<body><center><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ads.blogdrive.com/adx.js'></script> <script language='JavaScript' type='text/javascript'> <!-- if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ','; phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11); document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='"); document.write ("http://ads.blogdrive.com/adjs.php?n=" + phpAds_random); document.write ("&amp;what=zone:3"); document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used); if (document.referrer) document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer)); document.write ("'><" + "/script>"); //--> </script><noscript><a href='http://ads.blogdrive.com/adclick.php?n=a6b05a3e' target='_blank' rel=nofollow><img src='http://ads.blogdrive.com/adview.php?what=zone:3&amp;n=a6b05a3e' border='0' alt=''></a></noscript></center>


"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit.  Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)







Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.



Home
About Me
Multiply
E-mail
Links





Jody Setiawan


Silahkan Berkomentar


Favorit Saat Ini:
Garth Stein -author






<< February 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28


Baca di Kebun


Untuk review lain, silahkan pilih:
 

Open in alternate window











Kutipan dunia buku


Baca Buku




Kutipan-kutipan


Kutipan Harper Lee


Kutipan Alexander Romanoff


kutipan cinta








Botchan banner dari Gramedia








If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, June 25, 2009
BRIGHT ANGEL TIME



Judul Buku: Bright Angel Time

Pengarang: Martha McPhee

Penerjemah: Th. Ninung Pandamnurani

Tebal: 448 hlm; 13 x 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, April 2009

Penerbit: Serambi



 

"Musim panas yang lalu, pada hari orang-orang pertama kali mendarat di bulan, Papa meninggalkan kami. Padahal, pagi itu dia berjanji pada kami: akan menyetel TV kami di halaman menggunakan kabel panjang, jadi kami bisa mendongak menatap bulan sambil nonton tayangan TV dan menyaksikan bagaimana para astronot berjalan-jalan di sana. Papa janji akan menjelaskan kepada kami geologi bulan, tapi ternyata malah kabur bersama istri teman masa kecilnya dan membangun hidup barunya sendiri ". (hlm. 29).



Kalimat di atas disampaikan oleh Kate Cooper, narator dari novel bertajuk Bright Angel Time, setahun setelah ayahnya, Ian Cooper, meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali untuk melanjutkan pernikahannya. Dua puluh Juli 1969, Ian Cooper pergi dari keluarga dan kediamannya New Jersey, untuk hidup bersama dengan Camille, istri Brian Cain, teman masa kecilnya.

 

Musim semi tahun berikutnya Eve, ibu Kate, jatuh cinta kepada lelaki karismatik bernama Anton Furey yang mampir di New Jersey sehubungan dengan pekerjaannya sebagai ahli terapi Gestalt. Karena Anton memiliki spesialisasi dalam menangani para istri kesepian (juga biarawati), tak heran Eve terpikat. Padahal Anton yang dulunya pastor Jesuit bukanlah seorang pria lajang. Ia sedang terikat pernikahan dengan seorang mantan biarawati kaya dan memiliki lima anak. Namun, Anton memang memiliki daya tenung yang mampu meluluhkan hati siapa pun, termasuk Kate dan dua kakaknya, Julia, dan Jane.

 

Lebih dari sebulan Anton meninggalkan New Jersey, Eve memutuskan menyusulnya. Kebetulan, istri Anton telah pergi ke India dan masuk ke sebuah Ashram. Anton berjanji akan menikahi Eve. Maka, mengendarai mobil station wagon, Eve meninggalkan rumah bersama ketiga anaknya. Eve berniat mengejar cintanya, sedangkan ketiga anaknya, terutama Jane, bertekad melindungi ibu mereka. Demi Anton, Eve membiarkan anak-anaknya terlepas dari kenyamanan rumah dan membawa mereka ke dalam perjalanan yang tidak nyaman. Tujuan awal mereka adalah Esalen, di mana  Anton sedang menghadiri lokakarya Cinta yang Romantis dan Kesetaraan Seks. Di sana, mereka bergabung dengan kelima anak Anton:  Nicholas, Caroline, Sofia, Timothy, dan Finny.

 

Dalam hatinya, Kate sebenarnya ingin pergi ke Grand Canyon. Sebelum Ian meninggalkan rumah, Kate hidup dalam pesona cerita ayahnya tentang peristiwa geologis yang terjadi di wilayah Barat dan Timur Amerika. Sebagai seorang geolog, Ian telah mengajari anak-anaknya mengenai geokronolog Grand Canyon, meski hanya Kate yang melimpahkan perhatian. Tadinya, Ian telah berjanji akan membawa keluarganya ke Grand Canyon, namun kaburnya dari rumah telah mengurungkan janjinya. Menurut Ian, peristiwa geologis di daerah Barat tetap aktif berlangsung, sehingga bisa disaksikan terjadinya, sementara di daerah Timur telah terjadi jutaan tahun silam. Tak terlupakan oleh Kate, salah satu bebatuan Grand Canyon yang kerap dinyanyikan sang ayah dengan gembira, "Bright Angel –nama itu sungguh indah, meskipun sebenarnya tidak sesuai untuk nama suatu batuan, suatu shale dari periode Cambrian yang menunjukkan bahwa usianya sudah jutaan tahun." (hlm. 89-90).

 

"Oh, Kate. Kalau kita sudah sampai di tempat Anton, kita akan bisa melakukan apa pun yang kita mau. Kalau kita sudah sampai di tempat Anton, segalanya akan berbeda. Kau tahu, sayang, dia punya keluarga yang sangat harmonis. Tentu akan sangat menyenangkan."(hlm. 91) Demikianlah tanggapan Eve atas keinginan Kate untuk pergi ke Grand Canyon.

 

Ternyata keluarga yang harmonis menurut sang ibu adalah keluarga yang tidak punya tempat tinggal tetap, hidupnya berpindah-pindah di atas camper –sebuah Chevrolet Del Rey, di mana kebebasan melakukan hal buruk ditoleransi sang imam keluarga. Maka, manakala rombongan Kate berjumpa dengan anak-anak Anton, mereka diperkenalkan dengan aktivitas dan percakapan yang tidak biasa dilakukan anak-anak. Anak-anak Anton adalah anak-anak hippie, biasa minum bir dan merokok. Bahkan Finny yang paling kecil dan berumur sekitar 5 tahun, jago menggulung bone –rokok mariyuana. Permbicaraan mereka pun melampaui dunia Kate, seputar masalah orang dewasa seperti aborsi, Vietnam, dan Nixon.

 

Namun, kebiasaan anak-anak liar itu tidak menghentikan niat Kate dan saudara-saudaranya untuk menjalin persaudaraan. Apalagi, Eve, ibu mereka akan menjadi ibu anak-anak itu juga.

 

Tinggal dalam satu naungan sebagai keluarga besar tidak jarang meletupkan pertikaian. Anak-anak Anton tidak sepenuhnya membiarkan diri mereka menghargai Eve. Suatu kali, masalah anak-anak itu memicu pertengkaran sengit antara Eve dan Anton, hingga Eve nyaris meninggalkan Anton.

 

Meninggalkan Esalen, rombongan Furey dan Cooper tidak memiliki tujuan dalam peta. Perjalanan tanpa arah ini mengundang masuknya orang-orang asing ke dalam kehidupan mereka. Mereka membawa masalah, tetapi juga pencerahan. Salah satu di antara mereka memaksa Anton, sang pemimpin rombongan, memikirkan kembali kehidupan yang ia jalani dan kehidupan orang-orang yang berada dalam perlindungannya. "Akan kaubawa ke mana kami?" tanya Kate pada momen rawan yang terjadi (hlm. 402).

 

Pada akhirnya, pertanyaan Kate itu menggerakkan kemudi menuju Grand Canyon, membuka jalan menuju harapan: masa Bright Angel –masa penuh berkat Tuhan, masa yang penuh janji. Tidak akan mudah, namun harapan tetap ada.

 

Bright Angel Time adalah novel  perdana Martha McPhee yang pertama kali dipublikasikan tahun 1997. Setelah novel ini, ia telah menulis novel Georgeus Lies (2002) dan L'America (2006). Pengarang yang tinggal di New York City dan mengajar di Universitas Hofstra ini juga menjadi salah satu penulis Girls: Ordinary Girls and Their Extraordinary Pursuits bersama kedua saudaranya Jenny McPhee  dan Laura McPhee (2000). Begitu terbit, Bright Angel Time menarik perhatian khayalak dan menjadi salah satu "New York Times Notable Book".

 



 

Keistimewaan nomor satu novel ini sudah pasti terletak pada penggunaan narator bocah perempuan berusia 8 tahun. Dalam keluguannya, ia tidak hanya menuturkan apa yang terjadi dalam hidupnya (dan saudara-saudaranya) sepeninggal ayahnya. Tetapi juga mengangkat kehidupan orang dewasa di seputarnya yang hidup seenaknya dan mengabaikan tanggung jawab. Menenteng kesedihan dalam perjalanan, dibayang-bayangi kenangan sang ayah, Kate tidak terpuruk ke dalam kondisi kehabisan harapan. Sebagai seorang anak yang mulai bisa menyilih yang baik dari yang buruk, harapan menjadi modal penting bagi Kate untuk mengarungi hidup. Itulah yang tertangkap pada banyak tempat dalam narasinya.

 

Keistimewaan nomor dua adalah karakterisasi yang unggul. Para karakter dipersiapkan dan dibangun dengan kuat, akan gampang menjadi sosok tiga dimensi bagi pembaca. Kate yang lugu dan sok tahu; Eve yang rapuh dan impulsif; Julia yang sok pintar dan cenderung lebih tenang dibanding Jane yang kritis sekaligus sinis; Anton yang bohemian, berjiwa bocah dalam tubuh dewasa.

 

Keistimewaan nomor tiga adalah latar Amerika masa lalu yang mungkin merupakan kenangan si penulis sendiri. Maka, walaupun dalam gaya penuturan masa kini, pembaca bisa meresapi suasana dan panorama masa lalu yang digeber dengan hidup.

 

Kekurangistimewaan novel ini adalah plot yang lambat dan kejutan yang nyaris nihil dari bab ke bab. Bahkan, pada momen menentukan, yaitu ketika Anton terperangkap dilema -terus hidup bohemian atau berubah, terasa ompong. Selama membaca, pembaca akan sering diliput keraguan menebak arah novel bermuara. Mungkin, jika pembaca langsung memosisikan novel ini sebagai 'road novel', pembaca akan lebih menikmati, apalagi dengan sentuhan humor yang lugu dalam narasinya.

 

Bagian yang cukup menimbulkan pertanyaan adalah munculnya keluarga seorang novelis pada bab tujuh belas (Sebuah keluarga Utuh), dalam kilas balik. Kemunculan mereka terkesan janggal karena pada bab-bab sebelumnya tidak pernah disinggung. Lagipula, kehadiran mereka tidak berkontribusi signifikan terhadap perkembangan dan penutupan novel.

 

Lalu, apa nilai tambah yang bisa ditambang dari novel ini selain narator, karakterisasi, dan latar yang mencuri perhatian? Pesan moralnya tentu saja! Bahwa segala hal di dalam kehidupan seorang anak –yang belum dewasa dan mandiri, adalah tanggung jawab orangtua. Apalagi? Ya, hidup ini semestinya dijalani secara apa adanya, dan tetaplah berharap walau dalam kondisi terjepit.


 

Posted at 08:06 am by Jody
Comment (1)  

Tuesday, June 23, 2009
THE MISSING ROSE



Judul : The Missing Rose (Mawar yang Hilang)
Penulis : Serdar Özkan
Penerjemah : Rosemary Kesauli

Tebal: 224 hlm; 20 cm

Terbit: Cetakan 1, Mei 2009
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama


 

THE MISSING ROSE: DUA ADALAH SATU

 

Ephesus! Kota bermuka dua. Tempat berdirinya Kuil Artemis serta Rumah Kudus Bunda Maria. Kota yang menampilkan ego sekaligus jiwa. Lambang kesombongan sekaligus kerendahan hati. Wujud nyata perbudakan sekaligus kemerdekaan. Ephesus! Kota tempat dua hal bertentangan saling terkait. Kota yang sama manusiawinya dengan setiap manusia (hal. 7 dan 219).



Ephesus adalah kota yang dibangun di sekitar Selcuk, sebelah barat Turki. Seperti pada kalimat di atas, di Ephesus terdapat kuil dewi Artemis dan rumah Bunda Maria (Miriam). Kabarnya, di sana Santo Paulus pernah berkhotbah kepada orang banyak mengenai Bunda Maria. Tetapi mengalami penolakan, karena penduduk Ephesus menyembah dewi mereka sendiri, yaitu Artemis.

"Aku mengenalnya seperti diriku sendiri," kata Diana Stewart mengenai Artemis. "Dia hanya ilusi, dibentuk dan dipuja orang lain. Dia dewi berburu. Dia berjiwa bebas sekaligus terkekang tergantung pada orang lain namun angkuh".

Sebelum tiba di Ephesus dengan seorang pelukis bernama Mathias (Jon), Diana tidak sadar dirinya adalah 'Artemis'. Ia adalah perempuan pertengahan 20-an,  pewaris grup hotel internasional dan salah satu hotel paling bergengsi di San Francisco. Sebagai perempuan muda, ia punya masalah dengan diri sendiri. Ia merasa memikul kewajiban memenuhi harapan orang-orang dalam lingkup pergaulannya untuk tampil seperti apa yang mereka inginkan.

"Diana Stewart sudah menjadi trademark. Bagaimana aku bisa mengecewakan khayalak ramai, para penggemar yang selalu memuja-mujaku?" Beginilah Diana yang terlena di atas singgasana popularitas memandang hidupnya. Dan ia memang memiliki semua yang  dibutuhkan untuk tampil bak dewi.  Ia kehilangan dirinya sendiri, demi menurutkan dan menyenangkan orang lain. Bahkan ia menepis cita-cita menjadi seorang penulis karena terbelit ketakutan hanya akan menjadi penulis yang biasa-biasa saja untuk ukuran seorang 'dewi'. Maka, kendati tidak pernah bercita-cita menjadi pengacara, ia kuliah hukum, lulus dan sebelum diwisuda telah menerima tawaran pekerjaan dari biro hukum terkenal. Padahal ia tahu, ibunya yang menghargai cita-citanya pasti akan menolak tawaran itu dan mendesaknya untuk menjadi penulis. Bagi ibunya, "Satu-satunya hal yang kaubutuhkan untuk merasa istimewa adalah dirimu sendiri." (hlm. 25; 175). Namun Diana pun sadar, sangat sulit untuk menanggalkan topeng ilusi yang telanjur disukainya. Hingga suatu malam, surat yang diberikan ibunya sehari sebelum meninggal, membenturkannya pada kenyataan. Ia memiliki seorang saudari kembar identik bernama Mary.

Sebelum malam itu, Diana tahu ia adalah anak semata wayang seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Karenanya, pengakuan sang ibu mengejutkannya. Menurut ibunya, ayah Diana telah meninggalkan mereka ketika Diana berusia 1 tahun dan membawa pergi Mary bersamanya. Ibunya telah menerima 4 surat tanpa alamat pengirim dari Mary. Namun, sebelum mereka bertemu, Mary telah menghilang, hanya meninggalkan surat perpisahan.

Dalam surat perpisahannya, Mary menjelaskan alasan kepergiannya. Ia merasa mulai mengerti arti 'bertanggung jawab atas setangkai mawar'. Pemikiran ini timbul setelah ia membaca buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Baginya, mawarnya telah dicuri dan ia harus pergi untuk merebut  mawarnya kembali.

Sang ibu berharap Diana akan mencari Mary dan menjaganya, karena saat pengungkapan itu tidak ada waktu lagi bagi ibunya yang sekarat. Spontan pengetahuan apa yang dilakukan Mary membuat Diana geram dan tidak mau mencarinya. Ia tidak ingin memaafkan Mary yang telah membuat hari-hari terakhir hidup ibunya terlilit rasa takut dan khawatir. Apalagi isi surat Mary terkesan gila. Bagaimana mungkin Mary meninggalkan rumah demi setangkai mawar, kemudian belajar mendengar dan bercakap-cakap dengan mawar?

"Dalam jangka waktu beberapa hari saja orang bisa berubah," kata Mathias, lelaki yang dikenal dalam kesendiriannya. Benar, hanya dengan bermodalkan tiga nama –Zeynep, Socrates, dan Istana Topkapi, Diana memutuskan meninggalkan San Francisco. Ia pergi ke Istanbul untuk 'berburu' adiknya (Diana adalah dewi berburu dalam mitologi Romawi). Seolah dituntun tangan takdir, di kota asing di negeri asing yang belum pernah ia pijak, ia bertemu Zeynep Hanim, perempuan tua yang pernah mengajar Mary berbicara dengan mawar. Pada saat yang sama, Zeynep sedang menanti kedatangan Mary.

Sambil menunggu kemunculan Mary, Diana meminta Zeynep mengajarnya berbicara dengan mawar. Di bawah arahan Zeynep, Diana sadar, sesungguhnya ia adalah setangkai mawar, yang diciptakan dengan wangi istimewa, tetapi tergoda oleh suara orang lain. Ia mengubah diri sesuai keinginan orang lain dan kehilangan wangi. Seperti Mary, Diana pun harus bertangggung jawab atas setangkai mawar. Cara satu-satunya adalah ia harus menanggalkan ke-artemisan-nya.  Sebab, "Kita semua seperti Ephesus, rumah Artemis sekaligus Bunda Maria," kata Diana akhirnya (hlm. 214).

Lalu, apakah Diana bertemu Mary di Istanbul? Tidak, tentu saja! Mengapa? Jawabannya berada pada sepucuk surat yang hilang dari amplop keempat yang ditemukan Diana dalam peti antik ibunya.

Kisah tentang pencarian diri adalah aroma esensial novel berjudul The Missing Rose (Mawar yang Hilang). Novel ini merupakan debut Serdar Özkan, pengarang Turki kelahiran 1975. Özkan (namanya sama dengan nama pemain sepak bola Turki) pernah menetap di Amerika selama 4 tahun tatkala belajar Pemasaran dan Psikologi. Setelah kembali ke Turki, pada 2002, Özkan memutuskan menjadi novelis. Menyusul The Missing Rose, Özkan telah menulis novel keduanya, When Life Lights Up, yang berkisah tentang persahabatan seorang bocah dengan seekor lumba-lumba. Berkat The Missing Rose, Özkan tercatat sebagai novelis Turki ketiga yang karyanya banyak diterjemahkan setelah Orhan Pamuk (peraih Nobel Sastra 2006) dan Yaşar Kemal (nomine Nobel Sastra 1973). The Missing Rose telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 25 bahasa di lebih dari 30 negara di dunia. Karena bertema sama, yaitu pencarian diri, karya Özkan ini sering dibanding-bandingkan dengan The Alchemist karya Paulo Coelho.



Pencarian diri adalah elemen krusial dalam kehidupan manusia, dari pelbagai usia. Özkan mengindikasikan bahwa pencarian diri selalu memiliki momen khusus atau tepatnya momen genting. Di dalam novel ini, momen meninggalnya sang ibu dan kejutan adanya saudari kembar, membuka pintu pencarian diri Diana. Özkan juga mengungkapkan bahwa sejatinya 'diri sendiri' tidak perlu dilacak dengan cara yang rumit dan jauh. Kesulitan dalam pencarian diri terletak pada citra semu yang telah terbentuk dalam lingkungan seseorang berada dan bersosialisasi. Özkan memanfaatkan ibu Diana tidak hanya untuk menciptakan momen genting, tetapi juga menjadi pemicu bagi putrinya untuk bersegera menentukan hidup tanpa terkekang pendapat orang lain.

Melalui The Missing Rose, Özkan juga seolah membangun jembatan yang menghubungkan Barat dan Timur; dua dunia yang kerap bertikai. Dalam novel ini, tampaknya Özkan hendak menyampaikan bahwa kedua dunia ini bisa berkolaborasi untuk mendatangkan manfaat bagi manusia. Maka di dalamnya pembaca tidak hanya menemukan perjalanan Diana dari Barat ke Timur (dari San Francisco ke Istanbul), tetapi perpaduan William Blake dan Yunus Emre; mitologi Yunani dan mistisme Timur; Socrates dan Nasreddin Hodja; Artemis dan Bunda Maria. Semuanya tertuang indah dan puitis pada saat Diana belajar mendengarkan mawar di taman Zeynep Hanim.

Dengan komposisi seperti itu, tak pelak lagi pembaca akan bertemu persenyawan unsur realistis, mistis dan mitos. Lebih daripada itu, pembaca akan menemukan elemen psikologis di dalamnya, sebuah petunjuk untuk mendengarkan suara hati, sehubungan dengan pencarian diri seorang manusia. Sosialisasi adalah bagian kehidupan manusia, di dalamnya manusia butuh beraktualisasi diri. Tetapi, dalam mengaktualisasi dirinya, manusia tidak harus sampai mengabaikan suara hati.

"Dua adalah satu...." tulis sang pengarang setelah sebuah prolog, pada awal bab satu bagian pertama dari tiga bagian novel ini. Tatkala mencapai kulminasi, pembaca akan menyadari bahwa satu botol yang tampak bak dua botol dalam pandangan mata Diana yang mabuk (hlm. 11) sesungguhnya merupakan dasar pencarian diri Diana.

Tetapi, apakah Diana bisa menjangkau cita-cita menjadi penulis tanpa takut menghadapi kegagalan? Pengarang akan menjawabnya melalui perpindahan sudut pandang yang dilakukan secara tiba-tiba.

Tak bisa dilupakan karakter bernama Mathias (atau Jon). Berbeda dengan Diana, pada jumpa pertama mereka, Mathias telah menemukan dirinya. Lelaki ini berasal dari New York. Ia kuliah di Harvard membawa harapan orangtuanya bahwa ia akan mendapatkan pekerjaan layak seperti menjadi seorang bankir. Tetapi, ia meninggalkan kuliahnya di Harvard dan pindah ke San Diego untuk menjadi seorang pelukis laut dan camar. Kenyataannya, ia juga sedang dalam pencarian, yaitu pencarian seorang belahan jiwa: seorang perempuan dengan cahaya di wajahnya. Ia bertemu Diana, tapi tidak melihat cahaya di wajah perempuan itu sebagai tanda akhir pencariannya. Apakah prinsip belahan jiwa Mathias akan dimodifikasi?

Yang jelas, apa yang dikatakan sebelumnya oleh Mawar Kuning (hlm. 147) pada Diana benar adanya: "Hanya orang-orang yang tertarik pada wangi kami (mawar) yang bisa sungguh-sungguh mencintai kami".

 

Posted at 01:40 pm by Jody
Comments (4)  

Sunday, June 07, 2009
TANAH TABU





Judul Buku: Tanah Tabu

Pengarang: Anindita S. Thayf

Tebal: 240 hlm; 18 cm

Terbit: Cetakan 1, Mei 2009

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

 

Anindita Siswanto Thayf berhasil menyingkirkan semua pesaingnya dalam Sayembara Menulis Novel DKJ 2008 dengan novelnya yang bertajuk Tanah Tabu. Ia mencatat kemenangan yang mengesankan karena bertengger sendiri di daftar pemenang, tak tersandingi pengarang lain. Hal ini tentu saja membuat pembaca tertantang mengulik berbagai segi yang membuat Tanah Tabu layak diganjar predikat bergengsi itu.

 

Tanah Tabu yang dimaksud pengarang adalah Papua. Menurut sang pengarang, Pulau Kepala Burung ini diciptakan Tuhan untuk penduduk asli (Komen) yang diandalkan menjaga kelestarian ciptaan-Nya. Sejak dulu, nenek moyang masyarakat Papua telah berkomitmen dengan alam. Mereka hidup sederhana, mengambil seperlunya dari alam dan mengembalikan sisanya untuk disimpan sebagai warisan bagi anak cucu. Keperawanan alam Papua yang penuh pesona mampu membuat yang hidup di dalamnya merasa sedang berada dalam taman surga dan menikmati asimilasi berbagai warna alam.

 

"Aku teringat suatu waktu pada masa lampau manakala semua warna itu menjadi satu dalam latar hijau yang teduh dan biru yang cerah; cenderawasih kuning kecil, kakaktua jambul merah, bunga keris berbatang ungu, ikan arwana bersirip jingga, anggrek hutan berkelopak hitam, dan buah raksasa berkulit merah, bahkan sekelompok buaya berkulit hijau zamrud yang sangat memesona. Semua bertumbuh dan bergerak dinamis di tengah alam yang masih liar. Begitu segar. Penuh pesona dan daya hidup,"  kenang Pum, narator pertama yang dikenalkan pengarang. "Sempat pula kuyakin keindahan itu bakal abadi. Terjaga rasa cinta dan syukur yang besar pada karya Sang Pencipta yang tiada banding. Terlindungi mimpi-mimpi sederhana dan tidak muluk tentang kehidupan. Namun ternyata aku salah."  

 

Kedatangan orang asing merusak komitmen yang dijaga ketat. Kelestariannya terancam ketika dieksploitasi untuk mendapatkan emas, harta yang tak bisa dicicipi nikmatnya dengan enteng oleh pribumi. Di tanah leluhur mereka, banyak Komen hidup sengsara, sementara para pendatang menancapkan taring otoritas dan memanipulasi kebodohan warga. Taman surga dan warna-warni cantik yang berpadu serasi pupus. Pum hanya bisa menikmati warna-warna itu pada pakaian yang dijemur tetangga dan bendera-bendera partai yang semarak saat pilkada berlangsung.

 

Sepanjang hidup, Pum hidup bersama Mabel (Mama Anabel), seorang perempuan Komen. Mabel memiliki perjalanan hidup yang tidak biasa. Dilahirkan di Lembah Baliem tahun 1946 sebagai putri suku Dani, pada usia 8 tahun Mabel meninggalkan kampungnya. Ia menjadi anak piaraan keluarga Belanda yang saat itu masih bercokol di tanah Papua. Sayangnya, walau cerdas Mabel tidak beroleh kesempatan mengenyam pendidikan formal. Ketika keluarga Belanda kembali ke negerinya, Mabel berakhir di Timika. Dua kali menikah, yang terakhir bubar gara-gara perusahaan emas,  Mabel memutuskan hidup hanya bersama putranya, Johanis, dan Pum, anjingnya. Ironisnya, untuk bisa menetap di Timika, Mabel yang adalah penduduk asli Papua, mesti menyewa rumah kepada seorang pendatang.

 

Di rumah sewaan itu suatu hari, datang Lisbeth, seorang perempuan kampung. Lisbeth membawa seorang anak laki-laki 3 tahun dan seekor babi di dalam noken, serta calon bayi dalam rahimnya.  Mabel menerima Lisbeth (Mace), menyertai perempuan itu ketika kehilangan anak laki-lakinya dan melahirkan Leksi, seorang anak perempuan.

 

Hidup mereka sama sekali tidak diracik dari susu dan madu. Baik Mabel maupun Mace mesti bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Di dalam kemiskinan, Mabel tidak ingin Leksi terkungkung kebodohan. Leksi harus bersekolah, sekalipun untuk membiayainya, Mabel harus membanting tulang di kebun sewaannya. Maka, ketika perusahaan emas berjanji memborong hasil kebunnya, Mabel sangat antusias. Sayangnya, hanya sekali membeli, perusahan emas itu pun mangkir.

 

Dikecewakan oleh perusahaan emas, tak membuat Mabel putus asa. Bahkan, ketika ide demo dicetuskan sesama penjual sayur, Mabel tidak lantas bersetuju. Bukan berarti Mabel penakut. Namun, baginya, segala tindakan harus dipertimbangkan, untuk tidak merugikan orang lain.

 

Tidak hanya menghadapi amarah warga yang haus demo, Mabel juga harus berhadapan dengan sesama Komen yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan senang membohongi warga lainnya. Sayangnya, tidak semua Komen berpihak kepadanya. Kenyataan ini memaksa Mabel kembali merasakan trauma masa lalu yang belum lagi hilang dari kenangannya. Trauma kepada arogansi militer yang juga sekian lama menghuni ceruk terdalam benak Mace.

 

Selain Pum yang diperkenalkan sebagai narator pertama, untuk melengkapi seluruh kisah dalam novel ini, pengarang menambahkan dua narator -Kwee dan Leksi (Aku). Jika sejak awal Kwee telah memberitahu pembaca bahwa Pum adalah seekor anjing tua (hlm. 12), identitas Kwee baru terungkap pada halaman terakhir novel. Meskipun begitu, pembaca sudah bisa memastikan jika Kwee seekor hewan. Yang jelas, baik Pum maupun Kwee, adalah hewan-hewan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Papua, terkadang bahkan seperti bagian dari keluarga. Pum, sepanjang hidupnya, tinggal bersama Mabel, bahkan ketika Mabel meninggalkan Lembah Baliem dan berpindah-pindah kota (dan naik pesawat terbang?),  sedangkan Kwee, sepanjang hidupnya, dekat dengan Mace.

 

Dari perspektif kedua hewan yang tidak akur inilah kisah hidup perempuan tiga generasi–Mabel, Mace, dan Leksi, dikupas tuntas. Tidak aneh, mengingat mereka menjadi saksi perjuangan hidup keluarga Mabel. Tampil memukau, tapi menimbulkan sangsi. Pengarang sama sekali tak mempertimbangkan umur kedua hewan ini.

 

Dikisahkan Pum telah hidup berpuluh-puluh tahun dengan Mabel. Padahal, lama hidup anjing tidak setara hidup manusia. Ada pendapat yang mengatakan jika 1 tahun hidup anjing (tahun kalender) setara dengan 7 tahun manusia. Pendapat lebih baru menyatakan umur anjing berukuran sedang pada tahun pertama hidupnya setara dengan 15 tahun manusia, bertambah 9 tahun pada tahun kedua, setelah itu bertambah 5 tahun setiap tahun. Lama hidup anjing dipengaruhi berbagai faktor, antara lain jenis kelamin (betina lebih lama hidup dari jantan) dan ukuran tubuh (ukuran kecil lebih lama hidup dari yang besar). Anjing tertua yang pernah hidup tercatat mencapai usia hingga 27 tahun. Nah, berapa umur Mabel? Berapa umur Pum?

 

Narator anak kecil yang mengisahkan tidak hanya dunia anak-anak tapi juga dunia orang dewasa bukan hal yang baru. The Famished Road (Ben Okri) dan Bright Angel Time (Martha McPhee) menggunakan anak kecil sebagai narator. Sebagai narator mumayiz, tidak hanya jenaka, Leksi juga seorang anak yang cerdas. Di dalam kepolosan, kecerdasannya merekah manakala menghadapi orang dewasa.

 

Lewat novel ini, pengarang menyampaikan realitas kehidupan Tanah Papua yang kerap terabaikan. Hal-hal yang secara langsung mempengaruhi keinginan warga Papua termasuk di dalamnya keinginan melepaskan diri dari negara kesatuan RI. Karakter Mabel bagaikan nurani Tanah Papua sendiri yang pedih menyaksikan perutnya dieksploitasi untuk keuntungan orang asing, menyaksikan saudara sesama Papua menjual tanah tabu agar bisa hidup lebih eksklusif dari warga lain, dan menyaksikan emas di tanah leluhurnya digerogot namun masih banyak warga Papua hidup dalam kemiskinan.

 

Di tanah nenek moyangnya sendiri, orang Papua masih hidup dalam penjajahan. Yang menyedihkan, bukan hanya dijajah orang asing yang memandang mereka bodoh atau militer yang tak pantang menggunakan tindakan represif. Tapi juga oleh sesama Komen. Perempuan adalah gender paling menderita. Mereka hidup untuk suami serta mengurus anak, kebun, rumah, dan babi. Mereka memangkur sagu agar tempat sagu tetap penuh. Mereka mencari tambahan dana dengan cara membuat noken. Hanya untuk dijajah para suami yang semestinya memberi mereka pengayoman.

 

"Salah atau benar, perempuan yang selalu menderita," kata Mabel (hlm. 169). "Sejak dulu hingga sekarang nasib perempuan tidak berubah. Mereka terlalu bodoh untuk melawan, dan terlalu takut untuk bersuara. Tertindas di bawah kaki suaminya sendiri. Seumur hidup menjadi budak, hingga kematian datang membebaskan mereka" (hlm. 170). Sebagai perempuan yang paham harkatnya, Mabel memutuskan hidup tanpa suami. Karenanya, ia merasa sengit jika ada perempuan yang menganggap takdirnya harus hidup dalam tindakan represif  lelaki. Dalam hal ini, pengarang menghadirkan Mabel bak seorang feminis tapi tanpa sadar menciptakan bias: seolah-olah semua lelaki Papua bertabiat nista; dari anak-anak hingga dewasa.

 

Selain posisi perempuan, Mabel juga mengecam perusahaan emas yang telah mengeruk emas Papua tapi mengabaikan kesejahteraan pribumi. Maka, ia tidak menantang ketika seorang warga mencela dengan keras perusahaan emas yang tidak pernah mau mendengar suara Komen (hlm. 172). Karena baginya sendiri, perusahaan emas inilah yang telah membiakkan berbagai masalah di Papua, termasuk perang suku yang berkobar di Timika.

 

Puncaknya adalah kritik Mabel pada partai politik yang doyan obral janji pada masa pilkada. Begitu terpilih, begitu berkuasa, mereka lupa aspirasi warga, hidup senang di atas penderitaan warga. Kritik Mabel inilah yang bersengkarut dengan dendam kesumat Komen yang dikecamnya dan menggiringnya ke dalam jebak militer.


Bagi Anindita, perjuangan rakyat miskin selalu menemui jalan buntu. Tidak ada pamungkas yang optimis bagi perjuangan hidup mereka. Yang ada dan tersisa hanya satu: mimpi buruk.

 

Sebagai pengarang dengan track record yang cukup bagus di ajang lomba menulis (sebelumnya masuk daftar pemenang 4 lomba menulis), pantaslah Anindita didaulat sebagai Pemenang 1 Sayembara Menulis Novel DKJ 2008. Selain memilih seting Papua yang langka dimanfaatkan penulis kita, boleh dibilang ia sudah terasah menghasilkan karya yang ditulis dengan baik. Rangkaian kalimatnya lugas namun dikomposisi dengan baik, pada banyak tempat sarat dengan makna yang menggugah. Beberapa istilah Papua dan dialog-dialog berdialek Papua diimbuhkan, tidak sekadar menghidupkan narasi, tapi juga untuk menambah rasa 'percaya' pembaca pada setingnya. 



 

Mengangkat penderitaan warga Papua, Anindita mengindikasikan diri sebagai penutur kesedihan yang tak kehilangan selera humor. Sebagai contoh, di tengah kesedihan sirnanya keindahan Papua, lewat mata Pum, ia menyinggung penurunan kepercayaan masyarakat pada satu partai. Tetangga Mabel -Helda, bertahun-tahun memakai kaos partai berwarna kuning kendati warga lain telah mengganti pilihan warna. Mendadak, kaos kuning itu lenyap dari jemuran. Ternyata, sudah digunakan Yosi, putri Helda, untuk mengelap kencing adiknya.

 

Selera humor Anindita terpeleset ketika Mace menanggapi pertanyaan Leksi mengenai alasan Mace tidak menikah lagi (hlm. 46). "Untuk apa kau berharap ada seorang pace kalau hanya tangan ketiganya saja yang bisa bekerja. Sementara dua tangan lainnya yang kelihatan hanya digunakan untuk memegang botol Tomi-tomi atau memukul perempuan."

 

Tidak ada seks blakblakan di dalam novel etnografis ini. Tidak ada ayat-ayat suci didakwahkan di sini. Anindita menepis kedua elemen yang sering mewarnai dunia fiksi Indonesia ini, sekalipun tidak tertutup peluang baginya untuk menginjeksikan kedua elemen itu ke dalam plot. Boleh dibilang, novel sejenis Saman (Ayu Utami), ompong dalam Sayembara Menulis Novel DKJ 2008. Tahun 2008 adalah tahun realitas etnis sehingga Anindita berhak menyandang kemenangan.

 

Salah satu tradisi menarik Papua yang diangkat pengarang adalah tradisi membuat noken di kalangan perempuan Papua. Noken adalah tas tradisionil yang dibawa dengan cara digantung di atas kepala. Noken yang bagus dan kuat harus dibuat dari kulit kayu atau pelepah sagu. Di dalam noken inilah perempuan membawa hasil kebun, anak babi, dan anak kecil. Lebih dari itu, noken adalah lambang kedewasaan perempuan Komen. Perempuan yang siap menikah adalah perempuan yang sudah mahir membuat noken. Di dalam novel ini, Mabel menerima permintaan membuat noken dari benang meski ia tahu gampang putus. Sehingga pada akhirnya, bagi Mabel, noken tidak hanya menjadi lambang kematangannya sebagai seorang perempuan, tapi sekaligus sebagai simbol keterpurukannya.



Posted at 04:02 pm by Jody
Make a comment  

Saturday, May 30, 2009
METROPOLIS



Judul Buku: METROPOLIS

Pengarang: Windry Ramadhina

Tebal: 330 hlm

Terbit: Cetakan 1, 2009

Penerbit: Grasindo


"Demi Ayahku Yang Sudah Mati...."

 

Metropolis, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dirumuskan sebagai 'kota yang menjadi pusat kegiatan tertentu, baik pemerintahan maupun industri dan perdagangan'. Jakarta adalah salah satu metropolis di planet bumi. Segala sesuatu seolah-olah dapat terjadi di sini, termasuk aktivitas jaringan narkotika yang ada dalam otoritas pemimpin mafia. Windry Ramadhina, penulis novel Orange (GagasMedia, 2008) mengangkat Jakarta untuk dijadikan seting novel keduanya, Metropolis. Ke dalam jaringan narkotika dan mafia ini, Windry menambahkan elemen konspirasi dan dendam untuk menghidupkan novel. Aksi kriminal menghiasi konspirasi dan dendam tersebut, sehingga bersalinlah sebuah novel dalam genre drama kriminologi.

Di dalam drama kriminologi ini, jaringan narkotika di bawah kepemimpinan Frans Al dihancurkan. Ia dan keluarganya dibakar hidup-hidup. Polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah membereskan TKP, mereka membuat laporan kasus yang hanya disimpan dalam lemari arsip.

 

Semua jaringan narkotika yang dikuasai Frans Al terpecah ke dalam kekuasaan 12 orang yang dikenal sebagai Sindikat 12. Lima belas tahun lebih mereka menancapkan pengaruh ke dalam gerakan bawah tanah Jakarta. Sebagai sindikat yang sangat kuat dan terorganisasi, Sindikat 12 menjadi momok bagi polisi-polisi Sat Reserse Narkotika. Hingga akhirnya, persaingan antargeng dalam sindikat ini mulai merebak. Lalu, mereka mulai mati satu per satu dalam prosedur kematian yang diawali Juni 2006.

 

Sebelumnya, pada April 2006, Johan, seorang lelaki 'cantik' meninggalkan Vancouver, surga para penguasa bisnis gelap dunia, menuju Jakarta. Di tangannya, terpegang deretan nama  pimpinan Sindikat 12. Johan menjalankan kehidupannya di Jakarta dengan bantuan Indira, seorang perempuan baik hati dan Aretha, perempuan berjuluk penyihir yang masih memikat pada usia separuh baya. Jika Aretha tahu alasan kedatangan Johan yang tercatat sebagai warga negara Kanada ini, Indira sama sekali terkesan tidak tahu. Kedatangan Johan, putra Frans Al yang lolos dari tragedi belasan tahun silam,  diikuti rangkaian kematian pemimpin Sindikat 12.

 

Apakah kematian para pemimpin Sindikat 12 dikarenakan persaingan yang makin memanas di antara mereka? Ataukah Johan, sang survivor, yang menandaskan nyawa mereka?

 

Agusta Bram, Inspektur Polisi Satu Sat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya, ditugaskan mengusut kasus di kalangan mafia narkotika tersebut. Pada usia 22 tahun, Bram menjadi bagian dari Sat Reserse Narkotika untuk melampiaskan dendam yang bertunas di masa kecilnya. Ayahnya, seorang pecandu, dibunuh pengedar karena tidak mampu membayar utang. Untuk mendapatkan akses ke dalam jaringan Sindikat 12, Bram memanfaatkan Ferry Saada, putra seorang pemimpin sindikat. Ia membarter bukti kejahatan Ferry dengan informasi berharga dari lelaki flamboyan ini. Di dalam pekerjaannya kali ini, Ferry ditemani Erik, asistennya, seorang perempuan bernama maskulin.

 

Dalam investigasi Bram dan Erik, ditemukan satu nama, Miaa (dengan 2 a). Ia adalah mantan polwan yang berasal dari Yogyakarta. Miaa tidak mengenal ayahnya sampai ia berhubungan dengan seorang pemakai  Yahoo! Messenger. Informasi identitas ayahnya membuat Miaa terlibat dalam kasus yang ditangani Bram.

 

Usaha Bram mengelupas kasus, ternyata tidak mendapat restu dari Burhan D. Saputra, atasan baru Bram. Burhan bermaksud mengalihkan kasus yang ditangani Bram ke kesatuan lain. Tapi, Bram bersikeras tetap memegang kasus ini. Meski ia harus berusaha ekstra keras untuk menemukan kunci pembuka kasus dan melihat di balik pintu, sebuah rahasia yang disimpan dengan sebaik-baiknya oleh salah satu karakter novel. 

 

Selain Jakarta sebagai metropolis yang dijadikan seting, di dalam novel ini pembaca akan menemukan sebuah pub bernama Metropolis. Metropolis yang satu ini menyimpan sejarah dari seorang lelaki yang lolos dari puing-puing kerajaan Frans Al. Namun, walau beberapa karakter bersengkarut dengan pub ini, nama pub tentu saja tidak cukup signifikan untuk dijadikan judul novel. Metropolis jelas menggambarkan Jakarta dan ingar-bingar di dalamnya, terutama semarak jaringan narkotika yang tidak selalu mudah diberantas.

 

Berbeda dengan Orange yang bergenre metropop (untuk menyebut ChickLit hasil karya pengarang Indonesia), Windry tampaknya mesti berupaya keras mewujudkan pijaran ide dalam proses kreatif novel ini. Sebab, meski di dalamnya masih terkandung elemen romantis, Metropolis -seperti disebut di atas- adalah novel drama kriminologi, bukan drama romantis. Tidak bisa dipungkiri bahwa Windry melakukan riset soal bisnis narkotika, kepolisian, dan forensik untuk membuat karyanya bisa dipercaya. Hasilnya, ia terbilang fasih ketika menuliskan hal-hal tersebut. Tapi, dia tetap masih perlu mempelajari tentang dunia kepolisian Indonesia sehingga pembaca tidak usah mempertanyakan hal seperti Bram yang meminta dirinya untuk ditempatkan dalam Sat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya (bukan ditugaskan oleh atasannya). Atau duet Bram-Erik yang tampak bak sejoli detektif dalam film-film Holywood, tidak lazim di dunia kepolisian Indonesia.



 

Untuk Chronic Myelogenous Leukimia (CML) yang jadi penyakit salah satu karakter,  Windry cukup baik menggambarkan apa yang dialami si karakter. Sayangnya, ia tidak mahir menggambarkan akibat yang diderita pasien karena konsumsi STI571 (=signal transduction inhibitor number 571). Untuk diketahui, obat untuk terapi CML –yang mendapat persetujuan FDA Mei 2001 ini, tidak dijual dengan nama STI571. Obat yang dihasilkan dari riset industri farmasi Novartis yang bermarkas di Basel (Swiss) ini dijual dengan brand name Gleevec (USA) dan Glivec (Eropa/Australia).  Nama STI571 digunakan pada awal pengembangannya sebagai obat kanker.

 

Dari segi karakterisasi, Windry yang masih tergolong  wajah baru di ranah fiksi Indonesia  (hanya bermodalkan satu novel romantis) tergolong cantik. Dengan piawai, ia mengantar pembaca memahami setiap karakter utama dengan baik. Meski latarnya mungkin tidak sama dengan pembaca, dengan mudah pembaca akan memahami setiap karakter secara mendalam. Bram, Aretha, Johan, Miaa adalah karakter-karakter yang berada dalam domain abu-abu. Para karakter yang lazim menggunakan jendela maya Yahoo! Messenger ini memiliki 'keburukan' di satu sisi dan mendatangkan simpati di sisi lain. Agaknya, Windry ingin menyaksikan kepada pembaca bahwasanya karakter manusia selalu berada dalam kondisi terpolarisasi. Namun di sinilah salah satu keampuhan karakterisasi Windry, hadir tanpa membosankan.

 

Kekurangannya, Windry terkadang pelit memberi ruang bagi para karakternya. Ia tidak memaparkan masa lalu Bram secara detail, padahal pembaca perlu menelisik perjalanan hidup Bram dari seorang yatim menjadi polisi brilian yang pantang menyerah. Ia juga tidak menjelaskan perihal ketegaan ibu Bram meninggalkan Bram dalam kepecundangan suaminya. Apakah di hati Bram pernah terkilas keinginan mencari ibunya, seperti yang dirasakan Miaa pada ayahnya? Windry tak menyentil secuil pun.  Demikian juga Aretha. Apa sesungguhnya yang menyebabkan Aretha  mau melindungi kehidupan salah satu keturunan Frans Al? Apakah karena Frans Al menyerahkan pengelolaan uangnya pada MOSS, perusahaan konstruksi milik Aretha? Atau, mereka begitu dekatnya? Sedangkan yang bertalian dengan Mia, pembaca tidak diberikan alasan tegas yang menyebabkan ia dipecat dari kepolisian. Menurut Mia, ia dikeluarkan dari kepolisian karena menangkap penyelundup dan dinyatakan gagal dalam tugas. Tapi menurut Ferry Saada, alasan pemecatan Mia adalah karena hubungan darah dengan ayah biologis Miaa. Sebuah novel sudah tentu memiliki ruang yang memadai untuk menjawab semua pertanyaan ini.

 

Semua karakter ciptaan Windry menyusup dalam plot kompleks berpilin yang diarahkan dengan cemerlang. Hanya,  dalam plot tersebut, Windry tidak berhasrat merahasiakan identitas pembasmi Sindikat 12 untuk dikuakkan di penghujung plot. Sebelum mencapai pertengahan buku, pembaca sudah tahu dalang dan motifnya. Untungnya hal ini tidak membuat sisa cerita menjadi mubazir. Pengarang tetap menyimpan kejutan yang akan dibenturkan di benak pembaca sebelum tiba di bab penutup.

 

"Demi ayahku yang sudah mati..." demikian tagline yang disematkan untuk novel ini. Walau hanya diucapkan salah satu karakter (hlm. 85), ternyata kalimat ini berlaku pada beberapa karakter, menjadi pijakan bertindak mereka. Windry sungguh juara ketika mengembangkannya dalam bahasa yang tidak rumit dan enak diikuti.

 

Dalam kecakapan Windry merangkai kata, masih ditemukan rangkaian kalimat yang terasa kurang tepat.  Saya sebutkan contohnya.  "Apa yang baru saja dipaparkan oleh Bram tampaknya sudah sejak lama berada di benak bekas polisi itu" (hlm. 82:  sebaiknya Windry menggunakan pensiunan polisi). "Cari tahu saja siapa perempuan itu" (hlm. 106: sebelumnya, Aretha tidak menyebutkan 'dia' itu perempuan). Begitu juga pemakaian kata 'frustrasi' yang berulang menjadi 'frustasi'. Juga kalimat, "Ia pasti tertidur lama sekali, pikir Johan" (hlm. 284, sesuai aslinya isi pikiran Johan ditulis miring). Yang lebih tepat tentu saja:  "Aku (saya) pasti tertidur lama sekali, pikir Johan."

 

Pada akhirnya, selalu ada pamungkas untuk setiap novel. Metropolis memberikan akhir  yang membuka peluang hadirnya sekuel. Namun, mengingat pengarang menghadirkan karakter-karakter utama dalam domain abu-abu, ending yang disuguhkan pengarang sungguh pilihan yang tepat. Diawali dengan sebuah pemakaman, pengarang menuntaskan kisahnya, di sebuah pemakaman juga.


 

Posted at 01:34 am by Jody
Make a comment  

Thursday, May 28, 2009
THE ART OF RACING IN THE RAIN




Judul Buku: Enzo – The Art of Racing in the Rain

Pengarang: Garth Stein (2008)

Penerjemah: Ary Nilandari

Tebal; 408 hlm; 13 x 20,5 cm

Terbit: Cetakan 1, April 2009

Penerbit: Serambi


 

Di Mongolia ketika seekor anjing mati, ia dikuburkan di atas bukit. Ekornya dipotong dan diletakkan di bawah kepalanya. Seiris daging atau lemak dimasukkan ke dalam mulutnya sebagai bekal agar rohnya bertahan dalam perjalanannya. Sebelum mengalami reinkarnasi, roh anjing itu bebas menjelajahi bumi, berlari melintasi gurun selama yang ia mau. Itulah yang disaksikan Enzo dalam sebuah tayangan National Geographic., sebuah film dokumenter yang dibuat di Mongolia.


Tidak semua anjing akan terlahir kembali sebagai manusia. Hanya yang sudah siap. Pada usia yang ke-10 -menurut tahun kalender, Enzo sudah tua, sakit-sakitan, dan merasa siap untuk reinkarnasi. Ia telah belajar cara manusia berjalan, telah belajar menjadi pendengar yang baik, dan mengunyah makanan secara perlahan layaknya manusia. Ia tahu Denny Swift, majikannya, menyayanginya dan akan tetap berusaha mempertahankan hidupnya. Tapi, ia tidak ingin hidup lebih lama lagi. Tentu saja ia juga menyayangi Denny, namun memiliki lidah kecil untuk merangkai kalimat telah menjadi obsesi Enzo. Meski untuk itu, ia harus membayar dengan hilangnya semua yang pernah ia punya: kenangan dan pengalaman yang ia alami bersama keluarga Denny.


Menjelang ajal, di atas ubin dapur yang dingin, menyaksikan Denny Swift memanggang panekuk –yang tidak bisa lagi dia nikmati, Enzo mengenang kembali perjalanan hidupnya dengan Denny.


Denny membawanya pergi dari tempat kelahirannya, ketika berusia 12 minggu. Kelak, Denny mengatakan padanya bahwa pertama kali melihatnya, Denny tahu mereka telah ditakdirkan untuk bersama. Selama satu tahun pertama, mereka menjalin rasa sayang mendalam dan rasa saling percaya satu sama lain. Hingga Eve masuk ke dalam kehidupan Denny, membuat Enzo cemburu.

 

"Hati-hati sekali. Seperti ada telur di atas pedalmu, dan kau tidak ingin memecahkannya. Begitulah cara mengemudi dalam hujan," demikian kata Denny kepada Enzo (hlm. 23). "Pengemudi mobil takut hujan. Hujan memperbesar kesalahanmu dan air di jalur bisa membuat mobil bergerak tak terduga. Ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi padamu, kau harus segera bereaksi; jika kau bereaksi dalam kecepatan tinggi, kau akan selalu bereaksi terlambat. Jadi sudah semestinya kau takut." (hlm. 59). Bagaikan pengemudi di jalur balap, bagi Enzo, Eve adalah hujannya, unsur tak terduga, ketakutannya.  "Namun, seorang pembalap tidak boleh takut hujan, seorang pembalap seharusnya merangkul hujan" (hlm. 63). Maka, Enzo berupaya menjalin persahabatan dengan Eve. Apalagi setelah Eve melahirkan Zoë dan meminta Enzo untuk melindungi anak perempuannya itu.  Bahkan suatu hari, Eve juga mencegah Denny menyakiti Enzo kala sesuatu yang menakutkan terjadi dan Enzo dipandang bersalah. Lambat laun Enzo merasa, bersama keluarga Swift, ia pun memiliki sebuah keluarga. Oleh sebab itu, kematian Eve membuatnya sangat terpukul.


Enzo sadar, penyakit yang merenggut nyawa Eve-lah yang menjadi pembuka kotak Pandora dalam hidup Denny. Setelah kematian Eve, Denny tidak hanya harus berjuang mempertahankan hak asuh anaknya, tetapi juga mesti menghadapi tuduhan pemerkosaan seorang remaja kenes. Sementara itu, Denny pun mengalami kesulitan finansial di tengah-tengah kewajiban membayar pengacara, menafkahi putrinya, dan merawat anjingnya yang sakit. Padahal bekerja di sebuah toko onderdil mobil dan sesekali menjadi guru mengemudi tidak cukup untuk menalangi semua pengeluaran.


Sebenarnya pekerjaan yang dijalani Denny bukanlah pekerjaan yang terbaik baginya. Sebagai fans terbesar dan pendukung paling setia karier Denny, Enzo yakin Denny sama hebat dengan Ayrton Senna. Enzo pernah menyaksikan aksi Senna pada Grand Prix Eropa tahun 1993 di TV. Ia juga telah menyaksikan rekaman video saat Denny mengikuti balap ketahanan di Portland. Baik Ayrton Senna maupun Denny Swift memiliki kecakapan mengemudi dalam guyuran hujan. Sayangnya, tidak ada yang tahu kemampuan Denny. Meskipun demikian, Enzo percaya, setelah semua masalah berlalu, setelah ia mengalami reinkarnasi, majikan tersayangnya akan menjadi pembalap profesional yang akan menjuarai Formula Satu. Sama seperti Ayrton Senna.


Kisah tentang Enzo dan keluarga Swift terdapat dalam novel bertajuk The Art of Racing in the Rain karya Garth Stein. Novel ketiga Stein setelah Raven Stole the Moon (1998) dan  How Evan Broke His Head (2005) ini diedisi-indonesiakan oleh penerbit Serambi dengan banner ENZO. Edisi Indonesia ini merupakan karya terjemahan Ary Nilandari. Diterjemahkan dengan penuh perasaan, pembaca akan dituntun mengikuti alur kisah yang dinarasikan oleh Enzo, seekor anjing keturunan labrador-terrier.  Sekadar informasi, nama Enzo diambil dari nama pembalap Italia yang mendirikan tim balap Scuderia Ferrari, Enzo Anzelmo Ferrari (1898-1988).



 

 

Enzo adalah seekor anjing yang cerdas dan imajinatif. Ia belajar banyak dari Denny termasuk belajar mencintai balap, profesi yang menjadi pengejaran hidup Denny. Balap tidak hanya menjadi tontonan wajib Enzo di TV, tapi juga memberikannya pelajaran bahwa teknik-teknik di arena balap bisa membantu manusia menjalani kehidupan dengan baik. Selain Speed Channel yang menayangkan balap, Enzo juga menonton berbagai saluran TV seperti Discovery Channel, National Geographic, dan saluran yang memutar film-film yang dimainkan aktor-aktor favoritnya. (Secara berurut: Steve McQueen, Al Pacino, Paul Newman, George Clooney, Dustin Hoffman, dan Peter Falk).

 

Dalam keyakinannya untuk menjadi manusia, Enzo menantang Teori Evolusi Darwin yang dipelajarinya dari TV. Bagi Enzo, sebenarnya kerabat terdekat manusia bukanlah monyet, melainkan anjing. Enzo merasa perlu menyajikan bukti yang sesuai dengan teorinya (hlm. 31-32). Dengan bukti itu, Enzo makin yakin jika setelah mangkat, ia akan menjelma manusia.

 

Sempat Enzo berkhayal, ia akan diajari membaca dan mendapat sistem komputer yang sama dengan Stephen Hawking. Sehingga tanpa kemampuan seperti manusia, ia akan bisa menghasilkan buku yang hebat. Khayalan yang sama masuk dalam mimpinya ketika menanti putusan pengadilan majikannya (hlm. 381-385). Dengan cara berkomunikasi ala Stephen Hawking, Enzo bermimpi bisa membebaskan Denny dari pengadilan. Karenanya, apa yang tertulis pada sampul belakang novel  sebenarnya keliru. Enzo sama sekali tidak, 'membebaskan majikannya dari pengadilan atas tuduhan pemerkosaan'.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan muncul di benak pembaca sebelum menyisir habis halaman novel adalah: apakah Enzo benar-benar menjelma manusia seperti keyakinan yang dipegangnya? Apakah Denny Swift sesuai harapan Enzo akan menjadi pembalap Formula Satu seperti Ayrton Senna? Kedua pertanyaan ini baru terjawab pada bagian pamungkas novel saat Enzo mengundurkan diri sebagai narator.

 

Tidak sedikit karya fiksi yang meriwayatkan hidup anjing. Tapi, tidak banyak novel yang mendapuk anjing sebagai narator. Salah satu dari yang tidak banyak itu adalah A Dog's Life  karya Ann M. Martin (Gramedia, 2006) yang lebih dahulu terbit. Hanya, kisah dalam A Dog's Life berbeda dengan The Art Racing in the Rain. Jika A Dog's Life hanya berpusar pada kehidupan anjing dan karakter manusia sekadar pelengkap, The Art of Racing in the Rain  mengangkat kehidupan anjing dan manusia sebagai sajian utama. Enzo sang narator tidak saja mengungkap kehidupannya sebagai anjing, tapi juga kehidupan dan konflik keluarga yang memeliharanya. Pengarang berhasil memanfaatkan Enzo untuk menggulirkan kisah racikannya yang memang tampil beda. Tampaknya pengarang sangat memahami anjing dan bisa memosisikan diri ke dalam pribadi si anjing. Di dalam kehidupan nyata, Stein memelihara seekor anjing bernama Comet. Pada masa kecilnya, keluarganya memelihara seekor anjing bernama Muggs. Jika Anda memperhatikan halaman dedikasi, Anda akan menemukan nama Muggs tercantum di sana.

 

Novel yang berakar dari film dokumenter tentang anjing di Mongolia berjudul State of Dogs ini ditulis dengan bahasa yang lancar –kerap jenaka,  dalam narasi pintar yang enak dibaca. Terjemahan edisi Indonesia bagus sehingga tetap asyik diikuti. Selama membaca, mustahil rasanya pembaca tidak tersentuh oleh penuturan Enzo. Tanpa sadar, mungkin, mata pembaca telah berkaca-kaca.

 

Jennifer Barth (sampul depan), editor eksekutif HarperCollins yang menerbitkan novel ini berkomentar. "Saya langsung terpikat dengan paragraf pertama, air mata saya merebak di bab 2. Dan begitu sampai di halaman 70, saya sadar bahwa kami harus mendapatkan buku ini." Maka, saya pun langsung terpikat dengan paragraf pertama, makin terpikat setelah lama membaca, mata saya pun ikutan merebak, hanya sebelum halaman 70, saya sudah memutuskan untuk menamatkan novel ini.


Posted at 11:57 am by Jody
Make a comment  

Wednesday, May 27, 2009
THE OLD MAN AND THE SEA




Judul : Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea)

Pengarang; Ernest Hemingway (1952)

Penerjemah: Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat

Terbit: Cetakan 1, Mei 2009

Tebal: 148 hlm; 13 x 20,5 cm

Penerbit: Serambi




The Old Man and The Sea (Lelaki Tua dan Laut) merupakan karya legendaris dari pengarang Amerika terkemuka sepanjang zaman, Ernest Miller Hemingway (1899-1961). Pada 1953, novela ini mengantar Hemingway memperoleh Hadiah Pulizer dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Setahun kemudian, 1954, novela ini mendukung Hemingway meraih Hadiah Nobel Sastra.

The Old Man and The Sea berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua Kuba yang melaut seorang diri demi menangkap ikan marlin raksasa.  Sebelumnya, Santiago telah mencoba menangkap ikan selama 84 hari di perairan Arus Teluk dan tidak memperoleh seekor pun. Selama 40 hari pertama, ia ditemani seorang bocah bernama Manolin. Tapi, setelah selama itu tidak menghasilkan apa-apa, orangtua Manolin menarik anak mereka untuk menangkap ikan di perahu lain.


"Segala sesuatu yang ada padanya telah tampak sangat tua, kecuali matanya. Kedua matanya memiliki nuansa warna yang sama dengan warna lautan. Mata itu tampak bersinar riang serta tak tertaklukkan oleh apa pun." (hlm. 8).  Demikianlah Santiago dideskripsikan.


Mata adalah jendela jiwa, maka demikian pula jiwa Santiago. Ia memutuskan melaut lagi. Tidak peduli olok-olok sesama nelayan yang disasarkan padanya. Bukan baru kali ini puluhan hari melaut ia tidak mendapatkan apa-apa. Ia pernah melaut selama 87 hari dan tidak mendapat seekor ikan pun. Manolin yang sudah mengikutinya sejak usia 5 tahun, memang membawa keberuntungan baginya. Setelah 87 hari hampa, Manolin ikut dan mereka bisa menangkap seeekor ikan besar setiap hari selama 3 minggu. Hanya, kali ini, meski Manolin ingin ikut, Santiago menampiknya.  Apalagi, ia akan pergi jauh ke tengah lautan.


Akankah Santiago berhasil mendapatkan ikan marlin raksasa pada pelayarannya yang ke-85 hari? Laut tidak sepi, bukan hanya ikan marlin yang mempertaruhkan hidup di sana. Santiago tidak hanya harus pantang menyerah membuktikan keberuntungannya kali ini, tapi mesti berhadapan dengan keganasan sejumlah hiu yang tergiur amis darah dan kerapuhan raganya sendiri. Hanya satu keyakinan yang ia pegang: Manusia bisa dihancurkan, tapi tak bisa ditaklukkan (hlm. 113).


The Old Man and The Sea
dikenal sebagai masterpiece dari Hemingway. Novela ini berhasil menyita banyak perhatian khayalak dan menjunjung tinggi nama Hemingway di ranah sastra dunia. Karya fiksi terakhir yang diterbitkan sewaktu pengarangnya masih hidup ini, muncul pertama kali sebagai bagian dari majalah Life edisi 1 September 1952. Dalam waktu dua hari, 5,3 juta eksemplar majalah ini habis terjual. Kesuksesan ini diikuti penerbitannya sebagai buku pada bulan yang sama.

 



Awalnya, Hemingway merencanakan sebuah trilogi besar yang disebutnya sebagai The Sea Book. Trilogi ini kabarnya akan terdiri atas The Sea When Young, The Sea When Absent, dan The Sea in Being. Belakangan hanya ditulis satu judul, The Old Man and The Sea. Ide penulisan novela ini muncul tatkala Hemingway menetap beberapa waktu di Acciaroli, sebuah desa nelayan, sekitar 136 km di selatan Napoli (Italia). Di sana Hemingway terpukau pada Antonio Masarone, seorang nelayan tua berjuluk 'Mastracchio' (berarti Lelaki Tua). Akan tetapi, ia menulis novela ini di Kuba, tempat ia berlayar dan memancing ikan dengan yacht-nya yang bernama Pilar. Karena dipekerjakan untuk merawat Pilar, Georgio Fuentes (1897-2002), seorang nelayan Kuba, juga disebut-sebut telah membantu Hemingway membangun karakter Santiago. Siapapun orang yang telah menjadi sumber inspirasi, hal ini mengindikasikan bahwa Hemingway betul-betul menulis berdasarkan realita di sekelilingnya. Oleh karena itu, Santiago menjadi karakter yang realistis.

Sebagai novela, The Old Man and The Sea ditulis tanpa bab atau bagian. Kisah di dalamnya mengalir tanpa jeda. Dalam keringkasan ceritanya, Hemingway menggunakan gaya penulisan yang sederhana dan cenderung minimalis. Ketika pembaca telah mendapatkan ritme yang tepat, buku ini dapat tersadap sekali duduk.

Santiago, sang protagonis, adalah karakter stoic, yaitu sosok yang tetap mempertahankan keanggunan kendati berada di bawah tekanan. Bermodalkan kesabaran, kekuatan hati, dan semangat yang tidak takluk pada situasi, Santiago berhasil mengatasi semua tantangan yang menghadang sendirian. Walau takdir menaruhnya dalam momen genting, ia mampu menguasai emosi. Dalam ketertutupannya, ia memang tidak membiarkan dirinya dilongsor emosi. Misalnya, ketika diolok-olok nelayan lain saat gagal dalam pelayaran 84 hari, ia tidak terpicu menjadi geram. Mungkin apa yang tergambar dalam diri Santiago merupakan heroisme di mata Hemingway. Dalam kesendirian, seorang manusia mesti berhasil mengatasi penderitaan dan ketakutan yang menghampiri.

Perjuangan tak kenal menyerah Santiago untuk membawa pulang ikan marlin raksasa setidaknya akan mengajarkan pembaca bahwa kesabaran, kekuatan hati, dan semangat mengatasi cobaan hidup mampu menghasilkan kesuksesan. Kita hanya harus bisa mengendalikan emosi untuk mempermulus perjuangan kita. Perjuangan hidup juga membutuhkan persahabatan yang tulus. Manolin, yang masih belia mampu memberikannya kepada Santiago. Kendati Santiago mengalami kegagalan sebagai nelayan,  Manolin tetap menyatakan di hadapannya bahwa dirinya adalah nelayan terhebat dari semua nelayan hebat.

Saking populernya, The Old Man and The Sea telah diadaptasi berkali-kali ke dalam film (bioskop dan TV). Antara lain yang tersohor adalah versi sinema produksi tahun 1958 dengan bintang utama Spencer Tracy sebagai Santiago dan film TV produksi 1990 yang dibintangi Anthony Quinn sebagai Santiago. Pada tahun 1999, karya Hemingway ini dialihkan ke dalam versi film animasi oleh Alexandr Petrov.  Film animasi yang diciptakan dari 29 ribu gambar yang dilukis tangan ini dirilis bertepatan dengan peringatan 1 abad kelahiran Ernest Hemingway.

 

Salut kepada Penerbit Serambi yang menunjukkan tekad dalam menerbitkan karya-karya klasik dunia ke hadapan khayalak pembaca tanah air. Setidaknya ini bisa menjadi upaya untuk memperkenalkan karya-karya klasik yang mungkin sudah menjadi asing bagi pembaca karya fiksi masa kini. Sebelum The Old Man and The Sea, penerbit yang sama telah menerbitkan fiksi klasik lain seperti Lolita dan Maria (Vladimir Nabokov), Bonjour Tristesse (Françoise Sagan), dan Breakfast at Tiffany's (Truman Capote).


Posted at 11:52 am by Jody
Make a comment  

Monday, May 25, 2009
NEGERI VAN ORANJE


Judul: Negeri Van Oranje

Pengarang: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

Penyunting: Gunawan BS

Terbit: Cetakan 1, April 2009

Tebal: viii + 478 hlm; 20,5 cm

Penerbit: Bentang Pustaka


 

Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa S2 asal Indonesia di Belanda. Mereka tidak bertemu di ruang kelas, karena mereka belajar di universitas berbeda di kota yang berbeda. Mereka bertemu di stasiun kereta api Amersfort ketika terjadi badai, membutuhkan rokok dan teman bercakap dalam bahasa ibu.  Mereka adalah Banjar, Wicak, Daus, Geri, dan Lintang.

 

Banjar, pria Banjarmasin lulusan institut teknik ternama di Bandung, manajer pemasaran di salah satu industri rokok paling kondang di Indonesia, mengejar gelar MBA di Rotterdam. Wicak, anak Banten lulusan Fakultas Kehutanan IPB, pekerja sebuah LSM internasional berpusat di Belanda, memutuskan menjadi mahasiswa research master di Wageningen, gara-gara dikejar mafia kayu. Daus, putra Betawi asli lulusan Fakultas Hukum UI (dan bekerja di Departemen Agama), mendapat beasiswa S2 STUNED, memilih program Human Rights Law di Utrecht. Geri, lelaki Bandung yang telah menetap di Belanda sejak bachelor (S1) dan mengambil master di Den Haag. Dan satu-satunya cewek, Lintang, penari tradisional nan cantik, sarjana sastra dari sebuah universitas negeri di Depok, mengambil program master di bidang European Studies, Leiden.

 

Pertemuan di stasiun kereta api itu menumbuhkan persahabatan di antara mereka. Pembentukan milis  yang diberi nama Aagaban (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands) diikuti dengan saling silahturahmi kian mengukuhkan persahabatan mereka. Kebersamaan yang tercipta ternyata tidak hanya mempererat hubungan mereka, tetapi juga memicu kompetisi diam-diam yang lambat laun menjadi terang-terangan. Sebuah kompetisi untuk memenangkan cinta Lintang. Sementara Lintang sendiri, asyik menjalankan misi yang dibawanya dari tanah air, mendapatkan suami WNA yang tinggal di luar negeri.   

 

Apakah persahabatan di antara mereka akan tetap terjalin ketika cinta –dan sudah pasti cemburu, menyusup di antara mereka? Apakah Lintang akan menguburkan obsesinya terhadap pria WNA untuk satu dari sahabat lelakinya?  Pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab tuntas pada bagian-bagian akhir novel yang diberi judul Negeri Van Oranje

 

Negeri Van Oranje merupakan novel kolaborasi empat pengarang yang telah mengenyam kehidupan sebagai mahasiswa S2 di Belanda. Keempat pengarang itu, Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana, kabarnya tidak sengaja bertemu dan menjalin pertemanan di negara di mana ganja dibolehkan, eutanasia dilegalkan, dan perkawinan sesama gender diizinkan itu. Pertemanan di antara ' satu mawar tiga duri ' tersebut akhirnya melahirkan gagasan untuk mendokumentasikan pengalaman di rantau. Novel menjadi bentuk penyaluran yang mereka pilih. Dan sebagai novel, mereka menciptakan karakter yang beranjak dari pribadi mereka yang diadon dengan karakter yang benar-benar fiktif. Oleh karena itu, mereka tidak diberi nama Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana.

 

Apakah keempat pengarang ini menulis secara bersamaan atau secara estafet atau masing-masing mendapat jatah satu karakter untuk dikembangkan?  Kita tidak akan menemukan penjelasan 'berharga ' ini di dalam buku meski para pengarang mendapat ruang sekitar 10 halaman (pada bagian akhir) untuk bercuap-cuap. (Menurut saya, lebih baik halaman 473-477 diisi dengan proses penulisan novel ini). Dalam ketipisannya, karya keroyokan Travelers' Tale Belok Kanan : Barcelona! (Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidayat, Ninit Yunita: GagasMedia, 2007) tetap memberitahu pembaca jika masing-masing pengarang mendapatkan jatah satu karakter untuk dikembangkan. Demikian juga The Messenger (La Rane Hafied Gany, Tuteh Pharmantara, Elsa van deer Veer, dan Eliana Noor: Gramedia, 2007), masih menginformasikan kepada pembaca jika novel ini ditulis secara estafet oleh para pengarang tanpa perencanaan terlebih dahulu.  

 

Tujuan utama penulisan novel ini langsung bisa diketahui pembaca ketika melembari novel ini. Para pengarang menyampaikan hal-hal yang sangat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke Belanda, terlebih yang ingin tinggal untuk bersekolah di sana. Selain deskripsi akurat pesona Belanda dan panduan tur terutama di kota-kota Belanda (yang ditambah sedikit dengan beberapa kota di Eropa lainnya) yang disampaikan dengan penuh semangat, para pengarang secara khusus memberikan berbagai informasi perihal kehidupan di Belanda. Akses internet yang cepat, hal-hal tentang merokok, belanja, bersosialisasi, event-event yang layak disaksikan, diurai dengan mendetail. Demikian juga hal-hal yang terutama ditujukan untuk mahasiswa seperti mencari kerja untuk mendapatkan tambahan dana, kegiatan-kegiatan murah meriah untuk mengisi waktu, trik mencari tempat tinggal, kiat menjadi pelajar yang baik, cara menghadapi birokrasi, dan menyusun perjalanan dengan dana terbatas.

 

Daya tarik Belanda dan kota-kota di Eropa serta seluk-beluk kehidupan negeri Van Oranje tentu saja tidak cukup untuk dikemas sebagai novel. Tambahan romantika kehidupan mahasiswa seperti penyelesaian tugas, penyusunan thesis, masalah laptop yang crash dan bekerja paruh waktu demi mendapatkan tambahan biaya hidup juga belum melengkapi. Diperlukan konflik menarik untuk mengikat perhatian pembaca. Maka, para pengarang membubuhkan cinta ke dalam novel, lengkap dengan petualangan dan persaingan. Penyedap rasa yang ditambahkan dengan takaran yang tepat inilah yang mengasah daya tarik novel ketika berbaur dengan pencarian jawaban setiap karakter atas pertanyaan 'untuk apa pulang ke Indonesia setelah habis kuliah'.

 

Meski tidak ada kabar jika keempat pengarang Negeri Van Oranje sebelumnya pernah menghasilkan karya fiksi, mereka bukanlah pengarang yang bisa dipandang sebelah mata. Mereka memang menggunakan bahasa yang tidak bersih, namun berhasil menggiring pembaca dengan kekuatan bernarasi yang kocak dan segar. Pembaca akan menikmati rangkaian-rangkaian kalimat yang tetap enteng dibaca, kendati sedang menyampaikan sejarah sebuah kota. Dari segi karakterisasi, para pengarang memiliki kemampuan yang memadai. Setiap karakter utama dikemas cukup kuat dan hidup walaupun cenderung komikal. Hanya, mereka mengusung plot yang sederhana dan bergulir lambat, pembaca harus sabar untuk mencapai konflik utama yang baru meledak pada bagian-bagian akhir novel.

 

Selamat untuk Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, dan Rizki Pandu Permana yang sudah mau membagi pengalaman hidup mereka untuk dinikmati pembaca Indonesia, dalam bentuk novel. Sungguh memberi inspirasi!


Posted at 01:42 pm by Jody
Comment (1)  

Thursday, May 14, 2009
MIMPI BAYANG JINGGA




Judul: Mimpi Bayang Jingga
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penyunting: Imam Risdiyanto
Tebal: vi + 214 hlm; 13 x 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, April 2009
Penerbit: Penerbit Bentang (Pustaka Populer)

 

 

 

"Kisah yang pernah menjadi juara ke-2 lomba cerber tabloid Nyata ini akan memberikan sentuhan lembut nan memukau kepada Anda".


Kalimat ini tercantum pada bagian luar sampul belakang buku Mimpi Bayang Jingga karya Sanie B. Kuncoro. Sebelum menilik isinya, kalimat ini akan menggiring pembaca untuk percaya bahwa Mimpi Bayang Jingga adalah sebuah novel. Apalagi kata "Novel" memang disematkan pada buku ini. Padahal, sesungguhnya, Mimpi Bayang Jingga adalah kumpulan tiga novela: The Desert Dreams, Mimpi Bayang, dan Jingga. Entah kenapa penerbit seolah-olah hendak memosisikan buku ini sebagai novel. Apakah karena novel adalah jenis buku yang lebih banyak dibeli dibanding karya fiksi jenis lain?


Ketiga kisah dalam Mimpi Bayang Jingga berkisar pada hubungan cinta antara perempuan dan laki-laki. Sehingga, ketiganya bisa ditinjau dari berbagai perspektif karakter yang dihadirkan pengarang. Namun, tentu saja, yang paling menarik adalah meninjaunya dari perspektif perempuan. Apalagi, ketiga kisah tersebut ditulis seorang perempuan.


The Desert Dreams
berkisah tentang May. Perempuan ini memiliki kemampuan 'melihat' sesuatu atau seseorang yang tidak terlihat oleh orang lain. Tetapi ia tidak bisa 'melihat' bila perasaannya terlibat di dalamnya. Karenanya, ketika Baron -suaminya, jatuh cinta pada perempuan lain, May tidak segera menyadarinya. May baru mengetahui hati suaminya telah beralih manakala perempuan yang dicintai suaminya datang ke tempatnya untuk 'dilihat'.


"Mimpiku adalah sebuah rumah di tepi pantai berkarang. Pantai itu berombak jernih hingga pasir putihnya terlihat jelas di dasar air. Ada banyak jajaran pohon kelapa dan palem, dengan dedaunan hijau yang teduh. Akan kubuat perpustakaan dengan kafe di teras. Buku yang ada hanya tentang perjalanan, Kisah Para Petualang." Demikianlah impian Jingga, perempuan yang namanya dijadikan judul novela yang menjadi Juara ke-2 lomba cerber tabloid Nyata. Impian ini diuraikannya di hadapan seorang lelaki bernama Bentang, lelaki yang tidak membutuhkan impian untuk hidup karena memiliki segalanya. Setelah menjalin hubungan dengan Bentang, Jingga sadar, ia punya impian lebih dari sekadar sebuah rumah di tepi pantai berkarang. Ia mengimpikan sebuah pernikahan yang akan ditawarkan lelaki yang dicintainya. Sayang, lelaki tanpa impian itu hanya ingin menikmati cinta, tetapi tidak pernikahan.


Frangipani dalam Mimpi Bayang tiba-tiba menemukan dirinya berada di persimpangan di sebuah kota bernama Pringsewu. Ia tidak tahu mengapa bisa berada di sana, tetapi bak diatur, ia menemukan lelaki, yang bersamanya, Frangi bisa melihat dan mengoreksi diri sendiri. Sementara Frangi bertualang, seorang pemuda bernama Jati berada di sebuah kamar perawatan di sebuah rumah sakit menunggui kekasihnya yang terbaring koma.


Ketiga novela itu memiliki kesamaan: perpisahan. Tetapi kesamaannya hanya sampai di situ. Perpisahan yang terjadi di antara para karakter bersumber dari sebab yang tidak sama. May memutuskan berpisah dari Baron karena kehadiran orang ketiga; Jingga berpisah dengan Bentang karena tidak ingin dianggap menjerat kekasihnya untuk menikahinya; Frangi berpisah dengan Jati karena tidak mendapatkan titik singgung dalam hubungannya mereka. Dua dari tiga perpisahan tersebut tidaklah gampang, namun pamungkasnya yang menggantung membuka kemungkinan, meskipun tipis.


Ketiga novela tersebut ditulis dengan lembut, berefek melenakan dengan kata-kata yang dirangkai manis namun terkadang getir. Plot yang dirancang menemukan akhir dengan cara tidak melegakan, tetapi menciptakan gedoran yang bermakna. Pada dua novela pertama ketika pengarang menyodorkan kepasrahan perempuan menghadapi keadaan, pembaca akan tergelitik untuk bertanya-tanya 'apa yang terjadi' setelah ending berlalu. Apakah May dan Baron atau Jingga dan Bentang akan menemukan kebahagiaan setelah semua masalah terlewatkan?


Namun harus diakui, dari ketiga novela tersebut, Jingga-lah yang punya kemampuan menggedor perasaan yang paling maksimal. Meskipun plotnya lurus dan bergegas –mungkin untuk menyesuaikan dengan ketentuan lomba yang diikuti, muatan kisah cintanya yang rawan tetap tidak kehilangan pesona hingga akhir. Mungkin itulah sebabnya, novela ini mewakili yang lain untuk tampil pada sampul belakang novel.


Dari segi penceritaan, The Desert Dreams tampil beda. Jika Jingga dan Mimpi Bayang dituturkan dari perspektif orang ketiga, The Desert Dreams hampir semuanya dari perspektif orang pertama yaitu dari perspektif tiga karakter utamanya: May, Baron, dan Orien. Pada penghujung setiap narasi, ketiga karakter ini akan tiba di "The Desert Dreams'. Meski rasa yang tercecap dari ketiga narasi nyaris sama, pengarang bisa menyiasati perjalanan kalimat menuju akhir dengan baik tanpa kesan mengada-ada (hlm. 58, 60, dan 65- 66). Hanya, perpindahan perspektif, dari 'aku-dia' menjadi 'aku-kamu' pada halaman 47-48, terasa mengganggu.


Akhirnya, setuju dengan testimoni pada sampul depan buku ini, karya Sanie B. Kuncoro akan selalu dirindukan oleh pembaca yang sudah pernah membaca karyanya: Kekasih Gelap atau Ma Yan.

 

Posted at 11:19 am by Jody
Make a comment  

Wednesday, May 13, 2009
KELUARGA FLOOD: Tersangka Utama



Judul: Keluarga Flood -Tersangka Utama
Judul Asli: Floods 5: Prime Suspect
Penulis: Colin Thompson (2007)
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Indah Nurchaidah
Terbit: Cetakan 1, Maret 2009
Tebal: 200 hlm; 13 x 20 cm
Penerbit: Atria ( an Imprint of PT Serambi Ilmu Semesta)





Keluarga Flood: Rencana Profesor Belgia Yang Mati

 



Bagi Colin Thompson, ada tiga jenis orang: super keren, super keren dan brilian, dan pecundang sejati. Pembaca mungkin langsung akan memosisikan diri sebagai super keren dan brilian. Padahal sebenarnya pecundang sejati. Bagaimana bisa masuk kategori pecundang sejati? Jawabannya mudah saja: Anda tidak tahu buku berjudul Tersangka Utama (Prime Suspect) ini merupakan buku kelima dari serial The Floods (Keluarga Flood). Berarti Anda juga tidak tahu, sebelum Tersangka Utama, telah terbit Tetangga Menyebalkan, Sekolah Sihir, Asal Usul Keluarga Flood, dan Tetangga Culun.


Maka, jika Anda ingin menjadi super keren dan brilian, Anda sebaiknya terus membaca tulisan di bawah ini.


Sebuah rencana brilian yang akan tercatat dalam sejarah sebagai rencana tercerdik dan terlicik telah ditetapkan.
Si perencana menamakan rencana enam langkahnya sebagai Rencana Profesor Belgia Yang Mati. Tujuan dari rencana ini tidak lain adalah untuk membuat Mordonna dan Nerlin, kepala keluarga Flood, keluar dari persembunyian. Si perencana akan menaruh sosok mayat di Quicklime College, sekolah khusus penyihir di Patagonia dan menciptakan situasi yang akan membuat lima anak keluarga Flood – Winchflat, Morbid, Silent, Merlinmary, dan Satanella- yang bersekolah di sana dicurigai sebagai pembunuh.


Si perencana berhasil. Departemen Penyidikan Khusus Forensik atau Forensic Special Investigators mengutus Grusom, legenda di dalam keremangan dunia ilmu forensik, untuk memecahkan kasus pembunuhan ini. Berbekal metode Lemparkan-Segenggam-Kacang-Polong-Ajaib-Ke-Udara dan Avid, asisten barunya yang menawan, Grusom melakukan investigasi yang sukses mengarahkan kecurigaan pada Flood Bersaudara.


Namun Colin Thompson, sang pengarang, telah memperingatkan. "Rencana itu brilian dan sangat rumit serta licik sehingga bahkan .... (nama si perencana sengaja dikosongkan, walau jika Anda selesai baca tulisan ini, Anda yang super keren dan brilian akan menebak dengan jitu) sendiri pun tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian" (hlm. 107). Si Perencana memang tidak tahu, baginya telah disiapkan sebuah Botol-Super-Kuat-Yang-Sangat-Tembus-Pandang-Sehingga-Kau-Tidak-Melihatnya untuk menjadi peraduannya.


Tersangka Utama masih dimasak dengan metode dan bahan penyedap yang sama seperti pendahulunya. Sejak halaman awal, yang menjelaskan jika kisah dalam buku kelima ini terjadi setahun setelah buku keempat (Tetangga Culun), Thompson telah membubuhkan bahan penyedap, yang mungkin bagi sebagian pembaca akan terasa terlampau gurih. Buku ini memang tidak berisi cerita fantasi biasa yang kerap masih bisa diraba logikanya. Hampir semua yang disampaikan pengarang bersifat hiperbolis. Pengarang sama sekali tidak malu membangun kesan sebagai pribadi 'lewat takaran'. Seakan-akan apa yang di dalam kisahnya belum cukup gokil, atas namanya sendiri (yang harusnya berada di luar garis kisahnya), pengarang mengimbuhkan catatan kaki konyol. Gaya seperti ini telah dipraktikkannya sejak buku pertama (Tetangga Menyebalkan). Ia, jelas hendak menegaskan, serial ini ditulis tidak dengan maksud dibaca secara serius. Semua kisah yang ia beber hanya sekadar hiburan yang bisa dinikmati untuk mengusir kesuntukan. Makanya, pembaca tidak perlu tersiksa dengan semua aspek mustahil di dalamnya.


Meskipun begitu, sebagaimana buku-buku sebelumnya, Tersangka Utama tidak sampai kehilangan arah. Pengarang tetap meletakkan konflik di dalamnya, konflik yang dipicu di Transylvania Waters, tempat asal Mordonna dan Nerlin Flood. Kapan konflik itu akan berakhir, pembaca akan tahu begitu serial ini ditamatkan.


Selain menulis cerita, pengarang yang telah menerima penghargaan seperti Kate Greenaway Medal, Aurealis Award, dan Hampshire Illustrated Book Award ini juga seorang ilustrator. Ia menghias buku ini dengan gambar-gambar hitam putih yang boleh dibilang, sangat jauh dari kesan manis.


Edisi Indonesia terbitan Atria (imprint dari penerbit Serambi) enak dan gampang dibaca. Penerjemah yang pada 2 buku pertama serial ini bertindak sebagai penyunting (diterjemahkan oleh Shinta Harini) berhasil menerjemahkan dan tetap konsisten dengan gaya penerjemahan sebelumnya. Satu yang tidak konsisten adalah pemakaian nama Hearse Whisperer, agen rahasia kesayangan Raja Quatorze. Jika pada buku ini muncul nama Hearse Whisperer, pada buku sebelumnya (Asal Usul Keluarga Flood), pernah muncul nama Pembisik Maut. Namun, terlepas dari itu, hasil penerjemahannya sama sekali tidak mengecewakan.

 

Nah, pasti Anda sudah tahu ruginya tidak jadi super keren dan brilian.

 





Posted at 11:07 am by Jody
Make a comment  

Sunday, May 10, 2009
Video: I'm Yours - Jason Mraz

/>

Posted at 11:36 pm by Jody
Make a comment  

Next Page





widgets