<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< July 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, July 26, 2008
CHILDREN OF THE LAMP #1




Judul Buku: The Akhenaten Adventure (Children of the Lamp #1)
Penulis: P. B. Kerr (2004)
Penerjemah: Utti Setiawati
Penyunting: Akmal N. Basral & Fahmi
Tebal: 13,5 X 20 cm; 416 hlm.
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Penerbit Matahati


KISAH ANAK-ANAK LAMPU: PARODI FIRAUN BIDAH


Konon, jin adalah makhluk supranatural yang paling menarik. Kendati tinggal di tengah manusia sejak awal zaman, hanya sedikit manusia yang benar-benar melihat jin. Jin yang muncul pertama kali dalam mitologi Arab, disebut sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan dari api lembut. Jin, katanya, diciptakan bersamaan dengan saat Tuhan menciptakan manusia dari tanah. Sebagian manusia mengganggap jin sangat jahat dan percaya jika jin menghabiskan hidup untuk menunggu seseorang membebaskan mereka dari dalam wadah tertutup seperti botol atau lampu. Padahal keduanya tidak sepenuhnya benar.

Menurut sejarah jin yang diurai P. B. Kerr, penulis serial Children of the Lamp, jin terbagi dalam 4 suku: Ghul, yang tidak dapat dipercaya dan suka berubah bentuk; si'la, yang culas seperti Ghul dan memiliki bentuk yang tidak konsisten; ifrit, yang biasanya lebih tua, lebih kuat, lebih cerdas dari jenis jin lain dan bisa berkelakuan baik atau jahat; shaitan, jin jahat yang memiliki kemampuan membujuk manusia untuk berbuat jahat. Suku shaitan dipimpin oleh Iblis, yang dulunya pernah tinggal di surga dengan malaikat. Ketika dituntut Tuhan untuk bersujud di hadapan manusia, Iblis memberontak dan diusir dari surga.

Dibanding manusia, jin memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Kekuatan tersebut diberikan Tuhan untuk menguji jahat-baiknya si jin. Jika jin bersikap jahat, manusia punya cara untuk mengatasinya. Salah satu cara yang populer adalah menjebak jin ke dalam tempat yang membuat mereka terkurung dan hanya bisa dibebaskan manusia, botol atau lampu. Jika manusia membebaskan mereka, jin akan menghadiahi tiga permintaan yang pasti terwujud.

Lewat Children of the Lamp, P. B. Kerr menghidupkan kisah para Jin dalam nuansa dongeng mutakhir. Para jin yang menjadi pengguna ponsel ini tidak lagi mesti tinggal dalam botol sebelum dibebaskan manusia. Mereka memiliki kehidupan yang baik dan bisa melanglang buana kapan saja. Hanya mereka kerap terserang penyakit turunan, yaitu klaustrofobia, gara-gara 'trauma' terjebak dalam lampu atau botol. Untunglah ada obat untuk mengatasinya, pil arang. Sebagai penjaga semua keberuntungan di alam semesta, jin tetap bisa memberikan manusia tiga permintaan. Bahkan, hanya dengan mendengar  manusia berharap sesuatu dan jin tersentuh, harapan itu akan menjelma nyata. Masalah permintaan dalam dunia jin diatur oleh protokol yang disebut The Baghdad Rules.  

Berbeda dengan sejarah jin, Kerr memilah dunia jin ke dalam 6 suku dan bukannya 4. Mereka terdiri atas marid, jinn, jann, ifrit, syaitan dan ghul. Kerr juga menyatakan jika Iblis adalah jin paling kuat dari suku Ifrit (bukan syaitan). Ketika diberi pilihan untuk memilih kebaikan atau kebatilan, marid, jinn dan jann memilih kebaikan, sisanya memilih kebatilan. Suku-suku jin yang jahat �ifrit, syaitan, dan ghul- melakukan hal-hal yang mengerikan. Tidak hanya kepada sesama jin, tapi juga kepada manusia.

Selain itu dalam dunia jin, Kerr menciptakan apa yang disebut homoeostatis, yaitu keseimbangan antara kebaikan dan kebatilan yang diukur menggunakan alat seperti jam bundar besar yang disebut tuchemeter. Ketika jin jahat melakukan tindak kejahatan, jarum tuchemeter akan menunjuk ke kiri homoestatis yang berarti keadaan buruk (kanan berarti baik).

Menjadi jin diawali dengan tumbuh dan dicabutnya geraham bungsu pada anak jin. Jika pada manusia, geraham bungsu atau gigi naga tidak mempunyai tujuan yang jelas, pada jin, gigi-gigi itu adalah pertanda kekuatan jin siap digunakan. Begitu gigi naga dicabut, kehidupan jin yang sesungguhnya telah dapat dimulai dan orangtua tidak bisa lagi  mencegah kehidupan jin si anak.

Hal itu dialami sepasang anak kembar bernama John dan Philippa Gaunt pada hari pertama liburan musim panas ketika mereka berusia 12 tahun. John dan Philippa adalah anak dari Edward Gaunt, seorang bankir investasi tajir dan baik hati yang tinggal di New York. Meski berpenampilan jelek, Edward dikaruniai istri yang cantik. Layla, sang istri, adalah jin perempuan yang bertangan dingin. Tetapi, kendati kehidupan mereka bahagia, keduanya tidak bisa menepis takdir. Sudah takdir dalam dunia jin, jin perempuan yang menikahi manusia akan melahirkan anak-anak jin, dan jin laki-laki yang menikahi manusia hanya akan menurunkan anak-anak manusia (ternyata jin berjenis kelamin). Hal ini berarti, John dan Philippa tidak bisa menyangkal takdir mereka sebagai jin. Sekalipun Layla telah berjanji kepada Edward untuk membesarkan si kembar sebagai manusia normal.

Ketika dibius total untuk pencabutan gigi naga, John dan Phillipa bermimpi. Dalam mimpi mereka bertemu Nimrod, paman mereka, saudara Layla yang tinggal di London. Nimrod mengundang mereka untuk berkunjung ke London.

Di London, John dan Philippa mengetahui jati diri mereka. Sebagai jin muda, si kembar wajib mendapatkan pelajaran tentang dunia jin lengkap dengan penggunaan api lembut dalam diri mereka sebagai sumber kekuatan. Selain Nimrod, ada Mister Rakshasas, jin penderita agorafobia, yang bisa mengajari seluk-beluk dunia jin. Menurut Nimrod,  pengetahuan dunia jin sangat penting bagi John dan Philippa. Apalagi sudah ada pekerjaan yang menanti mereka  sebagai bagian dari suku Marid. Untuk melatih John dan Philippa, tidak ada tempat yang lebih tepat selain negara gurun Mesir, tempat jin akan selalu berada dalam kondisi terkuat.

Sebelumnya telah terjadi gempa bumi di Mesir yang membuat jarum tuchemeter menunjuk ke arah kiri. Hussein Hussaout, seorang perampok makam yang paling sukses di Mesir, telah menemukan artefak penting bagi dunia jin.

Artefak temuan Hussein adalah peta lokasi makam Akhenaten, raja Mesir dari Dinasti ke-18 yang dikenal sebagai suami Nefertiti. Untuk mendapatkan artefak itu, Nimrod kukuh bersaing dengan suku Ifrit. Ia bahkan menyanggupi permohonan Nimrod untuk mendapatkan 3 permintaan sekalipun sadar hal itu akan mengurangi kekuatan hidupnya. Tentu saja, Iblis tidak mau membiarkan Nimrod mendapatkan artefak tersebut. Ia memiliki teknik sendiri untuk mengalahkan Nimrod. Dan Nimrod beserta si kembar terpaksa mesti kembali ke London, bahkan meretas jalan ke Kutub Utara untuk mempertahankan hidup mereka dan melindungi manusia.

Pertanyaannya, mengapa penemuan makam Akhenaten yang dilahirkan sebagai Amenhotep IV ini menjadi sangat penting bagi para jin seperti Iblis dan Nimrod?

Untuk menjawab pertanyaan ini, P. B. Kerrr memelesetkan sebagian sejarah yang dikenal umum tentang kehidupan Akhenaten dan pemerintahannya.

Seperti diketahui, Amenhotep IV atau Akhenaten, memperkenalkan kepercayaan monoteisme dengan jalan menyingkirkan semua dewi Mesir kuno (Isis, Seti, Anbis, Thoth) dan melakukan penyembahan hanya kepada dewa matahari yang bernama Aten. Revolusi agama yang dilakukan Akhenaten yang membuatnya disebut Firaun Bidah berbuntut kepada hancurnya pemerintahannya. Ia tidak bisa menangkis serangan musuh dan melarikan diri untuk kemudian menghilang tanpa jejak

Oleh Kerr, disebutkan jika kekalahan Akhenaten disebabkan tidak hanya serangan musuh, tetapi juga karena jin-jin yang tidak menyukai Akhenaten. Bahkan, Kerr berhipotesis jika praktik pemujaan dewa matahari ala Akhenaten sesungguhnya adalah pemujaan terhadap kekuatan kolektif 70 jin yang diikat Akhenaten (yang tentu saja, dalam novel ini, tidak benar, jika Akhenaten adalah majikan para jin itu).

Ketika Akhenaten melarikan diri dan menghilang tanpa jejak, diyakini ia telah terkubur bersama dengan 70 jin yang diikatnya. Dengan jumlah yang cukup banyak, wajarlah jika suku Ifrit (yang jahat) dan suku Marid (yang baik) berkompetisi untuk menemukan makam Akhenaten. Yang lebih dulu menemukan, akan menjadi majikan bagi 70 jin yang akan dibebaskan. Berpihaknya 70 jin Akhenaten pada yang jahat, akan mengusik homoeostatis ke dalam keadaan buruk. Akibatnya, berbagai nasib buruk akan menimpa manusia (mundane), masalah dan kecelakaan tak terhindarkan. Keadaan ini akan membuat jin baik seperti suku Marid bekerja lebih keras untuk melawan kekuatan nasib buruk. Pada gilirannya, kerja keras jin baik ini akan mempercepat padamnya kekuatan mereka, mengancam kehidupan mereka, dan kemudian akhirnya menghancurkan kehidupan mundane.

Apakah kebenarannya seperti itu? Penemuan Akhenaten dan jin koleksinya akan menjawab secara mengejutkan pertanyaan ini.

Tak pelak lagi dengan kehidupan jin beserta intrik dan misteri di dalamnya, The Akhenaten Adventure, buku pertama dari serial Children of the Lamp, menjadi sebuah novel yang menarik. Kejutan-kejutan diciptakan dan diolah dengan memikat, kemudian diasimilasikan dengan humor yang menggelitik. Bayangkan, oleh Kerr, disebutkan jika Nimrod pendiri Menara Babel (dalam Injil) sebagai leluhur jin. Disebutkan juga jin suku Ifrit telah menciptakan banyak permainan judi yang merusak manusia dan punya beberapa lusin kasino di Macao, Monte Carlo, dan Atlantic City. Suku Ifrit juga dikatakan telah menyebabkan kebakaran besar di San Fransisco pada tahun 1906 dan menyebabkan ledakan gunung Krakatau tahun 1883 di Indonesia. Belum lagi, mumi Putri Amen-Ra yang diduga menyebabkan karamnya kapal Titanic.

Kehidupan Akhenaten yang diparodikan tidak hanya menjadi bagian yang mengejutkan, tetapi juga menjadi bagian paling penting dari keseluruhan novel. Di seputar kehidupan Akhenaten-lah kisah dalam The Akhenaten Adventure ini berpusar. Untuk memperkuat cerita, Kerr menciptakan hantu Akhenaten. Dan karena jin yang merasuki Akhenaten begitu kuat, saya jadi bertanya, siapakah jin Ifrit yang merasuk ke dalam hantu Akhenaten? Lalu, mengapa jin ini membiarkan dirinya menghilang bersama Akhenaten?


P. B. Kerr

P. B Kerr adalah pseudonim yang digunakan Philip Kerr, penulis kelahiran Edinburgh (1956), ketika menulis serial Children of the Lamp. Dengan nama Philip Kerr, ia telah menulis novel-novel seperti Trilogi Berlin Noir, A Philosophical Investigation, The Second Angel, dan Hitler's Peace. Novel-novel Children of the Lamp yang hak pembuatan filmnya telah dibeli Dreamworks telah terbit sebanyak 4 judul. Masing-masing adalah The Akhenaten Adventure (2004), The Blue Djinn of Babylon (2005), The Cobra King of Kathmandu (2006), dan The Day of the Djinn Warrior (2007). Novel kelima,  Eye of the Forest terbit tahun 2009.

Bagi saya, setelah saptalogi Harry Potter (J. K. Rowling) dan Trilogi Bartimaeus (Jonathan Stroud), Children of the Lamp menjadi serial yang wajib dibaca. Dunia fantasi produk P. B. Kerr yang mengagumkan terasa sayang untuk dilewatkan. Jika dalam serial Harry Potter J. K. Rowling menyebut manusia sebagai muggle, dalam Trilogi Bartimaeus Jonathan Stroud menyebut manusia sebagai comoner, dalam Children of the Lamp, P. B. Kerr menyebut manusia sebagai mundane. Meskipun terkesan mengekor untuk menciptakan istilah baru, ketiga serial ini memiliki kisah dengan keasyikan yang berbeda.

Edisi Indonesia Children of the Lamp #1 ini terbilang tidak mengecewakan karena bahasanya yang enak dibaca. Meski tidak cukup mengganggu, pada cetakan berikutnya, kesalahan cetak sebaiknya dihilangkan supaya kenikmatan membaca lebih terjaga.

 

Posted at 09:15 am by Jody
Comment (1)  

Monday, July 07, 2008
THE ITALIAN SECRETARY



Judul Buku: The Italian Secretary (Sekretaris Itali)
Penulis: Caleb Carr (2005)
Penerjemah: Andang H. Sutopo
Tebal: 296 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Mei 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


MISTERI DARAH YANG TAK PERNAH MENGERING

 

The Italian Secretary ditulis Caleb Carr, seorang novelis dan sejarawan militer Amerika, atas permintaan Jon Lellenberg, U.S. representative dari estate Sir Arthur Conan Doyle. Caleb Carr merupakan salah satu penulis yang diundang estate pencipta tokoh Sherlock Holmes untuk menuliskan petualangan baru bagi Sherlock Holmes dan Dr. Watson yang bertema dan bernuansa dunia gaib pada era Victorian (masa pemerintahan Ratu Inggris, Victoria, 1837 – 1901). Meski tidak yakin Conan Doyle akan setuju, Lellenberg yakin mengajukan The Hound of the Baskervilles sebagai dasar pembenaran dan inspirasi.  

Caleb Carr, kelahiran 2 Agustus 1955, telah menulis novel-novel seperti The Alienist dan The Angel of Darkness yang menampilkan tokoh utama bernama Laszlo Kreizler. Kreizler adalah dokter yang menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan kasus-kasus dengan metode yang berbeda tetapi tidak kalah brilian dengan Sherlock Holmes. 


Caleb Carr

Dalam rangka menghidupkan Sherlock Holmes, Caleb Carr mengambil sejarah kriminalitas yang terjadi di sekitar kehidupan Mary Stuart, Ratu Skotlandia, sebagai latar belakang. Pada tanggal 9 Maret 1566, David Rizzio, guru musik dan sekretaris Mary Stuart, dibantai di depan Mary oleh suaminya, Henry Stuart (Lord Danley) yang berkomplot dengan bangsawan Protestan. Pembunuhan ini sangat penting karena berdampak pada kejatuhan Lord Danley dan menjadi konsekuensi yang serius bagi kelanjutan karier Mary. Awalnya, kisah petualangan baru Sherlock Holmes ini hanya akan disajikan dalam bentuk cerpen, tetapi berkembang menjadi novel.

Mary, Ratu Skotlandia (kiri) dan Rizzio (kanan)

Novel yang terjadi selama beberapa hari di bulan September 'pada tahun ketika kesehatan kerajaan  maupun Ratu berada dalam kondisi yang sulit dibayangkan akan memburuk', dimulai ketika Sherlock Holmes menerima telegram bersandi dari kakaknya, Mycroft Holmes. Dalam karya-karya Conan Doyle, Mycroft muncul dalam 4 cerita yaitu "The Greek Interpreter", "The Final Problem", "The Empty House", dan "The Bruce-Partington Plans". Sherlock Holmes dipanggil untuk membantu memecahkan kasus pembunuhan brutal yang terjadi di Istana Holyrood, kediaman resmi keluarga kerajaan di Edinburgh dan merupakan istana favorit Mary Stuart. Dennis McKay, pekerja Glasgow, dibunuh secara brutal menyusul pembunuhan Sir Alistair Sinclair, arsitek yang bertugas merenovasi sayap istana Holyrood yang terkenal, tempat David dibunuh 3 abad silam. Mycroft menduga kedua pembunuhan ini merupakan bagian dari rencana untuk mencelakakan Ratu Victoria.

Tetapi, kedua pembunuhan ini justru mengingatkan Sherlock Holmes pada kasus pembunuhan  David Rizzio dan mencoba meyakinkan Watson kalau kedua kasus ini memiliki hubungan spiritual.

Di Istana Holyrood Sherlock Holmes dan Watson bertemu dengan berbagai karakter yang berhubungan dengan kehidupan istana. Lord Francis Hamilton, penjaga istana; Hackett kepala pelayan istana bermata satu dengan istri dan Andrew, putranya; Robert Sadler, pengurus taman; Alison Mackenzie, keponakan istri Hackett yang terlibat percintaan dengan William Sadler (Likely Will), saudara Robert yang bekerja sebagai tukang reparasi barang-barang tua. Mereka juga menemukan jika Istana Holyrood secara tidak resmi dijadikan salah satu tujuan 'tour' bagi orang-orang berduit yang ingin bertualang ke tengah kegelapan malam Skotlandia. Dari pamflet yang ada dikatakan bahwa sampai saat itu David Rizzio masih mendatangi lokasi pembunuhannya dan memperbaharui genangan darah yang mengucur dari luka-lukanya. David Rizzio, katanya, akan mencari pria dan wanita Skotlandia untuk melampiskan dendamnya.  

Benarkah kasus pembunuhan Alistair dan Dennis McKay ini berhubungan dengan kasus pembunuhan David Rizzio? Bagaimana dengan darah yang tidak pernah mengering di lokasi pembunuhan David Rizzio? Seiring perguliran plot yang cukup menegangkan, hal ini akan terjawab dengan cara yang sangat meyakinkan.


Istana Holyrood (Holyroodhouse), TKP


Membaca The Italian Secretary kita akan seperti membaca petualangan-petualangan Sherlock Holmes karya-karya Conan Doyle. Caleb Carr terbilang setia dalam mempertahankan karakterisasi yang telah dibangun Conan Doyle. Bahkan, gaya bercerita Caleb Carr tidak lari menjauh dari gaya Conan Doyle. Apalagi Caleb Carr tetap menggunakan Watson sebagai narator.

Novel ini bisa dijadikan konsumsi bagi penggemar Sherlock Holmes yang masih setia merindukan petualangannya kendati penulis aslinya telah tiada. Sampai sekarang, Sherlock Holmes masih terus dihidupkan oleh banyak penulis, dan Caleb Carr adalah penulis dengan kemampuan memadai untuk mengembuskan 'napas kehidupan' baru bagi Sherlock Holmes.

Sebagai seorang sejarawan, dalam latar belakang pendidikan maupun praktik, Caleb Carr bisa disebut sebagai pilihan yang tepat. Latar belakang sejarah dipulungnya menjadi elemen yang membuat novel ini hadir memikat. Memang, plotnya tidak sangat berpilin untuk sebuah novel, tetapi mengikuti usaha dan cara Sherlock Holmes mengungkap kasus dengan cemerlang, tetap membuat novel ini sebagai pilihan yang pas bagi penggemar setia Sherlock Holmes.


Posted at 08:12 am by Jody
Make a comment  

Thursday, July 03, 2008
SHERLOCK HOLMES AND THE BAKER STREET IRREGULARS (THE FALL OF THE AMAZING ZALINDAS)



Judul Buku: Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street (Misteri Kematian Bintang Sirkus)
Judul Asli: Sherlock Holmes and The Baker Street Irregulars (The Fall of the Amazing Zalindas)
Penulis: Tracy Mack & Michael Citrin (Orchard Books, 2006)
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Penyunting: Andhy Romdani
Tebal: 316 hlm; 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Februari 2008
Penerbit: Qanita


Sherlock Holmes mungkin menjadi karakter fiktif yang paling sering dihidupkan kembali lama setelah kematian penciptanya. Padahal sebelumnya pencipta Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930), telah mengakhiri hidup karakter ini. Dalam cerpen "The Final Problem" (The Memoirs of Sherlock Holmes), dikisahkan Sherlock Holmes tewas dalam duel maut dengan lawan paling tangguh dalam karier detektifnya, Profesor Moriarty. Tetapi, atas desakan penggemar, Sherlock Holmes dihidupkan kembali dalam cerpen "The Adventure of the Empty House" (The Return of Sherlock Holmes). Ia menjadi kian terkenal sebagai detektif yang menggunakan metode penulusuran deduktif, pengungkapan detail, dan analisis saintifik dalam investigasi kasus.

Penggemar kisah-kisah Sherlock Holmes akan selalu mengenang tempat tinggalnya sejak tahun 1881 yaitu Baker Street 221 B dengan induk semangnya, Mrs. Hudson. Di tempat ini, Sherlock Holmes menghabiskan tahun-tahun bersama rekannya, Dokter John H. Watson, hingga rekannya ini menikahi Mary Morstan tahun 1890. Oleh Conan Doyle, Sherlock telah dihadirkan dalam 4 novel dan 56 cerpen. Dokter Watson, menjadi narator utama kisah-kisah petualangan Sherlock Holmes.

Seperti disebutkan sebelumnya, Profesor Moriarty adalah lawan Sherlock Holmes yang paling tangguh. Ia seorang lelaki berpendidikan tinggi dengan kecakapan alami dalam bidang matematika. Pada usia 21 tahun, profesor jenius ini menulis risalah tentang teorema binomial yag mengantarkannya sebagai profesor matematika di sebuah universitas Inggris. Sayangnya, ia memiliki kecenderungan bersikap kejam yang membuatnya dipaksa meninggalkan jabatan. Ia pindah ke London dan menjadi otak dari sejumlah kasus pemalsuan, perampokan, dan pembunuhan yang terjadi tanpa pernah tertangkap (The Memoirs of Sherlock Holmes).

Dalam "The Final Problem", Sherlock Holmes menggambarkan Profesor Moriarty sebagai lelaki bak pertapa dengan tubuh kurus tinggi, bahu bungkuk, wajah pucat yang tercukur bersih, dagu menonjol keluar, dahi yang amat menonjol sehingga membentuk lengkungan, sepasang mata yang amat tenggelam ke dalam serta selalu menoleh ke kiri dan ke kanan bagai seekor reptil sedang mengawasi sekelilingnya.

Lama setelah Sherlock Holmes dan Profesor Moriarty disudahi oleh Conan Doyle, Tracy Dawn Mark dan Michael Peter Citrin, sepasang suami-istri, melakukan kolaborasi guna menghidupkan kedua karakterf fiktif itu. Tracy Mark adalah seorang editor eksekutif di lini buku anak dan remaja Scholastic Press (NY), telah menulis novel Drawing Lesson dan Birdland. Sedangkan Michael Citrin bekerja sebagai asisten pengacara di New York City. Keduanya sepakat mengaku sebagai penulis.

Lewat Orchard Books (imprint dari Scholastic, Inc.), Tracy dan Michael menciptakan kisah petualangan Sherlock Holmes yang baru dalam novel berjudul Sherlock Holmes and the Baker Street Irregulars (The Fall of the Amazing Zalindas). Novel yang ditargetkan untuk pembaca berusia 9-12 tahun ini berisi kasus pertama dari serial Sherlock Holmes and the Baker Street Irregulars (Laskar Jalanan Baker Street) ala Tracy dan Michael.


Laskar Jalanan Baker Street adalah sebuah geng anak jalanan yang menjadi mata dan telinga Sherlock Holmes di jalanan. Mereka tinggal di gudang pabrik terbengkalai di pinggiran Baker Street yang mereka sebut Kastel dan membantu sang Master dalam banyak sekali kasus. Tetapi, hanya sedikit sekali disebut-sebut dalam kisah yang diceritakan Watson (hlm. 20). Karenanya, dalam 'Pendahuluan' (hlm. 21), oleh seorang anonim dari Inggris, hal ini dianggap sebagai kelalaian yang memalukan dan membutuhkan koreksi. Oleh karena itu, sudah saatnya Laskar Jalanan Baker Street tampil di permukaan. Lewat novel yang tidak ditulis dengan Watson sebagai narator.

Mengapa Tracy dan Michael memusatkan perhatian kepada Laskar Jalanan Baker Street? Dalam wawancara imajiner Sherlock Holmes dan Michael-Tracy, Michael menyebut alasan bahwa dirinya telah menjadi penggemar Sherlock Holmes sejak berusia 11 tahun. Ia selalu bertanya-tanya mengapa laskar ini hanya disinggung dalam 2 cerpen dan 2 novel dari keseluruhan kisah tentang Sherlock Holmes (hlm. 23-24). "Kami ingin membuat Laskar Jalanan tampil dan lebih dikenal", demikian kata Michael. Untuk itu, ia berkolaborasi dengan istrinya menulis novel ini, pada saat dalam kapasitasnya sebagai editor, Tracy sadar tidak ada serial misteri tradisional untuk anak-anak.

Oleh pasutri ini, disebutkan kalau Laskar Jalanan Baker Street terdiri dari 12 orang. Mereka adalah Wiggins, si pemimpin dengan seekor musang bernama Shirley; Ozzie (Osgood Manning), anggota baru; Rohan; Alfie (Elf); Elliot (Stitch); Alistair; Barnaby; Fetcher; Simpson; James; Peter; Shem (hlm. 277-278). Sayangnya, keberadaan mereka hanya disebutkan begitu saja. Setelah disinggung sedikit dalam bab 2, selanjutnya (kecuali Ozzie, Wiggins, Rohan, Alfie, dan Elliot), yang lain seolah-olah tidak ada. Dalam bab 26 mereka tampil hanya secara tersirat. Bahkan dalam cerita, kita tidak akan menemukan nama Alistair. Ia hanya muncul pada bagian lampiran. Mengapa Tracy dan Michael sampai melakukan pengabaian yang tidak perlu ini? Padahal menurut Tracy, "Kami terus-menerus membolak-balik draf naskah, menulis ulang, hingga kami berdua puas" (hlm. 24). Dan, catat, Tracy seorang editor!

Kisah petualangan dalam novel ini mengambil seting bulan September 1889. Jika dihubungkan dengan karya asli Conan Doyle, berarti terjadi sekitar 2 tahun sebelum duel maut Sherlock Holmes dengan Profesor Moriarty di Air Terjun Raichenbach (The Final Problem) yang terjadi 4 Mei 1891. Diceritakan pada waktu itu, kelompok Sirkus Grand Barboza sedang tampil di Taman St. John London. Pada malam musim gugur yang dingin, tim akrobat tali yaitu Walenda Bersaudara yang Mengagumkan (Wolfgang, Werner, Wilhelm), terjatuh gara-gara tali akrobat mereka putus. Mereka tewas dan menjadi catatan kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah bisnis pertunjukan.

Sherlock Holmes meminta Wiggins dan kawan-kawan untuk mencari informasi di seputar Sirkus Grand Barboza. Pilar, anak peramal yang mampu membaca gerak bibir, memaksa untuk membantu. Dari penyelidikan mereka diketahui bahwa pelempar pisau bernama Zoloft membenci Walenda Bersaudara. Sebenarnya Walenda Bersaudara terdiri atas 4 orang. Tetapi si bungsu, Cesar Walenda, seorang pemuda tampan dan lemah, telah kabur dengan Penelope, asisten yang dicintai Zoloft. Informasi lain yang mereka temukan menyebutkan jika Keluarga Terbang Jones, artis-artis trapeze, diuntungkan atas kematian Walenda Bersaudara.

Tetapi, tidak hanya itu. Simultan dengan penyelidikan Holmes, diketahui bahwa sebelum tewas, Walenda Bersaudara mulai menjauhkan diri dari anggota sirkus lain. Mereka mulai akrab dengan seorang penjual tali. Beberapa hari sebelum malam naas itu, Walenda Bersaudara (termasuk Cesar) pergi bersama Penelope. Ada yang melihat waktu mereka kembali ke Taman St. John bersama si penjual tali. Cesar dan Penelope tidak pernah terlihat sejak saat itu. Dalam penyelidikan, Ozzie berhasil mengetahui jati diri si penjual tali.

Sebelum malam kematian Walenda Bersaudara, terjadi pencurian di Istana Buckingham. The Stuart Chronicle (Kronik Keluarga Stuart) yang berumur lebih dari 2 abad hilang dalam sebuah pencurian yang ganjil. Padahal, buku yang dikenal sebagai penuntun pemerintahan ini sangat berharga. Konon, tidak hanya karena rahasia di dalamnya, tetapi juga karena sampul buku ini dilapisi emas padat dan bertatah batu-batu mulia paling langka. Untuk menyelidiki kehilangan ini, Ratu Victoria meminta kesediaan Sherlock Holmes.

Pertanyaannya, adakah hubungan antara peristiwa tewasnya Walenda Bersaudara dengan hilangnya The Stuart Chronicle?

Sebagai novel yang didasarkan pada seting dan karakter ciptaan penulis lain ada hal-hal yang mesti mendapatkan perhatian khusus. Konsistensi dengan imajinasi penulis asli tentu saja harus dipertahankan sebaik-baiknya. Menurut saya, Alexandra Ripley, penulis novel Scarlett, melakukan dengan baik ketika menghidupkan kembali karakter-karakter ciptaan Margaret Mitchell dalam Gone With the Wind.

Dalam novel karya Tracy dan Michael ini, meski disingkirkan sebagai narator novel, Watson diceritakan mengikuti jalan penyelidikan. Jadi, pada tahun 1889 ini, Watson benar-benar mengetahui tentang Profesor Moriarty, si Napoleon Kejahatan (Napoleon of Crime). Padahal, dalam "The Final Problem" yang berseting tahun 1891, melalui percakapan Sherlock Holmes dan Watson, terungkap jika Watson belum pernah mendengar nama Profesor Moriarty. Memang, Conan Doyle sendiri pernah melakukan inkonsistensi soal pengetahuan Watson yang bertalian dengan Profesor Moriarty. Dalam "The Valley of Fear", yang berseting sebelum "The Final Problem" tetapi terbit belakangan, digambarkan jika Watson pernah mendengar soal Profesor Moriarty sebagai 'the famous scientific criminal'. Hanya, inkonsistensi yang dibuat Conan Doyle masih terbilang ringan dibanding yang dilakukan Tracy dan Michael yang tidak berhati-hati. Kalau begitu besarnya kasus kematian Walenda Bersaudara dan raibnya The Stuart Chronicle, tidak mungkin Watson tidak mengenal Profesor Moriarty dalam "The Final Problem" pada tahun 1891 kan?

Selain itu, karakterisasi Profesor Moriarty agak melenceng dari yang dibuat Conan Doyle. Jelas-jelas Sherlock Holmes mengakui ketangguhan Profesor Moriarty sebagai aktor intelektual serangkaian kejahatan. Holmes sempat mengatakan pada Watson akan memilih pekerjaan yang lebih enteng ketimbang sebagai detektif jika berhasil mengalahkan Moriarty. Tetapi dalam novel ini Profesor Moriarty tidak dihadirkan sebagai aktor intelektual dan terkesan 'kurang berpengalaman'. Bayangkan, Profesor tersohor yang dikagumi Holmes soal kejahatannya ini diceritakan tidak tahu apa sesungguhnya The Stuart Chronicle. Mungkin, hal ini bisa disebut sebagai 'pelecehan' terhadap musuh terbesar Holmes.

Hal yang tampaknya tepat soal karakter Profesor Moriarty adalah penggambaran fisiknya yang kurus dan tinggi (hlm. 224) serta mata, kening, dan kesan umum yang dihadirkannya (hlm. 226). Sayangnya, ilustrasi isi sangat jauh dari gambaran yang diberikan. Coba lihat gambar pada halaman 251. Di situ, oleh ilustratornya (Randi Irawan dan M. Esnaini), Profesor Moriarty digambarkan botak dan sangat gemuk.

Menghidupkan Laskar Jalanan Baker Street sebagai bagian paling penting dalam pemecahan kasus-kasus besar Sherlock Holmes terkesan berlebihan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena duo penulis hendak menonjolkan tokoh anak-anak dalam novel konsumsi anak-anak. Hanya, kesan yang ada, seolah-olah setiap ada kasus besar, laskar tunawisma-yatim piatu inilah yang sangat diperlukan Sherlock Holmes. Penyingkiran Watson terkesan mengada-ada. Simak perkataan Wiggins, "Pekerjaan detektif yang kita lakukan membuat penampilan Watson terlihat buruk. Itulah sebabnya dia tidak menulis lebih banyak tentang kita dalam cerita-ceritanya," (hlm. 64). Atau penuturan Ozzie, "Selain itu, dia (Watson) sedikit iri karena Master membutuhkan kita. Sejauh yang kuketahui, Master bahkan tidak mengajak Watson memecahkan kasus-kasus besar karena dia tidak dapat menyimpan rahasia."

Tetapi, terlepas dari kejanggalan-kejanggalan yang ada, dilihat sebagai novel yang berdiri sendiri, Sherlock Holmes and The Baker Street Irregulars (The Fall of the Amazing Zalindas) adalah sebuah novel yang bagus dan enak dibaca. Khususnya untk penambahan karakter Ozzie, tampaknya dirancang dengan baik.  Ia dihadirkan sebagai pekerja magang di kantor duplikat dokumen Oxford milik Jack Crumbly karena kasus kali ini akan berhubungan dengan pekerjaannya.

Membaca novel ini, dalam setiap bab, kita akan menemukan sebuah huruf berukuran lebih besar dan lebih tebal dari huruf-huruf lain. Jika dijadikan satu, kita akan menemukan misteri lain, yang kemungkinan, mengarah pada kisah petulangan Sherlock Holmes dalam "The Final Problem". Setelah novel berakhir, kita disuguhkan dengan hal-hal seperti Ilmu Menarik Kesimpulan ala Sherlock Holmes yang diambil dari cerpen "The Adventure of the Blue Carbuncle" (The Adventures of Sherlock Holmes), cara membuat bahasa slang berima ala Cockney, glosarium bahasa slang yang digunakan dalam novel, dan Pelajaran tentang Seni Penyamaran Khas Detektif.


Posted at 01:37 pm by Jody
Comment (1)  

Monday, June 30, 2008
A SPOT OF BOTHER


Judul Buku : A Spot of Bother (Bintik Gatal)
Penulis: Mark Haddon (2006)
Penerjemah: Ferry Halim
Tebal: 588 hlm; 13 X 20 cm(HVS)
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

 

  'BINTIK-BINTIK GATAL' KELUARGA MASA KINI

 
Nama Mark Haddon menjadi sangat dikenal dalam dunia literatur internasional setelah ia menulis novel dewasa pertamanya, The Curious Incident of the Dog in the Night-Tim (edisi Indonesia, KPG, 2004) yang terbit tahun 2003. Novel itu ditulis untuk segmen pembaca dewasa, tetapi juga menghunjam pasar anak-anak. Bahkan, novel itu memenangkan lebih dari 17 penghargaan, termasuk Whitbread Book of the Year (2003) dan Commonwealth Writers' Prize Overall Best First Book (2004). Sebelumnya, lelaki kelahiran Northampton, 26 September 1962, yang juga seorang penyair, ilustrator, dan penulis skenario ini telah menulis belasan buku anak-anak.

Tiga tahun setelah sukses novel dewasa pertamanya, Mark Hadon, peraih berbagai penghargaan untuk karya-karyanya, kembali dengan novel dewasa kedua bertajuk A Spot of Bother yang pertama kali terbit pada September 2006. Novel ini diedisi-indonesiakan oleh Penerbit Serambi dengan judul Bintik Gatal, merupakan hasil terjemahan yang apik dari Ferry Halim.

Kisah dalam novel ini dipicu ketika George Hall, seorang pensiunan industri manufaktur, sedang mencoba setelan hitam sebelum upacara pemakaman seorang rekannya. Dikisahkan bahwa George pada usia 57 tahun telah memasuki masa pensiun. Ia tinggal di rumahnya di Peterborough yang dihuninya dengan Jean, istrinya, sambil menyibukkan diri dengan membangun sebuah pondok di kebunnya.

Pada waktu mengepas celana setelan itu, ia melihat segumpal daging berbentuk bulat telur di pinggulnya, berwarna lebih gelap ketimbang kulit di sekitarnya dan agak bersisik. Seketika George panik, dan mendiagnosis sendiri jika ia terkena kanker. Sejak saat itu George menjelma seorang hypochondriac sejati. Ia merasa tidak puas, tertekan dan terusik dengan jejas itu. Padahal menurut George, rahasia kepuasan hati terletak pada pengabaian terhadap banyak hal secara menyeluruh. Namun ternyata, jejas yang ditemukannya itu tidak bisa diabaikannya begitu saja.

Sementara jejas itu menimbulkan kepanikan dalam diri George, putrinya, Katie, datang mengumumkan pernikahannya. Katie, seorang janda dengan satu anak laki-laki, Jacob, akan menikahi Ray, seorang duda yang oleh Jamie, adik Katie, dikatakan memiliki sepasang tangan 'tukang cekik'. Baik George maupun Jean, tidak menyukai teman kumpul kebo Katie ini.

Sebenarnya, Katie sendiri tidak tahu pasti apakah ia benar-benar mencintai Ray atau hanya sekadar menyukai kebaikan Ray. Ray memang menyayangi Jacob dan menyediakan rumahnya untuk Katie dan Jacob bernaung. Tetapi Katie belum bisa menampik ajakan minum kopi dari Graham, mantan suaminya. Ketika  Ray memergoki pertemuan itu, ia sangat cemburu dan meninggalkan rumah. Pernikahan mereka pun terancam batal

Mengetahui Katie akan menikah, Jamie yang adalah seorang homoseksual, menjadi gusar. Ia bingung dengan keputusan Katie. Oleh karena itu, ia tidak bisa memastikan diri untuk hadir. Bahkan, jika mungkin, ia harus mencegah pernikahan itu. Tony, kekasih gay Jamie, merasa kecewa karena Jamie tidak bermaksud membawanya ke pernikahan Katie. Menurutnya, hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi, dan ia memutuskan mengakhiri hubungan cinta. Tentu saja, Jamie panik karenanya.

Sementara itu, Jean, istri George, diam-diam, berbulan-bulan telah berselingkuh dengan David Symmonds, mantan rekan kerja George. Terbuai dengan cinta David, Jean  masuk dalam petualangan seks yang menggairahkan dengan duda tua itu. Di sela-sela pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar dan pekerja paruh waktu di sebuah toko buku, ia menghabiskan waktu bertemu dan mendapatkan kenikmatan jasmani dari David. Hingga suatu hari, George menyaksikan sendiri perselingkuhan istrinya, di tempat tidurnya sendiri. George yang masih belum lepas dari kekacauan pikiran akibat jejas di pinggulnya, makin bertambah kacau pikirannya.

Apakah yang akan terjadi dengan rencana pernikahan Katie? Apakah Katie benar-benar akan menikahi Ray? Bagaimana nasib percintaan senja Jean dan David? Lalu, apa yang akan terjadi dengan cinta Jamie? Semuanya akan terjawab pada bagian-bagian akhir novel yang mengundang senyum ini.

A Spot of Bother adalah sebuah novel komedi-psikologis keluarga masa kini. Kesan komikal berawal dari George dan kerumitan pikirannya merespons 'bintik gatal' di pinggulnya. Kendati dokter menyatakan jejas itu hanya sejenis eksem sehingga George tidak perlu kuatir berlebihan, tidak mudah untuk George menerima. Kerumitan pikiran dan perasaan gara-gara penyebab yang bisa dikatakan sepele ini (George tidak akan mati gara-gara bintik gatal, dengan krim steroid toh sembuh juga) mengingatkan saya pada karakter Jonathan Noel (satpam bank, 53 tahun) dalam novel Die Taube/Paranoid karya Patrick Süskind (Dastan Books, 2007). Kedua novel ini mengisahkan lelaki tua yang kehilangan akal sehat gara-gara hal sepele. Jika George gara-gara sebercak eksim (yang sekali lagi tidak susah dihilangkan), Jonathan Noel karena seekor merpati yang muncul di depan kamarnya. Tetapi, tentu hanya sebatas itu saja, karena konflik psikologis George lebih kental terasakan dalam jumlah halaman yang lebih banyak.

Sebenarnya, tidak hanya George yang punya 'bintik gatal'. Hanya 'bintik gatal' George memang kasatmata dan kita tidak heran ketika ia memutuskan untuk mengguntingnya. Sementara 'bintik gatal' Jean, Katie, dan Jamie tercermin dari kehidupan mereka sendiri. Bagi Jean, hubungan cintanya dengan David adalah 'bintik gatal'-nya. Bagi Katie, ketidakpastian cintanya pada Ray adalah 'bintik gatal'-nya. Sedangkan bagi Jamie hubungan cinta sejenisnya dengan Tony adalah 'bintik gatal'-nya. Bintik-bintik gatal itu mengembangkan pergulatan psikologis yang diramu dengan asyik oleh Mark Haddon, sang penulis. Seiring dengan perguliran plot, ketika waktunya tiba, kita melihat, bahwa semua bintik gatal yang tergaruk itu akan dipulihkan dan sesungguhnya semua itu bukanlah hal yang perlu terjadi. Seperti pikiran Geogre, "Sudah saatnya menghentikan semua omong-kosong ini."


Mark Haddon

Kisah dalam novel ini, oleh Mark Haddon dibentangkan menggunakan perspektif orang ketiga, dengan mengalirkan ceritanya dari kehidupan masing-masing anggota keluarga Hall. Kejadian-kejadian yang dialami keluarga Hall dipaparkan menggunakan 'mata' karakter George, Jean, Jamie, dan Katie secara bergantian. Efeknya, pemahaman pembaca mengenai pikiran dan perasaan masing-masing karakter merespons setiap kejadian menjadi kaya. Memang, dengan gaya seperti ini, plot novel seolah-olah merayap lambat dan perjalanan menuju klimaks terasa gemulai. Tetapi, hal ini tidak mengurangi daya tarik novel. Haddon adalah pencerita asyik yang mampu mengikat dan menghanyutkan pembaca hingga penghujung novel tanpa harus tersiksa untuk menamatkannya. Awalnya, saya memang agak ragu untuk segera bisa menamatkan novel ini, tetapi ternyata setelah memulainya, setiap selesai satu bagian, langsung buru-buru ingin masuk ke bagian berikutnya.

Tanpa berupaya menyodorkan ide-ide raksasa seperti dalam Da Vinci Code atau The Dante Club, cukup dengan ide-ide sederhana yang tanpa kita sadari bisa terjadi dalam kehidupan kita, Haddon telah menciptakan pesona tersendiri.


Posted at 06:50 am by Jody
Comments (3)  

Tuesday, June 24, 2008
HARRY AND THE WRINKLIES



Judul Buku: Harry and the Wrinklies (Harry dan Geng Keriput)
Penulis: Alan Temperley (1997)
Penerjemah: Hidayat Saleh
Tebal: 336 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Mei 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


   SAATNYA ANAK KECIL JADI PAHLAWAN


Nama lengkapnya Eugene Augustus Montgomery Harold Barton, biasa dipanggil Harry. Orangtuanya yang kaya raya lebih suka menghabiskan hidup dengan melancong ke mancanegara ketimbang tinggal di London. Hanya 2 kali setahun mereka muncul di London, memanjakan Harry, berpesta, kemudian pergi lagi. Harry dipercayakan pada pengurus rumah tangga yang sekaligus diharapkan bisa merawat Harry, Lavinia McSrew. Meski dibayar mahal, Lavinia tidak menjalankan tugasnya. Ia menilap uang belanja, menjual barang-barang berharga  milik keluarga, dan terutama, memperlakukan Harry dengan kejam. Harry menjulukinya Gestapo Lil.

Suatu hari di awal liburan musim panas, orangtua Harry dikabarkan meninggal karena kecelakaan. Kata Gestapo Lil, mereka meninggal dalam keadaan bangkrut. Ketika cerita kian bergulir, saya menduga kematian mereka ada hubungannya dengan tokoh-tokoh antagonis novel, tetapi ternyata tidak. Penulis hanya mengatakan bahwa, "Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, rincian tentang kecelakaan itu, tidak Harry ketahui sampai bertahun-tahun kemudian." (hlm. 12). Harry tidak merasa kehilangan orangtuanya. Ia memang tidak mengenal mereka.

Karena rumah Harry akan dijual,  Gestapo Lil mengirim Harry ke rumah bibi-bibinya, Bridget dan Florrie. Maka, Harry meninggalkan London, pergi ke pedesaan, tempat Lagg Hall, rumah para bibi berada.

Harry menyangka, kehidupan di desa yang diawalinya pada liburan musim panas itu akan membosankan. Tetapi, ia keliru. Bibi Bridget dan Florrie menyambut kedatangannya dengan antusias. Mereka adalah bibi-bibi tua yang ceria dan eksentrik. Keduanya memiliki sejarah hidup yang menarik. Bibi Florrie bahkan menyambut Harry dengan mengemudikan mobil tuanya dengan kecepatan hingga 220 km/jam.

Selain kedua perempuan renta itu, Harry juga bertemu manusia-manusia renta menyenangkan dengan berbagai keahlian. Ada Dotty Skylark yang mahir memanjat. Hunggy Bear yang jago gulat. Fisher Peterman yang ahli membobol kunci. Angus McGregor yang piawai melakukan pemalsuan. Maxim Beauguss si jago tipu. Dan Autolycus yang pintar sulap. Bersama Bibi Bridget, sang pemimpin, dan Bibi Florrie si tukang ngebut, mereka membentuk komplotan perampok yang menamakan diri Geng Keriput. Mereka merampok bank, kemudian seperti Robin Hood, menyalurkan hasil rampokan kepada pihak yang membutuhkan.

Segalanya tampak menyenangkan, hingga di penghujung liburan musim panas, tiba-tiba Gestapo Lil datang ke pedesaan. Ketika Harry mesti masuk sekolah, bagaikan diatur, Gestapo Lil menjadi gurunya. Ternyata Gestapo Lil telah bertunangan dengan Kolonel Percival Bonaparte Priestly, pemilik Felon Grange. Kolonel Priestly adalah seorang hakim pengadilan tinggi yang pernah menjebloskan Bibi Bridget ke penjara di masa lalu.

Akhirnya, pihak Lagg Hall maupun Felon Grange menjadi saling memata-matai. Masing-masing ingin ingin tahu rahasia satu sama lain. Maka, tak terelakkan lagi, Harry pun mengalami petualangan yang mendebarkan. Bersama-sama dengan Geng Keriput, Harry siap menyingkapkan kebobrokan kedua penghuni Felon Grange.

  Harry and the Wrinklies adalah novel (anak-anak) karya Alan Temperley, seorang guru bahasa Inggris lulusan Universitas Edinburgh, yang terbit pertama kali tahun 1997. Novel ini telah diadaptasi menjadi serial televisi berjudul sama yang diproduksi tahun 1999-2002. Alan Temperley yang juga dikenal sebagai penulis karya-karya seperti The Magician of Samarkand; The Brave Whale; Murdo's War; The Huntress of the Sea telah melanjutkan petualangan Harry dalam Harry and the Treasure of Eddie Carver (2003).

Ketika mengetahui konflik dalam novel ini, sebelum selesai, saya sudah bisa menebak akhir dari kisah di dalamnya. Sudah jelas jika Harry bisa menamatkan ulah Gestapo Lil dan kekasihnya. Tetapi saya dibuat penasaran bagaimana Harry dan Geng Keriput bisa mengalahkan keduanya. Alan Temperley sudah merancang apa yang akan terjadi dengan sebaik-baiknya. Dan mungkin, seperti saya, Anda juga akan bersorak penuh kelegaan ketika kedua begundal itu berhasil dipecundangi.

Dengan alur yang tidak rumit dan karakter-karakter yang tidak mudah dilupakan berseting pedesaan Inggris Harry and the Wrinklies menjadi bacaan dengan kadar humor memadai yang cocok untuk keluarga. Edisi Indonesia yang dikerjakan Hidayat Saleh enak dibaca, meski ada yang bikin saya bertanya-tanya. Pada bab 25 (hlm. 253), Harry diceritakan pergi ke tempat pengintaian bersama Bibi Florrie larut malam tanggal tiga belas (13) Desember. Padahal sebelumnya (bab 24) sudah Hari Natal. Selanjutnya, hari berikutnya disebut  Malam Tahun Baru (hlm. 256). Siapakah yang abai? Penulis atau penerjemahnya?


Posted at 10:20 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, June 21, 2008
THE JANISSARY TREE




Judul Buku: The Janissary Tree (Dalam Bayangan Pohon Yenicheri)
Penulis: Jason Goodwin (2006)
Penerjemah: Zia Anshor
Penyunting: Anton Kurnia
Tebal: 479 hlm; 13 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

 

JIKA SEORANG KASIM MENJADI DETEKTIF TANGGUH


 
Pesona Istanbul mengusik Jason Goodwin, seorang penulis dan sejarawan Inggris, ketika ia mempelajari sejarah Bizantium di Cambridge University. Setelah sukses dengan karya berjudul A Time For Tea: Travels in China and India in Search of Tea (1990), bersama Kate, istrinya, Jason Goodwin menjelajahi Eropa Timur selama 6 bulan hingga tiba di Istanbul. Pengalaman ini diramu menjadi sebuah buku berjudul On Foot to the Golden Horn (1993) yang memenangkan John Llewelyn Rhys/Mail On Sunday Prize tahun 1993. Daya pikat Turki Usmani di Eropa Timur mendorong Jason Goodwin melanjutkan penelitiannya. Maka, lahirlah Lords of the Horizons: A History of the Ottoman Empire (1998) yang mendapatkan pujian dari koran New York Times. Tidak cukup hanya karya nonfiksi, Jason Goodwin kemudian memutuskan merambah dunia fiksi. Akhirnya, lahirlah novel perdananya yang diberi judul The Janissary Tree pada tahun 2006, di mana ia menghidupkan kembali Istanbul  pada abad ke-19 dengan segala keeksotisannya. Novel ini mencatat kesuksesan, telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 38 bahasa dan memenangkan Edgar Award untuk Novel Terbaik tahun 2007.


Jason Goodwin

Dalam novel ini, Jason Doodwin menciptakan dan memperkenalkan karakter hero yang tidak konvensional. Yashim Togalu, seorang kasim terpandang pada masa pemerintahan Sultan Mahmut II. Menurut pengakuan Jason Goodwin, Yashim telah menunggu-nunggu untuk dihidupkan dalam halaman buku sampai ia mendapatkan satu latar masa yang tepat, Istanbul 1836. Lalu, atas dorongan Daisy Goodwin, Jason memutuskan untuk menggunakan pendekatan kisah detektif dengan latar Kesultanan Usmani. Orang-orang terdekatnya membantu dari berbagai sisi. Dari saran agar novelnya menggunakan pendekatan kisah detektif, penyesuaian cerita dan dialog, sampai pada  menghindari kegagalan kesinambungan cerita. Dari segi kostum dan adat-istiadat abad ke-19, Jason mendapatkan bantuan dari film adaptasi novel Little Dorrit oleh Christine Edzard.

Dikisahkan setelah mengabdi di harem sultan, dengan gelar sang lala atau sang pelindung, Yashim bertugas menyelidiki masalah-masalah yang terjadi di Kesultanan Usmani. Sebagai kasim, apa yang terjadi pada Yashim masih lebih baik dari kasim-kasim berkulit hitam dari Sudan, termasuk Kislar Agha, pimpinan kasim saat itu, yang tidak hanya dikerat buah pelirnya, tetapi semua alat reproduksinya.

Di awal The Janissary Tree diceritakan Yashim menghadap sang seraskier, komandan angkatan darat kesultanan Usmani yang disebut Garda Baru. Sampai novel berakhir, kita tidak akan menemukan nama sebenarnya dari sang seraskier. Sang seraskier yang dalam pandangan Yashim lebih layak mengenakan serban, lebih suka memakai pakaian seragam peperangan modern ala Prancis.

Pada saat dipanggil, Yashim baru kembali dari Krimea, menyelidiki kondisi bangsa Tartar yang telah jatuh dalam kekuasaan orang Kazak (Rusia). Bangsa Tartar Krimea yang dikenal sebagai pejuang tangguh, telah menjadi tidak disiplin, dan akhirnya takluk oleh orang Kazak. Menurut sang seraskier, orang-orang seperti bangsa Kazak-lah yang membuat Garda Baru diperlukan oleh kesultanan Usmani. Kenyataannya, Garda Baru yang ditempa oleh pelatih Eropa, tidak bisa melawan Mesir dan Yunani. Hanya satu catatan kemenangan mereka. Kemenangan yang tidak mereka peroleh dari medan perang, kemenangan saat mereka menghabiskan pendahulu mereka, Korps Yenicheri.

Korps Yenicheri dibentuk sejak abad ke-14 untuk menjadi pasukan andalan kesultanan Usmani. Dalam bahasa Turki, mereka disebut yeniçeri yang berarti "pasukan baru". Mereka berasal dari anak-anak lelaki Kristen yang terpilih dari pajak manusia, dipaksa meninggalkan keyakinan mereka untuk menjadi mesin perang melawan Eropa. Pada tahun 1453, mereka telah berperan dalam penaklukan Konstantinopel (Istanbul), ibu kota kekaisaran Byzantium, oleh Sultan Mehmed yang menandakan runtuhnya kekaisaran Byzantium. Dari awalnya sebagai pasukan elit sultan, Korps Yenicheri menjelma mafia bersenjata yang petantang-petenteng di jalan-jalan Istanbul, menciptakan teror, kerusuhan, penjarahan, dan pemerasan tanpa tersentuh hukum. Mereka juga menciptakan kebakaran guna mendapatkan keuntungan, karena saat itu memadamkan kebakaran adalah tugas rangkap mereka. Berbagai usaha untuk memberantas korps ini gagal, bahkan pada tahun 1618 mereka membunuh Sultan Osman yang menentang mereka.  

Yenicheri memiliki kebiasaan berkumpul di bawah sebatang pohon chinar yang tumbuh di lapangan terbuka Ameidan. Di bawah pohon itu, mereka berbagi keluhan dan rahasia serta merencanakan pemberontakan. Dan pada cabang-cabang pohonnya, mereka menggantung mayat orang-orang yang menentang mereka.

Sebagian besar dari anggota Yenicheri menganut Karagozi, aliran yang percaya bahwa ada berbagai cara mengabdi kepada Allah dan mengikuti Nabi Muhammad. Meski salat di masjid, mereka berkumpul dan beribadah di tempat yang disebut 'tekke'. Bergaya islami, tetapi mengabaikan Quran, bahkan membaurkan misteri dan tahayul dalam keyakinan mereka.

Setelah 300 tahun berjaya, pada malam 16 Juni 1826, mereka dihancurkan oleh pasukan Garda Baru yang baru didirikan. Pada hari yang kemudian dikenang banyak orang sebagai 'Saat Kejayaan' itu, ribuan Yenicheri tewas secara mengenaskan.

Yashim dipanggil sang seraskier, sebab tidak lama lagi sultan akan mengadakan peninjauan. Selain bertujuan melihat perkembangan latihan Garda Baru, sultan akan mengeluarkan maklumat untuk mengadakan reformasi di kesultanan. Sang seraskier ingin peninjauan sultan sukses agar Garda Baru bisa meraih kepercayaan rakyat dan sultan. Tetapi, ada kejadian yang mengganggu, yang tidak bisa ditolerir sang seraskier. Empat perwira Garda Baru, pemuda-pemuda cakap terpilih, menghilang dari barak. Seorang ditemukan tewas dalam sebuah belanga besi besar berkaki tiga. Orman Berek, begitu identitas korban, ditemukan dalam keadaan tidak berwajah, terpapas habis dari bawah dagu hingga di atas alis.

Untuk itu, sang seraskier minta pertolongan Yashim yang sepulangnya dari Krimea, sedang tidak terikat dengan pekerjaan lain. Yashim diharapkan bisa menemukan 3 prajurit lain di Istanbul, kota terbesar di dunia yang berpenduduk 2 juta jiwa.

Di dalam penyelidikan Yashim, di berbagai tempat, sembari menemukan kematian demi kematian yang mengenaskan, ia menemukan jejak-jejak Yenicheri. Juga seiring dengan investigasinya, mayat demi mayat ditemukan. Berdasarkan gagasan sahabatnya, Stanislaw Palewski, duta besar Polandia untuk Sublime Porte, yang dilihat dari lokasi penemuan mayat, Yashim menemukan pola pekerjaan si pembunuh.

Sebuah pertanyaan mengusik Yashim, apakah setelah dihancurkan 10 tahun lalu, sisa-sia Korps Yenicheri melakukan pembalasan dendam, mengingat korbannya anggota Garda Baru? Atau adakah motif lain? Jika demikian, siapa sesungguhnya yang membunuh 4 anggota Garda Baru itu? Apakah Graf Potemkin, atase muda Rusia, dengan siapa ke-4 anggota Garda Baru itu terakhir terlihat ada hubungannya dengan pembunuhan ini?

Sementara itu, dalam Istana Topkapi, tempat sultan bersemayam, seorang gözde, dara jelita yang terpilih untuk menemani Sultan, ditemukan tewas dan permata-permata milik Validé Sultan, sang ibu suri, yang dikenakannya lenyap. Masalah bertambah, pertanyaan pun bertambah. Apakah pembunuhan ini ada hubungannya dengan hilangnya dan tewasnya keempat prajurit Garda Baru?

Setelah berbagai peristiwa terjadi, bahkan sampai mengancam kehidupan Yashim, misteri pembunuhan anggota Garda Baru dan si gözde jelita akan tersingkap pada bagian-bagian akhir novel, memberi jawaban bagi pembaca yang mungkin telah menebak-nebak sejak awal. Menyusul penyingkapan ini, kita akan dikejutkan dengan gagasan 'pembedahan' untuk mengenyahkan 'sumber penyakit' dari salah satu tokoh novel.

The Janissary Tree tak pelak lagi hadir sebagai novel thriller dengan misteri beraroma politik dalam lingkup kesultanan Usmani. Ia memiliki keunggulan-keunggulan sendiri yang menobatkannya sebagai novel brilian yang layak dibaca. Keeratan Jason Goodwin dengan sejarah dan budaya Turki berhasil menciptakan seting novel yang cemerlang, bermuatan kisah detektif dengan investigasi mendebarkan yang dipadukan dengan fakta-fakta sejarah. Ke dalamnya, penulis mengimbuhkan kisah asmara berbumbu seks yang tak terbayangkan (bayangkan bagaimana caranya kasim memuaskan hasrat seksual perempuan), cinta terselubung gundik sultan yang beraroma lesbian, kekerasan seksual seorang kasim, dan persahabatan yang tidak biasa dalam racikan humor memadai.

Jason Goodwin juga memiliki keprigelan dalam hal karakterisasi. Semua karakter yang dihadirkan dengan mudah bisa dibayangkan di benak pembaca. Meski ada yang berpendapat bahwa deskripsi karakter akan mengganggu imajinasi pembaca, saya suka dengan cara Jason Goodwin menggambarkan karakter-karakternya. Coba baca bagaimana dia menggambarkan Yashim; Palewski; Sultan Mahmut II; sang seraskier; Validé Sultan; Eugenia, istri duta besar Rusia, Nikolai Derentsov;  atau Preen, seorang penari köçek.

Novel ini menjadi terkesan unik karena ditulis oleh penulis non-Turki dengan pengetahuan sejarah Turki yang matang. Jason Goodwin memang bukan Orhan Pamuk (novelis Turki yang menulis novel misteri gemilang berseting Turki abad ke-16, Benim Adim Kirmizi -Namaku Merah Kirmizi), tetapi ia bisa membentangkan lanskap Turki di masa lampau dengan mumpuni. Kita bisa melihat kedekatan batinnya dengan masa lampau Turki di dalam pelukisannya tentang jalan-jalan, masjid, menara, kedai kopi, istana, harem, dan hammam, bahkan hingga pada busana, masakan, dan tarian darwis.

Akhirnya, oleh Jason Goodwin, petualangan Yashim Togalu telah mantap dijadikan serial. Setelah The Janissary Tree, kita akan menemukan kiprah Yashim dalam novel Goodwin selanjutnya, The Snake Stone (2007) dan The Bellini Card (2008).


Posted at 01:08 pm by Jody
Comments (2)  

Friday, June 20, 2008
GERHANA KEMBAR

 


Judul buku: Gerhana Kembar
Penulis: Clara Ng
Penyunting: Hetih Rusli
Tebal: 368 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Desember 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

CINTA TAK MENGENAL JENIS KELAMIN


Lesbianisme bukanlah isu asing di jalan kepengarangan Clara Regina Juana, atau lebih populer dengan nama Clara Ng. Sejak novel pertamanya, Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), Clara telah mengembuskan isu ini ke dalam novel-novel dewasanya. Di dalam novel pertamanya ini, kita bisa membaca percintaan sesama jenis yang dilakoni oleh tokoh Iris dan Phoebe dan di sini untuk pertama kalinya, Clara menyatakan bahwa 'cinta tidak mengenal jenis kelamin' (hlm. 201). Selanjutnya, Clara menyenggol-nyenggol masalah lesbianisme dalam novel seperti Indiana Chronicle-Bridesmaid (GPU, 2005), Dimsum Terakhir (GPU, 2006) dan cerpen Rahasia Bulan (kumpulan cerpen LGBT berjudul sama, GPU, 2006).  Menurut Clara, tema ini adalah tema yang sensitif dan malas disentuh oleh para penulis Indonesia. Pendapat yang sebetulnya patut dipertanyakan, mengingat sebelumnya telah terbit karya-karya dengan tema serupa. Sebut misal, Mira W, penulis roman prolifik Indonesia, yang pernah menjadikan isu ini sebagai tema utama novelnya, Relung-relung Gelap Hati Sisi (GPU, 1983). Atau Garis Tepi Seorang Lesbian karya Herlinatiens (Galang Press, 2003) yang cukup melelahkan dibaca. Belum lagi, Alberthiene Endah dengan novel Detik Terakhir (Jangan Beri Aku Narkoba..., GPU, 2004) dan Dicintai Jo (GPU, 2005).  Lagi pula, apa enaknya kalau tema ini hadir menjadi tema utama dalam banyak karya para penulis Indonesia, meski bertujuan memberikan 'literatur sastra yang memvalidasi hidup, cinta, dan dunia' para lesbian?

Gerhana Kembar adalah novel Clara ke-9 yang bertema lesbianisme, yang, sesuai pengakuannya (Dari Meja Clara Ng) ditulis setelah kerja dan riset yang teliti. Sebuah kegembiraan bagi Clara, karena untuk pertama kalinya, novelnya berhasil menjadi cerita bersambung di harian Kompas (Oktober 2007-Januari 2008). Dan sebelum masa tayangnya, ternyata Gerhana Kembar, telah diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (terbit Desember 2007).

Gerhana Kembar berkisah tentang Diana, perempuan penghujung 60-an, yang tengah sekarat di rumah sakit karena kanker. Sembari menghitung-hitung sisa hidupnya, Diana teringat seorang yang sangat dicintainya, seorang bernama Selina.

Sementara Diana tergoler di rumah sakit, Lendy, cucu semata wayang Diana, menemukan sebundel naskah tua dan potongan-potongan surat di dalam lemari baju neneknya, saat mencari akta kelahiran sang nenek. Di dalam naskah tua yang bertajuk 'Gerhana Kembar' itu, Lendy membaca kisah cinta seorang guru TK bernama Fola Damayanti, dengan Henrietta, seorang pramugari GIA. Naskah itu ditulis oleh penulis berinisial F.D.S yang kemudian diketahui Lendy sebagai Felicia Diana Sutanto, neneknya.

Sebagai editor buku di sebuah penerbit berkelas seperti Altria Media, Lendy terkejut menemukan kisah cinta tidak biasa yang ditulis dengan bagus. Semakin larut dalam naskah itu, Lendy semakin yakin bahwa kisah yang ditulis neneknya itu adalah sebuah kisah nyata. Lendy bertanya-tanya, sebenarnya, siapakah Fola Damayanti dan Henrietta?

Dikisahkan, setelah berpisah 3 tahun Fola bertemu Henri yang tidak bisa berhenti mencintainya (tahun 1963, hlm. 115). Ada ketidaktelitian soal tahun, seharusnya 2 tahun, karena mereka bertemu terakhir kali tahun 1961 ketika Henri mencium Fola (bab 4). Fola telah menikahi Erwin, seorang dokter, dan saat itu dalam keadaan hamil. Henri berniat mengajak Fola untuk hidup bersama dengannya di Paris. Tetapi, keinginan Henri tidak bisa terwujud kendati Fola sudah bersedia mengikutinya. Terjadi peristiwa yang menjadi penghalang bersatunya cinta mereka. Pertama, Eliza, anaknya yang berusia 6 tahun memintanya untuk  tidak meninggalkannya, dan kedua, Erwin, suami Fola diketahui menderita kanker paru-paru. Setelah kematian Erwin, Fola bisa pergi ke Paris. Tetapi, Eliza, anaknya yang masih remaja, kembali dari Yogyakarta dan mengabarkan kehamilannya gara-gara berhubungan dengan seorang lelaki tak bertanggung jawab (entah kenapa Eliza harus masuk SMA di Yogyakarta, seolah-olah Jakarta tidak punya SMA yang bagus).

Kisah dalam naskah tua 'Gerhana Kembar' berakhir saat Henri menunggu kedatangan Fola di Bandara Charles de Gaulle, dan Fola tidak pernah menampakkan diri.

Selanjutnya, Lendy mengetahui kalau naskah tua itu diletakkan di lemari neneknya dengan maksud supaya Lendy menemukannya. Karena naskah tua itu akan memberitahu Lendy sejarah keluarga yang juga menjadi sejarah keberadaannya di dunia. Fola Damayanti adalah Diana, sedangkan Henri adalah Selina. Anehnya, melalui dialog yang ada, Clara menggambarkan bahwa Selina, yang tinggal jauh di Paris, tahu persis di mana naskah tua itu di rumah Diana. Termasuk epilog novel yang ditulis jauh setelah naskah utama 'Gerhana Kembar' yang terdiri atas 11 bab (2 Februari 1982 – 20 April 1982). Apakah Diana mengatakan padanya waktu mengiriminya naskah 11 bab pada tahun 1982? Clara tidak menjelaskan.

Untuk kedua kalinya, setelah Eliza gagal melakukannya, keluarga Diana bermaksud menebus kesalahan masa lalu, mempertemukan dua dewi bulan yang tengah gerhana, Selina dan Diana. Lendy akan ke Paris dan membujuk Selina agar mau kembali ke Jakarta, menengok Diana yang tengah sekarat.

Tetapi, Selina tidak ingin kembali ke Jakarta. Aneh. Kalau cinta Selina begitu besarnya kepada Diana, dan ia mengetahui Diana tidak terikat dengan siapa-siapa –setelah bebas dari masalah Eliza, kenapa ia tidak menemui Diana lagi dan meminta Diana untuk segera menemaninya di Paris? Sebaliknya, kenapa Diana tidak pergi ke Paris mengingat kadar cintanya yang begitu pekat untuk Selina, apalagi setelah Eliza, putrinya, sudah cukup dewasa? Bukankah Selina, dalam suratnya ('Gerhana Kembar' bab 10, 1979), mengatakan bahwa ia membayangkan suatu hari akan membuka pintu apartemennya dan menerima Diana ke dalam kehidupannya, lalu menghabiskan masa tua bersama sambil membiarkan masa lalu tertinggal kelelahan di belakang mereka? Sedemikian terlukanyakah Selina untuk ketidakhadiran Diana dalam hidupnya pada tahun 1980? Sudah tibakah Selina pada batas penantian yang melelahkan? Entahlah.

Gerhana Kembar ditulis dalam bentuk cerita berbingkai. Pertama, cerita tentang Lendy dengan pekerjaannya sebagai editor, kisah cintanya dengan Philip, serta perjalanannya menemukan kebenaran yang tersimpan sekian lama dari dirinya. Kedua, isi naskah tua berjudul 'Gerhana Kembar' yang ditulis Diana. Secara bergantian, dengan urutan yang tidak runtut, kedua cerita itu mengisi novel ini. Teknik penceritaan ini mengingatkan saya pada novel The History of Love karya Nicole Krauss (GPU, 2006). Pada beberapa tempat, penulis menyisipkan potongan-potongan surat yang juga ditemukan bersama naskah tua 'Gerhana Kembar', meski tidak ada penjelasannya.

Seperti novel-novelnya terdahulu, istri Nicholas Ng ini bercerita dengan hidup dan enak dibaca. Tidak sulit mengikuti ceritanya karena ditulis dengan lancar dan seolah-olah tanpa beban. Tetapi, kendati label 'metropop' dicopot dari novel ini, kita akan tetap menemukan atmosfer novel metropop yang kental, genre yang digagas tahun 2004 bersamaan dengan terbitnya novel Indiana Chronicle. Lihat saja kehidupan Lendy, perempuan 27 tahun, sebagai seorang editor yang sibuk, relasinya dengan rekan-rekan kerja perempuan, dan kehidupan cintanya dengan sang kekasih, Philip. Benar-benar bergaya metropop. Tampaknya, sulit bagi Clara untuk melepaskan diri dari genre novel Gramedia ini.

Dalam bercerita, kadang Clara kehilangan kontrol. Coba baca kisah kilas balik Eliza 6 tahun dari perspektif  Eliza 44 tahun (hlm. 230-236). Meski kilas balik ini dituturkan menggunakan narator orang ketiga, jelas cerita ini bergulir dari perspektif Eliza, jadi aneh saja ketika Clara menggambarkan pikiran dan perasaan Diana dan Selina.

Tetapi, saya suka dengan cara Clara menutup novel ini. Bagi pembaca yang saking penasarannya jadi punya kebiasaan mengintip akhir novel sebelum waktunya bisa saja terkecoh.

"Cinta adalah cinta. Dia tidak mengenal jenis kelamin," kata Lendy kepada Eliza (hlm. 237). Pemahaman inilah yang membuat keluarga Diana bisa menerima keberadaan Diana sebagai seorang lesbian. Maka, lewat tokoh Lendy, Clara mencoba mengungkapkan keberpihakannya  yang luar biasa terhadap kehidupan homoseksual. Coba simak dialog antara Lendy dan Philip (hlm. 346) ketika Philip bertanya tentang anak mereka kelak, "Bagaimana jika dia menjadi homoseksual?" Dan inilah jawaban Lendy, "Kita akan terbang ke Kanada atau Belgia, mencatatkan pernikahan anak kita di sana."

Secara keseluruhan, inilah novel bertema lesbianisme yang mengajak pembaca memahami dunia pecinta sesama jenis ini dengan pikiran yang lebih terbuka dan keberpihakan yang kental. Ditulis secara  halus -mengingatkan saya pada Relung-relung Gelap Hati Sisi (Mira W), novel ini dengan indah mendedahkan usaha-usaha manusia dalam upayanya untuk bersijujur dengan diri sendiri, berani memaafkan kesalahan orang lain, dan berdamai dengan masa lalu. Sebuah novel dewasa Indonesia yang  menurut saya, sayang untuk dilewatkan.


Posted at 01:07 pm by Jody
Comment (1)  

Monday, June 16, 2008
THE PENDERWICKS




Judul: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seorang Anak Laki-laki yang Sangat Menarik)
Penulis: Jeanne Birdsall (2005)
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Tebal: 292 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

 
LITTLE WOMEN RASA BARU

 

The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy (Keluarga Penderwick Kisah Musim Panas Empat Kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan Seorang Anak Laki-laki yang Sangat Menarik) adalah judul panjang dari novel anak-anak karya perdana Jeanne Birdsall. Novel yang diterbitkan pertama kali pada Juni 2005 ini telah memenangkan National Book Award untuk Young People's Literature tahun 2005. Setelah sekian lama bekerja sebagai fotografer, impian masa kecil Jeanne Birdsall yang kini bermukim di Northampton, Massachusetts ini untuk menjadi penulis novel akhirnya menjadi nyata.


Jeanne Birdsall

Novel ini (The Penderwicks) merupakan kenang-kenangan dari 4 kakak-beradik perempuan pada sebuah musim panas di masa kecil mereka. Bertahun-tahun telah berlalu, mereka telah dewasa, tetapi pengalaman musim panas ini ternyata tidak dapat mereka lupakan. Ketika itu Rosalind baru berusia 12 tahun, Skye 11 tahun, Jane 10 tahun, dan Batty 4 tahun. Pada waktu kisah dimulai, mereka berada di mobil bersama sang ayah, Martin Penderwick, seorang profesor Botani yang doyan berbicara dengan bahasa Latin, dalam perjalanan menuju Arundel, di Berkshire Mountain. Ikut bersama mereka, seekor anjing besar, kikuk, dan manis bernama Hound. Tentu saja, Elizabeth Penderwick, ibu anak-anak, tidak ikut. Sang ibu meninggal 2 minggu setelah kelahiran Batty. Penulis novel memberi alasan yang menimbulkan pertanyaan lewat penuturan Rosalind (hlm. 43), bahwa Elizabeth meninggal karena kanker setelah melahirkan Batty. Artinya, Batty dilahirkan seorang penderita kanker kan? Kenapa tidak ada penjelasan yang memadai soal ini?

Kisah kakak-beradik perempuan akan selalu mengingatkan pada novel klasik berjudul Little Women (1868) karya Louisa May Alcott yang dalam novel ini, kebetulan, disinggung penulis lewat ucapan Jane (hlm. 29). Bisa ditebak jika buku tentang gadis-gadis keluarga March itu telah memengaruhi kelahiran novel ini. Bahkan, karakterisasi anak-anak Penderwick akan mengingatkan karakter beragam seperti yang dimiliki gadis-gadis keluarga March: Meg, Jo, Beth, dan Amy. Tetapi The Penderwicks jelas berbeda dengan Little Women. Hanya, bagi saya, The Penderwicks adalah Little Women kontemporer, dengan rasa dan keasyikan yang baru.

Karakterisasi yang kuat dan menarik dibubuhkan Jeanne Birdsall ke dalam diri anak-anak Penderwick. Rosalind, si sulung, penengah setiap masalah, bertindak seperti pengganti ibu terhadap saudara-saudaranya, dan mulai digerogoti cinta remaja. Skye, seorang gadis cerdas berdarah panas dan tidak sabaran. Ia digambarkan berbeda secara fisik dengan saudara-saudaranya; berambut pirang lurus dan bermata biru, sementara saudara-saudaranya bermata cokelat dan berambut keriting gelap. Ketika cerita bergulir, diceritakan bagaimana dengan galak  ia menantang orang yang dipandang menghina keluarganya. Jane, seorang tukang khayal yang ingin menjadi penulis kondang. Ia menulis serial jagoan perempuan bernama Sabrina Starr yang menyelamatkan anak burung gereja, kura-kura, dan tikus tanah. Sedangkan Batty, si bungsu adalah anak pemalu yang menjadikan binatang dan keluarganya sebagai target kasih sayang. Ia senang mengenakan sayap kupu-kupu dan tidak pernah bicara dengan orang yang baru dikenalnya sampai ia menemukan kesamaan kegemaran dengan orang itu.

Dalam perjalanan menuju Arundel, Keluarga Penderwick tersesat. Untunglah mereka bertemu Harry, seorang penjual tomat. Harry menunjukkan jalan menuju Arundel dan mengingatkan tentang Mrs. Tifton, si pemilik Arundel yang congkak dan Skye yang dideteksinya sebagai tukang bikin onar. Ternyata Arundel tempat yang luar biasa. Terdiri atas  Arundel Hall, sebuah mansion megah di tengah taman yang apik, dan Arundel Cottage, sebuah vila berwarna kuning mentega di balik halaman belakangnya. Vila inilah yang disewa Mr. Penderwick untuk dipakai selama liburan.

Setelah menempati kamar masing-masing, keempat bersaudari Penderwick siap menghabiskan waktu selama 3 minggu di Arundel. Di sini mereka bertemu orang-orang menyenangkan seperti Cagney, tukang kebun Arundel; Mrs. Churchill (Churcie), koki Arundel yang pintar membuat kue jahe; dan tentu saja, Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel, yang menerima kedatangan Keluarga Penderwick dengan antusias. Tetapi, juga orang-orang menyebalkan yaitu Mrs. Tifton (Brenda), ibu Jeffrey yang secongkak sepatu hak tinggi yang dikenakannya dan pacarnya, Dexter Dupree, penerbit majalah mobil yang ingin menghalau Jeffrey secepatnya dari Arundel. Khusus bagi Batty, ada dua ekor kelinci (Yaz dan Carla) yang bisa menjadi tempat curahan kasih sayangnya.

Rosalind dan adik-adiknya sangat menyukai Jeffrey. Mereka iba karena Jeffrey tidak pernah mengenal ayahnya. Ayah Jeffrey pergi sebelum Jeffrey dilahirkan; kepergian yang mengundang gosip. Kakak-beradik Penderwick semakin bersimpati ketika tahu Brenda menghalangi niat Jeffrey untuk masuk sekolah musik. Brenda ingin Jeffrey menjadi prajurit seperti Jenderal Framley, kakek Jeffrey yang sudah mangkat.

Simultan dengan kedatangan Keluarga Penderwick, Brenda Tifton sedang bersiap-siap mengikutkan tamannya dalam kompetisi Klub Berkebun se-Massachusetts. Ia berharap bisa jadi pemenang tahun ini. Bagi Brenda, anak-anak Penderwick hanya akan bikin kacau dan merusak taman kebanggaannya. Menurutnya juga, anak-anak Penderwick memberi pengaruh buruk pada Jeffrey. Ia menunjukkan secara terang-terangan rasa antipatinya kepada anak-anak Penderwick. Sikapnya yang judes menakutkan dan menjengkelkan anak-anak Penderwick. Jane yang penuh khayal menyebutnya Ratu Narnia yang mengubah semuanya menjadi musim dingin.

Kisah musim panas ini bergulir melewati berbagai peristiwa yang menakutkan Batty ketika Yaz menghilang, menyulut kemarahan Mrs. Tifton atas gangguan anak-anak Penderwick saat kompetisi Klub Berkebun, menyengat kedongkolan Skye atas penghinaan Mrs. Tifton terhadap kehormatan keluarga Penderwick, mematahkan hati Rosalind manakala mengetahui Cagney sudah punya pacar, dan meluluhkan niat Jane untuk menjadi penulis tenar sewaktu karya teranyarnya, 'Sabrina Starr Menyelamatkan Anak Laki-laki', dianggap gagal oleh Dexter. Semuanya mencapai klimaks saat Jeffrey memutuskan minggat dari Arundel Hall.

Apa yang akan terjadi dengan Jeffrey? Apakah liburan musim panas di Arundel ini akan menjadi kenangan yang menyakitkan dalam benak anak-anak Penderwick? Dua pertanyaan ini tentunya akan terjawab pada lembar-lembar terakhir novel setebal 292 halaman ini.

Secara keseluruhan, The Penderwicks adalah sebuah novel yang indah, dan tentu saja, cocok untuk anak-anak. Penggambaran semua karakter novel yang unik menjadi kekuatan novel ini. Belum lagi kelucuan yang ditimbulkan oleh ulah dan pemikiran anak-anak Penderwick. Selain itu, dari kehidupan anak-anak Penderwick banyak hal yang bisa dipetik hikmahnya seperti berupaya menyelesaikan setiap masalah dengan musyawarah (mereka punya agenda yang mereka sebut Pertemuan Besar Penderwick Bersaudara) bersiteguh menjaga rahasia dan kehormatan keluarga; juga bersimpati dan berempati pada kesusahan orang lain. Seperti testimoni di sampul belakang (School Library Journal), alhasil, setelah membaca buku ini, anak-anak Penderwick akan disayangi oleh para pembaca.

Bagi orangtua, The Penderwicks memberikan pelajaran berharga bagaimana harus memperlakukan anak-anak. Tentu saja, orangtua yang baik menginginkan masa depan gemilang untuk anak-anak mereka. Tetapi, belum tentu rancangan masa depan seorang anak dari orangtuanya akan sebangun dengan rancangan masa depan anak itu sendiri. Jadi, orangtua perlu juga mendengar keinginan anak mereka untuk tidak membuat mereka jadi pemberontak dan membenci orang tua sendiri. "Karena orangtua hampir selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi mereka tidak selalu tahu apa yang terbaik," kata Mr. Penderwick (hlm. 233). Selain itu, novel ini juga mendedahkan bagaimana orang tua menghadapi anak-anaknya, memosisikan mereka sebagai sahabat, meminta maaf jika telah mengesalkan mereka, dan memberikan mereka kebebasan yang bertanggung jawab.

Setelah The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy, Jeanne Birdsall menulis sekuel berjudul The Penderwicks on Gardam Street yang terbit pada April 2008. Apakah edisi Indonesianya akan menyusul prekuelnya? Kita tunggu saja.


Posted at 09:10 pm by Jody
Comments (2)  

Wednesday, June 11, 2008
10 THINGS TO DO BEFORE I DIE


Judul Buku: 10 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Aku Mati
Judul Asli: 10 Things to Do Before I Die
Penulis: Daniel Ehrenhaft (2004)
Penerjemah: Maria Intan Ravenska
Tebal: 240 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)

 
 

24 JAM SI BADUT KACANGAN

 
Apakah yang akan kaulakukan ketika secara mendadak mengetahui hidupmu tersisa 24 jam? Bagi Ted Burger, seorang remaja lelaki New York 16 tahun, anak tunggal sepasang orang tua yang sibuk, ada 10 hal yang harus ia lakukan.

Semua berawal ketika Ted Burger menghabiskan waktu pada hari pertama liburan musim semi dengan Mike Singer, sahabatnya, dan pacar Mike, Nikki. Mereka berada di restoran Circle Eat Dinner, tempat Ted menghabiskan sebagian besar waktunya karena kesepian di rumahnya sendiri. Orang tua Ted memang lebih suka menghabiskan waktu dalam perjalanan bisnis daripada mengenal putra mereka dengan baik. Bersama Mark dan Nikki, Ted memesan Paket Circle Eat #5, Burger/Fries Combo. Mark makan burgernya, Nikki acarnya, sedangkan Ted makan kentang gorengnya. Ted memang sangat suka kentang goreng.

"Dude, kau itu biasanya cuma ngomong. Sekali-sekali, ayo pikirkan sesuatu untuk kaulakukan," tiba-tiba di tengah acara makan mereka, Mark angkat bicara. Selain 'dude', Mark suka menyapa Ted Burger dengan nama Burger.

Sudah 4 bulan Ted memacari Rachel Klein. Rachel seorang gadis manis dengan selera tinggi dalam berpakaian, cerdas, dan tergabung dalam organisasi Amnesty International. Ted benar-benar menyukai Rachel kecuali saat Rachel berpikir Ted naksir Nikki, berkesah bahwa Ted terlalu kerap nongkrong di Circle Eat Diner, dan tidak mau melakukan 'itu' sampai ia 'siap'. Pada musim semi ini Rachel terlibat rencana pelaksanaan retreat Amnesty International. Ted telah memutuskan bergabung meski untuk itu ia harus menulis esai.

Secara mendadak, di tengah-tengah perbincangan 'pikirkan sesuatu untuk kaulakukan' itu, Ted merasa tidak enak badan. Mengingat ia juga punya janji dengan Rachel, Ted memutuskan pulang. Tetapi, Mark memaksa Ted membuat daftar 10 hal yang harus Ted lakukan selama musim semi.

Maka lahirlah ide-ide berikut di atas napkin dari meja restoran. Pertama, melepas keperjakaan. Rachel memang tidak mau melakukan 'itu' sampai ia 'siap'. Tetapi, menurut si pencetus ide, Nikki, malam ini ketika Ted bertemu Rachel, adalah saat yang tepat untuk melakukan 'itu'. Padahal, menurut Rachel, berciuman saja harus minta izin terlebih dahulu. Kedua, nge-jam bareng Shakes The Clown. Ted adalah penggemar nomor satu band asal Brooklyn ini dan bisa 'diare mulut' hanya untuk mengoceh tentang mereka. Ketiga, PESTA bareng Shakes The Clown dan keempat, membalas Billy Rifkin. Billy Rifkin adalah duri dalam daging Ted ketika mereka di kelas enam.

Sambil berkutat dengan vertigo, mual, dan tinnitus yang membuatnya mengira menderita penyakit Ménière, Ted bertemu Rachel yang menuduhnya habis mabuk-mabukan. Lalu, ketika ngobrol lewat telepon dengan ayah Mark, Ted malah dibilang hypochondriac (orang yang terlalu mengkhawatirkan kesehatannya). Ted baru mengetahui sesungguhnya apa yang ia alami ketika Mark dan Nikki mendatanginya. Katanya, Leo -tukang masak sinting di Circle Eat Diner- telah meracik sejenis racun dan mencampurnya ke dalam kentang goreng yang Ted makan. Itulah yang membuat Ted sakit, dan menyisakan hanya 24 jam kehidupan baginya.

"Apakah kau pernah benar-benar hidup, Burger?" pertanyaan yang pernah dilontarkan Mark menyengat Ted. Maka, lahir lagi ide-ide selanjutnya. Kelima, lakukan sesuatu yang sangat berjasa. Seperti menyelamatkan bayi dari gedung terbakar. Keenam, benar-benar PERGI ke salah satu negara dunia ketiga yang selalu dibicarakan Rachel dan lakukan sesuatu yang positif DI SANA. (Seperti Nigeria atau mana pun. Tapi secepatnya.). Ketujuh, merampok bank. Kedelapan, melakukan hal sinting, seperti bungee jump dari GW (George Washington) Bridge. Yang diikuti ide-ide kesembilan, memulai agamamu sendiri dan kesepuluh, cari sesuatu untuk dinamakan menurut namamu (seperti taman atau air mancur.).

Apakah Ted bisa melakukan 10 hal yang harus ia lakukan ini? Usai melalui serangkaian kejadian yang membuatnya untuk pertama kalinya benar-benar merasa hidup, apakah Ted benar-benar mati? Apakah Ted benar-benar mengidap penyakit Ménière? Semuanya akan dijawab dengan menarik pada bagian-bagian novel selanjutnya. Yang jelas, setelah jadi Malaikat Penendang Wajah, Ted tahu, Burger yang tidak pernah benar-benar hidup telah menjelma Ted yang benar-benar merasa hidup. Dan simultan dengan transformasi Ted, penulis menyingkap beberapa kebenaran sederhana mengenai cinta Mark-Nikki serta cinta Ted-Rachel dengan manis.

Novel yang oleh GPU dimasukkan dalam kategori TeenLit ini merupakan karya Daniel Ehrenhaft, penulis sejumlah buku anak-anak dan fiksi Young Adult (YA). Lelaki kelahiran Washington (AS) 12 Agustus 1970 ini telah menerima Edgar Allan Poe Award tahun 2003 untuk kategori Best Young Adult Novel berkat novel YA-nya, The Wessex Papers. Selain 10 Things to Do Before I Die, Daniel Ehrenhaft yang suka menggunakan pseudonim Daniel Parker dan Erin Haft telah menulis The Last Dog on Earth, The After Life, Drawing a Blank, Tell it to Naomi, 21 Proms, dan tentu saja 3 volume The Wessex Papers (Trust Falls, Fallout, dan Outsmart).

 


Daniel Ehrenhaft

Bisa dikatakan kalau 10 Things to Do Before I Die adalah sebuah novel YA yang tidak biasa. Meski masih ditulis dengan gaya khas novel YA, novel ini tidak sekedar mengumbar kisah cinta monyet yang kian lama kian menjenuhkan dibaca. Memang masih terdapat kisah cinta remaja di dalamnya, yang untungnya tidak basi, tetapi tema utamanya bukan kisah cinta. Tema utama dalam novel berpusar pada proses kelahiran kembali Ted Burger dari Burger menjadi Ted. Meski, harus diakui, Burger yang belum lahir kembali memang kurang utuh digambarkan. Pernyataan, "Seumur hidup aku berjuang memaksakan aturan di dalam ketidakaturan, untuk membangun dinding rutinitas dan penghalang," (hlm. 225) yang menggambarkan tentang Burger kurang bisa saya pahami setelah membaca seluruh novel.

Namun, 10 Things to Do Before I Die termasuk novel yang mengasyikkan. Menggunakan Ted Burger sebagai narator, Daniel Ehrenhaft menunjukkan dirinya sebagai penulis kreatif yang tidak pernah kehilangan selera humor. Banyak ungkapan-ungkapannya yang menggelitik, metafora yang tidak biasa, dan istilah-istilah yang terasa orisinil (seperti pencandu obat pujian atau diare mulut). Caranya bernarasi terbilang hidup dengan judul-judul per bagian yang unik. Coba simak contohnya: Pecundang Cengeng; Jenis Cowok dengan Pola Pikir Gelas Setengah Penuh; Surga Kebetulan yang Luar Biasa; Dunia Berbentuk Donat; Okeydokey, Artichokeyt; Kematian Seorang Badut. Yang paling konyol, tentu saja, Kematian Seorang Badut yang terdiri atas 3 versi penglihatan yang menurut Ted mungkin dilihatnya ketika mati. Ada-ada saja!!

Daniel Ehrenhaft mendeskripsikan karakter ciptaannya dengan menarik dan jenaka. Sosok Ted Burger diceritakan memiliki suara seperti sepeda tua karatan, berambut brekele, tinggi kerempeng, berjari-jari kayak ranting, jago bikin kacau, tidak gampang percaya, dan badut kacangan. Mark, bermata cokelat liar karena yakin sejak kecil bahwa sesuatu yang tidak biasa dan ajaib bisa terjadi kapan saja dan entah bagaimana ia akan terlibat dalam kejadian itu. Apa yang Ted Burger alami membuktikan kebenaran keyakinan tersebut. Oh ya, saya suka pemikiran cerdas Mark mengenai 'dunia berbentuk donat' dan 'kematian Burger'. Sedangkan Nikki, digambarkan sebagai seorang gadis penyuka warna hitam dan bermata seperti batu onyx yang tenang hingga mirip alien. Pikirannya sangat aktif, selalu memikirkan segala hal dalam-dalam; kejadian dan percakapan yang sederhana sekalipun.

Sebagian besar isi novel berlangsung hanya dalam tempo 1 hari. Di antaranya ada sedikit bagian yang dipaparkan dengan teknik kilas balik. Sisanya, bagian-bagian akhir dan epilog yang diceritakan setelah hari kejadian utama, memakan porsi penceritaan yang tidak banyak.

Dari melimpahnya novel TeenLit terbitan GPU, menurut saya, novel ini adalah salah satu koleksi yang enak dibaca. Dan melihat penggunaan narator yang bergender laki-laki, cara bercerita, serta tema cerita yang inspiratif, mungkin novel ini bisa dinobatkan sebagai TeenLit (YA Fiction) remaja laki-laki, yang kebetulan, ditulis penulis laki-laki.

 

Posted at 03:21 pm by Jody
Make a comment  

Monday, June 09, 2008
WAYS TO LIVE FOREVER


Judul Buku : Setelah Aku Pergi 
Judul Asli: Ways to Live Forever

Penulis: Sally Nicholls (2008)
Penerjemah: Tanti Lesmana
Tebal: 216 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



PERSIAPAN MENJEMPUT AJAL


"Kalian boleh saja sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Kalau kalian selalu sedih waktu memikirkan aku, bagaimana kalian bisa mengingat aku?" adalah hal ke-6 yang diinginkan Sam Oliver McQueen setelah dia pergi alias meninggal. Kalimat itu dipesankan kepada siapa saja yang membaca buku hariannya. Jadi, ketika kita ikut-ikutan membaca buku Sam, Sam mengharapkan kita tidak boleh terlalu sedih. Kendati, mesti diakui, sepertinya, tidak ada pembaca yang tidak akan trenyuh ketika membaca cerita pengalaman, pemikiran, dan usaha Sam menghadapi kematian yang telah berjarak dekat dengan usianya.

Ways to Live Forever merupakan debutan Sally Nicholls, seorang penulis asal Inggris. Sally Nicholls, kelahiran Stockton-on-Tees (Inggris) 22 Juni 1983 menulis novel ini pada saat berusia 23 tahun. Setelah lulus dari jurusan Filsafat dan Sastra University of Warwick, Sally mengambil MA dalam bidang Writing For Young People di Bath Spa University. Di Bath Spa inilah Sally menulis novel yang kemudian memenangkan Waterstone's Children Book Prize tahun 2008. Sally juga telah menyelesaikan novel keduanya yang berjudul The Midnight Hunter dan dijadwalkan terbit awal tahun 2009.


Sally Nicholls

Novel berseting Middlesbrough ini dimulai tanggal 7 Januari dan berakhir tanggal 12 April, berisi kumpulan daftar, cerita, gambar, pertanyaan, dan fakta-fakta, dan, tentu saja, kisah Sam (hlm. 11). "Saat kalian membaca buku ini, kemungkinan aku sudah pergi," tulis Sam (hlm. 13).

Sam Oliver McQueen, anak lelaki berusia 11 tahun tetapi dengan ukuran tubuh yang tidak sesuai, suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis, dan mengidap leukemia. Ia ketahuan mengidap penyakit temuan John Hughes Bennett pada tahun 1845 ini pada umur 6 tahun. Leukemia lymphoblastic akut, demikian jenis leukemia yang diderita Sam; terlalu banyak produksi lymphoblast, sel-sel darah putih kecil. Sampai saat Sam memutuskan membuat buku, ia telah 2 kali menjalani kemoterapi. Setelah terakhir kambuh pada usia 10 tahun, dua setengah bulan kemudian, penyakit Sam kambuh lagi. Maka, Sam mengalami berbagai hal seperti kerontokan rambut akibat kemoterapi, sering mimisan, hidup berkawan dengan Hickman Line, dan membutuhkan serum-serum kuning dan kenyal untuk pembekuan darah.

Penyakit Sam membuat kehidupan dalam rumahnya terganggu. Rachel, ibu Sam, berhenti kerja untuk merawat Sam tetapi seperti suaminya, Daniel, tidak bisa menepis kesedihan karena nasib Sam. Diam-diam, Ella, adik Sam yang berusia 8 tahun juga merasakan kesedihan dalam keluarganya. Keluarga Sam tahu, cita-cita-cita Sam untuk menjadi ilmuwan penyelidik hal-hal seperti UFO dan hantu tidak akan terwujud. Dengan pengobatan, Sam diramalkan akan hidup setahun lagi.

Ketika menginap di rumah sakit selama 6 minggu saat penyakitnya kambuh pertama kali, Sam bertemu dan kemudian bersahabat dengan penderita kanker lain bernama Felix Stranger, 13 tahun. Felix yang berkepala gundul hidup dengan keraguan akan kebaikan Tuhan gara-gara sakitnya. Setelah liburan Natal, 7 Januari, hari pertama Sam dan Felix 'masuk sekolah', Mrs. Willis yang mengajar mereka di rumah, menantang mereka untuk mengarang. Sam menerima tantangan sang guru, dan memutuskan  menulis buku. Sebentuk buku harian.

Di tengah-tengah kegiatan yang ia lakukan; belajar, pengobatan, menghabiskan waktu dengan Felix, Sam menulis bukunya. Di dalam bukunya itu, Sam menghimpun 11 daftar berisi hal-hal tentang dirinya, apa yang ingin ia lakukan, hal-hal yang menjadi favoritnya, kiat-kiat hidup abadi, ritual kematian berbagai bangsa, siapa ayahnya, balon Zeppelin, pertanyaan tentang orang mati, dan apa yang ia inginkan setelah meninggal); 8 Pertanyaan Tak Terjawab yang bertalian dengan kematian; pengalaman-pengalaman; informasi yang berhubungan dengan kematian seperti teori 21 gram dari Duncan MacDougall (1907), juga gambar-gambar; yang semuanya merupakan persiapan Sam menghadapi kematian.

Sebuah pembahasan menyentuh terjadi antara Sam dan Felix ketika membahas pertanyaan yang berbunyi: "Kenapa Tuhan membuat anak-anak jatuh sakit?" Apakah Tuhan ada? Jika ada, apakah Tuhan jahat karena suka menyiksa anak-anak kecil sekedar untuk senang-senang? Apakah Tuhan benar-benar jahat? Ataukah anak-anak jatuh sakit karena dihukum, karena karma? Atau justru sakit itu merupakan hadiah, seperti mendapatkan Karcis-Gratis-Masuk-Surga? Apapun jawabannya, bagi Sam, semua pendapat mereka lebih baik dari pendapat konyol yang mengatakan bahwa seorang sakit dan mati karena, "dia terlalu baik untuk tetap di dunia ini" atau "Tuhan sangat menyayanginya, sehingga ingin membawanya ke surga" (hlm. 50-52).

Suatu  hari, Felix tidak muncul pada jadwal belajar. Ia terkena infeksi, masuk rumah sakit, kemudian akhirnya meninggal. Kepergian Felix menyengatkan pukulan keras bagi Sam yang membuatnya memperdebatkan soal keadilan. Ketika semua obat yang diberikan pihak rumah sakit sepertinya tidak banyak bermanfaat lagi, Sam memutuskan mempercepat waktu kematiannya. "Aku akan bilang pada-Nya waktunya tidak cukup panjang," kata Sam (hlm. 178). "Nanti, kalau aku bertemu dengan Dia." Setelah sekian banyak uang dihamburkan untuk pengobatan dan perawatan Sam, sungguh getir ketika Rachel menanggapi perkataan Sam dengan, "Ya, bilang pada-Nya. Bilang pada-Nya kita ingin uang kita dikembalikan."

Menurut The Concise Oxford Dictionary edisi kesembilan yang dikutip Sam, kematian adalah berhentinya fungsi-fungsi vital dalam suatu organisma secara permanen, akhir kehidupan (hlm. 119), tetapi bagi Sam kematian adalah tahap selanjutnya dalam kehidupan. Ia percaya jika kematian hanyalah perjalanan kembali ke tempat semula manusia berada sebelum dilahirkan, sesuatu yang tidak menjadi masalah bagi Tuhan, karena kematian seseorang berarti kembali ke surga, tempat Tuhan tinggal. Sebuah pemaknaan kehidupan lewat kematian dari sudut pandang anak kecil yang luar biasa tanpa pernah berniat memvonis apa yang ia alami sebagai kesalahan Tuhan. 

Oleh sebab itu, Sam menginginkan upacara pemakaman yang asyik, para pelayat yang tidak memakai pakaian hitam, harus ada cerita-cerita lucu tentang dirinya, dan boleh sedih, tapi tidak boleh terlalu sedih. Si kecil Sam sadar, tidak mungkin tidak akan ada kesedihan ketika seseorang yang disayangi meninggalkan kita, tetapi baginya, kesedihan bisa menghalangi ingatan kita kepada orang yang kita sayangi.

Apakah Sam bisa melakukan semua hal yang ingin ia lakukan seperti dalam daftar no. 3? Ataukah Sam bisa mewujudkan salah satu cara hidup selamanya seperti dalam daftar no. 5? Sebuah angket Rencana Kematian paling ilmiah dalam sejarah versi Felix yang disusun Sam kemudian akan memastikan nasib Sam.

Novel ini tidak ditulis secara konvensional. Teknik penulisan yang pada beberapa tempat bergaya scrapbook mengingatkan pada model penulisan kreatif banyak buku teenlit. Pemilihan model penulisan yang terbilang jitu karena memang jadi lebih sesuai dengan usia Sam McQueen dan menjadi tidak membosankan. Apalagi, meski tidak konvensional, plotnya jelas, bisa diikuti dengan mudah dan enak.

Karena Sam yang menulis masih berusia 11 tahun, Sally Nicholls menggunakan narasi sederhana tidak berbelit. Cara bertutur Sally Nicholls mengingatkan cara bertutur Mark Haddon dalam novel berjudul The Curious Incident of the Dog in the Night Time (2003) yang menggunakan narator anak laki-laki pengidap Asperger Syndrome berusia 15 tahun. Tetapi, keluguan berkisah dari perspektif Sam menghasilkan novel yang kuat dan hidup.  Dengan kepolosan Sam yang pada beberapa tempat uniknya terkesan dewasa, kalimat-kalimat yang dirangkai Sally terkesan cerdas dan menyentuh, terkadang mengiris hati, tetapi juga tak ketinggalan nuansa humornya. Ternyata, di tangan Sally, menjemput kematian, dari perspektif anak-anak, bisa berbeda dan lebih enteng.

Judul asli novel, Ways to Live Forever, rupanya menggunakan judul Daftar No. 5 (yang diindonesiakan sebagai Kiat-kiat Hidup Abadi ). Tetapi, untuk edisi Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama hasil terjemahan Tanti Lesmana, menjadi Setelah Aku Pergi, potongan judul Daftar No. 11 (Hal-hal Yang Kuinginkan Setelah Aku Pergi). Lebih baik daripada edisi Belanda yang berjudul Als je dit leest, ben ik dood (Saat kalian membaca Ini, kemungkinan aku sudah pergi), yang adalah fakta kelima tentang diri Sam pada Daftar No. 1.

Edisi Indonesia memosisikan novel yang keren ini sebagai novel dewasa. Entah apa pertimbangannya. Menurut saya, meski tema yang disodorkan Sally Nicholls agak berat, novel masih bisa dinikmati pembaca berusia lebih muda. Tetapi, kendati menggunakan narator anak berusia 11 tahun, novel ini memang tidak pas untuk masuk dalam kategori novel anak-anak. Bagaimanapun, Sam McQueen adalah produk orang dewasa. Jadi, tidak heran jika si kecil Sam terlihat bisa memandang kehidupan dengan cara yang dewasa. Kalaupun ada anak-anak seperti Sam, mungkin bisa dikatakan jenis anak-anak langka.


Posted at 12:33 pm by Jody
Comment (1)  

Next Page





widgets