<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>






Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links


My Unkymood Punkymood (Unkymoods)


<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



Baca1


Silahkan Meracau di Sini....








Sebuah Buku



Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window

This free script provided by
JavaScript Kit





 

web Jody’s Blog






"Dunia Buku adalah sebuah dunia tempat aksara menciptakan keajaiban, satu demi satu dipintal menjadi kata, ditenun menjadi kalimat, dijahit menjadi buku, dan diapresiasi selaras emosi dan logika"


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 24, 2009
BONJOUR TRISTESSE



Judul Buku: Lara Kusapa

Diterjemahkan dari: Bonjour Tristesse (1954)

Penulis: Françoise Sagan

Penerjemah: Ken Nadya

Tebal: 164 hlm; 13 x 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, Februari 2009

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

 

 

Bonjour Tristesse adalah novel debutan Françoise Sagan (1935-2004), seorang penulis  Prancis, yang diterbitkan ketika ia berusia delapan belas tahun. Diterbitkan pertama kali pada 1954 di Prancis, buku ini segera menjadi best-seller, dianugerahi Prix Des Critiques, dan membuat heboh: ditulis seorang remaja, tetapi secara terbuka bertutur tentang seksualitas. Berkat novel ini, nama Sagan melejit sebagai sosok terkemuka dalam sastra Prancis. Novel ini diedisi-indonesiakan oleh Penerbit Serambi dengan judul Lara Kusapa dan merupakan karya penerjemahan Ken Nadya.

 

Lara Kusapa dikisahkan menggunakan perspektif orang pertama. Naratornya seorang perempuan bernama Cécile, yang menceritakan pengalamannya pada usia tujuh belas tahun. Kisah utamanya terjadi di pesisir Laut Tengah, ketika Cécile sedang menikmati liburan musim panas bersama ayahnya, Raymond. Ikut dengan mereka Elsa Mackenbourg, kekasih Raymond, yang berusia dua belas tahun tahun lebih tua dari Cécile. Dalam usia empat puluh tahun, di mata Cécile, Raymond hanyalah seorang bocah besar yang hidup tanpa beban. Sepeninggal ibu Cécile, meski menjalin hubungan dengan banyak wanita, Raymond tidak berniat menikah. Dan karena inilah, ia menjalin hubungan dengan Elsa, yang juga tidak pernah berniat menikah.

 

Pada hari keenam liburan musim panas itu, Raymond mengumumkan kedatangan Anne Larsen, teman lama mendiang ibu Cécile yang meninggal lima belas tahun silam. Perempuan rupawan inilah yang telah menerima Cécile, ketika dua tahun silam (atau tiga?) Cécile keluar dari asrama pedesaan dan menetap di Paris. Ia yang mengajari Cécile sehingga bisa berdandan dan bergaul. Namun, setelah tinggal dengan Raymond, Cécile menyadari jika gaya hidup mereka tidak selaras dengan gaya hidup Anne.

 

Ketika Anne hadir memenuhi undangan Raymond, dalam tempo singkat, Raymond menyerah dan mau menerima gagasan pernikahan. Tentu saja, perubahan ini mengejutkan Cécile dan Elsa. Keputusan Raymond menikahi Anne bagi Elsa, pasti disebabkan karena Raymond benar-benar mencintai Anne. Bagi Cécile, keputusan Raymond untuk menikahi Anne adalah ancaman. Menurut Cécile, ayahnya sama sekali bukan tipe Anne, mereka memiliki kehidupan yang bertolak belakang. Jika Raymond menikahi Anne, baik Cécile maupun ayahnya akan kehilangan kebebasan dan hidup dalam aturan-aturan Anne. Maka, Cécile pun memutuskan untuk menggagalkan pernikahan mereka.

 

Novel ini mengetengahkan kebingungan seorang anak remaja dalam sosok Cécile. Ia bingung dengan perlakukan orang dewasa yang berpengaruh dalam hidupnya. Ia kehilangan sosok ibunya dan setelah hidup di asrama belasan tahun, ia mencari sosok ibunya dalam diri Anne. Perempuan empat puluh dua  tahun ini (atau empat puluh tahun?) mencoba mengisi peran ibu dalam diri Cécile dan memperlakukan Cécile sebagai anak kecil. Tetapi, ketika tinggal dengan ayahnya, Cécile diperlakukan seperti orang dewasa, dibawa larut dalam pergaulan sang ayah. Tentu saja perlakuan mereka membuat Cécile bingung bagaimana mesti bersikap. Kebingungan Cécile tampak jelas pada responsnya atas kehadiran Cyril, pemuda berparas Latin yang menawarkan gairah. Cécile mengaku tidak suka pada anak muda karena terbiasa bergaul dengan teman-teman ayahnya. Namun, pesona dan sensualitas yang dimiliki Cyril tidak bisa ditampiknya. Maka wajarlah, ketika Anne mulai menguasai Raymond, Cécile tidak bisa menentukan sikap. Keadaan ini bahkan mengantarnya pada rencana untuk mempertahankan status quo yang telah lama dikokohkannya bersama sang ayah.

 

Sagan menjalin perkembangan kejiwaan Cécile ke dalam dua bagian novel. Sebagai penulis yang saat itu masih berusia remaja, ia terkesan cukup dewasa. Dengan baik, ia bisa mengantar pembaca memahami kondisi kejiwaan Cécile yang labil. Di dalam perkembangan karakter Cécile, Sagan juga mampu membangun dengan baik karakter seperti Anne dan Elsa. Karakter Raymond sebenarnya telah dikemas cukup apik, sayang kurang menggigit pada bagian yang menentukan. Meski perangainya yang tidak pernah dewasa menjadi pemicu konflik tragis di penghujung novel, namun Sagan tidak mengolah dengan logis proses metamorfosis Raymond dari lelaki yang tak ingin berkomitmen menjadi seorang lelaki yang ingin menikah dalam tempo singkat. Padahal, dari sinilah benih konflik ditabur oleh Sagan.

 

Apakah Anne memiliki daya sihir yang sanggup mengubah prinsip hidup Raymond? Ataukah Raymond baru sadar setelah 15 tahun istrinya meninggal jika ia sesungguhnya mencintai Anne? Ataukah udara pesisir Laut Tengah berhasil menghamburkan rangsangan kimiawi tersendiri dengan kedatangan Anne yang membuat Raymond bertekuk lutut? Tentu saja, tidak satu pun dari jawaban ketiga pertanyaan ini bisa ditemukan dalam novel (apalagi untuk pertanyaan ketiga).

 

Bagi yang suka membaca fiksi klasik, novel yang judulnya dipetik dari puisi karya Paul Eluard (bisa dibaca pada bagian awal buku) ini, akan menjadi bacaan pembuka untuk karya-karya Sagan atau penelusuran jejak awal karya Sagan bagi yang telah membaca buku-buku sesudahnya. Penulis kelahiran 21 Juni 1935 ini telah menulis hingga 30-an novel dan telah menerima Prix La Fondation dari Pangeran Pierre de Monaco untuk keseluruhan karyanya (1985).

 

Edisi Indonesia novel yang telah difilmkan pada tahun 1958 ini tergolong enak dibaca. Pada beberapa bagian terasa puitis, namun tidak terpuruk membosankan seperti novel yang ditulis bergaya puisi. Kekurangtelitian pada angka sepertinya berasal dari Sagan. Sebagai contoh, pada halaman 12, disebutkan Cécile keluar dari asrama dua tahun sebelumnya, namun pada halaman 28, disebutkan Cécile keluar asrama tiga tahun silam. Demikian juga usia Anne. Pada halaman 62, ditulis jika Anne berusia 40 tahun (sama dengan pada halaman 154), sedangkan pada halaman 16 berusia 42 tahun. Sedangkan dari segi judul, boleh dikata, Lara Kusapa adalah pilihan yang bagus, diselaraskan dengan hasil terjemahan puisi Paul Eluard (hlm. 7) yang menjadi sumber judul, dan sesuai dengan selera puitis Sagan (jika dilihat dari hasil terjemahannya).

 

 

Lara Kulupa

Lara Kusapa

Engkau terukir pada garis-garis pagu

Engkau terukir dalam sepasang mata

yang kucinta

Engkau bukan sengsara telak

Karena bibir yang termalang mengungkapmu

Dengan seulas senyum

Lara kusapa

Asmara raga-raga hangat

Daya asmara

Yang mencari kehangatan

Laksana monster tanpa tubuh

Kandas akalnya

Lara elok paras.



Posted at 08:27 am by Jody
Make a comment  

Thursday, April 23, 2009
NO COUNTRY FOR OLD MEN



Judul Buku: No Country for Old Men

Penulis: Cormac McCarthy (2005)

Penerjemah: Rahmani Astuti

Tebal: 360 halaman

Terbit: Cetakan 1, November 20007

Penerbit: Q-Press




Saya telah menonton film No Country for Old Men sebelum membaca bukunya. Keputusan membaca novelnya datang setelah membaca novel kesepuluh Cormac McCarthy, The Road (edisi Indonesia diterbitkan Penerbit Gramedia). Saya membaca No Country for Old Men karena ingin mempelajari gaya penulisan McCarthy. Setelah No Country for Old Men, saya juga membaca Blood Meridian, novel kelima sang pengarang.

 

Novel ini dipicu kontak senjata yang terjadi di antara kurir-kurir heroin di dekat Rio Grande, Texas. Llewellyn Moss, seorang veteran Vietnam yang bekerja sebagai tukang las sedang berburu antelop (diterjemahkan sebagai rusa bertanduk) ketika menemukan  hasil akhir letusan-letusan senjata mereka. Sejumlah mayat dan seorang sekarat yang membutuhkan air minum. Juga satu koper dokumen berisi uang tunai 2, 4 juta dolar dan beberapa bungkus heroin. Dengan membiarkan si sekarat merindukan air minum, Moss membawa pulang uang itu. Lewat tengah malam, Moss terjaga dari tidur dan memutuskan membawakan air untuk si sekarat. Keputusan yang keliru. Sebab, dengan kembali ke lokasi berburu, ia tidak hanya menemukan si sekarat sudah ditembak mati, tetapi juga  memperkenalkan diri sebagai orang yang telah mengambil uang darah itu.  Hidup Moss tidak pernah tenang lagi. Demikian pula hidup Carla Jean Moss, istrinya yang masih belia.

 

Anton Chigurh, seorang pembunuh bayaran diutus gembong heroin untuk mengambil kembali uang di tangan Moss. Dalam perburuannya, Chigurh membawa semacam tangki oksigen dengan sebuah selang yang terhubung ke senjata kejut mematikan. Ia tidak segan-segan membunuh orang yang dijumpainya demi mencapai Moss: deputi sheriff, orang-orang tak bersalah di jalanan, dan pembunuh-pembunuh bayaran lain. Sepuluh mayat ditinggalkannya untuk menjadi masalah yang harus dipecahkan Ed Tom Bell, sheriff Terrel County.

 

Ed Tom Bell telah menjadi sheriff di Terrel County sejak berusia 25 tahun. Selama bekerja sebagai sheriff ia telah satu kali mengantar seorang pembunuh muda ke kamar gas. Meskipun begitu, Bell bukanlah seorang yang tidak menghargai nyawa. Karenanya, ketika mengetahui Moss, seorang yang dikenalnya sebagai 'anak baik-baik' terlibat kekisruhan perdagangan heroin yang membuatnya tak sadar telah mempertaruhkan nyawanya, Bell berniat melindungi Moss. Sebagai sheriff, melindungi masyarakat sudah menjadi kewajiban utamanya, sekalipun ia harus mati sebagai akibatnya. Melindungi nyawa orang yang patut dilindungi memang telah menjadi pengejaran hidup Bell, sejak ia meninggalkan Eropa setelah berperang, dengan kenangan akan rekan-rekannya yang tidak bisa ditolongnya.

 

Novel berseting 1980 ini (bisa diketahui dari cerita perjalanan sebuah koin yang disampaikan Chigurh, halaman 71) merupakan novel kesembilan pengarang yang meraih National Book Award tahun 1992 untuk novelnya yang bertajuk All the Pretty Horses. Ceritanya dipicu di Texas, digiring ke Meksiko, kembali lagi ke Texas dalam rangkaian kejadian yang dibeber apik dan filmis. Di dalam kekejaman dan kebrutalan yang menegangkan, pembaca akan dengan mudah dibuat paham, bahwa keserakahan seseorang tidak hanya memberi dampak pribadi tapi juga komunitas. Betapa satu keputusan keliru akan menghancurkan semua sendi kehidupan. Dan terkadang, nyawa manusia seolah bukan sesuatu yang berharga sama sekali.

 

Bagi yang telah menonton versi film novel ini, pasti sudah tahu akhir yang diberikan Cormac McCarthy bagi karakter-karakter ciptaannya.  Meski ada bagian novel yang dihilangkan, film ini terbilang setia dengan plot, bahkan dialog-dialog yang ditulis sang pengarang. Namun yang belum pernah nonton filmnya, pasti akan bertanya-tanya tentang nasib Moss. Apakah Chigurh bisa menjangkau dan membunuhnya? Apakah Sheriff Bell akan mampu mengatasi aksi brutal Chigurh dan menyelamatkan Moss dan keluarganya? Ataukah Chigurh akan menghancurkan, tidak saja keluarga Moss, tetapi juga kehidupan Sheriff Bell? Yang jelas, dalam novel ini, Cormac McCarthy bukanlah pengarang yang sudi memanjakan pembaca dengan pamungkas manis yang melenakan pembaca –tidak hanya karena cerita yang dibentangkannya tergolong thriller brutal. Ia memberi akhir yang menggigit, tidak mengecewakan, membuat pembaca (seperti saya) tidak akan mudah lupa pada kesan yang dirasakan. Terutama yang dilakukannya pada kehidupan Ed Tom Bell sebagai sheriff.

 

Isi novel diceritakan dari dua perspektif yaitu orang pertama dan orang ketiga. Perspektif orang pertama digunakan ketika McCarthy menggulirkan  pikiran dan perasaan pribadi Ed Bell mengenai pengalaman hidupnya. Apa yang disampaikan melalui penuturan Ed Bell tentu saja tidak berdiri sendiri. Bagian-bagian itu akan berkelindan dengan bagian yang dituturkan dari perspektif orang ketiga, memberi motif dan mempertajam apa yang dilakukan sang sheriff di akhir novel. Pembaca akan memahami betapa rasa bersalah dan tanggung jawab yang berperang dalam dirinya telah berpengaruh dalam keputusan yang diambilnya.

 

Novel ini diedisi-indonesiakan oleh Rahmani Astuti dan disunting oleh Setiadi R. Saleh. Ada yang mengatakan bahwa terjemahan novel ini buruk. Saya tidak sepenuhnya setuju. Mungkin pendapat itu datang dari pihak yang sama sekali belum pernah membaca karya McCarthy. Sebetulnya penerjemahnya sudah berusaha menerjemahkan dan mempertahankan gaya penulisan McCarthy dalam bahasa Indonesia.  Hanya, bagi yang awam dengan gaya penulisan McCarthy mungkin akan kurang menikmati. Seperti novel-novelnya yang lain, McCarthy tidak menggunakan tanda-tanda kutip untuk membingkai dialog-dialognya. Kerap dialog-dialognya digabung dengan deskripsi. Ia juga sering  menggunakan kata 'and' (dan) untuk menuturkan rangkaian kejadian.  Simak contoh berikut (hlm. 19):


 "Dia berkubang di dalam gundukan dan melepas salah satu sepatu  botnya dan meletakkannya di batu-batuan dan menurunkan lengan senapan ke atas sepatu bot dan melepaskan pengaman pelatuk dengan ibu jarinya dan membidik melalui teleskop"   (He wallowed down in the scree and pulled off one boot and laid it over the rocks and lowered the forearm of the rifle down into the leather and pushed off the safety with his thumb and sighted through the scope).

 

Kendati sudah berusaha, kendala bahasa juga membatasi penerjemahan. Misalnya, McCarthy tidak menulis don't, didn't, can't, dan won't namun dont, didnt, cant, dan wont. Sudah jadi gaya penulisannya, tidak membubuhkan apostrof. Gaya seperti ini tentu saja sulit dipertahankan dalam bahasa Indonesia.  Namun, gaya McCarthy yang kerap tidak memberi pemisahan pada beberapa perpindahan adegan mungkin bisa dimodifikasi, supaya pembaca tidak usah mengerutkan kening dengan cerita yang mendadak seakan-akan tidak nyambung. Penulisan tahu menjadi tau, tahun menjadi taun, lihat menjadi liat, atau seperti yang masih banyak ditemukan dalam buku-buku Indonesia, mengubah menjadi merubah, yang tampaknya disengaja, sebaiknya dihindarkan. Juga penerjemahan keliru St. John menjadi Injil Yohanes (hlm. 349) dan "cool concrete well" menjadi "sumur beton yang dingin"  ("well" di sini jelas bukan berarti "sumur", hlm. 227) seharusnya bisa disingkirkan.

 

Novel yang judulnya dipetik dari puisi "Sailing to Byzantium" karya William Butler Yeats ini diadaptasi ke dalam film oleh Joel dan Ethan Coen dan beredar tahun 2007. Film ini memenangkan berbagai penghargaan bergengsi kategori  terbaik termasuk: film, penyutradaraan, skenario adaptasi, dan pemeran pembantu pria (untuk Javier Bardem yang berperan sebagai Anton Chigurh dengan cemerlang)  Academy Award  tahun 2008.

 


 

That is no country for old men. The young

In one another's arms, birds in the trees

- Those dying generations – at their song,

The salmon-falls, the mackerel-crowded seas,

Fish, flesh, or fowl, commend all summer long

Whatever is begotten, born, and dies.

Caught in that sensual music all neglect

Monuments of unaging intellect.

 

(first stanza, Sailing to Byzantium)

 


Posted at 04:33 pm by Jody
Comments (2)  

Tuesday, April 07, 2009
MARIA (MARY)



Judul Buku: Maria (Mary)

Penulis: Vladimir Nabokov

Penerjemah: Santi Hendrawati

Tebal: 208 halaman; 13 x 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, Maret 2009

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

 

 

 

BUNGA MUSIM SEMI BERDAUN LIMA

 

 

Mashen'ka adalah novel perdana Vladimir Nabokov (1899-1977), pengarang berdarah Rusia yang terkenal dengan novel kontroversial Lolita. Novel ini pertama kali terbit di Berlin dalam bahasa Rusia pada tahun 1926, tempat Nabokov tinggal bersama keluarganya setelah meninggalkan Rusia dan sempat menetap di London. Pada tahun 1970, bersama Michael Glenny, Nabokov menerjemahkan karya yang diterbitkannya menggunakan pseudonim V. Sirin ini ke dalam bahasa Inggris, dengan judul Mary.  Edisi Indonesia novel ini diterbitkan penerbit Serambi Maret 2009 dengan judul Maria.


Berseting tahun 1924 di Berlin, sesungguhnya Maria mengisahkan kehidupan tujuh emigran Rusia yang mendiami sebuah pondokan kotor yang terletak di dekat rel kereta api. Lydia Nikolaevna Dorn, janda seorang pebisnis asal Jerman yang adalah pemilik pondokan. Anton Sergeyevitch Podtyagin, penyair tua asal Rusia yang mengidap sakit jantung dan ingin pindah ke Paris. Klara, seorang perempuan montok yang diam-diam mencintai salah satu penghuni pondokan. Aleksey Ivanovich Alfyorov, seorang lelaki yang meninggalkan istrinya di Rusia setelah 1 tahun menikah dan tidak lagi mencintai negara asalnya. Sepasang penari pria: Alec Gornotsvetov dan Kolin, dan Leb Glebovich yang dipanggil Ganin.

 

Nama terakhir, Ganin, yang dikisahkan baru 3 bulan menghuni pondokan, menjadi karakter yang paling banyak disorot Nabokov. Karenanya, bukannya memberi judul yang menggambarkan pondokan kumuh dan para penghuni yang disebut sebagai 'tujuh orang Rusia yang kehilangan jiwa', Nabokov memakai nama seorang perempuan yang mengusik minggu terakhir Ganin di pondokan sebagai judul.

 

Setelah lima tahun meninggalkan Rusia, dan tinggal di Berlin selama satu tahun, Ganin memutuskan benar-benar meninggalkan Jerman. Sebelumnya, ia pernah beberapa kali ingin pindah, namun selalu berubah pikiran dan menunda kepergian.  Namun, kali ini, pondokan yang tidak nyaman ini, tidak bisa menahannya lagi. Apalagi setelah satu hari minggu, Ganin terperangkap dalam lift yang macet bersama penghuni lainnya, Aleksey Ivanovich Alfyorov. Lelaki yang baru menghuni pondokan ini mengatakan jika istrinya akan datang dari Rusia. Mereka akan bertemu kembali setelah empat tahun berpisah. Istrinya akan tiba di pondokan, Sabtu mendatang. Dan, istri Alfyorov itu bernama MARIA.

 

Spontan, nama ini mengusik Ganin. Sebab, sembilan tahun lalu, ketika dirawat karena sakit tifus di sebuah pedesaan di Provinsi St Petersburgh, Rusia , ia mengenal perempuan cantik bernama sama, Maria. Percintaan mereka tidak berjalan dengan mulus karena Ganin harus ikut bertempur di Crimea setelah Revolusi Bolshevik, 1917-1919. Setelah dikeluarkan dari unitnya, Ganin meninggalkan Rusia, hingga akhirnya tiba di Berlin. Selama di rantau, 'ia hidup tanpa memikirkan Maria' (hlm. 116) sampai Alfyorov menyebutkan nama yang sama. Ia segera kehilangan hasrat, menjadi pemurung insomnia yang tidak menyenangkan. Apalagi setelah mengetahui Maria istri Alfyorov adalah Maria yang sama dengan yang ditinggalkannya di Rusia.

 

Nostalgia cinta pertama yang penuh gairah itu seketika menimbulkan gagasan di benak Ganin. Ia pun memastikan benar-benar meninggalkan pondokan pada hari yang sama dengan kedatangan Maria.  Dan berencana membawa Maria untuk kabur dan hidup bersamanya.

 

Akankah rencana Ganin ini terwujud? Saat ini ia sedang menganggur, uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos keluar dari Berlin. Selain itu, selama 3 bulan tinggal di pondokan, ia menjalin cinta dengan Lyudmilla Borisovna.

 

Meski menjadi judul novel, Maria tidak pernah hadir dalam waktu seminggu yang dijadikan latar novel. Perempuan yang disebut Alfyorov sebagai bunga musim semi berdaun lima ini hanya muncul dalam kenangan Ganin saja.  Namun harus diakui,  kendati hanya berasal dari masa lalu, Maria seolah-olah menjadi ruh dalam novel ini, menggerakkan si pemeran utama, Ganin. Membuat Ganin bisa menegaskan jalan hidup yang dipilihnya kendati tak urung pikirannya sempat teracuni.    Kabarnya, karakter Maria ini didasarkan pada mantan kekasih Nabokov, Lyussa. Lima dari surat cinta  Lyussa dikutip dalam novel ini.

 

Selain kisah cinta, novel ini juga memuat kisah emigran Rusia di Berlin akibat berkecamuknya revolusi di Rusia yang diwakili semua penghuni pondokan Frau Dorn. Di antara mereka ada yang masih mencintai Rusia meski merasa terluka oleh kondisi negara itu, namun ada juga yang lebih merasa bangga menjadi warga negara lain ketimbang warga Rusia, sekalipun masih bernama Rusia. Podtyagin, meski jauh dari tanah kelahirannya dan bermaksud tinggal di Paris, tetap mencintai Rusia. Sebaliknya, Alfyorov, kabur dari Rusia dan tidak pernah merasa bangga dengan negara asalnya itu. Nabokov, boleh dibilang, berhasil memotret situasi kehidupan warga sebangsanya di perantauan.

 

Setelah menuntaskan kuliahnya di Cambridge, Inggris, tahun 1922, Nabokov mengikuti keluarganya ke Berlin. Di sana, ia berhasil menyelesaikan 8 novel yang ditulis dalam bahasa Rusia, termasuk Maria, yang ditulisnya setelah ia menikahi Vera Evseyevna Slonim tahun 1925. Semua tempat yang dilalui Ganin dalam hidupnya pernah bersinggungan dengan hidup Nabokov sendiri.

 

Novel yang telah difilmkan tahun 1987 dengan judul Maschenka ini memang tidak langsung melambungkan nama Nabokov, dan masih kalah indah dibanding Lolita (1955). Namun, sayang dilewatkan, terutama oleh pembaca karya-karya Nabokov sesudahnya. Setidaknya, dengan membaca novel ini, pembaca bisa mengetahui bagaimana perjalanan kepengarangannya dimulai; bisa melihat bagaimana tradisinya memberi kejutan di akhir novel dirintis.

 

Posted at 11:32 am by Jody
Make a comment  

Monday, April 06, 2009
BREAKFAST AT TIFFANY'S



Judul Buku: Breakfast at Tiffany's

Penulis: Truman Capote

Penerjemah: Berliani M. Nugrahani

Terbit: Cetakan 1, Februari 2009

Tebal: 164 hlm; 13 x 20,5 cm

Penerbit: Serambi

 

 

MERINDUKAN SARAPAN DI TIFFANY'S

 

                                                                      

Breakfast at Tiffany's adalah salah satu karya Truman Capote (1925-1984) yang telah melambungkan namanya  sebagai salah satu pengarang papan atas Amerika. Ditulis dalam bentuk novel pendek (novella), Breakfast at Tiffany's pertama kali terbit tahun 1958 dalam sebuah kumpulan cerita bertajuk Breakfast at Tiffany's: A Short Novel and Three Stories.  


Sebagai karakter utama, Capote menciptakan sosok perempuan bernama Holly Golightly. Kabarnya, Holly menjadi karakter favorit sang pengarang dari semua karakter yang pernah ia ciptakan. Karakter ini didasarkan pada beberapa selebritas wanita pada zamannya dan sebelumnya, oleh Capote, diberi nama Connie Gustafson. Saat diperkenalkan kepada pembaca, Holly belum berusia 19 tahun, seorang perempuan berpenampilan menawan dengan rambut cepak dicat warna-warni. Perempuan yang suka menyapa orang dengan "Darling" ini kabur dari rumahnya pada usia 14 tahun menuju Holywood, dan disebut-sebut berasal dari Boston. Mencampakkan masa depannya sebagai bintang di Holywood, Holly minggat ke New York.

 

Setelah menjadi figuran di Holywood, Holly punya alasan tersendiri untuk tidak menjadi seorang bintang film terkenal (hlm. 55). Menurut Holly, sangat penting bagi seorang bintang film untuk tidak memiliki ego sama sekali. Padahal, dirinya punya ego raksasa. Menjadi bintang memang akan membuatnya kaya dan terkenal, namun akan memaksanya menyingkirkan ego. Bukan berarti Holly tidak ingin kaya dan terkenal,  "Tapi jika saat itu tiba, aku masih ingin memiliki egoku. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri saat terbangun pada suatu pagi yang cerah dan sarapan di Tiffany's.  Aku tidak ingin memiliki apa pun hingga aku tahu bahwa aku telah menemukan tempat untuk menampung diriku dan segala milikku. Saat ini aku belum yakin di mana tempat itu berada. Tapi, aku tahu seperti apa wujudnya. Tempat itu seperti Tiffany's."

 

Di New York, Holly tinggal di sebuah apartemen dari bata cokelat di East Seventies.  Ia tidak mengisi ruangannya dengan perabot dan memelihara kucing yang tak ia beri nama. Seperti katanya, ia akan membeli perabot dan memberi nama kucingnya, jika ia telah bisa menemukan tempat sungguhan yang membuatnya merasa seperti sedang berada di Tiffany's. Jangan salah. Tiffany's memang menjual berlian, namun Holly tergila-gila tempat itu bukan karena ia pencinta berlian. Baginya, berlian adalah aksesori perempuan yang sudah benar-benar tua. Tiffany menjadi tempat favorit Holly karena ke sanalah ia pergi ketika sedang 'merasa merah' dan langsung merasa tenang dan lebih baik.

 

Di dalam lingkungan pergaulan Holly, tidak ada yang tahu, sesungguhnya Holly bukanlah nama asli. Ia menyimpan rapat  cerita masa lalu yang telah ia tinggalkan. Baginya, hanya dua hal yang boleh dibawa dari masa lalunya: kenangan akan Fred, abangnya dan kedoyanannya pada laki-laki yang jauh lebih tua darinya.

 

Meski terlibat dengan berbagai laki-laki kalangan atas New York, perempuan berjiwa bebas yang getol berpesta ini bukan tukang porot. Setiap Kamis ia mesti mengunjungi Salvatore Tomato, gembong mafia yang disekap di penjara Sing Sing. Dan untuk apa yang ia lakukan ini, setiap kali berkunjung, ia mendapatkan seratus dolar yang digunakannya untuk membiayai hidup.

 

Namun, waktu menunjukkan kepada Holly jika ia tidak akan terus menikmati kehidupan semacam itu. Meski Tiffany's ada di sana, tidak ada  "tempat seperti Tiffany's" yang membuat Holly tetap bertahan untuk tinggal, membeli perabot dan memberi nama kucingnya.

 

Berseting utama tahun 1940-an di New York, cerita dalam novella ini dituturkan menggunakan perspektif orang pertama, yaitu seorang pemuda yang saat cerita dimulai, sedang berusaha menerbitkan tulisannya. Tidak disebutkan dengan pasti siapa nama narator ini. Holly memanggilnya Fred, seperti nama abangnya, sebelum abangnya meninggal. Setelah abangnya meninggal, Holly memanggilnya Buster atau kadang Cookie. Tetapi sebenarnya, Truman Capote-lah, si penulis Breakfast at Tiffany's, yang menjadi narator. Bukan hanya karena pemuda dalam novella ini disebut-sebut sebagai pengarang, tetapi dalam cerita ini juga disebutkan jika si narator berulang tahun tanggal 30 September (hlm. 115). Truman Capote lahir pada 30 September 1924 di New Orleans (Louisiana).

 

Breakfast at Tiffany's ditulis sebagai kenangan sang narator akan perempuan eksentrik yang dijumpainya semasa menghuni apartemen di East Seventies di masa lalunya. Mereka berkenalan, kemudian bersahabat, tanpa memaksakan cinta hadir di tengah mereka. Bukan berarti tidak ada cinta yang disemai dalam lembar-lembar novel  pendek ini. Hanya, bukan si narator yang mengalami manisnya cinta dengan Holly. Ia hadir bak penonton, merekam percintaan Holly yang jauh dari kesan romantis dan seolah begitu mudah memudar. Pada halaman 103, si narator memang menyatakan pernah jatuh cinta kepada Holly, tapi bukan jenis cinta antara lelaki dan perempuan.

 

Boleh dikata, Breakfast at Tiffany's ditulis dengan lugas. Pembaca tidak akan berhadapan dengan cerita yang diracik berbelit-belit dalam buku tanpa pembagian bab ini.  Juga tidak akan menemukan konflik eksplosif di dalamnya yang melibatkan tokoh-tokoh utama novel. Capote memang hanya fokus pada kisah hidup Holly beserta kejutan-kejutan yang dialaminya. Konflik berarti yang ada hanya berpusar dalam diri Holly sendiri. Namun, ini tidak lantas membuat Breakfast at Tiffany's tidak menarik atau hadir seadanya saja. Segala aspek mengenai Holly terasa menggelitik dan menyentuh pada bagian yang tepat. Paling mengesankan adalah ikhwal kerinduannya untuk menjangkau kebahagiaan, menemukan tempat di dalam hidupnya yang mampu membuatnya tenang.

 

Karena bukan kisah romantis, dan memang tidak ditulis dengan romantis, saya suka pamungkas yang disuguhkan Capote. Olehnya, kisah Holly dibuat dengan akhir yang tidak tuntas. Ia tidak memberikan kepastian mengenai nasib Holly. Tidak memberi tahu pembaca apakah akhirnya Holly benar-benar menemukan tempat yang ia cari. Namun, dengan akhir seperti itu, Capote memberikan sengatan yang masih akan dikenang pembaca, bahkan lama setelah cerita selesai dibaca.  

 

Pada tahun 1961, Breakfast at Tiffany's dialihwahanakan menjadi sebuah film berjudul sama oleh sutradara Blake Edwards. Film ini mengubah kisah Capote yang tidak romantis menjadi kisah romantis. Dan memberikan akhir berbeda yang bahagia ala Holywood: menjodohkan Holly dan si "Fred". Film ini meraih sukses besar di seluruh dunia dan meningkatkan popularitas Audrey Hepburn yang memerankan Holly. Namun membuat Capote kecewa. Sebab, sewaktu menjual hak untuk pembuatan film karyanya ini kepada Paramount Studios, Capote menginginkan Marilyn Monroe yang memerankan Holly Golightly. Nyatanya, selain keinginannya  ini tidak diindahkan, cerita aslinya diubah untuk memuaskan selera Holywood.

 

Edisi Indonesia yang diterjemahkan Berliani Nugrahani ini terbilang enak dibaca. Selain setia mempertahankan gaya tutur Capote, penerjemah ini kerap membagi satu alinea dalam bahasa Inggris yang cukup panjang menjadi beberapa alinea dalam bahasa Indonesia, sehingga lebih mudah dicerna.


Posted at 08:53 am by Jody
Make a comment  

Thursday, March 12, 2009
THE TENTH CIRCLE

 


Judul: The Tenth Circle (Lingkaran Kesepuluh)

Penulis: Jodi Picoult (2006)

Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno

Tebal: 504 hlm; 20 cm

Terbit: Cetakan 1, Desember 2008

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



LINGKARAN KESEPULUH NERAKA DANTE ALIGHIERI


Dante Alighieri menciptakan sembilan lingkaran neraka pada bagian  Inferno dalam puisi epiknya, Divine Comedy (Divina Commedia). Ditulis dari sudut pandang orang pertama, Virgil -penyair Roma, menuntun Dante melewati sembilan lingkaran neraka itu. Di sana berturut-turut Dante menyaksikan kehidupan abadi dari para pendosa. Berturut-turut mengisi kesembilan lingkaran itu adalah orang-orang yang tidak beriman, pezina, rakus, tamak dan durhaka, pemarah, sesat, pelaku bunuh diri, curang dan culas, serta pengkhianat.

 

"Seharusnya ada lingkaran kesepuluh, tempat mungil seukuran kepala peniti, dengan ruang untuk jumlah orang yang tak terbatas." (hlm. 362). Begitulah yang terlintas di benak Laura Stone, profesor yang mengajarkan tentang Dante di Monroe College, Bethel (Maine). Ia dikenal sebagai pakar Dante Alieghiere dan tergila-gila pada cantiche pertama, Inferno. Ikhwal lingkaran kesepuluh itu terlintas bukan tanpa alasan. Laura merasa, ia memang layak berada dalam lingkaran yang menurutnya dilupakan Dante. Seorang perempuan berpendidikan tinggi yang berpura-pura tidak ada masalah menjadi istri Daniel Stone dan kekasih Seth Dummerston -mahasiswanya. Sehingga suatu malam, setelah membohongi Daniel, ia menghabiskan waktu di ranjang Seth.  Maka, ia tidak berada di rumah ketika Beatrice Stone alias Trixie, putri semata wayangnya, dibawa Daniel ke rumah sakit, setelah mengaku diperkosa Jason Underhill, teman satu sekolah.


Tidak hanya Laura yang pantas menghuni lingkaran kesepuluh neraka. Trixie, sebagaimana ibunya, adalah seorang pembohong. Pada peringatan 3 bulan asmara mereka, Jason mencampakkan Trixie untuk cewek lain. Jason memang seorang cowok idola, pelukannya menjadi magnet bagi para cewek di  SMA Bethel. Trixie tentu saja tidak terima. Pada usianya kini -14 tahun, ia sudah kehilangan selaput dara. Bukan baru sekali Jason menidurinya. Karenanya, malam itu, dalam pesta seks yang dilakukan anak-anak SMA (dengan aktivitas seks yang tidak terbayangkan), Trixie berniat merebut kembali Jason.


Bagi Jason, pesta malam itu, berakhir dengan petaka. Ia dituduh memerkosa Trixie. Celaka bagi Jason. Pada pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan Trixie telah dicekoki ketamine, nonbarbiturat yang kerap salah digunakan sebagai perangsang seks oleh anak-anak muda. Jason harus diadili sebagai orang dewasa.


Kehancuran masa depan Jason yang gemilang sebagai seorang pemain hoki tampan tidak menggugah hati Daniel Stone. Peristiwa yang dialami putrinya telah mengoyak kebohongannya sehubungan dengan amarah yang sekian tahun dibenamkan dari hidupnya.  Namun tiba-tiba, amarahnya terpaksa harus dikendalikan. Kasus pemerkosaan Trixie berubah menjadi kasus pembunuhan.  Daniel harus kembali ke masa lalu, ke Bethel lain yang telah ia tinggalkan dan mencoba menyelamatkan keluarganya. 


The Tenth Circle merupakan novel kelima Jodi Picoult yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebelumnya telah terbit Salem Falls, Plain Truth, My Sister's Keeper, dan Vanishing Acts. Novel yang edisi Inggrisnya terbit pertama kali Maret 2006 ini telah difilmkan (film TV) oleh Sony Pictures Television (2008). Seperti minatnya, penulis yang menulis cerita pertamanya pada usia 5 tahun dengan judul "The Lobster Which Misunderstood" ini masih mengandalkan problematika keluarga Amerika. Kali ini ia mengetengahkan sebuah keluarga yang anggotanya tidak terbuka satu sama lain, dan memiliki kecenderungan membohongi diri sendiri dan orang lain. Pergumulan pikiran masing-masing dipendam sendiri sehingga tidak peka menanggap isyarat petaka. Begitu masalah datang, mereka tidak siap menghadapinya dan cenderung memilih jalan yang termudah, bukan yang terbaik. Picoult mengingatkan pembaca bahwa keterbukaan dalam keluarga sangat penting, menjadi modal bagi keutuhan keluarga. 


Tidak hanya mengikuti masalah keluarga, membaca novel ini akan mengundang pembaca untuk bertanya-tanya seputar pembunuhan yang terjadi. Bagaimana terjadinya? Siapa yang melakukan tindakan kriminal itu? Tak pelak lagi, kisah drama keluarga ini pun terselip kisah detektif. Semuanya bergulir dalam alur kilas balik yang dirangkai dengan baik sehingga enak dibaca.


Sebetulnya, The Tenth Circle tidaklah sangat istimewa. Cerita yang ditawarkan penulis kelahiran 19 Mei 1966 ini bukanlah sesuatu yang sangat baru. Tetapi, ide Lingkaran Kesepuluh yang lahir dari Divine Comedy cukup mengesankan. Para pakar Dante mungkin tidak pernah terpikir untuk mengusulkan lingkaran baru dalam Lingkaran Neraka Dante. Picoult melakukannya, dengan brilian. Untuk memperkuat gagasan Lingkaran Kesepuluh ini, Picoult bekerja sama dengan Dustin Weaver, seniman komik yang pernah terlibat dalam pembuatan komik Star Wars dan King Kong. Penambahan komik di antara halaman-halaman novel tidak hanya membuat novel ini unik dan tampil beda, tetapi juga membuat pembaca lebih memahami gagasan sang novelis.

 

Tentu saja komik karya Weaver tidak dijejalkan begitu saja. Salah satu karakter novel yaitu Daniel Stone, adalah seorang komikus. Ketika cerita novel digelar, ia sedang menyelesaikan novel grafis berjudul The Tenth Circle. Keluarganya menjadi sumber inspirasi Daniel. Oleh karena itu, kisah dalam novel maupun komik merupakan kisah keluarga Daniel yang sebenarnya. Sayangnya, ide Lingkaran Kesepuluh yang digunakan Daniel dalam novel grafisnya akan menimbulkan pertanyaan. Daniel memang tahu minat dan spesialisasi istrinya,  namun sudah pasti ia tidak tahu ide Lingkaran Kesepuluh yang hinggap di benak istrinya.


 

Sebelum menikah, Laura telah mengenal Daniel sebagai seniman komik. Pada pertemuan pertama mereka, Daniel membuat sketsa wajah Laura. Pada sketsa itu, Daniel membubuhkan pesan tersembunyi, mengajak Laura untuk bertemu kembali. Dalam komik yang mengisi novel ini, terdapat 86 huruf yang menjadi pesan tersembunyi Picoult untuk ditemukan dan dirangkai pembaca. Jika berhasil, semua huruf itu akan membentuk kutipan yang meringkas tema novel dan nama pengarang kutipan itu. Anda bisa mengetahui benar tidaknya jawaban Anda dengan mengunjungi situs sang novelis  (www.jodipicoult.com).

 

Posted at 01:35 pm by Jody
Comments (2)  

Wednesday, March 11, 2009
PERJALANAN MENUJU CAHAYA




Judul: Perjalanan Menuju Cahaya

Penulis: Yudhi Herwibowo

Penyunting: Benedhicta Rini W

Penerbit: Sheila (sebuah imprint dari Penerbit Andi)

Tebal: viii + 200 hlm; 13 x 19 cm

Terbit: Cetakan 1, 2008

 

 

MENGULANG PERJALANAN OPA MORA

 

Perjalanan Menuju Cahaya karya Yudhi Herwibowo, adalah pemenang ketiga Sayembara Novel Inspirasi Penerbit Andi Yogyakarta 2005. Bagi Yudhi, novel ini merupakan karya yang istimewa karena sengaja ia tulis untuk mengenang tempatnya menghabiskan masa remaja, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebelumnya, Yudhi yang dulu menulis buku komputer dan internet, telah menulis novel-novel seperti Lama Fa yang memenangkan Sayembara Femina 2005, Ekspedisi Bukit Kaja dan Menuju Rumah Cinta-Mu. Menggunakan pseudonim Hikozza, Yudhi telah menerbitkan Seven Samurai dan Samurai Cahaya (bukuKitta).

 

Selain karya sebelumnya, seperti pengakuan Yudhi, untuk novelnya yang ke-21 ini, beberapa karya telah menyumbang inspirasi. Misalnya film Big Fish (yang dibuat berdasarkan novel Daniel Wallace berjudul sama), komik Deni Manusia Ikan (yang dulu pernah mengisi halaman majalah anak-anak), Stardust (film yang didasarkan atas novel Neil Gaiman), The People You Meet in Heaven (novel Mitch Albom), dan manga dari Urasawa Naoki, 20th Century Boys.  

 

Yudhi pun menciptakan karakter Duara Dhetan, seorang lelaki yang hidup dalam kenangan kisah-kisah luar biasa kakeknya, Morabius Dhetan (Opa Mora). Walau kisah-kisah sang kakek disangsikan banyak orang, termasuk ayah Duara –yang adalah anak Opa Mora, kisah-kisah itu terus terbawa hingga Duara dewasa. Bahkan timbul keinginan dalam dirinya untuk membuktikan jika kisah-kisah Opa Mora bukan sekadar dongeng pengantar tidur atau bualan kosong. Keinginan itu menguat setelah ia dipecat dari pekerjaan dan kabar meninggalnya Opa Mora di Ende (Flores) sampai kepadanya.


Setelah pemakaman, Duara memutuskan menapak tilas perjalanan yang dilakukan Opa Mora. Mencari kebenaran tentang sebuah tempat yang pernah menjadi menjadi wilayah terindah di Nusa Tenggara. Seorang lama fa (pemburu ikan paus) yang lebih suka bermain-main dengan paus ketimbang memangsa hewan-hewan laut itu. Manusia ikan yang tinggal di sebuah teluk yang indah. Sirkus yang tidak bisa disaksikan sembarang orang. Pohon yang bisa mengabulkan permintaan hujan. Ke dalam perjalanan ini, Duara menambahkan sebuah tujuan yang menghilang dari kisah-kisah kakeknya. Sebuah tempat yang nyaris pudar setelah dilanda tragedi, tetapi menyimpan seorang perempuan yang mengesankan.

 

Perjalanan Duara tidak hanya menjadi perjalanan mengulang kenangan kakeknya, namun juga menjadi perjalanan mengenal lebih jauh sosok kakeknya. Sebab, dalam perjalanan ini, Duara jadi kian mengenal sosok  Opa Mora termasuk sebuah rahasia indah yang dibawanya mati. Pada salah satu titik di perjalanan, Duara sadar akan menyimpan rahasia yang mirip dalam kehidupannya kelak.

 

Tambahan judul pada sampul novel  -"Mengulang Perjalanan Opa Mora"- akan memberi tahu pembaca bahwa apa yang dikisahkan Opa Mora benar-benar terjadi. Sehingga, bagi pembaca, kisah perjalanan Duara tidak terkesan lagi sebagai perjalanan untuk membuktikan kebenaran cerita-cerita yang pernah ia dengar. Perjalanan Duara menjadi kesempatan pembaca untuk bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi dalam perjalanan Opa Mora bertahun-tahun lalu dan apa yang akan terjadi pada Duara dalam perjalanannya ini. Yudhi memuaskan pembaca dengan membentangkan kedua perjalanan ini secara paralel, tiap kali Duara tiba di tempat tujuan.



 

Semua perjalanan diceritakan dengan asyik dan imajinatif, kerap bagaikan keluar dari halaman-halaman cerita dongeng. Setiap lokasi menyediakan kejutan yang berpotensi memacu pembaca untuk terus membaca. Bisa dibilang, inilah yang menjadi keunggulan Yudhi sebagai pencerita dalam novel ini.  Ia punya bakat memikat pembaca dengan kisah menakjubkan yang akan membekas di ingatan. Sekaligus kemampuan mengimbuhkan pesan moral yang tidak dikhotbahkan namun bisa ditangkap sendiri oleh pembaca. Kelemahannya, masih banyak dijumpai kalimat-kalimat yang kurang terangkai dengan baik. Penyiangan yang lebih tekun dari penyunting seharusnya akan membuat novel ini lebih enak dinikmati. Dan membuat Perjalanan Menuju Cahaya menjadi lebih gemerlap.




Catatan:

Foto penulis diambil dari facebook.

 

Posted at 08:54 am by Jody
Comments (2)  

Monday, February 23, 2009
NEL



Judul: Nel

Penulis: Dalih Sembiring

Penerbit: Pink Ink Publisher, Mei 2009



ZIARAH CINTA DI BINJAI

 

Nel merupakan novel perdana bertema dewasa dari penulis muda Dalih Sembiring. Sebelumnya, Dalih telah mengukir namanya sebagai cerpenis yang menyebarkan karyanya di media seperti Jurnal ON/OFF, Horison, Jurnal Cerita Pendek Indonesia, dan The Jakarta Post. Dalih menyumbang cerpen bertajuk Sebuah Ruangan Berdinding Abu-abu dalam antologi cerpen LGBT berjudul Rahasia Bulan (Gramedia, 2006). Dalam perjalanan kepengarangannya, kelahiran Binjai (Sumut) 4 Mei 1983 ini telah melahirkan sebuah novel remaja berjudul Cha untuk Chayang (Maret, 2007) dengan sahabatnya, Abmi Handayani. Tentang Nel pertama kali disinggung ketika fragmennya yang berjudul Ilham dimuat di Jurnal ON/OFF Mei 2005. Disebutkan bahwa Nel yang tengah ditulis Dalih adalah sebuah novel semi autobiografis.

 

Membaca cerpen-cerpen penulis yang telah menulis naskah film berjudul Kado Hari Jadi (disutradarai Paul Agusta) ini, saya melihat bakat yang belum banyak diekspos dalam jagat sastra Indonesia. Sehingga, ketika bertemu Dalih di Yogya suatu waktu, saya sempat menanyakan nasib novelnya yang belum rampung. Tentu saja saya gembira ketika akhirnya menerima kabar darinya kalau Nel berhasil dituntaskan. Novel bertema homoseksualitas ini akan diterbitkan Mei 2009 oleh Pink Ink Publisher. Kabarnya, penerbit ini memiliki misi menyediakan bacaan bertema LGBT yang berkualitas dan ditujukan sebagai wadah para penulis untuk mengekspresikan diri, tanpa batasan gender maupun tema. Pengejawantahan misi ini tentu akan menjadi bahan evaluasi pembaca nanti.

 

Pada awal novel, Dalih menyorongkan kepada pembaca ikhwal seorang gadis bernama Vian yang sedang bersedih. Ia harus berpisah dengan lelaki yang ia cintai, Daniel Sebayang atau Nel.  Vian menghadapi kenyataan getir: mencintai seorang lelaki yang pernah mencintai dua laki-laki sebelumnya. Dua lelaki yang merongrong jalinan cintanya dengan teman sekelas di Arsitektur UGM ini. Bahkan sanggup merenggut kekasihnya itu dari sisinya, dengan telak.

 

Lelaki pertama bernama Ilham. Dalam diri teman masa kecil di Binjai inilah Nel memastikan orientasi seksualnya. Cinta sejenis tumbuh hingga masa remaja menyapa. Kendati mesti berpisah 3 tahun karena ayah Nel melanjutkan studi di Canberra (Australia), cinta di antara mereka tidak merenggang. Upaya Ilham untuk memacari perempuan tidak bisa menghalau rasa yang sudah ditanamkan. Sayangnya, sebelum Nel menyatakan cinta, pada 29 Juni 2001 Ilham dirampas dari sisinya, tewas dalam sebuah kecelakaan.

 

Pada September 2002, Nel yang telah bermukim di Yogya dengan keluarganya, kembali ke kota kelahirannya, Binjai. Tujuan Nel tidak lain adalah untuk berziarah ke makam kekasihnya. Di Binjai, Nel juga akan berjumpa Elis, perempuan yang dikenalnya di Australia. Elis telah menerima undangan Nel, dan akan datang bersama Shane, lelaki bule yang sudah 6 tahun hidup bersama dengannya. Perempuan berdarah Manado ini telah tergiur dengan kabar Nel tentang durian dan mawas.

 

Dalam perjalanan menuju Binjai, di atas Kapal Sinabung, Nel bertemu lelaki misterius yang memperkenalkan diri sebagai Aryo. Anehnya, Aryo tampaknya telah mengenal Nel. Aryo yang mengaku sebagai lulusan States konon punya urusan di Medan. Pilihan Aryo untuk menumpang Sinabung tidak mengusik benak Nel: betapa seorang yang mengaku lulusan States dan tampaknya punya bisnis meraup rupiah mau berlelah-lelah di kelas ekonomi sebuah kapal laut.  Karenanya, Nel bingung, ketika tiba di Batam, Aryo mendadak meninggalkannya. Namun tak diragukan lagi, Aryo menjadi lelaki kedua yang berhasil membuat Nel mencampakkan Vian.

 

Tujuan Nel ke Binjai pun tercapai. Ia bisa menyambangi makam Ilham. Tetapi, kedatangannya di kota ini mengundang Ilham dalam mimpinya.  Pada salah satu mimpi, Ilham berkata: "Pilihannya cuma dua, Nel. Kau yang mati, atau aku. Kau dan aku sudah berbuat terlalu jauh. Bukan, bukan karena kita sama-sama laki-laki. Kematian adalah satu-satunya cara menebus ketidakpahaman kita, sementara kita paham bahwa kita laki-laki." Nel sama sekali tidak bisa menakbirkan mimpinya. Dan mimpi seakan tidak mau bersudah, bahkan setelah Elis dan Shane yang sudah tiga tahun tak bersua menjejak Binjai. Dalam perjalanan dengan kedua sahabatnya menuju Bukit Lawang, Ilham menyelip dalam mimpi Nel, menyorongkan teka-teki kematiannya. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan Ilham lewat mimpi kepada Nel? Apa maksud Ilham dengan ucapan-ucapannya yang berkisar pada dua kata: payudara dan ketidakpahaman? Mungkinkah mimpi itu hanyalah kembang tidur yang tidak bermakna apa-apa?

 

Masih di Bukit Lawang, Nel mendapat kabar jika Gurung, kakeknya, masuk rumah sakit. Begitu menerima kabar itu, tanpa pikir panjang, Nel ngotot kembali ke Binjai. SMS seseorang bernama Mageng Sadewa mencoba mengurungkan niat Nel. Saat itu, Binjai memang tengah dilanda ketegangan. Kerusuhan dipantik kalangan yang seharusnya menjaga keamanan: polisi dan tentara. Belum lagi kasus perusakan rumah keluarga Cina yang berpotensi membakar situasi. Tetapi, siapa sebenarnya Mageng Sadewa yang kelihatannya membuntuti perjalanan Nel diam-diam? Jati diri Mageng Sadewa baru menjadi jelas ketika hari berikutnya, Nel dan kedua sahabatnya memutuskan kembali ke Binjai. Pada penghujung perjalanan mengundang maut itu, Nel akhirnya menyaksikan jika mimpinya tidak hanya sekedar kembang tidur. Ia mendapatkan jawaban teka-teki Ilham. Dan mesti menerima pesan lelaki pertamanya itu,  "Kisahku telah digenapi, Nel. Bukan kisahmu. Kau harus hidup untuk meneruskan ceritamu sendiri."  Di dalam kehidupan itu, Aryo telah menanti, dengan cinta yang penuh ketidakpastian, namun sanggup menggeser sekuntum teratai putih nan cantik.

 

Novel ini merupakan pembuktian kemampuan estetika Dalih Sembiring sebagai pencerita. Saya suka banyak rangkaian kalimatnya yang diuntai dengan indah. Kosakatanya terasa kaya, tetapi selektif. Simak guratan Dalih seperti berikut:  "Bahtera Sinabung terbebat gelap pekat seperti seekor sotong raksasa yang kehilangan pigmennya setelah menyemprotkan tinta hitam ke sekitar." Atau "Mereka menyaksikan matahari merayap naik mengutuhkan bulatannya di atas horison. Cahayanya kuning lemon dan laut beriak runtut. Langit tersapu awan kabu-kabu seperti selendang flanel putih yang robek belasan perca. "

 

Simak pula keelokan Dalih mendedah kalimat berikut  ini: "Bahwa makhluk paling indah yang pernah diciptakan masih ada di bumi. Ia hadir berulang kali dalam wujud dan anasir apapun, namun kini ia punya nama: candu, cemburu, cinta, coba, cura. Kau tak dapat memilih kapan ia datang. Dan saat benar ia datang, cobalah untuk tidak buru-buru menampiknya. Bila akal telah tunduk, segenap rasamu telah takluk, rengkuh dia di dada, jadikan bagian yang baru dari sebelah hatimu."

 

Pada banyak bagian, kita akan menemukan kecanggihan Dalih berbahasa. Termasuk dalam menarasikan riwayat seseorang. Perhatian saya terbetot pada kisah hidup Alicia Martina Litaray. Diam-diam, Elis yang begitu terbuka dan bebas, menyimpan masa lalu yang kelam. Ia adalah pemangkas hidup keluarganya gara-gara sindroma yang telat disadarinya. Dalih mendapuk Elis sebagai pengidap sindroma Capgras. Sindroma yang pertama kali didiagnosis pada tahun 1920 di Prancis ini membuat Elis memandang kedua orangtuanya sebagai duplikat orangtuanya yang sejati. Jujur, saya belum pernah membaca kasus sindroma Capgras dalam sejarah penyakit di Indonesia. Namun seperti beberapa kasus yang pernah terjadi di Barat, kasus sejenis mungkin saja terjadi di sini. Bisa dikatakan, Dalih berhasil menjabarkan pergumulan pikiran penderita sindroma ini dengan tangkas dan memberikan efek yang menggetarkan. Sayangnya, ide brilian ini hanya mengambil tempat di masa lalu Elis. Apakah di masa kini Elis akhirnya pulih? Oh, tentu saja saya menyangsikan. Karenanya, saya membayangkan sindroma ini akan membuat hubungan Elis dan Shane tercabik-cabik ketika mereka berada di Binjai. Saya mengira Dalih akan melakukannya manakala ia menyampaikan bahwa sejak kedatangan di Binjai pasangan itu lebih banyak diam. Ternyata, tidak. Mungkin karena masalah Elis memang bukan topik utama yang hendak digelontor. Namun, karena kadung diangkat, kenapa tidak dibeber lebih tanpa menjuruskan novel ini pada genre thriller?

 

Dalam bertutur Dalih dengan bebas berganti-ganti perspektif, yang kadang-kadang terkesan 'blur', kendati tidak membuat bingung. Kerap sedang menggunakan perspektif orang ketiga, Dalih bermain-main dengan orang pertama. Kadang juga ia menggunakan perspektif orang kedua, seolah-olah ia sendiri sedang berbicara pada pembaca. Alhasil, apa yang hendak dibeber Dalih tersaji lebih menarik, tidak terasa monoton dan pembaca tetap bisa merintis plotnya.

 

Untuk menggulirkan plot, Dalih tidak hanya mengandalkan teknik penulisan konvensional. Ia pun tak segan menggunakan bentuk penulisan skenario tatkala menggulirkan musabab dan terjadinya kerusuhan di Binjai. Hal ini bisa dipandang sebagai cara untuk berkelit dari potensi terjadinya lanturan. Sebab, dengan menggunakan teknik penulisan konvensional, kemungkinan Dalih akan terlalu mengalihkan konsentrasi pembaca terhadap cerita utama -meskipun dampak kerusuhan ini membuat Nel memahami arti pesan Ilham dalam mimpi-mimpinya. Bentuk penulisan skenario yang diimbuhkan dalam novel bukanlah hal baru. Clara Ng pernah mencomot gaya yang sama pada beberapa bagian novelnya yang bertajuk The Un(Reality) Show (Gramedia, 2005). Demikian juga penyajian isi chatting antara Nel dan Vian yang digunakan Dalih pada penghujung novel. Sudah banyak diterapkan dalam novel-novel Indonesia.

 

Tema utama novel ini sudah jelas: homoseksualitas. Namun perlu dicatat: Dalih tidak jalan di tempat. Ia tidak menyampaikan kisah stereotipikal lelaki homoseks yang acap dikemukakan, bermasalah dengan keluarga dan penerimaannya di tengah masyarakat. Bagi Dalih, hubungan cinta homoseksual bukanlah sesuatu yang harus dijadikan beban. Sama wajarnya dengan cinta heteroseksual, dengan batasan-batasan yang sama. Dalih juga menanggalkan kisah cinta sejenis yang menggebu-gebu. Kecuali identifikasi orientasi seksual antara Nel dan Ilham pada masa kecil mereka yang dibentangkan pada bagian berjudul Ilham (yang juga dimuat dalam jurnal ON/OFF, Cinta Pertama:  Kisah Pramoedya, Remaja dan Homoseksual), Dalih tidak menghidangkan sajian seks tak penting yang berkesinambungan di sekujur novel. Bagaimanapun, tidak semua pembaca bisa menikmati eksplorasi aktivitas seksual dalam karya fiksi: hetero atau homo. Saya kira, Dalih sangat menyadari hal ini.

 




Posted at 09:08 am by Jody
Comments (3)  

Tuesday, February 17, 2009
MA YAN



Judul Buku: Ma Yan

Penulis: Sanie B. Kuncoro

Editor: Rahmat Widada

Tebal: viii + 214 hlm

Terbit: Cetakan 1, Januari 2009

Penerbit: Bentang (Lini Laskar Pelangi)

 

 


"Kau mungkin tak bisa kembali bersekolah."

 "Tega sekali Ibu kepadaku. Bagaimana mungkin aku tidak boleh bersekolah? Zaman sekarang tidak mungkin orang bisa hidup tanpa pendidikan. Bahkan petani memerlukan pengetahuan tentang cara bercocok tanam yang tepat untuk mendapatkan hasil panen terbaiknya."


 

Kutipan di atas merupakan potongan percakapan Ma Yan, seorang gadis kecil China dari Muslim Hui, dengan ibunya, Bai Juhua, tatkala karena alasan keuangan, ibunya menyorongkan ide untuk meninggalkan sekolah. Orangtua Ma Yan tidak memiliki dana untuk terus membiayai sekolah Ma Yan dengan seorang adik laki-lakinya di sekolah dasar Yuwang. Maka, Ma Yan diminta menerima kenyataan itu dan merelakan hanya adiknya yang bersekolah. Namun, di hadapan ibunya, Ma Yan tetap menunjukkan tekad untuk tetap bersekolah. Bahkan, untuk memperkuat tekadnya, Ma Yan menulis sepucuk surat yang dialamatkan kepada ibunya, kendati ia tahu, ibunya buta huruf.

 

Kisah Ma Yan tertuang dalam buku bertajuk The Diary of Ma Yan : The Struggles and Hopes of a Chinese Schoolgirl. Seperti judulnya, buku yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Prancis ini, merupakan catatan harian Ma Yan. Buku ini diedit dan dipublikasikan oleh Pierre Haski, seorang jurnalis asal Prancis kelahiran Tunis.

 

Pierre Haski mendapatkan diari Ma Yan langsung dari Bai Juhua pada Mei 2001. Saat itu, ia tengah berada di Zhangjiashu –desa yang terletak ribuan kilometer di sebelah barat laut Beijing. Bak melempar botol bersi pesan ke laut lepas, ibu Ma Yan menyerahkan tiga buku catatan harian warna cokelat dan sepucuk surat yang ditulis Ma Yan. Ada harapan yang disemai Bai Juhua. Anaknya yang bersikukuh tetap bersekolah di tengah kemiskinan akan mendapatkan pertolongan. Memang, setelah menggugat dan memohon kepada ibunya, Ma Yan tetap diizinkan bersekolah. Walaupun, untuk kekerasan hati Ma Yan ini, Bai Juhua harus meminjam uang sebesar 70 yuan dan bekerja keras sebagai pemanen fa cai di lokasi berjarak 400 km dari desanya.

 

Dalam catatan harian Ma Yan yang diterjemahkan He Yanping, asistennya, ke dalam bahasa Prancis, Haski menemukan hasrat yang kuat dari gadis remaja ini untuk menikmati pendidikan. Terdapat keyakinan di dalam diri Ma Yan, pendidikan akan membantu mengangkat keluarganya dari jurang kemiskinan. Sedangkan dalam surat untuk ibunya yang ditulis dengan penuh amarah di bagian belakang kantung benih buncis, Haski mendapatkan suara hati Ma Yan yang tidak terima ketika pintu baginya untuk kembali bersekolah hendak ditutup, lantaran kekeringan yang melanda desanya selama 5 tahun berturut-turut membuat orangtuanya gagal menggenggam banyak yuan. Pendidikan warga miskin memang tidak menjadi perhatian pemerintah China. Apalagi, untuk seluruh China peningkatan anggaran pendidikan kalah cepat dibandingkan anggaran pertahanan yang mencapai enam kali lebih besar. Bahkan, tewasnya 38 anak sekolah dan 4 guru di desa Fanglin (Provinsi Jiangxi di barat daya China) pada Maret 2001 dimanipulasi pemerintah sebagai perbuatan orang gila yang ingin bunuh diri. Padahal, anak-anak itu sedang membuat kembang api untuk membayar gaji guru-guru yang tertunggak secara tetap.

 

Artikel mengenai Ma Yan yang ditulis Haski dimuat di harian Libération pada 11 Januari 2001. Kisah gadis Muslim Hui ini mendapatkan perhatian banyak orang dan memunculkan ide untuk menerbitkan diarinya sebagai buku. Maka, lahirlah The Diary of Ma Yan, yang dijadikan sumber utama penulisan buku Ma Yan (Perjuangan dan Mimpi Gadis Kecil Miskin di China untuk Meraih Pendidikan) yang diterbitkan Penerbit Bentang Pustaka melalui lini Laskar Pelangi. The Diary of Ma Yan merupakan rekaman kegiatan dan pengalaman Ma Yan dalam dua periode. Periode pertama, 2 September hingga 28 Desember 2000, sedangkan periode kedua, 3 Juli hingga 13 Desember 2001. Bagian yang hilang di antara dua periode ini disebabkan karena kertas-kertas berisi catatan Ma Yan dipakai ayahnya melinting rokok.

 

Masalah pendidikan yang terjadi di Ningxia (termasuk Zhangjiashu) memang disebabkan karena negara telah lama menanggalkan segala tanggung jawab di daerah Muslim itu. Sisten pendidikan China hanya dijalankan demi kepentingan ideologi negara dan bertujuan membentuk warga komunis yang taat di beberapa tempat. Agar bisa bersekolah, orangtua dituntut bekerja keras untuk memperoleh 200 yuan dan 25 kilogram beras, yang harus disetorkan ke sekolah anak-anak mereka. Selain itu, anak-anak membutuhkan uang saku yang bisa dipakai membeli sayur guna membubuhkan sedikit rasa enak pada semangkuk nasi yang menjadi menu makanan siang di asrama sekolah.

 

Padahal alam di sana tidak cukup ramah. Hujan enggan turun bertahun-tahun sehingga mengakibatkan kekeringan yang memangkas sebagian besar hasil ladang.  Bahkan saking kerontangnya lahan orang-orang di Zhangjiashu menyeduh teh menggunakan air dari salju yang mencair dan tayamum dengan pasir. Hasil ladang yang minim mendorong warga Muslim Hui mencari pekerjaan lain. Para ibu meninggalkan desa untuk memanen fa cai, dan suami mereka pergi ke tempat seperti Mongolia Dalam untuk bekerja di proyek konstruksi.

 

Dari Zhiangjiashu yang menurut Haski "agak menyerupai ujung dunia" ini, Ma Yan dan adiknya bersekolah ke Yuwang, sekitar 20 kilometer dari rumah. Kemiskinan membuat mereka mesti berpikir untuk menumpang traktor. Jalan kaki selama 4-5 jam mengundang bahaya, tetapi mereka tidak selalu punya 1 yuan untuk ongkos traktor. Maka, kerap mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki; dalam panas terik atau dingin salju. Bukan hanya itu saja, kemiskinan membuat orangtua Ma Yan hanya sanggup membekali anak-anak mereka 1 yuan seminggu. Di asrama, mereka tidak makan pagi; makan siang hanya semangkuk nasi tanpa lauk; makan malam sekadar sepotong roti kukus yang dibuat Bai Juhua untuk konsumsi seminggu. Dengan uang saku 1 yuan, mereka bisa membubuhkan sayur ke dalam makan siang. Namun 'kenikmatan' ini tidak bisa selalu dicicip. Ketika Ma Yan menghendaki sebatang pulpen seharga 2 yuan,  selama 15 hari, setiap siang, ia hanya makan nasi yang kian lama kian terasa tidak enak di lidah.

 

Manakala dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkan sekolah, Ma Yan bagaikan terpuruk. Ia kecewa pada orangtuanya. Sebab, sekolah adalah harapan Ma Yan. Dengan bersekolah Ma Yan berpikir ia akan mendapatkan jalan keluar untuk mengentaskan kemiskinan keluarganya. Ma Yan tidak ingin nasibnya berakhir seperti ibunya; hanya setahun bersekolah lalu pada usia 16 tahun dinikahi seorang lelaki miskin. Ma Yan sudah berusaha untuk mengukir prestasi, walau tak bisa mengelak dari kegagalan yang membuat perkataan ibunya menyilet hatinya. "Apa gunanya segala kerja keras ayahmu? Jika kau terus mendapat nilai jelek seperti itu, kau tak layak mendapat roti yang kubuat untuk bekalmu setiap pekan. " (hlm. 106).

 

Kemiskinan terasa berat membebani hidup keluarga Ma Yan. Rasa sakit mesti ditepis agar bisa meraup yuan yang tak seberapa untuk bertahan hidup. Setiap tahun mereka mengejar penghasilan dengan rata-rata sekitar 400 yuan. Nilai yang begitu memprihatinkan jika dibandingkan rata-rata penghasilan tahunan China yang mencapai 6000 yuan atau Shanghai yang berkisar 33.000 yuan. Empat ratus yuan berarti setara dengan biaya sekolah dua anak dasar selama 1 semester; belum lagi kebutuhan lain. Dengan bekerja keras, hanya televisi hitam putih yang bisa mereka beli untuk menyentuhkan sedikit kesenangan dalam hidup. Maka, hari demi hari, tulang harus dibanting, meski sampai terasa lantak.

 

Sanie B. Kuncoro, salah satu penulis prolifik pada masa kejayaan majalah Anita Cemerlang dan yang telah memenangi lomba mengarang di sejumlah majalah terpilih untuk novelisasi kehidupan Ma Yan. Ke dalam 18 bab, Sanie menggelar kemiskinan Zhangjiashu, usaha keluarga Ma Yan untuk tetap eksis, dan perjuangan Ma Yan agar tetap bersekolah. Sudah bisa dipastikan, pembaca tidak bisa berharap menemukan kejutan dalam novel ini. Sebagai novel yang beranjak dari kisah nyata, ikhwal kehiduan Ma Yan mungkin sudah terang benderang bagi sebagian pembaca. Oleh sebab itu, diperlukan penulis yang peka, dengan kekayaan kelembutan yang mengundang simpati, untuk bisa menghidupkan kembali Ma Yan dalam bahasa kita dengan cara memikat.

 

Tak ragu dikatakan, Sanie B. Kuncoro yang juga menulis buku Kekasih Gelap (2006), merupakan pilihan yang tepat. Ia berhasil menganyam kisah Ma Yan dengan penuh perasaan sehingga menghasilkan efek yang menyentuh hati. Bahkan ketika mendeskripsikan ulang kemiskinan, Mao Zedong, dan fa cai, Sanie berhasil menggugah dengan kecanggihannya merangkai kalimat.


Untuk menggulirkan cerita, Sanie mengandalkan perspektif orang pertama, yaitu dengan menggunakan Ma Yan dan Bai Juhua sebagai narator. Sebagian kecil digurat dari perspektif orang ketiga, ketika Sanie menyampaikan kisah Pierre Haski. Deskripsi tentang 'Dataran yang Dahaga' dan fa cai seolah lepas dari kedua macam perspektif ini, seakan-akan Sanie sendiri yang tengah bertutur. Mungkin yang paling menarik adalah tatkala Bai Juhua, ibu Ma Yan, yang berkisah. Efek yang dihasilkan terbilang mengejutkan. Bai Juhua, yang notabene buta huruf –dan tidak pernah membaca, memiliki kecakapan bertutur dengan indah. Pemilihan perspektif ini memang keputusan Sanie sendiri dan harus diakui agak riskan. Tidak bisa dipungkiri, latar belakang pendidikan pasti berpengaruh pada cara bertutur seseorang.


Latar belakang kehidupan Bai Juhua cukup menarik disimak. Dari kehidupan sederhana, menikahi Ma Dongji dari keluarga melarat, Bai Juhua menceburkan diri dalam kemiskinan. Jika disimak teliti, Sanie tampaknya sedikit lengah. Hal ini berhubungan dengan Bai Juhua yang hanya mengenyam pendidikan setahun dan dipulangkan dari sekolah sehingga tetap buta huruf. Sebelumnya, Sanie menulis bahwa ayah Bai Juhua adalah "seorang yang ahli mengolah tanah pertanian dan mencukupi kebutuhan makan keluarganya dengan kesederhanaan, seorang ayah yang membiarkan anak perempuannya tumbuh tanpa pendidikan memadai karena beranggapan bahwa kaum perempuan tidak memerlukannya".(hlm 26-27). Saya menyimpulkan jika keluarga Bai Juhua sesungguhnya tidak masuk kategori miskin sehingga susah untuk mendapatkan makanan. Tetapi selanjutnya, Bai Juhua mengatakan pada anaknya bahwa ia dibawa pulang dari sekolah karena "tidak ada uang untuk membeli beras, apalagi membayar uang sekolah" (hlm. 134). Nah, saya kira, bagian kecil yang tampak kurang penting ini memang luput dari perhatian editor.

Yang pasti, novel Ma Yan adalah sebuah kisah nyata inspiratif yang layak dibaca. Ia mengingatkan pembaca bahwa masih ada manusia yang tidak gampang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal sekalipun mereka sangat mendambakannya. Karenanya, bagi yang memiliki kesempatan, seharusnya memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Mungkin, kerelaan Ma Yan berjalan kaki 5 jam mencapai sekolah, ketegaran Ma Yan menahan keinginan perutnya demi sebatang pena, uraian air mata Ma Yan untuk mempertahankan haknya sebagai anak yang perlu bersekolah, akan mengetuk hati pembaca yang masih sedang bersekolah dan kerap tergoda sehingga mengabaikan kesempatan yang ada. Namun, membaca kisah Ma Yan mungkin akan melahirkan pertanyaan bagi kita semua: apakah sistem pendidikan di negara kita telah bisa merespons dengan baik keinginan bersekolah semua anak Indonesia? Jangan-jangan malah ada banyak anak Indonesia yang nasibnya lebih malang dari Ma Yan. Yang tidak pernah terlintas untuk menulis diari karena tidak punya buku dan pena, dan tak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara di televisi nasional serta menghadiri acara Book Fair di Paris.

 

 

Posted at 01:46 pm by Jody
Comments (4)  

Friday, February 06, 2009
THE ROAD TO THE EMPIRE



Judul buku: The Road to the Empire

Penulis: Sinta Yudisia

Penyunting: Taufan E. Prast

Tebal: 584 hlm; 13 x 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, Desember 2008

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House

 

 

JALAN PANJANG PANGERAN ISLAM MONGOL

 


Meskipun ada, tidak banyak penulis fiksi Indonesia yang memanfaatkan sejarah bangsa lain untuk dihadirkan dalam karya-karyanya. Padahal, penulis-penulis luar, terutama dari negara berbahasa Inggris, banyak mendedahkan masa lalu bangsa lain dalam karya-karyanya. Sebut saja Lian Hearn, penulis Kisah Klan Otori atau Lesley Downer, penulis The Last Concubine.

 

Sinta Yudisia Wisudanti, kelahiran Yogyakarta 18 Februari 1974, yang telah menghasilkan hampir 40 buku, antara lain Lafadz Cinta dan Pink, melesat keluar dari kerumunan penulis fiksi Indonesia dan dengan berani menyeret masa lalu bangsa Mongol untuk dijadikan panggung konflik novel anyarnya, The Road to The Empire. Pemenang berbagai lomba menulis fiksi ini menghidupkan kembali salah satu penguasa berdarah Mongol bernama Takudar Khan yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam. Sebelumnya ia telah menulis kisah Takudar dalam Sebuah Janji (Takudar 1) dan The Lost Prince (Takudar 2). Bisa dikatakan keduanya menjadi Trilogi Takudar jika digabungkan dengan The Road to The Empire.

 

Kisah dalam Takudar 3 ini dimulai dari Tuqluq Timur Khan, seorang keturunan Jenghiz Khan yang menguasai imperium Mongolia suatu masa (tidak dijelaskan latar waktu cerita ini). Timur Khan memiliki tiga anak lelaki: Takudar, Arghun, dan Buzun. Dalam perburuan di Gurun Gobi, ia bertemu dengan sekelompok musafir di bawah kepemimpinan Syaikh Jamaluddin. Karena mengganggu keasyikan sang kaisar, para musafir itu diputuskan akan dipancung. Namun sebelum terjadi, keislaman Syaikh Jamaluddin telah memikat Timur Khan. Bahkan sesudah mengenal Syaikh Jamaluddin, Timur Khan berjanji akan memeluk Islam, setelah ia sukses mempersatukan Mongolia. Kesepakatan dijalin antara mereka: jika kelak tidak bisa bertemu, Rasyiduddin, putra Jamaluddin, dan Takudar, putra Timur Khan, yang akan menyaksikan janji itu digenapi. Benar saja, sebelum Timur Khan melaksanakan janjinya, ia tewas dibunuh bersama permaisurinya, Ilkhata.

 

Sebelum benar-benar direnggut maut, Ilkhata meminta Takudar untuk meninggalkan Ulan Bataar. Takudar pun melarikan diri, pergi ke arah barat (pembaca tidak diberikan peta untuk memahami detail perjalanan Takudar) ditemani gadis Mongol dari klan Tar Muleng bernama Ying Chin. Dalam perjalanan selanjutnya, Takudar akan dikenal sebagai Baruji sedangkan Ying Chin akan dikenal sebagai Almamuchi dan Uchatadara.

 

Setelah Takudar menghilang, Arghun Khan, adiknya, menduduki singgasana yang seharusnya menjadi haknya. Arghun malih menjadi seorang kaisar yang sangat ambisius, bersemangat tinggi menguasai dunia, dan berhasrat meneruskan apa yang telah dirintis leluhurnya, Jenghiz Khan. Ambisi terpuncaknya adalah menaklukkan Jerusalem. Sedangkan Buzun, si bungsu, mengabdi di kekaisaran sebagai kepala perbendaharaan negara. Tanpa gembar-gembor, ia merindukan abangnya dan tidak berhenti berusaha mencari di mana Takudar berada.

 

Pelarian Takudar berakhir di Madrasah Baabussalaam, Syakhrisyabz, ketika ia bertemu Rasyiduddin (Salim), putra Syaikh Jamaluddin. Di dalam diri Baruji, Takudar ingin melupakan masa lalu. Tetapi para syaikh, gubernur Muslim, dan para pendekar dengan cita-cita yang sama, terus mengobarkan semangatnya untuk mengambil kembali tahta Mongol. Membayangkan akan adanya pertumpahan darah dalam perang melawan saudara-saudaranya, Takudar yang welas asih menjadi bimbang. Meskipun begitu, ia tetap bertekad belajar strategi perang. Ia meminta bantuan Almamuchi untuk mendapatkan Kitab Rahasia Sejarah yang merupakan kisah perjalanan hidup kaisar paling ditakuti kaum Muslim, Jenghiz Khan. Almamuchi menitipkan Takudar kepada Karadiza, gadis Muslim temperamental dari Tabriz, dan pergi meninggalkan Syakhrisyabz.

 

Di istana Mongolia, atas saran Yan Che, Arghun terpikir untuk mencari permaisuri. Selama ini ia telah mencintai Urghana, putri Panglima Albuqa Khan –yang telah mendukungnya menuju singgasana. Sayangnya, gadis itu tidak pernah merespons cintanya. Hati si jelita telah kadung tertambat di diri Buzun.  Pun ketika Arghun memutuskan menyeleksi istri dari perempuan-perempuan cantik Mongol, Urghana tetap bergeming. Ia tak menghiraukan dorongan Ankhnyam, ibunya, untuk bersaing dengan kedua adik perempuannya. Ia bahkan minta Arghun agar tidak mengusik adik-adiknya. Namun ditolak, bahkan akhirnya disekap dalam penjara karena mencoba menantang kaisar.

 

Han Shiang, selir Timur Khan yang memiliki sepasang anak, tidak tinggal diam. Ia berambisi menjadikan Bayduna sebagai istri Arghun walaupun keduanya masih sedarah. Sebelum merealisasikan ambisi ini, ia menyerahkan diri kepada Panglima Albuqa Khan untuk dijadikan selir. Dan tidak cukup hanya merancang jalan putrinya ke peraduan kaisar Mongol, ia juga mendorong putranya, Uljaytu, bergabung dalam kesatuan prajurit Mongol dengan harapan bisa menjadi perwira tinggi.

 

Melalui perjuangan yang tidak ringan, Almamuchi berhasil mendapatkan Kitab Rahasia Sejarah di Tseterleg. Perjalanan kembali ke Syakhrisyabz tertunda karena ia  bertemu Hoelun, ibunya, terlebih dahulu. Ia meminta ibunya untuk pergi bersama, tetapi menerima penolakan tegas. Setibanya di madrasah, ia mendapati Baruji dan Salim telah pergi menuju markas para pejuang di Khotar. Madrasah dihancurkan, orang-orang dibunuh, dan perempuan-perempuan diperkosa. Almamuchi harus melarikan diri untuk tidak jatuh sebagai korban kebiadaban prajurit Mongol. Karadiza -yang ditugaskan menunggunya- menolongnya meski langsung memusuhinya lantaran terlambat datang.

 

Sementara itu, rombongan penaklukan Jerusalem meninggalkan Ulan Bataar. Keputusan ini sontak menjadi ancaman bagi masyarakat Muslim. Sebab, dalam perjalanan, Arghun Khan tak tahan untuk tidak menyerang daerah-daerah Muslim. Maka Takudar harus menangguhkan diri, menggetaskan belas kasih yang tumbuh untuk adiknya Arghun, yang tidak tanggung-tanggung menyakiti masyarakat Muslim.

 

Di Tanah Cekung Turpan yang berbentuk piring, akhirnya Takudar bertemu Arghun. Sejarah berkelebat di benak Takudar: Jenghiz Khan dikalahkan pangeran Muslim Jaladdin yang menghabisi 30 ribu pasukannya di daerah Balwan yang berbentuk piring. Apakah ia akan seberuntung Jaladdin? Jawabannya tentu saja sudah bisa dirumuskan.

 

Riset dunia maya memberikan suplai data mengenai Takudar, yang dalam bahasa Mongol berarti 'sempurna'. Tidak banyak, namun cukup membuat saya mempertanyakan latar sejarah yang digunakan Sinta Yudisia. Yang saya temukan, Takudar atau Ahmad Tegüder atau Ahmad Takudar Oghlu (1247-1284) bukanlah kaisar  imperium Mongolia sebagaimana Jenghiz Khan. Ia adalah penguasa ketiga dari Dinasti Il-Khanid yang didirikan ayahnya -Hulagu Khan, sebagai wilayah pecahan Kekaisaran Mongolia. Hulagu Khan adalah saudara Khubilai Khan (1260-1294), pendiri Dinasti Yuan dan cucu Jenghiz Khan.  Setelah Hulagu meninggal 8 Februari 1265, Abaqa Khan, putra sulungnya menggantikan posisinya (1265-1282).

 

Selanjutnya, Takudar -saudara Abaqa, menggantikan abangnya dan berkuasa tahun 1282-1284. Takudar yang dibabtis dengan nama Nicholas, setelah berkuasa memproklamasikan dirinya sebagai Muslim dan menganiaya orang Kristen. Ia-lah yang pergi ke Khorasan dengan angkatan perang untuk menangkap Arghun Khan, keponakannya, dan pangeran-pangeran Mongol lain dengan tujuan membunuh mereka. Tetapi setelah pengikutnya meninggalkannya, ia ditangkap dan dibunuh atas perintah Arghun tahun 1284. Arghun yang adalah putra Abaqa pun merebut kekuasaan Takudar dan memerintah tahun 1284-1291. Ia mencoba meneruskan keinginan pendahulunya untuk menginvasi Syria dan Palestina serta merebut Jerusalem. Untuk itu, ia minta pertolongan raja-raja Barat (Byzantium, Italia, Prancis, dan Inggris). Hingga meninggal pada 10 Maret 1291, ia  tak pernah merealisaikan keinginan itu. Ia digantikan saudaranya Gaykhatu yang berkuasa tahun 1291-1295.

 

Sebagai tambahan, Gaykhatu digantikan Ghazan, putra Arghun (1295-1304). Setelah beberapa bulan pada tahun 1295 sempat dipegang Baydu, sepupu Gaykhatu, kekuasaan beralih ke tangan Uljaytu, saudara Ghazan (1304-1316). Uljaytu menjadi ayah Abu Sa'id yang menggantikan dirinya pada tahun 1316 dan menjadi penguasa dinasti Il-Khanid hingga dinasti itu berakhir pada tahun 1335.

 

Apakah Takudar yang saya sebutkan di atas yang dimaksud Sinta Yudisia? Apakah Arghun Khan pengganti Takudar yang dijadikan Sinta sebagai adik Takudar? Ataukah Sinta memiliki catatan sejarah yang berbeda?

 

Apapun yang telah ditulis Sinta Yudisia, ia telah menampilkan bakat menulis epik yang patut dibanggakan. Benar tidak sejarah yang dipinjam Sinta, ia sudah menunjukkan keberanian menulis kisah heroik yang sedap dibaca. Secara sinematis, Sinta berhasil mendedahkan panorama Mongolia yang eksotis di bawah naungan Hoh Tenger dengan budayanya yang khas, memberi kesempatan pembaca berimajinasi akan del indah memesona, tarian bielgee dan nyanyian jangar diiringi petikan moriin khuur. Semuanya dihadirkan dalam pergelutan karakter-karakter pria yang berambisi menduduki singgasana serigala. Yang pada gilirannya menjadikan Mongol seting bangkitnya heroisme, pudarnya persaudaraan, bergelimangnya intrik dan siasat perang, maraknya konspirasi, dan hilangnya keunikan perempuan di tangan lelaki bejat.

 

Bagi Sinta, Takudar adalah seorang pahlawan. Lewat karakter ini, Sinta seperti hendak menghadirkan sosok hero baru di ranah fiksi Indonesia. Takudar yang lembut hati dan menghindari kegegabahan serta meletakkan persaudaraan di atas kepentingan pribadi tampaknya bisa menjadi model yang pas.

 

Terlepas dari keraguan saya tentang sosok Takudar Khan, saya mengacungkan dua jempol kepada Sinta Yudisia. Selain cerita heroik bermuatan pesan-pesan moral yang berguna, ia juga telah merangkai kalimat-kalimat  bernas yang sedap dibaca. Walau ada yang kurang mengena seperti ungkapan: "Dada Takudar menggelembung berisi air mata dan kesedihan..." (hlm. 523). Mungkin, kejelian penyunting harus tetap dipertahankan supaya tidak mengendur di bab-bab terakhir dalam novel yang cukup gemuk ini. Saya masih menemukan kata "mengubah" ditulis "merubah", misalnya.

 

Pertanyaan terakhir: benarkah Albuqa Khan bukan dalang pembunuhan Timur Khan dan permaisuri Ilkhata seperti yang tersirat dalam dialognya dengan Takudar? (hlm. 528). Saya berharap bisa mendapatkan ketegasan jawaban  dalam  novel ini.


Posted at 09:22 am by Jody
Comments (2)  

Thursday, February 05, 2009
PINTU TERLARANG





Judul Buku: Pintu Terlarang

Penulis: Sekar Ayu Asmara

Tebal: 241 halaman

Terbit: Cetakan 1, Mei 2004

Penerbit PT. Andal Krida Nusantara



KETIKA PINTU TERLARANG ITU DISINGKAPKAN

 

 

"Anak adalah kuncup yang hanya akan mekar mewangi dengan siraman kasih sayang", demikian pernyataan Sekar Ayu Asmara dalam novel dewasa pertama yang ia tulis, Pintu Terlarang. Benar katanya. Sebab, pada masa anak-anaklah karakter manusia dibentuk yang kemudian akan mengejawantah dalam diri pribadi dewasa. Realita membuktikan, kuncup itu terkadang tidak mekar mewangi, tetapi melayu karena ulah orangtua. Banyak anak-anak menjadi korban penganiayaan. Dan dari antaranya, banyak pula yang tidak bisa mengatasi efek yang ditimbulkan. Selain tewas disebabkan tubuh tidak cukup kebal menjadi sawar, ada yang berubah gila, mekanisme pertahanan diri yang tidak berdaya.

 

Adalah Pusparanti, 24 tahun, seorang jurnalis sebuah majalah yang menemukan kasus lelaki gila yang tersekap dalam sel isolasi sebuah rumah sakit jiwa. Ia masuk rumah sakit jiwa karena telah membunuh kedua orangtuanya. Sudah 18 tahun, lelaki gila itu di sana, dan dokter yang menanganinya telah berkesimpulan kalau tidak ada lagi peluang untuknya melebur di tengah-tengah masyarakat. Jiwanya sudah sedemikian tercabik akibat siksaan secara fisik dan emosional yang ia alami. Ia adalah korban child abuse yang tidak bisa mengatasi dengan baik kekerasan yang dialaminya.

 

Ketika Ranti berhasil mengulik apa yang memicu kegilaan si pasien, ia menemukan orang yang dekat dengannya melakukan kekerasan yang sama terhadap anaknya, yang berakibat fatal.

 

Sementara itu, Gambir, seniman patung berusia 27 tahun, mengadakan pameran patung perempuan-perempuan hamil. Talyda, istrinya yang cantik dan perfeksionis, seorang pekerja periklanan, sangat mendukung usaha Gambir. Bahkan telah memberikan ide luar biasa untuk keberhasilan pameran gambir yang termutakhir. Mereka belum punya anak. Talyda pernah hamil, tetapi mengalami keguguran. Janin dari rahimnya yang gugur dimanfaatkan Gambir untuk membuat patung perempuan hamilnya tampak hidup.

 

Rupanya Talyda memang tidak ingin punya anak dengan Gambir. Ia pun melakukan serangkaian perselingkuhan, termasuk dengan orang-orang terdekat Gambir. Apa yang ia lakukan tidak lain bertujuan untuk membuat Talyda hamil, dan melahirkan anak yang bukan darah daging Gambir. Menik Sasongko, ibu Gambir yang selalu meremehkan pilihan hidup Gambir sebagai seniman, diam-diam menjadi aktor di balik tindakan Talyda.

 

Mengetahui perselingkuhan Talyda, Gambir menjadi geram. Kemurkaan Gambir mencapai titik kulminasi pada perjamuan malam Tahun Baru yang diadakan Talyda atas inisiatif Menik Sasongko. Tidak ada orang yang bisa melecehkan dan mengkhianatinya, Gambir memutuskan. Maka, ia mengayunkan belati untuk mencabik nyawa orang-orang yang berani melukai harga dirinya. Manakala Talyda terkapar tak berdaya, Gambir merenggut kunci pintu yang dikalunginya. Kali ini, Talyda tidak bisa menghalangi Gambir membuka pintu terlarang yang selama ini dijaganya dengan ketat. Ketika pintu terlarang itu disingkapkan, tak ada lagi rahasia yang harus disembunyikan.

 

Awal perkenalan saya dengan nama Sekar Ayu Asmara adalah saat ia menjadi penulis lirik lagu yang antara lain dinyanyikan Fariz RM. Lama tidak berkumandang, sontak namanya mencuat sebagai sutradara, produser, dan penulis skenario film fenomenal Biola Tak Berdawai. (2003). Membaca novel Pintu Terlarang, saya baru tahu jika sebelumnya Sekar telah menulis buku anak-anak berjudul Onde-onde dan Misteri Es Krim Yang Hilang. Menyusul Pintu Terlarang, pada 2005, Sekar menulis novel bertajuk Kembar Keempat yang diterbitkan penerbit yang sama, Akur (sekarang Akoer). Ia pun terus berkiprah di dunia sinema Indonesia dan melahirkan film Belahan Jiwa (2005) dan Pesan Dari Surga (2007). Pintu Terlarang telah difilmkan dan diedarkan  Januari 2009. Merupakan karya penyutradaan Joko Anwar (Janji Joni dan Kala) yang dilakoni nama-nama tenar seperti Fachri Albar (Gambir) dan  Marsha Timothy (Talyda).



Sekar mengalirkan ceritanya menggunakan tiga perspektif. Pertama, dari perspektif Ranti, menggulirkan investigasinya ikhwal seorang lelaki gila yang terkurung dalam sel isolasi. Kedua, dari perspektif si lelaki gila yang mengurai kehidupan miris yang ia jalani. Yang ketiga, kisah Gambir dan Talyda, diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Mencapai penghujung novel, ketiga cerita ini akan berkelindan menghasilkan kejutan yang menggetarkan.

 

Dari novel ini dapat ditegaskan jika Sekar adalah pencerita yang misterius. Hal ini tampak juga dalam cerita film Belahan Jiwa (The Soulmate) yang ia tulis. Belahan Jiwa bertutur tentang empat perempuan bersahabat –Farlyna, Cairo, Arimbi, dan Baby Blue- yang berjanji sehidup semati, namun terlibat asmara dengan lelaki yang sama. Ketika cerita berakhir, penonton disadarkan siapa sesungguhnya keempat perempuan itu. (Namun, karena saya telah membaca Pintu Terlarang sebelum menonton Belahan Jiwa, saya berhasil menebak telak ending film ini). Efek yang ditimbulkan membaca Pintu Terlarang nyaris sama dengan efek yang dihasilkan menonton Belahan Jiwa. Kita harus menyimak tuntas sebelum pemahaman terbentuk di dalam benak. Mungkin, pembaca tertentu yang telah akrab dengan kisah sejenis, sejak awal tanpa kesulitan bisa meraba keping-keping tercerabut yang hendak dipadukan Sekar. Oleh sebab itu, dalam menggarap problematika cerita, Sekar bisa dikatakan tampil brilian. Drama psikologis dengan bijak digiring menjadi thriller yang menggemaskan. Satu yang mungkin mengganggu kenikmatan membaca adalah kegemaran Sekar melakukan repetisi kalimat-kalimat bergaya puitis yang tidak cukup sedap dibaca.



 

Tetapi, yang terpenting adalah, lewat novel ini Sekar dengan tegas hendak mengingatkan pembaca tentang perilaku mendidik dan memperlakukan anak-anak yang tidak benar. Anak-anak, walau mungkin kelahirannya tidak diinginkan, tetap adalah insan yang tak berdosa. Kekecewaan hidup yang dialami orangtua tidak mesti dilampiaskan kepada anak-anak yang sudah sewajarnya mengenyam hidup semanis madu dalam rengkuhan dan proteksi orangtua. Tidak pantas mendorong seorang anak yang sepolos kuncup kacapiring ke dalam pemahaman bahwa ia sebenarnya tidak layak dilahirkan ke dunia. Lelaki gila dalam novel ini dipaksa dengan kekerasan untuk mendakwa dirinya sebagai 'anak nakal' dan 'pembawa sial'. Maka hukuman menjadi hal yang patut ia terima, sekalipun jiwanya harus mampus karenanya. Saya yakin, seperti yang saya rasakan ketika membaca novel ini, Anda tidak akan dapat menahan mata Anda berkaca-kaca atau bahkan melelehkan airmata.


Posted at 08:42 am by Jody
Make a comment  

Previous Page Next Page