"Dunia Buku adalah
sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu
dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku,
dan diapresiasi selaras emosi dan logika"
If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
Thursday, August 16, 2007
MATA GOLEM
Judul Buku: The Golem's Eye (Mata Golem) Penulis: Jonathan Stroud Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani Editor: Dini Pandia Tebal: 624 hlm; 20 cm Terbit: Juli 2007 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
MISTERI DI BALIK MATA GOLEM
Setelah The Amulet of Samarkand (Mei, 2007), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan bagian kedua dari Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud, The Golem's Eye (Juli 2007). Bagian ketiga, Ptolemy's Gate, akan terbit September 2007. Mengingat trilogi ini mengisahkan tentang hubungan penyihir dan jin, Nathaniel (Nat) dan Bartimaeus (Bart), maka sekali lagi, Bart, jin sombong dan berlidah tajam akan dipanggil dari Dunia Lain (dunia asal demon). Membaca ocehan-ocehan pedas Bartimaeus di buku pertama, jelaslah pemanggilan dirinya merupakan hal yang sangat tidak ia harapkan. Jika ia dipanggil, mau tak mau ia kembali lagi menjadi budak yang mesti menjalankan semua perintah sang master –penyihir yang memanggilnya.
The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama Bart dan Nat. Saat cerita digulirkan sang penulis, Nat, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nat antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan kelompok commoner yang dikenal sebagai Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Trilogi Bartimaeus ini memang berlatar Inggris ketika manusia biasa (commoner) telah kehilangan kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan para penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Rahasia kekuasaan para penyihir terletak pada kemampuan mereka berkomunikasi dengan para demon, memanggil dari Dunia Lain, dan memaksa melaksanakan apa yang mereka inginkan. Kekuasaan para penyihir yang kerap bertindak congkak membuat sebagian commoner menjadi oposan. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Perdana Menteri Sihir, Rupert Devereaux.
Menjelang berlangsungnya Founder's Day (hari lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nat tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nat tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Menjadi tugasnya sebagai pekerja bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nat menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.
Seperti yang telah diduga, tindakan Nat menimbulkan kemarahan Bart yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bart akan melayani Nat selama 6 minggu.
Dugaan Nat memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bart yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.
Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tantangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nat dan Bart ke Praha.
Simultan dengan kepergian Nat ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone, sang Pendiri Negara di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir.
Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nat karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nat bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bart tidak bisa menolong karena menolong Nat berarti mengorbankan nyawanya.
Lalu, apa yang akan terjadi pada Nat? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate(Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nat tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bart. Sangat menarik ketika Nat, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Bart tahu benar siapa dia, dan tahu benar juga, commoner ini tidak akan tega membiarkan Nat meregang nyawa percuma. Dalam situasi ini sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance. Apa yang pernah dikatakan Simon Lovelace dalam The Amulet of Samarkand (hlm. 329), bahwa di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang", tetap akan berlaku. Seperti bagian pertama, The Amulet of Samarkand, konflik utama tetap bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Siapa pencetus konflik dalam The Golem's Eye, akan Anda temukan setelah membaca buku setebal 624 halaman ini. Yang jelas, ia (ternyata) memiliki hubungan dengan karakter antagonis dalam The Amulet of Samarkand, Simon Lovelace.
The Golem's Eye terdiri atas 4 bagian besar yang dijabarkan dalam 48 bab. Kisah dibuka dengan sebuah prolog yang menceritakan serangan Gladstone atas Praha pada tahun 1868, saat Bartimaeus bermasterkan seorang penyihir Ceko. Tentu saja prolog ini memiliki pertalian dengan konflik yang akan dijabarkan pada bagian novel selanjutnya. Seandainya The Golem's Eye ini sebuah film (dan memang akan difilmkan), prolognya menjadi semacam teaser yang mengasyikkan.
Jika dalam buku pertama penulis mengalirkan plot melalui dua perspektif, yakni orang pertama dengan Bart sebagai narator dan orang ketiga untuk mengisahkan sepak terjang Nat, kali ini Jonathan Stroud menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik.
Seperti buku pertama, ketika membaca cerita yang dielaborasi Bart, kita tetap akan menemukan eskpresi yang sinis, sok tahu, dan egomaniak yang tidak cukup hanya menggunakan narasi biasa, tapi juga catatan kaki yang menggelikan. Tak dapat dibantah, hal inilah sesungguhnya yang menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Trilogi Bartimaeus. Tapi dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Keberadaannya di alam imajinasi Jonathan Stroud telah menjadi salah satu pendorong dirangkainya kisah Nat dan Bart dalam bentuk trilogi.
Masih menggunakan latar dunia sihir yang berbeda dengan kisah-kisah dunia sihir lainnya (dunia sihir tempat penyihir berkuasa, ritual pemanggilan demon dengan menggambar pentacle dan tujuh tingkat keberadaan (plane)), karakter-karakter yang menarik, plot terjaga yang kian meruncing mencapai bagian akhir, sekali lagi Jonathan Stroud membuktikan dirinya sebagai penulis kisah fantasi yang tangguh. Ia memiliki kemampuan meramu kisah dengan sangat mengasyikkan, yang akan terus menghasut pembaca untuk menuntaskan seluruh buku begitu membaca dan menemukan daya tariknya. Menurut Jonathan Stroud ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun penggarapan dalam bentuk novel yang siap diterbitkan. Ketiga buku dari Trilogi Bartimaeus ini diterbitkan pertama kali berturut-turut tahun 2003, 2004, daan 2005. Pada tahun 2006, Trilogi Bartimaeus memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis).
Edisi Indonesia diterjemahkan dengan asyik sehingga kita dapat menikmati The Golem's Eye dengan nyaman. Membaca buku kedua Trilogi Bartimaeus ini, tak pelak lagi, akan membuat pembaca yang telah menikmati petualangan Bartimaeus dan Nathaniel sejak buku pertama, akan tidak sabar untuk menanti jilid pamungkas kisah berlatar dunia sihir Inggris ini.
Mengutip School Library Journal (sampul belakang novel), secara keseluruhan, saya mesti bersetuju bahwa inilah, "karya fantasi yang harus dimiliki", terutama oleh penggemar novel fantasi dengan latar dunia sihir.
Namanya sebenarnya Danukusuma. Tapi ia lebih suka dipanggil Glonggong. Ia tidak mengenal ayahnya, Ki Sena, yang menghilang setelah terlibat sebuah pemberontakan yang gagal pada tahun 1810. Ibunya, Wahyuningsih, menikah lagi dengan Suwanda dan kedua kakaknya beralih menjadi tanggung jawab kerabat ibunya. Ia tidak pernah bertemu kedua kakaknya.
Sejak kecil Danukusuma memiliki kegemaran bermain glonggong -tangkai daun (pelepah) pepaya, yang dibentuk menyerupai pedang. Suatu hari, ketika sedang bermain glonggong, Danukusuma mendapatkan nama baru, yang akan melekat padanya seumur hidup, dari penunggang kuda yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Dipanegara. Akhirnya, bukan hanya menyandang nama glonggong, pedang tangkai pepaya itu juga membuat hidup Danukusuma berbeda (hlm. 11: Tanpa ada glonggong, aku boleh jadi akan seperti ibuku)
Di tengah-tengah keriangan masa kecil, menjalani hidup bermain dan bertanding glonggong, Glonggong diperkenalkan dengan kerasnya kehidupan. Kewarasan ibunya yang terganggu membuat ia dan Ibunya tersingkir, dan mau tidak mau ibunya yang sakit menjadi tanggung jawab Glonggong remaja. Tidak ada penjelasan mengenai terganggunya kewarasan ibu Glonggong. Ia diceritakan sebagai sosok yang tidak banyak bicara yang kerjanya menembang setiap hari.
Pada tahun 1825 (hlm. 93), saat berusia 17 tahun (tidak cocok dengan yang disebutkan pada bagian lain (hlm. 123), ketika pemberontakan yang melibatkan Ki Sena gagal dan Suwanda membawa pergi ibu Glonggong (1810), Glonggong berusia kurang dari 1 tahun), tempat tinggal Glonggong dan ibunya terbakar, ibunya meninggal, dan Glonggong hidup sebatang kara. Menyusul kejadian sedih yang menimpa Glonggong, patok-patok dipasang, sebuah jalan hendak dibuat menerobos pekarangan Nyai Tegalreja, nenek Pangeran Dipanegara. Patok-patok itu kemudian dicabut, korban berjatuhan, puri Nyai Tegalreja terbakar, dan bersama pengikutnya, Pangeran Dipanegara meninggalkan Tegalreja, menuju Selarong. Perang Jawa (Java Oorlog) pun berkobar memecahkan masyarakat Jawa ke dalam 2 kutub. Pertama, memihak Pangeran Dipanegara dan melawan kompeni Belanda; kedua, memihak Patih Danureja (pihak keraton) yang mengadakan perselingkuhan dengan kompeni Belanda.
Dalam situasi genting, huru-hara berdarah, di sela-sela usaha Glonggong menemukan saudara-saudaranya, Glonggong dijebloskan dalam penjara. Di sini ia bertemu Ki Jayasurata yang mengajaknya membantu perjuangan Pangeran Dipanegara, menggantikan tugas yang pernah diemban Ki Sena dan dua kenalan Glonggong.
Dalam perjalanan menjalankan tugas, Glonggong dihadang gerombolan begal yang dipimpin oleh orang yang sangat dikenalnya. Seperti pendahulunya, Glonggong mencatat kegagalan dalam tugas yang sama.
Perjalanan Glonggong selanjutnya akan membuat ia berhadapan dengan sejumlah kenyataan yang sulit untuk ia terima. Bukan hanya pengungkapan misteri kedua kakaknya yang mengejutkan, tapi juga bagaimana para pendukung Pangeran Dipanegara meninggalkan perjuangan karena lebih memilih kehidupan yang enak dan nyaman sekalipun tetap terjajah. Saat itu, orang-orang yang dikenalnya sejak dari masa kecil hingga Perang Jawa berkecamuk, menggoreskan noda dalam jiwanya. Salah satunya, menggunakan nama Glonggong untuk membalaskan dendam masa lalu yang tak terduga.
Hanya satu yang menjadi tujuan hidup Glonggong setelah semua perkara yang disaksikannya nyaris membuatnya lantak dalam kekecewaan, bertemu Pangeran Dipanegara untuk meluruskan kesalahan yang pernah ia lakukan. 28 Maret 1830, di Magelang, di sebuah tempat yang mengingatkannya pada suatu masa dalam hidupnya yang telah lama berlalu, ia meneteskan lagi air mata yang mengering sejak kepergian ibunya. Apa yang ia saksikan di sana memberi suntikan semangat untuk menulis kisah berjudul Glonggong, yang (kemudian) kita baca dalam novel berjudul GLONGGONG ini. Glonggong kembali ke Tegalreja, dan baru bisa menuntaskan kisah hidupnya 25 tahun lebih setelah peristiwa Magelang itu dan hampir setahun sesudah mangkatnya Pangeran Dipanegara. Lewat kisahnya, Glonggong berharap siapa saja yang membaca tulisannya bisa memetik pelajaran berharga.
Glonggong adalah novel pertama Junaedi Setiyono, penulis kelahiran Kebumen, 16 Desember 1965. Ia juga telah menulis puisi dan cerpen, yang antara lain dapat ditemukan dalam antologi Kemuning (2005). Glonggong yang diikutkannya dalam sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, terpilih sebagai Pemenang Harapan 1 dari 249 naskah novel yang dinilai.
Membaca novel ini, kita akan menemukan kisah berlatar masa-masa sebelum, sementara, hingga Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk dan berakhir mengenai seorang pengagum Pangeran Dipanegara. Kisah hidup Glonggong dielaborasi dengan lancar dalam plot yang menawan yang bergerak cepat di tengah kesulitan hidup, maraknya intrik politik, dan gairah serta napsu terhadap harta, tahta, dan wanita. Seluruhnya dijabarkan dalam 6 bagian yang diberi judul menggunakan bahasa Jawa, masing-masing: Beda-beda Pandumaning Dumadi, Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati, Cakra Manggilingan, Yitna Yuwana Lena Kena, dan Jer Basuki Mawa Bea. Dengan latar Jawa yang digunakan, tak pelak lagi, dalam perguliran plot, kita akan disapa dengan sejumlah kosakata Jawa yang artinya dapat ditengok pada bagian glosari di bagian belakang buku.
Dengan plot yang bergulir cepat, dibentangkan menggunakan bahasa yang tanpa kerumitan (di luar kosakata Jawa atau Belanda), pembaca akan menikmati sajian kisah yang tidak menjadi membosankan sampai halaman terakhir berlalu. Penggunaan bahasa yang terbilang sederhana, tanpa bunga-bunga atau metafora segar yang melimpah ruah bisa dipahami mempertimbangkan kisah digelontor dari perspektif Glonggong. Meski bisa baca-tulis, Glonggong tidak pernah diceritakan mengenyam pendidikan formil pada zamannya.
Melalui Glonggong, agaknya penulis hendak menunjukkan jika ia bukan penulis yang murah hati memberikan detail. Ketika apa yang hendak ia sampaikan telah tercetus, ia akan segera melanjutkan kisah guna mencapai tujuan yang dikehendakinya. Hanya, akibat dari teknik ini, ada hal-hal terkesan mengambang, tidak jelas. Seperti keputusan ibu Glonggong menikahi Suwanda dan membiarkan kedua anaknya pergi, tidak ada detail yang sebenarnya perlu mempertimbangkan hal ini berperan penting dalam perjalanan hidup Glonggong selanjutnya. Penggunaan narator yang tidak serbatahu tentu saja bukan alasan untuk mengabaikan detail penting. Meskipun begitu, teknik ini memiliki keunggulan dari sisi lain, yaitu saat Glonggong menarasikan suara hatinya, karena tidak berpanjang lebar, pesannya tidak luncas dan tidak terjebak pada gaya menggurui yang kerap sangat menjengkelkan.
Walaupun akan terkesan memanfaatkan faktor kebetulan untuk menghidupkan karakter yang diimbuhkannya ke dalam plot, jelas penulis telah melakukan perencanaan yang matang untuk kehidupan setiap karakter. Kehadiran Suta, Surya, Prayitna, Suwanda, Danar, Kiai Ngali, bahkan Rubinem dan dua bersaudara Jacob Roeps, tidak hanya menjadi ornamen cerita belaka, tapi memberikan kontribusi pada sepak terjang, pikiran, dan perasaan Glonggong.
(SPOILER) Di antara karakter-karakter itu, saya agak terusik dengan karakter Danar yang menjual saudara perempuannya (hlm. 202) dan menghabisi ayahnya, Ki Sena (hlm. 186). Tidak ada penjelasan memadai dari penulis soal motivasi tindakan Danar. Hanya sekadar diceritakan untuk menciptakan efek kejutan. Padahal apa yang dilakukan Danar sangat penting artinya dalam perjalanan hidup Glonggong. Bukan hanya karena Danar ikut ambil bagian dalam kegagalan tugas penting yang diemban Glonggong, tapi Danar sesungguhnya adalah kakak kandung Glonggong. Penulis tidak menjelaskan kemungkinan Danar tidak mengenal ayahnya sehingga tindakan merenggut nyawa ayahnya bisa dipahami. Namun, rasanya tidak mungkin Danar tidak mengenal ayahnya mengingat Danti Arumdalu -saudara perempuan yang dijual dan pernah tinggal dekat dengannya mengetahui jati diri sang ayah. Ditambah lagi adanya percakapan Glonggong dan Danar mengenai Ki Sena yang sepertinya ingin dihindari Danar (hlm. 120 -121). Dalam novel yang tidak mencapai 300 halaman ini, tidak sedikit pesan yang ditaburkan oleh si penulis. Bukan cuma kegigihan bertahan hidup seperti yang dilakoni Glonggong. Bukan hanya kejujuran dan integritas dalam semua sendi kehidupan seperti yang diwartakan Glonggong. Juga, bukan sekadar pada pentingnya suara hati yang jernih untuk menamengi setiap orang dalam menghadapi kemelut hidup. Tapi juga, yang sangat mencolok, adalah cara hidup para karakter yang dikenal Glonggong secara dekat.
Khususnya dari kehidupan para karakter yang dikenal Glonggong, kita akan menemukan seorang kiai yang menjadi panutan tapi lebih suka mengkhianati perjuangan yang sebelumnya sangat ia yakini demi kenyamanan hidup; seorang santri yang hadir santun mengesankan, namun serakah, tidak cuma harta, tapi juga wanita (memiliki 3 istri sekaligus, para pelacur yang agaknya sering ia kunjungi sebelumnya); seorang laki-laki yang menghalalkan berbagai cara untuk menumpuk harta, bahkan menjual saudara perempuan dan membunuh ayahnya sendiri; seorang kakak lelaki yang mencarikan perempuan pemuas napsu untuk suami adik perempuannya; dan seorang bangsawan pengkhianat yang tega menghabisi nyawa istrinya. Betapa kepribadian seseorang (laki-laki) begitu mudah tergerogot oleh sihir harta, tahta, dan wanita dan melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. Meskipun terjadi di masa silam, gaungnya masih berkumandang dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.
Pada akhirnya, Glonggong memang tidak bisa mengakhiri dengan indah misi terpenting yang menjadi tujuan akhirnya karena situasi yang tidak bersahabat. Meski demikian, Glonggong tetap menjadi karakter ideal, yang akan memberikan pelajaran berharga bagi pembaca, bahwa, di atas segala-galanya kemurnian moral dan kejernihan hati nurani adalah hal-hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Sehingga, melalui kisah ini, tidak cuma seperti harapan Glonggong, Junaedi Setiyono tentu saja berharap, novelnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi setiap pembacanya.
Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, harus diakui, Glonggong memang layak terpilih sebagai salah satu pemenang sayembara penulisan novel. Memang tidak luar biasa, tapi memberikan pengalaman baca yang cukup mengesankan.
Judul Buku: Vienna Blood (The Liebermann Papers) Penulis: Frank Tallis Penerjemah: Berliani Nugrahani Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007 Tebal: 592 hlm; 20,5 cm Penerbit: Qanita
DENDAM YANG BERTUNAS DI MASA KECIL
Setelah The Liebermann Papers pertama, A Death in Vienna (Mortal Mischief) yang memikat, kembali lagi Penerbit Qanita menerbitkan seri kedua yang telah beredar, Vienna Blood. The Liebermann Papers yang seluruhnya (akan) mengambil setting Wina di antara tahun 1902 hingga 1914 ini memang baru terbit dua buku. Buku ketiga, Fatal Lies, direncanakan terbit tahun 2008. Sekali lagi, seperti buku pertama, Maxim Liebermann, sang psikonanalis dan murid Sigmund Freud, akan unjuk kebolehan membantu sahabatnya -Inspektur Detektif Oskar Rheinhardt, dalam rangka memecahkan misteri pembunuhan yang terjadi di kota sphinx, Wina. Max akan mengaplikasikan ilmu yang dipulung dari gurunya sambil melakukan tindakan nekat seperti yang terjadi di buku pertama.
Dibandingkan dengan buku pertama, pembunuhan yang diceritakan dalam buku ini lebih banyak dan memiliki tingkat kesadisan yang lebih tinggi. Rangkaian pembunuhan sadis ini dibuka dengan pembantaian Hildegard, seekor anakonda yang dikerat menjadi tiga bagian. Setelah itu terjadi pembantaian di sebuah rumah bordil yang menewaskan seorang mucikari dan tiga pelacur dengan metode pembunuhan yang sangat mengerikan; terpotong-potong, usus terburai, kelamin tercabik, dan tenggorokan tertebas. Pembunuh keempat perempuan ini meninggalkan jejak berupa lambang semacam salib di dinding yang dibuat menggunakan darah.
Sebelum kedua kasus pembantaian tersebut terpecahkan, seorang pedagang ayam asal Ceko meregang nyawa di ujung pedang, yang diduga sebagai senjata yang sama yang digunakan pada dua kasus terdahulu. Selain ditikam, ke dalam tenggorokan korban dijejalkan gerendel. Dan seolah-olah rangkaian pembunuhan ini belum cukup, seorang pelayan lelaki asal Nubia, tewas dibunuh dengan tenggorokan terbelah dan alat kelamin tercerabut.
Inspektur Detektif Oskar Rheindhardt tentu saja dibuat pusing oleh rangkaian pembunuhan itu. Investigasi dilakukan terhadap setiap oknum yang berpotensi melakukan tindakan kriminal, tapi kabut kebingungan menghalangi munculnya titik terang kasus. Kontribusi Amelia Lydgate memunculkan dugaan jika sang pembunuh adalah seorang pemilik toko buku tua atau seorang pustakawan.
Ketika menyaksikan opera The Magic Flute karya Mozart, Max menemukan jika kasus pembunuhan yang sedang ditangani sahabatnya berhubungan erat dengan opera ini. Berdasarkan analisis Max dan Oskar, pembunuh berantai ini mereka sebut sebagai Salieri, dan mereka yakin, setelah si pelayan asal Nubia, masih akan ada lagi pembunuhan berikutnya.
Simultan dengan terjadinya pembunuhan dan pengusutan pembunuhan, Asosiasi Sastra Eddik pimpinan Gustav von Triebenbach menggalang kekuatan. Organisasi ini secara terbuka mengembuskan permusuhan dengan berbagai kalangan, termasuk Freemason, yang salah satu anggotanya ternyata Mozart, pencipta opera The Magic Flute. Di antara mereka terdapat seorang musisi bernama Herman Aschenbrandt yang tengah menulis opera berdasarkan novel Carnuntuum karya Guido von List, dan Andreas Olbricht, seorang pelukis yang hendak melaksanakan pameran tunggal untuk karya-karyanya.
Pengusutan kasus pembunuhan oleh Max dan Oskar menemui titik terang ketika identitas si pembunuh diketahui (juga) sebagai pemain cello. Tapi, ternyata, tetap tidak mudah membekuk si pembunuh sadis ini. Untuk membekuknya sekaligus mengungkap motivasi tindakannya, Max sekali lagi mesti melakukan tindakan nekat. Bukan hanya menyusup ke dalam organisasi rahasia Freemason, tapi juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jika Max gagal, berarti mata pedang si pembunuh akan meminta korban nyawa lagi. Meski hanya sedikit, latihan yang dilakukan Max pada awal novel akan memberinya bantuan untuk bertahan.
Di sela-sela pengusutan pembunuhan berantai itu, Max Libermann diserang kegalauan akan cintanya terhadap Clara Weiss, calon istrinya. Dalam kisaran cintanya dengan Clara, Max tidak menemukan gairah yang sama seperti ketika ia membayangkan Amelia Hydgate, mantan pasiennya yang pintar. Balada cinta Max bergulir di antara tugasnya sebagai psikoanalis yang mempertemukannya dengan Herr Beiber, seorang lelaki yang didiagnosisnya sebagai pengidap paranoia erotica. Tak disangka, sesi terapi dengan Herr Beiber ini akan memberikan penegasan pada Max siapa sesungguhnya si pembunuh berantai yang dicari-cari.
Bagi yang sudah membaca A Death in Vienna, sekali lagi akan merasakan pengalaman baca yang kurang lebih sama mengasyikkan dalam Vienna Blood. Frank Tallis masih menggunakan formula andalannya, misteri pembunuhan yang tidak mudah dipecahkan, tersangka yang tampak potensial, dan pelacakan serta pengungkapan motivasi pembunuhan yang berbelit. Semuanya tidak hanya membutuhkan kecerdasan analisis seorang Maxim Liebermann, tapi juga dukungan teori Sigmund Freud.
Seperti A Death in Vienna, Vienna Blood dielaborasi tanpa tergesa, panjang lebar, dalam bab-bab yang bergaya cerpen, sehingga tidak membosankan untuk diikuti. Seluruh kisah dipaparkan dalam 88 bab, yang terangkum dalam 4 bagian besar, berturut-turut terdiri atas Tersangka Utama, Kerajaan Malam, Salieri, dan Dunia Bawah Tanah. Setiap bab diakhiri dengan pas, dengan cara yang tepat untuk mengundang pembaca segera lanjut ke bab berikutnya.
Meski identitas pembunuh telah diketahui sejak bab 71 (dengan catatan, harus diikuti dari awal untuk menghindari kebingungan), perburuan si pembunuh sekaligus pembongkaran alasannya melakukan tindakan keji tetap menjadi materi yang sangat menarik untuk disimak. Rahasia yang terungkap berkat kecakapan Max Liebermann memanfaatkan psikonanalisis, hasil pemupukan tunas dendam yang tumbuh di masa kecil sang pembunuh, terasa sangat kuat dan mencengangkan sehingga membuat novel ini terasa lebih bersinar.
Beberapa bagian terkesan sangat kebetulan, misalnya pengungkapan wajah si pembunuh melalui pasien Max, atau ternyata opera The Magic Flute memiliki pengaruh pada tindakan nekat dan sadis si pembunuh. Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi daya tarik novel berlatar musim dingin tahun 1902 ini. Apalagi masalah kebetulan memang jamak ditemukan dalam novel detektif pembunuhan semacam ini.
Dengan karakter utama yang sama, beberapa karakter figuran yang pernah muncul di seri sebelumnya, dan tambahan karakter yang memberi nuansa baru, Vienna Blood kian mengukuhkan nama Frank Tallis, psikolog klinis peraih Writers' Award (Arts Council of Great Britain, 1999) dan New London Writers'Award (London Arts Board, 2000), sebagai novelis kisah detektif brilian yang karya-karyanya sangat layak dinikmati dan ditunggu kehadirannya.
Edisi Indonesia terbitan Penerbit Qanita ini diterjemahkan oleh Berliani Nugrahani dengan apik. Naskah dicetak menggunakan huruf berukuran kecil, tapi masih tetap enak dibaca. Seingat saya, tidak ada kesalahan cetak yang membuat acara membaca menjadi terganggu. Penyuntingan novel juga sangat bagus, tidak ada kalimat-kalimat aneh membingungkan. Hal ini penting, mengingat belakangan, di dunia buku Indonesia beredar karya-karya fiksi yang kurang bagus dari segi penyuntingan. Malah, ada karya fiksi yang tampaknya terbit tanpa disunting terlebih dahulu, sehingga kita masih bisa menemukan kalimat-kalimat kacau yang perlu disiangi.
Setelah Vienna Blood, rasanya tidak sabar untuk segera membaca buku ketiga serial The Liebermann Papers, yang sayangnya, baru akan terbit tahun 2008.
Judul Buku: Century Penulis: Sarah Singleton Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007 Tebal: 248 hlm; 20 cm Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Century adalah novel anak-anak pertama yang ditulis Sarah Singleton, seorang jurnalis dan penulis fiksi berdarah Inggris, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis novel dewasa, The Crow Maiden (2001) dan novella, In The Mirror (2001). Selain Century, penulis kelahiran tahun 1966 ini telah menulis dua buku anak-anak lain, yaitu Heretic (2006) dan Sacrifice( 2007). Century yang diterjemahkan Poppy Damayanti Chusfani dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini telah memenangkan Booktrust Teenage Prize tahun 2005.
Sarah Singleton
Novel Century dibuka dengan adegan penemuan sebuah buku bersampul kulit merah dalam sebuah peti di sebuah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya selama beberapa dekade dan saat itu sedang direnovasi. Tidak jelas siapa narator yang menceritakan penemuan buku itu. Mungkin, Sarah Singleton sendiri, mengingat penemuan buku yang terdapat pada bagian prolog ini diceritakan menggunakan perspektif orang pertama. Setelah prolog, tidak ada lagi bagian novel yang menyinggung si "aku" ini.
Buku yang ditemukan itu berisi sebuah novel yang ditulis seorang bernama Mercy Galliena Verga pada tahun 1890. Menurut tulisan dalam buku tersebut, Mercy adalah seorang gadis kurus berwajah murung yang tinggal di sebuah rumah bernama Century (abad). Mercy tinggal di Century bersama Trajan Quintus Verga -ayahnya, dan adiknya, Charity, serta Aurelia -pengurus rumah dan perawat, dan Galatea -seorang pengasuh. Keluarga ini berasal dari Italia yang pindah ke Inggris untuk sebuah alasan yang tidak diketahui kedua anak perempuan Keluarga Verga. Penghuni Century memiliki kehidupan yang berbeda dengan kehidupan manusia di luar Century. Mereka bangun setelah matahari terbenam dan tidur saat matahari terbit. Century dan penghuninya senantiasa berada di hari-hari musim dingin yang sama yang tak berkeputusan.
Mercy tidak pernah mempertanyakan jenis kehidupan yang mereka jalani saat itu, hingga suatu hari ia terbangun dan menemukan sekuntum bunga snowdrop di bantalnya, bunga yang menandai datangnya musim semi. Karena setahunya bunga ini biasanya tumbuh di kolam di Padang Penyulingan, maka ia pergi ke sana dan menemukan hantu wanita di bawah es yang menyelimuti kolam. Mercy memang memiliki kemampuan melihat hantu. Setelah melihat hantu wanita itu, selanjutnya, di sebuah kapel dekat Century, Mercy bertemu Claudius yang mengaku masih Keluarga Verga. Claudius berjanji akan membantu Mercy. Ia mengatakan Mercy masih bisa melihat Thecla -ibu Mercy, yang setahu Mercy telah meninggal sejak ia masih kecil.
Keingintahuan Mercy membuatnya bertekad melakukan petualangan dalam rumahnya sendiri. Ia ingin menyingkap misteri yang membalut Century, hantu kolam bernama Marietta, dan kematian ibunya. Seperti ayahnya yang berbakat menggunakan kata-kata dan telah menulis buku berjudul Century pada tahun 1790, Mercy juga memiliki bakat menggunakan kata-kata untuk membangun kembali kenyataan. Sebagai dukungan, Claudius memberikan kepada Mercy sebuah buku merah dengan tulisan Century yang diembos di sampulnya. Bakat Mercy yang lain, yaitu bisa melihat menembus dinding hari-hari, akan membantunya menuntaskan bukunya sendiri. Buku inilah yang ditemukan si "aku" pada bagian prolog, dan berisi kisah yang dijabarkan pada halaman-halaman selanjutnya hingga mencapai epilog.
Century adalah sebuah novel enigmatis yang sangat memikat. Sejak awal pembaca sudah disuguhi teka-teki yang mengundang untuk terus digali jawabannya. Perkenalan Mercy dengan hantu pada awal cerita mungkin akan membuat pembaca mengira novel ini novel horor dengan adegan-adegan yang mencekam. Jangan salah, novel ini sama sekali bukan novel horor meski mengandung adegan-adegan yang juga mencekam. Gramedia Pustaka Utama melabeli novel ini sebagai novel fantasi. Ketika mengikuti sepak terjang Mercy dan semua yang ditulisnya, memang akan terkesan jika novel ini sebagai novel fantasi biasa, dengan hal-hal fantastis yang menjadi elemen novel jenis ini. Tapi begitu menamatkannya, pembaca juga akan tahu bahwa Century bukan jenis novel fantasi seperti itu.
"Jangan segera percaya yang Anda baca", mungkin bisa dijadikan peringatan ketika Anda berniat membaca buku ini. Dan, bagi pembaca yang memiliki kebiasaan menengok ending sebelum menuntaskan bacaannya –mungkin saking penasarannya, percuma. Ending yang disuguhkan sama sekali bukan merupakan kunci untuk mendapatkan pesona novel ini. Kunci utama novel ini berada pada bab sebelum Mercy Galliena Verga mengelaborasi ending seperti yang ia inginkan. Meskipun begitu, ending yang akan ditemui pembaca sama sekali tidak akan mengurangi kenikmatan membaca novel ini.
Novel Century ini sedikit mengingatkan saya pada novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Tentu saja bukan pada ceritanya, atau karakter-karakter yang ada, tapi dari sudut pandang karakter mana cerita digulirkan. Memang, Sarah Singleton tidak menguraikan secara panjang lebar apa yang sesungguhnya terjadi, tapi dari percakapan Trajan dan Galatea (hlm. 214 -216), pembaca akan menyadari kepiawaian Sarah Singleton mempermainkan pikiran. Bagian ini pasti akan membuat pembaca terperangah -dengan catatan bagian ini dicapai setelah mengikuti kisah dari awal. Sebuah pemutarbalikan cantik yang membuat novel ini terasa sayang untuk dilewatkan.
Dengan pengungkapan Sarah Singleton ihwal 'apa' sesungguhnya cerita yang diuraikan Mercy, rasanya selain Mercy sendiri, karakter lainnya menjadi tidak terlalu penting untuk dibahas, meski awalnya telah menggugah rasa penasaran. Yang paling menarik, tentu saja, plot yang dirancang Sarah Singleton. Sungguh tak terduga, sehingga percuma untuk menebak-nebak.
Jika Anda penasaran, sebaiknya Anda membaca buku satu ini.
Judul Buku: Balada Seorang Penyiar Judul Asli: L'autre laideur, l'autre folie (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: Jonathan Tanner) Diterjemahkan dari: Different Ugliness, Different Madness Penerjemah: Rosi L. Simamora Teks dan layout: Eduard Iwan Mangopang Editor: Tanti Lesmana Tebal : 128 hlm; 6, 5 mm; 19 X 26 cm (Soft cover) Terbit: Juli, 2007 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
APAKAH PEREMPUAN MERUPAKAN KEAJAIBAN?
Novel grafis adalah jenis komik yang biasanya berisi cerita panjang dan kompleks seperti halnya novel dan sering ditujukan untuk pembaca dewasa. Tapi istilah novel grafis ditujukan juga untuk komik yang merupakan antologi cerita pendek dan koleksi komik berseri.*) Setelah menerbitkan novel grafis seperti Love Me Better- Sebuah Graphic Memoir (Rosalind B. Penfold), Bordir – Embroideries (Marjane Satrapi), Chicken Soup for the Soul Graphic Novel: Hadiah Terindah dan Pelajaran Berharga (Kim Donghwa), V For Vendetta (Alan Moore & David Lloyd, 2007), dan Age of Bronze: A Thousand Ships (Eric Shanower), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan The White Lama - Reinkarnasi ( Bess, Jodorowsky) dan Different Ugliness, Different Madness.
Different Ugliness, Different Madness adalah karya Marc Malés, seorang kreator novel grafis berdarah Prancis. Marc Malés pertama kali menerbitkan karyanya pada tahun 1981 ketika berusia 27 tahun. Ia telah menggambar komik sejak usia 10 tahun, pernah bekerja sebagai petugas layout di sebuah agen periklanan dan membuat ilustrasi untuk Heart Press (majalah cerita romantis di Inggris).
Menurut Marc Malés, novel grafis yang diterjemahkan oleh Rosi L. Simamora dan diberi judul Balada Seorang Penyiar ini terpengaruh film The Bridges of Madison County garapan Clint Eastwood (dibintangi Clint Eastwood dan Meryl Streep). Marc Malés juga menyebutkan bahwa novel grafis ini adalah realisasi ide mengenai penyiar radio bersuara memikat tapi –ternyata- berwajah jelek dan soal kebohongan dalam dunia hiburan -model yang 'meminjamkan' penampilannya untuk suara penyanyi yang berwajah tidak komersil. Kedua elemen ini dikombinasikan dengan kisah pertemuan lelaki-perempuan yang mengubahkan hidup. Juga menurut Marc Malés, karyanya ini merupakan jawaban untuk pertanyaan "Are women magical?" (Apakah perempuan merupakan keajaiban?) yang ditemukannya dalam film François Truffaut.
Kisah dalam Different Ugliness, Different Madness ini dibuka pada tahun 1952 ketika Ralph Burns mempromosikan bukunya yang berjudul Great Radio Personalities. Buku ini berisi tentang bintang-bintang radio tahun 30-an dan salah satu bab didedikasikan kepada Lloyd Goodman yang telah meninggal lima tahun sebelumnya. Lloyd Gooman adalah salah satu penyiar radio C.B.N. yang sangat populer dan dicintai oleh para pendengarnya, sebelum era maraknya televisi.
Suatu ketika, di puncak popularitasnya, Goodman meninggalkan acara radionya secara tiba-tiba. Kemudian, setelah absen selama hampir satu tahun, suatu malam pada Bulan Desember 1934, Goodman kembali lagi bekerja sebagai penyiar radio.
Apa yang terjadi dalam hidup Goodman selama meninggalkan acara radionya akan dijabarkan dalam kisah yang dielaborasi dari sudut pandang Helen Ford, perempuan berusia 78 tahun yang sedang sekarat karena kanker.
Merasa sudah mendekati akhir hidupnya, Helen mengajak Linda, putrinya, mengunjungi sebuah stasiun kereta api yang pernah ia singgahi 50-an tahun yang lalu. Dari stasiun kereta api itu, Helen bermaksud mencari sebuah rumah yang pernah dijadikan tempatnya menginap pada masa itu. Sayangnya, perubahan telah banyak terjadi, sehingga mereka tak bisa menemukan rumah itu lagi.
Lima puluhan tahun sebelumnya, dalam perjalanan tanpa tujuan untuk melarikan diri dari kenangan peristiwa buruk yang menimpa saudara kembarnya, Mary, Helen tiba di stasiun itu. Dari stasiun itu, nasib mempertemukannya dengan seorang lelaki asing baik hati yang bersedia menolongnya. Laki-laki ini memperlakukan Helen dengan hormat dan mengundang Helen menginap di rumahnya karena Helen benar-benar tidak punya tujuan dan tempat untuk menginap. Jadilah, untuk beberapa hari, Helen menginap di rumah laki-laki ini -sebuah rumah tanpa cermin, tempat laki-laki ini hidup hanya dengan seekor anjing.
Lelaki baik hati ini tidak lain adalah Llyod Goodman yang melarikan diri dari pekerjaannya sebagai penyiar radio. Dua manusia bertemu, lelaki dan perempuan, masing-masing menggenggam masalah yang merongrong hidup. Meski Helen tak langsung menyadari saat itu, pertemuan ini telah mengubah hidup mereka selama-lamanya.
Novel grafis nominator Europe's 2004 Association of Graphic Novels Critics and Journalist (ACBD) Award ini hadir bagaikan sebuah film. Cerita digulirkan menggunakan alur kilas balik dari perspektif Helen ketika ia mengunjungi stasiun penuh kenangan itu, kembali, dan tiba di rumah menjelang akhir hidupnya. Setiap ilustrasi dibuat secara sinematik. Akibatnya, seolah-olah hendak menggambarkan pertarungan pikiran yang intens -yang dalam film biasanya disajikan dalam adegan berdurasi panjang, pada halaman 95 – 101, adegan terasa terlalu panjang.
Transisi adegan dari masa kini ke masa lalu dan sebaliknya, tidak ada petunjuk. Untunglah tidak terlalu mengganggu, karena sambil membaca, pembaca akhirnya bisa memahami. Janggalnya, ada adegan yang diberikan porsi terlalu banyak kendati kurang penting, tapi ada adegan yang disajikan irit, baik visualisasi maupun dialognya, padahal cukup penting. Adegan pamungkas misalnya, meski dapat dimengerti, menurut saya terlalu irit. Tentu saja bukan karena saya berharap visualisasi adegan seks antara Llyod dan Helen diumbar lebih banyak. Hanya terkesan tidak cukup intens saja untuk menggambarkan adegan terpenting dalam hidup kedua karakter ini.
Seperti kata Helen, "Lebih baik begini, percayalah... Akan kita lihat, pertemuan ini hanyalah sebuah catatan kaki dlm (dalam) hidup kita (hlm. 127)", kisah pertemuan mereka memang akhirnya sekadar jatuh sebagai catatan kaki dalam hidup mereka, terutama hidup Llyod –setidaknya itulah yang saya tangkap, mengingat cerita dituturkan dari perspektif Helen.
Menikmati novel grafis ini memang akan terasa atmosfer The Bridges of Madison County -film yang diangkat dari novel Robert James Waller yang ditulis berdasarkan kisah cinta yang benar-benar terjadi antara seorang fotografer gaek (Robert Kincaid) dengan perempuan pedesaan (Francesca Johnson) yang berlangsung singkat tapi penuh gairah. Kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia karena Francesca masih memiliki suami dan anak-anak serta tak ingin meninggalkan keluarganya. Sayangnya, dalam novel grafis ini, selain ungkapan Helen pada halaman 127 –seperti di atas- tidak ada penjelasan yang memadai alasan cinta Helen dan Llyod tidak bisa bertaut ketika mereka bertemu, kendati saat itu Helen belum bersuami.
Meskipun tetap mengharukan, kisah dalam novel grafis ini seolah-olah hanya menjadi semacam pembuktian bahwa Helen benar-benar memiliki kekuatan magis seorang perempuan seperti yang diyakininya. Kekuatan magis yang sangat istimewa yang menurut Helen hanya terjadi satu kali, tapi sanggup membuat seorang laki-laki yang tidak bahagia menjadi bahagia (hlm. 125). Kekuatan magis ini tidak hanya membuat Llyod kembali ke pekerjaannya, tapi juga membuahkan sebuah rahasia bernama Linda.
Menurut saya, gambar-gambar dalam novel grafis hitam putih ini tergolong sederhana. Sudah sering saya melihat komik dengan gambar-gambar semacam ini. Saya merasa lebih nyaman melihat gambar-gambar dalam Age of Bronze: A Thousand Ships yang terasa lebih segar, bersih, dan enak dilihat.
Seluruh kisah dalam novel grafis ini memang berangkat dari satu peristiwa dalam kehidupan Llyod Goodman, hanya dalam penjabaran selanjutnya kita juga akan menikmati kisah hidup Helen. Makanya, judul terjemahan yang dipakai, Balada Seorang Penyiar, terasa kurang pas. Tapi, sepertinya, sulit juga memindahkan judul Different Ugliness, Different Madness ke dalam bahasa Indonesia.
Tibet yang terletak di wilayah Pegunungan Himalaya, saat ini merupakan provinsi dari Republik Rakyat Cina. Sebelumnya, Tibet dikenal sebagai wilayah tertutup yang misterius. Tibet menjadi salah satu provinsi Cina setelah invasi Tentara Merah Cina pada tahun 1950, yang dilanjutkan dengan penaklukan pada tahun 1951, ketika ibu kota Tibet – Lhasa- direbut tentara Cina dan Dalai Lama didongkel dari kekuasaannya. Pihak Cina melakukan penindasan dan pembantaian kepala suku dan sejumlah pendeta Budha (lama). Pendudukan Cina mengundang perlawanan rakyat dan pemuka Tibet yang menyebabkan banyak korban jiwa, terutama dari pihak Tibet. Tapi, karena ketidakseimbangan kekuatan persenjataan dan tidak adanya sorotan internasional, perlawanan Tibet berhasil dipadamkan.
Sky Burial yang diterjemahkan dan diterbitkan Gita Cerita Utama Serambi sebagai Pemakaman Langit, menggunakan invasi dan pendudukan Cina di Tibet sebagai latar awal. Novel ini ditulis oleh Xinran Xue, perempuan Cina mantan wartawan dan presenter radio kelahiran Beijing 1958. Pada tahun 1997, Xinran pindah ke London dan menjadi penulis buku. Buku pertamanya, The Good Women of China, laris secara internasional. Selain The Good Women of China dan Sky Burial, Xinran telah menerbitkan koleksi kolomnya, What the Chinese Don't Eat, dan novel berjudul Miss Chopsticks (2007).
Xinran Xue
Meski tidak dijelaskan secara gamblang dalam buku kecil ini, agaknya Sky Burial ditulis berdasarkan kisah nyata. Hal ini tercermin pada ucapan terima kasih (hlm 282) dari Xinran.
Pada tahun 1994, ketika bekerja sebagai wartawan dan presenter radio di Nanjing, dalam siaran radionya, seorang pendengar menelepon dari Suzhou, menginformasikan tentang seorang perempuan aneh yang baru saja kembali dari Tibet bernama Shu Wen. Setelah pertemuan dengan Shu Wen, pada tahun 1995, Xinran menjelajahi Tibet untuk menghayati apa yang telah dialamai Shu Wen selama pengembaraannya di Tibet.
"Selama sepuluh tahun buku ini bersemayam dalam hatiku, mematang laksana anggur. Sekarang, akhirnya, bisa kupersembahkan kepadamu," kata Xinran (hlm. 280) ketika akhirnya kisah Shu Wen berhasil ia selesaikan dalam bentuk buku pada tahun 2004.
Baru tiga minggu menikah, Kejun, suami Shu Wen, sudah harus pergi ke Tibet menjadi dokter Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army -tentu saja menurut pihak Cina). Lewat dua bulan setelah itu, Wen mendapat kabar yang sangat singkat mengenai nasib suaminya. Kejun tewas dalam sebuah insiden di Tibet bagian timur, 14 Maret 1958. Pemberitahuan yang tidak memadai bagi Wen, apalagi tidak ada bukti jasad Kejun, membuat Wen bertekad mencari suaminya di Tibet. Ia menyuntikkan keyakinan dalam dirinya bahwa suaminya masih hidup. Pekerjaannya sebagai dokter –dermatologis- membuat Wen tidak mengalami kesulitan untuk bergabung dengan tentara Cina yang akan dikirim ke Tibet.
Setelah melewati rute Suzhou-Zhengzou-Chengdu, Wen akhirnya bisa menghirup udara Tibet. Dalam perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, Wen dan rekan-rekannya bertemu Zhuoma. Zhuoma adalah anak bangsawan Tibet yang bisa bahasa Cina karena pernah bersekolah di Beijing. Zhuoma baru saja terpisah dari Tiananmen, pemandunya, mantan pelayan keluarga yang diam-diam dicintainya. Selanjutnya kedua perempuan ini meretas wilayah Tibet untuk mencari cinta mereka. Mereka bertemu dengan sebuah keluarga nomadik yang menerima kehadiraan mereka dengan baik. Perjalanan mereka kemudian tidak hanya menjadi perjalanan mencari cinta yang hilang, tapi juga perjalanan Wen mengenai budaya, alam, tradisi, keyakinan, dan cara hidup orang Tibet. Musim demi musim silih berganti, dan dalam sebuah musim, Zhuoma diculik, hilang tanpa jejak. Saat itu, Wen benar-benar telah kehilangan kontak dengan dunia luar. Ia telah menjadi salah satu manusia pengembara di tengah keluarga nomadik. Meski demikian, keyakinan untuk bertemu dengan Kejun masih tetap memijar dalam hatinya. Apalagi, keluarga nomadik itu akhirnya memutuskan membantu pencarian Wen. Ketika tiba di sebuah tempat bernama Wendugongba, bersamaan dengan diadakannya upacara Dharmaraja, Wen baru tahu, ia telah melewati puluhan tahun sebagai pengembara. Sampai saat itu, ia masih kehilangan jejak suaminya.
Di sebuah kawasan yang dikenal sebagai "Seratus Danau", setelah lebih dari 30 tahun mengembara, akhirnya Wen memutuskan untuk kembali ke Cina. Saat itu, Wen telah menjelma dari seorang perempuan berusia 26 tahun menjadi seorang perempuan tua penganut Budha Tibet dengan penampilan Tibet tapi berwajah karakteristik Cina.
Akankah Wen bertemu kembali dengan Zhuoma setelah sahabatnya ini diculik dan lenyap tak tentu rimbanya? Akankah Wen bertemu dengan Kenju setelah lebih dari 30 tahun berpisah? Apa yang terjadi dengan kehidupan Kejun sebenarnya?
Pemakaman Langit tentu saja akan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Pemakaman Langit itu sendiri? Sampai novel mencapai bagian-bagian akhir, saya terus bertanya-tanya alasan pemberian judul ini. Tapi, ketika akhirnya saya menemukan alasan pemberian judul, menurut saya, tidak ada lagi judul yang lebih tepat dari Pemakaman Langit.
Dalam masyarakat Tibet, ada sebuah tradisi memakamkan orang mati yang disebut pemakaman langit. Setelah dimandikan, rambut di sekujur tubuh dan kepala dibabat habis, dibalut sehelai kain putih, jenazah diletakkan dalam posisi duduk dengan kepala merunduk di atas lutut. Pada hari yang ditentukan sebagai hari baik, jenazah digotong ke altar pemakaman langit. Para lama dari biara lokal datang untuk mengumandangkan naskah-naskah suci guna membebaskan roh si mati dari penebusan dosa. Sementara itu seorang yang disebut guru pemakaman langit akan meniup terompet tanduk, menyulut api murbei untuk mengundang burung-burung nazar, memilah-milah tubuh si mati, meremukkan tulang-belulangnya dengan urutan yang telah ditetapkan. Jenazah dipilah-pilah dengan cara yang berbeda-beda, tergantung sebab kematian. Tapi, apa pun caranya, sayatan pisau harus tanpa cela. Ada keyakinan jika sayatan tidak benar, iblis-iblis akan datang merebut roh si mati. Agar jenazah benar-benar dimakan burung nazar, termasuk tulangnya, terlebih dulu yang disajikan kepada para burung adalah tulang-tulang yang terkadang dicampur dengan mentega yak. Jika si mati, selama hidup telah banyak mengonsumsi jamu-jamuan, tubuhnya akan mengeluarkan aroma obat yang kuat sehingga burung nazar tidak menyukainya. Mengingat sesuai keyakinan semua jenazah harus dilahap habis supaya tidak diambil iblis, mentega ditambahkan dengan racikan khusus lain supaya bisa dinikmati para burung (hlm. 225 – 227).
Nah, apa hubungan pemakaman langit dengan kehidupan Wen? Bacalah sendiri buku ini untuk menemukan jawaban.
Pemakaman Langit merupakan sebuah kisah perjalanan pencarian cinta yang hilang, bukan kisah cinta mendayu-dayu yang sering digambarkan dalam novel-novel romantis. Hampir seluruh buku berisi perjalanan Wen, dan bukan perjalanan Kejun. Cinta Kejun pada Wen memang sangat dalam, tersirat jelas pada bagian akhir buku harian Kejun yang isinya bisa membuat mata berkaca-kaca (hlm. 242 - 243). Tapi, buku ini bukan tentang Kejun dan kebesaran cintanya, melainkan Wen dengan kesetiaan dan keteguhan cintanya yang luar biasa. Apalagi mengingat waktu dan jalan yang panjang yang harus ia lewatkan, terasing dari dunia luar tempat ia berasal, untuk menemukan akhir pencariannya. Rasanya, tidak ada pembaca yang tidak akan tercolek sisi kelembutannya, begitu tiba di puncak pencarian Wen.
Seperti apa yang dialami Wen, pembaca juga akan menemukan kehidupan dan budaya Tibet yang mungkin hingga saat ini tidak banyak diekplorasi penulis-penulis buku. Saya pribadi mengenal Tibet hanya cerita seputar bentangan alam, pemerintahan dan, tentu saja, Dalai Lamanya. Tapi dalam buku ini, Xinran akan membawa pembaca menukik lebih jauh ke relung-relung dasar kehidupan, tradisi, dan budaya Tibet yang (mungkin) luput dari jangkauan selama ini. Tak disangka, Tibet menjadi seting sebuah kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang terasa pahit, mengharukan, tapi akhirnya menguatkan dan memperkaya jiwa pembaca.
Saya sungguh yakin, kisah Wen benar-benar dituliskan secara apa adanya. Tapi terkadang selama membaca, saya merasa kisah ini seolah-olah sangat tidak nyata. Saya seperti sedang menonton film sejenis The Knot(karya sutradara Lin Yi dengan pemain Chen Kun dan Vivian Hsu, 2006), yang kebetulan memiliki elemen 'penghancur' cinta yang sama: Tibet, dokter tentara, dan Tentara Pembebasan Rakyat. Selain itu, dalam buku ini, kita juga akan menemukan keberadaan karakter-karakter seperti Zhuoma atau Tiananmen, yang jalan hidupnya terasa hanya ada di dunia fiksional.
Kisah perjalanan pencarian cinta yang memukau dan menggetarkan ini dijabarkan dalam 9 bab menggunakan perspektif orang ketiga, sebagai pengulangan kisah yang dituturkan Shu Wen kepada Xinran. Ada beberapa potongan kisah menggunakan perspektif orang pertama, yaitu dari sudut pandang Xinran. Secara keseluruhan, gaya penulisan yang digunakan Xinran tergolong sederhana, tidak berbelit-belit, membuat novel bisa dengan mudah dicerna.
Saya setuju dengan tulisan di sampul belakang novel yang mengatakan, "Jika Anda tidak percaya kekuatan cinta bisa mengubah segalanya, Anda perlu membaca buku ini". Untuk membuktikan kebenaran kalimat ini, memang harus membaca buku ini. Tapi jujur saja, Anda tidak akan disesatkan, karena apa yang dimaksud akan Anda temukan dalam perjalanan hidup dan cinta Shu Wen.
Judul Buku: Putra-Putra Takdir Judul Asli: Sons Of Fortune Penulis: Jeffrey Archer Penerjemah: Hidayat Saleh Tebal: 576 hlm; 15 X 23 cm Terbit: Cetakan Pertama Juli, 2007 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Paling sedikit ada tiga hal yang membuat Sons of Fortune (Putra-putra Takdir), menurutku, layak dibaca hingga tuntas. Kembar, pengadilan, dan dunia politik. Ketiga elemen ini sangat potensial menghasilkan kisah berlapis yang riuh, ingar-bingar, penuh intrik dan dramatisasi. Ketika saling sengkarut, setidaknya sudah bisa dibayangkan apa yang bakalan terjadi dalam rentangan alur kisah yang dijabarkan penulisnya. Selain itu, dengan seting Amerika Serikat, ketiga hal ini akan mengundang keingintahuan, mengingat di negara ini, segala hal seolah-olah bisa terjadi.
Menariknya, novel berseting Amerika Serikat ini ditulis oleh seorang Inggris, kelahiran London 15 April 1940, yang pada usia 29 tahun terpilih sebagai anggota parlemen Inggris termuda dari Partai Konservatif. Dia adalah Jeffrey Howard Archer. Setelah keluar dari parlemen pada tahun 1974, Archer menulis novel pertamanya yang bertajuk Not a Penny More, Not a Penny Less. Karier Archer sebagai novelis ternyata mengembalikan kariernya di dunia politik yang kemudian benar-benar berakhir gara-gara sebuah skandal. Sebagai novelis, Archer juga telah menghasilkan novel seperti Kane and Abel, The Fourth Estates, As the Crow Flies, dan First Among Equals.
Jeffrey Archer
Sebagai seting utama Sons of Fortune, Archer menggunakan Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Pada suatu hari di tahun 1949, Susan Illingworth Cartwright melahirkan sepasang anak kembar, Nathaniel dan Peter, dengan selisih waktu 6 menit. Pada hari yang sama, Ruth Davenport melahirkan seorang anak yang akhirnya ditemukan meninggal. Heather Nichol, seorang perawat, melakukan sebuah tindakan nekat, mengganti posisi bayi yang mati dengan Peter. Peter dibawa oleh keluarga Davenport, dan menyandang nama Fletcher Andrew Davenport; milik si bayi yang meninggal.
Nathaniel ( yang lebih suka disapa Nat) dan Fletcher meniti jalur hidup yang tidak pernah bertaut sejak saat itu. Mereka pergi ke sekolah yang berbeda dan memiliki karier yang berbeda pula. Nat sempat bertempur di Vietnam, memperoleh Purple Heart, menyelesaikan kuliah di Harvard Business School dan menapak karier sebagai pialang, kemudian bankir yang sukses. Jika Nat menikahi Su Ling, pakar komputer berdarah Korea; Fletcher menikahi Annie, adik teman baiknya, Jimmy Gates. Sebelum akhirnya menjadi senator negara bagian Connecticut meneruskan karier mertua lelakinya, Fletcher menjalani karier sebagai pengacara kriminal. Masing-masing keluarga diberikan seorang anak. Luke, untuk Nat dan Su Ling; Lucy, untuk Fletcher dan Annie.
Secara kebetulan, kehidupan kedua kembar ini bertumbukan dengan seorang laki-laki yang kemudian berdiri sebagai musuh mereka bersama, tanpa saling mengetahui. Ralph Elliot, masuk dalam kehidupan Nat lebih awal dari saat ia menyusup dalam kehidupan Fletcher. Nat mengenal Elliot sewaktu bersekolah di Taft, sedangkan Fletcher mengenal Elliot setelah lulus dari Yale dan bekerja di sebuah firma hukum di New York. Baik Nat, maupun Fletcher, memiliki kenangan buruk mengenai Ralph Elliot.
Kehidupan mereka baru benar-benar bertabrakan ketika Nat mencalonkan diri sebagai senator mewakili Partai Republik, dan Fletcher mewakili Partai Demokrat, perbedaan yang rupanya sudah digariskan sejak Susan Illingworth mengenal suaminya, Michael Cartwright.
Dalam sebuah kiprah politik yang busuk, kehidupan keluarga Nat digiring ke tepi jurang kehancuran oleh pesaingnya, anaknya meninggal, masa lalu kelam istrinya diobral ke semua orang, dan seseorang ditemukan tewas dibunuh. Nat terjebak, didakwa sebagai pembunuh, dan terancam hukuman berat. Hanya Fletcher lah pengacara kriminal yang bisa menolong Nat keluar dari cengkeraman masalah. Padahal sebagai kandidat favorit, keduanya berpotensi menjadi lawan politik.
Formula anak kembar merupakan formula cerita yang akrab bagi pembaca fiksi atau penonton film, dari Hollywood hingga Bollywood, karena sering digarap. Sepasang kembar lahir, terpisah, meniti perjalanan hidup yang panjang dan berliku, untuk kemudian dipertemukan. Sebuah plot yang tidak asing, lengkap dengan berbagai bumbu kebetulan yang merebak dari awal hingga akhir. Untunglah, dalam novel ini, plot sejenis bisa berkembang dan bekerja dengan baik di tangan Archer. Anak kembar dibawa berkubang dalam dunia hukum, ekonomi, dan terutama dunia politik, memberi wilayah eksplorasi yang memukau untuk dijabarkan dalam bentangan plot yang rancak. Perguliran kisah yang terarah membuat liukan plot bisa dititi pembaca dengan enak. Apalagi Archer memiliki energi yang adekuat untuk menghiasi kisahnya dengan taburan humor yang tetap terkendali, dari awal hingga akhir, karena kecerdasan penyampaiannya.
Setelah adegan persidangan pembunuhan yang melibatkan Nat disajikan dengan sangat menarik, akan terasa tegangan cerita agak menurun. Kendati demikian, ini tidak berarti adegan selanjutnya langsung menjadi antiklimaks. Pertarungan politik antara kedua protagonis dengan karisma, kekuatan moral dan integritas yang setara ini masih dieksplorasi tanpa tergesa dan akan mengharukan, juga merekahkan senyuman di wajah pembaca.
Adegan penutup dibentangkan dengan kuat, menegangkan, tapi sekaligus juga menggelikan. Bagian ini sebaiknya jangan dibaca tergesa-gesa. Kalau tidak menyimak kebiasaan salah satu kandidat, mungkin kita akan sedikit bingung dengan hasil akhir pemilihan gubernur negara bagian. Tapi, posisi berdiri sang wali kota, akan memberikan penegasan.
Seluruh kisah secara unik dipaparkan dalam 54 bab yang dihimpun menjadi tujuh bagian yang diberi judul seperti nama kitab dalam Alkitab, dengan urutan acak. Secara berurutan novel ini terdiri atas Kejadian, Keluaran, Tawarikh, Kisah Para Rasul, Hakim-Hakim, Wahyu, dan Bilangan. Pemberian judul ini jelas disengaja untuk menciptakan kesan berbeda dalam diri pembaca. Meski demikian, bukan tidak ada hubungannya. Setiap judul menyiratkan apa yang terjadi dalam kehidupan dua protagonis novel.
Kelebihan Archer dalam menyajikan novelnya, sudah terbaca jelas sejak awal. Setelah membaca satu bab, kita akan dibuat penasaran untuk membuka bab selanjutnya. Hal itu berlangsung terus hingga novel berakhir. Sebuah gaya penceritaan yang kuat dan terjaga. Archer terbilang memegang teguh keyakinan yang cenderung disukai pembaca, yaitu dalam pertarungan kebaikan dan kejahatan, kebaikan akan mendapatkan piala kemenangan. Selain itu, tampaknya bagi Archer, persaudaraan di atas segala-galanya. Kekuatan sebuah persaudaraan yang diikat dengan darah, akan sangat berhasil mengatasi segala perkara, bahkan untuk perkara yang sangat pelik dan seolah tidak memiliki solusi.
Inilah sebuah novel, yang bisa dikatakan lengkap, karena bermuatan berbagai sisi kehidupan manusia yang berkelindan penuh pesona: tragedi, cinta, pengkhianatan, ambisi, kasih sayang, persaudaraan, dan persahabatan. Dengan dunia hukum, politik dan ekonomi yang menjadi latar, meski letupan yang akan terjadi sudah bisa dibayangkan, tetap sayang rasanya melewatkan buku ini.
Judul Buku: Keluarga Flood Sekolah Sihir Judul Asli: The Floods Playschool Penulis: Colin Thompson Penerjemah: Shinta Harini Penyunting: Ferry Halim Tebal: 234 hlm, 13 X 20 cm Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007 Penerbit: Atria
Setelah sukses menaklukkan Keluarga Dent dalam buku pertama Keluarga Flood Tetangga Menyebalkan, Keluarga Flood yang sangat akrab dan bahagia, secara diam-diam mendapatkan musuh baru. Musuh baru mereka kali ini adalah Orkward Warlock, teman sekolah beberapa anak Keluarga Flood di Quicklime College, sebuah sekolah yang terletak di sebuah lembah yang sangat jauh dan tinggi di atas Pegunungan Patagonia.
Orkward Warlock membenci semua orang, termasuk orang tua dan saudara yang belum pernah ia temui; guru-guru ; setiap orang yang ia kenal dan dengar maupun yang ia lihat di TV; kadang-kadang, malah, ia berlatih membenci dirinya sendiri. Tak heran, Orkward tidak disukai setiap orang. Tapi di atas segala kebencian Orkward Warlock, ada satu kebencian yang paling dalam, yang begitu besar, lebih besar dibandingkan semua kebencian Orkward digabung menjadi satu dan dikalikan dua belas kemudian ditambah tujuh. Kebencian ini adalah kebenciannya terhadap -sudah bisa ditebak- Keluarga Flood.
Sejak berusia tiga hari (hlm. 40), pada hlm. 118 usia 3 tahun (?), Orkward telah tinggal di Quicklime College, karena keluarganya tidak tahan menyaksikannya berada di dekat mereka. Di sekolah ini ia mendapatkan sebuah kamar; sebuah kamar yang gelap –yang bahkan dijauhi oleh laba-laba, tempat ia mengasah kebencian kepada siapa saja di dunia ini (dunia sihir maksudnya). Di tempat ini Orkward juga sering berkhayal akan dijemput oleh ayahnya, penyihir terhebat yang pernah ada. Padahal, ayahnya hanyalah seorang tukang susu muggle yang dinikahi seorang perempuan penyihir gara-gara perempuan ini ketagihan susu sementara ia tidak mampu membeli susu setiap hari untuk minum dan mandi.
Orkward yang bernasib apes ini hanya memiliki dua teman –kalau bisa disebut teman. Anak laki-laki polos bernama si Katak yang gemar sembunyi di bawah tempat tidur Orkward sambil memeluk kaus kaki kotor Orkward dan sebuah cermin ajaib yang sesungguhnya tidak begitu menyukai Orkward dan selalu mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar Orkward.
Setiap tahun, di Quicklime College diadakan perayaan Hari Olahraga Tahunan. Kebetulan tahun ini, saat cerita digulirkan oleh si gendeng Colin Thompson, Hari Olahraga jatuh bertepatan dengan peringatan 705 tahun sekolah didirikan oleh Merlin Flood. Merlin Flood adalah nenek moyang Nerlin, kepala keluarga Flood yang diklaim sebagai pemilik kutil paling berambut di tempat yang paling memalukan, di dunia sihir, tentu saja.
Atas usul si Katak, Orkward memutuskan untuk menghabisi keluarga Flood pada Hari Olahraga Tahunan. Saat itu, orang-orang di luar komunitas Quicklime College memang diundang hadir; orang tua, saudara-saudara, alumni yang masih hidup dan mati, dan tamu-tamu lain dari berbagai dunia dan dimensi. Rencana lain yang kemudian berkembang dalam pikiran Orkward, setelah menghabisi keluarga Flood, ia akan meninggalkan Quicklime College untuk selama-lamanya. Untuk mewujudkan rencana jahatnya, Orkward tidak saja membutuhkan si Katak, tapi juga Matron, Ibu Asrama yang selalu didampingi dua susternya, Romeo dan Juliet, sepasang burung gagak besar ; dan Narled, si makhluk setengah manusia setengah koper yang menghabiskan waktunya mengumpulkan barang-barang dan membawa ke tempat penyimpanan hartanya yang legendaris.
Bagaimana Orkward mewujudkan rencananya, selengkapnya akan kita temukan dalam buku kedua Keluarga Flood Sekolah Sihir ini. Sudah bisa dipastikan, Keluarga Flood tidak akan terguncang dengan ulah Orkward. Tapi, perguliran cerita kali ini tetap akan mendorong keingintahuan pembaca, bagaimana, sekali lagi, Colin Thompson menuntaskan kisahnya yang gila-gilaan, kocak, dan kaya raya humor.
Seperti buku pertama, buku ini akan dibuka dengan kata MEMBOSANKAN yang cukup besar (apa maksudnya, tentu saja akan langsung diketahui pembaca begitu melihat gambar yang ada). Setelah itu, setiap bab akan dimulai dengan sebuah gambar tengkorak yang bagian dahinya bertuliskan nomer bab, kecuali untuk bab 4, 6, 8, 10, 13, 15, dan epilog.
Pada bab 4, 6, 8, 10, 13, dan 15 kita akan berkenalan dengan beberapa guru Quicklime College sekaligus dengan mata pelajaran yang diajar. Mereka adalah Radius Leg, guru Olahraga Sampai Sakit (bab 4); Prebender Glorious, guru Menghilangkan Diri (bab 6); Nona Phyllis, guru Keturunan Istimewa (bab 8); Doktor Mordant, guru Teknik Rekayasa Genetika (bab 10); Aubergine Wealth, guru Ekonomi dan Bentuk-bentuk Lain Perampokan (bab 13) serta Mademoiselle Fifi la Venus, guru Elokusi dan Melolong (bab 15). Selain guru-guru itu, tentu saja ada guru-guru lain, yang menurut Colin Thompson tidak cukup waktu dan halaman untuk diceritakan (hlm. 224), dan Profesor dengan sederet gelar, Profesor Throat, NB, PDF, PS HSC (Ghent). Entah apa maksud gelar-gelar tersebut.
Bagi yang telah membaca buku pertama serial keluarga Flood ini, tentu saja tidak asing lagi dengan gaya bertutur Colin Thompson. Tidak berbeda dengan Tetangga Menyebalkan, Colin Thompson tetap heboh bermain kata-kata sambil menyenggol saraf humoris pembaca. Dan meski masih tetap menyajikan humor gelap versi dirinya sendiri –baca saja ending yang dialami hidup Orkward Warlock, Sekolah Sihir ini bisa menjadi bacaan bagi segala usia, dengan catatan, telah bisa memahami humor yang disampaikan si penulis. Karena, kalau tidak, mungkin saraf humoris pembaca tidak akan tergelitik sama sekali.
Di tengah kesuntukan membaca bacaan-bacaan yang serius yang membuat kening berkerut-kerut, buku ini akan menjadi sajian yang bisa menghibur dan mereduksi ketegangan. Dan, mesti saya akui, saya masih tidak bisa melepaskan diri dari pesona Keluarga Flood, keanehan-keanehan dunia sihir termasuk para penyihirnya sendiri dan terutama, sihir kata dan kisah dari si gendeng Colin Thompson. Satu lagi, saya tetap membayangkan yang tidak-tidak ketika Mordonna membuka Pertandingan Hari Olahraga, dan semua ayah yang hadir mendadak duduk tegak dan berseru, "Lepaskan! Lepaskan!" Colin memberikan catatan kaki –seperti biasanya- untuk seruan ini, tapi saya tidak percaya yang ia maksudkan itu kacamata hitam Mordonna.
Setelah dua buku Keluarga Floood diterbitkan oleh Atria -imprint dari Penerbit Serambi yang dikhususkan untuk menerbitkan buku praremaja, remaja, dan genre fiksi yang tidak mungkin diterbitkan oleh Gita Cerita Utama Serambi, masih ada buku lain yang menanti diterbitkan. Sudah lima buku Keluarga Flood yang dipublikasikan oleh Colin Thompson (Neighbours, Playschool, Home & Away, Survivor, dan Prime Suspect), sedangkan edisi asli buku keenam, The Great Outdoors, dijadwalkan terbit Februari 2008.
Dan, sekali lagi, saya ingin mengutip kata-kata si butawarna gendeng Colin Thompson yang saya dapatkan dari website-nya:
"I have always believed in the magic of childhood and think that if you get your life right that magic should never end. I feel that if a children's book cannot be enjoyed properly by adults there is something wrong with either the book or the adult reading it. This of course, is just a smart way of saying I don't want to grow up."
Judul Buku: Anak Lelaki Berpiama Garis-garis Diterjemahkan dari: The Boy in the Striped Pyjamas Penulis: John Boyne Penerjemah: Rosemary Kesauli Tebal: 240 hlm; 20 cm Terbit: Juli 2007 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
SEPASANG PIAMA UNTUK BRUNO
Auschwitz adalah kamp konsentrasi Nazi, tempat 1,4 sampai 4 juta orang Yahudi atau keturunan Yahudi dari berbagai negara di Eropa tewas antara tahun 1941 – 1945. Kamp ini terletak di selatan Polandia, 286 km dari Warsawa. Para tahanan tewas dengan berbagai cara, seperti dibunuh dalam kamar gas menggunakan Zyklon-B, dieksekusi secara individual oleh tentara Nazi, kelaparan, kerja paksa, sakit, dan juga menjadi korban eksperimen medis.
Salah satu bagian Auschwitz
Oleh John Boyne, penulis Irlandia kelahiran Dublin 30 April 1971, Auschwitz dijadikan latar utama novelnya yang berjudul The Boy in the Striped Pyjamas (2006). Sebelumnya Boyne telah menerbitkan novel The Thief of Time (2000), The Congress of Rough Riders (2001), dan Crippen (2004). Setelah The Boy in the Striped Pyjamas, Boyne telah menerbitkan novel kelima berjudul Next of Kin (Oktober, 2006). The Boy in the Striped Pyjamas merupakan novel pertama John Boyne yang ditujukan untuk pembaca anak-anak. Novel ini telah memberikannya penghargaan seperti Irish Book Award: People's Choice Award Book of the Year, Irish Book Award: Children's Book of the Year, dan CBI Bisto Children's Book of the Year.
The Boy in the Striped Pyjamas berkisah tentang Bruno, seorang anak 9 tahun tapi bertubuh lebih kecil dari anak lain seusianya, yang tinggal di Berlin pada waktu Perang Dunia II. Ia tinggal di sebuah rumah lima lantai yang sangat indah dengan kedua orang tuanya dan seorang kakak perempuan bernama Gretel yang dijulukinya si Benar-benar Payah (the Hopeless Case). Suatu hari seorang lelaki berkumis aneh dan seorang perempuan cantik datang makan malam di rumah Bruno. Mereka adalah Adolf Hitler –dalam buku ini disebut the Fury, plesetan dari Der Führer, dan kekasihnya, Eva Braun. Kedatangan mereka membuat Ralf, ayah Bruno, seorang anggota Nazi, mendapat tugas sebagai komandan di Auschwitz, kamp konsentrasi Nazi yang paling besar.
Meski berat hati, Bruno mesti meninggalkan Berlin, rumah tempat ia melakukan penjelajahan, teman-teman terbaiknya, juga kakek yang bangga dengan prestasi sang anak, dan nenek yang justru merasa telah salah mendidik anak. Ia harus tinggal di sebuah rumah tiga lantai dan tidak memiliki wilayah untuk dijelajahi di sebuah tempat yang oleh Gretel disebut Out-With (Auschwitz).
Lewat jendela kamarnya, mata Bruno menyeberang melampaui pagar tinggi terbuat dari kawat dan menemukan kehidupan orang-orang yang tidak ia kenal di sebelah pagar, orang-orang dengan pakaian yang sama: sepasang piama kelabu bergaris-garis dengan topi garis-garis di kepala. Menurut ayah Bruno, orang-orang itu sama sekali bukan 'orang'.
Suatu hari timbul keinginan dalam hati Bruno untuk melakukan penjelajahan sekitar tempat tinggalnya, menyusuri pagar kawat yang ia lihat dari jendela kamarnya. Ia bertemu dengan seorang bocah kurus yang sedih dari balik pagar kawat bernama Shmuel, anak Yahudi dari Polandia. Shmuel yang bisa berbahasa Jerman lahir pada tanggal yang sama dengan Bruno, 15 April 1934. Mereka menjalin pertemanan, bertemu setiap hari di tempat yang sama, dan berkomunikasi di antara pagar kawat.
Setelah masalah Letnan Kotler -seorang serdadu bawahan ayah Bruno yang rupanya menjalin hubungan dengan ibu Bruno, kemudian kepala Bruno harus dibotaki karena kutu, ibu Bruno bertekad kembali ke Berlin. Ini berarti Bruno mesti berpisah dengan Shmuel. Sebelum kembali ke Berlin, Bruno dan Shmuel merencanakan acara penjelajahan bersama di sebelah pagar tempat Shmuel tinggal sekalian mencari ayah Shmuel yang hilang. Untuk menyempurnakan penampilan Bruno, Shmuel akan mengambilkan sepasang piama garis-garis dan topi kain dari pondok penyimpanan piama untuk Bruno. Sebuah rencana yang sangat cemerlang di mata Bruno, sebuah rencana yang kemudian menghancurkan hati dan kehidupan keluarganya, termasuk ayahnya, sang komandan Nazi.
John Boyne
John Boyne menulis novel ini untuk anak-anak. Tapi ia juga berharap mendapatkan pembaca dewasa. Oleh Gramedia Pustaka Utama, ternyata The Boy in the Striped Pyjamas diberi label Novel Dewasa. Melihat keseluruhan cerita, juga cara pengungkapan yang digunakan John Boyne, sesungguhnya novel ini memang bacaan untuk anak-anak. Apalagi karakter utamanya adalah anak-anak dengan cara berpikir yang lugu tapi cerdas; seorang anak yang tidak mengenal diskriminasi dan menempatkan penghargaan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya yang belia. Hanya, dalam buku ini, tidak ada penjelasan yang memadai untuk latar belakang cerita. Kemungkinan, pembaca anak-anak akan bingung dengan latar belakang historis yang digunakan John Boyne. Bisa saja ada pemikiran bahwa latar belakang itu tidak penting. Tapi, untuk bisa menikmati secara total, anak-anak yang belum mengenal sejarah dunia perlu mengetahui situasi dan tokoh yang membuat kisah dalam novel ini bisa terjadi. Hal ini penting, mengingat sejarah dan tokoh sejarah yang digunakan John Boyne yang menyebabkan keluarga Bruno mencapai Auschwitz, dan memberikan efek pada terjadinya peristiwa menggiriskan hati pada bagian akhir novel yang terasa sangat ironis. Sehingga, menurut saya, novel ini tetap bisa dinikmati anak-anak dengan bimbingan orang tua.
Sesungguhnya cerita dalam novel ini tergolong sederhana. Setelah memahami latar belakang cerita, tidak ada eksplorasi penulis yang sulit untuk diikuti. Meskipun demikian, pembaca tetap tidak akan mudah menebak bagaimana novel dituntaskan.
Selain itu, kendati awalnya novel mengalir tanpa sengatan berarti dari sisi plot, cara John Boyne memberi jiwa pada karakter Bruno bisa dikatakan sangat berhasil sehingga novel ini tidak terpuruk menjadi bacaan yang menjenuhkan. Jalan pikiran Bruno ketika berinteraksi dengan siapa pun yang ia temui dalam hidupnya niscaya akan menyentuh hati kita. Keluguannya tidak hanya menggemaskan sehingga berpotensi merekahkan senyuman di wajah kita, tapi juga akan membuat hati basah dan mata berkaca-kaca. Selanjutnya, di penghujung novel, John Boyne berhasil meraut plotnya menjadi tajam, menyodorkan adegan-adegan penting yang menjadi bagian paling menggetarkan dari keseluruhan novel. Pembaca dewasa yang segera memahami peristiwa yang disampaikan penulis akan segera merasakan hatinya tercekat. Namun, seperti Bruno yang tidak memahami dengan benar apa yang terjadi, mungkin akan ada pembaca yang juga tidak memahami apa sesungguhnya yang terjadi saat itu. Pengetahuan tentang Auschwitz mungkin akan memberikan sedikit petunjuk mengenai peristiwa itu.
Satu harapan yang ditoreh sang penulis dalam novel ini adalah peristiwa serupa dalam novel tidak akan terulang lagi pada zaman sekarang. Apa yang telah terjadi sudah menjadi sejarah, dan yang perlu dilakukan saat ini adalah memetik pelajaran dari sejarah. Jangan sampai ada kelompok manusia yang terpaksa harus mengenakan 'piama garis-garis' untuk melewati 'pagar kawat berduri' yang ditegakkan sebagai wujud kecongkakan rasial segolongan manusia.
Novel ini telah diadaptasi menjadi skenario film oleh Mark Herman dan pengambilan gambar telah dilakukan di Budapest April hingga Juni 2007. Film yang diramaikan oleh David Thewlis, Vera Farmiga, Asa Butterfield, dan Amber Beattie ini akan dirilis pada bulan Februari 2008. Jadi, sebelum menikmati versi filmnya, tidak ada salahnya untuk menikmati dulu versi novelnya.
Tapi sebelumnya, Anda harus mengenakan 'piama garis-garis' dulu untuk ikut bertualang dan memahami kehidupan, pikiran, dan perasaan si kecil Bruno.
Penulis: Cassandra Golds Penerjemah: Vina Damayanti Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007 Tebal: 232 hlm; 13,5 X 20 cm
HIDUP YANG SEJATI HARUS ADA KUCINGNYA
Dulu saya pernah terbuai dengan dongeng-dongeng klasik karya Hans Christian Andersen dan Grimm Brothers. Sekarang minat saya terhadap dongeng memang agak memudar. Tapi saya tetap tidak mungkin mengabaikan dongeng yang mengusung keindahan. Belakangan saya menemukan keindahan dongeng klasik dalam karya-karya penulis seperti Gail Carson Levine dan Kate DiCamillo. Bulan Juli 2007 ini dunia buku Indonesia disapa Cassandra Golds dengan novel dongeng yang berjudul Clair-de-Lune. Oleh Penerbit Gramedia, Clair-de-Lune diterjemahkan dan dipublikasikan dalam salah satu kelompok fiksi terbitannya, Family Literatur (FamLit). Walau FamLit disegmentasi untuk pembaca berusia 9-12 tahun, seperti yang disebutkan pada penjelasan mengenai FamLit dalam buku ini, pembaca dewasa juga akan jatuh cinta dengan koleksi FamLit, karena selalu ada jiwa anak-anak dalam diri seseorang.
Cassandra Golds adalah penulis perempuan kelahiran Sydney yang pada masa kecilnya merupakan penggemar karya Hans Christian Andersen, CS Lewis, dan Nicholas Stuart Gray. Di masa kecil yang sebagiannya dihabiskan di rumah susun, ia pernah berlatih balet di sebuah sekolah tari. Bermodalkan pengalaman masa kecil dan kenyataan menarik yang ditemukannya bahwa banyak orang mengalami kesulitan menyebut nama mereka tanpa "menarik mundur" suaranya, ia menulis buku tentang kehidupan seorang gadis cilik penari balet bernama Clair-de-Lune.
Clair-de-Lune yang namanya berarti Sinar Rembulan tinggal di ruang bawah atap sebuah bangunan yang tinggi, sempit, tua, dan berlantai enam dengan dua belas deret anak tangga curam di antara setiap lantai. Ia tinggal dengan Madame Nuit, neneknya, balerina pada zamannya. Ibunya, La Lune atau Mademoiselle Moon, juga seorang penari balet kondang. Pada masa hidupnya, La Lune pernah mementaskan tarian balet yang indah tapi tragis. Tarian balet itu berkisah tentang angsa yang terluka oleh panah pemburu yang walaupun bisu pada akhir hidupnya bisa menyanyikan lagu-lagu terindah.
Suatu malam, pada penghujung pementasan balet, setelah mengucapkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi bahan spekulasi banyak orang, La Lune meninggal. Sejak saat itu pula, Clair-de-Lune menjadi bisu.
Seperti nenek dan ibunya, Clair-de-Lune juga disiapkan untuk menjadi penari balet dengan belajar pada seorang guru balet bernama Monsieur Dupoint. Bagi Clair-de-Lune, tari adalah hal yang terpenting di dunia ini. Dengan tari, ia bisa berbicara sesuai dengan caranya, hal sama yang ditanamkan dalam dirinya oleh Madame Nuit.
Di ruang latihan balet, suatu hari, ia bertemu dengan Bonaventure, seekor tikus penari yang gemar menyanyikan lagu nina bobo untuk membangunkan orang. Tikus yang bertekad mendirikan sekolah tari khusus untuk para tikus ini mengajak Clair-de-Lune bertemu dengan seorang biarawan bernama Bruder Inchmahome. Bruder Inchmahome tinggal di sebuah biara yang bisa ditempuh melalui salah satu lantai di gedung yang sama dengan tempat Clair-de-Lune tinggal. Lewat sebuah pintu batu, mereka akan menemukan lokasi biara.
Bruder Inchmanhome ternyata memiliki kemampuan mendengarkan isi hati Clair-de-Lune yang bisu. Ia mengajak Clair-de-Lune untuk belajar bicara dan belajar mendengarkan setiap pagi di biara sambil menugaskan Clair-de-Lune untuk menemukan alasan ia kehilangan kemampuan berbicara.
Sulit untuk Clair-de-Lune belajar bicara dan mendengarkan, karena ia mendapatkan kesimpulan bahwa berbicara dan mendengarkan adalah hal yang berbahaya. Tapi, Bruder Inchmahome terus-menerus memberikannya motivasi. Sejalan dengan itu, Claire menemukan bahwa sesungguhnya ada hal yang lebih penting dari tari, yaitu kasih. Hanya saja, untuk lebih memahami kasih, Clair-de-Lune tetap perlu mendengarkan. Menurut Bruder Inchmahome mendengarkan adalah kasih.
Pada saat yang sama, dalam rangka ulang tahun perusahaan tari, Clair-de-Lune dipilih untuk membawakan tarian balet yang dulu dibawakan ibunya pada malam kematiannya. Bonaventure juga berhasil mendirikan sekolah tari dan berniat melakukan ekspansi dengan mendirikan perusahaan tari untuk tikus.
Hingga akhirnya sesuatu terjadi pada Bonaventure yang memicu tersingkapnya misteri di balik meninggalnya ibu Clair-de-Lune.
Novel Clair-de-Lune benar-benar berisikan kisah dongeng yang cantik. Cassandra Golds merangkum hal-hal indah yang akan disukai oleh banyak pembaca kisah fantasi. Di sini terdapat kompilasi menarik antara balet, rumah ajaib, tikus yang bisa berbicara, dunia tikus yang lucu, dan terutama cinta sebagai simpul novel, dengan latar sebuah tempat di Prancis.
Mungkin pembaca akan dibuat bersedih dengan kisah yang lirih, tapi akan tetap mendapatkan ending yang bahagia untuk Clair-de-Lune, seperti yang biasa dialami karakter-karakter utama dalam dongeng klasik. Di luar hal-hal ajaib yang ada, kisah dongeng ini terkesan sangat manusiawi karena hadirnya cinta di dalamnya. Cinta di sini bukan hanya berbicara tentang cinta antara kekasih, tapi lebih luas lagi. Cinta kepada sesama makhluk hidup dan kepada kehidupan itu sendiri.
Selain inti cerita yang menawan, Clair-de-Lune juga memiliki karakterisasi dan plot yang bagus. Kemungkinan pecinta dongeng modern tidak akan mudah melupakan beberapa tokoh utamanya seperti Clair-de-Lune, Bonaventure, dan Bruder Inchmahome sekaligus dengan liukan plotnya yang cantik.
Pesan yang saya tangkap dari novel ini adalah sesungguhnya hidup itu indah dan cinta adalah elemen terpenting yang memberikan warna indah. Tidak ada senjata yang dapat digunakan untuk membunuh cinta meski untuk memanggilnya datang sangat mudah, yaitu dengan cara mendengarkan, yang dalam hal ini tidak sekedar berbicara mengenai fungsi telinga.
Tapi, meski indah, hidup juga tidak mudah. Seperti kata Bonaventure, si tikus penari (hlm. 191), "Apakah itu hidup? Hidup yang sejati, harus ada kucingnya!"