"Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas" – (Jostein Gaarder & Klaus Hagerup, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken)
Selamat Datang di Dunia Buku-ku!
Blog ini berisi review buku-buku yang pernah kubaca.
Terima kasih telah berkunjung, semoga bermanfaat.
Judul Buku : The Sisters Grimm: Petualangan
Detektif Dongeng Judul Asli : The Sisters Grimm, Book One –The Fairy-Tale Detectives Penulis : Michael Buckley Penerjemah : Mutia Dharma Penyunting: Maria Masniari Lubis Tebal : 320 halaman Terbit: Cetakan 1, Januari 2007 Penerbit: Qanita
BILA KELUARGA GRIMM MENJADI DETEKTIF
Kata sahibulhikayat, ketika Brothers Grimm -Jacob Ludwig Carl Grimm dan Wilhelm Carl Grimm masih hidup, makhluk-makhluk dalam kisah-kisah dongeng benar-benar hidup di antara manusia. Suatu ketika terjadi ketegangan dalam waktu yang lama antara mereka dan manusia. Ketegangan ini mencapai puncak ketika para makhluk dongeng yang menyebut diri mereka sebagai Everafter diburu, ditangkap, atau dipaksa bersembunyi karena mereka berbeda.
Melihat keadaan ini, Brothers Grimm berpikir masa dongeng mungkin akan segera berakhir. Mereka memutuskan mendokumentasikan sebanyak mungkin cerita yang bisa mereka kumpulkan demi kebaikan generasi penerus. (Dalam kenyataan, kedua profesor Jerman ini telah menulis lebih dari 200 cerita dongeng yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 160 bahasa. Karya mereka antara lain Rapunzel, Cinderella, Rumpelstiltskin, Snow White, dan Hansel and Gretel). Setelah mengumpulkan dongeng-dongeng itu, mereka berteman dengan banyak Everafter. Namun akhirnya para Everafter memutuskan untuk pindah ke Amerika, sebagai tempat ideal untuk bersembunyi, hidup dan berkembang.
Brothers Grimm
Sebagai duta mereka, terpilih Wilhelm, termuda dari Brothers Grimm ini. Ia membantu para Everafter pindah ke Amerika dan membangun kota di daerah Sungai Hudson. Setelah itu para Everafter dari seluruh penjuru dunia datang untuk hidup bersama-sama dalam kedamaian. Tapi kehadiran manusia tetap tidak bisa dihindari. Ferryport Landing, kota para Everafter itu, mulai dilirik manusia. Hal ini mendatangkan masalah yang membuat Wilhelm menemui Baba Yaga, penyihir paling kuat di kota itu, untuk mencegah perang besar antara manusia dan Everafter. Kutukan dilayangkan Baba Yaga ke atas kota itu dan sebagai imbalannya Wilhelm harus mengorbankan kebebasannya, hal yang sama yang telah diambilnya dari para Everafter. Selanjutnya, seorang keturunan Grimm harus tinggal di kota itu selama kutukan Baba Yaga berlangsung. Kutukan ini hanya akan hilang saat anggota terakhir dari keluarga Grimm menghilang.
Sebagaimana dalam dongeng-dongeng yang ada, kedamaian itu bersifat rapuh. Karenanya masalah tetap bisa muncul kapan saja. Untuk itu segala hal yang aneh atau berbau kriminal perlu diawasi, diselidiki, dan didokumentasikan. Pekerjaan ini menjadi tugas keluarga Grimm. Dan untuk melaksanakannya, mereka akan bertindak layaknya detektif.
Ke kota yang sebelumnya bernama Fairyport Landing inilah kedua gadis kecil Grimm dibawa untuk hidup bersama Relda Grimm. Relda, nenek kedua gadis Grimm, adalah satu-satunya keturunan Grimm yang berada di Ferryport Landing saat ini. Ia menggantikan suaminya, Basil, yang telah meninggal untuk melaksanakan tugas sebagai detektif dengan bantuan sahabatnya, Tuan Canis.
Sabrina Grimm, 11 tahun, berkarakter keras, sok dewasa, dan pesimis. Sedangkan Daphne Grimm, 7 tahun, lucu dan optimis, peka terhadap siapa saja yang ia temui, termasuk binatang. Kalau Daphne tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyukai nenek Relda dan rumahnya, Sabrina sebaliknya. Sabrina tidak mau percaya kalau Relda adalah ibu dari ayahnya. Bahkan ia menganggap Relda sebagai seorang gila. Henry, ayahnya, pernah mengatakan bahwa nenek mereka telah meninggal. Sehingga setelah Henry dan istrinya Veronica menghilang secara misterius, Sabrina dan Daphne tidak memiliki keluarga lagi.
Selama satu setengah tahun Sabrina dan Daphne berganti-ganti orang tua angkat. Keduanya selalu melarikan diri dan kembali ke panti asuhan karena menganggap orang tua angkat mereka gila. Akhirnya tidak ada lagi yang mau mengadopsi mereka.
Apapun penjelasan Relda Grimm, Sabrina tetap berniat kabur. Dan sebagai adik, Daphne harus ikut. Namun usaha pelarian mereka gagal. Mereka bahkan terlibat dalam penyelidikan kasus yang tengah dilakukan Relda, yaitu kasus hancurnya rumah pertanian milik Thomas Applebee. Relda mencurigai penghancuran ini sebagai tindakan raksasa. Masalahnya, saat ini, tidak ada lagi raksasa di Ferryport Landing. Semua pohon kacang yang dapat digunakan para raksasa untuk kembali ke dunia telah dipotong. Jadi harus ada yang memiliki kacang ajaib, sehingga raksasa bisa turun dari kediamannya. Jika ada yang menanam kacang ajaib, jelas tujuan orang itu adalah agar bisa ke tempat para raksasa dan merampok harta mereka. Salah satu yang tersohor karena sukses melakukannya adalah Jack yang kemudian dikenal sebagai Jack si Pembunuh Raksasa. Selain berhasil merampok, ia juga membunuh beberapa raksasa. Saat ini masa jaya Jack tinggal kenangan dan ia hanyalah seorang pekerja di toko Big and Tall.
Sabrina yang keras kepala tidak percaya kisah para raksasa sampai akhirnya seorang raksasa benar-benar muncul di hadapannya, mencari seorang yang disebutnya sebagai Englishman. Raksasa ini membawa pergi Relda Grimm dan Tuan Canis. Akhirnya menjadi tugas kedua Grimm cilik ini untuk mengusut misteri munculnya raksasa sekaligus hilangnya nenek Relda dan Tuan Canis. Bersama seorang anak laki-laki bernama Puck, keduanya memulai investigasi. Atas anjuran Cermin Ajaib, mereka menyelamatkan Jack si Pembunuh Raksasa yang sedang berada di penjara untuk mengatasi para raksasa. Dengan bantuan karpet terbang Aladin, kemudian sepatu Dorothy, pengusutan berlanjut dan mengarah ke Walikota Ferryport Landing saat ini, Charming, yang sedari awal mencoba menghalangi penyelidikan Relda Grimm. Charming dicurigai telah melakukan aliansi dengan raksasa untuk mencapai tujuan pribadinya.
Di pesta dansa yang dilakukan Walikota Charming dan dihadiri oleh para Everafter siapa sesungguhnya Englishman yang dimaksud si raksasa akhirnya terungkap. Tapi petualangan belum berakhir. Kedua gadis Grimm mesti menyelamatkan sang nenek dan Tuan Canis. Di penghujung kisah ternyata masih ada rahasia lain yang terungkap.
Meski The Sisters Grimm jelas merupakan kisah dongeng, tapi ini bukan dongeng biasa. Michael Buckley, sang pengarang, menggabungkan karakter baru dan karakter-karakter dongeng yang telah dikenal luas untuk menghidupkan kisah ini. Oleh karena itu selain Daphne, Sabrina atau Relda Grimm (Relda adalah nama nenek Buckley), kita akan menemukan karakter yang dipulung dari berbagai kisah. Sebagai contoh Prince Charming (Cinderella, Putri Tidur, Putri Salju, dll), Puck atau Robin Goodfellow (Midsummer Night's Dream), Jack (Jack the Giant Killer/Jack and the Beanstalk), Cermin (Snow White), Tiga Babi Kecil (The Three Little Pigs), Ichabod Crane (The Legend of Sleepy Hollow), Belle dan si Buruk Rupa (Beauty and the Beast), Tin Woodman (The Wizard of Oz), Kelinci Putih dengan jamnya (Alice's Adventures in Wonderland), dan Baba Yaga, penyihir dari Rusia. Pembaca juga akan menemukan benda-benda dongeng terkenal seperti sepatu ajaib Dorothy (The Wizard of Oz), karpet ajaib Aladin, pedang Excalibur, kacang ajaib, dan tongkat sihir ibu peri ikut ambil bagian dalam cerita.
Michael Buckley
Buckley dalam gebrakan perdananya dalam literatur anak ini tidak segan menciptakan versi baru kehidupan beberapa tokoh dongeng. Prince Charming digambarkan meninggalkan kerajaannya dan menjadi walikota Ferryport Landing, dan bertekad menjadikan tempat itu seperti kerajaan lamanya. Ia mengadakan pesta dansa dalam rangka mengumpulkan sumbangan dari para Everafter untuk mewujudkan ambisinya. Dikatakan ia telah menikah sedikitnya enam kali sejak gagal menikah dengan Putri Salju. Ia antara lain telah menikah dengan Cinderella, Rapunzel, dan Putri Tidur. Tiga Babi Kecil (The Three Little Pigs) yang semakin gemuk menjadi polisi tapi seringkali berubah ke wujud aslinya. Dalam buku ini juga sempat disinggung jika Putri Salju yang meninggalkan Prince Charming di altar pernikahan menjadi guru SD (pada buku kedua, ia akan menjadi guru Daphne). Belum lagi soal Jack si Pembunuh Raksasa. Pemutarbalikan karakter seperti ini memberikan cita rasa yang berbeda ke dalam kisah-kisah yang sudah ada dan tak pelak akan mengundang senyuman pembaca.
Bagi yang tidak mengenal latar belakang kehidupan para Everafter mungkin akan sedikit bingung. Tapi hal ini agaknya disengaja oleh Buckley. Menurut pengakuannya, ia berharap setelah membaca bukunya pembaca akan kembali ke perpustakaan atau toko buku untuk mencari tahu ihwal Everafter dalam bukunya. Buckley sendiri dalam mempersiapkan bukunya telah membaca antara lain karya Grimm Brothers, Hans Christian Andersen, Andrew Lang, dan Frank Baum untuk mengenal para karakter yang kemudian disebutnya sebagai Everafter. Lelaki kelahiran Ohio dan sekarang berdomisili di New York City ini akan menulis kisah The Sisters Grimm dalam 8 buku. Selain The Fairy-Tale Detectives (Book One), telah terbit juga The Unusual Suspects (Book Two) dan The Problem Child (Book Three). Ketiga buku ini dihiasi gambar-gambar hitam putih hasil karya Peter Ferguson. Jika suka, kita bahkan bisa menikmati buku The Sisters Grimm sambil mendengar Grimm Song ciptaan Chris Edwards.
Bisa dikatakan The Sisters Grimm tampil menarik sebagai buku yang bisa dinikmati oleh segala usia. Selain petualangan, kita juga akan menemukan unsur kasih sayang, persahabatan, dan keadilan yang semuanya dituangkan dalam adonan humor yang pas. Dan seperti dalam kisah-kisah dongeng Brothers Grimm, selalu kebaikan dan ketulusan yang akan menang dalam pertarungan kehidupan.
Judul Buku : The Hidden Face Of Iran Catatan Perjalanan Warga Amerika Serikat Menembus Jantung Negeri Iran Judul Asli : Searching for Hassan : a journey to the heart of Iran Penulis : Terence Ward Penerjemah : Berliani M. Nugrahani Terbit: Cetakan 1, Maret 2007 Tebal: 579 halaman Penerbit : Rajut Publishing
DI BALIK SEBUAH PERBURUAN BUTA
"Kesedihan dan kebimbangan melingkupi hari-hari terakhir kami di Teheran, saat kami mengemasi kehidupan kami dalam kardus-kardus, berjalan di bawah pergola dan tanaman murbei yang berselimut embun, menggerogoti makan malam berupa chello kebab terakhir yang disiapkan Hassan, menahan turunnya air mata." (hlm. 26). Demikianlah ungkapan Terence Ward saat mengenang hari-hari terakhir keluarganya di Teheran, Iran, hingga 4 Juli 1969, saat harus mengucapkan selamat tinggal kepada Iran dan warganya yang mereka sayangi. Mereka pindah ke Amerika setelah 10 tahun (1960-1969) hidup di Iran dan menjalin hubungan baik dengan keluarga Hassan Ghasemi -pelayan, tukang masak, dan juga "ayah Persia" ke-4 bersaudara Ward: Terence (Terry), Chris, Richard, dan Kevin.
Sepeninggal keluarga Ward, keluarga Ghasemi ternyata tidak bertahan dengan majikan baru. Mereka kembali ke tempat kelahiran Hassan yang secara samar-samar diingat Donna Ward –nyonya Ward- sebagai "Toodesht". Belakangan, diketahui tidak ada desa bernama Toodesht, sehingga kontak di antara mereka terputus. Bagi keluarga Ward, keluarga Ghasemi telah hilang. Mungkin juga telah menjadi korban perang.
Tahun-tahun berlalu, revolusi Iran menyingkirkan Shah terakhir dari tampuk kekuasaan, Republik Islam (Syiah) diproklamirkan, dan Ayatollah Ruhollah Khomeini diangkat sebagai pemimpin tertinggi. Para tahanan memenuhi penjara. Pengadilan revolusi memerintahkan hukuman mati terhadap orang-orang yang dianggap sebagai pengkhianat; pabrik, perumahan, tanah, dan kekayaan pribadi dibekukan; ribuan orang meninggalkan Iran. Sang pemimpin baru menyatakan perang terhadap Amerika dan menggelari negara itu sebagai "Setan Besar" (Great Satan) sekaligus mem-personanongrata-kan warga negara Amerika. Dalam periode itu, Saddam Hussein menginvasi Iran, perang berkecamuk, dan bagi keluarga Ward, tembok keheningan telah berdiri antara masa lalu dan masa kini mereka yang terkait dengan Iran.
"Pada malam hari, aku memimpikan pohon delima dengan buah yang begitu ranum, sehingga retak dan menampilkan isinya yang semerah darah." (hlm 32). Demikian selanjutnya Terry mengungkapkan imajinya tentang kondisi Iran. Negara ini menjadi negara Islam fundamentalis yang memberlakukan hukuman cambuk. Para anak laki-laki digunakan sebagai ranjau hidup di garis depan Irak dan para wanita terbelenggu cadar hitam ( "Anak laki-laki bebas pergi ke sana ke mari tanpa harus mengenakan ini. Tak ada penjelasan dalam Al Quran tentang pakaian seperti ini," kata seorang gadis muda bercadar hitam, hlm. 189). Mantra "marg bar Amrika" menjadi litani para mullah dengan tangan terkepal. Iran terputus dari dunia luar dan lambat laun menuju tebing chaos.
Hingga akhirnya seorang ulama moderat bernama Mohammad Khatami terpilih sebagai presiden pada Agustus 1997. Ia menawarkan perdamaian pada Washington untuk pertama kalinya sejak kejatuhan Shah pada 1979 dan mengatakan tentang berbicara 'dari mulut ke mulut' dengan warga Amerika. Sebuah kondisi yang oleh para jurnalis disebut sebagai "Tehran Spring", saat suara masyarakat menjadi perhatian, di surat kabar, jalanan, pasar, atau bahkan, dalam taksi. Hal ini membuat keluarga Ward bersemangat meretas jalan: kembali ke Iran, sambil menghalau rasa takut, dalam perjalanan buta untuk menemukan Hassan, setelah hampir 30 tahun terpisahkan. Padahal kenalan mereka yang asli Iran sendiri memandang perjalanan mereka sebagai kegilaan sesaat. Tapi adalah Donna Ward, sang ibu, yang tidak kenal menyerah. Wanita kuat ini yakin akan bisa menemukan Hassan dan keluarganya. Sekalipun tidak ada alamat, tidak ada nomor telepon, tidak ada informasi apa pun. Hanya sebuah foto hitam putih yang diambil tahun 1963. Padahal mencari orang bernama Hassan di Iran tidak mudah. Bisa jadi ada lebih dari 2 juta Hassan di negeri mullah ini. Donna memegang keyakinan bahwa "Love knows no geography and knows no boundaries."
Maka, tergelarlah kisah perjalanan menembus jantung Iran ini sebagai rangkaian nostalgia masa silam, perjalanan menyaksikan wajah Iran yang terkoyak, dan perjalanan pencarian keluarga Hassan.
Ward menuturkan: "Pada awal April 1998, keluargaku memulai perjalanan yang telah lama kami nantikan, untuk kembali ke kampung halaman. Bukan ke tanah leluhur kami di Irlandia, melainkan ke Iran. Sementara kebanyakan warga Amerika masih bergidik membayangkan kekejaman para penyandera dan teroris yang gelap mata, kami menyingkirkan rasa takut yang menguasai. Aku dan ketiga saudaraku, bersama kedua orang tua kami yang telah berumur, akan melintasi dataran tinggi Iran yang luas dalam perburuan buta untuk menemukan Hassan, sahabat kami yang hilang, dan juga mentor yang telah merawat kami di Teheran bertahun-tahun sebelumnya." (hlm. 33). Bagi Ward perjalanan ini, "akan menjadi penjelajahan lintas-budaya untuk menemukan kembali sebuah negara, penduduknya, dan keluarga angkat Iran kesayangan kami." (hlm. 34).
Oleh karena itu, sambil membuntuti kisah perjalanan keluarga Ward, kita juga akan menemukan serpihan kenangan masa lalu yang mengambang di tepian kenangan Terry; uraian kondisi raut wajah Iran yang berbeda dari masa-masa sebelumnya dalam pusaran egoisme para mullah dan pandangan masyarakat Iran sendiri terhadap situasi saat itu termasuk ketakutan-ketakutan mereka; warisan keindahan dan kedigdayaan Persia yang terancam musnah; kebudayaan eksotik dalam arsitektur, karya sastra, dan musik serta daya tarik bentang alam. Di antara hamburan informatif ala Terence Ward, pembaca juga akan menemukan perenungannya sebagai hasil cernanya terhadap tatanan kehidupan Iran.
Sebagai contoh:
"Betapa ironisnya, pikirku, bahwa di sepanjang Timur Tengah, hanya penduduk Iranlah yang memiliki keterkaitan masa lalu dengan bangsa Yahudi. Mereka memiliki ikatan sakral selama lebih dari dua ribu tahun. Dan betapa anehnya sekarang ini, karena hanya dalam dua puluh tahun, para mullah telah menjadikan Israel sebagai bête noir mereka, simbol musuh Republik Islam. Cyrus, putusku, dapat mengajarkan kepada mereka lebih banyak pelajaran tentang pencerahan moral"(hlm 152-153).
"Sementara warga Iran modern mungkin secara patriotis mengagumi para leluhur jauh mereka, sulit bagi mereka untuk melarikan diri dari penilaian para ulama: masa lalu sepenuhnya kafir. Para mullah di Teheran menyepakati satu hal: para leluhur tidak memiliki peran apa pun dalam kehidupan kita….. Para pengawal keimanan berjubah hitam yang berjaya hari ini mencoba membebaskan diri sepenuhnya dari masa lalu. Pedang tajam membungkam protes yang dilayangkan." (hlm 186).
Atau
"Saat kami pergi, aku memikirkan tentang Esther dan putranya –bagaimana keamanan mereka di bawah pemerintahan mullah? Aku merasa, kedudukannya sama lemahnya dengan pion tanpa perlindungan di atas papan catur. Beberapa orang penganut garis keras menikmati kemerdekaan menyerang siapa pun untuk mencapai tujuan mereka."(hlm. 212).
Dari tanah para sheikh Bahrain, bermodalkan keberuntungan Irlandia dan rahmat Allah, mereka menjejak Iran, menuju Tudeshk -bukan Toodesht. Sesampai di Tudeshk mereka dihadapkan dengan informasi yang menyatakan jika Hassan dan istrinya, Fatimeh, telah meninggal. Donna Ward tidak percaya. Keyakinannya yang memesona akhirnya membuka jalan pada pertemuan dengan Hassan. Bertahun-tahun telah berlalu, dan waktu telah mengguratkan karat, mengubah sosok Hassan. Alhasil, pertemuan dengan Hassan di sebuah hotel di Isfahan berlangsung menggelikan sekaligus mengharukan. Richard, adik Terry, yang tak tahan untuk bertemu Hassan, memeluk penjaga pintu hotel yang disangkanya sebagai Hassan.
Terry & Hassan
The Hidden Face of Iran yang telah diterbitkan dalam 7 bahasa termasuk bahasa Indonesia hadir sebagai sebuah memoar yang indah, menawan, dan mengharukan. Ia memberi pemahaman betapa kasih sayang dan persahabatan tidak mengenal batas waktu dan budaya. Kasih sayang dan persahabatan bisa menjelma katalisator menuju kehidupan yang indah dan jembatan bahkan bagi jurang paling dalam dan berbahaya yang diciptakan oleh politik, kebudayaan, dan agama. Terence Ward, putra kedua pasangan Patrick dan Donna Ward, yang saat ini bekerja sebagai konsultan lintas-budaya yang memberikan nasihat bagi berbagai perusahaan dan pemerintah di dunia Islam dan di dunia Barat bertindak sebagai narator dalam kisah perjalanan ini. Buku ini sendiri berjudul asli Searching for Hassan: a journey to the heart of Iran. Untuk edisi Indonesia diberi judul baru, The Hidden Face of Iran: Catatan Perjalanan Warga Amerika Serikat Menembus Jantung Negeri Iran dan diterjemahkan dengan indah oleh Berliani Nugrahani.
Ditulis secara menarik, buku ini akan membuat pembaca tergerak untuk mengikuti terus perjalanan keluarga Ward dan pengamatan serta pemikiran yang tajam ihwal budaya dan tradisi Iran dari sang penulis. Kemampuan lelaki kelahiran Colorado tahun 1955 ini dalam menjalin ekposisi yang indah membuat tulisannya terasa mengalir dan enak untuk diikuti. Tak pelak, kita akan bersetuju jika ada pihak yang menyatakan jika The Hidden Face of Iran adalah sebuah karya yang ditulis dari tempat yang tepat (hati) dan dengan pencarian pikiran yang pas (pencarian terhadap anugerah).
Judul Buku : Gemala dan Rumah Kayu Oak Penulis : Alif Ra'ain Penyunting : Adhika Irlang Suwiryo Tebal : x + 156 hl Terbit : Cetakan 1, 2007 Penerbit : GagasMedia
GEMALA IN WONDERLAND
Setelah hampir lima bulan berpisah dengan orang tuanya, Gemala akhirnya bisa bertemu mereka di London. Dia dan adiknya, Bei, akan menetap di London selama masa tugas sang ayah, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia. Tempat tinggal mereka adalah sebuah rumah bercat putih di Old Creek Street, sebelah barat London. Di halaman belakang tumbuh beberapa pohon besar. Di atas salah satu pohon besar itu, ada sebuah rumah kayu.
Suatu hari, Gemala memanjat pohon tersebut dan membaca sambil tidur-tiduran di dalam rumah kayu itu. Ia terlelap dan ketika terjaga, ia telah berada di Balai Kayu Oak bersama seekor kucing berukuran 2 kali ukuran kucing biasa dengan sikap duduk seperti manusia. Kucing yang memakai celana pendek berwarna cokelat dan sepatu but tinggi di kedua kaki belakangnya itu bernama Ralph.
Gemala memang telah berada di sebuah tempat di dunia lain; sebuah dunia yang diciptakan ribuan tahun lalu. Pada saat itu kaum penyihir masih banyak jumlahnya dan sangat dihormati. Beberapa dari mereka bahkan menempati jabatan penting sebagai penasihat raja-raja Mesir, Ctesiphon, dan Persia. Kemudian muncul ramalan dari segolongan penyihir yang menyatakan bahwa masa-masa kejayaan mereka tidak akan berlangsung lama dan akan digantikan oleh masa-masa suram. Untuk itu mereka menciptakan dunia baru sebagai tempat berlindung.
Selama ratusan tahun ramalan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Keberadaan tempat ini lama-kelamaan mulai terlupakan dan hanya diketahui oleh keturunan para penyihir yang menciptakannya. Rahasia keberadaan tempat ini diwariskan secara turun-temurun hanya kepada anak cucu penyihir yang disebut Pemegang Kunci. Ramalan baru menjadi nyata pada masa kerajaan Romawi. Kaum penyihir difitnah dan dimusuhi karena dianggap sebagai penyebab berbagai malapetaka. Mereka diperangi dan diburu hingga lebih dari setengahnya terbunuh. Yang lain melarikan diri ke berbagai penjuru dunia mencari tempat yang aman untuk ditinggali. Banyak yang akhirnya menetap di Eropa dan Britania. Pada saat itulah, keberadaan tempat ini mulai disebarluaskan secara rahasia oleh para Pemegang Kunci. Ratusan pintu gerbang menuju ke tempat ini dibangun dalam bentuk yang tidak menarik perhatian seperti rumah pohon. Sekarang, umumnya pintu gerbang itu sudah dimusnahkan. Rumah kayu yang Gemala masuki adalah salah satu yang dibiarkan berdiri untuk berjaga-jaga jika masih ada keturunan penyihir yang ingin datang. Tempat ini sangat dijaga kerahasiaannya sehingga tidak mudah bagi seseorang yang sudah datang ke sini bisa kembali ke dunia luar. Hanya para Pemegang Kunci dan Kaum Tua di Mirgarth yang tahu caranya.
Gemala bisa memasuki tempat ini karena siapa pun yang tertidur di rumah kayu itu akan sampai ke dunia dengan berbagai pintu ini. Seperti Gemala, para pendatang akan segera bisa menggunakan bahasa kuno yang digunakan sebagai bahasa percakapan. Para pendatang tidak akan bertambah tua selamanya dan secara alami akan memiliki kemampuan sihir yang sangat tergantung pada tingkat kecerdasan masing-masing.
Dari Balai Kayu Oak tersebut, Gemala dan Ralph menemui Samuel Tua melalui sebuah pintu bernama Pintu Azzrael. Samuel Tua adalah salah seorang penyihir tertua di Azzrael yang sudah berusia ribuan tahun. Ia tinggal di Desa Air Terjun bersama suami-istri Lance dan kedua anak kembarnya, Lucy dan Hannah; Pops, pandai besi bertubuh besar dan penuh brewok dan Tomkins, simpanse piaraannya; Mojoro, anak Afrika dengan monyetnya yang bernama Mundo; Nacisot Gombel; Drago si bunglon; Ralph dan 5 ekor kucing lainnya: suami-istri Wilfred dan Winie, Toby si kucing gemuk, serta 2 kucing Persia nan cantik; Alexis dan Luna.
Walau menyukai Azzarael, Gemala tetap ingin kembali ke dunianya. Ia minta tolong Samuel untuk membantunya kembali. Rupanya, meski berjanji membantu Gemala, Samuel tidak bisa memberitahu caranya karena terikat sumpah sebagai Pemegang Kunci. Menurut Samuel, Nacisot yang saat itu sedang tidak berada di tempat yang bisa memberitahukan. Bersama Ralph, Pops, dan Mojoro, Gemala pergi mencari Nacisot. Untuk menemukan Nacisot, mereka memasuki Pintu Lazarids. Lazarids bukan lah tempat yang menyenangkan. Di sana hidup berbagai binatang haus darah. Lazarids adalah tempat penyihir hitam bernama Aramis mengumpulkan kekuatan untuk berkuasa dan menciptakan berbagai jenis binatang buas dengan mengawinkan macan kumbang, ular, elang, dan serigala menggunakan sihir. Aramis sendiri telah terbunuh dalam pertempuran melawan penyihir putih dari Mirgarth.
Dari Nacisot, Gemala tahu bahwa untuk kembali ke dunianya, ia harus menyihir sebuah pintu menuju rumah kayu tempat ia masuk. Gemala membutuhkan sihir murni yang cukup besar untuk membuat pintu tersebut terhubung ke rumah kayu tersebut. Masalahnya, Nacisot sendiri baru bisa memiliki kekuatan sihir murni setelah 200 tahun tinggal di Azzarael. Ia bisa menyihir pintu untuk Gemala tapi tidak bisa melakukan karena tidak tahu lokasi rumah kayu itu. Terungkap jika Gemala disuruh mencari Nacisot tidak lain hanya untuk mendapatkan informasi jika sesungguhnya Samuel bisa memberikan kekuatan sihir murni yang diperlukan. Samuel hanya tidak bisa menyatakannya secara langsung kepada Gemala.
Tapi perjalanan pulang ke Azzarael ternyata tidak semudah perjalanan pergi ke Lazarids. Kurang lebih 3 bulan sebelumnya, pintu gerbang Arksaar terbuka di utara Lazarids, dan Shahraz, pengikut Aramis yang lolos dari serangan Kaum Mirgarth, keluar bersama pasukannya dan menyebabkan seluruh penghuni Lazarids termasuk Montalban, ayah seorang gadis cantik bernama Selena, tewas.
Lalu, akankah Gemala berhasil kembali ke dunianya dan bertemu lagi dengan keluarganya? Jawabannya ada di bagian akhir novel fantasi yang terdiri atas 15 bab ringkas ini.
Sepertinya, kisah Gemala ini tidak hanya akan berakhir dalam satu novel ini. Masih banyak kisah hidup para karakter yang belum terungkap lebih jauh. Masih ada hal-hal yang perlu dielaborasi lebih lanjut. Novel ini jelas-jelas dirangkai dalam plot yang berpotensi untuk hadir sebagai serial. Bagian penutup agaknya dikerahkan untuk menjadi pembuka bagi kisah-kisah selanjutnya yang tetap akan melibatkan Gemala dalam dunia rekaan Alif Ra'ain.
Alif Ra'ain yang bernama asli Ari Riyanto mengusung kisah fantasi yang terbilang menarik untuk disimak. Apalagi karakter utamanya adalah seorang gadis remaja Indonesia yang berkenalan dengan dunia sihir di Inggris, tempat berkembangnya kisah Harry Potter. Pria kelahiran 31 Oktober 1972 yang adalah guru musik pada salah satu studio musik di Jakarta ini agaknya terinspirasi hal-hal menarik yang ia temukan dalam buku dan film yang menjadi minatnya. Meski awalnya mengingatkan pada Alice in Wonderland, kisah Gemala ini berbeda. Apa yang dialami Gemala sama sekali bukan mimpi seperti dalam kisah Alice. Dan seperti halnya kisah dunia sihir yang lain, Alif menghadirkan perseteruan antara kekuatan sihir jahat dan baik. Hanya, dalam Gemala dan Rumah Kayu Oak ia belum mengeksplorasi perseteruan ini secara lebih mendalam. Jika kisah Gemala berlanjut, dapat dipastikan Gemala tidak hadir sekadar sebagai saksi jalannya konflik dunia sihir, tapi memiliki peranan penting di dalamnya. Apakah Gemala sebenarnya keturunan penyihir? Kita tunggu saja gebrakan Alif selanjutnya. Semoga Alif tidak hanya terhenti di sini mengingat ia memiliki kekuatan meramu ide ke dalam berbagai karakter unik dan lucu serta alur cerita yang asyik.
Judul Buku: THE BROTHER Penulis : Georgius Han Penyunting: Windy Ariestanty Tebal : vi + 324 hlm Terbit : Cetakan 1, Desember 2006 Penerbit: GagasMedia
MISTERI PEMBUKA PINTU NERAKA
Selama 6 bulan dari Mei 1917 hingga Oktober 1917 tiap hari ke-13, Maria yang dikenal sebagai Bunda Maria oleh pemeluk Katolik, menampakkan diri kepada Lucia dos Santos, Francisco, dan Jacinta di Cova da Iria, Fatima, Portugal. Saat penampakan di bulan Juli, Bunda Maria memberikan Tiga Rahasia yang tidak boleh disebarluaskan sampai ia memperbolehkannya. Dua dari tiga rahasia tersebut diungkap kemudian oleh pihak Gereja Katolik pada tahun 1942, yaitu sebuah visi tentang neraka dan berakhirnya Perang Dunia I (serta kemungkinan meletusnya Perang Dunia berikutnya). Rahasia ketiga tidak pernah dibuka sampai 26 Juni 2000. Tetapi bagi kalangan tertentu, apa yang akhirnya dilakukan oleh pihak Gereja Katolik itu hanya sebagai usaha untuk mengakhiri spekulasi tentang kapan terjadinya kiamat dunia. Ada anggapan pihak Vatikan tidak mengungkap semua yang ditulis oleh Lucia dos Santos setelah gadis ini menjadi biarawati.
Peristiwa seputar penampakan Bunda Maria dan tiga rahasia yang ia berikan menjadi latar belakang novel berjudul The Brother karya perdana Georgius Han. Bagi pria kelahiran tahun 1976 dengan sejumlah bakat ini The Brother adalah produk dari dorongan kuat untuk mengekspresikan ide-ide liarnya ke dalam karya tulis sekaligus merupakan akhir dari sebuah perjalanan panjang mencari jati diri. Saat pertama menyadari kehadiran buku ini, secara pribadi, dengan mempertimbangkan judul dan nama penulisnya, saya menduga The Brother adalah karya terjemahan. Tetapi ternyata The Brother benar-benar karya orang Indonesia keturunan Tionghoa dan diterbitkan di Indonesia oleh GagasMedia. Setelah menuntaskan isi novel, tersimpul kesan bahwa penulis memang berhasil mengekspresikan ide liarnya dengan dahsyat. Georgius Han memiliki keprigelan dalam merangkai kisah dengan perwatakan dan alur cerita yang memukau. Tak pelak, The Brother hadir menawan dan sungguh dapat dinikmati dengan lancar.
Setelah latar belakang cerita, Han membuka The Brother menggunakan Yerusalem Abad 1 sebagai latar. Seorang lelaki muda, anak tukang kayu, membantai sejumlah manusia di Bait Allah Yerusalem, lengan kirinya putus, kemudian ia mati oleh puluhan anak panah pasukan Romawi yang menancap di seluruh tubuhnya.
Cerita beralih ke Indonesia, ke Desa Kapencar, Wonosobo, 1980, ke dalam kehidupan gadis cantik bernama Linda. Ia adalah putri tunggal Antonius Chandra, keturunan Tionghoa pemilik perkebunan tembakau di kaki gunung Sindoro. Percintaan Linda dengan seorang lelaki bernama Alex menggiringnya kepada peristiwa yang akan merusak kehidupannya untuk selamanya. Ia menjadi korban perkosaan 2 lelaki yang dikenal sebagai biarawan (pastor) di desanya dan terusir dari sana setelah kehilangan segalanya. Semarang, 22 Mei 1981, Linda memutuskan bunuh diri dengan melompat ke Banjir Kanal.
Enam belas tahun kemudian, 1997, di Semarang, Valiano Ovadya Christan (Val), mengetahui jika 2 orang yang selama ini ia kenal sebagai orang tua, ternyata hanyalah orang tua angkat. Hal ini diketahui Val setelah ibunya meninggal dan menjelang kematian sang ayah. Ia merasa terpukul oleh kematian mereka, lalu mencoba merusak hidupnya sendiri.
November 2010, di Padang Gurun Syria Timur, di sebuah lokasi penggalian, Injil Hitam ditemukan. Saat bersamaan, Val, di Semarang, telah meninggalkan usaha merusak kehidupannya dan menjadi seorang biarawan. Ia menyaksikan penampakan seorang perempuan yang kemudian diyakininya sebagai Bunda Maria. Bunda Maria memberikan gulungan surat yang merupakan surat lengkap Lucia dos Santos. Surat Lucia memang tidak pernah dipublikasikan oleh Vatikan secara lengkap. Tujuh cawan maut sebagai bayangan 7 malapetaka yang akan membuka hari kiamat tidak pernah dipublikasikan karena pihak Vatikan memiliki pertimbangan sendiri. Surat ini mengantar Val menuju Roma, terperangkap dalam bentrokan kepentingan 2 kubu. Pertama, kubu Ordo Hakal-Dama yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai nabi dan memegang teguh semua perkataannya, seekstrim apapun. Kedua, Casa di Dio, aliran baru dalam gereja yang berdiri untuk menyaingi kedigdayaan Katolik Roma, bahkan mendirikan gereja utama di dekat Vatikan.
Bagi Ordo Hakal-Dama, penemuan Injil Hitam yang ditulis Yudas Iskariot adalah tindakan pencurian yang bertujuan mempercepat kiamat yang sebenarnya, dan ini harus dicegah. Bagi Casa di Dio, penemuan Injil Hitam memberi jalan pada terbebasnya Lucifer, sembahan mereka, dari kerangkeng neraka. Kedua pihak ini memiliki sasaran yang sama: menemukan seseorang berjuluk Anak Manusia untuk mewujudkan misi masing-masing. Persilangan dua kepentingan ini menjadikan Val sarana yang tepat untuk membawa Anak Manusia ke hadapan mereka.
Pada akhirnya, berbagai malapetaka yang ditulis Lucia dos Santos mulai terjadi mendahului perhitungan waktu yang ditulis sang biarawati. Di tengah ledakan malapetaka, si Anak Manusia ditemukan, kemudian terjebak di Casa di Dio, di hadapan sang pendeta tertinggi yang tidak sekedar hendak mewujudkan tekad sepasang anak kembar Lucifer, tetapi memendam dendam tak berkesudahan yang belum terlampiaskan bertahun-tahun lamanya. Bersamaan dengan itu, siapa sesungguhnya orang tua kandung Val tersingkap, memberikan pemahaman menakutkan, bukan hanya untuk Val sendiri, tetapi juga bagi pembaca.
Apa sebenarnya maksud judul The Brother? Siapakah sebenarnya Val? Siapa juga Anak Manusia yang dimaksud? Pihak mana yang akhirnya menang dalam konflik hari kiamat ini? Apakah kiamat benar-benar terjadi? Semua pertanyaan ini terjawab secara memuaskan pada bagian-bagian akhir novel enigmatis yang sangat mengejutkan ini.
Kita tidak bisa tidak mengacungkan jempol buat Georgius Han yang secara brilian menghasilkan novel dengan tema yang tidak biasa ditemukan dalam karya-karya penulis Indonesia. Meski tema yang diusungnya akan mengingatkan pada karya penulis-penulis luar yang sangat berani melontarkan hipotesis dan argumen untuk mencetuskan kontroversi, karya Han ini sama sekali tidak terkesan basi. Ide yang digagasnya orisinal, tanpa tendensi menghujat keyakinan tertentu, dan bisa diterima dengan lapang tanpa kecurigaan atau was-was. Dan walau Han menyelipkan unsur nonrealis dalam novelnya, hal itu tidak membuat novelnya menjadi aneh, justru terasa kuat, dan akan membesarkan hati pemeluk keyakinan bersangkutan.
Memang, dalam The Brother, masih bisa ditemukan unsur provokatif yaitu ihwal Yudas Iskariot yang menulis Injil Hitam.Yudas Iskariot dalam Injil digambarkan mati karena gantung diri. Tetapi dalam buku ini, tepatnya dalam Injil Hitam, Yudas digambarkan tidak mati kendati telah mencoba bunuh diri. Ia malah bertobat, mendapatkan pengampunan Tuhan, dan melakukan perjalanan mengabarkan Injil hingga bertemu dengan Sang Anak Manusia yang ia ceritakan dalam tulisannya. Sebagai penulis, Georgius Han tidak memperdebatkan kebenaran Injil Hitam dalam novelnya karena sudah jelas Injil tulisan Yudas ini memang fiktif belaka. Dan karena fiksional, pembaca –terutama pembaca kristiani- tidak perlu kebat-kebit keyakinannya diobok-obok lagi setelah The Da Vinci Code dan karya lain sejenis. Apalagi, isi Injil Hitam sendiri tenyata sama sekali seharusnya tidak dipercaya (oleh kedua kubu yang bertentangan dalam novel), sehingga terasa konyol dan menggelikan ketika ada pihak-pihak yang menjadi korban karena memercayainya. Seolah bagaikan sindiran Georgius Han terhadap pembaca yang begitu saja percaya pada segala sesuatu yang belum tentu benar tanpa berkeinginan mengkaji lebih dalam.
Dari segi penulisan dan penjabaran alur, Han berhasil membentangkan novelnya dengan rancak. Cerita yang awalnya berisikan kejadian-kejadian yang seolah melompat-lompat menjadi sangat efektif untuk menciptakan minat melahap habis novelnya. Tidak ada cerita yang dihadirkan tanpa memperkuat keseluruhan novel. Tidak ada keinginan mengulur-ulur cerita untuk memperbanyak halaman novel. Semua bermakna dan saling jalin menuju akhir yang menjawab misteri yang sarat pesona. Untuk penulis baru, Georgius Han telah melakukan gebrakan awal yang sangat eksplosif.
Mungkin yang perlu mendapatkan penjelasan adalah penulisan isi Injil Hitam yang menurut Han aslinya ditulis menggunakan bahasa Ibrani, salah satu bahasa selain Aramaic dan Yunani yang sering dipakai dalam penulisan kitab suci. Sepertinya, untuk menyesuaikan dengan penulisan Injil yang dikenal saat ini, Han menciptakan ayat-ayat dalam Injil Hitam. Padahal dalam naskah asli Injil tidak terdapat ayat-ayat. Pemberian ayat dilakukan oleh penerjemahnya dalam rangka mempermudah pemahaman pembaca yang tidak menggunakan bahasa asli Injil. Sehingga, jika, katakanlah, Injil Hitam ditulis dengan pola yang sama, kita tidak akan menemukan sistem penulisan seperti yang Han gunakan dalam novelnya.
Secara keseluruhan, inilah salah satu novel karya penulis Indonesia yang patut mendapatkan perhatian dan sayang jika dilewatkan begitu saja. Salut buat Georgius Han untuk karya perdananya yang luar biasa!!
Judul Buku : Trilogi Merlin Kecil (The Young Merlin Trilogy) Penulis : Jane Yolen Penerjemah : Rita Agustina, Yvonne C. J. Wotulo, Shinta Harini Penyunting: Nuniek Ratnindyah Terbit: Cetakan 1, Maret 2007 Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta (Little Serambi)
Beruang Kecil: Kalau begitu apa yang tersisa dari masa kanak-kanak ketika kita tumbuh tua dan mati?
Manusia Hijau: Hanya mimpi yang tersisa, Nak. Mimpi.
(Merlin, hlm. 14 )
Legenda Merlin
Kisah tentang Merlin, penyihir terkenal di zaman Raja Arthur dari Inggris yang berkembang di beberapa negara Eropa tidak hanya memiliki satu versi. Merlin diceritakan sebagai pendeta Druid juga sebagai penafsir mimpi, ahli mengubah wujud, atau bahkan seorang manusia liar (wodewose) yang tinggal di hutan. Dalam buku Vita Merlini –Kehidupan Merlin- karya Geoffrey of Monmouth yang ditulis pada abad ke-12, Merlin dikisahkan menjadi gila dan melarikan diri ke hutan untuk beberapa saat lamanya, hidup sebagai manusia liar, dan jiwanya hanya dapat ditenangkan dengan musik.
Dalam hubungannya dengan Raja Arthur, peran Merlin ditemukan berbeda-beda dalam cerita-cerita lama. Ia dikisahkan muncul saat Raja Arthur dikandung; berjasa mempertemukan ayah Arthur, Uther Pendragon dan ibu Arthur, Ygraine, dengan bantuan sihir; guru yang sabar dan bijaksana bagi Arthur; dan arsitek Camelot milik Arthur, Stonehenge, atau meja bundar. Secara keseluruhan, ia sering tampil sebagai sosok ajaib yang misterius. Sejarah kehidupannya bisa dikatakan sangat menarik karena ia sendiri tidak berayah dan ia membantu membesarkan Arthur kecil. Di dalam cerita kuno, Merlin disebut sebagai anak yang lahir dari seorang penghuni biara karena hubungannya dengan setan. Satu-satunya kisah masa kecil Merlin dari abad pertengahan mengungkapkan Merlin sebagai seorang bocah tak berayah dari Welsh yang bermimpi tentang naga merah dan putih. Dikisahkan juga jika ia menceritakan mimpinya tentang keruntuhan menara perang Vortigern di bawah ancaman eksekusi Vortigern sendiri. Bagi Jane Yolen, penulis lebih dari 280 buku (termasuk buku anak-anak), kisah Merlin terjalin sangat rumit seperti hutan di Inggris yang lebat dan tak terjamah.
Jane Yolen
Jane Yolen dan Trilogi Merlin Kecil
Pesona kehidupan Merlin rupanya telah menggugah imajinasi Jane Hyatt Yolen yang disebut-sebut sebagai Hans Christian Andersen dari Amerika dan Aesop abad ke-20 ini. Tetapi ia tidak menambahkan jalinan kerumitan dalam kisah Merlin dewasa yang sudah ramai. Ia justru menghadirkan masa kecil Merlin yang tidak banyak dibicarakan. Kisah Merlin kecil dibentangkannya dengan indah dalam novel trilogi yang terdiri atas Passager, Hobby, dan Merlin. Tidak sekadar bersandar pada cerita-cerita kuno yang sudah ada yang bisa dihubung-hubungkan dengan masa kecil Merlin, Yolen juga menambahkan hasil penelitian untuk melengkapi isi tiga bukunya ini. Antara lain Yolen memasukkan ihwal pembuangan anak-anak ke hutan di abad pertengahan karena perang, kelaparan, atau wabah, dengan harapan ada yang menemukan dan mau merawat; seni menjinakkan dan menggunakan elang dalam berburu (falconry); pertunjukan keliling dan pasar tadisional; dan kehidupan manusia liar yang para prianya sering digambarkan sebagai monster bermata satu yang memakai kulit beruang dan memiliki istri yang buruk rupa dan lusuh. Semua unsur ini disenyawakan untuk melengkapi kisah masa kecil Merlin secara lebih menarik dalam trilogi pemenang Mythopoeic Fantasy Award 1998 ini. Alhasil, kita akan menemukan kualitas narasi Yolen yang menawan sehingga meski trilogi ini jauh dari gegap gempita kisah seperti Harry Potter misalnya, 3 buku ini akan tetap dinikmati tanpa hambatan. Apalagi jumlah halamannya tidak terlalu banyak dan berisikan alur cerita yang tidak bertele-tele. Kemampuan berkisah Yolen memang tidak diragukan lagi. Ia telah menerima berbagai penghargaan tertinggi dalam cerita fantasi dan kesusasteraan anak seperti Regina Medal, the Kerlan Award, the World Fantasy Award,theMythopoeic Fantasy Award, dan the Society of Children's Book Writers and Illustrator's Golden Kite. Trilogi Merlin memberikan Mythopoeic Fantasy Award yang ke-3 bagi perempuan kelahiran New York City 11 Februari 1939 ini.
Passager - Hobby - Merlin
Kisah Merlin kecil berlatar Inggris abad pertengahan. Pada usia 7 tahun Merlin, anak seorang penghuni biara yang tidak diizinkan membesarkannya, dibuang ke hutan dengan harapan akan ada yang menemukan dan memeliharanya. Satu tahun Merlin menghabiskan hidupnya yang sebatang kara di hutan, hidup dalam kenangan dan mimpi-mimpi buruk. Satu tahun penuh cobaan dan digerogoti lapar ia lewati, berburu makanan dan tidur di atas pohon untuk mempertahankan hidup seraya dikejar-kejar gerombolan anjing liar untuk dijadikan kudapan. Satu tahun telah menghalang ingatannya akan namanya. Riwayat hidup dan masa lalu dianggapnya sebagai mimpi. Sejalan dengan tak digunakannya lagi bahasa manusia karena tidak ada yang bisa diajaknya bicara, kosakata manusia terlupakan, kebutuhan akan masa lalu dan masa depan pun menghilang. Saat ini lah Merlin kecil bertemu Tuan Robin, seorang penjinak elang yang baik hati. Di tangan Tuan Robin dan kehangatan rumah peternakannya, Merlin kecil bagaikan passager, yang kemudian menjadi jinak karena kasih sayang dan perlindungan yang dicurahkan padanya. Di rumah dan keluarganya yang baru ini, Merlin kecil akhirnya menemukan kembali siapa namanya.
Setelah empat tahun hidup dalam kenyamanan di rumah Tuan Robin yang telah membuat ia kembali menemukan kemanusiaannya, Merlin mendapati dirinya sebatang kara lagi. Rumah peternakan terbakar dan merenggut nyawa penghuninya, kecuali nyawa Merlin sendiri. Merlin menguburkan apa yang tersisa dan memutuskan meninggalkan tempat itu membawa 2 hewan yang selamat yaitu Goodie – seekor kuda betina, dan Churn –sapi perah yang sudah kering susunya. Ia juga membawa sepatu bot Tuan Robin yang tidak terbakar dengan harapan bisa ia kenakan kelak. Dalam perjalanannya, sesuai mimpinya, ia bertemu seorang pria bernama Fowler. Fowler merampas sepatu bot Tuan Robin dan berniat menjual Merlin beserta kedua hewan yang dibawanya. Sebuah mimpi yang hadir kemudian menjadi nyata, ia terbebas dari Fowler dan bersua seorang pesulap keliling dan penyanyi berwajah cantik. Dari sang pesulap ia mendapatkan nama baru, yaitu Hobby, setelah sebelumnya menggunakan nama Hawk. Ia mengikuti perjalanan kedua artis keliling itu sampai di kota Carmarthen. Di kota ini ia menemukan dirinya sebatang kara lagi, tertipu habis-habisan.
Merlin kembali masuk hutan setelah penguasa Carmarthen, Duke Vortigern mengusirnya gara-gara mimpi dan tafsirannya. Ketika ia lagi-lagi terancam kebuasan gerombolan anjing liar, ia ditolong seorang manusia liar (wodewose) yang mengantarnya masuk dalam kelompok manusia liar yang menyukai mimpi. Di sini ia bertemu Cub yang bisa berteman dengan anjing liar, serigala, dan beruang. Begitu kebiasaan bermimpi Merlin diketahui para manusia liar ini, ia dikurung dalam sangkar dan dipaksa bermimpi untuk bisa diceritakan pada mereka, terutama para wanitanya. Padahal tanpa paksaan Merlin memang dengan mudah bisa bermimpi. Setelah sekian mimpi, Merlin akhirnya memimpikan nasib kelompok manusia liar ini. Pada saat yang sama, kehadiran Cub membuat Merlin menemukan takdirnya.
Ketiga buku Merlin kecil ini hanya akan menarik jika dibaca utuh. Apa yang dialami Merlin kecil dalam perjalanan hidupnya terus berhubungan dari buku pertama hingga buku ketiga. Dua buku pertama sepertinya sengaja diberi penutup yang membuat pembaca tergelitik untuk membaca buku berikutnya. Karena trilogi ini hadir sebagai kisah masa kecil Merlin, agak aneh juga menemukan adegan pamungkas yang ditambahkan penulis pada buku terakhir. Meskipun demikian, penambahan adegan terakhir ini tidak menimbulkan masalah, malah mengungkapkan siapa yang akhirnya dikenal sebagai Raja Arthur kelak. Juga peranan Merlin dalam hidup Raja Arthur di masa bertahun-tahun setelah kisah-kisah dalam tiga buku ini. Sebuah trilogi yang ditulis secara indah, hidup, dan penuh daya tarik.
Edisi Indonesia
Untuk edisi Indonesia, penerjemahnya tidak hanya satu. Setiap buku diterjemahkan oleh penerjemah berbeda. Buku pertama, Passager, diterjemahkan oleh Rita Agustina. Buku kedua, Hobby, oleh Yvonne C. J. Wotulo, dan buku ketiga, Merlin, oleh Shinta Harini. Walau penerjemahnya berbeda, dengan editor yang sama, Nuniek Ratnindyah, hasilnya tetap enak dinikmati sebagai satu kesatuan yang solid.
Judul
Buku : JOKER (Ada Lelucon di Setiap Duka) Penulis : Valiant Budi Yogi Editor:
Windy Ariestanty Terbit
: cetakan pertama, 2007 Tebal
: viii + 216 hlm; 13 X 19 cm Penerbit:
Gagasmedia
JOKER: Ada
Lelucon di Setiap Duka
Sempurna
bukan berarti gak ada cacat. Kita sebagai manusia terlalu sibuk membuat patokan
sempurna, terlalu sibuk membuat pagar-pagar standar, jadinya segala sesuatu
yang nggak sesuai dengan patokan dan pagar-pagar tadi, kita anggap cacat dan di
bawah standar. Justru adanya cacat lah yang membuat sesuatu itu begitu sempurna
Brama, hlm. 73.
Kisah tentang kepribadian terbelah selalu menarik untuk
disimak baik yang disusun dari kejadian nyata atau sekadar fiksi yang
menggunakan kejadian nyata sebagai sandaran estetiknya. Sybil (Sybil,
Flora Rheta Schreiber) dan Billy (The Minds of Billy Milligan & The
Milligan Wars, Daniel Keyes) adalah contoh manusia berkepribadian terbelah
yang benar-benar hidup. Jika Sybil memiliki 16 kepribadian, Billy memiliki 24
kepribadian. Sydney Sheldon pernah menjadikan kepribadian terbelah sebagai
tema dalam novelnya yang bertajukTell
Me Your Dreams. Tema sejenis juga sering dijadikan film. Bukan
hanya dalam perfilman Holywood. Dalam perfilman Indonesia tema kepribadian terbelah
bisa disaksikan dalam Belahan
Jiwa garapan Sekar Ayu Asmara.
Valiant Budi Yogi,
kelahiran Bandung 13 Juni 1980, rupanya tertarik mengusung tema yang sama dalam
novelnya yang diberi judul Joker, dengan sub judul Ada Lelucon di Setiap Duka.
Lelaki yang saat menulis novel ini bekerja sebagai Creative Program Director Radio OZ Bandung
menghadirkan kepribadian ganda menggunakan Bandung dan dunia radio sebagai latar.
Dikisahkan bahwa Brama meninggalkan Jakarta
dan pergi Bandung
untuk mengejar cinta Mauri Lonina. Karena Mauri mengambil kuliah di Bandung, Brama memutuskan kuliah di Bandung. Ketika Mauri menjadi penyiar
radio White Wheel, Brama nekat melamar jadi penyiar di tempat yang
sama dan diterima.
Sesungguhnya Mauri sendiri senang dijadikan target obsesi cinta
Brama –bahkan diam-diam memiliki perasaan yang sama dengan Brama. Tapi yang
tampak di mata Brama justru Mauri menyukai Roman, drummer band Kecoak
Terbang yang pernah diwawancara Brama dalam siaran radio.
Di radio White
Wheel, ada juga seorang gadis bernama Alia. Brama dan Alia sering
bertukar gagasan dan argumen. Dalam masalah seksual, untuk memuaskan gairah
seksualnya Brama melakukan secara otonomi, sedangkan Alia melampiaskan langsung
pada lelaki chubby yang disukainya. Antara lain obyek seksual Alia
adalah Dimas, anak pemilik kos, dan Akhsan, program director radio White
Wheel yang terkenal dengan ungkapan "penyiar goblok/tolol'-nya. Namun
Alia juga memiliki hasrat terpendam pada Roman, si drummer band Kecoak
Terbang. Ketika Brama berusaha meraih cinta Mauri, Alia tak segan mengusiknya.
Hal ini membuat Brama jengkel, terlebih lagi perilaku seksual Alia yang bebas
merdeka. Brama ingin menjauhi gadis ini. Alia sepakat akan menjauhi Brama
asalkan Brama benar-benar mendapatkan Mauri sementara ia sendiri memperoleh
Roman.
Pada saat yang sama dengan pengejaran cinta Brama, Mauri
berniat membuat portofolio lengkap dengan foto-fotonya yang diambil dari
berbagai angle. Tapi karena hasil pemotretan tidak sesuai yang
diharapkan, Mauri menerima usulan Joseph, temannya, untuk menguntitnya
dalam beberapa kesempatan dan mengambil fotonya. Pada saat membuntuti Mauri dan
mengambil foto-foto yang diperlukan, Joseph menemukan sebuah rahasia gelap yang
bakal mengagetkan banyak orang.
Perjuangan Brama sendiri akhirnya membuahkan hasil. Pada suatu
kesempatan, jalan masuk ke dalam hubungannya dengan Mauri terbuka. Bagi Alia,
meski tidak berhasil mendapatkan Roman, sesuai kesepakatan, keberhasilan Brama
berarti saat untuknya berhenti mengusik Brama. Tinggal satu hal yang ingin Alia
bereskan yakni hubungannya dengan Dimas.
Meski belum dikenal luas sebagai penulis novel, sesungguhnya Valiant Budi Yogi adalah
penulis muda yang berbakat. Novel ini adalah sebuah bukti jika ia memiliki
kemampuan mengemas kisah fiktif dengan gaya
tutur yang enak dibaca. Alur kilas balik dimanfaatkannya secara
efektif untuk mengantar pembaca ke dalam konflik. Pemilihan alur ini
menyebabkan adegan pembuka novel hadir bak teaser sebuah film. Pembaca
akan digugah untuk terus membaca kisah yang dibentangkan kemudian. Apalagi
Valiant tergolong berhasil membesut plot novel dengan lancar, dalam rangkaian
kejadian menarik yang bergerak cepat. Sejak awal hingga akhir, Valiant tidak
tergiur untuk bertele-tele, bahasanya pas dengan nada-nada kontemporer. Kecuali
pada saat hendak menyampaikan hal-hal yang jenaka, ia bersedia mengayun irama
sedikit gemulai. Ia cerdas dan penuh humor. Cenderung kasar dan liar, tapi apa
adanya sekaligus energik. Alhasil, membaca Joker terasa enteng dan
menggairahkan.
Sayangnya, meski Valiant sendiri tidak menyatakan secara
langsung, sejak awal pembaca sudah bisa mengetahui karakter mana yang memiliki
kepribadian lebih dari satu. Oleh karena itu, pengungkapan Valiant di
penghujung novel akhirnya terkesan tidak cukup eksplosif, walau tidak
juga berarti membuat novelnya menjadi kurang menarik. Gayaending terbuka yang ia sajikan
masih memberikan peluang bagi pembaca untuk mengurai imajinasinya sendiri.
Selain itu, Valiant tidak mendedahkan pencetus
kepribadian terbelah yang dialami karakter ciptaannya. Padahal ini sangat
penting mengingat daya tarik terbesar Joker justru
berasal dari sini. Jika ia sempat menguak hal itu, novelnya akan tampil
lebih bertenaga. Valiant mestinya menyadari hal ini karena di halaman 127
jelas-jelas ia menyatakan lewat ucapan salah satu karakter novel bahwa,
"...kepribadian ganda itu lebih ke suatu penyakit kejiwaan yang timbul
secara diam-diam, di mana salah satu penyebabnya bisa akibat dari trauma masa
lalu...." Nah, pengalaman traumatis apa kira-kira yang mencetuskan
kepribadian ganda salah satu karakter novel ini?
Meskipun demikian, bisa dijamin Joker benar-benarhadir sebagai sebuah novel
yang memikat dan tidak membosankan. Menikmati gaya sinematik yang ditebar penulisnya, saya
berharap menyaksikan Joker di layar lebar, seperti imaji yang saya
peroleh ketika melahap habis buku ini. Saat 'gak semua yang tampak seperti
yang terlihat, gak semua yang bunyi seperti yang terdengar', saat itu
mungkin kita sedang berhadapan dengan Joker. Jadi, silahkan nikmati
pesona sang Joker. Dan, tentu saja, kita layak memberi selamat kepada Valiant
Budi Yogi dengan karyanya yang memesona ini!
Suatu Malam di Momento (Bersama Abmi Handayani & Dalih Sembiring)
Momento
20 April 2007
Ting! Ting!
Kalau jam 6 gmn?
SMS dari Dalih. Setelah Dalih dan Abmi setuju diajak kopdar, saya meminta mereka yang menentukan waktu kopdar. Hari telah disepakati tapi saya minta lagi mereka yang menentukan jamnya. Duo penulis Cha untuk Chayang ini memang asoy geboy, tidak sulit diajak. Saya jadi tambah semangat bertemu. Jam 6? Saya langsung setuju. Ada waktu untuk menjenguk beberapa blog.
Saya menyibak tirai jendela lantai 3 kampus Fakultas Farmasi UGM yang baru dijadikan tempat pendadaran. Langit Jogja sudah dikerudungi mendung ketika kami sepakat. Gerimis mulai mengancam. Saya kembali ke meja ujian, kembali ke laptop yang tengah terbuka, blogwalking ke beberapa blog. Tujuan utama memang mon-secret-jardin.blogspot.com.
Setengah enam petang, saya turun ke lantai dasar dan melihat hujan sedang lebat-lebatnya.
"Mau pulang, Mas? Gimana ujiannya? Sukses nggak?" Petugas di lantai dasar bertanya beruntun.
Saya hanya mengangguk. Tersenyum.
"Butuh payung?" Petugas itu mengeluarkan payung dari balik meja jaganya.
"Makasih," kata saya, menerima payung yang ditawarkan, dan pamit.
Saya keluar ke jalan Kaliurang, diterpa pendar lampu sejumlah kendaraan yang lalu lalang di antara percik hujan. Menunggu agak lama, akhirnya sebuah taksi kosong menuju ke arah saya. Segera tangan saya melambai. Baru saja menghempaskan tubuh di tempat duduk denting itu terdengar lagi. Ting! Ting!
Kami dah mau nyampe. SMS Dalih. Kami janjian bertemu di Momento, kafe yang dimasukkan Dalih dan Abmi dalam Cha untuk Chayang. Sampai Jembatan Merah, Jalan Gejayan, jalan sebentar, saya sampai di Momento.
Dari luar saya melihat sepasang anak muda, yang sesuai tebakan saya, Abmi dan Dalih. Mereka sedang terlibat obrolan ditemani cha latte. Sedikit malu, saya mengatupkan payung. Biasanya memang saya malas membawa payung meski hujan. Tapi saya sangat rentan flu begitu kena air hujan, dan kerap berlarut-larut.
Abmi dan Dalih
Seperti yang tertera di halaman bio Cha untuk Chayang, Dalih dan Abmi memang generasi kelahiran tahun 80-an. Dalih lebih tua 4 tahun dari Abmi. Tapi dibanding Dalih, Abmi tampak lebih dewasa. Meski kemudian cukup banyak bicara, kadang diseling tawa kecil, Abmi terkesan serius dan cuek. Ia berbicara cukup teratur, tenang, dan jelas. Cewek kelahiran Balikpapan ini gaul banget. Gaya busananya juga seperti tidak punya aturan khusus. Walau malam ini Jogja cukup dingin karena hujan, Abmi pede mengenakan busana terbuka.
Abmi adalah pribadi yang unik. Selain menulis, mahasiswa Fakultas Sejarah UGM ini ternyata bisa meramal. Ia pernah tampil pada ajang meramal di Djendelo, Togas Mas, Jogja. Meski tertarik, saya memutuskan tidak mau diramal. Ketika Abmi menanyakan tahun kelahiran, saya sengaja mengelak. Tapi kemudian, Dalih menebak umur saya (berarti kan jadi tahu tahun lahirnya). Saya malah bertanya, "Gimana ramalan mengenai Cha? Bestseller nggak?"
Dalih, produk Sastra Inggris UGM yang tinggal menunggu jadwal wisuda, agak di luar dugaan. Membaca cerpen-cerpennya yang apik, saya punya asumsi jika ia pribadi yang kalem, sedikit bicara, dan terkesan dewasa. Tapi ternyata Dalih sangat terbuka, enak diajak ngomong -bisa dijadikan teman ngobrol yang asyik, dan gaul banget. Satu hal yang mengagetkan, Dalih tidak senang baca buku. Kalau dia bertutur dengan bahasa yang bagus dalam cerpen-cerpennya, itu bukan karena banyak melahap fiksi, tapi karena Dalih senang membaca kamus.
Baru bertemu, saya langsung suka dengan pribadi mereka. Terutama keterbukaan mereka yang membuat obrolan mengalir lancar. Saya menggoda Dalih bahwa saya suka karya-karyanya tapi tidak 'orangnya' dan langsung disambut tawa Abmi dan gerutuan Dalih.
Terus terang saya belum pernah ke Momento. Dan ini lah kali pertama saya mencicipi cha latte yang dikisahkan 2 penulis ini dalam Cha untuk Chayang. Diselingi tegukan cha latte dan sesekali kelebat asap rokok, kami pun ngobrol apa saja.
Cha Untuk Chayang
Cha untuk Chayang (Cha) adalah tema obrolan yang paling asyik. Mereka berkisah bagaimana Cha lahir. Ide awalnya dari Abmi, yang kepengen menjadi ChickLit expert begitu membaca Bridget Jones' Diary. Mereka pergi ke toko buku untuk melihat buku-buku Teenlit, dan bersetuju membuat TeenLit dengan cita rasa yang berbeda. Dalih yang membuat kalimat awal untuk Cha. Ketika pulang Balikpapan, menurut Abmi, karena stres akhirnya ia semangat meneruskan Cha. Kembali ke Jogja, bersama Dalih, akhirnyaCha dituntaskan.
Ada banyak sisi menarik yang terungkap dalam pembicaraan mengenai Cha, antara lain:
Beberapa karakter didasarkan pada orang yang mereka kenal.
Meski dari Balikpapan, Lina bukanlah cerminan Abmi. Abmi tidak bisa menggunakan logat Balikpapan. Jadi waktu mau nulis terlebih dahulu ia melakukan riset dialek regional kota kelahirannya. Jika ngobrol dengan Abmi, memang seperti ngobrol dengan anak muda kota besar di Indonesia pada umumnya.
Bebe dalam bayangan mereka adalah karakter yang cantik berkulit putih mulus. Sebelumnya, saya membayangkan Bebe justru seperti Tata Dado.
Beberapa kejadian dalam Cha seperti ramalan. Begitu buku ini selesai, ada yang terjadi dalam hidup Abmi.
Mereka ingin Cha difilmkan. Saya sempat berkata bahwa sebagai setting film, Jogja mungkin kurang menjual. Tapi langsung ingat Pesan dari Surga (Sekar Ayu Asmara) yang ber-setting Jogja.
Obrolan lain
Selain mengenai Cha, obrolan kami merambat seru ke mana-mana, antara lain:
skenario film
penulis-penulis Indonesia
karya-karya yang tidak disukai
penerbitan buku
pemasaran buku
rencana ke depan
sahabat-sahabat
proyek berikutnya
Proyek Berikutnya
Abmi tetap bersikukuh dengan niat berkecimpung di dunia ChickLit. Sekarang ia tengah menulis sebuah ChickLit, di samping menulis cerita-cerita aneh yang katanya bisa dilihat di blog-nya (saya lupa nama blog-nya).
Dalih yang baru saja menyelesaikan skripsi sedang melanjutkan buku Nel yang tertunda-tunda. Saya terus mengomporinya untuk menyelesaikan Nel. Ketika mengirimkan email ke Dalih, saya sempat menyinggung bukunya yang belum selesai itu. Saya mengetahui tentang Nel dari kumcer Rahasia Bulan dan satu edisi ON/OFF yang memuat sebuah fragmen dari Nel.
Setelah proyek solo, mereka akan bekerja sama lagi untuk membuat cerita dengan tema berbeda. Kerangka cerita sudah ada dan menurut saya sangat luar biasa. Sayangnya saya tidak mungkin membocorkannya di sini. Mereka bahkan telah menyiapkan judul yang menarik. Dalam hal ini, menurut Abmi, Dalih lah si pencetus judul.
Payung
Kami berbincang-bincang nyaris 3 jam. Cha latte sudah habis direguk. Rokok telah berulang menjadi puntung. Hujan tinggal sisa. Abmi masih memiliki janji temu dengan sahabatnya, sedangkan Dalih berkali-kali menguap. Cowok yang melibatkan diri dalam Q! Film Festival Jogja 2007 ini akan mengantar Abmi.
Kami berpamitan, dan saya mengingatkan lagi ulang tahun Dalih yang jatuh pada tanggal 4 Mei. Mereka berencana mengadakan launchingCha di Momento berbarengan dengan ulang tahun Dalih. Tapi baru pada tahap rencana. Seandainya jadi diadakan, tentu saja saya ingin hadir untuk memberikan semangat. Meski Dalih tampak sangsi, sesungguhnya saya serius dengan tesaurus Eko Endarmoko.
Langit malam Jogja pekat oleh muatan hujan. Saya berharap masih ada waktu kelak untuk kami bertukar pikiran. Di tepi jalan Gejayan, saya melambaikan tangan ketika sebuah taksi bergerak mendekat.
Gerimis berhamburan, pintu taksi terkuak, dan saya masuk. Payung milik penjaga gedung kampus saya letakkan di tempat duduk. Tadi hampir tertinggal di Momento.
Judul Buku : The Messenger Penulis : JaF – Tuteh – Sa – Uyet Terbit : Cetakan I, Maret 2007 Tebal : 192 hlm, 18 cm Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
KETIKA KEBOHONGAN TERASA TIDAK MENGGIGIT
Apa pun bisa terjadi di dunia maya. Sandiwara, kebohongan, bahkan jatuh cinta. Di dunia maya, Rana, menggunakan ID Mpus_imut70, berhubungan melalui Yahoo! Messenger dengan pemilik ID Lelakikelam. Rana, bernama lengkap Merana Patricia Sidabutar, adalah lelaki berdarah campuran Batak-Amerika. Dalam hubungannya dengan Lelakikelam, ia dikenal sebagai perempuan. Dengan dikenal sebagai perempuan, Rana berpikir, ia telah berhasil menjiwai perasaan perempuan. Sampai saat ini, Rana belum mendapatkan pengganti kekasihnya, Turi, yang meninggalkannya dan menikah dengan seorang pria Belanda. Alasan perpisahan yang dikemukakan Turi adalah Rana tidak bisa menjiwai perasaan perempuan.
Lelakikelam sendiri ID dari seorang perempuan bernama Sofia. Perempuan ini terlibat hubungan tidak jelas dengan seorang lelaki bernama Pram, yang mau mengikatkan diri dengannya tapi tetap berhubungan dengan perempuan lain, bahkan dengan sepengetahuan Sofia.
Rana dan Sofia memutuskan bertemu langsung. Tapi ketika pertemuan direalisasikan, kebohongan tetap menjadi tema utama.
Tanpa mereka tahu, mereka berdua berhubungan dengan Turi. Jauh dari Belanda, Turi memberi saran kepada mereka untuk melakukan kencan buta. Sayangnya, ketika mereka kebetulan berada di satu tempat yang sama sebelumnya, Sofia melihat Rana berciuman dengan seorang laki-laki. Bagi Sofia, meski laki-laki menarik, Rana adalah seorang gay.
The Messenger adalah novela yang dibuat secara estafet oleh 4 anggota komunitas maya Blogfam (Blogger Family), sebuah forum online yang beralamat di htttp://www.blogfam.com. Ke-4 penulisnya adalah La Rane Hafied Gany (JaF), Tuteh Pharmantara (Tuteh), Elsa van deer Veer (Sa), dan Eliana Noor (Uyet). Dalam Blogfam ada Galeri Kreasi yang menyediakan ruang bagi yang ingin menampilkan karya. Salah satu karya yang ditampilkan di sini adalah cerita estafet yang ditulis lebih dari 1 orang secara bersambung.
Fiksi yang ditulis oleh 4 orang mengingatkan pada buku Traveler's Tale. Traveler's Tale ditulis secara bersambung oleh Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidayat, dan Ninit Yunita dengan plot dan karakter yang memang sudah dirancang terlebih dahulu. Hanya, The Messenger ditulis tanpa ada pembicaraan ihwal karakter dan plot novel sebelumnya.* Selain itu, jika Traveler's Tale memiliki 4 karakter utama yang dikisahkan masing-masing oleh 1 penulis, The Messenger hanya memiliki 2 karakter utama yang kisah hidup mereka diolah oleh 4 orang. Oleh sebab itu, sesungguhnya The Messenger lebih rentan masalah, misalnya, jika salah 1 penulis tanpa sengaja keluar jalur.
The Messenger yang ditulis di bulan Februari–Juni 2005 ini sesungguhnya mengusung kisah yang tidak baru lagi. Sudah banyak kisah berlatar dunia maya yang ditulis. Selain itu, The Messenger juga terkesan tidak 'menggedor'. Jalinan ceritanya sudah bisa ditebak. Pada bagian-bagian awal, identitas asli 2 tokoh utama yang berbohong di dunia maya telah disingkap. Sayang sekali. Akibatnya, untuk selanjutnya, kita mengikuti kisah 'tanpa gigi' yang sekadar menggunakan 'keajaiban' internet sebagai basis. Alangkah menariknya setelah tokoh Rana tersingkap, jati diri Lelakikelam disembunyikan terlebih dahulu supaya pembaca tetap mengira ia memang seorang lelaki. Apa yang saya ungkapkan ini tidak bisa dikatakan spoiler mengingat 4 penulis jelas-jelas tidak mengindikasikan niat menyimpan identitas salah satu dari mereka sebagai bahan kejutan. Sejak awal, identitas asli Rana dan Sofia telah disingkap. Makanya, tak dapat diungkiri, kekuatan novela ini akhirnya memang hanya terletak pada kemampuan para penulis menggunakan teknik penuturan yang tidak bertele-tele sehingga mengalir lancar dan tetap enak dibaca hingga akhir.
Ada beberapa hal yang menggelitik untuk dibahas. Di luar dunia maya, kedua tokoh ini dipertautkan oleh Turi yang mereka kenal baik. Jika mereka berteman baik, aneh juga kalau Rana tidak mengenal Sofia (karena tidak dikenalkan Turi sebelumnya), dan sebaliknya. Juga tokoh pelengkap lain bernama Dena. Walau hal ini bisa saja terjadi, tetap terasa mengganjal. Apakah dalam hubungan dengan Rana, Turi terlalu banyak menyimpan rahasia?
Perkenalan Rana dan Sofia menggunakan Yahoo! Messenger juga tidak berawal. Pada saat cerita bergulir, mereka diceritakan sudah berhubungan.Tidak diungkap bagaimana sampai mereka bisa berhubungan, meski dalam dunia maya semua bisa terjadi. Mengingat ini karya fiksi yang cukup panjang (apalagi penulisnya 4 orang!), mestinya awal kontak mereka mendapatkan porsi penceritaan walau hanya seuprit.
Justru ada yang ditambahkan tapi tidak menambah bobot cerita. Coba baca hlm 185, kalimat penutup. Secara pribadi saya menilai bagian akhir akan terasa lebih bagus jika hanya sampai pada, "Men, they're so easy... Sofia tersenyum menatap layar komputer. "
Kalimat " ... and action! Sang Maha Sutradara kembali beraksi. Entah film apa lagi yang dibuatnya kali ini...." tidak memiliki kontribusi bagi keseluruhan cerita. Apalagi sebelumnya, Sang Maha Sutradara tidak pernah diungkit-ungkit. Selain itu, apakah kebohongan yang dilakukan Rana dan Sofia dibuat oleh Sang Maha Sutradara (Tuhan?)? Bukannya oleh kedua tokoh ini sendiri? Kalimat ini seolah hendak menyatakan bahwa semua yang terjadi di dunia (dan di dalam novel) adalah kehendak Tuhan belaka. Termasuk kebohongan para tokoh yang menciptakan konflik.
Demikian juga halaman 181. Menurut saya, pembaca cukup cerdas untuk dibiarkan sendiri membayangkan efek yang ditimbulkan oleh pengakuan Rana. Dalam bagian ini lebih menarik jika pembaca berimajinasi sendiri tanpa perlu dituntun. Tanpa halaman 181, akhir bab Honesty, Such a Lonely Word sudah memadai. Lelakikelam is now offline, adalah pamungkas yang kuat untuk bab ke-16 ini.
Terlepas dari itu, secara keseluruhan, The Messenger terbilang cukup enak dinikmati. Selain mengalir lancar, ke-4 penulis cukup baik mengasimilasikan ide dalam jalinan kisah dengan keutuhan perwatakan yang tetap terjaga. Mengagumkan, jika mempertimbangkan proses kreatif buku ini sendiri. Bolehlah dijadikan bacaan untuk mengisi waktu senggang bagi yang ingin menikmati bacaan ringan dan renyah. Inilah kesan yang tertangkap begitu habis membaca novela ini. Ya, The Messenger dibuat secara estafet, tapi begitu hadir sebagai buku tetap ia adalah sebuah novela.
Judul Buku : The Path of Love Penulis : Ang Tek Khun Penerbit : Kairos Books
Suatu hal yang menggembirakan bagi saya pribadi menemukan karya seorang penulis Kristen yang berkeinginan mengangkat kehidupan Kristen yang seharusnya dalam karya sastra. Dulu pernah mencuat satu nama, yaitu Fridolin Ukur, yang giat dalam menciptakan puisi-puisi bernapaskan Kristen. Puisi-puisinya bisa ditemukan dalam kumpulan puisi Malam Sunyi (1961), Darah dan Peluh (1962), Belas Tercurah (1980), dan Wajah Cinta (2000). Setelah itu, sepertinya belum ada penulis Kristen yang mengikuti langkah almarhum Fridolin Ukur. Tapi sekarang, apa yang pernah dilakukan oleh Fridolin Ukur bisa kita temukan dalam karya Ang Tek Khun, pria kelahiran Donggala yang pada masa kuliah giat menulis cerpen-cerpen remaja di majalah seperti Anita Cemerlang. Upaya yang Khun -demikian sapaannya- lakukan tidak lain adalah wujud dari tekadnya untuk turut berkontribusi dalam menyapa hidup sebanyak mungkin orang melalui buku yang touching heart, sharping mind, dan empowering life. Suatu tekad yang luhur sehingga layak didukung.
Sebelum The Path of Love, Khun juga telah menerbitkan The Wings of Love (CGM, 2003) dan The Touch of Love (Gradien, 2005). Sedangkan kumpulan puisi Khun yang pertama adalah Nyanyian Bukit Karang (1987). Oleh Korrie Layun Rampan, nama Khun dimasukkan dalam buku Leksikon Susastra Indonesia terbitan Balai Pustaka.
Seringkali dengan membaca karya seseorang kita bisa mengetahui karakter di balik karya tersebut. Membaca puisi-puisi dalam kumpulan The Path of Love, kita bisa mengetahui jika Khun, sang penulis, adalah seorang Kristen. Dari karyanya ini juga bisa diketahui jika ia bukan sekadar Kristen. Lewat pemahamannya yang mendalam ihwal kehidupan kristiani, bisa dipastikan jika ia seorang Kristen yang taat. Dan yang terpenting ia memiliki kesadaran yang tinggi sebagai seorang murid di dalam Tuhan.
Sebagai Kristen yang taat, kehidupan, cara ia mengelola kehidupan, bagaimana ia memandang arti kehidupannya sendiri terperi dengan bening dalam untaian kalimat yang dirangkainya dengan indah.
Dengan The Path of Love, Khun bak memberikan cermin kepada pembaca. Ia menggunakan bahasa yang sederhana tapi kuat. Kita tidak akan terhenti begitu saja setelah membaca setiap puisinya. Khun akan senantiasa menyisakan perenungan yang mungkin akan membuat kita gelisah, gembira, kuat, diberkati, terharu, bahkan mungkin meneteskan air mata. Bisa dikatakan, Khun berhasil menyampaikan pesan seperti hasrat yang ia tulis dalam salah satu puisinya:
aku ingin belajar terbang dengan kata-kata bernas menyapa setiap mata baca menyentuh dan meneguhkan
aku ingin belajar terbang dengan apa saja hingga sampai pesan-Mu ke negeri dan pribadi-pribadi jauh (Belajar Terbang)
Kehidupan Kristen yang sesungguhnya memang tidak berada di zona kenyamanan. Setiap orang Kristen akan selalu dihadapkan dengan pergumulan. Dengan bergumul mereka diberikan cermin, melihat kehidupan mereka, merenungkan apa yang telah terjadi, mempertanyakan kehidupan yang telah mereka jalani, dan akhirnya menjangkau kebesaran Tuhan. Khun menghidupkan pergumulan kristiani dalam bagian pertama kumpulan puisi yang bertajuk Momen-momen Bergumul.
Kesendirian (Waktu Aku Sendiri), kesesakan (Waktu Dada Ini Sesak), kehilangan (Lost in Found), kecemasan (Waktu Angin Menjadi Kencang), kegundahan (Nyanyian Gundah Seorang Yusuf, SMS Seorang Pedagang), kesibukan dalam bekerja (Di Suatu tempat, di Suatu Masa; Bersama Engkau; Di Manakah Engkau, Tuhan?) semestinya membuat orang Kristen bergumul. Demikian juga pasang surut kehidupan yang mereka alami (Waktun Aku Naik; Waktu Aku Turun; Waktu Allah Berbisik) dan hubungan dengan pasangan hidup (Misalkan Saja Aku Adam). Khun hendak mengatakan lewat puisi-puisinya dalam bagian ini bahwa pergumulan memang dibutuhkan dalam hidup, dalam segala situasi. Apalagi dalam situasi yang mengancam kedekatan dengan Tuhan.
Bergumul sebenarnya bertujuan untuk menempatkan perspektif manusia di tempat yang benar. Atau lebih tepat, menyamakan perspektif manusia dengan perspektif Tuhan. Pemusatan sebab pergumulan pada perspektif manusia akan berpotensi merapuhkan. Beda dengan perspektif Tuhan. Karena jika menggunakan perspektif Tuhan, manusia akan menerima sebab pergumulan dengan hati lapang.
Simak pertanyaan Khun yang menghubungkan pergumulannya dengan pergumulan Kristus di Taman Getsemani menjelang disalibkan. Setiap orang Kristen pasti memahami arti pergumulan Kristus di taman itu, bagaimana peluhnya menjadi titik-titik darah saking beratnya beban yang Ia tanggung.
waktu Engkau sendiri di taman yang menggetarkan itu siapakah yang mengerti perih luka hati-Mu? (Waktu Aku Sendiri)
Manusia sering berkeluh-kesah ketika kehidupan seolah-olah tidak bersikap ramah. Memuncratkan kekecewaan pada Tuhan. Berpikiran negatif terhadap kuasa-Nya. Merasa Ia bukanlah Tuhan yang peka, yang mengerti penderitaan manusia. Hal itu membuat manusia lebih suka lari dari rengkuhannya. Padahal untuk itu, Ia telah menjadi manusia dalam Kristus, yang merasakan hal yang sama bahkan lebih parah dari apa yang telah manusia lain rasakan.
Saya teringat sebuah kisah dari buku karya Joyce Meyer tentang seorang bapak yang kehilangan anaknya karena kanker. Dengan penuh kepahitan, ia berseru pada Tuhan, "Di mana Engkau ketika Anakku mati?" Tuhan menjawab, "Di tempat yang sama Aku berada ketika Anakku mati."
Dalam kondisi seperti ini, betapa indah jika kita memiliki kerinduan yang sama seperti Khun:
Tuhan, aku ingin kembali ke dekapan sayangmu dengan bibir getar (Di Suatu Tempat, di Suatu Masa)
Seorang Kristen pada hakikatnya adalah seorang murid. Sebagai seorang murid, orang Kristen harus selalu belajar. Belajar yang dimaksud di sini adalah belajar dalam rangka mengatasi kehidupan; perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran keliru yang sering timbul di hati dan benak kita. Semua puisi belajar dirangkai Khun pada bagian kedua yang diberi judul Momen-momen Belajar.
Belajar Kuat ketika lelah. Belajar Tabah ketika tertindas. Belajar Tunduk ketika hidup membawa kita naik. Belajar Teguh ketika jiwa resah, hati rusuh, dan kaki lunglai. Belajar Takut untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar perintah Tuhan. Belajar Bersandar ketika banyak hal terjadi dalam kehidupan dan kita tidak bisa memahaminya. Belajar Berbagi untuk membagi hidup dan memberi makna kepada sesama. Belajar Bicara untuk menghibur dan membangun hidup sesama. Belajar Melihat bukan hanya dengan mata tapi juga dengan sorotan hati. Belajar Bersyukur untuk segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, bukan hanya untuk hal yang indah-indah tapi juga untuk perihnya salib. Belajar Jadi Anak, bukan untuk bersikap kekanak-kanakan tapi murni dan polos menanggapi kasih karunia Tuhan. Belajar Terbang untuk menabur pesan Tuhan yang ditaruh di hati kita. Dan juga Belajar Berdoa, sebuah hal yang sesungguhnya gampang tapi mungkin sering dilewatkan.
ajar aku berdoa ajar aku berdoa ya, Tuhan bersimpuh mencari lutut-Mu meraih jemari-Mu untuk kukecup
Indah, bukan?
Bagian ketiga sekaligus bagian terakhir bertajuk Momen-momen Bertumbuh. Seperti yang diungkapkan oleh Mg. Sulistyorini dalam Catatan Penutup, mungkin pertumbuhan yang jujur akan membuat semuanya terasa tak beres, membosankan, melelahkan, bahkan menyakitkan. Itulah sebabnya pertumbuhan bisa dikatakan berpotensi melemahkan hati. Tidak jarang pertumbuhan itu terusik, terhenti, bahkan lalu mati. Apa kira-kira yang bisa membuat pertumbuhan berjalan dengan lancar?
kulihat jejak-jejak cinta bertebaran panjang dan mekar di mana-mana menuntun mataku agar tak lari untuk dapat melihat warna hati-Mu (The Path of Love)
Cinta Tuhan. Tidak lain. Itulah yang akan membuat manusia bertahan dalam pertumbuhan, apa pun yang terjadi. Cinta Tuhan akan selalu membuat hati kita bergairah pada-Nya, membuat kita mengasihi-Nya dengan segenap hati (I'm in Love), membuat kita ingin selalu menyenangkan hati-Nya, menyembah, dan memuji-Nya (Kalau Aku Bisa Menyanyi). Sebaliknya cinta pada Tuhan akan membuat kita memandang Tuhan layaknya kekasih kita. Hal ini ditorehkan Khun dengan manis dan mesra dalam Setangkai Mawar Valentin Buat-Mu.
ingin kuletakkan di jemari lembut-Mu setangkai mawar merah karena dengan itu kukirimkan isyarat hanya Kau valentinku di bulan kasih sayang ini ............................... ingin kubisikkan cinta dengan wangi mawar segar karena hati kita kian dekat bertaut dirajut momen dan bahasa tak mampu lagi mengutarakan getaran kasih yang Kau kirimkan padaku ................................. lalu ingin kuteriakkan pada dunia yang derita dan siapa pun yang lintas bahwa jamahan-Mu telah jadikan hatiku merah jambu berbinar tiada henti
Tidak ada orang yang akan mahir membagi cinta kepada sesama jika belum pernah merasakan cinta Tuhan. Cinta Tuhan yang diimpartasikan tidak mungkin hanya mendekam mati dalam diri kita. Cinta Tuhan akan menjadikan kita pribadi yang peduli sesama, sehingga kita mestinya tergugah dengan gerak manis ini:
langit teduh kulayangkan senyum termanis pada embun pagi air mata semalam telah kering saat aku tersungkur belajar syafaat menangisi sobat-sobatku yang bermain di luar keselamatan (Was It Morning Like This)
Selain puisi-puisi yang telah disebutkan, dalam Momen-momen Bertumbuh Khun juga akan menguatkan kita menghadapi proses pertumbuhan. Simak Menanam Cinta, Langit yang Bercerita, Jangan Tanyakan, Berjalan ke Depan, dan Datang dan Pergi.
Dan di atas semuanya, cinta Tuhan yang telah turun ke dunia, mengosongkan diri, dan menjadi setara dengan manusia dapat dipastikan akan selalu membuat kita tegar menjalani proses pertumbuhan; dengan kasih mula-mula yang terus berkobar. Apa yang telah dilakukan Kristus untuk manusia didedahkan dengan indah oleh Khun. Selain Jalan Panjang ke Bukit Itu, juga ada Karena Salib, Karena Darah. Tak kalah indah, tak kalah menyentuh, tak kalah mengharukan, yang membuat hati saya seakan meledak dan air mata mengambang adalah Lelaki yang Menatah Hidupku, puisi yang mengungkapkan isi hati seorang manusia yang berasal dari kehidupan tanpa makna, ditemukan Tuhan, dan menjadi berbeda karena kasih karunia.
Akhinya saya ingin menutup tulisan ini dengan puisi yang menjadi salah satu puisi favorit saya dalam kumpulan The Path of Love: Lelaki Yang Menatah Hidupku. Karena ketika saya membaca puisi ini, saya merasa sedang membuat pengakuan pada Penyelamat saya, seperti pengakuan yang disampaikan Khun.
aku sebongkah batu tak punya harga tak pernah dihirau
tergeletak dan berlumut dilalui waktu dilewati momen
tak punya impian harapan tak mampir tekad telah luluh
lalu seorang lelaki datang dengan tujuan dan menyapaku pribadi
ia menyingsingkan lengan menatah setiap bagian sudut-sudut gelap hidupku
setiap rahasia diurainya dengan lembut penuh kasih sayang
setiap tonjolan dan bopeng dihampirinya dengan jemari dan hati yang membagi
setiap ketidakmengertian yang membuatku guncang dibukanya dengan sabar
setiap keperihan yang melukai dibalutnya dengan cinta yang tak terselami
tak henti-henti tak lelah-lelah dengan peluh dan darah
Kali ini Jogja menjadi latar kisah sebuah novel TeenLit. Cha Untuk Chayang karya Dalih Sembiring dan Abmi Handayani menghadirkan karakter utama novel seorang pendatang di kota pelajar ini. Karakter tersebut dibawa dari Balikpapan, lengkap dengan logatnya yang lucu dan penampilannya yang lugu-lugu cerdas. Nama lengkapnya Herlina Salim, biasa dipanggil Lina. Lina datang ke Jogja untuk menjadi mahasiswa Fakultas Hukum UGM. Setelah kehilangan ponsel di bis Jogja yang pengemudinya tak kalah ugal-ugalan dengan pengemudi bis di Jakarta, Lina memutuskan untuk bekerja. Kebetulan pada saat yang sama Bebe's Burger yang baru didirikan membutuhkan karyawan. Maka, pemilik kafe tersebut, Bebe –terlahir sebagai Burhan- menerima Lina untuk bekerja. Kebaikan Bebe, sang mbak jadi-jadian, membuat Lina dekat dengannya. Selain Bebe, dalam giliran kerjanya, Lina mengenal Imam, koki Bebe's Burger; duet pudel jelita : Zeta dan Lili ; Eno, si jutek berpenampilan lesbian. Mereka segera merendengi hari-hari Lina di Jogja diikuti bayang-bayang Helmi, cowok imut yang mengantar-jemput Lina dari Bebe's Burger karena jatuh cinta padanya; dan Yogi, cowok indie selera Lina yang sayangnya tidak tertarik padanya. Untuk mendapatkan perhatian Yogi, Lina bermetamorfosis menjadi seorang 'cewek pudel' yang hobi dandan seperti tipe Yogi, si poodleaholic. Tidak hanya itu saja. Untuk Yogi, Lina belajar membuat bubuk cha latte yang tidak ia sukai. Sayangnya lagi, situasi tidak mendukung proses metamorfosisnya. Lina memang menjadi kupu-kupu nan cantik, tapi ia kehilangan orang-orang terdekatnya.
(Giling, fotonya ada jemurannya, bo (kata Bebe))
Cha untuk Chayang, seperti umumnya TeenLit, tidak menjauh dari dunia remaja kosmopolitan dengan aksesori pernak-pernik cinta. Di sini kita akan menemukan remaja putri yang jatuh cinta, melakukan usaha untuk mendapatkan cinta meski harus mengenyahkan kepribadian aslinya. Dengan rancangan kisah seperti ini, awalnya kita mungkin akan kehilangan minat untuk membacanya. Basi. Stereotipikal. Tapi setelah membaca buku ini sampai tuntas –dalam waktu yang sangat singkat- ada hal-hal menarik yang dikemas kedua penulisnya. Terasa segar dan enak dinikmati. Pertama, Dalih dan Abmi, bukanlah pencerita yang bertele-tele. Cerita disampaikan dengan cepat, cerdas, dan kocak. Ringan, tapi menarik. Wajar dan tidak mengada-ada. Kedua, tidak seperti pakem TeenLit umumnya, mereka menuntaskan kisah dengan cara berbeda. Mereka tidak tak berkutik dalam kisah cinta stereotipikal seperti dalam kebanyakan TeenLit. Mereka menjangkau pada pengenalan sang tokoh terhadap kehidupan yang ia alami secara lugas dan apa adanya. Perubahan bisa terjadi dan ini merupakan hal yang wajar, asalkan tidak mengorbankan identitas. Oleh sebab itu, akhir yang dipintal duo penulis ini terasa sangat melegakan. Bukan cuma pintar, tapi juga manis.
Dalam bertutur, kedua anak muda ini terkadang menyemburkan sindiran. Coba baca percakapan warung kopi (Manut Nite) soal penggunaan bahasa yang terasa ironis. Sekelompok anak muda terdiri atas binan, penggemar pantat bahenol, pecinta ChickLit, pelaku seks bebas sok mempreteli penggunaan bahasa, tapi mereka sendiri yang notabene 'warga' Jogja berbusa-busa menggunakan kata ganti 'gue' dan 'lu'. Saat ini memang Jogja sudah sangat heterogen. Bukan hanya dari segi penduduk, latar belakang sosial, orientasi seksual, tapi juga dari segi bahasa. Toh tetap terasa aneh, di Jogja, mendengar anak-anak mudanya bercuap-cuap menggunakan kata ganti 'gue' dan 'lu'.
Hal menarik lainnya dalam novel ini adalah kehidupan binan Jogja yang direkatkan dalam plot novel. Kita akan menemukan ungkapan register binan yang belepotan tapi membuat novel ini terasa lebih hidup. Tidak perlu khawatir. Kedua penulis sebisa mungkin memberikan padanan kata bagi pembaca yang asing terhadap bahasa binan.
Cha untuk Chayang adalah novel tentang pendatang di Jogja. Maka, kita akan menemukan cerita tentang rumah kos, teman-teman kos, tempat mangkal anak-anak kos seperti angkringan dengan nasi kucing dan kopi jos, burjo dengan beraneka jualan yang cukup digemari anak muda, juga warung kopi dan Momento yang menyajikan cha latte. Untuk menyemarakkan Jogja dalam fiksi, ada Bebe's Burger dengan Embes Bembes Burger andalannya dan sebuah hidangan bernama Horny Soup (bayangkan saja sendiri seperti apa).
Selain Lina sebagai tokoh sentral, Bebe, sang peri wandu, adalah karakter yang sangat menarik dan menonjol dalam buku ini. Kehadiran Bebe bukan saja mempercantik cerita, tapi memiliki makna bagi keseluruhan kisah. Seandainya karakter Bebe dicopot, dan diganti dengan karakter normal yang sangat umum, kisah Lina, pudel, dan cha latte akan kehilangan greget.
Secara keseluruhan, inilah TeenLit yang bisa digolongkan enak dibaca, tidak bikin kerut muka, dan tidak garing. Cukup bisa membangkitkan energi positif dalam diri anak muda, bahwa hidup mesti dijalani dengan apa adanya, bahwa hidup memang punya multisegi, bahwa hidup tidak melulu yang indah-indah, bahwa hidup juga memiliki sisi yang bisa bikin kita kecewa, sehingga harus dihadapi dengan tegar, dan yakin, hidup punya metode sendiri untuk memecahkan masalah.
Penulis buku ini, Abmi Handayani -kelahiran Balikpapan 5 Januari 1987, mungkin belum dikenal pembaca buku di Indonesia. Cha untuk Chayang adalah karya perdananya yang diterbitkan. Sedangkan Dalih Sembiring, kelahiran Binjai, Sumatra Utara 4 Mei 1983, adalah penulis beberapa karya yang pernah dipublikasikan di Horison, ON/OFF, dan The Jakarta Post. Cerpen Dalih yang berjudul Sebuah Ruangan Berdinding Abu-abu menjadi salah satu cerpen dalam antologi Rahasia Bulan. Sampai saat ini, Dalih belum menyelesaikan novel semi autobiografisnya yang berjudul Nel, yang salah satu fragmennya (berjudul Ilham), tampil di jurnal ON/OFF edisi Cinta Pertama: Kisah Pramoedya, Remaja, danHomoseksual.