<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< August 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, August 02, 2007
DIFFERENT UGLINESS, DIFFERENT MADNESS







Judul Buku: Balada Seorang Penyiar

Judul Asli: L'autre laideur, l'autre folie
(Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: Jonathan Tanner)
Diterjemahkan dari: Different Ugliness, Different Madness
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Teks dan layout: Eduard Iwan Mangopang
Editor: Tanti Lesmana
Tebal : 128 hlm; 6, 5 mm; 19 X 26 cm (Soft cover)
Terbit: Juli, 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


APAKAH PEREMPUAN MERUPAKAN KEAJAIBAN?


Novel grafis adalah jenis komik yang biasanya berisi cerita panjang dan kompleks seperti halnya novel dan sering ditujukan untuk pembaca dewasa. Tapi istilah novel grafis ditujukan juga untuk komik yang merupakan antologi cerita pendek dan koleksi komik berseri.*) Setelah menerbitkan novel grafis seperti Love Me Better- Sebuah Graphic Memoir (Rosalind B. Penfold), Bordir – Embroideries (Marjane Satrapi), Chicken Soup for the Soul Graphic Novel: Hadiah Terindah dan Pelajaran Berharga (Kim Donghwa), V For Vendetta (Alan Moore & David Lloyd, 2007), dan Age of Bronze: A Thousand Ships (Eric Shanower), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan The White Lama - Reinkarnasi ( Bess, Jodorowsky) dan Different Ugliness, Different Madness.

Different Ugliness, Different Madness adalah karya Marc Malés, seorang kreator novel grafis berdarah Prancis. Marc Malés pertama kali menerbitkan karyanya pada tahun 1981 ketika berusia 27 tahun. Ia telah menggambar komik sejak usia 10 tahun, pernah bekerja sebagai petugas layout di sebuah agen periklanan dan membuat ilustrasi untuk Heart Press (majalah cerita romantis di Inggris).

Menurut Marc Malés, novel grafis yang diterjemahkan oleh Rosi L. Simamora dan diberi judul Balada Seorang Penyiar  ini terpengaruh film The Bridges of Madison County garapan Clint Eastwood (dibintangi Clint Eastwood dan Meryl Streep). Marc Malés juga menyebutkan bahwa novel grafis ini adalah realisasi ide mengenai penyiar radio bersuara memikat tapi –ternyata- berwajah jelek dan soal kebohongan dalam dunia hiburan -model yang 'meminjamkan' penampilannya untuk suara penyanyi yang berwajah tidak komersil. Kedua elemen ini dikombinasikan dengan kisah pertemuan lelaki-perempuan yang mengubahkan hidup. Juga menurut Marc Malés, karyanya ini merupakan jawaban untuk pertanyaan "Are women magical?" (Apakah perempuan merupakan keajaiban?) yang ditemukannya dalam film François Truffaut.

Kisah dalam Different Ugliness, Different Madness ini dibuka pada tahun 1952 ketika Ralph Burns mempromosikan bukunya yang berjudul Great Radio Personalities. Buku ini berisi tentang bintang-bintang radio tahun 30-an dan salah satu bab didedikasikan kepada Lloyd Goodman yang telah meninggal lima tahun sebelumnya. Lloyd Gooman adalah salah satu penyiar radio C.B.N. yang sangat populer dan dicintai oleh para pendengarnya, sebelum era maraknya televisi.

Suatu ketika, di puncak popularitasnya, Goodman meninggalkan acara radionya secara tiba-tiba. Kemudian, setelah absen selama hampir satu tahun, suatu malam pada Bulan Desember 1934, Goodman kembali lagi bekerja sebagai penyiar radio.

Apa yang terjadi dalam hidup Goodman selama meninggalkan acara radionya akan dijabarkan dalam kisah yang dielaborasi dari sudut pandang Helen Ford, perempuan berusia 78 tahun yang sedang sekarat karena kanker.

Merasa sudah mendekati akhir hidupnya, Helen mengajak Linda, putrinya, mengunjungi sebuah stasiun kereta api yang pernah ia singgahi 50-an tahun yang lalu. Dari stasiun kereta api itu, Helen bermaksud mencari sebuah rumah yang pernah dijadikan tempatnya menginap pada masa itu. Sayangnya, perubahan telah banyak terjadi, sehingga mereka tak bisa menemukan rumah itu lagi.

Lima puluhan tahun sebelumnya, dalam perjalanan tanpa tujuan untuk melarikan diri dari kenangan peristiwa buruk yang menimpa saudara kembarnya, Mary, Helen tiba di stasiun itu. Dari stasiun itu, nasib mempertemukannya dengan seorang lelaki asing baik hati yang bersedia menolongnya. Laki-laki ini memperlakukan Helen dengan hormat dan mengundang Helen menginap di rumahnya karena Helen benar-benar tidak punya tujuan dan tempat untuk menginap. Jadilah, untuk beberapa hari, Helen menginap di rumah laki-laki ini -sebuah rumah tanpa cermin, tempat laki-laki ini hidup hanya dengan seekor anjing.

Lelaki baik hati ini tidak lain adalah Llyod Goodman yang melarikan diri dari pekerjaannya sebagai penyiar radio. Dua manusia bertemu, lelaki dan perempuan, masing-masing menggenggam masalah yang merongrong hidup. Meski Helen tak langsung menyadari saat itu, pertemuan ini telah mengubah hidup mereka selama-lamanya.

Novel grafis nominator Europe's 2004 Association of Graphic Novels Critics and Journalist (ACBD) Award ini hadir bagaikan sebuah film. Cerita digulirkan menggunakan alur kilas balik dari perspektif Helen ketika ia mengunjungi stasiun penuh kenangan itu, kembali, dan tiba di rumah menjelang akhir hidupnya. Setiap ilustrasi dibuat secara sinematik. Akibatnya, seolah-olah hendak menggambarkan pertarungan pikiran yang intens -yang dalam film biasanya disajikan dalam adegan berdurasi panjang, pada halaman 95 – 101, adegan terasa terlalu panjang.

Transisi adegan dari masa kini ke masa lalu dan sebaliknya, tidak ada petunjuk. Untunglah tidak terlalu mengganggu, karena sambil membaca, pembaca akhirnya bisa memahami. Janggalnya, ada adegan yang diberikan porsi terlalu banyak kendati kurang penting, tapi ada adegan yang disajikan irit, baik visualisasi maupun dialognya, padahal cukup penting. Adegan pamungkas misalnya, meski dapat dimengerti, menurut saya terlalu irit. Tentu saja bukan karena saya berharap visualisasi adegan seks antara Llyod dan Helen diumbar lebih banyak. Hanya terkesan tidak cukup intens saja untuk menggambarkan adegan terpenting dalam hidup kedua karakter ini.


Seperti kata Helen, "Lebih baik begini, percayalah... Akan kita lihat, pertemuan ini hanyalah sebuah catatan kaki dlm (dalam) hidup kita (hlm. 127)", kisah pertemuan mereka memang akhirnya sekadar jatuh sebagai catatan kaki dalam hidup mereka, terutama hidup Llyod –setidaknya itulah yang saya tangkap, mengingat cerita dituturkan dari perspektif Helen.

Menikmati novel grafis ini memang akan terasa atmosfer The Bridges of Madison County -film yang diangkat dari novel Robert James Waller yang ditulis berdasarkan kisah cinta yang benar-benar terjadi antara seorang fotografer gaek (Robert Kincaid) dengan perempuan pedesaan (Francesca Johnson) yang berlangsung singkat tapi penuh gairah. Kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia karena Francesca masih memiliki suami dan anak-anak serta tak ingin meninggalkan keluarganya. Sayangnya, dalam novel grafis ini, selain ungkapan Helen pada halaman 127 –seperti di atas- tidak ada penjelasan yang memadai alasan cinta Helen dan Llyod tidak bisa bertaut ketika mereka bertemu, kendati saat itu Helen belum bersuami.

Meskipun tetap mengharukan, kisah dalam novel grafis ini seolah-olah hanya menjadi semacam pembuktian bahwa Helen benar-benar memiliki kekuatan magis seorang perempuan seperti yang diyakininya. Kekuatan magis yang sangat istimewa yang menurut Helen hanya terjadi satu kali, tapi sanggup membuat seorang laki-laki yang tidak bahagia menjadi bahagia (hlm. 125). Kekuatan magis ini tidak hanya membuat Llyod kembali ke pekerjaannya, tapi juga membuahkan sebuah rahasia bernama Linda.

Menurut saya, gambar-gambar dalam novel grafis hitam putih ini tergolong sederhana. Sudah sering saya melihat komik dengan gambar-gambar semacam ini. Saya merasa lebih nyaman melihat gambar-gambar dalam Age of Bronze: A Thousand Ships yang terasa lebih segar, bersih, dan enak dilihat.

Seluruh kisah dalam novel grafis ini memang berangkat dari satu peristiwa dalam kehidupan Llyod Goodman, hanya dalam penjabaran selanjutnya kita juga akan menikmati kisah hidup Helen. Makanya, judul terjemahan yang dipakai, Balada Seorang Penyiar, terasa kurang pas. Tapi, sepertinya, sulit juga memindahkan judul Different Ugliness, Different Madness ke dalam bahasa Indonesia.


*) Wikipedia

Posted at 01:42 am by Jody
Make a comment  

Tuesday, July 31, 2007
SKY BURIAL






J
udul Buku: Pemakaman Langit
Judul Asli: Sky Burial
Penulis: Xinran Xue
Penerjemah: Ken Nadya
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2007
Tebal: 288 hlm
Penerbit: Serambi


CINTAKU DI PEMAKAMAN LANGIT


Tibet yang terletak di wilayah Pegunungan Himalaya, saat ini merupakan provinsi dari Republik Rakyat Cina. Sebelumnya, Tibet dikenal sebagai wilayah tertutup yang misterius.  Tibet menjadi salah satu provinsi Cina setelah invasi Tentara Merah Cina pada tahun 1950, yang dilanjutkan dengan penaklukan pada tahun 1951, ketika ibu kota Tibet – Lhasa- direbut tentara Cina dan Dalai Lama didongkel dari kekuasaannya. Pihak Cina melakukan penindasan dan pembantaian kepala suku dan sejumlah pendeta Budha (lama). Pendudukan Cina mengundang perlawanan rakyat dan pemuka Tibet yang menyebabkan banyak korban jiwa, terutama dari pihak Tibet. Tapi, karena ketidakseimbangan kekuatan persenjataan dan tidak adanya sorotan internasional, perlawanan Tibet berhasil dipadamkan.

Sky Burial yang diterjemahkan dan diterbitkan Gita Cerita Utama Serambi sebagai Pemakaman Langit, menggunakan invasi dan pendudukan Cina di Tibet sebagai latar awal. Novel ini ditulis oleh Xinran Xue, perempuan Cina mantan wartawan dan presenter radio kelahiran Beijing 1958.  Pada tahun 1997, Xinran pindah ke London dan menjadi penulis buku. Buku pertamanya, The Good Women of China, laris secara internasional. Selain The Good Women of China dan Sky Burial, Xinran telah menerbitkan koleksi kolomnya, What the Chinese Don't Eat, dan novel berjudul Miss Chopsticks (2007).


Xinran Xue

Meski tidak dijelaskan secara gamblang dalam buku kecil ini, agaknya Sky Burial ditulis berdasarkan kisah nyata. Hal ini tercermin pada ucapan terima kasih (hlm 282) dari Xinran.

Pada tahun 1994, ketika bekerja sebagai wartawan  dan presenter radio di Nanjing, dalam siaran radionya, seorang pendengar menelepon dari Suzhou, menginformasikan tentang seorang perempuan aneh yang baru saja kembali dari Tibet bernama Shu Wen. Setelah pertemuan dengan Shu Wen, pada tahun 1995, Xinran menjelajahi Tibet untuk menghayati apa yang telah dialamai Shu Wen selama pengembaraannya di Tibet.

"Selama sepuluh tahun buku ini bersemayam dalam hatiku, mematang laksana anggur. Sekarang, akhirnya, bisa kupersembahkan kepadamu," kata Xinran (hlm. 280) ketika akhirnya kisah Shu Wen berhasil ia selesaikan dalam bentuk buku pada tahun 2004.

Baru tiga minggu menikah, Kejun, suami Shu Wen, sudah harus pergi ke Tibet menjadi dokter Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army -tentu saja menurut pihak Cina). Lewat dua bulan setelah itu,  Wen mendapat kabar yang sangat singkat mengenai nasib suaminya. Kejun tewas dalam sebuah insiden di Tibet bagian timur, 14 Maret 1958. Pemberitahuan yang tidak memadai bagi Wen, apalagi tidak ada bukti jasad Kejun, membuat Wen bertekad mencari suaminya di Tibet. Ia menyuntikkan keyakinan dalam dirinya bahwa suaminya masih hidup. Pekerjaannya sebagai dokter –dermatologis- membuat Wen tidak mengalami kesulitan untuk  bergabung dengan tentara Cina yang akan dikirim ke Tibet.



Setelah melewati rute Suzhou-Zhengzou-Chengdu, Wen akhirnya bisa menghirup udara Tibet. Dalam perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, Wen dan rekan-rekannya bertemu Zhuoma. Zhuoma adalah anak bangsawan Tibet yang bisa bahasa Cina karena pernah bersekolah di Beijing. Zhuoma baru saja terpisah dari Tiananmen, pemandunya, mantan pelayan keluarga yang diam-diam dicintainya. Selanjutnya kedua perempuan ini meretas wilayah Tibet untuk mencari cinta mereka. Mereka bertemu dengan sebuah keluarga nomadik yang menerima kehadiraan mereka dengan baik. Perjalanan mereka kemudian tidak hanya menjadi perjalanan mencari cinta yang hilang, tapi juga perjalanan Wen mengenai budaya, alam, tradisi, keyakinan, dan cara hidup orang Tibet. Musim demi musim silih berganti, dan dalam sebuah musim, Zhuoma diculik, hilang tanpa jejak. Saat itu, Wen benar-benar telah kehilangan kontak dengan dunia luar. Ia telah menjadi salah satu manusia pengembara di tengah keluarga nomadik. Meski demikian, keyakinan untuk bertemu dengan Kejun masih tetap memijar dalam hatinya. Apalagi, keluarga nomadik itu akhirnya memutuskan membantu pencarian Wen. Ketika tiba di sebuah tempat bernama Wendugongba, bersamaan dengan diadakannya upacara Dharmaraja,  Wen baru tahu, ia telah melewati puluhan tahun sebagai pengembara. Sampai saat itu, ia masih kehilangan jejak suaminya.

Di sebuah kawasan yang dikenal sebagai "Seratus Danau", setelah lebih dari 30 tahun mengembara, akhirnya Wen memutuskan untuk kembali ke Cina. Saat itu,  Wen telah menjelma dari seorang perempuan berusia 26 tahun menjadi seorang perempuan tua penganut Budha Tibet dengan penampilan Tibet tapi berwajah karakteristik Cina.



Akankah Wen bertemu kembali dengan Zhuoma setelah sahabatnya ini diculik dan lenyap tak tentu rimbanya? Akankah Wen bertemu dengan Kenju setelah lebih dari 30 tahun berpisah? Apa yang terjadi dengan kehidupan Kejun sebenarnya?

Pemakaman Langit tentu saja akan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Pemakaman Langit itu sendiri? Sampai novel mencapai bagian-bagian akhir, saya terus bertanya-tanya alasan pemberian judul  ini. Tapi, ketika akhirnya saya menemukan alasan pemberian judul, menurut saya, tidak ada lagi judul yang lebih tepat dari Pemakaman Langit.

Dalam masyarakat Tibet, ada sebuah tradisi memakamkan orang mati yang disebut pemakaman langit. Setelah dimandikan, rambut di sekujur tubuh dan kepala dibabat habis, dibalut sehelai kain putih, jenazah diletakkan dalam posisi duduk dengan kepala merunduk di atas lutut. Pada hari yang ditentukan sebagai hari baik, jenazah digotong ke altar pemakaman langit.  Para lama dari biara lokal  datang untuk mengumandangkan naskah-naskah suci guna membebaskan roh si mati dari penebusan dosa. Sementara itu seorang yang disebut guru pemakaman langit akan meniup terompet tanduk, menyulut api murbei untuk mengundang burung-burung nazar, memilah-milah tubuh si mati, meremukkan tulang-belulangnya dengan urutan yang telah ditetapkan. Jenazah dipilah-pilah dengan cara yang berbeda-beda, tergantung sebab kematian. Tapi, apa pun caranya, sayatan pisau harus tanpa cela. Ada keyakinan jika sayatan tidak benar, iblis-iblis akan datang merebut roh si mati. Agar jenazah benar-benar dimakan burung nazar, termasuk tulangnya,  terlebih dulu yang disajikan kepada para burung adalah tulang-tulang yang terkadang dicampur dengan mentega yak. Jika si mati, selama hidup telah banyak mengonsumsi jamu-jamuan, tubuhnya akan mengeluarkan aroma obat yang kuat sehingga burung nazar tidak menyukainya. Mengingat sesuai keyakinan semua jenazah harus dilahap habis supaya tidak diambil iblis, mentega ditambahkan dengan racikan khusus lain supaya bisa dinikmati para burung (hlm. 225 – 227).

Nah, apa hubungan pemakaman langit dengan kehidupan Wen? Bacalah sendiri buku ini untuk menemukan jawaban.

Pemakaman Langit merupakan sebuah kisah perjalanan pencarian cinta yang hilang, bukan kisah cinta mendayu-dayu yang sering digambarkan dalam novel-novel romantis. Hampir seluruh buku berisi perjalanan Wen, dan bukan perjalanan Kejun. Cinta Kejun pada Wen memang sangat dalam, tersirat jelas  pada bagian akhir buku harian Kejun yang isinya  bisa membuat mata berkaca-kaca (hlm. 242 - 243). Tapi, buku ini bukan tentang Kejun dan kebesaran cintanya, melainkan Wen dengan kesetiaan dan keteguhan cintanya yang luar biasa. Apalagi mengingat waktu dan jalan yang panjang yang harus ia lewatkan, terasing dari dunia luar tempat ia berasal, untuk menemukan akhir pencariannya. Rasanya, tidak ada pembaca yang tidak akan tercolek sisi kelembutannya, begitu tiba di puncak pencarian Wen.

Seperti apa yang dialami Wen, pembaca juga akan menemukan kehidupan dan budaya Tibet yang mungkin hingga saat ini tidak banyak diekplorasi penulis-penulis buku. Saya pribadi mengenal Tibet hanya cerita seputar bentangan alam, pemerintahan dan, tentu saja, Dalai Lamanya. Tapi dalam buku ini, Xinran akan membawa pembaca menukik lebih jauh ke relung-relung dasar kehidupan, tradisi, dan budaya Tibet yang (mungkin) luput dari jangkauan selama ini. Tak disangka, Tibet menjadi seting sebuah kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang terasa pahit, mengharukan, tapi akhirnya menguatkan dan memperkaya jiwa pembaca.

Saya sungguh yakin, kisah Wen benar-benar dituliskan secara apa adanya. Tapi terkadang selama membaca, saya merasa kisah ini seolah-olah sangat tidak nyata. Saya seperti sedang menonton film sejenis The Knot (karya sutradara Lin Yi dengan pemain Chen Kun dan Vivian Hsu, 2006), yang kebetulan memiliki elemen 'penghancur' cinta yang sama: Tibet, dokter tentara, dan Tentara Pembebasan  Rakyat. Selain itu, dalam buku ini, kita juga akan menemukan keberadaan karakter-karakter seperti Zhuoma atau Tiananmen, yang jalan hidupnya terasa hanya ada di dunia fiksional.

Kisah perjalanan pencarian cinta yang memukau dan menggetarkan ini dijabarkan dalam 9 bab menggunakan perspektif orang ketiga, sebagai pengulangan kisah yang dituturkan Shu Wen kepada Xinran. Ada beberapa potongan kisah menggunakan perspektif orang pertama, yaitu dari sudut pandang Xinran. Secara keseluruhan, gaya penulisan yang digunakan Xinran tergolong sederhana,  tidak  berbelit-belit, membuat novel bisa dengan mudah dicerna.

Saya setuju dengan tulisan di sampul belakang novel yang mengatakan, "Jika Anda tidak percaya kekuatan cinta bisa mengubah segalanya, Anda perlu membaca buku ini". Untuk membuktikan kebenaran kalimat ini, memang harus membaca buku ini. Tapi jujur saja, Anda tidak akan disesatkan, karena apa yang dimaksud akan Anda temukan dalam perjalanan hidup dan cinta Shu Wen.


Yak, salah satu ternak orang Tibet



Posted at 01:40 am by Jody
Make a comment  

Monday, July 30, 2007
SONS OF FORTUNE,






Judul Buku: Putra-Putra Takdir

Judul Asli: Sons Of Fortune
Penulis: Jeffrey Archer
Penerjemah: Hidayat Saleh
Tebal: 576 hlm; 15 X 23 cm
Terbit: Cetakan Pertama Juli, 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Paling sedikit ada tiga hal yang membuat Sons of Fortune (Putra-putra Takdir), menurutku, layak dibaca hingga tuntas. Kembar, pengadilan, dan dunia politik. Ketiga elemen ini sangat potensial menghasilkan kisah berlapis yang riuh, ingar-bingar, penuh intrik dan dramatisasi. Ketika saling sengkarut, setidaknya sudah  bisa dibayangkan apa yang bakalan terjadi dalam rentangan alur kisah yang dijabarkan penulisnya. Selain itu, dengan seting Amerika Serikat, ketiga hal ini akan mengundang keingintahuan, mengingat di negara ini, segala hal seolah-olah bisa terjadi.

Menariknya, novel berseting Amerika Serikat ini ditulis oleh seorang Inggris, kelahiran London 15 April 1940, yang pada usia 29 tahun terpilih sebagai anggota parlemen Inggris termuda dari Partai Konservatif. Dia adalah Jeffrey Howard Archer. Setelah keluar dari parlemen pada tahun 1974, Archer menulis novel pertamanya yang bertajuk Not a Penny More, Not a Penny Less. Karier Archer sebagai novelis ternyata mengembalikan kariernya di dunia politik yang kemudian benar-benar berakhir gara-gara sebuah skandal. Sebagai novelis, Archer juga telah menghasilkan novel seperti Kane and Abel, The Fourth Estates, As the Crow Flies, dan  First Among Equals.


Jeffrey Archer

Sebagai seting utama Sons of Fortune, Archer menggunakan Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Pada suatu hari di tahun 1949, Susan Illingworth Cartwright melahirkan sepasang anak kembar, Nathaniel dan Peter, dengan selisih waktu 6 menit. Pada hari yang sama, Ruth Davenport melahirkan seorang anak yang akhirnya ditemukan meninggal. Heather Nichol, seorang perawat, melakukan sebuah tindakan nekat, mengganti posisi bayi yang mati dengan Peter. Peter dibawa oleh keluarga Davenport, dan menyandang nama Fletcher Andrew Davenport; milik si bayi yang meninggal.

Nathaniel ( yang lebih suka disapa Nat) dan Fletcher meniti jalur hidup yang tidak pernah bertaut sejak saat itu. Mereka pergi ke sekolah yang berbeda dan memiliki karier yang berbeda pula. Nat sempat bertempur di Vietnam, memperoleh Purple Heart, menyelesaikan kuliah di Harvard Business School dan menapak karier sebagai pialang, kemudian bankir yang sukses. Jika Nat menikahi Su Ling, pakar komputer berdarah Korea; Fletcher menikahi Annie, adik teman baiknya, Jimmy Gates. Sebelum akhirnya menjadi senator negara bagian Connecticut meneruskan karier mertua lelakinya, Fletcher menjalani karier sebagai pengacara kriminal. Masing-masing keluarga diberikan seorang anak. Luke, untuk Nat dan Su Ling; Lucy, untuk Fletcher dan Annie.

Secara kebetulan, kehidupan kedua kembar ini bertumbukan dengan seorang laki-laki yang kemudian berdiri sebagai musuh mereka bersama, tanpa saling mengetahui. Ralph Elliot, masuk dalam kehidupan Nat lebih awal dari saat ia menyusup dalam kehidupan Fletcher. Nat mengenal Elliot sewaktu bersekolah di Taft, sedangkan Fletcher mengenal Elliot setelah lulus dari Yale dan bekerja di sebuah firma hukum di New York. Baik Nat, maupun Fletcher, memiliki kenangan buruk mengenai Ralph Elliot.

Kehidupan mereka baru benar-benar bertabrakan ketika Nat mencalonkan diri sebagai senator mewakili Partai Republik, dan Fletcher mewakili Partai Demokrat,  perbedaan yang rupanya sudah digariskan sejak Susan Illingworth mengenal suaminya, Michael Cartwright.

Dalam sebuah kiprah politik yang busuk, kehidupan keluarga Nat digiring ke tepi jurang kehancuran oleh pesaingnya, anaknya meninggal, masa lalu kelam istrinya diobral ke semua orang, dan seseorang ditemukan tewas dibunuh. Nat terjebak, didakwa sebagai pembunuh,  dan terancam hukuman berat. Hanya Fletcher lah pengacara kriminal yang bisa menolong Nat keluar dari cengkeraman masalah. Padahal sebagai kandidat favorit, keduanya berpotensi menjadi lawan politik.

Formula anak kembar merupakan formula cerita yang akrab bagi pembaca fiksi atau penonton film, dari Hollywood hingga Bollywood, karena sering digarap. Sepasang kembar lahir, terpisah, meniti perjalanan hidup yang panjang dan berliku, untuk kemudian dipertemukan. Sebuah plot yang tidak asing, lengkap dengan berbagai bumbu kebetulan yang merebak dari awal hingga akhir. Untunglah, dalam novel ini, plot sejenis bisa berkembang dan bekerja dengan baik di tangan Archer. Anak kembar dibawa berkubang dalam dunia hukum, ekonomi, dan terutama dunia politik, memberi wilayah eksplorasi yang memukau untuk dijabarkan dalam bentangan plot yang rancak. Perguliran kisah yang terarah membuat liukan plot bisa dititi pembaca dengan enak. Apalagi Archer memiliki energi yang adekuat untuk menghiasi kisahnya dengan taburan humor yang tetap terkendali, dari awal hingga akhir,  karena kecerdasan penyampaiannya.

Setelah adegan persidangan pembunuhan yang melibatkan Nat disajikan dengan sangat menarik, akan terasa tegangan cerita agak menurun. Kendati demikian, ini tidak berarti adegan selanjutnya langsung menjadi antiklimaks. Pertarungan politik antara kedua protagonis dengan karisma, kekuatan moral dan integritas yang setara ini masih dieksplorasi tanpa tergesa dan akan mengharukan, juga merekahkan senyuman di wajah pembaca.

Adegan penutup dibentangkan dengan kuat, menegangkan, tapi sekaligus juga menggelikan. Bagian ini sebaiknya jangan dibaca tergesa-gesa. Kalau tidak menyimak kebiasaan salah satu kandidat, mungkin kita akan sedikit bingung dengan hasil akhir pemilihan gubernur negara bagian. Tapi, posisi berdiri sang wali kota, akan memberikan penegasan.

Seluruh kisah secara unik dipaparkan dalam 54 bab yang dihimpun menjadi tujuh bagian yang diberi judul seperti nama kitab dalam Alkitab, dengan urutan acak.  Secara berurutan novel ini terdiri atas Kejadian, Keluaran, Tawarikh, Kisah Para Rasul, Hakim-Hakim, Wahyu, dan Bilangan. Pemberian judul ini jelas disengaja untuk menciptakan kesan berbeda dalam diri pembaca. Meski demikian, bukan tidak ada hubungannya. Setiap judul menyiratkan apa yang terjadi dalam kehidupan dua protagonis novel.

Kelebihan Archer dalam menyajikan novelnya, sudah terbaca jelas sejak awal. Setelah membaca satu bab, kita akan dibuat penasaran untuk membuka bab selanjutnya. Hal itu berlangsung terus hingga novel berakhir. Sebuah gaya penceritaan yang kuat dan terjaga.  Archer terbilang memegang teguh keyakinan yang cenderung disukai pembaca, yaitu dalam pertarungan kebaikan dan kejahatan, kebaikan akan mendapatkan piala kemenangan. Selain itu, tampaknya bagi Archer, persaudaraan di atas segala-galanya. Kekuatan sebuah persaudaraan yang diikat dengan darah, akan sangat berhasil mengatasi segala perkara, bahkan untuk perkara yang sangat pelik dan seolah tidak memiliki solusi.

Inilah sebuah novel, yang bisa dikatakan lengkap, karena bermuatan berbagai sisi kehidupan manusia yang berkelindan penuh pesona: tragedi, cinta, pengkhianatan, ambisi, kasih sayang, persaudaraan,  dan persahabatan. Dengan dunia hukum, politik dan ekonomi yang menjadi latar, meski letupan yang akan terjadi sudah bisa dibayangkan, tetap sayang rasanya melewatkan buku ini.


Posted at 02:17 pm by Jody
Comments (2)  

Sunday, July 29, 2007
KELUARGA FLOOD: SEKOLAH SIHIR




Judul Buku: Keluarga Flood Sekolah Sihir
Judul Asli: The Floods Playschool
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Shinta Harini
Penyunting: Ferry Halim
Tebal: 234 hlm, 13 X 20 cm
Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007
Penerbit: Atria


Setelah sukses menaklukkan Keluarga Dent dalam buku pertama Keluarga Flood Tetangga Menyebalkan, Keluarga Flood yang sangat akrab dan bahagia, secara diam-diam mendapatkan musuh baru. Musuh baru mereka kali ini adalah Orkward Warlock, teman sekolah beberapa anak Keluarga Flood di Quicklime College, sebuah sekolah yang terletak di sebuah lembah yang sangat jauh dan tinggi di atas Pegunungan Patagonia.


Orkward Warlock membenci semua orang, termasuk orang tua dan saudara yang belum pernah ia temui; guru-guru ; setiap orang yang ia kenal dan dengar maupun yang ia lihat di TV; kadang-kadang, malah, ia berlatih membenci dirinya sendiri. Tak heran, Orkward tidak disukai setiap orang. Tapi di atas segala kebencian Orkward Warlock, ada satu kebencian yang paling dalam, yang begitu besar, lebih besar dibandingkan semua kebencian Orkward digabung menjadi satu dan dikalikan dua belas kemudian ditambah tujuh. Kebencian ini adalah kebenciannya terhadap -sudah bisa ditebak- Keluarga Flood.

Sejak berusia tiga hari (hlm. 40), pada hlm. 118 usia 3 tahun (?), Orkward telah tinggal di Quicklime College, karena keluarganya tidak tahan menyaksikannya berada di dekat mereka. Di sekolah ini ia mendapatkan sebuah kamar; sebuah kamar yang gelap –yang bahkan dijauhi oleh laba-laba, tempat ia mengasah kebencian kepada siapa saja di dunia ini (dunia sihir maksudnya). Di tempat ini Orkward juga sering berkhayal akan dijemput oleh ayahnya, penyihir terhebat yang pernah ada. Padahal, ayahnya hanyalah seorang tukang susu muggle yang dinikahi seorang perempuan penyihir gara-gara perempuan ini ketagihan susu sementara ia tidak mampu membeli susu setiap hari untuk minum dan mandi.

Orkward yang bernasib apes ini hanya memiliki dua teman –kalau bisa disebut teman. Anak laki-laki polos bernama si Katak yang gemar sembunyi di bawah tempat tidur Orkward sambil memeluk kaus kaki kotor Orkward dan sebuah cermin ajaib yang sesungguhnya tidak begitu menyukai Orkward dan selalu mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar Orkward.

Setiap tahun, di Quicklime College diadakan perayaan Hari Olahraga Tahunan. Kebetulan tahun ini, saat cerita digulirkan oleh si gendeng Colin Thompson, Hari Olahraga jatuh bertepatan dengan peringatan 705 tahun sekolah didirikan oleh Merlin Flood. Merlin Flood adalah nenek moyang Nerlin, kepala keluarga Flood yang diklaim sebagai pemilik kutil paling berambut di tempat yang paling memalukan, di dunia sihir, tentu saja.


Atas usul si Katak, Orkward memutuskan untuk menghabisi keluarga Flood pada Hari Olahraga Tahunan. Saat itu, orang-orang di luar komunitas Quicklime College memang diundang hadir; orang tua, saudara-saudara, alumni yang masih hidup dan mati, dan tamu-tamu lain dari berbagai dunia dan dimensi. Rencana lain yang kemudian berkembang dalam pikiran Orkward, setelah menghabisi keluarga Flood, ia akan meninggalkan Quicklime College untuk selama-lamanya. Untuk mewujudkan rencana jahatnya, Orkward tidak saja membutuhkan si Katak, tapi juga Matron, Ibu Asrama yang selalu didampingi dua susternya, Romeo dan Juliet, sepasang burung gagak besar ; dan Narled, si makhluk setengah manusia setengah koper yang menghabiskan waktunya mengumpulkan barang-barang dan membawa ke tempat penyimpanan hartanya yang legendaris.

Bagaimana Orkward mewujudkan rencananya, selengkapnya akan kita temukan dalam buku kedua Keluarga Flood Sekolah Sihir ini. Sudah bisa dipastikan, Keluarga Flood tidak akan terguncang dengan ulah Orkward. Tapi, perguliran cerita kali ini tetap akan mendorong keingintahuan pembaca, bagaimana, sekali lagi, Colin Thompson menuntaskan kisahnya yang gila-gilaan, kocak, dan kaya raya humor.

Seperti buku pertama, buku ini akan dibuka dengan kata MEMBOSANKAN yang cukup besar (apa maksudnya, tentu saja akan langsung diketahui pembaca begitu melihat gambar yang ada). Setelah itu, setiap bab akan dimulai dengan sebuah gambar tengkorak yang bagian dahinya bertuliskan nomer bab, kecuali untuk bab 4, 6, 8, 10, 13, 15, dan epilog.


Pada bab 4, 6, 8, 10, 13, dan 15 kita akan berkenalan dengan beberapa guru Quicklime College sekaligus dengan mata pelajaran yang diajar. Mereka adalah Radius Leg, guru Olahraga Sampai Sakit (bab 4); Prebender Glorious, guru Menghilangkan Diri (bab 6); Nona Phyllis, guru Keturunan Istimewa (bab 8); Doktor Mordant, guru Teknik Rekayasa Genetika (bab 10); Aubergine Wealth, guru Ekonomi dan Bentuk-bentuk Lain Perampokan (bab 13) serta Mademoiselle Fifi la Venus, guru Elokusi dan Melolong (bab 15). Selain guru-guru itu, tentu saja ada guru-guru lain, yang menurut Colin Thompson tidak cukup waktu dan halaman untuk diceritakan (hlm. 224), dan Profesor dengan sederet gelar, Profesor Throat, NB, PDF, PS HSC (Ghent). Entah apa maksud gelar-gelar tersebut.

Bagi yang telah membaca buku pertama serial keluarga Flood ini, tentu saja tidak asing lagi dengan gaya bertutur Colin Thompson. Tidak berbeda dengan Tetangga Menyebalkan, Colin Thompson tetap heboh bermain kata-kata sambil menyenggol saraf humoris pembaca. Dan meski masih tetap menyajikan humor gelap versi dirinya sendiri –baca saja ending yang dialami hidup Orkward Warlock, Sekolah Sihir ini bisa menjadi bacaan bagi segala usia, dengan catatan, telah bisa memahami humor yang disampaikan si penulis. Karena, kalau tidak, mungkin saraf humoris pembaca tidak akan tergelitik sama sekali.

Di tengah kesuntukan membaca bacaan-bacaan yang serius yang membuat kening berkerut-kerut, buku ini akan menjadi sajian yang bisa menghibur dan mereduksi ketegangan. Dan, mesti saya akui, saya masih tidak bisa melepaskan diri dari pesona Keluarga Flood, keanehan-keanehan dunia sihir termasuk para penyihirnya sendiri dan terutama, sihir kata dan kisah dari si gendeng Colin Thompson. Satu lagi, saya tetap membayangkan yang tidak-tidak ketika Mordonna membuka Pertandingan Hari Olahraga, dan semua ayah yang hadir mendadak duduk tegak dan berseru, "Lepaskan! Lepaskan!" Colin memberikan catatan kaki –seperti biasanya- untuk seruan ini, tapi saya tidak percaya yang ia maksudkan itu kacamata hitam Mordonna.

Setelah dua buku Keluarga Floood diterbitkan oleh Atria -imprint dari Penerbit Serambi  yang dikhususkan untuk menerbitkan buku praremaja, remaja, dan genre fiksi yang tidak mungkin diterbitkan oleh Gita Cerita Utama Serambi, masih ada buku lain yang menanti diterbitkan. Sudah lima buku Keluarga Flood yang dipublikasikan oleh Colin Thompson (Neighbours, Playschool, Home & Away, Survivor, dan Prime Suspect), sedangkan edisi asli buku keenam, The Great Outdoors, dijadwalkan terbit Februari 2008.

Dan, sekali lagi, saya ingin mengutip kata-kata si butawarna gendeng Colin Thompson yang saya dapatkan dari website-nya:

"I have always believed in the magic of childhood and think that if you get your life right that magic should never end. I feel that if a children's book cannot be enjoyed properly by adults there is something wrong with either the book or the adult reading it. This of course, is just a smart way of saying I don't want to grow up."


Posted at 04:01 pm by Jody
Comments (3)  

Monday, July 23, 2007
THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS





Judul Buku: Anak Lelaki Berpiama Garis-garis
Diterjemahkan dari: The Boy in the Striped Pyjamas
Penulis: John Boyne
Penerjemah: Rosemary Kesauli
Tebal: 240 hlm; 20 cm
Terbit: Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


SEPASANG PIAMA UNTUK BRUNO


Auschwitz adalah kamp konsentrasi Nazi, tempat 1,4 sampai 4 juta orang Yahudi atau keturunan Yahudi dari berbagai negara di Eropa tewas antara tahun 1941 – 1945. Kamp ini terletak di selatan Polandia, 286 km dari Warsawa. Para tahanan tewas dengan berbagai cara, seperti dibunuh dalam kamar gas menggunakan Zyklon-B, dieksekusi secara individual oleh tentara Nazi, kelaparan, kerja paksa, sakit, dan juga menjadi korban eksperimen medis.



Salah satu bagian
Auschwitz


Oleh John Boyne, penulis Irlandia kelahiran Dublin 30 April 1971, Auschwitz dijadikan latar utama novelnya yang berjudul The Boy in the Striped Pyjamas (2006). Sebelumnya Boyne telah menerbitkan novel The Thief of Time (2000), The Congress of Rough Riders (2001), dan Crippen (2004). Setelah The Boy in the Striped Pyjamas, Boyne telah menerbitkan novel kelima berjudul Next of Kin (Oktober, 2006). The Boy in the Striped Pyjamas merupakan novel pertama John Boyne yang ditujukan untuk pembaca anak-anak. Novel ini telah memberikannya penghargaan seperti Irish Book Award: People's Choice Award Book of the Year, Irish Book Award: Children's Book of the Year, dan CBI Bisto Children's Book of the Year.

The Boy in the Striped Pyjamas berkisah tentang Bruno, seorang anak 9 tahun tapi bertubuh lebih kecil dari anak lain seusianya, yang tinggal di Berlin pada waktu Perang Dunia II. Ia tinggal di sebuah rumah lima lantai yang sangat indah dengan kedua orang tuanya dan seorang kakak perempuan bernama Gretel yang dijulukinya si Benar-benar Payah (the Hopeless Case). Suatu hari seorang lelaki berkumis aneh dan seorang perempuan cantik datang makan malam di rumah Bruno. Mereka adalah Adolf Hitler –dalam buku ini disebut the Fury, plesetan dari Der Führer, dan kekasihnya, Eva Braun. Kedatangan mereka membuat Ralf, ayah Bruno, seorang anggota Nazi, mendapat tugas sebagai komandan di Auschwitz, kamp konsentrasi Nazi yang paling besar.

Meski berat hati, Bruno mesti meninggalkan Berlin, rumah tempat ia melakukan penjelajahan, teman-teman terbaiknya, juga kakek yang bangga dengan prestasi sang anak, dan nenek yang justru merasa telah salah mendidik anak. Ia harus tinggal di sebuah rumah tiga lantai dan tidak memiliki wilayah untuk dijelajahi di sebuah tempat yang oleh Gretel disebut Out-With (Auschwitz).

Lewat jendela kamarnya, mata Bruno menyeberang melampaui pagar tinggi terbuat dari kawat dan menemukan kehidupan orang-orang yang tidak ia kenal di sebelah pagar, orang-orang dengan pakaian yang sama: sepasang piama kelabu bergaris-garis dengan topi garis-garis di kepala. Menurut ayah Bruno, orang-orang itu sama sekali bukan 'orang'.

Suatu hari timbul keinginan dalam hati Bruno untuk melakukan penjelajahan sekitar tempat tinggalnya, menyusuri pagar kawat yang ia lihat dari jendela kamarnya. Ia bertemu dengan seorang bocah kurus yang sedih dari balik pagar kawat bernama Shmuel, anak Yahudi dari Polandia. Shmuel yang bisa berbahasa Jerman lahir pada tanggal yang sama dengan Bruno, 15 April 1934. Mereka menjalin pertemanan, bertemu setiap hari di tempat yang sama, dan berkomunikasi di antara pagar kawat.

Setelah masalah Letnan Kotler -seorang serdadu bawahan ayah Bruno yang rupanya menjalin hubungan dengan ibu Bruno, kemudian kepala Bruno harus dibotaki karena kutu, ibu Bruno bertekad kembali ke Berlin. Ini berarti Bruno mesti berpisah dengan Shmuel. Sebelum kembali ke Berlin, Bruno dan Shmuel merencanakan acara penjelajahan bersama di sebelah pagar tempat Shmuel tinggal sekalian mencari ayah Shmuel yang hilang. Untuk menyempurnakan penampilan Bruno, Shmuel akan mengambilkan sepasang piama garis-garis dan topi kain dari pondok penyimpanan piama untuk Bruno. Sebuah rencana yang sangat cemerlang di mata Bruno, sebuah rencana yang kemudian menghancurkan hati dan kehidupan keluarganya, termasuk ayahnya, sang komandan Nazi.



John Boyne

John Boyne menulis novel ini untuk anak-anak. Tapi ia juga berharap mendapatkan pembaca dewasa. Oleh Gramedia Pustaka Utama, ternyata The Boy in the Striped Pyjamas diberi label Novel Dewasa. Melihat keseluruhan cerita, juga cara pengungkapan yang digunakan John Boyne, sesungguhnya novel ini memang bacaan untuk anak-anak. Apalagi karakter utamanya adalah anak-anak dengan cara berpikir yang lugu tapi cerdas; seorang anak yang tidak mengenal diskriminasi dan menempatkan penghargaan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya yang belia. Hanya, dalam buku ini, tidak ada penjelasan yang memadai untuk latar belakang cerita. Kemungkinan, pembaca anak-anak akan bingung dengan latar belakang historis yang digunakan John Boyne. Bisa saja ada pemikiran bahwa latar belakang itu tidak penting. Tapi, untuk bisa menikmati secara total, anak-anak yang belum mengenal sejarah dunia  perlu mengetahui situasi dan tokoh yang membuat kisah dalam novel ini bisa terjadi. Hal ini penting, mengingat sejarah dan tokoh sejarah yang digunakan John Boyne yang menyebabkan keluarga Bruno mencapai Auschwitz, dan memberikan efek pada terjadinya peristiwa menggiriskan hati pada bagian akhir novel yang terasa sangat ironis. Sehingga, menurut saya, novel ini tetap bisa dinikmati anak-anak dengan bimbingan orang tua.

Sesungguhnya cerita dalam novel ini tergolong sederhana. Setelah memahami latar belakang cerita, tidak ada eksplorasi penulis yang sulit untuk diikuti. Meskipun demikian, pembaca tetap tidak akan mudah menebak bagaimana novel dituntaskan.

Selain itu, kendati awalnya novel mengalir tanpa sengatan berarti dari sisi plot, cara John Boyne memberi jiwa pada karakter Bruno bisa dikatakan sangat berhasil sehingga novel ini tidak terpuruk menjadi bacaan yang menjenuhkan. Jalan pikiran Bruno ketika berinteraksi dengan siapa pun yang ia temui dalam hidupnya niscaya akan menyentuh hati kita. Keluguannya tidak hanya menggemaskan sehingga berpotensi merekahkan senyuman di wajah kita, tapi juga akan membuat hati basah dan mata berkaca-kaca. Selanjutnya, di penghujung novel, John Boyne berhasil meraut plotnya menjadi tajam, menyodorkan adegan-adegan penting yang menjadi bagian paling menggetarkan dari keseluruhan novel. Pembaca dewasa yang segera memahami peristiwa yang disampaikan penulis akan segera merasakan hatinya tercekat. Namun, seperti Bruno yang tidak memahami dengan benar apa yang terjadi, mungkin akan ada pembaca yang juga tidak memahami apa sesungguhnya yang terjadi saat itu. Pengetahuan tentang Auschwitz mungkin akan memberikan sedikit petunjuk mengenai peristiwa itu.

Satu harapan yang ditoreh sang penulis dalam novel ini adalah peristiwa serupa dalam novel tidak akan terulang lagi pada zaman sekarang. Apa yang telah terjadi sudah menjadi sejarah, dan yang perlu dilakukan saat ini adalah memetik pelajaran dari sejarah. Jangan sampai ada kelompok manusia yang terpaksa harus mengenakan 'piama garis-garis' untuk melewati 'pagar kawat berduri' yang ditegakkan sebagai wujud kecongkakan rasial segolongan manusia.

Novel ini telah diadaptasi menjadi skenario film oleh Mark Herman dan pengambilan gambar telah dilakukan di Budapest April hingga Juni 2007. Film yang diramaikan oleh David Thewlis, Vera Farmiga, Asa Butterfield, dan Amber Beattie ini akan dirilis pada bulan Februari 2008. Jadi, sebelum menikmati versi filmnya, tidak ada salahnya untuk menikmati dulu versi novelnya.

Tapi sebelumnya, Anda harus mengenakan 'piama garis-garis' dulu untuk ikut bertualang dan memahami kehidupan, pikiran, dan perasaan si kecil Bruno.


Posted at 12:49 pm by Jody
Make a comment  

Thursday, July 12, 2007
CLAIR-DE-LUNE



Penulis: Cassandra Golds
Penerjemah: Vina Damayanti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007
Tebal: 232 hlm; 13,5 X 20 cm


HIDUP YANG SEJATI HARUS ADA KUCINGNYA


Dulu saya pernah terbuai dengan dongeng-dongeng klasik karya Hans Christian Andersen dan Grimm Brothers. Sekarang minat saya terhadap dongeng memang agak memudar. Tapi saya tetap tidak mungkin mengabaikan dongeng yang mengusung keindahan. Belakangan saya menemukan keindahan dongeng klasik dalam karya-karya penulis seperti Gail Carson Levine dan Kate DiCamillo. Bulan Juli 2007 ini dunia buku Indonesia disapa Cassandra Golds dengan novel dongeng yang berjudul Clair-de-Lune. Oleh Penerbit Gramedia, Clair-de-Lune diterjemahkan dan dipublikasikan dalam salah satu kelompok fiksi terbitannya, Family Literatur (FamLit). Walau FamLit disegmentasi untuk pembaca berusia 9-12 tahun, seperti yang disebutkan pada penjelasan mengenai FamLit dalam buku ini, pembaca dewasa juga akan jatuh cinta dengan koleksi FamLit, karena selalu ada jiwa anak-anak dalam diri seseorang.


Cassandra Golds adalah penulis perempuan kelahiran Sydney yang pada masa kecilnya merupakan penggemar karya Hans Christian Andersen, CS Lewis, dan Nicholas Stuart Gray. Di masa kecil yang sebagiannya dihabiskan di rumah susun, ia pernah berlatih balet di sebuah sekolah tari. Bermodalkan pengalaman masa kecil dan kenyataan menarik yang ditemukannya bahwa banyak orang mengalami kesulitan menyebut nama mereka tanpa "menarik mundur" suaranya, ia menulis buku tentang kehidupan seorang gadis cilik penari balet bernama Clair-de-Lune.

Clair-de-Lune yang namanya berarti Sinar Rembulan tinggal di ruang bawah atap sebuah bangunan yang tinggi, sempit, tua, dan berlantai enam dengan dua belas deret anak tangga curam di antara setiap lantai. Ia tinggal dengan Madame Nuit, neneknya, balerina pada zamannya. Ibunya, La Lune atau Mademoiselle Moon, juga seorang penari balet kondang. Pada masa hidupnya, La Lune pernah mementaskan tarian balet yang indah tapi tragis. Tarian balet itu berkisah tentang angsa yang terluka oleh panah pemburu yang walaupun bisu pada akhir hidupnya bisa menyanyikan lagu-lagu terindah.

Suatu malam, pada penghujung pementasan balet, setelah mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi bahan spekulasi banyak orang, La Lune meninggal. Sejak saat itu pula, Clair-de-Lune menjadi bisu.

Seperti nenek dan ibunya, Clair-de-Lune juga disiapkan untuk menjadi penari balet dengan belajar pada seorang guru balet bernama Monsieur Dupoint. Bagi Clair-de-Lune, tari adalah hal yang terpenting di dunia ini. Dengan tari, ia bisa berbicara sesuai dengan caranya, hal sama yang ditanamkan dalam dirinya oleh Madame Nuit.

Di ruang latihan balet, suatu hari, ia bertemu dengan Bonaventure, seekor tikus penari yang gemar menyanyikan lagu nina bobo untuk membangunkan orang. Tikus yang bertekad mendirikan sekolah tari khusus untuk para tikus ini mengajak Clair-de-Lune bertemu dengan seorang biarawan bernama Bruder Inchmahome. Bruder Inchmahome tinggal di sebuah biara yang bisa ditempuh melalui salah satu lantai di gedung yang sama dengan tempat Clair-de-Lune tinggal. Lewat sebuah pintu batu, mereka akan menemukan lokasi biara.

Bruder Inchmanhome ternyata memiliki kemampuan mendengarkan isi hati Clair-de-Lune yang bisu. Ia mengajak Clair-de-Lune untuk belajar bicara dan belajar mendengarkan setiap pagi di biara sambil menugaskan Clair-de-Lune untuk menemukan alasan ia kehilangan kemampuan berbicara.

Sulit untuk Clair-de-Lune belajar bicara dan mendengarkan, karena ia mendapatkan kesimpulan bahwa berbicara dan mendengarkan adalah hal yang berbahaya. Tapi, Bruder Inchmahome terus-menerus memberikannya motivasi. Sejalan dengan itu, Claire menemukan bahwa sesungguhnya ada hal yang lebih penting dari tari, yaitu kasih. Hanya saja, untuk lebih memahami kasih, Clair-de-Lune tetap perlu mendengarkan. Menurut Bruder Inchmahome mendengarkan adalah kasih.

Pada saat yang sama, dalam rangka ulang tahun perusahaan tari, Clair-de-Lune dipilih untuk membawakan tarian balet yang dulu dibawakan ibunya pada malam kematiannya. Bonaventure juga berhasil mendirikan sekolah tari dan berniat melakukan ekspansi dengan mendirikan perusahaan tari untuk tikus.

Hingga akhirnya sesuatu terjadi pada Bonaventure yang memicu tersingkapnya misteri di balik meninggalnya ibu Clair-de-Lune.

Novel Clair-de-Lune benar-benar berisikan kisah dongeng yang cantik. Cassandra Golds merangkum hal-hal indah yang akan disukai oleh banyak pembaca kisah fantasi. Di sini terdapat kompilasi menarik antara balet, rumah ajaib, tikus yang bisa berbicara, dunia tikus yang lucu, dan terutama cinta sebagai simpul novel, dengan latar sebuah tempat di Prancis.

Mungkin pembaca akan dibuat bersedih dengan kisah yang lirih, tapi akan tetap mendapatkan ending yang bahagia untuk Clair-de-Lune, seperti yang biasa dialami karakter-karakter utama dalam dongeng klasik. Di luar hal-hal ajaib yang ada, kisah dongeng ini terkesan sangat manusiawi karena hadirnya cinta di dalamnya. Cinta di sini bukan hanya berbicara tentang cinta antara kekasih, tapi lebih luas lagi. Cinta kepada sesama makhluk hidup dan kepada kehidupan itu sendiri.

Selain inti cerita yang menawan, Clair-de-Lune juga memiliki karakterisasi dan plot yang bagus. Kemungkinan pecinta dongeng modern tidak akan mudah melupakan beberapa tokoh utamanya seperti Clair-de-Lune, Bonaventure, dan Bruder Inchmahome sekaligus dengan liukan plotnya yang cantik.

Pesan yang saya tangkap dari novel ini adalah sesungguhnya hidup itu indah dan cinta adalah elemen terpenting yang memberikan warna indah. Tidak ada senjata yang dapat digunakan untuk membunuh cinta meski untuk memanggilnya datang sangat mudah, yaitu dengan cara mendengarkan, yang dalam hal ini tidak sekedar berbicara mengenai fungsi telinga. 

Tapi, meski indah, hidup juga tidak mudah. Seperti kata Bonaventure, si tikus penari (hlm. 191), "Apakah itu hidup? Hidup yang sejati, harus ada kucingnya!"


Posted at 05:05 pm by Jody
Comments (2)  

Tuesday, July 10, 2007
KELUARGA FLOOD - TETANGGA MENYEBALKAN

 

 


Judul Buku: Keluarga Flood Tetangga Menyebalkan
Diterjemahkan dari: The Floods Neighbours
Penulis: Colin Thompson
Diterjemahkan oleh: Shinta Hanni
Penyunting: Ferry Halim
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Tebal: 200 hlm; 13 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Juni 2007


DI SINI TERBARING KELUARGA FLOOD




Di Acacia Avenue nomor 13, tinggal sebuah keluarga penyihir asal Transylvania Waters. Mereka terdiri atas Nerlin -cucu buyut Merlin, nyaris menyandang nama Merlin jika penyihir pendeta yang melantiknya sebagai penyihir tidak sedang terserang flu, dan istrinya Mordonna, penyihir cantik yang pernah tampil di halaman tengah majalah Magic Monthly, menjadi legenda di dunia tenung dan sihir serta sangat suka menghabiskan malam yang sunyi di rumah dengan keluarganya sembari mengisap isi perut cicak dan menonton film Susan the Teenage Human.

Mereka mempunyai tujuh orang anak.

Anak tertua, Valla, 22 , bekerja sebagai manajer sebuah bank darah ; disusul Satanella, 16, mantan gadis kecil secantik sekarung belut yang menjadi seekor anjing kecil karena sebuah kecelakaan sihir; Merlinmary, 15, jenis kelamin tidak diketahui, bahkan oleh dirinya sendiri, berbakat menciptakan arus listrik; Winchflat, 14, tampak seperti orang yang sudah lama mati, genius, dan sangat menyukai orang-orang pintar terutama zombie-zombie pintar yang tak pernah mati; Morbid dan Silent, sepasang kembar cermin, satu sama lain tampak seperti bayangan dalam cermin.

Keenam anak ini diciptakan berdasarkan sebuah buku resep kuno, menggunakan tongkat sihir berkekuatan turbo dan seperangkat panci mengilap Jamie Oliver produksi Inggris. Setelah memiliki enam anak yang aneh, Mordonna ingin anak perempuan yang bisa memasak dan merajut. Maka dengan cara berbeda, Betty yang mirip boneka porselen diciptakan.

Pada usia 3 tahun, Betty -yang juga aneh- sudah bisa menolong bundanya membuat kue souffles dan merajut baju hangat untuk neneknya, Ratu Scratchrot. Ratu Scratchrot telah dikubur di kebun belakang rumah, dan merasa sangat kedinginan pada malam-malam musim dingin gara-gara sebagian besar kulitnya telah hancur membusuk.

Jika enam saudaranya bersekolah di sekolah sihir di Patagonia yang letaknya sangat jauh dari rumah, Betty bersekolah di sekolah normal dekat rumah. Betty berambut pirang dan senang memakai pakaian biasa warna-warni. Sementara hampir semua anggota keluarga selalu mengenakan pakaian hitam, kecuali Satanella yang memang berbulu hitam.

Oya, Betty memiliki makanan kesukaan yang unik, abon peri rasa lintah.

Keluarga Flood adalah sebuah keluarga penyihir yang saling menyayangi dan hidup bahagia di sebuah rumah yang menurut mereka sudah sempurna. Mereka hidup dalam kedamaian dan saling berbagi makanan dengan tetangga sebelah kiri dan kanan rumah yang sudah lanjut usia. Jika tetangga mereka memberikan mereka kue-kue, mereka akan membalas kebaikan tetangga dengan memberikan kecoak goreng garing.

Setelah tetangga yang sudah tua bangka mati, kedamaian keluarga Flood berakhir. Mereka mendapatkan tetangga baru, Keluarga Dent yang berasal dari neraka dunia. Keluarga ini beranggotakan manusia dengan tubuh kelebihan berat badan karena sarat lemak. Mereka suka bertengkar dan bersumpah-serapah dengan suara keras sehingga merusak ketenangan Keluarga Flood.

Nyonya Dent memiliki kegemaran nonton televisi sepanjang hari dengan tontonan favorit Acara Permak Penampilan Selebriti Yang Teramat Sangat Tolol, Gemuk, dan Jelek. Sedangkan Tuan Dent menyukai tidak melakukan apa-apa, ditambah makan, minum, dan tidur. Anak sulung mereka adalah cewek gembrot bernama Tracylene, pelanggan www.cewekgenit.com yang memiliki segudang pacar, termasuk polisi setempat yang sudah punya istri dan anak. Tracylene yang memiliki hobi mengurung pacar-pacarnya dalam sebuah mobil berkarat di halaman depan rumahnya ini memiliki sel otak terlalu sedikit. Si bungsu, laki-laki, adalah sebuah karung beras bernama Dickie. Dickie memiliki kegemaran masuk rumah orang tanpa izin, mengencingi perabotan dan memasukkan boneka Barbie yang ia temukan dalam oven microwave. Ia adalah teman sekelas Betty.

Oya, Keluarga Dent memiliki jenis makanan yang sama setiap hari: burger, kentang goreng, dan kacang polong.

Bosan menikmati ulah Keluarga Dent, Keluarga Flood memutuskan merebut kembali kedamaian yang telah dirampas dari mereka. Kebetulan mereka masih membutuhkan perabotan baru: kulkas, televisi, dan penyedot debu. Ratu Scratchrot juga membutuhkan sesuatu untuk dimakan meski sudah berada di dalam kubur. Maka, kelancangan keluarga Dent memberikan solusi untuk memuaskan kebutuhan Keluarga Flood.

Inilah sebuah buku fantasi yang ditulis dengan kocak, nakal, kacau, dan penuh humor yang akan menggetarkan saraf tawa pembaca. Sejak halaman pertama dijamin pembaca sudah tidak bisa menahan tawa. Belum menukik ke dalam cerita sebenarnya, pembaca sudah dikitik-kitik sang penulis yang berbakat gendeng.

Setiap bab, yang terdiri atas 16 bab, diberi judul "Di Sini Terbaring BAB ......" dengan gambar sebuah nisan. Dan karena yang jadi narator adalah Colin sendiri, maka, jika perlu, ia juga menuliskan catatan-catatan kaki yang aneh-aneh. Bukan hanya kalimat-kalimat yang kacau-jenaka, Colin juga menjejali buku ini dengan hal-hal yang sinting, yang bagusnya bukan bikin garing, tapi menjadikan buku ini sangat lucu dan menghibur. Bayangkan saja, ada ular yang berfungsi sebagai jam beker, dengan cara menggigit leher siapa yang hendak dibangunkannya. Sebagai pelengkap, terdapat juga data diri Keluarga Flood dan binatang peliharaan mereka (Clarissa si Burung Dodo dan Belut Malam), Cara Membuat Alat Kejut Listrik Raksasa Untuk Membangkitkan Orang Mati, dan petunjuk-petunjuk rumah tangga dari Nenek Flood seperti Cara membuat "Aku tidak Percaya Itu Bukan Darah". Dan seolah-olah kelucuan dalam cerita belum cukup, masih dilengkapi dengan gambar-gambar kreasi Colin yang lumayan edan. Lengkaplah seluruh kegilaan.

The Floods diterbitkan oleh Serambi Ilmu Semesta melalui lini buku anak, Little Serambi. Hanya saja, menurut saya, cerita ini agak aneh untuk konsumsi anak-anak. Selain muatan humor gelap, saya merasakan percikan sensualitas yang menguar dari cerita ini. Misalnya, pembicaraan Nerlin dan Mordonna tentang mimpi Nerlin (hlm. 25 – 26). Kemudian pada data keluarga (hlm. 168), Mordonna disebutkan tampil menghiasi halaman tengah majalah Magic Monthly (yang mengingatkan pada halaman tengah majalah-majalah pria dewasa). Perhatikan juga gambar di halaman 32 ketika Nerlin dan Mordonna sedang tidur siang. Rupanya si Nerlin sedang berada -meminjam kalimat di halaman 25- "pada bagian terbaik dari mimpinya".


Colin Thompson

Keluarga Flood Tetangga Menyebalkan (The Floods: Neighbours) adalah buku pertama dari serial The Floods karya Colin Thompson. Setelah Neighbours, Colin telah membukukan Playschool, Home & Away, Survivor, dan Prime Suspect yang akan diterbitkan September 2007. Buku keenam, The Great Outdoors, sedang dalam pengerjaan dan dijadwalkan terbit Februari 2008. Selain menulis cerita, Colin juga menjadi ilustrator untuk semua gambar dalam buku serial ini. Buku bergambar Keluarga Flood, The Floods Family Files, akan beredar November 2007. Selain Indonesia, serial The Floods telah beredar di berbagai negara seperti Brasil, Yunani, Thailand, Spanyol, Rumania, dan Prancis. Tiga buku pertama telah tersedia dalam bentuk CD di Australia.

Laki-laki kelahiran Ealing, London, 18 Oktober 1942 yang pindah ke Australia tahun 1995 setelah menemukan akal sehatnya ini menulis buku anak-anak bergambar sejak tahun 1990 dan sampai sekarang sudah memiliki puluhan buku yang telah diterbitkan. Ia juga menulis novel semiautobiografis dalam bentuk trilogi. Yang pertama, Laughing For Beginners, telah diterbitkan di Australia dan New Zealand tahun 2002.

Oya, saya ingin mengutip kata-kata penulis buta warna gendeng yang senang buah ceri  ini yang saya cuplik dari website-nya (www.colinthompson.com):

"I have always believed in the magic of childhood and think that if you get your life right that magic should never end. I feel that if a children's book cannot be enjoyed properly by adults there is something wrong with either the book or the adult reading it. This of course, is just a smart way of saying I don't want to grow up."



Posted at 01:40 am by Jody
Comments (5)  

Sunday, July 08, 2007
MIDDLESEX

 


Judul Buku : Middlesex
Penulis: Jeffrey Eugenides
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Terbit: Cetakan 1, Juni 2007
Tebal: 812 hlm; 15 X 23 cm
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

 

MEMOAR FIKTIF SEORANG HERMAFRODIT


Nyanyikanlah sekarang, oh Muse, tentang mutasi resesif kromosom kelimaku! Nyanyikanlah tentang kejadian dua setengah abad yang lalu, di puncak gunung Olympia, sementara kambing mengembik dan buah-buah zaitun berguguran. Nyanyikanlah tentang bagaimana kromosom kelima bertahan melewati sembilan generasi, berkumpul tanpa terlibat di dalam kolam tercemar keluarga Stephanides. Dan nyanyikanlah tentang bagaimana Sang Maha Kuasa, dalam penyamaran pembantaian, sekali lagi menerbangkan gen ini; meniupnya seperti benih melintasi lautan menuju Amerika, membiarkannya turun bersama hujan yang terpolusi dan jatuh ke tanah yang subur di dalam rahim midwestern ibuku (hlm. 16 -17)


Demikianlah rangkaian kalimat indah yang dipahat sang pemahat kata-kata, Jeffrey Eugenides, ketika memutuskan karakter utama dalam novel ini, Calliope Stephanides, menceritakan riwayat hidupnya sebagai produk keruwetan masalah genetika. Jika disimak teliti kalimat sok bergaya Homer di atas -seperti pengakuan si karakter, secara ringkas dan tepat menggambarkan seluruh isi buku yang terbitan Indonesianya mencapai 800-an halaman dengan ukuran 15 X 23 cm.

Adalah Cal Stephanides, 41 tahun, seorang pegawai Departemen Luar Negeri AS di Berlin dan tercatat sebagai laki-laki seperti pada SIM terbaru miliknya yang dikeluarkan Republik Federal Jerman. Laki-laki, tapi tidak memiliki penis sebagaimana laki-laki normal lainnya. Stop sejenak. Saya beri tahu, meski saya menyinggung soal genital, tapi saya tidak sedang menceritakan kisah porno.


Ada apa dengan klarinet? (baca aja sendiri)


Lanjut.

Laki-laki tapi tidak memiliki penis? Anda pasti bertanya. Benar. Secara genetis Cal adalah laki-laki karena tubuhnya memiliki kromosom X dan Y dengan level testosteron yang tinggi. Tapi organ yang seharusnya penis tidak tumbuh layaknya sebuah penis, hypospadiac -kondisi abnormal pada penis di mana uretra terbuka di permukaan bagian bawahnya. 'Penis' ini lebih tampak sebagai setangkai klitoris, tapi lebih besar dari umumnya klitoris. Cal terlahir dengan sindrom kekurangan enzim 5-alpha-reductase yang menyebabkan tubuhnya tidak memproduksi dihidrotestosteron. Selama berada di rahim, ia mengalami perkembangan kelamin perempuan seperti pada umumnya, terutama alat kelamin eksternalnya. Ketika masa puber, testosteron menjeritkan hak-haknya yang tidak bisa ditangguhkan lagi, sehingga tumbuh setangkai organ testikular yang mengukuhkan Cal sebagai seorang hermafrodit.

"Aku terlahir dua kali: pertama, sebagai seorang bayi perempuan, pada hari tanpa kabut di Detroit, Januari 1960; lalu sekali lagi, sebagai seorang remaja laki-laki, di sebuah ruang gawat darurat di dekat Petoskey, Michigan, pada Agustus 1974," demikian kata Cal (hlm. 15).

Maka begitu lahir, Cal dibesarkan sebagai anak perempuan sembari menyandang nama yang indah, Calliope Helen Stephanides. Cal, menjadi gadis cilik nan cantik yang memikat siapa saja. Namun, ketika ia menanjak remaja, ia mulai merasakan keanehan yang terpatri di tubuh dan jiwanya. Ia tidak mengalami menstruasi seperti teman-teman perempuannya. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis, teman sekolahnya. Pada titik ini, dirinya tampak sebagai seorang lesbian.

Sebuah kecelakaan yang mendamparkannya di sebuah ruang gawat darurat sebuah rumah sakit membuka misteri yang, secara pribadi, sebagai pemilik tubuh, tidak ia pahami.

Begitu mengetahui jika secara kromosom ia adalah lelaki dan abnormal -dalam kamus Webster, berkisar pada kata hypospadiaseunuchhermaphrodite, kemudian MONSTER, dan akan dibedah kosmetik supaya tampil layaknya seorang perempuan, ia meninggalkan orang tuanya. Ia luntang-lantung di berbagai kota di Amerika hingga terperangkap di Sixty-Niners, sebuah kelab di San Francisco yang dikelola seorang germo untuk segmen manusia-manusia aneh. Saat keadaan memaksanya kembali ke rumah, ia bukan lagi Calliope, tapi Cal. Laki-laki, bukan perempuan.

Terlepas dari masalah kelamin ganda, perjalanan Cal sejak mengetahui identitas gendernya, melarikan diri, hingga kembali ke rumahnya, secara tematik bukanlah kisah yang baru. Tapi untuk kasus Cal, kisah perjalanannya hadir dengan sangat menyentuh. Tidak ada manusia yang diberi kesempatan memilih jadi apa dirinya ketika dilahirkan di dunia.

Yang mengharukan, setelah mencoba melarikan diri, ia sadar, ia tidak bisa mengubah apa yang telah ada. Ia mesti menerima siapa dirinya termasuk kesemrawutan genetikanya dan meyakinkan diri bahwa meski bertentangan dengan segala pendapat masyarakat, jenis kelamin ternyata tidak terlalu penting (hlm. 747). Pemahaman kehidupan yang ia susur membuat ia berkata (hlm. 807), "Aku menyukai kehidupanku. Aku akan hidup bahagia." Pembaca normal yang berempati tentu akan merasakan betapa perkasanya kata-kata optimis ini mengingat untuk seterusnya Cal tidak akan pernah mengalami nikmatnya menjadi laki-laki 'normal' (baca: laki-laki dengan penis).

Yang perlu dicatat di sini, novel ini tidak sekedar mengemukakan abnormalitas gender dan bagaimana si 'korban' mengatasi gegar kepribadian yang ia alami begitu mengetahui identitas gendernya (saya yakin siapa pun di antara kita yang mengalami nasib yang sama akan mengalami gegar yang kurang lebih sama). Meski digambarkan secara kuat, hal ini tidak merenggut bagian terbesar novel. Bagian terbesar novel digenggam oleh sejarah keluarga Stephanides. Untuk menjelaskan latar belakang mutasi genetika pada Calliope, Jeffrey Eugenides mengayun langkah mundur, membelek perjalanan kehidupan keluarga Stephanides yang bermula di sebuah desa kecil di Asia Minor, ketika Perang Yunani-Turki (Ottoman) merebak.

Dari desa kecil di Asia Minor, sejarah keluarga Stephanides menggelinding ke Amerika Serikat, ke Detroit, membaur dalam hiruk-pikuk geliat industri Amerika Serikat, tumbuh kembang melalui tiga generasi. Dalam sejarah keluarga yang dikelola secara penuh pesona dan jenaka, terkuak misteri mutasi genetika yang kemudian memutuskan memamerkan eksistensinya dalam diri Calliope, ketika pembuahan terjadi pada musim semi tahun 1959.

Middlesex dalam buku ini adalah nama rumah tempat tinggal keluarga Stephanides di Detroit yang terletak di Middlesex Boulevard, Grosse Pointe. Tapi Middlesex yang digunakan sebagai judul buku juga menggambarkan keberadaan Calliope yang berkelamin ganda atau hermafrodit atau interseks, 'gender ketiga' sebagaimana disebutkan dalam tulisan Karl Heinrich Ulrichs pada tahun 1860 di Jerman yang dibaca Calliope.

Tak pelak lagi, Middlesex, hadir bak memoar dari seorang Calliope Stephanides. Tapi, tentu saja, bukan memoar umumnya yang kerap tanpa gizi dan membosankan untuk ditelusuri. Novel ini justru terkesan kaya raya, berlapis-lapis, juga liar, penuh energi, kocak, dan tentu saja, indah. Semua tersaji lengkap: karakter yang hidup, plot yang terarah dengan konflik, benturan, dan kejutan yang telah dipersiapkan untuk dihadirkan di tengah pergumulan hidup seorang interseks dalam bingkai kasih sayang kedua orang tuanya. Tidak heran, untuk novel yang sangat imajinatif ini, Jeffrey Eugenides, mendapatkan penghargaan prestius, Pulitzer Prize untuk fiksi, pada tahun 2003.



Jeffrey Eugenides


Novel ini dirangkai dalam 4 bagian besar, yang terdiri atas 28 bab dengan judul-judul bab yang menarik. Sebagai narator, Eugenides menggunakan orang pertama, yaitu Cal atau Calliope. Penggunaaan sudut pandang orang pertama ini terasa sangat efektif karena dengan mudah membuat pembaca memahami bagaimana rasa frustrasi dan kebingungan yang dialami tokoh utamanya.

Yang berpotensi menimbulkan kejanggalan adalah penggunaan sudut padang orang pertama, tapi naratornya maha tahu. Dalam novel ini, Cal menjadi narator jenis ini. Ia tidak saja fasih mengisahkan pengalaman hidupnya, tapi juga pengalaman, perasaan, dan pikiran tokoh-tokoh lain.

Tapi dengan caranya sendiri, entah kenapa Eugenides seakan-akan bisa menghindar dari situasi janggal yang ditimbulkan oleh penggunaan orang pertama maha tahu ini. Mungkin hal ini bisa disebut sebagai salah satu keistimewaannya sebagai penulis.

Satu pesan yang sangat terang-benderang dalam novel yang dikerjakan dalam kurun waktu sembilan tahun ini adalah waspada dengan pernikahan atau hubungan seksual sedarah, kendati, misalnya, tradisi membolehkan. Bagaikan suatu penyakit genetis, dampak buruknya mungkin tidak akan kelihatan dalam waktu dekat. Tapi pada saat pengeraman tiba, ia akan menetas meneriakkan kehadirannya yang tidak bisa ditolak. Apa pun yang dilupakan oleh manusia tetap diingat oleh sel mereka. Tubuh mereka, seperti gajah....(hlm. 164). (Konon, gajah adalah hewan yang tidak pernah lupa meski sesuatu yang menimpanya telah sekian lama terjadi).

Middlesex edisi Indonesia yang penerjemahannya dikerjakan Berliani M. Nugrahani tergolong enak dibaca. Meski edisi Indonesia terbitan Serambi ini hadir dalam 800-an halaman dan terkesan sangat panjang tapi tetap bisa diikuti dengan lancar. Pembaca masih bisa menikmati semburan humor Eugenides yang dibungkus dalam kalimat-kalimat yang cerdas dengan mengabaikan beberapa kesalahan cetak yang ada.

Sebelum Middlesex, novelis dan cerpenis kelahiran Detroit, Michigan, 13 April 1960 ini telah membukukan novel pertamanya yang berjudul The Virgin Suicides (1993). Novel ini telah difilmkan oleh Sofia Coppola dengan menggunakan judul yang sama.

 

Posted at 11:30 am by Jody
Make a comment  

Friday, July 06, 2007
THE STOLEN CHILD


Judul Buku: THE STOLEN CHILD
Penulis: Keith Donohue
Penerjemah: Anita Khairunisa
Penyunting: Pray
Tebal: 600 hlm; 12,5 cm X 19 cm
Terbit: Cetakan 1, Juni 2007
Penerbit: Dastan Books



"Sejarahku yang panjang dan terlupakan mengintip di balik layar" (Henry Day, 275)


Sebenarnya hobgoblin termasuk kelompok peri, yaitu peri-peri kecil yang terjebak dalam waktu sehingga tidak menjadi tua dan tetap seperti anak kecil. Tapi mereka tidak lagi suka disebut peri. Suatu saat mereka akan menjadi changeling; menculik anak manusia dan melakukan pertukaran tempat, anak manusia menjadi hobgoblin, dan hobgoblin menjadi anak manusia. Para hobgoblin ini harus menunggu selama satu abad begitu mereka menjadi hobgoblin, untuk mendapatkan giliran menjadi changeling. Ketika giliran seorang hobgoblin menjadi changeling, komunitas akan membantu mencari anak manusia yang tepat, mengamati kehidupan dan kebiasaan-kebiasaannya untuk dipelajari si changeling. Kriteria seorang anak yang akan digantikan kehidupannya adalah anak berumur enam atau tujuh tahun yang jiwanya rusak oleh kehidupan.

Henry Day, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun direnggut dari keluarganya dan tempatnya digantikan oleh salah satu hobgoblin dari komunitas hobgoblin dekat tempat tinggalnya. Ia dibawa ke dalam komunitas yang terdiri atas sebelas hobgoblin liar. Dalam komunitas ini, Henry dipaksa melupakan masa lalunya sebagai manusia, terjebak dalam waktu menjadi hobgoblin dan akan menunggu hingga kelak ia menjadi changeling. Seiring dengan perjalanan waktu, nama aslinya menghilang dari ingatannya dan ia menyandang nama baru, Aniday (selanjutnya saya sebut Aniday).

Di pihak lain, hobgoblin yang mengambil tempat Henry Day tumbuh secara mencengangkan sebagai seorang anak dengan bakat seni (selanjutnya saya sebut Henry Day). Ia memiliki kemampuan musikal alamiah untuk bermain piano. Samar-samar, ia mengingat, dulu telah mengenal alat musik ini, pada kehidupannya yang lain, sebelum tempatnya dalam keluarganya digantikan oleh changeling.

Selama beberapa waktu, Henry Day bisa menyembunyikan identitas dirinya. Tapi, lama kelamaan keanehan yang ditampakkannya membuat ayahnya curiga. Apalagi suatu pagi Aniday tanpa sengaja muncul di pekarangan rumah keluarga Day. Sejak saat itu, jurang membentang di antara Henry Day dengan sang ayah. Hal ini berlangsung hingga ayahnya meninggal. Henry Day tahu, sebelum meninggal, ayahnya telah mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya.

Ketika menjalani kehidupan baru, rupanya masa lalu terus menggoda Aniday dan Henry untuk ditelusuri. Dengan cara masing-masing, mereka mencoba menguak rahasia asal-usul mereka. Aniday mendapati bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah keluarga di daerah dekat komunitas hobgoblinnya berada. Ia juga mengetahui siapa changeling yang merenggut posisinya di tengah keluarga Day. Sedangkan Henry Day menemukan bahwa sebelum menjadi hobgoblin, dirinya adalah seorang anak manusia bernama Gustav yang berasal dari keluarga Jerman. Dia telah dirampas dari keluarganya oleh changeling yang kemudian menjadi seorang idiot savant di tengah keluarga Ungerland.

Meski telah menemukan diri dan keluarga, mereka menyadari apa yang telah direbut dari mereka tidak akan kembali ke sediakala. Aniday tidak mungkin meminta Henry Day untuk mengembalikan hak-haknya bagaimanapun ia membuat kekacauan dalam hidup Henry Day. Sebaliknya, Henry Day telah lenyap dari garis darah keluarganya seabad sebelumnya. Ia memang bisa menemukan jejak keluarganya, tapi dirinya bukan lagi bagian dari mereka.

The Stolen Child adalah sebuah novel fantasi tentang dunia peri –hobgoblin- yang digarap dalam nuansa kontemporer. Pada awalnya, novel ini terkesan biasa-biasa saja, sebuah kisah fantasi layaknya kisah peri yang pernah digarap, yang hadir sering hanya sebagai pelengkap. Tapi begitu masuk dalam alur kisah, kita seperti dibawa hanyut dalam dunia peri yang unik dan mengasyikkan.

Sebagian besar novel bercerita tentang pencarian identitas Aniday dan Henry Day yang hilang. Novel dijabarkan secara menarik menggunakan dua narator yaitu Aniday (dulunya Henry Day) dan Henry Day (dulunya Gustav) menggunakan sudut pandang orang pertama. Masing-masing akan saling melengkapi kisah yang berkembang sejalan dengan mengalirnya plot. Penggunaan perspektif orang pertama terkesan sangat mendukung karena pembaca akan dibawa untuk lebih memahami perasaan kedua karakter ini yang digali secara ekspresif oleh sang pengarang.

Pada saat membaca narasi Aniday, mungkin pembaca tergoda untuk memihak si anak yang diculik ini. Tapi, setelah membaca narasi Henry Day, kita akan merasakan perasaan yang sama pula. Bagaimanapun keduanya memiliki nasib yang identik, hanya terjadi pada masa yang berbeda. Jika dalam keluarga Aniday, sang ayah menjadi korban depresi dari hasil pertukaran tempat Gustav dan Henry Day. Sebaliknya, keluarga Gustav, seluruhnya menyandang predikat gila.

Cerita mencapai klimaks ketika Henry Day dan Aniday akhirnya dipertemukan oleh penulis menjelang novel berakhir. Tidak ada kesan penulis bersegera untuk mengakhiri novelnya, tapi ending yang disajikan tanpa bertele-tele menunjukkan bahwa penulis tahu persis kapan sengat yang ditorehkannya akan memudar.

Saya suka dengan kalimat yang dijadikan pamungkas oleh Keith Donohue, "Aku pergi dan tak akan pernah kembali, tetapi aku akan selalu mengingat semuanya" (hlm. 577). Untuk salah satu dari kedua narator, selanjutnya kemungkinan besar keadaan akan berjalan dengan baik. Tapi untuk narator yang lain, dengan keputusannya, ia akan menghadapi dunia keras yang berselimut tanda tanya.


Tentu saja sebagai sebuah kisah fantasi, ada hal yang harus diterima tanpa memperhitungkan logika, khususnya yang berkaitan dengan dunia peri (hobgoblin). Tapi, mengingat latar kisah ini adalah dunia modern, ada hal yang agak mengusik pikiran saya. Bukan masalah besar. Hanya tentang seorang perempuan bermantel merah yang berada di luar komunitas hobgoblin. Ia pernah bertemu dengan Aniday, pada masa-masa awal Aniday hidup sebagai hobgoblin (hlm. 70-72). Bertahun-tahun kemudian, perempuan ini bertemu dengan Henry Day di sebuah resital piano musim dingin (hlm. 178 – 182). Mungkin, untuk memperkuat alur, setelah delapan sampai sembilan tahun berlalu, perempuan ini masih dikisahkan menggunakan mantel merah. Sayangnya, kesan yang tertangkap,  selama nyaris sepuluh tahun perempuan ini masih mengenakan 'mantel merah yang sama'.

Hal lain yang mengusik saya adalah soal nama hobgoblin. Setelah menjadi hobgoblin, Henry Day mendapatkan nama baru, Aniday. Tapi untuk Gustav (kemudian menjadi Henry Day), tidak saya temukan namanya selama menjadi hobgoblin.

Tapi, tentu saja, keusilan saya ini tidak memengaruhi kisah yang ditawarkan Keith Donohue dalam novel perdananya ini. The Stolen Child tetap hadir sebagai kisah fantasi yang memikat, pedih dan mengharukan jika direnungkan, tapi indah dan magis dalam penjabarannya.

Kehadiran buku terbitan Dastan Books ini tak pelak lagi akan memberi warna baru kisah-kisah fantasi yang mengitari dunia peri yang telah bertaburan di wilayah fiksi perbukuan Indonesia.


Posted at 11:07 am by Jody
Comments (3)  

Monday, July 02, 2007
THE PROPOSING TREE

Align Left

Judul Buku : Pohon Lamaran
Diterjemahkan dari: The Proposing Tree
Penulis: James F. Twyman
Penerjemah: Mikaela Nadia dan Anton Kurnia
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 161 hlm
Terbit: Cetakan 1, April 2007


Kisah Cinta Abadi James F. Twyman


Konon, sejak diciptakan, manusia sudah punya pasangan atau belahan jiwa. Dalam kehidupan, seringkali manusia terjebak dalam keputusan menghabiskan hidup (baca: menikah) dengan orang yang sesungguhnya bukan belahan jiwanya. Ketika menyadari orang tersebut bukan belahan jiwanya, sebagian orang tetap mempertahankan hubungan itu, sebagian lagi meninggalkannya untuk mencari belahan jiwanya.

Pohon Lamaran (The Proposing Tree) adalah kisah perjalanan seorang pria penulis buku terkenal untuk mendapatkan kepastian mengenai belahan jiwanya. Kemungkinan besar kisah yang dijalin sebagai novel alit ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup si penulis novel ini, James F. Twyman. Hal ini tergambar pada ungkapan persembahan (hlm. 5) yang ditulisnya untuk seorang bernama Jennifer di samping penggunaan namanya sendiri sebagai tokoh utama.


James Fredrick Twyman

Sebagai pengarang terkenal, James F. Twyman, penulis novel ini, juga telah menulis buku seperti Emissary of Light: A Vision of Peace, Emissary of Love, dan The Prayer of St. Francis. Ia dikenal sebagai musisi yang telah berkeliling dunia menampilkan "Konser Perdamaian" di beberapa daerah konflik, dan "Trubador Perdamaian" yang diundang oleh berbagai pemerintah dan organisasi kemanusiaan untuk tampil di Irak, Irlandia Utara, Bosnia, Serbia, Kosovo, Israel, Timor Timur, dan Meksiko, serta oleh PBB di New York.

Dalam novel Pohon Lamaran yang merupakan debut novelnya, ia mengisahkan tentang penulis asal Illinois bernama James Fredrick Twyman (Fredrick). Tidak puas dengan kehidupannya di Peoria, Illinois, Fredrick lari ke California, dan memulai karier kepenulisannya dengan menulis esei dan cerita pendek. Setelah berhasil menulis dua buku, ia memiliki penggemar fanatik, antara lain seorang seniwati asal Nebraska, bernama Carolyn, yang sama seperti Fredrick, tidak puas dengan tempat asalnya. Mereka bertemu dan menjalin persahabatan, meski dalam hati, sejak jumpa pertama, Fredrick telah jatuh cinta.

Setelah enam bulan saling kenal, mereka menemukan sebuah pohon, di tengah-tengah Los Angeles. Sejenis pohon ek yang bundar dan kuat dengan cabang-cabang berbulu selembut awan, hijau dan rimbun; bagian bawahnya lebih mirip tiga batang daripada satu batang yang saling lilit dan menjalin sebagai sebuah pohon besar, menaungi jalanan di sudut Jalan Nomor Dua dan Jalan Windsor (hlm. 9 – 10).

"Aku punya mimpi dilamar di bawah pohon seperti ini," kata Carolyn. "Khususnya di hari seperti ini dengan embusan angin yang lembut dan langit yang biru." (hlm. 25).

"Aku tidak pernah benar-benar memikirkan hal itu, tapi kau benar. Jika aku mau melamar seorang perempuan, ini akan menjadi tempat yang tepat," kata Fredrick. (hlm.26).

Maka, di bawah pohon itu, di bawah kekuatan magis cabang-cabangnya, Fredrick berlatih melamar perempuan, dengan Carolyn sebagai pasangannya. Tanpa Carolyn sadari, pada saat latihan melamar ini, Fredrick sesungguhnya telah mengatakan isi hati yang sebenarnya. Sejak saat itu, pohon itu dibabtis menjadi Pohon Lamaran. Setiap kali bertemu, latihan melamar menjadi ritual mereka, selama bertahun-tahun. Sempat tiga tahun mereka tidak melakukan ritual ini karena sama-sama mengalami ketakutan dengan perasaan sendiri.

Suatu hari, dalam perjalanan ke London, Fredrick dan Carolyn bertemu seorang bintang rock terkenal, Colin Church, yang juga seorang penggemar fanatik karya Fredrick. Dengan segera Colin akrab dengan mereka dan menjadi bagian hidup mereka. Selanjutnya, apa yang Fredrick takutkan terjadi, Colin jatuh cinta pada Carolyn. Atas bantuan Fredrick sendiri, Colin melamar Carolyn, seperti yang perempuan itu inginkan, di bawah 'Pohon Lamaran Mereka'. Patah hati, Fredrick mengemas barangnya dan meninggalkan Los Angeles.

Pada akhirnya, Fredrick menemukan juga perempuan yang kemudian diputuskannya untuk menjadi teman hidupnya. Sayangnya, Fredrick tidak mendapatkan kesempatan melamar calon istrinya di bawah Pohon Lamaran.

Cerita inti novel Pohon Lamaran adalah catatan Fredrick James yang dihadiahkan kepada si Pohon Lamaran. Kisah ini ditulis di sebuah buku yang diletakkan di tempat pertemuan dua cabang utama Pohon Lamaran. Kebetulan buku ini ditemukan oleh anak lelaki pemilik baru sebuah rumah di dekat lokasi pohon ini. Kisah Pohon Lamaran yang kemudian dibaca oleh pembaca adalah tulisan tangan yang dibaca oleh Maggie, ibu si bocah, yang tengah galau dengan perkawinannya yang mulai kehilangan api cinta.

Sebenarnya, sejak awal, pembaca sudah bisa meraba isi lengkap novel ini. Sebuah kisah cinta berliku yang berakhir bahagia. Perjalanan cinta ini memang memakan waktu, tapi membayar lunas apa yang telah kedua tokoh utama novel ini korbankan. Sebuah model kisah cinta yang memiliki penggemar sendiri, yang terus digarap, tidak pernah aus digerus waktu.

Sayangnya, kisah perjalanan cinta James F. Twyman ini hadir tanpa keistimewaan berarti sebagai sebuah kisah cinta abadi. Secara keseluruhan terasa tidak menggigit. Gaya berceritanya terkesan datar dan parahnya kisah berlikunya tidak didukung konflik yang kuat dan menggugah. Sekalipun misalnya kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata, sebagai penulis fiksi, Twyman seharusnya memanfaatkan apa yang disebut kebebasan novelis. Meraut konflik sampai tajam sangat penting, apalagi untuk kisah cinta yang sudah terlalu kerap digarap.

Dari segi karakterisasi, ada kesan Twyman memosisikan karakter-karakter dalam novel ini sebagai manusia yang 'lurus'. Dan saking lurusnya, sebagai contoh, tidak ada keberanian dalam diri Fredrick untuk memangkas perjalanan cintanya yang akhirnya memakan waktu puluhan tahun. Alhasil, karakter-karakter dalam novel ini terasa membosankan.

Memang sulit menghasilkan sebuah kisah cinta abadi. Sampai sekarang, Love Story karya Erich Segal -bagi saya, masih merupakan novel cinta yang memikat. Seperti The Proposing Tree (Pohon Lamaran), Love Story tidak memakan banyak halaman untuk menjabarkan kisah cinta di dalamnya. Tapi dalam keringkasan yang ia miliki, dengan konflik yang menyentuh—catat, bukan sekedar karena penyakit yang diderita karakter perempuannya, dalam penuturan yang cerdas dan menggelitik, Love Story berhasil meninggalkan bekas, sebagai sebuah kisah cinta abadi.

Pembaca yang senang ungkapan-ungkapan cinta yang dirangkai berbunga-bunga mungkin bisa menjadikan The Proposing Tree sebagai pilihan. Tapi, khusus bagi pembaca pria, jika ungkapan-ungkapan yang ada hendak ditiru untuk melamar calon istri, sungguh tidak disarankan.


Posted at 10:45 am by Jody
Comments (9)  

Next Page