<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< May 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, May 31, 2008
HORELUYA



Judul Buku: HORELUYA
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Tebal: 240 hlm; 13,5 X 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


HORELUYA: KISAH KEAJAIBAN BIDADARI

 

Arswendo Atmowiloto bukanlah nama yang asing di dunia fiksi Indonesia. Lelaki kelahiran Solo, 26 November 1948, yang 'gila menulis' ini telah menghasilkan sejumlah karya fiksi seperti novel, cerpen, juga skenario film televisi dan layar lebar. Ia dikenal sebagai penulis serial Imung dan Keluarga Cemara yang pada masanya rutin menghiasi majalah remaja Hai, Senopati Pamungkas, Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku, dan CantingDua Ibu dan Mandoblang adalah 2 bukunya yang memenangkan Hadiah Buku Nasional. Menggunakan nama samaran Titi Nginung, Arswendo Atmowiloto menulis sejumlah novel opera seperti dwilogi petinju bernama Yoko; Opera Jakarta dan Opera Jakarta-Hongkong.

Horeluya adalah karya Arswendo Atmowiloto yang usai ditulisnya pada bulan Juni 2007. Sekarang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam novel setebal 240 halaman. Untuk novel ini, Arswendo menghadirkan sebuah keluarga Jawa sebagai wayang ceritanya.

Sepasang suami-istri muda, Johanes Kokrosono (Kokro) dan Maria Ludwina Ecawati (Eca) memiliki seorang anak perempuan bernama Teresa Lilin Sekartaji (Lilin), hampir 5 tahun. Dikelilingi kasih sayang ayah dan bunda serta Paklik Nayarana dan Bulik Ade dalam kehangatan keluarga sederhana, Lilin didiagnosis mengidap penyakit langka, anemia rhesus negatif. Gadis cilik ini membutuhkan donor golongan darah yang sama, padahal bukanlah hal yang mudah menemukan orang dengan golongan darah ini. Jika Lilin tidak mendapatkan donor, ia hanya akan bertahan dalam waktu 3 hingga 6 bulan sejak didiagnosis.

Kokro dan Eca tidak berhenti mengusahakan pengobatan Lilin. Bahkan sampai menjual rumah dua tingkat berpagar bagus hasil kerja keras mereka hampir 1 tahun. Dan tidak menyerah sekalipun Kokro mendadak dipecat dari pekerjaannya sebagai staf promosi pabrik biskuit dan mesti kembali ke pekerjaan lamanya di bengkel leter.  

Untuk Lilin, Eca mengikuti misa harian yang diadakan di sebuah gereja Katolik yang dikenal sebagai Gereja Lama. Selesai misa ia akan berdoa di depan patung Bunda Maria di sebuah gua di luar gereja, acap sambil menangis. Apa yang Eca lakukan tertangkap kamera seorang wartawan koran mingguan daerah bernama Adam yang kemudian memberitakan kebiasaan Eca sebagai penyembahan berhala.

Sementara itu, bulan Desember telah berjalan, Lilin ingin merayakan Natal di rumah, dan menginginkan adanya salju. Maka, untuk Lilin, Nayarana, sang paman, mempercepat datangnya malam Natal dengan salju kapas dan drama kelahiran Yesus Kristus. Bagaikan kabar sukacita di malam Natal, malam itu, sebuah kabar baik dibawa oleh Adam, wartawan yang sempat ketakutan pada Naya sehubungan dengan beritanya di koran. Ternyata berita dan foto dari Adam telah beredar di internet. Devi Efendi, seorang warga negara Malaysia, membaca tentang Lilin di internet dan berkenan menyumbangkan darah yang dibutuhkan Lilin.

Kokro dan Eca membawa Lilin ke Jakarta untuk mendapatkan transfusi darah. Sayangnya, setiba di Jakarta, Kokro dan Eca dihadapkan dengan kenyataan getir. Sebuah musibah menimpa Devi membuat perempuan ini tidak bisa menggenapi janjinya. Ada kemungkinan, Devi si calon pendonor darah malah membutuhkan transfusi darah yang sama. Lilin yang membutuhkan donor darah tiba-tiba ingin menyumbangkan darahnya untuk Devi. "Mauuuuu", itulah pernyataan Lilin yang menjadi katalisator bekerjanya keajaiban Tuhan.

Sebagaimana umumnya penulisan novel-novel Arswendo, Horeluya ditulis dengan lancar menggunakan bahasa yang tidak rumit yang mudah diikuti. Kalimatnya tidak semua panjang; terkadang malah pendek-pendek yang hanya terdiri dari satu atau dua kata setiap alinea. Dengan sedikit konsentrasi, buku ini akan selesai dibaca dalam tempo singkat.

Meski sendu, novel ini bukanlah novel pesimis. Novel ini justru memberikan pembelajaran berharga bagi pembaca untuk mengimani kebesaran Tuhan yang bekerja lewat kasih dan pengharapan manusia. Ketika iman manusia bertambah kuat, akan selalu terbuka kesempatan terciptanya keajaiban. Tuhan bisa memanfaatkan apa saja untuk kebaikan. Ejekan terhadap penyembahan Eca kepada apa yang ia imani bukannya menjerumuskan keluarganya ke dalam kesengsaraan tetapi menjadi sarana bekerjanya kuasa Tuhan.

Sering manusia memang tidak mengerti rencana Tuhan. "Karena rencanaNya, bukan rencana kita," aku Kokro (hlm. 97). Tetapi, semestinya apa yang terjadi, seperih apapun dampaknya, menjadi sarana "untuk lebih mendekat padaNya. Untuk lebih memahami dan mensyukuri KasihNya." (hlm. 97).) Ketulusan kasih Lilin untuk menyumbangkan darah yang sangat ia perlukan adalah bentuk syukur akan kasih Tuhan. Dan lihat sendiri, apa yang dialami Lilin kemudian!

Secara keseluruhan, Horeluya adalah novel sederhana yang juga ditulis dengan sederhana. Kita tidak akan menemukan konflik berbelit-belit ataupun yang melibatkan tokoh antagonis yang menyebalkan. Yang menjadi antagonis di sini tidak lain adalah anemia rhesus negatif itu sendiri. Selain itu, semua karakter yang ada terasa wajar, mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari, yang mungkin juga gambaran diri kita sendiri. Bacalah, Anda mungkin melihat diri Anda dalam karakter Eca, Kokro, Nayarana, Ade, atau bahkan Siti.

Tetapi, kesederhanaan, itulah justru yang menurut saya menjadi kekuatan novel ini. Kesederhanaan yang menyentuh hati yang mungkin akan membuat Anda tak menyadari air mata mengambang di pelupuk mata ketika menikmati novel ini!  

Seperti yang dikatakan Nayarana (hlm. 235), berhubungan dengan keajaiban yang terjadi dalam novel, novel ini mengajak kita untuk makin mendekat pada Tuhan, dengan segala doa dan upaya kepatuhan serta kesetiaan, karena hanya dengan inilah keajaiban itu mempunyai arti.

Lilin alias Sekartaji ingin menjadi bidadari kendati dalam hidupnya, bagi keluarganya, ia memang telah memperlihatkan 'keajaiban bidadari'. Tetapi, ketika ia menyebutkan kata "mauuuuu", ia lebih jauh memperlihatkan kualitas 'keajaiban bidadari' yang dikenal keluarganya. Ia memperlihatkan kualitas keajaiban bidadari dalam bentuk yang paling tinggi, belas kasih yang menyentuh hati, yang sanggup membaurkan teriakan hore dan haleluya (bahasa Ibrani, berarti Pujilah Tuhan) menjadi  HORELUYA.


Posted at 08:42 pm by Jody
Comment (1)  

Friday, May 23, 2008
LOLITA



Judul : LOLITA
Penulis: Vladimir Nabokov (1955)
Penerjemah: Anton Kurnia
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008; 529 hlm
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta


LOLITA: MANIS GETIRNYA CINTA TERLARANG

 Pernah mendengar istilah Lolita atau Lolita Syndrome? Istilah Lolita menggambarkan tentang perempuan muda yang dewasa/matang secara seksual sebelum waktunya Sedangkan Lolita Syndrome adalah keadaan di mana seorang dewasa, umumnya lelaki, tertarik secara seksual kepada anak-anak pada masa pubernya; kondisi ini juga disebut efebofilia. Kedua istilah ini muncul dari dua karakter utama novel Lolita, novel kontroversial yang ditulis oleh penulis berdarah Rusia, Vladimir Nabokov (1899-1977). Novel ini pertama kali diterbitkan di Paris pada tahun 1955 karena tidak ada penerbit Amerika yang mau menerbitkannya. Ketika akhirnya diterbitkan di Amerika (1958), Lolita masuk daftar bestseller, menjadi novel pertama sejak Gone with the Wind yang terjual 100 ribu kopi dalam 3 minggu pertama diterbitkan.

Kisah dalam novel ini merupakan pengakuan seorang laki-laki efebofil yang namanya disembunyikan di balik pseudonim Humbert Humbert. Ia menulis dalam bentuk memoar yang mengungkapkan latar belakang kejahatan yang dia lakukan dan sempat menghiasi koran-koran pada bulan September 1952. Tulisan Humbert Humbert ini awalnya berjudul Lolita, atau Pengakuan Seorang Duda (Lolita, or The Confessions of a White Widowed Male). Setelah Humbert meninggal, pengacaranya membawa memoarnya kepada seorang editor peraih penghargaan kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul Lolita.

Humbert Humbert lahir di Paris dan tumbuh di Riviera. Di sana dia bertemu Annabel Leigh, bocah perempuan cantik yang lebih muda beberapa bulan darinya. Cinta monyet mereka kandas karena Annabel meninggal dunia akibat tifus 4 bulan setelah pertemuan mereka. Menurut Humbert, pengalaman cinta yang gagal dengan Annabel telah menciptakan ketertarikannya pada gadis-gadis muda berusia antara 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai nymphet (peri asmara).

Dua puluh empat tahun setelah pertemuannya dengan Annabel dia berjumpa dengan peri asmara berusia 12 tahun, Dolores.

Pernikahan Humbert Humbert dengan perempuan bernama Valeria yang mengalami kegagalan ternyata tidak bisa menepis selera ganjilnya pada gadis-gadis kecil. Ketika dia pindah ke Amerika untuk bekerja, penyakit yang menyerangnya secara tak terduga meretas jalan ke rumah seorang janda bernama Charlotte Haze. Dalam sebuah rumah di Ramsdale, New England, ini Humbert menemukan peri asmara yang membuat dirinya mabuk kepayang.

"Dia adalah Lo yang biasa-biasa saja di pagi hari, setinggi seratus lima puluh senti, mengenakan sebelah kaus kaki. Dia adalah Lola saat mengenakan celana panjang longgar. Dia adalah Dolly di sekolah. Dia adalah Dolores pada data isian bertitik-titik. Namun, dalam pelukanku dia adalah Lolita," demikian ungkap Humbert (hlm.15) mengenai kekasih kecilnya.

Bagi Humbert, Lolita adalah titisan Annabel, tak bakal ada Lolita jika ia tidak pernah jatuh cinta pada Annabel di masa kecilnya. Pesona Lolita berhasil menahan Humbert di Ramsdale ketika lelaki setengah baya ini berniat meninggalkan kota kecil itu. Tetapi, untuk meraih si gadis kenes pembangkang ke dalam pelukannya, ternyata tidak gampang. Untuk itu Humbert terpaksa menikahi ibu si peri asmara yang sangat egois. Karena jika tidak, Humbert harus meninggalkan keluarga Haze.

Ada keinginan yang menggoda Humbert untuk mencelakakan Charlotte demi meraih putrinya. Tetapi sebelum niat itu menjadi tindakan, Charlotte tewas dalam sebuah kecelakaan setelah mengetahui kalau Humbert tidak mencintai dirinya dan menginginkan tubuh putrinya.

Peluang terbuka bagi Humbert. Dia meninggalkan Ramsdale, menjemput Lolita di perkemahan musim panas. Dia mengatakan pada Lolita jika Charlotte sedang sakit. Kebohongannya tidak sempat menua. Ketika Lolita tahu, tak ada pilihan lain, dara kecil ini terpaksa mengikuti Humbert menjelajahi berbagai negara bagian. Dalam perjalanan yang memakan waktu ini Humbert akhirnya bisa mereguk kenikmatan dari tubuh molek si peri asmara. Kendati menemukan dirinya bukan lelaki pertama yang menjelajahi tubuh Lolita (Lolita telah melakukan hubungan seks dengan teman sekolahnya), Humbert tidak berniat melepaskan Lolita dan meninggalkan dirinya sendiri. Bahkan pada saat-saat Lolita menghilang dalam waktu-waktu tertentu, Humbert menjadi lelaki tua pencemburu.

Humbert tidak pernah menduga cinta dan kemanjaan yang ia limpahkan pada putri tirinya hanya bertepuk sebelah tangan. Lolita tidak mencintainya. Lolita jatuh cinta kepada seorang lelaki yang diam-diam membayang-bayangi perjalanan mereka, seorang lelaki pedofil yang berniat mendapuk Lolita sebagai bintang film pornonya. Hingga suatu hari, Lolita meninggalkan Humbert tanpa pamit.

Pertanyaannya, apakah Humbert masih akan bertemu lagi dengan Lolita sebelum dia meninggal? Tindakan kejahatan apa lagi yang dilakukan Humbert hingga dia dijebloskan dalam tahanan, tempat dia menuliskan memoarnya ini? Bagian-bagian terakhir novel akan mengungkap segalanya dengan tuntas dan tidak terduga. Humbert tidak pernah tahu, harapannya yang berhubungan dengan penerbitan memoarnya sebagai buku (hlm. 524) telah bisa dilakukan hanya sebulah setelah dia meninggal. Hal itu berhubungan dengan meninggalnya Nyonya "Richard F. Schiller" saat melahirkan seorang bayi perempuan Natal 1952 (hlm. 8,9).

Novel Lolita merupakan sukses monumental yang mengubah kehidupan Vladimir Nabokov. Kesuksesan Lolita membuat Vladimir meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di beberapa universitas Amerika dan hidup sepenuhnya sebagai penulis yang mengantarnya menjadi empu novel dunia, baik dalam sastra berbahasa Rusia maupun Inggris. Sejumlah karyanya yang ditulis dalam bahasa Inggris dialihkannya ke dalam bahasa Rusia, termasuk Lolita yang oleh majalah internasional Time dinobatkan sebagai salah satu karya sastra dunia paling berpengaruh di abad ke-20. Sampai saat ini, Lolita telah dua kali difilmkan; tahun 1962 oleh Stanley Kubrick dan tahun 1997 oleh Adrian Lyne.



Vladimir Nabokov

Lolita adalah 'novel indah yang abadi', demikian pernyataan di sampul belakang novel edisi Indonesia terbitan Serambi. Cap abadi memang pantas melekati novel ini. Hingga kini Lolita masih terus menjadi bahan perbincangan dan menjadi buku laris di berbagai negara. Julukan novel yang indah sangat layak ditempelkan ke novel ini. Lolita memang ditulis dengan indah menggunakan kalimat-kalimat dengan pilihan kata yang memikat yang di banyak tempat terasa lezat nuansa puitisnya. Kalimat-kalimat berbahasa Prancis tampaknya memang disengaja. Humbert Humbert lahir dan besar di Prancis sehingga tidak aneh jika sesekali ia menginsersi bahasa yang ia kuasai dalam memoarnya.

Pada masanya, tema yang diusung Nabokov memang tergolong kontroversial. Tetapi tema seorang laki-laki dewasa yang terobsesi dengan seorang gadis remaja bukanlah tema baru baginya. Dia pernah menuliskan tema ini dalam karyanya yang lain. Sebelum novel ini terbit, seperti disinggung Nabokov dalam novel, pernah terjadi kasus yang mirip pada tahun 1948 (hlm. 494). Sally Horner, gadis 11 tahun, diculik oleh seorang montir berusia 50 tahun bernama Frank La Salle. Sally Horner dibawa berkelana selama 21 bulan dan diyakini melakukan hubungan seks dengan La Salle. Jadi, sejatinya novel ini bukanlah novel fantasi untuk mendorong hawa hafsu lelaki setengah baya terhadap gadis-gadis usia 9-14 tahun. Selain tidak ada penggambaran hubungan seks yang intensif dan blak-blakan yang tidak senonoh, Nabokov hanya membeberkan kenyataan yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia. Sekarang penerimaan terhadap novel ini tentu saja menjadi hal yang biasa. Bukankah berita lelaki setengah baya yang terpikat gadis-gadis remaja terdengar familier di telinga kita? Kasus yang melibatkan lelaki setengah baya dengan gadis-gadis usia peri asmata bukan kasus baru di Indonesia. Dalam kehidupan kita saat ini, bukan hal yang sukar untuk menemukan manusia jenis Humbert Humbert dan Lolita.

Dilihat dari isinya, Lolita bisa disebut sebagai novel komedi tragis. Meski kisah birahi seorang lelaki setengah baya yang meledak-ledak kepada seorang gadis puber terkesan menggelikan, novel ini hadir kuat sebagai novel kelam. Jalan hidup yang ditempuh Lolita sebelum dan setelah lepas dari Humbert Humbert adalah jalan hidup yang kelabu, dan tindakan keras yang diambil Humbert Humber dengan pistol di tangannya adalah pilihan mengundang petaka. Tidak ada yang berbahagia di penghujung novel yang rawan. Meski harus diakui, tindakan Humbert mengindikasikan jenis kekuatan cinta yang bisa sangat menyentuh dalam hidup manusia kendati itu cinta terlarang.

Setelah usai membaca novel ini, karakter Humbert Humbert dan Lolita masih terasa hidup dalam jiwa saya. Begitu indah dan begitu intensnya sang novelis menganyam kata dan kisah sehingga kehidupan mereka masih membekas bahkan setelah kisah berakhir.

Pengalaman membaca yang mengesankan, untuk edisi Indonesia, sudah pasti sangat ditentukan oleh kepiawaian penerjemahnya. Saya kira, Anton Kurnia bisa dikatakan sangat berhasil dengan karya terjemahannya ini. Ia sukses membawa novel berusia 50 tahun lebih ini dalam bahasa Indonesia yang hidup, cantik, dan terasa baru. Penerjemah yang juga seorang cerpenis, esais, dan editor ini antara lain telah menghasilkan novel terjemahan seperti Harun dan Lautan Dongeng (Salman Rushdie, 2002), Les Miserables (Victor Hugo, 2006), dan Seorang Sultan di Palermo (Tariq Ali, 2007; bersama istrinya Atta Verin)

Tentu saja tidak ada orang tua yang menginginkan pengalaman Lolita dialami salah satu anggota keluarganya. Apa yang terjadi antara Lolita dan Humbert Humbert bukanlah teladan yang baik. Tetapi, kenapa kisah ini mesti dituliskan? '"Lolita" seharusnya membuat kita semua –para orangtua, pekerja sosial, pendidik- meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan generasi yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman', demikian penjelasan John Ray, si penyunting memoar Humbert Humbert (hlm. 11). Karena, "Bocah pembangkang, ibu yang egois, maniak yang penuh nafsu –semua ini bukan hanya tokoh-tokoh yang kuat dalam sebuah kisah yang unik: mereka memperingatkan kita terhadap kecenderungan-kecenderungan yang berbahaya, mereka menunjukkan kejahatan-kejahatan yang mungkin terjadi." (hlm. 11).

Lima puluh tahun lebih telah berlalu sejak Lolita pertama kali diterbitkan, tetapi ternyata waktu telah kekal mengawetkan keindahan novel ini. Bacalah, saya merekomendasikan novel ini bagi yang belum pernah membacanya!


 

Posted at 11:55 am by Jody
Make a comment  

Thursday, May 22, 2008
SNOW



Judul Buku: SNOW (Di Balik Keheningan Salju)
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Diterjemahkan dari : Snow (Faber and Faber, 2005)
Tebal: 731 hlm; 13 X 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta


SNOW : DI BALIK KEHENINGAN SALJU

 
Ferit Orhan Pamuk atau Orhan Pamuk adalah novelis Turki yang sangat populer dalam sastra pasca-modernis. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa dan mendapatkan berbagai penghargaan di dalam negeri dan internasional. Puncaknya, pada tanggal 12 Oktober 2006, Pamuk menggondol Nobel bidang kesusastraan atas karya-karyanya. Ia menjadi pengarang Turki pertama yang memperoleh penghargaan ini. Untuk diketahui, Nobel Sastra diberikan pada pengarang yang "karyanya paling bagus dan memiliki idealisme yang maju" dan karya ini merujuk pada keseluruhan karya si pengarang, bukan kepada karya satuan.

Pamuk secara teratur mulai menulis sejak tahun 1974 dengan karya perdana bertajuk Karanlık ve Işık (Darkness and Light) yang menjadi salah satu pemenang Milliyet Press Novel Contest tahun 1979. Novel perdana ini diterbitkan pada tahun 1982 dengan judul Cevdet Bey ve Oğulları (Mr. Cevdet and His Sons) dan memenangkan Orhan Kemal Novel Prize. Selanjutnya ia menulis novel-novel pemenang berbagai penghargaan seperti Sessiz Ev (The Silent House, 1983), Beyaz Kale (The White Castle, 1985), Kara Kitap ( The Black Book, 1990), Yeni Hayat (New Life, 1995), dan Benim Adım Kırmızı (My Name is Red, 1998). Novel yang disebutkan terakhir di Indonesia telah diterbitkan Serambi sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006). Novel inilah yang kian menjulangkan reputasi Pamuk dalam kancah literatur internasional.

Kar (2002) adalah novel ketujuh Pamuk yang diterjemahkan sebagai Snow (2004) oleh Maureen Freely, seorang penulis yang besar di Turki. Maureen Freely telah menerjemahkan karya Pamuk yang lain seperti The Black Book (novel, 2006), Istanbul: Memories of a City (memoar, 2005) dan Other Colors: Essays and a Story (esai, 2007). Untuk edisi Indonesia, Snow diterjemahkan sebagai Snow: Di Balik Keheningan Salju oleh Berliani Nugrahani, penerjemah dan editor yang antara lain telah menghasilkan karya terjemahan The Kite Runner (2006), The Hidden Face of Iran (2007), dan Middlesex (2007). Edisi Prancis novel ini, La Neige, memenangkan penghargaan Prix Medicis Etrange tahun 2005 dan oleh New York Times dinyatakan sebagai salah satu dari Sepuluh Buku Terbaik tahun 2004.



Orhan Pamuk

Tokoh utama Snow adalah Kerim Alakuşoğlu yang lebih suka dipanggil inisialnya, Ka, seorang penyair yang masih lajang dalam usianya yang ke-42. Ia meninggalkan Istanbul menuju sebuah kota bernama Kars, dalam sebuah perjalanan di tengah-tengah badai salju. Ka baru datang dari Jerman setelah 12 tahun meninggalkan Turki dan menjadi tahanan politik, kendati ia tidak pernah benar-benar menjadi aktivis politik. Ka adalah seorang pria yang jujur, beritikad baik, dan melankolis (hlm. 11). Ia bermasalah dengan kebahagiaan, menghindari kebahagiaan karena takut akan kepedihan yang mungkin mengikuti kebahagiaan itu.

Sebenarnya Ka datang ke Istanbul hanya untuk menghadiri pemakaman ibunya. Tetapi setelah 4 hari di kota itu, ia memutuskan mengadakan perjalanan ke Kars, kota yang ia pernah kunjungi 20 tahun berselang. Ia datang ke Kars dengan tujuan meliput pemilihan walikota yang akan segera berlangsung setelah walikota Kars tewas dibunuh. Selain itu ia bermaksud menguak misteri epidemi bunuh diri yang melanda sejumlah gadis di Kars, salah satunya, gadis dari kelompok 'gadis-gadis berjilbab'.

Seorang teman sekelas Ka dahulu di Istanbul, si jelita Ipek Yildiz, ternyata telah menetap di Kars bersama Turgut, ayahnya yang ateis, dan Kadife, adiknya, mantan model yang telah menjadi pemimpin 'gadis-gadis berjilbab'. Mereka mengelola Hotel Istana Salju. Ipek telah bercerai dari suaminya, Muhtar, yang berambisi menjadi walikota Kars. (Saya tidak setuju dengan sinopsis sampul belakang novel yang menyebutkan bahwa Ka berhasrat untuk menemukan cinta masa lalunya karena dalam novel tidak digambarkan jika Ka pernah jatuh cinta atau menjalin cinta dengan Ipek sebelumnya). Di Kars, Ka tinggal di Hotel Istana Salju sambil melakukan investigasi. Seiring dengan investigasinya, badai salju menutup jalan keluar dari Kars dan membuat kota ini terisolasi.

Kedatangan Kar dalam posisi sebagai jurnalis koran Republican membuat berbagai kalangan penasaran dan ingin tahu sebenarnya apa motivasi Ka. Hal ini membuat hidupnya mau tidak mau berpapasan dengan berbagai karakter seperti pengelola koran lokal Kars (Serdar), anggota kepolisian, prajurit pembela negara sekuler Turki, agen MIT, syekh karismatik bernama Saadettin Cevher, seorang lelaki cacat yang menganggap dirinya sebagai agen Islam tetapi bermental Casanova, murid-murid madrasah aliah yang tengah bergelut dengan cinta dan cita-cita serta seorang seniman teater yang mencoba bangkit dari kegagalan karier di masa lalunya. Kars yang terisolasi dalam selimut salju, ternyata bukan tempat yang damai dan bebas teroris seperti yang diungkapkan oleh Kasim Bey, asisten kepala polisi Kars.

Diawali dengan peristiwa pembunuhan direktur Institut Pendidikan Kars, Profesor Nuri Yilmaz, oleh seorang ekstremis Muslim yang disaksikan oleh Ka dan Ipek di sebuah toko kue, investigasi Ka berubah menjadi usaha untuk menyelamatkan diri sendiri. Ia mesti melalui rangkaian peristiwa yang meledak dalam sebuah kudeta berdarah pada sebuah pementasan teater dan bermuara pada terbunuhnya seorang seniman teater yang ambisius.

"Sejarah dan teater terbuat dari bahan yang sama, seperti dalam teater, sejarah memilih siapa orang yang tepat untuk menjadi pemeran utama. Dan, sama seperti para aktor yang mengerahkan seluruh keberaniannya di atas panggung, sedikit orang yang terpilih sebagai pelaku sejarah juga harus melakukan hal yang sama," demikian keyakinan Sunay Zaim (hlm. 335-336). Keyakinan inilah yang memanaskan konflik yang memang merebak di Kars, kemelut antar agama dan sekularisme serta keruhnya suasana karena keputusan-keputusan negara sekuler Turki. Dan di tengah-tengah panasnya konflik ini Ka terjebak, berusaha memperjuangkan kebahagiaan yang ternyata hanya mengukuhkan keyakinannya sendiri bahwa kepedihan memang berpotensi membuntuti kebahagiaan.

Sebagian besar isi novel dituturkan dari perspektif orang ketiga, dari sudut pandang Ka, sang karakter utama. Tetapi, terkadang Orhan Pamuk, sang novelis, menggulirkan cerita dari sudut pandang orang pertama, yakni dari sudut pandang teman lama Ka. Teman Ka berkisah berdasarkan buku catatan Ka dan berbagai sumber yang ia temukan ketika menelusuri kehidupan Ka sampai di Kars, setelah 4 tahun berlalu dan tokoh utama ini tewas dibunuh. Ialah yang menulis novel berjudul Snow ini, menggunakan judul buku Ka yang belum sempat diterbitkan. Narator 'aku' ini yang kemudian diketahui bernama Orhan, tidak lain adalah Orhan Pamuk sendiri dalam novel. Hal ini diperkuat oleh keterangan di bab penutup novel bahwa si 'aku' telah menulis novel The Black Book dan memiliki seorang anak perempuan bernama Rüya, nama yang sama kepada siapa novel ini dipersembahkan Orhan Pamuk, sang novelis.

Dalam novel ini, Orhan Pamuk memperlihatkan dirinya sebagai novelis yang senang menggunakan narator spoiler. Narator yang ada dalam novel tak segan-segan menceritakan apa yang akan terjadi pada tokoh-tokoh yang ditemui Ka, sementara dalam ceritanya Ka sendiri belum tahu. Dan hal ini telah dimulai sejak bab pertama. Yang paling menonjol (dan bikin saya jengkel tetapi juga geli) adalah tentang kematian Necip dan salah satu matanya yang akan tertembus peluru.

Snow hadir bagaikan refleksi kehidupan bangsa Turki sendiri. Sebuah bangsa yang terbelah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Terdapat kalangan yang membenci modernisasi dan pengaruh Eropa, tetapi juga ada kalangan yang menyukai dan mendukungnya. Eropa dianggap kafir dan menjadi impian yang membuat bangsa Turki mengabaikan kebudayaannya sendiri. Pertentangan dua kubu membuat terciptanya perseteruan yang merambat ke dunia politik antara kaum sekuler dan kaum islamis. Dalam novel ini pertentangan diperlihatkan secara jelas melalui kasus pelarangan pemakaian jilbab terhadap siswa-siswa perempuan di institusi pendidikan yang antara lain telah menyebabkan seorang gadis berjilbab memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Pelarangan ini merupakan keputusan negara sekuler Turki. Hal ini tentu saja mendatangkan kemarahan pada berbagai kalangan Muslim yang mendukung keras pemakaian jilbab dan mereka rela membela walau harus melakukan tindakan kriminal. Kenyataannya, di Turki, memang tidak leluasa warganya untuk memilih keyakinan yang diinginkan. Lihat saja apa yang menjolok Ka bertengger di ujung tanduk.

Secara tak terduga, Snow menjadi sebuah thriller politik berbumbu romansa percintaan yang cukup kental. Ka, yang dalam hidupnya berusaha menjauhkan diri dari dunia politik, tak menyangka keputusannya datang ke Kars justru memerangkap dirinya dalam intrik-intrik dunia politik sebuah kota kecil yang mencekam. Keterlibatan dirinya bahkan menjadi teori atas tewasnya dirinya pada suatu malam di jalanan Frankfurt dan dunia kehilangan puisi-puisi yang diraciknya di balik keheningan salju Kars.

Tetapi, meski Snow menjadi sebuah kisah thriller, Orhan Pamuk tidak bermaksud (atau tidak mampu?) membuatnya menjadi thriller yang mengundang penasaran pembaca. Orhan Pamuk menguak kematian Ka terlalu cepat. Saya lebih suka membayangkan kematian Ka baru disingkapkan di penghujung novel. Jika ketahuannya di penghujung novel pembaca akan terus-menerus bertanya nasib Ka di Kars, apakah ia akan tewas dalam situasi yang mencekam atau justru selamat dan meninggalkan Kars. Pada titik tertentu Orhan Pamuk menggambarkan betapa keberadaan Ka di Kars membuat Ka terjebak di antara hidup dan mati sehingga berpotensi menciptakan ketegangan. Sayangnya sudah ketahuan ia akan lolos dari Kars dan meninggal sekitar 4 tahun kemudian.

Sejatinya, Snow adalah novel yang baik, mengusung kisah lokal membumi yang tidak mengada-ada. Ceritanya juga tidak sulit untuk diikuti. Pantaslah kalau novel ini diisbatkan sebagai salah satu buku terbaik oleh media massa tertentu. Hanya, untuk bisa menikmati novel ini bagi yang tidak terbiasa dengan gaya penulisan Orhan Pamuk (atau pengarang internasional sejenis) perlu kesabaran untuk menuntaskannya. Kendati gemar spoiler, Orhan bukanlah penulis ringkas. Pembaca mesti bertahan membaca narasinya yang panjang-panjang dan dialognya yang pada beberapa tempat juga panjang-panjang dan terkesan sedang mengkhotbahi pembaca. Gaya penulisan seperti ini di sisi lain memang memberikan kontribusi yang baik bagi novel. Orhan Pamuk jadi memiliki ruang yang leluasa untuk mengeksplorasi karakter-karakter ciptaannya beserta dengan pikiran dan perasaan mereka. Hal ini berdampak pada eksistensi karakter-karakter yang terasa sangat kuat.

Hal yang mengundang penasaran saya adalah 19 puisi yang diciptakan Ka selama 3 hari berada di Kars. Orhan, sang 'aku' dalam novel, bisa menceritakan proses terciptanya puisi-puisi itu setelah 4 tahun Ka mengalami writer's block. Tetapi, tidak ada 1 pun puisi yang dikutip dalam novel (termasuk puisi yang diketahui Orhan dari sebuah video rekaman). Aneh juga jika Ka mencatat detail-detail kejadian yang ia alami beserta proses kreatif puisi-puisi tersebut, tapi tidak menulisnya dalam jurnal yang dijadikan salah satu sumber data oleh Orhan, bapaknya Rüya. Manuskrip kumpulan puisi Ka –kemudian- diceritakan, mungkin, dibawa pergi pembunuh Ka, sehingga Orhan tidak tahu isinya.

Snow (Salju) bagi Kadife dan Ipek adalah tentang 'betapa indah dan pendeknya kehidupan dan meskipun saling membenci, semua orang memiliki banyak persamaan. Karena itulah salju mempersatukan umat manusia. Salju seolah-olah menjadi selimut yang menyelubungi kebencian, keserakahan, dan kemarahan, dan membuat semua orang merasa berdekatan' (hlm. 191). Saya rasa inilah yang mau disampaikan oleh Orhan Pamuk pada pembaca. Keberadaan perbedaan di antara manusia bukanlah alasan untuk membuat orang bertikai dan saling membunuh.

Hasil terjemahan edisi Indonesia terbilang bagus sehingga secara pribadi saya bisa membacanya dengan lancar. Hanya, menurut saya nama-nama seperti Hotel Istana Salju, Kedai Teh Teman Bahagia, Pondok Bir Kegembiraan (ada juga Rumah Bir Kesenangan), Jalan Prajurit, Toko Kue Hidup Baru, dan Studio Foto Istana Cahaya sebaiknya tetap memakai bahasa asli. Karena edisi Indonesia ini diterjemahkan dari edisi Inggris, saya yakin pengalihan nama-nama itu dari bahasa Turki telah terjadi dalam proses translasi ke bahasa Inggris. Padahal, menurut saya, lebih tepat jika menggunakan bahasa Turki dan diberi terjemahannya.

Saya juga bertanya-tanya soal Lazuardi yang pada beberapa tempat menggunakan nama Biru dan Blue (hlm. 49 & 557). Karena saya tidak membaca edisi Inggrisnya, saya menduga Lazuardi adalah nama yang diterjemahkan oleh penerjemah edisi Indonesia, dan luput pada beberapa tempat. Hasilnya terkesan tidak konsisten. Selain itu, sepertinya novel terjemahan ini masih membutuhkan catatan-catatan tambahan untuk kesempurnaannya. Seperti yang dilakukan Anton Kurnia dalam novel terjemahannya, Lolita (Serambi, Maret 2008), terkadang catatan kaki memang dibutuhkan. Misalnya penjelasan sebutan Bey atau Ham1m, MIT, PKK, atau siapa itu Edward G. Robinson.

Sebelum masuk ke dalam novel, kita akan membaca sebuah kutipan yang mengatakan bahwa, "Politik dalam karya sastra adalah sebuah pistol yang ditembakkan di tengah-tengah sebuah konser, sebuah tindakan kejam yang mustahil diabaikan" (Stendhal, The Charterhouse of Parma, hlm. 7). Orhan Pamuk telah menembakkan 'pistol' ke tengah-tengah novel Snow, sebuah konser penuh warna ala Orhan Pamuk, sang bintang yang telah terbit di Timur, yang sayang untuk diabaikan. Setidaknya, bagi saya.


Posted at 07:49 pm by Jody
Make a comment  

Monday, May 05, 2008
THE SPELLMAN FILES




Judul Buku : Berkas-berkas Keluarga Spellman
Judul Asli: The Spellman Files (2007)
Penulis: Lisa Lutz
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008; 550 hlm.
Penerbit: Atria (PT Serambi Ilmu Semesta)

 

 KISAH KELUARGA UNIK PELANGGAR PRIVASI

Sejarah Keluarga Spellman dimulai pada tahun 1974 ketika Albert Spellman, seorang detektif swasta, bertemu Olivia Montgomery, seorang detektif amatir dalam sebuah penyelidikan. Bertemu dalam kondisi yang kurang lebih sama, mereka memutuskan menikah kemudian mendirikan kantor detektif yang dinamakan Spellman Investigations.

Ketika anak-anak mereka lahir, anak-anak itu terlibat dalam bisnis keluarga. David, anak sulung, sang lambang kesempurnaan, tidak bisa bertahan dalam bisnis keluarga. Dengan alasan semua orang berhak mendapatkan privasi, pada usia 16 tahun David meninggalkan pekerjaannya.

Isabel "Izzy" Spellman, anak kedua, terlibat bisnis keluarga sejak berusia 12 tahun dan bertahan hingga berusia 28 tahun. Seperti keluarganya, ia tidak sepakat dengan pendapat dan keputusan David. Pada saat Isabel berusia 14 tahun dan mengganggap kenakalan-kenakalan masa remaja yang ia buat adalah bentuk keseimbangan terhadap kesempurnaan David, lahirlah Rae Spellman, si bungsu, wujud kasih sayang Albert kepada abangnya, Ray Spellman.

Ray Spellman, seperti adiknya, juga mantan polisi. Meski menganut pola hidup sehat, ia didiagnosis mengidap kanker paru-paru. Tetapi ia tidak meninggal.  Ia ditinggalkan istrinya, dan memutuskan untuk memutarbalikkan pola hidupnya. Ia menjadi jago minum, penikmat narkoba, dan gemar berjudi. Ia sering menghilang dalam episode-episode Akhir Pekan Yang Hilang (Lost Weekend) yang mencapai 27 kali.


Lisa Lutz

Sepasang suami-istri, tiga anak, dan seorang paman dalam sebuah keluarga ganjil dan unik ini menjadi karakter-karakter utama dalam novel perdana Lisa Lutz, penulis yang pernah menulis skenario film Plan B (disutradarai Greg Yaitanes, 2001). Skenario The Spellman Files yang ditulisnya tidak berhasil difilmkan dan dialihkan menjadi novel. Uniknya, setelah jadi novel The Spellman Files akan difilmkan oleh Paramount Pictures, dengan kata lain, akan dibuat skenarionya.

Isabel Spellman adalah tokoh sentral novel dari mana kisah-kisah dalam The Spellman Files diceritakan. Setelah 16 tahun membantu Albert dan Olivia, ia memutuskan berhenti menjadi detektif swasta berlisensi, sebagaimana kakaknya. Tetapi alasannya berbeda. Tidak seperti David, Isabel terlahir sebagai anak yang mencintai pekerjaannya. Jadi, harusnya berat bagi Isabel untuk minggat dari pekerjaan ini.

Isabel sendiri tahu persis sifat bisnis keluarganya. "Sifat dasar bisnis kami: mengorek-ngorek, secara sah, dan kadang-kadang melanggar hukum," kata Isabel (hlm 48). Ya, dalam bisnis detektif swasta mereka melakukan apa saja untuk mengungkap kasus: mengacak-acak sampah, berbohong guna mendapatkan nomor Jaminan Sosial yang bisa dipakai untuk memeriksa latar belakang target, juga menguntit orang yang diselidiki, kalau bisa kejar-kejaran mobil. Isabel sadar juga, tindakan intervensi urusan dan hidup orang lain ini bisa terjadi antar mereka, anggota keluarganya. "Ketika kau tahu tentang apa yang bisa dilakukan oleh dirimu sendiri dan orangtuamu, yaitu ikut campur dalam kehidupan orang lain, mendirikan benteng kokoh untuk melindungi privasimu sendiri menjadi naluri keduamu," jelasnya (hlm. 48).

Tetapi ketika Isabel tidak bisa mendirikan benteng kokoh untuk melindungi privasi, ia menjadi marah. Olivia, dibantu Rae, berhasil mengungkap musabab perubahan Isabel setelah bertemu Daniel Castillo. Mengetahui Daniel seorang dokter gigi, Olivia yang pernah bermasalah dengan dokter gigi bertekad membubarkan hubungan cinta putrinya. Sebaliknya, melihat reaksi orang tua Isabel, ditunjang oleh kebohongan yang Isabel lakukan, lengkaplah alasan Daniel untuk meninggalkan Isabel. Tentu saja Isabel tidak begitu saja melepaskan pacar kesembilannya ini. Ia mesti memperjuangkan cintanya. Dan itu berarti meninggalkan bisnis keluarganya!

Jika Isabel meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif swasta, ia mesti mendapatkan pekerjaan baru. Ia membutuhkan semacam referensi atau surat rekomendasi. Untuk mendapatkan surat itu, ia harus mengupas kasus yang gagal ditangani Spellman Investigations 12 tahun sebelumnya. Kasus yang sebenarnya sudah dipetieskan itu adalah kasus menghilangnya seorang remaja bernama  Andrew Snow pada  18 Juli 1995.

Di tengah-tengah usaha Isabel memecahkan kasus Snow, ia menyadari sesungguhnya orangtuanya tidak pernah bermaksud melepaskan kontrol atas dirinya. Dan belum lagi kasus itu terpecahkan, Rae tiba-tiba menghilang.

Apakah Izzy akan melepas kasus Snow, bisa mempertahankan cinta Daniel Castillo dan menguak misteri hilangnya Rae, akan terjawab dengan meyakinkan pada bagian-bagian akhir novel nominee Dilys Award 2008 (dari Independent Mystery Booksellers Organization) ini.

The Spellman Files yang berseting tahun 2007 dan diindonesiakan sebagai Berkas-berkas Keluarga Spellman bak perpaduan chicklit dan kisah misteri dalam atmosfer sinetron komedi situasi Amerika (diceritakan Isabel adalah penggemar fanatik serial komedi situasi 1960-an, Get Smart). Cerita digelar Lisa Lutz dengan gaya penulisan chicklit yang kental yang bisa diindonesiakan dengan cemerlang oleh Berliani Nugrahani sebagai penerjemah. Hasilnya, kisah ringan menghibur dengan kalimat-kalimat lancar yang enak dibaca. Meski bukan novel ramping dengan kisah beralur tidak lempeng, sampai akhir novel seluruh cerita bisa diikuti. Sungguh menarik mengikuti kehidupan problematis masing-masing anggota keluarga Spellman. Masing-masing mencoba membentuk benteng untuk melindungi privasi, tetapi ternyata tidak cukup kokoh menghadapi serangan internal. Kiranya, itulah yang menjadi kekuatan novel debutan Lisa Lutz ini.

Novel yang dianugerahi Alex Award 2008 (dari Young Adult Library Services Organization) ini menampilkan kisah kehidupan sebuah  keluarga yang tidak biasa. Sebuah keluarga yang dengan seenak-enaknya mengukuhkan pelanggaran privasi orang sebagai hal yang jamak tetapi tidak serta merta menerima pelanggaran privasi yang terjadi pada dirinya. Dan uniknya, pelanggaran privasi pun terjadi di tengah-tengah keluarga dalam atmosfer saling curiga, saling memata-matai, dan napsu ingin tahu rahasia gelap masing-masing anggota keluarga. Di penghujung novel akan ketahuan siapa anggota keluarga yang paling berhasil melanggar privasi!

Sejarah keluarga Spellman tidak akan berhenti hanya sampai di The Spellman Files. Lisa Lutz telah melanjutkan kisah keluarga ini dalam Curse of the Spellmans (2008) dan masih akan meneruskannya dalam Revenge of the Spellmans.

 

Posted at 09:16 am by Jody
Make a comment  

Sunday, May 04, 2008
MAXIMUM RIDE #1: THE ANGEL EXPERIMENT




Judul Buku: Maximum Ride #1:  Eksperimen Malaikat (The Angel Experiment)
Penulis: James Patterson (2005)
Penerjemah: Poppy Damayanti
Tebal : 536 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan pertama, April 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 MAXIMUM RIDE #1 : THE ANGEL EXPERIMENT

 

Bayangkanlah diri Anda diambil dari kehangatan keluarga dan kehidupan normal, dikurung dalam kandang seperti tikus percobaan di laboratorium, dijejali DNA unggas, dan hadir sebagai produk rekayasa genetika, 98 persen manusia dan 2 persen burung. Anda manusia, tetapi memiliki sayap sehingga bisa terbang. Anda mungkin merasa girang karena bisa terbang, satu hal yang mungkin Anda angankan. Tetapi Anda tetap tampil aneh, manusia bersayap! Di dunia ramai, sebagai mutan,  Anda mungkin dijebloskan ke dalam kebun binatang.  

Jika Anda bisa membayangkan, maka Anda dengan mulus akan masuk dalam  kisah kehidupan enam manusia burung kreasi penulis terkenal, James Patterson. Para manusia burung ini merupakan hasil eksperimen malaikat, proyek sinting para ilmuwan gila, di sebuah laboratorium yang oleh mereka disebut sebagai Sekolah.

Keenam manusia burung -Max, Fang, Iggy, Nudge, Gasman dan Angel- tumbuh di laboratorium berbarengan dengan hasil eksperimen yang disebut Pemusnah, setengah manusia dan setengah serigala. Para pemusnah tampak seperti manusia, tetapi pada saat tertentu malihrupa menjadi manusia serigala, lengkap dengan bulu, taring, dan cakar. Para pemusnah ini menjadikan keenam manusia burung sebagai target mangsa dan mencegah eksistensi mereka diketahui dunia.

Empat tahun yang silam –dari waktu yang menjadi seting cerita, Jeb Batchelder, seorang ilmuwan (yang disebut Jas Putih) menculik keenam manusia burung ini dari Sekolah. Ia membawa mereka ke pegunungan, ke sebuah rumah berbentuk huruf E yang terkapar dan mengajari mereka berbagai hal untuk mempertahankan diri; terbang, membaca, bertarung. Namun, dua tahun lalu,  Jeb menghilang dan mereka menyangka ia sudah mati.

Sampai suatu hari, kediaman keluarga Max diserbu para pemusnah. Si bungsu Angel lenyap, dibawa kembali ke Sekolah. Max dkk tidak tinggal diam. Mereka berupaya mengambil Angel dari Sekolah, bahkan kemudian menyingkap misteri kehidupan mereka, dari mana mereka berasal. Semua tidak mudah dilakukan, karena entah bagaimana, para pemusnah selalu bisa menemukan mereka. Seiring dengan itu, produk eksperimen malaikat ini mendapati jika mereka memiliki berbagai kemampuan super, termasuk Max, yang bisa mendengar dan berkomunikasi dengan Suara dari dalam dirinya.

Sebagai sebuah novel, The Angel Experiment adalah sebuah bacaan yang menarik dan menghibur. Ceritanya mengalir lancar dan enak diikuti. Terpecah lebih dari 100 bagian, novel ditulis dalam bab-bab ringkas dan ringan sehingga per bab tidak terasa melelahkan dibaca. Bahkan dengan gaya penulisan seperti ini saya seperti diajak untuk terus melembari halaman novel berikutnya. Selain itu, ukuran huruf yang lebih ramah mata (dibanding Trilogi Bartimaeus, misalnya) mendukung kenikmatan membaca. Dan karena saya membaca edisi Indonesia, perlu ditambahkan, juga: hasil penerjemahan yang asyik.

Kemungkinan dengan membaca novel fantasi produk imajinasi James Patterson ini pembaca akan merasa terlibat dalam kehidupan para manusia burung  yang menimbulkan simpati. Seperti pembukaan sang narator utama novel, Max, "Jika kau berani membaca kisah ini, kau akan menjadi bagian Eksperimen" (hlm. 9). Dan itulah yang saya rasakan ketika menyelami perjalanan kehidupan mereka.

Tetapi, meski menghibur, kisah dalam The Angel Experiment (Eksperimen Malaikat) belum terlalu mencekam. Liuk kisahnya masih terbilang sederhana,  baru berkisar pada pertarungan Max dkk melawan Ari si Pemusnah dkk. Juga masih tersisa misteri yang menanti disingkapkan yang mungkin membuat pembaca penasaran untuk terus mengikuti kelanjutan kisahnya. Apalagi seperti kata Jeb, ada alasan Max diciptakan dan dipertahankan hidup yaitu untuk sebuah tujuan istimewa: menyelamatkan dunia (hlm. 246).  Dan hal ini belum kita temukan dalam The Angel Experiment. Kenyataannya, The Angel Experiment memang merupakan judul pertama dari serial fantasi tentang manusia burung karya James Patterson, Maximum Ride. Tiga judul selanjutnya berturut-turut: School's Out-Forever (2006), Saving the World and Other Extreme Sports (2007) dan The Final Warning (2008).

Menurut James Patterson dalam pengantar singkatnya (hlm. 7), ide menulis Maximum Ride muncul dari karya sebelumnya yang berjudul When the Wind Blows (1998) dan sekuelnya, The Lake House (2003). Dalam kedua novel ini terdapat karakter bernama Max yang melarikan dari sekolah yang mengerikan. Tetapi, dijelaskan Patterson, sebagian besar persamaannya hanya sampai pada masalah nama dan sekolah.


James Patterson

Mengenai James Patterson, ia dikenal sebagai pengarang serial detektif Alex Cross dan The Women's Murder Club. Lelaki kelahiran Newburgh (New York) 22 Maret 1947 ini menulis novel pertamanya pada usia 27 tahun, berjudul The Thomas Berryman Number dan berhasil meraih penghargaan Edgar Award untuk kategori Best First Novel (1977). Meski berhasil menghasilkan novel yang lain, ketenarannya sebagai penulis fiksi baru melangit setelah menulis novel pertama serial Alex Cross, Along Came a Spider. Selain menulis serial thriller, ia juga menulis novel romantis yang indah (seperti Suzanne's Diary for Nicholas dan Sam's Letters to Jennifer) dan kali ini novel fantasi untuk pembaca remaja.

Maximum Ride #1: Eksperimen Malaikat merupakan novel kesepuluh James Paterson yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Filmnya direncanakan beredar tahun 2010 dan telah dibuat versi manga-nya (bersama NaRae Lee) yang akan terbit Januari 2009.

 

Posted at 11:08 pm by Jody
Make a comment  

Thursday, March 06, 2008
ONE OF THOSE HIDEOUS BOOKS WHERE THE MOTHER DIES


Judul Buku : Salah Satu Buku Mengerikan Yang Tokoh Ibunya Mati
Judul Asli: One of those hideous books where the mother dies
Penulis: Sonya Sones (2004)
Penerjemah: Rosi & Lianita Simamora
Tebal : 280 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Oktober 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Salah Satu Buku Mengerikan Yang Tokoh Ibunya Mati

 
 

Ruby Milliken, gadis usia 15 tahun berambut merah, tampak seperti kacang terbakar, dan masih perawan. Ia meninggalkan Boston setelah ibunya mati. Ia mesti meninggalkan sahabat baiknya –Lizzie Brody, cowoknya –Ray Johnston, bibinya –Aunt Duffy dan makam ibunya. Ia terbang ke Los Angeles untuk tinggal bersama ayahnya. Whip Logan, sang ayah, adalah aktor kondang yang bercerai dengan ibunya ketika Ruby masih dalam kandungan. Ia mendiami sebuah rumah mewah bak karya Walt Disney, bertetangga dengan Cameron Diaz dan terkenal dengan panekuk kacang makadamia-nya.

Ruby membenci Whip Logan dan tidak dapat memaafkan lelaki yang disebutnya sebagai 'donatur sperma' (hlm. 30) ini. Karenanya, Ruby enggan tinggal dengan Whip Logan. Tetapi, Aunt Duffy punya kehidupan pribadi dan rumah Ruby telah beralih kepemilikan. Ruby tidak punya tempat pulang. Mau tidak mau, ia harus tinggal dengan ayahnya.

Whip Logan menyambut kedatangan Ruby dengan antuasias. Ia sangat bahagia putrinya bisa tinggal dengannya. Untuk Ruby, diberikan sebuah kamar mewah. Sebuah kamar yang persis seperti keinginan Ruby dan pernah dijadikannya sebagai materi dalam lomba esai dan ia menang sebagai juara pertama.

Di rumah Whip tinggal juga Max, seorang asisten/pelatih pribadi/penolong serbabisa. Ia seorang laki-laki besar berotot dan berjenggot dengan suara berat dan serak. Tetapi Ruby tak bisa dibodohi. Ia tahu Max gay karena ia punya bakat yang ia sebut "Radar Gay", bakat yang sama dengan punya ibunya. Meskipun kemudian seperti ibunya, radar itu tidak berfungsi ketika menghadapi salah satu tokoh penting novel. Dan memang benar, Max mengaku memiliki seorang pacar lelaki bernama Ripley. Hal yang tidak menjadi kendala bagi Ruby untuk bersahabat dengan Max.

Di Los Angeles, Ruby bersekolah di sekolah baru, mendapatkan rekan-rekan baru, separuhnya memiliki orangtua terkenal. Ia mencoba mempertahankan kepribadian, tetapi termakan juga ketika mendengar ucapan temannya, Colette. Menurut Colette, siswa perempuan di Lakewood (sekolah baru Ruby) dianggap aneh jika masih perawan pada usia 15 tahun. Colette sendiri melepas keperawanannya di ruang biliar di rumah seorang bintang film tersohor, direnggut anak sang bintang, hanya dalam tempo satu menit. Dengan orang yang tidak ia sayangi. "Seakan-akan itu (keperawanan Colette) hanya ketombe, dan seks hanyalah sampo Head & Shoulders," begitu komentar Ruby (hlm. 182). Bagi Ruby, kehilangan keperawanan harus menjadi sesuatu yang luar biasa. Dan harapan itu, diam-diam, ia bayangkan akan terwujud pada saat kedatangan Ray ke LA.

Sayangnya, harapan Ruby tidak terwujud. Sebelum waktunya, Ray telah mengkhianatinya. Ruby sakit hati, apalagi mengetahui jika Ray berselingkuh dengan Lizzie. Namun, di ujung kepedihan hati Ruby, Ruby bisa melihat kehidupan jauh lebih bening, ketika ia menemukan jika Whip Logan tidak sejahat yang ia bayangkan. Ayahnya yang tersohor ini ternyata memiliki sejumlah kemiripan dengannya.


Sonya Sones

'Salah Satu Buku Mengerikan Yang Tokoh Ibunya Mati' (One of Those Hideous Books Where the Mother Dies) merupakan novel ketiga Sonya Sones, seorang  penulis perempuan kelahiran Boston. Di Indonesia, oleh PT Gramedia Pustaka Utama, karya Sones ini dimasukkan dalam kelompok TeenLit. Padahal di dalamnya kita bisa membaca ocehan tentang seks satu menit, anak perempuan yang menyebut ayahnya sebagai donatur sperma dan berpikir menendang buah zakar sang ayah, serta keinginan seorang gadis (perawan) untuk tidur dengan pacarnya. Terasa kurang pas saja, kendati tidak tertutup kemungkinan segmen utama TeenLit di Indonesia juga memiliki pengalaman, ocehan, atau pikiran-pikiran remaja-remaja Amerika seperti Colette dan Ruby.  

Kisah dalam novel ini memang tidak sangat istimewa; bukan tema baru dengan kejutan yang baru (kendati kejutan yang ada rapi disimpan hingga penghujung novel). Tetapi juga bukan tidak menarik. Sones mengalirkan cerita secara ringan dan kocak dari perspektif Ruby. Meski aslinya Sones tidak muda lagi, dia bisa menyelundup masuk ke dalam jiwa seorang gadis remaja. Alhasil, karyanya ini tidak terkesan dirangkai penulis yang bukan remaja lagi.  

Hal lain yang membuat novel ini berbeda dengan novel sejenis adalah teknik penulisan yang digunakan Sones untuk membentangkan ceritanya. Perjalanan Ruby menemukan titik perdamaian yang manis dengan ayahnya dirangkai dalam bentuk puisi. Bentuk puisi itu sebagian besar berisi sebuah bagian cerita yang dituangkan dalam satu halaman. Setiap adegan diberi judul yang terkadang merupakan kalimat awal tulisan yang mengikutinya. Membaca buku ini seperti membaca puisi-puisi yang satu demi satu berkelindan terangkai menjadi sebuah cerita yang utuh. Dengan komposisi seperti itu, novel ini menjadi kisah bermuatan kalimat-kalimat efektif yang enak dibaca dan diikuti. Sama sekali tidak membosankan.

Gaya seperti ini rupanya menjadi ciri khas Sonya Sones yang bisa dilihat pada novel-novelnya yang lain. Sebelum One of Those Hideous Books Where the Mother Dies (2004), Sonya Sones telah menghasilkan novel lain yakni Stop Pretending: What Happened When My Big Sister Went Crazy (1999), sebuah novel autobiografis; dan What My Mother Doesn't Know (2001, diterbitkan Gramedia sebagai Ssst...Jangan Bilang-bilang Ibuku!). Setelah One of Those Hideous Books Where the Mother Dies, ia menulis novel What My Girlfriend Doesn't Know (2007). Jika novel pertamanya telah memenangkan Christopher Award, Claudia Lewis Award for Poetry, Myra Cohn Livingstone Poetry Award dan masuk nominasi Los Angeles Times Book Prize; buku keduanya menjadi Booklist Editor's Choice dan International Reading Association Young Adult's Choice; One of Those Hideous Books Where the Mother Dies terpilih sebagai IRA Young Adult's Choice dan menerima Cuffie Award dari Publisher's Weekly sebagai Best Book Title of the Year.

Judul buku yang unik berasal dari tulisan Ruby (hlm. 13) tentang buku yang tidak ia sukai yang berjudul "Aku Suka Membaca":

 "Tapi sebaiknya hidupku tidak menjelma
menjadi salah satu buku mengerikan
yang tokoh ibunya mati
sehingga sang putri harus
hidup bersama sang ayah yang tak pernah muncul
yang ternyata
pencandu narkoba
yang dengan brutal memukuli
dan menganiayanya secara seksual
hingga menjadikannya
pembunuh berkampak yang mengidap bulimia
." (hlm. 13).

Pada akhirnya, kita dapat membaca jika hidup Ruby tidak tergelincir menjadi 'salah satu buku mengerikan yang tokoh ibunya mati', seperti yang ia khawatirkan. Akhir buku tetap menyisakan kebahagiaan yang manis bagi kehidupan Ruby.

Sekedar komentar, sampul edisi Indonesia tampil tidak menarik. Warna, gambar yang dipakai, dan tulisan judul novel terkesan tidak enak dilihat. Awalnya -sebelum melihat label TeenLit yang ada di sampul depan- saya mengira buku ini sebuah novel dewasa muda yang tidak ada apa-apanya. Hanya judulnya yang unik lah yang membuat saya menyempatkan diri membaca buku ini. Dan ternyata, buku ini tidak hanya berjudul unik, tetapi punya materi yang bagus juga. Jadi, jangan 'tertipu' oleh penampilan sampulnya.


Posted at 08:20 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, February 16, 2008
ACCIDENTALLY ENGAGED

 

Judul Buku: Accidentally Engaged (Ditodong Tunangan)
Penulis: Mary Carter
Penerjemah : Icha Rahmanti
Penyunting: Christian Simamora
Tebal : iv + 452 hlm; 13 x 19 cm
Terbit : Cetakan 2, Desember 2007
Penerbit: GagasMedia


DITODONG TUNANGAN


Clair Ivars : "Sepertinya, aku memang ditakdirkan nggak akan bisa mendapatkan kepemilikan penis laki-laki untuk diriku sendiri, selama-lamanya." (hlm. 82)

Mike Wrench : "Aku punya selera yang mahal dalam memilih vagina." (hlm. 313)


"Nenekku adalah orang yang yang mengenalkan dan mengajari Tarot padaku. Setiap Sabtu pagi, kami akan duduk di dapurnya dengan teh hitam yang hangat, sementara aku terhanyut dalam susu dan gula, Nenek akan membalikkan kartu satu per satu sambil mengajari. Sebelum menjelaskan kartu itu atau artinya, dia akan memintaku untuk melihatnya dulu dan menceritakan isi pikiranku," (hlm. 387). Demikianlah Clair Ivars menceritakan bagaimana bakat neneknya sebagai peramal kartu Tarot bisa diwarisi olehnya. Dan bukan hanya mewarisi kemampuan membaca Tarot, sebelum meninggal Nenek Clair, Isabella Ivars meninggalkan pesan yang ditulisnya pada hari kematiannya. Isabella Ivars telah memilihkan calon suami buat Clair. Sejak Clair berusia 9 tahun. Selain itu, Isabella telah meramalkan apa yang akan terjadi sebelum Clair bertemu dengan jodoh pilihan neneknya.

Clair, 32 tahun, bukan lagi seorang perawan. Ia sudah menikah dan bercerai sebanyak 3 kali. "Bahkan susu kedelai berumur lebih panjang ketimbang hubunganku," katanya (hlm. 216). Untuk menghidupi dirinya, sebagaimana neneknya, Clair bekerja sebagai peramal dengan membaca kartu Tarot di Chicago. Sampai suatu hari, seorang perempuan cantik bernama Rachel Morgan mengunjunginya. Rachel datang bersama Susan Heron, calon kakak iparnya. Jack Heron, adik Susan adalah calon suami Rachel. Rachel minta diramalkan soal pernikahannya dengan Jack. Anehnya, ia minta hasil ramalan diburuk-burukkan. Didengar Susan, Clair meramalkan bahwa Jack bukan jodoh yang tepat buat Rachel. Setelah itu, Rachel meninggalkan Clair dengan cincin pertunangan dari berlian dan pesan untuk mengembalikan cincin itu kepada Jack di Heron Estates.

Sebetulnya saat itu Clair hendak melakukan perjalanan spiritual. Tapi setelah melihat Jack Heron di sebuah majalah, dia terdorong untuk benar-benar bertemu dengan lelaki yang dinilainya seksi itu. Sekalian mengembalikan cincin dari Rachel.

Pertemuannya dengan Jack membuat Clair jatuh cinta pada pandangan pertama. Jack, 35 tahun, benar-benar memikat hati Clair. Hanya, simultan dengan itu, di Heron Estates, Rachel bertemu Mike Wrench, yang dinilainya tak kalah seksi.

Kehadiran Rachel tidak membuat Madeline Heron, bunda Jack, gembira. Ia mau Rachel meninggalkan kediamannya. Tetapi, kedatangan Rachel akhirnya ingin dimanfaatkannya. Undangan sudah disebarkan, yang diundang sudah tahu Jack akan bertunangan, sayangnya si tunangan, Rachel Morgan, tidak menampakkan wajahnya. Clair ditodong untuk mengganti posisi Rachel, hanya untuk mengisi kekosongan di acara tunangan.

Berbeda dengan Madeline, nenek Jack, Elizabeth Heron, menyambut kedatangan Clair dengan senang, bahkan memanggil Clair dengan nama Rachel.

Tanpa Clair sadari, apa yang telah diramalkan Nenek Isabella menemukan kenyataannya di kediaman pemilik salah satu tempat penyimpanan anggur langka di dunia, Heron Cellars. Dia menemukan jodohnya.

Lalu, siapakah jodoh Clair? Pertanyaan ini akan dijawab dengan asyik oleh Mary Carter dalam ending yang tak terduga. 

Mary Carter

Meski novel ini tidak dilabeli chicklit, novel ini bisa dikategorikan sebagai chicklit. Tetapi, chicklit ala Mary Carter ini terasa berbeda. Ia memiliki pesona tersendiri dengan semangat humor yang bisa membuat pembaca tersenyum atau bahkan terbahak-bahak. Maka dari itu, novel ini jadi berbeda dengan novel-novel sejenis.  Novel ini juga menyimpan kejutan yang  dijaga hingga penghujung novel, menciptakan happy ending yang tidak basi, kendati secara garis besar plotnya terbilang  sederhana dan tidak sulit ditebak.

Mary Carter menggelontorkan ceritanya melalui perspektif orang pertama, yaitu perspektif Clair Ivars. Clair hadir sebagai narator ganjen penuh gairah yang memiliki kisah-kisah lucu (seperti kisah turkey baster dan baby carrot-nya) dan pemikiran-pemikiran konyol yang sensual.

Tetapi di sisi lain, Clair juga narator yang desperate dengan nasibnya. "Sepertinya, aku memang ditakdirkan nggak akan bisa mendapatkan kepemilikan penis laki-laki untuk diriku sendiri, selama-lamanya," katanya (hlm. 82). "32 tahun, penis-less." (hlm. 216). Ketika menemukan laki-laki yang ia harap bisa pas dengan kondom ukuran Xl yang dibawa-bawanya saat bepergian, ternyata laki-laki itu mencintai orang lain.

Tetapi dengan keganjenan dan keputusasaannya, ia adalah narator yang bisa memuaskan pembaca.

Icha Rahmanti menerjemahkan karya kedua penulis yang sebelumnya telah menulis novel She'll Take It (Berdoa Dulu Sebelum Mengutil) ini tanpa kehilangan kelincahan dan kekocakan. Tetapi ia juga penerjemah yang tidak pantang menggunakan kosa kata gaul dan logat lokal. Hasilnya, Accidentally Engaged (Ditodong Tunangan) menjadi dekat dengan pembaca Indonesia.  Bahkan tidak jauh dari atmosfer karya Icha Rahmanti, Cintapuccino dan Beauty Case, yang dilabel sebagai chicklit Indonesia asli.

Sayangnya, hasil cetakan terbitan GagasMedia ini terasa mengganggu aktivitas baca. Hasil penyuntingan tidak mulus. Masih banyak kesalahan cetak dan kata-kata yang kacau. Anehnya, meski sudah dicetak lebih dari sekali (sesuai informasi dalam buku), kesalahan-kesalahan yang ada masih dipertahankan.


Posted at 10:33 pm by Jody
Make a comment  

Friday, February 08, 2008
A THOUSAND SPLENDID SUNS




Judul Buku   : A Thousand Splendid Suns
Penulis         : Khaled Hosseini
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Penyunting   : Andhy Romdani
Cetakan        : 1, November 2007
Tebal            : 516 hlm; 20,5 cm
Penerbit       : Mizan Pustaka


KISAH SEDIH DARI BALIK BURQA

 
One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls

(Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar
di atas atap, ataupun seribu mentari surga yang bersembuyi di balik dinding)

 

Kalimat di atas adalah nukilan puisi berjudul "Kabul", hasil terjemahan Dr. Josephine Barry Davis dari karya pujangga Persia, Saib-e-Tabrizi (1601-1677) yang menjadi sumber judul novel kedua Khaled Hosseini ini. Puisi ini menceritakan tentang keindahan Kabul, ibu kota Afghanistan, sebelum ratusan tahun kemudian dirusak badai konflik berkepanjangan. Kabul yang dirundung peperangan itulah yang menjadi seting utama kisah dalam novel Hosseini yang diindonesiakan oleh Berliani Nugrahani (yang sebelumnya telah menerjemahkan The Kite Runner, karya perdana Hosseini) dan diterbitkan PT Mizan Pustaka.

Penggunaan seting yang sama oleh lelaki kelahiran Kabul 4 Maret 1965 yang pada tahun 2006 dianugerahi penghargaan Humanitarian Award dari United Nations Refugee Agency, bisa dimengerti. Hosseini berdarah Afghanistan dan dapat dipastikan sangat mengetahui seluk beluk Afghanistan. Meski, dari riwayat hidupnya bisa diketahui Hosseini tidak mengalami penderitaan panjang yang dialami masyarakat kebanyakan Afghanistan. Keluarga Hosseini sedang berada di Paris ketika Afghanistan jatuh dalam pendudukan Soviet. Mereka mendapatkan suaka politik dari pemerintah AS dan menetap di San Jose, California.

Jika dalam The Kite Runner (2003) Hosseini menciptakan kisah yang berporos pada kehidupan ayah dan anak laki-lakinya serta persahabatan antara dua laki-laki, kali ini dia menggunakan kehidupan ibu dan anak perempuan serta persahabatan di antara dua perempuan. Ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab A Thousand Splendid Suns memiliki cita rasa yang berbeda dengan The Kite Runner, kendati kisahnya sama-sama dilarung di lautan konflik Afghanistan.

Untuk kepentingan novel yang awalnya bertajuk Dreaming in Titanic City ini, sarjana biologi dan dokter lulusan San Diego School of Medicine yang sepanjang tahun 2006 terpilih sebagai duta besar keliling untuk UNHCR (organisasi PBB yang menangani masalah pengungsi), ketika berkeliling Afghanistan dalam tugasnya, meraup pengalaman kehidupan perempuan Afghanistan yang sarat penderitaan. Maka, dari balik burqa, pakaian wajib perempuan Afghanistan sesuai kehendak rezim yang berkuasa, lahirlah kisah dua perempuan yang berdarah-darah dan bersimbah air mata. Terasa 'sarat rempah' dibanding kisah dalam The Kite Runner.


Khaled Hosseini

Mariam, perempuan pertama yang penderitaannya disodorkan Hosseini, adalah anak haram (harami) seorang pembantu (Nana) dengan Jalil Khan, majikannya yang kaya raya di Herat, sekitar 650 km sebelah barat Kabul. Sebagai seorang harami, Mariam ditolak di rumah Jalil karena keberadaannya mengancam nama baik keluarga. Tetapi di kolba (pondok) Nana, kehadiran Mariam juga tidak bisa diterima dengan cinta. Sejak awal, Mariam yang tidak berpendidikan sudah didapuk sebagai perempuan menderita. Hanya rahim seorang perempuan epilepsi yang bersedia melindunginya.

Meski Nana bersikeras menciptakan jarak antara Mariam dari Jalil, Mariam tetap teguh menarik perhatian ayah biologisnya. Keteguhan hati si kecil Mariam mesti ditebus dengan mahal. Ibunya bunuh diri dan Mariam disingkirkan dari Herat oleh keluarga Jalil. Mariam dikawinkan dengan laki-laki berusia sekitar 3 kali lipat usianya, seorang tukang sepatu terkenal di Kabul yang ditinggal mati istri dan anaknya.

Di Deh-Mazang, bagian barat daya Kabul, Mariam dipaksa untuk menyaksikan realisasi perkataan ibunya bahwa,  "Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan." (hlm. 20). Setelah berulang gagal memberikan anak untuk Rasheed, sang suami memperlakukannya secara semena-mena. Sebagai contoh, Rasheed memerintah Mariam mengunyah segenggam kerikil gara-gara nasi yang ditanaknya tidak sesuai keinginan Rasheed (hlm. 133-134).

Mariam merasa penderitaannya akan bertambah ketika seorang gadis terpelajar bernama Laila, tanpa sengaja, memasuki kehidupan keluarganya. Remaja yang menjadi korban serangan roket itu ditolong Rasheed dari reruntuhan bangunan rumahnya. Ia menjadi yatim piatu dalam satu hari, saat hendak meninggalkan Kabul, sementara 2 abangnya telah lebih dahulu tewas ketika berjihad melawan Soviet. Pertolongan Rasheed yang berpamrih berbuntut  pada terpenggalnya cinta Laila pada remaja buntung bernama Tariq yang telah menghamilinya. Laila menjadi istri muda Rasheed.

Kedua perempuan dari dua latar belakang berbeda itu menemukan dan merajut tali kasih dalam penderitaan yang dilecut suami mereka. Tali kasih yang erat membuat mereka berupaya menemukan seribu mentari surga yang terbenam dalam hidup mereka. Di ujung persahabatan indah dua perempuan Afghanistan ini, mereka menyadari betapa mahalnya semburat cahaya seribu mentari surga yang mereka dambakan.

Novel A Thousand Splendid Suns dibagi dalam 4 bagian dan 51 bab. Peritiswa-peristiwa dalam novel ini bergulir sejak tahun 1964 (saat Mariam berusia 5 tahun) hingga tahun 2003 (saat seribu mentari surga akhirnya bersinar dalam hati Laila). Bagian pertama terfokus pada kehidupan Mariam; bagian kedua menyorot kehidupan Laila; bagian ketiga asimilasi kehidupan kedua perempuan ini; bagian keempat hadir sebagai antiklimaks, bagian paling melegakan dalam novel ini.

Kisah dalam novel berlangsung seiring perguliran sejarah Afghanistan. Diawali dari sebuah kerajaan di bawah pemerintahan Zahir Shah, republik di tangan Daoud Khan, Republik Demokratis Afghanistan di bawah pimpinan Najibullah si boneka Soviet dan komunis, Negara Islam Afghanistan dalam rezim Mujahidin; rezim Taliban hingga terusirnya para Talib. Sejarah gelap Afghanistan ini dihiasi hujan roket, bom, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, penyiksaan, dan eksekusi yang seolah-olah tidak berkesudahan.

Hosseini melukiskan bagaimana perguliran sejarah Afghanistan membawa perubahan-perubahan dalam kehidupan warga Afghanistan. Terutama dalam kehidupan kaum perempuannya. Jika tahun 1978 sampai 1992 perempuan Afghanistan mendapatkan kemerdekaan dan kesempatan untuk berkarya, sejak Mujahidin mengambil alih kekuasaan pada April 1992 dan mengubah Afghanistan menjadi Negara Islam Afghanistan, Mahkamah Agung di bawah kepemimpinan Rabbani yang beranggotakan mullah dari kalangan garis keras menolak kebijakan era komunis mengenai pemberdayaan perempuan. Mereka mengeluarkan undang-undang berdasarkan Syariah, hukum Islam yang keras. Perempuan diperintahkan untuk mengenakan burqa yang menutupi setiap jengkal tubuh mereka; tidak boleh melakukan perjalanan tanpa ditemani oleh kerabat pria dan terancam rajam jika melakukan zina; kabur dari rumah bahkan disahkan sebagai tindakan kriminal bagi mereka.

Setelah rezim Taliban, kehidupan perempuan Afghanistan bahkan lebih parah lagi. Jika laki-laki hanya dikenai keharusan memelihara janggut dan melaksanakan kewajiban umum seperti shalat; tidak boleh menyanyi, menari, bermain kartu, bermain catur, bermain layang-layang, menulis buku, menonton film, melukis; tidak memelihara burung parkit dan tidak mencuri; kaum perempuan selain kewajiban-kewajiban di atas (kecuali memelihara janggut), wajib tinggal di dalam rumah sepanjang waktu, jika terpaksa keluar rumah harus ditemani seorang muhrim laki-laki; dilarang menunjukkan wajah dalam situasi apa pun; wajib mengenakan burqa jika berada di luar rumah; dilarang mengenakan alat rias, perhiasan, pakaian yang indah; dilarang berbicara (kecuali diajak bicara), tertawa di tempat umum, melakukan kontak mata dengan pria, mengecat kuku; tidak boleh bersekolah; dilarang bekerja; hukuman rajam sampai tewas jika kedapatan berzina.

Hosseini menunjukkan betapa perempuan Afghanistan dipaksa menderita oleh desakan adat, agama, dan egoisme laki-laki. Mereka harus bertahan menghadapi situasi ini karena memang, "hanya ada satu keahlian yang harus dikuasai perempuan (Afghanistan), yaitu bertahan" (hlm. 33). Penderitaan dan bagaimana perempuan Afghanistan bertahan inilah yang menjadi modal utama Hosseini untuk menggerakkan ceritanya.

Karena perempuan menjadi fokus utama Hosseini, ceritanya menjadi terkesan 'sangat perempuan'. Hal ini mengindikasikan keberhasilan penulis, sebagai laki-laki, dalam mengolah dan mendedah perasaan perempuan. Hosseini mampu menggambarkan perasaan tokoh-tokohnya dengan sangat menyentuh, indah, sekaligus tragis. Hasilnya, sebuah kisah sedih yang bergulir dalam plot melodramatis khas sinetron. Coba simak perjalanan kehidupan Mariam, misalnya. Dari seorang harami, dipaksa kawin dengan laki-laki jauh lebih tua dari usianya oleh persekongkolan tiga istri ayahnya, ditindas suaminya, dimadu, dan terus menderita tak berkeputusan sampai penghujung hidupnya yang nyaris sia-sia, jika Laila dan kedua anaknya tidak hadir dalam hidupnya. Bagusnya, plot ala sinetron ini diuntai dalam sejarah pekat Afghanistan, sehingga kisahnya menjadi sangat relevan karena realistis.

Jalinan narasi yang indah dan dialog-dialog yang mengalir lancar menjadi kelebihan Hosseini yang lain. Terkadang dialog-dialog sangat menggetarkan hati, sangat emosional mengoyak perasaan. Antara lain saya sangat terkesan dengan dialog-dialog antara Mariam dan para Talib ketika para lelaki serban ini bersikap sok dalam menentukan hidup Mariam (hlm. 447-450). Bagusnya, untuk edisi Indonesia, kelebihan gaya penulisan internis dari Cedars-Sinai Medical Center Los Angeles ini disulihkan dalam bahasa Indonesia dengan baik oleh Berliani sebagai penerjemah. Penerjemah kelahiran Semarang 16 Mei 1981 yang juga telah menghasilkan karya terjemahan seperti Middlesex (Jeffery Eugenides), The Hidden Face of Iran (Terence Ward), dan Map of Bones (James Rollins) memang terbilang brilian dalam menangani pekerjaannya.

Sebagaimana The Kite Runner, Hosseini juga bermodalkan kisah 'cinta' segitiga yang mengundang petaka dalam A Thousand Splendid Suns. Jika dalam The Kite Runner ada 'cinta' segitiga Baba-Amir-Hasan; dalam A Thousand Splendid Suns, terdapat 'cinta' segitiga Rasheed-Mariam-Laila serta Laila-Rasheed-Tariq. Sama-sama menjadi sumbu pendek dalam kisah Afghanistan versi Hosseini.

Selain itu, dua novel ini sama-sama menyentil pengaruh seorang ayah yang menyebabkan konflik terbesar dalam hidup para karakter. Jika dalam The Kite Runner, cinta Baba yang membuat iri hati Amir sebagai penyebab konflik, dalam A Thousand Splendid Suns, cinta Jalil yang tidak leluasa membuat Mariam terpuruk dalam penderitaan yang tak berkesudahan.

Secara keseluruhan, novel yang pertama kali dirilis 22 Mei 2007 dan hak pembuatan filmnya dibeli Columbia Pictures ini sangat tidak mengecewakan. Selain membuka wawasan mengenai sejarah Afghanistan yang sebelumnya tidak terlalu komplit dikisahkan dalam The Kite Runner, juga bisa lebih memahami perjuangan perempuan Afghanistan bertahan hidup di dunia tempat mereka terpuruk atas nama adat, agama, dan egoisme laki-laki. Yang paling utama, agaknya Hosseini ingin dunia mengetahui kehidupan dan suara hati para perempuan Afghanistan dari balik burqa yang memagari kehidupan mereka, yang seperti laki-laki, juga manusia ciptaan Tuhan.

Saya tidak sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa A Thousand Splendid Suns lebih baik dari The Kite Runner. Bukan karena saya merasakan emosi yang lebih kuat ketika membaca The Kite Runner. Tetapi karena masing-masing memiliki kelebihan, mempunyai keindahan sendiri-sendiri.

Bagi para pembaca yang suka fiksi tragis bersimbah air mata yang ditulis dengan baik dan indah,  A Thousand Splendid Suns bisa menjadi pilihan yang sangat tepat.


Posted at 01:36 pm by Jody
Comments (3)  

Saturday, October 20, 2007
THE BARTIMAEUS TRILOGY

 

Judul : The Bartimaeus Trilogy
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2007


KETIKA MANTRA PEMBEBASAN DIRAPALKAN


Melalui Trilogi Bartimaeus, Jonathan Stroud, penulis kelahiran Bedford Inggris, 27 Oktober 1970, menciptakan dunia sihir yang berbeda dengan dunia sihir yang ada dalam karya-karya tentang penyihir lainnya, misalnya Harry Potter. Dalam dunia sihir kreasi Stroud, para penyihir adalah para penguasa, Inggris adalah kerajaan yang dikuasai, dan London adalah pusat pemerintahan. Untuk mempertahankan kekuasaan, para penyihir memanggil para demon dan memaksa mereka mematuhi segala perintah. Tanpa demon para penyihir sebenarnya tidak ada giginya. Kemampuan berkomunikasi dengan demon lah yang mengangkat para penyihir ke strata tinggi, sedangkan manusia yang disebut commoner, adalah kelas rendahan dan mesti tunduk di bawah kendali penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Hal ini tentu saja menimbulkan amarah commoner.

Dalam dunia fantasi ciptaan Stroud, para demon dipanggil dari sebuah tempat yang disebut Dunia Lain. Berdasarkan kekuatan yang dimiliki, dari yang lemah hingga kuat, berturut-turut demon memiliki hierarki sebagai berikut: sprite, imp, foliot, jin, afrit, dan marid. Di atas marid masih terdapat demon yang memiliki kekuatan lebih seperti Ramuthra atau Nouda. Para demon dipanggil dari dunia lain, sesuai kebutuhan. Terdapat berkompi-kompi jenis sprite yang lebih lemah dari imp, tapi penyihir tak berminat memanggil mereka. Sedangkan entitas di atas marid, dengan kekuatan yang luar biasa jarang berada di Bumi karena hanya sedikit penyihir yang berani memanggilnya. Para demon ini dipanggil secara khusus, yaitu melalui pentacle yang digambar oleh penyihir yang akan memanggilnya.

Meskipun pemerintahan sihir mendapatkan tentangan keras dari commoner yang diam-diam mendirikan kelompok oposisi bernama Resistance, konflik utama dari trilogi Stroud ini bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Di antara mereka tercipta kompetisi, baik yang terbuka maupun tersembunyi. Masing-masing ingin lebih berkuasa dari yang lain. Mereka sanggup melaksanakan berbagai cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Seperti kata salah satu penyihir (Simon Lovelace): "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang" (The Amulet of Samarkand, hlm. 329 ).


DENDAM SEORANG PENYIHIR MUDA (The Amulet of Samarkand)

Trilogi Bartimaeus, pada dasarnya, mengisahkan hubungan antara seorang penyihir bernama Nathaniel dengan jin bernama Bartimaeus. Dalam The Amulet of Samarkand (Amulet Samarkand), untuk pertama kalinya, Bartimaeus dipanggil Nathaniel ketika penyihir ini belum genap berusia 12 tahun. Tindakan pemanggilan yang dilakukan Nathaniel sebetulnya prematur, karena ia belum boleh melakukan pemanggilan. Jika saatnya tiba, untuk pemanggilan pertama, Nathaniel pun hanya bisa memanggil demon jenis imp.

Nathaniel memang memiliki agenda pribadi dengan berani melakukan pemanggilan langsung demon level ke-4 (jin). Saat itu dia adalah murid dari master bernama Arthur Underwood, penyihir kelas menengah yang bekerja sebagai Menteri Muda di Kementerian Dalam Negeri Inggris. Nathaniel dijual orang tuanya ke Kantor Tenaga Kerja untuk dididik menjadi penyihir pada usia 5 tahun. Pada usia 10 tahun, Simon Lovelace, penyihir yang bekerja sebagai Menteri Muda Perdagangan telah mempermalukan Nathaniel. Hal ini melahirkan dendam dalam hati Nathaniel, dan dengan berjalannya waktu kian menuntut untuk dilampiaskan. Langkah awal yang ia tempuh adalah melakukan pemanggilan demon lebih awal dari seharusnya untuk mengintai aktivitas Simon Lovelace. Nathaniel adalah seorang anak yang lapar dengan pengetahuan, sehingga bukan hanya pelajaran wajib yang ia tekuni. Ia juga membaca terlalu dini hal-hal seperti ritual pemanggilan jin dan mantra-mantra. Selanjutnya ia mempelajari demonologi yang lalu memberinya gagasan memanggil Bartimaeus guna mencuri amulet Samarkand.

Sebagai jin yang cerdas, Bartimaeus segera tahu kualitas penyihir yang memanggilnya sehingga jin sinis dan egomaniak ini mencoba menggertak Nathaniel. Tentu saja meski masih terbata-bata, Nathaniel tidak kalah digertak, dan tidak bodoh untuk merespons strategam Bartimaeus. Hasil pengintaian Bartimaeus membuat Nathaniel memutuskan mencuri amulet Samarkand yang sebenarnya baru dirampok Simon dari pemerintah.

Amulet adalah jimat pelindung; benda yang menghalau kekuatan jahat, obyek pasif yang dapat mengisap atau memantulkan segala jenis sihir berbahaya meski tak dapat secara aktif dikontrol pemiliknya (hlm. 103).  Dalam amulet bersarang entitas yang telah ditangkap dan dijebak. Tapi amulet Samarkand bukanlah jenis amulet biasa, ini yang tidak diketahui Nathaniel. Dan memang, Nathaniel sama sekali tidak tertarik pada amulet. Simon lah targetnya. Ia mengetahui bahwa Simon memperoleh amulet ini lewat pertumpahan darah. Ia bertekad menjatuhkan reputasi Simon dengan mengungkapkan kebobrokan sang menteri sihir. 

Setelah berhasil mencuri amulet tersebut, Nathaniel memerintah Bartimaeus untuk menyembunyikan jimat itu di ruang kerja Arthur Underwood,. Tindakan yang tanpa diduganya akan mencelakakan masternya dan membuatnya kehilangan  orang yang menyayanginya.

Apa sesungguhnya amulet Samarkand, dan alasan pentingnya jimat ini, akan terungkap sejalan dengan perkembangan cerita yang mencapai puncak pada Konferensi Tahunan Parlemen dan Pesta Musim Dingin yang diselenggarakan di Heddleham Hall milik Amanda Catchcart.

 

DI BALIK MATA GOLEM (The Golem's Eye)

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir 3 tahun setelah pertemuan pertama Bartimaeus dan Nathaniel (Amulet Samarkand). Saat cerita digulirkan Stroud, Nathaniel, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nathaniel antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Rupert Devereaux, Perdana Menteri Sihir.

Menjelang berlangsungnya Founder's Day (Hari Lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nathaniel tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nathaniel tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Bahkan, bukan pula perbuatan demon. Menjadi tugasnya sebagai pegawai bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nathaniel menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nathaniel menimbulkan kemarahan Bartimaeus yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bartimaeus akan melayani Nathaniel selama 6 minggu.

Dugaan Nathaniel memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bartimaeus yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan  bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan cara menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tentangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nathaniel dan Bartimaeus ke Praha.

Simultan dengan kepergian Nathaniel ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey  dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir.

Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nathaniel karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nathaniel bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bartimaeus tidak bisa menolong karena menolong Nathaniel berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nathaniel? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nathaniel tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bartimaeus. Sangat menarik ketika Nathaniel, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Dalam situasi ini  sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance.


KETIKA MANTRA PEMBEBASAN DIRAPALKAN (Ptolemy's Gate)

Ptolemy's Gatem (Gerbang Ptolemy) adalah judul pamungkas trilogi Bartimaeus. Sekitar 3 tahun telah berlalu sejak kasus mata golem. Nathaniel telah menjadi anggota Dewan, menjabat sebagai Menteri Penerangan dan larut dalam perang kekuasaan di Kerajaan sihir Inggris Raya. Ia terlibat dalam pengambilan keputusan Perang Amerika yang ditentang keras oleh kelompok commoner yang menamakan diri sebagai Aliansi Commoner.

Sudah 2 tahun Bartimaeus berada di Bumi, dipanggil sang master untuk membantu pekerjaannya. Ia memang semakin sering bekerja untuk masternya sehingga energinya lebih cepat memudar. Tidak ada waktu yang cukup baginya untuk memulihkan diri di Dunia Lain.

Di tengah-tengah kesibukan Nathaniel sebagai Menteri Penerangan dan kelelahan roh Bartimaeus, ditengarai adanya komplotan yang mengancam kerajaan Inggris. Pada saat melakukan pengintaian, Bartimaeus nyaris tewas. Dengan kondisinya, ia berhasil menggemparkan acara yang dihadiri Nathaniel dan membuat masternya dalam posisi terancam. Keadaannya membuat Nathaniel mengirimkan Bartimaeus ke Dunia Lain dengan harapan, setelah jin ini pulih, akan dipanggil kembali untuk memberikan laporan pengintaiannya.

Ketika Nathaniel hendak memanggil Bartimaeus kembali, ternyata jin ini sudah lebih dulu dipanggil pihak lain. Hal ini tentu saja membuat Nathaniel gusar. Jika jin ini membocorkan namanya pada penyihir lain, habislah riwayatnya. Pada usia 12 tahun, ia mendapatkan nama baru, nama resmi yang akan dikenal sepanjang hidupnya, yaitu John Mandrake. Jika nama aslinya, Nathaniel, diketahui pihak lain, baik demon atau penyihir akan berakibat buruk baginya.

Ternyata pada saat itu, Bartimaeus dipanggil oleh Kitty Jones, nama yang terus mengikuti hidup Nathaniel. Setahu Nathaniel, Kitty Jones telah meninggal di tangan golem seperti yang dikatakan Bartimaues. Makanya, Nathaniel kaget ketika commoner yang ditawan oleh penyihir penulis drama bernama Quentin Makepeace, yaitu Nicholas Drew, mengungkapkan keberadaan Kitty Jones yang hidup dengan dua identitas palsu, dalam dua lingkup kehidupan yang dijalaninya.

Nathaniel bertemu dengan Kitty Jones dan mengajaknya menyaksikan pementasan drama karya Quentin Makepeace, yang selama ini memperlihatkan persahabatan kepada Nathaniel.

Tak disangka, malam pementasan drama ini menjadi awal dari kekacauan yang bersumber dari konspirasi mengerikan yang melibatkan para penyihir yang haus kekuasaan dan jin berkekuatan dahsyat yang dikuasai dendam 5000 tahun. Kerajaan Inggris digiring ke tepi jurang kehancuran.

Pada saat berbarengan, Kitty Jones menjalankan agendanya sendiri. Ia meminta bantuan Bartimaeus mengatasi pengaruh para penyihir yang menindas commoner. Kitty rela melakukan apa saja untuk mendapatkan persetujuan Bartimaeus yang sedang merevitalisasi rohnya yang remuk redam. Dengan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan riset, Kitty mengulangi apa yang pernah dilakukan oleh Ptolemy (Ptolemaus), master yang disayangi Bartimaus.

Kenangan akan Ptolemy membuat Bartimaeus menyanggupi permintaan Kitty. Tapi kondisinya masih sangat lemah. Ia tidak bisa menolong Kitty dengan situasi fisiknya saat ini. Kitty lah yang kemudian mencetuskan gagasan, gagasan sama yang dicetuskan oleh Quentin Makepeace, gagasan serupa yang tengah mengacaubalaukan otoritas dunia sihir Inggris.

Setelah berhasil membuat Bartimaeus dan Nathaniel menyatukan kekuatan, sehingga lahir kekuatan baru untuk melawan sumber kekacauan saat itu, Kitty melihat justru, saat yang sama, hasil kerja samanya dengan Nathaniel dan Bartimaeus, tidak saja akan menyelamatkan dunia sihir, tapi juga para commoner. Dunia yang lebih baik, di mana para commoner akan berdiri setara dalam berbagai otoritas dengan para penyihir telah terbuka. Kendati Kitty tidak ingin terlibat di dalamnya.

Tapi dunia itu hanya akan tercapai jika Nathaniel dan Bartimaeus berhasil menjalankan misi. Musuh mereka kali ini bukan musuh yang setara dengan musuh-musuh sebelumnya. Bahkan tongkat Gladstone yang mereka andalkan tidak serta-merta menuntaskan pekerjaan mereka. Pada saat yang sangat kritis, pengalaman hidup Bartimaeus yang mirip dengan apa terjadi di penghujung hidup master yang disayanginya, Ptolemy, kembali terjadi.

"Sebegitu saja janji kalian," kata Kitty Jones akhirnya (hlm. 565). Baik Bartimaeus maupun Nathaniel tidak pernah memenuhi janji yang dituntut Kitty sebelumnya (hlm. 558).

TRILOGI YANG TAK TERLUPAKAN

Dalam The Amulet of Samarkand secara berganti-ganti, meski tidak terlalu runtut, cerita disampaikan menggunakan 2 perspektif penceritaan. Pertama, menggunakan orang pertama, dengan Bartimaeus selaku narator (diberi judul Bartimaeus) dan kedua, menggunakan orang ketiga (diberi judul Nathaniel). Yang paling asyik dibaca, tentu saja saat kisah digulirkan menggunakan Bart sebagai narator. Ia menarasikan cerita secara energik, lengkap dengan sikap sinis, sok tahu, sok pintar, dan egomaniak. Ia bahkan tidak segan melecehkan masternya karena masalah usia dan pengalaman Nat. Untuk mengekspresikan karakter seperti itu, tidak cukup dengan narasi, Bart juga membutuhkan catatan kaki untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. Anehnya, teknik yang dipakai penulis ini membuat ceritanya kian memikat. Bartimaeus menjadi karakter favorit. Rasanya tidak ada pembaca yang tidak akan merasa geli membaca celotehan jin satu ini.

Dalam Golem's Eye, selain dua perspektif yang sama dengan buku pertama untuk mengisahkan sepak terjang Nathaniel, Stroud juga menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Sesuai pengakuannya, keberadaan Kitty di alam imajinasinya telah mendorong Stroud untuk merangkai kisah Nathaniel dan Bart dalam bentuk trilogi. Dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. 

Hal yang sama berkembang lebih baik dalam Ptolemy's Gate. Selain Nathaniel dan Bartimaeus, Kitty Jones juga mendapatkan porsi penceritaan yang lebih banyak dan memiliki peran yang penting dalam keseluruhan rangkaian cerita. Mereka bertiga mesti menjalin kerja sama untuk menyelamatkan Kerajaan Inggris dari kehancuran total.

Dari segi cerita, Gerbang Ptolemy merupakan puncak dari seluruh kisah yang merentang dalam plot rancak trilogi ini. Sungguh sayang jika telah membaca dua buku sebelumnya, tapi melewatkan buku terakhir ini. Jika Anda pernah menonton film trilogi Scream, Anda dapat melihat pola yang sama dengan trilogi ini. Kejahatan-kejahatan yang terjadi pada dua bagian awal memiliki sulur yang, ternyata, tertanam di bagian akhir. Sungguh tak terduga.

Pada pamungkas Trilogi Bartimaeus ini, John Stroud, sebagaimana sejak awal, tetap memperlihatkan kepiawaiannya dalam bertutur dan mengolah plot. Cerita yang disuguhkan terus memiliki daya pikat, kian meruncing mencapai akhir. Dan hebatnya, sampai akhir, selain menyentuh hati pembaca (malah mungkin ada yang sampai tidak rela), Stroud tidak ketinggalan untuk menggelitik saraf humor pembaca.

Bagian terakhir Ptolemy's Gate, yang dituturkan dengan menggunakan Bartimaeus sebagai narator, menjadi bagian yang paling menyentuh dalam keseluruhan trilogi ini. Bagian inilah yang memberikan alasan petualangan Bartimaeus dan Nathaniel harus berakhir. Dan itu bukan cuma sekedar karena Mantra Pembebasan telah selesai dirapalkan untuk Bartimaeus. Baca saja sendiri.

Secara keseluruhan, Jonathan Stroud, dengan kepiawaiannya, sukses menghadirkan kisah yang memuaskan dan sangat menghibur. Trilogi yang idenya lahir pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan 2 tahun untuk diwujudkan dalam bentuk novel ini (kemudian terbit berturut-turut setiap tahun sejak 2003 hingga 2005) memang layak untuk memenangkan berbagai penghargaan, termasuk Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis) pada tahun 2006.

Secara keseluruhan, edisi Indonesia Trilogi Bartimaeus terbilang bagus. Penerjemahannya juga oke sehingga kita bisa menikmati dengan enak. Meski diterjemahkan dengan bahasa Indonesia yang baik (sekarang ada juga yang menerjemahkan fiksi asing dengan memanfaatkan kosa kata gaul), ketiga buku karya Jonathan Stroud sama sekali tidak kehilangan jiwa. Sebagai contoh,  kita masih bisa menikmati eksplorasi emosi dan pikiran Bartimaeus yang menggelitik, faktor terbesar yang membuat trilogi ini menjadi karya yang tidak mudah dilupakan.

Sekalipun arus deras buku terjemahan kerap menjadi bahan kritikan sebagian kalangan, saya pribadi berharap penerbit yang sama masih bisa menerbitkan buku-buku keren mendunia seperti Trilogi Bartimaeus.

 

Posted at 10:17 pm by Jody
Make a comment  

Wednesday, October 10, 2007
HUBBU





Judul Buku: HUBBU
Penulis : Mashuri
Terbit : Cetakan Pertama, Agustus 2007
Tebal : 246 hlm; 13,5 X 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 "CINTA" ALA MASHURI


Dari 249 naskah yang diikutkan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006, oleh 3 juri (Apsanti Djoko Sujatno, Ahmad Tohari, dan Bambang Sugiharto), diputuskan Hubbu karya Mashuri yang juga dikenal sebagai penulis puisi -antara lain telah menerbitkan antologi puisi bertajuk Ngaceng (2007)), sebagai pemenang pertama. Hubbu mengalahkan 248 naskah lainnya dan berhak atas hadiah utama, 20 juta rupiah.

Hubbu berangkat dari kehidupan seorang santri bernama asli Abdullah Sattar dan dikenal dengan nama Jarot. Dari namanya, telah bisa tercium bagaimana penulis ingin menampilkan kehidupan tokoh ini yang selalu dalam keadaan terbelah. Oleh Mbah Adnan, ia diberi nama Abdullah Sattar dengan harapan bisa seperti sufi pendiri Tarekat Sattariyah itu, tapi juga dipanggil Jarot, pecundang dan suka bermain api. Setelah masuk sekolah, selain belajar di Sekolah Arab, ia juga belajar di Sekolah Jawa (sekolah negeri). Minat Jarot pun berkembang, tidak hanya pada ilmu-ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu Jawa, sehingga selain belajar dari Mas Amin, ia juga belajar dari Wak Tomo.

Keterbelahan Jarot tentu saja tidak lalu diterima keluarganya yang religius. Tapi, kendati ditentang karena ilmu-ilmu Jawa dipandang berseberangan dengan Islam, Jarot tetap terbelah sebagai manusia religius tapi juga penggemar klenik. Bukan hanya itu, Jarot juga terbelah sebagai manusia yang mencoba hidup secara islami tapi juga mencicipi hidup yang tidak islami, seperti pacaran dan bergaul intim dengan lawan jenisnya.

Pola hidup terbelah ini terbawa terus sampai Jarot memutuskan meninggalkan kampungnya dan kuliah di Surabaya. Kehidupan semacam ini akhirnya menjerat Jarot dalam dosa perzinahan yang benar-benar memutuskan hubungannya dengan Desa Alas Abang dan melantakkan harapan yang diletakkan padanya. Dosa perzinahan yang terjadi berbarengan dengan keputusan Jarot untuk mengajarkan tentang Tuhan pada seorang perempuan yang berbeda keyakinan dengannya.

Jarot adalah harapan Alas Abang untuk menjadi pemimpin pesantren warisan Mbah Kiai Adnan. Setelah Mbah Adnan mangkat, untuk sementara sambil menunggu Jarot dewasa, Mas Amin terpilih sebagai pemimpin. Tapi dengan berangkat ke Surabaya, Jarot melarikan diri dari tanggung jawab yang diharapkan bisa diembannya sebagai orang terpilih. Bahkan setelah mengetahui ada masalah di pesantren, Jarot tidak juga memutuskan mengambil alih kepemimpinan pesantren. Sempat terlintas dalam benaknya untuk pulang ketika terbeban dengan sebuah kejadian yang menimpa sepasang sahabatnya. Tapi setelah solusi muncul, ia tetap di Surabaya melanjutkan kuliah. Dan setelah kuliahnya usai, ia justru benar-benar tidak bisa kembali lagi ke Desa Alas Abang.

Novel ini dibuka dengan sebuah prolog yang oleh Mashuri dilabeli sebagai Prawayang, merupakan isi lontar dari Wisrawana kepada ayahnya, Begawan Wisrawa, yang bermuatan Sastra Gendra. Setelah prawayang, kisah digulirkan dalam tiga bagian yang diberi judul Sihir Masa Lalu, Persimpangan, dan Lompatan Waktu.Dua bagian pertama berisi kisah Jarot pada masa ia masih hidup, sedangkan bagian ketiga pasca meninggalnya Jarot. Tapi, seluruh kisah tetap merupakan kisah Jarot. Kalau bagian pertama sebagian besar berisi kisah masa lalu dan bagian kedua berisi kisah masa sekarang dalam kehidupan Jarot, bagian ketiga, seperti judulnya, mengisahkan cerita berlatar tahun 2040, bertahun-tahun kemudian setelah kisah pada bagian kedua.

Latar masa depan dalam bagian ketiga tidak dimaksudkan untuk menceritakan kisah futuristik seperti yang kita bisa baca di novel-novel sci-fi. Karenanya, Mashuri melewatkan deskripsi latar yang lebih mungkin pada saat itu. Pemilihan tahun 2040 ini jelas dimaksudkan untuk mempertahankan kelogisan cerita dari segi usia karakter dalam bagian ketiga ini (Aida). Hal ini akan mempertanyakan pemakaian latar waktu masa kini dalam kehidupan Jarot (akhir tahun 1995 dan seterusnya). Rupanya hal ini berhubungan dengan gurit Sastra Gendra karya Budi Palopo yang (benar-benar) dimuat di Jaya Baya pada 18 Oktober 1994 dan bisa ditemukan dalam Gurit Rong Puluh: kumpulan dua puluh geguritan (Dewan Kesenian Surabaya, 1995). Dalam bagian ini, selain akan mengikuti kisah hidup putri Jarot, kita juga akan menemukan apa yang terjadi pada sisa hidup Jarot setelah bab kedua berakhir.

Membaca Hubbu, kita akan menikmati berbagai sudut pandang dan gaya bertutur. Tapi, walau terkesan acak, teknik variatif ini sama sekali tidak membuat alur ceritanya menjadi kacau. Alur tetap dapat diikuti dan dirangkai pembaca dengan padu. Ini membuat Hubbu tampak berbeda, meskipun teknik penceritaan yang digunakan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa teknik dalam Hubbu antara lain bisa ditelusuri dalam Dadaisme (Dewi Sartika, pemenang 1 Sayembara Novel DKJ 2003). Khusus untuk sudut pandang penceritaan yang variatif, sah-sah saja selama penulis tetap konsisten pada 1 perspektif penceritaan selama menyampaikan satu bagian cerita. Terasa janggal ketika narator orang pertama bertutur secara maha tahu seperti pada halaman 75 - 78.

Konflik berlatar dunia pesantren terbilang menarik karena langka digarap dalam novel Indonesia kontemporer.  Dan menjadi lebih menarik ketika penulis memunculkan Aida, putri Jarot yang diharapkan bisa menjadi 'Gunawan Wibisana' bagi Abdullah "Wisrawa" Sattar. Saya kira tidak asal saja Mashuri menampilkan anak Jarot sebagai seorang perempuan, dan bukan laki-laki. Pesantren membutuhkan seorang pemimpin. Kendati digadang menjadi pemimpin pesantren, Jarot tidak pernah melunaskan harapan. Dan seperti pada pohon silsilah yang dilihat Aida pada akhir novel, nama Aida tertera sebagai orang terpilih. Bukankah itu berarti Aida merupakan calon pemimpin pesantren? Hal ini tampak dari ungkapan Aida ikhwal rahasia yang ia temukan pada puncak muhibahnya di Jawa:

"Aku tahu, kenapa beban ayah terasa demikian berat, bahkan untuk kesalahan yang tidak dilakukannya. Beban itu kini beralih ke pundakku, sebuah beban yang tak bisa dipindah ke pundak orang lain. Sebuah lingkaran 'takdir' yang begitu sulit untuk dihindari, tetapi harus diterima dengan sepenuh hati. Lingkaran takdir yang sudah menyatu dengan darah" (hlm. 234).

Hal menarik lainnya dalam novel ini adalah pemberian judul menggunakan bahasa Arab yang berarti cinta. Meski kita bisa menemukan taburan cinta di bagian-bagian novel, pemberian judul yang manis ini menimbulkan pertanyaan. Hal ini tentu saja wajar mengingat tidak ada keterangan apa-apa soal Hubbu dalam novel ini (saya sendiri menemukan arti hubbu di situs Gramedia saat buku ini baru terbit). Cinta yang manakah yang dimaksud Mashuri? Dan seberapa signifikan cinta yang dimaksud mempengaruhi keseluruhan isi novel sehingga layak dijadikan judul? 

Akhirnya, saya melihat Hubbu berbicara tentang pilihan dalam hidup. Hidup Jarot menjadi kontradiktif karena ia tidak bisa menentukan pilihan. Sebagai manusia, yang dianugerahi kekuatan memilih, ia tidak bisa menentukan dengan tegas, menjadi Abdullah Sattar atau Jarot. Ia tidak bisa memilih, ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu nalar. Dan yang terutama, ia tidak bisa memilih untuk benar-benar hidup secara islami atau tidak. Inilah yang menyebabkan ia meninggalkan Desa Alas Abang dan tidak pernah tergerak untuk menjadi pemimpin pesantren warisan.

Dan dengan ketidakmampuannya memilih, Jarot akhirnya terjebak. Coba simak pola hidup Jarot yang digambarkan Mashuri. Ia dikenal memahami agama dengan dalam, bahkan diyakini dikaruniai laduni, tanpa belajar sudah bisa menguasai ilmu-ilmu agama. Jarot –dengan kesombongannya- meyakini kemampuannya, seperti yang terlihat dalam usahanya mengajarkan tentang sisi universalitas ketuhanan demi mengembalikan rasa ketuhanan Agnes yang terguncang (hlm. 168). Tapi cara hidupnya tidak selaras dengan agama yang ia anut. Memeluk Istiqomah, tidur sekamar dengan Puteri, berdua-duaan dalam kamar dengan Agnes yang bukan hanya berbeda jenis kelamin tapi juga keyakinan. Dan lihat akhirnya, Jarot terlibat persetubuhan dengan Agnes. Setelah meniduri Agnes, baru ia sadar akan pola kehidupannya. "Aku baru merasa bisa, belum bisa merasa," akunya. Ia tidak berbeda dengan Begawan Wisrawa yang diceritakan dalam lontar Lokapala. Pada titik ini, akhirnya Jarot mesti memilih. Sebuah pilihan yang mempengaruhi nasib pesantren warisan Mbah Kiai Adnan, memberi jawaban atas pertanyaan Aida: Benarkah sebuah pilihan kadang mengandung risiko untuk orang lain, bahkan untuk satu warisan yang demikian berharga dan telah mengantar si empunya dalam penghargaan tak terkira? (hlm. 205).

Tapi di ujung keterpurukan hidupnya, Jarot menemukan titik persinggungan antara Jawa dan Islam yang ada dalam wayang kulit, keseimbangan hijaiyah dan hanacaraka, dalam kehidupan Begawan Wisrawa, melalui pengalaman hidup yang dikatakannya sebagai "kekonyolan yang patut aku sesali seumur hidup, bahkan sampai mati nanti" (hlm. 168). Itulah Sastra Gendra.

Pada pembacaan pertama, saya tersendat menikmati Hubbu. Sejatinya Hubbu dibuka secara menarik. Prawayang yang disajikan Mashuri sungguh menerbitkan rasa ingin tahu karena cukup unik. Tidak menjabarkan kisah wayang secara biasa, tapi melalui penuturan salah satu tokoh wayang kepada tokoh wayang yang lain, dalam bentuk surat. Tapi memasuki bagian satu, dengan arah cerita yang masih kurang jelas dan terutama gaya bertutur yang kurang menarik –agak cerewet kendati tidak dibutuhkan, termasuk penggunaan kata yang tidak efektif yang berdampak tidak enak dibaca- saya tersendat menikmatinya. Kisah Hubbu kembali terasa menarik ketika tiba di bagian ketiga, Lompatan Waktu. Mungkin karena bagian ini menjadi juru kunci novel. Penulis tidak hanya melakukan lompatan waktu yang cukup mengagetkan, tapi juga melakukan lompatan dalam plot. Ia tidak hanya berhasil menyimpul plot, tapi juga memberikan perenungan tentang eksistensi kepemimpinan perempuan dalam dunia pesantren.

Sebuah novel yang cukup menarik, tidak luar biasa, tapi akhirnya masih bisa dinikmati. Setidaknya, menurut saya.


Posted at 02:10 pm by Jody
Make a comment  

Next Page





widgets