<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< August 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, August 10, 2008
BINTANG BUNTING



Judul Buku: BINTANG BUNTING
Penulis: Valiant Budi
Penyunting: Mumu Aloha
Terbit: Cetakan 1, 2008
Tebal: xvi +324 hlm; 13 X 19 cm
Penerbit: GagasMedia

 

Valiant Budi Yogi menjadi salah satu nominator Penulis Muda Berbakat pada ajang Khatulistiwa Literary Award 2007 berkat novel perdananya yang bertajuk Joker : Ada Lelucon di Setiap Duka (GagasMedia, 2007). Kisah tentang seorang pemuda dengan kepribadian ganda seorang perempuan ini memang terbilang sangat menarik. Valiant Budi berhasil menggiring pembacanya ke dalam pusaran kisah yang nyaris tak terduga dalam teknik penceritaan yang mengalir cepat bak adegan-adegan film.

Sekarang, masih dengan penerbit yang sama, Valiant Budi menerbitkan novel yang diberi judul Bintang Bunting. "Kalo kamu pikir Bintang Bunting menceritakan seorang gadis cilik bernama Bintang dan hamil di luar nikah, maaf..., kamu salah," begitu pernyataan Valiant (hlm. Ix). Dan memang, Bintang Bunting bukanlah kisah tentang gadis kecil bernama Bintang yang bunting atau seorang bintang (film, sinetron) yang bunting.

Bintang Bunting adalah hikayat seorang perempuan muda bernama Audine. Dan Audine tidak bunting (maksudnya hamil) meskipun dia sudah bersuami. Suaminya, Adam, bekerja di sebuah agensi periklanan dan kerja sampingan sebagai seorang pemeran 'sinetron' reka ulang, tayangan reka ulang peristiwa kriminal. Mereka jatuh cinta bukan pada pandangan pertama tetapi pada aroma pertama. Saat itu, Audine hanya mengenakan handuk, sedangkan Adam hanya memakai celana dalam. Ceritanya, mereka sama-sama baru saja selesai berenang. Aroma menguar –namanya feromon, dan keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan serius.

Setelah menikah dengan Adam, Audine yang pada masa kecilnya memiliki kebiasaan berjalan dalam tidur bingung membedakan mimpi dan kenyataan. Tentu saja, Adam terganggu dengan kebiasaan Audine. Suatu malam, Audine tiba-tiba meninggalkan apartemen, bertelanjang kaki sambil menenteng sepatu. Baru sesampainya di rumah Mada, seorang peramal,  Audine menyadari bahwa pagi masih lama tiba.

Adam memang pusing dengan apa yang terjadi pada Audine. Tetapi Audine sendiri merasa tersiksa. Seingatnya, Adam yang sedang bertugas ke Manado baru saja menelepon dan menyebutkan jika pesawatnya delay karena cuaca buruk. Eh, tak berapa lama, suaminya telah ada di rumah, lengkap dengan piyama cokelat muda. Menurut Adam, dia sudah kembali malam sebelumnya, dan Audine yang membukakan pintu untuknya. Nah, kacau kan?

Mada menyarankan Audine untuk memperbaiki hubungannya dengan Adam. Dia berpendapat, hubungan Audine dan Adam sedang bermasalah karena belakangan mimpi-mimpi Audine selalu melibatkan Adam. Mada mengingatkan Audine untuk berhati-hati agar perkawinannya tidak berakhir seperti kariernya 7 bulan berselang. Bahkan, setelah membaca telapak tangan Audine, Mada menyuruh Audine untuk menghindari daerah Selatan, tempat keramaian dengan burung elang besar dan bercahaya (belakangan Audine tahu yang dimaksud Mada adalah Golden Eagle Hotel).

Audine tentu saja percaya dengan apa yang dikatakan Mada. Mada muncul secara tiba-tiba dalam kehidupan Audine. Sekitar 13 bulan silam, Audine sedang duduk-duduk di sebuah kafe ketika tanpa diundang, Mada sudah duduk manis di depannya. Dengan tangkas, Mada membeberkan isi mimpi dan perilaku Audine. Jadi, siapa yang tidak percaya jika Mada mengaku dirinya sebagai seorang peramal?

Selain Mada, Audine sering curhat banyak hal pada Raeli, seorang pemilik salon yang takut mati. Raeli tahu persis betapa bingungnya Audine memisahkan mimpi dan kenyataan. Dan saat ngobrol dengan dirinyalah Audine mendapat ide membedakan mimpi dan kenyataan. Sangat mudah, cukup menyediakan kertas dan pulpen. Audine akan memakai penanda untuk kejadian nyata, mencoret garis hingga membentuk simbol. Yang kemudian membentuk simbol bintang.

Suatu hari, ketika sedang tidak berada di apartemen, Mada menelepon Audine. Kata Mada, seseorang yang tidak Audine harapkan akan menemui Audine. Hal ini membuat Mada benar-benar merasa tak enak dan menyarankan Audine untuk datang ke rumahnya. Ketika pulang ke rumah untuk mengambil pakaian sebelum ke rumah Mada, Adam ternyata telah pulang kerja. Adam sedang berada di atas ranjang, ML dengan seorang perempuan lain! Lalu, dalam keadaan histeris, setelah sempat menggores sebuah garis di atas kertas, sebuah benda menimpa kepala Audine dan membuatnya pingsan. Ketika sadar, Adam mengatakan jika dia menemukan Audine dalam keadaan pingsan, pas pulang kerja. Audine tidak percaya, meski kemudian sadar, 'bintang'-nya kehilangan garis yang telah dicoretkannya.

Audine mesti melakukan sesuatu. Karena mimpi-mimpinya sering membuat bencana, dia memutuskan untuk tetap terjaga. Tetapi, lagi-lagi masalah datang, terjadi pembunuhan, dan Audine curiga dirinya telah membunuh. Dalam kungkungan depresi, Audine memutuskan berlibur. Maka, ia pergi ke Pulau Seribu. Tetapi, Mada memberi tahunya jika Pulau Seribu bukan tempat yang aman bagi Audine. Akhirnya, Audine memutuskan pergi ke Turki, tempat Adam melamarnya dulu.

Sayangnya, sekembalinya dari Turki, masalah tidak juga hilang. Beberapa kejadian menimpanya, benaknya meraba berbagai kejanggalan, dan ia menemukan garis-garis yang membentuk bintang yang dibuatnya mengalami perubahan. Gambar bintangnya mendadak bunting!

Sebenarnya, apakah yang terjadi pada Audine? Benarkah Audine sungguh-sungguh tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab setelah pembaca usai meniti plot yang terentang dari awal hingga akhir novel kedua Valiant Budi ini.

Sekali lagi, seperti yang dilakukannya dalam Joker, Valiant menunjukkan dirinya sebagai penulis yang piawai memadukan percintaan, saspens, dan komedi (dalam kadar secukupnya) untuk menghasilkan sebuah novel kontemporer. Cerita berpilin yang disodorkan terbilang menarik, mengayun cepat dalam plot yang menyediakan cukup tikungan untuk menciptakan rasa penasaran pembaca.

Untuk mengelaborasi kisah dalam novel ini, Valiant menggunakan gaya penulisan yang asyik dengan bahasa lincah dan bumbu pengetahuan populer yang mungkin akrab bagi pembaca kosmopolitan. Keseluruhannya memikat, menghadirkan sebuah novel mutakhir yang tidak basi.

Di sela-sela plot, kita bisa membaca potongan-potongan cerita/info yang nyaris semuanya lepas dari alur dan konflik novel. Jika disimak dengan teliti, ternyata itu adalah potongan-potongan acara televisi: berita, iklan, acara kriminal, dll. Meski beberapa di antaranya melibatkan hasil pekerjaan Adam (yang ternyata tidak cuma pekerja periklanan dan pemain 'sinetron' reka ulang), potongan-potongan acara ini  tidak mempengaruhi isi novel. Dengan kata lain, jika dihilangkan, novel tidak kehilangan greget. Gaya seperti ini mungkin hanya cara Valiant untuk menghadirkan novelnya sedikit berbeda dengan kebanyakan novel.

Khusus untuk Raeli, pemilik salon yang kenal baik dengan Audine dan Adam, Valiant memberikan porsi penceritaan yang cukup banyak. Kisah Raeli mengatasi ketakutan akan kematian berkembang menjadi sebuah plot sendiri, yang sayangnya, juga, tidak memberi kontribusi berarti bagi novel. Untunglah, Valiant membentangkan kisah Raeli ini dengan menarik, sehingga keberadaannya melengkapi keasyikan novel.

Dalam menyingkapkan penyebab kekacauan hidup Audine, Valiant tampaknya agak tergesa. Padahal, dengan sedikit dikekang, efeknya akan lebih menggedor. Ya, paling tidak, Valiant seharusnya sedikit sabar memberi tahu siapa sebenarnya Mada.

Sedikit spoiler, Valiant juga melewatkan penjelasan yang akurat mengenai motivasi tindakan si pengacau kehidupan Audine. Apakah hanya sekedar cinta atau juga karena harta (Audine adalah seorang kaya)? Atau hanya sekedar untuk main-main? Kalau sekedar main-main, untuk apa cape-cape baca novel ini?

Tetapi, Valiant tetap memiliki kecakapan untuk tidak membuat novelnya terpuruk menjadi tidak menarik. Setelah pengungkapan yang tergesa, Valiant masih menyisakan kejutan yang tak terduga di penghujung novel. Tidak semua yang terkesan sebagai lanturan, tidak punya kontribusi terhadap bangunan konflik novel.

Bagi saya, Bintang Bunting adalah sebuah novel yang wajib dibaca. Sebagai penyuka film, terutama dengan konflik berbelit, saya melihat novel ini seolah-olah melompat keluar dari kerumunan film-film Holywood. Barangkali, penonton setia film-film Holywood akan segera merasa dejavu dengan model cerita dalam novel ini. Namun, tentu saja Bintang Bunting tetap merupakan karya asli Valiant Budi.

Tidak selalu saya bisa membaca novel yang asyik. Bintang Bunting memberikan saya kenikmatan membaca –meski tidak sampai 'orgasme'. Begitu mulai, saya ingin segera menuntaskan seluruh novel, secepat-cepatnya. Saya berharap, dari penulis yang sama, akan terus muncul novel-novel baru dengan tema berbeda yang enak dibaca. Dengan saran, tentu saja, terus belajar untuk merancungkan teknik penulisan dan bertutur.


Posted at 10:20 pm by Jody
Make a comment  

Friday, August 08, 2008
NEW MOON



Judul : New Moon (Dua Cinta)
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penyunting: Rosi L. Simamora
Terbit: Cetakan I, Juni 2008
Tebal: 600 hlm; 13,5 X 20 cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


 "DARAHMU MENYANYI UNTUKKU...."

 

Setelah mengenal Edward, tanggal 13 September menjadi hal menggundahkan bagi Isabella Marie Swan. Setiap tanggal itu, Bella akan bertambah usia, sedangkan Edward, si manusia abadi, tidak beranjak dari usianya, 17 tahun. Pada ulang tahun ke-18, Bella menyadari dia menjadi lebih tua dari Edward. Karenanya, Bella tidak ingin merayakan ulang tahunnya. Hanya satu yang ia inginkan, Edward mengabulkan keinginannya, mengubahnya menjadi vampir.

Tetapi, oleh bujukan Edward, Bella mau merayakan ulang tahunnya di rumah keluarga Edward, Keluarga Cullen. Seolah-olah hendak memperkuat citra Bella sebagai 'danger magnet' (magnet yang menarik bahaya), sebuah insiden terjadi membuat Bella terluka. Seketika naluri asli keluarga Cullen bagai dirangsang. Selama ini, mereka telah bertahan hidup dengan melakukan 'diet' darah manusia. Melihat darah Bella menetes, mereka nyaris kalap. Jasper yang paling terangsang dan beringas membuat Edward  harus mati-matian menyelamatkan Bella.

Insiden itu membuat Bella memahami kenapa Edward tidak mau mengabulkan keinginannya menjadi vampir. Seperti Carlisle, ayah angkat Edward, Edward ternyata percaya adanya Tuhan dan neraka. Edward percaya ada kehidupan setelah kematian. Dia juga percaya dia tidak akan mengalaminya. Sebagai vampir, Edward adalah makhluk terkutuk. Surga hanyalah impian yang tidak akan pernah menjadi nyata. Hingga, saking cintanya pada Bella, Edward tidak ingin membuat hidup Bella menjadi terkutuk seperti dirinya.

Insiden itu juga berujung pada kehancuran hati Bella. Keluarga Cullen, juga Edward, memutuskan meninggalkan Forks dan pindah ke Los Angeles. Padahal, di mana lagi tempat terbaik bagi keluarga Cullen untuk hidup dengan sedikit lebih wajar? Forks, kota dengan curah hujan tertinggi di dunia adalah satu-satunya tempat terbaik bagi keluarga vampir ini. Kondisi basah kota ini membuat mereka bisa berada di luar rumah tanpa takut rahasia mereka terbongkar. Maka, setelah kepergian Edward, Bella melihat kegelapan menyelimuti hidupnya. Baginya, telah tiba fase bulan baru (new moon) yang berarti hidup dalam kegelapan.

Empat bulan hidup dalam depresi bagaikan zombi, Bella melihat, ternyata, waktu terus bergulir tidak mengacuhkan kemeranaannya. Kendati sudah punya pekerjaan, pekerjaan itu tidak bisa menangggulangi kesedihannya. Edward tidak mungkin akan kembali. Hanya suara indah selembut beledunya yang mendatangi Bella ketika secara magnetis Bella berhubungan dengan bahaya.

Charlie Swan, ayah Bella, tidak dapat menerima berantakannya hidup Bella. Dia bermaksud mengirim putrinya ke Jacksonville (Florida), untuk tinggal dengan mantan istrinya dan suaminya. Tetapi, Bella tidak ingin meninggalkan Forks. Sekalipun setiap malam, di Forks, tidur Bella dikuasai mimpi buruk.

Dari pekerjaan memperbaiki sepeda-sepeda motor rongsokan karatan yang diperoleh Bella hingga latihan menungganginya, Bella menjadi akrab dengan Jacob Black yang berusia 16 tahun. Bagaikan obat, Jacob membuat episode bulan baru dalam hidup Bella mulai bergeser. Dia membuat Bella tertawa. Dia ada manakala Bella membutuhkannya. Sayang, walaupun Jacob mulai tampak terpikat olehnya, Bella tetap tidak bisa melupakan Edward. Bella masih mencintai Edward.

Suatu hari Jacob menghilang, tidak ingin bertemu Bella. Dan pada saat bersamaan, di Forks, beredar kabar munculnya binatang hitam raksasa yang diduga sebagai beruang. Kemunculan binatang ini disusul dengan menghilangnya beberapa orang. Secara mengejutkan, Bella mengetahui apa yang sedang terjadi. Apa yang terjadi pada sahabatnya sebagai bagian dari suku Quileute dan siapa yang menjadi penyebab hilangnya orang-orang di Forks. Kemudian, tidak dapat dihindarkan lagi, hidupnya kembali bersinggungan dengan hidup Edward dan dunia vampir yang memang tidak dapat ia lupakan.

New Moon adalah sekuel Twilight dan buku kedua dari Twilight Saga karya Stephenie Meyer, pendiri The Young Authors Foundation (penerbit majalah bulanan TeenInk). Terbit pertama kali pada September 2006, New Moon sempat mencapai posisi nomor satu di daftar bestseller New York Times. Judul New Moon atau Bulan Baru mengacu pada fase tergelap dalam siklus bulan (new moon-full moon-new moon) yang merefleksikan fase tergelap dalam kehidupan Bella setelah ditinggal pergi Edward.

Dari segi penulisan, New Moon memiliki gaya penulisan yang persis sama dengan Twilight. Alurnya lambat, terlalu gemulai, persis seperti air sungai yang mengalir lambat, begitu lama mencapai jeram. Ketika tiba pada jeram yang diharapkan, efeknya tidak cukup menghenyak. Mungkin, karena isi utama novel ini adalah drama romantis remaja, oleh penulis, ketegangan tidak dijadikan bagian yang menonjol. Padahal, ada peluang yang cukup potensial untuk lebih menggedor perasaan pembaca.

Bagi yang belum pernah merasakan pedihnya ditinggalkan seorang kekasih atau orang yang disayangi memang akan kurang bisa memahami perasaan Bella. Karenanya, bisa saja menganggap kesedihan Bella yang berlarut merupakan sesuatu yang berlebihan dan menjemukan. Tetapi jika pembaca pernah mengalami hal yang sama dengan Bella, akan lebih mudah untuk membaca kisah sedih Bella, akan lebih tergerak untuk menggerogoti plot yang bergerak lambat, akan lebih enteng menyelesaikan keseluruhan buku. Meskipun harus diakui, gaya beralur lambat yang terus-menerus diterapkan dalam novel serial akan membahayakan nasib novel-novel selanjutnya.

Untuk mengatasi kekosongan karakter remaja lelaki yang menarik setelah Edward pupus di bagian-bagian awal novel, Stephenie Meyer memutuskan mengangkat Jacob Black, karakter yang hanya mendapatkan porsi penceritaan yang kecil dalam buku terdahulu, Twilight. Hanya, karena tidak ada perasaan yang setara di antara keduanya, kisah Bella dan Jacob tidak cukup kuat membuat pembaca penasaran. Dengan absennya Edward dari halaman-halaman buku, tegangan seksual masa remaja yang sangat kentara dalam Twilight, seolah-olah bersembunyi bersama kepergian Edward.

Selain Forks, dalam New Moon, Stephenie Meyer juga menggunakan seting Italia, tepatnya Volterra, sebuah kota di Tuscany (Pisa), untuk menuntaskan konflik novel. Oleh Stephenie Meyer, Volterra dijadikan tempat kediaman Volturi, keluarga bangsawan vampir yang telah menguasai kota selama 3000 tahun sejak zaman Etruria. Menggunakan sebuah bangunan kuno yang indah, kelompok vampir ini memancing para turis untuk menemui ajal. Di sinilah Edward datang setelah mendengar kabar meninggalnya Bella karena bunuh diri. Bak Romeo, Edward memutuskan hendak menghabisi dirinya karena tidak bisa terus eksis bila Bella dijemput ajal. Di sini juga Bella mengetahui bahwa dengan aroma seperti yang ia miliki, darahnya menyanyi untuk Edward, la tua catante.

Sebagaimana Twilight, New Moon juga termasuk YA Books (yang di Indonesia masuk kategori buku remaja) yang menawarkan cinta remaja kepada pembacanya. Jadi, menurut saya, untuk bisa menikmati novel ini, pembaca harus benar-benar memosisikannya sebagai novel cinta remaja sehingga tidak mengharapkan sesuatu yang tidak bisa ditawarkan  novel ini. Terbukti, saya hanya memerlukan 2 hari untuk melahap habis isi novel ini.

Setelah membaca Twilight, rasanya tidak lengkap jika tidak membaca seri ke-2 ini. Tidak ada pembaca yang telah menikmati Twilight, tidak rindu mengetahui perkembangan yang terjadi pada cinta Bella dan Edward. Saat ini untuk edisi asli (bahasa Inggris), telah terbit hingga buku ke-4, dan masih belum ditamatkan. Kesuksesan buku serial terkadang bisa membuat penulisnya tidak rela segera menyudahinya. Bukan sekedar karena buku serial bisa terus membengkakkan pundi-pundi uangnya, tetapi juga kerap penulisnya merasa sayang untuk meninggalkan tokoh-tokoh rekaannya.

Jadi tugas Stephenie Meyer, jika masih akan melanjutkan Twilight Saga, untuk memperhitungkan sebaik-baiknya bagaimana melanjutkan ceritanya agar tidak memangkas minat pembaca.  Tidak mustahil, lama kelamaan, pembaca akan jemu membacanya jika ceritanya begitu-begitu saja.

Twilight Saga memang memiliki pengikat untuk semua judul yaitu kisah cinta Bella dan Edward yang belum ketahuan akhirnya. Tetapi, Twilight Saga bukanlah serial fantasi seperti Harry Potter yang setiap judulnya menyediakan kisah memikat dengan konflik-konflik yang diracik baik dan penuh perhitungan.

Pertanyaan banyak tak tercegah memenuhi benak saya. Sampai kapan Stephenie Meyer akan menyerah dan memberikan ketegasan pada konflik cinta yang ada dalam serialnya ini? Sampai kapan Edward akan bertahan untuk tidak menancapkan giginya di tubuh Bella? Atau, jika Bella akhirnya menyayangkan hidupnya sebagai manusia, kapan Bella akhirnya memahami dengan cerdas perasaan dan pikiran Edward? Jika untuk itu Stephenie Meyer membutuhkan jalan yang panjang (dalam arti jumlah buku yang lebih banyak), sampai kapan juga para pembaca akan bertahan untuk terus membacanya?

Dibandingkan dengan sampul Twilight edisi Indonesia, saya lebih suka dengan sampul buku kedua terbitan Gramedia ini. Komposisi warna dan makna yang disiratkan sampul ini cukup mewakili isi novel. Demikian juga bila dibandingkan dengan sampul asli berupa sekuntum bunga putih semburat merah darah yang entah apa hubungannya dengan isi novel.


Bagaimanakah nasib cinta Bella dan Edward? Bagaimana pula dendam atas kehilangan James yang belum bisa dituntaskan Victoria, sang kekasih, kepada Edward dan Bella? Tak sabar rasanya membaca seri ketiga novel ini, Eclipse.

Posted at 07:54 am by Jody
Comment (1)  

Thursday, August 07, 2008
TWILIGHT



Judul Buku: Twilight
Penulis: Stephenie Meyer (2005)
Penerjemah: Lily Devita Sari
Editor: Rosi L. Simamora
Tebal: 520 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


AROMA BUNGA CINTA TERLARANG

Pada usia 17 tahun, Isabella Swan, meninggalkan Phoenix (Arizona), kota terbesar kelima di USA, menuju Forks, kota kecil di Semenanjung Olympic, barat laut Washington. Sebagai remaja yang tumbuh di kota berjuluk 'Valley of the Sun' (Lembah Matahari), tinggal di Forks, kota dengan frekwensi hujan lebih sering dibanding tempat lain di Amerika Serikat, bukanlah hal menyenangkan. Keputusan Bella untuk tinggal dengan ayahnya, Charlie Swan, kepala polisi Forks, semata-mata karena tidak ingin mengusik kebahagiaan Renée, ibunya. Sang ibu baru menikah lagi dengan Phil, seorang pemain bola dari liga kecil, setelah cerai dari ayahnya.

Bella sadar penampilan dirinya sama sekali tidak mencerminkan seorang dari Lembah Matahari. Dia tidak berkulit cokelat, tidak sporty, tidak pirang dengan kemampuan main voli atau pemandu sorak, dan tidak memiliki kemampuan koordinasi antara tangan dan mata untuk berolahraga dengan baik. Sebagai siswa ke-358 di SMA Forks, Bella tahu dia akan menjadi siswa baru nan aneh yang mengundang penasaran.

Tetapi Bella tidak sadar, ia memiliki aroma, aroma bebungaan yang menggiurkan. Aroma yang membuat Edward Cullen, seorang siswa SMA Forks, tidak dapat mengabaikan kehadirannya. Padahal, santer beredar kabar, Edward tidak berkencan, seolah-olah tidak ada cewek di Forks yang cukup jelita baginya.

Edward Cullen adalah cowok 17 tahun yang luar biasa tampan. Dengan tubuh indah, rambut perunggu, kulit sehalus satin, mata yang kerap berubah warna, dan suara bernada rendah selembut beledu, Edward menjadi pesona yang tidak dapat Bella tolak.

Hanya, Edward bukan manusia. Seperti keluarganya yang lain yang berperawakan indah dan berwajah rupawan –dr. Carlisle Cullen, Esme, Emmet, Alice, dan si kembar Rosalie dan Jasper Hale, Edward adalah vampir.  Pada usia 17 tahun, Edward kelahiran Chicago 1901, menjadi vampir, dan selama eksistensinya, dia akan tetap berusia 17 tahun.

Awalnya, Edward berniat menjauhi Bella. Namun, setelah mencoba, dia gagal. Bahkan dia menjadi terobsesi dengan kehidupan Bella. Ketika Bella nyaris disergap maut, Edward bertindak bak pahlawan super. Tindakan yang semakin menjerat Bella ke dalam pesona Edward dan berbuntut menyusupnya Edward ke dalam mimpi Bella.

Edwad sadar Bella mencintainya seperti dia mencintai Bella. Tetapi Edward juga sadar bersama dirinya, Bella menjadi dekat dengan bahaya. Mencintainya berarti membuat Bella menjadi 'danger magnet'. Dan mencintai Bella juga berarti terus mengawasi Bella di setiap kegiatannya. Malah, kalau bisa, membaca pikiran Bella supaya gadis ini tidak bertindak gegabah. Yang sayangnya tidak dapat dilakukan Edward. Karena meski memiliki kemampuan membaca pikiran orang, Edward tidak dapat membaca pikiran Bella.

Mengetahui jati diri Edward sebagai vampir tidak mengenyahkan perasaan cinta Bella. Kendati maklum ada sebagian diri Edward yang dahaga akan darahnya, Bella tetap mencintai Edward, tanpa syarat. Hal ini tentu saja membahagiakan Edward. Namun, dia sadar cintanya pada Bella tak ubahnya cinta singa masokistik kepada domba bodoh; mencintai dengan menyakiti diri sendiri, karena dengan cintanya dia tidak bisa menyunting Bella yang begitu menggairahkannya. Bahkan, dia berpendapat, membiarkan dirinya berduaan dengan Bella adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang acap dilakukan klan vampirnya. Memang, seperti keluarga Cullen, Edward tidak minum darah manusia; ia telah lama berpantang darah manusia. Untuk melegakan rasa hausnya, Edward memilih darah singa gunung guna memenuhi kebutuhannya. Tetapi, Bella begitu menggoda, aromanya begitu kuat merasuk dalam diri Edward. Edward khawatir suatu saat dia tidak dapat menahan diri untuk menancapkan gigi di leher Bella dan menjadikan gadis kesayangannya ini makhluk terkutuk seperti dirinya.

Hingga akhirnya, tiga vampir lain (Laurent, James, dan Victoria) singgah di Forks dalam perkelanaan mereka. Ketiganya bukanlah vampir seperti keluarga Cullen. Mereka adalah vampir pemburu yang memuaskan kebutuhan darahnya dengan membunuh manusia. Ya, Bella bukan satu-satunya manusia di Forks, tetapi aromanya yang lezat, aromanya yang menggiurkan berhasil mengusik James. Kemungkinan meneguk darah Bella menjadi petualangan yang menantang bagi James.

Maka, Bella harus diselamatkan. Hanya keluarga Cullen yang sanggup menyelamatkan Bella, mengaburkan aromanya dan membawanya pergi dari mara bahaya.

Tak pelak lagi, dengan jalinan cerita seperti itu, Twilight hadir sebagai novel dengan romansa percintaan yang kental. Percintaan Bella yang tergila-gila pada Edward dan Edward yang terombang-ambing di tengah jerat aroma Bella digambarkan penuh perasaan. Keseluruhannya terkesan lembut dengan kecenderungan cengeng. Terasa juga percikan tegangan seksual di antara keduanya, tetapi tidak sampai menjadi kasar dan hadir sebagai adegan dewasa. Apalagi, Twilight memang ditujukan kepada segmen pembaca remaja. Dialog-dialog di antara Edward dan Bella terasa sangat hidup dan bisa dikatakan menjadi salah satu kekuatan novel ini. Sentuhan mitos (vampir atau werewolf) yang seolah-olah hendak mengimbuhkan nuansa horor tidak cukup kuat buat mengisbatkan novel ini sebagai novel fantasi atau horor. Membaca Twilight sama sekali tidak ada rasa horor membayangkan apakah Edward akan menancapkan giginya di leher Bella atau tidak. Edward terlalu baik hati, romantis, penuh kesadaran dan kontrol, penuh cinta, vampir dengan jejak-jejak kemanusiaan. Unsur saspens coba disusupkan dalam bagian-bagian akhir novel tetapi tidak cukup menggetarkan dan menegangkan karena tidak maksimal. Novel dibuka dengan janji adegan menarik dalam plot novel –ketika Bella berhadapan dengan sang pemburu. Sayangnya, ketika membaca 'janji' itu tepat pada plotnya, tidak ada daya gedor yang mengguncang, nyaris datar mengecewakan.

Ide percintaan dalam novel ini memang terbilang unik. Sebuah novel remaja, jika terus menyodorkan cerita cinta remaja biasa, apalagi tidak digarap maksimal, akan terasa menjemukan. Karenanya, Stephenie Meyer, penulis Twilight, menghadirkan mitologi, menghidupkan vampir dalam rangka mengkreasi percintaan yang tidak biasa dengan manusia, sebuah percintaan terlarang (meskipun bukan yang pertama kali dalam sejarah fiksi dunia). Alhasil, novel ini terkesan fenomenal. Cuma, jika mengharapkan liukan plot berpilin, pembaca akan kecewa. Tidak ada yang baru dan istimewa dalam plot super gemulai garapan penulis yang juga telah menulis novel sci-fi dewasa bertajuk The Host (2008) ini. Bahkan, penceritaan kisah cinta Bella dan remaja vampir Edward terkesan berlebihan karena memakan halaman terbanyak tanpa konflik berarti di dalamnya kecuali tarik-ulur perasaan keduanya. Jadi, jika pembaca mengharapkan yang sangat luar biasa dari Twilight karena mengetahui popularitasnya sebagai bacaan remaja, bersiaplah kecewa.


Stephenie Meyer

Dalam novel ini, Stephenie Meyer mencoba membuat versi vampir mutakhir. Dikisahkan jika vampir, yang disebut berdarah dingin oleh Jacob Black (putra Billy Black, salah satu tetua suku Quileute di La Push), adalah musuh utama serigala jadi-jadian (werewolf) yang menurut legenda adalah nenek moyang Jacob. Para vampir protagonis membuat perjanjian dengan kakek buyut Jacob untuk menghindari pertikaian.

Tetap sebagai manusia abadi, vampir-vampir protagonis ini digambarkan secara menarik sebagai makhluk-makhluk rupawan. Khusus Edward, Stephenie Meyer melukiskan kerupawanan raga dan paras Edward dengan sangat sempurna bahkan melebihi takaran. Wajah, tubuh, keanggunan gerak, dan suara Edward terus-menerus diulang seolah-olah tidak ingin berhenti memberi alasan ketertarikan Bella kepadanya. Oleh Stephenie Meyer, matahari tidak menyakiti vampir tetapi mereka tidak bisa keluar ketika matahari bersinar, setidaknya, di tempat yang bisa dilihat orang. Terbakar karena matahari hanya mitos. Demikian juga tidur di peti mati karena ternyata, vampir tidak bisa tidur. Sebagai vampir-vampir protagonis, Keluarga Cullen dikreasi sebagai vampir yang hidup dengan menjalankan diet darah manusia. Mereka tidak menggunakan darah manusia untuk memuaskan dahaga tetapi darah binatang.

Sebagai seting kejadian utama, Stephenie Meyer menggunakan Forks, sebuah kota kecil di Clallam County, Washington. Forks yang berjuluk 'Logging Capital of the World' merupakan kota terpencil dengan frekwensi hujan lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika Serikat. Katanya, langit Forks nyaris selalu tertutup awan. Dengan lebih seringnya matahari bersarang di balik awan, Forks menjadi kota bercuaca lembab yang sangat tepat untuk tempat tinggal vampir. Oleh sebab itu, kota yang namanya menjadi judul awal novel Twilight ini, menjadi pilihan Stephenie Meyer. Padahal, kabarnya, saat menulis Twilight, Stephenie Meyer belum pernah mengunjungi Forks. Saat ini, larisnya Twilight membuat Forks terkenal, dan setiap tanggal 13 September (tanggal lahir Bella), Forks merayakan Stephenie Meyer Day.

Selain Forks, Stephenie Meyer menggunakan Phoenix (Arizona), tempat dirinya tumbuh, sebagai seting pelengkap untuk menuntaskan konflik penting dalam novel.  

Twilight adalah judul pertama dari serial Twilight Saga karya Stephenie Meyer, penulis perempuan kelahiran Hartford (Connecticut) 24 Desember 1973. Terbit pertama kali dalam versi hardcover Oktober 2005, sebulan kemudian, Twilight masuk daftar New York Times Bestseller untuk kategori Young Adult (YA) Books. Saat ini, Twilight telah diadaptasi ke dalam film oleh Summit Entertainment dengan judul sama dan dijadwalkan rilis Desember 2008. Apakah akan sama, kurang atau lebih bagus dari novelnya, tentu saja akan terjawab dengan menontonnya. Satu yang pasti, dengan penggambaran Edward yang begitu sempurna oleh Stephenie Meyer, rasanya sulit untuk menemukan aktor yang cocok untuk memerankan Edward.

Twilight, diindonesiakan sebagai rembang petang (hlm. 246). Bagi vampir, rembang petang adalah saat paling aman, saat termudah bagi hidup mereka, saat ancaman terik matahari menghilang. Tetapi, rembang petang juga menjadi saat paling sedih, karena menjadi akhir suatu hari dalam sebuah kehidupan. Menjadi vampir, bagi Edward, bagaikan memasuki momen rembang petang. Ia memasuki kehidupan yang aman, mudah, abadi, tetapi harus mengakhiri kehidupan yang dia dambakan sebagai manusia yang tidak abadi. Bukan pilihannya untuk menggiring Bella memasuki rembang petang yang sama.

Untuk kover, saya lebih suka kover edisi asli (bahasa Inggris) daripada kover edisi Indonesia. Kover asli dirancang sesuai dengan isi novel. Dalam kover asli, tampak dua tangan memegang sebuah apel merah. Dan pada awal novel, Stephenie Meyer mengutip Alkitab dari Kejadian 2: 17 yang berbunyi, "Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati". Karenanya, dapat disimpulkan jika kover menggambarkan tentang buah terlarang yang dipetik Adam dan Hawa di Taman Eden (Firdaus). Meskipun harus diluruskan, buah yang dalam agama Muslim disebut khuldi, dalam Alkitab (kitab Kejadian), tidak disebutkan namanya. Menurut Stephenie Meyer, si penganut Mormon, kover novel ini menyimbolkan pengetahuan Bella tentang kebaikan dan kejahatan. Dalam Alkitab, buah terlarang, dilihat dari mata Hawa (si perempuan), adalah buah yang baik untuk dimakan, kelihatan sedap dan menarik hati. Tetapi, Hawa tahu, ketika menetap di Taman Eden, Tuhan telah memperingatkan bahwa jika dia memakan buah itu, pada hari dia memakannya, dia pastilah mati. Karenanya, menurut saya, Edward Cullen-lah si buah merah yang mengundang liur itu, begitu menggoda, begitu memikat, tetapi begitu terlarang.


Setelah membaca habis Twilight, kita bisa menyimpulkan jika cerita Bella dan Edward belum berakhir. Rupanya, Stephenie Meyer telah merencanakan sebuah serial untuk mengeksplorasi habis-habisan kisah percintaan mereka yang penuh tantangan. Dan tidak cukup satu buku untuk menampungnya. Maka, menyusul Twilight, Stephenie Meyer telah menulis New Moon (2006), Eclipse (2007), dan Breaking Down (2008). Itu juga belum cukup. Setelah Breaking Down, memang Bella akan berhenti sebagai narator, tetapi kisahnya masih akan berlanjut. Bahkan Twilight akan digarap kembali, diceritakan dari perspektif Edward Cullen, dalam novel berjudul Midnight Sun.

Secara keseluruhan, saya dapat mengikuti edisi Indonesia tebitan Gramedia ini, tetapi merasa janggal pada penerjemahan 'bulu kuduk di tanganku meremang', seperti pada halaman 40. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kuduk adalah bagian leher sebelah belakang (tengkuk). Jadi, tidak mungkin bulu kuduk ada di tangan. Smile


Posted at 11:04 pm by Jody
Comments (5)  

Thursday, July 31, 2008
THE LOVELY BONES



Judul Buku: The Lovely Bones (Tulang-tulang yang Cantik)
Penulis: Alice Sebold (2002)
Penerjemah: Gita Yuliani K
Penyunting: Lanny Murtihardjana
Tebal: 440 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Juni 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

SEBUAH NARASI DARI ALAM BAKA

Bagi seorang perempuan yang pernah diperkosa, pemerkosaan yang dialaminya tidak akan mungkin terlupakan seumur hidup. Pada usia 18 tahun, ketika baru tinggal di Syracuse untuk kuliah, Alice Sebold, penulis Amerika kelahiran Madison (Wisconsin) 6 September 1963, menjadi korban pemerkosaan.

Tahun 1999, terbit buku pertama karya Sebold, sebuah memoar yang diberi judul Lucky. Dalam memoar ini, Sebold mengungkapkan pemerkosaan yang dialaminya. Tetapi belum cukup hanya membeberkan kasus pemerkosaan yang ia alami, Sebold memutuskan menulis novel di mana tokoh utamanya, seorang perempuan, menjadi korban pemerkosaan. Dan bukan hanya pemerkosaan, tokoh itu dibunuh dan dimutilasi.

The Lovely Bones, demikian judul novel debutan Sebold. Terbit pertama kali tahun 2002, novel ini telah terjual lebih dari 4 juta kopi. Bahkan, novel ini telah diadaptasi ke dalam film berjudul sama yang dijadwalkan beredar tahun 2009. Dengan novel ini, Sebold berhasil memenangkan Book of the Year Award untuk fiksi dewasa dari American Booksellers Asssociation tahun 2003 dan Bram Stoker Award untuk Novel Perdana tahun 2002.

Pada tanggal 6 Desember 1973, di Norristown (Pennsylvania, Philadelphia), Susie Salmon, 14 tahun, dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumahnya. Ia mengambil jalan pintas dengan melintasi kebun jagung dan bertemu dengan tetangganya, George Harvey, lelaki kurang pergaulan yang bekerja sebagai pembuat rumah boneka. Susie tidak menyangka ia sedang berhadapan dengan seorang pembunuh berantai yang telah membunuh banyak anak perempuan dan seorang perempuan dewasa. Susie diperkosa, dibunuh, dimutilasi, kemudian jasadnya dibuang ke dalam lubang pembuangan yang berhubungan dengan sungai bawah tanah.

Keluarga Salmon tidak tahu Susie telah tewas hingga siku lengan Susie ditemukan seekor anjing. Sayangnya, jasad Susie seutuhnya tidak ditemukan.

Tidak ada yang mencurigai Harvey, tidak ada bukti yang mengarah kepadanya. Apalagi, setelah Susie dipastikan mati, Harvey dengan berlagak tidak mengenal Susie, sok bersimpati pada keluarga Salmon.

Dari akhirat, tempat tinggal Susie yang baru, ia melihat Harvey dengan geram. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa melihat kehidupan orang-orang di Bumi, kehidupan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidupnya sebelumnya.

Sambil mengamati kehidupan, menyentuh pikiran dan perasaan anggota keluarganya, teman-temannya, dan si pembunuh, Susie menyadari jika kasus pembunuhannya tidak akan bisa dipecahkan. Bahkan ketika waktu demi waktu berlalu dan bersama-sama keluarganya terluka dan tidak bisa melupakannya. Sempat suatu saat kecurigaan Jack Salmon, ayah Susie, mengarah kepada Harvey. Hanya, tidak ada bukti untuk membenarkan kecurigaannya. Bahkan, ia dianggap sakit karena bertindak gegabah.

Hampir setahun berlalu, Harvey tetap hidup dengan nyaman sebagai tetangga keluarga Salmon. Meski tidak dapat berbuat apa-apa, kecurigaan Jack kepada Harvey tidak pernah melayu. Lindsey, adik Susie, mencoba menyusup ke dalam rumah Havey. Dan ketika tahu dirinya sudah dicurigai, Harvey meninggalkan rumahnya, meninggalkan Norristown.

Dari alam baka Susie mengetahui siapa sebenarnya George Harvey. Ia bisa melihat kehidupan masa lalu laki-laki ini dan siapa saja yang telah menjadi korban perbuatannya. Ia juga melihat, waktu berlalu, dan keluarga orangtuanya berangsur berantakan. Ibunya, Abigail, terlibat perselingkuhan dengan detektif yang menangani kasus pembunuhannya, kemudian dengan frustrasi memutuskan meninggalkan keluarganya.

Ketika Susie mati, impiannya hancur. Dia tidak bisa melanjutkan sekolah di tempat yang dia ingini, dia juga tidak bisa merasakan cinta yang ditawari Ray Singh. Tetapi ada satu orang yang menyadari kehadiran rohnya, seorang yang diserempet Susie ketika meninggalkan Bumi menuju akhirat. Ruth Connors, yang tekun menulis visi tentang kematian yang dilihatnya. Dan hanya Ruth-lah, tubuh Ruth-lah, yang bisa menolong Susie mewujudkan satu impian Susie yang tidak sempat terwujud dalam hidupnya di Bumi.

Hingga akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, Susie lalu menyaksikan, keluarganya, meski tetap tidak bisa melupakannya, berhasil merangkai kembali hubungan, di antara mereka.  "Inilah tulang-tulang cantik yang bertumbuh selama ketidakhadiranku: hubungan –yang terkadang lemah, terkadang dibuat dengan pengorbanan besar tetapi sering hebat sekali- yang terjadi sejak kepergianku. Aku mulai melihat segalanya dari sisi yang membuatku menggenggam dunia tanpa kehadiranku. Peristiwa-peristiwa yang ditempa melalui kematianku hanyalah tulang-tulang sebuah tubuh yang suatu hari nanti akan menjadi utuh kembali. Harga yang mulai kulihat sebagai tubuh yang ajaib ini adalah kehidupanku. (hlm. 421).

Lalu, apakah Susie bisa mendapatkan keadilan untuk apa yang telah George Harvey lakukan pada dirinya? Jawabannya berhubungan  dengan sebuah permainan lama  di alam baka, cara melakukan pembunuhan sempurna. Susie telah memutuskan, memilih untaian tetesan air membeku sebagai senjata untuk pembunuhan yang sempurna, senjata yang bisa mencair hingga habis.

Isi novel yang diedisi-indonesiakan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama ini dituturkan oleh Susie Salmon. Ketika cerita dimulai, Susie sudah mati dan berada di akhirat. Layaknya roh penasaran, Susie rindu bergentayangan di Bumi, menyesali kematian yang tidak ia inginkan, cintanya yang belum sempat mekar, dan si pembunuh yang lolos dari jerat hukum. Pembaca akan digiring untuk merasakan ketidakberdayan Susie, bagaimana Susie ingin memberitahukan siapa pembunuh dan di mana jasadnya dibuang, tetapi tidak mampu melakukannya. Juga bagaimana perasaan Susie ketika melihat keluarganya tidak bisa menanggung duka karena kehilangannya dan berujung pada berantakannya perkawinan orangtuanya. Padahal, ia tahu, dengan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dengan ditemukannya jasadnya, barangkali keluarganya akan bersatu mengumpulkan kekuatan mengatasi kesedihan.

Membaca kisah Susie membuat saya teringat pada film fenomenal berjudul Ghost yang dibintangi Patrick Swayze dan Demi Moore. Tentu saja posisi keberadaan si roh dalam novel ini dan film Ghost berbeda. Susie, dalam novel, sudah berada di akhirat, tetapi Patrick Swayze dalam Ghost masih gentayangan di dunia. Tetapi membaca perasaan dan pikiran Susie, bagi saya, tidak jauh berbeda dengan menyaksikan betapa tidak mampunya Swayze mengatakan pada kekasihnya siapa pembunuhnya –yang sama-sama mereka kenal, betapa sedih dirinya melihat kedukaan yang terus menggelayuti hati kekasihnya, dan betapa rindunya dia menyentuh bahkan memeluknya seperti ketika mereka masih bersama.

Karena Susie menyampaikan narasinya dari akhirat, maka Sebold menciptakan akhirat versinya sendiri. Olehnya, akhirat menjadi tempat yang cukup menarik, dengan rumah bertingkat sebagai tempat tinggal, gedung SMA, toko es krim yang selalu menyediakan jenis es krim yang kauinginkan, surat kabar yang memuat kehidupan para penghuninya, dan gazebo tempat Susie bisa mengamati kehidupan di Bumi. Akhirat versi Sebold juga menyediakan seorang pembimbing dan teman sekamar untuk anggota baru.


Alice Sebold

Dari akhirat versi Sebold inilah Susie berkisah dalam kurun waktu hingga 10 tahun lebih setelah kematiannya, tidak hanya menggunakan alur maju, sesekali Susie menggunakan kilas balik, untuk melihat dan menceritakan kenangan-kenangan yang pernah ia alami sebelum kematiannya. Karenanya, kisah tragis Susie yang lumayan mencekam dengan bersitan sedikit ketegangan akan terasa mengalir dengan gemulai, terus-menerus membuat pembaca bertanya bagaimana penulisnya memilih akhir yang layak bagi Susie. Yang sudah pasti, Susie tidak akan dikembalikan ke Bumi dari Alam Baka. 

Ketika Susie masih kecil, Jack Salmon suka mendudukkan Susie di pangkuannya, lalu mengamati bola kaca berisi air dan salju-saljuan. Di dalamnya terdapat seekor pinguin, sendirian, dan membuat Susie khawatir. Ketika Susie memberitahukan kekhawatirannya kepada ayahnya, Jack Salmon berkata, "Jangan cemas, Susie; hidupnya nyaman di sana. Ia terjebak dalam dunia yang sempurna." (hlm. 7). Pada akhirnya, pembaca bisa memahami, Susie menerima takdirnya dengan hati lapang. Ia bisa hidup nyaman di Surga dan seperti pinguin dalam bola kaca, ia, pasti, berada dalam dunia yang sempurna.

 

Posted at 08:21 am by Jody
Comment (1)  

Tuesday, July 29, 2008
BILANGAN FU



Judul Buku: Bilangan Fu
Penulis: Ayu Utami
Tebal: x + 537 hlm; 13,5 X 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Juni 2008
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)


Menggunakan nama Jambu Air, Justina Ayu Utami berhasil menempatkan Saman (KPG, 1998), novel perdananya sebagai pemenang Sayembara Roman DKJ 1998. Saman menjadi salah satu novel laris dalam jagad sastra Indonesia. Hingga saat ini, Saman telah dicetak 27 kali dan telah diterbitkan dalam 6 bahasa asing. Berkat Saman, Ayu dipandang telah mengembangkan cakrawala sastra Indonesia dan mendapatkan Prince Claus Award dari Belanda pada tahun 2000. Apa yang ditawarkan Saman dipandang menabrak tabu seks hingga menjadi tren yang banyak diikuti oleh penulis-penulis perempuan lain. Tetapi akibatnya, oleh Taufik Ismail, Ayu Utami disebut sebagai pelopor angkatan Sastra Fraksi Alat Kelamin (FAK).

Menurut Ayu Utami, Saman merupakan fragmen dari novel yang direncanakannya berjudul Laila Tak Mampir di New York. Tetapi novel ini tidak sempat terwujud, malah menjadi 2 novel yang dianggap sebagai novel yang tidak berbentuk novel, Saman dan kemudian Larung (KPG, 2001). Hampir 7 tahun setelah Larung terbit untuk pertama kalinya, akhirnya novel ketiga Ayu, Bilangan Fu, terbit. Sebelum Bilangan Fu, Ayu yang mendapatkan penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2008, telah menghasilkan kumpulan esai, Si Parasit Lajang (GagasMedia, 2003),  dan naskah drama berjudul Sidang Susila (Spasi, 2008).

Pengerjaan Bilangan Fu, menurut pengakuan Ayu Utami, memakan waktu 4 tahun. Merupakan novel yang terinspirasi dari dunia panjat tebing, dan sebuah kenangan untuk seorang pemanjat tebing bernama Sandy Febijanto (sahabat Erik Prasetya, seniman foto, kepada siapa Ayu mendedikasikan novel ini), yang meninggal dunia dalam kecelakaan ganjil di bukit kapur Citatah. Untuk mendapatkan detail dunia panjat tebing, sejak akhir tahun 2003, Ayu Utami bergabung dengan kelompok panjat tebing Skygers yang didirikan Harry Suliz.  

Menggunakan seting dunia panjat tebing, Ayu Utami, lajang kelahiran Bogor 21 November 1968, mencoba mendakwahkan gagasannya untuk mengkritisasi apa yang dikenal sebagai 3 M: modernisme, monoteisme, dan militerisme. Baginya 3 M ini merupakan musuh dunia postmodern. Dan untuk itu, dia mengkreasi karakter nan bijak bernama Parang Jati, seorang mahasiswa semester akhir geologi ITB dengan dua jari manis di setiap tangannya. Lewat Parang Jati inilah Ayu Utami menggelontorkan gagasannya.

Kisah dalam Bilangan Fu diceritakan dari perspektif Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang gemar bertaruh, bersikap skeptis, sinis dan melecehkan nilai-nilai masyarakat. Tetapi menurut Yuda, sang narator, kisah ini ditulis ulang oleh seorang penulis yang dikenalnya di acara Ruwatan Bumi, yang tidak lain, adalah Ayu Utami, penulis novel ini (hlm. 463).

Mengambil seting utama daerah di selatan Jawa, daerah Sewugunung dengan perbukitan gamping bernama Watugunung, Ayu Utami memperkenalkan Yuda, seorang pemanjat tebing yang menggunakan pemanjatan artifisial dalam aktivitasnya. Ketika membuka jalur pemanjatan baru di Watugunung, Yuda bertemu dengan Parang Jati, warga Sewugunung yang hendak mengadakan penelitian arkeogeologi di perbukitan gamping ini. Parang Jati dilanda kekuatiran akan nasib pegunungan gamping Watugunung yang akan habis suatu hari gara-gara penambangan kapur dan penebangan pohon yang tidak terkendali. Parang Jati yakin, akan tiba saatnya orang akan kehilangan pemandangan indah Watugunung, geolog kehilangan dokumen, pemanjat kehilangan tebing, dan masyarakat kehilangan matair ( kawasan gamping adalah spons alam tempat air disimpan dan disuling menjadi sumber-sumber air jernih). Parang Jati tidak ingin Watugunung mengalami nasib yang sama dengan bukit Citatah.

Bagi Yuda, Watugunung adalah Batu Menyanyi. Di bagian hidung Watugunung, ada sebuah lubang tebing yang menyiulkan angin dengan suara magis dan syahdu, seperti fu, alat musik orang Asmat. Yuda menamakan tebing itu sebagai Sebul yang menjelma makhluk cantik bertubuh manusia  dengan kepala dan kaki serigala yang menyebabkan Yuda ketindihan dan mimpi basah.

Tetapi Parang Jati membuka mata Yuda bahwa Watugunung laksana vagina raksasa. Maka, Yuda harus menggunakan cara lain untuk 'ibundanya' dan bukannya memaku dan mengebor seperti yang dilakukan Yuda di ranjang dengan kekasihnya, Marja. Dengan kata lain, Parang Jati menghendaki Yuda untuk mengubah agama pemanjatannya, dari pemanjatan artifisial (yang disebut Parang Jati sebagai pemanjatan kotor/dirty climbing) menjadi pemanjatan bersih (clean climbing). Bagi Yuda, hanya ada dua jenis pemanjatan, pemanjatan bersih dan pemanjatan artifisial. Pemanjatan bersih adalah pemanjatan tanpa menggunakan alat bantu untuk menambah ketinggian, sedangkan pemanjatan artifisial adalah pemanjatan dengan menggunakan peralatan untuk sesekali menderek badan ke atas. Kedua pemanjatan ini mengizinkan pemanjat mengebor gantungan pada tebing baik untuk pengamanan maupun untuk mengatrol. Tetapi pemanjatan bersih menurut Parang Jati adalah pemanjatan suci (sacred climbing), tidak ada pemanjat yang boleh melukai tebing. Dalam pemanjatan jenis ini tidak boleh ada bor, piton, paku maupun pasak, hanya boleh ada pengaman perangko, penahan, sisip, pegas, dan tali-tali ambin. Pengaman untuk jenis pemanjatan ini bahkan hanya dipasang sesuai dengan sifat batu tanpa merusaknya sama sekali. Menurut Parang Jati, sudah saatnya alam raya dikasihi. "Menyetubuhinya tanpa memaksakan diri kepadanya. Memasukinya hanya jika ia membuka diri dan membiarkan ia melahap ujung-ujung tubuh kita..." (hlm. 82).

Diawali dari perpindahan agama yang terjadi dalam diri Yuda, hubungan mereka menjadi dekat seperti saudara. Parang Jati bagaikan malaikat jatuh bagi Yuda, lelaki bermata polos bak bidadari yang harus dibebaskan dari tanggung jawab yang ditaruh pada dirinya oleh Suhubudi, sang ayah angkat. Sesuai kehendak Suhubudi, Parang Jati tergabung  dalam sirkus orang aneh yang disebut Saduki Klan di mana dia berteman dengan berbagai makhluk aneh seperti manusia gelembung, manusia gajah, manusia badak, macan jadian, manusia kadal, manusia gendruwo, tuyul, dan manusia pohon.

Sementara itu, Parang Jati harus berhadapan dengan adik yang tidak pernah diketahuinya, Kupukupu yang telah mengganti namanya menjadi Farisi, di tengah-tengah kegemparan menghilangnya orang mati dari kuburnya –yang dianggap telah bangkit dari kubur. Dan dalam pengungkapan misteri menghilangnya orang mati yang hilang dari kuburnya, tanpa sengaja, Yuda telah menyeret Parang Jati menghadap ajal dan mengandaskan hubungan cintanya dengan Marja.

Bilangan Fu menyorot situasi yang tengah berkembang masa setelah reformasi. Menurut Ayu, ada tiga serangkai perusak bumi (3 M) yang terdiri atas modernisme, monoteisme, dan militerisme. Ketiganya bersengkarut menciptakan banyak masalah yang melanda bangsa kita.

Modernisme, menurut Ayu, tidak hanya membawa perkembangan positif (pembebasan) tetapi juga negatif (perusakan alam). Modernisme membuat manusia kehilangan rasa takut sehingga hilang pula penghormatan terhadap alam. Di masa lalu, hutan dan kawasan perbukitan gamping Sewugunung terpelihara oleh kepercayaan lokal atau takhayul. Kepercayaan akan roh-roh, mambang, demit, siluman mencegah manusia melakukan perusakan alam. Tetapi kapitalisme melalui perusahaan penambangan kapur dan penebangan pohon dan izin pemerintah mengabaikan kepercayaan tersebut. Bahkan pertahanan masyarakat setempat dilemahkan dengan menggunakan pasukan keamanan berbaju agama, memberi stigma pada kepercayaan lokal sebagai praktik penyembahan berhala. Sebagai metafora dari pencegahan perusakan alam secara sengaja,  Ayu Utami menyodorkan pemanjatan bersih bahkan pemanjatan suci seperti yang diinginkan Parang Jati untuk dianut Yuda.     

Setelah periode Orde Lama (1959-1965), Indonesia masuk dalam era militerisme (Orde Baru). Pada zaman Orde Baru, banyak orang menjadi korban pembantaian. Kekerasan, termasuk di dalamnya operasi intelijen, menjadi bahasa satu-satunya yang berlaku. Dan di negara seperti Indonesia, negara dengan kekayaan hutan dan alam luar biasa, militer dan kapitalis saling memperkuat dengan jahat untuk mengeksploitasi alam. Di Sewugunung terjadi penebangan jati legal maupun ilegal dengan Pontiman Sutalip, kepala desa yang adalah prajurit angkatan darat berada di belakangnya. Masyarakat setempat tidak bisa melakukan apa-apa untuk menantangnya. Adalah Parang Jati yang diciptakan Ayu Utami untuk menantang aksi militerisme yang terjadi dengan mengusahakan pegunungan gamping Watugunung untuk dijadikan kawasan konservasi.

Pada era 70-an eksperimen modernisme, seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan sosialisme, di negara-negara berkembang mengalami kegagalan. Sebagai gantinya, 'fundamentalisme' agama bangkit bersamaan dengan semaraknya monoteisme. Bagi monoteisme, Tuhan adalah satu dan bukan nol seperti dalam agama-agama Timur. Akibatnya, monoteisme sulit menerima perbedaan dan bersikap intoleran. Bahkan, dalam menegakkan kebenarannya sendiri, penganut monoteisme kerap memakai bahasa kekerasan. Bergandengan dengan praktik modern, monoteisme mengisbatkan kepercayaan lokal sebagai takhayul kegelapan dan menjadi agen penghancur kebudayaan lokal. Pertentangan monoteisme dengan kepercayaan lokal digambarkan Ayu melalui pertentangan Parang Jati yang menghormati kepercayaan lokal dan Kupukupu, saudaranya sendiri. Kupukupu yang munafik menghujat kepercayaan lokal untuk memaksakan kebenaran agamanya sendiri. Kelahiran Parang Jati dan Kupukupu yang mengingatkan pada kelahiran Nabi Musa, seolah-olah hendak menggambarkan bagaimana monoteisme masuk ke Indonesia setelah adanya kepercayaan lokal dengan tujuan untuk membantai kepercayaan lokal. 

Untuk itu, Ayu menawarkan apa yang ia sebut spiritualisme kritis. Di dalam konsep spiritualisme kritis, orang tetap percaya apa yang ia yakini, Tuhan atau apa pun, tetapi tetap bersikap kritis pada apa yang dipercayanya itu. Tujuannya supaya orang tidak buru-buru dan gegabah menerapkan kebenarannya pada orang lain, karena kebenaran yang sebenarnya tetap menjadi misteri. 

Tak pelak lagi, Bilangan Fu menjadi sebuah novel yang cukup berat. Bahkan seolah-olah diupayakan untuk hadir sebagai novel yang sesak karena dijejali berbagai hal yang ingin dimuatkan Ayu ke dalam alur novel yang enteng. Temukan serakan hal-hal seperti legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi, Panembahan Senopati-Nyi Rara Kidul, Prabu Watugunung-Permaisuri Dewi Sinta, Siung Wanara, ikan pelus, upacara sesajen, Bekakak, sejarah Mataram, petikan-petikan kisah dalam Alkitab sampai hal-hal seperti babi ngepet, hewan moluska dan ubur-ubur. Sungguh melelahkan, perlu kesabaran membaca untuk menamatkannya. Belum lagi kliping-kliping berita dari koran dan majalah yang direkatkan di sana-sini. Nyaris menghilangkan kesabaran!

Untunglah novel ini sempat memberikan tempat kepada kisah-kisah kehidupan Yuda dan Parang Jati beserta kisah cinta Yuda dengan Marja, perempuan dengan tubuh teji dan senyuman matahari. Meskipun khusus untuk hubungan Yuda-Parang Jati-Marja yang coba diperkuat Ayu Utami dengan mengambil perumpamaan ozon,  tidak tampil kuat dalam isi novel yang begitu panjang. Cinta segi tiga nan lembut seperti disebutkan dalam sampul belakang novel bahkan tidak terasa. 

Seperti saya sebutkan sebelumnya, Parang Jati dikreasi Ayu untuk mendakwahkan gagasannya terhadap apa yang disebutnya modernisme, monoteisme, dan militerisme. Sebuah karakter menarik dengan keunikan pada tangan berjari dua belas (yang kelebihan jarinya oleh Parang Jati disebut Jari Hu). Meski tidak menganut agama langit tertentu, bahkan lebih suka melakukan sinkretisme, Parang Jati terkadang tampil bagaikan Yesus Kristus di Sewugunung, melakukan khotbah di bukit dan melontarkan kalimat-kalimat yang disitir dan dimodifikasi dari ayat-ayat Alkitab.  Para pembaca Alkitab tentu saja akan mengenali kalimat-kalimat seperti ini: "Saya datang membawa pedang, Bung" (hlm. 78), "Jangan dianggap saya datang untuk menghujat pemanjatan artifisial. Tidak satu iota pun akan dihilangkan" (hlm. 82), "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, untuk apa selain dibuang dan diinjak-injak?" (hlm. 83) atau "Berbahagialah orang yang tidak melihat tapi percaya" (hlm. 84).

Ayu menyebutkan jika Parang Jati berusia 20 tahun pada tahun 1995 (hlm. 184) ketika ia menulis artikel yang dijuduli Ayu "Kritik Atas Modernisme". Jadi, Parang Jati yang ditemukan Mbok Manyar, juru kunci mata air dalam keranjang serat pandan yang tersangkut di lumut hutan, lahir tahun 1975. Karena disebutkan Yuda 3 tahun lebih muda dari Parang Jati (dan seumur dengan Kupukupu, adik Parang Jati), berarti Yuda lahir tahun 1978. Persahabatan Yuda dan Parang Jati dimulai saat Yuda berusia 20 tahun (hlm. 209), berarti sekitar tahun 1998. Ayu menyebutkan kisah di Sewugunung berakhir tahun 2001 (hlm. 356) ketika Yuda berusia 23 tahun dan Parang Jati 26 tahun. Jadi dapat disimpulkan jika kisah Yuda dan Parang Jati dalam novel ini berlangsung sekitar 3 tahun (1998 – 2001). Pada halaman 343, Ayu menyebutkan jika 'si aku" (Yuda) menuliskan kembali kejadian yang dialaminya dengan Parang Jati setelah 13 tahun berlalu (Yuda kira-kira berusia 36 tahun). Jadi, kisah dalam novel ini ditulis Yuda pada tahun (2001 + 13)  2014?



Bilangan Fu yang menjadi judul novel, menurut Ayu adalah bilangan yang senantiasa menghasilkan satu jika dibagi maupun dikali satu, namun bilangan itu bukan satu. Bilangan mistis ini, katanya, hadir dalam mimpi-mimpi Yuda yang beraroma seksual sebagai bilangan yang diwahyukan Sebul. Katanya juga, pengertian bilangan ini hanya bisa ditularkan lewat gigitan. Jujur saja, sampai novel berakhir, saya masih bingung dengan apa yang Ayu sebut sebagai Bilangan Fu. Jadi, jangan tanya saya tentang pendapat saya mengapa novel ini diberi judul Bilangan Fu (dan bukan 3 M, misalnya). Sad


Posted at 06:36 pm by Jody
Comments (4)  

Monday, July 28, 2008
JUST GRACE



Judul Buku: Just Grace (Namaku, Grace Aja!)
Penulis & Ilustrator: Charise Mericle Harper (2007)
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Tebal: 13 X 20 cm; 107 hlm
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Penerbit: Penerbit Atria ( imprint dari PT Serambi Ilmu Semesta)


 

Ada empat hal yang diinginkan Grace Stewart tetapi tidak bisa didapatkannya.

Pertama, dia tidak bisa jadi asisten Mister Magic, sang tukang sulap, pada pesta ultahnya yang keenam. Sebelum pertunjukan dimulai, si jorok Sammy Stringer menyemburkan jus anggur berwarna ungu ke kaus putihnya yang keren.

Kedua, dia tidak bisa mendapatkan peran sebagai bonggol jagung berpita-pita lucu dengan ujung-ujung jagung betulan. Karena dianggap cukup tinggi untuk berperan sebagai sebatang pohon, peran bonggol jagung diberikan kepada si Kejam Abis. Padahal berperan sebagai pohon hanya membuat Grace berdiri membeku dengan tangan yang terus terentang tanpa melakukan apa-apa.

Ketiga, dia tidak bisa tampil pada malam pertunjukan di sekolah dan memamerkan foto-foto hasil jepretan kamera barunya. Dia terserang flu perut dan muntah-muntah. Akibatnya dia tidak bisa memenangkan pita biru sebagai hadiah pertama.


Dan yang keempat, yang TERBESAR yang tidak bisa Grace dapatkan dalam hidupnya adalah dia TIDAK BISA bisa dipanggil Grace, 'Grace' aja. Kenapa?

Ternyata di kelas Grace terdapat 4 anak cewek bernama Grace. Secara memalukan, untuk kelancaran belajar di kelas, Grace mendapatkan panggilan 'Grace Aja ' (Just Grace), dan bukan 'Grace' aja.  Grace merasa kesal tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya dengan menggambar komik, Grace bisa mengembalikan dengan cepat keceriaannya.

Tetapi, selain menggambar komik, Grace Aja ternyata memiliki kemampuan istimewa. Dia memiliki kemampuan berempati kepada orang yang kesusahan. Kemampuan ini selalu membuat Grace, mau tidak mau, 'harus melakukan sesuatu untuk menghibur orang lain'. Dan kekuatan kedua inilah yang membuat Grace dituduh sebagai pencuri Crinkles, kucing Mrs. Luther yang hilang. Padahal Grace Aja tidak mungkin mencuri Crinkles. Karena meski dengan mudah Grace Aja bisa menyayangi Crinkles, dia tahu benar, "Jika kita pernah disayangi seekor kucing yang hebat, pasti kita akan merasakan kesedihan-di-seluruh-dunia-ini karena tidak memilikinya lagi" (hlm. 26). Dengan kata lain, Grace Aja sangat memahami bagaimana perasaan Mrs. Luther yang kehilangan kucing.

Buku anak-anak dengan hiasan ilustrasi di dalamnya seperti buku ini bukanlah hal yang baru. Tidak dapat disangkal, ilustrasi merupakan daya tarik bagi anak-anak. Tanpa ilustrasi, buku anak-anak akan terasa berat bahkan menjemukan. Charise Mericle Harper sangat memahami bagaimana menghadirkan buku anak-anak dengan baik. Selain sebagai penulis cerita, Charise juga seorang ilustrator buku anak-anak. Alhasil, 'Just Grace' yang diedisi-indonesiakan sebagai 'Namaku, Grace Aja!' hadir sebagai buku anak-anak yang keren yang dapat dibaca sekali duduk. Ceritanya kocak, ditulis dengan lincah, dan tidak ketinggalan pesan moral yang indah seperti bersikap empatik kepada orang yang kesusahan. Ilustrasi karya Charise dalam buku ini memang tidak berwarna, tetapi menarik, lucu dan berbicara banyak. Lewat tulisan dan ilustrasi yang asyik, tampaknya Charise ingin menghadirkan Grace Aja sebagai pahlawan cilik yang pintar, berani, penuh semangat, empatik, dan kreatif. Tidak sulit untuk menyukai karakter semanis ini.


Cherise Mericle Harper

Oleh sang penulis, Charise Mericle Harper, kisah Just Grace telah dikembangkan dalam bentuk serial. Setelah buku pertama, Just Grace, telah terbit 2 judul lain yaitu Still Just Grace dan Just Grace Walks the Dog. Buku ke-4, Just Grace Goes Green dijadwalkan terbit Januari 2009. Selain serial Just Grace, Charise juga telah menulis serial novel grafis, Fashion Kitty, khusus untuk anak-anak perempuan yang suka fashion; dan karya-karya lain seperti Ralph's World Rocks!, When Randolph Turned Rotten, dan Flashcards of My Life.

Bagi saya, 'Namaku, Grace!" (Just Grace) adalah buku anak-anak yang patut diberi banyak bintang, dan sudah pasti saya rekomendasikan sebagai bacaan segar menghibur yang asyik dibaca kepada orangtua yang punya anak-anak kreatif. Tetapi, tentu saja, umur berapa pun Anda, Anda tetap layak membaca buku ini.


Posted at 01:57 pm by Jody
Comments (2)  

Saturday, July 26, 2008
CHILDREN OF THE LAMP #1




Judul Buku: The Akhenaten Adventure (Children of the Lamp #1)
Penulis: P. B. Kerr (2004)
Penerjemah: Utti Setiawati
Penyunting: Akmal N. Basral & Fahmi
Tebal: 13,5 X 20 cm; 416 hlm.
Terbit: Cetakan 1, Maret 2008
Penerbit: Penerbit Matahati


KISAH ANAK-ANAK LAMPU: PARODI FIRAUN BIDAH


Konon, jin adalah makhluk supranatural yang paling menarik. Kendati tinggal di tengah manusia sejak awal zaman, hanya sedikit manusia yang benar-benar melihat jin. Jin yang muncul pertama kali dalam mitologi Arab, disebut sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan dari api lembut. Jin, katanya, diciptakan bersamaan dengan saat Tuhan menciptakan manusia dari tanah. Sebagian manusia mengganggap jin sangat jahat dan percaya jika jin menghabiskan hidup untuk menunggu seseorang membebaskan mereka dari dalam wadah tertutup seperti botol atau lampu. Padahal keduanya tidak sepenuhnya benar.

Menurut sejarah jin yang diurai P. B. Kerr, penulis serial Children of the Lamp, jin terbagi dalam 4 suku: Ghul, yang tidak dapat dipercaya dan suka berubah bentuk; si'la, yang culas seperti Ghul dan memiliki bentuk yang tidak konsisten; ifrit, yang biasanya lebih tua, lebih kuat, lebih cerdas dari jenis jin lain dan bisa berkelakuan baik atau jahat; shaitan, jin jahat yang memiliki kemampuan membujuk manusia untuk berbuat jahat. Suku shaitan dipimpin oleh Iblis, yang dulunya pernah tinggal di surga dengan malaikat. Ketika dituntut Tuhan untuk bersujud di hadapan manusia, Iblis memberontak dan diusir dari surga.

Dibanding manusia, jin memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Kekuatan tersebut diberikan Tuhan untuk menguji jahat-baiknya si jin. Jika jin bersikap jahat, manusia punya cara untuk mengatasinya. Salah satu cara yang populer adalah menjebak jin ke dalam tempat yang membuat mereka terkurung dan hanya bisa dibebaskan manusia, botol atau lampu. Jika manusia membebaskan mereka, jin akan menghadiahi tiga permintaan yang pasti terwujud.

Lewat Children of the Lamp, P. B. Kerr menghidupkan kisah para Jin dalam nuansa dongeng mutakhir. Para jin yang menjadi pengguna ponsel ini tidak lagi mesti tinggal dalam botol sebelum dibebaskan manusia. Mereka memiliki kehidupan yang baik dan bisa melanglang buana kapan saja. Hanya mereka kerap terserang penyakit turunan, yaitu klaustrofobia, gara-gara 'trauma' terjebak dalam lampu atau botol. Untunglah ada obat untuk mengatasinya, pil arang. Sebagai penjaga semua keberuntungan di alam semesta, jin tetap bisa memberikan manusia tiga permintaan. Bahkan, hanya dengan mendengar  manusia berharap sesuatu dan jin tersentuh, harapan itu akan menjelma nyata. Masalah permintaan dalam dunia jin diatur oleh protokol yang disebut The Baghdad Rules.  

Berbeda dengan sejarah jin, Kerr memilah dunia jin ke dalam 6 suku dan bukannya 4. Mereka terdiri atas marid, jinn, jann, ifrit, syaitan dan ghul. Kerr juga menyatakan jika Iblis adalah jin paling kuat dari suku Ifrit (bukan syaitan). Ketika diberi pilihan untuk memilih kebaikan atau kebatilan, marid, jinn dan jann memilih kebaikan, sisanya memilih kebatilan. Suku-suku jin yang jahat �ifrit, syaitan, dan ghul- melakukan hal-hal yang mengerikan. Tidak hanya kepada sesama jin, tapi juga kepada manusia.

Selain itu dalam dunia jin, Kerr menciptakan apa yang disebut homoeostatis, yaitu keseimbangan antara kebaikan dan kebatilan yang diukur menggunakan alat seperti jam bundar besar yang disebut tuchemeter. Ketika jin jahat melakukan tindak kejahatan, jarum tuchemeter akan menunjuk ke kiri homoestatis yang berarti keadaan buruk (kanan berarti baik).

Menjadi jin diawali dengan tumbuh dan dicabutnya geraham bungsu pada anak jin. Jika pada manusia, geraham bungsu atau gigi naga tidak mempunyai tujuan yang jelas, pada jin, gigi-gigi itu adalah pertanda kekuatan jin siap digunakan. Begitu gigi naga dicabut, kehidupan jin yang sesungguhnya telah dapat dimulai dan orangtua tidak bisa lagi  mencegah kehidupan jin si anak.

Hal itu dialami sepasang anak kembar bernama John dan Philippa Gaunt pada hari pertama liburan musim panas ketika mereka berusia 12 tahun. John dan Philippa adalah anak dari Edward Gaunt, seorang bankir investasi tajir dan baik hati yang tinggal di New York. Meski berpenampilan jelek, Edward dikaruniai istri yang cantik. Layla, sang istri, adalah jin perempuan yang bertangan dingin. Tetapi, kendati kehidupan mereka bahagia, keduanya tidak bisa menepis takdir. Sudah takdir dalam dunia jin, jin perempuan yang menikahi manusia akan melahirkan anak-anak jin, dan jin laki-laki yang menikahi manusia hanya akan menurunkan anak-anak manusia (ternyata jin berjenis kelamin). Hal ini berarti, John dan Philippa tidak bisa menyangkal takdir mereka sebagai jin. Sekalipun Layla telah berjanji kepada Edward untuk membesarkan si kembar sebagai manusia normal.

Ketika dibius total untuk pencabutan gigi naga, John dan Phillipa bermimpi. Dalam mimpi mereka bertemu Nimrod, paman mereka, saudara Layla yang tinggal di London. Nimrod mengundang mereka untuk berkunjung ke London.

Di London, John dan Philippa mengetahui jati diri mereka. Sebagai jin muda, si kembar wajib mendapatkan pelajaran tentang dunia jin lengkap dengan penggunaan api lembut dalam diri mereka sebagai sumber kekuatan. Selain Nimrod, ada Mister Rakshasas, jin penderita agorafobia, yang bisa mengajari seluk-beluk dunia jin. Menurut Nimrod,  pengetahuan dunia jin sangat penting bagi John dan Philippa. Apalagi sudah ada pekerjaan yang menanti mereka  sebagai bagian dari suku Marid. Untuk melatih John dan Philippa, tidak ada tempat yang lebih tepat selain negara gurun Mesir, tempat jin akan selalu berada dalam kondisi terkuat.

Sebelumnya telah terjadi gempa bumi di Mesir yang membuat jarum tuchemeter menunjuk ke arah kiri. Hussein Hussaout, seorang perampok makam yang paling sukses di Mesir, telah menemukan artefak penting bagi dunia jin.

Artefak temuan Hussein adalah peta lokasi makam Akhenaten, raja Mesir dari Dinasti ke-18 yang dikenal sebagai suami Nefertiti. Untuk mendapatkan artefak itu, Nimrod kukuh bersaing dengan suku Ifrit. Ia bahkan menyanggupi permohonan Nimrod untuk mendapatkan 3 permintaan sekalipun sadar hal itu akan mengurangi kekuatan hidupnya. Tentu saja, Iblis tidak mau membiarkan Nimrod mendapatkan artefak tersebut. Ia memiliki teknik sendiri untuk mengalahkan Nimrod. Dan Nimrod beserta si kembar terpaksa mesti kembali ke London, bahkan meretas jalan ke Kutub Utara untuk mempertahankan hidup mereka dan melindungi manusia.

Pertanyaannya, mengapa penemuan makam Akhenaten yang dilahirkan sebagai Amenhotep IV ini menjadi sangat penting bagi para jin seperti Iblis dan Nimrod?

Untuk menjawab pertanyaan ini, P. B. Kerrr memelesetkan sebagian sejarah yang dikenal umum tentang kehidupan Akhenaten dan pemerintahannya.

Seperti diketahui, Amenhotep IV atau Akhenaten, memperkenalkan kepercayaan monoteisme dengan jalan menyingkirkan semua dewi Mesir kuno (Isis, Seti, Anbis, Thoth) dan melakukan penyembahan hanya kepada dewa matahari yang bernama Aten. Revolusi agama yang dilakukan Akhenaten yang membuatnya disebut Firaun Bidah berbuntut kepada hancurnya pemerintahannya. Ia tidak bisa menangkis serangan musuh dan melarikan diri untuk kemudian menghilang tanpa jejak

Oleh Kerr, disebutkan jika kekalahan Akhenaten disebabkan tidak hanya serangan musuh, tetapi juga karena jin-jin yang tidak menyukai Akhenaten. Bahkan, Kerr berhipotesis jika praktik pemujaan dewa matahari ala Akhenaten sesungguhnya adalah pemujaan terhadap kekuatan kolektif 70 jin yang diikat Akhenaten (yang tentu saja, dalam novel ini, tidak benar, jika Akhenaten adalah majikan para jin itu).

Ketika Akhenaten melarikan diri dan menghilang tanpa jejak, diyakini ia telah terkubur bersama dengan 70 jin yang diikatnya. Dengan jumlah yang cukup banyak, wajarlah jika suku Ifrit (yang jahat) dan suku Marid (yang baik) berkompetisi untuk menemukan makam Akhenaten. Yang lebih dulu menemukan, akan menjadi majikan bagi 70 jin yang akan dibebaskan. Berpihaknya 70 jin Akhenaten pada yang jahat, akan mengusik homoeostatis ke dalam keadaan buruk. Akibatnya, berbagai nasib buruk akan menimpa manusia (mundane), masalah dan kecelakaan tak terhindarkan. Keadaan ini akan membuat jin baik seperti suku Marid bekerja lebih keras untuk melawan kekuatan nasib buruk. Pada gilirannya, kerja keras jin baik ini akan mempercepat padamnya kekuatan mereka, mengancam kehidupan mereka, dan kemudian akhirnya menghancurkan kehidupan mundane.

Apakah kebenarannya seperti itu? Penemuan Akhenaten dan jin koleksinya akan menjawab secara mengejutkan pertanyaan ini.

Tak pelak lagi dengan kehidupan jin beserta intrik dan misteri di dalamnya, The Akhenaten Adventure, buku pertama dari serial Children of the Lamp, menjadi sebuah novel yang menarik. Kejutan-kejutan diciptakan dan diolah dengan memikat, kemudian diasimilasikan dengan humor yang menggelitik. Bayangkan, oleh Kerr, disebutkan jika Nimrod pendiri Menara Babel (dalam Injil) sebagai leluhur jin. Disebutkan juga jin suku Ifrit telah menciptakan banyak permainan judi yang merusak manusia dan punya beberapa lusin kasino di Macao, Monte Carlo, dan Atlantic City. Suku Ifrit juga dikatakan telah menyebabkan kebakaran besar di San Fransisco pada tahun 1906 dan menyebabkan ledakan gunung Krakatau tahun 1883 di Indonesia. Belum lagi, mumi Putri Amen-Ra yang diduga menyebabkan karamnya kapal Titanic.

Kehidupan Akhenaten yang diparodikan tidak hanya menjadi bagian yang mengejutkan, tetapi juga menjadi bagian paling penting dari keseluruhan novel. Di seputar kehidupan Akhenaten-lah kisah dalam The Akhenaten Adventure ini berpusar. Untuk memperkuat cerita, Kerr menciptakan hantu Akhenaten. Dan karena jin yang merasuki Akhenaten begitu kuat, saya jadi bertanya, siapakah jin Ifrit yang merasuk ke dalam hantu Akhenaten? Lalu, mengapa jin ini membiarkan dirinya menghilang bersama Akhenaten?


P. B. Kerr

P. B Kerr adalah pseudonim yang digunakan Philip Kerr, penulis kelahiran Edinburgh (1956), ketika menulis serial Children of the Lamp. Dengan nama Philip Kerr, ia telah menulis novel-novel seperti Trilogi Berlin Noir, A Philosophical Investigation, The Second Angel, dan Hitler's Peace. Novel-novel Children of the Lamp yang hak pembuatan filmnya telah dibeli Dreamworks telah terbit sebanyak 4 judul. Masing-masing adalah The Akhenaten Adventure (2004), The Blue Djinn of Babylon (2005), The Cobra King of Kathmandu (2006), dan The Day of the Djinn Warrior (2007). Novel kelima,  Eye of the Forest terbit tahun 2009.

Bagi saya, setelah saptalogi Harry Potter (J. K. Rowling) dan Trilogi Bartimaeus (Jonathan Stroud), Children of the Lamp menjadi serial yang wajib dibaca. Dunia fantasi produk P. B. Kerr yang mengagumkan terasa sayang untuk dilewatkan. Jika dalam serial Harry Potter J. K. Rowling menyebut manusia sebagai muggle, dalam Trilogi Bartimaeus Jonathan Stroud menyebut manusia sebagai comoner, dalam Children of the Lamp, P. B. Kerr menyebut manusia sebagai mundane. Meskipun terkesan mengekor untuk menciptakan istilah baru, ketiga serial ini memiliki kisah dengan keasyikan yang berbeda.

Edisi Indonesia Children of the Lamp #1 ini terbilang tidak mengecewakan karena bahasanya yang enak dibaca. Meski tidak cukup mengganggu, pada cetakan berikutnya, kesalahan cetak sebaiknya dihilangkan supaya kenikmatan membaca lebih terjaga.

 

Posted at 09:15 am by Jody
Comment (1)  

Monday, July 07, 2008
THE ITALIAN SECRETARY



Judul Buku: The Italian Secretary (Sekretaris Itali)
Penulis: Caleb Carr (2005)
Penerjemah: Andang H. Sutopo
Tebal: 296 hlm; 20 cm
Terbit: Cetakan 1, Mei 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


MISTERI DARAH YANG TAK PERNAH MENGERING

 

The Italian Secretary ditulis Caleb Carr, seorang novelis dan sejarawan militer Amerika, atas permintaan Jon Lellenberg, U.S. representative dari estate Sir Arthur Conan Doyle. Caleb Carr merupakan salah satu penulis yang diundang estate pencipta tokoh Sherlock Holmes untuk menuliskan petualangan baru bagi Sherlock Holmes dan Dr. Watson yang bertema dan bernuansa dunia gaib pada era Victorian (masa pemerintahan Ratu Inggris, Victoria, 1837 – 1901). Meski tidak yakin Conan Doyle akan setuju, Lellenberg yakin mengajukan The Hound of the Baskervilles sebagai dasar pembenaran dan inspirasi.  

Caleb Carr, kelahiran 2 Agustus 1955, telah menulis novel-novel seperti The Alienist dan The Angel of Darkness yang menampilkan tokoh utama bernama Laszlo Kreizler. Kreizler adalah dokter yang menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan kasus-kasus dengan metode yang berbeda tetapi tidak kalah brilian dengan Sherlock Holmes. 


Caleb Carr

Dalam rangka menghidupkan Sherlock Holmes, Caleb Carr mengambil sejarah kriminalitas yang terjadi di sekitar kehidupan Mary Stuart, Ratu Skotlandia, sebagai latar belakang. Pada tanggal 9 Maret 1566, David Rizzio, guru musik dan sekretaris Mary Stuart, dibantai di depan Mary oleh suaminya, Henry Stuart (Lord Danley) yang berkomplot dengan bangsawan Protestan. Pembunuhan ini sangat penting karena berdampak pada kejatuhan Lord Danley dan menjadi konsekuensi yang serius bagi kelanjutan karier Mary. Awalnya, kisah petualangan baru Sherlock Holmes ini hanya akan disajikan dalam bentuk cerpen, tetapi berkembang menjadi novel.

Mary, Ratu Skotlandia (kiri) dan Rizzio (kanan)

Novel yang terjadi selama beberapa hari di bulan September 'pada tahun ketika kesehatan kerajaan  maupun Ratu berada dalam kondisi yang sulit dibayangkan akan memburuk', dimulai ketika Sherlock Holmes menerima telegram bersandi dari kakaknya, Mycroft Holmes. Dalam karya-karya Conan Doyle, Mycroft muncul dalam 4 cerita yaitu "The Greek Interpreter", "The Final Problem", "The Empty House", dan "The Bruce-Partington Plans". Sherlock Holmes dipanggil untuk membantu memecahkan kasus pembunuhan brutal yang terjadi di Istana Holyrood, kediaman resmi keluarga kerajaan di Edinburgh dan merupakan istana favorit Mary Stuart. Dennis McKay, pekerja Glasgow, dibunuh secara brutal menyusul pembunuhan Sir Alistair Sinclair, arsitek yang bertugas merenovasi sayap istana Holyrood yang terkenal, tempat David dibunuh 3 abad silam. Mycroft menduga kedua pembunuhan ini merupakan bagian dari rencana untuk mencelakakan Ratu Victoria.

Tetapi, kedua pembunuhan ini justru mengingatkan Sherlock Holmes pada kasus pembunuhan  David Rizzio dan mencoba meyakinkan Watson kalau kedua kasus ini memiliki hubungan spiritual.

Di Istana Holyrood Sherlock Holmes dan Watson bertemu dengan berbagai karakter yang berhubungan dengan kehidupan istana. Lord Francis Hamilton, penjaga istana; Hackett kepala pelayan istana bermata satu dengan istri dan Andrew, putranya; Robert Sadler, pengurus taman; Alison Mackenzie, keponakan istri Hackett yang terlibat percintaan dengan William Sadler (Likely Will), saudara Robert yang bekerja sebagai tukang reparasi barang-barang tua. Mereka juga menemukan jika Istana Holyrood secara tidak resmi dijadikan salah satu tujuan 'tour' bagi orang-orang berduit yang ingin bertualang ke tengah kegelapan malam Skotlandia. Dari pamflet yang ada dikatakan bahwa sampai saat itu David Rizzio masih mendatangi lokasi pembunuhannya dan memperbaharui genangan darah yang mengucur dari luka-lukanya. David Rizzio, katanya, akan mencari pria dan wanita Skotlandia untuk melampiskan dendamnya.  

Benarkah kasus pembunuhan Alistair dan Dennis McKay ini berhubungan dengan kasus pembunuhan David Rizzio? Bagaimana dengan darah yang tidak pernah mengering di lokasi pembunuhan David Rizzio? Seiring perguliran plot yang cukup menegangkan, hal ini akan terjawab dengan cara yang sangat meyakinkan.


Istana Holyrood (Holyroodhouse), TKP


Membaca The Italian Secretary kita akan seperti membaca petualangan-petualangan Sherlock Holmes karya-karya Conan Doyle. Caleb Carr terbilang setia dalam mempertahankan karakterisasi yang telah dibangun Conan Doyle. Bahkan, gaya bercerita Caleb Carr tidak lari menjauh dari gaya Conan Doyle. Apalagi Caleb Carr tetap menggunakan Watson sebagai narator.

Novel ini bisa dijadikan konsumsi bagi penggemar Sherlock Holmes yang masih setia merindukan petualangannya kendati penulis aslinya telah tiada. Sampai sekarang, Sherlock Holmes masih terus dihidupkan oleh banyak penulis, dan Caleb Carr adalah penulis dengan kemampuan memadai untuk mengembuskan 'napas kehidupan' baru bagi Sherlock Holmes.

Sebagai seorang sejarawan, dalam latar belakang pendidikan maupun praktik, Caleb Carr bisa disebut sebagai pilihan yang tepat. Latar belakang sejarah dipulungnya menjadi elemen yang membuat novel ini hadir memikat. Memang, plotnya tidak sangat berpilin untuk sebuah novel, tetapi mengikuti usaha dan cara Sherlock Holmes mengungkap kasus dengan cemerlang, tetap membuat novel ini sebagai pilihan yang pas bagi penggemar setia Sherlock Holmes.


Posted at 08:12 am by Jody
Make a comment  

Thursday, July 03, 2008
SHERLOCK HOLMES AND THE BAKER STREET IRREGULARS (THE FALL OF THE AMAZING ZALINDAS)



Judul Buku: Sherlock Holmes dan Laskar Jalanan Baker Street (Misteri Kematian Bintang Sirkus)
Judul Asli: Sherlock Holmes and The Baker Street Irregulars (The Fall of the Amazing Zalindas)
Penulis: Tracy Mack & Michael Citrin (Orchard Books, 2006)
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Penyunting: Andhy Romdani
Tebal: 316 hlm; 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Februari 2008
Penerbit: Qanita


Sherlock Holmes mungkin menjadi karakter fiktif yang paling sering dihidupkan kembali lama setelah kematian penciptanya. Padahal sebelumnya pencipta Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle (1859-1930), telah mengakhiri hidup karakter ini. Dalam cerpen "The Final Problem" (The Memoirs of Sherlock Holmes), dikisahkan Sherlock Holmes tewas dalam duel maut dengan lawan paling tangguh dalam karier detektifnya, Profesor Moriarty. Tetapi, atas desakan penggemar, Sherlock Holmes dihidupkan kembali dalam cerpen "The Adventure of the Empty House" (The Return of Sherlock Holmes). Ia menjadi kian terkenal sebagai detektif yang menggunakan metode penulusuran deduktif, pengungkapan detail, dan analisis saintifik dalam investigasi kasus.

Penggemar kisah-kisah Sherlock Holmes akan selalu mengenang tempat tinggalnya sejak tahun 1881 yaitu Baker Street 221 B dengan induk semangnya, Mrs. Hudson. Di tempat ini, Sherlock Holmes menghabiskan tahun-tahun bersama rekannya, Dokter John H. Watson, hingga rekannya ini menikahi Mary Morstan tahun 1890. Oleh Conan Doyle, Sherlock telah dihadirkan dalam 4 novel dan 56 cerpen. Dokter Watson, menjadi narator utama kisah-kisah petualangan Sherlock Holmes.

Seperti disebutkan sebelumnya, Profesor Moriarty adalah lawan Sherlock Holmes yang paling tangguh. Ia seorang lelaki berpendidikan tinggi dengan kecakapan alami dalam bidang matematika. Pada usia 21 tahun, profesor jenius ini menulis risalah tentang teorema binomial yag mengantarkannya sebagai profesor matematika di sebuah universitas Inggris. Sayangnya, ia memiliki kecenderungan bersikap kejam yang membuatnya dipaksa meninggalkan jabatan. Ia pindah ke London dan menjadi otak dari sejumlah kasus pemalsuan, perampokan, dan pembunuhan yang terjadi tanpa pernah tertangkap (The Memoirs of Sherlock Holmes).

Dalam "The Final Problem", Sherlock Holmes menggambarkan Profesor Moriarty sebagai lelaki bak pertapa dengan tubuh kurus tinggi, bahu bungkuk, wajah pucat yang tercukur bersih, dagu menonjol keluar, dahi yang amat menonjol sehingga membentuk lengkungan, sepasang mata yang amat tenggelam ke dalam serta selalu menoleh ke kiri dan ke kanan bagai seekor reptil sedang mengawasi sekelilingnya.

Lama setelah Sherlock Holmes dan Profesor Moriarty disudahi oleh Conan Doyle, Tracy Dawn Mark dan Michael Peter Citrin, sepasang suami-istri, melakukan kolaborasi guna menghidupkan kedua karakterf fiktif itu. Tracy Mark adalah seorang editor eksekutif di lini buku anak dan remaja Scholastic Press (NY), telah menulis novel Drawing Lesson dan Birdland. Sedangkan Michael Citrin bekerja sebagai asisten pengacara di New York City. Keduanya sepakat mengaku sebagai penulis.

Lewat Orchard Books (imprint dari Scholastic, Inc.), Tracy dan Michael menciptakan kisah petualangan Sherlock Holmes yang baru dalam novel berjudul Sherlock Holmes and the Baker Street Irregulars (The Fall of the Amazing Zalindas). Novel yang ditargetkan untuk pembaca berusia 9-12 tahun ini berisi kasus pertama dari serial Sherlock Holmes and the Baker Street Irregulars (Laskar Jalanan Baker Street) ala Tracy dan Michael.


Laskar Jalanan Baker Street adalah sebuah geng anak jalanan yang menjadi mata dan telinga Sherlock Holmes di jalanan. Mereka tinggal di gudang pabrik terbengkalai di pinggiran Baker Street yang mereka sebut Kastel dan membantu sang Master dalam banyak sekali kasus. Tetapi, hanya sedikit sekali disebut-sebut dalam kisah yang diceritakan Watson (hlm. 20). Karenanya, dalam 'Pendahuluan' (hlm. 21), oleh seorang anonim dari Inggris, hal ini dianggap sebagai kelalaian yang memalukan dan membutuhkan koreksi. Oleh karena itu, sudah saatnya Laskar Jalanan Baker Street tampil di permukaan. Lewat novel yang tidak ditulis dengan Watson sebagai narator.

Mengapa Tracy dan Michael memusatkan perhatian kepada Laskar Jalanan Baker Street? Dalam wawancara imajiner Sherlock Holmes dan Michael-Tracy, Michael menyebut alasan bahwa dirinya telah menjadi penggemar Sherlock Holmes sejak berusia 11 tahun. Ia selalu bertanya-tanya mengapa laskar ini hanya disinggung dalam 2 cerpen dan 2 novel dari keseluruhan kisah tentang Sherlock Holmes (hlm. 23-24). "Kami ingin membuat Laskar Jalanan tampil dan lebih dikenal", demikian kata Michael. Untuk itu, ia berkolaborasi dengan istrinya menulis novel ini, pada saat dalam kapasitasnya sebagai editor, Tracy sadar tidak ada serial misteri tradisional untuk anak-anak.

Oleh pasutri ini, disebutkan kalau Laskar Jalanan Baker Street terdiri dari 12 orang. Mereka adalah Wiggins, si pemimpin dengan seekor musang bernama Shirley; Ozzie (Osgood Manning), anggota baru; Rohan; Alfie (Elf); Elliot (Stitch); Alistair; Barnaby; Fetcher; Simpson; James; Peter; Shem (hlm. 277-278). Sayangnya, keberadaan mereka hanya disebutkan begitu saja. Setelah disinggung sedikit dalam bab 2, selanjutnya (kecuali Ozzie, Wiggins, Rohan, Alfie, dan Elliot), yang lain seolah-olah tidak ada. Dalam bab 26 mereka tampil hanya secara tersirat. Bahkan dalam cerita, kita tidak akan menemukan nama Alistair. Ia hanya muncul pada bagian lampiran. Mengapa Tracy dan Michael sampai melakukan pengabaian yang tidak perlu ini? Padahal menurut Tracy, "Kami terus-menerus membolak-balik draf naskah, menulis ulang, hingga kami berdua puas" (hlm. 24). Dan, catat, Tracy seorang editor!

Kisah petualangan dalam novel ini mengambil seting bulan September 1889. Jika dihubungkan dengan karya asli Conan Doyle, berarti terjadi sekitar 2 tahun sebelum duel maut Sherlock Holmes dengan Profesor Moriarty di Air Terjun Raichenbach (The Final Problem) yang terjadi 4 Mei 1891. Diceritakan pada waktu itu, kelompok Sirkus Grand Barboza sedang tampil di Taman St. John London. Pada malam musim gugur yang dingin, tim akrobat tali yaitu Walenda Bersaudara yang Mengagumkan (Wolfgang, Werner, Wilhelm), terjatuh gara-gara tali akrobat mereka putus. Mereka tewas dan menjadi catatan kecelakaan paling mengerikan dalam sejarah bisnis pertunjukan.

Sherlock Holmes meminta Wiggins dan kawan-kawan untuk mencari informasi di seputar Sirkus Grand Barboza. Pilar, anak peramal yang mampu membaca gerak bibir, memaksa untuk membantu. Dari penyelidikan mereka diketahui bahwa pelempar pisau bernama Zoloft membenci Walenda Bersaudara. Sebenarnya Walenda Bersaudara terdiri atas 4 orang. Tetapi si bungsu, Cesar Walenda, seorang pemuda tampan dan lemah, telah kabur dengan Penelope, asisten yang dicintai Zoloft. Informasi lain yang mereka temukan menyebutkan jika Keluarga Terbang Jones, artis-artis trapeze, diuntungkan atas kematian Walenda Bersaudara.

Tetapi, tidak hanya itu. Simultan dengan penyelidikan Holmes, diketahui bahwa sebelum tewas, Walenda Bersaudara mulai menjauhkan diri dari anggota sirkus lain. Mereka mulai akrab dengan seorang penjual tali. Beberapa hari sebelum malam naas itu, Walenda Bersaudara (termasuk Cesar) pergi bersama Penelope. Ada yang melihat waktu mereka kembali ke Taman St. John bersama si penjual tali. Cesar dan Penelope tidak pernah terlihat sejak saat itu. Dalam penyelidikan, Ozzie berhasil mengetahui jati diri si penjual tali.

Sebelum malam kematian Walenda Bersaudara, terjadi pencurian di Istana Buckingham. The Stuart Chronicle (Kronik Keluarga Stuart) yang berumur lebih dari 2 abad hilang dalam sebuah pencurian yang ganjil. Padahal, buku yang dikenal sebagai penuntun pemerintahan ini sangat berharga. Konon, tidak hanya karena rahasia di dalamnya, tetapi juga karena sampul buku ini dilapisi emas padat dan bertatah batu-batu mulia paling langka. Untuk menyelidiki kehilangan ini, Ratu Victoria meminta kesediaan Sherlock Holmes.

Pertanyaannya, adakah hubungan antara peristiwa tewasnya Walenda Bersaudara dengan hilangnya The Stuart Chronicle?

Sebagai novel yang didasarkan pada seting dan karakter ciptaan penulis lain ada hal-hal yang mesti mendapatkan perhatian khusus. Konsistensi dengan imajinasi penulis asli tentu saja harus dipertahankan sebaik-baiknya. Menurut saya, Alexandra Ripley, penulis novel Scarlett, melakukan dengan baik ketika menghidupkan kembali karakter-karakter ciptaan Margaret Mitchell dalam Gone With the Wind.

Dalam novel karya Tracy dan Michael ini, meski disingkirkan sebagai narator novel, Watson diceritakan mengikuti jalan penyelidikan. Jadi, pada tahun 1889 ini, Watson benar-benar mengetahui tentang Profesor Moriarty, si Napoleon Kejahatan (Napoleon of Crime). Padahal, dalam "The Final Problem" yang berseting tahun 1891, melalui percakapan Sherlock Holmes dan Watson, terungkap jika Watson belum pernah mendengar nama Profesor Moriarty. Memang, Conan Doyle sendiri pernah melakukan inkonsistensi soal pengetahuan Watson yang bertalian dengan Profesor Moriarty. Dalam "The Valley of Fear", yang berseting sebelum "The Final Problem" tetapi terbit belakangan, digambarkan jika Watson pernah mendengar soal Profesor Moriarty sebagai 'the famous scientific criminal'. Hanya, inkonsistensi yang dibuat Conan Doyle masih terbilang ringan dibanding yang dilakukan Tracy dan Michael yang tidak berhati-hati. Kalau begitu besarnya kasus kematian Walenda Bersaudara dan raibnya The Stuart Chronicle, tidak mungkin Watson tidak mengenal Profesor Moriarty dalam "The Final Problem" pada tahun 1891 kan?

Selain itu, karakterisasi Profesor Moriarty agak melenceng dari yang dibuat Conan Doyle. Jelas-jelas Sherlock Holmes mengakui ketangguhan Profesor Moriarty sebagai aktor intelektual serangkaian kejahatan. Holmes sempat mengatakan pada Watson akan memilih pekerjaan yang lebih enteng ketimbang sebagai detektif jika berhasil mengalahkan Moriarty. Tetapi dalam novel ini Profesor Moriarty tidak dihadirkan sebagai aktor intelektual dan terkesan 'kurang berpengalaman'. Bayangkan, Profesor tersohor yang dikagumi Holmes soal kejahatannya ini diceritakan tidak tahu apa sesungguhnya The Stuart Chronicle. Mungkin, hal ini bisa disebut sebagai 'pelecehan' terhadap musuh terbesar Holmes.

Hal yang tampaknya tepat soal karakter Profesor Moriarty adalah penggambaran fisiknya yang kurus dan tinggi (hlm. 224) serta mata, kening, dan kesan umum yang dihadirkannya (hlm. 226). Sayangnya, ilustrasi isi sangat jauh dari gambaran yang diberikan. Coba lihat gambar pada halaman 251. Di situ, oleh ilustratornya (Randi Irawan dan M. Esnaini), Profesor Moriarty digambarkan botak dan sangat gemuk.

Menghidupkan Laskar Jalanan Baker Street sebagai bagian paling penting dalam pemecahan kasus-kasus besar Sherlock Holmes terkesan berlebihan. Hal ini kemungkinan disebabkan karena duo penulis hendak menonjolkan tokoh anak-anak dalam novel konsumsi anak-anak. Hanya, kesan yang ada, seolah-olah setiap ada kasus besar, laskar tunawisma-yatim piatu inilah yang sangat diperlukan Sherlock Holmes. Penyingkiran Watson terkesan mengada-ada. Simak perkataan Wiggins, "Pekerjaan detektif yang kita lakukan membuat penampilan Watson terlihat buruk. Itulah sebabnya dia tidak menulis lebih banyak tentang kita dalam cerita-ceritanya," (hlm. 64). Atau penuturan Ozzie, "Selain itu, dia (Watson) sedikit iri karena Master membutuhkan kita. Sejauh yang kuketahui, Master bahkan tidak mengajak Watson memecahkan kasus-kasus besar karena dia tidak dapat menyimpan rahasia."

Tetapi, terlepas dari kejanggalan-kejanggalan yang ada, dilihat sebagai novel yang berdiri sendiri, Sherlock Holmes and The Baker Street Irregulars (The Fall of the Amazing Zalindas) adalah sebuah novel yang bagus dan enak dibaca. Khususnya untk penambahan karakter Ozzie, tampaknya dirancang dengan baik.  Ia dihadirkan sebagai pekerja magang di kantor duplikat dokumen Oxford milik Jack Crumbly karena kasus kali ini akan berhubungan dengan pekerjaannya.

Membaca novel ini, dalam setiap bab, kita akan menemukan sebuah huruf berukuran lebih besar dan lebih tebal dari huruf-huruf lain. Jika dijadikan satu, kita akan menemukan misteri lain, yang kemungkinan, mengarah pada kisah petulangan Sherlock Holmes dalam "The Final Problem". Setelah novel berakhir, kita disuguhkan dengan hal-hal seperti Ilmu Menarik Kesimpulan ala Sherlock Holmes yang diambil dari cerpen "The Adventure of the Blue Carbuncle" (The Adventures of Sherlock Holmes), cara membuat bahasa slang berima ala Cockney, glosarium bahasa slang yang digunakan dalam novel, dan Pelajaran tentang Seni Penyamaran Khas Detektif.


Posted at 01:37 pm by Jody
Comment (1)  

Monday, June 30, 2008
A SPOT OF BOTHER


Judul Buku : A Spot of Bother (Bintik Gatal)
Penulis: Mark Haddon (2006)
Penerjemah: Ferry Halim
Tebal: 588 hlm; 13 X 20 cm(HVS)
Terbit: Cetakan 1, April 2008
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

 

  'BINTIK-BINTIK GATAL' KELUARGA MASA KINI

 
Nama Mark Haddon menjadi sangat dikenal dalam dunia literatur internasional setelah ia menulis novel dewasa pertamanya, The Curious Incident of the Dog in the Night-Tim (edisi Indonesia, KPG, 2004) yang terbit tahun 2003. Novel itu ditulis untuk segmen pembaca dewasa, tetapi juga menghunjam pasar anak-anak. Bahkan, novel itu memenangkan lebih dari 17 penghargaan, termasuk Whitbread Book of the Year (2003) dan Commonwealth Writers' Prize Overall Best First Book (2004). Sebelumnya, lelaki kelahiran Northampton, 26 September 1962, yang juga seorang penyair, ilustrator, dan penulis skenario ini telah menulis belasan buku anak-anak.

Tiga tahun setelah sukses novel dewasa pertamanya, Mark Hadon, peraih berbagai penghargaan untuk karya-karyanya, kembali dengan novel dewasa kedua bertajuk A Spot of Bother yang pertama kali terbit pada September 2006. Novel ini diedisi-indonesiakan oleh Penerbit Serambi dengan judul Bintik Gatal, merupakan hasil terjemahan yang apik dari Ferry Halim.

Kisah dalam novel ini dipicu ketika George Hall, seorang pensiunan industri manufaktur, sedang mencoba setelan hitam sebelum upacara pemakaman seorang rekannya. Dikisahkan bahwa George pada usia 57 tahun telah memasuki masa pensiun. Ia tinggal di rumahnya di Peterborough yang dihuninya dengan Jean, istrinya, sambil menyibukkan diri dengan membangun sebuah pondok di kebunnya.

Pada waktu mengepas celana setelan itu, ia melihat segumpal daging berbentuk bulat telur di pinggulnya, berwarna lebih gelap ketimbang kulit di sekitarnya dan agak bersisik. Seketika George panik, dan mendiagnosis sendiri jika ia terkena kanker. Sejak saat itu George menjelma seorang hypochondriac sejati. Ia merasa tidak puas, tertekan dan terusik dengan jejas itu. Padahal menurut George, rahasia kepuasan hati terletak pada pengabaian terhadap banyak hal secara menyeluruh. Namun ternyata, jejas yang ditemukannya itu tidak bisa diabaikannya begitu saja.

Sementara jejas itu menimbulkan kepanikan dalam diri George, putrinya, Katie, datang mengumumkan pernikahannya. Katie, seorang janda dengan satu anak laki-laki, Jacob, akan menikahi Ray, seorang duda yang oleh Jamie, adik Katie, dikatakan memiliki sepasang tangan 'tukang cekik'. Baik George maupun Jean, tidak menyukai teman kumpul kebo Katie ini.

Sebenarnya, Katie sendiri tidak tahu pasti apakah ia benar-benar mencintai Ray atau hanya sekadar menyukai kebaikan Ray. Ray memang menyayangi Jacob dan menyediakan rumahnya untuk Katie dan Jacob bernaung. Tetapi Katie belum bisa menampik ajakan minum kopi dari Graham, mantan suaminya. Ketika  Ray memergoki pertemuan itu, ia sangat cemburu dan meninggalkan rumah. Pernikahan mereka pun terancam batal

Mengetahui Katie akan menikah, Jamie yang adalah seorang homoseksual, menjadi gusar. Ia bingung dengan keputusan Katie. Oleh karena itu, ia tidak bisa memastikan diri untuk hadir. Bahkan, jika mungkin, ia harus mencegah pernikahan itu. Tony, kekasih gay Jamie, merasa kecewa karena Jamie tidak bermaksud membawanya ke pernikahan Katie. Menurutnya, hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi, dan ia memutuskan mengakhiri hubungan cinta. Tentu saja, Jamie panik karenanya.

Sementara itu, Jean, istri George, diam-diam, berbulan-bulan telah berselingkuh dengan David Symmonds, mantan rekan kerja George. Terbuai dengan cinta David, Jean  masuk dalam petualangan seks yang menggairahkan dengan duda tua itu. Di sela-sela pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar dan pekerja paruh waktu di sebuah toko buku, ia menghabiskan waktu bertemu dan mendapatkan kenikmatan jasmani dari David. Hingga suatu hari, George menyaksikan sendiri perselingkuhan istrinya, di tempat tidurnya sendiri. George yang masih belum lepas dari kekacauan pikiran akibat jejas di pinggulnya, makin bertambah kacau pikirannya.

Apakah yang akan terjadi dengan rencana pernikahan Katie? Apakah Katie benar-benar akan menikahi Ray? Bagaimana nasib percintaan senja Jean dan David? Lalu, apa yang akan terjadi dengan cinta Jamie? Semuanya akan terjawab pada bagian-bagian akhir novel yang mengundang senyum ini.

A Spot of Bother adalah sebuah novel komedi-psikologis keluarga masa kini. Kesan komikal berawal dari George dan kerumitan pikirannya merespons 'bintik gatal' di pinggulnya. Kendati dokter menyatakan jejas itu hanya sejenis eksem sehingga George tidak perlu kuatir berlebihan, tidak mudah untuk George menerima. Kerumitan pikiran dan perasaan gara-gara penyebab yang bisa dikatakan sepele ini (George tidak akan mati gara-gara bintik gatal, dengan krim steroid toh sembuh juga) mengingatkan saya pada karakter Jonathan Noel (satpam bank, 53 tahun) dalam novel Die Taube/Paranoid karya Patrick Süskind (Dastan Books, 2007). Kedua novel ini mengisahkan lelaki tua yang kehilangan akal sehat gara-gara hal sepele. Jika George gara-gara sebercak eksim (yang sekali lagi tidak susah dihilangkan), Jonathan Noel karena seekor merpati yang muncul di depan kamarnya. Tetapi, tentu hanya sebatas itu saja, karena konflik psikologis George lebih kental terasakan dalam jumlah halaman yang lebih banyak.

Sebenarnya, tidak hanya George yang punya 'bintik gatal'. Hanya 'bintik gatal' George memang kasatmata dan kita tidak heran ketika ia memutuskan untuk mengguntingnya. Sementara 'bintik gatal' Jean, Katie, dan Jamie tercermin dari kehidupan mereka sendiri. Bagi Jean, hubungan cintanya dengan David adalah 'bintik gatal'-nya. Bagi Katie, ketidakpastian cintanya pada Ray adalah 'bintik gatal'-nya. Sedangkan bagi Jamie hubungan cinta sejenisnya dengan Tony adalah 'bintik gatal'-nya. Bintik-bintik gatal itu mengembangkan pergulatan psikologis yang diramu dengan asyik oleh Mark Haddon, sang penulis. Seiring dengan perguliran plot, ketika waktunya tiba, kita melihat, bahwa semua bintik gatal yang tergaruk itu akan dipulihkan dan sesungguhnya semua itu bukanlah hal yang perlu terjadi. Seperti pikiran Geogre, "Sudah saatnya menghentikan semua omong-kosong ini."


Mark Haddon

Kisah dalam novel ini, oleh Mark Haddon dibentangkan menggunakan perspektif orang ketiga, dengan mengalirkan ceritanya dari kehidupan masing-masing anggota keluarga Hall. Kejadian-kejadian yang dialami keluarga Hall dipaparkan menggunakan 'mata' karakter George, Jean, Jamie, dan Katie secara bergantian. Efeknya, pemahaman pembaca mengenai pikiran dan perasaan masing-masing karakter merespons setiap kejadian menjadi kaya. Memang, dengan gaya seperti ini, plot novel seolah-olah merayap lambat dan perjalanan menuju klimaks terasa gemulai. Tetapi, hal ini tidak mengurangi daya tarik novel. Haddon adalah pencerita asyik yang mampu mengikat dan menghanyutkan pembaca hingga penghujung novel tanpa harus tersiksa untuk menamatkannya. Awalnya, saya memang agak ragu untuk segera bisa menamatkan novel ini, tetapi ternyata setelah memulainya, setiap selesai satu bagian, langsung buru-buru ingin masuk ke bagian berikutnya.

Tanpa berupaya menyodorkan ide-ide raksasa seperti dalam Da Vinci Code atau The Dante Club, cukup dengan ide-ide sederhana yang tanpa kita sadari bisa terjadi dalam kehidupan kita, Haddon telah menciptakan pesona tersendiri.


Posted at 06:50 am by Jody
Comments (3)  

Next Page