk spekulasi yang disorongkan oleh Dan Brown dalam The Da Vinci Code. Padahal, suka atau tidak dan apa pun dalih McGowan, novel ini akan tetap dipandang sebagai epigon, menambah kisruh ingar-bingar rumor kehidupan Maria Magdalena yang sudah seperti selebritas.
Dalam "dunia kebenaran" versi McGowan, Maria Magdalena bukan sekadar pribadi jelita yang menikah dengan Yesus seperti dalam The Da Vinci Code. Maria Magdalena juga didapuk sebagai janda tokoh terkenal, Yohanes Pembabtis (John the Baptist). Setelah kematian Yohanes Pembabtis, Yesus atau Easa ( panggilan yang konon digunakan Maria Magdalena) menikahi Maria Magdalena. Yohanes Pembabtis versi McGowan bukanlah nabi radikal yang dikenal secara umum, tetapi bajingan penganiaya istri yang memiliki kecemburuan menggunung pada Yesus, sepupunya. Bukan hanya itu. Lazarus yang dikenal sebagai saudara Marta dan Maria, berubah menjadi suami Marta. Putri Herodias -konon bernama Salome- yang meminta Herodes Antipas, ayah tirinya, memenggal kepala Yohanes Pembabtis menjadi pahlawan wanita. Herodias dibela dan dinyatakan sebagai pengikut Yesus. Untuk hal terakhir ini apa yang McGowan lakukan terasa menggelikan. Untuk memperburuk reputasi Yohanes Pembabtis, ia membenarkan tindakan Herodes Antipas dan Herodias. Entah McGowan sadar atau tidak akan kekonyolan gagasannya. Dalam Injil kanonik, Yohanes memang mengecam tindakan Herodes yang mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya, menjadi istrinya. Secara hukum Yahudi, apa yang dilakukan Herodes dan Herodias termasuk tindakan perzinahan mengingat pasangan masing-masing masih hidup. McGowan juga menyatakan bahwa Herodias adalah cucu Herodes Agung (hlm. 413), yang dikenal sebagai ayah dari Herodes Antipas sendiri. Bukankah hal ini hanya menegaskan betapa kehidupan istana Herodes bergelimang inses?
"Dunia kebenaran" McGowan juga membuat Paulus, salah satu rasul Kristen menjadi tokoh sesat sedangkan Yudas dan murid-murid Yesus yang lain menjadi sangat suci, tanpa cacat cela. Kesalahan yang dilakukan Yudas atau Petrus dinafikan McGowan dengan pembelaan versinya sendiri. Selain itu, Nostradamus, peramal terkenal berubah menjadi seorang plagiator. Sebagai pemulung eklektik, McGowan juga terkesan seenaknya memungut materi Perjanjian Lama dan menampinya untuk mendapatkan apa yang ia ingin. Contohnya argumennya mengenai pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena yang sangat kedodoran. Ia mengacu pernikahan Yesus dan Maria Magdalena pada pernikahan Daud dan Mikhal, putri Saul sebagai penyatuan suku Benyamin dan Yehuda. Tentu saja kalau McGowan mau melakukan investigasi "kebenaran" lebih lanjut dan berbiaya murah karena cukup membaca Perjanjian Lama seakurat mungkin, dia akan menemukan bahwa sesungguhnya pernikahan Daud dan Mikhal bukan contoh pernikahan yang ideal. Pernikahan Mikhal dan Daud adalah permainan politik Saul. Pernikahan itu berjalan amburadul, dan akhirnya Saul memberikan Mikhal kepada laki-laki lain. Dari pernikahan itu, tidak ada anak yang dilahirkan. Nah, pernikahan model inikah yang diharapkan McGowan untuk dijadikan patokan atau panutan pernikahan Yesus dan Maria Magdalena, jika dan hanya jika, peristiwa itu memang pernah terjadi?
Terlepas dari kebenaran menggelikan ala McGowan, sesungguhnya ia merupakan pencerita yang baik. Novel The Expected One yang cukup tebal ditulisnya dengan gaya atraktif yang enak dibaca tanpa kesan membosankan. Hasil terjemahan edisi Indonesia juga cukup enak dicerna. Cerita dibuka dengan ditemukannya mayat Roger-Bernard Gelis, warga Pyrenees oleh nelayan Marseille, September 1997. Mayatnya dalam keadaan rusak, tanpa kepala dan jari telunjuk tangan kanan. Hanya sebentar, cerita sudah beralih ke peristiwa lain di Yerusalem. Maureen Paschal, seorang jurnalis Amerika yang sedang melakukan riset, berada di Via Dolorosa, menemukan sebuah cincin tembaga bergambar planet dan melihat visi-visi seputar prosesi penyaliban Yesus. Hasil riset Maureen dibukukan dengan judul Her Story: A Defense of History's Most Hated Heroins, yang salah satu tokohnya adalah Maria Magdalena.
Sebelumnya, McGowan menampilkan cerita ber-setting Gaul Selatan tahun 72, tentang Maria Magdalena tua yang tengah menyelesaikan tulisannya. Tulisan-tulisannya mewujud dalam 3 kitab yang kemudian disembunyikan di kaki bukit Pyrenees, Prancis barat daya. Tiga kitab ini memuat berbagai peristiwa yang ia alami dan karakter-karakter Perjanjian Baru -bukan Perjanjian Lama seperti yang dicantumkan pada halaman sampul belakang edisi Indonesia- dari perspektif Maria Magdalena sendiri. Tiga kitab ini disimpan dalam 2 stoples yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang memenuhi kriteria l'attendue (Dia Yang Dinantikan) karena dilindungi oleh kekuatan alkemi.
Buku Maureen Paschal dengan gambar dirinya yang sedang memakai cincin yang didapatnya dari Via Dolorosa menyita perhatian bangsawan Languedoc, Berenger Sinclair, pemilik puri Apel Biru. Maureen diundang ke Prancis, tak lain karena ia dilihat sebagai sosok "Dia Yang Dinantikan" yang akan memecahkan misteri keberadaan tulisan tangan Maria Magdalena. Maureen pergi ke Prancis bersama sepupunya, Peter Healy seorang pastur dan dosen. Kemudian pembaca diperkenalkan dengan tokoh-tokoh seperti Tamara Wisdom, Roland Gelis, Jean-Claude, Derek Wainwright yang semuanya bersengkarut dalam misteri dan pertikaian yang dipicu oleh peristiwa yang dijabarkan Maria Magdalena dalam kitabnya.
Maria Magdalena diceritakan memiliki seorang anak laki-laki bernama Yohanes-Yusuf hasil hubungannya dengan Yohanes Pembabtis. Dari hubungannya dengan Yesus, lahir 2 anak, Sarah-Tamar (perempuan) dan Yeshua-Daud (laki-laki). Sarah-Tamar inilah yang kemudian menubuatkan Dia Yang Dinantikan. Dari hubungan Maria Magdalena-Yohanes Pembabtis-Yesus, tercipta sebuah konflik dengan 2 kubu, yaitu kubu pengikut Yohanes Pembabtis dan kubu pengikut Yesus (dan Maria Magdalena). Konflik antara kedua kubu ini telah menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa. Nubuat Sarah-Tamar menjadi sangat berbahaya bagi kubu Yohanes Pembabtis sehingga mereka harus mencegah kehadiran Dia Yang Dinantikan, yaitu Maureen sendiri.
Tulisan tangan Maria Magdalena berhasil ditemukan oleh Maureen walau dia nyaris kehilangan nyawa. Peter Healy menerjemahkan tulisan yang menggunakan bahasa Yunani tersebut, kemudian diam-diam membawa pergi semuanya ke Paris.
Sebagai sebuah thriller, novel ini terasa kurang lengkap. McGowan sepertinya memang tidak bertujuan untuk menghadirkan novelnya sebagai thriller. Unsur thriller seperti yang ditemukan dalam novel-novel seperti The Da Vinci Code, Messiah, atau The Last Templar tidak kuat bergema di halaman-halaman novel. Konflik yang berpotensi menciptakan ketegangan, yaitu permusuhan kubu Yohanes Pembabtis dan kubu Yesus tidak digarap secara intens. Porsi terbesar novel dipakai McGowan untuk mengedepankan Injil Maria Magdalena yang seakan-akan disengaja untuk menciptakan kontroversi. Teknik yang dipakai McGowan juga mengingatkan pada kreasi Holywood yang sering mencengangkan saking bombastisnya. Pada beberapa tempat, bahkan bernuansa opera sabun. Sehingga, tak pelak, The Expected One tampil paradoksal. Pada satu sisi, mematahkan ide-ide Holywood seperti yang diangkat dalam film The Last Temptation of Christ (yang sesungguhnya berdasarkan novel Nikos Kazantzakis, tetapi menggambarkan Maria Magdalena sebagai pelacur). Tetapi pada sisi lain, bermuatan konflik khas Holywood (lihat saja kisah cinta 'segitiga' yang ada dalam novel ini).
Entah kenapa tulisan tangan Maria Magdalena harus disembunyikan begitu selesai ditulis. Apakah Sarah-Tamar yang kemudian mencetuskan nubuat 'Dia Yang Dinantikan' tidak cukup dipercaya ibunya untuk menerima warisan kemudian mewariskan lagi secara turun-temurun?
Lalu, mengapa 'kutipan' bagian tulisan tangan Maria Magdalena yang lain yang disebut Kitab Para Murid dilampirkan begitu saja di hampir semua bab? Sepertinya McGowan sendiri menjadi bingung saking banyaknya muatan gagasan yang hendak ia sampaikan.
Tulisan tangan Maria Magdalena pun terasa ganjil. Maria Magdalena seolah-olah hidup di masa kini sehingga tahu benar segala kontroversi dan perdebatan yang meliputi tokoh-tokoh Perjanjian Baru seperti Yudas, Petrus, Putri Herodias, dan Pilatus yang agaknya baru muncul berabad-abad kemudian. Maria Magdalena memang mengatakan ada orang dari Roma dan Efesus yang datang berkonsultasi dengannya, tetapi itu soal Paulus. Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk pembenaran tulisannya itu. (McGowan sempat mengatakan bahwa dia memiliki sumber materi, tetapi apa yang dimaksudkannya tidak dijelaskan). Pembelaan yang Maria Magdalena lakukan jelas bukan pembelaan Maria Magdalena, tetapi pembelaan McGowan sendiri.
Selain itu aksi pembelaan perempuan yang McGowan lakukan juga menimbulkan pertanyaan. McGowan jelas-jelas membela perzinahan ala Herodias di masa lalu, dan baca apa yang ditulis McGowan dalam kehidupan seorang perempuan masa kini yang 'sadar' dirinya merupakan keturunan orang-orang suci. Kalau Tamara Wisdom (Tammy) tahu betul genetikanya, mengapa dia mau tidur dengan Derek Wainwright tanpa terikat pernikahan? Tetapi itulah kebenaran ala McGowan.
Akhirnya, menyitir ucapan Maureen dalam novel yang juga dikutip McGowan dalam bagian penutup, "Sejarah bukanlah sesuatu yang telah terjadi. Sejarah adalah sesuatu yang dituliskan", bolehlah kita mengatakan, seperti yang juga disampaikan McGowan, bahwa buku ini adalah hasil kreasinya dengan agenda politiknya sendiri. Inilah versi dokumentasi Kathleen McGowan yang mungkin berpotensi, lagi-lagi seperti ungkapannya, "membuat kebenaran menjadi hilang selamanya".
Judul Buku :
Burung Kolibri Merah Dadu Penulis : Kurnia
Effendi Penyunting : Imam
Risdiyanto Terbit : Cetakan
1, Februari 2007 Penerbit : C|
Publishing
Kurnia Effendi, yang oleh
teman-temannya sering disapa Kef, adalah penulis cerpen yang tumbuh di
halaman-halaman majalah remaja seperti Gadis
dan Anita Cemerlang.
Sekarang ia dikenal sebagai seorang penulis cerpen prolifik. Dari lahan
imajinasinya yang subur telah lahir 4 kumpulan cerpen yaitu Senapan Cinta
(2004), Bercinta di Bawah Bulan (2004), Kincir Api (2005) dan Aura
Negeri Cinta (2005). Kef adalah seorang cerpenis yang piawai, tangkas
dalam seleksi diksi dan indah dalam perangkaian kata. Tuturannya seringkali
lembut, bening dan halus. Oleh karena itu, ketika menggunakan nama Nia Effendi,
banyak orang yang menyangka dia seorang perempuan. Cerpen-cerpen Kef yang
umumnya merambah wilayah romantis selalu menarik. Tidak sekadar manis, tetapi
gurih dan segar. Membaca rangkaian kata-katanya, meminjam ungkapan Meg Cabot
(penulis serial The Princess Diaries) ketika mengomentari To Kill a
Mockingbird karya Harper Lee, oleh Kef every
word has been as carefully strung together as if it were a precious jewel.
Saya kira, siapa pun yang telah membaca cerpen-cerpen Kef dalam setiap antologi
cerpennya akan setuju.
Bertepatan dengan momen hari kasih
sayang, 14 Februari 2007, Kef meluncurkan kumpulan cerpennya yang kelima
bertajuk indah Burung Kolibri Merah Dadu. Burung Kolibri Merah Dadu
adalah kumpulan cerpen Kef yang ditulis dalam rentang waktu 2 dekade lebih,
sejak tahun 1983 (Langit Makin Ungu) sampai tahun 2006 (Cinta Separuh
Malam). Oleh karena itu, antologi ini bagaikan rekaman perjalanan Kef dalam
belantika sastra Indonesia
menuju kematangannya berkarya. Buku ini membuktikan bahwa Kef bukan wajah baru
dalam dunia sastra Indonesia
karena dia telah meretas perjalanan yang tergolong panjang dan senantiasa
bersetia pada jalur yang ia pilih. Meskipun karya-karya cerpennya baru mulai
dibukukan pada tahun 2004.
Angsa Putih terpilih sebagai sajian pembuka yang
cantik. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana. Kisah cinta yang tidak pasti
antara Paramita dan Faisal, seorang pria yang hampir tidak percaya cinta dan
kesetiaan. Faisal menghilang dari kehidupan Paramita dan sebuah patung porselen
miniatur seekor angsa putih pemberiannya menjadi pengganti kehadirannya. Angsa
putih disepakati oleh keduanya sebagai lambang kesetiaan, ide yang lahir
setelah menonton film Out of Africa,
karya Sydney Pollack dengan Meryl Streep dan Robert Redford sebagai pemeran
utama. Tiba-tiba lambang kesetiaan dari porselen itu hancur berkeping-keping,
padahal sudah dijaga sedemikian rupa oleh Paramita.
Sekalipun sangat sederhana,
dengan mulus Kef berhasil mengolah cerita ini menggunakan perspektif
penceritaan orang kedua yang begitu menawan, sehingga cerpen seakan-akan
menjadi curhat seorang Paramita terutama kepada pembaca pria. Cerita yang
diawali dengan sendu pada saat pecahnya patung porselen angsa putih, berakhir
manis, bertolak belakang dengan kisah cinta dalam Out of Africa. Tak
heran cerpen ini diposisikan sebagai sajian pembuka antologi cerpen
laki-laki yang menggunakan nama sahabat-sahabatnya pada karakter rekaannya.
Secara pribadi, saya berpendapat cerpen ini sebagai salah satu ekspresi
kelembutan yang paling romantis dari Kef dalam antologi ini.
Tema cinta yang memiliki
kecenderungan manis juga dapat ditemukan dalam Gerimis Februari dan Hari-hari
Merah Jambu. Gerimis Februari diceritakan dengan kalem dan
terkendali sebagaimana cinta yang berkembang dari persahabatan yang manis. Kef
memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memberi akhir pada cerpen ini walau
seperti pengakuannya ide ceritanya adalah kisah cinta dengan perempuan yang
sekarang menjadi istrinya. Hari-hari Merah Jambu yang semanis judulnya terkesan
bak film-film romantis Hollywood, apalagi
dengan adegan kocak yang dilakukan Bram di bandara.
Walaupun masih seirama dengan
cerpen-cerpen sebelumnya, Sekuntum Lily yang berkisah tentang cinta
segitiga antara Fatin, Yuda, dan Uka menunjukkan bahwa meski sering rumit cinta
tetap bisa memberikan harapan. Kerumitan cinta yang manis juga dapat
ditemukan dalam Burung Kolibri Merah Dadu yang menceritakan tentang
Fransiska yang kembali ke Indonesia
setelah pergi keluar negeri pasca perceraian dengan Jimmy, suaminya. Fransiska
akhirnya menemukan harapan cintanya pada Jodik Givara, seorang penyair yang
mencintainya. Susan dalam Kemilau Senja menemukan cinta Lukas, lelaki
yang pernah 'singgah' dalam hidupnya dan menghilang dari peredaran, di
Mandalawangi. Sedangkan dalam cerpen yang panjang (Kef menyebutnya novela), Selamat
Datang Matahari, Hanum menemukan matahari yang hilang karena ulah Joko
Hindarto dalam kelembutan hati Dery, saudara kembar Nadia.
Cinta di tangan Kef tidak berarti
selalu merah jambu. Dalam Langit Makin Ungu, Nana yang tidak sanggup
melepaskan cengkeraman masa lalu menolak kehadiran Basunondo tetapi menyesali
keputusannya saat pria itu memutuskan meninggalkan tanah air. Arga, seorang
anak muda yang populer di antara gadis-gadis, harus menerima penolakan Seruni
demi cinta perempuan lain, sebagai bentuk kebeningan hati gadis itu (Di
Ujung Senja). Harry Sarjono, setelah menikmati kebersamaan yang indah
dengan Keiko yang membuatnya berpikir tentang cinta, ditinggalkan Keiko dalam
ketidakpastian (Berjalan di sekitar Ginza).
Sepanjang Braga mengisahkan seorang penulis fiksi tanpa nama yang patah
hati ditinggal mati gadis yang dicintainya.Tiga Ribu Kaki di Atas Bandung
adalah kisah kasih tak sampai antara Katy dan Mahendra karena seorang gadis bernama
Svetlana.
Dua cerpen, Merpati Stefani dan Cinta
Separuh Malam seperti butir yang lepas dari rangkaian cerita Kef. Kedua
cerpen ini tidak bercerita cinta seperti cerpen-cerpen lainnya. Cinta dalam Merpati Stefani adalah cinta
seorang gadis bernama Stefani kepada sepasang merpati dan cinta burung-burung
itu sendiri. Sedangkan Cinta
Separuh Malam bertutur tentang pertemanan seorang penulis yang
tidak lain adalah Kef di masa depan dengan seorang perempuan separuh baya
pemilik toko buku.
Hal lain yang ditangkap pada
eksplorasi Kef adalah pembubuhan kejutan pada akhir cerpen-cerpennya. Hari-hari Merah Jambu, Langit Makin Ungu, Di
Ujung Senja menjadi contoh cerpen Kef dengan akhir yang
mengejutkan.
Tetapi, Angsa Putih dan Sepanjang
Braga akan menjadi favorit karena keindahan puitis yang mengiris
yang ditorehkan Kef dengan elegan.
Seluruh cerpen Kef dalam buku ini
walaupun terentang dalam kurun waktu yang cukup panjang memiliki persamaan
yaitu disajikan dengan gaya
romantis, bahasa apik, indah, dan menyentuh. Sehingga tema seperti Merpati
Stefani dan Cinta Separuh Malam yang biasa-biasa saja masih tetap
menarik dibaca. Bukan karena konflik yang disodorkan tetapi semata-mata karena gaya bercerita yang
memikat. Pada beberapa cerpen lama Kef, rupanya secara sengaja ia mengadakan
perubahan. Hal itu tampak pada penggunaan ponsel dan surat elektronik yang pada saat cerpen
ditulis penggunaannya belum umum seperti sekarang. Padahal, mengingat kumcer
ini seumpama rekaman perjalanan kepenulisan Kef, ia tidak perlu
mengubahnya. Pencantuman kapan cerpen itu diterbitkan telah cukup menggambarkan
setting waktu yang digunakan pengarang. Dan pembaca yang arif bisa memahaminya.
Toh saat ini kita masih tetap membaca karya-karya yang tetap dipertahankan
seperti awalnya meskipun zaman telah berubah. Apalagi bagi sebagian pembaca
yang telah mengenal Kef membaca antologi ini akan menjadi semacam nostalgia.
Secara pribadi saya tidak sepakat
jika cerpen-cerpen remaja Kef dibandingkan misalnya dengan teenlit dan
dirasakan 'kuno' karena cara penyajiannya. Bahasa selalu berkembang, dan kita
tahu pasti pada tahun-tahun keaktifan Kef menulis cerpen remaja, saat
itu remaja juga sudah memiliki bahasa gaul sendiri. Tetapi ketika
itu, Kef membuktikan dirinya bisa memikat para pembaca seperti yang diungkapkan
Reda Gaudiamo (hlm. XV) tanpa memaksakan diri menggunakan bahasa gaul
yang sering mengaburkan batas antara bahasa lisan dan tulisan. Pilihan Kef
dengan bahasa yang apik dan indah justru menjadi semacam positioning
bagi karya-karya yang dihasilkannya.
Pada tahun 2005, penerbit Grasindo
bekerja sama dengan Radio Nederland Seksi Indonesia melaksanakan sayembara
mengarang novel remaja (teenlit).
Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati berhasil menjadi pemenang pertama. Grasindo
melabeli buku Farah dan pemenang lainnya dengan embel-embel "rasa
baru" karena narasi yang disampaikan dengan bahasa yang baik. Jika membaca
buku Rumah Tumbuh kita akan menemukan bagaimana Farah memakai bahasa
yang baik saat bernarasi dan mengisi dialog-dialognya dengan menggunakan bahasa
remaja pada tempat yang tepat. Hal semacam ini juga bisa ditemukan dalam Kana
di Negeri Kana, karya Rosemary Kesauly yang menjadi juara pertama lomba
novel teenlit Gramedia
tahun 2005. Jadi, kenapa tidak, memberikan pembaca-pembaca remaja kita fiksi
yang ditulis dengan indah, cerdas, dan menggunakan bahasa yang baik tetapi
tetap tidak kehilangan irama dan gaya
remaja? Apakah remaja-remaja Indonesia
memang hanya menyukai fiksi yang sarat dengan bahasa gaul seperti yang
digunakan kebanyakan penulis teenlit
saat ini? Mungkin perlu dipertanyakan kembali.
Oleh karena itu, mendukungi harapan
yang dikemukakan Reda Gaudiamo, semoga kumpulan cerpen cinta karya Kurnia
Effendi ini akan menjadi media pembelajaran yang baik bagi pembaca muda
Indonesia bahwa dengan menggunakan bahasa yang baik, apik, dan indah,
cerpen remaja juga bisa tampil menohok.
The Crystal Garden karya Mohsen Makhmalbaf menjadi karya yang menarik bukan hanya karena kandungan ceritanya, tetapi juga karena berbagai ungkapan indah yang ditanam Mohsen Makhmalbaf di halaman-halaman bukunya. Mungkin setiap pembaca akan mempunyai pilihan berbeda tapi inilah ungkapan-ungkapan indah Mohsen Makhmalbaf yang menjadi favorit saya:
Dunia bukanlah tempat kue hangat dibagikan secara gratis.
Aku seburuk kau memandang orang lain dan secantik kau memandang dirimu sendiri.
Dengan membicarakannya, kau membuat kesedihan dan deritamu menghebat.
Cintai aku seperti kau mencintai bunga karena wanginya. Jangan memandangku sebagai duri.
Kau adalah separuh apel sementara aku separuh sisanya.
Dendam dan kebencian adalah kantong kepedihan yang tertutup dan tetap tandus seperti mata air yang kering.
Kata-kata saling terkait dan segera setelah kau meluncurkan kata pertama, kata-kata berikutnya akan menyusul.
Mata berpaling untuk membiarkan lidah bicara. Tak ada organ tubuh yang sevulgar lidah dan tak ada yang sepemalu mata.
Lidah lebih banyak berdusta dibandingkan organ tubuh lainnya.
Siapa saja yang akrab dengan seluk-beluk kehidupan, siapa saja yang mampu melakukan permainan dengan baik dan paham dengan aturan mainnya akan tahu betul bahwa meskipun jatuh bangun, hidup adalah permainan yang indah.
Bila Tuhan--dengan segala kearifan-Nya--menutup sebuah pintu, Dia akan membuka pintu lain dengan murah hati.
Lelaki adalah pakaian perempuan dan perempuan adalah pakaian lelaki.
Masa kecil adalah musim semi kehidupan.
Tawa dan air mata tampak sama di sebuah wajah renta: dua-duanya menimbulkan kerut.
Tuhan mengisi hari seorang wanita dengan kesibukan-kesibukan sederhana.
Bila hidup menjadi berat, tangan mulai meraba-raba di kegelapan, mencari sesuatu untuk dipegang, dan saling berebut secara diam-diam.