Judul: Mimpi Bayang Jingga
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penyunting: Imam Risdiyanto
Tebal: vi + 214 hlm; 13 x 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, April 2009
Penerbit: Penerbit Bentang (Pustaka Populer)
"Kisah yang pernah
menjadi juara ke-2 lomba cerber tabloid Nyata ini akan memberikan sentuhan
lembut nan memukau kepada Anda".
Kalimat ini tercantum pada
bagian luar sampul belakang buku Mimpi Bayang Jingga karya Sanie B.
Kuncoro. Sebelum menilik isinya, kalimat ini akan menggiring pembaca untuk
percaya bahwa Mimpi Bayang Jingga adalah sebuah novel. Apalagi kata
"Novel" memang disematkan pada buku ini. Padahal, sesungguhnya, Mimpi
Bayang Jingga adalah kumpulan tiga novela: The Desert Dreams, Mimpi
Bayang, dan Jingga. Entah kenapa penerbit seolah-olah hendak
memosisikan buku ini sebagai novel. Apakah karena novel adalah jenis buku yang
lebih banyak dibeli dibanding karya fiksi jenis lain?
Ketiga kisah dalam Mimpi Bayang Jingga berkisar pada hubungan cinta
antara perempuan dan laki-laki. Sehingga, ketiganya bisa ditinjau dari berbagai
perspektif karakter yang dihadirkan pengarang. Namun, tentu saja, yang paling
menarik adalah meninjaunya dari perspektif perempuan. Apalagi, ketiga kisah
tersebut ditulis seorang perempuan.
The Desert Dreams berkisah tentang May. Perempuan ini
memiliki kemampuan 'melihat' sesuatu atau seseorang yang tidak terlihat oleh
orang lain. Tetapi ia tidak bisa
'melihat' bila perasaannya terlibat di dalamnya. Karenanya, ketika Baron
-suaminya, jatuh cinta pada perempuan lain, May tidak segera menyadarinya. May
baru mengetahui hati suaminya telah beralih manakala perempuan yang dicintai
suaminya datang ke tempatnya untuk 'dilihat'.
"Mimpiku adalah sebuah rumah di tepi pantai berkarang. Pantai itu
berombak jernih hingga pasir putihnya terlihat jelas di dasar air. Ada banyak
jajaran pohon kelapa dan palem, dengan dedaunan hijau yang teduh. Akan kubuat
perpustakaan dengan kafe di teras. Buku yang ada hanya tentang perjalanan,
Kisah Para Petualang." Demikianlah impian Jingga, perempuan yang
namanya dijadikan judul novela yang menjadi Juara ke-2 lomba cerber tabloid
Nyata. Impian ini diuraikannya di hadapan seorang lelaki bernama Bentang,
lelaki yang tidak membutuhkan impian untuk hidup karena memiliki segalanya.
Setelah menjalin hubungan dengan Bentang, Jingga sadar, ia punya impian lebih
dari sekadar sebuah rumah di tepi pantai berkarang. Ia mengimpikan sebuah
pernikahan yang akan ditawarkan lelaki yang dicintainya. Sayang, lelaki tanpa
impian itu hanya ingin menikmati cinta, tetapi tidak pernikahan.
Frangipani dalam Mimpi Bayang tiba-tiba menemukan dirinya berada di
persimpangan di sebuah kota bernama Pringsewu. Ia tidak tahu mengapa bisa
berada di sana, tetapi bak diatur, ia menemukan lelaki, yang bersamanya, Frangi
bisa melihat dan mengoreksi diri sendiri. Sementara Frangi bertualang, seorang
pemuda bernama Jati berada di sebuah kamar perawatan di sebuah rumah sakit
menunggui kekasihnya yang terbaring koma.
Ketiga novela itu memiliki kesamaan:
perpisahan. Tetapi kesamaannya hanya sampai di situ. Perpisahan yang terjadi di antara para karakter bersumber
dari sebab yang tidak sama. May memutuskan berpisah dari Baron karena kehadiran
orang ketiga; Jingga berpisah dengan Bentang karena tidak ingin dianggap
menjerat kekasihnya untuk menikahinya; Frangi berpisah dengan Jati karena tidak
mendapatkan titik singgung dalam hubungannya mereka. Dua dari tiga perpisahan
tersebut tidaklah gampang, namun pamungkasnya yang menggantung membuka
kemungkinan, meskipun tipis.
Ketiga novela tersebut ditulis dengan lembut, berefek melenakan dengan
kata-kata yang dirangkai manis namun terkadang getir. Plot yang dirancang
menemukan akhir dengan cara tidak melegakan, tetapi menciptakan gedoran yang
bermakna. Pada dua novela pertama ketika pengarang menyodorkan kepasrahan
perempuan menghadapi keadaan, pembaca akan tergelitik untuk bertanya-tanya 'apa
yang terjadi' setelah ending berlalu. Apakah May dan Baron atau Jingga dan
Bentang akan menemukan kebahagiaan setelah semua masalah terlewatkan?
Namun harus diakui, dari ketiga novela tersebut, Jingga-lah yang punya
kemampuan menggedor perasaan yang paling maksimal. Meskipun plotnya lurus dan
bergegas –mungkin untuk menyesuaikan dengan ketentuan lomba yang diikuti,
muatan kisah cintanya yang rawan tetap tidak kehilangan pesona hingga akhir.
Mungkin itulah sebabnya, novela ini mewakili yang lain untuk tampil pada sampul
belakang novel.
Dari segi penceritaan, The Desert Dreams tampil beda. Jika Jingga
dan Mimpi Bayang dituturkan dari perspektif orang ketiga, The Desert
Dreams hampir semuanya dari perspektif orang pertama yaitu dari perspektif
tiga karakter utamanya: May, Baron, dan Orien. Pada penghujung setiap narasi,
ketiga karakter ini akan tiba di "The Desert Dreams'. Meski rasa yang
tercecap dari ketiga narasi nyaris sama, pengarang bisa menyiasati perjalanan
kalimat menuju akhir dengan baik tanpa kesan mengada-ada (hlm. 58, 60, dan 65-
66). Hanya, perpindahan perspektif, dari 'aku-dia' menjadi 'aku-kamu' pada
halaman 47-48, terasa mengganggu.
Akhirnya, setuju dengan testimoni pada sampul depan buku ini, karya Sanie B.
Kuncoro akan selalu dirindukan oleh pembaca yang sudah pernah membaca karyanya:
Kekasih Gelap atau Ma Yan.