<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< August 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, August 21, 2007
KILL!





Judul : Kill!
Diterjemahkan dari : The Straw Men (2002)
Penulis: Michael Marshall
Penerjemah: Ella Elviana
Tebal: 524 hlm; 14 X 21 cm
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Penerbit: Dastan Books


TEORI KONSPIRASI MANUSIA TEGAK


Michael Marshall -lengkapnya Michael Marshall Smith, adalah penulis asal Inggris yang telah menghasilkan berbagai karya berupa novel, cerita pendek, novella, maupun skenario film. Novel perdana lelaki kelahiran Inggris tahun 1965 ini, Only Forward (1994), yang ditulis menggunakan nama Michael Marshall Smith, telah memenangkan August Derleth Award dan Philip K. Dick Award. Marshall tercatat sebagai penulis yang beberapa kali memenangkan BASF Award (kategori fiksi pendek) dan British Fantasy Award. The Straw Men adalah novel keempat Marshall setelah Only Forward, Spares (1996), dan One of Us (1998).

Edisi Indonesia The Straw Men yang merupakan hasil terjemahan Ella Elviana diterbitkan Penerbit Dastan dengan judul baru, KILL!. Pada sampul depan yang provokatif, ada embel-embel kalimat: EVOLUSI HARUS BERLANJUT. Mereka yang membunuh Akan Terselamatkan. Mereka Yang Tidak, Menjadi Korban...

Kill! dibuka dengan sebuah kejadian berdarah yang terjadi pada 30 Oktober 1991 di sebuah restoran McDonald di Palmerston, Pennsylvania. Di tengah-tengah acara makan siang, dua orang pria menghamburkan peluru dari senapan semiotomatis dan menewaskan 68 orang. Salah satu pembunuh, yang masih remaja, tewas dibunuh oleh pasangannya yang lebih tua, yang segera menghilang pasca kejadian.

Sepuluh tahun kemudian –masa kini dalam novel- seorang mantan agen CIA bernama Ward Hopkins, kembali ke Dyesburg, Montana. Ia datang karena kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan mobil. Sehari setelah pemakaman, secara kebetulan, Ward menemukan sebuah novel terselip dalam sofa milik ayahnya, dengan secarik kertas bertuliskan: "Kami tidak mati."

Sementara itu, John Zandt yang telah meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif LAPD dan menghabiskan waktunya di Pimonta, Vermont selatan, dikunjungi oleh Nina Baynam, seorang agen FBI. Dua tahun sebelumnya mereka terlibat pengusutan kasus menghilangnya beberapa gadis remaja. Mereka sempat terlibat perselingkuhan sampai akhirnya Karen Zandt, putri John, menjadi korban kelima. John menemukan tersangka penculiknya. Nina datang untuk mengajak Zandt melanjutkan investigasi mereka. Di Santa Monica, seorang gadis remaja bernama Sarah Becker diculik dan hilang bagaikan ditelan bumi. Diduga, penculik yang sama yang dulunya digelari Anak Tukang Kirim (The Delivery Boy) beraksi kembali. Padahal John telah membunuh tersangka penculik gadis remaja yang memproklamasikan dirinya sebagai si Manusia Tegak (The Upright Man).

Setelah melakukan penculikan, si Manusia Tegak memiliki kebiasaan mengirimkan sweter dengan sulaman nama korban menggunakan rambut korban sendiri kepada keluarganya. Tapi, Nina menemukan rambut yang digunakan pada sweter Sarah adalah rambut Karen.

Pesan singkat Donald Hopkins membuat Ward terusik dan ingin tahu secara persis peristiwa tabrakan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sebuah video yang ditemukan dalam VCR milik ayahnya kian mendorong Ward untuk menelisik misteri kematian orang tuanya. Pengusutan Ward yang dibantu temannya, Bobby Nygard, mengantarkannya ke sebuah perumahan eksklusif yang pernah menarik perhatian Donald Hopkins.

Secara tak terduga, dalam kabut kebingungan, Zandt menemukan kunci misteri penculikan dan pembunuhan gadis-gadis itu. Ternyata, si Manusia Tegak tidak bekerja sendirian. Seiring dengan itu, investigasi Ward dan Bobby, menuntun mereka ke dalam dunia sebuah kelompok yang menamakan diri The Straw Men. Selanjutnya, investigasi mereka akan membuhul peristiwa kematian orang tua Ward, penculikan Sarah Becker, dan penyelidikan Nina dan Zandt. Dengan si Manusia Tegak sebagai pengikat.

Masalahnya sekarang, siapa si Manusia Tegak ini? Pengungkapan wajah si Manusia Tegak tidak hanya akan menguliti keberadaan The Straw Men yang ternyata telah lama eksis, tapi juga akan mengelupas rahasia kehidupan Ward yang tidak pernah ia ketahui.

Pada klimaks yang mencekam, ketika semua plot tersimpul menjadi satu dan padu, akan terburai sepenuhnya rencana sekelompok manusia yang didasari oleh sebuah teori  konspirasi gila.

Hadir dalam 3 bagian besar dengan 37 bab (termasuk prolog dan epilog), sejak awal Michael Marshall telah membuat pembaca bertanya-tanya ke mana plot akan digulirkan. Setelah prolog misterius yang dipaparkan secara terkendali, Marshall membawa pembaca masuk dalam beberapa plot: kehidupan Ward Hopkins dan perjalanan menguak misteri kematian orang tuanya, kehidupan John Zandt dan perjuangannya memecahkan misteri hilangnya gadis-gadis dengan Nina Baynam, juga cerita penculikan Sarah Becker dan interaksinya dengan si Manusia Tegak. Pelan-pelan, di sela-sela kejutan yang dibeberkan, akan tersingkap sesungguhnya semua plot itu saling kelindan. Hanya untuk mencapai simpulnya, pembaca harus sedikit sabar. Karena Marshall bukan pencerita yang terburu-buru.

Cerita digulirkan menggunakan 2 perspektif. Perspektif orang ketiga dan orang pertama. Untuk orang pertama, Marshall menggunakan Ward sebagai narator. Entah pertimbangan apa yang digunakan. Selama membaca novel ini, saya tidak melihat perbedaan signifikan yang muncul lantaran penggunaan teknik ini. Mungkin, Marshall ingin tampil agak beda, dan ini sah-sah saja. Apalagi, cerita tetap bisa dinikmati.

Oleh Marshall, plot kelam rancangannya digelorakan oleh karakter-karakter kuat yang memiliki kehidupan yang problematis. Hasilnya, cerita menjadi lebih menarik karena tidak hanya sepenuhnya membedah kasus yang ada. Tapi juga kehidupan para karakter lebih dalam. Dan yang jelas, dengan tidak menciptakan lanturan.

Kendati wajah si Manusia Tegak telah ditelanjangkan, dilihat dari pakem sebuah novel pada umumnya, kisah dalam novel ini sejatinya memang belum tuntas. Kecuali, Marshall sengaja memberikan penyelesaian cerita seperti itu. Tapi rupanya kisah si Manusia Tegak ini telah dikembangkan Marshall dalam 2 novel berikutnya, The Lonely Dead (judul Amerika, The Upright Man, 2004) dan Blood of Angels (2005) sehingga keseluruhannya menjadi novel trilogi. Dengan demikian, kita berharap, cerita benar-benar akan dituntaskan secara memuaskan.



Michael Marshall

Embel-embel di bawah judul edisi Indonesia pada sampul depan memang benar-benar menyiratkan isi novel yang saat ini telah dikembangkan menjadi komik berseri. Jadi, tidak mengada-ada atau bombastis. Hanya, untuk memahami maksudnya, mesti membaca novelnya dulu. Embel-embel itu merupakan bagian sebuah teori gila yang tertuang dalam sebuah tulisan bertajuk Manifesto Manusia (Straw Man Manifesto), yang menjadi landasan ideal karakter antagonis utama novel.

Penasaran? Bagaimana kalau Anda baca sendiri?


Posted at 11:05 am by Jody
Comments (2)  

Sunday, August 19, 2007
MAHASATI




Judul Buku: Mahasati
Penulis: Qaris Tajudin
Penyunting: Aries R. Prima
Tebal: 396 halaman
Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2007
Penerbit: PT Andal Krida Nusantara (AKOER)

KENANGAN, LAUTAN CINTA, DAN KITAB AIR MATA

Ribuan tahun silam seorang raja penyair nan bijaksana -Sulaiman- pernah mengumandangkan kata-kata yang menggambarkan kedahsyatan cinta. Kira-kira begini katanya, "Cinta kuat seperti maut, air yang banyak tak dapat memadamkannya, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya". Mahasati, novel perdana Qaris Tajudin, jurnalis koran dan majalah Tempo, kembali mengumandangkan cinta seperti yang digambarkan raja itu. Cinta yang begitu gigih, tak pernah padam, dan tak sanggup dihanyutkan oleh arus waktu. Cinta seorang lelaki, yang menggumpal dalam kenangan, menghancurkan hati, tapi juga memberikan stamina untuk bertahan.

Setelah 10 tahun berpisah Andi bertemu dengan Larasati (Sati) pada saat pemakaman teman mereka, Yoyok alias Item, si perajin emas. Kembang cinta yang pernah mekar di antara mereka, merekah kembali dalam wujud yang lebih dewasa. Andi telah menjadi wartawan, sedangkan Sati setelah sebelumnya menjadi model, bekerja sebagai perancang busana. Sama-sama belum terikat pernikahan, meski Sati telah memiliki seorang anak perempuan berusia 8 tahun –Rania- produk hubungan ekstramarital dengan lelaki beristri.

Keadaan Sati tidak mempengaruhi cinta Andi. Cinta Andi sanggup menerima segala kekurangan Sati. Sungguhpun demikian, tidak terkilas di benak Andi untuk segera meminang Sati, kendati mereka telah terjebak dalam hubungan suami-istri. Di tengah hubungan cinta mereka, Sati mesti merelakan kepergian Rania karena diambil ayah kandung anak itu. Andi tak dapat menolong kekasihnya, bahkan hingga Sati menenggak Valium yang berakhir dengan kematiannya.

Kematian Sati melayangkan pukulan telak ke dalam hidup Andi, membekaskan penyesalan dan rasa bersalah. Pekerjaannya menjadi kacau balau karena kehilangan fokus. Ia memutuskan mengambil cuti dan meretas jalan ke Kairouan, Tunisia. Tapi, di sana, tanpa ia duga, ia tersangkut aksi teror sekelompok aktivis Islam garis keras yang menentang pemerintahan Tunisia. Andi segera masuk daftar cekal dan terancam diciduk. Miriam Ezra, seorang gadis Yahudi, yang bersimpati kepada Andi, menolong pelarian Andi dan Ahmed, seorang calon dokter, meninggalkan Tunisia, menuju Sisilia, Italia.

Ternyata Miriam menolong mereka menggunakan jalur mafia Italia. Mereka dipertemukan dengan sosok mafia yang tiba-tiba bermaksud menjadikan mereka sandera gara-gara transaksi yang terhambat dengan Hadar Ezra, ayah Miriam. Atas bantuan Tumino, yang menganggap dirinya sebagai Obi Wan-Kenobi dan Andi sebagai Anakin Skywalker, Andi dan Ahmed meninggalkan Italia. Mereka memutuskan menuju Afghanistan, merintis perjalanan laksana Che Guevara, dan terdampar di sebuah rumah sakit di Jalalabad pada saat Afghanistan berada di bawah pemerintahan Taliban.

Pertemuan dengan Fairuz membuat Andi memutuskan untuk menjadi anggota pengawal bersenjata yang melindungi keluarga suku nomaden Afghanistan dari serangan begal. Dalam perjalanan menyusuri persilihan musim di pegunungan Hindu Kush, Andi terjerat pesona kecantikan perempuan Hindu Kush bernama Nafas.

"Janganlah bersedih, karena cintamu sudah digariskan. Martirlah mereka yang mati mencari cinta. Kau ditakdirkan untuk selalu berlalu di lautan cinta tanpa pernah berlabuh. Seluruh umurmu adalah kitab air mata. Kau ditakdirkan terpenjara di antara air dan api." (hlm.250). Demikian kata-kata peramal wanita di Ragusa ketika membaca kehidupan Andi. Meski Andi tak percaya, kata-kata ini terus membuntuti sampai akhir hidupnya.

Dari Afghanistan, ia terjaring tentara Amerika, yang meraupnya dari tanah Afghanistan, dan mengempaskannya ke penjara di Guantanamo bersama ratusan tawanan perang lain. Setelah interogasi 2 bulan yang gagal –disertai tindakan kekerasan- oleh tentara Amerika, akhirnya penanganan Andi diserahkan pada perempuan perwira  Amerika bernama Lucia Wong.

Kepada Lucia Wong lah akhirnya Andi mau membuka mulut dan membagi kenangan hidupnya. Tapi tidak tuntas pada saat interogasi, karena kesehatan Andi semakin memburuk dengan berlalunya waktu. Kepada Lucia Wong, selain menitipkan gelang kaki dan sapu tangan milik Larasati, Andi meninggalkan dua buku hasil tulisan tangannya. Hasil percakapan, kenangan, dan isi buku yang ditinggalkan Andi inilah yang kemudian kita baca dalam novel Mahasati ini.

Dalam sebuah percakapan antara Andi dan Sati mengenai keberadaan cinta di surga (hlm. 79), terungkaplah makna dari Mahasati. Sati, yang dalam bahasa Sansekerta berarti istri sejati, adalah kebiasaan perempuan India melakukan bunuh diri saat suaminya meninggal. Caranya dengan masuk ke dalam api perabuan sang suami. Tindakan ini dilakukan dengan harapan sang istri bisa tetap bersama suaminya di alam baka. Kendati awalnya hanya mitos, kebiasaan ini tetap dilakukan sebelum dilarang pada masa penjajahan Inggris. Untuk mengenang perempuan-perempuan yang melakukan sati, didirikan patung yang akan dipuja secara berkala yang disebut Mahasati.

Sati mengatakan pada Andi jika ia tidak ingin dikenang dengan cara sati. Tapi lalu bertanya pada kekasihnya, "Apa kau memilih untuk hancur saat aku mati nanti, atau kau memilih untuk melanjutkan  hidup dan mengganggap tak ada cinta di surga?" (hlm. 80).

Saat itu Andi tak menjawab. Tapi sepeninggal Sati, meski harus melanjutkan hidup, jelas-jelas Andi memilih pilihan pertama, hancur dan mengisbatkan dirinya sebagai Mahasati lelaki. Masih dalam wujud Mahasati inilah akhirnya Andi menemukan dirinya berakhir di Guantanamo di hadapan perwira Amerika berdarah Cina yang tertarik dengan kehidupannya.

Secara keseluruhan Mahasati merupakan novel yang cukup menarik. Walaupun bertolak dari pelabuhan cinta, isi novel tidak hanya bergerak-gerak di lautan cinta. Ia juga meniti keras dan getasnya daratan, menyinggahi berbagai tempat dengan gelegak konflik, menjadikan novel ini sebagai kisah perjalanan seorang lelaki memaknai hidup dan cintanya serta menghadapi kepengecutan dirinya. Cerita disampaikan dengan cerdas dan terkadang puitis. Di sana-sini, kita bisa membaca taburan puisi yang terserak dari imajinasi penyair-penyair seperti W. S. Rendra, Goenawan Mohammad, Abdul Hadi, Nizar Qabbani, dan George Mackay Brown. Qaris rupanya penggemar puisi, sehingga tidak cukup melontarkan kalimat-kalimat puitis ciptaan sendiri, ia juga meminjam kalimat-kalimat puitis para penyair tersebut. Yang paling menarik adalah puisi Nizar Qabbani  yang secara lengkap bisa disimak di halaman 373 – 375.

Sebetulnya plot yang digerakkan Qaris tidaklah sangat istimewa. Seorang lelaki patah hati, membawa luka hatinya, mencoba membenamkan ke balik tabir kenangan, dan menghadapi pengalaman-pengalaman baru dalam hidupnya. Hanya oleh Qaris, lelaki ini tidak dibawa pergi ke tempat-tempat indah penuh ketenangan yang mungkin bisa menjadi spons bagi kepedihannya. Ia malah dibawa pergi ke tempat konflik siap tersulut dan berbagai peristiwa tak terduga dengan mudah terpercik menjadi bara api. Agak aneh juga. Tapi itulah yang dipilih Qaris untuk karakter utamanya. Kemungkinan pemilihan Tunisia dan Afghanistan sebagai latar dipengaruhi oleh pengalaman Qaris sebagai jurnalis yang pernah bersinggungan dengan wilayah-wilayah tersebut. Tapi hal ini pasti telah direncanakan oleh Qaris dengan saksama melihat dari mana novel ini bergulir, Guantanamo. Penggunaaan Tunisia dan Afghanistan sebagai latar bahkan memberikan sentuhan daya tarik ke dalam alur cerita. Penguasaan latar yang ditunjukkan oleh Qaris membuat kisah yang diusungnya menjadi hidup dan menarik untuk disusur.

Andi Djatmika, karakter utama novel, adalah karakter Romeo ciptaan Qaris yang menarik. Cintanya terasa menyentuh, tapi sekaligus menggugat. Di tengah penghakiman sejumlah perempuan mengenai cinta lelaki yang tak bisa dipercaya dan jauh dari kesejatian, Qaris menunjukkan bahwa penghakiman kaum perempuan itu tidak selamanya benar. Lelaki, bisa juga terluka oleh cinta. Lelaki, bisa juga membawa mati cintanya. Meminjam ungkapan Nizar Qabbani, lelaki juga memiliki cinta dengan keganasan Tartar, kehangatan savana, dan derasnya hujan. Tak heran, Lucia Wong terkesima dan minder karena menemukan cinta seperti yang dimiliki sang tahanan. Dengan menggoda, Qaris memaparkan bahwa Lucia, saking terpesonanya, ingin menggali lebih dalam kisah cinta yang kadung termeterai dalam hati Andi. Untuk ia pinjam sebelum ia memilikinya sendiri.

Kematian Larasati adalah motor penggerak perjalanan Andi. Sebelum menuliskan hal-hal penting yang menyebabkan kematian Larasati, sebaiknya Qaris melakukan sedikit riset. Pada halaman 102, Qaris mengungkapkan jika Larasati menenggak 4 butir Valium 500 gram (menurut pengakuan Larasati hanya 3 butir yang tertelan). Saya berasumsi, Valium yang dimaksud adalah tablet Valium, karena secara oral, Valium hanya tersedia dalam bentuk tablet, bukan bentuk lain seperti kapsul. Masalahnya di sini, Qaris menyebutkan 500 gram. Bukan jumlah yang sedikit. 500 miligram saja sudah tidak mungkin untuk dosis Valium -mengandung zat bernama diazepam, sejenis hipnotik dan sedatif- karena ia tidak sama dengan aspirin atau ampisilin. Tidak ada Valium dengan kandungan 500 miligram, apalagi 500 gram per tablet. Coba bayangkan bentuk tablet dengan diazepam seberat 500 gram (belum lagi berat zat tambahan yang digunakan untuk membuat tablet).

Akibatnya penyebab kematian Larasati menjadi mentah. Apalagi, kemudian disebutkan jika 3 butir Valium yang tertelan berpengaruh pada Larasati, yang mendadak, tanpa disinggung sebelumnya, mengidap kelemahan jantung. Jika Qaris menggunakan Valium untuk mengatalisasi kematian Larasati, setidaknya ia memiliki pengetahuan takaran Valium yang ada dan kuantitas yang memiliki kontraindikasi terhadap kelemahan jantung, jika ada. Kesalahan Qaris tentu saja mengganggu kelogisan cerita yang ia sampaikan.

Dalam percakapan antara Lucia Wong dan Andi Djatmika, juga ditemukan kalimat-kalimat yang terkesan janggal.  Misalnya, jawaban Andi ketika Lucia menanyakan respons keluarga atas keputusannya pergi ke Tunisia (hlm. 143). Lucia: "Bagaimana dengan keluargamu?" Andi: "Ibu menyetujui rencanaku. Apalagi saat kuberitahu bahwa kepergianku ini untuk menemukan kembali diriku yang sempat hilang. Katanya, 'Ibu hanya bisa berdoa. Hanya satu pesan ibu, jangan pernah melupakan orang yang pernah membantumu. Di rantau, mereka adalah keluargamu'.  "Aku mencium tangannya. Ia mengelus rambutku dan mencium ubun-ubunku. Ciuman terakhir yang aku terima darinya hinggi kini. Ia tak menangisi kepergianku, karena ia tahu, anaknya akan segera kembali dengan kabar baik dari Tuhan."  Mengharukan, tapi rasanya janggal Andi mengucapkan  kalimat seperti ini pada saat interogasi. Tapi, tentu saja, ini cuma persepsi saya.

Secara umum, terbitan Akoer sudah lebih baik dari terbitan sebelumnya, jika melihat ukuran huruf yang dipakai. Tidak kecil-kecil, sehingga melelahkan mata. Sayangnya, usaha ini tidak diimbangi dengan kualitas cetak yang bagus. Selain pada beberapa halaman tulisannya mengabur, masih terdapat sejumlah kesalahan cetak yang mengganggu. Dan omong-omong, catatan kaki (footnote) letaknya di 'kaki' setiap halaman, bukan di akhir buku (endnote).

Agaknya, satu kali penyuntingan perlu dilakukan lagi untuk menyiangi naskah, supaya novel perdana Qaris Tajudin ini tampil lebih bersinar.


Posted at 12:25 pm by Jody
Comments (3)  

Thursday, August 16, 2007
MATA GOLEM






Judul Buku: The Golem's Eye (Mata Golem)
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Editor: Dini Pandia
Tebal: 624 hlm; 20 cm
Terbit: Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


MISTERI DI BALIK MATA GOLEM


Setelah The Amulet of Samarkand (Mei, 2007), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan bagian kedua dari Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud, The Golem's Eye (Juli 2007). Bagian ketiga, Ptolemy's Gate, akan terbit September 2007. Mengingat trilogi ini mengisahkan tentang hubungan penyihir dan jin, Nathaniel (Nat) dan Bartimaeus (Bart), maka sekali lagi, Bart, jin sombong dan berlidah tajam akan dipanggil dari Dunia Lain (dunia asal demon). Membaca ocehan-ocehan pedas Bartimaeus di buku pertama, jelaslah pemanggilan dirinya merupakan hal yang sangat tidak ia harapkan. Jika ia dipanggil, mau tak mau ia kembali lagi menjadi budak yang mesti menjalankan semua perintah sang master –penyihir yang memanggilnya.

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama Bart dan Nat. Saat cerita digulirkan sang penulis, Nat, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nat antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan kelompok commoner yang dikenal sebagai Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Trilogi Bartimaeus ini memang berlatar Inggris ketika manusia biasa (commoner) telah kehilangan kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan para penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Rahasia kekuasaan para penyihir terletak pada kemampuan mereka berkomunikasi dengan para demon, memanggil dari Dunia Lain, dan memaksa melaksanakan apa yang mereka inginkan. Kekuasaan para penyihir yang kerap bertindak congkak membuat sebagian commoner menjadi oposan. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Perdana Menteri Sihir, Rupert Devereaux.

Menjelang berlangsungnya Founder's Day (hari lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nat tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nat tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Menjadi tugasnya sebagai pekerja bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nat menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nat menimbulkan kemarahan Bart yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bart akan melayani Nat selama 6 minggu.

Dugaan Nat memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bart yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tantangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nat dan Bart ke Praha.

Simultan dengan kepergian Nat ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone, sang Pendiri Negara di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir.

Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nat karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nat bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bart tidak bisa menolong karena menolong Nat berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nat? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nat tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bart. Sangat menarik ketika Nat, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Bart tahu benar siapa dia, dan tahu benar juga, commoner ini tidak akan tega membiarkan Nat meregang nyawa percuma. Dalam situasi ini sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance. Apa yang pernah dikatakan Simon Lovelace dalam The Amulet of Samarkand (hlm. 329), bahwa di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang", tetap akan berlaku. Seperti bagian pertama, The Amulet of Samarkand, konflik utama tetap bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Siapa pencetus konflik dalam The Golem's Eye, akan Anda temukan setelah membaca buku setebal 624 halaman ini. Yang jelas, ia (ternyata) memiliki hubungan dengan karakter antagonis dalam The Amulet of Samarkand, Simon Lovelace.

The Golem's Eye terdiri atas 4 bagian besar yang dijabarkan dalam 48 bab. Kisah dibuka dengan sebuah prolog yang menceritakan serangan Gladstone atas Praha pada tahun 1868, saat Bartimaeus bermasterkan seorang penyihir Ceko. Tentu saja prolog ini memiliki pertalian dengan konflik yang akan dijabarkan pada bagian novel selanjutnya. Seandainya The Golem's Eye ini sebuah film (dan memang akan difilmkan), prolognya menjadi semacam teaser yang mengasyikkan.

Jika dalam buku pertama penulis mengalirkan plot melalui dua perspektif, yakni orang pertama dengan Bart sebagai narator dan orang ketiga untuk mengisahkan sepak terjang Nat, kali ini Jonathan Stroud menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik.

Seperti buku pertama, ketika membaca cerita yang dielaborasi Bart, kita tetap akan menemukan eskpresi yang sinis, sok tahu, dan egomaniak yang tidak cukup hanya menggunakan narasi biasa, tapi juga catatan kaki yang menggelikan. Tak dapat dibantah, hal inilah sesungguhnya yang menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Trilogi Bartimaeus. Tapi dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Keberadaannya di alam imajinasi Jonathan Stroud telah menjadi salah satu pendorong dirangkainya kisah Nat dan Bart dalam bentuk trilogi.

Masih menggunakan latar dunia sihir yang berbeda dengan kisah-kisah dunia sihir lainnya (dunia sihir tempat penyihir berkuasa, ritual pemanggilan demon dengan menggambar pentacle dan tujuh tingkat keberadaan (plane)), karakter-karakter yang menarik, plot terjaga yang kian meruncing mencapai bagian akhir, sekali lagi Jonathan Stroud membuktikan dirinya sebagai penulis kisah fantasi yang tangguh. Ia memiliki kemampuan meramu kisah dengan sangat mengasyikkan, yang akan terus menghasut pembaca untuk menuntaskan seluruh buku begitu membaca dan menemukan daya tariknya. Menurut Jonathan Stroud ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun penggarapan dalam bentuk novel yang siap diterbitkan. Ketiga buku dari Trilogi Bartimaeus ini diterbitkan pertama kali berturut-turut tahun 2003, 2004, daan 2005. Pada tahun 2006, Trilogi Bartimaeus memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis).

Edisi Indonesia diterjemahkan dengan asyik sehingga kita dapat menikmati The Golem's Eye dengan nyaman. Membaca buku kedua Trilogi Bartimaeus ini, tak pelak lagi, akan membuat pembaca yang telah menikmati petualangan Bartimaeus dan Nathaniel sejak buku pertama, akan tidak sabar untuk menanti jilid pamungkas kisah berlatar dunia sihir Inggris ini.

Mengutip School Library Journal (sampul belakang novel), secara keseluruhan, saya mesti bersetuju bahwa inilah, "karya fantasi yang harus dimiliki", terutama oleh penggemar novel fantasi dengan latar dunia sihir.




Jonathan Stroud



Posted at 10:22 am by Jody
Comment (1)  

Wednesday, August 08, 2007
GLONGGONG






Judul: Glonggong

Penulis: Junaedi Setiyono
Penyunting: Imam Muhtarom
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Tebal: 294 hlm
Penerbit: Serambi


HIDUP BERHARGA KARENA GLONGGONG



Namanya sebenarnya Danukusuma. Tapi ia lebih suka dipanggil Glonggong. Ia tidak mengenal ayahnya, Ki Sena, yang menghilang setelah terlibat sebuah pemberontakan yang gagal pada tahun 1810. Ibunya, Wahyuningsih, menikah lagi dengan Suwanda dan kedua kakaknya beralih menjadi tanggung jawab kerabat ibunya. Ia tidak pernah bertemu kedua kakaknya.

Sejak kecil Danukusuma memiliki kegemaran bermain glonggong -tangkai daun (pelepah) pepaya, yang dibentuk menyerupai pedang. Suatu hari, ketika sedang bermain glonggong, Danukusuma mendapatkan nama baru, yang akan melekat padanya seumur hidup, dari penunggang kuda yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Dipanegara. Akhirnya, bukan hanya menyandang nama glonggong, pedang tangkai pepaya itu juga membuat hidup Danukusuma berbeda (hlm. 11: Tanpa ada glonggong, aku boleh jadi akan seperti ibuku)

Di tengah-tengah keriangan masa kecil, menjalani hidup bermain dan bertanding glonggong, Glonggong diperkenalkan dengan kerasnya kehidupan. Kewarasan ibunya yang terganggu membuat ia dan Ibunya tersingkir, dan mau tidak mau ibunya yang sakit menjadi tanggung jawab Glonggong remaja. Tidak ada penjelasan mengenai terganggunya kewarasan ibu Glonggong. Ia diceritakan sebagai sosok yang tidak banyak bicara yang kerjanya menembang setiap hari.

Pada tahun 1825 (hlm. 93), saat berusia 17 tahun (tidak cocok dengan yang disebutkan pada bagian lain (hlm. 123), ketika pemberontakan yang melibatkan Ki Sena gagal dan Suwanda membawa pergi ibu Glonggong (1810), Glonggong berusia kurang dari 1 tahun), tempat tinggal Glonggong dan ibunya terbakar, ibunya meninggal, dan Glonggong hidup sebatang kara. Menyusul kejadian sedih yang menimpa Glonggong, patok-patok dipasang, sebuah jalan hendak dibuat menerobos pekarangan Nyai Tegalreja, nenek Pangeran Dipanegara. Patok-patok itu kemudian dicabut, korban berjatuhan, puri Nyai Tegalreja terbakar, dan bersama pengikutnya, Pangeran Dipanegara meninggalkan Tegalreja, menuju Selarong. Perang Jawa (Java Oorlog) pun berkobar memecahkan masyarakat Jawa ke dalam 2 kutub.  Pertama, memihak Pangeran Dipanegara dan melawan kompeni Belanda; kedua, memihak Patih Danureja (pihak keraton) yang mengadakan perselingkuhan dengan kompeni Belanda.

Dalam situasi genting, huru-hara berdarah, di sela-sela usaha Glonggong menemukan saudara-saudaranya, Glonggong dijebloskan dalam penjara. Di sini ia bertemu Ki Jayasurata yang mengajaknya membantu perjuangan Pangeran Dipanegara, menggantikan tugas yang pernah diemban Ki Sena dan dua kenalan Glonggong.

Dalam perjalanan menjalankan tugas, Glonggong dihadang gerombolan begal yang dipimpin oleh orang yang sangat dikenalnya. Seperti pendahulunya, Glonggong mencatat kegagalan dalam tugas yang sama.

Perjalanan Glonggong selanjutnya akan membuat ia berhadapan dengan sejumlah kenyataan yang sulit untuk ia terima. Bukan hanya pengungkapan misteri kedua kakaknya yang mengejutkan, tapi juga bagaimana para pendukung Pangeran Dipanegara meninggalkan perjuangan karena lebih memilih kehidupan yang enak dan nyaman sekalipun tetap terjajah.  Saat itu, orang-orang yang dikenalnya sejak dari masa kecil hingga Perang Jawa berkecamuk, menggoreskan noda dalam jiwanya. Salah satunya, menggunakan nama Glonggong untuk membalaskan dendam masa lalu yang tak terduga.

Hanya satu yang menjadi tujuan hidup Glonggong setelah semua perkara yang disaksikannya nyaris membuatnya lantak dalam kekecewaan, bertemu Pangeran Dipanegara untuk meluruskan kesalahan yang pernah ia lakukan. 28 Maret 1830, di Magelang, di sebuah tempat yang mengingatkannya pada suatu masa dalam hidupnya yang telah lama berlalu, ia meneteskan lagi air mata yang mengering sejak kepergian ibunya. Apa yang ia saksikan di sana memberi suntikan semangat untuk  menulis kisah berjudul Glonggong, yang (kemudian) kita baca dalam novel berjudul GLONGGONG ini. Glonggong kembali ke Tegalreja, dan baru bisa menuntaskan kisah hidupnya 25 tahun lebih setelah peristiwa Magelang itu dan hampir setahun sesudah mangkatnya Pangeran Dipanegara. Lewat kisahnya, Glonggong berharap siapa saja yang membaca tulisannya bisa memetik pelajaran berharga.

Glonggong adalah novel pertama Junaedi Setiyono, penulis kelahiran Kebumen, 16 Desember 1965. Ia juga telah menulis puisi dan cerpen, yang antara lain dapat ditemukan dalam antologi Kemuning (2005). Glonggong yang diikutkannya dalam sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 2006, terpilih sebagai Pemenang Harapan 1 dari 249 naskah novel yang dinilai.

Membaca novel ini, kita akan menemukan kisah berlatar masa-masa sebelum, sementara, hingga Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk dan berakhir mengenai seorang pengagum Pangeran Dipanegara. Kisah hidup Glonggong dielaborasi dengan lancar dalam plot yang menawan yang bergerak cepat di tengah kesulitan hidup, maraknya intrik politik, dan gairah serta napsu terhadap harta, tahta, dan wanita. Seluruhnya dijabarkan dalam 6 bagian yang diberi judul menggunakan bahasa Jawa, masing-masing: Beda-beda Pandumaning Dumadi, Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi Ditohi Pati, Cakra Manggilingan, Yitna Yuwana Lena Kena, dan Jer Basuki Mawa Bea. Dengan latar Jawa yang digunakan, tak pelak lagi, dalam perguliran plot, kita akan disapa dengan sejumlah kosakata Jawa yang artinya dapat ditengok pada bagian glosari di bagian belakang buku.

Dengan plot yang bergulir cepat, dibentangkan menggunakan bahasa yang tanpa kerumitan (di luar kosakata Jawa atau Belanda), pembaca akan menikmati sajian kisah yang tidak menjadi membosankan sampai halaman terakhir berlalu. Penggunaan bahasa yang terbilang sederhana, tanpa bunga-bunga atau metafora segar yang melimpah ruah bisa dipahami mempertimbangkan kisah digelontor dari perspektif Glonggong. Meski bisa baca-tulis, Glonggong tidak pernah diceritakan mengenyam pendidikan formil pada zamannya.

Melalui Glonggong, agaknya penulis hendak menunjukkan jika ia bukan penulis yang murah hati memberikan detail. Ketika apa yang hendak ia sampaikan telah tercetus, ia akan segera melanjutkan kisah guna mencapai tujuan yang dikehendakinya. Hanya, akibat dari teknik ini, ada hal-hal terkesan mengambang, tidak jelas. Seperti keputusan ibu Glonggong menikahi Suwanda dan membiarkan kedua anaknya pergi, tidak ada detail yang sebenarnya perlu mempertimbangkan hal ini berperan penting dalam perjalanan hidup Glonggong selanjutnya. Penggunaan narator yang tidak serbatahu tentu saja bukan alasan untuk mengabaikan detail penting. Meskipun begitu, teknik ini memiliki keunggulan dari sisi lain, yaitu saat Glonggong menarasikan suara hatinya, karena tidak berpanjang lebar, pesannya tidak luncas dan tidak terjebak pada gaya menggurui yang kerap sangat menjengkelkan.  

Walaupun akan terkesan memanfaatkan faktor kebetulan untuk menghidupkan karakter yang diimbuhkannya ke dalam plot, jelas penulis telah melakukan perencanaan yang matang untuk kehidupan setiap karakter. Kehadiran Suta, Surya, Prayitna, Suwanda, Danar, Kiai Ngali, bahkan Rubinem dan dua bersaudara Jacob Roeps, tidak hanya menjadi ornamen cerita belaka, tapi memberikan kontribusi pada sepak terjang, pikiran, dan perasaan Glonggong.

(SPOILER)

Di antara karakter-karakter itu, saya agak terusik dengan karakter Danar yang menjual saudara perempuannya (hlm. 202) dan menghabisi ayahnya, Ki Sena (hlm. 186). Tidak ada penjelasan memadai dari penulis soal motivasi tindakan Danar. Hanya sekadar diceritakan untuk menciptakan efek kejutan. Padahal apa yang dilakukan Danar sangat penting artinya dalam perjalanan hidup Glonggong. Bukan hanya karena Danar ikut ambil bagian dalam kegagalan tugas penting yang diemban Glonggong, tapi Danar sesungguhnya adalah kakak kandung Glonggong. Penulis tidak menjelaskan kemungkinan Danar tidak mengenal ayahnya sehingga tindakan merenggut nyawa ayahnya bisa dipahami. Namun, rasanya tidak mungkin Danar tidak mengenal ayahnya mengingat Danti Arumdalu -saudara perempuan yang dijual dan pernah tinggal dekat dengannya mengetahui jati diri sang ayah. Ditambah lagi adanya percakapan Glonggong dan Danar mengenai Ki Sena yang sepertinya ingin dihindari Danar (hlm. 120 -121).


Dalam novel yang tidak mencapai 300 halaman ini, tidak sedikit pesan yang ditaburkan oleh si penulis. Bukan cuma kegigihan bertahan hidup seperti yang dilakoni Glonggong. Bukan hanya kejujuran dan integritas dalam semua sendi kehidupan seperti yang diwartakan Glonggong. Juga, bukan sekadar pada pentingnya suara hati yang jernih untuk menamengi setiap orang dalam menghadapi kemelut hidup. Tapi juga, yang sangat mencolok, adalah cara hidup para karakter yang dikenal Glonggong secara dekat.

Khususnya dari kehidupan para karakter yang dikenal Glonggong, kita akan menemukan seorang kiai yang menjadi panutan tapi lebih suka mengkhianati perjuangan yang sebelumnya sangat ia yakini demi kenyamanan hidup; seorang santri yang hadir santun mengesankan, namun serakah, tidak cuma harta, tapi juga wanita (memiliki 3 istri sekaligus, para pelacur yang agaknya sering ia kunjungi sebelumnya); seorang laki-laki yang menghalalkan berbagai cara untuk menumpuk harta, bahkan menjual saudara perempuan dan membunuh ayahnya sendiri; seorang kakak lelaki yang mencarikan perempuan pemuas napsu untuk suami adik perempuannya; dan seorang bangsawan pengkhianat yang tega menghabisi nyawa istrinya. Betapa kepribadian seseorang (laki-laki) begitu mudah tergerogot oleh sihir harta, tahta, dan wanita dan melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. Meskipun terjadi di masa silam, gaungnya masih berkumandang dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

Pada akhirnya, Glonggong memang tidak bisa mengakhiri dengan indah misi terpenting yang menjadi tujuan akhirnya karena situasi yang tidak bersahabat. Meski demikian, Glonggong  tetap menjadi karakter ideal, yang akan memberikan pelajaran berharga bagi pembaca, bahwa, di atas segala-galanya kemurnian moral dan kejernihan hati nurani adalah hal-hal yang krusial dalam kehidupan manusia. Sehingga, melalui kisah ini, tidak cuma seperti harapan Glonggong, Junaedi Setiyono tentu saja berharap, novelnya bisa memberikan pelajaran berharga bagi setiap pembacanya.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, harus diakui, Glonggong memang layak terpilih sebagai salah satu pemenang sayembara penulisan novel. Memang tidak luar biasa, tapi memberikan pengalaman baca yang cukup mengesankan.


Posted at 03:30 pm by Jody
Comments (3)  

Monday, August 06, 2007
VIENNA BLOOD







Judul Buku: Vienna Blood (The Liebermann Papers)

Penulis: Frank Tallis
Penerjemah: Berliani Nugrahani
Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007
Tebal: 592 hlm; 20,5 cm
Penerbit: Qanita


DENDAM YANG BERTUNAS DI MASA KECIL


Setelah The Liebermann Papers pertama, A Death in Vienna (Mortal Mischief) yang memikat, kembali lagi Penerbit Qanita menerbitkan seri kedua yang telah beredar, Vienna Blood. The Liebermann Papers yang seluruhnya (akan) mengambil setting Wina di antara tahun 1902 hingga 1914 ini memang baru terbit dua buku. Buku ketiga, Fatal Lies, direncanakan terbit tahun 2008. Sekali lagi, seperti buku pertama, Maxim Liebermann, sang psikonanalis dan murid Sigmund Freud, akan unjuk kebolehan membantu sahabatnya -Inspektur Detektif Oskar Rheinhardt, dalam rangka memecahkan misteri pembunuhan yang terjadi di kota sphinx, Wina. Max akan mengaplikasikan ilmu yang dipulung dari gurunya sambil melakukan tindakan nekat seperti yang terjadi di buku pertama.

Dibandingkan dengan buku pertama, pembunuhan yang diceritakan dalam buku ini  lebih banyak dan memiliki tingkat kesadisan yang lebih tinggi. Rangkaian pembunuhan sadis ini dibuka dengan pembantaian Hildegard, seekor anakonda yang dikerat menjadi tiga bagian. Setelah itu terjadi pembantaian di sebuah rumah bordil yang menewaskan seorang mucikari dan tiga pelacur dengan metode pembunuhan yang sangat mengerikan; terpotong-potong, usus terburai, kelamin tercabik, dan tenggorokan tertebas. Pembunuh keempat perempuan ini meninggalkan jejak berupa lambang semacam salib di dinding yang dibuat menggunakan darah.

Sebelum kedua kasus pembantaian tersebut terpecahkan, seorang pedagang ayam asal Ceko meregang nyawa di ujung pedang, yang diduga sebagai senjata yang sama yang digunakan pada dua kasus terdahulu. Selain ditikam, ke dalam tenggorokan korban dijejalkan gerendel. Dan seolah-olah rangkaian pembunuhan ini belum cukup, seorang pelayan lelaki asal Nubia, tewas dibunuh dengan tenggorokan terbelah dan alat kelamin tercerabut.

Inspektur Detektif Oskar Rheindhardt tentu saja dibuat pusing oleh rangkaian pembunuhan itu. Investigasi dilakukan terhadap setiap oknum yang berpotensi melakukan tindakan kriminal, tapi kabut kebingungan menghalangi munculnya titik terang kasus. Kontribusi Amelia Lydgate memunculkan dugaan jika sang pembunuh adalah seorang pemilik toko buku tua atau seorang pustakawan.

Ketika menyaksikan opera The Magic Flute karya Mozart, Max menemukan jika kasus pembunuhan yang sedang ditangani sahabatnya berhubungan erat dengan opera ini. Berdasarkan analisis Max dan Oskar, pembunuh berantai ini mereka sebut sebagai Salieri, dan mereka yakin, setelah si pelayan asal Nubia, masih akan ada lagi pembunuhan berikutnya.

Simultan dengan terjadinya pembunuhan dan pengusutan pembunuhan, Asosiasi Sastra Eddik pimpinan Gustav von Triebenbach menggalang kekuatan. Organisasi ini secara terbuka mengembuskan permusuhan dengan berbagai kalangan, termasuk Freemason, yang salah satu anggotanya ternyata Mozart, pencipta opera The Magic Flute. Di antara mereka terdapat seorang musisi bernama Herman Aschenbrandt yang tengah menulis opera berdasarkan novel Carnuntuum karya Guido von  List, dan Andreas Olbricht, seorang pelukis yang hendak melaksanakan pameran tunggal untuk karya-karyanya.  

Pengusutan kasus pembunuhan oleh Max dan Oskar menemui titik terang ketika identitas si pembunuh diketahui (juga) sebagai pemain cello.  Tapi, ternyata, tetap tidak mudah membekuk si pembunuh sadis ini. Untuk membekuknya sekaligus mengungkap motivasi tindakannya, Max sekali lagi mesti melakukan tindakan nekat. Bukan hanya menyusup ke dalam organisasi rahasia Freemason,  tapi juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jika Max gagal, berarti mata pedang si pembunuh akan meminta korban nyawa lagi. Meski hanya sedikit, latihan yang dilakukan Max pada awal novel akan memberinya bantuan untuk bertahan.

Di sela-sela pengusutan pembunuhan berantai itu, Max Libermann diserang kegalauan akan cintanya terhadap Clara Weiss, calon istrinya. Dalam kisaran cintanya dengan Clara, Max tidak menemukan gairah yang sama seperti ketika ia membayangkan Amelia Hydgate, mantan pasiennya yang pintar. Balada cinta Max bergulir di antara tugasnya sebagai psikoanalis yang mempertemukannya dengan Herr Beiber, seorang lelaki yang didiagnosisnya sebagai pengidap paranoia erotica. Tak disangka, sesi terapi dengan Herr Beiber ini akan memberikan penegasan pada Max siapa sesungguhnya si pembunuh berantai yang dicari-cari.

Bagi yang sudah membaca A Death in Vienna, sekali lagi akan merasakan pengalaman baca yang kurang lebih sama mengasyikkan dalam Vienna Blood. Frank Tallis masih menggunakan formula andalannya, misteri pembunuhan yang tidak mudah dipecahkan, tersangka yang tampak potensial, dan pelacakan serta pengungkapan motivasi pembunuhan yang berbelit. Semuanya tidak hanya membutuhkan kecerdasan analisis seorang Maxim Liebermann, tapi juga dukungan teori Sigmund Freud.

Seperti A Death in Vienna, Vienna Blood dielaborasi tanpa tergesa, panjang lebar, dalam bab-bab yang bergaya cerpen, sehingga tidak membosankan untuk diikuti. Seluruh kisah dipaparkan dalam 88 bab, yang terangkum dalam 4 bagian besar, berturut-turut terdiri atas Tersangka Utama, Kerajaan Malam, Salieri, dan Dunia Bawah Tanah. Setiap bab diakhiri dengan pas, dengan cara yang tepat untuk mengundang pembaca segera lanjut ke bab berikutnya.

Meski identitas pembunuh telah diketahui sejak bab 71 (dengan catatan, harus diikuti dari awal untuk menghindari kebingungan), perburuan si pembunuh sekaligus pembongkaran alasannya melakukan tindakan keji tetap menjadi materi yang sangat menarik untuk disimak. Rahasia yang terungkap berkat kecakapan Max Liebermann memanfaatkan psikonanalisis, hasil pemupukan tunas dendam yang tumbuh di masa kecil sang pembunuh, terasa sangat kuat dan mencengangkan sehingga membuat novel ini terasa lebih bersinar.

Beberapa bagian terkesan sangat kebetulan, misalnya pengungkapan wajah si pembunuh melalui pasien Max, atau ternyata opera The Magic Flute memiliki pengaruh pada tindakan nekat dan sadis si pembunuh. Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi daya tarik novel berlatar musim dingin tahun 1902 ini. Apalagi masalah kebetulan memang jamak ditemukan dalam novel detektif pembunuhan semacam ini.

Dengan karakter utama yang sama, beberapa karakter figuran yang pernah muncul di seri sebelumnya, dan tambahan karakter yang memberi nuansa baru, Vienna Blood kian mengukuhkan nama Frank Tallis, psikolog klinis peraih Writers' Award (Arts Council of Great Britain, 1999) dan New London Writers'Award (London Arts Board, 2000), sebagai novelis kisah detektif brilian yang karya-karyanya sangat layak dinikmati dan ditunggu kehadirannya.

Edisi Indonesia terbitan Penerbit Qanita ini diterjemahkan oleh Berliani Nugrahani dengan apik. Naskah dicetak menggunakan huruf  berukuran kecil, tapi masih tetap enak dibaca. Seingat saya, tidak ada kesalahan cetak yang membuat acara membaca menjadi terganggu. Penyuntingan novel juga sangat bagus, tidak ada kalimat-kalimat aneh membingungkan. Hal ini penting, mengingat belakangan, di dunia buku Indonesia beredar karya-karya fiksi yang kurang bagus dari segi penyuntingan. Malah, ada karya fiksi yang tampaknya terbit tanpa disunting terlebih dahulu, sehingga kita masih bisa menemukan kalimat-kalimat kacau yang perlu disiangi.

Setelah Vienna Blood, rasanya tidak sabar untuk segera membaca buku ketiga serial  The Liebermann Papers, yang sayangnya, baru akan terbit tahun 2008.


Posted at 05:46 pm by Jody
Comments (3)  

Sunday, August 05, 2007
CENTURY







Pesona Kisah Mercy Galliena Verga


Judul Buku: Century
Penulis: Sarah Singleton
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007
Tebal: 248 hlm; 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Century adalah novel anak-anak pertama yang ditulis Sarah Singleton, seorang jurnalis dan penulis fiksi berdarah Inggris, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis novel dewasa, The Crow Maiden (2001) dan novella, In The Mirror (2001). Selain Century, penulis kelahiran tahun 1966 ini telah menulis dua buku anak-anak lain, yaitu Heretic (2006) dan Sacrifice( 2007). Century yang diterjemahkan Poppy Damayanti Chusfani dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini telah memenangkan Booktrust Teenage Prize tahun 2005.



Sarah Singleton

Novel Century dibuka dengan adegan penemuan sebuah buku bersampul kulit merah dalam sebuah peti di sebuah rumah yang telah ditinggalkan penghuninya selama beberapa dekade dan saat itu sedang direnovasi. Tidak jelas siapa narator yang menceritakan penemuan buku itu. Mungkin, Sarah Singleton sendiri, mengingat penemuan buku yang terdapat pada bagian prolog ini diceritakan menggunakan perspektif orang pertama. Setelah prolog, tidak ada lagi bagian novel yang menyinggung si "aku" ini.

Buku yang ditemukan itu berisi sebuah novel yang ditulis seorang bernama Mercy Galliena Verga pada tahun 1890. Menurut tulisan dalam buku tersebut, Mercy adalah seorang gadis kurus berwajah murung yang tinggal di sebuah rumah bernama Century (abad). Mercy tinggal di Century bersama Trajan Quintus Verga -ayahnya, dan adiknya, Charity, serta Aurelia -pengurus rumah dan perawat, dan Galatea -seorang pengasuh. Keluarga ini berasal dari Italia yang pindah ke Inggris untuk sebuah alasan yang tidak diketahui kedua anak perempuan Keluarga Verga. Penghuni Century memiliki kehidupan yang berbeda dengan kehidupan manusia di luar Century. Mereka bangun setelah matahari terbenam dan tidur saat matahari terbit. Century dan penghuninya senantiasa berada di hari-hari  musim dingin yang sama yang tak berkeputusan.

Mercy tidak pernah mempertanyakan jenis kehidupan yang mereka jalani saat itu, hingga suatu hari ia terbangun dan menemukan sekuntum bunga snowdrop di bantalnya, bunga yang menandai datangnya musim semi. Karena setahunya bunga ini biasanya tumbuh di kolam di Padang Penyulingan, maka ia pergi ke sana dan menemukan hantu wanita di bawah es yang menyelimuti kolam. Mercy memang memiliki kemampuan melihat hantu. Setelah melihat hantu wanita itu, selanjutnya, di sebuah kapel dekat Century, Mercy bertemu Claudius yang mengaku masih Keluarga Verga. Claudius berjanji akan membantu Mercy. Ia mengatakan Mercy masih bisa melihat Thecla -ibu Mercy, yang setahu Mercy telah meninggal sejak ia masih kecil.

Keingintahuan Mercy membuatnya bertekad melakukan petualangan dalam rumahnya sendiri. Ia ingin menyingkap misteri yang membalut Century, hantu kolam bernama Marietta, dan kematian ibunya. Seperti ayahnya yang berbakat menggunakan kata-kata dan telah menulis buku berjudul Century pada tahun 1790, Mercy juga memiliki bakat menggunakan kata-kata untuk membangun kembali kenyataan. Sebagai dukungan, Claudius memberikan kepada Mercy sebuah buku merah dengan tulisan Century yang diembos di sampulnya. Bakat Mercy yang lain, yaitu bisa melihat menembus dinding hari-hari, akan membantunya menuntaskan bukunya sendiri. Buku inilah yang ditemukan si "aku" pada bagian prolog, dan berisi kisah yang dijabarkan pada halaman-halaman selanjutnya hingga mencapai epilog.

Century adalah sebuah novel enigmatis yang sangat memikat. Sejak awal pembaca sudah disuguhi teka-teki yang mengundang untuk terus digali jawabannya. Perkenalan Mercy dengan hantu pada awal cerita mungkin akan membuat pembaca mengira novel ini novel horor dengan adegan-adegan yang mencekam. Jangan salah, novel ini sama sekali bukan novel horor meski mengandung adegan-adegan yang juga mencekam. Gramedia Pustaka Utama melabeli novel ini sebagai novel fantasi. Ketika mengikuti sepak terjang Mercy dan semua yang ditulisnya, memang akan terkesan jika novel ini sebagai novel fantasi biasa, dengan hal-hal fantastis yang menjadi elemen novel jenis ini. Tapi begitu menamatkannya, pembaca juga akan tahu bahwa Century bukan jenis novel fantasi seperti itu.

"Jangan segera percaya yang Anda baca", mungkin bisa dijadikan peringatan ketika Anda berniat membaca buku ini. Dan, bagi pembaca yang memiliki kebiasaan menengok ending sebelum menuntaskan bacaannya –mungkin saking penasarannya, percuma. Ending yang disuguhkan sama sekali bukan merupakan kunci untuk mendapatkan pesona novel ini. Kunci utama novel ini berada pada bab sebelum Mercy Galliena Verga mengelaborasi ending seperti yang ia inginkan. Meskipun begitu, ending yang akan ditemui pembaca sama sekali tidak akan mengurangi kenikmatan membaca novel ini.

Novel Century ini sedikit mengingatkan saya pada novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara. Tentu saja bukan pada ceritanya, atau karakter-karakter yang ada, tapi dari sudut pandang karakter mana cerita digulirkan. Memang, Sarah Singleton tidak menguraikan secara panjang lebar apa yang sesungguhnya terjadi, tapi dari percakapan Trajan dan Galatea (hlm. 214 -216), pembaca akan menyadari kepiawaian Sarah Singleton mempermainkan pikiran. Bagian ini pasti akan membuat pembaca terperangah -dengan catatan bagian ini dicapai setelah mengikuti kisah dari awal. Sebuah pemutarbalikan  cantik yang membuat novel ini terasa sayang untuk dilewatkan.

Dengan pengungkapan Sarah Singleton ihwal 'apa' sesungguhnya cerita yang diuraikan Mercy, rasanya selain Mercy sendiri, karakter lainnya menjadi tidak terlalu penting untuk dibahas, meski awalnya telah menggugah rasa penasaran. Yang paling menarik, tentu saja, plot yang dirancang Sarah Singleton. Sungguh tak terduga, sehingga percuma untuk menebak-nebak.

Jika Anda penasaran, sebaiknya Anda membaca buku satu ini.


Posted at 10:53 am by Jody
Comment (1)  

Thursday, August 02, 2007
DIFFERENT UGLINESS, DIFFERENT MADNESS







Judul Buku: Balada Seorang Penyiar

Judul Asli: L'autre laideur, l'autre folie
(Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh: Jonathan Tanner)
Diterjemahkan dari: Different Ugliness, Different Madness
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Teks dan layout: Eduard Iwan Mangopang
Editor: Tanti Lesmana
Tebal : 128 hlm; 6, 5 mm; 19 X 26 cm (Soft cover)
Terbit: Juli, 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


APAKAH PEREMPUAN MERUPAKAN KEAJAIBAN?


Novel grafis adalah jenis komik yang biasanya berisi cerita panjang dan kompleks seperti halnya novel dan sering ditujukan untuk pembaca dewasa. Tapi istilah novel grafis ditujukan juga untuk komik yang merupakan antologi cerita pendek dan koleksi komik berseri.*) Setelah menerbitkan novel grafis seperti Love Me Better- Sebuah Graphic Memoir (Rosalind B. Penfold), Bordir – Embroideries (Marjane Satrapi), Chicken Soup for the Soul Graphic Novel: Hadiah Terindah dan Pelajaran Berharga (Kim Donghwa), V For Vendetta (Alan Moore & David Lloyd, 2007), dan Age of Bronze: A Thousand Ships (Eric Shanower), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan The White Lama - Reinkarnasi ( Bess, Jodorowsky) dan Different Ugliness, Different Madness.

Different Ugliness, Different Madness adalah karya Marc Malés, seorang kreator novel grafis berdarah Prancis. Marc Malés pertama kali menerbitkan karyanya pada tahun 1981 ketika berusia 27 tahun. Ia telah menggambar komik sejak usia 10 tahun, pernah bekerja sebagai petugas layout di sebuah agen periklanan dan membuat ilustrasi untuk Heart Press (majalah cerita romantis di Inggris).

Menurut Marc Malés, novel grafis yang diterjemahkan oleh Rosi L. Simamora dan diberi judul Balada Seorang Penyiar  ini terpengaruh film The Bridges of Madison County garapan Clint Eastwood (dibintangi Clint Eastwood dan Meryl Streep). Marc Malés juga menyebutkan bahwa novel grafis ini adalah realisasi ide mengenai penyiar radio bersuara memikat tapi –ternyata- berwajah jelek dan soal kebohongan dalam dunia hiburan -model yang 'meminjamkan' penampilannya untuk suara penyanyi yang berwajah tidak komersil. Kedua elemen ini dikombinasikan dengan kisah pertemuan lelaki-perempuan yang mengubahkan hidup. Juga menurut Marc Malés, karyanya ini merupakan jawaban untuk pertanyaan "Are women magical?" (Apakah perempuan merupakan keajaiban?) yang ditemukannya dalam film François Truffaut.

Kisah dalam Different Ugliness, Different Madness ini dibuka pada tahun 1952 ketika Ralph Burns mempromosikan bukunya yang berjudul Great Radio Personalities. Buku ini berisi tentang bintang-bintang radio tahun 30-an dan salah satu bab didedikasikan kepada Lloyd Goodman yang telah meninggal lima tahun sebelumnya. Lloyd Gooman adalah salah satu penyiar radio C.B.N. yang sangat populer dan dicintai oleh para pendengarnya, sebelum era maraknya televisi.

Suatu ketika, di puncak popularitasnya, Goodman meninggalkan acara radionya secara tiba-tiba. Kemudian, setelah absen selama hampir satu tahun, suatu malam pada Bulan Desember 1934, Goodman kembali lagi bekerja sebagai penyiar radio.

Apa yang terjadi dalam hidup Goodman selama meninggalkan acara radionya akan dijabarkan dalam kisah yang dielaborasi dari sudut pandang Helen Ford, perempuan berusia 78 tahun yang sedang sekarat karena kanker.

Merasa sudah mendekati akhir hidupnya, Helen mengajak Linda, putrinya, mengunjungi sebuah stasiun kereta api yang pernah ia singgahi 50-an tahun yang lalu. Dari stasiun kereta api itu, Helen bermaksud mencari sebuah rumah yang pernah dijadikan tempatnya menginap pada masa itu. Sayangnya, perubahan telah banyak terjadi, sehingga mereka tak bisa menemukan rumah itu lagi.

Lima puluhan tahun sebelumnya, dalam perjalanan tanpa tujuan untuk melarikan diri dari kenangan peristiwa buruk yang menimpa saudara kembarnya, Mary, Helen tiba di stasiun itu. Dari stasiun itu, nasib mempertemukannya dengan seorang lelaki asing baik hati yang bersedia menolongnya. Laki-laki ini memperlakukan Helen dengan hormat dan mengundang Helen menginap di rumahnya karena Helen benar-benar tidak punya tujuan dan tempat untuk menginap. Jadilah, untuk beberapa hari, Helen menginap di rumah laki-laki ini -sebuah rumah tanpa cermin, tempat laki-laki ini hidup hanya dengan seekor anjing.

Lelaki baik hati ini tidak lain adalah Llyod Goodman yang melarikan diri dari pekerjaannya sebagai penyiar radio. Dua manusia bertemu, lelaki dan perempuan, masing-masing menggenggam masalah yang merongrong hidup. Meski Helen tak langsung menyadari saat itu, pertemuan ini telah mengubah hidup mereka selama-lamanya.

Novel grafis nominator Europe's 2004 Association of Graphic Novels Critics and Journalist (ACBD) Award ini hadir bagaikan sebuah film. Cerita digulirkan menggunakan alur kilas balik dari perspektif Helen ketika ia mengunjungi stasiun penuh kenangan itu, kembali, dan tiba di rumah menjelang akhir hidupnya. Setiap ilustrasi dibuat secara sinematik. Akibatnya, seolah-olah hendak menggambarkan pertarungan pikiran yang intens -yang dalam film biasanya disajikan dalam adegan berdurasi panjang, pada halaman 95 – 101, adegan terasa terlalu panjang.

Transisi adegan dari masa kini ke masa lalu dan sebaliknya, tidak ada petunjuk. Untunglah tidak terlalu mengganggu, karena sambil membaca, pembaca akhirnya bisa memahami. Janggalnya, ada adegan yang diberikan porsi terlalu banyak kendati kurang penting, tapi ada adegan yang disajikan irit, baik visualisasi maupun dialognya, padahal cukup penting. Adegan pamungkas misalnya, meski dapat dimengerti, menurut saya terlalu irit. Tentu saja bukan karena saya berharap visualisasi adegan seks antara Llyod dan Helen diumbar lebih banyak. Hanya terkesan tidak cukup intens saja untuk menggambarkan adegan terpenting dalam hidup kedua karakter ini.


Seperti kata Helen, "Lebih baik begini, percayalah... Akan kita lihat, pertemuan ini hanyalah sebuah catatan kaki dlm (dalam) hidup kita (hlm. 127)", kisah pertemuan mereka memang akhirnya sekadar jatuh sebagai catatan kaki dalam hidup mereka, terutama hidup Llyod –setidaknya itulah yang saya tangkap, mengingat cerita dituturkan dari perspektif Helen.

Menikmati novel grafis ini memang akan terasa atmosfer The Bridges of Madison County -film yang diangkat dari novel Robert James Waller yang ditulis berdasarkan kisah cinta yang benar-benar terjadi antara seorang fotografer gaek (Robert Kincaid) dengan perempuan pedesaan (Francesca Johnson) yang berlangsung singkat tapi penuh gairah. Kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia karena Francesca masih memiliki suami dan anak-anak serta tak ingin meninggalkan keluarganya. Sayangnya, dalam novel grafis ini, selain ungkapan Helen pada halaman 127 –seperti di atas- tidak ada penjelasan yang memadai alasan cinta Helen dan Llyod tidak bisa bertaut ketika mereka bertemu, kendati saat itu Helen belum bersuami.

Meskipun tetap mengharukan, kisah dalam novel grafis ini seolah-olah hanya menjadi semacam pembuktian bahwa Helen benar-benar memiliki kekuatan magis seorang perempuan seperti yang diyakininya. Kekuatan magis yang sangat istimewa yang menurut Helen hanya terjadi satu kali, tapi sanggup membuat seorang laki-laki yang tidak bahagia menjadi bahagia (hlm. 125). Kekuatan magis ini tidak hanya membuat Llyod kembali ke pekerjaannya, tapi juga membuahkan sebuah rahasia bernama Linda.

Menurut saya, gambar-gambar dalam novel grafis hitam putih ini tergolong sederhana. Sudah sering saya melihat komik dengan gambar-gambar semacam ini. Saya merasa lebih nyaman melihat gambar-gambar dalam Age of Bronze: A Thousand Ships yang terasa lebih segar, bersih, dan enak dilihat.

Seluruh kisah dalam novel grafis ini memang berangkat dari satu peristiwa dalam kehidupan Llyod Goodman, hanya dalam penjabaran selanjutnya kita juga akan menikmati kisah hidup Helen. Makanya, judul terjemahan yang dipakai, Balada Seorang Penyiar, terasa kurang pas. Tapi, sepertinya, sulit juga memindahkan judul Different Ugliness, Different Madness ke dalam bahasa Indonesia.


*) Wikipedia

Posted at 01:42 am by Jody
Make a comment  

Tuesday, July 31, 2007
SKY BURIAL






J
udul Buku: Pemakaman Langit
Judul Asli: Sky Burial
Penulis: Xinran Xue
Penerjemah: Ken Nadya
Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2007
Tebal: 288 hlm
Penerbit: Serambi


CINTAKU DI PEMAKAMAN LANGIT


Tibet yang terletak di wilayah Pegunungan Himalaya, saat ini merupakan provinsi dari Republik Rakyat Cina. Sebelumnya, Tibet dikenal sebagai wilayah tertutup yang misterius.  Tibet menjadi salah satu provinsi Cina setelah invasi Tentara Merah Cina pada tahun 1950, yang dilanjutkan dengan penaklukan pada tahun 1951, ketika ibu kota Tibet – Lhasa- direbut tentara Cina dan Dalai Lama didongkel dari kekuasaannya. Pihak Cina melakukan penindasan dan pembantaian kepala suku dan sejumlah pendeta Budha (lama). Pendudukan Cina mengundang perlawanan rakyat dan pemuka Tibet yang menyebabkan banyak korban jiwa, terutama dari pihak Tibet. Tapi, karena ketidakseimbangan kekuatan persenjataan dan tidak adanya sorotan internasional, perlawanan Tibet berhasil dipadamkan.

Sky Burial yang diterjemahkan dan diterbitkan Gita Cerita Utama Serambi sebagai Pemakaman Langit, menggunakan invasi dan pendudukan Cina di Tibet sebagai latar awal. Novel ini ditulis oleh Xinran Xue, perempuan Cina mantan wartawan dan presenter radio kelahiran Beijing 1958.  Pada tahun 1997, Xinran pindah ke London dan menjadi penulis buku. Buku pertamanya, The Good Women of China, laris secara internasional. Selain The Good Women of China dan Sky Burial, Xinran telah menerbitkan koleksi kolomnya, What the Chinese Don't Eat, dan novel berjudul Miss Chopsticks (2007).


Xinran Xue

Meski tidak dijelaskan secara gamblang dalam buku kecil ini, agaknya Sky Burial ditulis berdasarkan kisah nyata. Hal ini tercermin pada ucapan terima kasih (hlm 282) dari Xinran.

Pada tahun 1994, ketika bekerja sebagai wartawan  dan presenter radio di Nanjing, dalam siaran radionya, seorang pendengar menelepon dari Suzhou, menginformasikan tentang seorang perempuan aneh yang baru saja kembali dari Tibet bernama Shu Wen. Setelah pertemuan dengan Shu Wen, pada tahun 1995, Xinran menjelajahi Tibet untuk menghayati apa yang telah dialamai Shu Wen selama pengembaraannya di Tibet.

"Selama sepuluh tahun buku ini bersemayam dalam hatiku, mematang laksana anggur. Sekarang, akhirnya, bisa kupersembahkan kepadamu," kata Xinran (hlm. 280) ketika akhirnya kisah Shu Wen berhasil ia selesaikan dalam bentuk buku pada tahun 2004.

Baru tiga minggu menikah, Kejun, suami Shu Wen, sudah harus pergi ke Tibet menjadi dokter Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army -tentu saja menurut pihak Cina). Lewat dua bulan setelah itu,  Wen mendapat kabar yang sangat singkat mengenai nasib suaminya. Kejun tewas dalam sebuah insiden di Tibet bagian timur, 14 Maret 1958. Pemberitahuan yang tidak memadai bagi Wen, apalagi tidak ada bukti jasad Kejun, membuat Wen bertekad mencari suaminya di Tibet. Ia menyuntikkan keyakinan dalam dirinya bahwa suaminya masih hidup. Pekerjaannya sebagai dokter –dermatologis- membuat Wen tidak mengalami kesulitan untuk  bergabung dengan tentara Cina yang akan dikirim ke Tibet.



Setelah melewati rute Suzhou-Zhengzou-Chengdu, Wen akhirnya bisa menghirup udara Tibet. Dalam perjalanan yang mempertaruhkan nyawa, Wen dan rekan-rekannya bertemu Zhuoma. Zhuoma adalah anak bangsawan Tibet yang bisa bahasa Cina karena pernah bersekolah di Beijing. Zhuoma baru saja terpisah dari Tiananmen, pemandunya, mantan pelayan keluarga yang diam-diam dicintainya. Selanjutnya kedua perempuan ini meretas wilayah Tibet untuk mencari cinta mereka. Mereka bertemu dengan sebuah keluarga nomadik yang menerima kehadiraan mereka dengan baik. Perjalanan mereka kemudian tidak hanya menjadi perjalanan mencari cinta yang hilang, tapi juga perjalanan Wen mengenai budaya, alam, tradisi, keyakinan, dan cara hidup orang Tibet. Musim demi musim silih berganti, dan dalam sebuah musim, Zhuoma diculik, hilang tanpa jejak. Saat itu, Wen benar-benar telah kehilangan kontak dengan dunia luar. Ia telah menjadi salah satu manusia pengembara di tengah keluarga nomadik. Meski demikian, keyakinan untuk bertemu dengan Kejun masih tetap memijar dalam hatinya. Apalagi, keluarga nomadik itu akhirnya memutuskan membantu pencarian Wen. Ketika tiba di sebuah tempat bernama Wendugongba, bersamaan dengan diadakannya upacara Dharmaraja,  Wen baru tahu, ia telah melewati puluhan tahun sebagai pengembara. Sampai saat itu, ia masih kehilangan jejak suaminya.

Di sebuah kawasan yang dikenal sebagai "Seratus Danau", setelah lebih dari 30 tahun mengembara, akhirnya Wen memutuskan untuk kembali ke Cina. Saat itu,  Wen telah menjelma dari seorang perempuan berusia 26 tahun menjadi seorang perempuan tua penganut Budha Tibet dengan penampilan Tibet tapi berwajah karakteristik Cina.



Akankah Wen bertemu kembali dengan Zhuoma setelah sahabatnya ini diculik dan lenyap tak tentu rimbanya? Akankah Wen bertemu dengan Kenju setelah lebih dari 30 tahun berpisah? Apa yang terjadi dengan kehidupan Kejun sebenarnya?

Pemakaman Langit tentu saja akan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Pemakaman Langit itu sendiri? Sampai novel mencapai bagian-bagian akhir, saya terus bertanya-tanya alasan pemberian judul  ini. Tapi, ketika akhirnya saya menemukan alasan pemberian judul, menurut saya, tidak ada lagi judul yang lebih tepat dari Pemakaman Langit.

Dalam masyarakat Tibet, ada sebuah tradisi memakamkan orang mati yang disebut pemakaman langit. Setelah dimandikan, rambut di sekujur tubuh dan kepala dibabat habis, dibalut sehelai kain putih, jenazah diletakkan dalam posisi duduk dengan kepala merunduk di atas lutut. Pada hari yang ditentukan sebagai hari baik, jenazah digotong ke altar pemakaman langit.  Para lama dari biara lokal  datang untuk mengumandangkan naskah-naskah suci guna membebaskan roh si mati dari penebusan dosa. Sementara itu seorang yang disebut guru pemakaman langit akan meniup terompet tanduk, menyulut api murbei untuk mengundang burung-burung nazar, memilah-milah tubuh si mati, meremukkan tulang-belulangnya dengan urutan yang telah ditetapkan. Jenazah dipilah-pilah dengan cara yang berbeda-beda, tergantung sebab kematian. Tapi, apa pun caranya, sayatan pisau harus tanpa cela. Ada keyakinan jika sayatan tidak benar, iblis-iblis akan datang merebut roh si mati. Agar jenazah benar-benar dimakan burung nazar, termasuk tulangnya,  terlebih dulu yang disajikan kepada para burung adalah tulang-tulang yang terkadang dicampur dengan mentega yak. Jika si mati, selama hidup telah banyak mengonsumsi jamu-jamuan, tubuhnya akan mengeluarkan aroma obat yang kuat sehingga burung nazar tidak menyukainya. Mengingat sesuai keyakinan semua jenazah harus dilahap habis supaya tidak diambil iblis, mentega ditambahkan dengan racikan khusus lain supaya bisa dinikmati para burung (hlm. 225 – 227).

Nah, apa hubungan pemakaman langit dengan kehidupan Wen? Bacalah sendiri buku ini untuk menemukan jawaban.

Pemakaman Langit merupakan sebuah kisah perjalanan pencarian cinta yang hilang, bukan kisah cinta mendayu-dayu yang sering digambarkan dalam novel-novel romantis. Hampir seluruh buku berisi perjalanan Wen, dan bukan perjalanan Kejun. Cinta Kejun pada Wen memang sangat dalam, tersirat jelas  pada bagian akhir buku harian Kejun yang isinya  bisa membuat mata berkaca-kaca (hlm. 242 - 243). Tapi, buku ini bukan tentang Kejun dan kebesaran cintanya, melainkan Wen dengan kesetiaan dan keteguhan cintanya yang luar biasa. Apalagi mengingat waktu dan jalan yang panjang yang harus ia lewatkan, terasing dari dunia luar tempat ia berasal, untuk menemukan akhir pencariannya. Rasanya, tidak ada pembaca yang tidak akan tercolek sisi kelembutannya, begitu tiba di puncak pencarian Wen.

Seperti apa yang dialami Wen, pembaca juga akan menemukan kehidupan dan budaya Tibet yang mungkin hingga saat ini tidak banyak diekplorasi penulis-penulis buku. Saya pribadi mengenal Tibet hanya cerita seputar bentangan alam, pemerintahan dan, tentu saja, Dalai Lamanya. Tapi dalam buku ini, Xinran akan membawa pembaca menukik lebih jauh ke relung-relung dasar kehidupan, tradisi, dan budaya Tibet yang (mungkin) luput dari jangkauan selama ini. Tak disangka, Tibet menjadi seting sebuah kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang terasa pahit, mengharukan, tapi akhirnya menguatkan dan memperkaya jiwa pembaca.

Saya sungguh yakin, kisah Wen benar-benar dituliskan secara apa adanya. Tapi terkadang selama membaca, saya merasa kisah ini seolah-olah sangat tidak nyata. Saya seperti sedang menonton film sejenis The Knot (karya sutradara Lin Yi dengan pemain Chen Kun dan Vivian Hsu, 2006), yang kebetulan memiliki elemen 'penghancur' cinta yang sama: Tibet, dokter tentara, dan Tentara Pembebasan  Rakyat. Selain itu, dalam buku ini, kita juga akan menemukan keberadaan karakter-karakter seperti Zhuoma atau Tiananmen, yang jalan hidupnya terasa hanya ada di dunia fiksional.

Kisah perjalanan pencarian cinta yang memukau dan menggetarkan ini dijabarkan dalam 9 bab menggunakan perspektif orang ketiga, sebagai pengulangan kisah yang dituturkan Shu Wen kepada Xinran. Ada beberapa potongan kisah menggunakan perspektif orang pertama, yaitu dari sudut pandang Xinran. Secara keseluruhan, gaya penulisan yang digunakan Xinran tergolong sederhana,  tidak  berbelit-belit, membuat novel bisa dengan mudah dicerna.

Saya setuju dengan tulisan di sampul belakang novel yang mengatakan, "Jika Anda tidak percaya kekuatan cinta bisa mengubah segalanya, Anda perlu membaca buku ini". Untuk membuktikan kebenaran kalimat ini, memang harus membaca buku ini. Tapi jujur saja, Anda tidak akan disesatkan, karena apa yang dimaksud akan Anda temukan dalam perjalanan hidup dan cinta Shu Wen.


Yak, salah satu ternak orang Tibet



Posted at 01:40 am by Jody
Make a comment  

Monday, July 30, 2007
SONS OF FORTUNE,






Judul Buku: Putra-Putra Takdir

Judul Asli: Sons Of Fortune
Penulis: Jeffrey Archer
Penerjemah: Hidayat Saleh
Tebal: 576 hlm; 15 X 23 cm
Terbit: Cetakan Pertama Juli, 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Paling sedikit ada tiga hal yang membuat Sons of Fortune (Putra-putra Takdir), menurutku, layak dibaca hingga tuntas. Kembar, pengadilan, dan dunia politik. Ketiga elemen ini sangat potensial menghasilkan kisah berlapis yang riuh, ingar-bingar, penuh intrik dan dramatisasi. Ketika saling sengkarut, setidaknya sudah  bisa dibayangkan apa yang bakalan terjadi dalam rentangan alur kisah yang dijabarkan penulisnya. Selain itu, dengan seting Amerika Serikat, ketiga hal ini akan mengundang keingintahuan, mengingat di negara ini, segala hal seolah-olah bisa terjadi.

Menariknya, novel berseting Amerika Serikat ini ditulis oleh seorang Inggris, kelahiran London 15 April 1940, yang pada usia 29 tahun terpilih sebagai anggota parlemen Inggris termuda dari Partai Konservatif. Dia adalah Jeffrey Howard Archer. Setelah keluar dari parlemen pada tahun 1974, Archer menulis novel pertamanya yang bertajuk Not a Penny More, Not a Penny Less. Karier Archer sebagai novelis ternyata mengembalikan kariernya di dunia politik yang kemudian benar-benar berakhir gara-gara sebuah skandal. Sebagai novelis, Archer juga telah menghasilkan novel seperti Kane and Abel, The Fourth Estates, As the Crow Flies, dan  First Among Equals.


Jeffrey Archer

Sebagai seting utama Sons of Fortune, Archer menggunakan Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Pada suatu hari di tahun 1949, Susan Illingworth Cartwright melahirkan sepasang anak kembar, Nathaniel dan Peter, dengan selisih waktu 6 menit. Pada hari yang sama, Ruth Davenport melahirkan seorang anak yang akhirnya ditemukan meninggal. Heather Nichol, seorang perawat, melakukan sebuah tindakan nekat, mengganti posisi bayi yang mati dengan Peter. Peter dibawa oleh keluarga Davenport, dan menyandang nama Fletcher Andrew Davenport; milik si bayi yang meninggal.

Nathaniel ( yang lebih suka disapa Nat) dan Fletcher meniti jalur hidup yang tidak pernah bertaut sejak saat itu. Mereka pergi ke sekolah yang berbeda dan memiliki karier yang berbeda pula. Nat sempat bertempur di Vietnam, memperoleh Purple Heart, menyelesaikan kuliah di Harvard Business School dan menapak karier sebagai pialang, kemudian bankir yang sukses. Jika Nat menikahi Su Ling, pakar komputer berdarah Korea; Fletcher menikahi Annie, adik teman baiknya, Jimmy Gates. Sebelum akhirnya menjadi senator negara bagian Connecticut meneruskan karier mertua lelakinya, Fletcher menjalani karier sebagai pengacara kriminal. Masing-masing keluarga diberikan seorang anak. Luke, untuk Nat dan Su Ling; Lucy, untuk Fletcher dan Annie.

Secara kebetulan, kehidupan kedua kembar ini bertumbukan dengan seorang laki-laki yang kemudian berdiri sebagai musuh mereka bersama, tanpa saling mengetahui. Ralph Elliot, masuk dalam kehidupan Nat lebih awal dari saat ia menyusup dalam kehidupan Fletcher. Nat mengenal Elliot sewaktu bersekolah di Taft, sedangkan Fletcher mengenal Elliot setelah lulus dari Yale dan bekerja di sebuah firma hukum di New York. Baik Nat, maupun Fletcher, memiliki kenangan buruk mengenai Ralph Elliot.

Kehidupan mereka baru benar-benar bertabrakan ketika Nat mencalonkan diri sebagai senator mewakili Partai Republik, dan Fletcher mewakili Partai Demokrat,  perbedaan yang rupanya sudah digariskan sejak Susan Illingworth mengenal suaminya, Michael Cartwright.

Dalam sebuah kiprah politik yang busuk, kehidupan keluarga Nat digiring ke tepi jurang kehancuran oleh pesaingnya, anaknya meninggal, masa lalu kelam istrinya diobral ke semua orang, dan seseorang ditemukan tewas dibunuh. Nat terjebak, didakwa sebagai pembunuh,  dan terancam hukuman berat. Hanya Fletcher lah pengacara kriminal yang bisa menolong Nat keluar dari cengkeraman masalah. Padahal sebagai kandidat favorit, keduanya berpotensi menjadi lawan politik.

Formula anak kembar merupakan formula cerita yang akrab bagi pembaca fiksi atau penonton film, dari Hollywood hingga Bollywood, karena sering digarap. Sepasang kembar lahir, terpisah, meniti perjalanan hidup yang panjang dan berliku, untuk kemudian dipertemukan. Sebuah plot yang tidak asing, lengkap dengan berbagai bumbu kebetulan yang merebak dari awal hingga akhir. Untunglah, dalam novel ini, plot sejenis bisa berkembang dan bekerja dengan baik di tangan Archer. Anak kembar dibawa berkubang dalam dunia hukum, ekonomi, dan terutama dunia politik, memberi wilayah eksplorasi yang memukau untuk dijabarkan dalam bentangan plot yang rancak. Perguliran kisah yang terarah membuat liukan plot bisa dititi pembaca dengan enak. Apalagi Archer memiliki energi yang adekuat untuk menghiasi kisahnya dengan taburan humor yang tetap terkendali, dari awal hingga akhir,  karena kecerdasan penyampaiannya.

Setelah adegan persidangan pembunuhan yang melibatkan Nat disajikan dengan sangat menarik, akan terasa tegangan cerita agak menurun. Kendati demikian, ini tidak berarti adegan selanjutnya langsung menjadi antiklimaks. Pertarungan politik antara kedua protagonis dengan karisma, kekuatan moral dan integritas yang setara ini masih dieksplorasi tanpa tergesa dan akan mengharukan, juga merekahkan senyuman di wajah pembaca.

Adegan penutup dibentangkan dengan kuat, menegangkan, tapi sekaligus juga menggelikan. Bagian ini sebaiknya jangan dibaca tergesa-gesa. Kalau tidak menyimak kebiasaan salah satu kandidat, mungkin kita akan sedikit bingung dengan hasil akhir pemilihan gubernur negara bagian. Tapi, posisi berdiri sang wali kota, akan memberikan penegasan.

Seluruh kisah secara unik dipaparkan dalam 54 bab yang dihimpun menjadi tujuh bagian yang diberi judul seperti nama kitab dalam Alkitab, dengan urutan acak.  Secara berurutan novel ini terdiri atas Kejadian, Keluaran, Tawarikh, Kisah Para Rasul, Hakim-Hakim, Wahyu, dan Bilangan. Pemberian judul ini jelas disengaja untuk menciptakan kesan berbeda dalam diri pembaca. Meski demikian, bukan tidak ada hubungannya. Setiap judul menyiratkan apa yang terjadi dalam kehidupan dua protagonis novel.

Kelebihan Archer dalam menyajikan novelnya, sudah terbaca jelas sejak awal. Setelah membaca satu bab, kita akan dibuat penasaran untuk membuka bab selanjutnya. Hal itu berlangsung terus hingga novel berakhir. Sebuah gaya penceritaan yang kuat dan terjaga.  Archer terbilang memegang teguh keyakinan yang cenderung disukai pembaca, yaitu dalam pertarungan kebaikan dan kejahatan, kebaikan akan mendapatkan piala kemenangan. Selain itu, tampaknya bagi Archer, persaudaraan di atas segala-galanya. Kekuatan sebuah persaudaraan yang diikat dengan darah, akan sangat berhasil mengatasi segala perkara, bahkan untuk perkara yang sangat pelik dan seolah tidak memiliki solusi.

Inilah sebuah novel, yang bisa dikatakan lengkap, karena bermuatan berbagai sisi kehidupan manusia yang berkelindan penuh pesona: tragedi, cinta, pengkhianatan, ambisi, kasih sayang, persaudaraan,  dan persahabatan. Dengan dunia hukum, politik dan ekonomi yang menjadi latar, meski letupan yang akan terjadi sudah bisa dibayangkan, tetap sayang rasanya melewatkan buku ini.


Posted at 02:17 pm by Jody
Comments (2)  

Sunday, July 29, 2007
KELUARGA FLOOD: SEKOLAH SIHIR




Judul Buku: Keluarga Flood Sekolah Sihir
Judul Asli: The Floods Playschool
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Shinta Harini
Penyunting: Ferry Halim
Tebal: 234 hlm, 13 X 20 cm
Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2007
Penerbit: Atria


Setelah sukses menaklukkan Keluarga Dent dalam buku pertama Keluarga Flood Tetangga Menyebalkan, Keluarga Flood yang sangat akrab dan bahagia, secara diam-diam mendapatkan musuh baru. Musuh baru mereka kali ini adalah Orkward Warlock, teman sekolah beberapa anak Keluarga Flood di Quicklime College, sebuah sekolah yang terletak di sebuah lembah yang sangat jauh dan tinggi di atas Pegunungan Patagonia.


Orkward Warlock membenci semua orang, termasuk orang tua dan saudara yang belum pernah ia temui; guru-guru ; setiap orang yang ia kenal dan dengar maupun yang ia lihat di TV; kadang-kadang, malah, ia berlatih membenci dirinya sendiri. Tak heran, Orkward tidak disukai setiap orang. Tapi di atas segala kebencian Orkward Warlock, ada satu kebencian yang paling dalam, yang begitu besar, lebih besar dibandingkan semua kebencian Orkward digabung menjadi satu dan dikalikan dua belas kemudian ditambah tujuh. Kebencian ini adalah kebenciannya terhadap -sudah bisa ditebak- Keluarga Flood.

Sejak berusia tiga hari (hlm. 40), pada hlm. 118 usia 3 tahun (?), Orkward telah tinggal di Quicklime College, karena keluarganya tidak tahan menyaksikannya berada di dekat mereka. Di sekolah ini ia mendapatkan sebuah kamar; sebuah kamar yang gelap –yang bahkan dijauhi oleh laba-laba, tempat ia mengasah kebencian kepada siapa saja di dunia ini (dunia sihir maksudnya). Di tempat ini Orkward juga sering berkhayal akan dijemput oleh ayahnya, penyihir terhebat yang pernah ada. Padahal, ayahnya hanyalah seorang tukang susu muggle yang dinikahi seorang perempuan penyihir gara-gara perempuan ini ketagihan susu sementara ia tidak mampu membeli susu setiap hari untuk minum dan mandi.

Orkward yang bernasib apes ini hanya memiliki dua teman –kalau bisa disebut teman. Anak laki-laki polos bernama si Katak yang gemar sembunyi di bawah tempat tidur Orkward sambil memeluk kaus kaki kotor Orkward dan sebuah cermin ajaib yang sesungguhnya tidak begitu menyukai Orkward dan selalu mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar Orkward.

Setiap tahun, di Quicklime College diadakan perayaan Hari Olahraga Tahunan. Kebetulan tahun ini, saat cerita digulirkan oleh si gendeng Colin Thompson, Hari Olahraga jatuh bertepatan dengan peringatan 705 tahun sekolah didirikan oleh Merlin Flood. Merlin Flood adalah nenek moyang Nerlin, kepala keluarga Flood yang diklaim sebagai pemilik kutil paling berambut di tempat yang paling memalukan, di dunia sihir, tentu saja.


Atas usul si Katak, Orkward memutuskan untuk menghabisi keluarga Flood pada Hari Olahraga Tahunan. Saat itu, orang-orang di luar komunitas Quicklime College memang diundang hadir; orang tua, saudara-saudara, alumni yang masih hidup dan mati, dan tamu-tamu lain dari berbagai dunia dan dimensi. Rencana lain yang kemudian berkembang dalam pikiran Orkward, setelah menghabisi keluarga Flood, ia akan meninggalkan Quicklime College untuk selama-lamanya. Untuk mewujudkan rencana jahatnya, Orkward tidak saja membutuhkan si Katak, tapi juga Matron, Ibu Asrama yang selalu didampingi dua susternya, Romeo dan Juliet, sepasang burung gagak besar ; dan Narled, si makhluk setengah manusia setengah koper yang menghabiskan waktunya mengumpulkan barang-barang dan membawa ke tempat penyimpanan hartanya yang legendaris.

Bagaimana Orkward mewujudkan rencananya, selengkapnya akan kita temukan dalam buku kedua Keluarga Flood Sekolah Sihir ini. Sudah bisa dipastikan, Keluarga Flood tidak akan terguncang dengan ulah Orkward. Tapi, perguliran cerita kali ini tetap akan mendorong keingintahuan pembaca, bagaimana, sekali lagi, Colin Thompson menuntaskan kisahnya yang gila-gilaan, kocak, dan kaya raya humor.

Seperti buku pertama, buku ini akan dibuka dengan kata MEMBOSANKAN yang cukup besar (apa maksudnya, tentu saja akan langsung diketahui pembaca begitu melihat gambar yang ada). Setelah itu, setiap bab akan dimulai dengan sebuah gambar tengkorak yang bagian dahinya bertuliskan nomer bab, kecuali untuk bab 4, 6, 8, 10, 13, 15, dan epilog.


Pada bab 4, 6, 8, 10, 13, dan 15 kita akan berkenalan dengan beberapa guru Quicklime College sekaligus dengan mata pelajaran yang diajar. Mereka adalah Radius Leg, guru Olahraga Sampai Sakit (bab 4); Prebender Glorious, guru Menghilangkan Diri (bab 6); Nona Phyllis, guru Keturunan Istimewa (bab 8); Doktor Mordant, guru Teknik Rekayasa Genetika (bab 10); Aubergine Wealth, guru Ekonomi dan Bentuk-bentuk Lain Perampokan (bab 13) serta Mademoiselle Fifi la Venus, guru Elokusi dan Melolong (bab 15). Selain guru-guru itu, tentu saja ada guru-guru lain, yang menurut Colin Thompson tidak cukup waktu dan halaman untuk diceritakan (hlm. 224), dan Profesor dengan sederet gelar, Profesor Throat, NB, PDF, PS HSC (Ghent). Entah apa maksud gelar-gelar tersebut.

Bagi yang telah membaca buku pertama serial keluarga Flood ini, tentu saja tidak asing lagi dengan gaya bertutur Colin Thompson. Tidak berbeda dengan Tetangga Menyebalkan, Colin Thompson tetap heboh bermain kata-kata sambil menyenggol saraf humoris pembaca. Dan meski masih tetap menyajikan humor gelap versi dirinya sendiri –baca saja ending yang dialami hidup Orkward Warlock, Sekolah Sihir ini bisa menjadi bacaan bagi segala usia, dengan catatan, telah bisa memahami humor yang disampaikan si penulis. Karena, kalau tidak, mungkin saraf humoris pembaca tidak akan tergelitik sama sekali.

Di tengah kesuntukan membaca bacaan-bacaan yang serius yang membuat kening berkerut-kerut, buku ini akan menjadi sajian yang bisa menghibur dan mereduksi ketegangan. Dan, mesti saya akui, saya masih tidak bisa melepaskan diri dari pesona Keluarga Flood, keanehan-keanehan dunia sihir termasuk para penyihirnya sendiri dan terutama, sihir kata dan kisah dari si gendeng Colin Thompson. Satu lagi, saya tetap membayangkan yang tidak-tidak ketika Mordonna membuka Pertandingan Hari Olahraga, dan semua ayah yang hadir mendadak duduk tegak dan berseru, "Lepaskan! Lepaskan!" Colin memberikan catatan kaki –seperti biasanya- untuk seruan ini, tapi saya tidak percaya yang ia maksudkan itu kacamata hitam Mordonna.

Setelah dua buku Keluarga Floood diterbitkan oleh Atria -imprint dari Penerbit Serambi  yang dikhususkan untuk menerbitkan buku praremaja, remaja, dan genre fiksi yang tidak mungkin diterbitkan oleh Gita Cerita Utama Serambi, masih ada buku lain yang menanti diterbitkan. Sudah lima buku Keluarga Flood yang dipublikasikan oleh Colin Thompson (Neighbours, Playschool, Home & Away, Survivor, dan Prime Suspect), sedangkan edisi asli buku keenam, The Great Outdoors, dijadwalkan terbit Februari 2008.

Dan, sekali lagi, saya ingin mengutip kata-kata si butawarna gendeng Colin Thompson yang saya dapatkan dari website-nya:

"I have always believed in the magic of childhood and think that if you get your life right that magic should never end. I feel that if a children's book cannot be enjoyed properly by adults there is something wrong with either the book or the adult reading it. This of course, is just a smart way of saying I don't want to grow up."


Posted at 04:01 pm by Jody
Comments (3)  

Next Page