|
![]() Judul Buku: Enzo – The Art of
Racing in the Rain Pengarang: Garth Stein (2008) Penerjemah: Ary Nilandari Tebal; 408 hlm; 13 x 20,5 cm Terbit: Cetakan 1, April 2009 Penerbit: Serambi
Di Mongolia ketika seekor anjing mati, ia dikuburkan di atas bukit. Ekornya dipotong dan diletakkan di bawah kepalanya. Seiris daging atau lemak dimasukkan ke dalam mulutnya sebagai bekal agar rohnya bertahan dalam perjalanannya. Sebelum mengalami reinkarnasi, roh anjing itu bebas menjelajahi bumi, berlari melintasi gurun selama yang ia mau. Itulah yang disaksikan Enzo dalam sebuah tayangan National Geographic., sebuah film dokumenter yang dibuat di Mongolia.
"Hati-hati sekali. Seperti ada telur di atas pedalmu, dan kau tidak ingin memecahkannya. Begitulah cara mengemudi dalam hujan," demikian kata Denny kepada Enzo (hlm. 23). "Pengemudi mobil takut hujan. Hujan memperbesar kesalahanmu dan air di jalur bisa membuat mobil bergerak tak terduga. Ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi padamu, kau harus segera bereaksi; jika kau bereaksi dalam kecepatan tinggi, kau akan selalu bereaksi terlambat. Jadi sudah semestinya kau takut." (hlm. 59). Bagaikan pengemudi di jalur balap, bagi Enzo, Eve adalah hujannya, unsur tak terduga, ketakutannya. "Namun, seorang pembalap tidak boleh takut hujan, seorang pembalap seharusnya merangkul hujan" (hlm. 63). Maka, Enzo berupaya menjalin persahabatan dengan Eve. Apalagi setelah Eve melahirkan Zoë dan meminta Enzo untuk melindungi anak perempuannya itu. Bahkan suatu hari, Eve juga mencegah Denny menyakiti Enzo kala sesuatu yang menakutkan terjadi dan Enzo dipandang bersalah. Lambat laun Enzo merasa, bersama keluarga Swift, ia pun memiliki sebuah keluarga. Oleh sebab itu, kematian Eve membuatnya sangat terpukul.
Enzo adalah seekor anjing yang cerdas dan imajinatif. Ia belajar banyak dari Denny termasuk belajar mencintai balap, profesi yang menjadi pengejaran hidup Denny. Balap tidak hanya menjadi tontonan wajib Enzo di TV, tapi juga memberikannya pelajaran bahwa teknik-teknik di arena balap bisa membantu manusia menjalani kehidupan dengan baik. Selain Speed Channel yang menayangkan balap, Enzo juga menonton berbagai saluran TV seperti Discovery Channel, National Geographic, dan saluran yang memutar film-film yang dimainkan aktor-aktor favoritnya. (Secara berurut: Steve McQueen, Al Pacino, Paul Newman, George Clooney, Dustin Hoffman, dan Peter Falk). Dalam keyakinannya untuk menjadi manusia, Enzo menantang Teori Evolusi Darwin yang dipelajarinya dari TV. Bagi Enzo, sebenarnya kerabat terdekat manusia bukanlah monyet, melainkan anjing. Enzo merasa perlu menyajikan bukti yang sesuai dengan teorinya (hlm. 31-32). Dengan bukti itu, Enzo makin yakin jika setelah mangkat, ia akan menjelma manusia. Sempat Enzo berkhayal, ia akan diajari membaca dan mendapat sistem komputer yang sama dengan Stephen Hawking. Sehingga tanpa kemampuan seperti manusia, ia akan bisa menghasilkan buku yang hebat. Khayalan yang sama masuk dalam mimpinya ketika menanti putusan pengadilan majikannya (hlm. 381-385). Dengan cara berkomunikasi ala Stephen Hawking, Enzo bermimpi bisa membebaskan Denny dari pengadilan. Karenanya, apa yang tertulis pada sampul belakang novel sebenarnya keliru. Enzo sama sekali tidak, 'membebaskan majikannya dari pengadilan atas tuduhan pemerkosaan'. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan muncul di benak pembaca sebelum menyisir habis halaman novel adalah: apakah Enzo benar-benar menjelma manusia seperti keyakinan yang dipegangnya? Apakah Denny Swift sesuai harapan Enzo akan menjadi pembalap Formula Satu seperti Ayrton Senna? Kedua pertanyaan ini baru terjawab pada bagian pamungkas novel saat Enzo mengundurkan diri sebagai narator. Tidak sedikit karya fiksi yang meriwayatkan hidup anjing. Tapi, tidak banyak novel yang mendapuk anjing sebagai narator. Salah satu dari yang tidak banyak itu adalah A Dog's Life karya Ann M. Martin (Gramedia, 2006) yang lebih dahulu terbit. Hanya, kisah dalam A Dog's Life berbeda dengan The Art Racing in the Rain. Jika A Dog's Life hanya berpusar pada kehidupan anjing dan karakter manusia sekadar pelengkap, The Art of Racing in the Rain mengangkat kehidupan anjing dan manusia sebagai sajian utama. Enzo sang narator tidak saja mengungkap kehidupannya sebagai anjing, tapi juga kehidupan dan konflik keluarga yang memeliharanya. Pengarang berhasil memanfaatkan Enzo untuk menggulirkan kisah racikannya yang memang tampil beda. Tampaknya pengarang sangat memahami anjing dan bisa memosisikan diri ke dalam pribadi si anjing. Di dalam kehidupan nyata, Stein memelihara seekor anjing bernama Comet. Pada masa kecilnya, keluarganya memelihara seekor anjing bernama Muggs. Jika Anda memperhatikan halaman dedikasi, Anda akan menemukan nama Muggs tercantum di sana. Novel yang berakar dari film dokumenter tentang anjing di Mongolia berjudul State of Dogs ini ditulis dengan bahasa yang lancar –kerap jenaka, dalam narasi pintar yang enak dibaca. Terjemahan edisi Indonesia bagus sehingga tetap asyik diikuti. Selama membaca, mustahil rasanya pembaca tidak tersentuh oleh penuturan Enzo. Tanpa sadar, mungkin, mata pembaca telah berkaca-kaca. Jennifer Barth (sampul depan), editor eksekutif HarperCollins yang menerbitkan novel ini berkomentar. "Saya langsung terpikat dengan paragraf pertama, air mata saya merebak di bab 2. Dan begitu sampai di halaman 70, saya sadar bahwa kami harus mendapatkan buku ini." Maka, saya pun langsung terpikat dengan paragraf pertama, makin terpikat setelah lama membaca, mata saya pun ikutan merebak, hanya sebelum halaman 70, saya sudah memutuskan untuk menamatkan novel ini. |
| Leave a Comment: |