<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< March 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, March 26, 2007
OCEAN SEA



Judul : Ocean Sea
Judul Asli : Oceano Mare
Penulis : Alessandro Baricco
Penerjemah : Nadiah Alwi
Penyunting: Yus Ariyanto
Terbit : cetakan 1, September 2006
Tebal : 436 hlm ; 11 X 18 cm
Penerbit : Dastan Books


MUSIK, FILSAFAT, DAN CINTA


Alessandro Baricco adalah salah satu nama yang berkibar di jagat sastra Italia dan Prancis. Lelaki kelahiran Turin, Italia, 25 Januari 1958 yang dikenal sebagai penulis, sutradara dan seorang performer ini telah mendapatkan penghargaan sastra seperti Selezione Campiello, Viareggio, dan Palazzo al Bosco dari Italia dan Prix Medicis Estranger dari Prancis. Lelaki yang juga kritikus musik ini memulai kreativitasnya sebagai novelis lewat novel berjudul Castelli di Rabia (Land of Glass, 1991). Selanjutnya dari talenta literernya lahir Oceano Mare (Ocean Sea, 1993), Seta (Silk, 1996), City (1999), Senza Sangue (Without Blood, 2002), dan Questa Storia (This Story, 2005). Monolognya, Novecento: Pianist (1994) telah difilmkan oleh Giuseppe Tornatore dengan judul La leggenda del pianista sull'oceano pada tahun 1998. Novel yang melambungkan namanya, Silk, telah difilmkan oleh New Line Cinema, disutradarai Francois Girard dengan pemeran utama Michael Pitt dan Keira Knightley dan akan beredar tahun 2007 ini.

Dalam novelnya, Alessandro Baricco memiliki gaya tersendiri. Dengan basis filsafat dan musik yang ia miliki, tak pelak, novelnya hadir bak asimilasi antara filsafat dan musik dalam komposisi yang genial, tetapi rumit. Sehingga, mungkin, tidak dapat diresepsi oleh semua kalangan.

Ocean Sea adalah sebuah bukti. Novel ini menjangkau jauh ke relung-relung filsafat dan mencuat sebagai karya bernuansa musikal dengan intensitas improvisasi yang tinggi. Nada-nadanya tidak datar, tetapi meliuk-liuk penuh gairah, hadir sebagai campuran antara prosa, puisi, monolog, surat, bahkan potongan teks drama. Hal inilah yang menjadi kekuatan kreativitas literer seorang Alessandro Baricco. Bahasanya indah, kaya raya, dan gurih. Satu frase akan mencetuskan frase lain, satu klausa akan memicu klausa lain, satu kalimat akan melahirkan kalimat yang lain, susul menyusul bagaikan mengalami efek domino.

Ocean Sea, sebuah tamasya literer yang elok, adalah sebuah novel yang mendedahkan kehidupan manusia. Ada 3 jenis kehidupan manusia seperti yang dikatakan seorang pelaut tua melalui narasi seorang lelaki bernama Thomas. Pertama, mereka yang hidup di depan laut --mereka yang memandang kebenaran sebagai ketenangan, rahim, ringan, rasa belas kasihan, dan keindahan. Kedua, mereka yang menjelajahi laut, tempat sesuatu yang nyata di dunia berada. Di sini kebenaran yang sesungguhnya mengangakan mulutnya, membangun sarang; lokasi burung elang pemangsa terbang dengan gagah dan bengis. Sangat jauh berbeda dari pandangan manusia jenis pertama. Ketiga, mereka yang kembali dari laut dalam keadaan hidup. Mereka yang telah melihat kebenaran yang sesungguhnya, selamat dari pertarungan, menjadi bijaksana, tetapi sebagai veteran laut, mereka akan senantiasa memikul rasa takut, dan terutama rasa sedih dalam kehidupan selanjutnya.

Berdasarkan 3 jenis manusia inilah, Baricco membagi novelnya dalam 3 bagian. Bagian pertama, Penginapan Almayer ; bagian kedua, Rahim Laut; bagian ketiga Nyanyian Mereka yang Kembali. Ketiga bagian novel ini menjabarkan 2 buah kisah yang dipertautkan secara tidak biasa.

Pertama, kisah kehidupan manusia yang bisa diidentikkan dengan perjalanan manusia mengenal, menjelajah, dan meninggalkan laut, yakni kehidupan manusia yang sebenarnya. Kedua, kisah kehidupan manusia yang benar-benar mengenal laut, kemudian menjelajahinya dan kembali dalam keadaan hidup. Anehnya --atau uniknya-- kedua kisah ini dipertautkan melalui salah satu tokoh.

Kisah pertama mendedahkan kehidupan 5 manusia dalam mencari jawaban permasalahan hidup yang mereka alami. Mereka bertemu di sebuah penginapan tepi pantai di Quartel, yakni Penginapan Almayer yang --anehnya-- dikelola oleh 5 anak kecil; Dira, Dood, Ditz, Dol, dan seorang gadis kecil cantik tanpa nama.

Mereka adalah:

  1. Plasson, seorang pelukis wajah terkenal. Ia meninggalkan pekerjaannya, menjual hartanya dan pergi ke Almayer untuk melukis laut. Karena terbiasa melukis wajah dan selalu diawali dari bagian mata, ia harus menemukan "mata" laut terlebih dahulu untuk bisa melukis laut. Setelah mata laut ditemukan, yakni kapal-kapal, Plasson bisa melukis laut yang hasilnya didominasi warna putih. Sama sekali putih, sama sekali putih, sama sekali putih, adalah deskripsi utama lukisan laut karya Plasson.
  2. Ismael Adalante Ismael Prof Bartleboom, seorang profesor. Ia sedang dalam proses penyelesaian ensiklopedia yang berjudul "Ensiklopedia Batas yang Ditemukan pada Alam bersama Lampiran yang didedikasikan bagi Batas Panca Indera Manusia". Setelah menulis 872 entri, ia akan menambahkan entri tentang laut. Oleh sebab itu, ia pergi ke Almayer untuk mencari batas laut. Selain itu, Bartleboom juga menulis ratusan surat cinta yang disimpannya dalam sebuah kotak mahoni untuk kekasih yang belum ada.
  3. Ann Deveria, istri walikota Charbonne. Ia tumbuh bersama seorang ayah pembunuh yang membenci dengan matanya. Oleh karena itu Ann mencari suami yang bermata teduh. Tetapi ketika seorang asing datang dan tinggal di kotanya, ia jatuh cinta lagi. Rupanya pria itu bermata teduh --atau bermata sedih tepatnya (ada alasan saya mengatakan demikian). Ann dikirim suaminya ke Almayer untuk menyembuhkan penyakit suka berzinanya.
  4. Elisewin, gadis remaja, putri bangsawan Carewell. Ia mengidap penyakit misterius, dan atas anjuran dokter, ia pergi ke Daschenbach untuk mandi ombak guna memulihkan penyakitnya. Dalam perjalanan ke Daschenbach, ia singgah di Almayer.
  5. Bapa Pluche, seorang pastur. Bapa Pluche telah merawat Elisewein sejak anak-anak dan ialah yang mendampingi gadis itu pergi ke Daschenbach. Sebagai pastur, Bapa Pluche telah menulis sebanyak 9502 doa permohonan. Salah satu doanya berjudul "Doa untuk Dokter yang Menyelamatkan seorang Cacat dalam Sekejap sehingga Ia Dapat Berdiri, Sembuh, dan Sang Dokter Merasa Sangat Lelah".


Alessandro Baricco

Di bagian pertama novel mereka bertemu di Almayer, membangun interaksi satu sama lain dengan kadar tertentu. Di sini kelima insan ini menemukan "rahim laut" kehidupan mereka sendiri. Ada yang tertinggal di sana, ada yang kembali dalam keadaan hidup, dan ada yang mati. Plasson tidak meninggalkan Quartel. Ia meninggal karena pneumonia akibat sering melukis sampai basah kuyup di laut. Bartleboom meninggalkan Almayer, tetapi ia tidak menemukan apa yang ia damba dalam hidup. Elisewin menemukan pemulihan penyakitnya dalam 'gelora laut' seorang lelaki asing yang datang ke Almayer, seorang mantan pelaut berwajah sedih. Elisewin meninggalkan Almayer dengan optimis. Bapa Pluche kembali ke Carewell setelah hatinya sempat terbelah empat. Sebetulnya ia ingin kembali ke penginapan Almayer, tetapi pertanda yang ia minta dari Tuhan terjadi di jalan Quartel. Ia tidak bisa mengambil koper yang sengaja ia tinggalkan di sana karena terjadi longsor di Quartel yang akhirnya menyebabkan Almayer hilang selamanya. Ann Deveria lah sosok yang menautkan 2 kisah novel ini. Dalam dirinya 2 perjalanan bertemu. Perjalanan ke dalam laut kehidupan dan perjalanan dalam laut yang sebenarnya, yaitu perjalanan yang berawal dari peristiwa yang terjadi di perairan Afrika.

Dalam sebuah ekspedisi menemukan koloni baru, kapal Alliance karam di pesisir Senegal. Setiap penumpang berupaya menyelamatkan diri sendiri. Sebuah rakit tercerai dari sekoci penyelamat, memicu pertarungan hidup dan mati di atas hamparan laut. Seorang lelaki bernama Thomas selamat dari pertarungan tersebut. Tetapi Therese, kekasihnya, tewas dibunuh. Kisah Thomas digelar dalam bagian kedua novel berbarengan dengan kisah Savigny, seorang dokter, yang adalah pembunuh Therese. Thomas melarikan diri dari rumah sakit, membawa pisau yang akan menuntaskan dendamnya. Perjalanan Thomas yang panjang menuntunnya ke Almayer. Satu-satunya yang Thomas kehendaki adalah posisi seri dalam kehidupannya dan kehidupan target dendamnya.

Kedua cerita disatukan pada bagian ketiga novel yang mengejutkan. Tetapi sebelum novel berakhir, menjelaskan pertanda yang Bapa Pluche dapatkan sesuai doa permohonannya dan nasib penginapan Almayer, pria tua penghuni kamar ketujuh yang menghabiskan waktu dalam kamar mengucapkan kata laut, untuk pertama kalinya menampakkan dirinya di pantai. Siapa laki-laki ini? Tidak jelas. Tetapi bisa jadi penulis novel ini, yaitu Alessandro Baricco sendiri. Atau, kita, sebagai pembaca novel. Makanya begitu laki-laki itu pergi -- bagaikan penulis/pembaca yang selesai menulis/membaca novel, Almayer pun menghilang pada lembaran terakhir novel.

Ocean Sea yang menggunakan latar zaman bangsa Eropa mencari wilayah jajahan ini memang hadir sebagai sebuah karya yang aneh. Aneh, tetapi sekaligus cantik, memukau. Ia menari-nari dalam gerak filosofi, hadir realistis dengan kisah cinta dan pembalasan dendam, tetapi juga memberikan sentuhan magis dalam aura dongeng yang tidak dapat dijelaskan. Siapa sesungguhnya 5 anak pengelola Penginapan Almayer? Siapa pula tepatnya lelaki penghuni kamar ketujuh? Oleh karena itu kita mungkin akan sepakat ungkapan yang menyatakan bahwa Ocean Sea adalah, "Dongeng bagi orang dewasa yang paham bahwa sejumlah rahasia tak akan pernah terungkap..." (Booklist).

Tidak semua pengarang bisa menghasilkan karya seperti Ocean Sea. Bukan sekedar karena setiap pengarang memiliki gayanya masing-masing.  Tetapi tidak semua pengarang bisa menghadirkan novel bak komposisi musik yang rumit sekaligus indah. Makanya, Ocean Sea dapat dikatakan sebagai sebuah tour de force seorang Alessandro Baricco, produk talenta dan imajinasi yang tidak biasa.

Ocean Sea yang diterbitkan oleh Dastan Books ini diterjemahkan langsung dari buku aslinya yang ditulis dalam bahasa Italia, Oceano Mare, oleh Nadiah Alwi.  Hasil terjemahannya terkesan sangat apik dan agaknya mengikuti 'gelora' seperti yang dikehendaki Alessandro Baricco. Kabarnya sebelum bisa diterbitkan dalam edisi Indonesia secara resmi, naskah hasil terjemahan Nadiah Alwi harus melewati review pihak Alessandro Baricco terlebih dahulu. Tidak jelas apakah pihak Baricco bisa memahami bahasa Indonesia, tetapi langkah itu harus ditempuh supaya Ocean Sea bisa dihadirkan di dunia buku Indonesia. Dan rasanya sayang sekali jika kita luput menikmati sajian sastra seindah novel ini.

 

Posted at 02:23 pm by Jody
Make a comment  

Tuesday, March 20, 2007
LITTLE INDISCRETIONS



Judul buku :RAHASIA SANG KOKI
Judul Asli : PEQUENAS INFAMIAS
Diterjemahkan dari : LITTLE INDISCRETIONS
Penulis : Carmen Posadas
Penerjemah : Lina Susanti
Penyunting : Wendratama
Terbit : cetakan 1, Februari 2007
Tebal : X + 330 hlm; 20,5 cm
Penerbit : PT Bentang Pustaka 


SEBUAH TRAGEDI KULINER


Banyak penulis yang memanfaatkan unsur kebetulan sebagai fondamen estetika untuk menghasilkan karya fiksi. Kebetulan demi kebetulan diinsersikan ke dalam alur cerita sehingga membentuk bangunan cerita yang diinginkan. Tetapi bukan berarti dengan keberadaan unsur kebetulan lalu menyebabkan karya tersebut menjadi basi atau kehilangan greget. Karena pada dasarnya, kebetulan itu sendiri mencerminkan kehidupan yang apa adanya. Bukankah hidup seringkali terbangun dari serangkaian kebetulan? Kebetulan demi kebetulan sering kita alami dalam perjalanan kehidupan, sehingga jika ada yang protes atas unsur kebetulan yang digunakan oleh pengarang untuk memintal ceritanya, tentu tidak sepenuhnya bisa diterima. Oleh karena itu seorang pengarang haruslah bisa mengolah unsur kebetulan sedemikian rupa sehingga pembaca dapat menikmatinya sebagai suatu kewajaran.

Salah satu pengarang yang berhasil menggunakan trik ini adalah Carmen Posadas dengan novelnya yang berjudul Pequenas Infamias (1998), sebagai gebrak keduanya dalam menulis novel dewasa. Sebelum  Pequenas Infamias, Carmen Posadas telah menerbitkan sebuah novel dewasa bertajuk Cinco Moscas Azules (The Last Resort) pada tahun 1996. Perempuan berdarah Uruguay yang sekarang telah menjadi warga negara Spanyol ini memulai karir kepenulisannya pada tahun 1980. Ia kemudian dikenal sebagai pengarang novel anak-anak seperti  Kiwi  (1984),  Maria Celeste (1993) dan  Liliana, Bruja Urbana  (1995). Pequenas Infamias  yang memenangkan penghargaan sastra  Planeta Prize tahun 1998 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul  Little Indiscretions. Rahasia Sang Koki yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang Pustaka ini diterjemahkan dari  Little Indiscretions.



Awalnya ada indikasi jika  Rahasia Sang Koki  akan hadir sebagai kisah misteri detektif dengan tokoh detektif seperti produk fantasi Agatha Christie; Hercule Poirot atau Miss Marple. Tetapi ternyata tidak. Novel ini memang berselubung aura misteri, tetapi tidak mencapai skala misteri detektif. Cerita berawal sekaligus berakhir pada hari yang sama terjadinya kematian karakter penting dalam novel. Dan untuk membuat cerita menjadi panjang sehingga bisa disuguhkan sebagai novel, Carmen Posadas menggunakan teknik kilas balik untuk mendedah musabab kematian karakter tersebut dalam nuansa dramatikal.

The Lilies, sebuah rumah pedesaan tepi pantai di Malaga, 29 Maret 1998. Nestor Chaffino, lelaki tua pemilik usaha katering Mulberry & Mistletoe, yang terkenal dengan makanan penutupnya, terjebak dalam sebuah ruangan pendingin. Ia sedang mengatur  truffle cokelat sisa makan malam yang baru selesai dilaksanakan ketika pintu ruang pendingin tertutup di belakangnya. Tidak ada yang menolong membukakan pintu untuk Nestor, sehingga lelaki tua yang sesungguhnya mengidap kanker paru-paru ini tewas dalam kebekuan.

Karel Pligh, salah satu karyawan Nestor, mantan binaragawan Ceko yang pernah bercita-cita jadi penyanyi Latin menemukan Nestor. Teriakannya menyentak semua orang yang menginap di The Lilies.  Carlos Ricardo adalah orang yang pertama menanggapi teriakan Karel, kemudian disusul secara malas-malasan oleh empat orang lainnya.

Carlos Ricardo adalah mahasiswa hukum tahun pertama yang bekerja sebagai pramusaji paruh-waktu di Mulberry & Mistletoe. Ia adalah teman baik Nestor dan sudah dianggap Nestor sebagai anak sendiri. Carlos mewarisi flat Nomor 38 Calle de Almagro dari neneknya, Teresa. Kedua orang tuanya telah meninggal. Ibunya meninggal di Argentina pada tahun 1982 ketika Carlos berusia 4 tahun sedangkan ayahnya meninggal bertahun-tahun kemudian setelah ibunya. Dua minggu sebelum kematian Nestor ini, Carlos bersama Nestor mengunjungi Madame Longstaffe, seorang paranormal untuk mendapatkan ramuan cinta yang akan membantu Carlos menemukan gadis berambut pirang platina yang ia lihat dalam lukisan di flat neneknya. Tetapi justru Madame Longstaffe menampak sesuatu dalam diri Nestor. Madame Longstaffe mengingatkan Nestor bahaya ruangan pendingin, truffle cokelat, resep makanan penutup, dan buku catatan kecil berlapis kain. Menurut si paranormal, meski Nestor mengidap kanker paru-paru, ia tidak perlu takut sampai ada 4 T bersekutu menentangnya. Tentu saja Nestor tidak menghiraukan peringatan perempuan ini.

Ramuan cinta  4 tetes di malam purnama milik Madame Longstaffe ternyata dengan cepat disingkirkan oleh Carlos. Carlos terlibat hubungan cinta dengan seorang perempuan gaek, Adela Teldi. Hubungan ini berawal  ketika Adela datang ke Mulberry & Mistletoe, bermaksud bertemu Nestor untuk mengatur masalah katering acara makan malam yang akan dilaksanakan keluarga Teldi bagi kolektor seni di The Lilies.

Adela Teldi adalah   mantan model yang telah lama menjadi istri Ernesto Teldi tetapi tidak bisa melepaskan diri dari jerat petualangan ekstramaritalnya dengan berbagai laki-laki. Ia selalu berusaha tampil cantik di usia rentanya. Meski berusaha mengenyahkan, Adela tidak dapat melupakan kenangan masa lalu di Argentina ketika ia berselingkuh dengan adik iparnya yang menyebabkan adik perempuannya bunuh diri.

Ernesto Teldi adalah seorang  agen seni terkenal dan seorang filantrop yang  telah mendirikan sekolah bagi anak-anak terlantar dan memberikan beasiswa untuk seniman berbakat. Di masa lalunya, Ernesto terlibat dalam perdagangan di pasar gelap Argentina. Ia memiliki andil pada peristiwa pembunuhan tahanan-tahanan politik di Argentina pada tahun 1976.

Keluarga Teldi juga mengundang Serafin Tous, seorang hakim kenalan dekat Adela, untuk hadir di acara makan malam yang mereka adakan. Hakim yang pernah menjadi guru piano di masa lalunya ini adalah seorang duda dengan kecenderungan pedofilia. Ia bertandang ke Freshman's, tempat ia bisa memilih anak lelaki tampan yang disukainya untuk dijadikan teman kencan.

Setelah acara makan malam, Adela, Ernesto, dan Serafin diserang insomnia. Mereka sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat masa lalu mereka tidak menjadi bumerang yang menghancurkan. Penyebabnya adalah Nestor, si koki berkumis meruncing mengetahui rahasia mereka bertiga.

Tetapi ternyata masih ada juga yang diserang insomnia malam itu. Chloe Trias, kekasih Karel. Perempuan ini sebetulnya berasal dari keluarga kaya. Dia lari dari rumah dan membantu Karel bekerja di Mulberry & Mistletoe. Chloe tidak bisa bertahan di rumah setelah Oedipus atau Eddie, kakak laki-laki semata wayangnya tewas kecelakaan. Eddie meninggal 7 tahun sebelumnya tanpa pernah berhasil merealisasikan mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Chloe, perempuan dengan cincin di bibir bawah dan tindikan di lidah ini tidak bisa melupakan Eddie. Baginya, hidup tidak bersikap baik, mencuri apa yang ia cintai, mengkhianatinya, dan memasang jebakan-jebakan. Chloe sangat tertarik pada cerita-cerita Nestor dan menerima kebohongan kecil Nestor yang mengatakan bahwa koki ini menulis kisah-kisah rahasia memalukan orang-orang terkenal yang pernah menjadi bosnya sebelum membuka usaha sendiri dalam buku catatannya yang bersampul kain.

Nestor memang menulis rahasia-rahasia dalam buku catatannya, tetapi bukan seperti yang Chloe kira. Dalam buku itu Nestor menulis ringkasan-ringkasan  kecil rahasia kulinernya yang diberi judul  Little Indiscretion, membocorkan rahasia membuat makanan penutup yang tidak akan dilakukan oleh para koki terkenal lainnya. Nestor menuliskan trik-trik membuat  Ile flottante, mousse cokelat, oeufs  intacts, sorbet, gelati, dan  souffle pistachio.  Secara bersamaan Nestor juga mengirimkan rahasia kulinernya kepada teman lamanya sewaktu ia bekerja di Argentina, Antonio Reig. Dengan harapan, tulisan-tulisannya bisa diterbitkan oleh Antonio setelah ia mati.

Tetapi di The Lilies, rumah sarang kecoak, tempat kecoak menyambut pengunjung rumah sambil melambaikan antenanya persis di keset pintu depan, nasib Nestor sebagai koki dengan kemampuan gastronomi yang tangguh telah ditentukan. Ia mati dalam usaha terakhir memecahkan misteri 4 T yang bersekutu melawannya, pada suhu 30 derajat di bawah nol.

Sekarang, apa sebenarnya  4 T yang diramalkan Madame Longstaffe? Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kematian Nestor Chaffino? Kedua pertanyaan ini akan dijawab tuntas dalam bab-bab terakhir novel yang mencengangkan.

Rahasia Sang Koki (Little Indicretions) dibagi Carmen Posadas dalam 4 bagian besar dengan judul-judul  Tiga Puluh Derajat di Bawah Nol, Enam Hari di Bulan Maret, Malam Sebelum Keberangkatan, dan  Permainan Cermin. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, cerita dijabarkan dengan mengandalkan teknik kilas balik. Teknik ini sangat sesuai mengingat pengarang hendak membongkar misteri penyebab kematian Nestor yang berkaitan dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Oleh karena itu, pembaca digiring ke saat sebelum acara makan malam, saat berlangsungnya acara makan malam, dan waktu pintu ruangan pendinginan tertutup di belakang Nestor setelah acara makan malam berakhir. Pada bagian akhir,  Carmen Posadas  mendedahkan motif terdalam yang ada di benak si pembunuh sehingga ia mengabaikan seruan permintaan tolong Nestor.

Teknik kilas balik yang digunakan Carmen Posadas memang memperkuat cerita, tetapi  menimbulkan inkosistensi karena ia menggunakan tahun tertentu untuk menjelaskan latar. Sebagai contoh pada halaman 71 dikatakan bahwa, "Lima belas tahun kemudian, neneknya (nenek Carlos) meninggal". Cerita ini berlatar tahun 1998 (halaman 33). Kalimat tadi dibubuhkan setelah uraian yang terjadi pada April 1986, ketika Carlos mengunjungi neneknya untuk kedua kalinya, saat ia berumur 8 tahun dan melihat untuk kedua kalinya lukisan perempuan berambut pirang platina. Jika demikian, berarti neneknya meninggal tahun 2001. Dan setelah 15 tahun seharusnya Carlos pada tahun 1998 telah berusia lebih dari 23 tahun. Padahal jika tahun 1986 ia berusia 8 tahun, waktu Nestor tewas Carlos seharusnya berusia 20 tahun. Dikatakan juga pada usia 20 tahun, Carlos sudah 3 kali menjadi mahasiswa hukum tahun pertama (karena lebih senang berada di bioskop daripada di kelas). Kalau membaca halaman 73, usia Carlos saat cerita terjadi sekitar 20 tahun, sedangkan pada halaman 147 disebutkan usianya 21 tahun.

Meskipun demikian, secara keseluruhan Carmen Posadas berhasil melakukan persenyawaan semua unsur kebetulan yang ia miliki secara indah, mengejutkan, nakal, jenaka dan juga sensual. Semua cerita dirangkai secara atraktif dengan mempermainkan berbagai karakter yang menawan sesuai peranannya masing-masing, yang membuat mereka sulit dilupakan. Nestor, si koki berkumis lancip yang selalu berusaha bersikap bijaksana; Marlene Longstaffe, peramal asal Brasil yang memiliki wajah dengan 2 aspek berbeda -bayangkan, Gunilla von Bismarck dan Malcom McDowell; Serafin Tous, si rambut cepak yang mengapresiasi saus mousseline Nestor dengan baik; Adela, si Hecate di balik kosmetik dan dandanan modis dengan rasa tertusuk berbahaya di jempolnya; Ernesto, si rambut palsu petah lidah yang tidak menyukai angka 33, lalu Carlos si ikal berkulit pucat yang terobsesi perempuan dalam lukisan; Karel si mantan binaragawan berdarah Ceko dengan lagu dan joget El son montuno-nya; Chloe, si mata biru dengan cincin, tindikan, dan tangan imajinernya, mousse cokelat dari cokelat yang sangat pahit dengan rasa mint yang terlalu pedas; pemilik tulisan bertinta hitam seperti sederetan burung betet di seutas kawat yang tidak diekspos secara gamblang. Semua latar belakang karakter diungkap dengan baik untuk menyemarakkan kisah tentang kegembiraan yang direnggutkan, kecurigaan yang bersitumbuh dari rasa bersalah dan semburat ketidakwarasan yang tenang tetapi berbahaya di antara gurihnya makanan penutup, gelora sensualitas yang rapuh, dan panorama sinema eksotis Pedro Almodovar.

Mereka, para karakter ciptaan Carmen Posadas, bagaikan bahan masakan yang diracik menjadi campuran makanan misteri yang lezat cita rasanya menggunakan resep rahasia Carmen Posadas, little indiscretions-nya. Semuanya berbaur dengan elemen-elemen yang tampak sepele tapi menentukan seperti truffle cokelat, cameo, saus mousseline, cermin, pintu stainless-steel, buku catatan bersampul kain, tulisan burung betet, dan tentu saja, kecoak dengan lambaian antenanya. Carmen Posadas tahu benar cara memasak, rempah-rempah yang pas, waktu yang tepat, dan gerakan memasak yang benar untuk menghasilkan makanan yang gurih.

Ketika novel mencapai final, pembaca akan diajak kembali ke awal novel, awal yang menentukan, manakala barisan kata-kata di bawah ini menyapa mata:

Kumisnya tak pernah sekaku itu, sangat kaku sehingga seekor lalat bisa berjalan-jalan sampai ke ujungnya, bagaikan seorang tahanan meniti papan sebuah kapal perompak. Kecuali, bahwa lalat tersebut tidak mungkin bertahan hidup dalam sebuah ruang dingin bertemperatur tiga puluh derajat di bawah nol, begitu pula bagi pemilik kumis pirang dan beku ini: Nestor Dhaffino, koki dan pembuat pai terkenal dengan keahlian hebatnya mengolah fondant cokelat. Dan begitulah dia ditemukan berjam-jam kemudian: mata terbuka lebar penuh takjub, namun masih dengan suatu kewibawaan dalam sikapnya. Benar, kuku-kuku jarinya sedang mencakar pintu, tapi serbet cuci piringnya masih melekat di tali apron seperti biasa, Meskipun terlihat pintar, hampir tidak pernah terpikir olehnya sebuah pintu Westinghouse tahun 1980-an  -ukuran dua meter kali satu setengah meter- baru saja tertutup secara otomatis di belakangnya dan berbunyi klik. (hlm. 3-4; hlm. 329-330).

Saat itu, kita akan paham, sesungguhnya Little Indiscretions yang telah kita baca bukanlah Little Indicretions versi Nestor si koki, tetapi versi si pembunuh; psikotik laten yang hidup dalam kenyamanan dan kenikmatan delusi. Oleh karena itu, jangan terkecoh ketika ia (kemudian) mengisahkan peristiwa terjebaknya Nestor versinya sendiri. Seperti apa yang ia temukan setelah Nestor mati, (hlm. 330) "bahwa, dengan sebuah kematian nyata dan beberapa ide dasar, tidak begitu sulit untuk mencampurkan kisah tentang gairah, rahasia-rahasia, dan kebencian, karena kebohongan-kebohongan dapat meyakinkan dengan sempurna bila mereka memuat sebuah elemen kebenaran." 

Walau kita tidak diberi tahu apa yang dialami para tokoh yang masih hidup setelah novel berakhir, kita akan menemukan bahwa pada saat jenazah Nestor dibawa pergi, seekor kecoak sedang menggoyangkan antenanya di keset pintu depan The Lilies, pemilik tulisan warna hijau bak sederetan burung betet di seutas kawat muncul di depan pintu, dan lagi-lagi, jempol Adela Teldi memberikan peringatan akan datangnya sesuatu yang buruk.

Akhirnya, kita akan mengakui betapa fenomenalnya pengarang  Dorilda (2000), La Bella Otero (2001) dan El Bien Sirviente (2003) yang juga pemenang Premio Nacional de Literature tahun 1984 ini mengakhiri pintalan cantik novel yang dipersembahkan kepada suaminya, Mariano Rubio. Ibarat Nestor Chaffino, perempuan kelahiran Montevideo 13 Agustus 1953 ini menyuguhkan makanan penutup sebagai bagian daripada keterampilan "gastronomis" yang ia miliki dalam pencapaian kualitas narasinya.

 



Posted at 09:11 am by Jody
Comments (12)  

Wednesday, March 14, 2007
MYSTIC RIVER



Judul buku : MYSTIC RIVER
Penulis: Dennis Lehane
Penerjemah : Mita Yuniarti & Mikaela Nadia
Penyunting : Anton Kurnia
Terbit : Cetakan 1, Februari 2007
Tebal : 640 halaman
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta


MYSTIC RIVER: PESONA YANG MEREMUKKAN HATI


East Buckingham, Boston, Massachusetts, 1975. Cerita berawal dan kelak akan berakhir juga di tempat yang sama. Dave Boyle, Sean Devine, dan Jimmy Marcus, sama-sama  berusia 11 tahun sedang bermain-main di Gannon Street, depan rumah keluarga Devine, ketika 2 lelaki pedofil yang bergaya polisi menculik Dave. Dave baru kembali 4 hari kemudian setelah disekap di ruangan bawah tanah dan mengalami pelecehan seksual. Apa yang Dave alami membuat kehidupannya berubah, bahkan untuk selamanya. Sayangnya, tidak ada yang dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang ditorehkan pada usianya yang masih sangat muda itu. Ayahnya telah meninggalkan Dave dengan ibunya yang mengalami gangguan mental.

Di kota yang sama, 25 tahun kemudian (tahun 2000). Ketiga anak laki-laki itu telah tumbuh dewasa dengan jalan kehidupan yang berbeda. Dave, mantan bintang bisbol Don Bosco Technical High School, setelah diberhentikan sebagai pekerja di sebuah kantor pos, diterima bekerja di bagian pengangkutan barang di sebuah hotel. Dia telah menikah dengan Celeste Samarco dan memiliki 1 anak laki-laki bernama Michael. Sean Devine menjadi anggota kepolisian negara bagian Massachussets dan bertugas sebagai detektif bagian pembunuhan. Sean telah menikah dengan Lauren, tetapi saat ini perkawinan mereka berada di ambang perceraian. Anak yang dikandung Lauren diduga Sean sebagai anak seorang aktor selingkuhan Lauren. Jimmy telah memiliki Cottage Market sebuah toko kelontong, menikah kembali dengan Annabeth Savage, sepupu Celeste. Istri Jimmy yang pertama, Marita, meninggal karena kanker kulit saat Jimmy menjalani masa hukuman di penjara Deer Island. Marita meninggalkan Katie, anak yang dilahirkan perempuan ini pada waktu Jimmy berusia 17 tahun. Untuk Jimmy, Annabeth melahirkan 2 anak perempuan yaitu Nadine dan Sara. Diam-diam dalam kebahagiaan Jimmy, Jimmy menyimpan bayangan peristiwa yang pernah terjadi di Sungai Mystic -sungai yang mengalir di Massachussets, peristiwa yang merupakan satu bagian rahasia kehidupan yang tidak ia ingin bagikan kepada orang yang tidak mengetahuinya termasuk istrinya.

 

Salah satu pemandangan Mystic River


Tanpa setahu Jimmy, Katie yang sekarang berusia 19 tahun menjalin hubungan dengan Brendan Harris setelah putus dengan Bobby O'Donnel. Katie tahu ayahnya tidak menyukai keluarga Harris. Ayah Brendan sudah 13 tahun meninggalkan keluarganya. Konon berada di New York dan setiap bulan mengirimkan 500 dolar ke rumahnya. Brendan hidup bersama ibunya dan adiknya, Ray Harris muda yang berusia 13 tahun dan bisu. Karena menyadari sikap Jimmy terhadap keluarga Harris, Katie dan Brendan berencana lari ke Las Vegas, menikah dan tidak kembali lagi ke Buckingham.

Malam sebelum pelarian, Katie menghabiskan waktu bersama 2 sahabatnya, Diane Cestra dan Eve Pigeon. Malam itu, sehabis pesta perpisahan mereka, Katie tidak kembali ke rumah. Dia tidak akan pernah kembali dalam keadaan hidup.

Lewat tengah malam, Dave Boyle pulang ke rumah dalam keadaan berlumuran darah. Dia berbohong kepada Celeste mengenai apa yang terjadi sebelum dia pulang ke rumah.

Hari Minggu keesokannya, Katie tentu saja tidak hadir di gereja pada acara komuni pertama adiknya, Nadine, seperti yang diharapkan keluarganya. Mayatnya ditemukan di Penitentiary Park, sebuah taman dekat Sungai Mystic. Sean Devine bertugas sebagai salah satu polisi yang mengusut kasus pembunuhan Katie.

Pengusutan kasus mengarahkan Sean dan rekannya, Whitey Powers, kepada Dave Boyle sebagai tersangka. Ada yang tidak cocok dan tidak benar pada jawaban Dave atas pertanyaan yang mereka ajukan. Secara kebetulan Celeste mengetahui kecurigaan Sean dan rekannya terhadap Dave. Celeste ketakutan. Dia yakin Dave telah membohonginya. Dia tidak bisa menahan diri untuk memastikan bahwa Dave lah yang membunuh Katie. Celeste meninggalkan rumah membawa Dave sekalipun Dave telah membuka rahasia memalukan yang ia alami di masa kecilnya dan efek yang ia terima akibat peristiwa tersebut. Celeste mendatangi Jimmy dan menyampaikan kecurigaannya bahwa Dave telah membunuh Katie. Celeste tidak sadar, dia telah datang pada orang yang tidak tepat.

Ketika misteri pembunuhan Katie terungkap, apa yang tidak diinginkan telah terjadi. Dave menghilang, dan Celeste menuduh Jimmy sebagai pembunuh. Sean yang telah berupaya membela reputasi Dave, bertekad menemukan bukti walaupun memerlukan waktu sepanjang hidupnya.

*** 



Dennis Lehane

Novel Mystic River karya Dennis Lehane ini ditulis dalam 5 bagian yaitu bagian pertama dengan judul Anak-anak yang Lolos dari Serigala (1975); bagian kedua, Para Sinatra Bermata Sedih; bagian ketiga, Malaikat-malaikat Keheningan; bagian keempat, Perombakan; epilog, Jimmy dari Rumah Susun Hari Minggu.

Lima bagian novel tersebut terbagi atas bab-bab. Bagian pertama mencakup bab 1 dan bab 2; bagian kedua, bab 3-14; bagian ketiga, bab 15-21; bagian keempat, bab 22-27; epilog hanya satu yaitu bab 28. Setiap bab diberi judul yang menarik, antara lain Air Mata di Rambutnya, Tirai Jingga, Dalam Aliran Darah, Hujan Merah, Aneka Warnamu, dan Tak Akan Pernah Merasakannya Lagi.

Tidak seperti novel kebanyakan, Mystic River adalah novel yang kompleks. Masalah yang ada tidak hanya satu, meski semua dibuhul oleh satu peristiwa yakni pembunuhan Katie. Oleh karena itu, ia hadir bukan hanya sebagai novel misteri, tetapi juga menjadi persenyawaan kisah detektif, drama keluarga, kisah cinta, dan pergumulan psikologis. Walaupun begitu, novel ini tidak menjadi sulit dimengerti atau kehilangan arah. Semua masalah yang ada bersengkarut menyempurnakan novel yang mau tidak mau tampil dengan pesona tidak tertandingi.

Dennis Lehane sebagai pengarang sangat berhasil dalam penggarapan novelnya: penokohan, plot, gerak cerita -semuanya ditata seoptimal mungkin. Sulit mencari celah untuk menemukan kejanggalan. Lehane seolah-olah tidak pernah salah langkah tatkala mengelaborasi alur cerita. Alur cerita bergerak, membuka simpul misteri pembunuhan dan rahasia kelam yang coba direpresikan oleh para karakter dalam tempo yang tepat. Tidak begitu cepat dalam menghadirkan ketegangan, tetapi juga tidak menjadi lambat sehingga meredupkan ketegangan. Ia begitu mengalir, lancar, dahsyat, dan mencekam. Sarat emosi.

Ketika menghidupkan karakter ciptaannya, Lehane menghadirkan kepiawaian yang halus, jernih, tetapi sekaligus terasa penuh tenaga. Mereka hanya hidup dalam novel, manusia-manusia fiktif. Tetapi oleh Lehane, mereka seolah nyata dan hidup. Mereka bisa kita temui dalam kehidupan kita, sehingga simpati dan antipati dapat menyusup dan membuat kita terpuruk pada situasi sentimental.

Siapa yang tidak akan bersimpati pada Dave Boyle? Dia adalah korban pelecehan seksual di masa kanak-kanak. Sepanjang hidup dia berusaha menulis ulang sejarah hidupnya yang muram. Mencoba menindas pengalaman celaka yang ia alami dari kehidupan nyatanya. Sangat berat. Dia tumbuh menjadi seperti 2 laki-laki pedofil yang telah menistanya. Terus hidup dalam upaya memangkas habis hasrat yang tidak ia inginkan. Pada saat-saat tertentu, kepribadiannya bisa terberai. Dan pada saat seperti inilah dia terjerumus dalam permainan maut.

Mungkin kita akan terbelah dalam menilai Jimmy. Laki-laki dengan naluri kriminal ini, di satu sisi tidak pernah pandang bulu atau kenal kompromi untuk main hakim sendiri. Dia bak sosok mafioso kejam dalam dunia mafia. Tidak ada yang bisa mengkhianatinya. Tidak ada yang bisa bermain-main dengannya, apalagi bermain kasar. Orang terdekat sekalipun. Tanpa ampun. Dia bahkan mengabaikan kebenaran. Coba simak bagaimana isi hati laki-laki ini ketika dia membela diri atas kejahatan dan kesalahan yang telah dia lakukan. Dia menempatkan diri bagai tuhan pemilik takdir kehidupan manusia. Tetapi simak juga betapa dia mencintai keluarganya; anak-anak dan istrinya. Hanya bermodal sebuah senyuman anak-anak dan istrinya bisa melumpuhkan Jimmy dengan mudah. Tidak heran kematian Katie  membuat hatinya hancur.

Annnabeth bagaikan kebalikan dari Celeste. Kalau Celeste melakukan tindakan gegabah sehingga mencelakakan suaminya, Annabeth justru begitu kuat dan yakin pada apa yang suaminya lakukan, tidak akan mungkin mencelakakan suaminya sendiri. Sekalipun yang suaminya lakukan adalah sebuah kejahatan. Bagi Annabeth, orang-orang seperti Dave dan Celeste adalah manusia-manusia lemah. Bahkan,  "Semua orang," kata Annabeth. "Semua orang, kecuali kita." (hlm 612). Dan untuk membuktikan kekuatan mereka, dia mengajak Jimmy bercinta di atas meja dapur, menggelontorkan semua rasa bersalah Jimmy.

Lehane juga menampilkan karakter polisi yang kehilangan kepercayaan terhadap istrinya dan terancam kehilangan perempuan yang ia cintai dalam diri Sean. Juga seorang remaja tampan yang tanpa sadar terjebak di antara konflik orangtuanya dan orangtua kekasihnya; seorang remaja berpenampilan tak berdaya tetapi memendam kejahatan dalam dirinya hanya karena akan kehilangan orang yang ia cintai.

Dan ketika novel berakhir, ia melahirkan gugatan di benak yang entah mau diarahkan ke mana. Ada yang saya tidak bisa terima. Ada yang saya tidak (mau) mengerti. Tetapi ini hanya menjadi semacam penegasan bahwa Lehane berhasil mengugah emosi saya. Cerdas dan menyakitkan. Cerita berakhir, tetapi bagi saya justru perenungan baru dimulai. Betapa rumitnya kehidupan, betapa ganasnya gerigi waktu menggerogoti eksistensi manusia. Tetapi toh yang hidup tetap ingin hidup dan takut mati, karena sesungguhnya hidup ini indah, manusia yang menghilangkan keindahannya. Dan dari sinilah novel ini lahir, menggeliat keluar dari relung-relung imajinasi seorang Dennis Lehane.

Tidak heran, novel ini kemudian dialihkan menjadi film pada tahun 2003. Film disutradarai oleh Clint Eastwood, diunggulkan sebagai film terbaik dalam ajang Academy Award 2003, dan melahirkan Best Actor melalui Sean Penn sebagai Jimmy Marcus dan Best Supporting Actor lewat Tim Robbins sebagai Dave Boyle. Jika menonton filmnya, kita akan menikmati sebuah film yang disajikan dalam nuansa kelam yang setia pada alur novel. Namun menonton film tentu saja memiliki efek yang berbeda dengan membaca novel. Kelebihan film antara lain kita tidak perlu susah-susah membayangkan karakter dalam novel karena sudah dihadirkan oleh bintang film. Tetapi bagi saya pribadi bisa menjadi kekurangan karena saya tidak lagi leluasa menggambarkan karakter novel sesuai dengan imaji saya sendiri, yang sesungguhnya menjadi kenikmatan ketika membaca fiksi.

Selain itu, dalam film kita tidak bisa menikmati untaian kata-kata evokatif si pengarang, wawasan berpikirnya tatkala menciptakan eksposisi; elaborasi pengarang mengenai perubahan kehidupan yang dialami para tokoh lengkap dengan cinta, perjuangan, dan perasaan-perasaan mereka yang terdalam seperti  rasa bersalah atau rasa takut mereka.

Mau tak mau membaca kedahsyatan bertutur dan keluasan imajinasi Lehane saya harus mengakui testimoni di sampul belakang novel yang menyatakan bahwa , "Lehane adalah salah satu penulis terbaik di generasinya, titik.... Penulis-penulis lain hanya bisa bermimpi menulis novel seperti Mystic River." (Cleveland Plain Dealer). 

Edisi Indonesia dikerjakan oleh Mita Yuniarti dan Mikaela Nadia dan disunting oleh Anton Kurnia. Dapat diikuti dengan lancar walau masih terdapat beberapa kalimat yang harus dibaca lebih dari satu kali untuk memahaminya. Selain itu ada bagian yang menggambarkan terjadinya transisi adegan tetapi tidak diberi jeda untuk dimulai lagi dengan menggunakan 3 kata berhuruf besar seperti pada bagian-bagian novel yang lain.  Pada halaman 502, percakapan Jimmy dan Val segera dilanjutkan dengan masuknya Marshall Burden ke unit pembunuhan. Demikian juga pada halaman 507, percakapan Sean dan Whitey langsung diikuti adegan Dave Boyle dalam ruangan interogasi. Tidak mengganggu, tetapi harus dibaca ulang untuk memahami bahwa adegan telah beralih.

Secara keseluruhan karya pengarang yang memenangkan Shamus Award untuk novel terbaik lewat novel bertajuk A Drink Before the War ini hadir sebagai novel penuh pesona. Ia memiliki intensitas persuasi yang tinggi yang membuat pembaca enggan untuk menghentikan laju bacanya begitu menemukan ritme yang tepat. Hati-hatilah karena dengan 640 halaman, novel ini akan cukup menyita waktu luang.

Dan mungkin, saking manusiawinya Lehane menampilkan tokoh-tokoh novelnya, seperti saya, pembaca yang lain akan sibuk ber-seandainya sehabis menyusuri kedalaman Mystic River ini.

Seandainya Dave tidak pernah masuk dalam mobil sepasang pedofil 25 tahun lalu. Seandainya ayah Brendan tidak pernah melaporkan kejahatan Jimmy Marcus. Seandainya Dave tidak keluar rumah malam itu. Seandainya Celeste sudah terlelap ketika Dave pulang dalam keadaan berlumuran darah. Seandainya Celeste bisa sekuat Annabeth dalam menghadapi suaminya dan bisa memercayai suaminya sedikit saja. Seandainya Jimmy memiliki kesabaran lebih sebelum bertindak.

Seandainya semua itu terjadi, kita tidak akan bisa menikmati novel luar biasa ini!

Ah, dasar, sentimental......


Posted at 08:49 pm by Jody
Make a comment  

Tuesday, March 13, 2007
PULANG



Judul Buku : PULANG
Penulis : Happy Salma
Penerbit : Koekoesan
Penyunting : Tim Koekoesan
Terbit : Cetakan pertama, November 2006

 
PERJALANAN PULANG HAPPY SALMA

 
Satu lagi perempuan selebritas Indonesia yang katanya bergelimang cahaya menulis buku. Setelah Melly Goeslaw dan Tamara Geraldine, Happy Salma unjuk kebolehan menulis kumpulan cerpen. Jujur, saya hanya sekedar tahu bahwa Happy Salma itu pemain sinetron. Beberapa kali saya melihat wajahnya tampil di layar kaca, tetapi saya tidak pernah mengikuti kiprahnya sebagai pemain sinetron. Terus terang, saya memang bukan penikmat setia  sinetron Indonesia. Sekarang Happy Salma menulis kumpulan cerpen, dan sebagai pecinta buku, saya ingin tahu bagaimana Happy Salma memainkan jarum rajut imajinasi untuk merajut kata-kata, satu demi satu menjadi kalimat-kalimat dalam cerpen. Dan tanpa tercegah, saya langsung bertanya-tanya. Apakah Happy Salma akan hadir mengusung ketangkasan bertutur seperti  yang dimiliki Tamara Geraldine? Atau seperti kecanggungan Melly Goeslaw? Beruntunglah Happy Salma. Dia mendapatkan tim editor dari sebuah penerbit yang mau bersusah payah membantunya dalam menghadirkan karyanya sehingga memenuhi syarat literer.

Judul bukunya singkat, hanya satu kata. PULANG. Tetapi PULANG benar-benar mewakili kumpulan ini karena kata itu menjadi tali yang membuhul 8 cerpen dalam kesan yang sama. Kita tidak hanya akan menemukan kata pulang berkelebat di setiap cerpennya, tetapi memaknainya dalam tiap cerpen, dalam berbagai konteks.

Setelah membaca kumpulan cerpen ini -yang ternyata bisa habis sekali jalan, dapat diketahui kalau cerpen-cerpen Happy Salma adalah cerpen-cerpen yang sederhana. Baik tema maupun pengolahan cerita. Tetapi jangan salah. Kesederhanaan di sini bukan berarti kelemahan atau ketidaklengkapan, atau bahkan ketidaksempurnaan. Ibarat perempuan cantik yang berdandan dengan nuansa nude. Sederhana. Tetapi akan memancarkan kecantikannya. Oleh karena itu, kesederhanaan Happy Salma justru menjadi daya tarik cerpen-cerpennya. Happy memang tidak menjangkau tema-tema musykil, tidak meraih topik-topik absurd yang kerap membingungkan pembaca. Dia hanya memulung tema-tema keseharian yang berhubungan dengan jalinan kekeluargaan. Tetapi Happy Salma berhasil mencapai sasaran.

Antologi irit ini -hanya 8 cerpen, dibuka dengan cerpen berjudul Pertemuan. Cantik yang menurut pengakuan pemilik nama itu tidak cantik, terpaksa harus meninggalkan Bandung pergi ke Depok. Dia harus bertemu kakaknya atas permintaan ibunya di Lampung. Sudah 4 tahun Cantik tidak berjumpa dengan kakaknya, dan dia memang tidak menginginkannya. Kakaknya memang cantik, berambut panjang bergelombang indah terurai, jemarinya lentik dicat warna merah muda. Wangi lagi. Tetapi jangan tertipu. Karena pada akhir cerpen, tepat di kalimat penutup Happy akan membenturkan kejutan yang tak terduga. Keren!

Cerpen kedua bertajuk Ibu dan Anak Perempuannya ditutup Happy dengan benturan kejutan yang dijamin tidak terlupakan. Di mata ibunya yang sakit dan tinggal menghitung hari kehidupan, Arum putrinya yang cantik adalah seorang guru taman kanak-kanak dan juga pelatih tari. Dulu hati sang Ibu pernah disakiti Arum. Sekarang, bagaikan mau menebus dosa, Arum bertanggung jawab pada ibunya. Dia mau melakukan apa saja untuk ibunya. Apa yang dilakukan Arum akan jadi kejutan dalam cerpen yang berlangsung dalam durasi yang pendek tetapi sangat berhasil ini.

Demikian juga yang Happy Salma lakukan pada nasib Nina Novianti dalam  cerpen Adik.  Nina mengikuti Kiki, adiknya yang murung ke suatu tempat. Tempat itu membuat Nina nyaris tak dapat menerima kenyataan. Cerpen satu ini mengingatkan saya pada novel Raumanen karya Marianne Katoppo.

Perjalanan ke Negeri Sakura seperti yang dibentangkan dalam Perjalanan Jauh tidak membuat si Neg bersemangat. Neng memang selalu tidak bersemangat melakukan perjalanan. Setiap perjalanan selalu akan mengingatkan dia pada ibunya. Ibu yang membesarkan Neng seorang diri, satu-satunya sandaran hidup Neng. Neng tidak memiliki bapak dan tidak mengetahui wujud bapaknya seperti apa. Dia juga tidak memiliki adik atau kakak. Dan setiap kali Neng melakukan perjalanan, dia akan teringat perjuangan ibunya membiayai kehidupan mereka, teringat perjalanan ibunya ke Tanah Abang membawa pulang satu karung hasil belanjaan. Saya langsung teringat ibu saya begitu habis membaca cerpen ini. Cerpen yang lembut. Meraih akhir yang lirih untuk membuat pembaca terenyuh.

Dalam Kenangan Singkat, seorang penyanyi perempuan dari Jakarta manggung di Papua sebagai bagian dari tim sukses sebuah kampanye pilkada. Ia bertemu seorang gadis kecil bernama Daniela. Nasib si kecil Daniela mengejutkan si penyanyi dan langsung menggenggam hatinya dalam waktu singkat. Salah satu cerpen yang tidak begitu menggedor dalam kumpulan ini, tetapi cukup  mengindikasikan kepedulian seorang Happy Salma  terhadap warna kehidupan yang ia alami.

Pada Sebuah Pementasan, Iska yang hatinya penuh kedengkian diajak Nadia, temannya, ikut teater sekolah karena tim teater kekurangan personil. Kebencian Iska menggebung karena Nadia menawarkan kepadanya peran sebagai tikus untuk pementasan. Pembalasan dendam Iska meledak, dan dia tak menduga bakal mengancam nasibnya sebagai siswa di sekolahnya. Cerpen berlatar kehidupan remaja yang sedikit banyak akan mengingatkan masa remaja di sekolah bagi pembaca usia dewasa. Apalagi yang pernah memiliki sejarah persaingan yang tidak sehat.

Cerpen Pulang yang dijadikan judul antologi benar-benar tentang pulang. Tokoh cerpen adalah seorang perempuan yang pulang ke desanya saat Lebaran. Tetapi di desanya ia menemukan hamparan sawah, pohon karet tinggi langsing, kicau burung, dendang bening sungai telah hilang. Tokoh ini merasa asing. Merasa terampas. Waktu telah mengubah semuanya. Termasuk dirinya yang sudah tidak perawan lagi.

Umi, sebagai cerpen penutup, agak berbeda dari cerpen-cerpen lainnya. Ratih meninggalkan Jakarta pergi ke sebuah daerah di dekat Pekanbaru. Di sana ada sebuah rumah tua. Dia pernah mengunjungi rumah itu waktu usianya belum genap 8 tahun bersama mendiang ibunya. Ratih hendak bertemu Umi yang pernah mengasuhnya selama 3 tahun ketika ayahnya mengadu nasib sebagai sopir di Arab Saudi. Umi sudah lama sakit, tetapi tidak bisa mati, walau sudah ingin mati. Dan kehadiran Ratih lah yang akan menyelamatkan Umi dari penderitaannya di dunia.

Makna pulang yang memoles cerpen-cerpen Happy Salma harus dilihat dalam konteks cerita. Pulang dalam cerpen Pertemuan adalah permintaan seorang ibu pada anaknya yang tak pernah pulang dan seolah-olah telah ditelan bumi. Dalam cerpen Ibu dan Anak Perempuannya pulang adalah janji seorang anak kepada ibunya yang sakit. Anak ini juga telah pulang ke rumah ibunya setelah melarikan diri dengan lelaki beristri dan beranak tiga. Permohonan seorang kakak pada adiknya yang bersedih adalah pulang dalam cerpen Adik. Kerinduan si Neng kepada ibunya adalah makna pulang dalam cerpen Perjalanan Jauh. Cerpen Kenangan Singkat memaparkan kepulangan seorang penyanyi dari Papua menuju Jakarta. Cerpen Pada Sebuah Pementasan menghadirkan Iska yang ingin pulang ke rumah setelah menyebabkan Nadia cedera. Ratih dalam cerpen Umi ingin cepat pulang ke Jakarta dari rumah tua tempat Umi menunggu mati karena tidak ingin hidup seribu tahun lagi.  Pulang yang benar-benar pulang hanya bisa ditemukan dalam cerpen Pulang.

Delapan cerpen Happy Salma yang disajikan dengan gaya yang seirama, bahasa yang cukup baik (meski sudah disunting, masih ada kata yang ejaannya salah), tidak tergila-gila menggunakan bahasa asing seperti yang latah digunakan beberapa penulis sezamannya, hadir tanpa keruwetan. Semuanya realis dan bening. Semuanya enak disimak.

Akhirnya, usai membaca kumpulan cerpen Happy Salma ini, kita bisa melihat jika benih telah disebarkan. Dengan kondisi lahan tumbuh yang layak, benih itu akan berkembang. Dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pemupukan tanpa kenal lelah, maka PULANG tidak akan menjadi yang terakhir dari Happy Salma. Benih ini akan tumbuh semarak sehingga akhirnya kita akan terus merasakan desah Happy yang menyatu dengan waktu.

Dengan sendirinya, pertanyaan yang sempat tercetus di atas terjawab sudah. Bagi saya.


Posted at 10:47 am by Jody
Make a comment  

Saturday, March 10, 2007
NEFERTITI



Judul Buku : NEFERTITI
(The Book of the Dead - Ratu Mesir, Dewa Matahari & Penguasa Dua Dunia)
Penulis : Nick Drake
Penerjemah : Bima Sudiarto
Penyunting: Pray
Tebal : 600 hlm; 12,5 X 19 cm
Terbit: Cetakan 1, Februari 2007
Penerbit : Dastan Books


SANG SEMPURNA TELAH DATANG


Bayang-bayang menyingkap seperti tirai, lalu kulihat dia.
Sang sempurna duduk di salah satu kursi. Mengenakan mahkota warna biru, memperlihatkan leher dan pundaknya nan jenjang dan indah. Membuat wajahnya semakin cantik.

 

Nama Nefertiti diterjemahkan sebagai wanita yang cantik (atau sempurna) telah datang. Sebagian namanya juga berarti manik-manik emas yang terjulur panjang (nefer) yang sering tergambar sedang dikenakannya. Siapa orang tua Nefertiti, tidak diketahui secara pasti. Dengan Amenhotep IV, Nefertiti melahirkan 6 anak perempuan.

Pada tahun ke-4 pemerintahannya, Amenhotep IV memulai penyembahan kepada Aten, dewa matahari. Dia dan Nefertiti memproklamasikan diri sebagai inkarnasi agung dan penyambung lidah Aten. Bersamaan dengan dimulainya penyembahan dewa Aten, pembangunan sebuah ibu kota baru, Akhetaten (sekarang dikenal sebagai Amarna) dimulai. Pada tahun ke-5 pemerintahannya, Amenhotep IV secara resmi mengubah namanya menjadi Akhenaten sebagai tanda penyembahan barunya terhadap Aten. Ibu kota dipindahkan dari Thebes ke Akhetaten secara resmi pada tahun ke-7 pemerintahan Akhenaten (1343 BC) walaupun pembangunan kota tetap dilanjutkan sampai tahun 1341 BC.

Selama pemerintahan Akhenaten, Nefertiti terkenal sebagai wanita yang karismatik dan memiliki kekuasaan setara dengan suaminya. Pada tahun ke-12  pemerintahan Akhenaten, Nefertiti menghilang dari rekaman sejarah, tidak ada lagi informasi mengenai dirinya setelah itu. Berbagai spekulasi disorongkan untuk mencoba menjawab apa yang terjadi pada dirinya. Ia dikabarkan meninggal, tertimpa aib, tetapi juga dipercaya sempat memerintah imperium Mesir dengan nama Neferneferuaten-Nefertiti dalam waktu yang singkat  setelah suaminya meninggal  sebelum kemudian ia digantikan oleh Tutankhamun.




Konon, zaman terjadinya sinkretisasi agama oleh Akhenaten  dengan  memperkenalkan Atenisme dan sesembahan baru, kemudian juga dilaksanakan konstruksi ibu kota baru, bagi sebagian orang dianggap sebagai zaman keemasan imperium Mesir. Tetapi ada juga yang berpendapat apa yang dilakukan oleh Akhenaten menggiring imperium Mesir ke tepi jurang kehancuran. Pembangunan ibu kota baru dengan kuil untuk dewa matahari telah menjadi konsentrasi pemerintahan Akhenaten. Ekonomi menjadi kacau balau. Beras susah dicari. Para pegawai tidak digaji.  Kejahatan bereskalasi. Keguncangan masal.

Dengan diberlakukannya atenisme, semua dewa yang sebelumnya disembah bangsa Mesir (dewa Amun, dkk) disingkirkan termasuk pendeta-pendetanya seperti yang terjadi di Kuil Karnak. Oleh karena itu tidak dapat dihindarkan lagi jika rezim Akhenaten menjadi penghancur kehidupan mapan banyak orang sehingga akhirnya menciptakan musuh bagi dirinya. Tetapi Akhenaten tidak peduli dan tetap  menjalankan rencananya. Tesis inilah yang digeber Nick Drake dalam novel perdananya, Nefertiti.

Novel Nick Drake ini menggambarkan ihwal akan diresmikannya kota baru, Akhetaten,  sebagai ibu kota dan pusat penyembahan Aten yang terjadi pada tahun ke-12 pemerintahan Akhenaten Pada saat itu, Nick menceritakan kalau Nefertiti menghilang dari istananya. Hal ini menimbulkan pertanyaan karena ada pendapat yang menyatakan bahwa  Atenisme sudah diberlakukan sejak tahun ke-4 pemerintahan Akhenaten. Selain itu karena Akhetaten dibangun sampai tahun ke-9 pemerintahan Akhenaten, agak aneh juga jika baru diresmikan tahun keduabelas, seperti yang disampaikan Nick Drake. Tetapi karena ini masalah sejarah, dan bukti yang paling sahih tidak tersedia, maka Nick Drake tentu saja memiliki kemerdekaan untuk menyampaikan gagasannya. Apakah gagasan yang disampaikannya benar, kita tidak bisa memastikan. Mungkin saja akan ada penemuan baru yang mengukuhkan hipotesisnya.

Peristiwa menghilangnya Nefertiti menjadi  tema penting di tengah eksplorasi Nick Drake terhadap kehidupan pemerintahan dan masyarakat Mesir kuno. Oleh karena itu selain kehidupan keluarga kerajaan -Nefertiti, suami, anak-anaknya dan para kerabat, Nick juga melakukan sejumlah riset mengenai materi yang hendak ia sampaikan, termasuk pola kehidupan masyarakat saat itu, seperti apa yang mereka santap, apa yang menjadi bahan pemikiran dan pembicaraan mereka, bahkan permainan yang mereka mainkan -dalam novel ini disebutkan permainan bernama Senet. Drake juga mengunjungi Mesir untuk melihat puing-puing Akhetaten (Amarna).

Menjelang peresmian ibu kota baru dan agama baru, Nefertiti hilang dari istananya, tanpa jejak. Sebagai tokoh karismatik yang sangat dihormati dan dicintai rakyatnya, lenyapnya Nefertiti menjadi masalah besar. Tanpa dirinya festival peresmian itu terancam gagal. Ada indikasi bahwa masyarakat mau mengikuti Atenisme karena pesona Nefertiti. Ketidakhadiran Nefertiti akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa  ada masalah sedang terjadi dalam kerajaan. Kredibilitas dan pencapaian Akhetanen akan dipertanyakan, termasuk agama barunya. Di samping itu, ada kecurigaan sedang terjadi konspirasi untuk menentang pemerintahan. Oleh sebab itu, Nefertiti harus ditemukan.

Pada saat itu, di Mesir terdapat satuan keamanan kerajaan -yang menyimpan arsip papirus  tentang semua masyarakatnya supaya bisa mengawasi mereka, yang disebut Medjay. Ankhenaten memerintahkan Rahotep, kepala detektif termuda satuan Medjay divisi Thebes untuk menemukan sang ratu. Rahotep terkenal dengan metode kerjanya yang orisinal. Setiap menangani suatu kasus, ia membuat jurnal untuk mencatat semua yang ia pikirkan dan ia indera dari investigasi yang dilakukan. Kerap dengan cara ini dia bisa mengungkapkan kasus yang ditanganinya.

Dari Thebes, meretas Sungai Besar, Rahotep menuju ibu kota baru, Akhetaten. Langsung disambut dengan sambaran anak panah untuk memperingatkan bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Mahu, kepala Medjay yang ditemuinya di Akhetaten, tanpa tedeng aling-aling menunjukkan ketidasukaan terhadap dirinya.

Oleh Mahu, disediakan 2 petugas untuk memandu Rahotep selama berada di Akhetaten, Kety dan Tjenry. Rahotep diberi waktu 10 hari oleh raja untuk mengembalikan Nefertiti, Sang Sempurna, karena festival peresmian ibu kota dan agama baru akan diadakan 10 hari lagi. Kalau tidak, Rahotep dan keluarganya akan dihabisi.

Baru saja memulai investigasinya, Rahotep telah menemukan mayat perempuan dengan wajah rusak. Sebelum misteri mayat yang diduga sebagai Nefertiti dipecahkan, Tjenry yang sedang mengawasi mayat ini dibunuh dengan cara mengerikan. Nyawa Rahotep sendiri terancam. Setelah itu, Meryra kepala bendahara kerajaan yang baru diangkat menjadi pendeta tinggi Aten juga tewas mengenaskan. Kematian Meryra membuat Mahu memaksa Rahotep meninggalkan Akhetaten dengan mengancam kehidupan keluarganya. Tetapi sebelum ada keputusan selanjutnya, Rahotep menemukan tulisan dalam jurnalnya yang ditulis orang tak dikenal yang kemudian menuntunnya pada pengungkapan misteri hilangnya Nefertiti.

Nefertiti memang belum meninggal. Ia juga tidak diculik oleh orang-orang yang terlibat konspirasi menentang rezim Akhenaten. Tetapi ia melarikan diri dari istana, setelah bertengkar dengan suaminya dan didera masalah yang membuatnya cemas dan ketakutan. Ia berharap dengan melarikan diri bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi.

Setelah Rahotep meninggalkan Nefertiti dengan tujuan untuk mencari komplotan yang menentang kerajaan, Mahu menangkapnya, memenjarakan, dan menyiksanya. Di tengah penyiksaan yang dilakukan Mahu, Ay, penasihat sekaligus kepala pasukan berkuda kerajaan datang membebaskan Rahotep. Ay meminta Rahotep untuk menjadi negosiator antara dia dan Nefertiti dalam rangka membereskan masalah kerajaan.

Festival peresmian ibu kota dan agama baru menjadi klimaks yang tak terduga. Sesuatu terjadi. Imperium Mesir terhempas di jurang kaos. Pemerintahan kacau. Keputusan Nefertiti lah yang akan menentukan kelangsungan nasib kerajaan Mesir.

Apapun yang kemudian  terjadi, pada akhirnya, tentu saja Rahotep bisa kembali ke Thebes. Setelah itu menurutnya, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Nefertiti dan suaminya. Tetapi pekerjaan Rahotep tidak berakhir di situ. Karena novel ini hanya menjadi bagian pertama yang ditulis Nick Drake untuk memperkenalkan aksi Rahotep kepada pembaca. Drake masih akan menerbitkan lagi sekuel kisah petualangan detektif Medjay ini.

Novel yang pernah masuk dalam nominasi novel terbaik Ellis Peters Award ini ditulis menggunakan Rahotep sebagai narator. Ketika membaca, pembaca mungkin tidak akan menyadari tengah membaca kisah  yang (diceritakan) tidak terjadi di masa kini. Dengan meyakinkan, menggunakan perspektif Rahotep, Drake menggelontorkan kisahnya secara enteng sehingga novel berlatar Mesir kuno ini hadir layaknya novel kontemporer, apalagi dengan konflik  dan kecemerlangan gagasan yang dibentangkan. Tidak ada kekakuan dalam pemaparan kehidupan yang telah lama berlalu ditelan waktu. Semua dihadirkan dengan wajar dan sama sekali tidak berkesan kuno. Segala detail diupayakan seakurat mungkin, baik elemen kultural maupun objek yang dikemukakan. Alhasil, Nefertiti (novel ini) tampil memikat melontarkan pesona bagaikan pesona yang dipancarkan sang ratu yang menjadi salah satu ikon kecantikan feminin abad 20.

Selain itu, novel diracik dengan kalimat-kalimat evokatif yang cenderung puitis. Hal ini bisa dipahami, karena Nick Drake juga dikenal sebagai penyair. Bukunya yang berjudul The Man in the White Suit memenangkan penghargaan Waterstone's Forward Poetry Prize untuk kategori Best First Collection.

Karakter-karakter yang diangkat Nick Drake pada umumnya merupakan karakter sejarah, tetapi bisa ditebak kalau Rahotep adalah karakter fiktif ciptaan Nick Drake sendiri. Demikian juga Khety, Tjenry, atau Senet.

Edisi Indonesia diterjemahkan dan disunting oleh pasangan Bima Sudiarto-Pray dengan rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan terkesan cerdas sehingga seluruh ceritanya dapat diikuti dengan lancar. Selain itu, naskah dicetak dalam ukuran huruf yang ramah mata. Keistimewaan lainnya adalah rancangan sampul yang spektakuler dalam nuansa keemasan mewakili panorama padang pasir dan era keemasan imperium Mesir Kuno.

Tak diragukan lagi, novel ini menjadi novel elegan untuk pembaca yang tertarik pada kisah berlatar sejarah masa silam tetapi dengan pesona misteri kontemporer.


Posted at 07:13 pm by Jody
Comments (4)  

Wednesday, March 07, 2007
THE RULE OF FOUR



 Judul buku : The Rule of Four
Penulis : Ian Caldwell dan Dustin Thomason
Penerjemah : Jessica Wibowo
Penyunting : Ella Elviana & Hana Zafira
Terbit : Cetakan 1, November 2006
Tebal : 576 hlm
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta


HYPNEROTOMACHIA POLIPHILI, TIPU DAYA WANITA BURUK RUPA


"Dari luar, Hypnerotomachia mungkin tidak memiliki daya tarik, tetapi dari dalam, ia memiliki tipu muslihat seorang wanita buruk rupa, pesona sebuah misteri yang membuat kecanduan"
(Thomas Corelli Sullivan, hlm. 24)


Dua anak muda yang berteman akrab sejak usia 8 tahun berkolaborasi menciptakan novel. Yang satu bernama Ian Caldwell, seorang sejarawan lulusan Universitas Princeton. Lainnya Dustin Thomason, seorang dokter lulusan Harvard. Mereka berhasil mengharmonisasikan ide yang sebagian besar dilakukan menggunakan fasilitas telepon dan email. Setelah dikerjakan sejak tahun 1998, seperti yang mereka akui,  The Rule of Four diterbitkan tahun 2004 untuk pertama kalinya. Usai dibaca, ketahuan bahwa novel berlatar Princeton, New Jersey 1999 ini adalah sebuah buku tentang buku. Dan buku yang menjadi pokok permasalahan dalam novel ini benar-benar ada, tidak seperti buku The History of Love dalam novel berjudul sama karya Nicole Krauss (Gramedia, 2006).

Tersebutlah sebuah buku berjudul Hypnerotomachia Poliphili yang isinya sulit dipahami. Selama 500 tahun identitas pengarangnya tidak jelas. Selama itu pula tujuan sang pengarang menulis buku tidak diketahui. Oleh sebab itu buku ini menjadi misteri yang menjadi sasaran investigasi.

Hypnerotomachia Poliphili yang dalam bahasa Latin berarti "Perjuangan Poliphilo demi Cinta dalam Sebuah Mimpi" dan diterbitkan di Venesia Desember 1499 oleh Aldus Manutius  adalah sebuah kisah cinta (Poliphilo dan Polia), yang menyembunyikan ensiklopedi di dalamnya, mulai dari arsitektur sampai hewan. Narator mengatakan bahwa dari luar buku ini mungkin tidak memiliki daya tarik. Tetapi dari dalam memiliki tipu muslihat seorang wanita buruk rupa, pesona misteri yang membuat kecanduan. Antara lain yang terjerat 'tipu muslihat wanita buruk rupa' ini adalah trio Richard Curry, Vincent Taft, dan Patrick Sullivan. Mereka bekerja sama untuk memecahkan misteri buku yang ditulis menggunakan bahasa seperti Latin, Italia, Yunani, Yahudi, Arab, Chaldea, bahkan tulisan hieroglif (yang ternyata tidak autentik) dan kata-kata ciptaan sang pengarang sendiri. Trio ini tidak dapat mempertahankan kerja sama. Salah satu di antara mereka berkhianat. Buku harian seorang kepala pelabuhan Genoa milik Curry hilang. Curry menuduh Taft sebagai pencurinya.

Karena Hypnerotomachia Poliphili inilah Thomas Corelli Sullivan (Tom) menjadi salah satu sahabat Paul Harris, selain Preston Gilmore Rankin (Gil) dan Charlie Freeman. Paul Harris yang adalah penggemar Patrick Sullivan -ayah Tom, memang menjadikan Hypnerotomachia Poliphili sebagai materi tesisnya. Awalnya Tom membantu Paul, tetapi karena apa yang ia kerjakan mulai merusak hubungan cinta yang dijalinnya dengan Katie Marchand, Tom melepaskan diri dari pesona 'sang wanita buruk rupa'. Posisi Tom diganti oleh Bill Stein untuk melengkapi Vincent Taft sebagai penasihat dan Curry sebagai pembimbing tesis.

Rupanya dalam dunia cendekiawan, mengkhianati sesama cendekiawan dianggap jamak oleh beberapa individu. Itulah yang terjadi pada tesis Paul. Tanpa bisa dicegah, pengkhianatan kali ini menyebabkan terbunuhnya 2 tokoh novel. Secara simultan, misteri yang membungkus Hypnerotomachia Poliphili selama 500 tahun tersingkap. Ternyata buku yang dikarang (dalam novel ini) Francesco Colonna, seorang bangsawan Roma, menyimpan rahasia lokasi sebuah ruang bawah tanah tempat karya-karya yang dikumpulkan pada zaman Renaisans disembunyikan dari tindakan penghancuran yang disebabkan oleh fanatisme keagamaan. Pemecahan misteri dengan bantuan aturan empat ini mencapai klimaks ketika sesuatu terjadi yang membuat Paul menghilang dari kehidupan ketiga sahabatnya dan lingkungan Princeton.

Tetapi cerita tidak hanya sampai di situ. Di akhir novel, duo pengarang ini menciptakan kejutan. Meski tidak begitu menggedor cukup memberi tahu pembaca, bahwa hal itu akan mempengaruhi kehidupan Tom Sullivan selanjutnya.

Novel dituturkan oleh Tom Sullivan, narator brilian lulusan Sastra Inggris Princeton yang sempat terbata-bata dalam penyelesaian tesisnya sendiri gara-gara Hypnerotomachia Poliphili. Cerita dipaparkan dengan kualitas narasi  yang tangguh sehingga menghasilkan sajian kaya metafora yang enak dibaca. Kita akan mengikuti daya tarik kesegaran kosmetik kata-kata yang memoles kisah sejarah, ilmu pengetahuan, dan seni yang dibuhul oleh temali persahabatan dan kasih sayang. Keseluruhannya menjadi bersinar karena misteri yang tidak basi, pengolahan narasi yang jitu, dan tetesan kasih sayang yang menyentuh. Kasih sayang inilah yang menyebabkan Richard Curry berkorban untuk Paul, keluar dari sarang cendekiawan, demi kebenaran dan kejujuran ilmiah yang terancam direnggutkan untuk kepentingan pribadi oleh pihak tertentu.


 Ian Caldwell (kiri) dan Dustin Thomason (kanan)

Ketika novel ini dirilis di pasar Amerika (2004), banyak yang membandingkan dengan best-seller tahun sebelumnya yaitu The Da Vinci Code. Bisa dipahami mengingat buku ini adalah karya pengarang muda tidak terkenal yang belum pernah mengarang novel dan langsung menjadi best-seller. Tetapi terasa berlebihan ketika muncul ungkapan-ungkapan seperti "Lebih bagus dibanding The Da Vinci Code", "Satu tingkat di atas (Da Vinci Code)", atau "[Sebuah] Da Vinci Code untuk orang-orang berotak". Sulit untuk membandingkan novel ini dengan The Da Vinci Code. Ada kisah pemecahan sandi, tetapi tidak cukup signifikan untuk dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan.

Hypnerotomachia Poliphili yang memercikkan gagasan utama ke dalam penciptaan novel ini diterbitkan secara anonim. Tetapi jika huruf-huruf pertama dari setiap bab dalam buku ini (edisi asli)  dirangkaikan, akan terbentuk sebuah akrostik dalam bahasa Latin: Poliam Frater Franciscvs Colvmna Peramavit yang berarti Bruder Francesco Colonna amat sangat mencintai Polia. Dalam The Rule of Four, diceritakan bahwa penulisnya adalah seorang bangsawan Roma bernama Francesco Colonna dan bukan biarawan Venesia yang juga bernama sama. Terjemahan Inggris lengkap buku ini dikerjakan oleh seorang musikolog bernama Joscelyn Godwin dan diterbitkan Desember 1999, 500 tahun setelah teks asli diterbitkan (sedangkan novel mengambil setting beberapa bulan sebelumnya, sekitar perayaan Paskah).

Edisi Indonesia tetap menggunakan judul asli dan diterjemahkan dengan cemerlang  oleh Jessica Wibowo. Kemasan buku juga cukup menarik. Tak pelak, The Rule of Four terbitan Serambi ini menjadi sajian menawan yang dapat dijadikan koleksi oleh pembaca yang suka seni, sejarah, dan cerita dengan kesegaran narasi yang memoles misteri dan kejutan yang terkendali. 



Contoh isi buku Hypnerotomachia Poliphili (Wikipedia)


Posted at 07:57 am by Jody
Make a comment  

Monday, March 05, 2007
TRAVELERS' TALE




Judul Buku : Travelers' Tale -Belok Kanan : Barcelona!
Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidayat, Ninit Yunita
Penyunting : Windy Ariestanty
Terbit : Cetakan 1, 2007
Tebal : x + 230 hlm; 13 X 19 cm
Penerbit : GagasMedia


 KETIKA CINTA DI PERJALANAN

 
Empat lajang, dua pasang gender, kepala tiga, bersahabat sejak kecil. Semasa SMA, cinta menyapa di antara mereka. Cinta yang tumbuh dari kebersamaan, tetapi berpotensi menggerogoti kebersamaan pula. Dua di antaranya membiarkan cinta mereka tanpa kepastian. Dua yang lain mencoba membunuh cinta yang terhalang perbedaan kepercayaan. Dengan status seperti itu, mereka tumbuh dewasa, terserak di 4 benua dengan pekerjaan masing-masing.

Francis Lim mengira ia akan sukses lari dari jerat cinta monyet ketika ia memutuskan menikah dengan Inez Alegria de la Pena, gadis Catalonia. Ia mengundang 3 sahabatnya untuk hadir pada acara pernikahan yang akan dilaksanakan 1 bulan lagi di Barcelona, kota asal Inez.

Ketiga sahabat Francis memutuskan pergi ke Barcelona dengan dana yang terbatas. Farah Babedan, dari Hoi An, Vietnam, meretas jalan ke Barcelona setelah menyelesaikan kewajibannya di Amman dan Budapest. Jusuf Hasanuddin yang sedang berada di Nairobi bukannya balik ke Cape Town, Afrika Selatan, malah ke Barcelona lewat Abidjan. Retno Wulandari, meninggalkan Kopenhagen, Denmark, menuju Barcelona via Amsterdam.  Francis Lim sendiri sang calon mempelai pria, sehabis acara resital piano di Amerika, menuju Barcelona dari New York City.

Maka, terbangunlah kisah dalam novel bertajuk Travelers' Tale -Belok Kanan: Barcelona!. Pengalaman perjalanan, laporan pandangan mata, dan serpihan-serpihan masa lalu memberkas dalam cerita cinta stereotipikal  yang menjadi pencetus plot novel.

Cinta memang sumber daya yang tidak ada matinya. Sangat banyak buku yang memanfaatkannya sebagai bahan baku. Dan, novel berjudul panjang ini terperangkap untuk melakukan hal yang identik. Namun cinta yang dibesut dalam novel ini, kendati bertolak dari cinta monyet, ternyata telah menggorila dan memiliki tujuan. Cinta seperti ini juga bukan hal yang baru dalam dunia fiksi. Oleh karena itu, pengalaman traveling diasimilasikan untuk mengkreasikan perbedaan. Alhasil, terciptalah kisah cinta multisegi yang terentang penuh ketidakpastian dalam perjalanan menuju horison nan indah, Barcelona. Di manapun para tokoh berada, jalur apapun yang ditempuh, mereka pasti akan tiba sesuai sirkulasi yang telah ditentukan, di jantung Barcelona. Terbukti, meski melewati lokasi peperangan, karakter laki-laki narsis sok ganteng dalam novel ini sampai juga di Barcelona.

Ternyata, cerita cinta stereotipikal yang meliput hidup 4 makhluk ini menjadi karya ringan-renyah yang cukup enak dinikmati. Plot digelar manis mengundang tanya. Tidak ada kerumitan yang berarti. Apa yang akan terjadi di Barcelona telah terbayang di benak pembaca sebelum para tokoh menjejak kota yang pernah dihidupkan dalam lagu oleh pasangan Freddy Mercury-Mike Moran dan Fariz RM ini. Ketika persahabatan dipertaruhkan, akhirnya semua cinta menemukan takdirnya sendiri.

Karena perjalanan anak-anak muda ini berangkat dari lingkaran persahabatan yang telah mereka untai 20 tahun lamanya, kilas balik menjadi teknik yang penting untuk membawa masuk apa yang terjadi di masa lalu ke masa kini untuk memberi pemahaman kepada pembaca. Kilas balik tersebut berpadu kompak dengan kisah traveling yang dideskripsikan dengan enteng dan lancar. Walau di beberapa tempat nyaris terjadi digresi, tetapi aliran sungai cerita sudah ditentukan, sehingga laut lepasnya sudah sangat jelas.

Novel ini dituturkan dengan kelincahan narasi komedi cinta. Menariknya, kelincahan narasi ini digerakkan oleh 4 penulis. Masing-masing penulis mewakili satu karakter. Karena tokoh novelnya terdiri dari 2 pasang gender, maka penulisnya juga sama. Masing-masing sengaja tampil beda, kendati menggunakan perspektif orang pertama –saya, aku, gue, dan gua. Hal ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dalam berkisah.

Kekuatannya, karena dituturkan oleh 4 narator –dan 4 penulis berbeda- tentu saja dengan kontrol untuk keutuhan penokohan dan plot, ceritanya menjadi lebih natural jika dibandingkan dengan cerita yang dituturkan 4 narator tetapi dikucurkan oleh satu penulis. Kelemahannya, 4 orang dari zaman yang sama, pergaulan yang identik, gaya bicara yang idem ditto (bahasa gaul dengan berbagai bahasa yang ada), hadir satu sama lain bagaikan orang asing.  Farah sibuk ber-gue-gue, Jusuf asyik ber-gua-gua, Retno senang ber-saya-saya, dan Francis getol ber-aku-aku.  Dan ketika mereka terlibat dialog bersama, dengan setia gaya itu dipertahankan. Makanya, tanpa sadar (atau tak terkoreksi), Farah yang doyan ber-gue-gue, khilaf ber-gua-gua (hlm. 139) dan Francis yang biasanya ber-aku-aku, menambah gua dalam cita rasa lidahnya (hlm. 215).

Meski bertutur menggunakan perspektif orang pertama, ketika Retno dan Jusuf menjadi narator dan menceritakan chatting yang mereka lakukan, baik penulis Retno maupun penulis Jusuf menuliskan nama karakter mereka sendiri dan bukan 'saya' atau 'gua' untuk mengimbangi lawan bicaranya (hlm. 29, 30, 43, 44). Pada halaman 83 dan 146 -teks dalam kotak, penulis Jusuf malah menambah-nambahkan 'tim penulis' dalam tulisannya, seakan-akan tidak tahan ingin masuk dalam cerita ciptaannya. Apakah itu perlu?

Selain cukup enak dinikmati, dalam novel ini pembaca akan menemukan tips-tips traveling seperti perencanaan traveling, transit, mengatasi jetlag, teknik  backpacking, obat-obat yang perlu disediakan, dan memilih transportasi serta akomodasi yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh pembaca yang hendak bepergian seperti yang pasti telah dilakukan para penulis.

Buku karya 4 penulis –Adhitya, Alaya, Iman, dan Ninit- ini tampil dengan kemasan yang baik dan ide sampul yang tidak pasaran. Sekilas lihat tidak akan menduga jika buku ini sebuah karya fiksi. Satu hal yang saya tidak pahami adalah ketika membaca komentar salah satu komentator novel yang mengatakan bahwa plot novel susah dikenal; mood and background lebih penting dari kejadian yang diceritakan. Dengan mengesampingkan kejadian yang diceritakan, akan jadi apa buku ini selain sekadar travel guides dan laporan perjalanan? 



Barcelona! Such a beautiful horizon
Barcelona! Like a jewel in the sun
Por ti sere gaviota de tu bella mar

Barcelona! Suenan las campanas
Barcelona! Abre tus puerras al mundo
If God is willing, if God is willing, if God is willing
Friends until the end

(Barcelona, Freddie Mercury & Mike Moran)


Posted at 02:40 pm by Jody
Comments (5)  

Saturday, March 03, 2007
VOID MOON




Judul buku : Bulan Hampa
Judul asli : Void Moon
Penulis : Michael Connelly
Penerjemah : Fahmy Yamani
Penyunting : Sofia Mansoor
Tebal : 600 hlm
Terbit : cetakan 1, Januari 2007
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta

 

MISTERI BULAN HAMPA

 
Menurut kalender astrologi, saat bulan bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya dalam konstelasinya, sering bulan bergerak di tempat yang tidak ada rumahnya. Jika saat itu tiba, dikatakan bulan sedang menjalani 'perjalanan hampa' sampai akhirnya masuk ke dalam sebuah rumah. Bulan hampa dianggap bukan saat yang menguntungkan. Bulan hampa adalah waktu sial. Apa saja bisa terjadi dan berubah kacau balau. Oleh karena itu, jika hendak melakukan sesuatu, sebaiknya tidak dilakukan pada jam-jam ketika bulan hampa. Konon nasib apes yang dialami Lincoln, McKinley, Kennedy, dan Clinton adalah karena mereka  dilantik pada saat bulan hampa.

Keyakinan akan bulan hampa dan efek yang ditimbulkannya dipegang teguh Leo Renfro, seorang perantara pekerjaan untuk para perampok. Percaya atau tidak, kehidupan Cassidy Black (Cassie), kekasih Maxwell James Freeling (Max) -adik tiri Leo, berhubungan erat dengan misteri bulan hampa. Enam tahun sebelumnya, Cassie dan Max yang terkenal sebagai perampok kelas kakap, mendapat pekerjaan di Cleopatra, sebuah kasino di Las Vegas. Menjelang aksi perampokan, terjadi perubahan skenario. Kemudian dalam aksinya, Max terjebak dan tewas, jatuh dari sebuah kamar penthouse di lantai 20 Cleopatra Resort and Casino. Cassie ditangkap. Berdasarkan hukum kriminal Nevada -setiap orang yang terlibat dalam sebuah kejahatan bertanggung jawab atas kematian yang terjadi pada saat kejahatan tersebut dilakukan- dihukum penjara selama 5 – 15 tahun, dengan catatan jika berkelakuan baik selama di penjara, dia bisa keluar dalam waktu 5, 6, atau 7 tahun dan bisa memulai kehidupan barunya. Menurut Leo, peristiwa tewasnya Max terjadi pada saat bulan hampa.

Enam tahun kemudian -saat ini dalam novel- Cassie yang berada dalam status bebas bersyarat meminta  pekerjaan pada Leo Renfro. Setelah pekerjaan ini, Cassie berencana  untuk menghilang dan memulai kehidupan baru. Apa yang Cassie lakukan terpicu oleh dijualnya sebuah rumah di Lookout Mountain Road karena pemiliknya hendak pindah ke Paris. Cassie juga meminta Leo membuatkan baginya paspor untuk dua orang.

Yang membuat Cassie terkejut, perampokan yang akan ia lakukan berlokasi sama dengan perampokan gagal 6 tahun lalu yang mengakhiri hidup kekasihnya. Ia harus beraksi di Cleopatra yang saat ini telah berada di bawah kekuasaan Vincent Grimaldi, mantan pemimpin keamanan kasino yang terlibat peristiwa tewasnya Max.

Cassie tak bisa menolak. Tanpa sadar, keputusan Cassie mengambil pekerjaan ini tidak sekadar mengembalikannya ke tempat di mana impian masa depannya dengan Max hancur berantakan. Tetapi juga membuka misteri seputar kematian Max yang pada akhirnya membuat kehidupan Cassie bersinggungan langsung dengan nemesisnya, Jack Karch. Jack Karch adalah sosok yang menjadi peran utama pada peristiwa tragis 6 tahun lalu. Jack yang dijuluki Jack Sekop, adalah detektif psikopat yang bertugas menangani orang hilang. Sejak terlibat dalam peristiwa tewasnya Max, dia juga menjadi kaki tangan Grimaldi untuk menghilangkan orang-orang yang dibunuh demi kepentingan Grimaldi.

Target Cassie kali ini adalah Diego Hernandez, penjudi kawakan asal Houston -belakangan diketahui bernama Manuel Hidalgo, pengacara dari Miami. Sialnya, Cassie tidak dapat menghindarkan bulan hampa saat beraksi. Hernandez terbunuh. Karch mencari Cassie untuk merebut uang dalam koper yang dibawa Cassie. Mengejutkan, jumlah uangnya tidak seperti dalam pembicaraan awal. Koper ternyata berisi 2, 5 juta dolar. Namun, tidak mudah bagi Karch untuk menaklukkan Cassie. Ia harus ke rumah di Lookout Mountain Road, mengambil senjata pamungkas, untuk memaksa Cassie menyerahkan uangnya –kemudian, tentu saja, membunuhnya.

Tepat sebelum waktu bulan hampa, Cassie mengetahui bahwa berita gembira yang disampaikannya kepada Max sebelum aksi perampokan 6 tahun lalu  telah menjadi salah satu pemicu tewasnya laki-laki yang dicintainya. Berita apakah itu? Apa hubungannya dengan masa kini?

Hampir bersamaan, Jack Karch juga berhasil menemukan potongan terakhir kehidupannya sebagai puzzle yang mendapatkan posisi yang tepat. Karch sadar akhirnya ternyata dia, Cassie, Leo Renfro, bahkan Max, telah masuk dalam jaring tipu daya rekayasa Vincent Grimaldi yang  sialnya mewariskan DNA-nya dalam tubuh Karch. Siapa yang akan menjadi korban pada bulan hampa kali ini?

Inilah sebuah thriller mengasyikkan yang lahir dari imajinasi penulis handal Michael Connelly. Void Moon atau Bulan Hampa yang dirilis tahun 2000, menghadirkan karakter utama yang berbeda dari karakter ciptaan Connelly sebelumnya, yaitu Harry Bosch (detektif) dan Terry McCaleb (reporter). Selanjutnya dengan mulus, Connelly merangkai kisah menegangkan berbumbu kejutan dalam novel yang dijalin penuh daya tarik dan enak dibaca. Pembaca akan dibawa bersua rahasia tak terduga yang menyelimuti kehidupan para tokoh yang bahkan tidak diketahui mereka sebelumnya. Juga perjuangan seorang perempuan untuk mengatasi jerat tangan takdir yang mencengkeram tanpa ampun. Selain itu,  Connelly menghadirkan kasih sayang, bahan empuk yang membuat Cassie berhasrat membangkitkan kembali impian masa lalu yang kemudian hanya menyadarkan dirinya bahwa impian itu benar-benar telah amblas sejak enam tahun lampau. Walaupun impian itu benar-benar amblas, dengan kebesaran jiwa, Cassie meyakinkan dirinya bahwa semua yang pernah ia dan Max miliki akan selalu ia miliki. Terutama tempat di mana samudra menggantikan padang pasir.

Akhirnya, Void Moon tidak saja menyajikan amarah dan darah, tetapi juga  cinta sejati yang semuanya melebur dalam peristiwa-peristiwa yang memaksa para tokohnya untuk mau tidak mau berhadapan dengan misteri bulan hampa.

Keunggulan yang dapat ditemukan dalam Void Moon adalah penggarapan semua karakter yang dilakukan sebaik cerita dan plot yang ditampilkan. Pembaca tidak akan dibikin bingung karena semua terkesan sangat meyakinkan. Connelly sungguh seorang penulis dengan kualitas narasi yang membuat segalanya mengalir logis dan dinamis. Kehandalan Connelly memang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Connelly mengukuhkan dirinya sebagai novelis tangguh melalui debut berjudul The Black Echo (1992) yang memenangkan Edgar Award untuk Best First Novel. Dalam novel perdananya ini Connelly memperkenalkan karakter Hieronymus Bosch yang menghidupkan sebagian besar novelnya. Sampai Oktober 2006, Connelly telah menulis 17 novel dan 1 kumpulan cerita kriminal selama menjadi jurnalis (Crime Beat, 2006). Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa dan telah memenangkan penghargaan Edgar, Anthony, Macavity, Shamus, Dilys, Nero, Barry, Audie, Ridley, Maltese Falcon (Jepang), .38 Caliber (Prancis), Grand Prix (Prancis), dan Premio Bancarella (Italia).

 

Michael Connelly

Posted at 07:24 pm by Jody
Make a comment  

Wednesday, February 28, 2007
THE HIGHEST TIDE




Judul buku :  Pasang Laut
Judul asli : The Highest Tide
Penulis : Jim Lynch
Alih bahasa : Arif Subiyanto
Terbit : cetakan 1,  Desember 2006
Tebal : 328 hlm; 20 cm
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


MENDENGAR SUARA HATI LAUTAN


Suatu malam musim panas, Miles O'Malley -13 tahun, 146 cm, 39 kg, bersuara melengking berpenampilan mirip bocah 9 tahun- yang sedang liburan, keluar dari rumahnya di ujung Teluk Puget Sound, dan mendayung kayak ke utara Teluk Skookumchuck, menuju Teluk Chatham Cove. Malam itu, Miles melaksanakan pekerjaan musim panasnya yang baru, yaitu mengumpulkan hewan laut yang terbawa air pasang seperti bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk eksotis lainnya yang akan dijual untuk koleksi akuarium di Tacoma, Seattle dan Port Townsend. Selain itu, dia juga mencari remis seperti butterclam,  untuk dijual ke restoran seafood setempat. 

Miles yang mulai khawatir ukuran tubuhnya akan membuatnya tersisih dari dunia percintaan, seperti katak yang tak bisa berteriak lantang untuk memikat betina (hlm. 77), tidak menyangka malam yang tanpa angin, tanpa bebunyian, hanya sesekali terdengar desing sayap serangga, suara remis yang mengatup, dan desir air surut merembes di sela bebatuan (hlm. 10 – 11), akan memicu perubahan hidupnya.

Malam itu, Miles menemukan seekor cumi-cumi raksasa yang membuat  perhatian publik terarah padanya. Cumi-cumi raksasa tersebut merupakan makhluk penghuni laut dalam. Umumnya ditemukan sudah menjadi bangkai dalam perut ikan paus spermaseti atau terdampar di pantai-pantai Selandia Baru, Norwegia, atau Newfoundland. Miles mengatakan pada seorang reporter bahwa penemuan cumi-cumi raksasa ini mungkin sebagai cara bumi mengatakan sesuatu. Oleh karena itu, anak sotong ini menjadi sasaran pers.

Setelah penemuan cumi-cumi raksasa tersebut, Miles menemukan lagi seekor ikan ragfish yang juga termasuk penghuni laut dalam. Ketika merespons pertanyaan seorang reporter televisi mengenai penemuan makhluk penghuni laut dalam adalah kemungkinan cara bumi mengatakan sesuatu, Miles mengatakan bahwa bumi mungkin sedang minta tolong untuk diperhatikan. Miles juga menceritakan pengamatannya yang luput dari pengamatan para ahli bahwa saat itu sedang terjadi invasi kepiting Cina di Whiskey Point dan rumput laut Caleurpa di Teluk Flapjack. Kedua invasi tersebut sangat berbahaya. Selain mengancam kepiting-kepiting asli, kepiting Cina memiliki kebiasaan menggali terowongan yang menyebabkan tanah menjadi labil, erosi, dan longsor sehingga membahayakan penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Sedangkan rumput laut Caleurpa berpotensi  merusak ekosistem yang ada. Tentu saja apa yang disampaikan Miles sangat mengejutkan banyak orang.


Jim Lynch

"Ini musim panasmu, Miles. Musim panas ini akan menentukan jati dirimu", demikian kata Florence Dalessandro -perempuan tua, paranormal penggemar buku yang menjadi sahabat Miles. Persis seperti kata Florence, musim panas itu menempatkan Miles pada posisi seperti selebritas gara-gara penemuan dan komentarnya. Dalam sebuah acara yang dilaksanakan Sekolah Eleusinia, Miles mencetuskan ramalan Florence yang menyatakan bahwa gelombang pasang tertinggi akan terjadi pada tanggal 8 September tahun itu; pasang tertinggi dalam waktu 50 tahun terakhir. Walaupun Florence gagal ketika membuka praktik paranormal, terbukti beberapa ramalannya tidak meleset. Gempa merontokkan Capitale Apartments dan Hakim Stegner kalah dalam pemilihan hakim negara bagian. Apakah ramalan pasang tertinggi benar-benar menjadi nyata?

Seketika perairan Puget Sound menjadi ramai karena orang berduyun-duyun ke sana. Apalagi saat tersebar rumor bahwa mukjizat penyembuhan terjadi di perairan tersebut. Seiring dengan itu, Miles juga harus melewatkan waktu bersama tokoh-tokoh selain Florence seperti Profesor Kramer; Kenny Phelps; Angie Stegner; reporter bermata hiu martil; ayahnya yang terobsesi pada tinggi badan; ibu yang tidak bahagia.

Pada akhirnya semua yang Miles alami benar-benar membuat ia menemukan jati dirinya seperti ramalan Florence. Ramalan Florence memang harus memenuhi takdirnya.

Laut yang menjadi pesona utama cerita memang penuh misteri. Lewat pengalaman musim panas Miles yang menjadi narator novel, kita seperti diajak memaknai kembali peranan laut dalam kehidupan manusia. Betapa sering manusia melakukan kesalahan tanpa memikirkan akibat buruk yang akan terjadi. Seperti pemicu kerusakan ekosistem yang digambarkan dalam novel ini. Semua terjadi karena ulah manusia. Mungkin kita perlu memahami laut sebagaimana yang disitir Miles dari buku The Sea Around Us karya penulis favoritnya, Rachel Carson: "Sejak fajar purbakala yang tersaput kabut misteri, lautan adalah asal mula segenap kehidupan, dan akhirnya segala wujud kehidupan yang mungkin telah berkembang, bermutasi lalu mati itu akan berpulang kepadanya. Segalanya akan kembali ke lautan –Oceanus, sang sungai mahaluas, bagaikan hikayat pengembaraan sang waktu, dari awal hingga akhirnya."

Dalam novel ini laut juga dapat disamakan dengan kehidupan manusia. Sering tanpa sadar manusia melakukan tindakan yang berefek destruktif pada orang lain. Selepas musim panas tak terlupakan itu, Miles melihat persamaan tersebut. Bukankah apa yang dilakukan orang tuanya bisa disamakan dengan pencemaran laut yang akhirnya merusakkan ekosistem yang ada? Walaupun begitu, Miles tetap berhasrat memahami misteri kehidupan. Hidupnya memang berubah. Florence meninggal, orang tuanya berpisah, namun semua menjadikannya lebih tegar, apalagi dengan kehadiran Angie yang mengatakan kepadanya bahwa, "Lautan akan menunggumu, Miles. Begitu pula aku."



Rachel Carson (*) dan bukunya yang dibaca Miles
dalam novel The Highest Tide


Inilah debut manyala, menyentuh, cerdas, dan puitis dari Jim Lynch, seorang jurnalis-penulis cerpen yang telah memenangkan National Journalism Awards. The Highest Tide juga telah memenangkan Pacific Northwest Booksellers Award tahun 2006. Jim Lynch yang berdomisili di Olympia, Washington, menulis novel ini sebagai realita dari harapannya untuk menciptakan novel dengan Puget Sound sebagai latar. Sewaktu kecil Jim memang sering menjelajahi perairan Puget Sound menggunakan perahu layar orangtuanya. Untuk mewujudkan harapannya, Jim membaca buku-buku biologi kelautan, penuntun seks; mewawancara cenayang; mempelajari fenomena air pasang. Hasilnya, sebuah novel cemerlang yang digerakkan dengan lancar dan penuh humor. Sulit untuk tidak tertawa membaca  luapan imajinasi Miles dan perbincangannya mengenai seks dengan Kenny Phelps, karakter side-kick ciptaan Jim Lynch.

The Highest Tide
tidak sekadar indah, tetapi juga kaya dengan informasi beragam spesies makhluk hidup laut yang disampaikan secara menarik. Pembaca akan menemukan ikan gepeng merak yang mudah berkamuflase memanfaatkan matanya yang ajaib, gurita yang berubah warna saat sedang kawin, timun laut yang memuntahkan organ dalamnya saat ketakutan, nudibranch yang cantik, kerang kalung pembantai remis, keritip kawin, ikan midshipmen yang memiliki kehidupan unik, ubur-ubur sebesar kunyahan permen yang bisa melar selebar payung atau semburat cahaya di musim plankton. Tetapi juga bangau yang marah, burung elang pesolek, itik liar yang tertawa riuh, camar seperti badut sirkus, atau kolibri yang mengejek gravitasi.

Jim berhasil menciptakan karakter utama yang cerdas dengan tingkat kuriositas dan kepekaan  yang tinggi terhadap lingkungannya, lancar bertutur, namun terperangkap keterbatasan fisiknya. Miles yang mengingatkan pada karakter Simon Birch dalam film Simon Birch (diperankan oleh Ian Michael Smith, 1998) seolah-olah memberikan pencerahan bagi kita bahwa siapapun kita, dengan segala kekurangan yang ada, diciptakan Tuhan dengan maksud tertentu di dunia ini. Sesungguhnya, tidak ada kehidupan manusia yang tidak berarti, kecuali manusia itu tidak menemukan sendiri artinya.

Edisi Indonesia  yang diberi judul Pasang Laut sangat enak dinikmati. Pembaca tidak akan menemukan untaian kata rumit yang membingungkan. Sebagai penerjemah, Arif Subiyanto terkesan selektif dalam penggunaan diksi sehingga pembaca tetap bisa merasakan taburan humor dan kalimat indah dari Jim Lynch.

Novel yang dipersembahkan Jim Lynch untuk Denise, istrinya, dirilis September 2005 di Amerika Serikat dan telah dipublikasikan di lebih dari 20 negara; lebih dari 8 bahasa. Di Inggris novel ini terpilih sebagai bacaan musim panas 2006 oleh London's Richard and Judy TV Book Club. Hak untuk memfilmkan novel ini telah dibeli oleh Fisher Stevens, seorang aktor, sutradara, dan produser. Jadi, sebelum nonton filmnya kelak, nikmati saja terlebih dahulu novel indah yang sangat menyenangkan ini.

*) Rachel Louise Carson, seorang penulis, ilmuwan, dan ekolog kelahiran Springdale, Pennsylvania 27 Mei 1907 yang telah menulis buku (1941), Under the Sea-wind (1941), The Sea Around Us (1952), The Edge of the Sea (1955) dan Silent Spring (1962). Ia meninggal karena kanker payudara pada tanggal 14 April 1964 di Silver Spring, Maryland.

 

Posted at 07:55 pm by Jody
Comment (1)  

Sunday, February 25, 2007
THE HISTORIAN


Judul Buku : Sang Sejarawan
Judul Asli : The Historian
Penulis : Elizabeth Kostova
Penerjemah: Andang H. Soetopo
Terbit : cetakan 1, Januari 2007
Tebal : 768 halaman, 23 cm


DRACULA: LEGENDA, BIBLIOPHILE, DAN SEJARAWAN

"Tidak semua orang yang menggali sejarah dapat menerima hasilnya. Dan bukan hanya menggali sejarah yang dapat membahayakan kita; kadang sejarah itu sendiri pun dapat mengulurkan cakar-cakarnya yang muram dan mencengkeram kita"


The Historian (Sang Sejarawan) adalah debut penulis Amerika, Elizabeth Kostova sebagai penulis novel. Perempuan kelahiran New London, Connecticut, 26 Desember 1964 ini tercatat sebagai lulusan Universitas Yale dan program MFA Universitas Michigan, tempat dia memenangkan Hopwood Award untuk Novel-in-Progress. Yang menjadi topik novel ini adalah Vlad Tepes, si penyula (Vlad the Impaler) dari Wallachia atau terkenal dengan sebutan Dracula yang berarti anak laki-laki dracul (naga). Vlad si Penyula adalah bangsawan feodal di pegunungan Carpathian yang gemar menyiksa para tawanan perang dan rakyatnya sendiri dengan cara-cara kejam. Ia dibenci oleh rakyatnya dan musuh utamanya, kesultanan Ottoman. Ia tersohor sebagai tiran paling kejam dalam sejarah Eropa abad pertengahan yang diperkirakan membunuh lebih dari 20 ribu rakyatnya, orang Wallachia dan Transylvania, selama berkuasa. Vlad Dracula (bukan seperti Dracula vampir versi Bram Stoker) dikabarkan tewas dalam peperangan melawan orang-orang Turki di bawah kesultanan Ottoman dan dikuburkan di sebuah pulau di danau Snagow (Rumania). Oleh Kostova pencarian lokasi kuburan Vlad dijadikan sebagai penggerak keseluruhan cerita dalam novel ini.

Kisah The Historian diawali dengan penemuan sebuah buku tua bergambar naga dan surat-surat Profesor Bartholomew Rossi yang sudah menguning oleh seorang gadis remaja di perpustakaan ayahnya pada tahun 1972. Uniknya, sampai novel habis, Kostova tidak menyebutkan nama gadis yang berperan sebagai narator ini. Pada satu wawancara, Kostova menyatakan hal ini disengaja sebagai sebuah eksperimen literer karena ingin melihat apakah tanpa nama, dia bisa memberikan sebuah personalitas yang utuh buat sang narator. Dalam novel dikatakan bahwa nama si narator sama dengan nama ibu dari ibunya, yang juga tidak disebutkan namanya.

Penemuan gadis ini membawa kembali kenangan Paul, ayahnya, ke tahun 1954 ketika Paul menjadi mahasiswa sebuah universitas di Amerika dan tengah menyelesaikan disertasi dengan bimbingan Profesor Rossi. Paul menemukan buku bergambar naga tersebut, dan suatu malam setelah pembicaraan dengan Rossi, profesor itu menghilang secara misterius.

Buku Dracula karya Bram Stoker mempertemukan Paul dengan seorang gadis bernama Helen yang mengaku sebagai anak Rossi, hasil hubungan Rossi dengan seorang perempuan Transylvania, ketika si profesor melacak legenda Drakula di Rumania. Pertemuan dengan Helen berujung pada keputusan Paul untuk mencari kuburan Dracula, tempat Rossi dibawa pergi. Berdua mereka pergi ke Istanbul (Turki) mencari dokumen mengenai Vlad si Penyula. Dari Istanbul petualangan mereka berlanjut ke Hongaria dan Bulgaria. Di Bulgaria mereka berhasil menemukan Rossi, tetapi tidak Dracula.

Novel dibagi dalam 3 bagian besar yang setiap bagian diawali dengan kutipan buku Dracula karya Bram Stoker. Setiap bagian, secara paralel menceritakan 2 perjalanan kehidupan yang masing-masing berlatar tahun 1954 dan tahun 1972. Bagian pertama untuk tahun 1954 berakhir ketika Peter dan Helen memutuskan pergi ke Istanbul, sedangkan untuk tahun 1972 berakhir ketika Paul memutuskan mencari Helen, istri dan ibu anaknya yang meninggalkan mereka ketika anaknya baru berusia 9 bulan. Bagian kedua berisi pencarian Helen dan Paul ke Istanbul dan Rumania, di sisi lain berisi perjalanan si gadis tanpa nama dengan seorang mahasiswa Oxford bernama Barley dari Amsterdam menuju Les Bains, Prancis. Bagian ketiga berkisah tentang perjalanan penemuan kubur Dracula sekaligus tempat Rossi ditawan (1954) dan perjalanan si gadis dengan Bailey untuk menguji kebenaran petunjuk yang didapatnya dari sebuah buku di Oxford (1972). Petunjuk tersebut sekaligus menjadi kunci pembuka misteri berhubungan dengan apa yang dipaparkan dengan brilian pada bagian epilog.

 
Seperti judulnya, The Historian adalah kisah para sejarawan yang ingin menguak rahasia kubur Vlad Dracula. Kisah ini juga akan memberi tahu kita bahwa selain sebagai seorang bibliophile, Vlad sang tiran juga seorang sejarawan. Kostova dengan genial meracik sejarah dan imajinasi dalam sebuah novel dengan plot yang rancak. Plot digelar dalam keindahan eksotis lanskap negara-negara seperti Turki, Rumania, dan Bulgaria. Menurut pengakuan Kostova, ketika menulis novel ini, dia belum pernah ke Rumania. Kostova mengunjungi Turki ketika sedang menyelesaikan draft terakhir novel seraya melakukan penyesuaian isi, sedangkan pengetahuan Bulgaria selain didapat dari kunjungan ke sana, juga dari suaminya pria Bulgaria bernama Georgi Kostov. Cerita berkelindan dari tahun 2008, ke tahun 1972, tahun 1954, dan ke tahun 1930-an sebagian besar menggunakan teknik naratif epistolari. Kostova menggunakan teknik ini dengan alasan dia menyukai surat, riil atau fiktif, dan menurutnya dalam sebuah novel teknik seperti ini menerjemahkan kedekatan antara karakter-karakter yang ada dalam novel dengan pembaca. Meski demikian, cerita menggunakan epistolari, apalagi dengan cerita yang panjang membentuk plot dan berisi detail-detail, tidak akan luput dari kejanggalan. Adakah orang yang menulis surat seperti itu?

Novel disusun sangat unik, seperti buku sejarah yang dinarasikan sekronologis mungkin, oleh si gadis tanpa nama yang pada tahun 2008 telah berusia lima puluhan, telah menjadi seorang sejarawan dan dosen di Oxford. Perhatikan bahwa cerita telah digelindingkan sejak halaman Catatan untuk Pembaca (hlm. 7) yang merupakan pengantar si narator sebelum dia bercerita lebih lanjut. Ketika bagian pertama novel dibuka dengan kalimat, "Tahun 1972 aku baru berusia enam belas tahun-" Kostova tidak asal mencantumkan angka 16 tahun. Angka 16 tahun memiliki hubungan yang penting dengan cerita yang akan disampaikan selanjutnya.

Membaca The Historian agaknya memerlukan waktu khusus. Selain novelnya tebal seperti farmakope -sehingga tidak mudah dibawa untuk dibaca mengisi waktu luang di antara aktivitas (768 hlm), Kostova adalah pencerita dengan napas panjang. Walau umumnya isi per bab tidak terlalu panjang -kecuali pada bab tertentu seperti bab 73, Kostova bertutur dengan kalimat-kalimat panjang. Kendati begitu, semua bisa diikuti karena terjemahan edisi Indonesia yang dikerjakan oleh Andang H. Soetopo tergolong lancar dan enak dibaca. Tidak heran, karena sebelum The Historian, penerjemah yang satu ini juga telah menerjemahkan novel-novel seperti Interview with the Vampire, Discloser, The Juror, dan O Zahir.

The Historian yang pembuatannya menghabiskan waktu lebih dari 10 tahun ini dipublikasikan pertama kali Juni 2005 dan menjadi best-seller. Kostova memperoleh $ 2 juta untuk hak publikasi yang diberikan kepada Little, Brown and Co kemudian $ 1,5 juta untuk hak pembuatan film yang dibeli oleh Sony. Douglas Wick, yang pernah menjadi produser film seperti Memoirs of Geisha; Gladiator; Stuart Little; Girl, Interrupted; Hollow Man akan menjadi produser film ini.


Posted at 04:41 pm by Jody
Make a comment  

Next Page