<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< June 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Monday, June 16, 2008
THE PENDERWICKS




Judul: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seorang Anak Laki-laki yang Sangat Menarik)
Penulis: Jeanne Birdsall (2005)
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Tebal: 292 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

 
LITTLE WOMEN RASA BARU

 

The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seorang Anak Laki-laki yang Sangat Menarik) adalah judul panjang dari novel anak-anak karya perdana Jeanne Birdsall. Novel yang diterbitkan pertama kali pada Juni 2005 ini telah memenangkan National Book Award untuk Young People's Literature tahun 2005. Setelah sekian lama bekerja sebagai fotografer, impian masa kecil Jeanne Birdsall yang kini bermukim di Northampton, Massachusetts ini untuk menjadi penulis novel akhirnya menjadi nyata.


Jeanne Birdsall

Novel ini (The Penderwicks) merupakan kenang-kenangan dari 4 kakak-beradik perempuan pada sebuah musim panas di masa kecil mereka. Bertahun-tahun telah berlalu, mereka telah dewasa, tetapi pengalaman musim panas ini ternyata tidak dapat mereka lupakan. Ketika itu Rosalind baru berusia 12 tahun, Skye 11 tahun, Jane 10 tahun, dan Batty 4 tahun. Pada waktu kisah dimulai, mereka berada di mobil bersama sang ayah, Martin Penderwick, seorang profesor Botani yang doyan berbicara dengan bahasa Latin, dalam perjalanan menuju Arundel, di Berkshire Mountain. Ikut bersama mereka, seekor anjing besar, kikuk, dan manis bernama Hound. Tentu saja, Elizabeth Penderwick, ibu anak-anak, tidak ikut. Sang ibu meninggal 2 minggu setelah kelahiran Batty. Penulis novel memberi alasan yang menimbulkan pertanyaan lewat penuturan Rosalind (hlm. 43), bahwa Elizabeth meninggal karena kanker setelah melahirkan Batty. Artinya, Batty dilahirkan seorang penderita kanker kan? Kenapa tidak ada penjelasan yang memadai soal ini?

Kisah kakak-beradik perempuan akan selalu mengingatkan pada novel klasik berjudul Little Women (1868) karya Louisa May Alcott yang dalam novel ini, kebetulan, disinggung penulis lewat ucapan Jane (hlm. 29). Bisa ditebak jika buku tentang gadis-gadis keluarga March itu telah memengaruhi kelahiran novel ini. Bahkan, karakterisasi anak-anak Penderwick akan mengingatkan karakter beragam seperti yang dimiliki gadis-gadis keluarga March: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Tetapi The Penderwicks jelas berbeda dengan Little Women. Hanya, bagi saya, The Penderwicks adalah Little Women kontemporer, dengan rasa dan keasyikan yang baru.

Karakterisasi yang kuat dan menarik dibubuhkan Jeanne Birdsall ke dalam diri anak-anak Penderwick. Rosalind, si sulung, penengah setiap masalah, bertindak seperti pengganti ibu terhadap saudara-saudaranya, dan mulai digerogoti cinta remaja. Skye, seorang gadis cerdas berdarah panas dan tidak sabaran. Ia digambarkan berbeda secara fisik dengan saudara-saudaranya; berambut pirang lurus dan bermata biru, sementara saudara-saudaranya bermata cokelat dan berambut keriting gelap. Ketika cerita bergulir, diceritakan bagaimana dengan galak  ia menantang orang yang dipandang menghina keluarganya. Jane, seorang tukang khayal yang ingin menjadi penulis kondang. Ia menulis serial jagoan perempuan bernama Sabrina Starr yang menyelamatkan anak burung gereja, kura-kura, dan tikus tanah. Sedangkan Batty, si bungsu adalah anak pemalu yang menjadikan binatang dan keluarganya sebagai target kasih sayang. Ia senang mengenakan sayap kupu-kupu dan tidak pernah bicara dengan orang yang baru dikenalnya sampai ia menemukan kesamaan kegemaran dengan orang itu.

Dalam perjalanan menuju Arundel, Keluarga Penderwick tersesat. Untunglah mereka bertemu Harry, seorang penjual tomat. Harry menunjukkan jalan menuju Arundel dan mengingatkan tentang Mrs. Tifton, si pemilik Arundel yang congkak dan Skye yang dideteksinya sebagai tukang bikin onar. Ternyata Arundel tempat yang luar biasa. Terdiri atas  Arundel Hall, sebuah mansion megah di tengah taman yang apik, dan Arundel Cottage, sebuah vila berwarna kuning mentega di balik halaman belakangnya. Vila inilah yang disewa Mr. Penderwick untuk dipakai selama liburan.

Setelah menempati kamar masing-masing, keempat bersaudari Penderwick siap menghabiskan waktu selama 3 minggu di Arundel. Di sini mereka bertemu orang-orang menyenangkan seperti Cagney, tukang kebun Arundel; Mrs. Churchill (Churcie), koki Arundel yang pintar membuat kue jahe; dan tentu saja, Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel, yang menerima kedatangan Keluarga Penderwick dengan antusias. Tetapi, juga orang-orang menyebalkan yaitu Mrs. Tifton (Brenda), ibu Jeffrey yang secongkak sepatu hak tinggi yang dikenakannya dan pacarnya, Dexter Dupree, penerbit majalah mobil yang ingin menghalau Jeffrey secepatnya dari Arundel. Khusus bagi Batty, ada dua ekor kelinci (Yaz dan Carla) yang bisa menjadi tempat curahan kasih sayangnya.

Rosalind dan adik-adiknya sangat menyukai Jeffrey. Mereka iba karena Jeffrey tidak pernah mengenal ayahnya. Ayah Jeffrey pergi sebelum Jeffrey dilahirkan; kepergian yang mengundang gosip. Kakak-beradik Penderwick semakin bersimpati ketika tahu Brenda menghalangi niat Jeffrey untuk masuk sekolah musik. Brenda ingin Jeffrey menjadi prajurit seperti Jenderal Framley, kakek Jeffrey yang sudah mangkat.

Simultan dengan kedatangan Keluarga Penderwick, Brenda Tifton sedang bersiap-siap mengikutkan tamannya dalam kompetisi Klub Berkebun se-Massachusetts. Ia berharap bisa jadi pemenang tahun ini. Bagi Brenda, anak-anak Penderwick hanya akan bikin kacau dan merusak taman kebanggaannya. Menurutnya juga, anak-anak Penderwick memberi pengaruh buruk pada Jeffrey. Ia menunjukkan secara terang-terangan rasa antipatinya kepada anak-anak Penderwick. Sikapnya yang judes menakutkan dan menjengkelkan anak-anak Penderwick. Jane yang penuh khayal menyebutnya Ratu Narnia yang mengubah semuanya menjadi musim dingin.

Kisah musim panas ini bergulir melewati berbagai peristiwa yang menakutkan Batty ketika Yaz menghilang, menyulut kemarahan Mrs. Tifton atas gangguan anak-anak Penderwick saat kompetisi Klub Berkebun, menyengat kedongkolan Skye atas penghinaan Mrs. Tifton terhadap kehormatan keluarga Penderwick, mematahkan hati Rosalind manakala mengetahui Cagney sudah punya pacar, dan meluluhkan niat Jane untuk menjadi penulis tenar sewaktu karya teranyarnya, 'Sabrina Starr Menyelamatkan Anak Laki-laki', dianggap gagal oleh Dexter. Semuanya mencapai klimaks saat Jeffrey memutuskan minggat dari Arundel Hall.

Apa yang akan terjadi dengan Jeffrey? Apakah liburan musim panas di Arundel ini akan menjadi kenangan yang menyakitkan dalam benak anak-anak Penderwick? Dua pertanyaan ini tentunya akan terjawab pada lembar-lembar terakhir novel setebal 292 halaman ini.

Secara keseluruhan, The Penderwicks adalah sebuah novel yang indah, dan tentu saja, cocok untuk anak-anak. Penggambaran semua karakter novel yang unik menjadi kekuatan novel ini. Belum lagi kelucuan yang ditimbulkan oleh ulah dan pemikiran anak-anak Penderwick. Selain itu, dari kehidupan anak-anak Penderwick banyak hal yang bisa dipetik hikmahnya seperti berupaya menyelesaikan setiap masalah dengan musyawarah (mereka punya agenda yang mereka sebut Pertemuan Besar Penderwick Bersaudara) bersiteguh menjaga rahasia dan kehormatan keluarga; juga bersimpati dan berempati pada kesusahan orang lain. Seperti testimoni di sampul belakang (School Library Journal), alhasil, setelah membaca buku ini, anak-anak Penderwick akan disayangi oleh para pembaca.

Bagi orangtua, The Penderwicks memberikan pelajaran berharga bagaimana harus memperlakukan anak-anak. Tentu saja, orangtua yang baik menginginkan masa depan gemilang untuk anak-anak mereka. Tetapi, belum tentu rancangan masa depan seorang anak dari orangtuanya akan sebangun dengan rancangan masa depan anak itu sendiri. Jadi, orangtua perlu juga mendengar keinginan anak mereka untuk tidak membuat mereka jadi pemberontak dan membenci orang tua sendiri. "Karena orangtua hampir selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi mereka tidak selalu tahu apa yang terbaik," kata Mr. Penderwick (hlm. 233). Selain itu, novel ini juga mendedahkan bagaimana orang tua menghadapi anak-anaknya, memosisikan mereka sebagai sahabat, meminta maaf jika telah mengesalkan mereka, dan memberikan mereka kebebasan yang bertanggung jawab.

Setelah The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy, Jeanne Birdsall menulis sekuel berjudul The Penderwicks on Gardam Street yang terbit pada April 2008. Apakah edisi Indonesianya akan menyusul prekuelnya? Kita tunggu saja.


Posted at 09:10 pm by Jody
Comments (2)  

Wednesday, June 11, 2008
10 THINGS TO DO BEFORE I DIE


Judul Buku: 10 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Aku Mati
Judul Asli: 10 Things to Do Before I Die
Penulis: Daniel Ehrenhaft (2004)
Penerjemah: Maria Intan Ravenska
Tebal: 240 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)

 
 

24 JAM SI BADUT KACANGAN

 
Apakah yang akan kaulakukan ketika secara mendadak mengetahui hidupmu tersisa 24 jam? Bagi Ted Burger, seorang remaja lelaki New York 16 tahun, anak tunggal sepasang orang tua yang sibuk, ada 10 hal yang harus ia lakukan.

Semua berawal ketika Ted Burger menghabiskan waktu pada hari pertama liburan musim semi dengan Mike Singer, sahabatnya, dan pacar Mike, Nikki. Mereka berada di restoran Circle Eat Dinner, tempat Ted menghabiskan sebagian besar waktunya karena kesepian di rumahnya sendiri. Orang tua Ted memang lebih suka menghabiskan waktu dalam perjalanan bisnis daripada mengenal putra mereka dengan baik. Bersama Mark dan Nikki, Ted memesan Paket Circle Eat #5, Burger/Fries Combo. Mark makan burgernya, Nikki acarnya, sedangkan Ted makan kentang gorengnya. Ted memang sangat suka kentang goreng.

"Dude, kau itu biasanya cuma ngomong. Sekali-sekali, ayo pikirkan sesuatu untuk kaulakukan," tiba-tiba di tengah acara makan mereka, Mark angkat bicara. Selain 'dude', Mark suka menyapa Ted Burger dengan nama Burger.

Sudah 4 bulan Ted memacari Rachel Klein. Rachel seorang gadis manis dengan selera tinggi dalam berpakaian, cerdas, dan tergabung dalam organisasi Amnesty International. Ted benar-benar menyukai Rachel kecuali saat Rachel berpikir Ted naksir Nikki, berkesah bahwa Ted terlalu kerap nongkrong di Circle Eat Diner, dan tidak mau melakukan 'itu' sampai ia 'siap'. Pada musim semi ini Rachel terlibat rencana pelaksanaan retreat Amnesty International. Ted telah memutuskan bergabung meski untuk itu ia harus menulis esai.

Secara mendadak, di tengah-tengah perbincangan 'pikirkan sesuatu untuk kaulakukan' itu, Ted merasa tidak enak badan. Mengingat ia juga punya janji dengan Rachel, Ted memutuskan pulang. Tetapi, Mark memaksa Ted membuat daftar 10 hal yang harus Ted lakukan selama musim semi.

Maka lahirlah ide-ide berikut di atas napkin dari meja restoran. Pertama, melepas keperjakaan. Rachel memang tidak mau melakukan 'itu' sampai ia 'siap'. Tetapi, menurut si pencetus ide, Nikki, malam ini ketika Ted bertemu Rachel, adalah saat yang tepat untuk melakukan 'itu'. Padahal, menurut Rachel, berciuman saja harus minta izin terlebih dahulu. Kedua, nge-jam bareng Shakes The Clown. Ted adalah penggemar nomor satu band asal Brooklyn ini dan bisa 'diare mulut' hanya untuk mengoceh tentang mereka. Ketiga, PESTA bareng Shakes The Clown dan keempat, membalas Billy Rifkin. Billy Rifkin adalah duri dalam daging Ted ketika mereka di kelas enam.

Sambil berkutat dengan vertigo, mual, dan tinnitus yang membuatnya mengira menderita penyakit Ménière, Ted bertemu Rachel yang menuduhnya habis mabuk-mabukan. Lalu, ketika ngobrol lewat telepon dengan ayah Mark, Ted malah dibilang hypochondriac (orang yang terlalu mengkhawatirkan kesehatannya). Ted baru mengetahui sesungguhnya apa yang ia alami ketika Mark dan Nikki mendatanginya. Katanya, Leo -tukang masak sinting di Circle Eat Diner- telah meracik sejenis racun dan mencampurnya ke dalam kentang goreng yang Ted makan. Itulah yang membuat Ted sakit, dan menyisakan hanya 24 jam kehidupan baginya.

"Apakah kau pernah benar-benar hidup, Burger?" pertanyaan yang pernah dilontarkan Mark menyengat Ted. Maka, lahir lagi ide-ide selanjutnya. Kelima, lakukan sesuatu yang sangat berjasa. Seperti menyelamatkan bayi dari gedung terbakar. Keenam, benar-benar PERGI ke salah satu negara dunia ketiga yang selalu dibicarakan Rachel dan lakukan sesuatu yang positif DI SANA. (Seperti Nigeria atau mana pun. Tapi secepatnya.). Ketujuh, merampok bank. Kedelapan, melakukan hal sinting, seperti bungee jump dari GW (George Washington) Bridge. Yang diikuti ide-ide kesembilan, memulai agamamu sendiri dan kesepuluh, cari sesuatu untuk dinamakan menurut namamu (seperti taman atau air mancur.).

Apakah Ted bisa melakukan 10 hal yang harus ia lakukan ini? Usai melalui serangkaian kejadian yang membuatnya untuk pertama kalinya benar-benar merasa hidup, apakah Ted benar-benar mati? Apakah Ted benar-benar mengidap penyakit Ménière? Semuanya akan dijawab dengan menarik pada bagian-bagian novel selanjutnya. Yang jelas, setelah jadi Malaikat Penendang Wajah, Ted tahu, Burger yang tidak pernah benar-benar hidup telah menjelma Ted yang benar-benar merasa hidup. Dan simultan dengan transformasi Ted, penulis menyingkap beberapa kebenaran sederhana mengenai cinta Mark-Nikki serta cinta Ted-Rachel dengan manis.

Novel yang oleh GPU dimasukkan dalam kategori TeenLit ini merupakan karya Daniel Ehrenhaft, penulis sejumlah buku anak-anak dan fiksi Young Adult (YA). Lelaki kelahiran Washington (AS) 12 Agustus 1970 ini telah menerima Edgar Allan Poe Award tahun 2003 untuk kategori Best Young Adult Novel berkat novel YA-nya, The Wessex Papers. Selain 10 Things to Do Before I Die, Daniel Ehrenhaft yang suka menggunakan pseudonim Daniel Parker dan Erin Haft telah menulis The Last Dog on Earth, The After Life, Drawing a Blank, Tell it to Naomi, 21 Proms, dan tentu saja 3 volume The Wessex Papers (Trust Falls, Fallout, dan Outsmart).

 


Daniel Ehrenhaft

Bisa dikatakan kalau 10 Things to Do Before I Die adalah sebuah novel YA yang tidak biasa. Meski masih ditulis dengan gaya khas novel YA, novel ini tidak sekedar mengumbar kisah cinta monyet yang kian lama kian menjenuhkan dibaca. Memang masih terdapat kisah cinta remaja di dalamnya, yang untungnya tidak basi, tetapi tema utamanya bukan kisah cinta. Tema utama dalam novel berpusar pada proses kelahiran kembali Ted Burger dari Burger menjadi Ted. Meski, harus diakui, Burger yang belum lahir kembali memang kurang utuh digambarkan. Pernyataan, "Seumur hidup aku berjuang memaksakan aturan di dalam ketidakaturan, untuk membangun dinding rutinitas dan penghalang," (hlm. 225) yang menggambarkan tentang Burger kurang bisa saya pahami setelah membaca seluruh novel.

Namun, 10 Things to Do Before I Die termasuk novel yang mengasyikkan. Menggunakan Ted Burger sebagai narator, Daniel Ehrenhaft menunjukkan dirinya sebagai penulis kreatif yang tidak pernah kehilangan selera humor. Banyak ungkapan-ungkapannya yang menggelitik, metafora yang tidak biasa, dan istilah-istilah yang terasa orisinil (seperti pencandu obat pujian atau diare mulut). Caranya bernarasi terbilang hidup dengan judul-judul per bagian yang unik. Coba simak contohnya: Pecundang Cengeng; Jenis Cowok dengan Pola Pikir Gelas Setengah Penuh; Surga Kebetulan yang Luar Biasa; Dunia Berbentuk Donat; Okeydokey, Artichokeyt; Kematian Seorang Badut. Yang paling konyol, tentu saja, Kematian Seorang Badut yang terdiri atas 3 versi penglihatan yang menurut Ted mungkin dilihatnya ketika mati. Ada-ada saja!!

Daniel Ehrenhaft mendeskripsikan karakter ciptaannya dengan menarik dan jenaka. Sosok Ted Burger diceritakan memiliki suara seperti sepeda tua karatan, berambut brekele, tinggi kerempeng, berjari-jari kayak ranting, jago bikin kacau, tidak gampang percaya, dan badut kacangan. Mark, bermata cokelat liar karena yakin sejak kecil bahwa sesuatu yang tidak biasa dan ajaib bisa terjadi kapan saja dan entah bagaimana ia akan terlibat dalam kejadian itu. Apa yang Ted Burger alami membuktikan kebenaran keyakinan tersebut. Oh ya, saya suka pemikiran cerdas Mark mengenai 'dunia berbentuk donat' dan 'kematian Burger'. Sedangkan Nikki, digambarkan sebagai seorang gadis penyuka warna hitam dan bermata seperti batu onyx yang tenang hingga mirip alien. Pikirannya sangat aktif, selalu memikirkan segala hal dalam-dalam; kejadian dan percakapan yang sederhana sekalipun.

Sebagian besar isi novel berlangsung hanya dalam tempo 1 hari. Di antaranya ada sedikit bagian yang dipaparkan dengan teknik kilas balik. Sisanya, bagian-bagian akhir dan epilog yang diceritakan setelah hari kejadian utama, memakan porsi penceritaan yang tidak banyak.

Dari melimpahnya novel TeenLit terbitan GPU, menurut saya, novel ini adalah salah satu koleksi yang enak dibaca. Dan melihat penggunaan narator yang bergender laki-laki, cara bercerita, serta tema cerita yang inspiratif, mungkin novel ini bisa dinobatkan sebagai TeenLit (YA Fiction) remaja laki-laki, yang kebetulan, ditulis penulis laki-laki.

 

Posted at 03:21 pm by Jody
Make a comment  

Monday, June 09, 2008
WAYS TO LIVE FOREVER


Judul Buku : Setelah Aku Pergi 
Judul Asli: Ways to Live Forever

Penulis: Sally Nicholls (2008)
Penerjemah: Tanti Lesmana
Tebal: 216 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



PERSIAPAN MENJEMPUT AJAL


"Kalian boleh saja sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Kalau kalian selalu sedih waktu memikirkan aku, bagaimana kalian bisa mengingat aku?" adalah hal ke-6 yang diinginkan Sam Oliver McQueen setelah dia pergi alias meninggal. Kalimat itu dipesankan kepada siapa saja yang membaca buku hariannya. Jadi, ketika kita ikut-ikutan membaca buku Sam, Sam mengharapkan kita tidak boleh terlalu sedih. Kendati, mesti diakui, sepertinya, tidak ada pembaca yang tidak akan trenyuh ketika membaca cerita pengalaman, pemikiran, dan usaha Sam menghadapi kematian yang telah berjarak dekat dengan usianya.

Ways to Live Forever merupakan debutan Sally Nicholls, seorang penulis asal Inggris. Sally Nicholls, kelahiran Stockton-on-Tees (Inggris) 22 Juni 1983 menulis novel ini pada saat berusia 23 tahun. Setelah lulus dari jurusan Filsafat dan Sastra University of Warwick, Sally mengambil MA dalam bidang Writing For Young People di Bath Spa University. Di Bath Spa inilah Sally menulis novel yang kemudian memenangkan Waterstone's Children Book Prize tahun 2008. Sally juga telah menyelesaikan novel keduanya yang berjudul The Midnight Hunter dan dijadwalkan terbit awal tahun 2009.


Sally Nicholls

Novel berseting Middlesbrough ini dimulai tanggal 7 Januari dan berakhir tanggal 12 April, berisi kumpulan daftar, cerita, gambar, pertanyaan, dan fakta-fakta, dan, tentu saja, kisah Sam (hlm. 11). "Saat kalian membaca buku ini, kemungkinan aku sudah pergi," tulis Sam (hlm. 13).

Sam Oliver McQueen, anak lelaki berusia 11 tahun tetapi dengan ukuran tubuh yang tidak sesuai, suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis, dan mengidap leukemia. Ia ketahuan mengidap penyakit temuan John Hughes Bennett pada tahun 1845 ini pada umur 6 tahun. Leukemia lymphoblastic akut, demikian jenis leukemia yang diderita Sam; terlalu banyak produksi lymphoblast, sel-sel darah putih kecil. Sampai saat Sam memutuskan membuat buku, ia telah 2 kali menjalani kemoterapi. Setelah terakhir kambuh pada usia 10 tahun, dua setengah bulan kemudian, penyakit Sam kambuh lagi. Maka, Sam mengalami berbagai hal seperti kerontokan rambut akibat kemoterapi, sering mimisan, hidup berkawan dengan Hickman Line, dan membutuhkan serum-serum kuning dan kenyal untuk pembekuan darah.

Penyakit Sam membuat kehidupan dalam rumahnya terganggu. Rachel, ibu Sam, berhenti kerja untuk merawat Sam tetapi seperti suaminya, Daniel, tidak bisa menepis kesedihan karena nasib Sam. Diam-diam, Ella, adik Sam yang berusia 8 tahun juga merasakan kesedihan dalam keluarganya. Keluarga Sam tahu, cita-cita-cita Sam untuk menjadi ilmuwan penyelidik hal-hal seperti UFO dan hantu tidak akan terwujud. Dengan pengobatan, Sam diramalkan akan hidup setahun lagi.

Ketika menginap di rumah sakit selama 6 minggu saat penyakitnya kambuh pertama kali, Sam bertemu dan kemudian bersahabat dengan penderita kanker lain bernama Felix Stranger, 13 tahun. Felix yang berkepala gundul hidup dengan keraguan akan kebaikan Tuhan gara-gara sakitnya. Setelah liburan Natal, 7 Januari, hari pertama Sam dan Felix 'masuk sekolah', Mrs. Willis yang mengajar mereka di rumah, menantang mereka untuk mengarang. Sam menerima tantangan sang guru, dan memutuskan  menulis buku. Sebentuk buku harian.

Di tengah-tengah kegiatan yang ia lakukan; belajar, pengobatan, menghabiskan waktu dengan Felix, Sam menulis bukunya. Di dalam bukunya itu, Sam menghimpun 11 daftar berisi hal-hal tentang dirinya, apa yang ingin ia lakukan, hal-hal yang menjadi favoritnya, kiat-kiat hidup abadi, ritual kematian berbagai bangsa, siapa ayahnya, balon Zeppelin, pertanyaan tentang orang mati, dan apa yang ia inginkan setelah meninggal); 8 Pertanyaan Tak Terjawab yang bertalian dengan kematian; pengalaman-pengalaman; informasi yang berhubungan dengan kematian seperti teori 21 gram dari Duncan MacDougall (1907), juga gambar-gambar; yang semuanya merupakan persiapan Sam menghadapi kematian.

Sebuah pembahasan menyentuh terjadi antara Sam dan Felix ketika membahas pertanyaan yang berbunyi: "Kenapa Tuhan membuat anak-anak jatuh sakit?" Apakah Tuhan ada? Jika ada, apakah Tuhan jahat karena suka menyiksa anak-anak kecil sekedar untuk senang-senang? Apakah Tuhan benar-benar jahat? Ataukah anak-anak jatuh sakit karena dihukum, karena karma? Atau justru sakit itu merupakan hadiah, seperti mendapatkan Karcis-Gratis-Masuk-Surga? Apapun jawabannya, bagi Sam, semua pendapat mereka lebih baik dari pendapat konyol yang mengatakan bahwa seorang sakit dan mati karena, "dia terlalu baik untuk tetap di dunia ini" atau "Tuhan sangat menyayanginya, sehingga ingin membawanya ke surga" (hlm. 50-52).

Suatu  hari, Felix tidak muncul pada jadwal belajar. Ia terkena infeksi, masuk rumah sakit, kemudian akhirnya meninggal. Kepergian Felix menyengatkan pukulan keras bagi Sam yang membuatnya memperdebatkan soal keadilan. Ketika semua obat yang diberikan pihak rumah sakit sepertinya tidak banyak bermanfaat lagi, Sam memutuskan mempercepat waktu kematiannya. "Aku akan bilang pada-Nya waktunya tidak cukup panjang," kata Sam (hlm. 178). "Nanti, kalau aku bertemu dengan Dia." Setelah sekian banyak uang dihamburkan untuk pengobatan dan perawatan Sam, sungguh getir ketika Rachel menanggapi perkataan Sam dengan, "Ya, bilang pada-Nya. Bilang pada-Nya kita ingin uang kita dikembalikan."

Menurut The Concise Oxford Dictionary edisi kesembilan yang dikutip Sam, kematian adalah berhentinya fungsi-fungsi vital dalam suatu organisma secara permanen, akhir kehidupan (hlm. 119), tetapi bagi Sam kematian adalah tahap selanjutnya dalam kehidupan. Ia percaya jika kematian hanyalah perjalanan kembali ke tempat semula manusia berada sebelum dilahirkan, sesuatu yang tidak menjadi masalah bagi Tuhan, karena kematian seseorang berarti kembali ke surga, tempat Tuhan tinggal. Sebuah pemaknaan kehidupan lewat kematian dari sudut pandang anak kecil yang luar biasa tanpa pernah berniat memvonis apa yang ia alami sebagai kesalahan Tuhan. 

Oleh sebab itu, Sam menginginkan upacara pemakaman yang asyik, para pelayat yang tidak memakai pakaian hitam, harus ada cerita-cerita lucu tentang dirinya, dan boleh sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Si kecil Sam sadar, tidak mungkin tidak akan ada kesedihan ketika seseorang yang disayangi meninggalkan kita, tetapi baginya, kesedihan bisa menghalangi ingatan kita kepada orang yang kita sayangi.

Apakah Sam bisa melakukan semua hal yang ingin ia lakukan seperti dalam daftar no. 3? Ataukah Sam bisa mewujudkan salah satu cara hidup selamanya seperti dalam daftar no. 5? Sebuah angket Rencana Kematian paling ilmiah dalam sejarah versi Felix yang disusun Sam kemudian akan memastikan nasib Sam.

Novel ini tidak ditulis secara konvensional. Teknik penulisan yang pada beberapa tempat bergaya scrapbook mengingatkan pada model penulisan kreatif banyak buku teenlit. Pemilihan model penulisan yang terbilang jitu karena memang jadi lebih sesuai dengan usia Sam McQueen dan menjadi tidak membosankan. Apalagi, meski tidak konvensional, plotnya jelas, bisa diikuti dengan mudah dan enak.

Karena Sam yang menulis masih berusia 11 tahun, Sally Nicholls menggunakan narasi sederhana tidak berbelit. Cara bertutur Sally Nicholls mengingatkan cara bertutur Mark Haddon dalam novel berjudul The Curious Incident of the Dog in the Night Time (2003) yang menggunakan narator anak laki-laki pengidap Asperger Syndrome berusia 15 tahun. Tetapi, keluguan berkisah dari perspektif Sam menghasilkan novel yang kuat dan hidup.  Dengan kepolosan Sam yang pada beberapa tempat uniknya terkesan dewasa, kalimat-kalimat yang dirangkai Sally terkesan cerdas dan menyentuh, terkadang mengiris hati, tetapi juga tak ketinggalan nuansa humornya. Ternyata, di tangan Sally, menjemput kematian, dari perspektif anak-anak, bisa berbeda dan lebih enteng.

Judul asli novel, Ways to Live Forever, rupanya menggunakan judul Daftar No. 5 (yang diindonesiakan sebagai Kiat-kiat Hidup Abadi ). Tetapi, untuk edisi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama hasil terjemahan Tanti Lesmana, menjadi Setelah Aku Pergi, potongan judul Daftar No. 11 (Hal-hal Yang Kuinginkan Setelah Aku Pergi). Lebih baik daripada edisi Belanda yang berjudul Als je dit leest, ben ik dood (Saat kalian membaca Ini, kemungkinan aku sudah pergi), yang adalah fakta kelima tentang diri Sam pada Daftar No. 1.

Edisi Indonesia memosisikan novel yang keren ini sebagai novel dewasa. Entah apa pertimbangannya. Menurut saya, meski tema yang disodorkan Sally Nicholls agak berat, novel masih bisa dinikmati pembaca berusia lebih muda. Tetapi, kendati menggunakan narator anak berusia 11 tahun, novel ini memang tidak pas untuk masuk dalam kategori novel anak-anak. Bagaimanapun, Sam McQueen adalah produk orang dewasa. Jadi, tidak heran jika si kecil Sam terlihat bisa memandang kehidupan dengan cara yang dewasa. Kalaupun ada anak-anak seperti Sam, mungkin bisa dikatakan jenis anak-anak langka.


Posted at 12:33 pm by Jody
Comment (1)  

Sunday, June 08, 2008
A SHORT HISTORY OF TRACTORS IN UKRAINIAN

Judul Buku: Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina
Judul Asli: A Short History of Tractors in Ukrainian
Penulis: Marina Lewycka (2005)
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Tebal: 416 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Februari 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


KOMEDI KELUARGA DISFUNGSIONAL


 

Nikolai Mayevskyj, duda 84 tahun, memutuskan menikahi Valentina Dubova, perempuan Ukraina penuh gairah yang masih bersuami dan memiliki satu anak laki-laki, dua tahun setelah istrinya, Ludmilla Ocheretko, meninggal dunia. Meskipun tidak mendapatkan persetujuan dari kedua anak perempuannya, Vera dan Nadezhda (Nadia), Nikolai tetap bersikeras menikahi Valentina yang baru berusia 36 tahun. Berbagai alasan dicetuskannya untuk mewujudkan hasratnya memperistri si montok Valentina.

Valentina mau dinikahi Nikolai karena menginginkan paspor, bisa menetap dan bekerja di Inggris. Dia ingin membangun hidup baru bagi dirinya dan anaknya, Stanislav. Kelak, diharapkan, Valentina yang punya diploma dalam bidang farmasi akan bekerja dengan bayaran bagus setelah belajar bahasa Inggris. Nikolai akan membantu Valentina belajar bahasa Inggris sementara si 'Venus Botticelli' membersihkan rumah dan merawat Nikolai. Setelah menikah di gereja Katolik (kendati Valentina janda cerai dan Nikolai seorang ateis) Valentina tidak langsung tinggal bersama Nikolai. Ketika Valentina memutuskan tinggal serumah dengan Nikolai di pinggiran Peterborough, mereka tidak tidur sekamar. Nikolai yang mengalami disfungsi ereksi dituduh menyukai seks oral.

Kehadiran Valentina ke dalam rumah keluarga Nikolai, yang mengacaukan (kemudian mengutuhkan) keluarga Mayevskyj,  digambarkan oleh Nadezhda, sang narator novel, seperti ini, "Dia meledak masuk ke dalam kehidupan kami bagai granat merah muda yang sembrono, mengaduk-aduk air keruh, memunculkan ke permukaan lumpur kenangan yang sudah mengelupas, membuat hantu-hantu keluarga kami bergiat kembali." (hlm. 9).

Tidak cukup hanya menguras tabungan Nikolai guna memperbesar payudara, Valentina memaksa lelaki tua bangka itu menguangkan  Asuransi Pensiun untuk membeli mobil yang diinginkannya. Dan pengeluaran uang tidak hanya berhenti di situ. Valentina memaksa Nikolai membeli barang-barang seperti kompor gas dan vacuum cleaner. Nikolai terpaksa membeli dengan cara sewa-beli, yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Selain itu, masih ada masalah tagihan telepon yang membengkak. Nikolai terpaksa berutang pada kedua anaknya yang kian jengkel dengan ulah Valentina.

Melihat ulah menjengkelkan Valentina, Nadezhda si Bayi Masa Damai dari Cambridge dan Vera si Bayi Masa Perang dari Putney yang sedang terlibat permusuhan selama 2 tahun gara-gara warisan ibu mereka, mencoba membangun kekuatan bersama. Mereka ingin menyelamatkan sang Pappa dari tindakan manipulatif Valentina dan sebisa mungkin mengusir Valentina dari Inggris. Tetapi, tidak gampang. Valentina bukanlah pribadi yang mudah menyerah. Dia mau melakukan apa saja untuk melawan usaha kedua anak tiri yang jauh lebih tua darinya.

Dalam konfrontasi dua bersaudara Mayevskyj untuk menyelamatkan Kolya yang bodoh dengan perempuan Ukraina kasar dan jorok ini masa lalu keluarga melewati lembaran sejarah kelam Eropa dipanggil kembali; menghadirkan kenangan akan negeri dengan bau jerami dipotong dan bunga ceri, yang lebih suka dilupakan. Salah satu kenangan gelap dari masa lalu itu, akan menjadi terapi termujarab untuk keutuhan persaudaraan Nadezhda dan Vera.

Kisah keluarga disfungsional asal Ukraina ini merupakan karya perdana Marina Lewycka, penulis Inggris berdarah Ukraina kelahiran Kiel (Jerman) 1946. Novel ini menjadi finalis Booker Prize 2005 dan memenangkan Bollinger Everyman Wodehouse Prize for Comic Fiction, Waverton Good Read Award 2005/2006, serta Saga Award for Wit 2005. Juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.


Marina Lewycka

Novel ini bisa dikategorikan sebagai novel komedi. Nyaris semua karakter yang ada digambarkan secara komikal. Nikolai, si tua bangka yang bodoh dan kekanak-kanakan (bergantian membenci anaknya; bahkan karena ulah anaknya pernah ngambek mau kembali ke Ukraina). Valentina, perempuan bermodalkan payudara bak ujung peledak yang ternyata tidak bisa memberikan susu buat anaknya; seorang pemarah yang menggelikan dengan gaya bicara yang kasar dan berantakan.  Nadezhda, 'Nyonya Pukul-dan-Usir-Mereka' yang berusia 47 tahun tetapi ketika mendengar suara kakaknya mendadak menjadi anak usia 4 tahun dengan hidung ingusan. Vera, 'Nyonya Pakar Perceraian' yang bergaya kelas atas padahal mengenakan pakaian bekas dan bersikap licik kepada adiknya sehubungan dengan warisan ibu mereka.  Kerap, tidak terbayangkan kalau Nadezhda seorang dosen dan ibu rumah tangga berusia 47 tahun sementara Vera, bahkan, 10 tahun lebih tua. Seperti kata Mike, suami Nadezhda, salah satu karakter biasa dalam novel ini, karakter-karakter utama yang oleh Marina Lewycka digambarkan dengan sangat kuat itu memang "sekumpulan orang gila." (hlm. 140).

Novel dijalin secara ringan dan enak dibaca. Selain karakterisasi yang mantap, dialog dan adegan konyol menjadi kekuatan utama novel. Rasanya tidak mungkin membaca novel ini tanpa terhibur dengan semua kekonyolan yang ada. Ruang antara Nikolai yang selalu kalah dengan pesona payudara Valentina dan Valentina yang berbicara dengan bahasa yang berantakan menimbulkan dialog serta adegan yang menggelikan. Hubungan antara Nadezhda dan Vera juga dihadirkan dengan penuh humor; bertikai gara-gara warisan ibu; mencoba berekonsiliasi untuk memerangi Valentina, tetapi juga tidak ketinggalan untuk saling merendahkan satu dengan yang lain.

Di tengah situasi yang memancing tawa (atau paling tidak senyum), Marina Lewycka, dosen Sheffield Hallam University yang telah menerbitkan novel kedua berjudul Two Caravans (Strawberry Fields) ini, menyisipkan kilas balik sejarah kelam Ukraina lewat perjalanan kehidupan Nikolai dan Ludmilla beserta orang tua mereka. Sejarah kelam pada masa pemerintahan Stalin yang berdampak pada perilaku anggota keluarga Mayevskyj. "Tragedi besar sejarah kami yang tidak tercatat", begitu kata Nikolai dalam tulisannya (hlm. 112), menjadi bagian menyentuh dari keseluruhan novel yang konyol.

Judul novel berasal dari judul buku yang ditulis Nikolai tentang sejarah traktor, A Short History of Tractors in Ukrainian (Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina). Buku ini ditulis dalam bahasa Ukraina dan juga bahasa Inggris (untuk suami Nadezhda, Mike). Meski judul ini memberi kesan unik pada novelnya, tidak jelas hubungannya dengan tema utama novel.

Bagi pembaca yang tertarik membaca novel dewasa bergenre komedi yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh, novel ini akan menjadi pilihan yang pas.


Posted at 11:57 am by Jody
Make a comment  

Sunday, June 01, 2008
VIRGIN SUICIDES


Judul Buku: Virgin Suicides
Penulis: Jeffrey Eugenides (1993)
Penerjemah: Rien Chaerani
Penyunting: Sylfentri
Terbit: Cetakan 1, Januari 2008
Tebal : 352 hlm; 12,5 X 19 cm
Penerbit: Dastan Books




KETIKA PARA "PERAWAN" MEMUTUSKAN MATI

 

Virgin suicide
What was that she cried?
No use in stayin'
On this holocaust ride
She gave me her cherry
She's my virgin suicides
(Perawan bunuh diri
Apa yang ia tangisi?
Sia-sia bertahan
Menuju kehancuran
Ia serahkan harga diri
Perawanku yang bunuh diri)

-Virgin Suicide 

 

 

Bagi masyarakat religius, kematian adalah kehendak dan kekuasaan Tuhan. Mencabut nyawa sendiri bukanlah hak manusia. Ketika manusia memutuskan meregangkan nyawa menggunakan tangannya sendiri, manusia telah mengambil alih apa yang menjadi hak Tuhan. Meskipun menyadari hal ini, banyak manusia yang melakukan tindakan bunuh diri. Ada berbagai cara manusia bunuh diri. Menenggak obat melebihi takaran semestinya, menabrakkan kendaraan, menggores pembuluh darah, memanfaatkan palang gantungan, menenggelamkan diri, bahkan menyusupkan kepala dan tubuh ke dalam oven yang tengah menyala. Apapun teknik bunuh dirinya, tindakan ini hanyalah refleksi dari egoisme manusia. Hanya, seringkali motivasi melakukan bunuh diri itu tidak jelas bagi yang masih hidup.

Tersebutlah sebuah keluarga Katolik dengan kehidupan yang biasa di Groisse Ponte, Michigan, tahun 70-an. Ronald Lisbon, sang kepala keluarga adalah seorang guru matematika SMA sementara istrinya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka memiliki lima orang anak perempuan, Therese (17), Mary (16), Bonnie (15), Lux (14), dan Cecilia (13) sebelum tragedi dimulai. Pada suatu musim lalat ikan,  sembari berendam di bak mandi, Cecilia, si bungsu, mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan. Percobaan bunuh diri ini gagal. Tetapi, Cecilia berusaha kembali untuk mengakhiri hidupnya. Dua minggu setelah meninggalkan rumah sakit, ketika sebuah pesta diadakan di rumah keluarga Lisbon, Cecilia menjatuhkan diri dari lantai atas rumah dan tertancap di pagar rumah. Tentu saja ia tewas.

Pasca tewasnya Cecilia, kehidupan keluarga Lisbon, terutama putri-putri Lisbon, menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar. Kecantikan mereka sangat mengairahkan remaja-remaja lelaki yang kemudian mencoba melakukan pendekatan dengan mengajak mereka menghadiri pesta di luar rumah. Lux melakukan kesalahan, ia menghabiskan malam dengan Trip Fontaine dan terlambat pulang. Keterlambatannya menjadi alasan bagi Mrs. Lisbon untuk menarik putri-putrinya dari pergaulan sekaligus dari sekolah mereka. Kendati demikian, pengekangan ini tidak menjadikan Lisbon bersaudara perempuan-perempuan alim yang terkendali. Lux, di atap rumah, melakukan serangkaian hubungan seks dengan berbagai laki-laki.

Setelah ditarik dari pergaulan, suatu malam, putri-putri keluarga Lisbon mengundang remaja-remaja lelaki yang kemelit dengan kehidupan mereka untuk mendatangi rumah mereka. Bagi para lelaki muda itu, Lisbon bersaudara telah menyiapkan kejutan; hampir secara simultan keempat perempuan muda ini mencoba bunuh diri dengan berbagai metode. Hanya satu yang bisa diselamatkan dari antara mereka, meskipun seperti Cecilia, ia akan menemukan jalan kematiannya sendiri.

Virgin Suicides yang telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa dan menjadi bestseller di berbagai negara ini adalah karya debutan penulis Amerika, Jeffrey Eugenides. Pria kelahiran Detroit, Michigan, 8 Maret 1960, yang bersama keluarganya kini menetap di Princeton (New Jersey) ini kemudian dikenal luas sebagai peraih Pulitzer Prize for Fiction tahun 2003 untuk novel memoar fiktifnya yang bertajuk Middlesex.


Jeffrey Eugenides

Secara garis besar isi novel hanyalah usaha pengungkapan penyebab tindakan bunuh diri putri-putri keluarga Lisbon. Sekitar dua dekade setelah semua putri keluarga Lisbon tewas, beberapa lelaki (remaja pada waktu kejadian) melakukan investigasi kematian misterius itu; melakukan banyak wawancara dan mengumpulkan sejumlah bukti. Rumah keluarga Lisbon telah dijual, Ronald dan istrinya telah meninggalkan East Side, bahkan telah bercerai. Hasil investigasi tersebut dijalin dengan pengalaman dan pengamatan semasa remaja, dituangkan dalam sebuah laporan dengan koleksi nama yang banyak dan berbagai bukti (barang bukti #1 sampai #97). Barang bukti tersebut terdiri atas artikel koran, foto-foto rumah dan keluarga, buku harian Cecilia, barang-barang pribadi putri-putri Lisbon lainnya seperti kosmetik, sepatu basket, lilin, kaca, bahkan bra.

Karena disusun sebagai laporan investigasi, Virgin Suicides menjadi sebuah novel 5 bagian yang kaya akan detail. Tidak heran, layaknya sebuah laporan, Eugenides menggunakan kalimat-kalimat panjang untuk menjelaskan segala sesuatu. Hanya, bisa dikatakan, novel ini adalah 'sebuah investigasi yang gagal'. Pengalaman para investigator di masa remaja, hasil wawancara yang berjibun, dan barang-barang bukti yang ada tidak memberikan jawaban yang pasti untuk misteri kematian putri-putri Lisbon hingga novel berakhir. Bagi sementara pembaca, novel dengan sejumlah pertanyaan menggelitik tetapi tidak memberikan jawaban yang memuaskan mungkin akan sangat mengecewakan.  

Secara isi, Virgin Suicides bukanlah novel yang istimewa. Kematian berantai memang akan mengugah keinginan pembaca, tetapi dengan bentuk novel yang unik, tetap novel ini terkesan datar, biasa-biasa saja. Hanya sekelompok remaja yang menua dengan penasaran, dan sekelompok perempuan yang terobsesi dengan kematian dalam plot yang sederhana, tak ada yang berkelok-kelok membingungkan atau menegangkan.

Meski demikian novel yang dibuka dan ditutup dengan kematian Mary Lisbon ini bukan tidak menarik. Selain bentuk penulisan yang unik dan belum pernah saya temukan pada novel-novel penulis lain, yaitu dalam bentuk laporan investigasi; Virgin Suicides juga menggunakan narator yang tidak lazim digunakan, narator orang pertama jamak, kami. Penggunaan perspektif ini mengindikasikan jika investigasi dilakukan oleh lebih dari satu orang yang mengalami masa remaja ketika tragedi Lisbon terjadi. Beberapa nama lelaki itu bisa ditemukan dalam novel, seperti Chase Buell, Peter Sissen, Tom Faheem, dan Tim Winer; tetapi tidak jelas siapa yang benar-benar melakukan investigasi dan menjadi narator novel.

Novel yang terbilang alit ini -edisi Indonesia berkisar 300-an halaman dengan ukuran buku yang tidak besar dan memakai huruf berukuran besar, memang belum semenarik Middlesex, gubahan Eugenides setelahnya. Bisa dimaklumi karena jarak penciptaan kedua karya ini. Virgin Suicides terbit tahun 1993, sedangkan Middlesex tahun 2002, dengan konflik dan jumlah halaman yang jauh berbeda.

Judul novel, Virgin Suicides, diturunkan dari judul lagu band fiktif Cruel Crux, yang menjadi favorit Lux Lisbon, Virgin Suicide (hlm. 247-248). Meskipun, tidak semua putri Lisbon mati dalam keadaan perawan. Lux Lisbon telah kehilangan keperawanannya dan bercinta dengan banyak laki-laki!

Novel pemenang Whiting Award  ini telah diadaptasi ke dalam versi film berjudul sama yang diarahkan oleh sutradara perempuan, Sofia Coppola (1999) dengan pemain seperti James Woods (Ronald Lisbon), Kathleen Turner (Mrs. Lisbon), Kirsten Dunst (Lux Lisbon), dan Giovanni Ribisi sebagai narator.

Misteri kematian putri-putri keluarga Lisbon memang tidak terpecahkan. Kendati digambarkan Mrs. Lisbon bersikap keras terhadap putri-putrinya, tidak ada bukti bahwa hal itu menjadi alasan tindakan bunuh diri putri-putrinya. "Semua adalah kombinasi dari banyak faktor,"demikian penjelasan Dr. Hornicker dalam laporannya (hlm. 348 – 349). "Pada kebanyakan orang, bunuh diri adalah seperti permainan rolet Rusia. Hanya satu bilik yang berisi peluru. Pada gadis-gadis keluarga Lisbon, senapan itu terisi penuh. Satu peluru untuk menyiksa keluarga. Satu peluru untuk kecenderungan penyakit genetik. Satu peluru untuk kekecewaan masa lalu. Satu peluru untuk momentum yang tak terelakkan. Dua peluru yang lain mustahil diberi nama, tapi bukan berarti tak ada maksudnya".

Namun, ini pun hanya sebuah teori tanpa alasan medis. "Semua ini tak ada gunanya," kata narator (hlm. 349). "Esensi dari bunuh diri bukan kesedihan atau misteri, melainkan egoisme sederhana. Gadis-gadis itu mengambil alih keputusan yang sepantasnya diputuskan Tuhan. Mereka terlalu berkuasa untuk hidup di tengah-tengah kami, terlalu memikirkan diri sendiri, terlalu bermimpi, benar-benar buta..."

 

Posted at 10:53 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, May 31, 2008
HORELUYA



Judul Buku: HORELUYA
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Tebal: 240 hlm; 13,5 X 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


HORELUYA: KISAH KEAJAIBAN BIDADARI

 

Arswendo Atmowiloto bukanlah nama yang asing di dunia fiksi Indonesia. Lelaki kelahiran Solo, 26 November 1948, yang 'gila menulis' ini telah menghasilkan sejumlah karya fiksi seperti novel, cerpen, juga skenario film televisi dan layar lebar. Ia dikenal sebagai penulis serial Imung dan Keluarga Cemara yang pada masanya rutin menghiasi majalah remaja Hai, Senopati Pamungkas, Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku, dan CantingDua Ibu dan Mandoblang adalah 2 bukunya yang memenangkan Hadiah Buku Nasional. Menggunakan nama samaran Titi Nginung, Arswendo Atmowiloto menulis sejumlah novel opera seperti dwilogi petinju bernama Yoko; Opera Jakarta dan Opera Jakarta-Hongkong.

Horeluya adalah karya Arswendo Atmowiloto yang usai ditulisnya pada bulan Juni 2007. Sekarang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam novel setebal 240 halaman. Untuk novel ini, Arswendo menghadirkan sebuah keluarga Jawa sebagai wayang ceritanya.

Sepasang suami-istri muda, Johanes Kokrosono (Kokro) dan Maria Ludwina Ecawati (Eca) memiliki seorang anak perempuan bernama Teresa Lilin Sekartaji (Lilin), hampir 5 tahun. Dikelilingi kasih sayang ayah dan bunda serta Paklik Nayarana dan Bulik Ade dalam kehangatan keluarga sederhana, Lilin didiagnosis mengidap penyakit langka, anemia rhesus negatif. Gadis cilik ini membutuhkan donor golongan darah yang sama, padahal bukanlah hal yang mudah menemukan orang dengan golongan darah ini. Jika Lilin tidak mendapatkan donor, ia hanya akan bertahan dalam waktu 3 hingga 6 bulan sejak didiagnosis.

Kokro dan Eca tidak berhenti mengusahakan pengobatan Lilin. Bahkan sampai menjual rumah dua tingkat berpagar bagus hasil kerja keras mereka hampir 1 tahun. Dan tidak menyerah sekalipun Kokro mendadak dipecat dari pekerjaannya sebagai staf promosi pabrik biskuit dan mesti kembali ke pekerjaan lamanya di bengkel leter.  

Untuk Lilin, Eca mengikuti misa harian yang diadakan di sebuah gereja Katolik yang dikenal sebagai Gereja Lama. Selesai misa ia akan berdoa di depan patung Bunda Maria di sebuah gua di luar gereja, acap sambil menangis. Apa yang Eca lakukan tertangkap kamera seorang wartawan koran mingguan daerah bernama Adam yang kemudian memberitakan kebiasaan Eca sebagai penyembahan berhala.

Sementara itu, bulan Desember telah berjalan, Lilin ingin merayakan Natal di rumah, dan menginginkan adanya salju. Maka, untuk Lilin, Nayarana, sang paman, mempercepat datangnya malam Natal dengan salju kapas dan drama kelahiran Yesus Kristus. Bagaikan kabar sukacita di malam Natal, malam itu, sebuah kabar baik dibawa oleh Adam, wartawan yang sempat ketakutan pada Naya sehubungan dengan beritanya di koran. Ternyata berita dan foto dari Adam telah beredar di internet. Devi Efendi, seorang warga negara Malaysia, membaca tentang Lilin di internet dan berkenan menyumbangkan darah yang dibutuhkan Lilin.

Kokro dan Eca membawa Lilin ke Jakarta untuk mendapatkan transfusi darah. Sayangnya, setiba di Jakarta, Kokro dan Eca dihadapkan dengan kenyataan getir. Sebuah musibah menimpa Devi membuat perempuan ini tidak bisa menggenapi janjinya. Ada kemungkinan, Devi si calon pendonor darah malah membutuhkan transfusi darah yang sama. Lilin yang membutuhkan donor darah tiba-tiba ingin menyumbangkan darahnya untuk Devi. "Mauuuuu", itulah pernyataan Lilin yang menjadi katalisator bekerjanya keajaiban Tuhan.

Sebagaimana umumnya penulisan novel-novel Arswendo, Horeluya ditulis dengan lancar menggunakan bahasa yang tidak rumit yang mudah diikuti. Kalimatnya tidak semua panjang; terkadang malah pendek-pendek yang hanya terdiri dari satu atau dua kata setiap alinea. Dengan sedikit konsentrasi, buku ini akan selesai dibaca dalam tempo singkat.

Meski sendu, novel ini bukanlah novel pesimis. Novel ini justru memberikan pembelajaran berharga bagi pembaca untuk mengimani kebesaran Tuhan yang bekerja lewat kasih dan pengharapan manusia. Ketika iman manusia bertambah kuat, akan selalu terbuka kesempatan terciptanya keajaiban. Tuhan bisa memanfaatkan apa saja untuk kebaikan. Ejekan terhadap penyembahan Eca kepada apa yang ia imani bukannya menjerumuskan keluarganya ke dalam kesengsaraan tetapi menjadi sarana bekerjanya kuasa Tuhan.

Sering manusia memang tidak mengerti rencana Tuhan. "Karena rencanaNya, bukan rencana kita," aku Kokro (hlm. 97). Tetapi, semestinya apa yang terjadi, seperih apapun dampaknya, menjadi sarana "untuk lebih mendekat padaNya. Untuk lebih memahami dan mensyukuri KasihNya." (hlm. 97).) Ketulusan kasih Lilin untuk menyumbangkan darah yang sangat ia perlukan adalah bentuk syukur akan kasih Tuhan. Dan lihat sendiri, apa yang dialami Lilin kemudian!

Secara keseluruhan, Horeluya adalah novel sederhana yang juga ditulis dengan sederhana. Kita tidak akan menemukan konflik berbelit-belit ataupun yang melibatkan tokoh antagonis yang menyebalkan. Yang menjadi antagonis di sini tidak lain adalah anemia rhesus negatif itu sendiri. Selain itu, semua karakter yang ada terasa wajar, mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari, yang mungkin juga gambaran diri kita sendiri. Bacalah, Anda mungkin melihat diri Anda dalam karakter Eca, Kokro, Nayarana, Ade, atau bahkan Siti.

Tetapi, kesederhanaan, itulah justru yang menurut saya menjadi kekuatan novel ini. Kesederhanaan yang menyentuh hati yang mungkin akan membuat Anda tak menyadari air mata mengambang di pelupuk mata ketika menikmati novel ini!  

Seperti yang dikatakan Nayarana (hlm. 235), berhubungan dengan keajaiban yang terjadi dalam novel, novel ini mengajak kita untuk makin mendekat pada Tuhan, dengan segala doa dan upaya kepatuhan serta kesetiaan, karena hanya dengan inilah keajaiban itu mempunyai arti.

Lilin alias Sekartaji ingin menjadi bidadari kendati dalam hidupnya, bagi keluarganya, ia memang telah memperlihatkan 'keajaiban bidadari'. Tetapi, ketika ia menyebutkan kata "mauuuuu", ia lebih jauh memperlihatkan kualitas 'keajaiban bidadari' yang dikenal keluarganya. Ia memperlihatkan kualitas keajaiban bidadari dalam bentuk yang paling tinggi, belas kasih yang menyentuh hati, yang sanggup membaurkan teriakan hore dan haleluya (bahasa Ibrani, berarti Pujilah Tuhan) menjadi  HORELUYA.


Posted at 08:42 pm by Jody
Comment (1)  

Friday, May 23, 2008
LOLITA



Judul : LOLITA
Penulis: Vladimir Nabokov (1955)
Penerjemah: Anton Kurnia
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008; 529 hlm
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta


LOLITA: MANIS GETIRNYA CINTA TERLARANG

 Pernah mendengar istilah Lolita atau Lolita Syndrome? Istilah Lolita menggambarkan tentang perempuan muda yang dewasa/matang secara seksual sebelum waktunya Sedangkan Lolita Syndrome adalah keadaan di mana seorang dewasa, umumnya lelaki, tertarik secara seksual kepada anak-anak pada masa pubernya; kondisi ini juga disebut efebofilia. Kedua istilah ini muncul dari dua karakter utama novel Lolita, novel kontroversial yang ditulis oleh penulis berdarah Rusia, Vladimir Nabokov (1899-1977). Novel ini pertama kali diterbitkan di Paris pada tahun 1955 karena tidak ada penerbit Amerika yang mau menerbitkannya. Ketika akhirnya diterbitkan di Amerika (1958), Lolita masuk daftar bestseller, menjadi novel pertama sejak Gone with the Wind yang terjual 100 ribu kopi dalam 3 minggu pertama diterbitkan.

Kisah dalam novel ini merupakan pengakuan seorang laki-laki efebofil yang namanya disembunyikan di balik pseudonim Humbert Humbert. Ia menulis dalam bentuk memoar yang mengungkapkan latar belakang kejahatan yang dia lakukan dan sempat menghiasi koran-koran pada bulan September 1952. Tulisan Humbert Humbert ini awalnya berjudul Lolita, atau Pengakuan Seorang Duda (Lolita, or The Confessions of a White Widowed Male). Setelah Humbert meninggal, pengacaranya membawa memoarnya kepada seorang editor peraih penghargaan kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul Lolita.

Humbert Humbert lahir di Paris dan tumbuh di Riviera. Di sana dia bertemu Annabel Leigh, bocah perempuan cantik yang lebih muda beberapa bulan darinya. Cinta monyet mereka kandas karena Annabel meninggal dunia akibat tifus 4 bulan setelah pertemuan mereka. Menurut Humbert, pengalaman cinta yang gagal dengan Annabel telah menciptakan ketertarikannya pada gadis-gadis muda berusia antara 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai nymphet (peri asmara).

Dua puluh empat tahun setelah pertemuannya dengan Annabel dia berjumpa dengan peri asmara berusia 12 tahun, Dolores.

Pernikahan Humbert Humbert dengan perempuan bernama Valeria yang mengalami kegagalan ternyata tidak bisa menepis selera ganjilnya pada gadis-gadis kecil. Ketika dia pindah ke Amerika untuk bekerja, penyakit yang menyerangnya secara tak terduga meretas jalan ke rumah seorang janda bernama Charlotte Haze. Dalam sebuah rumah di Ramsdale, New England, ini Humbert menemukan peri asmara yang membuat dirinya mabuk kepayang.

"Dia adalah Lo yang biasa-biasa saja di pagi hari, setinggi seratus lima puluh senti, mengenakan sebelah kaus kaki. Dia adalah Lola saat mengenakan celana panjang longgar. Dia adalah Dolly di sekolah. Dia adalah Dolores pada data isian bertitik-titik. Namun, dalam pelukanku dia adalah Lolita," demikian ungkap Humbert (hlm.15) mengenai kekasih kecilnya.

Bagi Humbert, Lolita adalah titisan Annabel, tak bakal ada Lolita jika ia tidak pernah jatuh cinta pada Annabel di masa kecilnya. Pesona Lolita berhasil menahan Humbert di Ramsdale ketika lelaki setengah baya ini berniat meninggalkan kota kecil itu. Tetapi, untuk meraih si gadis kenes pembangkang ke dalam pelukannya, ternyata tidak gampang. Untuk itu Humbert terpaksa menikahi ibu si peri asmara yang sangat egois. Karena jika tidak, Humbert harus meninggalkan keluarga Haze.

Ada keinginan yang menggoda Humbert untuk mencelakakan Charlotte demi meraih putrinya. Tetapi sebelum niat itu menjadi tindakan, Charlotte tewas dalam sebuah kecelakaan setelah mengetahui kalau Humbert tidak mencintai dirinya dan menginginkan tubuh putrinya.

Peluang terbuka bagi Humbert. Dia meninggalkan Ramsdale, menjemput Lolita di perkemahan musim panas. Dia mengatakan pada Lolita jika Charlotte sedang sakit. Kebohongannya tidak sempat menua. Ketika Lolita tahu, tak ada pilihan lain, dara kecil ini terpaksa mengikuti Humbert menjelajahi berbagai negara bagian. Dalam perjalanan yang memakan waktu ini Humbert akhirnya bisa mereguk kenikmatan dari tubuh molek si peri asmara. Kendati menemukan dirinya bukan lelaki pertama yang menjelajahi tubuh Lolita (Lolita telah melakukan hubungan seks dengan teman sekolahnya), Humbert tidak berniat melepaskan Lolita dan meninggalkan dirinya sendiri. Bahkan pada saat-saat Lolita menghilang dalam waktu-waktu tertentu, Humbert menjadi lelaki tua pencemburu.

Humbert tidak pernah menduga cinta dan kemanjaan yang ia limpahkan pada putri tirinya hanya bertepuk sebelah tangan. Lolita tidak mencintainya. Lolita jatuh cinta kepada seorang lelaki yang diam-diam membayang-bayangi perjalanan mereka, seorang lelaki pedofil yang berniat mendapuk Lolita sebagai bintang film pornonya. Hingga suatu hari, Lolita meninggalkan Humbert tanpa pamit.

Pertanyaannya, apakah Humbert masih akan bertemu lagi dengan Lolita sebelum dia meninggal? Tindakan kejahatan apa lagi yang dilakukan Humbert hingga dia dijebloskan dalam tahanan, tempat dia menuliskan memoarnya ini? Bagian-bagian terakhir novel akan mengungkap segalanya dengan tuntas dan tidak terduga. Humbert tidak pernah tahu, harapannya yang berhubungan dengan penerbitan memoarnya sebagai buku (hlm. 524) telah bisa dilakukan hanya sebulah setelah dia meninggal. Hal itu berhubungan dengan meninggalnya Nyonya "Richard F. Schiller" saat melahirkan seorang bayi perempuan Natal 1952 (hlm. 8,9).

Novel Lolita merupakan sukses monumental yang mengubah kehidupan Vladimir Nabokov. Kesuksesan Lolita membuat Vladimir meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di beberapa universitas Amerika dan hidup sepenuhnya sebagai penulis yang mengantarnya menjadi empu novel dunia, baik dalam sastra berbahasa Rusia maupun Inggris. Sejumlah karyanya yang ditulis dalam bahasa Inggris dialihkannya ke dalam bahasa Rusia, termasuk Lolita yang oleh majalah internasional Time dinobatkan sebagai salah satu karya sastra dunia paling berpengaruh di abad ke-20. Sampai saat ini, Lolita telah dua kali difilmkan; tahun 1962 oleh Stanley Kubrick dan tahun 1997 oleh Adrian Lyne.



Vladimir Nabokov

Lolita adalah 'novel indah yang abadi', demikian pernyataan di sampul belakang novel edisi Indonesia terbitan Serambi. Cap abadi memang pantas melekati novel ini. Hingga kini Lolita masih terus menjadi bahan perbincangan dan menjadi buku laris di berbagai negara. Julukan novel yang indah sangat layak ditempelkan ke novel ini. Lolita memang ditulis dengan indah menggunakan kalimat-kalimat dengan pilihan kata yang memikat yang di banyak tempat terasa lezat nuansa puitisnya. Kalimat-kalimat berbahasa Prancis tampaknya memang disengaja. Humbert Humbert lahir dan besar di Prancis sehingga tidak aneh jika sesekali ia menginsersi bahasa yang ia kuasai dalam memoarnya.

Pada masanya, tema yang diusung Nabokov memang tergolong kontroversial. Tetapi tema seorang laki-laki dewasa yang terobsesi dengan seorang gadis remaja bukanlah tema baru baginya. Dia pernah menuliskan tema ini dalam karyanya yang lain. Sebelum novel ini terbit, seperti disinggung Nabokov dalam novel, pernah terjadi kasus yang mirip pada tahun 1948 (hlm. 494). Sally Horner, gadis 11 tahun, diculik oleh seorang montir berusia 50 tahun bernama Frank La Salle. Sally Horner dibawa berkelana selama 21 bulan dan diyakini melakukan hubungan seks dengan La Salle. Jadi, sejatinya novel ini bukanlah novel fantasi untuk mendorong hawa hafsu lelaki setengah baya terhadap gadis-gadis usia 9-14 tahun. Selain tidak ada penggambaran hubungan seks yang intensif dan blak-blakan yang tidak senonoh, Nabokov hanya membeberkan kenyataan yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia. Sekarang penerimaan terhadap novel ini tentu saja menjadi hal yang biasa. Bukankah berita lelaki setengah baya yang terpikat gadis-gadis remaja terdengar familier di telinga kita? Kasus yang melibatkan lelaki setengah baya dengan gadis-gadis usia peri asmata bukan kasus baru di Indonesia. Dalam kehidupan kita saat ini, bukan hal yang sukar untuk menemukan manusia jenis Humbert Humbert dan Lolita.

Dilihat dari isinya, Lolita bisa disebut sebagai novel komedi tragis. Meski kisah birahi seorang lelaki setengah baya yang meledak-ledak kepada seorang gadis puber terkesan menggelikan, novel ini hadir kuat sebagai novel kelam. Jalan hidup yang ditempuh Lolita sebelum dan setelah lepas dari Humbert Humbert adalah jalan hidup yang kelabu, dan tindakan keras yang diambil Humbert Humber dengan pistol di tangannya adalah pilihan mengundang petaka. Tidak ada yang berbahagia di penghujung novel yang rawan. Meski harus diakui, tindakan Humbert mengindikasikan jenis kekuatan cinta yang bisa sangat menyentuh dalam hidup manusia kendati itu cinta terlarang.

Setelah usai membaca novel ini, karakter Humbert Humbert dan Lolita masih terasa hidup dalam jiwa saya. Begitu indah dan begitu intensnya sang novelis menganyam kata dan kisah sehingga kehidupan mereka masih membekas bahkan setelah kisah berakhir.

Pengalaman membaca yang mengesankan, untuk edisi Indonesia, sudah pasti sangat ditentukan oleh kepiawaian penerjemahnya. Saya kira, Anton Kurnia bisa dikatakan sangat berhasil dengan karya terjemahannya ini. Ia sukses membawa novel berusia 50 tahun lebih ini dalam bahasa Indonesia yang hidup, cantik, dan terasa baru. Penerjemah yang juga seorang cerpenis, esais, dan editor ini antara lain telah menghasilkan novel terjemahan seperti Harun dan Lautan Dongeng (Salman Rushdie, 2002), Les Miserables (Victor Hugo, 2006), dan Seorang Sultan di Palermo (Tariq Ali, 2007; bersama istrinya Atta Verin)

Tentu saja tidak ada orang tua yang menginginkan pengalaman Lolita dialami salah satu anggota keluarganya. Apa yang terjadi antara Lolita dan Humbert Humbert bukanlah teladan yang baik. Tetapi, kenapa kisah ini mesti dituliskan? '"Lolita" seharusnya membuat kita semua –para orangtua, pekerja sosial, pendidik- meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan generasi yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman', demikian penjelasan John Ray, si penyunting memoar Humbert Humbert (hlm. 11). Karena, "Bocah pembangkang, ibu yang egois, maniak yang penuh nafsu –semua ini bukan hanya tokoh-tokoh yang kuat dalam sebuah kisah yang unik: mereka memperingatkan kita terhadap kecenderungan-kecenderungan yang berbahaya, mereka menunjukkan kejahatan-kejahatan yang mungkin terjadi." (hlm. 11).

Lima puluh tahun lebih telah berlalu sejak Lolita pertama kali diterbitkan, tetapi ternyata waktu telah kekal mengawetkan keindahan novel ini. Bacalah, saya merekomendasikan novel ini bagi yang belum pernah membacanya!


 

Posted at 11:55 am by Jody
Make a comment  

Thursday, May 22, 2008
SNOW



Judul Buku: SNOW (Di Balik Keheningan Salju)
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Diterjemahkan dari : Snow (Faber and Faber, 2005)
Tebal: 731 hlm; 13 X 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta


SNOW : DI BALIK KEHENINGAN SALJU

 
Ferit Orhan Pamuk atau Orhan Pamuk adalah novelis Turki yang sangat populer dalam sastra pasca-modernis. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa dan mendapatkan berbagai penghargaan di dalam negeri dan internasional. Puncaknya, pada tanggal 12 Oktober 2006, Pamuk menggondol Nobel bidang kesusastraan atas karya-karyanya. Ia menjadi pengarang Turki pertama yang memperoleh penghargaan ini. Untuk diketahui, Nobel Sastra diberikan pada pengarang yang "karyanya paling bagus dan memiliki idealisme yang maju" dan karya ini merujuk pada keseluruhan karya si pengarang, bukan kepada karya satuan.

Pamuk secara teratur mulai menulis sejak tahun 1974 dengan karya perdana bertajuk Karanlık ve Işık (Darkness and Light) yang menjadi salah satu pemenang Milliyet Press Novel Contest tahun 1979. Novel perdana ini diterbitkan pada tahun 1982 dengan judul Cevdet Bey ve Oğulları (Mr. Cevdet and His Sons) dan memenangkan Orhan Kemal Novel Prize. Selanjutnya ia menulis novel-novel pemenang berbagai penghargaan seperti Sessiz Ev (The Silent House, 1983), Beyaz Kale (The White Castle, 1985), Kara Kitap ( The Black Book, 1990), Yeni Hayat (New Life, 1995), dan Benim Adım Kırmızı (My Name is Red, 1998). Novel yang disebutkan terakhir di Indonesia telah diterbitkan Serambi sebagai Namaku Merah Kirmizi (2006). Novel inilah yang kian menjulangkan reputasi Pamuk dalam kancah literatur internasional.

Kar (2002) adalah novel ketujuh Pamuk yang diterjemahkan sebagai Snow (2004) oleh Maureen Freely, seorang penulis yang besar di Turki. Maureen Freely telah menerjemahkan karya Pamuk yang lain seperti The Black Book (novel, 2006), Istanbul: Memories of a City (memoar, 2005) dan Other Colors: Essays and a Story (esai, 2007). Untuk edisi Indonesia, Snow diterjemahkan sebagai Snow: Di Balik Keheningan Salju oleh Berliani Nugrahani, penerjemah dan editor yang antara lain telah menghasilkan karya terjemahan The Kite Runner (2006), The Hidden Face of Iran (2007), dan Middlesex (2007). Edisi Prancis novel ini, La Neige, memenangkan penghargaan Prix Medicis Etrange tahun 2005 dan oleh New York Times dinyatakan sebagai salah satu dari Sepuluh Buku Terbaik tahun 2004.



Orhan Pamuk

Tokoh utama Snow adalah Kerim Alakuşoğlu yang lebih suka dipanggil inisialnya, Ka, seorang penyair yang masih lajang dalam usianya yang ke-42. Ia meninggalkan Istanbul menuju sebuah kota bernama Kars, dalam sebuah perjalanan di tengah-tengah badai salju. Ka baru datang dari Jerman setelah 12 tahun meninggalkan Turki dan menjadi tahanan politik, kendati ia tidak pernah benar-benar menjadi aktivis politik. Ka adalah seorang pria yang jujur, beritikad baik, dan melankolis (hlm. 11). Ia bermasalah dengan kebahagiaan, menghindari kebahagiaan karena takut akan kepedihan yang mungkin mengikuti kebahagiaan itu.

Sebenarnya Ka datang ke Istanbul hanya untuk menghadiri pemakaman ibunya. Tetapi setelah 4 hari di kota itu, ia memutuskan mengadakan perjalanan ke Kars, kota yang ia pernah kunjungi 20 tahun berselang. Ia datang ke Kars dengan tujuan meliput pemilihan walikota yang akan segera berlangsung setelah walikota Kars tewas dibunuh. Selain itu ia bermaksud menguak misteri epidemi bunuh diri yang melanda sejumlah gadis di Kars, salah satunya, gadis dari kelompok 'gadis-gadis berjilbab'.

Seorang teman sekelas Ka dahulu di Istanbul, si jelita Ipek Yildiz, ternyata telah menetap di Kars bersama Turgut, ayahnya yang ateis, dan Kadife, adiknya, mantan model yang telah menjadi pemimpin 'gadis-gadis berjilbab'. Mereka mengelola Hotel Istana Salju. Ipek telah bercerai dari suaminya, Muhtar, yang berambisi menjadi walikota Kars. (Saya tidak setuju dengan sinopsis sampul belakang novel yang menyebutkan bahwa Ka berhasrat untuk menemukan cinta masa lalunya karena dalam novel tidak digambarkan jika Ka pernah jatuh cinta atau menjalin cinta dengan Ipek sebelumnya). Di Kars, Ka tinggal di Hotel Istana Salju sambil melakukan investigasi. Seiring dengan investigasinya, badai salju menutup jalan keluar dari Kars dan membuat kota ini terisolasi.

Kedatangan Kar dalam posisi sebagai jurnalis koran Republican membuat berbagai kalangan penasaran dan ingin tahu sebenarnya apa motivasi Ka. Hal ini membuat hidupnya mau tidak mau berpapasan dengan berbagai karakter seperti pengelola koran lokal Kars (Serdar), anggota kepolisian, prajurit pembela negara sekuler Turki, agen MIT, syekh karismatik bernama Saadettin Cevher, seorang lelaki cacat yang menganggap dirinya sebagai agen Islam tetapi bermental Casanova, murid-murid madrasah aliah yang tengah bergelut dengan cinta dan cita-cita serta seorang seniman teater yang mencoba bangkit dari kegagalan karier di masa lalunya. Kars yang terisolasi dalam selimut salju, ternyata bukan tempat yang damai dan bebas teroris seperti yang diungkapkan oleh Kasim Bey, asisten kepala polisi Kars.

Diawali dengan peristiwa pembunuhan direktur Institut Pendidikan Kars, Profesor Nuri Yilmaz, oleh seorang ekstremis Muslim yang disaksikan oleh Ka dan Ipek di sebuah toko kue, investigasi Ka berubah menjadi usaha untuk menyelamatkan diri sendiri. Ia mesti melalui rangkaian peristiwa yang meledak dalam sebuah kudeta berdarah pada sebuah pementasan teater dan bermuara pada terbunuhnya seorang seniman teater yang ambisius.

"Sejarah dan teater terbuat dari bahan yang sama, seperti dalam teater, sejarah memilih siapa orang yang tepat untuk menjadi pemeran utama. Dan, sama seperti para aktor yang mengerahkan seluruh keberaniannya di atas panggung, sedikit orang yang terpilih sebagai pelaku sejarah juga harus melakukan hal yang sama," demikian keyakinan Sunay Zaim (hlm. 335-336). Keyakinan inilah yang memanaskan konflik yang memang merebak di Kars, kemelut antar agama dan sekularisme serta keruhnya suasana karena keputusan-keputusan negara sekuler Turki. Dan di tengah-tengah panasnya konflik ini Ka terjebak, berusaha memperjuangkan kebahagiaan yang ternyata hanya mengukuhkan keyakinannya sendiri bahwa kepedihan memang berpotensi membuntuti kebahagiaan.

Sebagian besar isi novel dituturkan dari perspektif orang ketiga, dari sudut pandang Ka, sang karakter utama. Tetapi, terkadang Orhan Pamuk, sang novelis, menggulirkan cerita dari sudut pandang orang pertama, yakni dari sudut pandang teman lama Ka. Teman Ka berkisah berdasarkan buku catatan Ka dan berbagai sumber yang ia temukan ketika menelusuri kehidupan Ka sampai di Kars, setelah 4 tahun berlalu dan tokoh utama ini tewas dibunuh. Ialah yang menulis novel berjudul Snow ini, menggunakan judul buku Ka yang belum sempat diterbitkan. Narator 'aku' ini yang kemudian diketahui bernama Orhan, tidak lain adalah Orhan Pamuk sendiri dalam novel. Hal ini diperkuat oleh keterangan di bab penutup novel bahwa si 'aku' telah menulis novel The Black Book dan memiliki seorang anak perempuan bernama Rüya, nama yang sama kepada siapa novel ini dipersembahkan Orhan Pamuk, sang novelis.

Dalam novel ini, Orhan Pamuk memperlihatkan dirinya sebagai novelis yang senang menggunakan narator spoiler. Narator yang ada dalam novel tak segan-segan menceritakan apa yang akan terjadi pada tokoh-tokoh yang ditemui Ka, sementara dalam ceritanya Ka sendiri belum tahu. Dan hal ini telah dimulai sejak bab pertama. Yang paling menonjol (dan bikin saya jengkel tetapi juga geli) adalah tentang kematian Necip dan salah satu matanya yang akan tertembus peluru.

Snow hadir bagaikan refleksi kehidupan bangsa Turki sendiri. Sebuah bangsa yang terbelah antara tradisi, agama, dan modernisasi. Terdapat kalangan yang membenci modernisasi dan pengaruh Eropa, tetapi juga ada kalangan yang menyukai dan mendukungnya. Eropa dianggap kafir dan menjadi impian yang membuat bangsa Turki mengabaikan kebudayaannya sendiri. Pertentangan dua kubu membuat terciptanya perseteruan yang merambat ke dunia politik antara kaum sekuler dan kaum islamis. Dalam novel ini pertentangan diperlihatkan secara jelas melalui kasus pelarangan pemakaian jilbab terhadap siswa-siswa perempuan di institusi pendidikan yang antara lain telah menyebabkan seorang gadis berjilbab memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Pelarangan ini merupakan keputusan negara sekuler Turki. Hal ini tentu saja mendatangkan kemarahan pada berbagai kalangan Muslim yang mendukung keras pemakaian jilbab dan mereka rela membela walau harus melakukan tindakan kriminal. Kenyataannya, di Turki, memang tidak leluasa warganya untuk memilih keyakinan yang diinginkan. Lihat saja apa yang menjolok Ka bertengger di ujung tanduk.

Secara tak terduga, Snow menjadi sebuah thriller politik berbumbu romansa percintaan yang cukup kental. Ka, yang dalam hidupnya berusaha menjauhkan diri dari dunia politik, tak menyangka keputusannya datang ke Kars justru memerangkap dirinya dalam intrik-intrik dunia politik sebuah kota kecil yang mencekam. Keterlibatan dirinya bahkan menjadi teori atas tewasnya dirinya pada suatu malam di jalanan Frankfurt dan dunia kehilangan puisi-puisi yang diraciknya di balik keheningan salju Kars.

Tetapi, meski Snow menjadi sebuah kisah thriller, Orhan Pamuk tidak bermaksud (atau tidak mampu?) membuatnya menjadi thriller yang mengundang penasaran pembaca. Orhan Pamuk menguak kematian Ka terlalu cepat. Saya lebih suka membayangkan kematian Ka baru disingkapkan di penghujung novel. Jika ketahuannya di penghujung novel pembaca akan terus-menerus bertanya nasib Ka di Kars, apakah ia akan tewas dalam situasi yang mencekam atau justru selamat dan meninggalkan Kars. Pada titik tertentu Orhan Pamuk menggambarkan betapa keberadaan Ka di Kars membuat Ka terjebak di antara hidup dan mati sehingga berpotensi menciptakan ketegangan. Sayangnya sudah ketahuan ia akan lolos dari Kars dan meninggal sekitar 4 tahun kemudian.

Sejatinya, Snow adalah novel yang baik, mengusung kisah lokal membumi yang tidak mengada-ada. Ceritanya juga tidak sulit untuk diikuti. Pantaslah kalau novel ini diisbatkan sebagai salah satu buku terbaik oleh media massa tertentu. Hanya, untuk bisa menikmati novel ini bagi yang tidak terbiasa dengan gaya penulisan Orhan Pamuk (atau pengarang internasional sejenis) perlu kesabaran untuk menuntaskannya. Kendati gemar spoiler, Orhan bukanlah penulis ringkas. Pembaca mesti bertahan membaca narasinya yang panjang-panjang dan dialognya yang pada beberapa tempat juga panjang-panjang dan terkesan sedang mengkhotbahi pembaca. Gaya penulisan seperti ini di sisi lain memang memberikan kontribusi yang baik bagi novel. Orhan Pamuk jadi memiliki ruang yang leluasa untuk mengeksplorasi karakter-karakter ciptaannya beserta dengan pikiran dan perasaan mereka. Hal ini berdampak pada eksistensi karakter-karakter yang terasa sangat kuat.

Hal yang mengundang penasaran saya adalah 19 puisi yang diciptakan Ka selama 3 hari berada di Kars. Orhan, sang 'aku' dalam novel, bisa menceritakan proses terciptanya puisi-puisi itu setelah 4 tahun Ka mengalami writer's block. Tetapi, tidak ada 1 pun puisi yang dikutip dalam novel (termasuk puisi yang diketahui Orhan dari sebuah video rekaman). Aneh juga jika Ka mencatat detail-detail kejadian yang ia alami beserta proses kreatif puisi-puisi tersebut, tapi tidak menulisnya dalam jurnal yang dijadikan salah satu sumber data oleh Orhan, bapaknya Rüya. Manuskrip kumpulan puisi Ka –kemudian- diceritakan, mungkin, dibawa pergi pembunuh Ka, sehingga Orhan tidak tahu isinya.

Snow (Salju) bagi Kadife dan Ipek adalah tentang 'betapa indah dan pendeknya kehidupan dan meskipun saling membenci, semua orang memiliki banyak persamaan. Karena itulah salju mempersatukan umat manusia. Salju seolah-olah menjadi selimut yang menyelubungi kebencian, keserakahan, dan kemarahan, dan membuat semua orang merasa berdekatan' (hlm. 191). Saya rasa inilah yang mau disampaikan oleh Orhan Pamuk pada pembaca. Keberadaan perbedaan di antara manusia bukanlah alasan untuk membuat orang bertikai dan saling membunuh.

Hasil terjemahan edisi Indonesia terbilang bagus sehingga secara pribadi saya bisa membacanya dengan lancar. Hanya, menurut saya nama-nama seperti Hotel Istana Salju, Kedai Teh Teman Bahagia, Pondok Bir Kegembiraan (ada juga Rumah Bir Kesenangan), Jalan Prajurit, Toko Kue Hidup Baru, dan Studio Foto Istana Cahaya sebaiknya tetap memakai bahasa asli. Karena edisi Indonesia ini diterjemahkan dari edisi Inggris, saya yakin pengalihan nama-nama itu dari bahasa Turki telah terjadi dalam proses translasi ke bahasa Inggris. Padahal, menurut saya, lebih tepat jika menggunakan bahasa Turki dan diberi terjemahannya.

Saya juga bertanya-tanya soal Lazuardi yang pada beberapa tempat menggunakan nama Biru dan Blue (hlm. 49 & 557). Karena saya tidak membaca edisi Inggrisnya, saya menduga Lazuardi adalah nama yang diterjemahkan oleh penerjemah edisi Indonesia, dan luput pada beberapa tempat. Hasilnya terkesan tidak konsisten. Selain itu, sepertinya novel terjemahan ini masih membutuhkan catatan-catatan tambahan untuk kesempurnaannya. Seperti yang dilakukan Anton Kurnia dalam novel terjemahannya, Lolita (Serambi, Maret 2008), terkadang catatan kaki memang dibutuhkan. Misalnya penjelasan sebutan Bey atau Ham1m, MIT, PKK, atau siapa itu Edward G. Robinson.

Sebelum masuk ke dalam novel, kita akan membaca sebuah kutipan yang mengatakan bahwa, "Politik dalam karya sastra adalah sebuah pistol yang ditembakkan di tengah-tengah sebuah konser, sebuah tindakan kejam yang mustahil diabaikan" (Stendhal, The Charterhouse of Parma, hlm. 7). Orhan Pamuk telah menembakkan 'pistol' ke tengah-tengah novel Snow, sebuah konser penuh warna ala Orhan Pamuk, sang bintang yang telah terbit di Timur, yang sayang untuk diabaikan. Setidaknya, bagi saya.


Posted at 07:49 pm by Jody
Make a comment  

Monday, May 05, 2008
THE SPELLMAN FILES




Judul Buku : Berkas-berkas Keluarga Spellman
Judul Asli: The Spellman Files (2007)
Penulis: Lisa Lutz
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008; 550 hlm.
Penerbit: Atria (PT Serambi Ilmu Semesta)

 

 KISAH KELUARGA UNIK PELANGGAR PRIVASI

Sejarah Keluarga Spellman dimulai pada tahun 1974 ketika Albert Spellman, seorang detektif swasta, bertemu Olivia Montgomery, seorang detektif amatir dalam sebuah penyelidikan. Bertemu dalam kondisi yang kurang lebih sama, mereka memutuskan menikah kemudian mendirikan kantor detektif yang dinamakan Spellman Investigations.

Ketika anak-anak mereka lahir, anak-anak itu terlibat dalam bisnis keluarga. David, anak sulung, sang lambang kesempurnaan, tidak bisa bertahan dalam bisnis keluarga. Dengan alasan semua orang berhak mendapatkan privasi, pada usia 16 tahun David meninggalkan pekerjaannya.

Isabel "Izzy" Spellman, anak kedua, terlibat bisnis keluarga sejak berusia 12 tahun dan bertahan hingga berusia 28 tahun. Seperti keluarganya, ia tidak sepakat dengan pendapat dan keputusan David. Pada saat Isabel berusia 14 tahun dan mengganggap kenakalan-kenakalan masa remaja yang ia buat adalah bentuk keseimbangan terhadap kesempurnaan David, lahirlah Rae Spellman, si bungsu, wujud kasih sayang Albert kepada abangnya, Ray Spellman.

Ray Spellman, seperti adiknya, juga mantan polisi. Meski menganut pola hidup sehat, ia didiagnosis mengidap kanker paru-paru. Tetapi ia tidak meninggal.  Ia ditinggalkan istrinya, dan memutuskan untuk memutarbalikkan pola hidupnya. Ia menjadi jago minum, penikmat narkoba, dan gemar berjudi. Ia sering menghilang dalam episode-episode Akhir Pekan Yang Hilang (Lost Weekend) yang mencapai 27 kali.


Lisa Lutz

Sepasang suami-istri, tiga anak, dan seorang paman dalam sebuah keluarga ganjil dan unik ini menjadi karakter-karakter utama dalam novel perdana Lisa Lutz, penulis yang pernah menulis skenario film Plan B (disutradarai Greg Yaitanes, 2001). Skenario The Spellman Files yang ditulisnya tidak berhasil difilmkan dan dialihkan menjadi novel. Uniknya, setelah jadi novel The Spellman Files akan difilmkan oleh Paramount Pictures, dengan kata lain, akan dibuat skenarionya.

Isabel Spellman adalah tokoh sentral novel dari mana kisah-kisah dalam The Spellman Files diceritakan. Setelah 16 tahun membantu Albert dan Olivia, ia memutuskan berhenti menjadi detektif swasta berlisensi, sebagaimana kakaknya. Tetapi alasannya berbeda. Tidak seperti David, Isabel terlahir sebagai anak yang mencintai pekerjaannya. Jadi, harusnya berat bagi Isabel untuk minggat dari pekerjaan ini.

Isabel sendiri tahu persis sifat bisnis keluarganya. "Sifat dasar bisnis kami: mengorek-ngorek, secara sah, dan kadang-kadang melanggar hukum," kata Isabel (hlm 48). Ya, dalam bisnis detektif swasta mereka melakukan apa saja untuk mengungkap kasus: mengacak-acak sampah, berbohong guna mendapatkan nomor Jaminan Sosial yang bisa dipakai untuk memeriksa latar belakang target, juga menguntit orang yang diselidiki, kalau bisa kejar-kejaran mobil. Isabel sadar juga, tindakan intervensi urusan dan hidup orang lain ini bisa terjadi antar mereka, anggota keluarganya. "Ketika kau tahu tentang apa yang bisa dilakukan oleh dirimu sendiri dan orangtuamu, yaitu ikut campur dalam kehidupan orang lain, mendirikan benteng kokoh untuk melindungi privasimu sendiri menjadi naluri keduamu," jelasnya (hlm. 48).

Tetapi ketika Isabel tidak bisa mendirikan benteng kokoh untuk melindungi privasi, ia menjadi marah. Olivia, dibantu Rae, berhasil mengungkap musabab perubahan Isabel setelah bertemu Daniel Castillo. Mengetahui Daniel seorang dokter gigi, Olivia yang pernah bermasalah dengan dokter gigi bertekad membubarkan hubungan cinta putrinya. Sebaliknya, melihat reaksi orang tua Isabel, ditunjang oleh kebohongan yang Isabel lakukan, lengkaplah alasan Daniel untuk meninggalkan Isabel. Tentu saja Isabel tidak begitu saja melepaskan pacar kesembilannya ini. Ia mesti memperjuangkan cintanya. Dan itu berarti meninggalkan bisnis keluarganya!

Jika Isabel meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif swasta, ia mesti mendapatkan pekerjaan baru. Ia membutuhkan semacam referensi atau surat rekomendasi. Untuk mendapatkan surat itu, ia harus mengupas kasus yang gagal ditangani Spellman Investigations 12 tahun sebelumnya. Kasus yang sebenarnya sudah dipetieskan itu adalah kasus menghilangnya seorang remaja bernama  Andrew Snow pada  18 Juli 1995.

Di tengah-tengah usaha Isabel memecahkan kasus Snow, ia menyadari sesungguhnya orangtuanya tidak pernah bermaksud melepaskan kontrol atas dirinya. Dan belum lagi kasus itu terpecahkan, Rae tiba-tiba menghilang.

Apakah Izzy akan melepas kasus Snow, bisa mempertahankan cinta Daniel Castillo dan menguak misteri hilangnya Rae, akan terjawab dengan meyakinkan pada bagian-bagian akhir novel nominee Dilys Award 2008 (dari Independent Mystery Booksellers Organization) ini.

The Spellman Files yang berseting tahun 2007 dan diindonesiakan sebagai Berkas-berkas Keluarga Spellman bak perpaduan chicklit dan kisah misteri dalam atmosfer sinetron komedi situasi Amerika (diceritakan Isabel adalah penggemar fanatik serial komedi situasi 1960-an, Get Smart). Cerita digelar Lisa Lutz dengan gaya penulisan chicklit yang kental yang bisa diindonesiakan dengan cemerlang oleh Berliani Nugrahani sebagai penerjemah. Hasilnya, kisah ringan menghibur dengan kalimat-kalimat lancar yang enak dibaca. Meski bukan novel ramping dengan kisah beralur tidak lempeng, sampai akhir novel seluruh cerita bisa diikuti. Sungguh menarik mengikuti kehidupan problematis masing-masing anggota keluarga Spellman. Masing-masing mencoba membentuk benteng untuk melindungi privasi, tetapi ternyata tidak cukup kokoh menghadapi serangan internal. Kiranya, itulah yang menjadi kekuatan novel debutan Lisa Lutz ini.

Novel yang dianugerahi Alex Award 2008 (dari Young Adult Library Services Organization) ini menampilkan kisah kehidupan sebuah  keluarga yang tidak biasa. Sebuah keluarga yang dengan seenak-enaknya mengukuhkan pelanggaran privasi orang sebagai hal yang jamak tetapi tidak serta merta menerima pelanggaran privasi yang terjadi pada dirinya. Dan uniknya, pelanggaran privasi pun terjadi di tengah-tengah keluarga dalam atmosfer saling curiga, saling memata-matai, dan napsu ingin tahu rahasia gelap masing-masing anggota keluarga. Di penghujung novel akan ketahuan siapa anggota keluarga yang paling berhasil melanggar privasi!

Sejarah keluarga Spellman tidak akan berhenti hanya sampai di The Spellman Files. Lisa Lutz telah melanjutkan kisah keluarga ini dalam Curse of the Spellmans (2008) dan masih akan meneruskannya dalam Revenge of the Spellmans.

 

Posted at 09:16 am by Jody
Make a comment  

Sunday, May 04, 2008
MAXIMUM RIDE #1: THE ANGEL EXPERIMENT




Judul Buku: Maximum Ride #1:  Eksperimen Malaikat (The Angel Experiment)
Penulis: James Patterson (2005)
Penerjemah: Poppy Damayanti
Tebal : 536 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan pertama, April 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 MAXIMUM RIDE #1 : THE ANGEL EXPERIMENT

 

Bayangkanlah diri Anda diambil dari kehangatan keluarga dan kehidupan normal, dikurung dalam kandang seperti tikus percobaan di laboratorium, dijejali DNA unggas, dan hadir sebagai produk rekayasa genetika, 98 persen manusia dan 2 persen burung. Anda manusia, tetapi memiliki sayap sehingga bisa terbang. Anda mungkin merasa girang karena bisa terbang, satu hal yang mungkin Anda angankan. Tetapi Anda tetap tampil aneh, manusia bersayap! Di dunia ramai, sebagai mutan,  Anda mungkin dijebloskan ke dalam kebun binatang.  

Jika Anda bisa membayangkan, maka Anda dengan mulus akan masuk dalam  kisah kehidupan enam manusia burung kreasi penulis terkenal, James Patterson. Para manusia burung ini merupakan hasil eksperimen malaikat, proyek sinting para ilmuwan gila, di sebuah laboratorium yang oleh mereka disebut sebagai Sekolah.

Keenam manusia burung -Max, Fang, Iggy, Nudge, Gasman dan Angel- tumbuh di laboratorium berbarengan dengan hasil eksperimen yang disebut Pemusnah, setengah manusia dan setengah serigala. Para pemusnah tampak seperti manusia, tetapi pada saat tertentu malihrupa menjadi manusia serigala, lengkap dengan bulu, taring, dan cakar. Para pemusnah ini menjadikan keenam manusia burung sebagai target mangsa dan mencegah eksistensi mereka diketahui dunia.

Empat tahun yang silam –dari waktu yang menjadi seting cerita, Jeb Batchelder, seorang ilmuwan (yang disebut Jas Putih) menculik keenam manusia burung ini dari Sekolah. Ia membawa mereka ke pegunungan, ke sebuah rumah berbentuk huruf E yang terkapar dan mengajari mereka berbagai hal untuk mempertahankan diri; terbang, membaca, bertarung. Namun, dua tahun lalu,  Jeb menghilang dan mereka menyangka ia sudah mati.

Sampai suatu hari, kediaman keluarga Max diserbu para pemusnah. Si bungsu Angel lenyap, dibawa kembali ke Sekolah. Max dkk tidak tinggal diam. Mereka berupaya mengambil Angel dari Sekolah, bahkan kemudian menyingkap misteri kehidupan mereka, dari mana mereka berasal. Semua tidak mudah dilakukan, karena entah bagaimana, para pemusnah selalu bisa menemukan mereka. Seiring dengan itu, produk eksperimen malaikat ini mendapati jika mereka memiliki berbagai kemampuan super, termasuk Max, yang bisa mendengar dan berkomunikasi dengan Suara dari dalam dirinya.

Sebagai sebuah novel, The Angel Experiment adalah sebuah bacaan yang menarik dan menghibur. Ceritanya mengalir lancar dan enak diikuti. Terpecah lebih dari 100 bagian, novel ditulis dalam bab-bab ringkas dan ringan sehingga per bab tidak terasa melelahkan dibaca. Bahkan dengan gaya penulisan seperti ini saya seperti diajak untuk terus melembari halaman novel berikutnya. Selain itu, ukuran huruf yang lebih ramah mata (dibanding Trilogi Bartimaeus, misalnya) mendukung kenikmatan membaca. Dan karena saya membaca edisi Indonesia, perlu ditambahkan, juga: hasil penerjemahan yang asyik.

Kemungkinan dengan membaca novel fantasi produk imajinasi James Patterson ini pembaca akan merasa terlibat dalam kehidupan para manusia burung  yang menimbulkan simpati. Seperti pembukaan sang narator utama novel, Max, "Jika kau berani membaca kisah ini, kau akan menjadi bagian Eksperimen" (hlm. 9). Dan itulah yang saya rasakan ketika menyelami perjalanan kehidupan mereka.

Tetapi, meski menghibur, kisah dalam The Angel Experiment (Eksperimen Malaikat) belum terlalu mencekam. Liuk kisahnya masih terbilang sederhana,  baru berkisar pada pertarungan Max dkk melawan Ari si Pemusnah dkk. Juga masih tersisa misteri yang menanti disingkapkan yang mungkin membuat pembaca penasaran untuk terus mengikuti kelanjutan kisahnya. Apalagi seperti kata Jeb, ada alasan Max diciptakan dan dipertahankan hidup yaitu untuk sebuah tujuan istimewa: menyelamatkan dunia (hlm. 246).  Dan hal ini belum kita temukan dalam The Angel Experiment. Kenyataannya, The Angel Experiment memang merupakan judul pertama dari serial fantasi tentang manusia burung karya James Patterson, Maximum Ride. Tiga judul selanjutnya berturut-turut: School's Out-Forever (2006), Saving the World and Other Extreme Sports (2007) dan The Final Warning (2008).

Menurut James Patterson dalam pengantar singkatnya (hlm. 7), ide menulis Maximum Ride muncul dari karya sebelumnya yang berjudul When the Wind Blows (1998) dan sekuelnya, The Lake House (2003). Dalam kedua novel ini terdapat karakter bernama Max yang melarikan dari sekolah yang mengerikan. Tetapi, dijelaskan Patterson, sebagian besar persamaannya hanya sampai pada masalah nama dan sekolah.


James Patterson

Mengenai James Patterson, ia dikenal sebagai pengarang serial detektif Alex Cross dan The Women's Murder Club. Lelaki kelahiran Newburgh (New York) 22 Maret 1947 ini menulis novel pertamanya pada usia 27 tahun, berjudul The Thomas Berryman Number dan berhasil meraih penghargaan Edgar Award untuk kategori Best First Novel (1977). Meski berhasil menghasilkan novel yang lain, ketenarannya sebagai penulis fiksi baru melangit setelah menulis novel pertama serial Alex Cross, Along Came a Spider. Selain menulis serial thriller, ia juga menulis novel romantis yang indah (seperti Suzanne's Diary for Nicholas dan Sam's Letters to Jennifer) dan kali ini novel fantasi untuk pembaca remaja.

Maximum Ride #1: Eksperimen Malaikat merupakan novel kesepuluh James Paterson yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Filmnya direncanakan beredar tahun 2010 dan telah dibuat versi manga-nya (bersama NaRae Lee) yang akan terbit Januari 2009.

 

Posted at 11:08 pm by Jody
Make a comment  

Next Page





widgets