"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)
Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.
Judul Buku: Harry and the Wrinklies (Harry dan Geng Keriput) Penulis: Alan Temperley (1997) Penerjemah: Hidayat Saleh Tebal: 336 hlm; 13,5 X 20 cm Terbit: Cetakan 1, Mei 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
SAATNYA ANAK KECIL JADI PAHLAWAN
Nama lengkapnya Eugene Augustus Montgomery Harold Barton, biasa dipanggil Harry. Orangtuanya yang kaya raya lebih suka menghabiskan hidup dengan melancong ke mancanegara ketimbang tinggal di London. Hanya 2 kali setahun mereka muncul di London, memanjakan Harry, berpesta, kemudian pergi lagi. Harry dipercayakan pada pengurus rumah tangga yang sekaligus diharapkan bisa merawat Harry, Lavinia McSrew. Meski dibayar mahal, Lavinia tidak menjalankan tugasnya. Ia menilap uang belanja, menjual barang-barang berhargamilik keluarga, dan terutama, memperlakukan Harry dengan kejam. Harry menjulukinya Gestapo Lil.
Suatu hari di awal liburan musim panas, orangtua Harry dikabarkan meninggal karena kecelakaan. Kata Gestapo Lil, mereka meninggal dalam keadaan bangkrut. Ketika cerita kian bergulir, saya menduga kematian mereka ada hubungannya dengan tokoh-tokoh antagonis novel, tetapi ternyata tidak. Penulis hanya mengatakan bahwa, "Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, rincian tentang kecelakaan itu, tidak Harry ketahui sampai bertahun-tahun kemudian." (hlm. 12). Harry tidak merasa kehilangan orangtuanya. Ia memang tidak mengenal mereka.
Karena rumah Harry akan dijual, Gestapo Lil mengirim Harry ke rumah bibi-bibinya, Bridget dan Florrie. Maka, Harry meninggalkan London, pergi ke pedesaan, tempat Lagg Hall, rumah para bibi berada.
Harry menyangka, kehidupan di desa yang diawalinya pada liburan musim panas itu akan membosankan. Tetapi, ia keliru. Bibi Bridget dan Florrie menyambut kedatangannya dengan antusias. Mereka adalah bibi-bibi tua yang ceria dan eksentrik. Keduanya memiliki sejarah hidup yang menarik. Bibi Florrie bahkan menyambut Harry dengan mengemudikan mobil tuanya dengan kecepatan hingga 220 km/jam.
Selain kedua perempuan renta itu, Harry juga bertemu manusia-manusia renta menyenangkan dengan berbagai keahlian. Ada Dotty Skylark yang mahir memanjat. Hunggy Bear yang jago gulat. Fisher Peterman yang ahli membobol kunci. Angus McGregor yang piawai melakukan pemalsuan. Maxim Beauguss si jago tipu. Dan Autolycus yang pintar sulap. Bersama Bibi Bridget, sang pemimpin, dan Bibi Florrie si tukang ngebut, mereka membentuk komplotan perampok yang menamakan diri Geng Keriput. Mereka merampok bank, kemudian seperti Robin Hood, menyalurkan hasil rampokan kepada pihak yang membutuhkan.
Segalanya tampak menyenangkan, hingga di penghujung liburan musim panas, tiba-tiba Gestapo Lil datang ke pedesaan. Ketika Harry mesti masuk sekolah, bagaikan diatur, Gestapo Lil menjadi gurunya. Ternyata Gestapo Lil telah bertunangan dengan Kolonel Percival Bonaparte Priestly, pemilik Felon Grange. Kolonel Priestly adalah seorang hakim pengadilan tinggi yang pernah menjebloskan Bibi Bridget ke penjara di masa lalu.
Akhirnya, pihak Lagg Hall maupun Felon Grange menjadi saling memata-matai. Masing-masing ingin ingin tahu rahasia satu sama lain. Maka, tak terelakkan lagi, Harry pun mengalami petualangan yang mendebarkan. Bersama-sama dengan Geng Keriput, Harry siap menyingkapkan kebobrokan kedua penghuni Felon Grange.
Harry and the Wrinklies adalah novel (anak-anak) karya Alan Temperley, seorang guru bahasa Inggris lulusan Universitas Edinburgh, yang terbit pertama kali tahun 1997. Novel ini telah diadaptasi menjadi serial televisi berjudul sama yang diproduksi tahun 1999-2002. Alan Temperley yang juga dikenal sebagai penulis karya-karya seperti The Magician of Samarkand; The Brave Whale; Murdo's War;The Huntress of the Sea telah melanjutkan petualangan Harry dalam Harry and the Treasure of Eddie Carver (2003).
Ketika mengetahui konflik dalam novel ini, sebelum selesai, saya sudah bisa menebak akhir dari kisah di dalamnya. Sudah jelas jika Harry bisa menamatkan ulah Gestapo Lil dan kekasihnya. Tetapi saya dibuat penasaran bagaimana Harry dan Geng Keriput bisa mengalahkan keduanya. Alan Temperley sudah merancang apa yang akan terjadi dengan sebaik-baiknya. Dan mungkin, seperti saya, Anda juga akan bersorak penuh kelegaan ketika kedua begundal itu berhasil dipecundangi.
Dengan alur yang tidak rumit dan karakter-karakter yang tidak mudah dilupakan berseting pedesaan Inggris Harry and the Wrinklies menjadi bacaan dengan kadar humor memadai yang cocok untuk keluarga. Edisi Indonesia yang dikerjakan Hidayat Saleh enak dibaca, meski ada yang bikin saya bertanya-tanya. Pada bab 25 (hlm. 253), Harry diceritakan pergi ke tempat pengintaian bersama Bibi Florrie larut malam tanggal tiga belas (13) Desember. Padahal sebelumnya (bab 24) sudah Hari Natal. Selanjutnya, hari berikutnya disebut Malam Tahun Baru (hlm. 256). Siapakah yang abai? Penulis atau penerjemahnya?
Judul Buku: The Janissary Tree (Dalam Bayangan Pohon Yenicheri) Penulis: Jason Goodwin (2006) Penerjemah: Zia Anshor Penyunting: Anton Kurnia Tebal: 479 hlm; 13 X 20 cm Terbit: Cetakan 1, Maret 2008 Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
JIKA SEORANG KASIM MENJADI DETEKTIF TANGGUH
Pesona Istanbul mengusik Jason Goodwin, seorang penulis dan sejarawan Inggris, ketika ia mempelajari sejarah Bizantium di Cambridge University. Setelah sukses dengan karya berjudul A Time For Tea: Travels in China and India in Search of Tea (1990), bersama Kate, istrinya, Jason Goodwin menjelajahi Eropa Timur selama 6 bulan hingga tiba di Istanbul. Pengalaman ini diramu menjadi sebuah buku berjudul On Foot to the Golden Horn (1993) yang memenangkan John Llewelyn Rhys/Mail On Sunday Prize tahun 1993. Daya pikat Turki Usmani di Eropa Timur mendorong Jason Goodwin melanjutkan penelitiannya. Maka, lahirlah Lords of the Horizons: A History of the Ottoman Empire (1998) yang mendapatkan pujian dari koran New York Times. Tidak cukup hanya karya nonfiksi, Jason Goodwin kemudian memutuskan merambah dunia fiksi. Akhirnya, lahirlah novel perdananya yang diberi judul The Janissary Tree pada tahun 2006, di mana ia menghidupkan kembali Istanbulpada abad ke-19 dengan segala keeksotisannya. Novel ini mencatat kesuksesan, telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 38 bahasa dan memenangkan Edgar Award untuk Novel Terbaik tahun 2007.
Jason Goodwin
Dalam novel ini, Jason Doodwin menciptakan dan memperkenalkan karakter hero yang tidak konvensional. Yashim Togalu, seorang kasim terpandang pada masa pemerintahan Sultan Mahmut II. Menurut pengakuan Jason Goodwin, Yashim telah menunggu-nunggu untuk dihidupkan dalam halaman buku sampai ia mendapatkan satu latar masa yang tepat, Istanbul 1836. Lalu, atas dorongan Daisy Goodwin, Jason memutuskan untuk menggunakan pendekatan kisah detektif dengan latar Kesultanan Usmani. Orang-orang terdekatnya membantu dari berbagai sisi. Dari saran agar novelnya menggunakan pendekatan kisah detektif, penyesuaian cerita dan dialog, sampai padamenghindari kegagalan kesinambungan cerita. Dari segi kostum dan adat-istiadat abad ke-19, Jason mendapatkan bantuan dari film adaptasi novel Little Dorrit oleh Christine Edzard.
Dikisahkan setelah mengabdi di harem sultan, dengan gelar sang lala atau sang pelindung, Yashim bertugas menyelidiki masalah-masalah yang terjadi di Kesultanan Usmani. Sebagai kasim, apa yang terjadi pada Yashim masih lebih baik dari kasim-kasim berkulit hitam dari Sudan, termasuk Kislar Agha, pimpinan kasim saat itu, yang tidak hanya dikerat buah pelirnya, tetapi semua alat reproduksinya.
Di awal The Janissary Tree diceritakan Yashim menghadap sang seraskier, komandan angkatan darat kesultanan Usmani yang disebut Garda Baru. Sampai novel berakhir, kita tidak akan menemukan nama sebenarnya dari sang seraskier. Sang seraskier yang dalam pandangan Yashim lebih layak mengenakan serban, lebih suka memakai pakaian seragam peperangan modern ala Prancis.
Pada saat dipanggil, Yashim baru kembali dari Krimea, menyelidiki kondisi bangsa Tartar yang telah jatuh dalam kekuasaan orang Kazak (Rusia). Bangsa Tartar Krimea yang dikenal sebagai pejuang tangguh, telah menjadi tidak disiplin, dan akhirnya takluk oleh orang Kazak. Menurut sang seraskier, orang-orang seperti bangsa Kazak-lah yang membuat Garda Baru diperlukan oleh kesultanan Usmani. Kenyataannya, Garda Baru yang ditempa oleh pelatih Eropa, tidak bisa melawan Mesir dan Yunani. Hanya satu catatan kemenangan mereka. Kemenangan yang tidak mereka peroleh dari medan perang, kemenangan saat mereka menghabiskan pendahulu mereka, Korps Yenicheri.
Korps Yenicheri dibentuk sejak abad ke-14 untuk menjadi pasukan andalan kesultanan Usmani. Dalam bahasa Turki, mereka disebut yeniçeri yang berarti "pasukan baru". Mereka berasal dari anak-anak lelaki Kristen yang terpilih dari pajak manusia, dipaksa meninggalkan keyakinan mereka untuk menjadi mesin perang melawan Eropa. Pada tahun 1453, mereka telah berperan dalam penaklukan Konstantinopel (Istanbul), ibu kota kekaisaran Byzantium, oleh Sultan Mehmed yang menandakan runtuhnya kekaisaran Byzantium. Dari awalnya sebagai pasukan elit sultan, Korps Yenicheri menjelma mafia bersenjata yang petantang-petenteng di jalan-jalan Istanbul, menciptakan teror, kerusuhan, penjarahan, dan pemerasan tanpa tersentuh hukum. Mereka juga menciptakan kebakaran guna mendapatkan keuntungan, karena saat itu memadamkan kebakaran adalah tugas rangkap mereka. Berbagai usaha untuk memberantas korps ini gagal, bahkan pada tahun 1618 mereka membunuh Sultan Osman yang menentang mereka.
Yenicheri memiliki kebiasaan berkumpul di bawah sebatang pohon chinar yang tumbuh di lapangan terbuka Ameidan. Di bawah pohon itu, mereka berbagi keluhan dan rahasia serta merencanakan pemberontakan. Dan pada cabang-cabang pohonnya, mereka menggantung mayat orang-orang yang menentang mereka.
Sebagian besar dari anggota Yenicheri menganut Karagozi, aliran yang percaya bahwa ada berbagai cara mengabdi kepada Allah dan mengikuti Nabi Muhammad. Meski salat di masjid, mereka berkumpul dan beribadah di tempat yang disebut 'tekke'. Bergaya islami, tetapi mengabaikan Quran, bahkan membaurkan misteri dan tahayul dalam keyakinan mereka.
Setelah 300 tahun berjaya, pada malam 16 Juni 1826, mereka dihancurkan oleh pasukan Garda Baru yang baru didirikan. Pada hari yang kemudian dikenang banyak orang sebagai 'Saat Kejayaan' itu, ribuan Yenicheri tewas secara mengenaskan.
Yashim dipanggil sang seraskier, sebab tidak lama lagi sultan akan mengadakan peninjauan. Selain bertujuan melihat perkembangan latihan Garda Baru, sultan akan mengeluarkan maklumat untuk mengadakan reformasi di kesultanan. Sang seraskier ingin peninjauan sultan sukses agar Garda Baru bisa meraih kepercayaan rakyat dan sultan. Tetapi, ada kejadian yang mengganggu, yang tidak bisa ditolerir sang seraskier. Empat perwira Garda Baru, pemuda-pemuda cakap terpilih, menghilang dari barak. Seorang ditemukan tewas dalam sebuah belanga besi besar berkaki tiga. Orman Berek, begitu identitas korban, ditemukan dalam keadaan tidak berwajah, terpapas habis dari bawah dagu hingga di atas alis.
Untuk itu, sang seraskier minta pertolongan Yashim yang sepulangnya dari Krimea, sedang tidak terikat dengan pekerjaan lain. Yashim diharapkan bisa menemukan 3 prajurit lain di Istanbul, kota terbesar di dunia yang berpenduduk 2 juta jiwa.
Di dalam penyelidikan Yashim, di berbagai tempat, sembari menemukan kematian demi kematian yang mengenaskan, ia menemukan jejak-jejak Yenicheri. Juga seiring dengan investigasinya, mayat demi mayat ditemukan. Berdasarkan gagasan sahabatnya, Stanislaw Palewski, duta besar Polandia untuk Sublime Porte, yang dilihat dari lokasi penemuan mayat, Yashim menemukan pola pekerjaan si pembunuh.
Sebuah pertanyaan mengusik Yashim, apakah setelah dihancurkan 10 tahun lalu, sisa-sia Korps Yenicheri melakukan pembalasan dendam, mengingat korbannya anggota Garda Baru? Atau adakah motif lain? Jika demikian, siapa sesungguhnya yang membunuh 4 anggota Garda Baru itu? Apakah Graf Potemkin, atase muda Rusia, dengan siapa ke-4 anggota Garda Baru itu terakhir terlihat ada hubungannya dengan pembunuhan ini?
Sementara itu, dalam Istana Topkapi, tempat sultan bersemayam, seorang gözde, dara jelita yang terpilih untuk menemani Sultan, ditemukan tewas dan permata-permata milik Validé Sultan, sang ibu suri, yang dikenakannya lenyap. Masalah bertambah, pertanyaan pun bertambah. Apakah pembunuhan ini ada hubungannya dengan hilangnya dan tewasnya keempat prajurit Garda Baru?
Setelah berbagai peristiwa terjadi, bahkan sampai mengancam kehidupan Yashim, misteri pembunuhan anggota Garda Baru dan si gözde jelita akan tersingkap pada bagian-bagian akhir novel, memberi jawaban bagi pembaca yang mungkin telah menebak-nebak sejak awal. Menyusul penyingkapan ini, kita akan dikejutkan dengan gagasan 'pembedahan' untuk mengenyahkan 'sumber penyakit' dari salah satu tokoh novel.
The Janissary Tree tak pelak lagi hadir sebagai novel thriller dengan misteri beraroma politik dalam lingkup kesultanan Usmani. Ia memiliki keunggulan-keunggulan sendiri yang menobatkannya sebagai novel brilian yang layak dibaca. Keeratan Jason Goodwin dengan sejarah dan budaya Turki berhasil menciptakan seting novel yang cemerlang, bermuatan kisah detektif dengan investigasi mendebarkan yang dipadukan dengan fakta-fakta sejarah. Ke dalamnya, penulis mengimbuhkan kisah asmara berbumbu seks yang tak terbayangkan (bayangkan bagaimana caranya kasim memuaskan hasrat seksual perempuan), cinta terselubung gundik sultan yang beraroma lesbian, kekerasan seksual seorang kasim, dan persahabatan yang tidak biasa dalam racikan humor memadai.
Jason Goodwin juga memiliki keprigelan dalam hal karakterisasi. Semua karakter yang dihadirkan dengan mudah bisa dibayangkan di benak pembaca. Meski ada yang berpendapat bahwa deskripsi karakter akan mengganggu imajinasi pembaca, saya suka dengan cara Jason Goodwin menggambarkan karakter-karakternya. Coba baca bagaimana dia menggambarkan Yashim; Palewski; Sultan Mahmut II; sang seraskier; Validé Sultan; Eugenia, istri duta besar Rusia, Nikolai Derentsov; atau Preen, seorang penari köçek.
Novel ini menjadi terkesan unik karena ditulis oleh penulis non-Turki dengan pengetahuan sejarah Turki yang matang. Jason Goodwin memang bukan Orhan Pamuk (novelis Turki yang menulis novel misteri gemilang berseting Turki abad ke-16, Benim Adim Kirmizi -Namaku Merah Kirmizi), tetapi ia bisa membentangkan lanskap Turki di masa lampau dengan mumpuni. Kita bisa melihat kedekatan batinnya dengan masa lampau Turki di dalam pelukisannya tentang jalan-jalan, masjid, menara, kedai kopi, istana, harem, dan hammam, bahkan hingga pada busana, masakan, dan tarian darwis.
Akhirnya, oleh Jason Goodwin, petualangan Yashim Togalu telah mantap dijadikan serial. Setelah The Janissary Tree, kita akan menemukan kiprah Yashim dalam novel Goodwin selanjutnya, The Snake Stone(2007) dan The Bellini Card(2008).
Judul buku: Gerhana Kembar Penulis: Clara Ng Penyunting: Hetih Rusli Tebal: 368 hlm; 13,5 X 20 cm Terbit: Cetakan 1, Desember 2007 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
CINTA TAK MENGENAL JENIS KELAMIN
Lesbianisme bukanlah isu asing di jalan kepengarangan Clara Regina Juana, atau lebih populer dengan nama Clara Ng. Sejak novel pertamanya, Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), Clara telah mengembuskan isu ini ke dalam novel-novel dewasanya. Di dalam novel pertamanya ini, kita bisa membaca percintaan sesama jenis yang dilakoni oleh tokoh Iris dan Phoebe dan di sini untuk pertama kalinya, Clara menyatakan bahwa 'cinta tidak mengenal jenis kelamin' (hlm. 201). Selanjutnya, Clara menyenggol-nyenggol masalah lesbianisme dalam novel seperti Indiana Chronicle-Bridesmaid (GPU, 2005), Dimsum Terakhir (GPU, 2006) dan cerpen Rahasia Bulan (kumpulan cerpen LGBT berjudul sama, GPU, 2006).Menurut Clara, tema ini adalah tema yang sensitif dan malas disentuh oleh para penulis Indonesia. Pendapat yang sebetulnya patut dipertanyakan, mengingat sebelumnya telah terbit karya-karya dengan tema serupa. Sebut misal, Mira W, penulis roman prolifik Indonesia, yang pernah menjadikan isu ini sebagai tema utama novelnya, Relung-relung Gelap Hati Sisi (GPU, 1983). Atau Garis Tepi Seorang Lesbian karya Herlinatiens (Galang Press, 2003) yang cukup melelahkan dibaca. Belum lagi, Alberthiene Endah dengan novel Detik Terakhir (Jangan Beri Aku Narkoba..., GPU, 2004) dan Dicintai Jo (GPU, 2005).Lagi pula, apa enaknya kalau tema ini hadir menjadi tema utama dalam banyak karya para penulis Indonesia, meski bertujuan memberikan 'literatur sastra yang memvalidasi hidup, cinta, dan dunia' para lesbian?
Gerhana Kembar adalah novel Clara ke-9 yang bertema lesbianisme, yang, sesuai pengakuannya (Dari Meja Clara Ng) ditulis setelah kerja dan riset yang teliti. Sebuah kegembiraan bagi Clara, karena untuk pertama kalinya, novelnya berhasil menjadi cerita bersambung di harian Kompas (Oktober 2007-Januari 2008). Dan sebelum masa tayangnya, ternyata Gerhana Kembar, telah diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (terbit Desember 2007).
Gerhana Kembar berkisah tentang Diana, perempuan penghujung 60-an, yang tengah sekarat di rumah sakit karena kanker. Sembari menghitung-hitung sisa hidupnya, Diana teringat seorang yang sangat dicintainya, seorang bernama Selina.
Sementara Diana tergoler di rumah sakit, Lendy, cucu semata wayang Diana, menemukan sebundel naskah tua dan potongan-potongan surat di dalam lemari baju neneknya, saat mencari akta kelahiran sang nenek. Di dalam naskah tua yang bertajuk 'Gerhana Kembar' itu, Lendy membaca kisah cinta seorang guru TK bernama Fola Damayanti, dengan Henrietta, seorang pramugari GIA. Naskah itu ditulis oleh penulis berinisial F.D.S yang kemudian diketahui Lendy sebagai Felicia Diana Sutanto, neneknya.
Sebagai editor buku di sebuah penerbit berkelas seperti Altria Media, Lendy terkejut menemukan kisah cinta tidak biasa yang ditulis dengan bagus. Semakin larut dalam naskah itu, Lendy semakin yakin bahwa kisah yang ditulis neneknya itu adalah sebuah kisah nyata. Lendy bertanya-tanya, sebenarnya, siapakah Fola Damayanti dan Henrietta?
Dikisahkan, setelah berpisah 3 tahun Fola bertemu Henri yang tidak bisa berhenti mencintainya (tahun 1963, hlm. 115). Ada ketidaktelitian soal tahun, seharusnya 2 tahun, karena mereka bertemu terakhir kali tahun 1961 ketika Henri mencium Fola (bab 4). Fola telah menikahi Erwin, seorang dokter, dan saat itu dalam keadaan hamil. Henri berniat mengajak Fola untuk hidup bersama dengannya di Paris. Tetapi, keinginan Henri tidak bisa terwujud kendati Fola sudah bersedia mengikutinya. Terjadi peristiwa yang menjadi penghalang bersatunya cinta mereka. Pertama, Eliza, anaknya yang berusia 6 tahun memintanya untuktidak meninggalkannya, dan kedua, Erwin, suami Fola diketahui menderita kanker paru-paru. Setelah kematian Erwin, Fola bisa pergi ke Paris. Tetapi, Eliza, anaknya yang masih remaja, kembali dari Yogyakarta dan mengabarkan kehamilannya gara-gara berhubungan dengan seorang lelaki tak bertanggung jawab (entah kenapa Eliza harus masuk SMA di Yogyakarta, seolah-olah Jakarta tidak punya SMA yang bagus).
Kisah dalam naskah tua 'Gerhana Kembar' berakhir saat Henri menunggu kedatangan Fola di Bandara Charles de Gaulle, dan Fola tidak pernah menampakkan diri.
Selanjutnya, Lendy mengetahui kalau naskah tua itu diletakkan di lemari neneknya dengan maksud supaya Lendy menemukannya. Karena naskah tua itu akan memberitahu Lendy sejarah keluarga yang juga menjadi sejarah keberadaannya di dunia. Fola Damayanti adalah Diana, sedangkan Henri adalah Selina. Anehnya, melalui dialog yang ada, Clara menggambarkan bahwa Selina, yang tinggal jauh di Paris, tahu persis di mana naskah tua itu di rumah Diana. Termasuk epilog novel yang ditulis jauh setelah naskah utama 'Gerhana Kembar' yang terdiri atas 11 bab (2 Februari 1982 – 20 April 1982). Apakah Diana mengatakan padanya waktu mengiriminya naskah 11 bab pada tahun 1982? Clara tidak menjelaskan.
Untuk kedua kalinya, setelah Eliza gagal melakukannya, keluarga Diana bermaksud menebus kesalahan masa lalu, mempertemukan dua dewi bulan yang tengah gerhana, Selina dan Diana. Lendy akan ke Paris dan membujuk Selina agar mau kembali ke Jakarta, menengok Diana yang tengah sekarat.
Tetapi, Selina tidak ingin kembali ke Jakarta. Aneh. Kalau cinta Selina begitu besarnya kepada Diana, dan ia mengetahui Diana tidak terikat dengan siapa-siapa –setelah bebas dari masalah Eliza, kenapa ia tidak menemui Diana lagi dan meminta Diana untuk segera menemaninya di Paris? Sebaliknya, kenapa Diana tidak pergi ke Paris mengingat kadar cintanya yang begitu pekat untuk Selina, apalagi setelah Eliza, putrinya, sudah cukup dewasa? Bukankah Selina, dalam suratnya ('Gerhana Kembar' bab 10, 1979), mengatakan bahwa ia membayangkan suatu hari akan membuka pintu apartemennya dan menerima Diana ke dalam kehidupannya, lalu menghabiskan masa tua bersama sambil membiarkan masa lalu tertinggal kelelahan di belakang mereka? Sedemikian terlukanyakah Selina untuk ketidakhadiran Diana dalam hidupnya pada tahun 1980? Sudah tibakah Selina pada batas penantian yang melelahkan? Entahlah.
Gerhana Kembar ditulis dalam bentuk cerita berbingkai. Pertama, cerita tentang Lendy dengan pekerjaannya sebagai editor, kisah cintanya dengan Philip, serta perjalanannya menemukan kebenaran yang tersimpan sekian lama dari dirinya. Kedua, isi naskah tua berjudul 'Gerhana Kembar' yang ditulis Diana. Secara bergantian, dengan urutan yang tidak runtut, kedua cerita itu mengisi novel ini. Teknik penceritaan ini mengingatkan saya pada novel The History of Love karya Nicole Krauss (GPU, 2006). Pada beberapa tempat, penulis menyisipkan potongan-potongan surat yang juga ditemukan bersama naskah tua 'Gerhana Kembar', meski tidak ada penjelasannya.
Seperti novel-novelnya terdahulu, istri Nicholas Ng ini bercerita dengan hidup dan enak dibaca. Tidak sulit mengikuti ceritanya karena ditulis dengan lancar dan seolah-olah tanpa beban. Tetapi, kendati label 'metropop' dicopot dari novel ini, kita akan tetap menemukan atmosfer novel metropop yang kental, genre yang digagas tahun 2004 bersamaan dengan terbitnya novel Indiana Chronicle. Lihat saja kehidupan Lendy, perempuan 27 tahun, sebagai seorang editor yang sibuk, relasinya dengan rekan-rekan kerja perempuan, dan kehidupan cintanya dengan sang kekasih, Philip. Benar-benar bergaya metropop. Tampaknya, sulit bagi Clara untuk melepaskan diri dari genre novel Gramedia ini.
Dalam bercerita, kadang Clara kehilangan kontrol. Coba baca kisah kilas balik Eliza 6 tahun dari perspektifEliza 44 tahun (hlm. 230-236). Meski kilas balik ini dituturkan menggunakan narator orang ketiga, jelas cerita ini bergulir dari perspektif Eliza, jadi aneh saja ketika Clara menggambarkan pikiran dan perasaan Diana dan Selina.
Tetapi, saya suka dengan cara Clara menutup novel ini. Bagi pembaca yang saking penasarannya jadi punya kebiasaan mengintip akhir novel sebelum waktunya bisa saja terkecoh.
"Cinta adalah cinta. Dia tidak mengenal jenis kelamin," kata Lendy kepada Eliza (hlm. 237). Pemahaman inilah yang membuat keluarga Diana bisa menerima keberadaan Diana sebagai seorang lesbian. Maka, lewat tokoh Lendy, Clara mencoba mengungkapkan keberpihakannya yang luar biasa terhadap kehidupan homoseksual. Coba simak dialog antara Lendy dan Philip (hlm. 346) ketika Philip bertanya tentang anak mereka kelak, "Bagaimana jika dia menjadi homoseksual?" Dan inilah jawaban Lendy, "Kita akan terbang ke Kanada atau Belgia, mencatatkan pernikahan anak kita di sana."
Secara keseluruhan, inilah novel bertema lesbianisme yang mengajak pembaca memahami dunia pecinta sesama jenis ini dengan pikiran yang lebih terbuka dan keberpihakan yang kental. Ditulis secara halus -mengingatkan saya pada Relung-relung Gelap Hati Sisi (Mira W), novel ini dengan indah mendedahkan usaha-usaha manusia dalam upayanya untuk bersijujur dengan diri sendiri, berani memaafkan kesalahan orang lain, dan berdamai dengan masa lalu. Sebuah novel dewasa Indonesia yang menurut saya, sayang untuk dilewatkan.
Judul: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seorang Anak Laki-laki yang Sangat Menarik) Penulis: Jeanne Birdsall (2005) Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani Tebal: 292 hlm; 13,5 X 20 cm Terbit: Cetakan 1, Maret 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
LITTLE WOMEN RASA BARU
The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seorang Anak Laki-laki yang Sangat Menarik) adalah judul panjang dari novel anak-anak karya perdana Jeanne Birdsall. Novel yang diterbitkan pertama kali pada Juni 2005 ini telah memenangkan National Book Award untuk Young People's Literature tahun 2005. Setelah sekian lama bekerja sebagai fotografer, impian masa kecil Jeanne Birdsall yang kini bermukim di Northampton, Massachusetts ini untuk menjadi penulis novel akhirnya menjadi nyata.
Jeanne Birdsall
Novel ini (The Penderwicks) merupakan kenang-kenangan dari 4 kakak-beradik perempuan pada sebuah musim panas di masa kecil mereka. Bertahun-tahun telah berlalu, mereka telah dewasa, tetapi pengalaman musim panas ini ternyata tidak dapat mereka lupakan. Ketika itu Rosalind baru berusia 12 tahun, Skye 11 tahun, Jane 10 tahun, dan Batty 4 tahun. Pada waktu kisah dimulai, mereka berada di mobil bersama sang ayah, Martin Penderwick, seorang profesor Botani yang doyan berbicara dengan bahasa Latin, dalam perjalanan menuju Arundel, di Berkshire Mountain. Ikut bersama mereka, seekor anjing besar, kikuk, dan manis bernama Hound. Tentu saja, Elizabeth Penderwick, ibu anak-anak, tidak ikut. Sang ibu meninggal 2 minggu setelah kelahiran Batty. Penulis novel memberi alasan yang menimbulkan pertanyaan lewat penuturan Rosalind (hlm. 43), bahwa Elizabeth meninggal karena kanker setelah melahirkan Batty. Artinya, Batty dilahirkan seorang penderita kanker kan? Kenapa tidak ada penjelasan yang memadai soal ini?
Kisah kakak-beradik perempuan akan selalu mengingatkan pada novel klasik berjudul Little Women (1868) karya Louisa May Alcott yang dalam novel ini, kebetulan, disinggung penulis lewat ucapan Jane (hlm. 29). Bisa ditebak jika buku tentang gadis-gadis keluarga March itu telah memengaruhi kelahiran novel ini. Bahkan, karakterisasi anak-anak Penderwick akan mengingatkan karakter beragam seperti yang dimiliki gadis-gadis keluarga March: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Tetapi The Penderwicks jelas berbeda dengan Little Women. Hanya, bagi saya, The Penderwicks adalah Little Women kontemporer, dengan rasa dan keasyikan yang baru.
Karakterisasi yang kuat dan menarik dibubuhkan Jeanne Birdsall ke dalam diri anak-anak Penderwick. Rosalind, si sulung, penengah setiap masalah, bertindak seperti pengganti ibu terhadap saudara-saudaranya, dan mulai digerogoti cinta remaja. Skye, seorang gadis cerdas berdarah panas dan tidak sabaran. Ia digambarkan berbeda secara fisik dengan saudara-saudaranya; berambut pirang lurus dan bermata biru, sementara saudara-saudaranya bermata cokelat dan berambut keriting gelap. Ketika cerita bergulir, diceritakan bagaimana dengan galak ia menantang orang yang dipandang menghina keluarganya. Jane, seorang tukang khayal yang ingin menjadi penulis kondang. Ia menulis serial jagoan perempuan bernama Sabrina Starr yang menyelamatkan anak burung gereja, kura-kura, dan tikus tanah. Sedangkan Batty, si bungsu adalah anak pemalu yang menjadikan binatang dan keluarganya sebagai target kasih sayang. Ia senang mengenakan sayap kupu-kupu dan tidak pernah bicara dengan orang yang baru dikenalnya sampai ia menemukan kesamaan kegemaran dengan orang itu.
Dalam perjalanan menuju Arundel, Keluarga Penderwick tersesat. Untunglah mereka bertemu Harry, seorang penjual tomat. Harry menunjukkan jalan menuju Arundel dan mengingatkan tentang Mrs. Tifton, si pemilik Arundel yang congkak dan Skye yang dideteksinya sebagai tukang bikin onar. Ternyata Arundel tempat yang luar biasa. Terdiri atas Arundel Hall, sebuah mansion megah di tengah taman yang apik, dan Arundel Cottage, sebuah vila berwarna kuning mentega di balik halaman belakangnya. Vila inilah yang disewa Mr. Penderwick untuk dipakai selama liburan.
Setelah menempati kamar masing-masing, keempat bersaudari Penderwick siap menghabiskan waktu selama 3 minggu di Arundel. Di sini mereka bertemu orang-orang menyenangkan seperti Cagney, tukang kebun Arundel; Mrs. Churchill (Churcie), koki Arundel yang pintar membuat kue jahe; dan tentu saja, Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel, yang menerima kedatangan Keluarga Penderwick dengan antusias. Tetapi, juga orang-orang menyebalkan yaitu Mrs. Tifton (Brenda), ibu Jeffrey yang secongkak sepatu hak tinggi yang dikenakannya dan pacarnya, Dexter Dupree, penerbit majalah mobil yang ingin menghalau Jeffrey secepatnya dari Arundel. Khusus bagi Batty, ada dua ekor kelinci (Yaz dan Carla) yang bisa menjadi tempat curahan kasih sayangnya.
Rosalind dan adik-adiknya sangat menyukai Jeffrey. Mereka iba karena Jeffrey tidak pernah mengenal ayahnya. Ayah Jeffrey pergi sebelum Jeffrey dilahirkan; kepergian yang mengundang gosip. Kakak-beradik Penderwick semakin bersimpati ketika tahu Brenda menghalangi niat Jeffrey untuk masuk sekolah musik. Brenda ingin Jeffrey menjadi prajurit seperti Jenderal Framley, kakek Jeffrey yang sudah mangkat.
Simultan dengan kedatangan Keluarga Penderwick, Brenda Tifton sedang bersiap-siap mengikutkan tamannya dalam kompetisi Klub Berkebun se-Massachusetts. Ia berharap bisa jadi pemenang tahun ini. Bagi Brenda, anak-anak Penderwick hanya akan bikin kacau dan merusak taman kebanggaannya. Menurutnya juga, anak-anak Penderwick memberi pengaruh buruk pada Jeffrey. Ia menunjukkan secara terang-terangan rasa antipatinya kepada anak-anak Penderwick. Sikapnya yang judes menakutkan dan menjengkelkan anak-anak Penderwick. Jane yang penuh khayal menyebutnya Ratu Narnia yang mengubah semuanya menjadi musim dingin.
Kisah musim panas ini bergulir melewati berbagai peristiwa yang menakutkan Batty ketika Yaz menghilang, menyulut kemarahan Mrs. Tifton atas gangguan anak-anak Penderwick saat kompetisi Klub Berkebun, menyengat kedongkolan Skye atas penghinaan Mrs. Tifton terhadap kehormatan keluarga Penderwick, mematahkan hati Rosalind manakala mengetahui Cagney sudah punya pacar, dan meluluhkan niat Jane untuk menjadi penulis tenar sewaktu karya teranyarnya, 'Sabrina Starr Menyelamatkan Anak Laki-laki', dianggap gagal oleh Dexter. Semuanya mencapai klimaks saat Jeffrey memutuskan minggat dari Arundel Hall.
Apa yang akan terjadi dengan Jeffrey? Apakah liburan musim panas di Arundel ini akan menjadi kenangan yang menyakitkan dalam benak anak-anak Penderwick? Dua pertanyaan ini tentunya akan terjawab pada lembar-lembar terakhir novel setebal 292 halaman ini.
Secara keseluruhan, The Penderwicks adalah sebuah novel yang indah, dan tentu saja, cocok untuk anak-anak. Penggambaran semua karakter novel yang unik menjadi kekuatan novel ini. Belum lagi kelucuan yang ditimbulkan oleh ulah dan pemikiran anak-anak Penderwick. Selain itu, dari kehidupan anak-anak Penderwick banyak hal yang bisa dipetik hikmahnya seperti berupaya menyelesaikan setiap masalah dengan musyawarah (mereka punya agenda yang mereka sebut Pertemuan Besar Penderwick Bersaudara) bersiteguh menjaga rahasia dan kehormatan keluarga; juga bersimpati dan berempati pada kesusahan orang lain. Seperti testimoni di sampul belakang (School Library Journal), alhasil, setelah membaca buku ini, anak-anak Penderwick akan disayangi oleh para pembaca.
Bagi orangtua, The Penderwicks memberikan pelajaran berharga bagaimana harus memperlakukan anak-anak. Tentu saja, orangtua yang baik menginginkan masa depan gemilang untuk anak-anak mereka. Tetapi, belum tentu rancangan masa depan seorang anak dari orangtuanya akan sebangun dengan rancangan masa depan anak itu sendiri. Jadi, orangtua perlu juga mendengar keinginan anak mereka untuk tidak membuat mereka jadi pemberontak dan membenci orang tua sendiri. "Karena orangtua hampir selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi mereka tidak selalu tahu apa yang terbaik," kata Mr. Penderwick (hlm. 233). Selain itu, novel ini juga mendedahkan bagaimana orang tua menghadapi anak-anaknya, memosisikan mereka sebagai sahabat, meminta maaf jika telah mengesalkan mereka, dan memberikan mereka kebebasan yang bertanggung jawab.
Setelah The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy, Jeanne Birdsall menulis sekuel berjudul The Penderwicks on Gardam Streetyang terbit pada April 2008. Apakah edisi Indonesianya akan menyusul prekuelnya? Kita tunggu saja.
Judul Buku: 10 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Aku Mati Judul Asli: 10 Things to Do Before I Die Penulis: Daniel Ehrenhaft (2004) Penerjemah: Maria Intan Ravenska Tebal: 240 hlm; 20 cm Terbit: Cetakan 1, Maret 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
24 JAM SI BADUT KACANGAN
Apakah yang akan kaulakukan ketika secara mendadak mengetahui hidupmu tersisa 24 jam? Bagi Ted Burger, seorang remaja lelaki New York 16 tahun, anak tunggal sepasang orang tua yang sibuk, ada 10 hal yang harus ia lakukan.
Semua berawal ketika Ted Burger menghabiskan waktu pada hari pertama liburan musim semi dengan Mike Singer, sahabatnya, dan pacar Mike, Nikki. Mereka berada di restoran Circle Eat Dinner, tempat Ted menghabiskan sebagian besar waktunya karena kesepian di rumahnya sendiri. Orang tua Ted memang lebih suka menghabiskan waktu dalam perjalanan bisnis daripada mengenal putra mereka dengan baik. Bersama Mark dan Nikki, Ted memesan Paket Circle Eat #5, Burger/Fries Combo. Mark makan burgernya, Nikki acarnya, sedangkan Ted makan kentang gorengnya. Ted memang sangat suka kentang goreng.
"Dude, kau itu biasanya cuma ngomong. Sekali-sekali, ayo pikirkan sesuatu untuk kaulakukan," tiba-tiba di tengah acara makan mereka, Mark angkat bicara. Selain 'dude', Mark suka menyapa Ted Burger dengan nama Burger.
Sudah 4 bulan Ted memacari Rachel Klein. Rachel seorang gadis manis dengan selera tinggi dalam berpakaian, cerdas, dan tergabung dalam organisasi Amnesty International. Ted benar-benar menyukai Rachel kecuali saat Rachel berpikir Ted naksir Nikki, berkesah bahwa Ted terlalu kerap nongkrong di Circle Eat Diner, dan tidak mau melakukan 'itu' sampai ia 'siap'. Pada musim semi ini Rachel terlibat rencana pelaksanaan retreat Amnesty International. Ted telah memutuskan bergabung meski untuk itu ia harus menulis esai.
Secara mendadak, di tengah-tengah perbincangan 'pikirkan sesuatu untuk kaulakukan' itu, Ted merasa tidak enak badan. Mengingat ia juga punya janji dengan Rachel, Ted memutuskan pulang. Tetapi, Mark memaksa Ted membuat daftar 10 hal yang harus Ted lakukan selama musim semi.
Maka lahirlah ide-ide berikut di atas napkin dari meja restoran. Pertama, melepas keperjakaan. Rachel memang tidak mau melakukan 'itu' sampai ia 'siap'. Tetapi, menurut si pencetus ide, Nikki, malam ini ketika Ted bertemu Rachel, adalah saat yang tepat untuk melakukan 'itu'. Padahal, menurut Rachel, berciuman saja harus minta izin terlebih dahulu. Kedua, nge-jam bareng Shakes The Clown. Ted adalah penggemar nomor satu band asal Brooklyn ini dan bisa 'diare mulut' hanya untuk mengoceh tentang mereka. Ketiga, PESTA bareng Shakes The Clown dan keempat, membalas Billy Rifkin. Billy Rifkin adalah duri dalam daging Ted ketika mereka di kelas enam.
Sambil berkutat dengan vertigo, mual, dan tinnitus yang membuatnya mengira menderita penyakit Méničre, Ted bertemu Rachel yang menuduhnya habis mabuk-mabukan. Lalu, ketika ngobrol lewat telepon dengan ayah Mark, Ted malah dibilang hypochondriac (orang yang terlalu mengkhawatirkan kesehatannya). Ted baru mengetahui sesungguhnya apa yang ia alami ketika Mark dan Nikki mendatanginya. Katanya, Leo -tukang masak sinting di Circle Eat Diner- telah meracik sejenis racun dan mencampurnya ke dalam kentang goreng yang Ted makan. Itulah yang membuat Ted sakit, dan menyisakan hanya 24 jam kehidupan baginya.
"Apakah kau pernah benar-benar hidup, Burger?" pertanyaan yang pernah dilontarkan Mark menyengat Ted. Maka, lahir lagi ide-ide selanjutnya. Kelima, lakukan sesuatu yang sangat berjasa. Seperti menyelamatkan bayi dari gedung terbakar. Keenam, benar-benar PERGI ke salah satu negara dunia ketiga yang selalu dibicarakan Rachel dan lakukan sesuatu yang positif DI SANA. (Seperti Nigeria atau mana pun. Tapi secepatnya.). Ketujuh, merampok bank. Kedelapan, melakukan hal sinting, seperti bungee jump dari GW (George Washington) Bridge. Yang diikuti ide-ide kesembilan, memulai agamamu sendiri dankesepuluh, cari sesuatu untuk dinamakan menurut namamu (seperti taman atau air mancur.).
Apakah Ted bisa melakukan 10 hal yang harus ia lakukan ini? Usai melalui serangkaian kejadian yang membuatnya untuk pertama kalinya benar-benar merasa hidup, apakah Ted benar-benar mati? Apakah Ted benar-benar mengidap penyakit Méničre? Semuanya akan dijawab dengan menarik pada bagian-bagian novel selanjutnya. Yang jelas, setelah jadi Malaikat Penendang Wajah, Ted tahu, Burger yang tidak pernah benar-benar hidup telah menjelma Ted yang benar-benar merasa hidup. Dan simultan dengan transformasi Ted, penulis menyingkap beberapa kebenaran sederhana mengenai cinta Mark-Nikki serta cinta Ted-Rachel dengan manis.
Novel yang oleh GPU dimasukkan dalam kategori TeenLit ini merupakan karya Daniel Ehrenhaft, penulis sejumlah buku anak-anak dan fiksi Young Adult (YA). Lelaki kelahiran Washington (AS) 12 Agustus 1970 ini telah menerima Edgar Allan Poe Award tahun 2003 untuk kategori Best Young Adult Novel berkat novel YA-nya, The Wessex Papers. Selain 10 Things to Do Before I Die, Daniel Ehrenhaft yang suka menggunakan pseudonim Daniel Parker dan Erin Haft telah menulis The Last Dog on Earth, The After Life, Drawing a Blank, Tell it to Naomi, 21 Proms, dan tentu saja 3 volume The Wessex Papers (Trust Falls, Fallout, dan Outsmart).
Daniel Ehrenhaft
Bisa dikatakan kalau 10 Things to Do Before I Die adalah sebuah novel YA yang tidak biasa. Meski masih ditulis dengan gaya khas novel YA, novel ini tidak sekedar mengumbar kisah cinta monyet yang kian lama kian menjenuhkan dibaca. Memang masih terdapat kisah cinta remaja di dalamnya, yang untungnya tidak basi, tetapi tema utamanya bukan kisah cinta. Tema utama dalam novel berpusar pada proses kelahiran kembali Ted Burger dari Burger menjadi Ted. Meski, harus diakui, Burger yang belum lahir kembali memang kurang utuh digambarkan. Pernyataan, "Seumur hidup aku berjuang memaksakan aturan di dalam ketidakaturan, untuk membangun dinding rutinitas dan penghalang," (hlm. 225) yang menggambarkan tentang Burger kurang bisa saya pahami setelah membaca seluruh novel.
Namun, 10 Things to Do Before I Die termasuk novel yang mengasyikkan. Menggunakan Ted Burger sebagai narator, Daniel Ehrenhaft menunjukkan dirinya sebagai penulis kreatif yang tidak pernah kehilangan selera humor. Banyak ungkapan-ungkapannya yang menggelitik, metafora yang tidak biasa, dan istilah-istilah yang terasa orisinil (seperti pencandu obat pujian atau diare mulut). Caranya bernarasi terbilang hidup dengan judul-judul per bagian yang unik. Coba simak contohnya: Pecundang Cengeng; Jenis Cowok dengan Pola Pikir Gelas Setengah Penuh; Surga Kebetulan yang Luar Biasa; Dunia Berbentuk Donat; Okeydokey, Artichokeyt;Kematian Seorang Badut. Yang paling konyol, tentu saja, Kematian Seorang Badut yang terdiri atas 3 versi penglihatan yang menurut Ted mungkin dilihatnya ketika mati. Ada-ada saja!!
Daniel Ehrenhaft mendeskripsikan karakter ciptaannya dengan menarik dan jenaka. Sosok Ted Burger diceritakan memiliki suara seperti sepeda tua karatan, berambut brekele, tinggi kerempeng, berjari-jari kayak ranting, jago bikin kacau, tidak gampang percaya, dan badut kacangan. Mark, bermata cokelat liar karena yakin sejak kecil bahwa sesuatu yang tidak biasa dan ajaib bisa terjadi kapan saja dan entah bagaimana ia akan terlibat dalam kejadian itu. Apa yang Ted Burger alami membuktikan kebenaran keyakinan tersebut. Oh ya, saya suka pemikiran cerdas Mark mengenai 'dunia berbentuk donat' dan 'kematian Burger'. Sedangkan Nikki, digambarkan sebagai seorang gadis penyuka warna hitam dan bermata seperti batu onyx yang tenang hingga mirip alien. Pikirannya sangat aktif, selalu memikirkan segala hal dalam-dalam; kejadian dan percakapan yang sederhana sekalipun.
Sebagian besar isi novel berlangsung hanya dalam tempo 1 hari. Di antaranya ada sedikit bagian yang dipaparkan dengan teknik kilas balik. Sisanya, bagian-bagian akhir dan epilog yang diceritakan setelah hari kejadian utama, memakan porsi penceritaan yang tidak banyak.
Dari melimpahnya novel TeenLit terbitan GPU, menurut saya, novel ini adalah salah satu koleksi yang enak dibaca. Dan melihat penggunaan narator yang bergender laki-laki, cara bercerita, serta tema cerita yang inspiratif, mungkin novel ini bisa dinobatkan sebagai TeenLit (YA Fiction) remaja laki-laki, yang kebetulan, ditulis penulis laki-laki.
Judul Buku : Setelah Aku Pergi Judul Asli: Ways to Live Forever Penulis: Sally Nicholls (2008) Penerjemah: Tanti Lesmana Tebal: 216 hlm; 20 cm Terbit: Cetakan 1, Maret 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
PERSIAPAN MENJEMPUT AJAL
"Kalian boleh saja sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Kalau kalian selalu sedih waktu memikirkan aku, bagaimana kalian bisa mengingat aku?" adalah hal ke-6 yang diinginkan Sam Oliver McQueen setelah dia pergi alias meninggal. Kalimat itu dipesankan kepada siapa saja yang membaca buku hariannya. Jadi, ketika kita ikut-ikutan membaca buku Sam, Sam mengharapkan kita tidak boleh terlalu sedih. Kendati, mesti diakui, sepertinya, tidak ada pembaca yang tidak akan trenyuh ketika membaca cerita pengalaman, pemikiran, dan usaha Sam menghadapi kematian yang telah berjarak dekat dengan usianya.
Ways to Live Forever merupakan debutan Sally Nicholls, seorang penulis asal Inggris. Sally Nicholls, kelahiran Stockton-on-Tees (Inggris) 22 Juni 1983 menulis novel ini pada saat berusia 23 tahun. Setelah lulus dari jurusan Filsafat dan Sastra University of Warwick, Sally mengambil MA dalam bidang Writing For Young People di Bath Spa University. Di Bath Spa inilah Sally menulis novel yang kemudian memenangkan Waterstone's Children Book Prize tahun 2008. Sally juga telah menyelesaikan novel keduanya yang berjudul The Midnight Hunter dan dijadwalkan terbit awal tahun 2009.
Sally Nicholls
Novel berseting Middlesbrough ini dimulai tanggal 7 Januari dan berakhir tanggal 12 April, berisi kumpulan daftar, cerita, gambar, pertanyaan, dan fakta-fakta, dan, tentu saja, kisah Sam (hlm. 11). "Saat kalian membaca buku ini, kemungkinan aku sudah pergi," tulis Sam (hlm. 13).
Sam Oliver McQueen, anak lelaki berusia 11 tahun tetapi dengan ukuran tubuh yang tidak sesuai, suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis, dan mengidap leukemia. Ia ketahuan mengidap penyakit temuan John Hughes Bennett pada tahun 1845 ini pada umur 6 tahun. Leukemia lymphoblastic akut, demikian jenis leukemia yang diderita Sam; terlalu banyak produksi lymphoblast, sel-sel darah putih kecil. Sampai saat Sam memutuskan membuat buku, ia telah 2 kali menjalani kemoterapi. Setelah terakhir kambuh pada usia 10 tahun, dua setengah bulan kemudian, penyakit Sam kambuh lagi. Maka, Sam mengalami berbagai hal seperti kerontokan rambut akibat kemoterapi, sering mimisan, hidup berkawan dengan Hickman Line, dan membutuhkan serum-serum kuning dan kenyal untuk pembekuan darah.
Penyakit Sam membuat kehidupan dalam rumahnya terganggu. Rachel, ibu Sam, berhenti kerja untuk merawat Sam tetapi seperti suaminya, Daniel, tidak bisa menepis kesedihan karena nasib Sam. Diam-diam, Ella, adik Sam yang berusia 8 tahun juga merasakan kesedihan dalam keluarganya. Keluarga Sam tahu, cita-cita-cita Sam untuk menjadi ilmuwan penyelidik hal-hal seperti UFO dan hantu tidak akan terwujud. Dengan pengobatan, Sam diramalkan akan hidup setahun lagi.
Ketika menginap di rumah sakit selama 6 minggu saat penyakitnya kambuh pertama kali, Sam bertemu dan kemudian bersahabat dengan penderita kanker lain bernama Felix Stranger, 13 tahun. Felix yang berkepala gundul hidup dengan keraguan akan kebaikan Tuhan gara-gara sakitnya. Setelah liburan Natal, 7 Januari, hari pertama Sam dan Felix 'masuk sekolah', Mrs. Willis yang mengajar mereka di rumah, menantang mereka untuk mengarang. Sam menerima tantangan sang guru, dan memutuskanmenulis buku. Sebentuk buku harian.
Di tengah-tengah kegiatan yang ia lakukan; belajar, pengobatan, menghabiskan waktu dengan Felix, Sam menulis bukunya. Di dalam bukunya itu, Sam menghimpun 11 daftar berisi hal-hal tentang dirinya, apa yang ingin ia lakukan, hal-hal yang menjadi favoritnya, kiat-kiat hidup abadi, ritual kematian berbagai bangsa, siapa ayahnya, balon Zeppelin, pertanyaan tentang orang mati, dan apa yang ia inginkan setelah meninggal); 8 Pertanyaan Tak Terjawab yang bertalian dengan kematian; pengalaman-pengalaman; informasi yang berhubungan dengan kematian seperti teori 21 gram dari Duncan MacDougall (1907), juga gambar-gambar; yang semuanya merupakan persiapan Sam menghadapi kematian.
Sebuah pembahasan menyentuh terjadi antara Sam dan Felix ketika membahas pertanyaan yang berbunyi: "Kenapa Tuhan membuat anak-anak jatuh sakit?" Apakah Tuhan ada? Jika ada, apakah Tuhan jahat karena suka menyiksa anak-anak kecil sekedar untuk senang-senang? Apakah Tuhan benar-benar jahat? Ataukah anak-anak jatuh sakit karena dihukum, karena karma? Atau justru sakit itu merupakan hadiah, seperti mendapatkan Karcis-Gratis-Masuk-Surga? Apapun jawabannya, bagi Sam, semua pendapat mereka lebih baik dari pendapat konyol yang mengatakan bahwa seorang sakit dan mati karena, "dia terlalu baik untuk tetap di dunia ini" atau "Tuhan sangat menyayanginya, sehingga ingin membawanya ke surga" (hlm. 50-52).
Suatu hari, Felix tidak muncul pada jadwal belajar. Ia terkena infeksi, masuk rumah sakit, kemudian akhirnya meninggal. Kepergian Felix menyengatkan pukulan keras bagi Sam yang membuatnya memperdebatkan soal keadilan. Ketika semua obat yang diberikan pihak rumah sakit sepertinya tidak banyak bermanfaat lagi, Sam memutuskan mempercepat waktu kematiannya. "Aku akan bilang pada-Nya waktunya tidak cukup panjang," kata Sam (hlm. 178). "Nanti, kalau aku bertemu dengan Dia." Setelah sekian banyak uang dihamburkan untuk pengobatan dan perawatan Sam, sungguh getir ketika Rachel menanggapi perkataan Sam dengan, "Ya, bilang pada-Nya. Bilang pada-Nya kita ingin uang kita dikembalikan."
Menurut The Concise Oxford Dictionary edisi kesembilan yang dikutip Sam, kematian adalah berhentinya fungsi-fungsi vital dalam suatu organisma secara permanen, akhir kehidupan (hlm. 119), tetapi bagi Sam kematian adalah tahap selanjutnya dalam kehidupan. Ia percaya jika kematian hanyalah perjalanan kembali ke tempat semula manusia berada sebelum dilahirkan, sesuatu yang tidak menjadi masalah bagi Tuhan, karena kematian seseorang berarti kembali ke surga, tempat Tuhan tinggal. Sebuah pemaknaan kehidupan lewat kematian dari sudut pandang anak kecil yang luar biasa tanpa pernah berniat memvonis apa yang ia alami sebagai kesalahan Tuhan.
Oleh sebab itu, Sam menginginkan upacara pemakaman yang asyik, para pelayat yang tidak memakai pakaian hitam, harus ada cerita-cerita lucu tentang dirinya, dan boleh sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Si kecil Sam sadar, tidak mungkin tidak akan ada kesedihan ketika seseorang yang disayangi meninggalkan kita, tetapi baginya, kesedihan bisa menghalangi ingatan kita kepada orang yang kita sayangi.
Apakah Sam bisa melakukan semua hal yang ingin ia lakukan seperti dalam daftar no. 3? Ataukah Sam bisa mewujudkan salah satu cara hidup selamanya seperti dalam daftar no. 5? Sebuah angket Rencana Kematian paling ilmiah dalam sejarah versi Felix yang disusun Sam kemudian akan memastikan nasib Sam.
Novel ini tidak ditulis secara konvensional. Teknik penulisan yang pada beberapa tempat bergaya scrapbook mengingatkan pada model penulisan kreatif banyak buku teenlit. Pemilihan model penulisan yang terbilang jitu karena memang jadi lebih sesuai dengan usia Sam McQueen dan menjadi tidak membosankan. Apalagi, meski tidak konvensional, plotnya jelas, bisa diikuti dengan mudah dan enak.
Karena Sam yang menulis masih berusia 11 tahun, Sally Nicholls menggunakan narasi sederhana tidak berbelit. Cara bertutur Sally Nicholls mengingatkan cara bertutur Mark Haddon dalam novel berjudul The Curious Incident of the Dog in the Night Time (2003) yang menggunakan narator anak laki-laki pengidap Asperger Syndrome berusia 15 tahun. Tetapi, keluguan berkisah dari perspektif Sam menghasilkan novel yang kuat dan hidup.Dengan kepolosan Sam yang pada beberapa tempat uniknya terkesan dewasa, kalimat-kalimat yang dirangkai Sally terkesan cerdas dan menyentuh, terkadang mengiris hati, tetapi juga tak ketinggalan nuansa humornya. Ternyata, di tangan Sally, menjemput kematian, dari perspektif anak-anak, bisa berbeda dan lebih enteng.
Judul asli novel, Ways to Live Forever, rupanya menggunakan judul Daftar No. 5 (yang diindonesiakan sebagai Kiat-kiat Hidup Abadi ). Tetapi, untuk edisi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama hasil terjemahan Tanti Lesmana, menjadi Setelah Aku Pergi, potongan judul Daftar No. 11 (Hal-hal Yang Kuinginkan Setelah Aku Pergi). Lebih baik daripada edisi Belanda yang berjudul Als je dit leest, ben ik dood (Saat kalian membaca Ini, kemungkinan aku sudah pergi), yang adalah fakta kelima tentang diri Sam pada Daftar No. 1.
Edisi Indonesia memosisikan novel yang keren ini sebagai novel dewasa. Entah apa pertimbangannya. Menurut saya, meski tema yang disodorkan Sally Nicholls agak berat, novel masih bisa dinikmati pembaca berusia lebih muda. Tetapi, kendati menggunakan narator anak berusia 11 tahun, novel ini memang tidak pas untuk masuk dalam kategori novel anak-anak. Bagaimanapun, Sam McQueen adalah produk orang dewasa. Jadi, tidak heran jika si kecil Sam terlihat bisa memandang kehidupan dengan cara yang dewasa. Kalaupun ada anak-anak seperti Sam, mungkin bisa dikatakan jenis anak-anak langka.
Judul Buku: Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina Judul Asli: A Short History of Tractors in Ukrainian Penulis: Marina Lewycka (2005) Penerjemah: Gita Yuliani K. Tebal: 416 hlm; 20 cm Terbit: Cetakan 1, Februari 2008 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
KOMEDI KELUARGA DISFUNGSIONAL
Nikolai Mayevskyj, duda 84 tahun, memutuskan menikahi Valentina Dubova, perempuan Ukraina penuh gairah yang masih bersuami dan memiliki satu anak laki-laki, dua tahun setelah istrinya, Ludmilla Ocheretko, meninggal dunia. Meskipun tidak mendapatkan persetujuan dari kedua anak perempuannya, Vera dan Nadezhda (Nadia), Nikolai tetap bersikeras menikahi Valentina yang baru berusia 36 tahun. Berbagai alasan dicetuskannya untuk mewujudkan hasratnya memperistri si montok Valentina.
Valentina mau dinikahi Nikolai karena menginginkan paspor, bisa menetap dan bekerja di Inggris. Dia ingin membangun hidup baru bagi dirinya dan anaknya, Stanislav. Kelak, diharapkan, Valentina yang punya diploma dalam bidang farmasi akan bekerja dengan bayaran bagus setelah belajar bahasa Inggris. Nikolai akan membantu Valentina belajar bahasa Inggris sementara si 'Venus Botticelli' membersihkan rumah dan merawat Nikolai. Setelah menikah di gereja Katolik (kendati Valentina janda cerai dan Nikolai seorang ateis) Valentina tidak langsung tinggal bersama Nikolai. Ketika Valentina memutuskan tinggal serumah dengan Nikolai di pinggiran Peterborough, mereka tidak tidur sekamar. Nikolai yang mengalami disfungsi ereksi dituduh menyukai seks oral.
Kehadiran Valentina ke dalam rumah keluarga Nikolai, yang mengacaukan (kemudian mengutuhkan) keluarga Mayevskyj,digambarkan oleh Nadezhda, sang narator novel, seperti ini, "Dia meledak masuk ke dalam kehidupan kami bagai granat merah muda yang sembrono, mengaduk-aduk air keruh, memunculkan ke permukaan lumpur kenangan yang sudah mengelupas, membuat hantu-hantu keluarga kami bergiat kembali." (hlm. 9).
Tidak cukup hanya menguras tabungan Nikolai guna memperbesar payudara, Valentina memaksa lelaki tua bangka itu menguangkan Asuransi Pensiun untuk membeli mobil yang diinginkannya. Dan pengeluaran uang tidak hanya berhenti di situ. Valentina memaksa Nikolai membeli barang-barang seperti kompor gas dan vacuum cleaner. Nikolai terpaksa membeli dengan cara sewa-beli, yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Selain itu, masih ada masalah tagihan telepon yang membengkak. Nikolai terpaksa berutang pada kedua anaknya yang kian jengkel dengan ulah Valentina.
Melihat ulah menjengkelkan Valentina, Nadezhda si Bayi Masa Damai dari Cambridge dan Vera si Bayi Masa Perang dari Putney yang sedang terlibat permusuhan selama 2 tahun gara-gara warisan ibu mereka, mencoba membangun kekuatan bersama. Mereka ingin menyelamatkan sang Pappa dari tindakan manipulatif Valentina dan sebisa mungkin mengusir Valentina dari Inggris. Tetapi, tidak gampang. Valentina bukanlah pribadi yang mudah menyerah. Dia mau melakukan apa saja untuk melawan usaha kedua anak tiri yang jauh lebih tua darinya.
Dalam konfrontasi dua bersaudara Mayevskyj untuk menyelamatkan Kolya yang bodoh dengan perempuan Ukraina kasar dan jorok ini masa lalu keluarga melewati lembaran sejarah kelam Eropa dipanggil kembali; menghadirkan kenangan akan negeri dengan bau jerami dipotong dan bunga ceri, yang lebih suka dilupakan. Salah satu kenangan gelap dari masa lalu itu, akan menjadi terapi termujarab untuk keutuhan persaudaraan Nadezhda dan Vera.
Kisah keluarga disfungsional asal Ukraina ini merupakan karya perdana Marina Lewycka, penulis Inggris berdarah Ukraina kelahiran Kiel (Jerman) 1946. Novel ini menjadi finalis Booker Prize 2005 dan memenangkan Bollinger Everyman Wodehouse Prize for Comic Fiction, Waverton Good Read Award 2005/2006, serta Saga Award for Wit 2005. Juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Marina Lewycka
Novel ini bisa dikategorikan sebagai novel komedi. Nyaris semua karakter yang ada digambarkan secara komikal. Nikolai, si tua bangka yang bodoh dan kekanak-kanakan (bergantian membenci anaknya; bahkan karena ulah anaknya pernah ngambek mau kembali ke Ukraina). Valentina, perempuan bermodalkan payudara bak ujung peledak yang ternyata tidak bisa memberikan susu buat anaknya; seorang pemarah yang menggelikan dengan gaya bicara yang kasar dan berantakan.Nadezhda, 'Nyonya Pukul-dan-Usir-Mereka' yang berusia 47 tahun tetapi ketika mendengar suara kakaknya mendadak menjadi anak usia 4 tahun dengan hidung ingusan. Vera, 'Nyonya Pakar Perceraian' yang bergaya kelas atas padahal mengenakan pakaian bekas dan bersikap licik kepada adiknya sehubungan dengan warisan ibu mereka. Kerap, tidak terbayangkan kalau Nadezhda seorang dosen dan ibu rumah tangga berusia 47 tahun sementara Vera, bahkan, 10 tahun lebih tua. Seperti kata Mike, suami Nadezhda, salah satu karakter biasa dalam novel ini, karakter-karakter utama yang oleh Marina Lewycka digambarkan dengan sangat kuat itu memang "sekumpulan orang gila." (hlm. 140).
Novel dijalin secara ringan dan enak dibaca. Selain karakterisasi yang mantap, dialog dan adegan konyol menjadi kekuatan utama novel. Rasanya tidak mungkin membaca novel ini tanpa terhibur dengan semua kekonyolan yang ada. Ruang antara Nikolai yang selalu kalah dengan pesona payudara Valentina dan Valentina yang berbicara dengan bahasa yang berantakan menimbulkan dialog serta adegan yang menggelikan. Hubungan antara Nadezhda dan Vera juga dihadirkan dengan penuh humor; bertikai gara-gara warisan ibu; mencoba berekonsiliasi untuk memerangi Valentina, tetapi juga tidak ketinggalan untuk saling merendahkan satu dengan yang lain.
Di tengah situasi yang memancing tawa (atau paling tidak senyum), Marina Lewycka, dosen Sheffield Hallam University yang telah menerbitkan novel kedua berjudul Two Caravans (Strawberry Fields) ini, menyisipkan kilas balik sejarah kelam Ukraina lewat perjalanan kehidupan Nikolai dan Ludmilla beserta orang tua mereka. Sejarah kelam pada masa pemerintahan Stalin yang berdampak pada perilaku anggota keluarga Mayevskyj. "Tragedi besar sejarah kami yang tidak tercatat", begitu kata Nikolai dalam tulisannya (hlm. 112), menjadi bagian menyentuh dari keseluruhan novel yang konyol.
Judul novel berasal dari judul buku yang ditulis Nikolai tentang sejarah traktor, A Short History of Tractors in Ukrainian (Sejarah Singkat Traktor Dalam Bahasa Ukraina). Buku ini ditulis dalam bahasa Ukraina dan juga bahasa Inggris (untuk suami Nadezhda, Mike). Meski judul ini memberi kesan unik pada novelnya, tidak jelas hubungannya dengan tema utama novel.
Bagi pembaca yang tertarik membaca novel dewasa bergenre komedi yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh, novel ini akan menjadi pilihan yang pas.
Judul Buku: Virgin Suicides Penulis: Jeffrey Eugenides (1993) Penerjemah: Rien Chaerani Penyunting: Sylfentri Terbit: Cetakan 1, Januari 2008 Tebal : 352 hlm; 12,5 X 19 cm Penerbit: Dastan Books
KETIKA PARA "PERAWAN" MEMUTUSKAN MATI
Virgin suicide What was that she cried? No use in stayin' On this holocaust ride She gave me her cherry She's my virgin suicides (Perawan bunuh diri Apa yang ia tangisi? Sia-sia bertahan Menuju kehancuran Ia serahkan harga diri Perawanku yang bunuh diri) -Virgin Suicide
Bagi masyarakat religius, kematian adalah kehendak dan kekuasaan Tuhan. Mencabut nyawa sendiri bukanlah hak manusia. Ketika manusia memutuskan meregangkan nyawa menggunakan tangannya sendiri, manusia telah mengambil alih apa yang menjadi hak Tuhan. Meskipun menyadari hal ini, banyak manusia yang melakukan tindakan bunuh diri. Ada berbagai cara manusia bunuh diri. Menenggak obat melebihi takaran semestinya, menabrakkan kendaraan, menggores pembuluh darah, memanfaatkan palang gantungan, menenggelamkan diri, bahkan menyusupkan kepala dan tubuh ke dalam oven yang tengah menyala. Apapun teknik bunuh dirinya, tindakan ini hanyalah refleksi dari egoisme manusia. Hanya, seringkali motivasi melakukan bunuh diri itu tidak jelas bagi yang masih hidup.
Tersebutlah sebuah keluarga Katolik dengan kehidupan yang biasa di Groisse Ponte, Michigan, tahun 70-an. Ronald Lisbon, sang kepala keluarga adalah seorang guru matematika SMA sementara istrinya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Mereka memiliki lima orang anak perempuan, Therese (17), Mary (16), Bonnie (15), Lux (14), dan Cecilia (13) sebelum tragedi dimulai. Pada suatu musim lalat ikan, sembari berendam di bak mandi, Cecilia, si bungsu, mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan. Percobaan bunuh diri ini gagal. Tetapi, Cecilia berusaha kembali untuk mengakhiri hidupnya. Dua minggu setelah meninggalkan rumah sakit, ketika sebuah pesta diadakan di rumah keluarga Lisbon, Cecilia menjatuhkan diri dari lantai atas rumah dan tertancap di pagar rumah. Tentu saja ia tewas.
Pasca tewasnya Cecilia, kehidupan keluarga Lisbon, terutama putri-putri Lisbon, menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar. Kecantikan mereka sangat mengairahkan remaja-remaja lelaki yang kemudian mencoba melakukan pendekatan dengan mengajak mereka menghadiri pesta di luar rumah. Lux melakukan kesalahan, ia menghabiskan malam dengan Trip Fontaine dan terlambat pulang. Keterlambatannya menjadi alasan bagi Mrs. Lisbon untuk menarik putri-putrinya dari pergaulan sekaligus dari sekolah mereka. Kendati demikian, pengekangan ini tidak menjadikan Lisbon bersaudara perempuan-perempuan alim yang terkendali. Lux, di atap rumah, melakukan serangkaian hubungan seks dengan berbagai laki-laki.
Setelah ditarik dari pergaulan, suatu malam, putri-putri keluarga Lisbon mengundang remaja-remaja lelaki yang kemelit dengan kehidupan mereka untuk mendatangi rumah mereka. Bagi para lelaki muda itu, Lisbon bersaudara telah menyiapkan kejutan; hampir secara simultan keempat perempuan muda ini mencoba bunuh diri dengan berbagai metode. Hanya satu yang bisa diselamatkan dari antara mereka, meskipun seperti Cecilia, ia akan menemukan jalan kematiannya sendiri.
Virgin Suicides yang telah diterjemahkan ke dalam 16 bahasa dan menjadi bestseller di berbagai negara ini adalah karya debutan penulis Amerika, Jeffrey Eugenides. Pria kelahiran Detroit, Michigan, 8 Maret 1960, yang bersama keluarganya kini menetap di Princeton (New Jersey) ini kemudian dikenal luas sebagai peraih Pulitzer Prize for Fiction tahun 2003 untuk novel memoar fiktifnya yang bertajuk Middlesex.
Jeffrey Eugenides
Secara garis besar isi novel hanyalah usaha pengungkapan penyebab tindakan bunuh diri putri-putri keluarga Lisbon. Sekitar dua dekade setelah semua putri keluarga Lisbon tewas, beberapa lelaki (remaja pada waktu kejadian) melakukan investigasi kematian misterius itu; melakukan banyak wawancara dan mengumpulkan sejumlah bukti. Rumah keluarga Lisbon telah dijual, Ronald dan istrinya telah meninggalkan East Side, bahkan telah bercerai. Hasil investigasi tersebut dijalin dengan pengalaman dan pengamatan semasa remaja, dituangkan dalam sebuah laporan dengan koleksi nama yang banyak dan berbagai bukti (barang bukti #1 sampai #97). Barang bukti tersebut terdiri atas artikel koran, foto-foto rumah dan keluarga, buku harian Cecilia, barang-barang pribadi putri-putri Lisbon lainnya seperti kosmetik, sepatu basket, lilin, kaca, bahkan bra.
Karena disusun sebagai laporan investigasi, Virgin Suicides menjadi sebuah novel 5 bagian yang kaya akan detail. Tidak heran, layaknya sebuah laporan, Eugenides menggunakan kalimat-kalimat panjang untuk menjelaskan segala sesuatu. Hanya, bisa dikatakan, novel ini adalah 'sebuah investigasi yang gagal'. Pengalaman para investigator di masa remaja, hasil wawancara yang berjibun, dan barang-barang bukti yang ada tidak memberikan jawaban yang pasti untuk misteri kematian putri-putri Lisbon hingga novel berakhir. Bagi sementara pembaca, novel dengan sejumlah pertanyaan menggelitik tetapi tidak memberikan jawaban yang memuaskan mungkin akan sangat mengecewakan.
Secara isi, Virgin Suicides bukanlah novel yang istimewa. Kematian berantai memang akan mengugah keinginan pembaca, tetapi dengan bentuk novel yang unik, tetap novel ini terkesan datar, biasa-biasa saja. Hanya sekelompok remaja yang menua dengan penasaran, dan sekelompok perempuan yang terobsesi dengan kematian dalam plot yang sederhana, tak ada yang berkelok-kelok membingungkan atau menegangkan.
Meski demikian novel yang dibuka dan ditutup dengan kematian Mary Lisbon ini bukan tidak menarik. Selain bentuk penulisan yang unik dan belum pernah saya temukan pada novel-novel penulis lain, yaitu dalam bentuk laporan investigasi; Virgin Suicides juga menggunakan narator yang tidak lazim digunakan, narator orang pertama jamak, kami. Penggunaan perspektif ini mengindikasikan jika investigasi dilakukan oleh lebih dari satu orang yang mengalami masa remaja ketika tragedi Lisbon terjadi. Beberapa nama lelaki itu bisa ditemukan dalam novel, seperti Chase Buell, Peter Sissen, Tom Faheem, dan Tim Winer; tetapi tidak jelas siapa yang benar-benar melakukan investigasi dan menjadi narator novel.
Novel yang terbilang alit ini -edisi Indonesia berkisar 300-an halaman dengan ukuran buku yang tidak besar dan memakai huruf berukuran besar, memang belum semenarik Middlesex, gubahan Eugenides setelahnya. Bisa dimaklumi karena jarak penciptaan kedua karya ini. Virgin Suicides terbit tahun 1993, sedangkan Middlesex tahun 2002, dengan konflik dan jumlah halaman yang jauh berbeda.
Judul novel, Virgin Suicides, diturunkan dari judul lagu band fiktif Cruel Crux, yang menjadi favorit Lux Lisbon, Virgin Suicide (hlm. 247-248). Meskipun, tidak semua putri Lisbon mati dalam keadaan perawan. Lux Lisbon telah kehilangan keperawanannya dan bercinta dengan banyak laki-laki!
Novel pemenang Whiting Award ini telah diadaptasi ke dalam versi film berjudul sama yang diarahkan oleh sutradara perempuan, Sofia Coppola (1999) dengan pemain seperti James Woods (Ronald Lisbon), Kathleen Turner (Mrs. Lisbon), Kirsten Dunst (Lux Lisbon), dan Giovanni Ribisi sebagai narator.
Misteri kematian putri-putri keluarga Lisbon memang tidak terpecahkan. Kendati digambarkan Mrs. Lisbon bersikap keras terhadap putri-putrinya, tidak ada bukti bahwa hal itu menjadi alasan tindakan bunuh diri putri-putrinya. "Semua adalah kombinasi dari banyak faktor,"demikian penjelasan Dr. Hornicker dalam laporannya (hlm. 348 – 349). "Pada kebanyakan orang, bunuh diri adalah seperti permainan rolet Rusia. Hanya satu bilik yang berisi peluru. Pada gadis-gadis keluarga Lisbon, senapan itu terisi penuh. Satu peluru untuk menyiksa keluarga. Satu peluru untuk kecenderungan penyakit genetik. Satu peluru untuk kekecewaan masa lalu. Satu peluru untuk momentum yang tak terelakkan. Dua peluru yang lain mustahil diberi nama, tapi bukan berarti tak ada maksudnya".
Namun, ini pun hanya sebuah teori tanpa alasan medis. "Semua ini tak ada gunanya," kata narator (hlm. 349). "Esensi dari bunuh diri bukan kesedihan atau misteri, melainkan egoisme sederhana. Gadis-gadis itu mengambil alih keputusan yang sepantasnya diputuskan Tuhan. Mereka terlalu berkuasa untuk hidup di tengah-tengah kami, terlalu memikirkan diri sendiri, terlalu bermimpi, benar-benar buta..."
Judul Buku: HORELUYA Penulis: Arswendo Atmowiloto Terbit: Cetakan 1, April 2008 Tebal: 240 hlm; 13,5 X 20 cm Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
HORELUYA: KISAH KEAJAIBAN BIDADARI
Arswendo Atmowiloto bukanlah nama yang asing di dunia fiksi Indonesia. Lelaki kelahiran Solo, 26 November 1948, yang 'gila menulis' ini telah menghasilkan sejumlah karya fiksi seperti novel, cerpen, juga skenario film televisi dan layar lebar. Ia dikenal sebagai penulis serial Imung dan Keluarga Cemara yang pada masanya rutin menghiasi majalah remaja Hai, Senopati Pamungkas, Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku, dan Canting. Dua Ibu dan Mandoblang adalah 2 bukunya yang memenangkan Hadiah Buku Nasional. Menggunakan nama samaran Titi Nginung, Arswendo Atmowiloto menulis sejumlah novel opera seperti dwilogi petinju bernama Yoko; Opera Jakarta dan Opera Jakarta-Hongkong.
Horeluya adalah karya Arswendo Atmowiloto yang usai ditulisnya pada bulan Juni 2007. Sekarang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam novel setebal 240 halaman. Untuk novel ini, Arswendo menghadirkan sebuah keluarga Jawa sebagai wayang ceritanya.
Sepasang suami-istri muda, Johanes Kokrosono (Kokro) dan Maria Ludwina Ecawati (Eca) memiliki seorang anak perempuan bernama Teresa Lilin Sekartaji (Lilin), hampir 5 tahun. Dikelilingi kasih sayang ayah dan bunda serta Paklik Nayarana dan Bulik Ade dalam kehangatan keluarga sederhana, Lilin didiagnosis mengidap penyakit langka, anemia rhesus negatif. Gadis cilik ini membutuhkan donor golongan darah yang sama, padahal bukanlah hal yang mudah menemukan orang dengan golongan darah ini. Jika Lilin tidak mendapatkan donor, ia hanya akan bertahan dalam waktu 3 hingga 6 bulan sejak didiagnosis.
Kokro dan Eca tidak berhenti mengusahakan pengobatan Lilin. Bahkan sampai menjual rumah dua tingkat berpagar bagus hasil kerja keras mereka hampir 1 tahun. Dan tidak menyerah sekalipun Kokro mendadak dipecat dari pekerjaannya sebagai staf promosi pabrik biskuit dan mesti kembali ke pekerjaan lamanya di bengkel leter.
Untuk Lilin, Eca mengikuti misa harian yang diadakan di sebuah gereja Katolik yang dikenal sebagai Gereja Lama. Selesai misa ia akan berdoa di depan patung Bunda Maria di sebuah gua di luar gereja, acap sambil menangis. Apa yang Eca lakukan tertangkap kamera seorang wartawan koran mingguan daerah bernama Adam yang kemudian memberitakan kebiasaan Eca sebagai penyembahan berhala.
Sementara itu, bulan Desember telah berjalan, Lilin ingin merayakan Natal di rumah, dan menginginkan adanya salju. Maka, untuk Lilin, Nayarana, sang paman, mempercepat datangnya malam Natal dengan salju kapas dan drama kelahiran Yesus Kristus. Bagaikan kabar sukacita di malam Natal, malam itu, sebuah kabar baik dibawa oleh Adam, wartawan yang sempat ketakutan pada Naya sehubungan dengan beritanya di koran. Ternyata berita dan foto dari Adam telah beredar di internet. Devi Efendi, seorang warga negara Malaysia, membaca tentang Lilin di internet dan berkenan menyumbangkan darah yang dibutuhkan Lilin.
Kokro dan Eca membawa Lilin ke Jakarta untuk mendapatkan transfusi darah. Sayangnya, setiba di Jakarta, Kokro dan Eca dihadapkan dengan kenyataan getir. Sebuah musibah menimpa Devi membuat perempuan ini tidak bisa menggenapi janjinya. Ada kemungkinan, Devi si calon pendonor darah malah membutuhkan transfusi darah yang sama. Lilin yang membutuhkan donor darah tiba-tiba ingin menyumbangkan darahnya untuk Devi. "Mauuuuu", itulah pernyataan Lilin yang menjadi katalisator bekerjanya keajaiban Tuhan.
Sebagaimana umumnya penulisan novel-novel Arswendo, Horeluya ditulis dengan lancar menggunakan bahasa yang tidak rumit yang mudah diikuti. Kalimatnya tidak semua panjang; terkadang malah pendek-pendek yang hanya terdiri dari satu atau dua kata setiap alinea. Dengan sedikit konsentrasi, buku ini akan selesai dibaca dalam tempo singkat.
Meski sendu, novel ini bukanlah novel pesimis. Novel ini justru memberikan pembelajaran berharga bagi pembaca untuk mengimani kebesaran Tuhan yang bekerja lewat kasih dan pengharapan manusia. Ketika iman manusia bertambah kuat, akan selalu terbuka kesempatan terciptanya keajaiban. Tuhan bisa memanfaatkan apa saja untuk kebaikan. Ejekan terhadap penyembahan Eca kepada apa yang ia imani bukannya menjerumuskan keluarganya ke dalam kesengsaraan tetapi menjadi sarana bekerjanya kuasa Tuhan.
Sering manusia memang tidak mengerti rencana Tuhan. "Karena rencanaNya, bukan rencana kita," aku Kokro (hlm. 97). Tetapi, semestinya apa yang terjadi, seperih apapun dampaknya, menjadi sarana "untuk lebih mendekat padaNya. Untuk lebih memahami dan mensyukuri KasihNya." (hlm. 97).) Ketulusan kasih Lilin untuk menyumbangkan darah yang sangat ia perlukan adalah bentuk syukur akan kasih Tuhan. Dan lihat sendiri, apa yang dialami Lilin kemudian!
Secara keseluruhan, Horeluya adalah novel sederhana yang juga ditulis dengan sederhana. Kita tidak akan menemukan konflik berbelit-belit ataupun yang melibatkan tokoh antagonis yang menyebalkan. Yang menjadi antagonis di sini tidak lain adalah anemia rhesus negatif itu sendiri. Selain itu, semua karakter yang ada terasa wajar, mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari, yang mungkin juga gambaran diri kita sendiri. Bacalah, Anda mungkin melihat diri Anda dalam karakter Eca, Kokro, Nayarana, Ade, atau bahkan Siti.
Tetapi, kesederhanaan, itulah justru yang menurut saya menjadi kekuatan novel ini. Kesederhanaan yang menyentuh hati yang mungkin akan membuat Anda tak menyadari air mata mengambang di pelupuk mata ketika menikmati novel ini!
Seperti yang dikatakan Nayarana (hlm. 235), berhubungan dengan keajaiban yang terjadi dalam novel, novel ini mengajak kita untuk makin mendekat pada Tuhan, dengan segala doa dan upaya kepatuhan serta kesetiaan, karena hanya dengan inilah keajaiban itu mempunyai arti.
Lilin alias Sekartaji ingin menjadi bidadari kendati dalam hidupnya, bagi keluarganya, ia memang telah memperlihatkan 'keajaiban bidadari'. Tetapi, ketika ia menyebutkan kata "mauuuuu", ia lebih jauh memperlihatkan kualitas 'keajaiban bidadari' yang dikenal keluarganya. Ia memperlihatkan kualitas keajaiban bidadari dalam bentuk yang paling tinggi, belas kasih yang menyentuh hati, yang sanggup membaurkan teriakan hore dan haleluya (bahasa Ibrani, berarti Pujilah Tuhan) menjadi HORELUYA.
Judul : LOLITA Penulis: Vladimir Nabokov (1955) Penerjemah: Anton Kurnia Terbit: Cetakan 1, Maret 2008; 529 hlm Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
LOLITA: MANIS GETIRNYA CINTA TERLARANG
Pernah mendengar istilah Lolita atau Lolita Syndrome? Istilah Lolita menggambarkan tentang perempuan muda yang dewasa/matang secara seksual sebelum waktunya Sedangkan Lolita Syndrome adalah keadaan di mana seorang dewasa, umumnya lelaki, tertarik secara seksual kepada anak-anak pada masa pubernya; kondisi ini juga disebut efebofilia. Kedua istilah ini muncul dari dua karakter utama novel Lolita, novel kontroversial yang ditulis oleh penulis berdarah Rusia, Vladimir Nabokov (1899-1977). Novel ini pertama kali diterbitkan di Paris pada tahun 1955 karena tidak ada penerbit Amerika yang mau menerbitkannya. Ketika akhirnya diterbitkan di Amerika (1958), Lolita masuk daftar bestseller, menjadi novel pertama sejak Gone with the Wind yang terjual 100 ribu kopi dalam 3 minggu pertama diterbitkan.
Kisah dalam novel ini merupakan pengakuan seorang laki-laki efebofil yang namanya disembunyikan di balik pseudonim Humbert Humbert. Ia menulis dalam bentuk memoar yang mengungkapkan latar belakang kejahatan yang dia lakukan dan sempat menghiasi koran-koran pada bulan September 1952. Tulisan Humbert Humbert ini awalnya berjudul Lolita, atau Pengakuan Seorang Duda (Lolita, or The Confessions of a White Widowed Male). Setelah Humbert meninggal, pengacaranya membawa memoarnya kepada seorang editor peraih penghargaan kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul Lolita.
Humbert Humbert lahir di Paris dan tumbuh di Riviera. Di sana dia bertemu Annabel Leigh, bocah perempuan cantik yang lebih muda beberapa bulan darinya. Cinta monyet mereka kandas karena Annabel meninggal dunia akibat tifus 4 bulan setelah pertemuan mereka. Menurut Humbert, pengalaman cinta yang gagal dengan Annabel telah menciptakan ketertarikannya pada gadis-gadis muda berusia antara 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai nymphet (peri asmara).
Dua puluh empat tahun setelah pertemuannya dengan Annabel dia berjumpa dengan peri asmara berusia 12 tahun, Dolores.
Pernikahan Humbert Humbert dengan perempuan bernama Valeria yang mengalami kegagalan ternyata tidak bisa menepis selera ganjilnya pada gadis-gadis kecil. Ketika dia pindah ke Amerika untuk bekerja, penyakit yang menyerangnya secara tak terduga meretas jalan ke rumah seorang janda bernama Charlotte Haze. Dalam sebuah rumah di Ramsdale, New England, ini Humbert menemukan peri asmara yang membuat dirinya mabuk kepayang.
"Dia adalah Lo yang biasa-biasa saja di pagi hari, setinggi seratus lima puluh senti, mengenakan sebelah kaus kaki. Dia adalah Lola saat mengenakan celana panjang longgar. Dia adalah Dolly di sekolah. Dia adalah Dolores pada data isian bertitik-titik. Namun, dalam pelukanku dia adalah Lolita," demikian ungkap Humbert (hlm.15) mengenai kekasih kecilnya.
Bagi Humbert, Lolita adalah titisan Annabel, tak bakal ada Lolita jika ia tidak pernah jatuh cinta pada Annabel di masa kecilnya. Pesona Lolita berhasil menahan Humbert di Ramsdale ketika lelaki setengah baya ini berniat meninggalkan kota kecil itu. Tetapi, untuk meraih si gadis kenes pembangkang ke dalam pelukannya, ternyata tidak gampang. Untuk itu Humbert terpaksa menikahi ibu si peri asmara yang sangat egois. Karena jika tidak, Humbert harus meninggalkan keluarga Haze.
Ada keinginan yang menggoda Humbert untuk mencelakakan Charlotte demi meraih putrinya. Tetapi sebelum niat itu menjadi tindakan, Charlotte tewas dalam sebuah kecelakaan setelah mengetahui kalau Humbert tidak mencintai dirinya dan menginginkan tubuh putrinya.
Peluang terbuka bagi Humbert. Dia meninggalkan Ramsdale, menjemput Lolita di perkemahan musim panas. Dia mengatakan pada Lolita jika Charlotte sedang sakit. Kebohongannya tidak sempat menua. Ketika Lolita tahu, tak ada pilihan lain, dara kecil ini terpaksa mengikuti Humbert menjelajahi berbagai negara bagian. Dalam perjalanan yang memakan waktu ini Humbert akhirnya bisa mereguk kenikmatan dari tubuh molek si peri asmara. Kendati menemukan dirinya bukan lelaki pertama yang menjelajahi tubuh Lolita (Lolita telah melakukan hubungan seks dengan teman sekolahnya), Humbert tidak berniat melepaskan Lolita dan meninggalkan dirinya sendiri. Bahkan pada saat-saat Lolita menghilang dalam waktu-waktu tertentu, Humbert menjadi lelaki tua pencemburu.
Humbert tidak pernah menduga cinta dan kemanjaan yang ia limpahkan pada putri tirinya hanya bertepuk sebelah tangan. Lolita tidak mencintainya. Lolita jatuh cinta kepada seorang lelaki yang diam-diam membayang-bayangi perjalanan mereka, seorang lelaki pedofil yang berniat mendapuk Lolita sebagai bintang film pornonya. Hingga suatu hari, Lolita meninggalkan Humbert tanpa pamit.
Pertanyaannya, apakah Humbert masih akan bertemu lagi dengan Lolita sebelum dia meninggal? Tindakan kejahatan apa lagi yang dilakukan Humbert hingga dia dijebloskan dalam tahanan, tempat dia menuliskan memoarnya ini? Bagian-bagian terakhir novel akan mengungkap segalanya dengan tuntas dan tidak terduga. Humbert tidak pernah tahu, harapannya yang berhubungan dengan penerbitan memoarnya sebagai buku (hlm. 524) telah bisa dilakukan hanya sebulah setelah dia meninggal. Hal itu berhubungan dengan meninggalnya Nyonya "Richard F. Schiller" saat melahirkan seorang bayi perempuan Natal 1952 (hlm. 8,9).
Novel Lolita merupakan sukses monumental yang mengubah kehidupan Vladimir Nabokov. Kesuksesan Lolita membuat Vladimir meninggalkan pekerjaannya sebagai dosen di beberapa universitas Amerika dan hidup sepenuhnya sebagai penulis yang mengantarnya menjadi empu novel dunia, baik dalam sastra berbahasa Rusia maupun Inggris. Sejumlah karyanya yang ditulis dalam bahasa Inggris dialihkannya ke dalam bahasa Rusia, termasuk Lolita yang oleh majalah internasional Time dinobatkan sebagai salah satu karya sastra dunia paling berpengaruh di abad ke-20. Sampai saat ini, Lolita telah dua kali difilmkan; tahun 1962 oleh Stanley Kubrick dan tahun 1997 oleh Adrian Lyne.
Vladimir Nabokov
Lolita adalah 'novel indah yang abadi', demikian pernyataan di sampul belakang novel edisi Indonesia terbitan Serambi. Cap abadi memang pantas melekati novel ini. Hingga kini Lolita masih terus menjadi bahan perbincangan dan menjadi buku laris di berbagai negara. Julukan novel yang indah sangat layak ditempelkan ke novel ini. Lolita memang ditulis dengan indah menggunakan kalimat-kalimat dengan pilihan kata yang memikat yang di banyak tempat terasa lezat nuansa puitisnya. Kalimat-kalimat berbahasa Prancis tampaknya memang disengaja. Humbert Humbert lahir dan besar di Prancis sehingga tidak aneh jika sesekali ia menginsersi bahasa yang ia kuasai dalam memoarnya.
Pada masanya, tema yang diusung Nabokov memang tergolong kontroversial. Tetapi tema seorang laki-laki dewasa yang terobsesi dengan seorang gadis remaja bukanlah tema baru baginya. Dia pernah menuliskan tema ini dalam karyanya yang lain. Sebelum novel ini terbit, seperti disinggung Nabokov dalam novel, pernah terjadi kasus yang mirip pada tahun 1948 (hlm. 494). Sally Horner, gadis 11 tahun, diculik oleh seorang montir berusia 50 tahun bernama Frank La Salle. Sally Horner dibawa berkelana selama 21 bulan dan diyakini melakukan hubungan seks dengan La Salle. Jadi, sejatinya novel ini bukanlah novel fantasi untuk mendorong hawa hafsu lelaki setengah baya terhadap gadis-gadis usia 9-14 tahun. Selain tidak ada penggambaran hubungan seks yang intensif dan blak-blakan yang tidak senonoh, Nabokov hanya membeberkan kenyataan yang bisa terjadi dalam kehidupan manusia. Sekarang penerimaan terhadap novel ini tentu saja menjadi hal yang biasa. Bukankah berita lelaki setengah baya yang terpikat gadis-gadis remaja terdengar familier di telinga kita? Kasus yang melibatkan lelaki setengah baya dengan gadis-gadis usia peri asmata bukan kasus baru di Indonesia. Dalam kehidupan kita saat ini, bukan hal yang sukar untuk menemukan manusia jenis Humbert Humbert dan Lolita.
Dilihat dari isinya, Lolita bisa disebut sebagai novel komedi tragis. Meski kisah birahi seorang lelaki setengah baya yang meledak-ledak kepada seorang gadis puber terkesan menggelikan, novel ini hadir kuat sebagai novel kelam. Jalan hidup yang ditempuh Lolita sebelum dan setelah lepas dari Humbert Humbert adalah jalan hidup yang kelabu, dan tindakan keras yang diambil Humbert Humber dengan pistol di tangannya adalah pilihan mengundang petaka. Tidak ada yang berbahagia di penghujung novel yang rawan. Meski harus diakui, tindakan Humbert mengindikasikan jenis kekuatan cinta yang bisa sangat menyentuh dalam hidup manusia kendati itu cinta terlarang.
Setelah usai membaca novel ini, karakter Humbert Humbert dan Lolita masih terasa hidup dalam jiwa saya. Begitu indah dan begitu intensnya sang novelis menganyam kata dan kisah sehingga kehidupan mereka masih membekas bahkan setelah kisah berakhir.
Pengalaman membaca yang mengesankan, untuk edisi Indonesia, sudah pasti sangat ditentukan oleh kepiawaian penerjemahnya. Saya kira, Anton Kurnia bisa dikatakan sangat berhasil dengan karya terjemahannya ini. Ia sukses membawa novel berusia 50 tahun lebih ini dalam bahasa Indonesia yang hidup, cantik, dan terasa baru. Penerjemah yang juga seorang cerpenis, esais, dan editor ini antara lain telah menghasilkan novel terjemahan seperti Harun dan Lautan Dongeng (Salman Rushdie, 2002), Les Miserables (Victor Hugo, 2006), dan Seorang Sultan di Palermo (Tariq Ali, 2007; bersama istrinya Atta Verin)
Tentu saja tidak ada orang tua yang menginginkan pengalaman Lolita dialami salah satu anggota keluarganya. Apa yang terjadi antara Lolita dan Humbert Humbert bukanlah teladan yang baik. Tetapi, kenapa kisah ini mesti dituliskan? '"Lolita" seharusnya membuat kita semua –para orangtua, pekerja sosial, pendidik- meningkatkan wawasan dan kewaspadaan dalam menunaikan tugas membesarkan generasi yang lebih baik dalam sebuah dunia yang lebih aman', demikian penjelasan John Ray, si penyunting memoar Humbert Humbert (hlm. 11). Karena, "Bocah pembangkang, ibu yang egois, maniak yang penuh nafsu –semua ini bukan hanya tokoh-tokoh yang kuat dalam sebuah kisah yang unik: mereka memperingatkan kita terhadap kecenderungan-kecenderungan yang berbahaya, mereka menunjukkan kejahatan-kejahatan yang mungkin terjadi." (hlm. 11).
Lima puluh tahun lebih telah berlalu sejak Lolita pertama kali diterbitkan, tetapi ternyata waktu telah kekal mengawetkan keindahan novel ini. Bacalah, saya merekomendasikan novel ini bagi yang belum pernah membacanya!