"Dunia Buku adalah
sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu
dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku,
dan diapresiasi selaras emosi dan logika"
If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
Friday, March 30, 2007
MIILION $$$ BABY
Judul: Million
$$$ Baby (Kisah-kisah dari Sudut Ring) Judul Awal: Rope Burns: Stories From the Corner
Penulis : F.X. Toole
Penerjemah : Basuki H. Winarno & Yusi A.Pareanom
Penyunting : Akmal N.Basral & Yusi A.Pareanom
Terbit : Cetakan Pertama, Oktober 2006
Tebal : 360 hlm
Penerbit : Banana
DARAH DI SARUNG TINJU
Tinju adalah sesuatu yang murni di atas
ring. Tinju adalah tentang kehendak dan sikap menghormati, namun tinju tidak
akan ada bila tidak ada wasit dan tali ring, dan pikiran seorang petarung.
(Mac McGee, hlm. 249)
"Jab,
jab, dua kali. Jab. Sekali lagi. Jab. Dua kali. Satu-dua. Satu-dua hook. Sekali
lagi. Dua jab, kanan, hook, lanjutkan dengan pukulan kanan. Dua jab, pukul
kanan, hook, lanjutkan dengan pukul kanan, dan jab lalu keluar. Hook ke tubuh,
hook ke kepala, lanjutkan dengan pukulan kanan. Maju. Dua kali. Sekali lagi.
Jab. Jab. Sekali lagi, dua kali lagi. Sekali lagi, sekali lagi. Terus."
Kalimat di atas mungkin adalah
rentetan kata-kata yang kerap dilontarkan F. X. Toole ketika menghabiskan
tahun-tahun kehidupannya di sasana untuk melatih petinju. Kalimat ini bisa
ditemukan di bagian pembuka kumpulan cerita karya F. X. Toole yang bertajuk Million
$$$ Baby: Kisah-kisah dari Sudut Ring. Bagian pembuka tersebut diberi judul
: Anggota Sarekat Tinju, Sebuah Pendahuluan(Member of the Fancy : an
Introduction). Bagian ini cukup panjang memaparkan ketertarikan lelaki
kelahiran 30 Juli 1930 ini terhadap dunia tinju: ilmu tentang tinju dan
keberanian yang dibutuhkan untuk menjadi petinju. Dalam bagian yang ditulis secara
naratif ini, Toole membeberkan bahwa pada usia pertengahan empat puluhan, ia
belajar tinju. Karena tanpa pelatih dan berlatih tanding dengan petinju yang
sama-sama tidak memahami seni bertinju, maka Toole sempat mengalami patah
hidung. Akhirnya, walau sudah tua, ubanan, badan keropos, Toole nekat masuk
sasana, berlatih sampai gigi copot dan mendapatkan pelatih tinju kelas satu
bernama Dub Hentley.
F. X. Toole
Bagi Toole, tinju adalah keajaiban.
Tinju adalah keajaiban manusia dalam peperangan, keajaiban dari kehendak,
keahlian, rasa sakit, serta kesanggupan manusia mempertaruhkan segalanya
sehingga ia bisa menghargai dirinya sendiri. Hal yang sama rupanya Toole
rasakan ketika menulis. Makanya dia mengatakan bahwa tinju hampir mirip dengan
menulis. Dari tinju Toole tidak bisa mengumpulkan uang, dan seperti diakuinya,
hal itu juga ia alami sebagai penulis.
Berbekal pengalaman sebagai pelatih
tinju dan cut man
berlisensi selama 25 tahun, maka Toole kembali menulis cerita, setelah pernah
memulainya pada usia 20-an dan selalu mendapatkan penolakan selama hampir 50
tahun. Dunia tinju, dunia ajaib di mata Toole, dunia yang sangat ia cintai
menjadi tambang kreativitas literernya.
The Monkey Look (Tampang Siamang) yang akhirnya
menjadi cerita pembuka buku kumpulan kisahnya ini adalah karya pertamanya yang
dipublikasikan. Cerita ini diterbitkan Zyzzyva, sebuah jurnal sastra di San Francisco pada tahun
1999 dengan honor 50 dolar. Setelah cerita ini diterbitkan, F. X. Toole merasa
mendapat pengakuan sebagai seorang penulis cerita. Maka, terciptalah
kisah-kisah berikutnya yang kemudian disajikan lengkap dalam buku ini.
Million $$$ Baby pertama kali terbit tahun 2000 sebagai
kumpulan novela dan cerita pendek dengan judul Rope Burns: Stories From the Corner. Buku ini
merangkum 6 karya Toole. Selain The
Monkey Look (Tampang Siamang), kita akan menemukan 5 karya Toole
lainnya yang terdiri atas Black Jew (Yahudi Hitam), Million Dollar
Baby (Million $$$ Baby), Fightin' in Philly (Pertarungan di Philly),
Frozen Water (Air Beku), dan Rope Burns (Sayatan Tali Ring).
Setelah Toole meninggal dunia, Million Dollar Baby salah satu novelanya
difilmkan dengan sutradara Clint Eastwood. Film ini dikukuhkan sebagai film
terbaik Oscar 2004 dan membuat Hilary Swank meraih Aktris Terbaik dalam ajang
yang sama untuk kedua kalinya. Mengikuti kesuksesan film tersebut, Rope
Burns diterbitkan kembali dengan judul Million Dollar Baby: Stories
From the Corner (2005).
Tidak bisa disangkal, kisah-kisah
dari sudut ring karya Toole ini benar-benar merekam dunia tinju jauh lebih
dalam dari dunia tinju yang umumnya dikenal awam. Ia tidak hanya berkisah
tentang petinju, promotor, atau manajer tinju, tetapi ia juga bercerita
mengenai orang-orang di belakang kesuksesan sang jago jotos, seperti pelatih
atau cut man -orang yang bertugas menghentikan perdarahan yang dialami
petinju sewaktu bertanding. Toole juga mendedahkan cerita-cerita yang mewarnai
dunia tinju profesional seperti masalah penentuan kemenangan yang tidak adil
karena wasit atau juri yang telah menerima suap atau perlakuan tidak
menyenangkan terhadap petinju yang berstatus sebagai lawan. Dalam buku ini kita
juga bisa menemukan cerita tentang petinju yang berbakat dan tidak berbakat,
latihan-latihan untuk mendapatkan kemampuan bermain cantik, atau bahkan,
bermain nakal jika diperlukan.
Buku ini adalah tentang tinju, dan
petinju. Oleh sebab itu, dalam setiap cerita pasti ada karakter petinju yang
Toole munculkan. Membaca ihwal petinju-petinju tersebut kita bisa menebak bahwa
mereka adalah jenis-jenis manusia yang Toole temukan ketika bekerja dalam dunia
jotos legal ini.
Dalam Tampang Siamang, kita
akan bertemu petinju bernama Hoolie Garza, seorang petinju tukang bocor
bertampang siamang yang bertabiat licik. Dalam Yahudi Hitam, Reggie Love
muncul sebagai petinju merah jambu yang akan berubah ganas jika sorot matanya
menjadi dingin. Mookie Bodeen dalam Pertarungan di Philly adalah
karakter petinju doyan perempuan yang memiliki keinginan luhur membelikan rumah
buat ibunya. Toole juga menghadirkan seorang petinju perempuan yaitu Maggie
Fitzgerald dalam Million $$$ Baby. Tidak hanya berani bertinju, karakter
Maggie yang didasarkan pada petinju Juli Crockett -petinju perempuan yang
pernah dilatih Dub Hentley, dengan Toole sebagai cut man dan asisten
pelatih- juga berani mengigit putus lidahnya sendiri. Hoolie, Reggie, Mookie,
dan Maggie adalah petinju yang berkecimpung dalam tinju pro dan mengalami
berbagai peristiwa sebagai konsekwensi dari hasrat mereka untuk menjadi petinju
pro dengan bayaran tinggi.
Dangerous Dillard Fightin Flippo
Bam-Bam adalah pemuda miskin asal Missouri yang tidak berbakat sebagai petinju,
tetapi nekat menempuh jarak 1 minggu perjalanan untuk bisa berlatih tinju.
Dalam Air Beku, dikisahkan bahwa ia berlatih tanding sampai babak belur
dengan seorang petinju yang tidak tahu menggunakan kepalan tangannya, kecuali
kesombongannya. Dalam Sayatan Tali Ring, Toole mengemukakan Puddin Pye,
calon petinju Olympiade yang berpeluang besar mengibarkan namanya di jagat
tinju pro. Dengan kepolosannya yang menyentuh, ia berniat memberikan buah
sulung yang ia peroleh dari tinju pro, 10 juta dolar, kepada ibunya.
Petinju berbakat dan petinju yang
tidak berbakat tetapi nekat bertinju itu berinteraksi dengan berbagai karakter
yang berpapasan dengan hidup mereka. Maka, kita juga akan bersua dengan
beberapa cut man yang memiliki kebiasaan unik: ada yang doyan
makan kue tarcis, ada yang suka seni, dan ada yang gemar memanggil semua
orang dengan sebutan Jackie. Kita juga akan bertemu pelatih tinju yang nelangsa
karena dihadapkan dengan pilihan berat untuk melakukan eutanasia kepada petinju
kesayangannya, pemilik sasana yang menyayangi milik berharganya yang bernama
Lena, dan seorang perempuan yang membuat kacang goreng rendah lemak untuk
petinju yang menyayanginya.
Semua karakter ciptaan Toole
tersebut menghidupkan kisah-kisah yang disulam secara sederhana tetapi sangat
bertenaga. Toole melukiskan semua peristiwa dan karakter-karakter tersebut
dengan mengesankan. Ia adalah penutur yang sabar dan telaten, sehingga tidak
heran ceritanya merentang panjang tetapi tetap bisa dinikmati dengan nyaman.
Bukan berarti semua ceritanya berakhir bahagia. Namun karena ia menggarapnya
dengan enteng dan fasih. Toole dengan pintar menciptakan gambaran karakter
antagonis yang menjengkelkan sehingga kita akan menilai Tampang Siamang
dan Yahudi Hitam sebagai cerita dengan akhir melegakan. Pertarungan
di Philly dan Air Beku akan membuat rawan hati pembaca. Bagaimanapun
kita akan tergugah dengan cita-cita Mookie yang ingin membelikan rumah untuk
ibunya dan membiayai sekolah adik-adiknya. Atau tekad Dillard untuk merebut
gelar juara dunia WBA kelas welter. Lalu, ketika cita-cita dan tekad itu harus
rontok di tengah jalan, sulit rasanya hati kita tidak tersentuh.
Sedangkan Millon $$$ Baby
dan Sayatan Tali Ring menjadi bukti kemampuan Toole menggerakkan
'sembilu cerita' di hati pembaca. Kedua novela ini tampil sangat kuat dan
memukau. Rasanya tidak ada pembaca yang tidak akan bersimpati pada gadis ulet
dan pemberani seperti Maggie Fitzgerald. Simak bagaimana nasib mempermainkan
Maggie, menghalaunya dari dunia yang ia cintai dengan kejam. Kemudian rasakan
bagaimana gejolak hati seorang pelatih ketika harus mengeutanasia sang macushla.
Kita akan menangkap jiwanya yang tertinggal dalam sebuah kamar di sebuah pusat
rehabilitasi. Sedangkan Puddin dalam Sayatan Tali Ring tidak hanya
menjadi kesayangan pelatihnya, tetapi juga pasti menjadi kesayangan pembaca.
Sekali lagi kisah Puddin akan menorehkan perih di hati pembaca. Ada kepuasan
ketika para antagonis berhasil diremukkan, tetapi kepedihan terus terasa sampai
Cannonball tertinggal sendiri sebagai puing dari aksi kekerasan dan akhirnya ia
harus merelakan Lena-nya untuk pamit dari hidupnya yang tinggal menghitung
hari.
Million $$$ Baby yang antara lain didedikasikan Toole kepada
pelatih tinjunya, Dub Hentley, secara tegas membuktikan bahwa Toole berhasil
menciptakan kisah-kisah yang menarik yang sanggup merebut simpati pembaca. Dan
benar, seperti kalimat yang dipetik dari Washington Post bahwa, tidak perlu
mencintai tinju –atau bahkan peduli dengannya- untuk bisa menikmati dan menghargai
kumpulannya ini. Sayangnya, buku ini adalah satu-satunya kumpulan cerita Toole
yang bisa kita baca. Setelah Million $$$ Baby, ia memang sempat menulis
novel berjudul Pound for Pound (2006) yang juga masih berkutat seputar
dunia tinju. Tetapi itu adalah karyanya yang terakhir, yang bahkan baru terbit
sekitar 4 tahun setelah ia meninggal. Pemilik nama asli Jerold Hayden Boyd yang
mengkombinasikan nama tokoh Yesuit abad 16 (Francis Xavier) dan
nama aktor Irlandia (Peter O'Toole) sebagai nama pena untuk memisahkan
kehidupannya di dunia tinju dan dunia tulis-menulis ini meninggal 2 September
2002.
Terjemahan Indonesia Million $$$
Baby terbilang enak dibaca. Mungkin karena dalam berkisah Toole
memanfaatkan bahasa sehari-hari maka penerjemah edisi Indonesia ini tak pantang
menggunakan bahasa lokal seperti belaguk, bokek, hajar bleh,
gile bener, nangis bombay, tepos-pos, atau blewah
diiris-iris. Sayangnya saya tidak bisa memahami arti dari semua kata itu.
Contohnya blewah diiris-iris, meski saya tahu apa itu blewah, saya tidak
paham maksud ungkapan itu.
Akhirnya, salut untuk Banana yang telah menerbitkan sebuah buku yang bisa disebut unik karena mengusung kisah-kisah yang jarang ditemukan dalam fiksi karya penulis Indonesia. Dulu pernah ada fiksi yang berlatar tinju, seperti Opera Jakarta dan Opera Jakarta-Hongkong karya Arswendo Atmowiloto (menggunakan pseudonim Titi Nginung). Tetapi setelah itu belum ada fiksi tentang tinju karya pengarang Indonesia yang menciptakan gaung di dunia buku Indonesia. Atau bisa jadi, tidak ada yang pernah (tertarik) menulis kisah-kisah dari sudut ring seperti karya F. X. Toole yang sangat mengesankan ini.
Bip, bip, bang! Bib, bib, bang!
Catatan: Sebelum meninggal pada tanggal 2 September 2002, F. X. Toole mengatakan kalimat ini : "Doc, get me a little more time, I gotta finish my book".
Judul : Serbuk Bintang Judul Asli : Stardust
Penulis : Neil Gaiman
Penerjemah : Femmy Syahrani & Herman Ardiyanto
Tebal : 256 hlm; 20 cm Terbit: Cetakan 1, Januari 2007
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
KISAH PERBURUAN BINTANG JATUH
Biasanya buku yang bermuatan kisah dongeng diterbitkan untuk pembaca anak-anak. Jika akhirnya buku tersebut bisa diterima segala usia, tentu akan menjadi berkah bagi pengarang dan penerbitnya. Kabarnya, saat pertama dirilis ke pasar, serial tersohor Harry Potter ditujukan untuk pembaca dewasa. Tetapi ternyata serial ini bisa diterima oleh pembaca segala usia. Dan baik pengarang maupun penerbit sudah pasti sukses menangguk uang. Hal ini tentu saja tidak menjadi masalah, karena cerita yang dibentangkan dalam Harry Potter tergolong layak dibaca segala usia.
Stardust karya Neil Gaiman yang dalam bahasa Indonesia diberi judul Serbuk Bintang, lain ceritanya. Seperti Harry Potter, buku ini ditargetkan untuk pembaca dewasa. Tetapi bedanya Stardust memuat unsur-unsur yang membuatnya tidak layak untuk dibaca anak-anak. Stardust memuat kurang lebih dua unsur yang menjelaskan penyebab buku ini mesti diberi label novel/dongeng untuk pembaca dewasa, yakni unsur kekerasan, dan unsur seks. Unsur kekerasan dalam Stardust yang paling menonjol adalah pembunuhan seekor kuda oleh seorang penyihir perempuan yang dilaksanakan dengan sadis. Setelah membunuh kuda tersebut, penyihir ini memancung kepala kuda sampai darah tercurah membentuk kolam darah. Sedangkan unsur seks diceritakan sekitar dua kali. Meski tidak vulgar, dan diterjemahkan dengan baik, tentu saja adegan yang dibeberkan dan juga deskripsi anatomi tubuh perempuan dewasa tidak layak dibaca oleh anak-anak (dan semoga tidak ada anak-anak yang 'kebetulan' membacanya karena melihat sampulnya yang menarik).
Rupanya, Neil Gaiman, sang pengarang, menulis Stardust karena terinspirasi kreativitas pengarang kisah-kisah fantastis seperti C. S. Lewis yang kendati menargetkan pembaca anak-anak, karyanya tetap disukai oleh orang dewasa. Tetapi untuk Stardust tentu saja Neil Gaiman tidak berharap buku yang ia tujukan khusus untuk pembaca dewasa ini terbaca oleh anak-anak yang gemar membaca kisah-kisah fantastis.
Awalnya Stardust diterbitkan dalam bentuk komik untuk pembaca dewasa pada tahun 1997 dengan ilustrasi yang dikerjakan oleh Charles Veiss (namanya bisa ditemukan pada bagian ucapan terima kasih). Pada tahun 1999, Stardust diterbitkan sebagai novel dan mendapat sambutan meriah khalayak pembaca. Neil Gaiman berhasil memenangkan penghargaan prestisius Mythopoeic Award yang kedua kalinya berkat Stardust, yaitu sebagai pemenang novel dewasa terbaik tahun 1999 (tahun sebelumnya novel Neil Gaiman yang berjudul Neverwhere juga memenangkan novel terbaik Mythopoeic Award).
Stardust memang sebuah dongeng yang menawan. Ditulis dengan alur yang menarik, Stardust melibatkan berbagai karakter unik khas dongeng yang mudah untuk dikenang. Tristran Thorn adalah karakter utama dari novel yang dikukuhkan sebagai salah satu buku terbaik versi Publishers Weekly tahun 1999. Sebelum sebuah bintang jatuh dari gugusan bintang Belantik, Tristran adalah seorang remaja biasa, canggung dan pemalu. Ia jatuh cinta pada Victoria Forester sebagaimana setiap pemuda Desa Tembok, tempai ia tinggal. Hingga pada suatu senja musim dingin di bulan Oktober, bintang yang disebutkan tadi jatuh, dan demi cintanya pada Victoria, Tristran mencetuskan janji gegabah, yaitu akan membawakan benda langit tersebut untuk sang gadis. Janji Tristran membuatnya harus meninggalkan Desa Tembok, melewati celah tembok yang selalu dijaga ketat, dan memasuki Negeri Peri.
Bintang jatuh yang dilihat Tristran ternyata dilihat juga oleh pihak lain yang nasibnya sangat tergantung pada bintang tersebut. Pertama, tiga putra penguasa Stormhold yang bersaing untuk mendapatkan posisi penguasa Stormhold ke-82. Mereka adalah Primus, Tertius, dan Septimus. Penguasa Stormhold ke-81 telah melemparkan batu ratna cempaka yang dirangkaikan pada 2 utas rantai perak ke langit dan menghantam bintang senja tersebut sehingga tercampak ke bumi. Batu ratna cempaka itulah yang menjadi lambang kekuasaan Stormhold, sehingga siapa yang mendapatkannya akan menjadi penguasa berikutnya. Kedua, tiga nenek kaum Lilim (ratu penyihir) yang tinggal di hutan. Untuk mempertahankan kehidupan mereka, mereka harus makan jantung bintang. Mereka menjadi semakin renta karena harus berbagi jantung bintang yang jatuh 200 tahun sebelumnya. Setelah melahap sisa bintang yang tinggal sedikit, Lilim tertua menjadi lebih muda dan mendapat tugas untuk mencari bintang jatuh tersebut, untuk diambil jantungnya.
Tristran yang menemukan bintang jatuh pertama kali. Di negeri Peri, bintang jatuh ternyata seorang gadis berambut pirang, berpakaian sutra biru, berkaki patah dan suka marah-marah. Namanya Yvaine. Setelah kena hantaman rantai perak ratna cempaka, ia harus membawa milik penguasa Stormhold itu ke mana ia pergi. Tak berdaya, Yvaine harus mengikuti Tristran yang meretas jalan pulang ke Desa Tembok. Di tengah perjalanan mereka menemukan seekor kuda bertanduk gading yang kemudian dijadikan tumpangan Yvaine yang kakinya patah. Sebenarnya Yvaine tidak mau mengikuti Tristran ke Desa Tembok. Oleh sebab itu, ia mencoba meninggalkan Tristran. Meski Yvaine berhasil meninggalkan Tristran, akhirnya mereka harus bertemu di sebuah penginapan di mulut celah Gunung Perut. Di sini mereka sekaligus berhadapan dengan Lilim yang mengincar jantung si bintang dan Primus yang hendak mengambil batu ratna cempaka yang dibawa Yvaine. Terjadi konflik yang kemudian menyebabkan Primus dan si kuda bertanduk gading tewas. Tristran dan Yvaine berhasil melarikan diri. Tetapi Desa Tembok masih jauh, si penyihir masih berupaya mendapatkan jantung Yvaine dan masih ada satu putra raja yang membutuhkan batu ratna cempaka yang dibawa Yvaine --dan berkewajiban menegakkan hukum-darah Stormhold.
Apakah Tristran akan menginjak Desa Tembok lagi dan mewujudkan keinginan remajanya untuk menikahi Victoria Forester? Bagaimana nasib Yvaine selanjutnya mengingat wujudnya akan berubah begitu memasuki Desa Tembok?
Novel dongeng yang terdiri atas 10 bab (ditambah bab epilog) ini ternyata menyimpan kejutan tak terduga di penghujung kisah layaknya novel-novel biasa. Stardust mau tidak mau menjadi semacam pembuktian jika Neil Gaiman, lelaki kelahiran Inggris yang sekarang tinggal di Minnesota (Amerika Serikat) ini adalah seorang pendongeng modern yang piawai. Selain itu dengan Stardust secara telak Neil Gaiman menegaskan bahwa sebuah kisah dongeng bisa dihadirkan dalam alur yang bernas dan memesona tanpa menyebabkan kebosanan, dan akhirnya bisa diterima dan dinikmati oleh pembaca dewasa.
Neil Gaiman adalah salah satu penulis prolifik yang menulis berbagai karya meliputi prosa, puisi, komik, lirik lagu, drama, film dan jurnal. Selain Stardust (novel dewasa), Coraline (novel anak), dan Neverwhere (novel dewasa) yang telah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Neil Gaiman juga telah menghasilkan karya seperti American Gods (novel), Anansi Boys (novel), Sandman (novel grafis), The Day I Swapped My Dad For Two Goldsfish (cerita anak), Smoke and Mirrors : Short Fictions and Illusions, dan Good Omens (bersama Terry Pratchett). Neil Gaiman juga telah memenangkan berbagai penghargaan seperti Hugo, Nebula, World Fantasy, Bram Stoker, Locus, British Fantasy, British SF, Geffens, International Horror Guild, dan Mythopoeic seperti disebutkan sebelumnya. Beberapa di antaranya diperoleh lebih dari 1 kali.
Membicarakan Stardust edisi Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tentu saja tidak bisa mengabaikan upaya kedua penerjemahnya, Femmy Syahrani dan suaminya, Herman Ardiyanto. Mereka bisa dikatakan berhasil menyajikan karya Neil Gaiman ini ke dalam bahasa Indonesia dengan penuh pesona. Femmy Syahrani, sebagai penerjemah utama buku ini, memang telah menghasilkan beberapa karya terjemahan yang telah meramaikan dunia buku Indonesia. Hasil terjemahannya antara lain Tsotsi (Bentang Pustaka, 2006), To Kill a Mockingbird (Qanita, 2006), dan The Remains of The Day (Hikmah, 2007). Apapun komentar pembaca lain, saya harus mengakui bahwa Femmy Syahrani adalah salah satu penerjemah terbaik di Indonesia saat ini.
Judul Buku: The Magdalen Penulis : Marita Conlon-McKenna
Penerjemah : Retno Wulandari
Penyunting : Yus Ariyanto
Tebal : 536 hlm; 11 X 18 cm
Terbit : Cetakan 1, Maret 2007
Penerbit : Dastan Books
MAGDALEN, SEBUAH DUNIA KORBAN LELAKI
Membaca
judul novel ini pembaca mungkin akan teringat pada sosok Maria Magdalena (Mary
Magdalene). Magdalen di sini adalah nama tempat, yaitu rumah penampungan untuk
berbagai perempuan yang dianggap liar dan nakal. Nama Magdalen digunakan
berdasarkan anggapan bahwa Maria Magdalena adalah pendosa yang bertobat.
Magdalen, lengkapnya Holy Saints Magdalen, memiliki usaha binatu yang
mempekerjakan perempuan-perempuan yang dibuang ke tempat ini. Umumnya mereka
yang dicampakkan di Magdalen adalah perempuan muda yang hamil di luar nikah.
Bisa saja karena hubungan cinta yang tidak sehat, menjadi korban inses, korban
perkosaan, atau karena melacur. Karena hamil di luar nikah, mereka dipandang
kotor. Di Magdalen mereka akan menghabiskan waktu mencuci tumpukan pakaian dan
kain kotor, seakan-akan mereka tidak ada bedanya dengan apa yang mereka cuci.
Seperti mereka mencuci sandang kotor hari demi hari, diharapkan mereka dapat
mencuci dosa-dosa mereka. Karena mereka dipandang kotor, para pengelola
Magdalen memperlakukan mereka dengan kejam. Mereka, yang dijuluki maggie, harus bekerja hampir
setiap hari, kecuali hari Minggu. Mereka tidak mendapatkan gaji selain
diberikan makanan sekadarnya, sekalipun mereka dalam keadaan hamil. Setelah
menguras tenaga di antara air, tumpukan kain kotor, dan sengatan
peroksida, upah mereka adalah penebusan dosa dan pengampunan Tuhan. Tak pelak,
mereka menjadi korban kesalahan persepsi tentang penebusan dosa dan pengampunan
Tuhan.
Marita Conlon-McKenna menghadirkan Esther Doyle sebagai tokoh
utama novel. Penulis Irlandia yang terkenal sebagai novelis dengan debut
berjudul Under the Hawthorne Tree
ini menuturkan The Magdalen
sebagian besar menggunakan teknik kilas balik. Cerita dimulai tahun 1952, menyusuri
peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Esther Doyle bertahun-tahun sebelumnya,
kemudian kembali lagi di tahun 1952. Selengkapnya berlatar tahun 1944 sampai
1952.
Esther Doyle adalah perempuan muda Connemara dari keluarga
nelayan. Ia merupakan anak ketiga dari 6 bersaudara. Satu-satunya anak
perempuan , sebelum adiknya, Nonie, lahir pada tahun 1944. Nonie hampir mati
ketika dilahirkan, dan Esther lah yang menyelamatkannya. Tetapi ternyata
kelahiran Nonie menjadi awal tragedi dalam kehidupan keluarga Doyle. Nonie
lahir sebagai anak dengan mental terbelakang. Dermot Doyle, kepala keluarga
tewas ketika melaut. Esther meninggalkan sekolah pada usia 14 tahun. Puncaknya,
Nonie tewas di rawa dan Esther menemukan dirinya hamil gara-gara hubungannya
dengan Conor O'Hagan. Con tidak mau menikahi Esther karena ia harus menikahi
Nuala McGuinness, bosnya.
Ibu Ester, Majella, adalah orang yang paling tidak menghendaki
kehamilan Esther. Oleh karena itu Esther setuju untuk dibawa ke Dublin, menjadi
salah satu maggie di Magdalen.
Ia tidak tahu Magdalen akan menambahkan penderitaan dalam hidupnya.
Di Magdalen, ia bertemu dengan berbagai perempuan, tua dan
muda. Umumnya mereka hamil di luar nikah, anak yang mereka lahir direnggutkan
dari mereka secara paksa dan mereka menghabiskan waktu sebagai pekerja binatu.
Tina, seorang remaja yang mengandung anak ayah kandungnya. Rita, seorang
pelacur, yang tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan liarnya meski
berada di Magdalen. Sheila, korban cinta pria Amerika beristri yang meninggalkannya
dalam keadaan hamil. Maura, perempuan paruh baya yang menikah di usia 18 tahun,
dituduh membunuh anak ketiganya dan dibuang di Magdalen. Detta, perempuan tua
yang telah menghabiskan waktunya selama 50 tahun di Magdalen, diusir dari rumah
ayahnya ketika hamil dengan seorang pria yang tidak pernah mengetahui
kehamilannya. Selain mereka masih ada maggie
lain seperti Bernice, Kathleen, Joan, Saranne dan Helen --anak-anak maggie
terdahulu, juga tiga Mary yang mentalnya terbelakang.
Esther bergaul dengan perempuan-perempuan itu. Merasa senasib.
Merasa senang ketika Rita berhasil melarikan diri setelah mengambil anak
kandungnya. Merasa sedih ketika Detta meninggal tanpa pernah keluar dari
Magdalen sebagai perempuan merdeka. Esther kemudian melahirkan, dan anaknya
dipisahkan darinya.
Ketika Esther dijemput bibinya, Patsy O'Malley, untuk
pulang ke Connemara, Esther mengetahui masa lalu ibunya yang telah memengaruhi
keputusan sang ibu untuk menjauhkan Esther dari rumah sebelum ia melahirkan
anaknya. Tetapi itu tidak menghentikan niat Esther untuk memulai jalan hidupnya
yang baru, jauh dari Connemara, jauh dari masa lalu yang suram.
The Magdalen
adalah kisah tentang perempuan korban laki-laki yang terpaksa harus sendiri
merasakan penderitaan ketika dunia di sekitarnya tidak bisa menerima
keadaannya. Pada waktu kisah dalam novel ini berlangsung, kehamilan di luar
nikah menjadi salah satu hal yang luar biasa memalukan, apa pun penyebabnya.
Tidak dapat dihindarkan, perempuan menjadi korban. Dalam keadaan tak berdaya,
mereka dibawa ke tempat fanatisme keagamaan yang salah kaprah memegang peran
utama. Mereka harus menderita untuk bisa diterima kembali lagi oleh masyarakat,
itupun kalau masyarakat masih mau menerima. Tidak semua memiliki kemampuan
melawan nasib. Bahkan ada di antara mereka yang menganggap penderitaan adalah
bagian kehidupan yang harus dijalani seumur hidup. Esther memang tidak seberani
Rita. Tetapi ia tidak mau terpuruk menua tanpa harapan di tempat perempuan
kehilangan kemerdekaan karena pandangan sempit penuh penghakiman yang tanpa
ampun. Ia tidak ingin menjadi Maura, atau Detta, yang tidak bisa melepaskan
diri lagi dari cengkeraman kesuraman Magdalen.
Oleh Marita Conlon-McKenna, The
Magdalen dibentangkan dalam alur cerita yang mengalir tanpa
kerumitan. Konflik yang disulamnya lebih terpusat pada diri Esther Doyle, dan
dikendalikan dengan cermat supaya pembaca bisa fokus pada perasaan dan
perjuangan perempuan yang diwakili sosok ini. Konflik tersebut menjadikan
kisahnya menyentuh hati, dan akhirnya, di puncaknya, akan menghangatkan hati
siapa saja yang membacanya.
Marita Conlon-McKenna
Meski ditulis oleh pengarang perempuan dan
berkisah tentang perempuan tidak berarti The
Magdalen hanya layak dikonsumsi perempuan. Sesungguhnya kisah ini
hadir sebagai gugatan yang diarahkan pada laki-laki. Magdalen, tempat penampungan
perempuan yang dikukuhkan sebagai perempuan liar dan nakal ini tentu saja
tidak akan ada jika tidak ada perempuan yang menjadi korban laki-laki -apakah
karena hubungan inses, hubungan cinta biasa, perkosaan, bahkan pelacuran. Dan
pada gilirannya, tidak akan ada perempuan yang mengalami penderitaan di tempat
itu. Makanya, laki-laki juga perlu membaca buku ini untuk lebih bisa memahami
bagaimana rasanya menjadi pihak yang 'kalah' dan terbuang sebagai produk
dari sebuah hubungan lelaki-perempuan.
Judul :
Ocean Sea
Judul Asli : Oceano Mare
Penulis : Alessandro Baricco
Penerjemah : Nadiah Alwi
Penyunting: Yus Ariyanto
Terbit : cetakan 1, September 2006
Tebal : 436 hlm ; 11 X 18 cm
Penerbit : Dastan Books
MUSIK, FILSAFAT, DAN CINTA
Alessandro
Baricco adalah salah satu nama yang berkibar di jagat sastra Italia dan Prancis.
Lelaki kelahiran Turin, Italia, 25 Januari 1958 yang dikenal sebagai penulis,
sutradara dan seorang performer ini telah mendapatkan penghargaan sastra
seperti Selezione Campiello, Viareggio, dan Palazzo al Bosco
dari Italia dan Prix Medicis Estranger dari Prancis. Lelaki yang juga
kritikus musik ini memulai kreativitasnya sebagai novelis lewat novel berjudul Castelli
di Rabia (Land of Glass, 1991). Selanjutnya dari talenta literernya
lahir Oceano Mare (Ocean Sea, 1993), Seta (Silk,
1996), City (1999), Senza Sangue (Without Blood, 2002),
dan Questa Storia (This Story, 2005). Monolognya, Novecento:
Pianist (1994) telah difilmkan oleh Giuseppe Tornatore dengan judul La
leggenda del pianista sull'oceano pada tahun 1998. Novel yang melambungkan
namanya, Silk, telah difilmkan oleh New Line Cinema, disutradarai
Francois Girard dengan pemeran utama Michael Pitt dan Keira Knightley dan akan
beredar tahun 2007 ini.
Dalam novelnya, Alessandro Baricco memiliki gaya tersendiri. Dengan basis
filsafat dan musik yang ia miliki, tak pelak, novelnya hadir bak asimilasi
antara filsafat dan musik dalam komposisi yang genial, tetapi rumit. Sehingga,
mungkin, tidak dapat diresepsi oleh semua kalangan.
Ocean Sea adalah sebuah bukti. Novel ini menjangkau jauh ke
relung-relung filsafat dan mencuat sebagai karya bernuansa musikal dengan
intensitas improvisasi yang tinggi. Nada-nadanya tidak datar, tetapi
meliuk-liuk penuh gairah, hadir sebagai campuran antara prosa, puisi, monolog,
surat, bahkan potongan teks drama. Hal inilah yang menjadi kekuatan kreativitas
literer seorang Alessandro Baricco. Bahasanya indah, kaya raya, dan gurih. Satu
frase akan mencetuskan frase lain, satu klausa akan memicu klausa lain, satu
kalimat akan melahirkan kalimat yang lain, susul menyusul bagaikan mengalami
efek domino.
Ocean Sea,
sebuah tamasya literer yang elok, adalah sebuah novel yang mendedahkan kehidupan
manusia. Ada 3 jenis kehidupan manusia seperti yang dikatakan seorang pelaut
tua melalui narasi seorang lelaki bernama Thomas. Pertama, mereka yang
hidup di depan laut --mereka yang memandang kebenaran sebagai ketenangan,
rahim, ringan, rasa belas kasihan, dan keindahan. Kedua, mereka yang
menjelajahi laut, tempat sesuatu yang nyata di dunia berada. Di sini kebenaran
yang sesungguhnya mengangakan mulutnya, membangun sarang; lokasi burung elang
pemangsa terbang dengan gagah dan bengis. Sangat jauh berbeda dari pandangan
manusia jenis pertama. Ketiga, mereka yang kembali dari laut dalam
keadaan hidup. Mereka yang telah melihat kebenaran yang sesungguhnya, selamat
dari pertarungan, menjadi bijaksana, tetapi sebagai veteran laut, mereka akan
senantiasa memikul rasa takut, dan terutama rasa sedih dalam kehidupan
selanjutnya.
Berdasarkan 3 jenis manusia inilah, Baricco membagi novelnya dalam 3 bagian.
Bagian pertama, Penginapan Almayer ; bagian kedua, Rahim Laut;
bagian ketiga Nyanyian Mereka yang Kembali. Ketiga bagian novel ini
menjabarkan 2 buah kisah yang dipertautkan secara tidak biasa.
Pertama, kisah kehidupan manusia yang bisa diidentikkan dengan
perjalanan manusia mengenal, menjelajah, dan meninggalkan laut, yakni kehidupan
manusia yang sebenarnya. Kedua, kisah kehidupan manusia yang benar-benar
mengenal laut, kemudian menjelajahinya dan kembali dalam keadaan hidup. Anehnya
--atau uniknya-- kedua kisah ini dipertautkan melalui salah satu tokoh.
Kisah pertama mendedahkan kehidupan 5 manusia dalam mencari jawaban
permasalahan hidup yang mereka alami. Mereka bertemu di sebuah penginapan tepi
pantai di Quartel, yakni Penginapan Almayer yang --anehnya-- dikelola oleh 5
anak kecil; Dira, Dood, Ditz, Dol, dan seorang gadis kecil cantik tanpa nama.
Mereka adalah:
Plasson,
seorang pelukis wajah terkenal. Ia meninggalkan pekerjaannya, menjual
hartanya dan pergi ke Almayer untuk melukis laut. Karena terbiasa melukis
wajah dan selalu diawali dari bagian mata, ia harus menemukan
"mata" laut terlebih dahulu untuk bisa melukis laut. Setelah
mata laut ditemukan, yakni kapal-kapal, Plasson bisa melukis laut yang
hasilnya didominasi warna putih. Sama sekali putih, sama sekali putih,
sama sekali putih, adalah deskripsi utama lukisan laut karya Plasson.
Ismael
Adalante Ismael Prof Bartleboom,
seorang profesor. Ia sedang dalam proses penyelesaian ensiklopedia yang
berjudul "Ensiklopedia Batas yang Ditemukan pada Alam bersama
Lampiran yang didedikasikan bagi Batas Panca Indera Manusia".
Setelah menulis 872 entri, ia akan menambahkan entri tentang laut. Oleh
sebab itu, ia pergi ke Almayer untuk mencari batas laut. Selain itu,
Bartleboom juga menulis ratusan surat cinta yang disimpannya dalam sebuah
kotak mahoni untuk kekasih yang belum ada.
Ann
Deveria, istri walikota Charbonne. Ia tumbuh
bersama seorang ayah pembunuh yang membenci dengan matanya. Oleh karena
itu Ann mencari suami yang bermata teduh. Tetapi ketika seorang asing
datang dan tinggal di kotanya, ia jatuh cinta lagi. Rupanya pria itu
bermata teduh --atau bermata sedih tepatnya (ada alasan saya mengatakan
demikian). Ann dikirim suaminya ke Almayer untuk menyembuhkan penyakit
suka berzinanya.
Elisewin,
gadis remaja, putri bangsawan Carewell. Ia mengidap penyakit misterius,
dan atas anjuran dokter, ia pergi ke Daschenbach untuk mandi ombak guna memulihkan
penyakitnya. Dalam perjalanan ke Daschenbach, ia singgah di Almayer.
Bapa
Pluche, seorang pastur. Bapa Pluche telah
merawat Elisewein sejak anak-anak dan ialah yang mendampingi gadis itu
pergi ke Daschenbach. Sebagai pastur, Bapa Pluche telah menulis sebanyak
9502 doa permohonan. Salah satu doanya berjudul "Doa untuk Dokter
yang Menyelamatkan seorang Cacat dalam Sekejap sehingga Ia Dapat Berdiri,
Sembuh, dan Sang Dokter Merasa Sangat Lelah".
Alessandro Baricco
Di bagian pertama novel
mereka bertemu di Almayer, membangun interaksi satu sama lain dengan kadar
tertentu. Di sini kelima insan ini menemukan "rahim laut" kehidupan
mereka sendiri. Ada yang tertinggal di sana, ada yang kembali dalam keadaan hidup,
dan ada yang mati. Plasson tidak meninggalkan Quartel. Ia meninggal karena
pneumonia akibat sering melukis sampai basah kuyup di laut. Bartleboom
meninggalkan Almayer, tetapi ia tidak menemukan apa yang ia damba dalam hidup.
Elisewin menemukan pemulihan penyakitnya dalam 'gelora laut' seorang lelaki
asing yang datang ke Almayer, seorang mantan pelaut berwajah sedih. Elisewin
meninggalkan Almayer dengan optimis. Bapa Pluche kembali ke Carewell setelah
hatinya sempat terbelah empat. Sebetulnya ia ingin kembali ke penginapan
Almayer, tetapi pertanda yang ia minta dari Tuhan terjadi di jalan Quartel. Ia
tidak bisa mengambil koper yang sengaja ia tinggalkan di sana karena terjadi
longsor di Quartel yang akhirnya menyebabkan Almayer hilang selamanya. Ann
Deveria lah sosok yang menautkan 2 kisah novel ini. Dalam dirinya 2 perjalanan
bertemu. Perjalanan ke dalam laut kehidupan dan perjalanan dalam laut yang
sebenarnya, yaitu perjalanan yang berawal dari peristiwa yang terjadi di
perairan Afrika.
Dalam sebuah ekspedisi menemukan koloni baru, kapal Alliance karam di
pesisir Senegal. Setiap penumpang berupaya menyelamatkan diri sendiri. Sebuah
rakit tercerai dari sekoci penyelamat, memicu pertarungan hidup dan mati di
atas hamparan laut. Seorang lelaki bernama Thomas selamat dari pertarungan
tersebut. Tetapi Therese, kekasihnya, tewas dibunuh. Kisah Thomas digelar dalam
bagian kedua novel berbarengan dengan kisah Savigny, seorang dokter, yang
adalah pembunuh Therese. Thomas melarikan diri dari rumah sakit, membawa pisau
yang akan menuntaskan dendamnya. Perjalanan Thomas yang panjang menuntunnya ke
Almayer. Satu-satunya yang Thomas kehendaki adalah posisi seri dalam
kehidupannya dan kehidupan target dendamnya.
Kedua cerita disatukan pada bagian ketiga novel yang mengejutkan. Tetapi
sebelum novel berakhir, menjelaskan pertanda yang Bapa Pluche dapatkan sesuai
doa permohonannya dan nasib penginapan Almayer, pria tua penghuni kamar ketujuh
yang menghabiskan waktu dalam kamar mengucapkan kata laut, untuk pertama
kalinya menampakkan dirinya di pantai. Siapa laki-laki ini? Tidak jelas. Tetapi
bisa jadi penulis novel ini, yaitu Alessandro Baricco sendiri. Atau, kita,
sebagai pembaca novel. Makanya begitu laki-laki itu pergi -- bagaikan
penulis/pembaca yang selesai menulis/membaca novel, Almayer pun menghilang pada
lembaran terakhir novel.
Ocean Sea yang menggunakan latar zaman bangsa Eropa mencari
wilayah jajahan ini memang hadir sebagai sebuah karya yang aneh. Aneh, tetapi
sekaligus cantik, memukau. Ia menari-nari dalam gerak filosofi, hadir realistis
dengan kisah cinta dan pembalasan dendam, tetapi juga memberikan sentuhan magis
dalam aura dongeng yang tidak dapat dijelaskan. Siapa sesungguhnya 5 anak
pengelola Penginapan Almayer? Siapa pula tepatnya lelaki penghuni kamar ketujuh?
Oleh karena itu kita mungkin akan sepakat ungkapan yang menyatakan bahwa Ocean
Sea adalah, "Dongeng bagi orang dewasa yang paham bahwa sejumlah
rahasia tak akan pernah terungkap..." (Booklist).
Tidak semua pengarang bisa menghasilkan karya seperti Ocean Sea.
Bukan sekedar karena setiap pengarang memiliki gayanya masing-masing.
Tetapi tidak semua pengarang bisa menghadirkan novel bak komposisi musik yang
rumit sekaligus indah. Makanya, Ocean Sea dapat dikatakan sebagai
sebuah tour de force seorang Alessandro Baricco, produk talenta dan
imajinasi yang tidak biasa.
Ocean Sea yang diterbitkan oleh Dastan Books ini diterjemahkan
langsung dari buku aslinya yang ditulis dalam bahasa Italia, Oceano Mare,
oleh Nadiah Alwi. Hasil terjemahannya terkesan sangat apik dan agaknya
mengikuti 'gelora' seperti yang dikehendaki Alessandro Baricco. Kabarnya
sebelum bisa diterbitkan dalam edisi Indonesia secara resmi, naskah hasil
terjemahan Nadiah Alwi harus melewati review pihak Alessandro Baricco
terlebih dahulu. Tidak jelas apakah pihak Baricco bisa memahami bahasa
Indonesia, tetapi langkah itu harus ditempuh supaya Ocean Sea bisa
dihadirkan di dunia buku Indonesia. Dan rasanya sayang sekali jika kita luput
menikmati sajian sastra seindah novel ini.
Judul
buku :RAHASIA SANG KOKI
Judul Asli : PEQUENAS INFAMIAS
Diterjemahkan dari : LITTLE INDISCRETIONS
Penulis : Carmen Posadas
Penerjemah : Lina Susanti
Penyunting : Wendratama
Terbit : cetakan 1, Februari 2007
Tebal : X + 330 hlm; 20,5 cm
Penerbit : PT Bentang Pustaka
SEBUAH TRAGEDI KULINER
Banyak penulis yang memanfaatkan unsur kebetulan sebagai
fondamen estetika untuk menghasilkan karya fiksi. Kebetulan demi kebetulan
diinsersikan ke dalam alur cerita sehingga membentuk bangunan cerita yang
diinginkan. Tetapi bukan berarti dengan keberadaan unsur kebetulan lalu
menyebabkan karya tersebut menjadi basi atau kehilangan greget. Karena pada
dasarnya, kebetulan itu sendiri mencerminkan kehidupan yang apa adanya.
Bukankah hidup seringkali terbangun dari serangkaian kebetulan? Kebetulan demi
kebetulan sering kita alami dalam perjalanan kehidupan, sehingga jika ada yang
protes atas unsur kebetulan yang digunakan oleh pengarang untuk memintal
ceritanya, tentu tidak sepenuhnya bisa diterima. Oleh karena itu seorang
pengarang haruslah bisa mengolah unsur kebetulan sedemikian rupa sehingga
pembaca dapat menikmatinya sebagai suatu kewajaran.
Salah satu pengarang yang berhasil menggunakan trik ini adalah Carmen Posadas
dengan novelnya yang berjudul Pequenas Infamias (1998), sebagai gebrak
keduanya dalam menulis novel dewasa. Sebelum Pequenas Infamias,
Carmen Posadas telah menerbitkan sebuah novel dewasa bertajuk Cinco Moscas
Azules (The Last Resort) pada tahun 1996. Perempuan berdarah Uruguay yang
sekarang telah menjadi warga negara Spanyol ini memulai karir kepenulisannya
pada tahun 1980. Ia kemudian dikenal sebagai pengarang novel anak-anak
seperti Kiwi (1984), Maria Celeste (1993)
dan Liliana, Bruja Urbana (1995). Pequenas Infamias
yang memenangkan penghargaan sastra Planeta Prize tahun 1998
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Little
Indiscretions. Rahasia Sang Koki yang diterbitkan oleh Penerbit
Bentang Pustaka ini diterjemahkan dari Little Indiscretions.
Awalnya ada indikasi
jika Rahasia Sang Koki akan hadir sebagai kisah misteri
detektif dengan tokoh detektif seperti produk fantasi Agatha Christie; Hercule
Poirot atau Miss Marple. Tetapi ternyata tidak. Novel ini memang berselubung
aura misteri, tetapi tidak mencapai skala misteri detektif. Cerita berawal
sekaligus berakhir pada hari yang sama terjadinya kematian karakter penting
dalam novel. Dan untuk membuat cerita menjadi panjang sehingga bisa disuguhkan
sebagai novel, Carmen Posadas menggunakan teknik kilas balik untuk mendedah
musabab kematian karakter tersebut dalam nuansa dramatikal.
The Lilies, sebuah rumah pedesaan tepi pantai di Malaga, 29
Maret 1998. Nestor Chaffino, lelaki tua pemilik usaha katering Mulberry &
Mistletoe, yang terkenal dengan makanan penutupnya, terjebak dalam sebuah
ruangan pendingin. Ia sedang mengatur truffle cokelat sisa makan
malam yang baru selesai dilaksanakan ketika pintu ruang pendingin tertutup di
belakangnya. Tidak ada yang menolong membukakan pintu untuk Nestor, sehingga
lelaki tua yang sesungguhnya mengidap kanker paru-paru ini tewas dalam
kebekuan.
Karel Pligh, salah satu karyawan Nestor, mantan binaragawan Ceko yang pernah
bercita-cita jadi penyanyi Latin menemukan Nestor. Teriakannya menyentak semua
orang yang menginap di The Lilies. Carlos Ricardo adalah orang yang
pertama menanggapi teriakan Karel, kemudian disusul secara malas-malasan oleh
empat orang lainnya.
Carlos Ricardo adalah mahasiswa hukum tahun pertama yang bekerja sebagai
pramusaji paruh-waktu di Mulberry & Mistletoe. Ia adalah teman baik Nestor
dan sudah dianggap Nestor sebagai anak sendiri. Carlos mewarisi flat Nomor 38
Calle de Almagro dari neneknya, Teresa. Kedua orang tuanya telah meninggal.
Ibunya meninggal di Argentina pada tahun 1982 ketika Carlos berusia 4 tahun
sedangkan ayahnya meninggal bertahun-tahun kemudian setelah ibunya. Dua minggu
sebelum kematian Nestor ini, Carlos bersama Nestor mengunjungi Madame
Longstaffe, seorang paranormal untuk mendapatkan ramuan cinta yang akan membantu
Carlos menemukan gadis berambut pirang platina yang ia lihat dalam lukisan di
flat neneknya. Tetapi justru Madame Longstaffe menampak sesuatu dalam diri
Nestor. Madame Longstaffe mengingatkan Nestor bahaya ruangan pendingin, truffle
cokelat, resep makanan penutup, dan buku catatan kecil berlapis kain.
Menurut si paranormal, meski Nestor mengidap kanker paru-paru, ia tidak perlu
takut sampai ada 4 T bersekutu menentangnya. Tentu saja Nestor tidak
menghiraukan peringatan perempuan ini.
Ramuan cinta 4 tetes di malam purnama milik Madame Longstaffe ternyata
dengan cepat disingkirkan oleh Carlos. Carlos terlibat hubungan cinta dengan
seorang perempuan gaek, Adela Teldi. Hubungan ini berawal ketika Adela
datang ke Mulberry & Mistletoe, bermaksud bertemu Nestor untuk mengatur
masalah katering acara makan malam yang akan dilaksanakan keluarga Teldi bagi
kolektor seni di The Lilies.
Adela Teldi adalah mantan model yang telah lama menjadi istri
Ernesto Teldi tetapi tidak bisa melepaskan diri dari jerat petualangan
ekstramaritalnya dengan berbagai laki-laki. Ia selalu berusaha tampil cantik di
usia rentanya. Meski berusaha mengenyahkan, Adela tidak dapat melupakan
kenangan masa lalu di Argentina ketika ia berselingkuh dengan adik iparnya yang
menyebabkan adik perempuannya bunuh diri.
Ernesto Teldi adalah seorang agen seni terkenal dan seorang filantrop
yang telah mendirikan sekolah bagi anak-anak terlantar dan memberikan
beasiswa untuk seniman berbakat. Di masa lalunya, Ernesto terlibat dalam
perdagangan di pasar gelap Argentina. Ia memiliki andil pada peristiwa
pembunuhan tahanan-tahanan politik di Argentina pada tahun 1976.
Keluarga Teldi juga mengundang Serafin Tous, seorang hakim kenalan dekat Adela,
untuk hadir di acara makan malam yang mereka adakan. Hakim yang pernah menjadi
guru piano di masa lalunya ini adalah seorang duda dengan kecenderungan
pedofilia. Ia bertandang ke Freshman's, tempat ia bisa memilih anak lelaki
tampan yang disukainya untuk dijadikan teman kencan.
Setelah acara makan malam, Adela, Ernesto, dan Serafin diserang insomnia.
Mereka sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat masa lalu mereka tidak
menjadi bumerang yang menghancurkan. Penyebabnya adalah Nestor, si koki
berkumis meruncing mengetahui rahasia mereka bertiga.
Tetapi ternyata masih ada juga yang diserang insomnia malam itu. Chloe Trias,
kekasih Karel. Perempuan ini sebetulnya berasal dari keluarga kaya. Dia lari
dari rumah dan membantu Karel bekerja di Mulberry & Mistletoe. Chloe tidak
bisa bertahan di rumah setelah Oedipus atau Eddie, kakak laki-laki semata
wayangnya tewas kecelakaan. Eddie meninggal 7 tahun sebelumnya tanpa pernah
berhasil merealisasikan mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Chloe,
perempuan dengan cincin di bibir bawah dan tindikan di lidah ini tidak bisa melupakan
Eddie. Baginya, hidup tidak bersikap baik, mencuri apa yang ia cintai,
mengkhianatinya, dan memasang jebakan-jebakan. Chloe sangat tertarik pada
cerita-cerita Nestor dan menerima kebohongan kecil Nestor yang mengatakan bahwa
koki ini menulis kisah-kisah rahasia memalukan orang-orang terkenal yang pernah
menjadi bosnya sebelum membuka usaha sendiri dalam buku catatannya yang
bersampul kain.
Nestor memang menulis rahasia-rahasia dalam buku catatannya, tetapi bukan
seperti yang Chloe kira. Dalam buku itu Nestor menulis
ringkasan-ringkasan kecil rahasia kulinernya yang diberi judul Little
Indiscretion, membocorkan rahasia membuat makanan penutup yang tidak akan
dilakukan oleh para koki terkenal lainnya. Nestor menuliskan trik-trik
membuat Ile flottante, mousse cokelat, oeufs
intacts, sorbet, gelati, dan souffle pistachio. Secara
bersamaan Nestor juga mengirimkan rahasia kulinernya kepada teman lamanya
sewaktu ia bekerja di Argentina, Antonio Reig. Dengan harapan,
tulisan-tulisannya bisa diterbitkan oleh Antonio setelah ia mati.
Tetapi di The Lilies, rumah sarang kecoak, tempat kecoak menyambut pengunjung
rumah sambil melambaikan antenanya persis di keset pintu depan, nasib Nestor
sebagai koki dengan kemampuan gastronomi yang tangguh telah ditentukan. Ia mati
dalam usaha terakhir memecahkan misteri 4 T yang bersekutu melawannya, pada
suhu 30 derajat di bawah nol.
Sekarang, apa sebenarnya 4 T yang diramalkan Madame Longstaffe? Siapa
sebenarnya yang bertanggung jawab atas kematian Nestor Chaffino? Kedua
pertanyaan ini akan dijawab tuntas dalam bab-bab terakhir novel yang
mencengangkan.
Rahasia Sang Koki (Little Indicretions)
dibagi Carmen Posadas dalam 4 bagian besar dengan judul-judul Tiga
Puluh Derajat di Bawah Nol, Enam Hari di Bulan Maret, Malam Sebelum
Keberangkatan, dan Permainan Cermin. Seperti yang diungkapkan
sebelumnya, cerita dijabarkan dengan mengandalkan teknik kilas balik. Teknik
ini sangat sesuai mengingat pengarang hendak membongkar misteri penyebab
kematian Nestor yang berkaitan dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Oleh karena
itu, pembaca digiring ke saat sebelum acara makan malam, saat berlangsungnya
acara makan malam, dan waktu pintu ruangan pendinginan tertutup di belakang
Nestor setelah acara makan malam berakhir. Pada bagian akhir, Carmen
Posadas mendedahkan motif terdalam yang ada di benak si pembunuh sehingga
ia mengabaikan seruan permintaan tolong Nestor.
Teknik kilas balik yang digunakan Carmen Posadas memang memperkuat cerita,
tetapi menimbulkan inkosistensi karena ia menggunakan tahun tertentu
untuk menjelaskan latar. Sebagai contoh pada halaman 71 dikatakan bahwa, "Lima
belas tahun kemudian, neneknya (nenek Carlos) meninggal".
Cerita ini berlatar tahun 1998 (halaman 33). Kalimat tadi dibubuhkan setelah
uraian yang terjadi pada April 1986, ketika Carlos mengunjungi neneknya untuk
kedua kalinya, saat ia berumur 8 tahun dan melihat untuk kedua kalinya lukisan
perempuan berambut pirang platina. Jika demikian, berarti neneknya meninggal
tahun 2001. Dan setelah 15 tahun seharusnya Carlos pada tahun 1998 telah
berusia lebih dari 23 tahun. Padahal jika tahun 1986 ia berusia 8 tahun, waktu
Nestor tewas Carlos seharusnya berusia 20 tahun. Dikatakan juga pada usia 20
tahun, Carlos sudah 3 kali menjadi mahasiswa hukum tahun pertama (karena lebih
senang berada di bioskop daripada di kelas). Kalau membaca halaman 73, usia
Carlos saat cerita terjadi sekitar 20 tahun, sedangkan pada halaman 147
disebutkan usianya 21 tahun.
Meskipun demikian, secara keseluruhan Carmen Posadas berhasil melakukan
persenyawaan semua unsur kebetulan yang ia miliki secara indah, mengejutkan,
nakal, jenaka dan juga sensual. Semua cerita dirangkai secara atraktif dengan
mempermainkan berbagai karakter yang menawan sesuai peranannya masing-masing, yang
membuat mereka sulit dilupakan. Nestor, si koki berkumis lancip yang selalu
berusaha bersikap bijaksana; Marlene Longstaffe, peramal asal Brasil yang
memiliki wajah dengan 2 aspek berbeda -bayangkan, Gunilla von Bismarck dan
Malcom McDowell; Serafin Tous, si rambut cepak yang mengapresiasi saus mousseline
Nestor dengan baik; Adela, si Hecate di balik kosmetik dan dandanan
modis dengan rasa tertusuk berbahaya di jempolnya; Ernesto, si rambut palsu
petah lidah yang tidak menyukai angka 33, lalu Carlos si ikal berkulit pucat
yang terobsesi perempuan dalam lukisan; Karel si mantan binaragawan berdarah
Ceko dengan lagu dan joget El son montuno-nya; Chloe, si mata biru
dengan cincin, tindikan, dan tangan imajinernya, mousse cokelat dari
cokelat yang sangat pahit dengan rasa mint yang terlalu pedas; pemilik
tulisan bertinta hitam seperti sederetan burung betet di seutas kawat yang
tidak diekspos secara gamblang. Semua latar belakang karakter diungkap dengan
baik untuk menyemarakkan kisah tentang kegembiraan yang direnggutkan,
kecurigaan yang bersitumbuh dari rasa bersalah dan semburat ketidakwarasan yang
tenang tetapi berbahaya di antara gurihnya makanan penutup, gelora sensualitas
yang rapuh, dan panorama sinema eksotis Pedro Almodovar.
Mereka, para karakter ciptaan Carmen Posadas, bagaikan bahan masakan yang
diracik menjadi campuran makanan misteri yang lezat cita rasanya menggunakan
resep rahasia Carmen Posadas, little indiscretions-nya. Semuanya berbaur
dengan elemen-elemen yang tampak sepele tapi menentukan seperti truffle cokelat,
cameo, saus mousseline, cermin, pintu stainless-steel,
buku catatan bersampul kain, tulisan burung betet, dan tentu saja, kecoak
dengan lambaian antenanya. Carmen Posadas tahu benar cara memasak,
rempah-rempah yang pas, waktu yang tepat, dan gerakan memasak yang benar untuk
menghasilkan makanan yang gurih.
Ketika novel mencapai final, pembaca akan diajak kembali ke awal novel, awal
yang menentukan, manakala barisan kata-kata di bawah ini menyapa mata:
Kumisnya tak pernah sekaku itu, sangat kaku sehingga seekor lalat bisa
berjalan-jalan sampai ke ujungnya, bagaikan seorang tahanan meniti papan sebuah
kapal perompak. Kecuali, bahwa lalat tersebut tidak mungkin bertahan hidup
dalam sebuah ruang dingin bertemperatur tiga puluh derajat di bawah nol, begitu
pula bagi pemilik kumis pirang dan beku ini: Nestor Dhaffino, koki dan pembuat
pai terkenal dengan keahlian hebatnya mengolah fondant cokelat. Dan
begitulah dia ditemukan berjam-jam kemudian: mata terbuka lebar penuh takjub,
namun masih dengan suatu kewibawaan dalam sikapnya. Benar, kuku-kuku jarinya
sedang mencakar pintu, tapi serbet cuci piringnya masih melekat di tali apron
seperti biasa, Meskipun terlihat pintar, hampir tidak pernah terpikir olehnya
sebuah pintu Westinghouse tahun 1980-an -ukuran dua meter kali satu
setengah meter- baru saja tertutup secara otomatis di belakangnya dan berbunyi
klik. (hlm. 3-4; hlm. 329-330).
Saat itu, kita akan paham, sesungguhnya Little Indiscretions yang telah
kita baca bukanlah Little Indicretions versi Nestor si koki, tetapi
versi si pembunuh; psikotik laten yang hidup dalam kenyamanan dan kenikmatan
delusi. Oleh karena itu, jangan terkecoh ketika ia (kemudian) mengisahkan
peristiwa terjebaknya Nestor versinya sendiri. Seperti apa yang ia temukan
setelah Nestor mati, (hlm. 330) "bahwa, dengan sebuah kematian nyata
dan beberapa ide dasar, tidak begitu sulit untuk mencampurkan kisah tentang
gairah, rahasia-rahasia, dan kebencian, karena kebohongan-kebohongan dapat
meyakinkan dengan sempurna bila mereka memuat sebuah elemen kebenaran."
Walau kita tidak diberi tahu apa yang dialami para tokoh yang masih hidup
setelah novel berakhir, kita akan menemukan bahwa pada saat jenazah Nestor
dibawa pergi, seekor kecoak sedang menggoyangkan antenanya di keset pintu depan
The Lilies, pemilik tulisan warna hijau bak sederetan burung betet di seutas
kawat muncul di depan pintu, dan lagi-lagi, jempol Adela Teldi memberikan
peringatan akan datangnya sesuatu yang buruk.
Akhirnya, kita akan mengakui betapa fenomenalnya pengarang Dorilda (2000),
La Bella Otero (2001) dan El Bien Sirviente (2003) yang juga
pemenang Premio Nacional de Literature tahun 1984 ini mengakhiri
pintalan cantik novel yang dipersembahkan kepada suaminya, Mariano Rubio.
Ibarat Nestor Chaffino, perempuan kelahiran Montevideo 13 Agustus 1953 ini
menyuguhkan makanan penutup sebagai bagian daripada keterampilan
"gastronomis" yang ia miliki dalam pencapaian kualitas narasinya.
Judul buku : MYSTIC RIVER Penulis: Dennis Lehane Penerjemah : Mita Yuniarti & Mikaela Nadia Penyunting : Anton Kurnia Terbit : Cetakan 1, Februari 2007 Tebal : 640 halaman Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
MYSTIC RIVER: PESONA YANG MEREMUKKAN HATI
East Buckingham, Boston, Massachusetts, 1975. Cerita berawal dan kelak akan berakhir juga di tempat yang sama. Dave Boyle, Sean Devine, dan Jimmy Marcus, sama-sama berusia 11 tahun sedang bermain-main di Gannon Street, depan rumah keluarga Devine, ketika 2 lelaki pedofil yang bergaya polisi menculik Dave. Dave baru kembali 4 hari kemudian setelah disekap di ruangan bawah tanah dan mengalami pelecehan seksual. Apa yang Dave alami membuat kehidupannya berubah, bahkan untuk selamanya. Sayangnya, tidak ada yang dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang ditorehkan pada usianya yang masih sangat muda itu. Ayahnya telah meninggalkan Dave dengan ibunya yang mengalami gangguan mental.
Di kota yang sama, 25 tahun kemudian (tahun 2000). Ketiga anak laki-laki itu telah tumbuh dewasa dengan jalan kehidupan yang berbeda. Dave, mantan bintang bisbol Don Bosco Technical High School, setelah diberhentikan sebagai pekerja di sebuah kantor pos, diterima bekerja di bagian pengangkutan barang di sebuah hotel. Dia telah menikah dengan Celeste Samarco dan memiliki 1 anak laki-laki bernama Michael. Sean Devine menjadi anggota kepolisian negara bagian Massachussets dan bertugas sebagai detektif bagian pembunuhan. Sean telah menikah dengan Lauren, tetapi saat ini perkawinan mereka berada di ambang perceraian. Anak yang dikandung Lauren diduga Sean sebagai anak seorang aktor selingkuhan Lauren. Jimmy telah memiliki Cottage Market sebuah toko kelontong, menikah kembali dengan Annabeth Savage, sepupu Celeste. Istri Jimmy yang pertama, Marita, meninggal karena kanker kulit saat Jimmy menjalani masa hukuman di penjara Deer Island. Marita meninggalkan Katie, anak yang dilahirkan perempuan ini pada waktu Jimmy berusia 17 tahun. Untuk Jimmy, Annabeth melahirkan 2 anak perempuan yaitu Nadine dan Sara. Diam-diam dalam kebahagiaan Jimmy, Jimmy menyimpan bayangan peristiwa yang pernah terjadi di Sungai Mystic -sungai yang mengalir di Massachussets, peristiwa yang merupakan satu bagian rahasia kehidupan yang tidak ia ingin bagikan kepada orang yang tidak mengetahuinya termasuk istrinya.
Salah satu pemandangan Mystic River
Tanpa setahu Jimmy, Katie yang sekarang berusia 19 tahun menjalin hubungan dengan Brendan Harris setelah putus dengan Bobby O'Donnel. Katie tahu ayahnya tidak menyukai keluarga Harris. Ayah Brendan sudah 13 tahun meninggalkan keluarganya. Konon berada di New York dan setiap bulan mengirimkan 500 dolar ke rumahnya. Brendan hidup bersama ibunya dan adiknya, Ray Harris muda yang berusia 13 tahun dan bisu. Karena menyadari sikap Jimmy terhadap keluarga Harris, Katie dan Brendan berencana lari ke Las Vegas, menikah dan tidak kembali lagi ke Buckingham.
Malam sebelum pelarian, Katie menghabiskan waktu bersama 2 sahabatnya, Diane Cestra dan Eve Pigeon. Malam itu, sehabis pesta perpisahan mereka, Katie tidak kembali ke rumah. Dia tidak akan pernah kembali dalam keadaan hidup.
Lewat tengah malam, Dave Boyle pulang ke rumah dalam keadaan berlumuran darah. Dia berbohong kepada Celeste mengenai apa yang terjadi sebelum dia pulang ke rumah.
Hari Minggu keesokannya, Katie tentu saja tidak hadir di gereja pada acara komuni pertama adiknya, Nadine, seperti yang diharapkan keluarganya. Mayatnya ditemukan di Penitentiary Park, sebuah taman dekat Sungai Mystic. Sean Devine bertugas sebagai salah satu polisi yang mengusut kasus pembunuhan Katie.
Pengusutan kasus mengarahkan Sean dan rekannya, Whitey Powers, kepada Dave Boyle sebagai tersangka. Ada yang tidak cocok dan tidak benar pada jawaban Dave atas pertanyaan yang mereka ajukan. Secara kebetulan Celeste mengetahui kecurigaan Sean dan rekannya terhadap Dave. Celeste ketakutan. Dia yakin Dave telah membohonginya. Dia tidak bisa menahan diri untuk memastikan bahwa Dave lah yang membunuh Katie. Celeste meninggalkan rumah membawa Dave sekalipun Dave telah membuka rahasia memalukan yang ia alami di masa kecilnya dan efek yang ia terima akibat peristiwa tersebut. Celeste mendatangi Jimmy dan menyampaikan kecurigaannya bahwa Dave telah membunuh Katie. Celeste tidak sadar, dia telah datang pada orang yang tidak tepat.
Ketika misteri pembunuhan Katie terungkap, apa yang tidak diinginkan telah terjadi. Dave menghilang, dan Celeste menuduh Jimmy sebagai pembunuh. Sean yang telah berupaya membela reputasi Dave, bertekad menemukan bukti walaupun memerlukan waktu sepanjang hidupnya.
***
Dennis Lehane
Novel Mystic River karya Dennis Lehane ini ditulis dalam 5 bagian yaitu bagian pertama dengan judul Anak-anak yang Lolos dari Serigala (1975); bagian kedua, Para Sinatra Bermata Sedih; bagian ketiga, Malaikat-malaikat Keheningan; bagian keempat, Perombakan; epilog, Jimmy dari Rumah Susun Hari Minggu.
Lima bagian novel tersebut terbagi atas bab-bab. Bagian pertama mencakup bab 1 dan bab 2; bagian kedua, bab 3-14; bagian ketiga, bab 15-21; bagian keempat, bab 22-27; epilog hanya satu yaitu bab 28. Setiap bab diberi judul yang menarik, antara lain Air Mata di Rambutnya, Tirai Jingga, Dalam Aliran Darah, Hujan Merah, Aneka Warnamu, dan Tak Akan Pernah Merasakannya Lagi.
Tidak seperti novel kebanyakan, Mystic River adalah novel yang kompleks. Masalah yang ada tidak hanya satu, meski semua dibuhul oleh satu peristiwa yakni pembunuhan Katie. Oleh karena itu, ia hadir bukan hanya sebagai novel misteri, tetapi juga menjadi persenyawaan kisah detektif, drama keluarga, kisah cinta, dan pergumulan psikologis. Walaupun begitu, novel ini tidak menjadi sulit dimengerti atau kehilangan arah. Semua masalah yang ada bersengkarut menyempurnakan novel yang mau tidak mau tampil dengan pesona tidak tertandingi.
Dennis Lehane sebagai pengarang sangat berhasil dalam penggarapan novelnya: penokohan, plot, gerak cerita -semuanya ditata seoptimal mungkin. Sulit mencari celah untuk menemukan kejanggalan. Lehane seolah-olah tidak pernah salah langkah tatkala mengelaborasi alur cerita. Alur cerita bergerak, membuka simpul misteri pembunuhan dan rahasia kelam yang coba direpresikan oleh para karakter dalam tempo yang tepat. Tidak begitu cepat dalam menghadirkan ketegangan, tetapi juga tidak menjadi lambat sehingga meredupkan ketegangan. Ia begitu mengalir, lancar, dahsyat, dan mencekam. Sarat emosi.
Ketika menghidupkan karakter ciptaannya, Lehane menghadirkan kepiawaian yang halus, jernih, tetapi sekaligus terasa penuh tenaga. Mereka hanya hidup dalam novel, manusia-manusia fiktif. Tetapi oleh Lehane, mereka seolah nyata dan hidup. Mereka bisa kita temui dalam kehidupan kita, sehingga simpati dan antipati dapat menyusup dan membuat kita terpuruk pada situasi sentimental.
Siapa yang tidak akan bersimpati pada Dave Boyle? Dia adalah korban pelecehan seksual di masa kanak-kanak. Sepanjang hidup dia berusaha menulis ulang sejarah hidupnya yang muram. Mencoba menindas pengalaman celaka yang ia alami dari kehidupan nyatanya. Sangat berat. Dia tumbuh menjadi seperti 2 laki-laki pedofil yang telah menistanya. Terus hidup dalam upaya memangkas habis hasrat yang tidak ia inginkan. Pada saat-saat tertentu, kepribadiannya bisa terberai. Dan pada saat seperti inilah dia terjerumus dalam permainan maut.
Mungkin kita akan terbelah dalam menilai Jimmy. Laki-laki dengan naluri kriminal ini, di satu sisi tidak pernah pandang bulu atau kenal kompromi untuk main hakim sendiri. Dia bak sosok mafioso kejam dalam dunia mafia. Tidak ada yang bisa mengkhianatinya. Tidak ada yang bisa bermain-main dengannya, apalagi bermain kasar. Orang terdekat sekalipun. Tanpa ampun. Dia bahkan mengabaikan kebenaran. Coba simak bagaimana isi hati laki-laki ini ketika dia membela diri atas kejahatan dan kesalahan yang telah dia lakukan. Dia menempatkan diri bagai tuhan pemilik takdir kehidupan manusia. Tetapi simak juga betapa dia mencintai keluarganya; anak-anak dan istrinya. Hanya bermodal sebuah senyuman anak-anak dan istrinya bisa melumpuhkan Jimmy dengan mudah. Tidak heran kematian Katie membuat hatinya hancur.
Annnabeth bagaikan kebalikan dari Celeste. Kalau Celeste melakukan tindakan gegabah sehingga mencelakakan suaminya, Annabeth justru begitu kuat dan yakin pada apa yang suaminya lakukan, tidak akan mungkin mencelakakan suaminya sendiri. Sekalipun yang suaminya lakukan adalah sebuah kejahatan. Bagi Annabeth, orang-orang seperti Dave dan Celeste adalah manusia-manusia lemah. Bahkan, "Semua orang," kata Annabeth. "Semua orang, kecuali kita." (hlm 612). Dan untuk membuktikan kekuatan mereka, dia mengajak Jimmy bercinta di atas meja dapur, menggelontorkan semua rasa bersalah Jimmy.
Lehane juga menampilkan karakter polisi yang kehilangan kepercayaan terhadap istrinya dan terancam kehilangan perempuan yang ia cintai dalam diri Sean. Juga seorang remaja tampan yang tanpa sadar terjebak di antara konflik orangtuanya dan orangtua kekasihnya; seorang remaja berpenampilan tak berdaya tetapi memendam kejahatan dalam dirinya hanya karena akan kehilangan orang yang ia cintai.
Dan ketika novel berakhir, ia melahirkan gugatan di benak yang entah mau diarahkan ke mana. Ada yang saya tidak bisa terima. Ada yang saya tidak (mau) mengerti. Tetapi ini hanya menjadi semacam penegasan bahwa Lehane berhasil mengugah emosi saya. Cerdas dan menyakitkan. Cerita berakhir, tetapi bagi saya justru perenungan baru dimulai. Betapa rumitnya kehidupan, betapa ganasnya gerigi waktu menggerogoti eksistensi manusia. Tetapi toh yang hidup tetap ingin hidup dan takut mati, karena sesungguhnya hidup ini indah, manusia yang menghilangkan keindahannya. Dan dari sinilah novel ini lahir, menggeliat keluar dari relung-relung imajinasi seorang Dennis Lehane.
Tidak heran, novel ini kemudian dialihkan menjadi film pada tahun 2003. Film disutradarai oleh Clint Eastwood, diunggulkan sebagai film terbaik dalam ajang Academy Award 2003, dan melahirkan Best Actor melalui Sean Penn sebagai Jimmy Marcus dan Best Supporting Actor lewat Tim Robbins sebagai Dave Boyle. Jika menonton filmnya, kita akan menikmati sebuah film yang disajikan dalam nuansa kelam yang setia pada alur novel. Namun menonton film tentu saja memiliki efek yang berbeda dengan membaca novel. Kelebihan film antara lain kita tidak perlu susah-susah membayangkan karakter dalam novel karena sudah dihadirkan oleh bintang film. Tetapi bagi saya pribadi bisa menjadi kekurangan karena saya tidak lagi leluasa menggambarkan karakter novel sesuai dengan imaji saya sendiri, yang sesungguhnya menjadi kenikmatan ketika membaca fiksi.
Selain itu, dalam film kita tidak bisa menikmati untaian kata-kata evokatif si pengarang, wawasan berpikirnya tatkala menciptakan eksposisi; elaborasi pengarang mengenai perubahan kehidupan yang dialami para tokoh lengkap dengan cinta, perjuangan, dan perasaan-perasaan mereka yang terdalam seperti rasa bersalah atau rasa takut mereka.
Mau tak mau membaca kedahsyatan bertutur dan keluasan imajinasi Lehane saya harus mengakui testimoni di sampul belakang novel yang menyatakan bahwa , "Lehane adalah salah satu penulis terbaik di generasinya, titik.... Penulis-penulis lain hanya bisa bermimpi menulis novel seperti Mystic River." (Cleveland Plain Dealer).
Edisi Indonesia dikerjakan oleh Mita Yuniarti dan Mikaela Nadia dan disunting oleh Anton Kurnia. Dapat diikuti dengan lancar walau masih terdapat beberapa kalimat yang harus dibaca lebih dari satu kali untuk memahaminya. Selain itu ada bagian yang menggambarkan terjadinya transisi adegan tetapi tidak diberi jeda untuk dimulai lagi dengan menggunakan 3 kata berhuruf besar seperti pada bagian-bagian novel yang lain. Pada halaman 502, percakapan Jimmy dan Val segera dilanjutkan dengan masuknya Marshall Burden ke unit pembunuhan. Demikian juga pada halaman 507, percakapan Sean dan Whitey langsung diikuti adegan Dave Boyle dalam ruangan interogasi. Tidak mengganggu, tetapi harus dibaca ulang untuk memahami bahwa adegan telah beralih.
Secara keseluruhan karya pengarang yang memenangkan Shamus Award untuk novel terbaik lewat novel bertajuk A Drink Before the War ini hadir sebagai novel penuh pesona. Ia memiliki intensitas persuasi yang tinggi yang membuat pembaca enggan untuk menghentikan laju bacanya begitu menemukan ritme yang tepat. Hati-hatilah karena dengan 640 halaman, novel ini akan cukup menyita waktu luang.
Dan mungkin, saking manusiawinya Lehane menampilkan tokoh-tokoh novelnya, seperti saya, pembaca yang lain akan sibuk ber-seandainya sehabis menyusuri kedalaman Mystic River ini.
Seandainya Dave tidak pernah masuk dalam mobil sepasang pedofil 25 tahun lalu. Seandainya ayah Brendan tidak pernah melaporkan kejahatan Jimmy Marcus. Seandainya Dave tidak keluar rumah malam itu. Seandainya Celeste sudah terlelap ketika Dave pulang dalam keadaan berlumuran darah. Seandainya Celeste bisa sekuat Annabeth dalam menghadapi suaminya dan bisa memercayai suaminya sedikit saja. Seandainya Jimmy memiliki kesabaran lebih sebelum bertindak.
Seandainya semua itu terjadi, kita tidak akan bisa menikmati novel luar biasa ini!
Judul Buku : PULANG
Penulis : Happy Salma
Penerbit : Koekoesan
Penyunting : Tim Koekoesan
Terbit : Cetakan pertama, November 2006
PERJALANAN
PULANG HAPPY SALMA
Satu lagi perempuan
selebritas Indonesia yang katanya bergelimang cahaya menulis buku. Setelah
Melly Goeslaw dan Tamara Geraldine, Happy Salma unjuk kebolehan menulis
kumpulan cerpen. Jujur, saya hanya sekedar tahu bahwa Happy Salma itu pemain
sinetron. Beberapa kali saya melihat wajahnya tampil di layar kaca, tetapi saya
tidak pernah mengikuti kiprahnya sebagai pemain sinetron. Terus terang, saya
memang bukan penikmat setia sinetron Indonesia. Sekarang Happy Salma
menulis kumpulan cerpen, dan sebagai pecinta buku, saya ingin tahu bagaimana
Happy Salma memainkan jarum rajut imajinasi untuk merajut kata-kata, satu demi
satu menjadi kalimat-kalimat dalam cerpen. Dan tanpa tercegah, saya langsung
bertanya-tanya. Apakah Happy Salma akan hadir mengusung ketangkasan bertutur
seperti yang dimiliki Tamara Geraldine? Atau seperti kecanggungan Melly
Goeslaw? Beruntunglah Happy Salma. Dia mendapatkan tim editor dari sebuah
penerbit yang mau bersusah payah membantunya dalam menghadirkan karyanya
sehingga memenuhi syarat literer.
Judul bukunya singkat, hanya
satu kata. PULANG. Tetapi PULANG benar-benar mewakili kumpulan ini karena kata
itu menjadi tali yang membuhul 8 cerpen dalam kesan yang sama. Kita tidak hanya
akan menemukan kata pulang berkelebat di setiap cerpennya, tetapi memaknainya
dalam tiap cerpen, dalam berbagai konteks.
Setelah membaca kumpulan cerpen ini -yang ternyata bisa habis sekali jalan,
dapat diketahui kalau cerpen-cerpen Happy Salma adalah cerpen-cerpen yang
sederhana. Baik tema maupun pengolahan cerita. Tetapi jangan salah.
Kesederhanaan di sini bukan berarti kelemahan atau ketidaklengkapan, atau
bahkan ketidaksempurnaan. Ibarat perempuan cantik yang berdandan dengan nuansa nude.
Sederhana. Tetapi akan memancarkan kecantikannya. Oleh karena itu,
kesederhanaan Happy Salma justru menjadi daya tarik cerpen-cerpennya. Happy
memang tidak menjangkau tema-tema musykil, tidak meraih topik-topik absurd yang
kerap membingungkan pembaca. Dia hanya memulung tema-tema keseharian yang
berhubungan dengan jalinan kekeluargaan. Tetapi Happy Salma berhasil mencapai
sasaran.
Antologi irit ini -hanya 8 cerpen, dibuka dengan cerpen berjudul Pertemuan.
Cantik yang menurut pengakuan pemilik nama itu tidak cantik, terpaksa harus
meninggalkan Bandung pergi ke Depok. Dia harus bertemu kakaknya atas permintaan
ibunya di Lampung. Sudah 4 tahun Cantik tidak berjumpa dengan kakaknya, dan dia
memang tidak menginginkannya. Kakaknya memang cantik, berambut panjang
bergelombang indah terurai, jemarinya lentik dicat warna merah muda. Wangi
lagi. Tetapi jangan tertipu. Karena pada akhir cerpen, tepat di kalimat penutup
Happy akan membenturkan kejutan yang tak terduga. Keren!
Cerpen kedua bertajuk Ibu dan Anak Perempuannya ditutup Happy dengan
benturan kejutan yang dijamin tidak terlupakan. Di mata ibunya yang sakit dan
tinggal menghitung hari kehidupan, Arum putrinya yang cantik adalah seorang
guru taman kanak-kanak dan juga pelatih tari. Dulu hati sang Ibu pernah
disakiti Arum. Sekarang, bagaikan mau menebus dosa, Arum bertanggung jawab pada
ibunya. Dia mau melakukan apa saja untuk ibunya. Apa yang dilakukan Arum akan
jadi kejutan dalam cerpen yang berlangsung dalam durasi yang pendek tetapi
sangat berhasil ini.
Demikian juga yang Happy Salma lakukan pada nasib Nina Novianti dalam
cerpen Adik. Nina mengikuti Kiki, adiknya yang murung ke suatu
tempat. Tempat itu membuat Nina nyaris tak dapat menerima kenyataan. Cerpen
satu ini mengingatkan saya pada novel Raumanen karya Marianne Katoppo.
Perjalanan ke Negeri Sakura seperti yang dibentangkan dalam Perjalanan Jauh
tidak membuat si Neg bersemangat. Neng memang selalu tidak bersemangat
melakukan perjalanan. Setiap perjalanan selalu akan mengingatkan dia pada
ibunya. Ibu yang membesarkan Neng seorang diri, satu-satunya sandaran hidup Neng.
Neng tidak memiliki bapak dan tidak mengetahui wujud bapaknya seperti apa. Dia
juga tidak memiliki adik atau kakak. Dan setiap kali Neng melakukan perjalanan,
dia akan teringat perjuangan ibunya membiayai kehidupan mereka, teringat
perjalanan ibunya ke Tanah Abang membawa pulang satu karung hasil belanjaan.
Saya langsung teringat ibu saya begitu habis membaca cerpen ini. Cerpen yang
lembut. Meraih akhir yang lirih untuk membuat pembaca terenyuh.
Dalam Kenangan Singkat, seorang penyanyi perempuan dari Jakarta manggung
di Papua sebagai bagian dari tim sukses sebuah kampanye pilkada. Ia bertemu
seorang gadis kecil bernama Daniela. Nasib si kecil Daniela mengejutkan si
penyanyi dan langsung menggenggam hatinya dalam waktu singkat. Salah satu
cerpen yang tidak begitu menggedor dalam kumpulan ini, tetapi cukup
mengindikasikan kepedulian seorang Happy Salma terhadap warna kehidupan
yang ia alami.
Pada Sebuah Pementasan, Iska yang hatinya penuh kedengkian diajak Nadia,
temannya, ikut teater sekolah karena tim teater kekurangan personil. Kebencian
Iska menggebung karena Nadia menawarkan kepadanya peran sebagai tikus untuk
pementasan. Pembalasan dendam Iska meledak, dan dia tak menduga bakal mengancam
nasibnya sebagai siswa di sekolahnya. Cerpen berlatar kehidupan remaja yang
sedikit banyak akan mengingatkan masa remaja di sekolah bagi pembaca usia
dewasa. Apalagi yang pernah memiliki sejarah persaingan yang tidak sehat.
Cerpen Pulang yang dijadikan judul antologi benar-benar tentang pulang.
Tokoh cerpen adalah seorang perempuan yang pulang ke desanya saat Lebaran.
Tetapi di desanya ia menemukan hamparan sawah, pohon karet tinggi langsing,
kicau burung, dendang bening sungai telah hilang. Tokoh ini merasa asing.
Merasa terampas. Waktu telah mengubah semuanya. Termasuk dirinya yang sudah
tidak perawan lagi.
Umi, sebagai cerpen penutup, agak berbeda dari cerpen-cerpen lainnya.
Ratih meninggalkan Jakarta pergi ke sebuah daerah di dekat Pekanbaru. Di sana
ada sebuah rumah tua. Dia pernah mengunjungi rumah itu waktu usianya belum
genap 8 tahun bersama mendiang ibunya. Ratih hendak bertemu Umi yang pernah
mengasuhnya selama 3 tahun ketika ayahnya mengadu nasib sebagai sopir di Arab
Saudi. Umi sudah lama sakit, tetapi tidak bisa mati, walau sudah ingin mati.
Dan kehadiran Ratih lah yang akan menyelamatkan Umi dari penderitaannya di
dunia.
Makna pulang yang memoles cerpen-cerpen Happy Salma harus dilihat dalam konteks
cerita. Pulang dalam cerpen Pertemuan adalah permintaan seorang ibu pada
anaknya yang tak pernah pulang dan seolah-olah telah ditelan bumi. Dalam cerpen
Ibu dan Anak Perempuannya pulang adalah janji seorang anak kepada ibunya
yang sakit. Anak ini juga telah pulang ke rumah ibunya setelah melarikan diri
dengan lelaki beristri dan beranak tiga. Permohonan seorang kakak pada adiknya
yang bersedih adalah pulang dalam cerpen Adik. Kerinduan si Neng kepada
ibunya adalah makna pulang dalam cerpen Perjalanan Jauh. Cerpen Kenangan
Singkat memaparkan kepulangan seorang penyanyi dari Papua menuju Jakarta.
Cerpen Pada Sebuah Pementasan menghadirkan Iska yang ingin pulang ke
rumah setelah menyebabkan Nadia cedera. Ratih dalam cerpen Umi ingin
cepat pulang ke Jakarta dari rumah tua tempat Umi menunggu mati karena tidak
ingin hidup seribu tahun lagi. Pulang yang benar-benar pulang hanya bisa
ditemukan dalam cerpen Pulang.
Delapan cerpen Happy Salma yang disajikan dengan gaya yang seirama, bahasa yang
cukup baik (meski sudah disunting, masih ada kata yang ejaannya salah), tidak
tergila-gila menggunakan bahasa asing seperti yang latah digunakan beberapa
penulis sezamannya, hadir tanpa keruwetan. Semuanya realis dan bening. Semuanya
enak disimak.
Akhirnya, usai membaca kumpulan cerpen Happy Salma ini, kita bisa melihat jika
benih telah disebarkan. Dengan kondisi lahan tumbuh yang layak, benih itu akan
berkembang. Dilanjutkan dengan pemeliharaan dan pemupukan tanpa kenal lelah,
maka PULANG tidak akan menjadi yang terakhir dari Happy Salma. Benih ini akan
tumbuh semarak sehingga akhirnya kita akan terus merasakan desah Happy yang
menyatu dengan waktu.
Dengan sendirinya, pertanyaan yang sempat tercetus di atas terjawab sudah. Bagi
saya.
Judul Buku : NEFERTITI (The Book of the Dead - Ratu Mesir, Dewa Matahari & Penguasa Dua Dunia) Penulis : Nick Drake Penerjemah : Bima Sudiarto Penyunting: Pray Tebal : 600 hlm; 12,5 X 19 cm Terbit: Cetakan 1, Februari 2007 Penerbit : Dastan Books
SANG SEMPURNA TELAH DATANG
Bayang-bayang menyingkap seperti tirai, lalu kulihat dia. Sang sempurna duduk di salah satu kursi. Mengenakan mahkota warna biru, memperlihatkan leher dan pundaknya nan jenjang dan indah. Membuat wajahnya semakin cantik.
Nama Nefertiti diterjemahkan sebagai wanita yang cantik (atau sempurna) telah datang. Sebagian namanya juga berarti manik-manik emas yang terjulur panjang (nefer) yang sering tergambar sedang dikenakannya. Siapa orang tua Nefertiti, tidak diketahui secara pasti. Dengan Amenhotep IV, Nefertiti melahirkan 6 anak perempuan.
Pada tahun ke-4 pemerintahannya, Amenhotep IV memulai penyembahan kepada Aten, dewa matahari. Dia dan Nefertiti memproklamasikan diri sebagai inkarnasi agung dan penyambung lidah Aten. Bersamaan dengan dimulainya penyembahan dewa Aten, pembangunan sebuah ibu kota baru, Akhetaten (sekarang dikenal sebagai Amarna) dimulai. Pada tahun ke-5 pemerintahannya, Amenhotep IV secara resmi mengubah namanya menjadi Akhenaten sebagai tanda penyembahan barunya terhadap Aten. Ibu kota dipindahkan dari Thebes ke Akhetaten secara resmi pada tahun ke-7 pemerintahan Akhenaten (1343 BC) walaupun pembangunan kota tetap dilanjutkan sampai tahun 1341 BC.
Selama pemerintahan Akhenaten, Nefertiti terkenal sebagai wanita yang karismatik dan memiliki kekuasaan setara dengan suaminya. Pada tahun ke-12 pemerintahan Akhenaten, Nefertiti menghilang dari rekaman sejarah, tidak ada lagi informasi mengenai dirinya setelah itu. Berbagai spekulasi disorongkan untuk mencoba menjawab apa yang terjadi pada dirinya. Ia dikabarkan meninggal, tertimpa aib, tetapi juga dipercaya sempat memerintah imperium Mesir dengan nama Neferneferuaten-Nefertiti dalam waktu yang singkat setelah suaminya meninggal sebelum kemudian ia digantikan oleh Tutankhamun.
Konon, zaman terjadinya sinkretisasi agama oleh Akhenaten dengan memperkenalkan Atenisme dan sesembahan baru, kemudian juga dilaksanakan konstruksi ibu kota baru, bagi sebagian orang dianggap sebagai zaman keemasan imperium Mesir. Tetapi ada juga yang berpendapat apa yang dilakukan oleh Akhenaten menggiring imperium Mesir ke tepi jurang kehancuran. Pembangunan ibu kota baru dengan kuil untuk dewa matahari telah menjadi konsentrasi pemerintahan Akhenaten. Ekonomi menjadi kacau balau. Beras susah dicari. Para pegawai tidak digaji. Kejahatan bereskalasi. Keguncangan masal.
Dengan diberlakukannya atenisme, semua dewa yang sebelumnya disembah bangsa Mesir (dewa Amun, dkk) disingkirkan termasuk pendeta-pendetanya seperti yang terjadi di Kuil Karnak. Oleh karena itu tidak dapat dihindarkan lagi jika rezim Akhenaten menjadi penghancur kehidupan mapan banyak orang sehingga akhirnya menciptakan musuh bagi dirinya. Tetapi Akhenaten tidak peduli dan tetap menjalankan rencananya. Tesis inilah yang digeber Nick Drake dalam novel perdananya, Nefertiti.
Novel Nick Drake ini menggambarkan ihwal akan diresmikannya kota baru, Akhetaten, sebagai ibu kota dan pusat penyembahan Aten yang terjadi pada tahun ke-12 pemerintahan Akhenaten Pada saat itu, Nick menceritakan kalau Nefertiti menghilang dari istananya. Hal ini menimbulkan pertanyaan karena ada pendapat yang menyatakan bahwa Atenisme sudah diberlakukan sejak tahun ke-4 pemerintahan Akhenaten. Selain itu karena Akhetaten dibangun sampai tahun ke-9 pemerintahan Akhenaten, agak aneh juga jika baru diresmikan tahun keduabelas, seperti yang disampaikan Nick Drake. Tetapi karena ini masalah sejarah, dan bukti yang paling sahih tidak tersedia, maka Nick Drake tentu saja memiliki kemerdekaan untuk menyampaikan gagasannya. Apakah gagasan yang disampaikannya benar, kita tidak bisa memastikan. Mungkin saja akan ada penemuan baru yang mengukuhkan hipotesisnya.
Peristiwa menghilangnya Nefertiti menjadi tema penting di tengah eksplorasi Nick Drake terhadap kehidupan pemerintahan dan masyarakat Mesir kuno. Oleh karena itu selain kehidupan keluarga kerajaan -Nefertiti, suami, anak-anaknya dan para kerabat, Nick juga melakukan sejumlah riset mengenai materi yang hendak ia sampaikan, termasuk pola kehidupan masyarakat saat itu, seperti apa yang mereka santap, apa yang menjadi bahan pemikiran dan pembicaraan mereka, bahkan permainan yang mereka mainkan -dalam novel ini disebutkan permainan bernama Senet. Drake juga mengunjungi Mesir untuk melihat puing-puing Akhetaten (Amarna).
Menjelang peresmian ibu kota baru dan agama baru, Nefertiti hilang dari istananya, tanpa jejak. Sebagai tokoh karismatik yang sangat dihormati dan dicintai rakyatnya, lenyapnya Nefertiti menjadi masalah besar. Tanpa dirinya festival peresmian itu terancam gagal. Ada indikasi bahwa masyarakat mau mengikuti Atenisme karena pesona Nefertiti. Ketidakhadiran Nefertiti akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa ada masalah sedang terjadi dalam kerajaan. Kredibilitas dan pencapaian Akhetanen akan dipertanyakan, termasuk agama barunya. Di samping itu, ada kecurigaan sedang terjadi konspirasi untuk menentang pemerintahan. Oleh sebab itu, Nefertiti harus ditemukan.
Pada saat itu, di Mesir terdapat satuan keamanan kerajaan -yang menyimpan arsip papirus tentang semua masyarakatnya supaya bisa mengawasi mereka, yang disebut Medjay. Ankhenaten memerintahkan Rahotep, kepala detektif termuda satuan Medjay divisi Thebes untuk menemukan sang ratu. Rahotep terkenal dengan metode kerjanya yang orisinal. Setiap menangani suatu kasus, ia membuat jurnal untuk mencatat semua yang ia pikirkan dan ia indera dari investigasi yang dilakukan. Kerap dengan cara ini dia bisa mengungkapkan kasus yang ditanganinya.
Dari Thebes, meretas Sungai Besar, Rahotep menuju ibu kota baru, Akhetaten. Langsung disambut dengan sambaran anak panah untuk memperingatkan bahwa kehadirannya tidak diinginkan. Mahu, kepala Medjay yang ditemuinya di Akhetaten, tanpa tedeng aling-aling menunjukkan ketidasukaan terhadap dirinya.
Oleh Mahu, disediakan 2 petugas untuk memandu Rahotep selama berada di Akhetaten, Kety dan Tjenry. Rahotep diberi waktu 10 hari oleh raja untuk mengembalikan Nefertiti, Sang Sempurna, karena festival peresmian ibu kota dan agama baru akan diadakan 10 hari lagi. Kalau tidak, Rahotep dan keluarganya akan dihabisi.
Baru saja memulai investigasinya, Rahotep telah menemukan mayat perempuan dengan wajah rusak. Sebelum misteri mayat yang diduga sebagai Nefertiti dipecahkan, Tjenry yang sedang mengawasi mayat ini dibunuh dengan cara mengerikan. Nyawa Rahotep sendiri terancam. Setelah itu, Meryra kepala bendahara kerajaan yang baru diangkat menjadi pendeta tinggi Aten juga tewas mengenaskan. Kematian Meryra membuat Mahu memaksa Rahotep meninggalkan Akhetaten dengan mengancam kehidupan keluarganya. Tetapi sebelum ada keputusan selanjutnya, Rahotep menemukan tulisan dalam jurnalnya yang ditulis orang tak dikenal yang kemudian menuntunnya pada pengungkapan misteri hilangnya Nefertiti.
Nefertiti memang belum meninggal. Ia juga tidak diculik oleh orang-orang yang terlibat konspirasi menentang rezim Akhenaten. Tetapi ia melarikan diri dari istana, setelah bertengkar dengan suaminya dan didera masalah yang membuatnya cemas dan ketakutan. Ia berharap dengan melarikan diri bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi.
Setelah Rahotep meninggalkan Nefertiti dengan tujuan untuk mencari komplotan yang menentang kerajaan, Mahu menangkapnya, memenjarakan, dan menyiksanya. Di tengah penyiksaan yang dilakukan Mahu, Ay, penasihat sekaligus kepala pasukan berkuda kerajaan datang membebaskan Rahotep. Ay meminta Rahotep untuk menjadi negosiator antara dia dan Nefertiti dalam rangka membereskan masalah kerajaan.
Festival peresmian ibu kota dan agama baru menjadi klimaks yang tak terduga. Sesuatu terjadi. Imperium Mesir terhempas di jurang kaos. Pemerintahan kacau. Keputusan Nefertiti lah yang akan menentukan kelangsungan nasib kerajaan Mesir.
Apapun yang kemudian terjadi, pada akhirnya, tentu saja Rahotep bisa kembali ke Thebes. Setelah itu menurutnya, ia tidak pernah bertemu lagi dengan Nefertiti dan suaminya. Tetapi pekerjaan Rahotep tidak berakhir di situ. Karena novel ini hanya menjadi bagian pertama yang ditulis Nick Drake untuk memperkenalkan aksi Rahotep kepada pembaca. Drake masih akan menerbitkan lagi sekuel kisah petualangan detektif Medjay ini.
Novel yang pernah masuk dalam nominasi novel terbaik Ellis Peters Award ini ditulis menggunakan Rahotep sebagai narator. Ketika membaca, pembaca mungkin tidak akan menyadari tengah membaca kisah yang (diceritakan) tidak terjadi di masa kini. Dengan meyakinkan, menggunakan perspektif Rahotep, Drake menggelontorkan kisahnya secara enteng sehingga novel berlatar Mesir kuno ini hadir layaknya novel kontemporer, apalagi dengan konflik dan kecemerlangan gagasan yang dibentangkan. Tidak ada kekakuan dalam pemaparan kehidupan yang telah lama berlalu ditelan waktu. Semua dihadirkan dengan wajar dan sama sekali tidak berkesan kuno. Segala detail diupayakan seakurat mungkin, baik elemen kultural maupun objek yang dikemukakan. Alhasil, Nefertiti (novel ini) tampil memikat melontarkan pesona bagaikan pesona yang dipancarkan sang ratu yang menjadi salah satu ikon kecantikan feminin abad 20.
Selain itu, novel diracik dengan kalimat-kalimat evokatif yang cenderung puitis. Hal ini bisa dipahami, karena Nick Drake juga dikenal sebagai penyair. Bukunya yang berjudul The Man in the White Suit memenangkan penghargaan Waterstone's Forward Poetry Prize untuk kategori Best First Collection.
Karakter-karakter yang diangkat Nick Drake pada umumnya merupakan karakter sejarah, tetapi bisa ditebak kalau Rahotep adalah karakter fiktif ciptaan Nick Drake sendiri. Demikian juga Khety, Tjenry, atau Senet.
Edisi Indonesia diterjemahkan dan disunting oleh pasangan Bima Sudiarto-Pray dengan rangkaian kata-kata yang enak dibaca dan terkesan cerdas sehingga seluruh ceritanya dapat diikuti dengan lancar. Selain itu, naskah dicetak dalam ukuran huruf yang ramah mata. Keistimewaan lainnya adalah rancangan sampul yang spektakuler dalam nuansa keemasan mewakili panorama padang pasir dan era keemasan imperium Mesir Kuno.
Tak diragukan lagi, novel ini menjadi novel elegan untuk pembaca yang tertarik pada kisah berlatar sejarah masa silam tetapi dengan pesona misteri kontemporer.
Judul buku : The
Rule of Four
Penulis : Ian Caldwell dan Dustin Thomason
Penerjemah : Jessica Wibowo
Penyunting : Ella Elviana & Hana Zafira
Terbit : Cetakan 1, November 2006
Tebal : 576 hlm
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
HYPNEROTOMACHIA
POLIPHILI, TIPU DAYA WANITA BURUK RUPA
"Dari luar, Hypnerotomachia
mungkin tidak memiliki daya tarik, tetapi dari dalam, ia memiliki tipu
muslihat seorang wanita buruk rupa, pesona sebuah misteri yang membuat
kecanduan" (Thomas Corelli Sullivan, hlm. 24)
Dua anak
muda yang berteman akrab sejak usia 8 tahun berkolaborasi menciptakan novel.
Yang satu bernama Ian Caldwell, seorang sejarawan lulusan Universitas
Princeton. Lainnya Dustin Thomason, seorang dokter lulusan Harvard. Mereka
berhasil mengharmonisasikan ide yang sebagian besar dilakukan menggunakan
fasilitas telepon dan email. Setelah dikerjakan sejak tahun 1998, seperti yang
mereka akui, The Rule of Four diterbitkan tahun 2004 untuk pertama
kalinya. Usai dibaca, ketahuan bahwa novel berlatar Princeton, New Jersey 1999
ini adalah sebuah buku tentang buku. Dan buku yang menjadi pokok permasalahan
dalam novel ini benar-benar ada, tidak seperti buku The History of Love
dalam novel berjudul sama karya Nicole Krauss (Gramedia, 2006).
Tersebutlah sebuah buku berjudul Hypnerotomachia Poliphili yang isinya
sulit dipahami. Selama 500 tahun identitas pengarangnya tidak jelas. Selama itu
pula tujuan sang pengarang menulis buku tidak diketahui. Oleh sebab itu buku
ini menjadi misteri yang menjadi sasaran investigasi.
Hypnerotomachia Poliphili yang dalam bahasa Latin berarti
"Perjuangan Poliphilo demi Cinta dalam Sebuah Mimpi" dan diterbitkan
di Venesia Desember 1499 oleh Aldus Manutius adalah sebuah kisah cinta
(Poliphilo dan Polia), yang menyembunyikan ensiklopedi di dalamnya, mulai dari
arsitektur sampai hewan. Narator mengatakan bahwa dari luar buku ini mungkin
tidak memiliki daya tarik. Tetapi dari dalam memiliki tipu muslihat seorang
wanita buruk rupa, pesona misteri yang membuat kecanduan. Antara lain yang
terjerat 'tipu muslihat wanita buruk rupa' ini adalah trio Richard Curry,
Vincent Taft, dan Patrick Sullivan. Mereka bekerja sama untuk memecahkan
misteri buku yang ditulis menggunakan bahasa seperti Latin, Italia, Yunani,
Yahudi, Arab, Chaldea, bahkan tulisan hieroglif (yang ternyata tidak autentik)
dan kata-kata ciptaan sang pengarang sendiri. Trio ini tidak dapat
mempertahankan kerja sama. Salah satu di antara mereka berkhianat. Buku harian
seorang kepala pelabuhan Genoa milik Curry hilang. Curry menuduh Taft sebagai
pencurinya.
Karena Hypnerotomachia Poliphili inilah Thomas Corelli Sullivan (Tom)
menjadi salah satu sahabat Paul Harris, selain Preston Gilmore Rankin (Gil) dan
Charlie Freeman. Paul Harris yang adalah penggemar Patrick Sullivan -ayah Tom,
memang menjadikan Hypnerotomachia Poliphili sebagai materi tesisnya.
Awalnya Tom membantu Paul, tetapi karena apa yang ia kerjakan mulai merusak
hubungan cinta yang dijalinnya dengan Katie Marchand, Tom melepaskan diri dari
pesona 'sang wanita buruk rupa'. Posisi Tom diganti oleh Bill Stein untuk
melengkapi Vincent Taft sebagai penasihat dan Curry sebagai pembimbing tesis.
Rupanya dalam dunia cendekiawan, mengkhianati sesama cendekiawan dianggap jamak
oleh beberapa individu. Itulah yang terjadi pada tesis Paul. Tanpa bisa
dicegah, pengkhianatan kali ini menyebabkan terbunuhnya 2 tokoh novel. Secara
simultan, misteri yang membungkus Hypnerotomachia Poliphili selama 500
tahun tersingkap. Ternyata buku yang dikarang (dalam novel ini) Francesco
Colonna, seorang bangsawan Roma, menyimpan rahasia lokasi sebuah ruang bawah
tanah tempat karya-karya yang dikumpulkan pada zaman Renaisans disembunyikan
dari tindakan penghancuran yang disebabkan oleh fanatisme keagamaan. Pemecahan
misteri dengan bantuan aturan empat ini mencapai klimaks ketika sesuatu terjadi
yang membuat Paul menghilang dari kehidupan ketiga sahabatnya dan lingkungan
Princeton.
Tetapi cerita tidak hanya sampai di situ. Di akhir novel, duo pengarang ini
menciptakan kejutan. Meski tidak begitu menggedor cukup memberi tahu pembaca,
bahwa hal itu akan mempengaruhi kehidupan Tom Sullivan selanjutnya.
Novel dituturkan oleh Tom Sullivan, narator brilian lulusan Sastra Inggris
Princeton yang sempat terbata-bata dalam penyelesaian tesisnya sendiri
gara-gara Hypnerotomachia Poliphili. Cerita dipaparkan dengan kualitas
narasi yang tangguh sehingga menghasilkan sajian kaya metafora yang enak
dibaca. Kita akan mengikuti daya tarik kesegaran kosmetik kata-kata yang
memoles kisah sejarah, ilmu pengetahuan, dan seni yang dibuhul oleh temali
persahabatan dan kasih sayang. Keseluruhannya menjadi bersinar karena misteri yang
tidak basi, pengolahan narasi yang jitu, dan tetesan kasih sayang yang
menyentuh. Kasih sayang inilah yang menyebabkan Richard Curry berkorban untuk
Paul, keluar dari sarang cendekiawan, demi kebenaran dan kejujuran ilmiah yang
terancam direnggutkan untuk kepentingan pribadi oleh pihak tertentu.
Ian
Caldwell (kiri) dan Dustin Thomason (kanan)
Ketika novel ini dirilis di pasar Amerika (2004), banyak yang membandingkan
dengan best-seller tahun sebelumnya yaitu The Da Vinci Code. Bisa
dipahami mengingat buku ini adalah karya pengarang muda tidak terkenal yang
belum pernah mengarang novel dan langsung menjadi best-seller. Tetapi
terasa berlebihan ketika muncul ungkapan-ungkapan seperti "Lebih bagus
dibanding The Da Vinci Code", "Satu tingkat di atas (Da
Vinci Code)", atau "[Sebuah] Da Vinci Code untuk orang-orang
berotak". Sulit untuk membandingkan novel ini dengan The Da Vinci Code.
Ada kisah pemecahan sandi, tetapi tidak cukup signifikan untuk dibandingkan.
Masing-masing punya kelebihan.
Hypnerotomachia Poliphili yang memercikkan gagasan utama ke dalam
penciptaan novel ini diterbitkan secara anonim. Tetapi jika huruf-huruf pertama
dari setiap bab dalam buku ini (edisi asli) dirangkaikan, akan terbentuk
sebuah akrostik dalam bahasa Latin: Poliam Frater Franciscvs Colvmna
Peramavit yang berarti Bruder Francesco Colonna amat sangat mencintai
Polia. Dalam The Rule of Four, diceritakan bahwa penulisnya adalah
seorang bangsawan Roma bernama Francesco Colonna dan bukan biarawan Venesia
yang juga bernama sama. Terjemahan Inggris lengkap buku ini dikerjakan
oleh seorang musikolog bernama Joscelyn Godwin dan diterbitkan Desember 1999,
500 tahun setelah teks asli diterbitkan (sedangkan novel mengambil setting
beberapa bulan sebelumnya, sekitar perayaan Paskah).
Edisi Indonesia tetap menggunakan judul asli dan diterjemahkan dengan
cemerlang oleh Jessica Wibowo. Kemasan buku juga cukup menarik. Tak
pelak, The Rule of Four terbitan Serambi ini menjadi sajian menawan yang
dapat dijadikan koleksi oleh pembaca yang suka seni, sejarah, dan cerita dengan
kesegaran narasi yang memoles misteri dan kejutan yang terkendali.
Contoh
isi buku Hypnerotomachia Poliphili (Wikipedia)
Judul
Buku : Travelers' Tale -Belok Kanan : Barcelona! Penulis : Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman
Hidayat, Ninit Yunita Penyunting : Windy Ariestanty Terbit : Cetakan 1, 2007 Tebal : x + 230 hlm; 13 X 19 cm Penerbit : GagasMedia
KETIKA CINTA DI PERJALANAN
Empat lajang, dua pasang gender, kepala tiga, bersahabat sejak
kecil. Semasa SMA, cinta menyapa di antara mereka. Cinta yang tumbuh dari
kebersamaan, tetapi berpotensi menggerogoti kebersamaan pula. Dua di antaranya
membiarkan cinta mereka tanpa kepastian. Dua yang lain mencoba membunuh cinta
yang terhalang perbedaan kepercayaan. Dengan status seperti itu, mereka tumbuh
dewasa, terserak di 4 benua dengan pekerjaan masing-masing.
Francis Lim mengira ia akan sukses lari dari jerat cinta monyet
ketika ia memutuskan menikah dengan Inez Alegria de la Pena, gadis Catalonia.
Ia mengundang 3 sahabatnya untuk hadir pada acara pernikahan yang akan
dilaksanakan 1 bulan lagi di Barcelona, kota asal Inez.
Ketiga sahabat Francis memutuskan pergi ke Barcelona dengan dana
yang terbatas. Farah Babedan, dari Hoi An, Vietnam, meretas jalan ke Barcelona
setelah menyelesaikan kewajibannya di Amman dan Budapest. Jusuf Hasanuddin yang
sedang berada di Nairobi bukannya balik ke Cape Town, Afrika Selatan, malah ke
Barcelona lewat Abidjan. Retno Wulandari, meninggalkan Kopenhagen, Denmark,
menuju Barcelona via Amsterdam. Francis Lim sendiri sang calon mempelai
pria, sehabis acara resital piano di Amerika, menuju Barcelona dari New York
City.
Maka, terbangunlah kisah dalam novel bertajuk Travelers' Tale
-Belok Kanan: Barcelona!. Pengalaman perjalanan, laporan pandangan mata,
dan serpihan-serpihan masa lalu memberkas dalam cerita cinta
stereotipikal yang menjadi pencetus plot novel.
Cinta memang sumber daya yang tidak ada matinya. Sangat banyak
buku yang memanfaatkannya sebagai bahan baku. Dan, novel berjudul panjang ini
terperangkap untuk melakukan hal yang identik. Namun cinta yang dibesut dalam
novel ini, kendati bertolak dari cinta monyet, ternyata telah menggorila dan
memiliki tujuan. Cinta seperti ini juga bukan hal yang baru dalam dunia fiksi.
Oleh karena itu, pengalaman traveling diasimilasikan untuk mengkreasikan
perbedaan. Alhasil, terciptalah kisah cinta multisegi yang terentang penuh
ketidakpastian dalam perjalanan menuju horison nan indah, Barcelona. Di manapun
para tokoh berada, jalur apapun yang ditempuh, mereka pasti akan tiba sesuai
sirkulasi yang telah ditentukan, di jantung Barcelona. Terbukti, meski melewati
lokasi peperangan, karakter laki-laki narsis sok ganteng dalam novel ini sampai
juga di Barcelona.
Ternyata, cerita cinta stereotipikal yang meliput hidup 4
makhluk ini menjadi karya ringan-renyah yang cukup enak dinikmati. Plot digelar
manis mengundang tanya. Tidak ada kerumitan yang berarti. Apa yang akan terjadi
di Barcelona telah terbayang di benak pembaca sebelum para tokoh menjejak kota
yang pernah dihidupkan dalam lagu oleh pasangan Freddy Mercury-Mike Moran dan
Fariz RM ini. Ketika persahabatan dipertaruhkan, akhirnya semua cinta menemukan
takdirnya sendiri.
Karena perjalanan anak-anak muda ini berangkat dari lingkaran
persahabatan yang telah mereka untai 20 tahun lamanya, kilas balik menjadi
teknik yang penting untuk membawa masuk apa yang terjadi di masa lalu ke masa
kini untuk memberi pemahaman kepada pembaca. Kilas balik tersebut berpadu
kompak dengan kisah traveling yang dideskripsikan dengan enteng dan
lancar. Walau di beberapa tempat nyaris terjadi digresi, tetapi aliran sungai
cerita sudah ditentukan, sehingga laut lepasnya sudah sangat jelas.
Novel ini dituturkan dengan kelincahan narasi komedi cinta.
Menariknya, kelincahan narasi ini digerakkan oleh 4 penulis. Masing-masing
penulis mewakili satu karakter. Karena tokoh novelnya terdiri dari 2 pasang
gender, maka penulisnya juga sama. Masing-masing sengaja tampil beda, kendati
menggunakan perspektif orang pertama –saya, aku, gue, dan gua. Hal ini menjadi
kekuatan sekaligus kelemahan dalam berkisah.
Kekuatannya, karena dituturkan oleh 4 narator –dan 4 penulis
berbeda- tentu saja dengan kontrol untuk keutuhan penokohan dan plot, ceritanya
menjadi lebih natural jika dibandingkan dengan cerita yang dituturkan 4 narator
tetapi dikucurkan oleh satu penulis. Kelemahannya, 4 orang dari zaman yang
sama, pergaulan yang identik, gaya bicara yang idem ditto (bahasa gaul dengan
berbagai bahasa yang ada), hadir satu sama lain bagaikan orang asing.
Farah sibuk ber-gue-gue, Jusuf asyik ber-gua-gua, Retno senang ber-saya-saya,
dan Francis getol ber-aku-aku. Dan ketika mereka terlibat dialog bersama,
dengan setia gaya itu dipertahankan. Makanya, tanpa sadar (atau tak
terkoreksi), Farah yang doyan ber-gue-gue, khilaf ber-gua-gua (hlm. 139) dan
Francis yang biasanya ber-aku-aku, menambah gua dalam cita rasa lidahnya
(hlm. 215).
Meski bertutur menggunakan perspektif orang pertama, ketika
Retno dan Jusuf menjadi narator dan menceritakan chatting yang mereka
lakukan, baik penulis Retno maupun penulis Jusuf menuliskan nama karakter
mereka sendiri dan bukan 'saya' atau 'gua' untuk mengimbangi lawan bicaranya
(hlm. 29, 30, 43, 44). Pada halaman 83 dan 146 -teks dalam kotak, penulis Jusuf
malah menambah-nambahkan 'tim penulis' dalam tulisannya, seakan-akan tidak
tahan ingin masuk dalam cerita ciptaannya. Apakah itu perlu?
Selain cukup enak dinikmati, dalam novel ini pembaca akan
menemukan tips-tips traveling seperti perencanaan traveling,
transit, mengatasi jetlag, teknik backpacking, obat-obat
yang perlu disediakan, dan memilih transportasi serta akomodasi yang mungkin
bisa dimanfaatkan oleh pembaca yang hendak bepergian seperti yang pasti telah
dilakukan para penulis.
Buku karya 4 penulis –Adhitya, Alaya, Iman, dan Ninit- ini
tampil dengan kemasan yang baik dan ide sampul yang tidak pasaran. Sekilas
lihat tidak akan menduga jika buku ini sebuah karya fiksi. Satu hal yang saya
tidak pahami adalah ketika membaca komentar salah satu komentator novel yang
mengatakan bahwa plot novel susah dikenal; mood and background lebih
penting dari kejadian yang diceritakan. Dengan mengesampingkan kejadian yang diceritakan,
akan jadi apa buku ini selain sekadar travel guides dan laporan
perjalanan?
Barcelona! Such a
beautiful horizon
Barcelona! Like a jewel in the sun
Por ti sere gaviota de tu bella mar
Barcelona! Suenan las campanas
Barcelona! Abre tus puerras al mundo
If God is willing, if God is willing, if God is willing
Friends until the end